Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS BLOK ELEKTIF

PERAN LEMBAGA SOSIAL DALAM MENANGANI KASUS


KEKERASAN SEKSUAL ANAK DIBAWAH UMUR

Disusun Oleh :

Indah Pratiwi

(1102015097)

Bidang Kepeminatan Domestic Violence

Kelompok 4

Dosen Pembimbing:

dr. Syukrini Bahri Sp.PK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS YARSI

2018

1
ABSTRACT

Background: Kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, tidak terkecuali
pada anak-anak. Hal ini disebabkan karena anak dianggap sebagai sosok yang
lemah dan tidak berdaya. Kurangnya penegasan hukum juga menjadi faktor
mengapa hal ini masih terjadi. Oleh karena itu, lembaga sosial sangat dibutuhkan
demi melindungi dan menegakkan hak-hak anak agar dapat hidup dan
berkembang secara optimal Case Report: CF (pelapor) melaporkan saudara
kandungnya FD, 34 tahun (terdakwa) yang sengaja membantu saksi FR, 31 tahun
dalam melakukan perbuatan cabul pada RS, 5 tahun (anak kandung dari CF)
dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa,
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk RS. Atas
kejadian tersebut, CF melaporkan terdakwa ke Polres Jakarta Timur serta
mendapat bantuan dari LBH APIK Jakarta untuk menyelesaikan kasus tersebut.
Berdasarkan putusan pengadilan, terdakwa dijatuhkan hukuman 6 (enam) tahun
penjara dan denda sebanyak Rp. 50.000.000 atau 2 (dua) bulan penjara bila tidak
bisa membayar. Discussion: Kekerasan seksual pada anak termasuk pelanggaran
moral dan hukum, serta melukai secara fisik dan psikologis. Selain itu, kekerasan
seksual juga dapat menjadi pengalaman traumatis bagi korban. Oleh karena itu,
dibentuklah lembaga sosial seperti KPAI dan LBH APIK untuk membantu dan
melindungi hak anak sebagai korban. Conclussion: Adanya peran KPAI dan LBH
APIK berperan untuk memberikan perlindungan dan pengawasan pada anak
serta memberikan pendampingan dan bantuan hukum bagi anak sebagai korban.
Dengan adanya peran lembaga sosial ini diharapkan kejadian kekerasan seksual
pada anak dapat menurun.
Keyword: kekerasan seksual, anak, lembaga sosial, KPAI, LBH APIK

2
PENDAHULUAN

Kasus kekerasan seksual di Indonesia hampir meningkat setiap tahunnya.


Korbannya tidak hanya dari kalangan dewasa, namun juga pada remaja bahkan
pada anak-anak dan balita. Tidak tegasnya penegakan hukum, terutama dalam
kaitannya dengan sanksi kepada para pelaku menjadi faktor utama mengapa kasus
ini masih kerap terjadi. Anak menjadi kelompok yang sangat rentan tehadap
kekerasan seksual karena anak selalu dianggap sebagai sosok yang lemah, tidak
berdaya dan memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di
sekitarnya. Hal inilah yang membuat anak tidak berdaya saat diancam untuk tidak
memberitahukan apa yang dialaminya. (Noviana, 2015). Lebih tragis lagi,
kebanyakan pelakunya merupakan orang terdekat, misalnya dari lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan bermain dan lingkungan sosial anak.

Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak, masyarakat memiliki


kewajiban dan tanggung jawab terhadap perlindungan anak diatur dalam pasal 72
yang dilaksanakan melalui kegiatan peran serta masyarakat dalam
penyelenggaraan perlindungan anak. Peran serta masyarakat dapat dilakukan
secara perseorangan maupun kelompok. Apabila dilakukan secara perseorangan
dapat dimulai dari mengedukasi anak-anak mereka tentang bahaya kekerasan
seksual untuk meningkatkan kewaspadaan dan apabila dilakukan secara
berkelompok pelaksanaannya dapat dilakukan dalam bentuk lembaga
perlindungan anak, lembaga kesejahteraan sosial, organisasi kemasyarakatan,
lembaga pendidikan, media massa, dan dunia usaha. Undang-undang dalam
pelaksanaannya juga melibatkan unsur akademisi. Hal ini sangat bermanfaat
untuk mencerdaskan masyarakat melalui sosialisasi dan segala bentuk edukasi
lainnya mengenai hak anak dan peraturan perundang-undangan tentang anak.

Pemerintah Indonesia berusaha untuk menjamin dan mewujudkan


perlindungan, pemeliharaan dan kesejahteraan anak melalui pembentukan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dalam
rangka penyesuaian terhadap beberapa ketentuan maka dilakukan beberapa
perubahan terhadap pasal-pasal tertentu yang dituangkan dalam Undang-Undang
nomor 35 Tahun 2014.

