Anda di halaman 1dari 36

AGRONOMI

KELAPA SAWIT
Buku 1
Fisiologi Benih Kelapa Sawit
Perkembangan lignifikasi dari cangkang diwariskan secara kuantitatif
dan dikendalikan oleh banyak gen, sehingga timbul berbagai variasi
ketebalan cangkang di dalam masing masing masing tipe.

Didalam proses reproduksi hanya satu yang hadir pada gamet atau sel
kelamin, selama proses pembuahan, kedua gamet dari tetua jantan
dan betina bersatu kembali dan tergantung kepada konstitusi genetik,
genotype keturunan mungkin sama atau berbeda dengan tetuanya.

Pengertian yang jelas terhadap pewarisan sifat ketebalan cangkang


buah membawa kesadaran tentang pentingnya penggunaan benih D x
P dari sumber tanaman tetua yang baik (dura, tenera, maupun psifera),
Tenera yang mempunyai kandungan minyak lebih banyak
dibandingkan dura sebesar 30% merupakan varietas standar yang lebih
disukai sebagai material tanaman komersial
a. Persilangan Dura dan Psifera. Untuk produksi benih tenera
dilakukan persilangan antara tetua dura dengan tetua psifera yang
akan menghasilkan 100% tenera

b. Persilangan Bebas (Tenera dan Tenera) Untuk memperoleh benih


tenera dari persarian bebas antara tenera dan tenera
mengakibatkan turunnya hasil karena terjadi silang dalam
(inbreeding), produksi tandan yang rendah karena adanya psifera
serta produksi minyak yang rendah karena adanya dura,
produktifitas benih liar yaitu benih yang di peroleh dari persarian
bebas, diperkirakan hanya mencapai 50% dari produktifitas benih
legitim D x P atau lebih rendah lagi

c. Perubahan strategi penggunaan material tanaman pada industri


kelapa sawit Indonesia dilakukan dengan hati hati dan selalu di
dasarkan oleh data dan informasi yang jelas, hal ini dapat terlihat
dari penggunaan material tanaman di perkebunan kelapa sawit
yang sampai tahun 1970 masih menggunakan material D x D; T x D;
atau D x T sebagai sumber benih, dan dengan adanya data bahwa
rendemen pabrik (Industrial extraction rate) dari materia D x P
adalah 20 – 30% lebih tinggi dari material D xD ; T x D atau D x T
maka sejak tahun 1971 semua perkebunan menggunakan material
D x P sebagai sumber benih

Untuk menilai kualitas benih kelapa sawit D x P yang dihasilkan oleh


produsen penghasil benih (PPKS, Londsum dan Socfindo) tertentu
perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut :

• Silsilah keturunan
• Standar seleksi yang digunakan
• Proses produksi benih
• Profil produksi
• Komponen minyak
• Karekteristik sekunder
• Kepekaan terhadap penyakit

SILSILAH KETURUNAN

1. Origin Dura Semua genitor yang saat ini ada di PPKS adalah dura deli
yang berasal dari 4 pohon kelapa sawit kebun raya bogor, meskipun
tidak ada alasan untuk mengkelompokkannya ke dalam berbagai
populasi, namun penggunaan origin dura ini oleh berbagai lembaga
riset telah menyebabkan terjadinya penghanyutan genetika (Genetic
drift) yang sedikit banyak menimbulkan perbedaan diantara genitor.
Kebanyakan dan pada umumnya dari genitor dura adalah
dari ”populasi Marihat” berdasarkan jumlahnya adalah memungkinkan
untuk membedakan populasinya ini menjadi beberapa origin, bahkan
sub origin. Origin-origin tadi diberi kode berdasarkan nama kebun yang
pertama kali menggunakannya sebagai genitor, yaitu marihat, tinjauan,
dan dolok sinumbah. RISPA adalah ”Populasi Marihat” yang berasal
dari kebun marihat dan selanjutnya di seleksi oleh RISPA. Kode-kode
untuk sub-origin di dasarkan pada nama genitor moyangnya (yang
ditetapkan mulai tahun 1900-an) jadi kebanyakan genitor dura adalah
dari ”populasi Marihat” dihubungkan dengan genitor yang sama
yakni ”533” Diantara genitor genitor ada yang berasal dari
persilangan ”Pupulasi Marihat” dengan sumber sumber lainnyayaitu
genitor yang tidak diketahui untuk orijin ”DS x ?” dan dengan SP 540T
untuk orijin M-RISPA. Empat orijin deli lainnya tidak berhubungan
dengan ”populasi Marihat” , ke empatnya yaitu ”origin Gunung Bayu”
(asal Sumatera) , ”origin Dabou” (asal Sumatera di seleksi di Ivory
Coast) ”orijin Socfin” (asal Sumatera di seleksi di Malaysia dan Ivory
Coast) dan ”origin Dumpy atau ”origin Elmina” (asal Malaysia dan
kemudian dipergunakan oleh RISPA) ”orijin Gunung Melayu” ,
sedangkan ”origin M-Dumpy dan ”Serdang” merupakan orijin yang
relatif belum banyak mengalami seleksi.

2. Orijin Tenera Sebahagian besar dari genitor Tenera yang ada di PPKS
berasal dari Zaire, dan beberapa origin dapat dibedakan berdasarkan
kebun atau pusat riset yang telah melakukan seleksi genitor
moyangnya, dan genitor genitor tersebut antara lain :

 Orijin ”Bangun” merupakan genitor-genitor yang berasal dari


Bangun Bogor Rejo (Sumatera).

 Orijin ”Dolok Sinumbah” yang merupakan orijin dari psifera


terkenal seperti DS 76P atau EX.5. dan beberpa sub orijin
dibedakan berdasarkan bentuk genitornya.

