Anda di halaman 1dari 19

Kasus Penyajian Kembali Laporan Keuangan

PT Bank Bukopin

Kronologis Pengungkapan Kasus Penyajian Kembali Laporan Keuangan


BBKP
Pada tanggal 25 April 2018, BBKP merilis koreksi laporan keuangan untuk tahun penuh
2017 (dengan perbandingan tahun 2016), dimana terdapat banyak perubahan yang mencolok
untuk data neraca dan laporan laba rugi untuk tahun 2016. Berikut merupakan beberapa koreksi
yang dilakukan oleh BBKP berdasarkan publikasi laporan keuangan Bukopin tahun buku 2017
yang terbit akhir Maret 2018 :
a. Revisi signifikan dilakukan pada bagian pendapatan provisi dan komisi dari sebelumnya
tercatat Rp 1,06 triliun diubah menjadi Rp 317,88 miliar. Revisi ini menyebabkan
pendapatan turun lebih dari Rp 743 miliar
b. Pendapatan bunga dan syariah bersih direvisi dari Rp 3,59 triliun menjadi Rp 3,57 triliun
c. Revisi pembiayaan anak usaha Bank Syariah Bukopin (BSB) terkait penambahan saldo
cadangan kerugian penurunan nilai debitur tertentu. Beban penyisihan kerugian penurunan
nilai atas aset keuangan direvisi meningkat dari Rp 649,05 miliar menjadi Rp 797,65
miliar. Hal ini menyebabkan beban perseroan pada bagian ini meningkat Rp 148,6 miliar.

-Seluruh revisi tersebut menyebabkan laba operasional Bank yang dikendalikan oleh
Bosowa Group ini sebenarnya hanya Rp 476,57 miliar dibandingkan dengan publikasi
sebelumnya Rp 1,39 triliun.
-Hal ini juga menyebabkan laba bersih Bukopin pada 2016 yang sebelumnya terlihat
tumbuh 13,13% sebenarnya telah anjlok 81% dibandingkan dengan tahun 2015

d. Revisi juga terjadi pada total kredit dan pembiayaan syariah dari sebelumnya Rp 72,47
triliun, turun Rp 1,9 triliun menjadi Rp 70,56 triliun
e. Total asset direvisi turun Rp 2,62 triliun menjadi Rp 102,78 triliun dari sebelumnya Rp
105,4 triliun termasuk yang terbesar adalah revisi pada total kredit dan pembiayaan syariah
dari sebelumnya Rp 72,47 triliun, turun Rp 1,9 triliun menjadi Rp 70,56 triliun
f. Adapun total ekuitas direvisi turun sebesar Rp 2,62 triliun dari Rp 9,53 triliun menjadi
Rp6,91 triliun. Penurunan total ekuitas dipengaruhi oleh revisi saldo laba sebesar Rp 2,62
triliun menjadi Rp 5,52 triliun.

