Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. S DENGAN CARSINOMA


CERVIKS + METASTASE PARU + DISURIA DI RUANG SERUNI
(NIFAS) RSUD dr. ABDOER RAHEM SITUBONDO

Oleh: Rosita Amalia Dewi Latri, S.Kep

CARSINOMA (CA) CERVIKS

Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Kanker leher rahim atau carcinoma cervix adalah keganasan dari serviks
yang ditandai dengan adanya perdarahan lewat jalan lahir atau vagina, tetapi
gejala tersebut tersebut tidak muncul sampai tingkat lanjut, dimana tanda dan
diagnosa pasti bisa ditegakkan dengan menggunakan pap smear. Kanker serviks
adalah terjadinya pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali sehingga
menimbulkan benjolan atau tumor pada serviks. Berawal dari serviks, apabila
telah memasuki tahap lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di
seluruh tubuh (Mansjoer dkk, 2008). Kanker serviks dapat disebabkan oleh
infeksi Human Papilloma Virus (HPV). HPV sangat mudah menular dan dapat
menginfeksi siapa saja yang sudah aktif secara seksual, baik pria atau wanita.
Tujuh puluh persen penularan HPV terjadi melalui hubungan seksual sehingga
kanker serviks dapat dikategorikan kedalam penyakit menular seksual.
Golongan HPV yang menyebabkan kanker serviks disebut sebagai HPV
onkogenik yang berperan dalam 99,7% kanker serviks. HPV tipe 16 dan 18
merupakan golongan high risk penyebab utama pada 70% kasus kanker serviks
di dunia.
2. Penyebab
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor
resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
a. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan
seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Menikah pada usia 20 tahun
dianggap masih terlalu muda
b. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin
sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.
c. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan
mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.
d. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma
akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
e. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah
mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan
kebersihan perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya
kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.
f. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene
penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.
g. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian
AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi
diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus
menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.
3. Klasifikasi
Klasifikasi kanker serviks menurut KOmite Ginekologi Onkologi FIGO
merekomendasikan (Faradina, 2006):
Stadium FIGO Keterangan
I Kanker serviks terbatas di serviks (penyebaran ke corpus
uteri diabaikan)
IA Kanker invasive didiagnosa hanya dengan mikroskopis.
Semua lesi yg dapat terlihat dengan mikroskop – meskipun
dengan invasi superficial – adalah stadium IB/T1B
IA1 Invasi stroma dengan kedalaman tidak lebih dari 3 mm atau
dengan penyebaran horizontal 7 mm atau kurang
IA2 Invasi stroma dengan kedalaman >3 mm dan <5 mm dengan
penyebaran horizontal 7 mm atau kurang
IB Lesi yg dapat dilihat secara klinis dikhususkan di serviks
atau lesi mikroskopik lebih besar dari IA2
IB2 Lesi yg dapat dilihat secara klinis >4 cm pada dimensi yg
paling besar
II Telah melibatkan vagina, tetapi belum sampai 1/3 bawah
atau infiltrasi ke parametrium belum mencapai dinding
panggul
IIA Besar tumor mempunyai prognosis yg sama dengan stadium
IB
IIA1 Besar tumor ≤4 cm dengan keterlibatan vagina <2/3 atas
IIA2 Besar tumor >4 cm dengan keterlibatan vagina <2/3 atas
IIB Dengan invasi parametrium
III Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau melibatkan 1/3
bawah vagina dan/atau menyebabkan hidronefrosis atau
afungsi ginjal
IIIA Tumor melibatkan 1/3 bawah vagina & infiltrasi
parametrium, tidak terdapat perluasan ke dinding pelvis
IIIB Tumor meluas ke dinding pelvis dan/atau menyebabkan
hidronefrosis atau afungsi ginjal
IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kencing atau rectum
dan/atau meluas ke pelvis
IVB Metastasis jauh

