Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN MINI PROJECT

“PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA PROLANIS


TERHADAP DIET PADA DIABETES MELLITUS SEBELUM DAN
SESUDAH PENYULUHAN DIET PADA DIABETES MELLITUS DI
PUSKESMAS TAMAN KABUPATEN SIDOARJO”

Oleh :
dr. A.A Ayu Adisti Nina Yuniandari
dr. Kevin Anggakusuma Hendrawan

Pendamping :
dr. Erwin Berthaningrum


PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA
WAHANA KABUPATEN SIDOARJO
PUSKESMAS TAMAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan MINI
PROJECT PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA PROLANIS
TERHADAP DIET PADA DIABETES MELLITUS SEBELUM DAN SESUDAH
PENYULUHAN DIET PADA DIABETES MELLITUS DI PUSKESMAS TAMAN
KABUPATEN SIDOARJO.
Laporan ini disusun dengan banyak bantuan dari berbagai pihak, baik
responden maupun petugas di UPT Puskesmas Taman Sidoarjo. Untuk itu penulis
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pelaksanaan kegiatan mini project ini.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik. Akhir kata, penulis
berharap semoga laporan ini dapat menjadi masukkan yang baik untuk kemajuan
pelayanan kesehatan di UPT Puskesmas Taman Sidoarjo.

Sidoarjo, Mei 2018

Penulis

ii
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KEGIATAN
MINI PROJECT

PERBANDINGAN TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA PROLANIS


TERHADAP DIET PADA DIABETES MELLITUS SEBELUM DAN
SESUDAH PENYULUHAN DIET PADA DIABETES MELLITUS DI
PUSKESMAS TAMAN KABUPATEN SIDOARJO

Diajukan dalam rangka praktek klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari
persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas Taman
Kabupaten Sidoarjo

Disusun Oleh :
dr. A. A. Ayu Adisti Nina Yuniandari
dr. Kevin Anggakusuma Hendrawan

Telah diperiksa dan disetujui pada :


Tanggal 28 Mei 2018

Pembimbing Dokter Internsip Puskesmas Taman

dr. Erwin Berthaningrum


NIP. 198002102011012007

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i

KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................... iii

DAFTAR ISI ............................................................................................................. iv

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 3
1.3 Tujuan .............................................................................................................. 3
1.4 Manfaat ........................................................................................................... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................. 5

2.1 Pengetahuan ..................................................................................................... 5


2.1.1 Definisi ................................................................................................. 5
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan .............................. 6
2.1.3 Sumber Pengetahuan ............................................................................ 7
2.2 Diabetes Mellitus ............................................................................................. 9
2.2.1 Definisi ................................................................................................. 9
2.2.2 Klasifikasi............................................................................................. 9
2.2.3 Faktor Risiko ........................................................................................ 9
2.2.4 Gejala Klinis ......................................................................................... 10
2.2.5 Diagnosis .............................................................................................. 10
2.2.6 Penatalaksanaan ................................................................................... 11
2.3 Diet pada Penderita Diabetes Mellitus ............................................................... 16
2.3.1 Definisi ................................................................................................. 16
2.3.2 Tujuan Diet pada Diabetes Mellitus ..................................................... 17
2.3.3 Diet Khusus pada Diabetes Mellitus .................................................... 17

BAB 3 METODE .................................................................................................... 23

3.1 Metode Pengumpulan Data .............................................................................. 23


3.2 Metode Pelaksanaan ......................................................................................... 23

iv
3.3 Sasaran ............................................................................................................. 23
3.4 Waktu dan Tempat ........................................................................................... 23
3.5 Alur Pelaksanaan Mini Project ........................................................................ 24
3.6 Teknik Analisis Data ........................................................................................ 24

BAB 4 HASIL ......................................................................................................... 25

BAB 5 PEMBAHASAN ......................................................................................... 33

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 35

LAMPIRAN .............................................................................................................. 37

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini epidemi penyakit tidak menular muncul menjadi penyebab kematian
terbesar di Indonesia, sedangkan epidemi penyakit menular juga belum tuntas,
selain itu semakin banyak pula ditemukan penyakit infeksi baru dan timbulnya
kembali penyakit infeksi yang sudah lama menghilang. Sehingga Indonesia
memiliki beban kesehatan ganda yang berat. Berdasarkan studi epidemiologi
terbaru, Indonesia telah memasuki epidemi diabetes melitus tipe 2. Perubahan gaya
hidup dan urbanisasi nampaknya merupakan penyebab penting masalah ini dan terus
menerus meningkat pada milenium baru ini (Perkeni, 2015).
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan
peningkatan angka insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia.
World Health Organization (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah
penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHO
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM Tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta
pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Wild S, 2004). Senada
dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2017,
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 10,3 juta pada tahun 2017
menjadi 16,7 juta pada tahun 2045. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi,
laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM
sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030 (Perkeni, 2015).
Menurut perkiraan, sekitar 50% penduduk dunia dan Indonesia tidak
terdiagnosis menderita DM tipe 2 (underdiagnosed condition). Hal ini disebabkan
tidak adanya gejala atau dengan gejala ringan bagi mereka yang menderita DM
tipe 2 (IDF Diabetes Atlas, 2017). Sehingga sebagian besar penderita
DM tipe 2 tidak mengetahui serta memperdulikan penyakitnya dan
kemudian mendapatkan komplikasi makroangiopati maupun
mikroangiopati yang ireversibel (Pramono et al , 2010). Laporan hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 oleh Kementerian Kesehatan RI,

1
menunjukkan bahwa prevalensi DM di Indonesia untuk penduduk usia diatas 15
tahun sebesar 6,9%. (Kemenkes RI, 2013).

Gambar 1.1 Insidensi Diabetes Melitus (IDF Diabetes Atlas, 2017)


Data-data diatas menunjukkan bahwa jumlah penyandang diabetes di Indonesia
sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri
oleh dokter spesialis/subspesialis atau bahkan oleh semua tenaga kesehatan yang
ada (Perkeni, 2015). Terapi dini dan edukasi terhadap pasien untuk melakukan
manajemen diri sendiri terhadap penyakit diabetes mellitusnya secara efektif,
sebagai kunci penatalaksanaan diabetes mellitus tipe 2 (Robertson C, 2011).
Penderita DM tipe 2 dari tahun ke tahun cenderung meningkat karena banyak
faktor resiko yang menyebabkan penyakit DM tipe 2 misal gaya hidup tidak sehat,
pola makan tidak sehat, sehingga terjadi obesitas yang disertai resistensi insulin
yang berlanjut menjadi DM (Darmono, 2010). Selain itu faktor lingkungan,
pendidikan dan pengalaman dapat juga menyebabkan masyarakat kurang informasi
tentang diet dan tatalaksana pada penyakit DM Tipe 2. Maka dari itu tingkat
pengetahuan pasien DM Tipe 2 tentang pola diet diabetesi sangat diperlukan karena
dapat mempengaruhi status kesehatannya. Namun terkadang seseorang tidak
mengetahui dirinya menderita DM tipe 2 sehingga kurang peduli terhadap pola
makan atau pola hidup sehat (Kariadi, 2009).