-Penurunan ekuitas ini berperan dalam tergerusnya rasio kecukupan modal (capital
adequacy ratio/CAR) Bukopin. Pada laporan keuangan 2016 sebelum revisi, CAR
Bukopin masih aman 15,03%, namun setelah revisi CAR tersisa 11,62%.
-CAR semakin memburuk pada akhir 2017 yang tercatat 10,52%, meski meningkat lagi
pada kuartal I/2018 menjadi 11,09%. Hal lain yang mempengaruhi penurunan CAR
adalah peningkatan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) Bukopin.
Untuk mengembalikan ke tingkat CAR 14%
-Inisiden modifikasi data kartu kredit ini memaksa Bukopin menyiapkan action plan
untuk menyehatkan CAR ke level 14%. Langkah yang dilakukan adalah rights issue
dengan menerbitkan saham baru sebesar 30% dan divestasi 40% saham Bank Syariah
Bukopin (BSB).
Berikut merupakan detail penyesuaian yang dilakukan oleh Bank Bukopin :
Dan ini merupakan posisi harga saham BBKP per Desember 2018 yang menunjukkan
trend turun sejak April 2018 :
Analisis Kemungkinan Adanya Rekayasa Laporan Keuangan
Isu Pada Laporan keuangan tahun 2017, Bukopin yang melakukan penyajian kembali atas
laporan keuangannya untuk 31 Desember 2016 dan 2015. Penyajian kembali tersebut diketahui
untuk merevisi laporan keuangan konsolidasi untuk tahun buku 2016. Hal ini menyebabkan
laba bersih Bukopin pada 2016 yang sebelumnya terlihat tumbuh 13,13% sebenarnya telah
anjlok 81% dibandingkan dengan tahun 2015. Berkenaan dengan penyajian kembali laporan
Keuangan Bank Bukopin ini menimbulkan pertanyaan bagi para stakeholder dikarenakan
nilainya yang cukup besar. Berikut Penyajian kembali laporan keuangan Bukopin:
Laporan Keuangan Bukopin tahun 2017 (Restatement)
Menurut Bank Bukopin, dampak dari penyajian kembali yang dilakukannya, adalah:
 tidak terdapat aliran dana dari penjumlahan transaksi abnormal terjadi
 tidak terdapat dampak khusus yang mengganggu aktivitas operasional, layanan nasabah
maupun dampak hokum
 dampak terhadap rasio kecukupan modal (CAR) Perseroan memang mengalami
penurunan menjadi 10,52% di Posisi akhir tahun 2017

Akibat adanya salah saji pada laporan keuangan sebelumnya, Bank Bukopin merevisi
laporan keuangannya dengan melakukan penyajian kembali dimana dari hasil penyajian
kembali tersebut terjadi penurunan laba bersih untuk tahun 2016 menjadi Rp 184,56 miliar dari
sebelumnya Rp 1,08 triliun. Penurunan terbesar adalah dibagian pendapatan provisi dan komisi
yang merupakan pendapatan dari kartu kredit. Pendapatan tersebut mengalami penurunan dari
Rp 1,06 triliun menjadi Rp 317,88 miliar. Bank Bukopin juga merevisi pembiayaan anak usaha
Bank Syariah Bukopin (BSB) terkait penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai
debitur tertentu. Akibatnya, beban penyisihan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan
direvisi meningkat dari Rp649,05 miliar menjadi Rp797,65 miliar. Hal ini menyebabkan beban
perseroan meningkat Rp148,6 miliar
Nilai tersebut sangatlah signifikan sehingga hal ini menimbulkan tanda tanya
mendalam bagi para pembaca maupun pengguna laporan keuangan. Padahal selama beberapa
tahun terakhir laporan keuangan Bank Bukopin mendapatkan opini ‘Wajar tanpa Pengecualian’
dari Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro, dan Surja yang terafiliasi dengan salah
satu big four auditor internasional Ernst & Young. Atas kasus penyajian kembali laporan
keuangan Bukopin yang menyebabkan penurunan signifikan atas nilai ekuitas bersih. Hal ini
membuat OJK meminta keterangan lebih lanjut kepada Bank Bukopin, yang sampai saat ini
memang belum ada rilis resmi mengenai hasil konfirmasi dan pengecekan dari OJK atas kasus
Bank Bukopin.
Berdasarkan pada surat Bank Bukopin nomor S-02520/BEI.PP1/04-2018 tanggal 2 Mei
2018 kepada BEI, menyebutkan bahwa Penyajian kembali atas laporan keuangan dilakukan
karena:
1. Penyesuaian atas penyajian piutang produk kartu kredit dan pembiayaan/piutang
Syariah. Hal ini dilakukan sebagai bagaian dari bentuk pertanggungjawaban dan
penerapan prinsip kehati-hatian oleh Bank Bukopin
2. Permasalahan pada Kartu karena terdapat penjurnalan transaksi abnormal kartu
kredit yang dihasilkan oleh sistem yang tidak sesuai dengan standar akuntansi serta
ketentuan internal perseroan
3. Permasalahan pada pembiayaan/piutang Syariah karena terdapat penyesuaian kualitas
pembiayaan dan berdampak pada pembentukan cadangan (CKPN) di Perusahaan anak
yaitu Bank Syariah Bukopin
Atas permasalahan tersebut, Bank Bukopin telah melaporkan kepada OJK Pengawas
Perbankan dan Kepada Kantor AKuntan Publik serta Langkah-langkah penyelesaian yang
dilakukan Bank Bukopin juga telah mendapat persetujuan oleh OJK Perbankan dan Kantor
Akuntan Publik sebagaimana Surat OJK No. SR.14/PB.3/2017 tanggal 28 Desember 2017.