3
Agama Islam juga memperhatikan hak-hak pada anak. Sebagaimana Islam
memerintahkan umatnya untuk menjaga dan memelihara anak-anak. Sebab anak
merupakan karunia dari Allah SWT yang sangat berharga. Di dalam Al quran,
anak diibaratkan seperti hiasan. Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik,
membekali anak dengan ilmu pengetahuan sebagai bekal kemudian hari. Begitu
pula hubungan anak dengan pemimpin. Pemimpin harus bertanggung jawab
dengan apa yang dipimpinnya, termasuk pada anak. Seorang pemimpin berperan
penting dalam memberikan perlindungan hak pada anak agar terwujudnya
kesejahteraan bagi anak.

Maka dari itu, pemerintah membentuk dan menetapkan adanya lembaga-


lembaga sosial baik dari pihak pemerintah maupun swasta, beberapa diantaranya
LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk
Keadilan) dan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia). Tugas yang
dilakukan oleh lembaga sosial ini dapat berupa penerimaan pengaduan kekerasan
pada anak, mengawasi penyelenggaran perlindungan anak, serta memberi bantuan
hukum bagi anak serta yang mendampinginya. Hal ini ditujukan demi menjamin
dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dengan adanya peran lembaga sosial di masyarakat diharapkan dapat


memberikan perlindungan pada anak serta dapat mengedukasi masyarakat apakah
suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap anak telah memenuhi
unsur kekerasan terhadap anak untuk kemudian dilaporkan kepada pihak yang
berwenang.

4
DESKRIPSI KASUS

Seorang Ibu berinisial CF (pelapor) yang bertempat tinggal di Jakarta


Timur melaporkan saudara kandungnya FD (terdakwa) berusia 34 tahun sengaja
memberi bantu saksi FR, 31 tahun dalam melakukan perbuatan cabul pada hari
dan tanggal sudah tidak dapat diingat lagi pada bulan September 2014 –
November 2014 dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan,
memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk RS
(korban) berusia 5 tahun yang merupakan anak kandung dari pelapor.

Peristiwa bermula ketika pelapor pada awal bulan September 2014


mengambil korban dari rumah orangtuanya, IF. Kemudian pada bulan Oktober
2014, pelapor melihat RS menonton TV sambil meremas-remas area sensitifnya,
namun pada saat itu pelapor tidak curiga dan hanya mengira gatal biasa. Namun,
pada tanggal 25 Januari 2015, pelapor melihat korban melakukan hal yang serupa
saat sedang liburan di rumah neneknya, IF. Kemudian saat pelapor menanyakan
perihal tersebut, korban kaget dan diam saja. Pada tanggal 26 Januari 2015,
pelapor menemukan bercak putih yang terdapat di celana dalam korban yang
menurut pelapor sudah tidak wajar. Pada tanggal 27 Januari 2015 sekira jam 22.00
WIB, CF bertanya kembali pada korban dan korban menceritakan kejadian bahwa
saksi FR pernah memegang area sensitif korban serta dibantu oleh FD.

Akhirnya RS menceritakan kronologi kejadian tersebut. Hal itu terjadi


ketika RS sedang dititipkan dirumah neneknya. Saat itu RS sedang menonton TV
bersama neneknya yang sudah tertidur. Kemudian RS dipanggil FR untuk naik ke
kamarnya. RS menuruti dan di kamar FR, ternyata sudah ada terdakwa FD. FR
lalu memperlihatkan ‘film pacaran/porno’ kepada RS dan setelah itu, FR
membuka celana korban sambil mengancam, “Awas teriak nanti Om kekap”.
Terdakwa FD ikut memegangi kaki RS dan FR memegang vagina korban, lalu
memasukkan jarinya ke lubang vagina RS. RS diam dan ketakutan karena
diancam akan ditabok dipukul dan disentil bila mengadu ke neneknya.

Pihak keluarga CF telah meminta agar CF dan GG (ayah tiri korban) dapat
menyelesaikan masalah ini secara damai dan kekeluargaan. Tetapi CF tidak dapat
menerimanya lantaran sebelumnya CF juga pernah terlibat konflik dengan saudara

5
kandungnya tersebut. Atas kejadian tersebut, CF dan GG melaporkan terdakwa ke
Polres Jakarta Timur. Selain itu, CF juga melaporkan kasus ini ke LBH APIK
Jakarta Timur. Setelah itu dilakukan Visum et Repertum di Rumah Sakit
Bhayangkara. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan.
Pada pemeriksaan khusus alat kelamin ditemukan robek lama selaput darah arah
jam tiga sampai dasar akibat kekerasan tumpul. Korban menolak konsultasi
kepada dokter ahli kandungan dan kebidanan. Pada pemeriksaan ke psikolog
didapatkan hasil kecemasan, ketakutan, krisis kepercayaan terhadap orang, emosi
menjadi labil dan kebutuhan rasa aman.

Perbuatan terdakwa FD sebagaimana diatur dalam pasal 82 UU RI No. 35


Tahun 2014 Pengganti UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo.
Pasal 56 (1) KUHP. Terdakwa tidak mengakui perbuatannya dan membantahnya.
Terdakwa dianggap melanggar karena mengancam dan melakukan tipu muslihat
serangkaian kebohongan atau membujuk anak dan membantu atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul. Berdasarkan hasil putusan pengadilan, terdakwa
dijatuhkan hukuman 6 (enam) tahun penjara dan denda sebanyak Rp. 50.000.000
atau 2 bulan penjara bila tidak bisa membayar.