 Origin ”Bah-Jambi” yang pada kenyataannya adalah sub


orijin ”Dolok Sinumbah” karena merupakan keturunan dari
persilangan DS 76P dan DS 66P

 Orijin ”Sungai Pancur” yang menghailkan tenera sangat


terkenal, SP 540T

 Orijin ”Sungai Pancur x Bangun” merupakan hasil persilangan


SP 540T dengan psifera dari Bangun.

 Orijin ”Yangambi” berasal dari populasi Yangambi yang telah


diseleksi oleh IRHO.

Populasi lain yang banyak digunakan adalah ”populasi Marihat” yang


berasal dari Kamerun. Genitor-genitor ” La-Me” dan ”Yacobue” dari
Ivory Coast, sedangkan genitor ”Nifor” berasal dari populasi Nigeria,
genitor ”Dami” yang berasal dari Papua New Gunea merupakan
genitor yang realtif belum diseleksi.
STANDAR SELEKSI

1. Skema Seleksi Berdasarkan hasil percobaan internasional yang


menunjukkan persilangan inter orijin lebih baik dari pada intra orijin,
maka PPKS mengadopsi metode seleksi yang disebut ”Reciprocal
Recurrent Selection (RSS)” yang di kembangkan oleh ”Institute de
Researches Pour les Huiles et Oleageneux (IRHO)” Pada prinsipnya
metode pemuliaan RRS adalah memperbaiki secara serentak daya
gabung ”Combining ability” dari 2 (dua) grup individu A dan B yang
dicirikan dengan : a. Grup A (dura) meliputi jenis kelapa sawit yang
menghasilkan tandan sedikit tetapi dengan tandan yang besar. b. Grup
B (Psifera, Tenera) adalah kelapa sawit yang menghasilkan banyak
tandan tetapi berukuran relatif lebih kecil Tanaman tanaman dalam
grup A disilangkan dengan tanaman dari grup B dan hybrida yang
dihasilkan kemudian di tanam di pengujian projeni (comparative
trial/progeny trial)

2. Pengujian yang dilakukan akan dapat mengklasifikasi tingkatan


family persilangan (lini) dan mengevaluasi daya gabung genitor-genitor
pada family tersebut yang pada akhirnya akan diperoleh suatu
kombinasi hybrida yang terbaik, dan pada waktu yang hampir
bersamaan sejumlah tanaman pada masing-masing grup dikawinkan
sendir (selfing) dan disilangkan miasl D x D pada seleksi Dura dan T x T
pada seleksi Tenera.

3. Letak Produksi Benih dan perbanyakan klonal pada skema seleksi


Metode RRS adalah suatu skema yang sangat menarik baik untuk
program pemuliaan maupun produksi benih dan klon kelapa sawit,
dengan langkah langkah sebagai berikut :
 Pemilihan tetua untuk memproduksi hibrida komersial di
dasarkan atas pengujian projeni sehingga hanya hibrida-hibrida
yang telah di uji yang disalurkan kepada konsumen.

 Skema seleksi memungkinkan untuk mengeksploitasi se segera


mungkin persilangan persilangan terbaik dan perbaikannya
dapat dilakukan dengan ”selfing” tetua terpilih sehingga daya
gabung khusus (specific Combining Ability/SCA) dapat di
eksploitasi secara optimal.

 Hibrida komercial dapat diproduksi menggunakan berbagai tipe


persilangan dura diseleksi dura, dan begitu pula tipe
persilangan Psifera/Tenera di seleksi Tenera.

 Setelah berakhirnya siklus seleksi dimungkinkan untuk


memproduksi benih dengan cara me-reproduksi secara pasti
persilangan persilangan terbaik dari hasil hasil pengujian, serta
meng-kawinkannya tetua yang mempunyai daya gabung umum
(General Combining Ability) yang baik meskipun perkawinan
tersebut belum lagi di uji.

Dengan menggunakan tanaman unggul dari hasil pengujian projeni


dapat diperbanyak secara kultur jaringan dengan tingkat produktifitas
yang realtif sama dengan ortet. Pemilihan tanaman unggul dilakukan
dengan mengeksploitasi keragaman di dalam famili diantara famili-
famili yang di uji pada pengujian projeni. Selain masalah masalah
internal yang di hadapi perbanyakan klonal secara kultur jaringan,
seperti abnormalitas pembuangan dan upaya scaling up, klon klon
yang dihasilkan dari ortet yang dipilih dari pengujian projeni perlu di uji
terlebih dahulu pada pengujian klonal sebelum di lepas secara
komersial, sehingga dengan demikian perlu dimaklumi bahwa klon klon
komersial belum dapat disebar luaskan dalam waktu dekat.
KRITERIA PEMILIHAN

Pemilihan persilangan dengan Genitor. Pemilihan persilangan dengan


genitor dilakukan bertahap sesuai dengan urutan prioritasnya yaitu :

a. Tahap Pertama Pemilihan dilakukan terhadap produksi minyak/ha


yang di hitung dengan menggunakan dua faktor koreksi yaitu
rendemen pabrik di hitung dengan mengkalikan prosentase minyak per
tandan dengan faktor koreksi 0,855 dan produksi TBS di hitung dengan
dasar 130 tanaman/ha (pada populasi 143 pohon/ha) atau bisa juga
123,5 tanaman /ha pada (populasi 130 pohon/ha). Produksi minyak
per ha diperoleh dengan cara mengkalikan produksi TBS dengan
rendemen pabrik periode 6 – 9 tahun, yang dianggap dapat
menggambarkan potensi produksi selama masa ekonomis tanaman,
dan ini merupakan prioritas utama untuk diperhatikan

b. Tahap Kedua Pemilihan dilakukan dengan mengenyam-pingkan


semua persilangan persilangan yang laju pertumbuhannya meninggi
sangat cepat, persilangan yang mempunyai laju pertumbuhan
meninggi >85 cm/thn tidak dipilih.

c. Tahap Ketiga Pembuatan rancangan persilangan dilakukan terutama


untuk menghindari adanya projeni yang peka terhadap penyakit tajuk,
karena penyakit tajuk disebabkan oleh satu gen resesif, maka
ditekankan untuk mengawinkan genitor-genitor unggul tetapi tetap
peka terhadap penyakit tajuk dengan genitor lainn yang resisten dan
mempunyai susunan genotype homozygot dominan.