2
Salah satu upaya yang mempunyai peran utama adalah pengendalian lipid,
tekanan darah dan kadar gula darah melalui edukasi tentang gaya hidup sehat,
konsumsi gizi seimbang serta memelihara berat badan ideal, hindari hidup stress,
tidur yang cukup dan hidup aktif berolahraga serta tidak merokok. Upaya kuratif
yang mahal seperti perawatan intensif, tidak besar peranannya terhadap penurunan
mortalitas dalam populasi (Soegondo S, 2011).
Berdasarkan data-data di atas, kami melakukan miniporject ini untuk
mengetahui perbedaan tingkat pengetehuan masyarakat yang diwakili oleh peserta
prolanis terhadap diet pada diabetes mellitus sebelum dan sesudah diberikannya
penyuluhan. Diharapkan melalui penyuluhan yang baik, tingkat pengetahuan
masyarakat dapat meningkat sehingga membantu mencegah perburukan dan
bertambahnya penderita diabetes mellitus di masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan peserta prolanis di Puskesmas
Taman Sidoarjo terhadap diet pada diabetes mellitus sebelum dan sesudah
diberikannya penyuluhan mengenai diet pada diabetes mellitus?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan peserta prolanis di Puskesmas
Taman Sidoarjo terhadap diet pada diabetes mellitus sebelum dan sesudah
penyuluhan diet diabetes mellitus.
1.3.2 Tujuan Khusus
• Memberikan penyuluhan mengenai diet pada diabetes mellitus bagi peserta
prolanis di Puskesmas Taman Sidoarjo
• Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan peserta prolanis tentang diet
pada diabetes mellitus mendapat penyuluhan mengenai diet pada DM.
• Mengetahui gambaran tingkat pengetahun peserta prolanis tentang diet pada
diabetes mellitus sesudah mendapat penyuluhan mengenai diet pada DM.
• Menganalisi peran penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan peserta
prolanis tentang diet pada diabetes mellitus.

3
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Program Pelayanan Kesehatan
Memberikan informasi mengenai intervensi yang dapat dilakukan dalam upaya
promotif dan preventif pada penyakit diabetes mellitus.
1.4.2 Bagi Masyarakat
Memeberikan pemahaman bagi masyarakat mengenai diabetes mellitus dan
terutama mengenai diet pada penderita diabetes mellitus sehingga dapat
meningkatkan kualitas hidup penderita DM dan membantu mencegah terjadinya
diabetes mellitus yang diakibatkan oleh pola makan yang salah.
1.4.3 Bagi Peneliti Lain
Sebagai panduan dalam melakukan penelitian sejenis yang lebih kompleks
sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih akurat serta memberikan bahan
referensi tambahan mengenai intervensi yang dapat diberikan untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai diet pada DM.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan
2.1.1 Definisi
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indra manusia, sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmojo, 2003:121). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmojo, 2003).
Tingkat pengetahuan dalam dominan kognitif menurut Notoatmojo (2003)
mempunyai 6 tingkat yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dapat dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau dirangsang yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan
tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat meninterprestasikan materi tersebut
dengan benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus
dapat menjelaskan dan menyebutkan.
3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya).
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur
organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, dan mengelompokkan

5
5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
kriteria-kriteria yang ada.

2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan


1. Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai
saat berulang tahun semakin cukup umur, tingkat kematangan dan
kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja
(Nursalam; Pariani, 2003). Sigit D. Gunarsa (1999) mengemukakan
semakin tua umur seseorang maka proses perkembangan mental ini tidak
secepat seperti berumur belasan tahun. Selain itu Abu Ahmadi (2000)
mengemukakan bahwa memori/daya ingat seseorang itu salah satunya
dipengaruhi oleh umur.
2. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap
orang lain menuju ke arah suatu cita–cita tertentu, jadi dapat dikatakan
bahwa pendidikan itu menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi
kehidupannya untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi
sehingga semakin banyak pula menerima pengetahuan yang dimilikinya
(Nursalam; Pariani, 2003).

6
3. Pekerjaan
Pekerjaan adalah aktivitas yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupan dan kehidupan keluargannya (Nursalam; Pariani,
2003).
4. Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah sehingga tidak begitu
memperhatikan pesan-pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan
kebutuhan- kebutuhan lain yang lebih mendesak (Efendi N, 1998).
5. IQ / Intelegensi
Menurut Abu Ahmadi (2000) semakin tinggi IQ seseorang maka orang
tersebut akan semakin cerdas.
6. Informasi
Pengetahuan juga dapat diperoleh dari informasi-informasi yang diterima
baik melalui poster maupun dalam bentuk penyuluhan.

2.1.3 Sumber Pengetahuan


1. Tradisi
Dengan adat istiadat kita dan profesi dokter atau medis, beberapa pendapat
diterima sebagai sesuatu yang benar. Banyak pertanyaan terjawab dan
banyak permasalahan dapat dipecahkan berdasarkan suatu tradisi. Tradisi
adalah suatu dasar pengetahuan di mana setiap orang tidak dianjurkan untuk
memulai mencoba memecahkan masalah. Akan tetapi tradisi mungkin
terdapat kendala untuk kebutuhan manusia karena beberapa tradisi begitu
melekat sehingga validitas, manfaat, dan kebenarannya tidak pernah
dicoba/diteliti.
2. Autoritas
Dalam masyarakat yang semakin majemuk adanya suatu autoritas seseorang
dengan keahlian tertentu, pasien memerlukan perawat atau dokter dalam
lingkup medik. Akan tetapi seperti halnya tradisi jika keahliannya tergantung
dari pengalaman pribadi sering pengetahuannya tidak teruji secara ilmiah.

7
3. Pengalaman Seseorang
Kita semua memecahkan suatu permasalahan berdasarkan obsesi dan
pengalaman sebelumnya, dan ini merupakan pendekatan yang penting dan
bermanfaat. Kemampuan untuk menyimpulkan, mengetahui aturan dan
membuat prediksi berdasarkan observasi adalah penting bagi pola penalaran
manusia. Akan tetapi pengalaman individu tetap mempunyai keterbatasan
pemahaman : a) setiap pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk
membuat kesimpulan yang valid tentang situasi, dan b) pengalaman
seseorang diwarnai dengan penilaian yang bersifat subyektif.
4. Trial dan Error
Kadang-kadang kita menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita
dalam menggunakan alternatif pemecahan melalui coba dan salah. Meskipun
pendekatan ini untuk beberapa masalah lebih praktis sering tidak efisien.
Metode ini cenderung mengandung resiko yang tinggi, penyelesaiannya
untuk beberapa hal mungkin “idiosentris”.
5. Alasan yang Logis
Kita sering memecahkan suatu masalah berdasarkan proses pemikiran yang
logis. Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan
ilmiah, akan tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas
alasan deduktif tergantung dari informasi dimana seseorang memulai, dan
alasan tersebut mungkin tidak efisien untuk mengevaluasi akurasi
permasalahan.
6. Metode Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu
kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis
serta dalam mengumpulkan dan menganalisa datanya didasarkan pada
prinsip validitas dan reliabilitas (Nursalam, 2003).

