Anda di halaman 1dari 18

PENGARUH LOGAM TERHADAP IKAN

Gambar. Rantai Makanan


(sumber: http://www.hijauku.com)

Elemen-elemen metalik (logam) secara alami berasal dari pelapukan batuan-batuan bumi, dan
ikan merupakan salah satu mahluk hidup yang terkena dampak langsung proses alami ini.
Masuknya elemen-elemen atau ion-ionl ogam berat ke badan air khususnya dalam konsentrasi
yang sangat tinggi semakin diperparah oleh kegiatan industri.
Pencemaran tanah dan perairan oleh komponen logam berat dapat menyebabkan
terjadinya toksemia (keracunan) pada ikan yang mungkin menyebabkan kematian seketika,
akumulasi biologis, keracunan kronis dan perubahan-perubahan fungsi fisiologis yang akan
mengurangi kemanpuan ikan dalam bertahan hidup. Keracunan secara kronis dapat
mengakibatkan menurunnya kemampuan bereproduksi, malformasi bentuk tubuh,
ketidakmampuan untuk menghindari predasi serta rentan terhadap serangan penyakit-penyakit
berbahaya. Data-data mengenai dampak logam berat terhadap ikan dapat dilihat pada Tabel 1.
Logam-logam yang terlarut di dalamair memiliki beberapa bentuk kimiawi, ada yang
bersifat racun dan ada yang tidak. Tingkat asam/basa (pH) air merupakan faktor yang sangat
berperan mengarahkan apakan bentuk kimiawi logam terlarut tersebut beracun atau tidak. Pada
pH yang tinggi, beberapa logam akan berbentuk hidrosida atau karbonat yang relatif sukar
terlarut.
Senyawa-senyawa ini cenderung terpresipati atau tetap berbentuk partikulat-partikulat
yang tidak beracun yang terlarut dalam air. Sebagian logam-logam lainnya cenderung akan
berbentuk komponen yang mudah terlarut dalam pH yangt inggi.
􀂈 Sumber Logam Beracun
Sumber-sumber logam beracun pada perairan dapat berasal dari proses alamiah maupun
akibat kegiatan manusia seperti pembuangan limbah industri atau pertambangan ke perairan
terbuka. Terkadang sumber pencemaran logam beracun hanya berasal dari satu lokasi, tapi
karena adanya pergerakan air sepanjang alur sungai atau arus dari satu perairan keperairan
lainnya dapat menyebabkan meluaskan lokasi perairan yang tercemar.
Di beberapa perairan dengan tingkat pencemaran logam berbahaya yang tinggi, kadang-
kadang ditemukanlokasi perairan yang sama sekali tidak ditemukan kehidupan hewan-hewan
akuatik atau ikan. Perairan-perairan yang dekat dengan lokasi pertambangan, hunian yang padat
serta pengolahan minyak bumi umumnya memiliki tingkat konsentrasi logam berbahaya yang
tinggi diperairan sekitarnya.
Logam-logam berbahaya yang dibuang oleh industri dapat langsung masuk ke badan air
atau yang berbentuk senyawa gas-gas dapat masuk keperairan melalui interaksi antara air udara
atau melalui run-off air permukaan akibat hujan.
􀂈Prosedur Diagnosis
Logam-logam beracun dapat menyebabkan kematian atau efek-efek sublethal terhadap
ikan. Banyak senyawa atau ion logam-logam beracun yang terakumulasi di dalam tubuh ikan
terutama pada organ hati, ginjal, insang, jantung, limpa dan tulang. Bila diamati dengan
menggunakan miskroskop, akan terlihat perubahan-perubahan patologis pada organ-organ
tersebut apabila sampel ikan yang diperiksa merupakan ikan yang terpapar oleh logam-logam
beracun. Analisis kuantitatif terhadap akumulasi kandungan logam-logam beracun pada tubuh
ikan juga diperlukan untuk kegiatan diagnosis.
Selain itu, diperlukan juga analisis terhadap kondisi perairan terutama sedimen dasar
perairan dan organisme yang merupakan sumber makanan bagiikan tersebut. Efek-efek sublethal
(tidak sampai mematikan) akibat keracunan logam lebih sulit untuk di diagnosis. Akumulasi
logam-logam berbahaya pada jaringan tubuh ikan mungkin telah mencapai batas berbahaya
tetapi belum menyebabkan kematian pada ikan.
Kemampuan bereproduksi mungkin menurun tetapi tidak hilang sama sekali. Gejala-
gejala sublethal yang akan timbulcenderung mirip dengan gejala penyakit akibat malnutrisi.
Melalui pengujian histopatologi akan terlihat degeneratif yang parah pada jaringan tubuh dan
organ-organ vital ikan yang berbeda dengan gejala keracunan yang disebabkan oleh faktor lain.
Nilai-nilai kimiawi darah dari hasil uji hematologis mungkin akan rendah tetapi masih
dalam ketagori normal. Analisis enzimatik juga cenderung menghasilkan hasil yang serupa, yaitu
terjadi penurunan akrifiktas enzim-enzim tertentu tepai masih dalam batas yang normal. Kadang-
kadang pengujian kondisi lingkungan perairan diperlukan untuk memastikan diagnosis ini.
Analisa kualitas air untuk menguji komponen-komponen logam berbahaya sangat penting
untuk mengetahui secara kuantitatif tingkat toksisitas logam berbahaya terhadap ikan. Hubungan
antara kesadahan air dan pH terhadap tingkat toksisitas telah banyak dipelajari dan
dipublikasikan. Selain itu perlu juga dilakukan pengujian terhadap pengaruh faktor-faktor
kualitas air lainnya seperti alkalinitas, kandungan bahan/material terlarut danlain-lainnya.
Tabel 1. Pengaruh konsentrasi logam terhadap perikanan
No. Jenis TLm (ppm) Konsentrasi Keterangan
Logam Aman (ppm)
1 Alumunium 0,3 (24 Jam) ≤ 0,1 Tingkat kelarutan maksimum 0,05 mg/L
pada pH 7; 5 mg/L pada pH 9
2 Arsenik 1,1 – 2,2 (48 jam) ≤ 0,7 Terkonsentrasi dalam rantai makanan
Sebagai 14,1 – 14,4
arsenite