6
DISKUSI

Kekerasan Seksual terhadap anak

Pengertian anak dalam Pasal 1 Ayat 1 UU No 23 Tahun 2002 Tentang


Perlindungan Anak, “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan
belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.

Sedangkan pengertian kekerasan dalam Pasal 1 Ayat 16 UU RI No. 35


Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, “Kekerasan adalah setiap perbuatan
terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara
fisik, psikis, seksual, dan atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum”.

Secara umum pengertian kekerasan seksual pada anak adalah keterlibatan


seorang anak dalam segala bentuk aktivitas seksual yang terjadi sebelum anak
mencapai batasan umur tertentu yang ditetapkan oleh hukum negara yang
bersangkutan dimana orang dewasa atau anak lain yang usianya lebih tua atau
orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih dari anak memanfaatkannya
untuk kesenangan seksual atau aktivitas seksual. Sementara menurut Lyness
(Maslihah, 2006) kekerasan seksual terhadap anak meliputi tindakan menyentuh
atau mencium organ seksual anak, tindakan seksual atau pemerkosaan terhadap
anak, memperlihatkan media/benda porno, menunjukkan alat kelamin pada anak
dan sebagainya.

Berdasarkan data KPAI pada tahun 2014 hingga 2016, jumlah kasus
kekerasan seksual pada anak mengalami penurunan. Pada tahun 2014, jumlah
anak sebagai korban kekerasan seksual tercatat sebanyak 656 anak dan menurun
menjadi 120 anak pada tahun 2016.

7
Jumlah kasus kekerasan seksual ini sempat menurun pada tahun 2015-
2016 tetapi berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada
tahun 2018, kasus kekerasan seksual pada anak kembali meingkat. Ketua KPAI,
Susanto menyatakan kasus kekerasan terhadap anak hampir terjadi di semua
daerah. Hingga bulan Februari 2018, KPAI telah menerima 223 aduan kekerasan
seksual.

Banyak dari kasus yang diungkap, pelaku dari kekerasan seksual


merupakan orang terdekat korban, seperti orang tua, saudara sekandung, tetangga
maupun guru. Berdasarkan data Pusat Data dan Infomasi (PUSDATIN) Indonesia
sepanjang bulan Januari – Juni 2018, kekerasan seksual anak terjadi dibeberapa
tempat, diantaranya:

14%
44% lingkungan rumah
20%
sekolah
ruang publik
22%
sekolah

Presentase Kekerasan Seksual pada Anak berdasarkan data PUSDATIN bulan Januari – Juni 2018

8
Tidak ada satupun karakteristik khusus atau tipe kepribadian yang dapat
diidentifikasi dari seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Siapa pun
dapat menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Kemampuan pelaku
menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman, paksaan, kekerasan,
menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual
pada anak baru terungkap setelah peristiwa itu terjadi dan tak sedikit yang
berdampak fatal. Kekerasan seksual pada anak adalah pelanggaran moral dan
hukum, serta melukai secara fisik dan psikologis. Selain itu, kekerasan seksual
juga dapat menjadi pengalaman traumatis bagi korban (Noviana, 2015).

Pada kasus yang dialami oleh RS, terdakwa FD dan FS merupakan orang
terdekat korban, yaitu paman korban. Tindakan yang dilakukan oleh FD dan FR
merupakan bentuk kekerasan seksual pada anak dibawah umur, mengingat RS
yang masih berusia 5 (lima) tahun. Berdasarkan kejadian, FD dan FR
memperlihatkan film pacaran/porno, melakukan tindakan seksual atau
pemerkosaan, dan menyentuh organ seksual RS hingga menyebabkan adanya
trauma tumpul pada alat kelamin RS. Setelah melakukan perbuatan cabulnya, FR
juga mengancam RS yang mengakibatkan adanya dampak psikis pada korban.

Kekerasan seksual terhadap anak ini menunjukkan betapa dunia yang


aman bagi anak semakin sempit dan sulit ditemukan. Dunia anak yang seharusnya
terisi dengan keceriaan, pembinaan dan penanaman kebaikan, harus berputar balik
menjadi sebuah gambaran buram dan potret ketakutan karena anak sekarang telah
menjadi subjek pelecehan seksual. Kekerasan seksual pada anak, baik perempuan
maupun laki-laki tidak boleh dibiarkan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta
masyarakat maupun lembaga yang dapat memberikan perlindungan kepada anak.