Gambar 1. Klasifikasi Ca Serviks berdasarkan Tingkat Keparahannya


Klasifikasi tingkat keganasan menurut sistem TNM:
Tingkat Kriteria
T Tidak ditemukan tumor primer
T1S Karsinoma pra invasif (KIS)
T1 Karsinoma terbatas pada serviks
T1a Pra klinik: karsinoma yang invasif
terlibat dalam histologik
T1b Secara klinik jelas karsinoma yang
invasif
T2 Karsinoma telah meluas sampai di luar
serviks, tetapi belum sampai dinding
panggul, atau Ca telah menjalar ke
vagina, tetapi belum sampai 1/3 bagian
distal
T2a Ca belum menginfiltrasi parametrium
T2b Ca telah menginfiltrasi parametrium
T3 Ca telah melibatkan 1/3 distal vagina /
telah mencapai dinding panggul (tidak
ada celah bebas)
T4 Ca telah menginfiltrasi mukosa rektum,
kandung kemih atau meluas sampai
diluar panggul
T4a Ca melibatkan kandung kemih / rektum
saja, dibuktikan secara histologik
T4b Ca telah meluas sampai di luar panggul
Nx Bila memungkinkan untuk menilai
kelenjar limfa regional. Tanda -/+
ditambahkan untuk tambahan
ada/tidaknya informasi mengenai
pemeriksaan histologik, jadi Nx+ / Nx-
N0 Tidak ada deformitas kelenjar limfa
pada limfografi
N1 Kelenjar limfa regional berubah bentuk
(dari CT Scan panggul, limfografi)
N2 Teraba massa yang padat dan melekat
pada dinding panggul dengan celah
bebas infiltrat diantara massa ini dengan
tumor
M0 Tidak ada metastasis berjarak jauh
M1 Terdapat metastasis jarak jauh,
termasuk kele. Limfa di atas bifurkasio
arrteri iliaka komunis.
4. Patofisiologi
Bentuk ringan (displasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi
yang tinggi. Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma insitu
(KIS) berkisar antara 1 – 7 tahun, sedangkan waktu yang diperlukan dari
karsinoma insitu menjadi invasif adalah 3 – 20 tahun.
Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya
perubahan displasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Displasia ini dapat
muncul bila ada aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat
trauma mekanik atau kimiawi, infeksi virus atau bakteri dan gangguan
keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 – 10 tahun perkembangan
tersebut menjadi bentuk preinvasif berkembang menjadi invasif pada stroma
serviks dengan adanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat
menimbulkan luka, pertumbuhan yang eksofitik atau dapat berinfiltrasi ke
kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke forniks, jaringan pada serviks, parametria
dan akhirnya dapat menginvasi ke rektum dan atau vesika urinaria. Virus DNA
ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona transformasi,
dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital
yang tidak dapat diperbaiki, menetap, dan kehilangan sifat serta kontrol
pertumbuhan sel normal sehingga terjadi keganasan (Brunner & Sudart, 2010).
Kanker serviks biasa timbul di daerah yang disebut squamo - columnar
junction (SCJ), yaitu batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan
endoserviks kanalis serviks, dimana secara histologik terjadi perubahan dari
epitel ektoserviks yaitu epitel skuamosa berlapis dengan epitel endoserviks yaitu
epitel kuboid atau kolumnar pendek selapis bersilia. Letak SCJ dipengaruhi oleh
faktor usia, aktivitas seksual dan paritas. Pada wanita muda SCJ berada di luar
ostium uteri eksternum, sedangkan pada wanita berusia di atas 35 tahun SCJ
berada di dalam kanalis serviks, Oleh karena itu pada wanita muda, SCJ yang
berada di luar ostium uteri eksternum ini rentan terhadap faktor luar berupa
mutagen yang akan displasia dari SCJ tersebut. Pada wanita dengan aktivitas
seksual tinggi, SCJ terletak di ostium eksternum karena trauma atau retraksi otot
oleh prostaglandin.
Pada masa kehidupan wanita terjadi perubahan fisiologis pada epitel
serviks, epitel kolumnar akan digantikan oleh epitel skuamosa yang diduga
berasal dari cadangan epitel kolumnar. Proses pergantian epitel kolumnar
menjadi epitel skuamosa disebut proses metaplasia dan terjadi akibat pengaruh
pH vagina yang rendah. Aktivitas metaplasia yang tinggi sering dijumpai pada
masa pubertas. Akibat proses metaplasia ini maka secara morfogenetik terdapat
2 SCJ, yaitu SCJ asli dan SCJ baru yang menjadi tempat pertemuan antara epitel
skuamosa baru dengan epitel kolumnar. Daerah di antara kedua SCJ ini disebut
daerah transformasi.
Penelitian akhir-akhir ini lebih memfokuskan virus sebagai salah satu
factor penyebab yang penting, terutama virus DNA. Pada proses karsinogenesis
asam nukleat virus tersebut dapat bersatu ke dalam gen dan DNA sel tuan rumah
sehingga menyebabkan terjadinya mutasi sel, sel yang mengalami mutasi
tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel
yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia
berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma
invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat pra-
kanker. (Sjamsuhidajat,1997 dalam Prawirohardjo,2010).