8
2.2 DIABETES MELLITUS
2.2.1 Definisi
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin, atau kedua-duanya. (Perkeni, 2015)

2.2.2 Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Mellitus menurut PERKENI 2011 dan ADA 2014 adalah
sebagai berikut:
1. Diabetes Melitus Tipe 1
2. Diabetes Melitus Tipe 2
3. Diabetes Melitus Tipe Lain
a. Akibat defek genetik fungsi sel beta
b. Akibat defek genetik kerja insulin
c. Akibat penyakit eksokrin pankreas
d. Karena obat
e. Akibat kelainan imunologi
f. Akibat sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM
4. Diabetes Melitus Gestasional

2.2.3 Faktor Risiko


Berikut ini adalah faktor resiko terjadinya diabetes mellitus tipe 2 (Soegondo S,
2011) :
a. usia > 45 tahun
b. berat badan lebih
c. hipertensi
d. riwayat genetik DM
e. riwayat abortus
f. Kolesterol HDL ≤ 35 mg/dl
g. Trigliserida ≥ 250 mg/dl

9
2.2.4 Gejala Klinis
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di
bawah ini (Perkeni, 2015) :
a. Keluhan klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

2.2.5 Diagnosis
Diagnosis Diabetes Mellitus ditegakkan jika (Perkeni, 2015 & ADA, 2012) :
a. Adanya gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu ≥ 200
mg/dL (11.1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil
pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan
terakhir, atau
b. Adanya gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dL
(7.0 mmol/L). Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan
sedikitnya 8 jam, atau
c. Kadar gula plasma 2 jam pada TTGO ≥ 200 mg/dL (11.1 mmol/L).
TTGO yang dilakukan harus sesuai standar WHO, menggunakan beban
glukosa yang setara dengan 75 gr glukosa anhidrus yang dilarutkan ke
dalam air, atau
d. Kadar HbA1c ≥ 6.5%, jika dilakukan pada sarana laboratorium yang
telah terstandarisasi dengan baik.

Gambar 2.1 Kadar Glukosa darah untuk mendiagnosis Diabetes Mellitus (ADA, 2010)

10
Gambar 2.2 Alur Diagnosa Diabetes Mellitus (Perkeni, 2015)

2.2.6 Penatalaksanaan
1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes
memerlukan partisipasi aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim
kesehatan mendampingi pasien dalam menuju perubahan perilaku sehat.
Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang
komprehensif dan upaya peningkatan motivasi. Pengetahuan tentang
pemantauan glukosa darah mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia serta cara
mengatasinya harus diberikan kepada pasien. (Perkeni, 2015).

11
Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan
kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal
dibutuhkan perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan
keluarga untuk pengetahuan dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat
terlaksana dengan baik melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari
dokter, ahli gizi, perawat, dan tenaga kesehatan lain. (Kariadi, 2009).
Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani
pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah:
a. Mengikuti pola makan sehat.
b. Meningkatkan kegiatan jasmani.
c. Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus
secara aman dan teratur.
d. Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan
memanfaatkan data yang ada.
e. Melakukan perawatan kaki secara berkala
f. Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan
sakit akut dengan tepat
g. Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan
mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta
mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes
h. Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting
dari pengelolaan DM secara holistik. Materi edukasi terdiri dari materi
edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan. Edukasi yang
diberikan kepada pasien meliputi pemahaman tentang (Darmono, 2010):
Materi edukasi pada tingkat awal adalah:
• Materi tentang perjalanan penyakit DM
• Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara
berkelanjutan
• Penyulit DM dan risikonya
• Intervensi farmakologis dan non-farmakologis serta target pengobatan

12
• Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat hipoglikemik
oral atau insulin serta obat-obatan lain
• Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah
atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri tidak
tersedia)
• Mengatasi sementara keadaan gawat darurat seperti rasa sakit, atau
hipoglikemia
• Pentingnya latihan jasmani yang teratur
• Masalah khusus yang dihadapi (contoh: hiperglikemia pada kehamilan)
• Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan dan pentingnya
perawatan kaki
Materi edukasi pada tingkat lanjut adalah :
• Mengenal dan mencegah penyulit akut DM
• Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM
• Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain
• Makan di luar rumah
• Rencana untuk kegiatan khusus
• Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir
tentang DM
• Pemeliharaan/perawatan kaki
Edukasi dapat dilakukan secara individual dengan pendekatan berdasarkan
penyelesaian masalah. Seperti halnya dengan proses edukasi, perubahan
perilaku memerlukan perencanaan yang baik, implementasi, evaluasi, dan
dokumentasi.

13
Gambar 2.3 Algoritma Pilar penatalaksanaan DM Tipe 2 (Perkeni, 2015)

2. Terapi Nutrisi Medis


Terapi Nutrisi Medis (TNM) merupakan bagian dari penatalaksanaan
diabetes secara total. Kunci keberhasilan TNM adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain
serta pasien dan keluarganya). Setiap penyandang diabetes sebaiknya
mendapat TNM sesuai dengan kebutuhannya guna mencapai sasaran terapi.
Prinsip pengaturan makan pada penyandang diabetes hampir sama dengan
anjuran makan untuk masyarakat umum yaitu makanan yang seimbang dan
sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat gizi masing-masing individu. Pada
penyandang diabetes perlu ditekankan pentingnya keteraturan makan dalam
hal jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan, terutama pada mereka yang
menggunakan obat penurun glukosa darah atau insulin (Hiswani, 2010).
3. Latihan jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan (lihat tabel). Latihan
jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan
dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali

14
glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang
bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang.
Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran
jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa
ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat
dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-
malasan. Hasil penelitian menyebutkan penurunan berat badan disertai
latihan jasmani akan mengurangi dan mencegah timbulnya penyakit DM
sebanyak 5-10% (Soegondo S, 2011).
4. Intervensi/terapi farmakologis
Pengelolaan DM dimulai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani
selama beberapa waktu (2-4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum
mencapai sasaran, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat
hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Terapi farmakologis
diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya
hidup sehat). (Inzucchi et al, 2012).
Rekomendasi ADA untuk penggunaan OHO pada tahun 2012,
menyebutkan:
a. Saat seseorang didiagnosis dengan DM Tipe 2, maka terapi
metformin sebagai inisiasi harus diberikan bersamaan dengan
intervensi perubahan gaya hidup, kecuali terdapat kontraindikasi
penggunaan metformin pada pasien. (A)
b. Pada pasien yang baru didiagnosa DM Tipe 2, yang ditandai dengan
gejala dan/atau peningkatan kadar glukosa plasma atau kadar A1C,
harus dipikirkan terapi insulin , dengan atau tanpa obat tambahan dari
luar (E)
c. Jika monoterapi noninsulin pada dosis maksimal yang dapat
ditoleransi tidak dapat menurunkan target A1c selama lebih dari 3 – 6
bulan, harus ditambahkan obat hipoglikemik jenis kedua, agonis
reseptor GLP 1, atau insulin. (E)
5. Sesuai rekomendasi ADA, bahwa dimulainya intervensi dini saat pasien
didiagnosa DM Tipe 2, yakni kombinasi metformin dan perubahan gaya

15
hidup (MNT dan aktivitas fisik) serta kombinasi dengan OHO jenis lain
maupun insulin sebagai cara untuk memenuhi target kontrol kadar glikemik
(HbA1c 7%) dan mempertahankannya. Jika target A1C tidak tercapai, maka
dipikirkan untuk dilakukannya terapi intensif yakni dengan penambahan
OHO dari kelas yang berbeda. Analisa metadata menunjukkan bahwa secara
keseluruhan, penambahan setiap kelas OHO ke dalam terapi inisial dapat
menurunkan A1c sekitar 0.9 – 1.1% (ADA, 2013).