Peran Serta Lembaga Sosial Terhadap Kekerasan Seksual Anak

Pada hakikatnya, anak memiliki hak dimana salah satunya mendapatkan


perlindungan dari berbagai pihak, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar
agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan
dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental dan sosial. Hal ini
mencakup perlindungan kekerasan pada anak sebagaimana tercantum pada :

9
1. Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Perubahan Atas
Undang-Undang RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Pasal 1 ayat (2)
2. Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 ayat (12)
3. Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia;
4. Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1979 Tentang
Kesejahteraan Anak;
5. Konvensi Hak Anak PBB yang diratifikasi oleh pemerintah Indonesia
dengan Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990,

Perlindungan anak memiliki dua kategori, yaitu:


1. Pemenuhan hak anak. Yang termasuk di dalamnya adalah hak agama, hak
kesehatan, hak pendidikan, hak sipil, hak memperoleh informasi dan hak
mendapatkan jaminan sosial.
2. Perlindungan khusus. Yang termasuk di dalamnya adalah perlindungan
anak dari kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi, perlindungan khusus
bagi ABH, korban trafiking, penyalahgunaan NAPZA, korban bencana
alam dan konflik sosial serta anak dengan disabilitas (Menkominfo, 2017).

Negara memiliki andil yang besar dalam melindungi hak-hak anak yang
diwujudkan dengan mengeluarkan peraturan-peraturan tentang pemberian
perlindungan terhadap anak sehingga ada jaminan hukum bagi kegiatan
perlindungan anak yang nantinya berdampak pada kelangsungan kegiatan
perlindungan anak serta mencegah penyelewengan dalam pelaksanaan
perlindungan anak. Tindakan perlindungan terhadap anak yang dilaksanakan oleh
pemerintah merupakan bagian dari tujuan negara yaitu untuk melindungi bangsa
dan negara serta demi kesejahteraan umum. (Fitriani, 2016)

Apabila kekerasan terhadap anak sudah terlanjur terjadi, kewajiban


masyarakat dalam negara hukum adalah melaporkan kepada pihak berwenang.
Peran masyarakat tidak berhenti hanya sampai pelaporan terhadap anak yang telah
menjadi korban kekerasan, kewajiban lain yang harus dilaksanakan adalah

10
berperan aktif untuk menghilangkan pelabelan negatif terhadap anak korban
kekerasan dan juga berperan aktif dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial
bagi anak. Elemen masyarakat yang terlibat dalam perlindungan anak juga
melibatkan organisasi-organisasi masyarakat atau lembaga sosial seperti Lembaga
Swadaya Masyarakat, Lembaga Bantuan Hukum, Komisi Perlindungan Anak,
organisasi-organisasi lain yang memiliki kepedulian terhadap perlindungan anak.

Menurut Robert Mac Iver dan Charles H. Page dalam Yesmil Anwar dan
Adang (2013: 200), lembaga sosial sebagai tata cara atau prosedur yang telah
diciptakan untuk mengatur hubungan antar-manusia yang berkelompok dalam
suatu kelompok kemasyarakatan yang dinamakan association. Keberadaan
lembaga sosial dianggap penting sebagaimana hal ini tercantum dalam Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 pasal 10 dimana korban
kekerasan seksual berhak mendapatkan perlindungan dari lembaga atau organisasi
sosial yang peduli terhadap masalah kekerasan, misalnya lembaga-lembaga
hukum.

Lembaga Sosial memiliki fungsi, antara lain:

1. Memberikan pedoman bagi anggota masyarakat, bagaimana mereka harus


bertingkah laku atau bersikap didalam menghadapi masalah-masalah
dalam masyarakat terutama yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan.
2. Menjaga keutuhan masyarakat.
3. Memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem
pengendalian sosial (social control). Artinya sistem pengawasan
masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya. (Anwar dan
Adang, 2013).

Keberadaan peran lembaga sosial dianggap penting dalam memberikan


perlindungan pada anak sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pasal 64 (3).

“Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana


sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan melalui :

11
a. upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga;

b. upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan


untuk menghindari labelisasi;

c. pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik
fisik, mental, maupun sosial; dan

d. pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai


perkembangan perkara.

Adapun beberapa lembaga sosial yang memiliki peran dalam menangani


kasus kekerasan pada anak, diantaranya:

1. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah lembaga


independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang
dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Tentang
Perlindungan Anak. Dasar hukum dari pembentukkan lembaga ini
berdasarkan Keppres Nomor 36/1990, 77/2003 dan 95/M/2004.
Lembaga ini bersifat independen, tidak boleh dipengaruhi oleh siapa
dan dari mana serta kepentingan apapun, kecuali “Demi Kepentingan
Terbaik bagi Anak” seperti diamanatkan oleh CRC (KHA) 1989.
Pembentukkan KPAI ditujukan dalam rangka meningkatkan efektifitas
penyelenggaraan perlindungan anak.
Berdasarkan Pasal 74 Undang-Undang No. 35 Tahun 2014
Tentang Perlindungan Anak ;

12
“(1) Dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan
penyelenggaraan pemenuhan Hak Anak, dengan Undang-Undang ini
dibentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang bersifat
independen.
(2) Dalam hal diperlukan, Pemerintah Daerah dapat membentuk
Komisi Perlindungan Anak Daerah atau lembaga lainnya yang sejenis
untuk mendukung pengawasan penyelenggaraan Perlindungan Anak di
daerah.”

