Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

PASIEN DENGAN OMI (OLD MIOCARD INFARK)

DI RUANG ASTER V

DISUSUN OLEH:

RATNA ARISTA ATIKASARI P1337420614019

D IV KEPERAWATAN SEMARANG

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG

TAHUN 2015/2016
A. Jenis Kasus OMI (Old Miocard Infark)
1. Pengertian Old infark miokard (OMI)
Old Infark Miokard adalah penyakit jantung yang disebabkan oleh karena
sumbatan arteri koroner (Hudak & Gallo; 1997). Sumbatan terjadi oleh karena adanya
ateroksklerotik pada dinding arteri koroner, sehingga menyumbat aliran darah ke
jaringan otot jantung.
Aterosklerotik adalah suatu penyakit pada arteri-arteri besar dan sedang
dimana lesi lemak yang disebut Plak Ateromatosa timbul pada permukaan dalam
dinding arteri. Sehingga mempersempit bahkan menyumbat suplai aliran darah ke
arteri bagiuan distal (Hudak & Gallo; 1997)
2. Etiologi Old infark miokard (OMI)
Old Infark miokard disebabkan oleh karena atherosclerosis atau penyumbatan
total atau sebagian oleh emboli dan atau thrombus
3. Patofisiologi Old infark miokard (OMI)
a. Proses terjadinya infark
Thrombus menyumbat aliran darah arteri koroner, sehingga suplai nutrisi dan
O2 ke bagian distal terhambat., sel otot jantung bagian distal mengalami hipoksia
iskhemik infark, kemudian serat otot menggunakan sisa akhir oksigen dalam darah,
hemoglobin menjadi teroduksi secara total dan menjadi berwarna birui gelap, dinding
arteri menjadi permeable, terjadilah edmatosa sel, sehingga sel mati.
b. Mekanisme nyeri pada OMI
Hipoksia yang terjadi pada jaringan otot jantung memaksa sel untuk
melakukan metabolisme CO2 (metabolisme anaerob), sehingga menghasilkan asam
laktat dan juga merangsang pengeluaran zat-zat iritatif lainnya seperti histamine,
kinin, atau enzim proteolitik sleuler merangsang ujung-ujung syaraf reseptor nyeri di
otot jantung, impuls nyeri dihantarkan melalui serat sraf aferen simpatis, kemudian
dihantarkan ke thalamus, korteks serebri, serat saraf aferen, dan dipersepsikan nyeri.
Perangsangan syaraf simpatis yang berlebihan akan menyebabkan :
1) Meningkatkan kerja jantung dengan menstamulasi SA Node sehingga
menghasilkan frekuensi denyut jantunglebih dari normal (takikardi).
2) Merangsang kelenjar keringat sehingga ekresi keringat berlebihan.
Menekan kerja parasimpatis, sehingga gerakan peristaltik menurun, akumulai cairan
di saluran pencernaan, rasa penuh di lambung, sehingga merangsangf rasa mual /
muntah.
3) Vasokonstriksi pembuluh darah ferifer, sehinga alir balik darah vena ke atrium
kanan meningkat, dan akhirnya yekanan darah meningkat.

B. Fokus Assesment
Thrombus pada pembuluh darah

Sumbatan pada pembuluh darah koroner

Gangguan perfusi jaringan


Suplay oksigen pada jantung bagian distal berkurang

Otot jantung mengalami hipoksia

Metabolisme anaerob
Iskhemi infark

Metabolisme sisa-sisa oksigen Asam laktat meningkat

C. Diagnose Keperawatan Arteri menjadi permeable Zat iritatif meningkat


1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
2. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan kontraktilitas otot jantung
3. Anxietas/ketakutan (individu/keluarga) berhubungan dengan siatuasi yang tak
Odmatosa sel
dikenal, sifat kondisi yang dapat diperkirakan, takut akan kematian, efek negatif
Rangsangan pada
nyeri
gaya hidup atau kemunginan disfungsi seksual.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan insufisensi oksigenasi untuk
Sel mati
aktivitas kehidupan sehari-hari sekunder terhadap iskemia jaringan jantung,
imobilisasi lama, narkotik atau obat-obatan.
D. Intervensi dan Rasionalisasi
1. Nyeri akut berhubungan denganOMI iskemia jaringan jantung
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan ½ jam klien merasa lebih
enak/nyaman
Kriteria :
a. Klien tampak tenanag (perilaku tidak gelisah), tidak menyeringai, skala nyeri
1-3
b. Klien dapat bekerja sama dalam tindakan dan pengobatan
c. Klien dapat menceritakan letak, faktor pencetus, gambaran nyeri