3 Cadmium 0,01 – 10,0 ≤ 0,001 Tergantung pada kesadahan air, faktor


lingkungan dan spesies ikan
4 Chromiun 5,0 – 118,0 (96 ≤ 0,05 Tergantung pada kualitas air, derajat
ikan kovalen (hexavalent atau trivalent)
Jam)
dan jenis senyawa
5 Tembaga 3.0 – 7,0 (48 jam) ≤ 0,015 Tergantung pada kesadahan air,
sinergitas dengan senyawa lainnya di
(Copper)
dalam air dan spesies ikan
6 Besi (Iron) 0,1 – 10,0 (24 – ≤ 0,03 Tingkat kelarutan besi tergantung pada
pH; besi dalam bentuk hidrosida dapat
48 jam)
terserap oleh insang dan menyebabkan
gangguan penyerapan oksigen pada pH
7 atau lebih tinggi; Tingkat toksisitas
tergantung pada kesadahan air.
7 Timbal (Lead) 1,0 – 7,0 pada ≤ 0,03 Tingkat kelarutan tergantung pada pH;
’soft water’, toksisitas tergantung pada kesadahan
400+ pada ’hard air.
water’ (96
Jam)
8 Mangan 2,2 – 4,1 (24 jam) - Bentuk permanganat lebih beracun
dibandingkan bentuk lainnya; senyawa
(manganese)
mangan bersifat tidak stabil dan
terpresipitasi sebagai oksida pada pH
lebih dari 7,5
9 Merkuri 1,0 0,0005 Akumulasi biologis pada tubuh ikan
sebesar 0,5 mgc Hg setiap gram berat
tubuh ikan
10 Nikel 5 – 43 (96 jam) ≤ 0,03 Toksisitas tergantung pada kesadahan
air
11 Perak 0,004 – 0,2 0,0001 – 0,0005 Toksisitas tergantung pada kandungan
Sebagai 280 – 360 (96 16 – 35 bahan-bahan organik di air, bentuk
sulfida + jam) senyawa perak dan lainnya.
Thiosulfat
komplek
12 Uranium 2,8 – 135,0 (96 - Toksisitas tergantung pada kesadahan
air
jam)
13 Zinc 0,87 – 33,0 (96 ≤ 0,05 Toksisitas tergantung pada kesadahan
air dan komponen logam lainnya dalam
jam)
air.
Keterangan:
TLm=Nilai tengah (median) batas toleransi dimana 50% individu dapat bertahan hidup dalam air yang terdapat
logam berbahaya dalam konsentrasi tertentu dan untuk waktu pemaparan yang tertentu pula.