VISI DAN MISI KPAI


 VISI
Meningkatnya efektifitas penyelenggaraan anak demi
terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia
dan sejahtera.

 MISI
1. Melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berkaitan dengan perlindungan anak.
2. Melakukan pengumpulan data dan informasi tntang anak.
3. Menerima pengaduan masyarakat.
4. Melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi terhadap
penyelenggaraan perlindungan anak.
5. Pengawasan terhadap penyelenggara perlindungan anak.

KPAI mempunyai tugas:


a. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perlindungan
dan pemenuhan hak anak;
b. Memberikan masukan dan usulan dalam perumusan kebijakan
tentang penyelenggaraan perlindungan anak;
c. Mengumpulkan data dan informasi mengenai perlindungan
anak;

13
d. Menerima dan melakukan penelaahan atas pengaduan
masyarakat mengenai pelanggaran hak anak;
e. Melakukan mediasi atas sengketa pelanggaran hak anak;
f. Melakukan kerja sama dengan lembaga yang dibentuk
masyarakat di bidang perlindungan anak; dan
g. Memberikan laporan kepada pihak berwajib tentang adanya
dugaan pelanggaran terhadap undang-undang tentang
perlindungan anak

Selain melakukan evaluasi serta pengawasan terhadap


penyelenggaraan perlindungan anak, tugas KPAI juga memberikan
laporan, saran, masukan serta pertimbangan kepada Presiden atas
perlindungan anak.

2. LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia


untuk Keadilan)

LBH APIK adalah lembaga yang bertujuan mewujudkan


masyarakat yang adil, makmur dan demokratis, serta menciptakan
kondisi yang setara antara perempuan dan laki-laki dalam segala aspek
kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Asosiasi
Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) didirikan oleh 7 (tujuh)
pengacara perempuan di Jakarta pada 1995. Dalam perkembangannya,
anggota APIK dari berbagai daerah mendirikan LBH (Lembaga
Bantuan Hukum) APIK yang hingga saat ini berjumlah 16 kantor yang

14
tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahun 2010, 10 kantor LBH APIK
yang telah ada pada saat itu memutuskan untuk bergabung dalam
sebuah payung organisasi yang sama, yang pada saat itu disepakati
bernama Federasi LBH APIK Indonesia. Pada tahun 2012, Federasi
LBH APIK Indonesia berubah nama menjadi Asosiasi LBH APIK
Indonesia. Perubahan nama ini menyesuaikan dengan peraturan dan
ketentuan perundangan yang ada di Indonesia dalam rangka pencatatan
badan hukum organisasi di Kementerian Hukum dan HAM RI.

VISI
 Terwujudnya sistem hukum yang adil gender, yang tercermin
dalam relasi kuasa dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan
bernegara.
 Menguatnya gerakan perempuan sebagai bagian dari gerakan
masyarakat sipil dalam pemberdayaan hukum yang adil gender.

MISI
 Melakukan pendampingan dan bantuan hukum bagi perempuan
yang mengalami ketidakadilan, kekerasan dan berbagai bentuk
diskriminasi;
 Melakukan dan mendorong perubahan kebijakan dan sistem
hukum yang berkeadilan gender
 Melakukan pemberdayaan sumber daya hukum masyarakat
 Membangun jaringan kerja dengan berbagai organisasi dan
mendorong melakukan kerjasama dengan berbagai organisasi dengan
visi misi serupa;
 Mendorong terbentuknya LBH APIK-LBH APIK di berbagai
provinsi;
 Memperkuat kapasitas lembaga di tingkat Asosiasi LBH APIK
Indonesia dan LBH APIK Daerah

15
LBH APIK lebih berfokus pada penanganan kasus perempuan dan
anak berkaitan dengan Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH).
LBH APIK melakukan pendampingan hukum baik itu anak sebagai pelaku
maupun anak sebagai korban, jadi tidak ada pengecualian apakah anak itu
sebagai korban maupun sebagai pelaku. Berkaitan dengan kasus anak,
LBH APIK merupakan lembaga rujukan paling awal untuk pendampingan
terhadap kasus anak. LBH APIK juga memiliki jaringan, baik itu
pemerintah atau swasta yang berkaitan dengan penanganan kasus ABH
sehingga beberapa kasus merupakan rujukan dari pada lembaga lain.

Sebelum melakukan pendampingan LBH APIK terhadap korban,


LBH APIK memerlukan persetujuan dari wali anak. Sebab pada tahapan
pertama pendampingan harus dilakukan penandatanganan surat kuasa yang
dilakukan oleh wali daripada anak tersebut kemudian dilakukan
pendampingan hukum, baik ditahap penyidikan, penuntutan hingga
persidangan. Tidak hanya pendampingan hukum, LBH APIK juga
melakukan upaya pemulihan psikis pada anak, sebab pada beberapa kasus
memerlukan proses konseling dan pemulihan keadaan psikologis anak,
terutama pada anak korban kekerasan seksual.