Rencana Tindakan Rasional


a. Anjutkan klien untuk melaporkan a. Interevsni akut dapat mencegah iskemia
episodenyeri pada petugas atau cedera berat
b.
c. Kolaborati dalam pemebrian
b. Nyeri berat, menetap, tidak menghilang
analgetik dan dokumentasikan tingkat
dengan pemberian analgetik dapat
perkembangan nyeri
d. mengidentifikasikan infark menetap.
c. Anjurkan klien untuk bedrest
Aktivitas meningkatkan kebutuhan
oksigen yang dapat menimbulkan nyeri.

d. Atur lingkungan yang tenanga dan e. Stimulasi lingkungan dapat


nyaman meningkatkan frekuensi jantung dan dapat
menimbulkan hipoksia jarigan miokard,
nyeri.
f.
e. Jelaskan penyebab dan kemungkinan
Penejelasan dengan tenang dapat
faktor pencetus (fisik dan emosional)
mengurangi stres yang berhubungna dngen
f.
takut dan ketidaktahuan

Monitoring dengan pemeriksaan ECG


f. Pemantauan jantung dapat membantu
selama episode nyeri
memebedakan varian angina akibat
meluasnya infark
g.
g. Jelaskan dan bantu dalam penghilangan
Tindakan ini dapat membantu mencegah
nyeri seperi :
rangsang neyri dari pusat otak yang lebih
perubahan posisi
tinggi denga menggantikan rasangsang
Distraksi (aktivitas dan latihan
nyeri dengan rangsangan lain> relaksasi
pernafasan) menurunkan ketegangan otot, menurunkan
Masage frekuensi jantung, dapat memperbaiki isi
Latihan relaksasi ssekuncup, dan meningkatkan indera
kontrol klien terhadap nyeri.

2. Gangguan perfusi jaringan b.d penurunan kontraktilitas otot jantung


Tujuan : Setelah dirawat selama 3X 24 jam perfusi jaringan baik
Kriteria ;
a. T : 120/80, N : 88X/mnt, Urine 40-50 cc/jam, pusing hilang
b. suhu Akral hangat, merah dan kering
c. Kapilary refill , 2 detik

Rencana Tindakan Rasional


Berikan posisi syok dan observasi tanda- 1. Memenuhi kebutuhan perfusi otak dan
tanda syok jaringan
2. Untuk mengetahui fungsi jantung dalam
Observasi vital sign (N : T : S ) dan upaya mengetahui lebih awal jika terjadi
kapilarri refill setiap jam gaguann perfusi

RL untuk memenuhi kebutuhan cairan


Kolaborasi: intra vaskuler, mengatasi jika terjadi
- Pemberian infus RL 28 tts/menit asidosis mencegah kolaps vena.Untuk
- pemebrian oksigenasi memastikan aanatomi jantung dan melihat
- Foto thorak adanya edema paru. Untuk melihat
- EKG gambaran fungai jantung. Memperkuat
- Lanoxin IV 1 ampul kontraktilitas otot jantung Meningkatkan
- Lasix 1 ampul perfusi ginjal dan mengurangi odem.
- Observasi produksi urin dan balance Melihat tingkat perfusi dengan menilai
cairan optimalisasi fungsi ginjal. Untuk melihat
- Periksan DL faktor-faktor predisposisi peningkatan
fungsi metabolisme klliensehingga terjadi
peningkatan kerja jantung.