Gambar 2.4 Gambar algoritme penggunaan OHO bagi penderita DM Tipe 2 (Perkeni,2011)

2.3 Diet pada Penderita Diabetes Mellitus


2.3.1 Definisi
Diet yaitu suatu aturan makan untuk kesehatan dan sebagai bagian yang di
edukasikan oleh dokter untuk berpantang atau menahan diri terhadap makanan
tertentu untuk kesehatan, mengatur kualitas dan jenis makanan untuk
mengurangi berat badan karena penyakit. Diet secara umum untuk penyakit
metabolik dan degeneratif antara lain (Hiswani, 2010) :
1. Diet rendah garam
Jumlah garam yang dapat dikonsumsi oleh pasien DM Tipe 2 dengan
hipertensi adalah sekitar 1500 mikrogram perhari. Pasien yang tidak

16
memiliki penyakit hipertensi diperbolehkan mengkonsumsi garam sekitar
2500 mikrogram perhari. Pengurangan asupan garam di mulai dari makanan
yang sering di konsumsi sehari-hari.
2. Turunkan berat badan (pada pasien yang obesitas dan overweight)
Cara-cara menurunkan berat badan pada pasien hipertensi yang obesitas dan
overweight yaitu dengan :
a. Makan secara teratur dan kurangi porsi makan
b. Kurangi makan-makanan yang berlemak, gurih dan manis seperti
daging berlemak, es krim, coklat, madu, sirup, minuman beralkohol
dan ikan asin.
c. Batasi makan-makanan yang mengenyangkan diluar jam makan
seperti lontong, ketan, mie, roti dan biskuit.
3. Makan-makanan dengan gizi seimbang
Makanan-makanan dengan gizi seimbang adalah semua makanan seperti
karbohidrat, lemak, protein hewani dan protein nabati dalam jumlah yang
cukup dan tidak berlebihan. Buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan
makan-makanan yang sangat dianjurkan.

2.3.2 Tujuan Diet pada Diabetes Mellitus


Tujuan umum penatalaksanaan diet pada DM adalah
1. mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati
normal
2. mencapai dan mempertahankan lipid mendekati normal
3. mencapai dan mempertahankan berat badan agar selalu dalam batas-batas
yang memadai atau berat badan idaman ± 10%
4. mencegah komplikasi akut dan kronik
5. meningkatkan kualitas hidup. (Waspadji, 2004)

2.3.3 Diet Khusus pada Diabetes Mellitus


Pilihan makanan untuk penyandang diabetes dapat dijelaskan melalui piramida
makanan untuk penyandang diabetes (Perkeni, 2015) :

17
Gambar 2.5 Piramida Diet Diabetes

1. Sumber karbohidrat dikonsumsi 3-7 porsi/penukar sehari (tergantung status gizi).


2. Sumber vitamin dan mineral: sayuran 2-3 porsi/penukar, buah 2-4 porsi/penukar
3. Sumber protein: lauk hewani 3 porsi/penukar, lauk nabati 2-3 porsi/penukar sehari.
4. Batasi konsumsi gula, lemak / minyak dan garam.

Komposisi makanan diabetes yang dianjurkan terdiri dari:


1. Karbohidrat
• Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi.
• Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan
• Makanan harus mengandung karbohidrat terutama yang berserat tinggi.
• Gula dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan
sama dengan makanan keluarga yang lain
• Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.
• Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti gula, asal tidak melebihi
batas aman konsumsi harian (Accepted- Daily Intake)
• Makan tiga kali sehari untuk mendistribusikan asupan karbohidrat dalam
sehari. Kalau diperlukan dapat diberikan makanan selingan buah atau makanan
lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.

18
2. Lemak
• Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori. Tidak
diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.
• Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori
• Lemak tidak jenuh ganda < 10 %, selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.
• Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak
jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu penuh (whole
milk).
• Anjuran konsumsi kolesterol <200 mg/hari.
3. Protein
• Dibutuhkan sebesar 10 – 20% total asupan energi.
• Sumber protein yang baik adalah seafood (ikan, udang, cumi,dll), daging tanpa
lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu,
dan tempe.
• Pada pasien dengan nefropati perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8
g/KgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dan 65% hendaknya bernilai
biologik tinggi.
4. Natrium
• Anjuran asupan natrium untuk penyandang diabetes sama dengan anjuran
untuk masyarakat umum yaitu tidak lebih dari 3000 mcg atau sama dengan 6-7
gram (1 sendok teh) garam dapur.
• Mereka yang hipertensi, pembatasan natrium sampai 2400 mcg.
• Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan
pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit.
5. Serat
• Seperti halnya masyarakat umum penyandang diabetes dianjurkan
mengonsumsi cukup serat dari kacang-kacangan, buah, dan sayuran serta
sumber karbohidrat yang tinggi serat, karena mengandung vitamin, mineral,
serat, dan bahan lain yang baik untuk kesehatan.
• Anjuran konsumsi serat adalah ± 25 g/hari.

19
6. Pemanis alternatif
• Pemanis dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.
Termasuk pemanis berkalori adalah gula alkohol dan fruktosa.
• Gula alkohol antara lain isomalt, lactitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.
• Dalam penggunaannya, pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan
kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari.
• Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang diabetes karena efek
samping pada lemak darah.
• Pemanis tak berkalori yang masih dapat digunakan antara lain aspartam,
sakarin, acesulfame potassium, sukralose, dan neotame.
• Pemanis aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted
Daily Intake / ADI)

Kebutuhan kalori
Terdapat beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang
diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang
besarnya 25-30 kalori/kgBB ideal, ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa
faktor seperti: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dan lain lain. Perhitungan
berat badan Ideal (BBI) dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut:
• Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
• Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus
dimodifikasi menjadi :
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
• BB Normal : BB ideal ± 10 %
• Kurus : < BBI - 10 %
• Gemuk: > BBI + 10 %
• Perhitungan berat badan ideal menurut Indeks Massa Tubuh (IMT).
Indeks massa tubuh dapat dihitung dengan rumus:
berat badan (kg)
IMT =
tinggi badan (m) 2
Klasifikasi IMT :
• BB Kurang < 18,5 kg/m2

20
• BB Normal 18,5-22,9 kg/m2
• BB Lebih ≥ 23,0 kg/m2
ü Dengan risiko 23,0-24,9 kg/m2
ü Obes I 25,0-29,9 kg/m2
ü Obes II > 30 kg/m2
( Sumber : WHO WPR/IASO/IOTF dalam The Asia-Pacific Perspective: Redefining
Obesity and its Treatment).