5. Tanda dan Gejala


a. Perdarahan
Sifatnya dapat intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang
perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal
perdarahan terjadi lambat.
b. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebelum ada perdarahan.
Pada stadium lanjut perdarahandan keputihan lebih banyakdisertai infeksi
sehingga cairan yang keluar berbau (Padila, 2012).
Tanda dan Gejala kanker servik menurut Dedeh Sri Rahayu tahun 2015:
a. Keputihan, makin lama makin berbau busuk dan tidak sembuh-sembuh.
Terkadang bercampur darah.
b. Perdarahan kontak setelah senggama merupakan gejala servik 70-85%.
c. Perdarahan spontan: perdarahan yang timbul akibat terbukanya pembuluh darah
dan semakin lama semakin sering terjadi.
d. Perdarahan pada wanita menopause
e. Anemia
f. Gagal ginjal sebagai efek dari infiltrasi sel tumor ke ureter yang menyebabkan
obstruksi total
g. Nyeri
1) Rasa nyeri saat berhubungan seksual, kesulitan atau nyeri dalam berkemih,
nyeri di daerah di sekitar panggul.
2) Bila kanker sudah mencapai stadium III ke atas, maka akan terjadi
pembengkakan di berbagai anggota tubuh seperti betis, paha, dan sebagainya.
Menurut Ricci (2009), tersangka kanker serviks stadium lanjut antara lain
a. Nyeri panggul
b. Nyeri pinggul
c. Nyeri kaki
d. Penurunan berat badan
e. Anoreksia
f. Kelemahan dan kelelahan
Menurut Rubina Mukhtar, 2015 menyatakan bahwa tanda dan gejala Ca.
Serviks adalah perdarahan vagina abnormal seperti pendarahan pasca menopause,
menstruasi tidak teratur, menstruasi berat, metrorhagia menyakitkan, atau
perdarahan postcoital. Keputihan abnormal adalah keluhan utama dari sekitar 10%
dari pasien; debit mungkin berair, bernanah, atau berlendir. Gejala panggul atau
nyeri perut dan saluran kencing atau rektum terjadi dalam kasus-kasus lanjutan.
Nyeri panggul mungkin hasil dari loco penyakit regional invasif atau dari penyakit
radang panggul hidup berdampingan.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan pap smear
Dilakukan untuk mendeteksi sel kanker lebih awal pada pasien yg tidak
memberikan keluhan. Sel kanker dapat diketahui pada secret yg diambil dari
posio serviks. Pemeriksaan ini harus mulai dilakukan pada wanita usia 18 tahun
atau ketika telah melakukan aktivitas seksual sebelum itu. Setelah 3x hasil
pemeriksaan pap smear setiap 3 tahun sekali sampai usia 65 tahun.
b. Pemeriksaan DNA HPV
Pemeriksaan ini dimasukkan pada skrining bersama-sama dengan pap’s smear
untuk wanita diatas 30 tahun. Deteksi DNA HPV yg positif yg ditemukan
kemudian dianggap sebagai HPV yg persisten. Apabila hal ini dialami pada
wanita dengan usia yg lebih tua maka akan terjadi peningkatan resiko kanker
serviks.
c. Biopsy
Biopsy dilakukan jika pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau
luka pada serviks atau jika hasil pemeriksaan pap smear emnunjukkan suatu
abnormalitas atau kanker. Teknik yg biasa dilakukan adalah punch biopsy yg tdk
memerlukan anastesi & teknik cone biopsy yg menggunakan anastesi. Biopsy
dilakukan untuk mengetahui kelainan yg ada pada serbiks. Jaringan yg diambil
dari daerah bawah kanal servikal. Hasil biopsy akan memperjelas apakah yg
terjadi itu kanker invasive atau hanya tumor saja.
d. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
Kolposkopi dilakukan untuk melihat daerah yg terkena proses metaplasia.
Pemeriksaan ini kurang efisien dibandingkan dengan pap smear karena
kolposkopi memerlukan ketrampilan & kemampuan kolpokospi dalam mengetes
darah yg abnormal.
e. Tes schiller
Pada pemeriksaan ini serviks diolesi dengan larutan iodium. Pada serviks yg
normal akan membentuk bayangan yg terjadi pada sel epitel serviks karena
adanya glikogen. Sedangkan pada sel epitel serviks yg mengadnung kanker akan
menunjukkan warna yg tidak berubah karena tidak ada glikogen.
f. Radiologi
Pemeriksaan radiologi direkomendasikan untuk mengevaluasi kandung kemih
& rectum yg meliputi sitoskopi, pielogram intravena (IVP), enema barium, &
sigmoidoskopi. Magnetic resonance imaging (MRI) atau CT scan
abdomen/pelvis digunakan untuk menilai penyebaran local tumor &/atau
terkenanya nodus limpa regional.
- Pelvic limphangiografi  dapat menunjukkan adanya gangguan pada saluran
pelvic atau peroartik limfe
- Pemeriksaan intravena urografi  dilakukan pada kanker serviks tahap lanjut,
yg dapat menunjukkan adanya obstruksi pada ureter terminal.

