Anda di halaman 1dari 56

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Laut memiliki peran strategis dalam bidang ekonomi dan ekologi bagi

pengembangan jasa-jasa lingkungan. Secara ekonomi laut memiliki potensi besar sebagai

penghasil komoditi karena memiliki sumber daya alam yang dapat diperbaharui (ikan,

rumput laut dan lain-lain) dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (bahan

tambang, minyak bumi, gas dan lain-lain).

Secara ekologi wilayah laut merupakan bentang alam yang di tempati oleh berbagai

macam ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun yang menjadi habitat bagi

biota untuk hidup dan merupakan sumber nutrien bagi organisme perairan termasuk ikan.

Pelestarian wilayah laut merupakan upaya yang harus dilakukan, karena menyangkut

kelestarian sumberdaya alam bagi generasi yang akan datang (Anwar dan Gunawan, 2007).

Setiap tahunnya ribuan ton minyak bocor dan mencemari lautan. Namun dampaknya

terhadap lingkungan amat tergantung dari jenis minyak serta lokasi cemarannya. Juga alam

dapat menguraikan sendiri cemaran minyak di laut. Lebih dari 60 persen minyak bumi untuk

memenuhi kebutuhan global, ditambang dari cebakannya di bawah permukaan laut. Selain

itu, transportasinya ke seluruh dunia kebanyakan diangkut menggunakan kapal tanker

raksasa. Kebocoran di lokasi penambangan atau semburan minyak tidak terkendali di lubang

pengeboran yang disebut blow out, dan kecelakaan kapal tanker, merupakan sumber utama

cemaran minyak di lautan.

Pencemaran laut dapat membahayakan kehidupan biota dan sumber daya laut,

kesehatan manusia dan nilai guna lainnya (Clark, 2003). Apabila laut tercemar maka

sebagian dari biomasa juga akan turut tercemar. Minyak merupakan polutan yang memiliki

potensi besar mencemari air laut. Pencemaran minyak merupakan penyebab utama
2

pencemaran laut. Ekosistem dan biota perairan laut sangat rentan terhadap pencemaran

minyak (Mukhtasor, 2007).

Menurut IPIECA (2000), pencemaran minyak berpengaruh besar terhadap

ekosistem laut, penetrasi cahaya matahari akan menurun akibat tertutup lapisan minyak.

Proses fotosintesis akan terhalang pada zona euphotik sehingga rantai makanan akan

terputus. Lapisan minyak juga menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi

kelarutan oksigen yang akhirnya perairan tidak mampu lagi untuk mendukung kehidupan laut

yang aerob.

Ancaman utama pencemaran minyak terhadap biota perairan adalah terjadinya

penutupan fisik permukaan air sehingga hewan dan tumbuhan sangat beresiko kontak dan

terkontaminasi oleh minyak. Kura-kura, reptil laut, dan burung yang hidupnya mencari

makan dengan menyelam akan terkena dampak akibat pencemaran minyak di perairan,

begitu juga halnya dengan biota laut lainnya termasuk ikan (Mukhtasor, 2007).

Keberadaan komponen minyak di tubuh organisme ikan dapat mempengaruhi

cita-rasa hewan tersebut saat dikonsumsi karena adanya rasa atau aroma minyak. Hal ini

merupakan masalah penting yang berhubungan dengan kehidupan nelayan dan masyarakat

konsumen yang mengkonsumsi hewan laut termasuk ikan hingga kembali ke kondisi

normal.

Menurut Darmono (2001), komponen hidrokarbon aromatis dari minyak bumi

seperti senyawa benzen dan toluen merupakan senyawa toksik yang mampu membunuh

langsung biota perairan saat terjadinya pencemaran minyak di perairan. Efek sub-letal

dari minyak menyebabkan terganggunya kemampuan organisme laut untuk bereproduksi,

tumbuh dan mencari makan karena paparan konsentrasi minyak. Oleh karena itu diperlukan

teknologi yang tepat untuk mengendalikan pencemaran minyak di perairan Selat Rupat untuk

mencegah timbulnya resiko terhadap kerusakan ekosistem di sekitarnya.


3

Penggunaan oilboom, dispersant dan bioremediasi merupakan teknologi alternatif

dalam mengendalikan pencemaran minyak di laut hingga saat ini. Kondisi

hidrooseanografi (arus, gelombang dan pasang-surut) perairan sangat menentukan dalam

penentuan aspek peralatan yang digunakan sebagai teknologi pengendalian.

B. TUJUAN

Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengetahui definisi senyawa organik

2. Untuk mengetahui definisi minyak bumi (Hidrokarbon alifatik dan aromatik) yang

menjadi parameter pencemar laut.

3. Untuk mengetahui sumber keberadaan polutan minyak bumi di laut.

4. Untuk mengetahui akibat pencemaran minyak bumi di laut.

5. Untuk mengetahui analisis Hidrokarbon sebagai parameter pencemar laut.

6. Untuk mengetahui cara penanggulangan pencemar minyak bumi di laut.


4

BAB II
PEMBAHASAN

A. Polutan Kimia Dilaut

Menurut Pasal 1 PP no 19 tahun 1999, Pencemaran laut adalah masuknya atau

dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam

lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu

yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu dan/atau fungsinya.

Sedangkan baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi,

atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemaran yang ditenggang

keberadaannya di dalam air laut.

Kegiatan industri perminyakan dapat menimbulkan limbah yang mencemari

lingkungan. Selain itu, proses pengeboran dan pengilangan minyak bumi juga menghasilkan

lumpur minyak dalam jumlah besar. Lumpur minyak merupakan polutan yang sangat

berbahaya, UU No. 23 tahun 1997 dan PP No. 18 tahun 1999 mengkategorikan lumpur

minyak sebagai limbah B3 (Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun).

Walaupun air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi air akan

dapat dengan mudah terkontaminasi oleh adanya aktivitas manusia maupun gerakan bumi

seperti luapan gunung berapi. Laut merupakan media alam yang sering menerima limpahan

polutan baik padat maupun cair, berasal dari daratan, sungai maupun udara.

Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal. Bahan

cemar (polutan) di laut dapat berasal dari beberapa sumber yaitu seperti kegiatan penebangan

di hutan pedalaman biasanya menggunakan bahan kimia pengawet kayu seperti pestisida, dan

zat-zat lain yang bersifat toksik bagi biota laut. Bahan-bahan ini disaat hujan terjadi

pengikisan air dipermukaan tanah, akhirnya bermuara ke sungai dan dari sungai keperairan

pantai.
5

Selain itu, bahan cemar bisa juga dari kegiatan yang ada dipinggiran sepanjang

pantai (antropogenik), juga adanya infusi dari udara dan tumpahan minyak dilaut akibat

kecelakaan kapal-kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, sumber inilah yang

merupakan polutan terbesar yang terjadi belakangan ini (Rompas, 2009).

Pada umumnya pencemaran laut yang terjadi baik secara fisika, kimiawi maupun

biologis, banyak menghasilkan racun bagi biota laut dan manusia. Salah satu dari bahan

pencemar itu adalah hidrokarbon minyak bumi. Minyak bumi adalah campuran hidrokarbon

yang terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu di masa lampau sebagai hasil dekomposisi

bahan-bahan organik dari tumbuhan-tumbuhan dan hewan. Minyak bumi berupa cairan kental

berwarna kehitaman yang teradapat dalam cekungan-cekuangan kerak bumi dan merupakan

campuran sangat komplek dari senyawa-senyawa hidrokarbon dan bukan hidrokarbon.

Dewasa ini terdapat 500 senyawa yang pernah dideteksi dalam suatu cuplikan minyak bumi

yang terdiri dari minyak bumi fraksi ringan dan fraksi berat. Minyak bumi fraksi ringan,

komponen utamanya adalah n-alkana dengan atom C15-17, sedangkan minyak bumi fraksi

berat komponen utamanya adalah fraksi hidrokarbon dengan tidik didih tinggi (Marsaoli,

2004).

B. Polutan Senyawa Organik Dilaut

Menurut Manahan dalam Sofiyani (2009), elemen, bahan atau materi organik

adalah semua senyawa yang mengandung karbon termasuk substansi yang dihasilkan dari

proses hidup (kayu, kapas, wol), minyak bumi, gas alam (metan), cairan pelarut/pembersih,

fiber sintetik dan plastik.

Menurut Sofiyani,dkk (2009), Macam – Macam Bahan organik dalam air laut dapat

dibagi atas dua bagian yaitu :

1. Bahan Organik Terlarut Dalam Air Laut

Bahan organik terlarut yang berukuran < 0.5 μm. Jumlah bahan organik terlarut
6

dalam air laut biasanya melebihi rata-rata bahan organik tidak terlarut. Hanya berkisar

1/5 bahan organik tidak terlarut terdiri dari sel hidup. Semua bahan organik ini

dihasilkan oleh organisme hidup melalui proses metabolisme dan hasil pembusukan.

Bahan organik karbon berukuran 0,3 – 3 mgC/ l pada perairan pantai, ditemukan sebagai

hasil peningkatan aktivitas fitoplankton dan polusi dari daratan. Sebagian besar bahan

organik terlarut dalam air laut terdiri atas material yang kompleks dan sangat tahan terhadap

penguraian bakteri.

Gambar 1 Senyawa Organik Terlarut

2. Bahan Organik Tidak Terlarut Dalam Air Laut

Bahan organik tidak terlarut dalam air laut berukuran lebih besar dari 0,5 μm.

Pada lapisan permukaan air laut material organik tak terlarut ini berupa detritus dan

fitoplankton. Pada zona eufotik konsentrasinya lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Bahan

organik tak terlarut ini berfungsi menyediakan makanan untuk organisme pada beberapa

tingkatan tropik. Sealin itu, senyawa organik tak larut juga termasuk tumpahan minyak yang

mengandung hidrokarbon yang masuk dalam air laut (Mulya, 2002).

Menurut Riswiyanto (2009), Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya

mengandung atom karbon dan atom hidrogen. Hidrokarbon dapat dibagi dalam 3 kelas,

yaitu:
7

a. Hidrokarbon Alifatik, yaitu atom-atom karbon berikatan satu sama lain membentuk rantai

terbuka dan merupakan seri homolog CH2, senyawa jenis ini berupa alkana, alkena dan

alkuna.

Alkana contoh : Butana (C4H10) CH3(CH2)2CH3

Alkena contoh: Butena (C4H8) CH2=CHCH2CH3

Alkuna contoh: Butuna (C4H6) CH= CCH2CH3

b. Hidrokarbon Alisiklik, yaitu atom-atom karbon akan berikatan dengan membentuk

cincin.

Contoh:

c. Hidrokarbon Aromatik, yaitu senyawa lingkar dimana dalam senyawa ini mempunyai

struktur benzena.

Contoh:
8

Petroleum hidrokarbon merupakan salah satu kontaminan yang dapat berdampak buruk

baik bagi manusia maupun lingkungan. Ketika senyawa tersebut mencemari permukaan

tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan, atau masuk ke dalam tanah

kemudian terendap sebagai zat beracun, akibatnya, ekosistem dan siklus air juga ikut

terganggu.