Pada pemilihan ortet, metode yang digunakan harus dapat


mengestimasi secara akurat nilai ”genotipik ” setiap indivfidu tanaman,
hal ini dapat dilakukan apabila varians lingkungan dan atau varians
interaksi genotipe x lingkungan dapat diminimalkan.
Cara umum dilakukan adalah dengan cara seleksi indeks (6/9) atau
secara smoothing. Tingkat kepercayaan pada pemilihan ortet dapat
meningkat apabila tanaman terpilih memperlihatkan komponen hasil
yang unggul, seperti persentase mesokarp terhadap buah yang relatif
mempunyai nilai heritabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil sendiri.

PROSES PRODUKSI BENIH

Tekhnik produksi benih kelapa sawit telah banyak di paparkan oleh


para ahli, yang pada prinsipnya setiap tahapan dalam proses produksi
benih adalah untuk menjamin diperolehnya benih yang memenuhi
kriteria persentase perkecambahan tinggi, pertanaman yang homogen
di lapangan dan legitimasi material yang dihasilkan.

PENGADAAN DAN PENYALURAN BENIH

Pusat penelitaian kelapa sawit (PPKS) adalah salah institusi resmi yang
ditujuk oleh pemerintah untuk pengadaan benih kelapa sawit di
Republik Indonesia Ini, yang mempunyai potensi 40 juta benih
pertahun, proses pengadaan kecambah yakni dengan tekhnik
fermentasi, perendaman, pemanasan dan perkembangan kecambah
telah dapat mempercepat proses perkecambahan dan meningkatkan
prosentase daya kecambah. Bila benih multi embrio dari benih kelapa
sawit D x P dapat digunakan sebagai sumber bahan tanaman,
penggunaan benih palsu sebagai bahan tanaman akan menurunkan
produksi minyak/ha sebesar 50% dan tertundanya waktu panen.

Prosedur pembelian dan pengadaan benih/kecambah kelapa sawit dari


PPKS cukup sederhana yakni dengan membuat surat permohonan
pembelian kecambah yang ditujukan kepada Direktur PPKS dengan
melampirkan syarat-syarat administrasi, dan setelah melakukan
pembayaran dengan kurun waktu 2-3 minggu kemudian kecambah
sudah dapat disalurkan kepada pihak pembeli, dan untuk menjamin
kemurnian kecambah yang disalurkan dan di terima pembeli, setiap
pengiriman dilengkapi dengan surat pengantar, surat persilangan dan
surat pengambilan barang (DO), Pembeli kecambah harus mampu
menunjukkan identitas diri yang jelas seperti KTP, SIM atau Passport
atau surat kuasa dari perusahaan pembeli.
Aspek Botani Dan Morfologi Kelapa Sawit
Kelapa sawit merupakan tanaman dengan batang kolumnar tunggal
yang memiliki karakteristik berbeda dengan kelapa (Cocos nucifera),
yaitu berkaitan dengan sudut penyisipan tidak teratur sepanjang malai
daun (Hartley 1988). Kelapa sawit termasuk biji berkeping satu atau
monokotil, suku Cocoideae, genus Cocos dan famili Palmae (Hardon
1995). Nama genus Elaeis mencerminkan isi buah kelapa sawit yang
berminyak (dari elaion, bahasa Yunani untuk minyak), dan guineensis
mengacu pada asal-usul kelapa di pedalaman Teluk Guinea di Afrika
Barat (Jacquemand 1998). Pengetahuan tentang botani kelapa sawit
penting untuk manajemen agronomi yang tepat.
Tanaman kelapa sawit diklasifikasikan sebagai berikut :

Divis : Embryophyta siphonagama

Kelas : Angiospermae

Ordo : Monocotyledonae

Family : Arecaceae

Subfamili : Cocoideae

Genus : Elaeis

Spesies : 1. E.guineensis jacq

2. E. oleifera (H.B.K ) Cortes

3. E. odora

Varietas/Tipe digolongkan berdasarkan :

1. Tebal tipisnya cangkang (endocarp) : dikenal ada tiga varietas/tipe.


yaitu : Dura, Pisifera, dan Tenera.

2. Warna buah : dikenal tiga tipe


yaitu : Nigrescens, Virescens, dan Albescens

SISTEM AKAR

Beberapa studi menunjukkan bahwa praktek budaya dan variabilitas


spasial dalam kesuburan tanah berpengaruh terhadap perkembangan
akar dan distribusinya. Hal ini berpengaruh juga terhadap strategi dan
efisiensi penggunaan pupuk di sekitar perakaran kelapa sawit.
Anatomi dan komposisi sistem akar kelapa sawit telah dijelaskan Purvis
(1956). Nutrisi dan penyerapan air diperkirakan terjadi pada
permukaan ujung akar primer, sekunder, tersier dan ke seluruh akar
kuartener. Penelitian dasar untuk mengetahui informasi yang lebih
akurat terhadap fisiologi serapan hara akar kelapa sawit perlu
dilakukan. Tingkat distribusi hara untuk kelapa sawit, dihitung dari
panjang akar halus dan data hara yang terserap, yang jauh lebih kecil
dibandingkan dengan tanaman beriklim tahunan lainnya (Tinker, 1976).

Secara morfologi, sistem perakaran kelapa sawit bersifat mudah


menyerap air dan menyebar dengan diameter 0.8 m ke dalam tanah di
bawah batang. Biomassa akar mengandung 30-40 ton bahan kering/ha
yang cenderung tetap walaupun ada peremajaan. Disamping itu,
deposisi akar memiliki konstribusi yang sangat penting untuk
mengganti dan menambah bahan organik di dalam tanah, dan
mengukur kekuatan akar dalam beberapa pengujian pemakaian
karbon pada tanaman tahunan.
Biomassa akar paling banyak ditemukan sekitar 1 m dari tanah, namun
akar yang aktif menyerap hara banyak ditemukan sekitar 0.5 m dari
tanah atas. Akar yang paling dalam berfungsi menyerap air karena
konsentrasi hara pada tanah tropis sangat sedikit, yaitu kurang dari 0.5
m di atas permukaan tanah. Perkembangan akar vertikal berada di
kondisi tanah yang banyak air maupun sedikit air (lapisan tanah lithic
atau plinthic). Penelitian menunjukkan akar yang paling banyak
ditemukan adalah di sekitar 30 cm dari permukaan tanah (Gray 1969;
Purvis 1956; Ng et al. 1968; Ruer 1967a,b).

Tinker (1976) membedakan 4 kategori akar berdasarkan diameter akar,


yaitu akar primer, sekunder, tersier, dan kuarter. Akar primer
(diameter 2-4 mm) adalah akar adventif yang berasal dari batang dan
menuju ke bagian bawah batang. Akar sekunder (diameter 2-4 mm)
merupakan akar cabang dari akar primer dan pertumbuhan seringkali
ke permukaan tanah dan horizontal. Akar tersier (diameter 0.7-1.2
mm dengan panjang ≤15 cm) berada di akar sekunder. Akar kuarter
(diameter 0.1-0.3 mm dengan panjang ≤3 cm) berada di akar tersier.
Akar kelapa sawit diketahui memiliki jarak transfer yang
luas. Lambourne (1935) menunjukkan akar primer kelapa sawit
dewasa dapat mencapai 21 m dari batang pokoknya. Distribusi
kuantitatif akar tersier dan kuarter secara horizontal ditentukan oleh
umur tanaman dan ini penting untuk rekomendasi dalam melakukan
strategi pemupukan. Selama 6 tahun setelah tanam (tst), distribusi
akar mencerminkan perkembangan kanopi, dan seringkali sekitar 2.5
m dari titik pokok tanaman pada umur ≤2.5 tst. Bahkan pada
beberapa varietas, akar kelapa sawit pada umur 4.5 – 8.5 tst dapat
mencapai 0-2.5 m dan 2.5-5 m dari batang pokok.

 Akar, Tanaman kelapa sawit berkeping satu, sistim


perakarannya serabut, akar pertama yang muncul dari biji yang
berkecambah disebut Radikula. Radikula selanjutnya akan mati
dan digantikan dengan akar-akar primer yang tumbuh dari
bahagian bawah batang, kemudian bercabang akar sekunder,
tersier, kuarterner.

 Diameter akar primer 5 - 10 mm

 Diameter akar kuarterner 0,1 - 0,3 mm

 Diameter akar tersier 1 - 2 mm

 Diameter akar sekunder 2 - 4 mm

Akar yang paling aktif menyerap air dan unsur hara adalah akar tersier
dan kuarterner berada pada kedalaman 0-60 cm dan jarak 2-2,5 m dari
pangkal pohon.
BATANG

Batang kelapa sawit dewasa adalah vertikal, seragam, dan tinggi


mencapai 25-30 m. Fungsi batang kelapa sawit yaitu 1) menambah
kekuatan untuk daun tombak, 2) struktur terdekat untuk sistem
vaskuler transfer hara dan air, serta 3) tempat penyimpanan
karbohidrat dan hara (potassium, K). Lebih dari 12-15 tahun, batang
ditutup oleh daun sebelum pemotongan pelepah selama proses
pemangkasan dan panen. Perkembangan batang meliputi 2
fase. Selama fase pertama dari penanaman hingga 3.5 tst batang
terbentuk untuk pangkal batang (diameter 0.4-0.6 m) dengan
penambahan tinggi sangat kecil. Pertumbuhan batang pada fase 2
sangat cepat 0.3-0.6 m/th, namun mengalami penurunan 0.2-0.4 m/th
pada tanaman di atas 15 tst.
Penambahan pertumbuhan tanaman kelapa sawit sangat menentukan
karakteristik tanaman dan variasi yang sangat banyak pada bahan
tanam keturunannya. Perbedaan tinggi tanaman dipengaruhi secara
genetik dan variabilitas tanah melalui peningkatan intersepsi cahaya
dengan adanya penambahan kerapatan kanopi. Kompetisi antar
tanaman yang tinggi disebabkan karena jarak tanam yang dekat
sehingga meningkatkan pertumbuhan meninggi dan mengurangi
hasil. Kerapatan tanam dapat mengurangi nilai ekonomi dan
mengurangi waktu hidup tanaman.

Variabilitas pertumbuhan meninggi antar projeni disebabkan karena


variabilitas genetik dan tanah diperkirakan menghasilkan intersepsi
cahaya membaik pada tanaman yang lebih tua >8 tst dengan
meningkatkan kerapatan kanopi (Breure, buku ini). Kompetisi yang
tinggi antar-tanaman kelapa sawit karena jarak tanaman yang tertutup
di lapangan, akibat dari pertumbuhan meninggi yang meningkat dan
dapat menurunkan hasil. Dengan demikian, kepadatan penanaman
yang sangat tinggi dapat mengakibatkan kerugian ekonomi akibat
penurunan hasil dan mengurangi masa aktif secara ekonomi.

Batang kelapa sawit memiliki tiga lapisan, 1) lapisan kulit luar, yang
dibentuk perpanjangan basis daun dan terdiri dari jaringan fibrosa
padat. Hal ini cukup tipis dan berwarna krem; 2) lapisan perikel,
ditemukan di dalam kulit dan berwarna keabu-abuan. Ini adalah
jaringan dari mana akar dibentuk pada pangkal batang dan di dalam
lubang tanam; dan 3) pusat silinder atau inti, yang terdiri dari ikatan
pembuluh padat terdiri dari jaringan floem dan xylem di sekitar
parenkim (Tomlinson, 1961).
Tunas yang tumbuh tunggal atau apical meristem terletak pada 10-12
cm di diameter 2,5-4 cm secara mendalam di bagian atas batang. Jika
apikal meristem rusak, maka tanaman secara fungsional mati. Daun
yang ada dapat tetap hijau untuk beberapa waktu, tetapi tidak ada
daun baru yang diproduksi. Jika apikal meristem dari bibit kelapa sawit
telah mati atau rusak oleh penyakit (busuk tunas) atau hama (kumbang
Oryctes), maka kelapa sawit tidak akan pulih dan harus diganti.

Batang yang menunjukkan bentuk piramida dipengaruhi oleh


kekurangan fosfor (P) akut. Lingkar batang meningkat setelah
perbaikan kandungan P, namun produktivitas kelapa sawit tidak
mungkin untuk pulih sepenuhnya, terutama jika tindakan perbaikan
tertunda. Sejumlah unsur hara yang terakumulasi dalam batang kelapa,
yang mungkin berisi lebih dari 180 N kg dan 280 kg K / ha pada saat
replanting (penanaman ulang) (Gray, 1969). Pada tanah mineral, bibit
kelapa sawit ditanam sedemikian rupa sehingga pangkal batang
tersebut sejajar dengan permukaan tanah. Pada lahan gambut, 2-3
tahun setelah penanaman, gambut menyusut dan batang tumbuh
bengkok. Hal ini menyebabkan kanopi tidak rata dan hasil produksi
berkurang.

 Tanaman kelapa sawit berbatang lurus, tidak bercabang, pada


tanaman dewasa diameternya 45 - 60 cm bagian bawah
batangnya lebih gemuk yang disebut bonggol, dengan diameter
60 - 100 cm .

 Pelepah /daun menempel membalut batang .

 Kecepatan tumbuh 35 - 75 cm / tahun sampai tanaman


berumur 3 tahun batang belum terlihat karena masih
terbungkus pelepah yang belum ditunas.

 Pada tanaman berumur 25 tahun tinggi batang mencapai 13 -


18 m.

Tabel Perkembangan tinggi batang kelapa sawit yang normal


DAUN

Daun kelapa sawit terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut.

 Kumpulan anak daun (leaflets) yang mempunyai helaian


(lamina) dan tulang anak daun (midrip).

 Rachis yang merupakan tempat anak daun melekat.

 Tangkai daun (petiole) yan merupakan bagian antara daun dan


batang.

 Seludang daun (sheath) yang berfungsi sebagai pelindung dari


kuncup dan memberi kekuatan pada batang.

Daun kelapa sawit (atau daun) memiliki panjang 7-8 m dan terdiri dari
komponen-komponen berikut. Panjang tangkai daun 1-1,5 m dan
terdiri dari bagian daun antara batang dan titik penyisipan daun sejati
pertama dan disertai duri (Gambar 4). Tangkai antar daun (PCS)
terletak pada titik penyisipan daun sejati pertama sekitar 40-90 cm2
tetapi tangkai daun ini jauh lebih luas pada titik lampiran ke batang.
Tangkai antar daun merupakan indikator yang sensitif dan berguna
untuk pertumbuhan vegetatif (Lampiran 6). Panjang malai 5-6 m,
asimetris secara berlawanan dengan permukaan abaksial dan
permukaan bawah daun atau adaksial. Malai mendukung
pertumbuhan daun (Gambar 4).

Daun (pinnae) terletak atas bawah pada sisi malai (rachis) (Gambar 4).
Setiap daun berisi sekitar 150-250 lembar yang masing-masing dengan
pelepah dan lamina. Lebar daun 3-5 cm di titik pertengahan dan
panjang 80-120 cm (Gambar 4). Pembentukan tunas daun embrio dan
kematian daun karena penuaan oleh alam dapat terjadi selama 4
tahun, namun durasi dari fase fungsional setelah membuka daun
penuh sekitar dua tahun. Hal ini membutuhkan waktu sekitar 20-24
bulan untuk pemanjangan daun dan yang paling cepat dalam 5-6 bulan
terakhir (Broekmans, 1957, Henry, 1955). Di perkebunan komersial,
pelepah daun dibuang pada saat panen atau selama proses
pemangkasan daun tua kurang dari 2 tahun. Produksi daun mungkin
lebih besar dari 40 daun/ tanaman/ tahun pada tanaman sangat muda
(2-3 tst), tetapi tingkat produksi daun menurun cepat dan stabil 18-24
daun/ tahun pada tanaman > 4-6 tst. Daun yang tidak dipangkas
sekitar 35-40 daun.
Daun yang belum membuka atau tombak adalah indikator diagnostik
yang baik untuk menduga cekaman kekeringan. Beberapa tanaman
kelapa sawit mengalami kekeringan bila ditanam pada tanah yang
bertekstrur tanah kasar dan kemungkinan sekitar 6 daun yang tidak
membuka pada kondisi kekeringan (misalnya <100 mm curah hujan per
bulan selama >3 bulan). Daun yang belum membuka dapat membuka
karena hujan, namun tampak kuning untuk waktu yang singkat.

Filotaksis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan


susunan daun sekitar aksis atau sumbu kelapa sawit. Setiap daun
sentrifugal sebagai daun muda muncul, sehingga dalam susunan
simetris daun memancar keluar dengan sudut perbedaan 135,7-137,5º
antara daun yang berurutan. Pada tanaman dewasa, dua daun spiral
dapat diamati, delapan menjalankan salah satu jalan dan tiga belas
yang lain (yaitu pengaturan 8 +13). Jika spiral dari delapan naik searah
jarum jam, maka spiral dikatakan memutar ke kiri dan sebaliknya.
Sangat menarik untuk dicatat bahwa arah pendakian spiral tidak
ditentukan secara genetik

Luas daun tanaman kelapa sawit dapat dihitung dengan


rumus sebagai berikut:

A=P.L.k

Keterangan :
A = Luas daun (cm2),
P = Panjang daun (cm),
L = Lebar daun (cm),
k = konstanta;

(a) 0,57 untuk daun belum membelah (lanset) pada pre nursery,

(b) 0,51 untuk daun yang telah membelah (bifourcate).


Karena ada perbedaan unsur hara antara daun tertua dan termuda di
bagian pangkal kelapa sawit dan untuk perbandingan antar lokasi yang
berbeda, maka perlu menggunakan referensi standar daun untuk
pengambilan sampel daun. Semakin besar laju produksi pelepah daun,
maka usia fisiologis pelepah daun muda adalah daun #17. Konvensi
menggunakan 17 daun (daun #17) sebagai jaringan referensi, dan
agronomis atau staf lapangan harus mampu mengidentifikasi daun #17
secara akurat dan cepat

Tahap perkembangan daun :

 Lanceolate Daun awal yang keluar pada masa pembibitan


berupa helaian daun yang utuh.

 Bifurcate Bentuk daun dan helaian daun sudah pecah tetapi


bagian ujung belum terbuka.

 Pinnate Bentuk daun dengan helaian daun yang sudah


membuka sempurna dengan arah anak daun keatas dan
kebawah.

Kriteria lainnya adalah sebagai berikut :

 Pada tanaman muda mengeluarkan 30 daun ( umumnya


disebut pelepah ) pertahun pada tanaman tua antara 28-24
pelepah per tahun.

 Panjang pelepah tanaman dewasa 9 m, anak daun 125-200


pasang dengan panjang 1-1,2 m dengan lebar tengah + 6 cm.

 Jumlah pelepah yang harus dipertahankan pada tanaman


dewasa adalah 40-56 pelepah selebihnya dibuang saat panen.
 Kedudukan daun pada batang 3/8 artinya pada setiap tiga
putaran terdapat 8 daun.

 Spiral kiri atau spiral kanan.

 Arah putaran dilihat dari arah atas kebawah, dan arah putaran
ini tidak ada pengaruhnya terhadap produksi.

PERBUNGAAN

Primordial perbungaan atau tunas yang dihasilkan di ketiak daun setiap


inisiasi dapat berkembang menjadi bunga jantan, betina, atau
hermaprodit. Produksi tandan sangat berkaitan dengan tingkat
produksi daun, yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan unsur
hara. Pembentukan bunga dapat dipengaruhi oleh stress lingkungan
dan menghasilkan rasio jenis kelamin yang beragam (betina: total
pembungaan) dan tingkat aborsi yang rendah (Breure). Potensi hasil
ditentukan oleh tingkat produksi daun, rasio jantan-betina dan jumlah
aborsi bunga.
Beirnaert (1935) merancang penelitian awal tentang komposisi
perbungaan adalah spike atau spadix yang dilakukan pada batang
kokoh dan tertutup di sebuah seludang perbungaan. Spikelet tersebut
diatur dalam spiral pada sumbu pusat. Sekitar satu bulan setelah
perbungaan muncul tangkai (petiol), dan seludang perbungaan luar
terbuka. Dua sampai tiga minggu kemudian, seludang perbungaan
membuka, dan bunga-bunga yang berada di spike juga membuka.

Pembungaan betina terdiri dari perianth dari enam segmen dalam dua
whorls, sebuah ovarium tricarpelat dan stigma trifid (Gambar 5).
Bagian reseptif dari lobus stigma yang ditekan satu sama lain ketika
muda tetapi terbuka keluar ketika dewasa. Kemungkinan terdapat
100-300 spikelet dan lebih dari 2.000 bunga di setiap perbungaan
betina. Pembungaan jantan terdapat di tandan panjang dan terdiri
dari spikelet silinder seperti jari-jari, masing-masing 700-1.200 bunga
jantan (Gambar 6). Bunga jantan terdiri dari enam segmen perianth
dan androseum tubular dengan enam benang sari. Bunga mulai
membuka dari dasar spikelet tersebut.
Kelapa sawit merupakan tanaman yang memiliki bunga berumah satu,
yaitu bunga jantan dan betina terpisah, namun pada tanaman yang
sama. Bunga jantan dan betina matang pada waktu yang berbeda,
sehingga harus melakukan penyerbukan silang. Penyerbukan pada
skala komersial dilakukan oleh kumbang penyerbuk Elaedobius
kamerunicus, yang pertama kali diperkenalkan di Asia Tenggara awal
1980-an (Syed et al., 1982). Serangga tertarik pada bunga jantan (di
mana mereka makan dan melengkapi siklus hidup mereka) dengan
aroma khas yang kuat pada saat bunga mekar dan mulai melepaskan
serbuk sari yang berlangsung selama 36-48 jam. Kumbang E.
kamerunicus membawa serbuk sari dari bunga jantan dan menyerbuki
bunga betina reseptif di kelapa sawit di sebelahnya.

Beberapa periode dibutuhkan tanaman kelapa sawit untuk


memproduksi bunga jantan dan betina, sehingga harus disediakan
tanaman yang memproduksi polen dan bunga reseptif betina agar
penyerbukan dapat berlangsung. Rasio betina dan jantan sebagian
ditentukan secara genetik dan faktor lingkungan. Tanaman yang
mengalami cekaman kekeringan, defisiensi unsur hara, pemangkasan
berlebih, dan serangan hama penyakit akan menyebabkan rasio seks
yang rendah dan produksi yang rendah pula (Breure, buku ini). Kelapa
sawit yang merespon kekeringan dan nutrisi akan membentuk bunga
jantan yang lebih banyak. Periode dari inisiasi bunga hingga panen
tandan sekitar 40 bulan dan aleviasi atau efek dari cekaman dapat
mempengaruhi produktivitas untuk tiga tahun berikutnya.

 Dari setiap ketiak pelepah akan keluar tandan bunga jantan


atau betina.

 Bunga mulai berbunga pada umur ± 14 - 18 bulan


 Pada mulanya yang keluar adalah bunga jantan kemudian
secara bertahap akan muncul bunga betina.

 Terkadang akan muncul bunga banci yaitu : bunga jantan dan


betina ada pada satu rangkaian.

 Sex ratio yaitu : perbandingan bunga betina dengan


keseluruhan bunga (bunga jantan dan bunga betina).

BUAH

Buah adalah buah berbiji sesil atau satu buah yang tertutup dalam
bentuk daging segar bervariasi dari hampir bulat telur atau memanjang.
Buah berkisar 2-7 cm dan terdiri dari sebuah eksocarp tipis atau kulit,
daging mesocarp berminyak, sebuah endocarp keras atau cangkang,
dan endosperm atau kernel. Endocarp dan kernel merupakan benih.
Minyak berapa di mesocarp dan kernel tetapi minyak kelapa sawit
diperoleh dari mesocarp, yang berisi sekitar 11-21% bahan berserat.
Buah tunggal atau berondolan mengandung sekitar 40% minyak
dibandingkan dengan minyak tandan, yang berisi sekitar 25% minyak.
Dengan demikian, berondolan yang jatuh harus diambil pada saat
panen merupakan aspek manajemen lapangan dan warna penampilan
luar buah sangat bervariasi, terutama pada pematangan. Warna yang
paling umum adalah ungu hingga hitam di puncak dan tidak berwarna
di dasar sebelum matang. Jenis buah digambarkan sebagai nigrescens.
Saat matang, warna bervariasi dari oranye hingga merah, hal ini diduga
karena perubahan karoten. Jenis yang relatif jarang adalah hijau
sebelum pemasakan dan disebut virescens. Pada pematangan berubah
menjadi oranye terang kemerahan. Buah tanpa karoten di mesocarp
ini disebut sebagai albescens, dan sangat jarang.

Buah terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :

1. Epicarp : kulit buah licin dan keras

2. Mesokarp : daging buah yang terdiri dari susunan serabut


(fibre) dan mengandung minyak.
3. Endocarp : cangkang/kulit biji berupa tempurung berwarna
hitam keras.

4. Endosperm : Kernel/inti, daging biji berwarna putih


mengandung minyak.

5. Embryo : Lembaga

Biji sawit terdiri dari shell (endocarp) dan kernel. Pada shell terdapat
serat-serat yang menempel dengan arah memanjang. Di dalam biji
terdapat 3 germpore. Jumlah gerkpore yang berfungsi tergantung
kepada jumlah kernel yang berkembang. Dalam setiap germpore
terdapat tutup berupa serat, yang menempel di bagian dalam
permukaan shell.

Embrio biji kelapa sawit dan cotyledone tidak akan terangkat ke atas
sebagai bagian tanaman hijau, yang akan berfungsi untuk
fotosintesa. Sebagai gantinya, ujung cotyledone membesar
membentuk haustorium, yang akan berfungsi untuk menunjang
pertumbuhan tanaman muda sampai berminggu-minggu setelah
berkecambah.
Bentuk embryo lurus, dengan panjang ± 3 mm. Ujung embryo dan
germpore dipisahkan oleh lapisan operculum. Lapisan ini terdiri dari
lapisan endosperm yang tipis dan menyatukan pangkal serat
membentuk tutup germpore terdorong keluar secara bersama dari biji.

Bagian embryo yang keluar dari cotyledone membentuk sebuah


tonjolan disebut Petiola. Ke arah atas petiola membentuk plumula dan
ke bawah membentuk radikula. Plumula dan radikula tumbuh dalam
bentuk silindris. Haustorium tetap berada di dalam biji. Karena akar
dan batang belum berfungsi, persediaan makanan masih tetap diambil
dari daging biji. Jika lembaga (kecambah) ini terputus dari daging biji
kecambah akan menjadi layu dan mati. Sewaktu memindahkan
kecambah ke dalam bibitan (pre nursery) kecambah ini tidak boleh
putus dari bijinya.

Struktur internal buah menunjukkan variasi dan ketebalan


cangkang yang paling penting. Buah dapat memiliki ketebalan
cangkang hingga 8 mm. Bentuk buah internal sangat dipengaruhi
secara genetik (Hardon, 1955; Hartley, 1988). Tandan buah dapat
memiliki sekitar 1.500 buah dengan rasio tandan buah 60-
70%. Biasanya buah matang pada tandan ke-30 hingga ke-32, dan
beratnya bervariasi dari beberapa kilogram hingga sepuluh kg pada
tanaman muda dan 10-30 kg tanaman dewasa (8-10 tst). Tandan buah
berisi outer fruits (buah-buah terluar) yang lebih berwarna, dan buah-
buahan dasar yang kurang berpigmen dan mengalami tekanan.
Terdapat juga buah partenokarpi yang mengalami perkembangan
namun pembuahan tidak terjadi. Jenis kelapa sawit Macrocarya (dura
kelapa sawit dengan cangkang tebal (6-8 mm) yang ditemukan di
Kongo dan Afrika Barat), berbeda ketebalannya dengan Deli Dura yang
sebagian besar telah dibudidayakan.

 Umumnya yang ditanam adalah varietas nigrescen, dengan


warna buah ungu kehitaman saat mentah.

 Buah akan matang 5-6 bulan setelah penyerbukan dan


warnanya berubah menjadi orange, berat tandan dan ukuran
buah bervariasi tergantung umur tanaman, kesuburan tanah
dan pemeliharaan

Berdasarkan warna kulit buahnya kelapa sawit dibagi menjadi menjadi


3 tipe buah, yaitu sebagai berikut.

– Nigrescens

Buah nigrescens berwarna ungu sampai hitam pada waktu muda dan
berubah menjadi jingga kehitam-hitaman pada waktu matang.
-Virescens

Pada waktu muda, buah virescens berwarna hijau dan ketika matang
warnanya berubah menjadi jingga kemerahan, tetapi ujungnya tetap
kehijau-hijauan.

-Albescens

Pada waktu muda, buah albescens berwarna keputih-putihan,


sedangkan setelah matang berubah menjadi kekuning-kuningan dan
ujungnya berwarna ungu kehitam-hitaman.
Perkembangan jumlah dan berat tandan disajikan sebagai berikut:

Tabel Perkembangan jumlah dan berat tandan

BENIH

Sebuah terobosan besar dalam penelitian kelapa sawit adalah


penemuan gen tunggal yang mengontrol ketebalan kulit. Beirnaert
(1940) menemukan bahwa bentuk buah Tenera (Dd) dapat dihasilkan
oleh penyerbukan Dura bunga betina (DD) dengan serbuk sari dari
Pisifera (dd). Hal ini dapat meningkatkan 30% minyak tanpa biaya
tambahan dan merupakan faktor penting yang memberikan kontribusi
bagi perluasan lahan yang cepat sejak tahun 1960-an.
Benih komersial untuk memproduksi Tenera harus memiliki tipe Dura.
Tenera x Tenera adalah kompatibel dan persilangan menghasilkan dura
(DD), pisifera (dd) dan Tenera (Dd) pada nisbah 1 : 2 : 1. Benih afkir
yang dikumpulkan dari berondolan di penanaman komersial dewasa
akan memiliki jenis Tenera karena hasil persilangan Tenera x Tenera.
Bahan tanam tersebut tidak boleh ditanam karena 25% Pisifera, 25%
Dura, dan 50% Tenera. Benih kelapa sawit adalah cangkang yang
tersisa setelah mesocarp berminyak dikupas. Ini terdiri dari cangkang
keras dan dalam kebanyakan satu tetapi kadang-kadang dua atau tiga
kernel.

Ukuran benih sangat bervariasi, namun pada umumnya panjangnya


2-4 cm. Cangkang memiliki serat longitudinal dan menempel. Setiap
inti memiliki tiga embrio yang sesuai dengan tiga bagian dari ovarium
trikarpelat. Kernel atau inti terletak di dalam cangkang dan terdiri dari
lapisan endosperma yang berminyak, berwarna putih keabu-abuan
dikelilingi kulit biji coklat gelap yang ditutupi serat. Di dalam
endosperm, terdapat embrio sekitar 3 mm. Setelah perkecambahan,
embrio akan terdiferensiasi menjadi radikula dan plumula.
POIN PENTING UNTUK PEKEBUN

 Mempertimbangkan distribusi akar ketika memilih strategi


aplikasi pupuk.

 Pengolahan tanah sebelum penanaman untuk mencegah


tanaman tumbang akibat elongasi.

 Pastikan mempertimbangkan pertumbuhan meninggi pada saat


memilih sumber benih.

 Buat rancangan untuk staff lapang yang telah terlatih untuk


menyeleksi daun #17 sebagai sampel.

 Monitor populasi kumbang penyerbuk (Elaedobius


kamerunicus).

 Aleviasi faktor stress berdampak pada panen hingga 40 bulan.

 Lengkapi kehilangan hasil panen untuk memaksimalkan


produksi minyak.

 Pastikan bahwa bahan material keturunan D x P digunakan


untuk produksi benih.

KESIMPULAN

 Kelapa sawit adalah tanaman yang unik, dan secara botani,


morfologi, dan karakter anatomi yang membantu untuk
menjelaskan posisi tanaman penghasil minyak nabati yang
paling produktif. Penelitian oleh agronomis dan pekebun
berkontribusi untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit di
masa depan.
 Kelapa sawit adalah tanaman sejenis palma berakar serabut
atau monokotil.

 Bagian tanaman yang bernilai ekonomis adalah buah.

 Buah tersusun dalam sebuah tandan dan disebut TBS (Tandan


Buah Segar)

 Satu tandan tanaman dewasa beratnya mencapai 20–35


kg,bahkan ada yang mencapai diatas 40 kg,tergantung pada
perawatan dan pemupukan tanaman .

 Tandan tersusun dari 200 – 600 buah @ 20–35 gram.

 Buah diambil minyaknya dengan hasil :

 Sabut (daging buah / mesocarp) menghasilkan minyak kasar


(CPO) 20–26%

 Inti sawit sebanyak 6 % yang menghasilkan minyak inti (PKO) 3–


4%

 Kadar % dihitung dari berat tandan buah segar .