Atas pernyataan dalam surat tersebut terdapat kata-kata “transaksi abnormal kartu kredit”
sudah disebutkan dalam wawancara CNBC Indonesia dengan Direktur Utama Bukopin Eko
Rachmansyah Gindo, pada artikel tertanggal 27 April 2018
"Permasalahan mengenai restated (penyampaian kembali) laporan keuangan 2016
merupakan temuan dari manajemen yang telah disampaikan kepada Kantor Akuntansi
Publik untuk dilakukan restated pada laporan keuangan 2017,"
Temuan dari auditor Internal, pihak BBKP memberikan keterangan terkait dengan
adanya perubahan dari laporan keuangan perusahaan yang diakibatkan oleh adanya piutang
kartu kredit yang seharusnya tak dibukukan sebagai pendapatan tapi justru dibukukan sebagai
pendapatan. "Dan hal ini sudah berjalan selama beberapa tahun. Selanjutnya dikutip dari
CNBC, 2018 bahwa
“Menurut informasi yang dihimpun oleh CNBC Indonesia dari para pihak yang
mengetahui masalah ini, modifikasi data kartu kredit di Bukopin telah dilakukan lebih dari
5 tahun yang lalu. Jumlah kartu kredit yang dimodifikasi juga cukup besar, lebih dari
100.000 kartu”
Berkenaan dengan penyebab penyajian kembali laporan keuangan dimana ada koreksi
atas kerugian penurunan nilai atas asset keuangan-neto dari anak Bank Bukopin yakni Bank
Syariah Bukopin. Koreksi ini dlilakukan dikarenakan manajemen memutuskan bahwa ada
sebagain piutang dengan statu diragukan menjadi statu macet, yang mana berimplikasi pada
penghapusan asset. Karena piutang dengan status macet/tidak bisa dipastikan kapan akan
dikembalikan oleh peminjamnya, maka bank tidak boleh lagi mencatatnya sebagai aset piutang,
melainkan harus dicatat sebagai penyisihan atau cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN),
yang nilainya negatif (sehingga mengurangi nilai aset/ekuitas perusahaan).
Keputusan ini berdasarkan pada analisis yang dilakukan oleh manajemen dalam menilai
status piutang kredit. Koreksi atas status piutang adalah hal yang wajar, karena tingginya risiko
dalam pembayaran kembali kredit yang diberikan maka manajemen berdasarkan pada standar
akuntansi yang telah ditetapkan melakukan uji penurunan nilai, yang nantinya jika memang
terjadi penurunan nilai maka akan dilakukan pengakuan kerugian penurunan nilai.
Uji penurunan nilai dilakukan di akhir periode atau waktu yang ditetapkan berdasarkan
standar yang ada, Hal ini wajar dilakukan, Namun hal yang aneh terjadi saat, hasil uji
penurunan nilai ini yang didasarkan pada hasil analisis manajeman kemudian dikoreksi lagi
oleh manajemen, hal ini menimbulkan tanda tanya bagi para pemmbaca laporan keuangan.
Berdasarkan pada fakta – fakta yang ada, maka menurut pendapat kami terjadi rekayasa
Laporan Keuangan yang dilakukan oleh Bukopin yang mengakibatkan melakukan penyajian
kembali laporan keuangan untuk tahun 2015 pada Laporan Keuangan tahun 2017. Penyajian
kembali laporan keuangan Bukopin ini terindikasi adanya rekayasa laporan keuangan
dikarenakan beberapa hal berikut ini:
1. Perubahan Angka dalam Penyajian Kembali yang Begitu Besar