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain :


• Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria. Kebutuhan kalori wanita
sebesar 25 kal/kg BB dan untuk pria sebesar 30 kal/ kg BB.
• Umur
Untuk pasien usia di atas 40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk dekade
antara 40 dan 59 tahun, dikurangi 10% untuk dekade antara 60 dan 69 tahun dan
dikurangi 20% untuk diabetesi di atas usia 70 tahun.
• Aktivitas Fisik atau Pekerjaan
Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.
Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada kedaaan istirahat,
20% pada pasien dengan aktivitas ringan, 30% dengan aktivitas sedang, dan 50%
dengan aktivitas sangat berat.
• Berat Badan
Bila didapatka berat badan masuk ke dalam kategori kegemukan maka akan
dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan. Sebaliknya, bila
kurus ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.
• Untuk tujuan penurunan berat badan jumlah kalori yang diberikan paling sedikit
1000-1200 kkal perhari untuk wanita dan 1200-1600 kkal per hari untuk pria.
Makanan sejumlah kalori terhitung dengan komposisi tersebut di atas dibagi dalam 3
porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi
makanan ringan (10-15%) di antaranya. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien, sejauh
mungkin perubahan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penyandang diabetes

21
yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit
penyertanya (Kariadi 2009 & Perkeni 2011).

Metode pengaturan diet/makan meliputi metoda 3 J, yaitu :


1. Jumlah
Jumlah kalori dari karbohidrat 45-65% dari total kalori. Untuk kepraktisan dapat
diatur 50%. Jumlah kebutuhan dihitung berdasarkan kebutuhan kalori per hari.
2. Jenis
Diupayakan makanan yang dikonsumsi adalah makanan yang tinggi serat dan
rendah kalori terutama makanan yang manis dan tinggi gula.
3. Jadwal
Terbagi 6 jadwal teratur yaitu 3 kali makan utama dan 3 kali makanan selingan
(camilan/snack).

Beberapa contoh metode lain yang digunakan dalam pengaturan diet diabetes:
a. Metode model piring (plate model) yaitu 1 piring dibagi 4 kuadran setara porsi
telapak tangan. Sayur dan buah sebanyak 2 telapak tangan, nasi 1 porsi telapak
tangan, daging/tahu/tempe 1 porsi telapak tangan.

Gambar 2.6. Diet Metode Piring (plate model)


b. Metode satuan penukar dari Ukuran Rumah Tangga/URT (food exchange)
c. Metode Hitung karbohidrat (carbo-counting) yaitu menghitung kalori dari makanan,
metode ini tertama untuk diabetes dengan terapi insulin
d. Metode lainnya : Hand Jive, Indeks Glikemik/Load glikemik

22
BAB III
METODE

3.1. Metode Pengumpulan Data


Data yang dikumpulkan berupa data primer melalui kuesioner pada peserta prolanis
yang hadir pada penyuluhan Prolanis di Puskesmas Taman. Sampel data primer
diambil dengan menggunakan metode accidental sampling sejumlah 50 responden.

3.2. Metode Pelaksanaan


Pelaksanaan mini project dilakukan dengan metode edukasi/penyuluhan langsung.
Kuesioner pre dan post test diberikan sebelum dan setelah pemberian penyuluhan
mengenai diet pada diabetes mellitus. Kuesioner pre dan post test berisi pertanyaan
yang sama dan telah dilampirkan pada laporan ini.
Kuesioner yang diberikan berisi mengenai data umum dan data tingkat pengetahuan
pada DM. Pada data umum terdapat beberapa pertanyaan meliputi jenis kelamin,
pendidikan terakhir, pekerjaan, apakah responden pernah didiagnosis menderita
DM, dan apakah responden pernah menerima informasi mengenai diet pada DM.
Untuk data kuesioner tingkat pengetahuan terdapat 15 pertanyaan. Dari 15
pertanyaan tersebut diberikan nilai 0 dan 1 untuk tiap pertanyaan. Nilai 0 diberikan
bila jawaban salah dan nilai 1 diberikan bila jawaban benar. Dari total skor yang
didapat, diklasifikasikan tingkat pengetahuan responden menjadi :
• BAIK bila nilai 12 – 15 poin
• CUKUP bila nilai 9 – 11 poin
• KURANG bilai nilai 0 – 8 poin

3.3. Sasaran
Peserta prolanis yang hadir mengikuti kegiatan penyuluhan rutin pada tanggal 28
April 2018 di Puskesmas Taman Kabupaten Sidoarjo.

3.4. Waktu dan Tempat


Pelaksanaan mini-project dilaksanakan di Ruang Pertemuan Amarylis Puskesmas
Taman Kabupaten Sidoarjo pada hari Sabtu/28 April 2018.

23
3.5. Alur Pelaksanaan Mini-Project
Alur kerja dari project ini digambarkan dalam Gambar 3.1 di bawah ini.

Populasi Project

Sampel Project

Pengumpulan Data kuesioner


pre-test

Penyuluhan Diet pada Diabetes


Mellitus


Pengumpulan data kuesioner
post-test

Analisis dan pengolahan data


secara statistik

3.6. Teknik Analisis Data


Data yang terkumpul dari kuesioner disajikan secara deskriptif. Nilai pre-test dan
post-test dibandingkan untuk melihat perbedaan nilai yang diperoleh responden dan
signifikansinya secara statistik. Data nilai pre-test dan post-test dianalisis secara
statistik menggunakan SPSS dengan metode analisis statistik komparasi paired t-
test.

24
BAB IV
HASIL

PROFIL PUSKESMAS TAMAN


4.1. Profil Komunitas Umum
Wilayah kerja Puskesmas Taman merupakan daerah industri dan terdapat lebih dari
150 perusahaan besar dan kecil selain industri rumah tangga. Kepadatan penduduk
jauh diatas rata-rata Kab. Sidoarjo dengan mobilitas penduduk yang cukup tinggi.
Hampir 20 % penduduknya adalah penduduk musiman (pekerja yang indekos).
Sebagai daerah industri dengan penduduk yang sangat padat, penyakit yang
berkaitan dengan kondisi lingkungan seperti ISPA, Diare, Typhus Abdominalis,
DBD dan lain-lain perlu mendapat perhatian. Apalagi dari 15 Desa/Kelurahan,
tidak ada yang bebas dari ancaman DBD. Perlu juga diwaspadai lokasi-lokasi yang
rawan bencana, di sekitar industri yang berpotensi menimbulkan ledakan /
kebakaran serta pencemaran lingkungan disamping kemungkinan terjadinya banjir
di musim hujan.

