Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN JURNAL

PENGERTIAN SISTEM DAN TEORI SISTEM


(PENDEKATAN PADA BIDANG KESEHATAN)
Ade Heryana, SST, MKM

A. PENDAHULUAN
Beberapa permasalahan yang sudah terjadi di lingkungan sekitar kita secara
sistemik , maka penyelesaian terbaik dilakukan dengan pendekatan sistem.
Kehidupan manusia (dan kita tentunya) terhubung sepenuhnya dengan sistem,
baik sistem manusia maupun sistem yang dibuat oleh manusia. Begitu pentingnya
sistem dalam kehidupan manusia menyebabkan setiap orang sebaiknya
memahami apa itu sistem. Bahkan secara lebih jauh, bisa menerapkan pemikiran
secara menyeluruh dan sistemik yang disebut dengan Berfikir Sistem (system
thinking).

B. DEFINISI SISTEM
Menurut Ludwig von Bertalanfy, penggagas General System Theory,
menyatakan “system is an entity that maintains its existence through the mutual
interaction of its parts to achieve”. Secara bebas dapat diartikan sistem adalah
suatu entitas yang berusaha menjaga keberadaannya dengan melakukan hubungan
yang menguntungkan dengan elemen-elemennya untuk mencapai tujuan.
Definisi sistem menurut World Health Organization (WHO) menekankan
pada suatu pendekatan dalam memecahkan masalah. Dalam laporan tentang
aplikasi Berfikir Sistem dalam sistem kesehatan, WHO (2009) mendefinisikan
sistem sebagai berikut: “an approach to problem solving that views "problems" as
part of a wider, dynamic system”. sistem merupakan suatu pendekatan untuk
memecahkan masalah dengan “masalah” sebagai bagian dari masalah yang lebih
luas yang besifat dinamis.
C. KAPAN SISTEM MUNCUL
Sebuah sistem lahir atau timbul karena adanya kompleksitas masalah.
Gerald Weinberg dalam bukunya yang berjudul An introduction to General
System Thinking (1975) membagi sistem dalam tiga kategori yaitu :
a. Organized simplicity, Kondisi sistem yang organized simplicity memiliki
tingkat keragaman masalah dan kerumitan masalah yang rendah
Permasalahan pada kondisi ini tidak rumit dan dapat diatasi dengan
pendekatan reduksionis yaitu memilah-milah masalah besar menjadi
masalah yang lebih kecil
b. Unorganized complexity, Pada kondisi ini, tingkat kompleksitas masalah
sedang, namun keragamannya sudah tinggi sehingga timbul kompleksitas
yang belum terorganisasi dengan baik
c. Organized complexity, Pada kondisi ini, tingkat keragaman masalah tidak
begitu tinggi, namun kompleksitasnya sangat tinggi dan sulit dikendalikan
oleh sistem

D. JENIS SISTEM
Terdapat dua jenis sistem yang ada di dunia ini yaitu sistem manusia (man
system) dan sistem buatan manusia (man-made system). Sistem juga terbagi atas
sistem yang terbuka (open system) dan sistem yang tertutup (closed system).
Sistem tertutup ditandai dengan tidak adanya interaksi elemen-elemen sistem
dengan lingkungan luar.

E. TEORI SISTEM
Teori sistem lahir karena gagalnya pendekatan reduksionis dalam mengatasi
permasalahan-permasalahan yang semakin kompleks. Hester & Kevin (2014)
mengelompokkan teori sistem ke dalam 6 (enam) jenis yaitu:
a. General system theory (GST); Teori ini dikembangkan pertama kali oleh
Ludwig von Bertalanffy, Kenneth Boulding, Anatol Rapport, dan Ralph
Gerard. Teori ini pada mulanya digunakan untuk membantu seseorang dalam
membuat perencanaan dan pengambilan keputusan secara umum. Ada 7
(tujuh) prinsip yang dianut oleh GST yaitu: Holism, Boundaries, Hierarchy,
Mutuality, Equilibrium, Equifinality, dan Entropy.
b. Living System Theory; Kontributor utama teori ini adalah James Grier Miller
(1916-2002). Teori ini memberi kontribusi berupa “8 levels of living system”
yang membagi sistem kehidupan dalam delapan tingkatan yaitu: 1) cell (sel);
2) Organ; 3) Organism (organisme); 4) Group (kelompok); 5) Organization;
6) Community (komunitas); 7) Society (peradaban); dan 8) Supranational
system (sistem supranasional).
c. Mathematical Models Theory; Kontributor utama teori ini adalah Mesarovic,
Wymore, dan Klir. Para penggagas teori ini menggunakan model-model
persamaan matematika yang kaku untuk menjelaskan sebuah sistem,
termasuk melibatkan pendekatan aksioma matematika ke dalam teori sistem.
d. Cybernetics; Kontributor utama teori ini adalah Norbert Wiener (1894-1964).
Teori ini menggunakan konsep regulasi (kebijakan) dan komando (perintah)
dalam menjelaskan sistem
e. Social System Theory; Kontributor utama teori ini adalah Talcott Parsons
(1902-1979), dan Niklas Luhmann (1927-1988). Kedua penggagas teori ini
menggunakan konsep hubungan antar manusia (HAM) untuk membentuk
elemen struktural sistem sosial.
f. Philosophical System Theory, Kontributor teori ini adalah Ervin Laszlo dan
Mario Bunge. Menurut teori ini suatu ilmu dapat dipelajari, jika memiliki
tiga elemen berikut: 1) Systems epistemology (Epistemologi); 2) Systems
ontology (Ontologi); dan 3) Systems axiology (Aksiologi).
F. KAREKTIRISTIK SISTEM
WHO (2009) memaparkan karakteristik dari sistem antara lain: Self-
organizing, constantly changing, Tighly linked, Governed by feedback, Non-
linier, History dependent, Counter-intuitive, dan Resistant to change. Hester &
Kevin (2014) menjelaskan berbagai aksioma tentang sistem. Aksioma merupakan
pernyataan-pernyataan yang telah diterima kebenarannya dan tidak dibutuhkan
pembuktian. Aksioma tersebut terdiri dari tujuh yaitu :
1. Centrality Axiom
Aksioma ini menganggap sistem terdiri dari dua hal yang terpisah yaitu 1)
emergence & hierarchy; dan 2) communication & control.
2. Contextual Axiom
Aksioma ini pada prinsipnya menjelaskan bahwa sistem mendapat
informasi dari lingkungan dan faktor-faktor di sekelilingnya. Aksioma
sentralitas terdiri dari 3 prinsip yaitu Holism, Darkness, dan
Complementary.
3. Goal Axiom
Aksioma ini menyatakan bahwa setiap sistem memiliki perilaku dan
menggunakan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuan spesifik. Aksioma
tujuan (goal axiom) terdiri dari enam prinsip yaitu 1) Equifinality; 2)
Multifinality; 3) Purposive behavior; 4) Satificing; 5) Finite causality; dan
6) Viability.
4. Operational Axiom
Aksioma ini menjelaskan tentang pencapaian kinerja operasional suatu
sistem. Menurut aksioma ini ketika menilai/melihat kinerja operasional
suatu sistem, maka harus dilihat secara natural (in situ). Aksioma ini terdiri
dari tujuh prinsip yaitu 1) Dynamic equilibrium; 2) Relaxation time; 3)
Basins of stability; 4) Self-organization; 5) Homeostatis dan Homeorhesis;
6) Suboptimization; dan 7) Redundancy.
5. Viability Axiom
Untuk menjamin agar suatu sistem berjalan dengan baik (sesuai dengan
aksioma operasional di atas), maka paramater-parameter kunci pada sistem
tesebut harus dikendalikan. Aksioma ini terdiri dari lima prinsip yaitu:
1) Requisite variety; 2) Requisite hierarchy; 3) Feedback; 4) Circular
causality; dan 5) Recursion.
6. Design Axiom
Aksioma ini berlaku hanya pada sistem tertutup yang menyatakan bahwa
sistem tertutup dapat direncanakan, diarahkan, dan dikembangkan dengan
cara memodifikasi sumberdaya yang dimiliki atau dengan memodifikasi
hubungan antar elemen dalam sistem. Aksioma rancangan terdiri dari
empat prinsip: 1) Requisite parsimony; 2) Requiste saliency; 3) Minimum
critical specification; dan 4) Pareto.
7. The Information Axiom
Menurut aksioma ini, suatu sistem akan menciptakan, memproses,
mentransfer, dan memodifikasi informasi yang masuk. Aksioma informasi
terdiri dari tiga prinsip yaitu: 1) Information redundancy; 2) Redundancy of
potential command; dan 3) Finagle’s Laws of Information.

BERFIKIR SISTEM
Berbagai kompleksitas dan karakteristik sistem yang sudah dijelaskan di
awal membawa kita sebuah pemikiran yang menyeluruh terhadap suatu masalah,
yaitu pemikiran yang melibatkan seluruh elemen dalam suatu sistem. Berfikir
sistem (system thinking) mulai dikembangkan pada awal abad 20 dan pertama kali
diaplikasikan pada bidang Teknik, Ekonomi, dan Ekologi.
Berfikir sistem bukanlah metode yang harus dijalani secara runut dan baku,
namun merupakan sebuah karakter atau perilaku yang mencerminkan pemecahan
masalah secara menyeluruh. Manurut Battle-Fisher (2015) dalam bukunya yang
berjudul Application of System Thinking to Health Policy and Public Health
Ethics menyatakan ada delapan karakteristik berfikir sistem yaitu:
1. Memandang masalah secara keseluruhan;
2. Cenderung mendorong pada kemajuan;
3. Selalu melihat adanya ketergantungan antar elemen;
4. Lebih memperhatikan jangka panjang;
5. Fokus pada struktur masalah, bukan saling menyalahkan;
6. Sebelum membuat keputusan, kadang menyertakan/mempertimbangkan
sesuatu yang paradoks (tidak biasa);
7. Membuat pemetaan dan simulasi untuk memperlihatkan sistem;
8. Menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem.
Sementara itu WHO dalam laporannya yang berjudul Systems Thinking for
Health Systems Strengthening, membanding dua pendekatan antara pendekatan
umum (usual approach) dengan pendekatan berfikir sistem (system thinking
approach).

BERFIKIR SISTEM VS BERFIKIR SISTEMATIK

Hester & Kevin (2014) menganalogikan berfikir sistematik dengan otak kiri
yang identik dengan logika, urutan, rasional, analitis, obyektif, dan terpisah-pisah.
Sedangkan berfikir sistem identik dengan otak kanan dengan karakteristik yang
bersifat random, intuisi, holistik, sintesa, subyektif, dan menyeluruh.