Revisi tersebut mengakibatkan total kredit dan pembiayaan Syariah mengalami


penurunan dari sebelumnya Rp 72,47 triliun, turun Rp 1,9 triliun menjadi Rp 70,56 triliun.
Total asset juga direvisi turun Rp 2,62 triliun menjadi Rp 102,78 triliun dari sebelumnya
Rp 105,4 triliun. Adapun total ekuitas direvisi turun sebesar Rp 2,62 triliun dari Rp 9,53
triliun menjadi Rp6,91 triliun. Penurunan total ekuitas dipengaruhi oleh revisi saldo laba
sebesar Rp 2,62 triliun menjadi Rp 5,52 triliun.
Selain masalah kartu kredit, revisi juga terjadi pada pembiayaan anak usaha Bank
Syariah Bukopin (BSB) terkait penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai
debitur tertentu. Akibatnya, beban penyisihan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan
direvisi meningkat dari Rp649,05 miliar menjadi Rp797,65 miliar. Hal ini menyebabkan
beban perseroan meningkat Rp148,6 miliar.
2. Jumlah Kartu Kredit yang salah
Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa Bank Bukopin terindikasi melakukan
transaksi abnormal kartu kredit yang melibatkan 100.000 kartu dalam 5 tahun terakhir,
Keabnormalan transaksi kartu kredit ini ditemukan oleh auditor internal dari Bank
Bukopin yang selanjutnya menyampaikan hasil temuan kepada manajemen, sehingga
manajemen memutuskan untuk melakukan penyajian kembali.
Namun penyajian kembali yang dilakukan hanya untuk tiga tahun terakhir, karena
berdasarkan pada ketentuan PSAK mengenai penyajian kembali laporan keuangan adalah
dalam 3 tahun terakhir. Namun indikasi permainan transaksi kartu kredit yang
dimungkinkan terjadi dalam 5 tahun terakhir menjadikan kualitas informasi dari laporan
keuangan yang disajikan Bank Bukopin dalam tahun-tahun sebelumnya menjadi
dipertanyakan.
Koreksi salah saji piutang kartu kredit Bank Bukopin disebabkan oleh perubahan data
kartu. Pada tanggal penyelesaian dan persetujuan untuk penerbitan laporan keuangan
entitas induk, Bank telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menangani
hal terkait perubahan data kartu kredit, yang selanjutnya ditampilkan dalam penyajian
kembali laporan keuangan berikut ini:
Inisiden modifikasi data kartu kredit ini memaksa Bukopin menyiapkan action plan
untuk menyehatkan CAR ke level 14%. Langkah yang dilakukan adalah rights issue
dengan menerbitkan saham baru sebesar 30% dan divestasi 40% saham BSB.

3. Informasi dari Catatan atas Laporan Keuangan Bank Bukopin periode 2017
Di dalam catatan atas laporan keuangan Bank Bukopin tahun 2017, pada poin catatan
51 disebutkan bahwa
“Pada tahun 2017, Bank menyajikan kembali laporan keuangan
konsolidasiannya tanggal 31 Desember 2016 dan 1 Januari 2016/31
Desember 2015, dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember
2016, sehubungan dengan koreksi atas kesalahan penyajian pada: (i) piutang
kartu kredit Bank yang disebabkan oleh modifikasi data kartu kredit
tertentu, dan (ii) pembiayaan/piutang syariah BSB terkait dengan
penambahan saldo cadangan kerugian penurunan nilai debitur tertentu.
Pada tanggal penyelesaian dan otorisasi untuk penerbitan laporan keuangan
konsolidasian ini, Bank telah mengambil langkah-langkah yang tepat, dan
akan melanjutkan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, untuk
menangani isu modifikasi data kartu kredit tersebut di atas.”
Dari catatan atas laporan keuangan itu sudah terlihat jelas bahwa penyajian kembali
laporan keuangan disebabkan karena penyesuaian nilai piutang kredit yang diakibatkan
oleh adanya modifikasi data kartu kredit tertentu. Hal ini tentu saja menjadi sebuh red flag,
bahwa ada pihak-pihak yang terlibat dalam melakukan modifikasi kartu kredit ini.