7. Komplikasi
Komplikasinya mencakup infark miokardium, hemoragi, sepsis, obstruksi
perkemihan, pielonefritis, CVA, pembentukan fistula (Sylvia Anderson Price,
2005).
a. Komplikasi yang terjadi karena radiasi
Waktu fase akut terapi radiasi pelvik, jaringan-jaringan sekitarnya juga
terlibat seperti intestines, kandung kemih, perineum dan kulit. Efek samping
gastrointestinal secara akut termasuk diare, kejang abdominal, rasa tidak
enak pada rektal dan perdarahan pada GI. Diare biasanya dikontrol oleh
loperamide atau atropin sulfate. Sistouretritis bisa terjadi dan menyebabkan
disuria, nokturia dan frekuensi. Antispasmodik bisa mengurangi gejala ini.
Pemeriksaan urin harus dilakukan untuk mencegah infeksi saluran kemih.
Bila infeksi saluran kemih didiagnosa, terapi harus dilakukan segera.
Kebersihan kulit harus dijaga dan kulit harus diberi salep dengan pelembap
bila terjadi eritema dan desquamasi. Squele jangka panjang (1 – 4 tahun
setelah terapi) seperti : stenosis pada rektal dan vaginal, obstruksi usus kecil,
malabsorpsi dan sistitis kronis.
b. Komplikasi akibat tindakan bedah
Komplikasi yang paling sering akibat bedah histerektomi secara radikal
adalah disfungsi urin akibat denervasi partial otot detrusor. Komplikasi yang
lain seperti vagina dipendekkan, fistula ureterovaginal, pendarahan, infeksi,
obstruksi usus, striktur dan fibrosis intestinal atau kolon rektosigmoid, serta
fistula kandung kemih dan rektovaginal.
8. Penatalaksanaan
a. Radiasi
Radiasi merupakan perawatan standart pada penderita kanker servik untuk
penyakit kanker yang sudah lanjut (stadium 1B keatas ) dan untuk wanita yang
tidak cocok dengan pembedahan. Secara umum radioterapi akan memberikan
efek secara fisik, psikologis dan sosial hidup penderita sehingga hal ini akan
menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien yang mendapatkan perawatan
dengan radiasi. Efek samping utama yang terjadi adalah diare, kelemahan, mual,
dan abdominal kram.
b. Kemoterapi
Tujuan pengobatan menggunakan kemoterapi tergantung jenis kanker dan fase
saat diagnosis. Kemoterapi disebut sebagai pengobatan adjuvant ketika
kemoterapi digunakan untuk mencegah kanker kambuh. Kemoterapi sebagai
pengobatan paliatif ketika kanker sudah menyebar luas dan dalam fase akhir,
sehingga dapat memberikan kualitas hidup yang baik. (Galle, 2000).
Kemoterapi bekerja saat sel aktif membelah, namun kerugian dari kemoterapi
adalah tidak dapat membedakan sel kanker dan sel sehat yang aktif membelah
seperti folikel rambut, sel disaluran pencernaan dan sel batang sumsum tulang.
Pengaruh yang terjadi dari kerja kemoterapi pada sel yang sehat dan aktif
membelah menyebabkan efek samping yang umum terlihat adalah kerontokan
rambut, kerusakan mukosa gastrointestinal dan mielosupresi. Sel normal dapat
pulih kembali dari trauma yang disebabkan oleh kemoterapi, jadi efek samping
ini biasanya terjadi dalam waktu singkat.
Macam-Macam kemoterapi
- Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik
Anthrasiklin obst golongan ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di
inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.
- Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel,
yang berakibat menghambat sintesis DNA.
- Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes
bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan
mitosis sel.
- Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat
sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA dari
sel-sel kanker tersebut.
c. Pembedahan
Tahap awal dari kanker, biasanya Total Abdominal Hysterectomy (TAH) sering
kali digunakan untuk mengendalikan perluasan, namun jika kanker sudah
metastasis maka operasi, radiasi akan dikombinasikan. Kebanyakan ahli bedah
dalam memberikan histerektomi dilakukan pada tumor atau kanker yang kecil
seringkali <4cm.
CA CERVIKS METASTASE PARU

Metastasis merupakan suatu kemampuan dari sel tumor untuk menyebar dan
hidup pada jaringan tubuh yang lain. Kemampuan untuk melakukan metastasis
terjadi pada tumor ganas sedangkan tumor jinak tidak memiliki kemampuan untuk
bermetastasis. Terjadinya metastasis melibatkan banyak proses yang komplek
mulai dari lepasnya sel tumor dari tumor primer, ikut sirkulasi sampai akhirnya
mencapai organ target. Berbagai organ dapat menjadi target dari metastasis suatu
tumor ganas seperti paru, otak, hepar tulang dan lain – lain.
Paru merupakan salah satu organ yang sering sebagai target metastasis dari
berbagai keganasan yang berasal dari organ ekstratoraks. Terdapatnya metastasis di
paru menandakan telah terjadinya penyebaran dari sel kanker dengan terbentuknya
kelainan lokal pada parenkim paru. Berbagai tumor dapat bermetastasis ke paru
seperti tumor dari mammae, kolon, prostat, tiroid, testis, cervic dan lain – lain.
Adanya metastasis tumor ke paru membuat prognosis menjadi lebih buruk.
Diperkirakan sekitar 10 – 30 % dari semua nodul malignan yang direseksi dari
jaringan paru merupakan akibat metastasis. Sementara itu penelitian oleh
Surveillance Epidemiology and End Results (SEER) yang melakukan review dari
tahun 1975 – 2003 memperlihatkan bahwa angka survival 5 tahun pada pasien
dengan kanker kolon dan rektum sekitar 9,1 % dibandingkan yang belum metastasis
90,5 %. Sementara itu pada kanker mammae yang telah terjadi metastasis angka
survival turun dari 97,5 % menjadi 24,2 %.
Kanker serviks dapat membuat darah menjadi lebih lengket atau kental dan
cenderung membentuk gumpalan. Risiko penggumpalan darah meningkat setelah
menjalani kemoterapi dan istirahat pascaoperasi. Munculnya tumor yang besar
dapat menekan pembuluh darah pada panggul. Hal inilah yang memperlambat
aliran darah balik dan akhirnya mengakibatkan penggumpalan di kaki.
Kondisi bisa berdampak sangat fatal jika gumpalan darah dari pembuluh
darah pada kaki bergerak ke paru-paru dan menghalangi pasokan darah ke paru-
paru. Kondisi ini disebut dengan emboli paru-paru. Penggumpalan darah di kaki ini
bisa ditangani dengan kombinasi obat-obatan pengencer darah,
seperti heparin atau warfarin. Membalutkan stocking atau kain pembalut kaki juga
dapat membantu memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh.
Gejala klinis dari suatu metastasis dapat terjadi tanpa gejala (asimptomatik)
sehingga pasien terlambat mengetahui. Pada yang memiliki gejala dapat berupa
batuk dengan sputum atau tanpa sputum, batuk darah, sesak nafas, anoreksia,
penurunan berat badan, malaise, demam dan nyeri dada. Kadang – kadang gejala
metastasis inilah yang membuat pasien datang berobat tanpa ada keluhan pada
tumor primernya.
Gambaran radiologis dari suatu metastasis di paru terdapat bermacam –
macam bentuk dan ukuran. Namun gambaran suatu metastasis tumor ganas ke paru
biasanya memiliki karakteristik :
- Kelainan bersifat bilateral dengan predominan di daerah basal.
- Sering mengenai daerah perifer dan subpleura
- Ukuran bervariasi mulai dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter
- Biasanya berbentuk bulat dengan batas tegas, licin atau irreguler
- Dapat terbentuk suatu kavitas dimana apabila kavitasi ini terdapat pada
subpleura dapat menyebabkan terjadinya pneumotoraks spontan.
- Dapat terjadi kalsifikasi yang sering terjadi pada sarkoma osteogenik
- Dapat terjadi suatu atelektasis