Pencemaran petroleum hidrokarbon atom juga dapat diakibatkan oleh proses

pembuangan limbah industri atau pun rumah tangga, kendaraan bermotor, dan kegiatan

pengeboran minyak. Petroleum hidrokarbon dapat mencemari air secara langsung melalaui

proses kebocoran. Selain itu, petroleum hidrokarbon juga dapat meresap ke dalam lapisan

tanah dan tertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Sisanya menguap ke udara dan

diuraikan oleh cahaya. Uap dari senyawa ini juga dapat mencemari udara dan berbahaya bagi

kesehatan manusia bila terhirup. Beberapa fraksi petroleum hidrokarbon mengapung di atas

air dan membentuk lapisan sehingga oksigen dan cahaya matahari tidak dapat masuk ke

dalam laut yang mengakibatkan terganggunya makhluk hidup di dalam laut.

C. Sumber keberadaan Polutan Minyak Bumi Di Laut

Minyak yang mencemari laut sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan, yaitu

padatan yang mengapung di atas permukaan air. Minyak yang terdapat di dalam air laut

berasal dari berbagai sumber diantaranya karena pencucian kapal-kapal laut, pengeboran

minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak dan gas bumi, tabrakan

kapal dilaut, dan sebagainya.

Minyak tidak dapat larut dalam air, oleh karena itu, bila laut tercemar oleh minyak

maka minyak tersebut akan mengapung, kecuali jika terdampar ke pantai atau tanah

disekeliling sungai. Semua jenis minyak mengandung senyawa volatil yang segera dapat

menguap. Ternyata selama beberapa hari sebanyak 25% dari volume minyak akan hilang
9

karena menguap. Sisa minyak yang tidak menguap akan mengalami emulsifikasi yang

menyebabkan minyak dan air bercampur.

Dilihat dari sifat apung minyak bumi ada dua jenis sifat, yaitu: Minyak dengan fraksi

ringan (sifat terapung) dan Minyak dengan fraksi berat (sifat mudah tenggelam). Minyak

yang terapung terdapat dalam dua bentuk antara minyak dan air, yaitu:

a. Emulsi minyak dalam air

Emulsi ini terjadi jika droplet-droplet (gelembung) minyak terdispersi di dalam air

distabilkan dengan interaksi kimia dimana air menutupi permukaan droplet-droplet tersebut.

Hal ini terjadi terutama di dalam air yang berombak, dan droplet minyak tersebut tidak

terdispersi pada permukaan air, melainkan menyebar ke dalam air. Beberapa droplet minyak,

terutama yang berikatan dengan partikel minyak menjadi lebih berat dan akan mengendap ke

bawah.

b. Emulsi air dalam minyak

Emulsi ini terbentuk jika droplet-droplet air tertutupi oleh lapisan minyak, dan

emulsi ini distabilkan oleh interaksi diantara droplet-droplet air yang tertutup. Emulsi

semacam ini terlihat sebagai lapisan yang mengapung pada permukaan air dan lekat, dan

kadang-kadang karena kandungan air di dalam droplet-droplet minyak tersebut cukup tinggi

maka total volumenya lebih besar dibandingkan dengan minyak aslinya. Sebagian besar

emulsi minyak akan mengalami degradasi melalui spontan fotoksidasi spontan dan oksidasi

oleh mikroorganisme.

Laut yang tercemar oleh tumpahan minyak akan membawa pengaruh negatif bagi

biota laut, karena emulsi minyak dapat menghambat difusi oksigen dari atmosfer ke dalam

badan air laut, serta menghambat penetrasi sinar matahari ke permukaan perairan, yang

akhirnya mengakibatkan kematian fatal bagi biota.


10

Beberapa komponen yang menyusun minyak juga diketahui bersifat racun terhadap

berbagai hewan dan manusia. Komponen-komponen hidrokarbon jenuh yang mempunyai

titik didih rendah diketahui dapat menyebabkan anestesi dan narkosis pada berbagai hewan

tingkat rendah, dan jika terdapat pada konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kematian.

Komponen-komponen hidrokarbon aromatik yang mempunyai titik didih rendah terdapat

dalam jumlah besar di dalam minyak dan merupakan komponen yang paling berbahaya,

misalnya benzena, toluena, dan xilena dapat langsung membunuh kerang, ikan yang tinggal

menetap, atau larva ikan yang belum dapat melarikan diri dengan cepat terhadap pengaruh

polutan minyak tersebut. Minyak juga mengandung naftalena dan penantren yang lebih

beracun terhadap ikan dibandingkan benzena, toluena, dan xilena.

Komponen-komponen hidrokarbon aromatik lebih larut di dalam air dibandingkan

dengan hidrokarbon jenuh. Senyawa hidrokarbon aromatik dapat membunuh kehidupan

disekitarnya melalui kontak langsung dengan minyak. Pengaruh berbahaya dari senyawa

aromatik akan berkurang dengan semakin bertambahnya waktu karena senyawa tersebut

bersifat volatil sehingga mudah menguap.

Menurut Marsaoli (2004), Keberadaan senyawa hidrokarbon minyak bumi di

perairan laut dapat berasal dari berbagai sumber (lihat Tabel 1)

Tabel 1 Perkiraan Minyak Bumi yang Masuk ke Lingkungan Laut


Sumber Jumlah, ton x 10 6tahun
Melalui pengolahan di laut
1. Tanker LOT 0,03-0,31
2. Tanker non-LOT 0,41-1,00
3. Air kotor dilambung kapal, tempat penyimpanan batubara, dan operasi
normal di kapal yang lain (semua kapal) 0,05-0,61
Buangan lepas pantai yang tidak disengaja
1. Kecelakaan tanker 0,10-0,22
2. Kecelakaan kapal lain 0,02-0,35
3. Kecelakaan saluran pipa <0,01
4. Produksi minyak lepas pantai 0,08-<0,38
5. Rembesan minyak alamiah di laut 0,2-0,7
Deposit Atmosfir 0,2-7,00
Buangan di daratan/tanah
11

Penyulingan 0,20-0,30
Operasi pemindahan terminal 0,01-0,25
Kecelakaan saluran kapal <0,01-0,03
Aliran buangan (kota dan sungai) 1,90
Limbah industri 0,08-1,98
Limbah automotif 0,50-4,4
Limbah penerbangan 0,05
Limbah perkotaan 0,2-(11,8)b
Total 1,90-11,4
Sumber: [2]., b; tidak termasuk dalam total

Menurut Melawaty, dkk (2002), sumber hidrokarbon aromatik dilaut, dapat dilihat

pada gambar berikut:

Gambar 2 Sumber Hidrokarbon Aromatik Di Dalam Laut


12

Menurut Melawaty, dkk (2002) Hidrokarbon tersebut akan mengalami degradasi

oleh mikroba, dengan mekanisme sebagai berikut:

Gambar 3 Degradasi Hidrokarbon Aromatik Polisiklik Oleh Mikroba

D. Akibat Pencemaran Minyak Bumi Di Laut

Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi di laut adalah:

1. Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang

terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan.

Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar

di pantai.

2. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi

yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada

makhluk hidup hingga kemungkinan terjadinya kematian. Efek subletal yaitu

mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian

secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana

pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya.


13

3. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam

komponen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi.

Jika jumlah pitoplankton menurun, maka populasikan, udang, dan kerang juga akan

menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai

ekonomi dan kandungan protein yang tinggi.

4. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak

di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini

dikarenakan slick membuat permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk

hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak,

terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi,

sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati.

E. Analisis Senyawa Organik (Hidrokarbon) Sebagai Pencemar Di Laut

1. Total Petroleum Hidrokarbon (TPH)

Petroleum berasal dari kata petra yang artinya batu dan oleum yang

artinya minyak. Petroleum merupakan campuran kompleks. Petroleum terdiri dari senyawa

hidrokarbon (98%), Sulfur (1 – 3%), Nitrogen (< 1%), Oksigen (< 1%), Logam atau mineral

(< 1%), Garam (< 1%). Menurut EPA (Environmental Protection Agency), petroleum

hidrokarbon berasal dari minyak mentah (crude oil). Crude oil ini digunakan untuk membuat

produk petroleum, yang dapat mencemari lingkungan.

Berdasarkan susunan molekul minyak bumi maka senyawa hidrokarbon dapat

dikelompokan menjadi empat golongan, yaitu:

a. Parafinik (Alkana) : CnH2n+2

Parafinik merupakan persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan rantai atom C terbuka

yang terdiri dari normal parafin dan parafin cabang (isomer).


14

b. Naftenik (Sikloparafin) : CnH2n

Naftenik merupakan persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan rantai atom C tertutup

yang terdiri dari normal naften (mononaften dan polinaften) dan naften bercabang.

Contohnya yaitu : sikloheptana.

c. Aromatik : CnH2n-6

Aromatik adalah persenyawaan hidrokarbon jenuh dengan satu inti benzena atau

lebih yang terdiri dari normal benzena (monobenzena, monoaromat dan polibenzena,

poliaromat) dan benzena bercabang. Contohnya yaitu : benzena

d. Olefin : CnH2n

Olefin adalah persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh dengan rantai atom C terbuka

yang dalam struktur molekulnya terdapat ikatan rangkap dua diantara dua atom C yang

berdekatan. Hidrokarbon tidak jenuh terdiri dari normal olefin dan olefin cabang alkil.

Senyawa olefin biasanya tidak ada dalam minyak bumi, karena susunan komponen tersebut

tidak stabil.

TPH memiliki sifat-sifat umum baik sifat fisika maupun kimia, antara lain:

1) Mudah menguap

2) Peka terhadap cahaya

3) Kelarutan dalam air umumnya kecil

4) Mudah larut dalam pelarut organik

5) Tekanan uapnya lebih kecil dari satu atm

6) Umumnya beracun

7) Memiliki massa relatif sebesar 282

8) Memiliki titik leleh sebesar 37ºC

9) Memiliki titik didih sebesar (300-350)ºC

10) Memiliki kerapatan sebesar 0,789 g/cm3


15

11) Viskositas besar

Senyawa-senyawa petroleum adalah campuran dari banyak sekali komponen

hidrokarbon. Senyawa-senyawa tersebut bervariasi tergantung pada sumber crude oil dan

proses pemurnian produksi. Cara-cara pemisahannya antara lain dengan proses pemecahan,

kondensasi, polimerisasi, dan alkilasi. Berikut beberapa contoh senyawa TPH :

a. Bensin

Bensin adalah campuran dari komponen-komponen hidrokarbon dengan titik didih

yang rendah. Mengandung kurang lebih dari seratus lima puluh komponen hidrokarbon

dengan rantai karbon antara C4 sampai C12 yang terdiri dari 4-8% alkena, 25-40% isoalkana,

3-7% sikloalkena, dan 20-50% senyawa aromatik.

b. Fuel oil (1)

Fuel Oil (1) adalah senyawa hasil destilasi petroleum yang mengandung hidrokarbon

dengan ikatan C9 sampai C16. Senyawa ini banyak digunakan dalam pestisida, indrustri

keramik, dan pelapisan aspal.

c. Fuel Oil (2)

Fuel Oil (2) adalah senyawa hidrokarbon dengan ikatan karbon C11 sampai C20.