4. Surat Bank Bukopin kepada BEI


Sebagaimana disebutkan di dalam Surat PT Bank Bukopin Tbk.
No.06254/SKPR/V/2018 tanggal 2 Mei 2018 kepada PT BEI mengenai Penjelasan atas
Penyajian Kembali Laporan Keuangan
1) Penyesuaian atas penyajian piutang produk kartu kredit dan pembiayaan/piutang
Syariah. Hal ini dilakukan sebagai bagaian dari bentuk pertanggungjawaban dan
penerapan prinsip kehati-hatian oleh Bank Bukopin
2) Permasalahan pada Kartu karena terdapat penjurnalan transaksi abnormal kartu
kredit yang dihasilkan oleh sistem yang tidak sesuai dengan standar akuntansi
serta ketentuan internal perseroan
3) Permasalahan pada pembiayaan/piutang Syariah karena terdapat penyesuaian
kualitas pembiayaan dan berdampak pada pembentukan cadangan (CKPN) di
Perusahaan anak yaitu Bank Syariah Bukopin
Dalam surat Bank Bukopin juga nampak jelas bahwa permasalahan pada kartu adalah
karena adanya penjurnalan transaksi abnormal kartu kredit yang dihasilkan oleh sistem
yang tidak sesuai dengan standar akuntansi. Saat sistem yang seharusnya dibangun untuk
mendukungn pelaporan keuangan yang sesuai dengan sandar akuntansi ternyata malah
mengakibatkan data akuntansi keuangan yang disajikan justru tidak sesuai dengan standar
maka ada kemungkinan terjadi upaya untuk mengaburkan informasi sebenarnya dari
kondisi keuangan perusahaan.

5. Lolosnya kesalahan penyajian ini dari Auditor


Hal yang menarik dari kasus ini, dimana ada manipulasi data kartu kredit, kejadian ini
lolos dari berbagai layer pengawasan dan audit selama bertahun-tahun. Mulai dari audit
internal Bukopin, Kantor Akuntan Publik (KAP) sebagai auditor independen, Bank
Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran yang menangani kartu kredit, serta OJK
sebagai lembaga yang bertanggungjawab dalam pengawasan perbankan. Auditor
independen Bukopin selama ini adalah KAP Purwantono, Sungkoro, dan Surja yang
terafiliasi dengan salah satu big four auditor internasional Ernst & Young.
KAP Purwantono, Sungkoro, dan Surja melakukan audit atas laporan keuangan Bank
Bukopin cukup lama. Indikasi manipulasi data kartu kredit telah terjadi dalam kurun waktu
5 tahun, namun KAP gagal untuk mendeteksi adanya upaya manipulasi. Bahkan
berdasarkan alasan dari manajemen Bukopin dimana penyajian kembali laporan keuangan
disebabkan karena adanya pencatatan transaksi abnormal kartu kredit akibat sistem yang
tidak sesuai dengan standar akuntansi, KAP yang harusnya memberikan keyakinan
memadai bahwa laporan keuangan yang disusun sudah sesuai dengan standar akuntansi
dan bahwa SPI perusahaan sudah mendukung untuk penyusunan Laporan keuangan yang
sesuai dengan standar, namun pada kenyataannya KAP gagal untuk mengungkap
ketidakwajaran laporan keuangan. Malahan KAP terus memberikan opini “WTP”.