Gambar 2. Metastase Paru


Dari anamnesis didapatkan adanya gejala – gejala respiratorik seperti sesak
nafas, batuk, batuk darah dan nyeri dada. Selain itu juga terdapat tanda – tanda
kelainan sistemik seperti penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan. Suatu
laporan kasus oleh Kanthan tentang metastasis ke paru yang berasal dari kanker
servik juga menemukan gejala yang hampir sama. Kanthan mendapatkan gejala
berupa batuk yang produktif dan sesak nafas yang bertambah berat dengan aktifitas.
Dalam kepustakaan disebutkan bahwa gejala metastasis ke paru tidak memiliki
gejala klinis yang khas bahkan dapat terjadi tanpa gejala sehingga terlambat
terdiagnosis. Gejala respiratorik yang biasanya ditemukan berupa batuk dengan
sputum atau tanpa sputum, batuk darah, sesak nafas, anoreksia, penurunan berat
badan, malaise, demam dan nyeri dada. Kadang – kadang keluhan metastasis inilah
yang membawa pasien datang berobat tanpa adanya keluhan pada tumor primer.
Pada pasien ini keluhan respiratorik yang membuat pasien datang berobat.
Keganasan pada pasien ini dicurigai berasal dari daerah servik. Namun pada pasien
ini tidak memiliki keluhan dari daerah genital. Gejala kanker servik yang timbul
dapat tanpa gejala namun pada tahap lanjut biasanya adalah keputihan yang
berlebihan dan tidak normal, perdarahan di luar siklus menstruasi, rasa sakit dan
perdarahan saat berhubungan intim (contact bleeding) serta penurunan berat badan
drastis.
Pada karsinoma servik, gambaran metastasis yang umum terjadi adalah
berupa gambaran multipel nodul dengan ukuran nodul bervariasi mulai dari ukuran
yang besar hingga kecil, bentuk bulat dengan batas yang tegas dan licin. Namun
kasus metastasis pada karsinoma servik memiliki insiden kecil yaitu sekitar 5% –
10%. Penelitian oleh Tellis dkk selama 5 tahun pada pasien dengan diagnosis
karsinoma servik. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pasien yang mengalami
metastasis sebanyak 9,1%. dan gambaran metastasis yang banyak ditemukan adalah
gambaran multipel nodul.27 Suatu gambaran metastasis yang jarang ditemukan
pada kanker servik adalah lymphangitis carcinomatosis seperti yang dilaporkan
oleh Kanthan. Dari hasil biopsi paru pada kasus tersebut ditemukan adanya garis
pertumbuhan sel ganas sepanjang septum, perivaskuler, peribronkial dan limfatik
pleura.
Untuk penatalaksanaan selanjutnya adalah mencari sumber tumor primer.
Pada pasien wanita biasanya keganasan sering berasal dari daerah genital sehingga
dilakukan pemeriksaan seperti USG abdomen, pelvis dan fetomaternal. Dari hasil
pemeriksaan didapatkan bahwa tumor primer berasal dari keganasan di serviks.
Namun disayangkan bahkan eksplorasi yang dilakukan tidak maksimal karena pada
pasien ini tidak dapat dilakukan pemeriksaan pap smear karena habisnya reagen
untuk bahan pemeriksaan. Pemeriksaan pap smear merupakan pemeriksaan baku
emas untuk menegakkan diagnosis suatu keganasan di serviks.
DISURIA