Sumber:
Kusbiandany, S. 2008.InfoKarikan Vol. 5 No. 1 | April 2008 | 30.
Jenis Logam Berat Berbahaya dalam Perairan

Kontaminasi logam berat pada lingkungan perairan merupakan masalah besar dunia saat ini. Persoalan
spesifik logam berat di lingkungan terutama karena akumulasinya sampai pada rantai makanan dan keberadaannya
di alam, serta meningkatnya sejumlah logam berat yang menyebabkan keracunan terhadap tanah, udara dan air
meningkat. Proses industri dan urbanisasi memegang peranan penting terhadap peningkatan kontaminasi tersebut.
Suatu organisme akan kronis apabila produk yang dikonsumsikan mengandung logam berat. Berikut ini penjelasan
singkat menganai logam berat dan standar kesehatannya.

1. Antimony (Sb). Antimony dapat dijumpai secara alamiah di lingkungan dalam jumlah yang kecil, tetapi dengan
adanya kegiatan industri elemen ini dapat dijumpai dalam jumlah cukup besar. Kuantitasnya di lingkungan
adalah sebagai berikut; sebagai endapan rata-rata sebesar 0.03-0.31 ppb, endapan lumpur (Thames, UK)
sebesar 1.3-12.7 ppm, pada air sungai (Thames, UK) levelnya berkisar 0.09-0.86 ppb, lima air sungai Jepang Sb
dijumpai sebesar 0.07-0.29 ppb, air danau (Biwa, Jepang) berkisar 0.09-0.46 ppb, air laut (di perairan China)
sebesar 0.8-0.9 ppb, perairan Jepang sebasar 0.18 ppb, tanah sebesar 4.3-7.9 ppm, rambut manusia berkisar
0.03-1.63 ppm, ambient partikel (didaerah industri Jepang) berkisar 58-1170 ppm. Sifat racun antimony setara
dengan arsenik dan bismut. Seperti halnya arsenik, antimony bervalensi tiga lebih beracun dibandingkan dengan
antimony bervalensi lima.