6. Pengunduran diri Top Management


Dikutip dari CNBC, 2018 bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa
(RUPSLB) PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), Rabu (10/1/2018) memutuskan untuk
menunjuk Eko Rachmansyah Gindo sebagai Direktur Utama. Eko Rachmansyah
menggantikan Glen Glenardi yang beberapa hari yang lalu memutuskan untuk
mengundurkan diri dari jabatannya. Padahal pada saat itu, Bukopin mencatat laba
sebelum pajak penghasilan sebesar Rp 808 miliar hingga kuartal ketiga tahun 2017. Di sisi
lain Bukopin berhasil membukukan pertumbuhan asset 13,3% secara setahunan menjadi
Rp 113,2 triliun. Pertumbuhan aset ditopang oleh peningkatan mobilisasi dana pihak
ketiga yang meningkat 18,7 persen dibandingkan dengan angka pada periode yang sama
tahun lalu yaitu menjadi Rp 93,1 triliun
Kemudian berdasarkan artikel CNBC tertanggal 25 April 2018, Direktur Bukopin yakni
Setiawan Sudarmaji, Direktur Pelayanan dan Operasi, mengundurkan sejak 23 April 2018.
Pada saat mengundurkan diri, skinerja Bukopin sedang tertekan karena peningkatan rasio
kredit bermasalah (non performing loan). Bukopin juga merevisi laporan keuangan 2016
secara signifikan sehingga laba bank yang dikendalikan oleh Bosowa Group ini telah
anjlok, meski sebelumnya terlihat tumbuh. Revisi laporan keuangan juga terjadi pada
kuartal I/2017.
Pengunduran direksi memang wajar terjadi apalagi dalam hal direksi gagal memenuhi
keinginan dari shareholder yang membawa rapor buruk pada kinerja perusahaan. Namun
pada pengunduran diri Glen Glenardi, pengunduran diri dilakukan sebelum laporan
keuangan hasil restatement dirilis, pada saat itu kinerja Bukopin masih terlihat bagus. Lalu
mengapa ia mengundurkan diri? Hal ini tentu menjadi tanda tanya dan seolah
mengisyaratkan ada ketidakberesan yang dihadapi Bukopin.

Motivasi Manajemen dalam Melakukan Rekayasa Laporan Keuangan


Pada tahun 2017, tingkat kredit bermasalah emiten berkode BBKP mencapai 6,37%
atau meningkat hampir 128% dibandingkan NPL tahun sebelumnya yang hanya
berkisar 2,79%. Jika dihitung dari total jumlah pembiayaan yang disalurkan Bank
Bukopin di tahun tersebut yang mencapai Rp 74 triliun, maka besaran kredit
bermasalah yang dicapai bank tersebut di kisaran Rp 3 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, sektor komersil menjadi penyumbang
terbesar kenaikan tingkat kredit bermasalah di tahun tersebut. Rasio NPL di bidang
komersil mencapai 6,71% lebih tinggi dibandingkan dengan bidang retail yang hanya
sekitar 3,9%.

Sumber CNN: diolah dari Laporan Keuangan 2017


1. Teori Fraud

2. Teori Kontrak

Perusahaan dipandang sebagai ‘hubungan’ kontraktual dan sebagai cara yang efisien untuk
mengatur kegiatan ekonomi guna mengurangi biaya kontrak. Perusahaan ada untuk
mengkhususkan diri dalam menghubungkan konsumen barang dan dan jasa dengan pemasok
faktor-faktor produksi yang menghasilkan barang dan jasa tersebut. Lebih ekonomis bagi
perusahaan untuk melakukan kontrak (ekuitas maupun utang) antara agen daripada individu.

3. Teori Agensi

Diantara faktor-faktor produksi yang bersatu untuk menciptakan perusahaan adalah


modal dan tenaga kerja. Modal dapat disediakan oleh pemberi kerja atau investor
(Principal) dan tenaga kerja disediakan oleh manajer yang memiliki otoritas
pengambilan keputusan (Agen). Karena insentif agen berbeda dengan principal mereka,
perbedaan kepentingan menjadi masalah keagenan Untuk itu, spesifikasi kontrak
digunakan untuk mencoba menyelaraskan kepentingan kedua belah pihak dengan
memasukkan angka-angka akuntansi.

Masalah keagenan pada gilirannya menimbulkan biaya agensi yang dihabiskan untuk
mengatasi permasalahan yang timbul. Umumnya biaya agensi dapat berupa pengurangan
kesejahteraan dari principal yang disebabkan karena perbedaan kepentingan antara
principal dan agen

