Anda di halaman 1dari 10

RESEP I : ASMA

URAIAN TENTANG PENYAKIT


1. Definisi
Asma di definisikan sebagai gangguan inlamasi kronik pada saluran pernapasan yang
melibatkan peran banyak sel dan komponennya. Pada individuyang rentan, inflamasi
menyebabkan episode berulang dari bengek, sesak napas, sesak dada, dan batuk. Episode ini
biasanya terkait dengan obstruksi saluran udara yang sering reversible baik secara spontan
maupun setelah pemberian penanganan inflamasi yang menyebabkan hiperresponsivitas
bronkus terhadap berbagai stimulus. (ISO Farmakoterapi, Hal. 446).

2. Etiologi dan pathogenesis


Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi berperan
terutama sel mast, eosinophil, sel limposit T, magrofag, neutrophil dan sel epitel. Factor
lingkungan dan berbagai factor lain berperan sebagai penyebab atau pencetus inflamasi saluran
napas pada pasien asma. Inflamasi terdapat pada berbagai derajat asma, baik pada asma
intermitten maupun asma persisten. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsif
(hiperaktivitas) jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengik, sesak
napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama pada malam hari dan atau dini hari. Episodik
tersebut berkaitan dengan sumbatan saluran napas yang luas, bervariasi, dan seringkali bersifat
reversible dengan atau tanpa pengobatan. ( Pharmaceutical care Untuk penyakit asma,
DEPKES, 2007. Hal. 6)

3. Tanda dan gejala


Gejala asma bersifat episodic, seringkali reversible dengan atau tanpa pengobatan
Gejala awal berupa :
- Batuk terutama pada malam hari atau dini hari
- Sesak napas
- Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan napasnya
- Rasa berat di dada
- Dahak sulit keluar

Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa. Gejala berat
sebagai berikut :
- Serangan batuk yang hebat
- Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
- Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
- Sulit tidur, dan posisi tidur yang nyaman adalalh dam keadaan duduk
- Kesadaran menurun
(Pharmaceutical care untuk penyakit asma, DEPKES, 2007, Hal. 9)

4. Faktor resiko
Resiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor host dan factor
lingkungan.
Faktor host yaitu :
- Predisposisi genetic asma
- Alergi
- Hiperaktivitas bronkus
- Jenis kelamin
- Ras/etnik

Faktor lingkungan dibagi menjadi dua :


a. Faktor yang mempengaruhi individu dengan kecenderungan / predisposisi asma untuk
berkembang menjadi asma :
- Alergen di dalam maupun diluar ruangan, seperti allergen binatang, allergen kecoa,
jamur, tepung sari bunga
- Sensitisasi lingkungan kerja
- Asap rokok
- Polusi udara diluar maupun di dalam ruangan
- Infeksi pernapasan (virus)
- Diet
- Status sosioekonomi
- Besarnya keluarga
- Obesitas

b. Faktor lingkungan yang menyebabkan eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala asma
menetap :
- Alergen di dalam maupun diluar ruangan
- Polusi udara diluar maupun didalam ruangan
- Infeksi pernapasan
- Olahraga dan hiperventilasi
- Perubahan cuaca
- Makanan, additive (pengawet, penyedap, pewarna makanan)
- Obat-obatan seperti asetil salisilat
- Ekspresi emosi yang berlebihan
- Asap rokok
- Iritan antara lain : parfum, bau-bauan yang merangsang
(Pharmaceutical care untuk penyakit asma, DEPKES, 2007. Hal.9)

ALGORITMA (STANDAR TERAPI)