2. Arsenik (As). Arsenik diakui sebagai komponen essensial bagi sebagian hewan dan tumbuh-tumbuhan, namun
demikian arsenik lebih populer dikenal sebagai raja racun dibandingkan kapasitasnya sebagai komponen
essensial. Pada permukaan bumi, arsenik berada pada urutan ke-20 sebagai element yang berbahaya, ke-14 di
lautan, dan unsur ke-12 berbahaya bagi manusia. Senyawa ini labil dalam bentuk oksida dan tingkat racunnya
sama seperti yang dimiliki oleh beberapa elemen lainnya, sangat tergantung pada bentuk struktur kimianya.
Tingkat toksisiti senyawa ini adalah arsines > arsenites (inorganik, trivalen) > arsenoxides (organik, trivalen) >
arsenates (inorganik, pentavalen) > methylated arsenik. Senyawa methylated arsenik memiliki tingkat racun
yang sangat rendah dibanding dengan senyawa arsenik lainnya. Tingkat racunnya adalah monomethylated
arsenik (MMA) > dimethylated arsenik (DMA) > trimethylated arsenik (TMA) » 0. Arsenik dapat berikatan kuat
dengan gugus thiol dan protein, menyebabkan penurunan kemampuan koordinasi penggerak, gangguan pada
urat saraf, pernafasan, serta ginjal. Namun demikian, arsenik tidak menghambat system enzim. Proses alam
seperti berbagai fluktuasi cuaca mengakibatkan batu-batuan dan gunung berapi memberikan kontribusi yang
besar ke lingkungan. Disamping itu masuknya arsenik dalam jumlah besar ke lingkungan berasal dari sumber-
sumber lainnya yang meliputi; pertambangan minyak, emas, dan batubara, pembangkit tenaga listrik,
pestisida,keramik, peleburan logam dan pabrik-pabrik pupuk. Di beberapa negara Asia, kontaminasi arsenik
telah tersebar secara luas seperti yang dilaporkan oleh team survey dari Asia Arsenic Network (AAN).
Kontaminasi ini terus akan berkembang sejalan dengan meningkatnya usaha pengeksplorasian berbagai
sumber alam di mana arsenik terdapat di dalamnya. Oleh karenanya beberapa negara, seperti Jepang dan
Jerman pada tahun 1993 telah mengubah batas maksimum yang diizinkan untuk kandungan arsenic di perairan
dari 0,05 menjadi 0.01 ppm, sedangkan bagi Indonesia dan negara Asia lainnya angka tersebut masih 0.05
ppm.
3. Kadmium (Cd). Kadmium merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya karena elemen ini beresiko
tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan
dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal. Secara prinsipil pada konsentrasi rendah berefek
terhadap gangguan pada paru-paru, emphysema dan renal turbular disease yang kronis. Jumlah normal
kadmium di tanah berada di bawah 1 ppm, tetapi angka tertinggi (1700 ppm) dijumpai pada permukaan sample
tanah yang diambil di dekat pertambangan biji seng (Zn). Kadmium lebih mudah diakumulasi oleh tanaman
dibandingkan dengan ion logam berat lainnya seperti timbal. Logam berat ini bergabung bersama timbal dan
merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat bahaya tertinggi pada kesehatan manusia.

4. Kromium (Cr). Kromium merupakan elemen berbahaya di permukaan bumi dan dijumpai dalam kondisi oksida
antara Cr(II) sampai Cr(VI), tetapi hanya kromium bervalensi tiga dan enam memiliki kesamaan sifat biologinya.
Kromium bervalensi tiga umumnya merupakan bentuk yang umum dijumpai di alam, dan dalam material biologis
kromium selalu berbentuk tiga valensi, karena kromium enam valensi merupakan salah satu material organik
pengoksida tinggi. Kromium tiga valensi memiliki sifat racun yang rendah dibanding dengan enam valensi. Pada
bahan makanan dan tumbuhan mobilitas kromium relatif rendah dan kebanyakan berasal dari makanan,
sedangkan konsumsinya dari air dan udara dalam level yang rendah.

5. Kobal (Co). Logam berat ini memiki tingkat racun yang tinggi terhadap tumbuhan. Kebanyakan tumbuhan
memerlukan cairan elemen ini dalam konsentrasi tidak lebih dari 1 ppm. Biasanya kobal yang terkandung di
tanah diperkirakan sebesar 10 ppm, sebagai komponen esensial. Dosis kematian (LD50) bagi tikus sebesar
1.3×10-3 mol/kg.