Terdiri dari 64% senyawa hidrokarbon alifatik (termasuk alkana rantai lurus dan

sikloheksena), 1-2% alkena, dan 35% hidrokarbon aromatik. Senyawa ini banyak digunakan

dalam pembakaran pada industri keramik.

d. Mineral Oil

Mineral Oil sering disebut sebagai minyak pelumas. Ikatan karbonya antara

C15 sampai C50. Mineral oil banyak digunakan pada kendaraan bermotor. Hidrokarbon yang

terkandung antara lain alkana, sikloalkana, dan hidrokarbon aromatik.

Keberadaan petroleum hidrokarbon perlu ditetapkan dan Analisis TPH secara

kuantitatif dapat dilakukan dengan kromatografi gas atau spektrofotometri infra red.
16

a. Kromatografi gas (GC)

Pada tahun 1903, Tswett menemukan teknik kromatografi. Teknik ini bermanfaat

dalam penguraian suatu campuran. Definisi kromatografi adalah suatu prosedur pemisahan

zat terlarut oleh suatu proses migrasi, diferensial dinamis dalam sistem yang terdiri dari dua

fase atau lebih salah satunya bergerak secara berkesinambungan dalam arah tertentu dan di

dalamnya zat-zat itu menunjukkan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan dalam

absorpsi, partisi, kelarutan, tekanan uap, ukuran molekul atau kerapatan muatan ion.

Berdasarkan kemasan fase diam, kromatografi terbagi tiga yaitu kromatografi kertas, kolom,

dan lapisan tipis.

Kromatografi gas terdiri dari kromatografi gas cairan dengan mekanisme pemisahan

partisi, teknik kolom dan nama alat GLC (Gas Liquid Chromatography). Selain itu,

kromatografi gas padat dengan mekanisme absorpsi, teknik kolom dan nama alat GSC (Gas

Solid Chromatography). Namun GSC jarang digunakan sehingga pada umumnya yang

disebut dengan GC saat ini adalah GLC.

Kromatografi gas merupakan sistem pemisahan fisik komponen-komponen dalam

suatu campuran terdistribusi antara fase diam dan fase gerak. Fase diam berupa kolom yang

terisi oleh padatan atau cairan. Fase gerak (gas pembawa) berupa gas yang lembam.

Komponen akan terpisah diantara aliran gas pembawa yang terus menerus dalam fase diam

(Day dan Underwood, 2002).

Secara garis besar, bagian dasar dari GC :

a. Gas pembawa

Syarat gas pembawa : Lembam (inert), Koefisien difusi gas rendah, Kemurnian

tinggi (99.99%), Mudah didapat dan murah, dan Cocok dengan detektor yang digunakan.
17

Contoh gas pembawa adalh N2, H2, He, dan Ar. He adalah gas pembawa yang paling banyak

digunakan.

b. Gerbang suntik

c. Oven

Syarat oven yang baik : Keseragaman suhu baik, Kestabilan suhu baik, Rentang

suhu lebar, Dapat digunakan untuk analisis isotermal dan analisis pada suhu terprogram.

d. Kolom

Kolom dapat diibaratkan sebagai jantungnya kromatografi. Pada kolom inilah terjadi

pemisahan komponen pada sampel. Secara umum kolom yang lebih panjang dapat

memisahkan lebih baik namun waktu analisisnya menjadi lebih lama. Semakin kecil diameter

dalam semakin baik pemisahannya. Kolom dibuat spiral untuk menghemat tempat. Ada dua

jenis kolom yaitu kolom kemasan dan kolom kapiler.

e. Detektor

Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor elektronik yang berfungsi mengubah

sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik.

Detektor yang digunakan untuk menganalisis TPH adalah FID (Flame Ionization Detector)

yang merupakan detektor khusus menganalisis senyawa-senyawa organik termasuk TPH.

Prinsip analisis TPH dengan GC, yaitu:

Prinsip kromatografi gas hampir sama dengan kromatografi kolom, yaitu sistem partisi.

Pada kromatografi kolom pelarut meskipun sedikit selalu mengadakan interaksi dengan

zatnya sehingga menimbulkan kesalahan kualitatif. Pemisahan pada GC disebabkan oleh

perbedaan dalam kemampuan distribusi analit di antara fase gerak dan fase diam di dalam

kolom pada kecepatan dan waktu yang berbeda.


18

Pada kromatografi gas, pelarut diganti oleh gas yang sama sekali tidak bereaksi dengan

sampel (inert). Gerakan pelarut dalam kromatografi sangat lambat, sedangkan pada

kromatografi gas sangat cepat dan sampel pun dibuat gas.

Molekul sampel yang dibawa oleh gas akan ditahan oleh fasa cair. Lamanya penahanan

komponen tergantung pada afinitas komponen dengan fasa cair. Bila afinitasnya lemah,

penahanan akan sebentar saja, sehingga komponen dapat segera keluar dari kolom. Bila

afinitas kuat, maka penahanan akan lebih lama sehingga keluar dari kolomnya agak lama.

Dengan demikian komponen dalam sampel akan terpisah.

Sampel dalam suasana asam kuat diekstrak dengan Dichloromethane (DCM), maka

kandungan TPH akan terserap pada pelarut organik DCM, dan hasil ekstraksi siap untuk di

analisa dengan kromatografi dengan kolom kapiler menggunakan detektor FID.

Untuk Sampel Udara – Charcoal Tube atau Passive sample diekstrak dengan Carbon

disulfit dan dianalisa dengan kromatografi gas dengan kolom kapiler menggunakan detektor

FID.

Cara kerja, preparasi sampel air laut dengan instrumen GC, yaitu:

a) Dimasukkan 500 ml sampel ke dalam labu pemisah, lalu ditambahkan 2 mL HCl pekat.

b) Ditambahkan 50 mL DCM, lalu labu kocok ditutup dan kemudian dilakukan pengocokan

selama 2 menit.

c) Disaring lapisan cairan yang paling bawah dengan Na2SO4 dengan menggunakan kertas

saring Whatman no. 41/Double ring.

d) Kemudian hasil saringannya ditampung ke dalam labu didih 250 mL.

e) Diulangi langkah 2 sampai dengan 4 hingga tiga kali (jumlah total DCM yang dipakai

menjadi 150 mL).

f) Dipasangkan labu didih yang berisi ekstrak tersebut ke dalam rotary evaporator dengan

suhu waterbath ± 60oC.


19

g) Dilakukan evaporasi hingga ekstrak menjadi + 3 mL.

h) Dimasukkan ekstrak tersebut ke dalam botol vial 2 mL. Sampel siap untuk dianalisa

dengan GC.

b. Spektrofotometri infra red (FT-IR)

Fourier Transform Infrared (FT-IR) sangat berguna untuk mengidentifikasi bahan

kimia baik organik maupun anorganik. Hal ini dapat diterapkan pada analisis padatan, cairan,

dan gas. Dengan menafsirkan penyerapan spektrum infra merah, ikatan kimia dalam molekul

dapat ditentukan. Kekuatan penyerapan sebanding dengan konsentrasi. Oleh karena itu, FT-

IR dapat digunakan untuk analisis kuantitatif. Spektrofotometri merupakan suatu metode

yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elekromagnetik yang berada pada daerah

panjang gelombang 0.75-1000 um atau pada bilangan gelombang 10-13000 cm-1. Sinar infra

merah terbagi menjadi tiga daerah yakni daerah infra merah dekat, daerah infra merah

pertengahan dan daerah infra merah jauh.

Bagian dasar dari FT-IR adalah inferometer, cermin diam, cermin bergerak, beam

splitter, detektor, sumber cahaya dan sistem pengolahan data.

Prinsip FT-IR yaitu suatu metoda untuk menetapkan cara menguji

kadar hidrkarbon dalam air (air tanah, air limbah, air laut) dan tanah(sedimen,sludge)

berdasarkan ekstraksi hidrokarbon dengan menggunakan pelarut organik tetrachloroethylene

(TCE). Pengukuran total hidrokarbon dilakukan dengan menggunakan FTIR. Penggunaan

pelarut organik TCE memungkinkan absorbansi dari ikatan C-H (2930 cm-1) dalam FT-IR

dapat digunakan untuk mengukur TPH dalam air dan tanah.

Cara kerja, preparasi sampel air, yaitu:

a) Lima ratus ml sampel air diasamkan sampai pH ≤ 2.0 dengan HCl 1 :1 dan dimasukkan

pada corong pemisah 1000 ml, botol sampel dibilas dengan 30 ml TCE dan bilasan ini

ditambahkan ke sampel di corong pemisah 1000 ml.


20

b) Dilakukan ekstraksi dengan cara larutan dikocok selama dua menit. Setelah larutan

terpisah, solven (TCE) dilewatkan pada kertas saring yang telah ditambahkan

Na2SO4 ditampung ke dalam labu ukur 100mL. Dilakukan ekstraksi 3x ( 3 X 30 ml TCE)

kemudian larutan hasil ekstraksi dihimpitkan dengan TCE hingga 100 mL.

c) Ditambahkan 2 gram silika gel 70-230 mesh ke dalam larutan hasil ekstraksi kemudian

dimasukkan ke dalam magnetic stirer dan putar selama 5 menit. Larutan siap dibaca di

FT-IR.

Analisis Hidrokarbon dapat juga dilakukan dengan menggunakan HPLC (High

Performance Liquid Chromatography) dan Spektro UV-Fluoresensi (Spektro UV-FL).

a. HPLC

HPLC adalah alat yang sangat bermanfaat dalam analisis. Pelaksanaan dan

penggunaan serta prinsip HPLC yang sama dengan kromatografi lapis tipis dan kromatografi

kolom. HPLC secara mendasar merupakan perkembangan tingkat tinggi dari kromatografi

kolom. Selain dari pelarut yang menetes melalui kolom dibawah grafitasi, didukung melalui

tekanan tinggi sampai dengan 400 atm. Ini membuatnya lebih cepat. HPLC memperbolehkan

penggunaan partikel yang berukuran sangat kecil untuk material terpadatkan dalam kolom

yang mana akan memberi luas permukaan yang lebih besar berinteraksi antara fase diam dan

molekul-molekul yang melintasinya. Hal ini memungkinkan pemisahan yang lebih baik dari

komponen-komponen dalam campuran.

Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya

lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non

polar dibanding dengan fase geraknya).

Instrumentasi Kromatografi Cairan Kinerja Tinggi, yaitu:

1) Fasa Gerak
21

Fasa gerak dalam HPLC adalah berupa zat cair dan disebut juga eluen atau pelarut.

Berbeda dengan kromatografi gas, HPLC mempunyai lebih banyak pilihan fasa gerak,

dibandingkan dengan fasa gerak untuk kromatografi gas. Dalam kromatografi gas, fasa gerak

hanya sebagai pembawa solute melewati kolom menuju detektor. Sebaliknya dalam

HPLC,fasa gerak selain berfungsi membawa komponen-komponen campuran menuju

detector, fasa gerak dapat berinteraksi dengan solute-solut. Oleh karena itu, fasa gerak dalam

HPLC merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses pemisahan.