Pendekatan bertahap untuk penanganan Asma
Klasifikasikan keparahan : Ciri klinis sebelum Pengobatan yang diperlukan untuk pemeliharaan
penanganan kontrol jangka panjang
PEV atau FEV1
Gejala/siang
Variabilitas Pengobatan sehari-hari
Gejala/malam
PEV
Pengobatan Utama:
- Dosis tinggi inhalasi kortikosteroid, dan
- Inhalasi β2 agonis kerja panjang dan jika
LANGKAH 4 dibutuhkan
Kontinyu ≤ 60%
Parah - Kortikosteroid tablet atau sirup (2 mg/kg/hari, tidak
Sering > 30%
persisten boleh ,elebihi 60mg/hari)
(pemakaian berulang dapat mereduksi
kortikosteroid sistemik dan untuk pemeliharaan
gunakan kortikosteoid dosis tinggi)
Pengobatan utama :
Dosis rendah-menengah inhalasi kortikosteroid dan
inhalasi β2 agonis kerja panjang
Alternative pengobatan:
- Meningkatkan inhalasi kortikosteroid dengan range
dosis sedang atau
- Dosis rendah sampai tinggi inhalasi kortikosteroid
dan salah satu modifikasi leukotriene atau teofilin
LANGKAH 3 Setiap hari
>60% - <80%
Sedang >1 malam per Jika dibutuhkann (khususnya pada pasien dengan
20-30%
persisten minggu eksaserbasi parah)
Pengobatan utama :
Meningkatkan inhalasi kortikosteroid dengan range
dosis sedang dan ditambahkan inhalasi β2 agonis kerja
panjang
Alternative pengobatan:
Meningkatkan inhalasi kortikosteroid dengan range
dosis sedang dan ditambahkan salah satu modifikasi
leeukotrien atau teofilin
Pengobatan utama :
>2 per minggu
Dosis rendah inhalasi kortikosteroid
LANGKAH 2 tapi <1x per
≥ 80% Alternative pengobatan:
Ringan hari
20-30% Kromolin, leukotriene, nedocromil, atau sustained
persisten >2 malam per
release teofilin dengan konsentrasi serum 5-
minggu
15mcg/mL
≤2 hari per - Tidak dibutuhkan pengobatan harian
LANGKAH 1
minggu ≥ 80% - Eksaserbasi terjadi dalam waktu lama dengan
Ringan
≤2 malam per <20% fungsi paru normal dan tidak ada gejala.
terkadang
bulan Direkomendasikan kortikosteroid sistemik
1. Bronkodilator kerja pendek : inhalasi β2 agonis kerja pendek 2-4 hirupan digunakan
pada yang masih gejala
Penanganan 2. Intensitas pengobatan akan tergantung pada kerasnya eksaserbasi : mulai pengobatan
cepat semua pada interval 20 menit atau menggunakan nebulizer tunggal, jika diperlukan
pasien 3. Penggunaan β2 agonis kerja pendek/cepat lebih dari 2 kali per minggu pada asma
berselang/intermitten (setiap hari atau peningkatan penggunaan asma yang persisten),
mengindikasikan diperlukannya peningkatan atau terapi kontrol jangka panjang
↓ MELANGKAH KE BAWAH ↑ MELANGKAH KE ATAS
Tinjau pengobatan setiap 106 bulan; memungkinkan Jika kontrol tidak dapat dipertahankan, pertimbangkan
pengurangan bertahap secara bertahap dalam melangkah keatas. Pertama, tinjau teknik pengobatan,
pengobatan kepatuhan, dan kontrol lingkungan pasien
Sasaran terapi : Kontrol asma - Mempertahankan fungsi paru-paru (mendekati)
- Gejala kronis minimal atau tidak ada pada siang normal
atau malam - Penggunaan minimal inhalasi agonis β2 agonis
- Keburukan minimal atau tidak ada kerja pendek
- Tidak ada batasan dalam beraktivitas; tidak bolos - Efek samping akibat pengobatan minimal atau
sekolah/kerja tidak ada
Catatan:
 Pendekatan bertahap ini hanya memandu, bukan menggantikan, keputusan yang diambil disesuaikan
dengan kebutuhan pasien
 Klasifikasi keparahan: masukan pasien pada langkah paling parah dari tiap ciri yang timbul (PEF
merupakan % kemampuan terbaik; FEV1 adalah % prediksi)
 Gejala kontrol secepat mungkin (pertimbangkan pemakaian jangka pendek kortikosteroid sistemik);
kemudian melangkah kebawah ke pengobatan terendah yang diperlukan untuk mempertahankan kontrol
 Meminimalkan penggunaan inhalasi β2 agonis kerja pendek. Ketergantungan berlebih pada inhalasi β2
agonis kerja pendek (contoh : penggunaan agonis β2 agonis kerja pendek hirup setiap hari, peningkatan