3. Anxietas/ketakutan (individu/keluarga) berhubungan dengan siatuasi yang tak


dikenal, sifat kondisi yang dapat diperkirakan, takut akan kematian, efek negatif pada
gaya hidup atau kemunginan disfungsi seksual.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan dlam waktu 1 – 2 x 60
menit diharapkan klien adaptasi dengan kondisi dan cemas berkurang
Kriteria :
a. Secara verbal dan non verbal klien mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh
perawat,
b. Klien tampak lebih tenang dan itngkat ansietas tenang , skala cemas < 6
c. Tanda vital dalam batas normal

Rencana Tindakan Rasional


1. Bina Hubungan Saling Percaya dengan Sikap perawat yang terbuka dapat
pasien dan keluarga mengurangi perasaan terancam saling
percaya dan membantu memperluas dan
menerima semua aspek diri klien

2. Dorong klien untuk mengungkapkan Pengungkapan memungkinkan untuk


perasaan terhadap kondisinya sekarang saling berbagi dan memberi kesempatan
untuk memperbaiki konsep yang tidak
benar.

Beberapa rasa takut didasari oleh


3. Jelaskan kondisi dan proses perawatan informasi yang tidak akurat dan dapat
kepada klien dan keluarganya dihilangkan dengan memberikan
informasi akurat. Klien dengan anxietas
berat atau panik tidak dapat menyerap
pembelajaran.

Anxietas cendrung memperburuk


Berikan privacy dan lingkungan yang masalah , menjebak klien pada lingkaran
nyaman, perasaan tentang pemahaman dan peningkatan anxiatas, tegang dan
empati, identifikasi dan dukung mekanisme emosiaonal dan nyeri fisik.
koping

Peran keluarga sangat penting dalam


5. Ajak keluarga lkut serta membantu dan program therapy sebagai orang terdekat
memberikan dukungan moril dan mengenal kepribadian
klienMengarahkan mekanisme koping
yang efektif untuk menghindari tindakan
yang menyimpang

4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan insufisensi oksigenasi untuk


aktivitas kehidupan sehari-hari sekunder terhadap iskemia jaringan jantung,
imobilisasi lama, narkotik atau obat-obatan.
Tujuan : Setelah diberikan tindkaan keperawatan 2 hari klien dapat aterepenuhi
kebutuhan AKS
Kriteria :
a. Klien dapat mengidentifikasi faktor-fakrtor peningkatan bebean kejra jantung
b. Respon fisiologis terhadap ativitas (nadi pernafasan, tekanan darah stabil)
pada peningkatan aktivitas.
c. Ada tingkat kemajuan aktivitas

Rencana Tindakan Rasional


b. Tingkatkan aktivitya sklien secara a. Kemajuan aktivita sbertahap, diarahkan
bertahap : melalui toelrasni klien, emingkatkan
Susun ambulas yang diperbolhekan sesuai fungsi fisiologis dan menurhkan hipoksia
dengan kondisi dna kemampuannya jaringna jantung.
Tingkatkan aktivitas perawatan diri b.
c.
Monitor tanda-tanda vital Peningkatan frekuens jantung dan
Sebelum aktivitas (ambulasi, perawatan) kekuatan nadi, peningkatan tekanan darah
Segera setelah aktivitas sistolik, dan pernafasan setelah 3 menit
Setalah klien istirahat selama 3 menit nadi harus kembali dalam 10 kali/menit
dari frekuensi istirahat.

Monitor respons abnormal terhadap c. Respon abnormal meningkatan intoleransi


peningkatan aktivitas terhadap peningkatan aktivitas.
d.
Atur periode istirahat adekuat sesuai jadual Periode istirahat memberi kesemaptan
harian tubuh untuk penggunaaan energi yang
rendah

f. Beri reinforcement terhdap kemajuan e. Memberikan pujian dan meningkatakn


aktivitasnya perilaku positif dan mengurangi frustasi
g. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan karena ketergantungan.
sehari-hari dan beri kesempatan klien f. Penghematan energi mencegah kebuthan
sesuai dengan kemampuannya oksigen melebihi tingkat yang dapat
dipenuhi jantung.

E. Buku Sumber

Potter dan Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.
Smeltzer,S.C& Bare,B.G. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Edisi 8.Jakarta :
EGC
Wilkinson, JM & Ahern,N. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Intervensi NIC,
kriteria hasil NOC.Edisi 9.Jakarta : EGC