- Persyaratan fasa gerak HPLC, yaitu:

Zat cair yang akan digunakan sebagai fasa gerak HPLC harus memenuhi beberapa

persyaratan berikut:

1. Zat cair harus bertindak sebagai pelarut yang baik untuk cuplikan yang akan di analisis

2. Zat cair harus murni sekali untuk menghindarkan masuknya kotoran yang dapat

menganggu interpretasi kromatogram.

3. Zat cair harus jernih sekali untuk menghindarkan penyumbatan pada kolom.

Zat cair harus mudah diperoleh, murah, tidak mudah terbakar, dan tidak beracun.

Zat cair tidak kental.

4. Sesuai dengan detektor.

- Jenis fasa gerak,

Fasa gerak untuk kromatografi partisi, adsorpsi, dan penukar ion bersifat interaktif

dalam arti fasa gerak berinteraksi dengan komponen-komponen cuplikan. Akibatnya, waktu

retensi sangat dipengaruhi oleh jenis pelarut. Sebaliknya fasa gerak untuk kromatografi

eksklusi bersifat non interaktif. Oleh karena itu, waktu retensi dengan kromatografi ini tidak

bergantung pada komposisi fasa gerak.

2) Pompa
22

Pompa dalam HPLC dapat dianalogikan dengan jantung pada manusia yang

berfungsi untuk mengalirkan fasa gerak cair melalui kolom yang berisi serbuk halus. Pompa

yang dapat digunakan dalam HPLC harus memenuhi persyaratan :

1. Menghasilkan tekanan sampai 600 psi

2. Keluaran bebas pulsa

3. Kecepatan alir berkisar antara 0,1-10 mL/menit

4. Bahan tahan korosi

Dikenal tiga jenis pompa yang masing-masing memiliki kenutungan dan

kekurangannya yaitu pompa reciprocating, displacement dan pneumatic.

1. Pompa reciprocating

Jenis pompa ini sekarang banyak dipakai. Pompa ini terdiri dari ruangan kecil

tempat pelarut yang dipompa dengan cara gerakan piston mundur-maju yang dijalankan oleh

motor. Piston berupa batang gelas dan berkontak langsung dengan pelarut.

2. Pompa displacement

Pompa ini menyerupai syringe (alat suntik) terdiri dari tabung yang dilengkapi

pendorong yang digerakan oleh motor. Pompa ini juga menghasilkan aliran yang cenderung

tidak bergantung tekanan baik kolom dan viskositas pelarut. Selain itu, keluaran pompa ini

bebas pulsa. Akan tetapi pompa ini keterbatasan kapasitas pelarut (±250 mL) dan tidak

mudah untuk melakukan pergantian pelarut.

3.Pompa pneumatic

Dalam pompa ini pelarut di dorong oleh gas bertekanan tinggi. Pompa jenis ini

murah dan bebas pulsa. Akan tetapi mempunyai keterbatasan kapasitas dan tekanan yang

dihasilkan (<2000 psi) serta kecepatan alir bergantung pada viskositas pelarut dan tekanan

balik kolom.

3) Unit Sistem Penyuntikan Atau Penginjeksian Sampel


23

Kadang kala, faktor ketidaktepatan pengukuran HPLC terletak pada keterulangan

pemasukan cuplikan ke dalam peking kolom. Masalahnya, kebanyakan memasukan cuplikan

ke dalam kolom dapat menyebabkan band broadening. Oleh karena itu, cuplikan yang

dimasukkan harus sekecil mungkin, beberapa puluh mikroliter. Selain itu, perlu diusahakan

tekanan tidak menurun ketika memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak. Berikut

beberapa teknik pemasukan cuplikan ke dalam sistem HPLC :

1. Injeksi Syringe

Alat yang paling dulu dan paling mudah untuk memasukkan cuplikan adalah

syringe. Syringe disuntikkan melalui septum (seal karet) dan untuk ini dirancang syringe

yang tahan tekanan sampai 1500 psi. akan tetapi keterulangan injeksi syringe ini sedikit lebih

baik dari 2-3 % dan sering lebih jelek.

2. Injeksi ‘stop-flow’

Injeksi stop-flow adalah jenis injeksi syringe kedua tapi di sini aliran pelarut

dihentikan sementara, sambungan pada ujung kolom dibuka dan cuplikan disuntikan

langsung ke dalam ujung kolom. Setelah menyambungkan kembali kolom maka pelarut

dialirkan kembali.

3. Kran Cuplikan

Jenis pemasukan cuplikan ini disebut juga loop dan paling banyak digunakan. Untuk

memasukkan cuplikan ke dalam aliran fasa gerak perlu dua langkah: (a) sejumlah volume

cuplikan disuntikkan ke dalam loop dalam posisi ‘load’, cuplikan masih berada dalam loop,

(b) kran diputar untuk mengubah posisi ‘load’ menjadi posisi ‘injeksi’ dan fasa gerak

membawa cuplikan ke dalam kolom. Loop dapat diganti-ganti dan tersedia berbagai ukuran

volume dari 5 hingga 500μL. Dengan sistem pemasukan cuplikan ini memungkinkan

memasukkan cuplikan pada tekanan 7000 psi dengan ketelitian tinggi. Juga loop mikro

tersedia dengan volume 0,5 hingga 5 μL.


24

4) Kolom

Ada 2 jenis kolom pada HPLC yaitu kolom konvensional dan kolom mikrobor.

Kolom merupakan bagian HPLC yang mana terdapat fase diam untuk berlangsungnya proses

pemisahan solut/analit.

- Kolom mikrobor mempunyai 3 keuntungan yang utama dibanding dengan kolom

konvensional, yakni:

- konsumsi fase gerak kolom mikrobor hanya 80% atau lebih kecil dibanding dengan kolom

konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10 -100

μl/menit).

- Adanya aliran fase gerak yang lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika

digabung dengan spektrometer massa.

- Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solut lebih pekat, karenanya jenis kolom

ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas misal sampel klinis.

Kebanyakan fase diam pada HPLC berupa silika yang dimodifikasi secara kimiawi, silika

yang tidak dimodifikasi, atau polimer-polimer stiren dan divinil benzen. Permukaan silika

adalah polar dan sedikit asam karena adanya residu gugus silanol (Si-OH). Silika dapat

dimodifikasi secara kimiawi dengan menggunakan reagen-reagen seperti klorosilan.

Reagen-reagen ini akan bereaksi dengan gugus silanol dan menggantinya dengan gugus-

gugus fungsional yang lain.

- Oktadesil silika (ODS atau C18) merupakan fase diam yang paling banyak digunakan

karena mampu memisahkan senyawa-senyawa dengan kepolaran yang rendah, sedang,

maupun tinggi. Oktil atau rantai alkil yang lebih pendek lagi lebih sesuai untuk solut yang

polar. Silika-silika aminopropil dan sianopropil (nitril) lebih cocok sebagai pengganti

silika yang tidak dimodifikasi. Silika yang tidak dimodifikasi akan memberikan waktu

retensi yang bervariasi disebabkan karena adanya kandungan air yang digunakan.
25

5) Detektor

Detektor pada HPLC dikelompokkan menjadi 2 golongan yaitu: detektor universal

(yang mampu mendeteksi zat secara umum, tidak bersifat spesifik, dan tidak bersifat selektif)

seperti detektor indeks bias dan detektor spektrometri massa; dan golongan detektor yang

spesifik yang hanya akan mendeteksi analit secara spesifik dan selektif, seperti detektor UV-

Vis, detektor fluoresensi, dan elektrokimia.

Idealnya, suatu detektor harus mempunyai karakteristik sebagai berikut:

1. Mempunyai respon terhadap solut yang cepat dan reprodusibel.

2. Mempunyai sensitifitas yang tinggi, yakni mampu mendeteksi solut pada kadar yang

sangat kecil.

3. Stabil dalam pengopersiannya.

4. Mempunyai sel volume yang kecil sehingga mampu meminimalkan pelebaran pita.

5. Signal yang dihasilkan berbanding lurus dengan konsentrasi solut pada kisaran yang luas

(kisaran dinamis linier).

6. Tidak peka terhadap perubahan suhu dan kecepatan alir fase gerak.

Prinsip HPLC

Prinsip HPLC adalah Dengan bantuan pompa fasa gerak cair dialirkan melalui

kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke dalam aliran fasa gerak dengan cara

penyuntikan. Di dalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen campuran. Karena

perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut terhadap fasa diam. Solut-solut yang kurang

kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom lebih dulu. Sebaliknya, solut-solut

yang kuat berinteraksi dengan fasa diam maka solut-solut tersebut akan keluar kolom

dideteksi oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram. Seperti pada

kromatografi gas, jumlah peak menyatakan konsentrasi komponen dalam campuran.


26

Computer dapat digunakan untuk mengontrol kerja sistem HPLC dan mengumpulkan serta

mengolah data hasil pengukuran HPLC.

Cara Kerja HPLC

Cara Kerja HPLC adalah Mula-mula solven diambil melalui pompa. Solven ini

dikemudian masuk ke dalam katup injeksi berbutar, yang dipasang tepat pada sampel loop.

Dengan pertolongan mikrosiring, sampel dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian

bersama-sama dengan solven masuk ke dalam kolom. Hasil pemisahan dideteksi oleh

detector, yang penampakannya ditunjukan oleh perekam (pencatat = recorder). Tekanan

solven di atur dengan pengatur dan pengukur tekanan. Pompa pemasuk solven pada tekanan

konstan hingga tekanan kurang lebih 4500 psi dengan laju alir rendah, yakni beberapa

milliliter per menit.

Rekorder menghasilkan kromatogram zat-zat yang dipisahkan dari suatu sampel.

Tahap pemekatan dengan ekstraksi solven dan penguapan untuk memperkecil volum sering

kali diperlukan sebelum pengerjaan sampel dengan HPLC. Hal ini terutama sering dilakukan

untuk analisis senyawa-senyawa hidrokarbon aromatic polisiklik (PAH) atau residu pestisida

dalam makanan.

Sebagai alternative lain, sampel air dapat di absorpsi oleh suatu adsorben padat (C8

atau C18 yang terikat pada silica gel), diikuti dengan desorpsi dalam suatu solven yang

kemudian langsung dimasukan kedalam kolom. Suatu solven dengan polaritas rendah,

misalnya CH3 berair yang secara bertingkat mengalami perubahan menjadi CH3OH murni,

menjamin pemisahan yang baik pada C-18 yang terikat pada silica gel.