penggunaan atau efek yang diinginkan tidak dicapai, atau penggunaan hamper satu canister per bulan
meski tidak digunakan setiap hari) mengindikasikan kontrol asma yang tidak cukup dan kebutuhan untuk
menginisiasi atau mengintensifkan terapi kontrol jangka panjang
 Sediakan edukasi untuk kontrol diri dan mengontrol factor lingkungan yang memperparah asma (contoh :
allergen dan iritan).
Mengacu ke spesialis asma jika terdapat kesulitan dalam mengontrol aasma atau jika memerlukan langkah
ke-4. Acuan dapat dipertimbangkan jika langkah ke-3 diperlukan
Rekomendasi Terapi :
- Ventolin Inhaler tetap diberikan untuk terapi asma nya.
- Ambroxol Tab tetap diberikan untuk mengatasi batuk berdahak nya.
Informasi Obat : Informasi Obat :
Nama : Ventolin Inhaler (salbutamol sulfate) Nama : Ambroxol (Ambroxol HCl)
Kelas terapi : Beta 2 agonist Kelas terapi : Mukolitik
Bentuk dan Kekuatan Sediaan : Inhaler 100 mcg/puff x 1 Bentuk dan Kekuatan Sediaan : tablet 30 mg
Penandaan menurut Undang – undang : Penandaan menurut Undang – undang :
- Golongan obat : obat keras (harus dengan resep dokter) - Golongan obat : obat keras (harus dengan resep dokter)
- Produsen : GlaxoSmithKline Pharmaceuticals - Produsen (Tempat/kota) : Indofarma (Cikarang)
Mekanisme kerja obat : Mekanisme kerja obat :
Merelaksasi otot polos bronkus dengan cara menstimulasi reseptor Kelebihan Nitrit oksida (NO) berhubungan dengan inflamasi dan
beta 2. Stimulasi tersebut dapat membentuk cyclic adenosine-3´,5´- beberapa gangguan fungsi saluran udara lainnya. NO
monophosphate (AMP) yang memediasi respon selular termasuk meningkatkan aktivasi guanylate cyclase yang larut dan terjadi
relaksasi pada otot polos dan menghambat pelepasan mediator dari sel akumulasi cGMP. Ambroxol dapat menghambat aktivasi cyclase
mast pada jalur napas. Relaksasi otot polos yang terjadi dimulai dari guanylate terlarut yang tidak bergantung pada NO. Penghambatan
trakea sampai ke bronkus, Sehingga terjadi bronkodilatasi. tersebut dapat menekan sekresi lendir berlebihan, sehingga terjadi
penurunan viskositas dahak dan meningkatkan transport
mukosiliar sekresi bronkus.
Nasib obat dalam tubuh : Nasib obat dalam tubuh :
- Absorbsi - Absorbsi
Onset : 5-15 menit (Inhalasi aerosol) Cepat dan hampir sempurna pada saluran cerna.
Durasi : 3-6 jam (Inhalasi Aerosol) - Distribusi
- Distribusi Ikatan protein : Sekitar 90%
Albuterol dapat melewati plasenta, tapi belum diketahui apakah - Waktu Paruh : 7-12 jam
albuterol dapat terdistribusi pada ASI
- Eliminasi
Metabolisme : Secara umum dimetabolisme di dinding usus dan
hati menjadi metabolit yang inaktif (inaktif Sulfat).
Waktu Paruh : 3.8 jam
Indikasi : meredakan asma ringan, sedang, atau berat, Indikasi : Sebagai sekretolitik pada gangguan saluran napas akut
penatalaksanaan dan pencegahan serangan asma dan kronis khususnya pada eksaserbasi bronkitis kronis dan
bronchitis asmatik dan asma bronkial
Dosis : Dosis :
Dewasa : 1-2 puff dosis 3-4 kali/hari Dewasa dan anak diatas 12 tahun sehari 3 kali 1 tablet
Anak : 1 puff 3-4 kali/hari Anak 6-12 tahun sehari 2-3 kali ½ tablet
Ventolin Inhaler : setiap 1 kali semprot Ventolin Inhaler mengandung
salbutamol sulfat 100 mcg
Aturan pakai : Aturan pakai :
- Aturan pakai pada resep Ambroxol Tab 30 mg Indofarma diminum sesudah makan. Untuk
Prn 3 dd 1 puff (digunakan 3 kali sehari 1 hisap jika terjadi hasil yang lebih maksimal, Ambroxol Tab 30 mg Indofarma
serangan) diminum setiap hari dan diusahkan dalam waktu yang sama setiap
- Aturan pakai pada literatur hari nya. Jika tidak sengaja lupa meminum Ambroxol Tab 30 mg
Untuk dewasa. Indofarma, disarankan untuk segera meminumnya begitu teringat
Bronkospasme : 2 puff setiap 4-6 jam jika diperlukan jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Jangan mengganti