Atas kasus yang dialami oleh korban, maka CF dan GG selaku


orang tua korban melaporkan terdakwa ke Polres Jakarta Timur.
Selanjutnya, orang tua korban juga melaporkan kasus ini ke LBH APIK
untuk mendapatkan dukungan dan bantuan hukum untuk menegakkan
keadilan bagi korban.

Tata Cara Pelaporan

a. Telepon
Pelaporan dapat melalui panggilan telepon 24 jam bagi korban
perundungan, pelecehan, dan intimidasi. Mekanisme pelaporan melalui
panggilan telepon 24 jam juga harus mensosialisasikan pada para target
bahwa sistem ini menjamin kerahasiaan orang yang menghubungi.

16
b. Tindak lanjut Pelaporan
Institusi akan menyerahkan laporan pada perangkat hukum dan otoritas
pemerintah. Pada saat yang bersamaan institusi akan menghubungi pemangku
kepentingan yang dapat memberikan pendampingan dan perlindungan.

Alur Mekanisme Pelaporan pada RS Bhayangkari

Berdasarkan kasus diatas, korban menjalani pemeriksaan dan


Visum et Repertum di Rumah Sakit Bhayangkara. Adapun menurut UNICEF
Indonesia, alur rujukan di RS. Bhayangkara sebagai berikut:

Sumber: UNICEF Indonesia, 2007

Pada kasus ini, korban pertama kali dilaporkan ke Polres Jakarta


Timur yang dimana seharusnya korban dibawa ke IGD terlebih dahulu.

17
Setelah dilakukan pemeriksaan dan pembuatan Visum et Repertum, korban
dapat melaporkan ke PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) yang diantaranya
merupakan lembaga sosial, berupa LBH.

Sumber: UNICEF Indonesia, 2007

Selanjutnya dari pihak rumah sakit/polisi/lembaga sosial dapat dilakukan


pelaporan lebih lanjut ke KPAI melalui tingkatan berikut:
1. Di tingkat Masyarakat
Kasus KTA (Kekerasan Terhadap Anak) yang telah ditangani di
puskesmas atau Rumah Sakit Kabupaten/Kota dilaporkan dengan
menggunakan format Pencacatan kasus KTA untuk Puskesmas atau

18
Rumah Sakit (Format 1). Selanjutnya Puskesmas atau Rumah Sakit
mengirim Format 1 ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota.

2. Di tingkat kabupaten/kota
Dinas kesehatan kabupaten/kota membuat rekapan laporan yang masuk
dari puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah kerja dengan
menggunakan format Pencatatan kasus KTA untuk kabupaten/kota
(format 2). Selanjutnya format 2 akan dikirim ke Dinas Kesehatan
Propinsi dengan tembusan ke lintas sector terkait setempat yaitu:
Bagian Kesejahteraan Rakyat/Bagian Sosial Pemerintah Daerah,
Kepolisian, Dinas Sosial dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Berlaku
juga bagi Lintas Sektor terkait, sehingga pada akhirnya dapat dipakai
sebagai data dasar dalam perencanaan program KTA di tingkat
Kabupaten/Kota.

3. Di tingkat Propinsi
Dinas Kesehatan Propinsi membuat rekapan hasil laporan dari semua
Kabupaten/Kota dengan menggunakan Format Pencatatan KTA untuk
Propinsi (Format 3) dan mengirimnya ke Direktorat Bina Kesehatan
Anak Depkes RI dengan tembusan ke lintas sektor terkait setempat
yaitu Biro Pemberdayaan Perempuan dan KPAID.

4. Di tingkat Pusat
Rekapan data KTA dari Propinsi akan di analisa untuk bahan dasar
pembuatan kebijakan dan pengembangan program. Selain itu laporan
tersebut akan dikirim ke Meneg Pemberdayaan Perempuan (KHA) di
tingkat Internasional.

19
Perlindungan Anak Menurut Pandangan Islam

Islam sangat menghargai hak setiap insan, termasuk hak pada anak. Di
dalam Al quran digambarkan hak-hak dasar pada manusia, diantaranya hak
perlindungan kehormatan, hak keamanan dan kesucian pribadi, hak keamanan
kemerdekaan pribadi, hak perlindungan hukum dan kesewenang-wenangan serta
hak mendapatkan keadilan. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi
pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS An Nisa 4;58)

Bahkan anak dalam Islam dianggap sebagai pemberian dan karunia dari
Allah SWT yang sangat berharga dalam suatu keluarga, bahkan anak digambarkan
seperti zinatun (hiasan). Sesuai dengan firman Allah SWT :

Artinya: Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-
amalan yang kekal lagi sholeh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta
lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S. Al Kahfi 18; 46)

20
Lembaga Sosial Menurut Pandangan Islam

Lembaga sosial untuk anak ditujukan sebagai pedoman dan sistem


pengendali sosial di masyarakat, bagaimana masyarakat harus bertingkah laku
atau bersikap sewajarnya kepada anak-anak. Selain itu, hal ini juga ditujukan
untuk memberikan perlindungan dan pengawasan pada anak di tingkat
masyarakat.