1. Pengertian
Disuria adalah perasaan nyeri saat kencing. Hal ini disebabkan karena
adanya iritasi pada buli-buli(Purnomo, 2000). Disuria paling banyak disebabkan
kerna infeksi, yaitu 60% dari seluruh kasus disuria. Hal ini sering ditemukan
pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan struktur uretra. Frekuensi
menunjukkan adanya peningkatan pengeluaran urin saat siang hari, sedangkan
nokturia menunjukkan peningkatan pengeluaran urin saat malam hari. Disuria
lebih umum dijumpai pada wanita muda, mungkin karena aktivitas seksual yang
lebih tinggi. Pria yang lebih tua lebih umum menderita disuria karena
meningkatnya insiden benigna prostathyperplasia (BPH) yang disertai dengan
inflamasi dan infeksi. Pada kebanyakan pasien, urinalisis dapat membantu
menentukan adanya infeksi dan memastikan diagnosis. Organisme
coliform,terutama Escherichia coli, adalah pathogen yang paling umum dalam
infeksi traktus urinarius.

2. Penyebab
Beberapa penyebab terserang dari disuria (Bremnor & Sadovsky, 2002):
a. Infeksi, misalnya pyelonephritis, cystitis, prostatitis, urethritis, cervicitis,
epididymo-orchitis,vulvovaginitis.
b. Kondisi Hormonal, misalnya hypoestrogenism, endometriosis.
c. Malformasi, misalnya obstruksi leher vesica urinaria (misalnya benign prostatic
hyperplasia), urethralstrictures atau diverticula.
d. Neoplasma, misalnya tumor sel renal, vesica urinaria, prostat, vagina/vulva, dan
kanker penis
e. Peradangan, misalnya spondyloarthropathies, efek samping obat, penyakit
autoimun.
f. Trauma, misalnya karena pemasangan kateter, “honeymoon” cystitis.
g. Kondisi psychogenic, misalnya somatization disorder, major depression, stress
atau anxietas, histeris
3. Patofisiologi
Disuria biasanya disebabkan oleh peradangan pada uretra atau kandung
kemih. Selain itu, lesi perineum pada wanita seperti vulvovaginitis atau infeksi
virus herpes simpleks juga dapat menyebabkan nyeri saat buang air kecil jika
terkena air seni. Disuria umumnya disebabkan oleh infeksi, namun inflamasi
nonifeksius juga dapat menjadi penyebab (Torre, 2009).
Disuria terjadi karena iritasi pada trigonum vesica urinaria atau urethra.
Peradangan atau striktur uretra menimbulkan rasa terbakar yang menyebabkan
kesulitan saat akan memulai buang air kecil. Iritasi trigonum vesica urinaria
menyebabkan kontraksi otot vesica urinaria, sehingga menimbulkan rasa nyeri
dan sering buang air kecil. Disuria muncul jika kontraksi otot vesica urinaria
tidak mampu mengosongkan urin dengan kecepatan sekitar 20 ml/s dalam waktu
kurang dari 30 detik. Hal ini terjadi saat vesica urinaria melemah, dilatasi karena
obstruksi atau karena kondisi neurogikal. Infeksi saluran kemih bawah paling
sering menyebabkan disuria, tetapi dalam beberapa kasus dapat pula disebabkan
oleh infeksi saluran kemih bagian atas (Torre, 2009).

4. Tanda dan Gejala


Kejadian disuria disertai oleh beberapa gejala. Ada beberapa gejala disuria
yang perlu Anda ketahui. Gejala disuria ini tergantung pada hal yang menjadi
penyebab disuria. Pada orang yang mengalami disuria karena infeksi, kanker,
kista, dan masalah medis memiliki gejala seperti sering buang air kecil dalam
jumlah sedikit dan merasakan nyeri dan panas saat buang air kecil.
Disuria yang disebabkan oleh infeksi di area genital memiliki gejala
seperti gatal di area genital, pendarahan vagina, aroma urin yang tidak sedap,
dan warna urin yang berbeda. Gejala disuria yang dialami juga bisa
menimbulkan rasa nyeri saat berhubungan.
Apabila disuria disebabkan oleh bahan-bahan kimia maka gejala disuria
adalah area genital menjadi gatal, iritasi, dan kemerahan. Orang yang mengalami
disuria akibat pengaruh obat akan merasakan nyeri atau sakit saat buang air kecil.
5. Penatalaksanaan
Ada beberapa jenis pengobatan disuria. Jenis pengobatan disuria
dipengaruhi oleh jenis penyebabnya. Apabila penyebab disuria adalah karena
infeksi maka pengobatanya dengan cara menggunakan antibiotik yang
disesuaikan dengan jenis infeksi yang dialami.
Ada obat antibiotik yang digunakan secara oral dan ada yang diberikan
secara intravena. Pada infeksi vagina, ada antiobiotik yang diberikan dalam
bentuk sediaan suppositoria dan krim yang dimasukkan ke dalam vagina.
Apabila penyebab disuria adalah karena peradangan maka obat yang harus
digunakan adalah obat antiradang atau antiinflamasi. Pengobatan disuria yang
alami adalah dengan memperbanyak minum air putih dan menjauhi penggunaan
bahan-bahan kimia pada area genital.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN CA CERVIKS