Kelebihan HPLC

HPLC dapat dipandang sebagai pelengkap Kromatografi Gas (GC). Dalam banyak

hal kedua teknik ini dapat digunakan untuk memperoleh efek pemisahan yang sama

membaiknya. Bila derivatisasi diperlukan pada GC, namun pada HPLC zat-zat yang tidak
27

diderivatisasi dapat dianalisis. Untuk zat-zat yang labil pada pemanasan atau tidak menguap,

HPLC adalah pilihan utama. Namun demikian bukan berarti HPLC menggantikan GC, tetapi

akan memainkan peranan yang lebih besar bagi para analis laboratorium. Derivatisasi juga

menjadi populer pada HPLC karena teknik ini dapat digunakan untuk menambah sensitivitas

detektor UV Visibel yang umumnya digunakan.

HPLC menawarkan beberapa keuntungan dibanding dengan kromatografi cair

klasik, antara lain:

1) Cepat: Waktu analisis umumnya kurang dari 1 jam. Banyak analisis yang dapat

diselesaikari sekitar 15-30 menit. Untuk analisis yang tidak rumit (uncomplicated), waktu

analisi kurang dari 5 menit bisa dicapai

2) Resolusi : Berbeda dengan GC, Kromatografi Cair mempunyai dua rasa dimana interaksi

selektif dapat terjadi. Pada GC, gas yang mengalir sedikit berinteraksi dengan zat padat;

pemisahan terutama dicapai hanya dengan rasa diam. Kemampuan zat padat berinteraksi

secara selektif dengan rasa diam dan rasa gerak pada HPLC memberikan parameter

tambahan untuk mencapai pemisahan yang diinginkan.

3) Sensitivitas detektor : Detektor absorbsi UV yang biasa digunakan dalam HPLC dapat

mendeteksi kadar dalam jumlah nanogram (10-9 gram) dari bermacam- macam zat.

Detektor-detektor Fluoresensi dan Elektrokimia dapat mendeteksi jumlah sampai

picogram (10-12 gram). Detektor-detektor seperti Spektrofotometer Massa, Indeks

Refraksi, Radiometri, dll dapat juga digunakan dalam HPLC.

4) Kolom yang dapat digunakan kembali : Berbeda dengan kolom kromatografi klasik,

kolom KCKT dapat digunakan kembali (reusable). Banyak analisis yang bisa dilakukan

dengan kolom yang sma sebelum dari jenis sampel yang diinjeksi, kebersihan dari solven

dan jenis solven yang digunakan.


28

5) Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik: zat-zat yang tidak bisa dianalisis dengan

GC karena volatilitas rendah, biasanya diderivatisasi untuk menganalisis psesies ionik.

HPLC dengan tipe eksklusi dan penukar ion ideal sekali untuk mengalissis zat-zat

tersebut.

6) Mudah rekoveri sampel: Umumnya setektor yang digunakan dalam HPLC tidak

menyebabkan destruktif (kerusakan) pada komponen sampel yang diperiksa, oleh karena

itu komponen sampel tersebut dapat dengan mudah sikumpulkan setelah melewati

detector. Solvennya dapat dihilangkan dengan menguapkan ksecuali untuk kromatografi

penukar ion memerlukan prosedur khusus.

b. Spektrofotometer UV-VIS

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang

memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar

tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-

Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga

spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan

kualitatif.

Absorbsi cahaya UV-Vis mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi

electron-electron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan

tereksitasi berenergi lebih tinggi. Energi yang terserap kemudian terbuang sebagai cahaya

atau tersalurkan dalam reaksi kimia. Absorbsi cahaya tampak dan radiasi ultraviolet

meningkatkan energi elektronik sebuah molekul, artinya energi yang disumbangkan oleh

foton-foton memungkinkan electron-electron itu mengatasi kekangan inti dan pindah ke

luar ke orbital baru yag lebih tinggi energinya. Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam

daerah UV-tampak karena mereka mengandung electron, baik sekutu maupun menyendiri,

yang dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi.


29

Absorbsi untuk transisi electron seharusnya tampak pada panjang gelombang

diskrit sebagai suatu spectrum garis atau peak tajam namun ternyata berbeda. Spektrum

UV maupun tampak terdiri dari pita absorbsi, lebar pada daerah panjang gelombang yang

lebar. Ini disebabkan terbaginya keadaan dasar dan keadaan eksitasi sebuah molekul dalam

subtingkat-subtingkat rotasi dan vibrasi. Transisi elektronik dapat terjadi dari subtingkat

apa saja dari keadaan dasar ke subtingkat apa saja dari keadaan eksitasi. Karena pelbagi

transisi ini berbeda energi sedikit sekali, maka panjang gelombang absorpsinya juga

berbeda sedikit dan menimbulkan pita lebar yang tampak dalam spectrum itu.

Di samping pita-pita spectrum visible disebabkan terjadinya tumpang tindih energi

elektronik dengan energi lainnya (translasi, rotasi, vibrasi) juga disebabkan ada faktor lain

sebagai faktor lingkungan kimia yang diberikan oleh pelarut yang dipakai. Pelarut akan

sangat berpengaruh mengurangi kebebbasan transisi elektronik pada molekul yang

dikenakan radiasi elektromagnetik. Oleh karena itu, spektrum zat dalam keadaan uap akan

memberikan pita spectrum yang sempit.

Panjang gelombang dimana terjadi eksitasi elektronik yang memberikan absorban

maksimum disebut sebagai panjang gelombang maksimum ( (λmaks) . Penentuan panjang

gelombang maksimum yang pasti (tetap) dapat dipakai untuk identifikasi molekul yang

bersifat karakteristik-karakteristik sebagai data sekunder. Dengan demikian spektrum

visibel dapat dipakai untuk tujuan analisis kualitatif (data sekunder) dan kuantitatif.

Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosi elektron

akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang

menyerap energi lebih sedikit akan menyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih

panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak memiliki electron yang

lebih mudah dipromosikan daripada senyawa yang menyerap cahaya pada panjang

gelombang UV yang lebih pendek.


30

Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperoleh bila elektron-elektron dalam ikatan

tereksitasi yang menimbulkan serapan dalam daerah dari 120-200nm. Daerah ini dikenal

sebagai daerah Ultra Violet (UV) vakum dan relative tidak banyak menimbulkan

keterangan. Diatas 200 nm eksitasi elektron. Dari orbital-orbital p dan d, dan orbital π

terutama sistem konjugasi π segera dapat diukur, dan spektra yang diperoleh memberikan

banyak keterangan.

Prinsip analisis multi komponen dengan metode Spektrofotometri UV-Vis adalah

kaliberasi tiap-tiap komponen dengan memakai larutan standar. Dikenal ada dua macam

larutan standar yaitu larutan standar murni dan larutan standar campuran. Larutan standar

campuran teknik pembuatan dan dampak kesalahannya sudah jelas lebih rumit. Selanjutnya

cara-cara perhitungan kadar tiap-tiap komponen juga dikenal dua macam yaitu: cara

konvensional dan cara modern yang tergantung pada instrument yang dipakai pada

Spektrofotometri UV-Vis yang konvensional perhitungan dilakukan pada tiap puncak/

panjang gelombang maksimum tiap komponen. Untuk campuran pembacaan absorban

adalah hasil jumlah absorban tiap komponen.

Analisis kualitatif dengan metode spektrofotometri UV-Vis hanya dipakai untuk

data sekunder atau data pendukung. Pada analisis kualitatif dengan metode

spektrofotometri UV-Vis yang dapat ditentukan ada 2 yaitu :

• Pemeriksaan kemurnian spektrum UV-Vis.

• Penentuan panjang gelombang maximum.

Pada penentuan panjang gelombang maksimum didasarkan atas perhitungan pergeseran

panjang gelombang maximum karena adanya penambahan gugus pada sistem kromofor

induk.

Hukum Lambert-Beer menyatakan hubungan antara serapan dan panjang jalan

melewati medium yang menyerap , dan hubungan antara konsentrasi spesies penyerap dan
31

tingkat absorbsi. Hukum ini menyatakan absorban zat terlarut adalah proporsional dengan

konsentrasi sebagai

A = ε. b. C

A = absorban

ε = koefisien ansorbansi molar

C = konsentrasi solute ( mol/L-1)

b = tebal curvet

Cara kerja spektrofotometer secara singkat adalah sebagai berikut. Tempatkan

larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan larutan yang akan

dianalisis pada sel kedua. Kemudian pilih foto sel yang cocok 200nm-650nm (650 nm-

1100 nm) agar daerah λ yang diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam

keadaan tertutup “nol” galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current.

Pilih h yang diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol”

galvanometer didapat dengan memutar tombol sensitivitas. Dengan menggunakan tombol

transmitansi, kemudian atur besarnya pada 100%. Lewatkan berkas cahaya pada larutan

sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan absorbansi larutan sampel.

Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer

meliptui:

1. Sumber tenaga radiasi yang stabil

2. Sistem yang terdiri dari lensa-lensa, cermin, celah-celah, dan lain-lain

3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang

gelombang tunggal

4. Tempat culikan yang transparan

5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan system meter atau pencatat


32

c. Spektrofotometer Fluoresensi

Fluoresensi adalah emisi cahaya setelah penyerapan sinar ultraviolet (UV) atau

cahaya tampak oleh molekul fluoresensi atau substruktur disebut fluorophore. Dengan

demikian, fluorophore menyerap energi dalam bentuk cahaya pada panjang gelombang

spesifik dan membebaskan energi dalam bentuk cahaya yang dipancarkan pada panjang

gelombang yang lebih tinggi.

Fluoresensi adalah proses pemancaran radiasi cahaya oleh suatu materi

setelahtereksitasi oleh berkas cahaya berenergi tinggi. Emisi cahaya terjadi karena

prosesabsorbsi cahaya oleh atom yang mengakibatkan keadaan atom tereksitasi.

Keadaan atom yang tereksitasi akan kembali keadaan semula dengan melepaskan

energi yang berupa cahaya (deeksitasi). Fluoresensi merupakan proses perpindahan tingkat

energi dari keadaan atom tereksitasi (S1 atau S2) menuju ke keadaan stabil (ground states).

Proses fluoresensi berlangsung kurang lebih 1 nano detik sedangkan proses fosforesensi

berlangung lebih lama, sekitar 1 sampai dengan 1000 mili detik. Fluoresensi spektroskopi

menggunakan foton energi yang lebih tinggi untuk merangsang sampel, yang kemudian akan

memancarkan foton energi yang lebih rendah. Teknik ini telah menjadi populer untuk biokimia dan

aplikasi medis, dan dapat digunakan untuk mikroskopi confocal, fluoresensi mentransfer

resonansi energi,dan pencitraan fluoresensi seumur hidup.Spektroskopi Fluoresensi Atom.

Pada metode ini seperti pada spektroskopi absorpsi atom untuk membentuk partikel-partikel

atom diperlukan nyala api. Energi radiasi yang diserap oleh partikel atom akan dipancarkan

kembali ke segala arah sebagai radiasi fluoresensi dengan panjang gelombang yang

karakteristik. Sumber radiasi ditempatkan tegak lurus terhadap nyala api sehingga hanya

radiasi fluoresensi yang dideteksi oleh detektor setelah melalui monokromator. Intensitas

radiasi fluoresensi ini berbanding lurus dengan konsentrasi unsur.