Asma kambuhan (akut, parah) : 4-8 puff setiap 20 menit hingga 4 dosis yang terlewat dengan menggandakan dosis pada jadwal
jam, kemudian 1-4 jam jika diperlukan. berikutnya.
Bronkospasme yang dipicu oleh latihan (pencegahan) : 2 puff 5-
30 menit sebelum berolahraga. Hentikan penggunaan Ambroxol Tab 30 mg Indofarma bila
gejala mulai membaik
Efek samping & Toksisitas : Efek samping & Toksisitas :
Tremor, Sakit Kepala, Takikardi. reaksi intoleran setelah pemberian ambroxol pernah dilaporkan
Bila efek samping menetap bahkan memburuk, segera hentikan tetapi jarang; efek samping yang ringan pada saluran cerna pernah
penggunaan Ventolin Inhaler 100 mcg/puff dan konsultasikan ke dilaporkan pada beberapa pasien; reaksi alergi jarang; reaksi
Dokter alekgi yang ditemukan : reaksi pada kulit, pembengkakan wajah,
dispnea, demam; tidak diketahui efeknya terhadap kemampuan
mengendarai atau menjalankan mesin
Kontra indikasi : Kontra indikasi :
Hipersensitivitas, tidak cocok untuk mengatasi abortus yang Hipersensitif terhadap ambroxol
mengancam.
Interaksi : Interaksi :
obat Interaksi
β-Adrenergic Memperparah bronkospasme pada pasien Pemberian bersamaan dengan antibiotic (amoksisilin sefuroksim,
blocking agents asma eritromisin, doksisiklin) menyebabkan peningktan penerimaan
Digoxin Mengurangi konsentrasi serum digoxin antibiotik kedalam jaringan paru-paru.
Diuretics, Mengurangi konsentrasi serum potasium dan Dan tidak berinteraksi dengan salbutamol sulfat.
nonpotassium- atau perubahan ECG
sparing
MAO inhibitors Meningkatkan efek pada sistem vaskular
Sympathomimetic Meningkatkan efek samping kardiovaskular
agents (e.g.,
epinephrine)
Peringatan dan perhatian khusus : Peringatan dan perhatian khusus :
tirotoksikosis, hipokalemia, terutama pada asma akut berat pada Ambroxol hanya dapat digunakan selama kehamilan (terutama
penggunaan bersama derivat xantin, steroid, dan diuretik, monitor trisemester awal) dan menyusui jika memang benar-benar
kadar K serum. Kategori pada kehamilan yaitu kategori C diperlukan; pemakaian selama kehamilan dan menyusui masih
memerlukan penelitian lebih lanjut; ambroxol tidak boleh
digunakan dalam jangka waktu yang lama tanpa konsultasi dokter;
dalam beberapa kasus insufisiensi ginjal, akumulasi dari metabolit
ambroxol terbentuk di hati.
Pemantauan terapi obat (DRP) Pemantauan terapi obat (DRP)
- Monitoring Obat : - Monitoring Obat :
Monitoring efek samping obat Monitoring efek samping obat
- monitoring Penyakit Monitoring yang dilakukan jika pasien - Monitoring Penyakit :
memungkinkan : Berkurang nya frekuensi batuk dan dahak.
FEV1, peak flow, tes fungsi paru lainnya; serum potassium, serum
glucose (pada pasien tertentu), dan juga monitoring gejala.
Penyimpanan, batas penggunaan dan kedaluarsa : Penyimpanan, batas penggunaan dan kedaluarsa :
Simpan pada suhu 15-25oC (Suhu Kamar). Simpan ditempat sejuk dan terhindar dari paparan sinar matahari
langsung
Terapi non farmakologi : Terapi non farmakologi :
- Hindari asap rokok - Banyak minum air putih untuk membantu mengencerkan
- Aktivitas fisik atau olahraga yang tepat, seperti renang dahak, mengurangi iritasi dan rasa gatal
- Hindari penggunaan AINS dan aspirin karena menginduksi asma - Hindari paparan debu, minuman atau makan yang merangsang
- Hindari paparan alergen, terutama pada cuaca dingin pagi dan tenggorokan seperti makanan yang berminyak dan minuman
malam, gunakan jaket. Hindari debu. dingin
- Minum air yang banyak, minimal 8 gelas/hari - Menghindari paparan udara dingin
- hindari merokok dan asap rokok karena dapat mengiritasi
tenggorokan sehingga dapat memperparah batuk
- Menggunakan zat-zat emoliensia seperti kembang gula, madu
atau permen hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi untuk
melunakkan rangsangan batuk dan mengurangi iritasi pada
tenggorokan dan selaput lendir