1. Pengkajian
a. Anamnesis
Pada anamnesis, bagian yang dikaji adalah keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, dan riwayat penyakit terdahulu.
b. Keluhan Utama
Perdarahan dan keputihan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
d. Klien datang dengan keluhan perdarahan pasca coitus dan terdapat keputihan yang
berbau tetapi tidak gatal. Perlu ditanyakan pada pasien atau keluarga tentang
tindakan yang dilakukan untuk mengurangi gejala dan hal yang dapat
memperberat, misalnya keterlambatan keluarga untuk memberi perawatan atau
membawa ke rumah sakit dengan segera, serta kurangnya pengetahuan keluarga.
e. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah mengalami hal
yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien pernah menderita
penyakit infeksi.
f. Riwayat Keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti ini
atau penyakit menular lain.
g. Psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah dan
bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit kanker serviks.
h. Pemeriksaan Fisik Fokus
1. Kepala
a) Rambut : bersih, tidak ada ketombe, dan tidak rontok
- Wajah : tidak ada oedema, Ekspresi wajah ibu menahan nyeri (meringis), Raut
wajah pucat.
b) Mata : konjunctiva tidak anemis
c) Hidung : simetris, tidak ada sputum
d) Telinga : simetris, bersih, tidak ada serumen
e) Mulut : bibir tidak kering, tidak sianosis, mukosa bibir lembab, tidak terdapat lesi
f) Leher : tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan tidak ada pembesaran kelenjer
getah bening
2. Dada
a) Inspeksi : simetris
b) Perkusi : sonor seluruh lap paru
c) Palpasi : vocal fremitus simetri kana dan kiri
d) Auskultasi : vesikuler, perubahan tekanan darah
3. Cardiac
a) Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
b) Palpasi : ictus cordis teraba, v Perubahan denyut nadi
c) Perkusi : pekak
d) Auskultasi : tidak ada bising
4. Abdomen
a) Inspeksi : simetris, tidak ascites, posisi tubuh menahan rasa nyeri di daerah
abdomen.
b) Palapasi : ada nyeri tekan
c) Perkusi : tympani
d) Auskultasi : bising usus normal
5. Genetalia
Inspeksi
- Ada lesi.
- Keluarnya cairan encer dari vagina dan berbau busuk.
- Pendarahan yang terjadi, volume darah yang keluar.
- Urine bercampur darah (hematuria).
Palpasi
Pembengkakan di daerah uterus yang abnormal
6. Ekstremitas dan Kulit
Tidak oedema, Kelemahan pada pasien, Keringat dingin.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan anemia
trombositopenia.
b. Nyeri akut berhubungan dengan pertumbuhan jaringan abnormal.
c. Ketidakseimbangan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia, mual dan muntah.
d. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan fistula pada vagina.
e. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan.
f. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan port de entrée bakteri.
g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan paska anastesi.
h. Harga diri rendah berhubungan dengan timbulnya keputihan dan bau.
3. Intervensi Keperawatan
DIAGNOSIS
NO. TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Manajemen Asam Basa
perfusi jaringan pasien menunjukkan hasil: a. Pertahankan kepatenan jalan nafas
perifer b. Posisikan klien untuk mendapatkan
Tujuan ventilasi yang adekuat (misalnya
No. Indikator Awal
1 2 3 4 5 membuka jalan nafas dan
Nilai rata-rata menaikkan posisi kepala di tempat
1. 3 √ tidur)
tekanan darah
2. Edema perifer 3 √ c. Pertahankan kepatenan akses
3. Suhu tubuh 3 √ selang IV
4. Irama pernafasan 1 √ d. Monitor kecenderungan pH arteri,
5. Tekanan nadi 3 √ PaCO, dan HC03 dalam rangka
6. Kedalaman inspirasi 2 √ mempertimbangkan jenis
Keterangan: ketidakseimbangan yang terjadi
1. Keluhan ekstrime (misalnya, respiratorik atau
2. Keluhan berat metabolik) dan kompensasi
3. Keluhan sedang mekanisme fisiologis yang terjadi
4. Keluhan ringan (misalnya, kompensasi paru atau
5. Tidak ada keluhan ginjal dan penyangga
fisiologis/physiological buffers)
e. Pertahankan pemeriksaan berkala
terhadap pH arteri dan plasma
elektrolit untuk membuat
perencanaan perawatan yang
akurat
f. Monitor gas darah arteri (ABGs),
level serum serta urin elektrolit jika
diperlukan.
NIC: Manajemen Cairan
a. Monitor status pasien
b. Jaga intake/asupan yang akurat dan
catat output [pasien]
c. Monitor status hidrasi (misalnya,
membran mukosa lembab, denyut
nadi adekuat, dan tekanan darah
ortostatik)
d. Monitor status hemodinamik,
termasuk CVP, MAP, PAP, dan
PCWP, jika ada
e. Monitor tanda tanda vital pasien
f. Kaji lokasi dan luasnya edema, jika
ada
g. Monitor makanan/cairan yang
dikonsumsi dan hitung asupan
kalori harian
h. Tingkatkan asupan oral (misalnya,
memberikan sedotan, menawarkan
cairan di antara waktu makan,
mengganti air es secara rutin,
menggunakan es untuk jus favorit
anak, potongan gelatin ke dalarn
kotak yang menyenangkan,
menggunakan cangkir obat kecil),
yang sesuai
i. Dukung pasien dan keluarga untuk
membantu dalarn pemberian
makan dengan baik
j. Konsultasikan dengan dokter jika
tanda-tanda dan gejala kelebihan
volume cairan menetap atau
memburuk
DIAGNOSIS
NO. TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (NOC) INTERVENSI (NIC)
KEPERAWATAN
2 Nyeri Akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam NIC: Manajemen Nyeri (1400)
(00132) pasien menunjukkan hasil: a. Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif yang meliputi lokasi,
Kepuasan Klien: Menejemen Nyeri (3016) karakteristik, onset/durasi,
Tujuan frekuensi, kualitas, intensitas
No. Indikator Awal beratnya nyeri dan faktor pencetus;
1 2 3 4 5
1. Nyeri terkontrol 3 √ b. Observasi adanya petunjuk
nonverbalmengalami
2. Tingkat nyeri 3 √ ketidaknyamanan terutama pada
Mengambil mereka yang tidak dapat
3. tindakkan untuk : 3 √ berkomunikasi secara edektif
mengurangi nyeri c. Gunakan strategi komunikasi
Mengambil terapuetik untuk mengetahui
tindakkan untuk : pengalaman nyeri dan sampaikan
4. 1 √ penerimaan pasien terhadap nyeri
memberi
d. Gali pengetahuan dan kepercayaan
kenyamanan pasien mengenai nyeri
Pendekatan e. Ajarkan prinsip-prinsip menejemen
5. preventif 3 √ nyeri
menejemen nyeri f. Kolaborasi pemberian analgesik
Menejemen nyeri guna pengurangi nyeri
6. sesuai budaya 2 √
NIC: Monitor Tanda-tanda Vital
budaya (6680)
Keterangan: a. Monitor Tekanan Darah , Nadi,
6. Keluhan ekstrime Respirasi dan Suhu
7. Keluhan berat b. Monitoring tekanan darah setelah
8. Keluhan sedang pasien meminum obat
9. Keluhan ringan c. Monitoring dan laporkan tanda dan
10. Tidak ada keluhan gejala hipotermia dan hiperternia
d. Monitoring nadi paradoks
- Nyeri terkontrol (301601) e. Monitoring irama dan tekanan
- Tingkat nyeri berkurang (301602) jantung
- Mengambil tindakkan untuk : dapat mengurangi nyeri
menggunakan terapi farmakologis dan non farmakologis NIC: Terapi relaksasi (6040)
(301604) a. Gambarkan rasionalisasi dan
- Mengambil tindakkan untuk : dapat mengatur posisi yang manfaat relaksasi serta jenis
nyaman (301605) relaksasi yang tersedia
- Pendekatan preventif menejemen nyeri : dapat b. Pertimbangkan keinginan pasien
mengetahui tentang nyeri dan cara mengatasinya untuk berpartisipasi, kemampuan
menggunakan terapi farmakologis maupun non berpartisipasi, pilihan, pengalaman
farmakologis (301610) masa lalu dan kontraindikasi
- Menejemen nyeri sesuai budaya budaya : dapat sebelum memilih strategi tertentu
melakukan terapi relaksasi untuk mengurangi nyeri c. Dorong klien untuk mengambil
(301609) posisi yang nyaman dengan
pakaian longgar dan mata tertutup
d. Minta klien untuk rileks dan
merasakan sensasi yang terjadi
e. Dorong klien untuk mengulangi
[praktik teknis relaksasi,
jikamemungkinkan
f. Evaluasi dan dokumentasi respon
terhadap terapi relaksasi
NIC: Pemberian Analgesik (2210)
a. Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas dan keparahan nyeri
sebelum mengobati pasien
b. Cek perintah pengobatan meliputi
obat, dosisi dan frekuensi obat
analgesik yang diresepkan
c. Monitoring tanda-tanda vital
sebelum dan setelah memberikan
analgesik narkotik pada dosisi
pertama kalau jika ditemukan
tanda-tanda yang tidak biasa
d. Jelaskan tindakan keselamatan
pada pasien yang menerima
analgesik narkotik, sesuai
kebutuhan
DAFTAR PUSTAKA

Bilotta, Kimberly A. J. 2011. Kapita Selekta Penyakit: Implikasi Keperawatan.


Jakarta: EGC.

Brunner & Suddart. 2010. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta: EGC.

Mukhtar, Rubina., et al. 2015. Prevalence of Cervical Cancer in Developing


Country: Pakistan. US: Global Journal.

Nurarif, Amin Huda dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: MediAction
Publishing.

Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Media.

Prawirohardjo, sarwono, 2010. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan bina pustaka.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC.

Rahayu, Dedeh Sri. 2015. Asuhan Ibu dengan Kanker Serviks. Jakarta: Salemba
Medika.