33

Dalam metode spektroskopi Fluoresensi ini, alat yang digunakan disebut dengan

Spektrofotometer Fluoresensi. Komponen-komponen yang penting dari suatu instrumen

untuk pengukuran flourosensi terdiri dari komponen (sumber, monokromator, dan

sebagainya) yang sama terdapat juga dalam spektrofotometer. Terdiri dari sumber cahaya

(biasanya xenon atau lampu merkuri), sebuah monokromator /atau filter untuk memilih

panjang gelombang eksitasi; tempat sampel; detektor, yang mengubah cahaya yang

dipancarkan ke listrik sinyal, dan unituntuk pembacaan data dan analisis.

Prinsip-prinsip umum dapat diilustrasikan dengan diagram Jablonski (Veberg,2006).

Menurut diagram Jablonski, energi emisi lebih rendah dibandingkan dengan eksitasi. Ini

berarti bahwa emisi fluoresensi yang lebih tinggi terjadi pada panjang gelombang dari

penyerapan (eksitasi). Perbedaan antara eksitasi dan panjang gelombang emisi dikenal

sebagai pergeseran Stoke.

Metode fluoresensi sangat baik untuk menetapkan beberapa hidrokarbon aromatik

polisiklik yang telah dikelompokkan sebagai “polutan prioritas” oleh Jawatan Perlindungan

Lingkungan Amerika Serikat (EPA), yang mengatakan bahwafluoresens memberi deteksi

yang sangat peka terhadap komponen-komponen sampeltertentu dalam kromatografi cairan.

Kelebihan Spektroskopi Fluoresensi yaitu Karakteristik flouresensi spektrometri

adalah sensitivitas yang tinggi. Fluorometri dapat menerima limit deteksi dengan kekuatan

sinyal lebih rendah dariteknik lain. Limit deteksi sekitar 10-10 M atau lebih rendah bisa saja

diukur darisebuah molekul. Langkah pertama pada pengukuran flouresensi adalah

eksitasielektronik dari sebuah molekul analit yang mengabsorbsi foton. Di flouresensi, spin

pada keadaan dasar dan tereksitasi adalah sama. Pada banyak molekul organic, kedaan dasar adalah

singlet state (semua spin berpasangan). Flouresensi terjadi ketika sebuah molekul

dipromosikan ke keadaan tereksitasi dengan absorpsi, dan kemudian kembali pada keadaan dasar

dengan emisi. Batas deteksi flouresensi sering kali berorde 10-9 M dan dengan tehnik deteksi
34

yang istimewa hampir 10-12 M. Sebagai pedoman, flouresensi lazim seribu kali lebih peka

daripada spektrofotometri, meskipun nilai-nilai yang sebenarnya bergantung pada senyawa-

senyawa yang dilibatkan dan instrumen mana yang tersedia. Fakta bahwa fluoresensi ditandai

dengan dua parameter panjang gelombang yang signifikan meningkatkan spesifikasi dari

metode ini, dibandingkan dengan teknik spektroskopi hanya didasarkan pada penyerapan.

Suatu sifat yang menonjoldari analisis flourosensi adalah tingginya kepekaan dibandingkan

dengan tehnik lazim lainnya, misalnya spektrofotometri. Sudah menjadi sifat lebih baik untuk

mengukur sedikit cahaya lawan tak ada cahaya ketimbang mengukur pengurangan kecil dalam suatu berkas

yang terang.

Beberapa contoh penelitian menggunakan sampel sedimen, air laut, dan biota dalam

analisis senyawa organik (Hidrokarbon) sebagai parameter pencemar dilaut, antara lain:

1. Profil Hidrokarbon Aromatik Berdasarkan Kedalaman Sedimen (Penelitian Marina

Chemica Acta, 2002)

Dalam penelitian ini digunakan sedimen untuk mengetahui keberadaan hidrokarbon

secara alamiah, karena sedimen merupakan bagian dari lingkungan laut yang menjadi

tempat terakumulasinya komponen organik. Sedimen relatif lebih stabil dibandingkan air

laut yang senantiasa mengikuti pergerakan arus.

Sampel merupakan pasir putih yang diambil menggunakan alat phleger core

sampler. Selama pengambilan sampel dilakukan pencegahan terhadap kontaminasi minyak

pelumas dan bahan bakar perahu yang digunakan. Selanjutnya sampel dimasukkan ke

dalam kotak pendingin dan dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.


35

Gambar 4 Skema Ekstraksi Hidrokarbon dari Sedimen


36

Hasil Spektra fluoresensi UV, yang diperoleh:

Gambar 5 Spektra Fluoresensi UV Sinkron Fraksi Aromatik Pada Stasiun A3

Gambar 6 Spektra Fluoresensi UV Sinkron Fraksi Aromatik Pada Stasiun F2


37

Hasil Penelitian yang diperoleh, antara lain:

1) Jenis Hidrokarbon aromatik yang terdapat secara alamiah dalam sedimen laut pulau

lumu-lumu kepulauan Spermonde adalah benzena, fluorena, fluorantena, dan fenil-1-

naftalena yang terdiri dari 1 sampai dengan 3 cincin yang terdapat pada stasiun D, E,

dan F. Sedangkan sumber hidrokarbon aromatik yang berasal dari antropogenik terdiri

atas 3-4 cincin yaitu krisena, pirena, dan 3,4-benzopirena terdapat pada stasiun A, B dan

C.

2) Kandungan hidrokarbon aromatik pada setiap zona yang digunakan sebagai sampel

mulai dari 13,23mg/kg sampai dengan 320,94mg/kg sedimen kering.

2. Bioakumulasi Senyawa Polihidrokarbon Aromatik (PAH) dalam Air laut, plankton,

Ganggang dan Ikan (Penelitian Lukitaningsih, 2010)

a. Pendahuluan

PAH memiliki sifat sukar larut dalam air. Oleh karena itu sering timbul

kendala dalam analisis bila diinginkan untuk menetapkan konsentrasi PAH dalam

lingkungan perairan dengan mengambil sampel airnya saja. Untuk mengatasi problem

tersebut, maka dikembangkan metode analisis menggunakan sampel selain air seperti

misalnya biota atau sedimen. Metode ini didasarkan pada sifat PAH yang lipofil, yang

menyebabkan PAH cenderung teradsorpsi pada partikel-partikel organik maupun

terabsorpsi dalam jaringan lipid biota yang hidup di sekitarnya (Hallet and

Brecher, 1983; Kamiet, et al., 1988; John and Braulio, 1985). Data penetapan PAH

dalam jaringan lipid organisme yang memiliki kemampuan mengakumulasikan PAH

tentunya lebih reliable daripada data air. Semakin besar kemampuan organisme untuk

mengakumulasikan PAH, maka peluang untuk dijadikan bioindikator semakin besar.

Bioindikator adalah sistem biologi yang dapat dijadikan pembeda untuk melihat
38

kondisi lingkungan terpolusi atau tidak.

b. Metode Analisis

1) Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat rotary evaporator,

seperangkat alat Soxhlet, seperangkat gas kromatografi dengan detektor FID, freeze

dryer, alat timbang, alat gelas.

2) Pengambilan Sampel

Sampel baik air maupun biota diambil secara teratur dan serentak. Kemudian

disimpan dalam freezer untuk menghindari peruraian mikroorganisme.

3) Preparasi Sampel

- Sampel Air laut

Sejumlah 5,0 L sampel air disaring dengan kertas Whatman no. 42 kemudian

diulang dengan Millipore 0.45 µm. Kemudian dilewatkan cartridge seppak C18 yang

telah diaktivasi. Elusi seppak dilakukan dengan teknik gravitasi, berturut-turut

menggunakan aseton-heksana dan heksana. Masing-masing eluat ditampung secara

terpisah, kemudian dievaporasi hingga volume 100 µL. Eluat kental kemudian

diinjeksikan dalam sistem kromatografi gas yang telah dioptimasi.

- Sampel Plankton dan Ganggang

Sampel plankton dan ganggang dikeringkan menggunakan freeze dryer.

Ditimbang sejumlah sampel kering, kemudian diekstraksi dengan Soxhlet menggunakan

pelarut campuran heksan-aseton (1:1) pada temperatur 60 °C. Ekstrak kemudian

dipekatkan dan dilanjutkan dengan clean up menggunakan kromatografi kolom berisi

florisil. Kolom dielusi berturut-turut menggunakan heksana-aseton dan heksan. Masing-

masing eluat ditampung secara terpisah kemudian dievaporasi hingga volume 100

µL. Eluat pekat kemudian diinjeksikan dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi.
39

- Sampel Ikan

Sampel ikan dibelah dan dipisahkan organ-organnya (insang, hepar dan daging).

Setelah dipisahkan organnya, kemudian ditimbansejumlah tertentu dan seksama. Sampel

kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan natrium sulfat anhidrat

kemudian dimaserasi menggunakan heksan-aseton (1:1) selama 2X24 jam di atas

penggojok. Ekstrak kemudian disaring dan dibebaskan tapak-tapak airnya dengan

natrium sulfat anhidrat. Selanjutnya ekstrak dievaporasi hingga 2-5 mL dan dilakukan

clean up menggunakan kromatografi kolom fase diam alumina yang telah diaktivasi.

Kolom alumina dielusi berturut-turut menggunakan heksan- aseton (1:1) dan heksan.

Masing-masing eluat kemudian dievaporasi hingga volume 100 µL Ekstrak pekat

kemudian diinjeksikan ke dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi.

4) Perhitungan Faktor Bioakumulasi Serta Pemilihan Biota Yang Sesuai Untuk Bioindikator

Faktor bioakumulasi dihitung dengan membandingkan konsentrasi PAH

dalam biota dengan harga konsentrasi PAH dalam air di mana biota itu hidup, dalam

waktu yang bersamaan. Biota yang paling tinggi kemampuannya mengakumulasikan

PAH dipilih sebagai bioindikator.

c. Hasil dan Pembahasan

Tahap awal dari penelitian ini adalah identifikasi sampel biota yang berhasil

dikumpulkan. Analisis PAH dilakukan dengan membandingkan waktu retensi

kromatogram sampel dengan waktu retensi kromatogram standar. Untuk

mengantisipasi kemungkinan interferensi dari sinyal kontaminan yang memiliki

waktu retensi hampir sama dengan PAH, maka pembatasan pergeseran waktu retensi

yang digunakan sangat kecil yaitu ± 0,05 menit.

Di samping itu secara acak sampel juga dianalisis menggunakan HPLC dengan

detektor spektrofluorometer yang lebih selektif untuk mengkonfirmasi kebenaran data.


40

Dari kedua data (HPLC dan GC) ternyata tidak ditemukan perbedaan yang bermakna

dan tidak ditemukan material yang menginterferensi dalam tiap puncak kromatogram

sampel (Lukitaningsih, 2004).

3. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik (PAHs) dalam Air laut, Udang

dan Kepiting (Penelitian Lukitaningsih, 2004)

a. Pendahuluan

PAHs merupakan zat kimia dengan struktur dasar yang terdiri dari atom karbon

dan hidrogen yang bergabung menjadi dua atau lebih cincin aromatik (Eadie, 1983).