Pemisahan atara kepemilikan dan manajemen mengarah pada perilakuk yang berbeda dari
agen. Masalah keagenan mencakup masalah:
 penghindaran risiko
Manajer lebih memilih risiko yang lebih kecil daripada pemegang saham.
Adanya berbagai tingkatan diversifikasi memberikan pengaruh yang berbeda, dan
kewajiban terbatas diberikan kepada pemegang saham.
 masalah retensi dividen
Manajer lebih suka membayar dividen dalam jumlah yang lebih rendah daripada
preferensi pemegang saham. Hal ini dikarenakan agen lebih suka untuk membayar gaji
mereka dan juga mengembangkan bisnis.
 masalah horizon.
Pemegang saham berkepentingan atas arus kas masa depan untuk jangka
waktu yang tidak terbatas sedangkan manajer hanya untuk jangka waktu yang menjadi
kepentingannya atau selama manajer tersebut ingin tetap bersama perusahaan tersebut


Bank Bukopin dalam melakukan penyajian angka piutang didasarkan pada penilaian
tingkat kelancaran penagihannya dengan menggunakan skala 1 s.d 5 untuk
menggolongkan kredit dalam lima status: 1. Lancar, 2. Dalam perhatian khusus, 3. Kurang
lancar, 4. Diragukan, dan 5. Macet. Untuk status lancar, berarti kredit tersebut tidak
bermasalah dan bisa ditagih dengan lancar secara tepat waktu. Untuk status dalam
perhatian khusus, maka kredit tersebut mulai bermasalah, misalnya tetap dibayar lunas
tapi lewat jatuh temponya. Dan untuk golongan yang terparah yaitu status macet, maka
kredit tersebut sudah tidak bisa ditagih sama sekali, atau tidak dapat dipastikan kapan akan
dikembalikan oleh peminjamnya.
Dalam menentukan status piutang kredit dari diragukan menjadi status macet sering kai
menimbulkan perbedaan pendapat dalam manajemen. Karena saat status piutang masih
diragukan maka, perusahaan masih bisa mengakui sebagai asset bank. Namun, begitu
status kreditnya menjadi macet maka bank tidak boleh lagi mencatatnya sebagai aset
piutang, melainkan harus dicatat sebagai penyisihan atau cadangan kerugian penurunan
nilai (CKPN), yang nilainya negatif (sehingga mengurangi nilai aset/ekuitas perusahaan).

4. Teori signalling

Teori Sinyal berhubungan dengan setiap perspektif dengan memprediksi bahwa manajer secara
sukarela akan memberikan informasi/sinyal yang dalam pengambilan keputusan mereka yang
yang tercermin dalam ketentuan kontrak atau keputusan investasi. Laporan akuntansi sering
digunakan untuk memberi sinyal informasi tentang suatu perusahaan, terutama ketika tren
pendapatan disorot utnuk mengindikasikan kemungkinan laba di masa depan.
Teori ini mirip dengan kontrak yang efisien, selaran dengan hipotesis informasi.
Manajer memberikan sinyal atas harapan dan niat tentang masa depan. Manajer memiliki
insentif dalam menyampaikan sinyal tersebut baik itu berita yang baik, netral, dan buruk

Sumber
https://finance.detik.com/moneter/d-4002904/ojk-mulai-periksa-laporan-keuangan-bank-
bukopin-yang-dipermak. Diakses pada tangal 17 Desember 2018.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20180427144303-17-12810/drama-bank-bukopin-
kartu-kredit-modifikasi-dan-rights-issue. Diakses pada tangal 17 Desember 2018.

https://finance.detik.com/moneter/d-3994551/bank-bukopin-permak-laporan-keuangan-ini-
kata-bi-dan-ojk
Hidayat, teguh. 2017. Bank bukopin Revisi Laporan Keuangan.
https://www.teguhhidayat.com/2018/05/bank-bukopin-revisi-laporan-keuangan.html
. Diakses pada tanggal 17 Desember 2018

https://www.cnbcindonesia.com/market/20180424121904-17-12231/revisi-laporan-
keuangan-laba-bukopin-telah-anjlok-sejak-2016
https://www.cnbcindonesia.com/market/20180405100741-17-9773/ujian-berat-bank-
bukopin-masalah-npl-dan-modal-minim
https://www.cnbcindonesia.com/news/20180425204201-4-12520/lagi-direktur-bukopin-
mengundurkan-diri
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/05/03/070000026/laporan-keuangan-bukopin-
tersandung-kasus-kartu-kredit-ini-penjelasan-dirut.