6. Tembaga (Cu). Tembaga bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada konsentrasi larutan di atas 0.1 ppm.
Konsentrasi yang aman bagi air minum manusia tidak lebih dari 1 ppm. Bersifat racun bagi domba pada
konsentrasi di atas 20 ppm. Konsentrasi normal komponen ini di tanah berkisar 20 ppm dengan tingkat mobilitas
sangat lambat karena ikatan yang sangat kuat dengan material

7. Timbal (Pb). Timbal merupakan logam berat yang sangat beracun, dapat dideteksi secara praktis pada seluruh
benda mati di lingkungan dan seluruh sistem biologis. Sumber utama timbal adalah berasal dari komponen
gugus alkil timbal yang digunakan sebagai bahan aditif bensin. Komponen ini beracun terhadap seluruh aspek
kehidupan. Timbal menunjukkan beracun pada sistem saraf, hemetologic, hemetotoxic dan mempengaruhi kerja
ginjal. Konsumsi mingguan elemen ini yang direkomendasikan oleh WHO toleransinya bagi orang dewasa
adalah 50 μg/kg berat badan dan untuk bayi atau anak-anak 25 μg/kg berat badan.

8. Merkuri (Hg). Keracunan merkuri pertama sekali dilaporkan terjadi di Minamata, Jepang pada tahun 1953.
Kontaminasi serius juga pernah diukur di sungai Surabaya, Indonesia tahun 1996. Sebagai hasil dari kuatnya
interaksi antara merkuri dan komponen tanah lainnya, penggantian bentuk merkuri dari satu bentuk ke bentuk
lainnya selain gas biasanya sangat lambat. Proses methylisasi merkuri biasanya terjadi di alam di bawah kondisi
terbatas, membentuk satu dari sekian banyak elemen berbahaya, karena dalam bentuk ini merkuri sangat
mudah terakumulasi pada rantai makanan. Karena berbahaya, penggunaan fungisida alkylmerkuri dalam
pembenihan tidak diizinkan di banyak negara.

9. Nikel (Ni). Elemen ini cenderung lebih beracun pada tumbuhan. Selama masih mudah di ambil oleh tanaman dari
tanah, pembuangan limbah yang mengandung nikel masih sangat perlu diperhatikan. Total nikel yang
terkandung dalam tanah berkisar 5-500 ppm. Konsentrasi pada air tanah biasanya berkisar 0,005-0,05 ppm, dan
kandungan pada tumbuhan biasanya tidak lebih dari 1 ppm (kering).

10. Seng (Zn). Penggunaan elemen ini pada proses galvinasi besi sangat luas. Seng biasanya dijumpai pada tanah
dengan level 10-300 ppm dengan perkiraan kasar rata-rata 30-50 ppm. Lumpur pembuangan biasanya
mengandung seng dengan kadar tinggi. Elemen ini lebih bersifat aktif di tanah.
11. Stronsium (Sr). Stronsium bersifat isomorphously menggantikan peranan kalsium pada tulang dan bahkan lebih
aktif dibandingkan dengan kalsium, serta dapat menyebabkan penyakit Urov (Osteoarthritis Deformans
Endemica).

12. Selenium (Se). Selenium merupakan elemen essensial bagi hewan dan juga merupakan prioritas utama elemen
pencemar yang dapat didegradasi pada sistem akuatik. Selenium masuk ke lingkungan secara alami sejalan
dengan proses kegiatan manusia. Secara normal, selenium terdapat pada organisme perairan melalui proses
perubahan cuaca secara alami. Selenium juga masuk ke perairan lingkungan melalui leaching fly-ash serta dari
limbah produksi pembakaran batu-bara pada pembangkit-pembangkit tenaga listrik di mana selenium
terkandung dalam level yang tinggi.

Pencemaran logam berat meskipun dalam konsentrasi rendah dalam perairan sangat berbahaya bagi biota
didalamnya. Dampak logam berat sangat meracuni bagi manusia yang mengkonsumsi ikan dari perairan tercemar.
Hal ini karena konsentrasi logam berat dalam ikan yang dikonsumsi sudah berada pada taraf diatas ambang batas
akibat proses bioakumulasi.
BAHAYA LOGAM BERAT PADA IKAN

Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat dapat dibagi dalam dua jenis.
Jenis pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu
sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat
menimbulkan efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain
sebagainya. Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, di
mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat
bersifat racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan lain-lain. Logam berat ini dapat menimbulkan efek
kesehatan bagi manusia tergantung pada bagian mana logam berat tersebut terikat dalam
tubuh. Daya racun yang dimiliki akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga
proses metabolisme tubuh terputus. Lebih jauh lagi, logam berat ini akan bertindak sebagai
penyebab alergi, mutagen, teratogen atau karsinogen bagi manusia. Jalur masuknya adalah
melalui kulit, pernapasan dan pencernaan.

Berdasarkan daya hantar panas dan listriknya merkuri (Hg) dimasukkan dalam
golongan logam. Sedangkan berdasarkan densitasnya, dimasukkan ke dalam golongan
logam berat. Merkuri memiliki sifat-sifat :

1. Kelarutan rendah;

2. Sifat kimia yang stabil terutama di lingkungan sedimen;

3. Mempunyai sifat yang mengikat protein, sehingga mudah terjadi biokonsentrasi


pada tubuh organisme air melalui rantai makanan;

4. Menguap dan mudah mengemisi atau melepaskan uap merkuri beracun walaupun
pada suhu ruang;

5. Logam merkuri merupakan satu-satunya unsur logam berbentuk cair pada suhu
ruang 25oC;

6. Pada fase padat berwarna abu-abu dan pada fase cair berwarna putih perak;

7. Uap merkuri di atmosfir dapat bertahan selama 3 (tiga) bulan sampai 3 (tiga)
tahun sedangkan bentuk yang melarut dalam air hanya bertahan beberapa
minggu.
Merkuri terdapat sebagai komponen renik dari minyak mineral, dengan bantuan
kontinental yang rata-rata mengandung sekitar 80 ppb atau lebih kecil lagi. senyawa-
senyawa alkil merkuri lebih tahan urai daripada senyawa alkil atau merkuri anorganik, oleh
karena itu senyawa alkil merkuri lebih berbahaya sebagai bahan pencemar. Merkuri masuk
ke lingkungan perairan berasal dari berbagai sumber yang timbul dari penggunaan unsur itu
oleh manusia seperti buangan laboratorium kimia, batu baterai bekas, pecahan termometer,
fungisida kebun, tambal gigi amalgam dan buangan farmasi.

Merkuri yang terdapat dalam limbah atau waste di perairan umum diubah oleh
aktifitas mikro-organisme menjadi komponen metil-merkuri (Me-Hg) yang memiliki sifat
racun (toksik) dan daya ikat yang kuat disamping kelarutannya yang tinggi terutama dalam
tubuh hewan air. Hal tersebut mengakibatkan merkuri terakumulasi baik melalui proses
bioakumulasi maupun biomagnifikasi yaitu melalui rantai makanan (food chain) dalam
jaringan tubuh hewan-hewan air, sehingga kadar merkuri dapat mencapai level yang
berbahaya baik bagi kehidupan hewan air maupun kesehatan manusia yang makan hasil
tangkap hewan-hewan air tersebut. Terjadinya proses akumulasi merkuri di dalam tubuh
hewan air, karena kecepatan pengambilan merkuri (up take rate) oleh organisme air lebih
cepat dibandingkan dengan proses ekresi, yaitu karena metil-merkuri memiliki paruh waktu
sampai beberapa ratus hari di tubuh hewan air, sehingga zat ini menjadi terakumulasi dan
konsentrasinya beribu kali lipat lebih besar dibanding air disekitarnya.

Bioakumulasi adalah peningkatan konsentrasi suatu zat sepanjang rantai makanan.


Berikut ini adalah gambaran bagaimana perjalanan metil-merkuri dari air hingga masuk ke
dalam tubuh manusia dan binatang :

1. Metil-merkuri di dalam air dan sedimen dimakan oleh bakteri, binatang kecil dan
tumbuhan kecil yang dikenal sebagai plankton;

2. Ikan kecil dan sedang kemudian memakan bakteri dan plankton tersebut dalam
jumlah yang sangat besar sepanjang waktu;

3. Ikan besar kemudian memakan ikan kecil tersebut, dan terjadilah akumulasi
metil-merkuri di dalam jaringan. Ikan yang lebih tua dan besar mempunyai
potensi yang lebih besar untuk terjadinya akumulasi kadar merkuri yang tinggi di
dalam tubuhnya;
4. Ikan tersebut kemudian ditangkap dan dimakan oleh manusia dan binatang,
menyebabkan metil-merkuri berakumulasi di dalam jaringannya.

Ikan dapat mengabsorbsi metil-merkuri melalui makanannya dan langsung dari air
dengan melewati insang. Oleh karena merkuri terikat dengan protein di seluruh jaringan
ikan, termasuk otot, maka tidak ada metoda pemasakan atau pencucian ikan untuk
mengurangi kadar merkuri di dalamnya.

Pengaruh langsung pollutan terhadap ikan biasa dinyatakan sebagai lethal (akut),
yaitu akibat-akibat yang timbul pada waktu kurang dari 96 jam atau sublethal (kronis),
yaitu akibat-akibat yang timbul pada waktu lebih dari 96 jam (empat hari). Sifat toksis yang
lethal dan sublethal dapat menimbulkan efek genetik maupun teratogenik terhadap biota
yang bersangkutan. Pengaruh lethal disebabkan gangguan pada saraf pusat sehingga ikan
tidak bergerak atau bernapas akibatnya cepat mati. Pengaruh sub lethal terjadi pada organ-
organ tubuh, menyebabkan kerusakan pada hati, mengurangi potensi untuk perkembang-
biakan, pertumbuhan dan sebagainya. Seperti peristiwa yang terjadi di Jepang, dimana
penduduk disekitar teluk Minamata keracunan metil-merkuri akibat hasil buangan dari suatu
pabrik. Metil-merkuri yang terdapat dalam ikan termakan oleh penduduk disekitar teluk
tersebut. Ikan-ikan yang mati disekitar teluk Minamata mempunyai kadar metil merkuri
sebesar 9 sampai 24 ppm.

Faktor-faktor yang berpengaruh di dalam proses pembentukan metil-merkuri adalah


merupakan faktor-faktor lingkungan yang menentukan tingkat keracunannya. Merkuri yang
diakumulasi dalam tubuh hewan air akan merusak atau menstimuli sistem enzimatik, yang
berakibat dapat menimbulkan penurunan kemampuan adaptasi bagi hewan yang
bersangkutan terhadap lingkungan yang tercemar tersebut. Pada ikan, organ yang paling
banyak mengakumulasi merkuri adalah ginjal, hati dan lensa mata.

Toksisitas logam-logam berat yang melukai insang dan struktur jaringan luar
lainnya, dapat menimbulkan kematian terhadap ikan yang disebabkan oleh proses
anoxemia, yaitu terhambatnya fungsi pernapasan yakni sirkulasi dan eksresi dari insang.
Unsur-unsur logam berat yang mempunyai pengaruh terhadap insang adalah timah, seng,
besi, tembaga, kadmium dan merkuri.

Keracunan merkuri pertama sekali dilaporkan terjadi di Minamata, Jepang pada


tahun 1953. Kontaminasi serius juga pernah diukur di sungai Surabaya, Indonesia tahun
1996. Pengaruh pencemaran merkuri terhadap ekologi bersifat jangka panjang, yaitu
meliputi kerusakan struktur komunitas, keturunan, jaringan makanan, tingkah laku hewan
air, fisiologi, resistensi maupun pengaruhnya yang bersifat sinergisme. Sedang
pengaruhnya yang bersifat linier terjadi pada tumbuhan air, yaitu semakin tinggi kadar
merkuri semakin besar pengaruh racunnya. