Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PENDAHULUAN KOMPREHENSIF I

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN


ACTIVITY DAILY LIVING DAN POSITIONING PADA PASIEN
DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUANGAN MELATI
RUMAH SAKIT PARU JEMBER

OLEH:

NILAM GANUNG P. M.
NIM 142310101129

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2016
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kasus komprehensif I yang dibuat oleh:

Nama : Nilam Ganung P.M.


NIM : 142310101129
Judul : LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN ACTIVITY DAILY
LIVING DAN POSITIONING PADA PASIEN DENGAN
BRONKOPNEUMONIA DI RUANGAN MELATI RUMAH
SAKIT PARU JEMBER

telah diperiksa dan disahkan oleh pembimbing pada:

Hari : Senin
Tanggal : 23 Mei 2016

Jember, 23 Mei 2016

TIM PEMBIMBING

Pembimbing Akademik, Pembimbing Klinik,

__________________________ _________________________
NIP.............................................. NIP............................................

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
A. Definisi Penyakit ............................................................................................ 1
B. Epidemiologi .................................................................................................. 1
C. Etiologi ........................................................................................................... 2
D. Tanda dan Gejala ............................................................................................ 3
E. Patofisiologi dan Clinical Pathway ................................................................ 4
F. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia .......................................................... 7
G.Penatalaksanan Medis ..................................................................................... 9
H.Penatalaksanaan Keperawatan ........................................................................ 12
1) Pengkajian ............................................................................................. 12
2) Diagnosa Keperawatan yang sering muncul (PES) .............................. 16
3) Perencanaan/Nursing Care Plan ............................................................ 18
4) Discharge Planing ................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA

2
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Penyakit

Pneumonia adalah peradangangan parenkim paru yang disebabkan oleh


bakteri. dengan gejala panas tinggi disertai batuh berdahak, napas cepat (frekuensi
nafas >50x/menit), sesak, dan gejala lainnya (sakit kepala, ansietas, dan nafsu
makan berkurang) (Riskesdas, 2013). Bronkopneumonia merupakan suatu
penyebaran daerah infeksi yang ditandai bercak-bercak infiltrat dengan diameter
sekitar 3 sampai 4 cm mengelilingi dan juga melibatkan bronchi. Sering terjadi
pada bayi dan orang tua (Sylvia A. Price & Lorraine M.W, 1995 : 710; PKPI,
2003). Kesimpulannya adalah jenis infeksi paru yang disebabkan oleh agen
infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.

B. Epidemiologi
Di Amerika pneumonia merupakan peringkat ke-6 dari semua penyebab
kematian dan peringkat pertama dari seluruh penyakit infeksi, angka kematian
akibat pneumonia mencapai 25% di Spanyol dan 12% atau 25-30 per 100.000
penduduk di Inggris dan Amerika. 1 Menurut WHO, 95% pneumonia pada anak-
anak di dunia terdapat di negara-negara berkembang. Infeksi saluran napas bawah
menjadi kedua teratas penyebab kematian pada anak-anak di bawah 5 tahun
(sekitar 2,1 juta [19,6%]). Di Indonesia, pneumonia ditanyakan pada semua
penduduk untuk kurun waktu 1 bulan atau kurang dan dalam kurun waktu 12
bulan atau kurang. Period prevalence dan prevalensi tahun 2013 sebesar 1,8
persen dan 4,5 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi
pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur (4,6% dan

3
10,3%), Papua (2,6% dan 8,2%), Sulawesi Tengah (2,3% dan 5,7%), Sulawesi
Barat (3,1% dan 6,1%), dan Sulawesi Selatan (2,4% dan 4,8%). Period
Prevalence pneumonia di Indonesia tahun 2013 menurun dibandingkan dengan
tahun 2007 (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan kelompok umur penduduk, Period prevalence pneumonia
yang tinggi terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun, kemudian mulai meningkat
pada umur 45-54 tahun dan terus meninggi pada kelompok umur berikutnya
(Riskesdas, 2013). Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30%
pada anak-anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi,
sedangkan di Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit
infeksi pada anak di bawah umur 2 tahun (Bradley et.al., 2011).
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga
setelah kardiovaskuler dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah
mempertinggi angka kematian. Kasus pneumonia ditemukan paling banyak
menyerang anak balita. Kejadian bronkopneumonia pada anak di Indonesia
berkisar antara 10% – 15% /tahun. Perkiraan angka kematian Bronkopneumonia
secara nasional yaitu 6 per 1.000 anak atau berkisar 150.000 balita per tahun
(Jendela Epidemiologi, 2010).

C. Etiologi
Secara umum individu yang terserang diakibatkan oleh adanya penurunan
mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme patogen. Orang yang
normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh terhadap organ
pernafasan yang terdiri atas: reflek glotis dan batuk, adanya lapisan mukus,
gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan sekresi humoral
setempat. Timbulnya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa,
mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682) antara
lain:
1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.
2. Virus : Legionella pneumoniae
3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru

4
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama
Sebab lain adalah akibat flora normal yang terjadi pada pasien yang
memiliki sistem imun rendah, atau telah terjadi aspirasi flora normal yang terdapat
dalam mulut dan karena adanya pneumocystis cranii, Mycoplasma. (Misnadiarly,
2008)

D. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala yang dapat terjadi karena penyakit Bronchopneumonia
yaitu sebagai berikut:
1. Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
a. Nyeri pleuritik
b. Nafas dangkal dan mendengkur
c. Takipnea
2. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
a. Mengecil, kemudian menjadi hilang
b. Krekels, ronkhi
3. Gerakan dada tidak simetris
4. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
5. Diaforesis
6. Anoreksia
7. Malaise
8. Batuk kental, produktif sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi
kemerahan atau berkarat
9. Sianosis area sirkumoral, dasar kuku kebiruan
10. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati
Biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran pernapasan bagian atas
selama beberapa hari. Pada tahap awal, pasien mengalami tanda dan gejala yang
khas seperti demam, menggigil, batuk produktif, terdengar krekels atau wheezing
atau ronchi pada paru yang sakit dan terdengar ketika konsolidasi (pengisian
rongga udara oleh eksudat)

5
E. Patofisiologi
Didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas yang disebabkan oleh
bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau karena aspirasi makanan
dan minuman. Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masuk
ke saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman
di tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi
saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut:
1. Infeksi saluran nafas bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi
pembuluh darah alveoli, peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan
alveoli.
2. Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran
pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora
normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi
dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit.

6
Pathways
Bakteri Stafilokokus aureus
Bakteri Haemofilus influezae
Mycoplasma

 Penderita akit berat yang dirawat di RS


Saluran nafas atas  Penderita yang mengalami penurunn
sistem pertahanan tubuh
 Kontaminasi peralatan RS

Kuman berlebih di Kuman terbawa Infeksi saluran


Inflamasi
bronkus disaluran pencernaan pernafasan bawah

Proses peradangan Infeksi saluran


pencernaan Dilatasi Peningkatan Edema antara
pembuluh darah Suhu kaplier dan alveoli
Akumulasi secret di
Peningkatan flora
bronkus Edema paru
normal dalam usus Eksudat plasma Peningkatan
masuk alveoli metabolisme
Peningkatan Pengerasan
peristaltik usus Gangguan difusi Evaporasi dinding paru
dalam plasma meningkat
malabsorbsi Penurunan
Mukus brokus Gangguan ekspansi paru
meningkat pertukaran gas
Diare
Suplai O2 menurun
Bau mulut
Bersihan tidak sedap Gangguan
jalan keseimbangan Hipoksia
Hiperventilasi
nafas cairan dan
tidak anoreksia elektrolit
efektif Dispneu Metabolisme
Intake kurang anaeraob meningkat
Nyeri
Retraksi dada / nafas
cuping hidung Akumulasi
Nutrisi kurang asam laktat
dari kebutuhan Ketidakefektifan
tubuh perfusi jaringan Ketidakefekt Fatigue
ifan pola
nafas
Intoleransi
7 aktifitas
F. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia
1. Activity Daily Living (ADL) dan Positioning
Activity Daily Living (ADL) adalah kegiatan yang dilakukan dengan
mudah oleh individu dan dikerjakan secara rutin sehari-hari. ADL merupakan
aktivitas pokok pokok bagi perawatan diri. ADL meliputi antara lain toileting,
makan, berpakaian, mandi, dan berpindah tempat. (Ahmad, 2010; Hardywinoto &
Setiabudi, 2005). ADL memiliki fungsi sebagai berikut:
a. Mengembangkan keterampilan-keterampilan pokok untuk memelihara dan
memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi.
b. Untuk melengkapi tugas-tugas pokok secara efisien dalam kontk sosial
sehingga dapat diterima lingkungan.
c. Meningkatkan kemandirian.
Proses dalam intervensi ADL training meliputi melakukan diskusi tentang
pentingnya ADL, alat yang digunakan untuk ADL dan cara melakukan ADL,
kemudian dilanjut dengan praktik ADL serta memasukkan ke dalam jadwal
perawatan diri (Sulistya & Mamnu’ah, 2014).
ADL dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. ADL dasar, sering disebut ADL saja, yaitu ketrampilan dasar yang harus
dimiliki seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian, makan &
minum, toileting, mandi, berhias. Ada juga yang memasukkan kontinensi
buang air besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. Dalam
kepustakaan lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto, 2005)
b. ADL instrumental, yaitu ADL yang berhubungan dengan penggunaan alat atau
benda penunjang kehidupan sehari-hari seperti menyiapkan makanan,
menggunakan telefon, menulis, mengetik, mengelola uang kertas ADL dasar,
sering disebut ADL saja, yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang
untuk merawat dirinya meliputi berpakaian, makan dan minum, toileting,
mandi, berhias. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan
buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. Dalam kepustakaan lain juga
disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto,2005)
c. ADL vokasional, yaitu ADL yang berhubungan dengan pekerjaan atau
kegiatan sekolah.

8
d. ADL non vokasional, yaitu ADL yang bersifat rekreasional, hobi, dan mengisi
waktu luang.
ADL terdiri dari aspek motorik yaitu kombinasi gerakan volunter yang
terkoordinasi dan aspek propioseptif sebagai umpan balik gerakan yang
dilakukan. ADL dipengaruhi oleh ROM sendi, kekuatan otot, tonus otot,
propioseptif, persepti visual, kognitif, koordinasi, keseimbangan (Sugiarto, 2005).
Menurut Hadiwynoto (2005) faktor yang mempengaruhi penurunan Activities
Daily Living adalah:
a. Kondisi fisik misalnya penyakit menahun, gangguan mata dan telinga
b. Kapasitas mental
c. Status mental seperti kesedihan dan depresi
d. Penerimaan terhadap fungsinya anggota tubuh
e. Dukungan anggota keluarga
Pengkajian ADL penting untuk mengetahui tingkat ketergantungan atau
besarnya bantuan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Pengukuran
kemandirian ADL akan lebih mudah dinilai dan dievaluasi secara kuantitatif
denagn sistem skor yang sudah banyak dikemukakan oleh berbagai penulis ADL
dasar, sering disebut ADL saja, yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki
seseorang untuk merawat dirinya meliputi berpakaian, makan & minum, toileting,
mandi, berhias. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan buang
air kecil dalam kategori ADL dasar ini. Pengkajian pada ADL dapat dilakukan
dengan beberapa pengukuran yaitu sebagai berikut.
a) Pengkajian pada pola gordon dapat dilakukan dengan analisa tabel berikut:
Aktivitas Harian (Activity Daily Living)
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
Makan/ minum
Toileting
Berpakaian
Mobilitas di tempat
Berpindah
Ambulasi / ROM
Ket: 0: tergantung total, 1: bantuan petugas dan alat, 2: bantuan petugas, 3:
bantuan alat, 4: mandiri

9
b) Indeks Barthel
No. Item yang dinilai Dibantu Mandiri
1. Makan (bila makanan harus dipotong-potong dulu 5 10
= dibantu)
2. transfer dari kursi roda ke tempat tidur dan 5-10 15
kembali (termasuk duduk di bed)
3. Higieni personal (cuci muka, menyisir, bercukur 0 5
jenggot, gosok gigi)
4. Naik & turun kloset/ WC (melepas/memakai 5 10
pakaian, cawik, menyiram WC)
5. Mandi 0 5
6. Berjalan di permukaaan datar 0-10 15
(atau bila tidak dapat berjalan, dapat mengayuh
kursi roda sendiri)
7. Naik & turun tangga 5 10
8. Berpakaian(termasuk memakai tali sepatu, 5 10
menutup resleting)
9. Mengontrol anus 5 10
10. Mengontrol kandung kemih 5 10
Hasil dari penilaian indeks barthel dapat diinterpretasikan jika 0-20 dependen
total, 21-60 dependen berat, 61-9- dependen sedang, 91-99 dependen ringan, dan
100 independen/mandiri.

c) Indeks Katz
Indeks katz meliputi kemandirian pasien untuk mandi, berpakaian,
toileting, berpindah tempat, mempertahankan inkontinensia, dan makan.
Kemandirian berarti tanpa pengawasan, bantuang pribadi atau pengarahan. Indeks
ini membentuk suatu kerangkakerja untuk mengkaji kehidupan hidup mandiri
pasien atau bila ditemukan terjadi penurunan fungsi akan disusun titik fokus
perbaikannya. Skala yang ditetapkan pada indedks Katz terdiri dari skala A
sampai G. Indeks Katz A yaitu kemandirian dalam 6 aktivitas yaitu makan,
kontinen, berpindah, kekamar kecil, berpakaian, dan mandi. Indeks Katz B yaitu

10
kemandirian dalam 5 aktivitas. Indeks Katz C yaitu kemandirian dalam semua hal
kecuali mandi dan satu fungsi tambahan. Indeks Katz D yaitu kemandirian dalam
semua hal kecuali mandi, berpakaian, dan satu fungsi tambahan. Indeks Katz E
yaitu kemandirian dalam semua hhal kecuali mandi, berpakaian, kekamar kecil
dan satu fungsi tambahan. Indeks Katz G yaitu ketergantungan terhadap keenam
fungsi tersebut. Skala yang ditetapkan oleh Indeks Katz terdiri dari dua kategori
yaitu kemandirian tinggi (Indeks A, B, C, dan D) dan kemandirian rendah (E, F,
dan G) (Kobayashi dalam skripsi Ediawati, 2012).

2. Positioning
Positioning adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk
memberikan posisi tubuh dalam meningkatkan kesejahteraan atau kenyamanan
fisik dan psikologis. Aktivitas intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk
diantaranya menempatkan tempat tidur yang terapeutik, mendorong pasien
meliputi perubahan posisi, tempatkan dalam posisi terapeutik, memonitor status
oksigen sebelum dan sesudah perubahan posisi, posisikan untuk mengurangi
dyspnea seperti posisi semifowler, dan memposisikan pasien sesuai dengan tanda
dan gejala yang dialami. Berikut beberapa posisi yang dapat diberikan pada
pasien.
a. Posisi fowler
Posisi fowler adalah posisi setengah duduk atau duduk, dimana bagian
kepalatempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Posisi ini dilakukan untuk
mempertahankan kenyamanan dan memfasilitasi fungsi pernapasan pasien. Posisi
fowler dapat diberikan pada pasie yang mengalami gangguan pernafasan dan pada
pasien yang mengalami immobilisasi. Posisi fowler bertujuan untuk:
1) Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi.
2) Meningkatkan rasa nyaman
3) Meningkatkan dorongan pada diafragma sehingga meningkatnya ekspansi
dada dan ventilasi paru
4) Mengurangi kemungkinan tekanan pada tubuh akibat posisi yang menetap
Berikut prosedur yang dapat dilakukan untuk memposisikan pasien:
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

11
2) Dudukkan pasien
3) Berikan sandaran atau bantal pada tempat tidur pasien atau aturr tempat tidur.
4) Untuk fowler (90˚).
5) Anjurkan pasien untuk tetam berbaring setengah duduk.

b. Posisi semifowler
Posisi semifowler adalah sikap dalam posisi setengah duduk 15-45 derajat.
Posisi ini bertujuan untuk:
1) Mobilisasi;
2) Memerikan perasaan lega pada pasien sesak nafas;
3) Memudahkan perawatan misalnya memberikan makan;
Dalam memberikan posisi semifowler, berikut prosedur yang bisa dilakukan:
1) Mengangkat kepala dari tempat tidur ke permukaan yang tepat (45-90O);
2) Gunakan bantal untuk menyokong lengan dan kepala pasien jika tubuh bagian
atas pasien lumpuh;
3) Meletakkan bantal di bawah kepala pasien dengan keinginan pasien,
menaikkan lutut dari tempat tidur yang rendah untuk menghindari adanya
tekanan di bawah jarak poplital (di bawah lutut).

c. Posisi Sim
Posisi sim adalah posisi miring ke kanan atau ke kiri, posisi ini dilakukan
untuk memberi kenyamanan dan memberikan obat melalui anus (supositoria).
Posisi sim ini digunakan pada pasien yang akan di huknah dan akan diberikan
obat melalui anus. Posisi ini bertujuan untuk:
1) Mengurangi penekanan pada tulang secrum dan trochanter mayor otot
pinggang
2) Meningkatkan drainage dari mulut pasien dan mencegah aspirasi
3) Memasukkan obat supositoria
4) Mencegah dekubitus
Dalam memposisikan pasien dengan posisi sim maka prosedur yang perlu
dilakukan yaitu:
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

12
2) Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke kiri dengan posisi
badan setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk
diarahkan ke dada.
3) Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas
tempat tidur.
4) Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki
kanan lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.
5) Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas
tempat tidur.

d. Posisi Trendelenburg
Posisi trendelenburg yaitu pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian
kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Posisi ini dilakukan untuk melancarkan
peredaran darah ke otak. Posisi ini digunakan apabila pasien dengan pembedahan
daerah perut, pasien shock, hipotensi. Dalam memposisikan pasien dengan posisi
trendelenburg maka prosedur yang perlu dilakukan yaitu:
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring, kemudian miringkan ke kiri dengan posisi
badan setengan telungkup dan kaki kiri lurus lutut. Paha kanan ditekuk
diarahkan ke dada.
3) Tangan kiri diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kanan diatas
tempat tidur.
4) Bila pasien miring ke kanan dengan posisi badan setengan telungkup dan kaki
kanan lurus, lutut dan paha kiri ditekuk diarahakan ke dada.
5) Tangan kanan diatas kepala atau dibelakang punggung dan tangan kiri diatas
tempat tidur

e. Posisi dorsal recumbent


Posisi dorsal recumbent adalah pasien berbaring terlentang dengan kedua
lutut flexi (ditarik atau direnggangkan) diatas tempat tidur. Posisi ini dilakukan
untuk merawat dan memeriksa genetalia serta pada proses persalinan. Dorsal
recumbent bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pasien, terutama dengan

13
ketegangan punggung belakang. Dalam memposisikan pasien dengan posisi
trendelenburg maka prosedur yang perlu dilakukan yaitu sebagai berikut.
1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2) Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, letakkan bantal diantara kepala
dan ujung tempat tidur pasien dan berikan bantal dibawah lipatan lutut
3) Berikan balok penopang pada bagian kaki tempat tidur atau atur tempat tidur
khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien.

f. Posisi Litotomi
Posisi litotomi adalah posisi berbaring telentang dengan mengangkat
kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Posisi ini dilakukan untuk
memeriksa ibu hamil, genitalia pada proses persalinan, dan memasang alat
kontrasepsi. Dalam memposisikan pasien dengan posisi litotomi maka prosedur
yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut.
1) Pasien dalam keadaan berbaring telentang, kemudian angkat kedua paha dan
tarik ke arah perut
2) Tungkai bawah membentuk sudut 90 derajat terhadap paha
3) Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi lithotomic
4) Pasang selimut

g. Posisi Genu pectrocal/ Knee chest


Posisi genu pectrocal/ Knee chest adalah pada posisi ini pasien
menungging dengan kedua kaki di tekuk dan dada menempel pada bagian alas
tempat tidur. Posisi ini dilakukan untuk memeriksa daerah rektum dan sigmoid.
Posisi genu pectoral dunakan untuk memudahkan pemeriksaan daerah rektum,
sigmoid, dan vagina. Dalam memposisikan pasien dengan posisi genu pectrocal/
knee chest maka prosedur yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut.
1) Anjurkan pasien untuk posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan
dada menempel pada kasur tempat tidur.
2) Pasang selimut pada pasien.

14
h. Posisi orthopneic
Posisi orthopneic posisi pasien duduk dengan menyandarkan kepala pada
penampang yg sejajar dada, seperti pada meja. Posisi orthopneic bertujuan untuk
memudahkan saat melakukan ekspansi paru untuk pasien dengan kesulitan
bernafas yg ekstrim & tidak bisa tidur terlentang atau posisi kepala hanya dapat
pada elevasi sedang. Posisi ini dapat digunakan pada pasien dengan sesak berat
dan tidak dapat tidur terlentang.

i. Posisi Supine,
Posisi supine posisi telentang dengan pasien menyandarkan punggungnya
supaya dasar tubuh sama dengan kesejajaran berdiri yg baik. Posisi ini bertujuan
untuk meningkatkan kenyamanan pasien dan memfasilitasi penyembuhan
terutama terhadap pasien pembedahan/dalam proses anestesi tertentu. Supinasi
digunakan pada pasien dengan tindakan anastesi tertentu, dan kondisi koma.

j. Posisi Pronasi
Posisi pronasi adalah pasien tidur dalam posisi telungkup Berbaring
dengan wajah menghadap ke arah bantal. Bertujuan untuk memberikan ekstensi
maksimal terhadap sendi lutut dan pinggang dan mencegah fleksi dan kontraktur
pada pinggang dan lutut. Dilakukan pada pasien yg menjalani bedah mulut dan
kerongkongan dan dengan pemeriksaan pada daerah bokong atau punggung.

k. Posisi Lateral
Posisi lateral adalah posisi miring di mana pasien bersandar kesamping
dengan sebagian besar berat tubuh berada pada pinggul dan bahu. Memiliki tujuan
untuk meningkankan rasa nyaman, mempertahankan body aligement, mengurangi
komplikasi akibat immobilisas, dan mengurangi kemungkinan tekanan yg
menetap pada tubuh akibat posisi yg menetap. Dilakukan pada pasien yg mau
beristirahat, posisi fowler atau dorsal recumbent dalam waktu lama, kelemahan
dan pasca operasi.

15
l. Penatalaksanaan Medis
Pada dasarnya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi
tetapi hal ini tidak dapat selalu dilakukan dan memakan waktu yang cukup lama,
maka dalam praktek diberikan pengobatan polifragmasi seperti penisilin diambah
dengan kloramfenikol atau diberi antibiotik yang mempunyai spektrum luas
seperti ampicillin. Pengobatan diteruskan sampai bebas demam selama 4 – 5 hari.
Adapun berapa pengobatan secara medis atau penatalaksanaan yang dapat
dilakukan yaitu :
1. Bed rest
2. Jumlah cairan disesuaikan dengan berat badan dan kenaikan suhu.
3. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
4. Pemberian antibiotik sesuai biakan atau berikan :
a. Untuk kasus pneumonia community base :
1) Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
2) Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
b. Untuk kasus pneumonia hospital base :
1) Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
2) Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberia
3) Antipiretik : paracetamol 10-15 mg/kgBB/x beri
4) Mukolitik : Ambroxol 1,2-1,6 mg/kgBB/2 dosis/oral
5. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan
bronkodilator.
6. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip. Jika sesaknya berat maka pasien
harus dipuasakan.

16
G. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Identitas Pasien
Perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat
rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status
pendidikan dan pekerjaan pasien.
b) Keluhan Utama
Didapatkan keluhan berupa sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri
pleuritik terutama pada saat batuk dan bernafas.
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Tanda-tanda seperti batuk, flu, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada
dada, berat badan menurun dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan mulai
kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk
menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut. Apakah
sebelumnya pasien mencari bantuan kesehatan dirinya seperti di
puskesmas.
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit paru lainnya
seperti TB paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya.
Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor
predisposisi.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-
penyakit yang disinyalir sebagai penyebab efusi pleura seperti kanker
paru, asma, TB paru dan lain sebagainya.
f) Pengkajian Pola-Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi
perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan
persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. Apakah pasien
pergi ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan bantuan kesehatan dan

17
bagaimana penanganan dini ketika sakit apakah membeli obat di toko
terdekat
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan
pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi
pasien.
c. Pola eliminasi
Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan
ilusi dan defekasi sebelum dan sesudah MRS. Karena keadaan umum
pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan
menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur
abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.
d. Pola aktivitas dan latihan
Akibat sesak nafas, kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi dan
pasien akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal.
Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya
nyeri dada dan untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan
pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya.
e. Pola tidur dan istirahat
Adanya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan
berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istitahat, selain itu
akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang
ke lingkungan rumah sakit, dimana banyak orang yang mondar-mandir,
berisik dan lain sebagainya.
f. Pola hubungan dan peran
Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan mengalami perubahan
peran, misalkan pasien seorang kepala keluarga, pasien tidak dapat
menjalankan fungsinya sebagai seorang ayah yang harus mencari nafkah
untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari keluarganya. Disamping itu,
peran pasien di masyarakat pun juga mengalami perubahan dan semua itu
mempengaruhi hubungan interpersonal pasien.

18
g. Pola persepsi dan konsep diri
Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang tadinya
sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri dada. Sebagai seorang
awam, pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah
penyakit berbahaya dan mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan
kehilangan gambaran positif terhadap dirinya. Pasien akan merasa cemas
akan kondisi dirinya.
h. Pola sensori dan kognitif
Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan, demikian juga
dengan proses berpikirnya.
i. Pola reproduksi seksual
Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan
terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit
dan kondisi fisiknya masih lemah. Saat sakit pasien akan ditemani hanya
dengan istrinya saja.
j. Pola penanggulangan stress
Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami
stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan
dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu
mengenai penyakitnya akibat dari kecemasannya.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya
kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu
cobaan dari Tuhan.

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pasien : tampak lemah, gelisah, tegang
TTV :
TD > 120/80 mmHg
Nadi > 100x/menit,
RR> 24x/menit
Suhu>36,5OC

19
Pemeriksaan Head Toe toe
a. Kepala
Inspeksi : Warna rambut hitam kecoklatan, kurang hygiene,
Palpasi : Bentuk kepala simetris
b. Mata
Inspeksi : Sklera berwarna merah karena adanya peningkatan suhu tubuh,
konjungtiva anemis.
c. Telinga
Inspeksi : Terdapat kotoran/tidak di dalam telinga
Palpasi : Bentuknya simetris
Auskultasi : Pendengarannya agak terganggu/ tidak
d. Hidung
Inspeksi : pernafasan cuping hidung normal.
Palpasi : Adanya nyeri tekan atau tidak.
e. Mulut
Inspeksi : mukosa bibir kering akibat meningkatnya suhu tubuh.
Palpasi : Reflek menelan dan reflek mengisap sedikit terganggu.
f. Dada
Paru – paru
Inspeksi : Irama nafas tidak teratur, pernapasan dangkal, penggunaan
otot bantu napas.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara paru ronchi.
Jantung
Inspeksi : Detak jantung cepat
Palpasi : Tidak ada pembesaran pada dada sebelah kiri
Perkusi : Suara jantung terdengar redup
Auskultasi : Nada S1 S2 dan lub dup
g. Abdomen
Inspeksi : Adanya Lesi/tidak dibagian kanan atas
Auskultasi : Bising usus meningkat menjadi 11x/menit (normal 4-9x/menit)

20
Palpasi : Splenomegali, hepatomegali, nyeri tekan, nyeri lepas, turgor
kulit <3 detik
Perkusi : Suara abdomen timpani
h. Ekstremitas
Atas : Pergerakan sendi pada lengan terbatas karena terjadi nyeri
sendi, kelelahan, kelemahan dan, CRT <2 detik.
Bawah : Pergerakan sendi pada kaki terbatas karena adanya nyeri.
i. Genetalia dan anus
Kelengkapan (laki laki: penis, skrotum), ada atau tidaknya lesi. Fungsi buang
air besar dan air kecil normal.

2. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)


a) Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d peningkatan produksi sputum d.d batuk
berdahak, terdengar suara ronkhi
b) Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolar kapiler,adanya
sekret d.d Takipneau, tampak lemah, nadi >100x/menit, RR> 24x/menit, bibir
pucat, sesak napas
c) Gangguan perfusi jaringan b.d kerusakan transport oksigen melalui membrane
alveolar dan/ membrane kapiler d.d sianosis, bibir pucat, nadi>100x/menit.
d) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidak mampuan
untuk memasukkan atau mencerna nutrisi d.d muntah
e) Ketidak efektifan pola nafas b.d penurunan ekspansi paru d.d sesak nafas
f) Gangguan rasa nyaman nyeri b.d iritasi membrane mukosa dalam saluran
pernafasan d.d nyeri dada.
g) Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan
oksigen d.d kelelahan/kelemahan.
h) Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan yang berlebihan, penurunan
pemasukan oral d.d diare

21
J.2 Perencanaan/Nursing Care Plan

No Perencanaan
No
Dx Tujuan & kriteria hasil Intervensi Rasional

1 I Setelah dilakukan tindakan perawatan 1) Mengkaji frekuensi pernafasan, 1. Takipnea biasanya ada pada
3x24 jam, jalan napas bersih dan efektif catat rasio inspirasi/ ekspirasi beberapa derajat dan dapat
setelah hari perawatan, dengan kriteria 2) mengauskultasi bunyi nafas, ditemukan pada penerimaan
hasil: catat adanya bunyi nafas. Misalnya: atau selama stres/ adanya
a) Tidak ada dypsnoe, sianosis, mengi, krekels dan ronki. proses infeksi akut. Pernafasan
b) Tidak ada ronchi dan suara krekels 3) Memberikan posisi semi fowler. dapat melambat dan frekuensi
c) RR 16-24x/menit 4) Memberikan minum hangat ekspirasi memanjang
d) Tidak terlihat otot bantu pernapasan sedikit sedikit tapi sering. dibanding inspirasi.
5) Melaksanakan tindakan 2. Bersihan jalan nafas yang
kolaboratif : Bronkodilator, tidak efektif dapat
mukolitik, untuk mencairkan dahak dimanifestasikan dengan
sehingga mudah dikeluarkan. adanya bunyi nafas ronkhi
6) mengajarkan teknik batuk efektif 3. Posisi semi fowler akan
mempermudah pasien untuk

1
bernafas
4. Hidrasi menurunkan
kekentalan sekret dan
mempermudah pengeluaran.
5. Pemberian obat-obatan
pengerncer dahak
memudahkan proses evakuasi
jalan nafas
6. Memudahkan pasien untuk
mengeluarkan dahak
2 II Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji status respirasi 1. Takipneu, pernapasan dangkal
selama 3 x 24 jam Gangguan pertukaran 2. Observasi sianosis khususnya dan gerakan dada tidak
pasien teratasi dengan kriteria hasi: membran mukosa simetris sering terjadi karena
1. Menunjukkan fungsi paru dalam batas 3. Posisikan pasien semifowler ketidaknyamanan gerakan
normal 4. Lakukan suction dinding dada.
2. Tidak mengalami nafas dangkal 5. Lakukan kolaborasi dengan 2. Sianosis pada kuku
3. Tidak menggunakan otot aksesoris pemberian oksigen menunjukan vasokonstriksi
untuk bernapas. 6. Lakukan kolaborasi dengan atau respon tubuh terhadap
4. Tanda tanda vital dalam rentang normal memberi bronkodilator melalui demam/menggigil. Namun

2
5. BGA mormal: nebulizer sianosis dan telinga, membran
pH = 7,35 – 7,45 7. Jelaskan pada pasien dan mukosa dan kulit sekitar mulut
H+ = 35–45 nmol/L(nM) keluarga tentang persiapan menunjukkan hipoksemia
PaO2 = 80–100 mmHg tindakan dan tujuan penggunaan sistemik.
PaCO2 = 35–45 mmHg alat tambahan (Oksigen, 3. Mempermudah bernapas
HCO3−= 22–26 mmol/L Suction,) 4. Membersihkan jalan napas
8. Lakukan pengecakan BGA secara secara mekanik pada pasien
periodik yang tidak mampu melakukan
batuk efektif / penurunan
tingkat kesadaran
5. Alat dalam menurunkan kerja
napas ; menghilangkan distres
respirasi dan sianosis
sehubungan dengan
hipoksemia.
6. Alat untuk menurunkan
spasme bronkus dengan
mobilisasi sekret.
7. Supaya keluarga mengetahui

3
mengenai tindakan yang akan
dilakukan pada pasien
8. Mengetahui kondisi pasien
dengan menghitung kadar gas
arteri
3 III Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji bunyi nafas dan setelah 1. Mengetahui perkembangan
selama 3 x 24 jam Gangguan perfusi pengisapan atau terapi inhalasi. fungsi pernafasan pasien.
jaringan pasien dapat teratasi dengan 2. Kaji nadi perifer dan kapilari 2. Penurunan nadi perifer dan
kriteria hasi: reffil kapilari reffil merupakan
1. TTV : 3. Monitor out put urine dan indikasi penurunan perfusi
Nadi: 60-100x/menit laporkan bila kurang dari 30 jaringan.
RR: 16-24x/menit cc/jam. 3. Penurunan produksi urine
Suhu: 36,5OC-37,5OC 4. Lakukan kolaborasi dengan O2 merupakan indikasi peerfusi
TD: 120/90mmHg 5. Ajarkan dan libatkan keluarga jaringan ke ginjal tidak
2. Mengidentifikasi cara medis, diet, mengenai teknik posisi semi adekuat.
pengobatan, aktivitas yang fowler 4. Pemberian O2 dapat
meningkatkan vasodilatasi 6. Lakukan pengambilan sampel melancarkan pernafasan
3. Status mental pasien tidak ada darah 5. Melatih keluarga, apabila
penurunan, sianosis tidak ada, pasien sesak bisa dibantu

4
extremitas tidak dingin. melancarkan pernapasan
dengan teknik semi fowler.
6. Untuk mengetahui kadar Hb
dalam darah dan identifikasi
terjadinya sianosis
4 IV Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitoring BB pasien dalam 1. Mengetahui kondisi pasien
selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi pasien batas normal 2. Mencegah terjadinya
tercukupi dengan kriteria hasil: 2. Anjurkan diet makanan tinggi konstipasi pada pasien
1. Adanya peningkatan berat badan sesuai serat 3. Supaya nutrisi yang diberikan
dengan tujuan 3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk untuk pasien tercukupi
2. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi menentukan jumlah kalori dan 4. Supaya keluarga dapat
badan nutrisi yang dibutuhkan pasien. mengetahui nutrisi yang
3. Mampu mengidentifikasi kebutuhan 4. Libatkan keluarga dalam dibutuhkan pasien saat ini apa
nutrisi pemberian nutrisi saja.
4. Tidak ada tanda tanda malnutrisi 5. Ajarkan diet dengan porsi sedikit 5. Membantu meningkatkan
5. Tidak terjadi penurunan berat badan tapi sering asupan nutrisi pasien
yang berarti.
5 V Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Identifikasi faktor penyebab. 1. Dapat menentukan jenis effusi
selama 2 x 24 jam diharapkan pasien 2. Posisikan pasien untuk pleura sehingga dapat

5
menunjukkan nafas efektif dengan kriteria memaksimalkan ventilasi (posisi mengambil tindakan yang
hasil: semi fowler) tepat.
1. Tidak ada penggunaan otot bantu 3. Kaji TTV, kualitas, frekuensi 2. Penurunan diafragma
pernafasan dan kedalaman pernafasan, memperluas daerah dada
2. Tidak ada bunyi nafas tambahan laporkan setiap perubahan yang sehingga ekspansi paru bisa
3. RR dalam rentang normal (16- terjadi maksimal dan membantu
24x/menit) 4. Auskultasi suara nafas dalam memaksimalkan
5. Kolaborasi pemberian O2 ventilasi
6. Kolaborasi terapi nebulizer jika 3. Mengetahui kondisi fungsi
perlu paru pasien dan
7. Informasikan kepada pasien dan mengidentifikasi terjadinya
keluarga tentang teknik relaksasi dispneu
untuk meningkatkan pola 4. Mengetahui ada/tidaknya
pernafasan bunyi nafas tambahan
5. Sebagai bronkodilator untuk
mengurangi sesak nafas dan
memudahkan jalan nafas
6. Meningkatkan suplai O2
7. Menambah pengetahuan

6
pasien dan keluarga tentang
teknik relaksasi untuk
mengatasi sesak nafas

6. VI Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara 1. Mengetahui penyebab timbul
selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri komprehensif menggunakan rasa nyeri, kualitas nyeri,
teratasi efektif dengan kriteria hasil: PQRST lokasi nyeri, skala nyeri, dan
1. Nyeri pasien akan menurun 2. Observasi ekspresi nonverbal dari waktu nyeri yang dirasakan
2. Pasien tidak gelisah ketidaknyamanan pasien.
3. Pasien dapat tidur dengan nyenyak 3. Gunakan teknik komunikasi 2. Mengetahui nyeri pasien
terapeutik untuk mengetahui masih terasa nyeri atau tidak
pengalaman nyeri pasien 3. Memahami nyeri yang
4. Kontrol lingkungan yang dapat dirasakan pasien
mempengaruhi nyeri seperti suhu 4. Mengetahui faktor-faktor yang
ruangan, pencahayaan dan dapat mempengaruhi nyeri dan
kebisingan sebagai evalluasi untuk
5. Kolaborasi pemberian analgesic tindakan perawatan
6. Lakukan perubahan posisi jika selanjutnya
perlu 5. Mengurangi rasa nyeri

7
7. Ajarkan teknik relaksasi nafas 6. Membantu pasien mengurangi
dalam dan distraksi nyeri yang dirasakan
7 VII Setelah dilakukan perawatan selama 2x24 1. Evaluasi respon pasien terhadap 1. Menetapkan
jam diharapkan pasien dapat melakukan aktivitas. Catat laporan dipsnea, kemampuan/kebutuhan pasien
aktivitas dengan baik. Kriteria hasil: peningkatan kelemahan/ dan memudahkan pilihan
Menunjukkan peningkatan toleransi kelelahan dan perubahan tanda intervensi.
terhadap aktivitas yang dapat diukur vital selama dan sesudah 2. Tirah baring dipertahankan
dengan tak adanya dipsnea dan kelemahan aktivitas. selama fase akut untuk
berlebihan 2. Jelaskan pentingnya istirahat menurunkan kebutuhan
dalam rencana pengobatan dan metabolic, menghemat energy
perlunya keseimbangan aktivitas untuk penyembuhan.
dan istirahat. Pembatasan aktivitas
3. Bantu pasien memilih posisi yang ditentukan dengan respon
nyaman untuk istiraha dan/ tidur. individual pasien terhadap
4. Bantu aktivitas perawatan diri aktivitas dan perbaikan
yang diperlukan. Berikan kegagalan pernafasan
kemajuan peningkatan aktivitas 3. Pasien mungkin nyaman
selama fase penyembuhan. dengan kepala tinggi, tidur di
kursi, atau menunduk ke depan

8
meja dan bantal
4. Meminimalkan kelelahan dan
membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen.
8 VII Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1) Mengkaji perubahan tanda- 1. Untuk menunjukkan adnya
selama 3x24 jam tidak terjadi kehilangan tanda vital. kekurangan cairan sisitemik
volume cairan dengan kriteria hasil : 2) Mengkaji turgor kulit. 2. Indikator langsung
Meningkatnya masukan cairan , tidak ada 3) Menyatat intake dan out put keadekuatan masukan cairan
tanda – tanda kurang volume cairan. cairan. 3. Memberikan informasi tentang
4) Kolaborasi pemberian obat keadekuatan volume cairan
sesuai indikasi. dan kebutuhan penggantian
4. Memperbaiki ststus kesehatan

9
J.3 Perencanaan Evaluasi
No. Dx Evaluasi
I 1. Dahak dapat dikeluarkan dengan lancer
2. Tidak tampak dyspneu
3. Tidak ada tanda-tanda sianosis
II 1. Pasien mampu mengatakan secara verbal tentang sesaknya
apakah sudah mulai berkurang
2. Napas pasien tampak lebih normal, Nadi dalam rentang normal
60-100x/menit, RR dalam rentang normal 16-24x/menit, Bibir
kemerahan / tidak pucat
III 1. Akral hangat,
2. Tidak ada tanda-tanda sianosis
IV 1. Pasien dapat mengatakan secara verbal badannya sudah tidak
terasa lemah dan nafsu makan meningkat
2. Pasien tidak muntah saat makan maupun setelah makan
3. Tidak terjadi penurunan BB
V 1. pasien dapat mengatakan secara verbal tentang sesaknya
2. terlihat tanda-tanda sianosis atau tidak
3. pasien terpasang oksigen untuk membantu meningkatkan suplai
oksigen
4. tercatat adanya bunyi tambahan wheezing
5. RR dalam batasan normal
VI 1. Pasien dapat mengatakan secara verbal tentang nyerinya
2. Pasien dapat mengungkapkan secara nonverbal (ekspresi)
tentang nyeri
Pasien dapat mengatakan tingkat nyerinya menggunakan skala
VII 1. Pasien dapat mengatakan secara verbal tentang kondisi dirinya
2. pasien tampak melakukan aktivitas ringan secara mandiri
(duduk di tempat tidur untuk makan) dan lebih banyak tirah
baring
VIII 1. masukan cairan dan makanan adekuat
2. turgor kulit normal

10
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk


Brunner dan Suddarth. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Davey, Patrick. 2006. At a Glance Medicine. Jakarta: Penerbit Erlangga
Doenges, E. Mailyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta:
EGC
Ediawati, Eka. 2012. Gambaran Tingkat Kemandirian dalam Activity of Daily
Living (ADL) dan Resiko Jatuh pada Lansia di Panti Sosial Tresna Wredha
Budi Mulia 01 dan 03 Jakarta Timur. Skripsi dipublikasikan secara online.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Kemenkes Republik Indonesia. 2010. Pneumonia Balita. Buletin Jendela
Epidemiologi Volume 3, September 2010
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak, Orang
Dewasa, Usia lanjut, Pneuomonia Atipik & Pneumonia Atypik
Mycobacterium Edisi 1. Jakarta: Pustaka Obor Populer
Nurarif, Amin Huda., Hardhi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarakan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC Jilid 1. Yogyakarta:
MediAction Publishing.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Pedoman Diagnosis &
Penatalaksanaan Pneumonia di Indonesia.
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Edisi 4. Jakarta: EGC
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume
2. Jakarta: EGC.
Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Rosemberg, Martha C. & Smith, Kelly. 2010. Nanda Diagnosa Keperawatan.

Rubenstein, David dkk. 2005. Lecture Notes Kedokteran Klini. Ed. Keenam.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
Somantri, Irman. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakata: Salemba Medika
Sugiarto, Andi. 2005. Penilaian Keseimbangan dengan Aktivitas Kehidupan
Sehari-Hari Pada Lansia Dip Anti Werdha Pelkris Elim Semarang Dengan
Menggunakan Berg Balance Scale Dan Indeks Barthel. Semarang : UNDIP.
Suzanne, Smeltzer C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, (Ed8.
Vol.1). Jakarta: EGC

11
12