Pembentukan lembaga sosial di Indonesia dibentuk berdasarkan Undang-


Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang-Undang
RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan juga berdasarkan dengan
kaidah fikih sebagai berikut:

‫الر ِع ِي ِة َم ْن ِزلَة ْال َو ِل ِى ِمنَ ْاليَتِي ِْم‬


َّ َ‫َم ْن ِزلَة اْ ِال َم ِام ِمن‬
“Kedudukan imam terhadap rakyat adalah seperti kedudukan wali terhadap
anak yatim” (Imam Asy-Syafi’i)
Berdasarkan kaidah fikih diatas, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa
kedudukan seorang pemimpin dalam sebuah pemerintahan memiliki kedudukan
yang sama dengan kedudukan wali dari anak yatim.

Begitu pula dengan kisah Umar yang pada waktu itu menjabat sebagai
pemimpin rakyat atau umat islam yang memiliki hak penuh terhadap rakyat yang
dipimpinnya, apakah ia akan membawa rakyatnya kepada kedamaian dan
kesejahteraan ataukah akan membawa kepada kehancuran.

Pemimpin dapat berupa suatu perkumpulan ataupun suatu badan. Tanpa


seorang pemimpin maka suatu perkumpulan tidak akan berjalan dengan baik.
Dalam agama Islam, tiap-tiap individu merupakan pemimpin bagi dirinya sendiri
dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban. Demikian hal ini berlaku pula
untuk pemimpin rakyat yang kelak akan diminta pertanggung jawaban atas apa
yang telah dipimpin olehnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

21
: ‫سلَّ َم‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫ّللا َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ ا قَا َل لنَّ ِبي‬, ِ‫ّللا‬
َّ ‫ع ْن َع ْب ِد‬
َ
‫الر ُج ُل َراعٍ َع َلى‬ َّ ‫ َو‬،‫ فَاإل َما ُم َراعٍ َو ُه َو َم ْسئُو ٌل‬.‫ُكلُّ ُك ْم َراعٍ َو ُكلُّ ُك ْم َم ْسئُو ٌل‬
ُ‫ َو ْال َع ْبد‬،ٌ‫ي َم ْسئُولَة‬َ ‫ت زَ ْو ِج َها َو ِه‬ ِ ‫ َو ْال َم ْرأَة ُ َرا ِع َيةٌ َعلَى َب ْي‬،‫أ َ ْه ِل ِه َو ُه َو َم ْسئُو ٌل‬
.‫ أَالَ فَ ُكلُّ ُك ْم َراعٍ َو ُكلُّ ُك ْم َم ْسئُو ٌل‬.‫س ِي ِد ِه َو ُه َو َم ْسئُو ٌل‬
َ ‫َراعٍ َعلَى َما ِل‬

“Dari Abdullah, ia berkata: Nabi saw. bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin,
dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya. Maka seorang imam
adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya. Seorang laki-laki
adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung
jawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun
akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan seorang budak juga pemimpin atas
harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggung jawabannya. Sungguh
setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawabannya” Sahih al-Bukhori: 4789)
Berdasarkan hadits di atas, maka penting bagi pemimpin untuk
memperhatikan segala aspek yang dipimpin olehnya tanpa terkecuali. Keputusan
seorang pemimpin harus membawa maslahah atau kebaikan bagi masyarakat
karena pemimpin memiliki kekuasaan terhadap apa yang dipimpin olehnya.

Kesimpulan

Anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus dilindungi.


Perlindungan untuk anak dibutuhkan demi menjamin dan melindungi anak dan
hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara
optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Hal ini tidak hanya menjadi
tanggung jawab orang tua saja, tetapi juga keluarga, masyarakat, pemerintah dan
negara. Oleh karena itu, terbentuklah lembaga-lembaga sosial baik dari
pemerintah maupun swasta, seperti KPAI dan LBH APIK yang berperan untuk
memberikan perlindungan dan pengawasan pada anak serta memberikan
pendampingan dan bantuan hukum bagi anak, baik sebagai pelaku maupun
korban. Dengan adanya peran lembaga sosial diharapkan jumlah kasus kejadian
kekerasan seksual pada anak dapat menurun.

22
Saran

Berdasarkan uraian tersebut, maka sudah seharusnya perlindungan pada


anak harus ditegakkan. Bukan hanya lembaga sosial saja yang berperan tetapi
masyarakat, tokoh agama dan media juga harus berpartisipasi aktif untuk
melindungi dan mencegah anak-anak dari kekerasan seksual. Bagi anak yang
menjadi korban, diharapkan agar masyarakat tidak mengucilkan anak tersebut
melainkan memberi motivasi agar anak bisa bersosialisasi seperti sedia kala.
Diperlukan juga upaya rehabilitasi dan proses konseling demi pemulihan keadaan
psikologis anak.

Selain itu, diharapkan pemerintah dan lembaga sosial di Indonesia lebih


aktif untuk mensosialisasikan mengenai kekerasan seksual pada anak agar
masyarakat paham dan mengerti tata cara prosedur untuk melaporkannya.
Pemerintah juga diharapkan tidak hanya memberikan sanksi yang tegas kepada
pelaku, tetapi juga memberikan proses konseling dan penanaman nilai-nilai agama
kepada pelaku agar senantiasa mengingat Allah SWT dan tidak melakukan hal
tersebut kembali.

