Anda di halaman 1dari 7

HAKIKAT BAHASA DAN STUDI BAHASA

Pendahuluan
Manusia adalah makhluk sosial, sehingga manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Pada
saat manusia membutuhkan eksistensinya diakui, maka interaksi itu terasa semakin penting. Kegiatan
berinteraksi ini membutuhkan alat, sarana atau media, yaitu bahasa. Sejak saat itulah bahasa menjadi
alat, sarana atau media. Tiada kemanusiaan tanpa bahasa, tiada peradaban tanpa bahasa tulis.
Ungkapan-ungkapan itu menunjukkan betapa pentingnya peranan bahasa bagi perkembangan manusia
dan kemanusiaan. Dengan bantuan bahasa, anak tumbuh dari organisme biologis menjadi pribadi di
dalam kelompok. Pribadi itu berpikir, merasa, bersikap, berbuat, serta memandang dunia dan
kehidupan seperti masyarakat di sekitarnya. Kalau kita membuka buku linguistik dari berbagai pakar
akan kita jumpai berbagai rumusan mengenai hakikat bahasa. Rumusan-rumusan itu kalau di butiri
akan menghasilkan sejumlah ciri yang merupakan hakikat bahasa. Ciri-ciri yang merupakan hakikat
bahasa itu, antara lain, adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat
arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Berikut dibicarakan ciri-ciri tersebut secara
singkat.
Hakikat Bahasa
Para pakar linguistic deskriptif biasanya mendefinisikan bahasa sebagai”system lambang
bunyi yang besifat arbitrer,” yang kemudian lazim ditambah dengan “yang digunakan oleh
sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasi diri,”(Chaer,1994). Bagian
utama dari definisi di atas menyatakan hakikat bahasa itu, dan bagian tambahannya menyatakan apa
fungsi bahasa itu.
Bagian pertama definisi diatas menyatakan bahwa bahasa itu adalah satu sistem, sama dengan
sistem-sistem lain, yang sekaligus bersifat sistematis dan bersifat sistemis. Jadi, bahasa bukan
merupakan satu sistem tunggal melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem (subsistem fonologi,
sintaksis, dan leksikon). Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang,sama dengan lambang lalu
lintas, atau sistem lambang lainnya.Hanya, sistem lambang bahasa ini berupa bunyi, bukan gambar,
atau tanda lain dan bunyi itu adalah bunyi bahasa yang dilahirkan alat ucapan manusia. Sama dengan
sistem lambang yang berupa bunyi itu tidak memiliki hubungan wajib dengan konsep yang
dilambangkannya.
Bagian pertama dari definisi diatas juga menyiratkan bahwa setiap lambang bahasa, baik kata,
frasa, klausa, kalimat, maupun wacana memiliki makna tertentu, yang bias saja berubah pada satu
waktu tertentu, atau mungkin juga tidak berubah sama sekali. Bagian tambahan dari definisi diatas
menyiratkan fungsi bahasa dilihat dari segi social, yaitu bahasa itu adalah alat interaksi atau alat
komunikasi didalam masyarakat. Tentu saja konsep linguistic deskriptif tentang bahasa itu tidak
lengkap, sebab bahasa bukan hanya alat interaksi social, melainkan juga memiliki fungsi dalam
berbagai bidang lain, itulah sebabnya mengapa psikologi,antropologi,etnologi,neurologi,dan fonologi
juga menjadikan bahasa sebagai satu objek kajiannya sari sudut atau segi yang berbeda-beda.
Pengertian dan Penjelasan tentang ciri Bahasa
Bahasa itu adalah Sebuah Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau
berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara
fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan
membentuk satu kesatuan. Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis.
Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya
bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan
(dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran
morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem
bahasa tersebut sebagai berikut.

Bahasa itu Berwujud Lambang


Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu
ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan
adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak
isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan
langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

Bahasa itu berupa bunyi


Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran
gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi
yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia termasuk bunyi bahasa.

Bahasa itu bersifat arbitrer


Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang
dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang
berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Saussure
(1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant
(penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung
signifiant. Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna
sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna
sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena
bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.
Bahasa itu bermakna
Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa
melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan
dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi

Bahasa itu bersifat konvensional


Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi
penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua
anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk
mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai,
dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya.
Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasiakan terhambat.