4.2. Data Geografis


Dengan luas 19,71 km² ( 3,10 % dari luas Kabupaten Sidoarjo ), wilayah kerja
Puskesmas Taman terbagi menjadi 8 Kelurahan, 7 Desa yang semuanya sudah
Swasembada dengan 101 RW dan 448 RT.
Wilayah kerja Puskesmas Taman terletak di Kecamatan Taman dengan ketinggian
± 9 m dari permukaan laut dan suhu 26 – 35° C. Berjarak ± 17 km arah barat laut
Kabupaten Sidoarjo.
Batas Wilayah :
{ Sebelah Utara : Kecamatan Karang Pilang, Kodya Surabaya.
{ Sebelah Timur : Kecamatan Waru.
{ Sebelah Selatan : Kecamatan Sukodono.
{ Sebelah Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Trosobo, Kec. Taman.

25

Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Taman

4.3. Data Demografik


Jumlah penduduk Wilayah kerja Puskesmas Taman berdasarkan proyeksi BPS
(SUPAS) Kabupaten Sidoarjo tahun 2017 adalah 147.010 jiwa, dengan 42.987
rumah tangga/KK atau rata-rata 3,37 jiwa per rumah tangga. Perkiraan laju
pertumbuhan penduduk selama 5 tahun terakhir rata-rata per tahun 1,84%. Tingginya
laju pertumbuhan penduduk ini kemungkinan disebabkan migrasi masuk cukup
banyak karena wilayah puskesmas Taman merupakan daerah industri dan sangat
dekat dengan wilayah kota Surabaya.
Tingkat kepadatan penduduk di Wilayah Puskesmas Taman Rata-rata 7.345 jiwa per
Km2 hampir 2,17 kali kepadatan penduduk Kabupaten Sidoarjo yang rata-rata
3.334,2 jiwa per Km2 . Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dilihat dari
perkembangan rasio jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dan
perempuan. Jumlah penduduk wilayah kerja Puskesmas Taman Tahun 2017 sebesar
147.010 jiwa. Perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan relatif
seimbang yaitu 73.151 (49,76%) jiwa penduduk laki-laki dan 73.859 (50,24%)
jiwa penduduk perempuan.
Berdasarkan kelompok umur, persentase penduduk wilayah kerja Puskesmas
Taman terdiri dari : 8,23 % penduduk umur 0 - 4 tahun, 8,43 % penduduk umur 5-9

26
tahun, 7,74 % penduduk umur 10 – 14 tahun, 51,72 % penduduk umur 15-44 tahun,
19,50 % penduduk umur 45-64 tahun, dan 4,37% penduduk umur 65 tahun keatas.
Berdasarkan melek huruf dan ijazah tertinggi yang diperoleh, persentase penduduk
wilayah kerja Puskesmas Taman terdiri dari sebesar 15% lulusan tingkat SD/MI,
15,65% lulusan tingkat SMP/MTs, 24,94% lulusan tingkat SMA/MA, 6,28%
lulusan tingkat Diploma I/II, 3,53% lulusan tingkat Akademi/Diploma III, lulusan
Universitas/Diploma IV sebesar 0,44%.

4.4. Sumber Daya Kesehatan yang Ada


Di Puskesmas Taman seperti halnya di sektor kesehatan lainnya, banyak kategori
maupun jenis ketenagaan dengan latar belakang pendidikan dan kewenangan yang
berbeda. Lebih jelas, dapat disimak pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Tenaga Puskesmas Taman Tahun 2017

NO JENIS TENAGA Tahun 2017

1 Dokter 8
2 Dokter Gigi 2
3 SKM/Ka.Sub.Bag. TU 1
4 Perawat 27
5 Bidan PN/PTT 17
6 Petugas Gizi 2
7 Sanitarian 1
8 Analis Laboratorium 3
9 Perawat Gigi 2
10 Assisten Apoteker 3
11 Refraksionist 1
12 Pekarya 4
13 Juru Imunisasi 1
14 Administrasi 15
Sopir, Penjaga, Petugas Kebersihan,
15 8
Pramusaji dll
94

27
HASIL PENELITIAN
4.5. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 April 2018 di Puskesmas Taman pada
program rutin Senam Prolanis Puskesmas Taman. Jumlah sampel/responden yang
diperoleh sebanyak 41 responden. Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan
pengukuran menggunakan kuesioner pretest dan posttest yang diisi langsung oleh
responden.

4.6. Karakteristik Responden


Tabel 4.2 Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah Persentase (%)

Laki-laki 6 14,6%

Perempuan 35 85,4%

Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas sebagian besar responden (85,4%) merupakan perempuan.

Tabel 4.3 Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan

Jumlah Persentase (%)

Perguruan Tinggi 4 9,8%

SMA 22 53,7%

SMP 8 19,5%

SD 5 12,2%
TIdak Sekolah 2 4,9%

Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden memiliki
tingkat pendidikan terakhir SMA (53,7%) dan diikuti oleh jenjang pendidikan SMP
(19,5%), SD (12,2%), Perguruan Tinggi (9,8%), serta 2 orang (4,9%) responden tidak
sekolah.

28
Tabel 4.4 Distribusi Responden berdasarkan Diagnosis Menderita Diabetes Mellitus

Terdiagnosis DM Jumlah Persentase

Tidak 29 70,7%

Ya 12 29,3%

Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 41 responden terdapat 12 orang
(29,3%) yang terdiagnosis menderita Diabetes Mellitus sedangkan sisanya tidak pernah
didiagnosis menderita diabetes melitus.

Tabel 4.5 Distribusi Responden yang menderita Diabetes Mellitus berdasarkan lama sejak
terdiagnosis DM

Jumlah Persentase

< 1 tahun 3 25%


1 – 10 tahun 5 41,7%

> 10 tahun 4 33,3%


Total 12 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 12 orang responden yang menderita
diabetes melitus terdapat sebanyak 3 responden (25%) yang terdiagnosis < 1 tahun, 5
responden (41,7%) telah didiagnosis dalam rentang 1 – 10 tahun, dan sisanya 4
responden (33,3%) telah terdiagnosis DM lebih dari 10 tahun.

Tabel 4.6 Distribusi Responden berdasarkan Pernah/Tidak Menerima Informasi mengenai Diet
pada Diabetes Mellitus

Jumlah Persentase

Pernah 25 61%

Tidak Pernah 16 39%

Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terdapat 25 responden (61%) yang pernah
memperoleh informasi mengenai diet pada DM dan sisanya sebanyak 16 responden
(39%) belum pernah menerima informasi mengenai diet pada DM.

29
Tabel 4.7 Distribusi Responden yang pernah mendapat informasi mengenai diet pada diabetes
mellitus berdasarkan sumber informasi

Jumlah Persentase

Keluarga 1 4,0%

Tenaga Kesehatan 23 92%

Media Elektronik 1 4%

Media Cetak 0 0%

Total 25 100%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dari 25 orang responden pernah
menerima informasi mengenai diet pada DM, sebagian besar (92%) memperoleh
informasi tersebut dari tenaga kesehatan.

4.7. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Diet pada Diabetes Mellitus


Sebelum Pemberian Penyuluhan
Tabel 4.8 Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Pengetahuan pada Pre-Test

Tingkat Pengetahuan Pre Jumlah Persentase

Baik 15 36,6%

Cukup 22 53,7%

Kurang 4 9,8%
Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden (53,7%) memiliki tingkat


pengetahuan tentang diabetes melitus yang cukup pada pretest (sebelum menerima
materi penyuluhan) sedangkan 36,6% memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan
hanya 9,8% memiliki tingkat pengetahuan yang kurang.

30
4.8. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Diet pada Diabetes Mellitus
Setelah Pemberian Penyuluhan
Tabel 4.9 Distribusi Responden berdasarkan Tingkat Pengetahuan pada Post-Test

Tingkat Pengetahuan Post Jumlah Persentase

Baik 24 58,5%
Cukup 17 41,5%

Kurang 0 0%

Total 41 100%

Berdasarkan tabel di atas, sebagian besar responden (58,5%) memiliki tingkat


pengetahuan tentang diabetes melitus yang baik setelah mendapatkan penyuluhan
atau mengalami peningkatan sebesar 22% pada kategori tingkat pengetahuan baik.
Sebanyak 41,5% sisanya memiliki tingkat pengetahuan cukup dan tidak didapatkan
responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang.

4.9. Hasil Analisis Statistik Perbandingan Tingkat Pengetahuan Sebelum dan


Sesudah Penyuluhan
Berdasarkan semua data yang telah terkumpul, dilakukan analisis komprasi antara
nilai pre-test dan post-test menggunakan tehnik analisis kompratif Paired t-test.
Nilai α ditetapkan sebesar 0,05 sehingga perbedaan dianggap signifikan bila nilai
signifikansi atau nilai p < 0,05. Berdasarkan analisis tersebut didapatkan hasil
sebagai berikut:
Tabel 4.10 Rerata dan Deviasi Standar Nilai Pre-test dan Post-test
Rata-Rata Deviasi Standar
Skor Pre-Test 10,78 ± 1,54
Skor Post-Test 11,68 ± 1,21
Berdasarkan analisis statistik didapatkan rerata skor pre-test adalah 10,78 dengan
deviasi standar ± 1,54. Rerata skor post-test mengalami peningkatan sebanyak 0,9
poin menjadi 11,68 dengan deviasi standar sebesar ±1,21.

31
Tabel 4.11 Hasil Analisis Korelasi antara nilai Pre-Test dan Post-Test
Korelasi Sig. (p)
Skor Pre-Test dan 0.483 0.001
Post-Test
Tabel di atas menunjukkan bahwa skor pre-test dan post-test memiliki korelasi
yang kuat dengan nilai r=0.482 dan p=0.001.

Tabel 4.12 Hasil Analisis Paired T-Test antara nilai Pre-Test dan Post-Test
Paired Differences
Std. Confidence
Std. p (2-
Mean Error Interval 95% t df
Deviation tailed)
Mean Lower Upper
Skor Pre-
Test dan -0.9 1,43 0.22 -1.35 -0.45 -4.40 40 .000
Post-Test

Berdasarkan analisis statistik komparasi, didapatkan adanya perbedaan yang


signifikan (p=0.000) antara skor pre-test dan post-test yang telah dilakukan
sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian penyuluhan dapat meningkatkan
tingkat pengetahuan responden.

32
BAB V
PEMBAHASAN

Diet pada diabetes mellitus merupakan salah satu upaya non-farmakologis yang
bukan hanya berperan baik bagi penderita diabetes mellitus melainkan juga baik dalam
pencegahan terjadinya diabetes mellitus. Dengan diet yang baik diharapkan penderita
diabetes mellitus dapat mengontrol kadar gula darahnya bersama dengan terapi
farmakologis serta masyarakat yang belum menderita diabetes mellitus dapat
melakukan upaya preventif agar tidak menderita diabetes mellitus.
Upaya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap diet pada diabetes mellitus
dapat dilakukan dengan berbagai upaya yang salah satunya adalah pemberian
penyuluhan. Efektivitas pemberian penyuluhan salah satunya dapat diukur berdasarkan
peningkatan pengetahuan dari peserta penyuluhan. Dalam miniproject ini, dilakukan
pengukuran tingkat pengetahuan responden dengan alat ukur kuesioner yang diberikan
sebelum dan sesudah pemberian penyuluhan untuk dapat dibandingkan hasilnya.
Berdasarkan hasil yang telah dianalisis secara statistik, terdapat peningkatan
pada tingkat pengetahuan responden tentang diet pada diabetes mellitus. Hal ini terlihat
dari peningkatan rerata skor, yaitu pada pre-test sebesar 10,78 menjadi 11,68 pada post-
test. Peningkatan ini berdasarkan uji statistik memiliki perbedaan yang signifikan
(p=0.000) sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian penyuluhan memiliki peran
yang baik dalam peningkatan pengetahuan responden. Berdasarkan data ini, dapat
disimpulkan bahwa pemberian penyuluhan dapat memberikan dampak positif pada
peningkatan pengetahuan dan pemahaman responden.
Berdasarkan hal tersebut diusulkan bagi petugas kesehatan di puskesmas untuk
dapat mengadakan kegiatan penyuluhan rutin dengan sasaran kegiatan yang diperluas
agar program promotif dan preventif dalam penanggulangan diabetes mellitus dapat
berdampak baik.

33
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
6.1.1 Tingkat pengetahuan responden terhadap diet pada diabetes mellitus
sebelum diberikannya penyuluhan mengenai diet pada diabetes mellitus
adalah 36,6% kategori baik, 53,7% kategori cukup dan 36,6% kategori
kurang.
6.1.2 Tingkat pengetahuan responden terhadap diet pada diabetes mellitus
setelah diberikannya penyuluhan mengenai diet pada diabetes mellitus
adalah 58,5% kategori baik dan 41,5% kategori cukup.
6.1.3 Secara keseluruhan didapatkan tingkat pengetahuan responden setelah
diadakan penyuluhan mayoritas responden mengalami peningkatan
tingkat pengetahuan mengenai diet pada diabetes mellitus.
6.1.4 Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik pada nilai pre-test
dan post-test tingkat pengetahuan responden tentang diet pada diabetes
mellitus.

6.2 Saran
6.2.1 Bagi Responden
Mini project ini diharapkan menjadi salah satu upaya untuk
meningkatkan pengetahuan mengenai diet pada diabetes mellitus
sehingga responden dapat menularkan ilmunya kepada masyarakat dan
turut serta membantu upaya promotif dan preventif terhadap
penanggulangan diabetes mellitus.
6.2.2 Bagi Puskesmas
Diharapkan penyuluhan mengenai diet pada diabetes mellitus dapat
dijadikan program rutin dan dapat diberikan kepada kader-kader
kesehatan puskesmas agar dapat lebih banyak mencakup masyarakat di
wilayah kerja puskesmas.

