Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MAKALAH PROBLEM SOLVING

BLOK SISTEM DIGESTIF

“NC APENDISITIS”

Disusun oleh:

Winda Tri Anggraeni Putri

165070201111031

Kelompok 1 – Reguler 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERTAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2019
TRIGGER

Seorang laki-laki usia 22 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan


nyeri abdomen, anoreksia, mual, dan demam. Pasien mengeluh nyeri di
bagian tengah abdomen 6 jam yang lalu dan saat ini nyeri dirasakan di bagian
kanan bawah abdomen. Nyeri yang dirasakan bersifat menetap dan semakin
nyeri ketika batuk. Terdapat McBurney sign, psoas sign, dan rebound
terderness. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis
(13.000/ml). Hasil pemeriksaan diagnostik menunjukkan adanya cairan
purulent di RLQ dan perforasi apendiks. Pasien direncanakan untuk tindakan
laparotomy. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh pasien 39°C,
HR = 100x/menit, dan tekanan darah 90/50 mmHg. Pasien memperoleh terapi
ceftriaxone 3 x 1gr IV, drip NE 0,5 mcg/kgBB/jam, antrain 3 x 1 gr, ranitidine 3
x 25 mg. Diagnosis medis: apendiks akut perforate dan sepsis.

PENGKAJIAN

A. Identitas Klien
Nama : Tn. X

Usia : 22 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

B. Status kesehatan Saat Ini


1. Keluhan utama : keluhan nyeri abdomen, anoreksia, mual, dan
demam
2. Lama keluhan : 6 jam
3. Kualitas keluhan : bersifat menetap dan semakin nyeri ketika batuk
4. Faktor pemberat : batuk
5. Diagnosa medis : apendiks akut perforate dan sepsis

C. Riwayat Kesehatan Saat Ini

Seorang laki-laki usia 22 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan


nyeri abdomen, anoreksia, mual, dan demam. Pasien mengeluh nyeri di
bagian tengah abdomen 6 jam yang lalu dan saat ini nyeri dirasakan di
bagian kanan bawah abdomen. Nyeri yang dirasakan bersifat menetap dan
semakin nyeri ketika batuk.
D. Pemeriksaan Fisik
1) suhu tubuh pasien 39°C
2) HR = 100x/menit
3) tekanan darah 90/50 mmHg
4) Terdapat McBurney sign, psoas sign, dan rebound terderness

E. Hasil Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis


(13.000/ml). Hasil pemeriksaan diagnostik menunjukkan adanya cairan
purulent di RLQ dan perforasi apendiks

F. Terapi

Pasien direncanakan untuk tindakan laparotomy. Terapi ceftriaxone 3 x 1gr


IV, drip NE 0,5 mcg/kgBB/jam, antrain 3 x 1 gr, ranitidine 3 x 25 mg

ANALISA DATA

NO. Data Etiologi Masalah Keperawatan


1. DS : Faktor predisposisi Nyeri Akut
- Pasien mengeluh nyeri ↓
di bagian tengah Terperangkap dalam
abdomen 6 jam yang apendiks
lalu dan saat ini nyeri ↓
dirasakan di bagian Obstruksi appendiks
kanan bawah ↓
abdomen Produksi mucus ↑

DO : Obstruksi vena
- Nyeri yang dirasakan ↓
bersifat menetap dan Edema
semakin nyeri ketika ↓
batuk. Peradangan dinding
- Terdapat McBurney appendiks
sign, psoas sign, dan ↓
rebound terderness Apendisitis
- HR = 100x/menit ↓
Nyeri abdomen kanan

Nyeri akut
2. DS : Faktor predisposisi Risiko Syok
- Pasien mengeluh nyeri ↓
di bagian tengah Terperangkap dalam
abdomen 6 jam yang apendiks
lalu dan saat ini nyeri ↓
dirasakan di bagian Obstruksi appendiks
kanan bawah ↓
abdomen Produksi mucus ↑
DO : ↓
- Hasil pemeriksaan Obstruksi vena
laboratorium ↓
menunjukkan adanya Edema
leukositosis ↓
(13.000/ml). Peradangan dinding
- Hasil pemeriksaan appendiks
diagnostik ↓
menunjukkan adanya Apendisitis
cairan purulent di RLQ ↓
dan perforasi apendiks Infeksi bakteri ↑
- suhu tubuh pasien ↓
39°C Cairan purulent
berlebihan

Menumpuk dalam
abdomen

Risiko Syok

PRIORITAS DIAGNOSA

1. Risiko Syok
2. Nyeri Akut

RENCANA TINDAKAN ASUHAN KEPERAWATAN

1. Dx : Risiko syok
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam risiko syok
klien teratasi
Kriteria hasil : sesuai dengan indicator NOC
NOC : Keparahan syok : sepsis
No Indikator 1 2 3 4 5
1 Penurunan tekanan darah sistolik
2 Penurunan tekanan darah diastolic
3 Meningkatnya suhu tubuh
Ket :
1. berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada

NIC : pencegahan syok

1. Monitor terhadap adanya respon kompensasi awal syok (TD, mual)


2. Monitor terhadap adanya sindoma inflamasi sistemik (peningkatan suhu,
leukosistosis)
3. Monitor status sirkulasi
4. Monitor suhu dan status respirasi
5. Berikan cairan melalui IV atau oral sesuai kebutuhan

2. Dx : Nyeri akut
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam nyeri klien
berkurang
Kriteria hasil : sesuai dengan indicator NOC

NOC : Kontrol Nyeri

No. Indikator 1 2 3 4 5
1. Mengenali kapan nyeri terjadi
2. Melaporkan nyeri yang terkontrol
Mengenali apa yang terkait dengan gejala
3.
nyeri
NOC : Tingkat Nyeri

No. Indikator 1 2 3 4 5
1. Nyeri yang dilaporkan
2. Mual
3. Kehilangan nafsu makan
4 Tekanan darah

NIC : Pengurangan kecemasan


1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik
onset atau durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau beratnya nyeri dan
factor pencetus

2. Berikan informasi mengenai nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama


nyeri akan diraskaan, dan antisipasi dari ketidaknyamanan akibat prosedur

3. Kurangi atau eliminasi faktor – factor yang dapat mencetuskan atau


meningkatkan nyeri (misalnya, ketakutan, kelelahan,kurang pengetahuan)

4. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri

5. Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani nyeri dengan tepat

6. Gunakan tindakan pengontrol nyeri sebelum nyeri bertambah berat

7. Dorong pasien untuk menggunakan obat-obatan penurunan nyeri yang


adekuat

1. Dx : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam kebutuhan
nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil : sesuai dengan indicator NOC

NOC : status nutrisi

No. Indikator 1 2 3 4 5
1. Asupan gizi
2. Asupan makanan
3. Asupan cairan
4. Energy
Ket:
1. Sangat menyimpang dari rentang normal
2. Banyak menyimpang dari rentang normal
3. Cukup menyimpang dari rentang normal
4. Sedikit menyimpang dari rentang normal
5. tidak menyimpang dari rentang normal

NIC : manajemen nutrisi

1. tentukan status gizi pasien dan kemampuan pasien untuk memenuhi


kebutuhan gizi

2. berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan


makanan

3. monitor kalori dan asupan makanan

4. monitor kecenderungan terjadinya penurunan berat badan

5. anjurkan pasien mengenai modifikasi diet yang diperlukan (misalnya NPO,


cairan bening, cairan penuh, lembut atau sesuai toleransi