Bahasa itu bersifat unik


Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki
oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem
pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

Bahasa itu bersifat universal


Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh
setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa
bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

Bahasa itu bersifat produktif


Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-
unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara
relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa
Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:
 /i/-/k/-/a/-/t/
 /k/-/i/-/t/-/a/

 /k/-/i/-/a/-/t/

 /k/-/a/-/i/-/t/
Bahasa itu bervariasi
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial
dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan
menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:
1. Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan.
2. Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu
tempat atau suatu waktu.

3. Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan
ragam tidak baku.

Bahasa itu identitas suatu kelompok sosial


Bahasa adalah ciri perbedaan yang paling menonjol karena lewat bahasa tiap kelompok sosial merasa
dirinya sebagai kesatuan yang paling berbeda dari kelompok lain. Dalam kelompok tertentu orang
meganggap bahasa itu sebagai identitas sosial lebih penting dari bahasa sebagai sistem.

Studi Bahasa

Pada dasarnya setiap ilmu, termasuk ilmu linguistik, telah mengalami tiga tahap
perkembangan ilmu. Tahap pertama, yaitu tahap spekulasi maksudnya pernyataan tentang bahasa
tidak didasarkan pada data empiris, melainkan pada dongeng/cerita dan klasifikasi. Tahap kedua,
observasi dan klasifikasi. Pada tahapan ini diadakan pengamatan dan penggolongan terhadap bahasa-
bahasa yang diselidiki, tetapi belum sampai pada merumuskan teori. Tahap ketiga, tahap perumusan
teori atau membuat teori-teori, sehingga dapat dikatakan bersifat ilmiah.

Dewasa ini, linguistik telah menyusun teori tentang bahasa. Teori ini tidak menjangkau
tentang semua data secara umum. Sebagai ilmu yang berusaha menyusun teori tentang bahasa,
linguistik memergunakan metode induktif dan deduktif. Metode induktif adalah proses yang
berlangsung dari fakta ke teori, dan metode deduktif berlangsung dari teori ke fakta.

Telah disebutkan bahwa linguistik mendekati bahasa, yang menjadi objek kajiannya, hanya
sebagai bahasa. Pendekatan bahasa sebagai bahasa ini, sejalan dengan ciri-ciri hakiki yang dijabarkan
dalam sejumlah konsep sebagai berikut:

Pertama, karena bahasa pertama-tama adalah bunyi ujaran, maka linguistik melihat bahasa
sebagai bunyi. Kedua, karena bahasa itu bersifat unik, maka linguistik tidak berusaha menggunakan
kerangka suatu bahasa tertentu untuk dikenakan pada bahasa lain. Ketiga, karena bahasa adalah suatu
sistem, maka linguistik mendekati bahasa bukan sebagai kumpulan unsur terlepas, melainkan sebagai
kumpulan unsur yang satu dengan lainnya yang memunyai jaringan hubungan. Keempat, karena
bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat
pemakainya, maka linguistik memerlakukan bahasa sebagai suatu yang dinamis. Kelima, karena sifat
empirisnya, maka linguistik mendekati bahasa deskriptif dan tidak secara preskriptif.

Pembidangan Linguistik

Mengingat bahwa objek linguistik, yaitu bahasa, merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan
dari segala kegiatan bermasyarakat yang sangat luas, maka pembidangan linguistik itu pun menjadi
sangat banyak. Pembidangan linguistik itu berdasarkan:

a. Cakupan objek kajiannya, dibedakan menjadi linguistik umum dan linguistik khusus
Linguistik umum adalah linguistik yang berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa secara umum.
Linguistik khusus berusaha mengkaji kaidah-kaidah bahasa yang berlaku pada bahasa tertentu.
b. Kurun waktu objek kajiannya, dibedakan adanya linguistik sinkronis dan linguistik diakronis
Linguistik sinkronis mengkaji bahasa pada kurun waktu tertentu. Studi linguistik sinkronis
disebut juga studi linguistik deskriptif, karena berupaya mendeskripsikan bahasa secara apa
adanya. Linguistik diakronis berupaya mengkaji bahasa pada masa yang tidak terbatas. Kajian
linguistik diakronis ini disebut juga historis dan komparatif.
c. Hubungan dengan faktor di luar bahasa, objek kajiannya dibedakan menjadi linguistik mikro dan
makro
Studi linguistik mikro sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik, sebab yang dipelajari
adalah struktur internal bahasa. Sedangkan linguistik makro, menyelidiki bahasa dalam kaitannya
dengan faktor-faktor di luar bahasa, lebih banyak membahas faktor di luar bahasa daripada
struktur internal bahasa.
d. Tujuan kajiannya, dibedakan antara linguistik teoretis dan linguistik terapan
Linguistik teoretis berusaha mengadakan penyelidikan terhadap bahasa-bahasa atau juga
terhadap hubungan bahasa dengan faktor-faktor yang berada di luar bahasa untuk menemukan
kaidah-kaidah yang berlaku dalam objek kajiannya itu. Linguistik terapan berusaha mengadakan
penyelidikan terhadap bahasa atau hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa untuk
memecahkan masalah-masalah praktis yang terdapat di dalam masyarakat.
e. Aliran atau teori yang digunakan dalam penyelidikan bahasa dikenal adanya linguistik tradisonal,
linguistik struktural, linguistik transformasional, linguistik semantik generatif, linguistik
relasional, dan linguistik sistemik
Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik; sedangkan
tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa
tertentu. Misalnya dalam merumuskan kata kerja, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja
adalah kata yang menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural
menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan . . . .”.
Ahli linguistik yang cukup produktif dalam membuat buku adalah Noam Chomsky.
Sarjana inilah yang mencetuskan teori transformasi melalui bukunya Syntactic Structures (1957),
yang kemudian disebut classical theory. Dalam perkembangan selanjutnya, teori transformasi
dengan pokok pikiran kemampuan dan kinerja yang dicetuskannya melalui Aspects of the Theory
of Syntax (1965) disebut standard theory. Karena pendekatan teori ini secara sintaktis tanpa
menyinggung makna (semantik), teori ini disebut juga sintaksis generatif (generative syntax).
Pada tahun 1968 sarjana ini mencetuskan teori extended standard theory. Selanjutnya pada tahun
1970, Chomsky menulis buku generative semantics; tahun 1980 government and binding theory;
dan tahun 1993 Minimalist program.
Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah merupakan teori dari
bahasa itu sendiri; dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:
1) Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa
tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
2) Tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah
yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini
harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

Menjelang dasawarsa tujuh puluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky, antara lain
Pascal, Lakoff, Mc Cawly, dan Kiparsky, sebagai reaksi terhadap Chomsky, memisahkan diri dari
kelompok Chomsky dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakoff ini, kemudian terkenal
dengan sebutan kaum Semantik generatif.

Menurut semantik generatif, sudah seharusnya semantik dan sintaksis diselidiki bersama
sekaligus karena keduanya adalah satu. Tata bahasa relasional muncul pada tahun 1970-an
sebagai tantangan langsung terhadap beberapa asumsi yang paling mendasar dari teori sintaksis
yang dicanangkan oleh aliran tata bahasa transformasi.

Manfaat Studi Linguistik

Setiap ilmu, betapun teoritisnya, tentu mempunyai manfaat praktis bagi kehidupan manusia.
Begitu juga dengan linguistik. Kita bisa bertanya manfaat apakah yang diberikan linguistik kepada
kita. Bagi linguistik, pengetahuan yang luas mengenai linguistik tentu akan sangat membantu dalam
menyelesaikan dan melaksanakan tugasnya. Bagi peneliti, kritikus, dan peminat sastra, linguistik akan
membantunya dalam memahami karya-karya sastra dengan lebih baik.

Bagi guru, terutama guru bahasa, pengetahuan linguistik sangat penting, mulai dari
subdisiplin fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi, sampai dengan pengetahuan
hubungan mengenai hubungan bahasa dengan kemasyrakatan dan kebudayaan.

Daftar Pustaka

Ahcmad, dan Alek Abdullah. 2002. Linguistik Umum. Jakarta: Erlannga


Bolinger, Dwight L. 1975. Aspect of Language. New York: Harcourt, Brace & World Inc.

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Saussure, Ferdinand de. 1966. Course in General Linguistics. (Terjemahan Wade Baskin). New York:
Mc Graww-Hill Book Company.