34
DAFTAR PUSTAKA

American Diabetes Association : Position Statement 2012 : Standards of Medical Care


in Diabetes-2012. J Diabetes Care, Volume 35, Supplement 1 :s11-s63.
American Diabetes Association. Position statement 2010 : Standards of Medical Care in
Diabetes 2010. J Diab Care. 2010;33 (Suppl.1)
American Diabetes Association: Executive Summary 2013 : Standards of Medical Care
in Diabetes-2013. J Diabetes Care, Volume 36, Supplement 1:S1-S110.
Beigi FI. 2012. Glycemic Management of Type 2 Diabetes Mellitus. J N Engl J Med
366;14: 1319-1327
Chen L, Maglianno DJ, Zimmet PZ. 2012. The Worldwide Epidemiology of Type 2
Diabetes Mellitus-Present and Future Perspectives. J Nature Reviews
Endocrinology 8, 228-236.
Darmono, Joko. 2010. Pengaturan Pola Hidup Penderita Diabetes Untuk Mencegah
Komplikasi Kerusakan Organ-Organ Tubuh. Jakarta : Erlangga
Hiswani. Peranan Gizi dalam Diabetes Mellitus. 2010. Digital Library : FK USU.
International Diabetes Federation (IDF). Diabetes Atlas 2017. 8th Ed. International
Diabetes Federation (IDF). Belgium. 2017.
Inzucchi SE, Bergenstal, RM, Buse JB, Diamant M, Ferrannini E, Nauck M, et al.,2012.
Position Statement : Management of Hyperglycemia in Type 2 Diabetes: A
Patient-Centered Approach: Position Statement of the American Diabetes
Association (ADA) and the European Association for the Study of Diabetes
(EASD). J Diabetes Spectrum Volume 25, Number 3: 154-171.
Kariadi, Sri hastuti. 2009. Diabetes : Panduan Lengkap Untuk Diabetesi. Jakarta :
Mizan Media Utama
Noto Atmojo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. 2003. Konsep Penerapan Metode Penelitian. Jakarta: Salemba Medika.
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2015. Konsensus Pengendalian dan Pencegahan
Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia PERKENI 2015. Jakarta : PB PERKENI
2015.

35
Perkeni 2011: Meningkatkan Efikasi Terapi Diabetes Melitus Tipe 2 at :
http://www.perkeni.org/?page=buletin.detail&id=128.Accesed on : June 21st,
2012
Pramono LA, Setiati S, Soewondo P, Subekti I, Adisasmita A, Kodim N, Sutrisna B.
Prevalence and Predictors of Undiagnosed Diabetes Mellitus inn Indonesia. Acta
Med Indones. 2010 Oct;42(4): 216-23.
Robertson C. 2011. Incretin-Related Therapies in Type 2 Diabetes: A Practical
Overview. J Diabetes Spectrum Vol 24 No.1:26-35
Schernthaner G, Barnett AH, Betteridge DJ, Carmena R, Ceriello A, Charbonnel B,et
al., 2010. For Debate : Is The ADA/EASD Algorithm for The Management of Type
2 Diabetes (January 2009) based on Evidence or Opinion? A Critical Analysis. J
Diabetologia 53:1258–1269.
Soegondo S. 2011. Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Mellitus Terkini. Dalam: Sudoyo
AW. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi VI Jilid 3 . Jakarta : Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Soegondo, Sidartawan. 2009. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Edisi II
cetakan ke-7. Jakarta : Fakultas Kedokteran UI.
The National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health,
Republic of Indonesia (KEMENKES RI) 2008. Report on result of National Basic
Health research (RISKESDAS) 2007.
Waspadji, dkk. Pedoman Diet Diabetes Melitus. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2004.
Wild S, Roglic G, Green A, Sicree R, King H. Global prevalence of diabetes : estimates
for the year 2000 and projections for 2030. J Diabetes Care 27:1047–1053, 2004
Ziegler D. Diabetic Peripheral Neuropathy And Neuropathy Pain Management. J
Diabetes Care 2009 : 31 (Suppl.2)

36
Lampiran 1

KUESIONER TINGKAT PENGETAHUAN


DIET PADA DIABETES MELLITUS

1. Bacalah dengan cermat dan teliti pada setiap item pertanyaan.


2. Isilah titik dibawah ini dan berilah tanda centang (√) pada pilihan yang sesuai
3. Terima kasih telah bersedia meluangkan waktu untuk mengisi kuesioner ini.

DATA DEMOGRAFI
Nama Inisial : ………………………
Umur : ……………………....
Jenis Kelamin : ( ) Laki-laki ( ) Perempuan

1. Pendidikan terakhir
( ) Tidak sekolah ( ) SD ( ) SMP
( ) SMA ( ) Perguruan Tinggi
2. Pekerjaan
( ) PNS ( ) Wiraswasta ( ) Buruh ( ) lainnya, sebutkan……

DATA KUESIONER
1. Apakah anda pernah didiagnosis oleh dokter menderita diabetes mellitus
(kencing manis)?
( ) Ya ( ) Tidak
Bila Ya, berapa lama anda telah menderita diabetes mellitus?
( ) ≤ 1 tahun ( ) 1 – 10 tahun ( ) ≥ 10 tahun

2. Apakah sebelumnya anda pernah mendapatkan informasi mengenai diet pada


penderita diabetes mellitus?
( ) Pernah ( ) Tidak Pernah
Jika Pernah, dari mana anda memperoleh informasi tersebut?
( ) Keluarga ( ) Tenaga Kesehatan ( ) Media elektronik
( ) Media Cetak

37
KUESIONER TINGKAT PENGETAHUAN DIET PADA
DIABETES MELLITUS

No. Pertanyaan BENAR SALAH


1 Pola makan yang salah bisa menyebabkan
penyakit diabetes melitus, atau penyakit-penyakit yang
lainnya seperti hipertensi, kolesterol tinggi, dan
penyakit jantung.
2 Pola makan yang teratur bisa menyebabkan penyakit
diabetes melitus
3 Pola makan yang salah bisa meningkatkan kadar gula
darah
4 Jumlah makanan yang diberikan kepada
penderita diabetes mellitus disesuaikan berdasarkan
tinggi rendahnya kadar gula darah
5 Jumlah makanan yang diberikan kepada
penderita diabetes melitus disesuaikan dengan berat
badan
6 Jumlah makan penderita diabetes melitusharus
memenuhi proporsi menu makan yang seimbang
7 Makanan yang diberikan kepada penderita diabetes
melitus harus dengan jumlah yang banyak agar
kebutuhannya tercukupi
8 Jenis kelamin tidak dapat mempengaruhi diet bagi
penderita diabetes melitus
9 Pekerjaan dapat mempengaruhi diet bagi
penderita diabetes melitus
10 Umur tidak akan mempengaruhi diet bagi
penderita diabetes melitus
11 Penderita diabetes melitus dianjurkan mengkonumsi
susu yang kadar lemaknya tinggi
12 Penderita diabetes melitus tidak dibatasi
mengkonsumsi makanan seperti gula, madu, sirup, kue
kukis, dodol, dan kue-kue manis lainnya.
13 Jadwal makan penderita diabetes melitus biasanya 6
kali makan, 3 kali makan utama (nasi, lauk dan sayur)
dan 3 kali selingan (buah-buahan)
14 Penderita diabetes melitus harus makan hanya pada
waktu pagi dan siang hari saja
15 Jumlah total kalori yang diberikan kepada
penderita diabetes melitus disesuaikan menurut jadwal
makan penderita diabetes melitus

38
Lampiran 2
Foto Kegiatan Penyuluhan Diet pada Diabetes Mellitus

39