Berdasarkan laporan di atas, Ibu CF baru melaporkan kejadian ini ke


Polres Jakarta Timur dan LBH APIK. Diharapkan kedepannya, Ibu CF disarankan
tidak hanya melapor ke LBH APIK saja, tetapi juga ke KPAI agar kasus ini dapat
hukumnya kasus ini dapat di evaluasi oleh pemerintah Indonesia..

Ucapan Terima Kasih

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT karena dengan
rahmat dan ridha-Nya, sehingga penyusunan laporan kasus ini dapat terlaksana
dengan baik. Ucapan terima kasih saya berikan kepada dr. Syukrini Bahri, Sp.PK
selaku dosen pembimbing yang telah memberi bimbingan dan meluangkan
waktunya agar dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada dr. Ferryal Basbeth Sp.F DFM selaku pengampu, dr. Hj. R.W.
Susilowati, M.Kes dan DR. Drh. Hj. Titiek Djannatun sebagai koordinator Blok
Elektif. Terima kasih kepada Mbak Uli Pangaribuan dan LBH APIK yang telah
memberikan kesempatan untuk berkunjung dan mengumpulkan data untuk

23
laporan ini. Terima kasih kepada semua anggota kelompok 4 domestic violence
atas dukungan dan kerjasamanya dalam mengerjakan tugas laporan kasus ini.

24
Daftar Pustaka

1. Al-Quran, Surah Al An Nisa 4;58


2. Al-Quran, Surah Al Kahfi 18; 46
3. Adi Laksana, I Ketut Sasmita. 2017. Perlindungan Hukum Bagi Korban
Kekerasan Seksual Terhadap Anak Dan Perempuan, Denpasar:
Universitas Warmadewa.
4. Anwar, Yesmil & Adang. 2013. Kriminologi. PT Refika Aditama.
Bandung.
5. Arimoerti Arindah. 2011. Peran Psikolog dalam Pendampingan Anak yang
Terlibat Sebagai Saksi dalam Proses Peradilan. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada
6. Fitriani, Rini. 2016. Peranan Penyelenggara Perlindungan Anak Dalam
Melindungi Dan Memenuhi Hak-Hak Anak. Aceh: Jurnal Hukum
Samudera Keadilan.
7. Konvensi Hak Anak PBB No. 36 tahun 1990,
8. Makkasau, Maryuni. 2016. Perlindungan Hukum Terhadap Tindak Pidana
Eksploitasi Seksual Anak. Jakarta: Universitas Yarsi,
9. Maslihah, Sri. 2006. Kekerasan Terhadap Anak: Model Transisional dan
Dampak Jakarta Panjang. Edukid: Jurnal Pendidikan Anak Usia
Dini.I.
10. Menkominfo. 2017. Peta Jalan (Sebuah Pengantar): Perlindungan Anak
Indonesia Di Internet. Jakarta.

11. Noviana, Ivo. 2015. Kekerasan Seksual Terhadap Anak: Dampak Dan
Penanganannya. Jakarta: Sosio Informa.

12. UNICEF. 2007. Pedoman Rujukan Kasus Kekerasan Terhadap Anak.

13. Undang-Undang Republik Indonesia No.35 Tahun 2014 Tentang


Perlindungan Anak.
14. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002. Tentang
Perlindungan Anak.
15. Undang-Undang Republik Indonesia No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak
Asasi Manusia;
16. Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 1979 Tentang
Kesejahteraan Anak.
17. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004. Tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

25
Intenet

18. Fachrudin, Fachri. 2017. Sosialiasi Pencegahan Kekerasan Seksual


Terhadap Anak Digencarkan, Viewed 20 November 2018, From:
https://Nasional.Kompas.Com/Read/2017/01/16/17570881/Sosialia
si.Pencegahan.Kekerasan.Seksual.Terhadap.Anak.Digencarkan
19. http://lbhapik.or.id. Diakses tanggal 14 November 2018.
20. http://hukumonline.com. Diakses tanggal 14 November 2018.
21. http://kpai.go.id. Diakses tanggal 14 November 2018.
22. http://risalahmuslim.id. Diakses tanggal 21 November 2018.
23. Juliawanti, Linda. 2018. Miris! Ada 223 Kasus Kekerasan Seksual Anak
Dalam Dua Bulan Terakhir,
https://www.idntimes.com/news/indonesia/linda/223-kasus-
kekerasan-seksual-anak-dalam-dua-bulan-terakhir-1/full. Diakses
tanggal 21 November 2018.News

24. Panigoro, Indry. 2018. Pusdatin Komnas PA Indonesia Catat Angka


Kekerasan Seksual Anak Paling Tinggi.
http://manado.tribunnews.com/2018/08/20/pusdatin-komnas-pa-
indonesia-catat-angka-kekerasan-seksual-anak-paling-tinggi.
Diakses tanggal 21 November 2018.

26