Beberapa jenis PAHs yang sering dipelajari dan banyak ditemukan di lingkungan adalah

benzo(a)pirena, antrasena, benzo (a) antrasena, fluorantena, indeno (1,2,3-cd) pirena,

phenantrena, perilena dan pirena (Eadie, 1983).

Sebagai polutan, PAHs perlu selalu dipantau keberadaannya karena dapat

menyebabkan mutasi material genetik dan menimbulkan kanker. PAHs termasuk golongan

zat kimia yang bersifat genotoksik. PAHs memberikan efek dengan membentuk ikatan

kovalen dengan basa dari DNA. PAHs memiliki gugus elektrofil yang akan membentuk

ikatan kovalen dengan gugus nukleofilik seperti asam amino, sulfhidril dan gugus hidroksil

pada molekul lain (Sugiyanto, et,al, 1992).

Struktur PAHs yang kaku dan tersusun dari dua atau lebih cincin aromatik

menyebabkan PAHs bersifat lipofilik, sukar larut dalam air dan memiliki kecenderungan

untuk terakumulasi dalam jaringan lipid, bersifat stabil, tidak mudah terurai oleh

mikroorganisme, sehingga eksistensinya di alam cukup lama (Jones and Wild, 1995).

Dikaitkan dengan sifatnya yang apolar dan sukar larut dalam air, maka sering

ditemukan kendala-kendala dalam penetapan konsentrasi PAHs dalam air jika hanya

mengambil sampel airnya saja. Selain dibutuhkan jumlah sampel yang relatif banyak,

kompleksnya matrik yang ikut tersari bersama sampel sering mengganggu penetapan.
41

Terkadang kadar PAHs yang dianalisa dengan menggunakan sampel air sering tidak

menunjukkan hasil yang reliabel, sehingga hasil analisis tidak bersifat representatif

terhadap konsentrasi PAHs yang sebenarnya ada di lingkungan. Untuk itu perlu dilakukan

teknik monitoring konsentrasi PAHs dengan menggunakan biota laut.

Secara teori PAHs bersifat lipofilik dan cenderung untuk terakumulasi di dalam

jaringan lipid, sehingga penggunaan biota ini diharapka dapat memberikan hasil analisis

yang lebih reliabel dan representatif. Proses pengambilan polutan PAHs oleh organisme

dapat melalui beberapa cara diantaranya melalui adsorbsi langsung dari lingkungan atau

melalui makanan yang telah tercemar oleh polutan tersebut (Connell and Miller, 1984).

b. Metode Analisis

1) Sampel

Sampel berupa air dan dua jenis biota kelas Crustacea, yaitu udang (Panaceus

merquersis) dan kepiting ( Calappa flammea) yang diambil dari wilayah perairan yang mewakili

perairan pantai laut selatan.

2) Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah neraca analitik, rotary evaporator,

Catridge seppak C18 (dari Waters), kolom dan seperangkat kromatografi gas cair dengan

Packed colom Hitachi 263-50, fase diam SE 30, fase gerak gas N2 dengan Flame Ionization

Detector (FID).

3) Bahan

Bahan yang digunakan adalah standar PAHs donasi dari Kernforschungsanlage (KFA)

Institut für Angewandte Physikalische, Chemie Forschung zentrum Jülich GmbH Germany,

meliputi pirena, benzo(a)antrasena,benzo(k)-fluorantena, benzo(a)- pirena dan perilena dan

bahan-bahan berkualitas pro analisis dari E.Merck, meliputi heksana, aseton, natrium sulfat

anhidrat, alumina, gas nitrogen dan hidrogen berkualitas Ultra High Pure serta sampel
42

berupa air laut dan biota udang dan kepiting yang diambil pada beberapa tempat di Pantai

Selatan Daerah istimewa Jogjakarta.

4) Preparasi Sampel

- Sampel Air laut

Sejumlah 5,0 L sampel air disaring dengan kertas Whatman no. 42 kemudian

diulang dengan Millipore 0.45 µm. Kemudian dilewatkan cartridge seppak C18 yang

telah diaktivasi. Elusi seppak dilakukan dengan teknik gravitasi, berturut-turut

menggunakan aseton-heksana dan heksana. Masing-masing eluat ditampung secara

terpisah, kemudian dievaporasi hingga volume 100 µL. Eluat kental kemudian

diinjeksikan dalam sistem kromatografi gas yang telah dioptimasi.

- Sampel Udang dan kepiting

Sampel biota dipisahkan cangkangnya, kemudian ditimbang sejumlah tertentu dan

seksama. Sampel kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambahkan natrium sulfat

anhidrat kemudian dimaserasi menggunakan heksan : aseton (1:1) selama 2x24 jam di atas

shaker. Ekstrak kemudian disaring dan dibebaskan tapak-tapak airnya dengan natrium sulfat

anhidrat. Selanjutnya ekstrak dievaporasi hingga volume 2-5 ml dan d i l a k u k a n c l e a n

u p menggunakan kromatografi kolom fase diam alumina yang telah diaktivasi. Kolom

alumina dielusi berturut-turut menggunakan heksan: aseton (1:1) dan heksan. Masing-masing

eluat kemudian dievapoirasi hingga volume 100 µl. Ekstrak pekat kemudian ditampung

secara terpisah kemudian dievaporasi hingga volume 100 µL. Eluat pekat kemudian

diinjeksikan dalam kromatografi gas yang telah dioptimasi.

5) Pembuatan Kurva Baku

Dibuat larutan campuran standard PAH dengan berbagai konsentrasi, kemudian

diambil sejumlah volume tertentu dengan syringe untuk diinjeksikan ke dalam

kromatografi gas. Luas area dari tiap puncak dicatat, selanjutnya dibuat kurva baku
43

hubungan antara luas area (sebagai sumbu Y) dan berat standard (sebagai sumbu X).

Harga korelasi dan linearitas secara statistika.

6) Penetapan Recovery Metode

Recovery metode ditetapkan dengan standard adisi. Ke dalam sampel biota yang

telah dipreparasi dan siap dimaserasi, dimasukkan sejumlah standard PAH kemudian

dimaserasi, dilanjutkan clean up dan dianalisis dengan kromatografi gas. Harga recovery

dihitung dengan rumus : jumlah PAH yang ditemukan dalam sampel yang diperkaya

standard dikurangi dengan jumlah PAH dalam sampel yang tidak diperkaya standard,

selanjutnya dibagi dengan jumlah standard PAH yang ditambahkan dan dikalikan 100%.

7) Perhitungan Faktor Bioakumulasi Serta Pemilihan Biota Yang Sesuai Untuk Bioindikator

Faktor bioakumulasi dihitung dengan membandingkan konsentrasi PAHs dalam

biota dengan harga konsentrasi PAHs dalam air dimana biota tersebut hidup, dalam waktu

yang bersamaan.

c. Hasil dan Pembahasan

1) Optimasi Kromatografi Gas

Telah dilakukan analisis senyawa PAHs dengan berbagai variasi kondisi

operasional kromatografi gas dan diperoleh hasil kondisi yang optimal lihat Tabel 2.

Tabel 2 Hasil Optimasi Kromatografi Gas Untuk Pemisahan PAHs

Dengan program di atas, telah dilakukan analisis senyawa campuran maupun

senyawa tunggal masing–masing PAHs. Diperoleh informasi waktu retensi masing–masing

senyawa seperti tabel 3.


44

Tabel 3 Data Waktu Retensi Masing-Masing Senyawa PAHs

Waktu retensi untuk senyawa benzo(a) pirena dan perilena tidak berbeda jauh

bahkan dalam campuran tidak terjadi pemisahan (tabel ). Bila dihitung harga faktor resolusi

antara peak b(a)p dan peak perilena diperoleh hasil 0,148. Hal ini dikarenakan kedua

senyawa memiliki konstanta Henry’s yang hampir sama mengingat keduanya adalah isomer.

Konstanta Henry’s adalah suatu parameter yang menggambarkan kekuatan senyawa berada

dalam fase gas. Secara matematis konstanta Henry’s merupakan perbandingan tekanan uap

parsial Px terhadap kelarutan senyawa dalam air.

Berikut ini adalah contoh kromatogram campuran standard PAHs (Gambar 7).

Gambar 7 Contoh kromatogram standard PAHs. Pirena 515 ng (5,928


menit), Benzo(a)antrasena 485 ng (12,154 menit);
Benzo(k)fluorantena 480 ng (14,726 menit; Benzo(a)pirena 490 ng
(15,652 menit)
45

Setelah dilakukan perhitungan terhadap parameter kinetika pemisahan PAHs diperoleh

hasil seperti pada tabel 4.

Tabel 4 Hasil Perhitungan Parameter kinetika Pemisahan Senyawa PAHs

Dari hasil diatas, terlihat bahwa parameter resolusi cukup baik yaitu 9.6 untuk

pirena-B(a)A, 3,9 untuk B(a)A-B(k)F dan 1,8 untuk B(k)F-B(a)P. Parameter resolusi perlu

diperhatikan agar antar puncak kromatogram tidak saling tumpang tindih, sehingga

selektifitas metode dapat dipenuhi. Mengingat detektor FID merupakan detektor yang

kurang spesifik, maka telah dilakukan konfirmasi menggunakan HPLC dengan detektor

spektrofluorometer. Hasil menunjukkan bahwa tidak ditemukan material yang

menginterferensi dalam tiap puncak kromatogram sampel. Namun karena harga LOD

dalam sistem HPLC jauh lebih tinggi daripada detektor FID, maka untuk analisis

selanjutnya digunakan sistem kromatografi gas dengan detektor FID.

Untuk menguji seberapa besar keshahihan dan tingkat kepercayaan terhadap data

hasil percobaan, maka perlu dilakukan penetapan beberapa parameter seperti linearitas

kurva baku antara konsentrasi baku PAHs terhadap respon detektor, sensitifitas dan recovery

(perolehan kembali). Berikut ini adalah hasil pembuatan kurva baku hubungan konsentrasi

baku PAHs terhadap respon detektor (Tabel 5).


46

Tabel 5 Persamaan Kurva Regresi Linier Hubungan Komnsentrasi Baku PAHs


Terhadap respon Detektor

Meskipun harga koefisien korelasi R ada yang lebih kecil dari 0,999, tetapi data

ANOVA menunjukkan hasil relatif baik (tabel ), sehingga persamaan tersebut dapat

digunakan untuk memprediksikan harga Y. Setelah dilakukan uji statistika anova terhadap

persamaan regresi dan uji t antara harga A (intersep) dan B (slope) dari persamaan tersebut

dengan harga α (intersep dari persamaan yang terstandarisasi) dan harga (slope dari

persamaan yang terstandarisasi), maka diperoleh hasil pada Tabel 6.

Tabel 6 Hasil statistika anova dan uji t untuk mengevaluasi linearitas kurva baku
dengan taraf kepercayaan 0,95

Dengan melihat hasil perhitungan statistika di atas, maka persamaan tersebut

linear dan dapat digunakan untuk perhitungan selanjutnya. Untuk menguji ketepatan

metode telah dilakukan penetapan harga perolehan kembali dengan metode standard adisi

(Tabel 7).
47

Tabel 7 Hasil Penetapan Recovery

Berdasarkan hasil penetapan recovery di atas, maka prosedur penetapan kadar

PAHs ini dapat digunakan karena harga recovery berada antara 80% - 120% dengan

simpangan baku < 20%.

Parameter sensitifitas yang dalam hal ini ditetapkan sebagai harga Limit of

Detection (LOD) juga telah dihitung. Perhitungan dilakukan dengan asumsi bahwa

konsentrasi minimal dari analit yang dapat dideteksi oleh alat akan memberikan respon

sebesar A+3SDA (Tabel 8).

Tabel 8 Harga Limit of Detection (LOD)

2) Hasil Penetapan Kandungan PAH dalam Sampel Air Laut

Kandungan cemaran PAHs yang paling dominan adalah B(a)P dengan konsentrasi

sekitar 2,062 – 17,226 ppb diikuti B(a)A dengan konsentrasi 0,620 – 14,833 ppb. Berikut
48

ini adalah gambaran distribusi cemaran PAHs dalam sampel air di tiap-tiap lokasi

pengambilan sampel (Tabel 9).

Tabel 9 Data Distribusi PAHs Sampel Air di Setiap Lokasi Pengambilan Sampel (X ±SD )

Cemaran PAHs di daerah muara pada umumnya lebih besar daripada cemaran

PAHs di sungai maupun di laut. Di muara sungai, tempat pertemuan air tawar dan

air laut memiliki aliran air yang turbulen dan tidak mengalir secara deras, sehingga

semua partikel dan sampah akan cenderung tidak berpindah melainkan mengendap,

sedangkan diperairan laut pada umumnya paling kecil, karena terjadi pengenceran.

3) Hasil Penetapan Kandungan PAH Dalam Sampel Udang dan Kepiting

Analisis kandungan PAHs dalam sampel udang dan kepiting dapat dilihat pada Tabel

10.
49

Tabel 10 Kandungan PAHs Dalam Sampel Udang dan Kepiting ( X ± SD )

Dari hasil perhitungan faktor bioakumulasi PAHs pada beberapa biota

diperoleh faktor bioakumulasi yang cenderung tinggi (Tabel 11).

Tabel 11 Harga Faktor Bioakumulasi PAHs dalam sampel udang dan kepiting
( X ± SD )

Ditinjau dari jenis spesies yang diteliti, kedua spesies ini mempunyai kemampuan

yang tinggi untuk menimbun PAHs di dalam tubuhnya, karena kedua spesies ini memiliki

jaringan lemak yang tinggi pada tubuhnya. Dilihat dari mobilitasnya, kedua spesies ini

memiliki mobilitas yang tinggi sehingga dapat berada di dasar perairan dan dapat pula

berada pada permukaan perairan sehingga kemungkinan untuk terpejani oleh polutan

seperti PAHs yang terdapat pada lingkungan perairan sangat besar. Pola makan dari kedua
50

spesies ini hampir sama, mereka memakan sisa-sisa jasad renik, plankton dan hewan-

hewan kecil. Oleh karena itu kedua jenis biota ini dapat dipertimbangkan sebagai

bioindikator pencemaran PAHs dalam sistem perairan.

d. Cara Penanggulangan Pencemar Minyak Bumi Di Laut

Ada tiga teknik yang digunakan untuk pengendalian pencemaran minyak di

perairan, yaitu :

1. Secara fisik dengan Oilboom

Oilboom yang telah digunakan dalam pengendalian pencemaran minyak dapat

dimanfaatkan kembali (re-use) melalui pembersihan (Violeau et al 2007). Berdasarkan hal itu,

biaya yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan dengan dispersant dan bioremediasi.

Penggunaan oilboom dalam mengendalikan pencemaran minyak diperairan dapat dilihat

pada Gambar 8.

Gambar 8 Penggunaan Oilboom Untuk Pengendalian Pencemaran Minyak

Pengendalian pencemaran minyak menggunakan oilboom di perairan laut kurang

efektif karena adanya angin, gelombang dan arus yang kuat. Penggunaan oilboom efektif pada

kondisi perairan yang tenang.


51

2. Secara Kimia dengan Dispersant

Dispersant merupakan bahan kimia yang mempunyai agent permukaan yang aktif

yang dikenal dengan nama surfactant. Penggunaan dispersant untuk pengendalian

pencemaran minyak dapat dilakukan dengan bantuan pesawat helikopter dan kapal cepat

(speed boat). Penyemprotan dispersant untuk pengendalian pencemaran minyak dapat dilihat

pada Gambar 9.

Gambar 9 Penyemprotan Dispersant Untuk Pengendalian Pencemaran Minyak

Menurut Lessard dan Demarco (2000), penggunaan dispersant mampu memecah

minyak yang menutupi permukaan air menjadi butiran-butiran kecil (droplets) yang

terdiri atas molekul hydrophilic dan oleophilic yang mampu terdispersi ke badan air. Hasil

dispersi ini menyebabkan semakin besarnya droplet minyak yang lepas ke badan air sehingga

mempercepat terlepasnya hidrokarbon yang mudah menguap ke atmosfir. Masuknya droplet

ke badan air menyebabkan minyak lebih mudah terdegredasi menjadi lebih kecil (Gambar

1 0 ).
52

Gambar 10 Dispersi dapat mendegredasi minyak menjadi droplet


(Lessard dan Demarco 2000)

Hasil dispersi ini menyebabkan semakin besarnya droplet minyak yang lepas ke

badan air sehingga mempercepat terlepasnya hidrokarbon yang mudah menguap ke

atmosfir. Masuknya droplet ke badan air menyebabkan minyak lebih mudah

terbiodegredasi karena luas permukaannya menjadi lebih kecil. Hal ini mencegah minyak

untuk tidak terbawa oleh angin hingga ke pantai sehingga dapat mengurangi daya

toksisitasnya terhadap biota perairan dan mencegah kematian ikan dan burung. penggunaan

dispersant tidak akan efektif pada air yang tenang karena membutuhkan gerakan gelombang

agar dispersant dapat tercampur sempurna dengan minyak.

3. Secara Biologi dengan Bioremediasi

Bioremidiasi adalah suatu cara penanggulangan pencemaran minyak dengan

memanfaatkan mikroorganisme tertentu yang dapat mendegredasi minyak. Mikroorganisme

pengurai minyak yang biasa digunakan adalah sianobakteria dan alga biru. Komponen

minyak bumi yang mudah didegradasi oleh bakteri merupakan komponen terbesar dalam

minyak bumi yaitu alkana yang mudah larut dalam air dan terdifusi ke dalam membran sel

bakteri. Pertumbuhan sel mikroorganisme untuk menguraikan minyak bergantung pada


53

suplai oksigen yang mencukupi dan ketersedian nitrogen sebagai sumber nutrien.

Seiring dengan berkurangnya konsentrasi minyak dan substrat maka populasi bakteri

pengurai minyak jumlahnya akan berkurang hingga hilang (Sin et al 2001). Efektivitas

bioremediasi terhadap pengendalian pencemaran minyak lebih baik dibandingkan dengan

oilboom, namun metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama. Pengendalian

pencemaran minyak dengan teknologi bioremediasi lebih ramah terhadap lingkungan

dibandingkan oilboom dan dispersant.

Tabel 12 Penilaian Kriteria Teknologi Pengendalian Pencemaran Minyak Di Laut


54

BAB III
KESIMPULAN

1. Senyawa organik adalah semua senyawa yang mengandung karbon termasuk substansi

yang dihasilkan dari proses hidup (kayu, kapas, wol), minyak bumi, gas alam (metan),

cairan pelarut/pembersih, fiber sintetik dan plastik.

2. Minyak bumi merupakan senyawa organik yang tidak larut yang tersusun dari

hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik yang menjadi parameter pencemar laut.

3. Sumber keberadaan polutan minyak bumi di laut yaitu berasal dari pencucian kapal-

kapal laut, pengeboran minyak lepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak

dan gas bumi, tabrakan kapal dilaut, dan sebagainya.

4. Analisis Hidrokarbon sebagai parameter pencemar laut dapat dilakukan dengan

menggunakan metode kromatografi yaitu Kromatografi Gas (GC) dan HPLC untuk

sampel biota dan air laut sedangkan untuk sampel sedimen menggunakan

spektrofotometer UV-FL.

5. Cara penanggulangan pencemar minyak bumi di laut dapat dilakukan secara fisika

(Oilboom), kimia (disperdsant) dan biologi (bioremidiasi).


55

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, C dan Gunawan, H. 2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi
Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal
Teknobiologi. II(1) 2011: 49 – 54.

Clark, 2003. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.

Connell and Miller.1984. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon


Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di
Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117
(2004).

Darmono.2001. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.

Eadie.1983. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik


Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut
Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004).

IPIECA . 2000. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.

Jones and Wild.1995. Dalam Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon


Polisiklik Aromatik Dalam Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di
Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117
(2004).

Lessard dan Demarco.2000. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi


Pengendalian Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal
Teknobiologi. II(1) 2011: 49 – 54.

Lukitaningsih. 2004. Bioakumulasi Senyawa Hidrokarbon Polisiklik Aromatik Dalam


Paneceus merquensis dan Calappa flammea Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta.
Majalah Farmasi Indonesia, 15 (3):110-117 (2004).

Lukitaningsih. 2010. Bioakumulasi Senyawa Poliaromatik Hidrokarbon Dalam Plankton,


Ganggang dan ikan Di Perairan Laut Selatan Yogyakarta. Majalah Farmasi
Indonesia, 21 (1):18-26 (2010).

Manahan.2001. Dalam Sofiyani,dkk. 2009. Makalah Bahan Organik Di Laut. Universitas


Padjajaran. Bandung.
56

Marsaoli, Muhajir. 2004. Kandungan Bahan Organik N-Alkana dan Aromatik dan Total
Hidrokarbon Dalam Sedimen Di Perairan Raha Kabupaten Muna, Sulawesi
Tenggara. Makara Sains Vol 8, No.3, 116-122 (2004).

Melawaty L., Alfian N., dan Syarifuddin L.2002. Profil Hidrokarbon Aromatik Berdasarkan
Kedalaman Sedimen Pantai Pulau Lumu-Lumu, Kepulauan Spermonde. Marina
Chimica Acta, hal 1-5 (2002).

Mukhtasor. 2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.

Mulya, B.M. 2002. Bahan Organik Terlarut dan Tidak Terlarut Dalam Air Laut. FMIPA
USU. Sumatera Utara.

Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Erlangga. Jakarta.

Rompas, M.R.,dkk. 2009. Oseanografi Kimia. PT. Walaw Bengkulen. Jakata Timur.

Sin et al .2001. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.

Sofiyani,dkk. 2009. Makalah Bahan Organik Di Laut. Universitas Padjajaran. Bandung.

Violeau et al .2007. Dalam Nedi, S. 2011. Penentuan Prioritas Teknologi Pengendalian


Pencemaran Minyak di Selat Rupat dengan Metode CPI, Jurnal Teknobiologi.
II(1) 2011: 49 – 54.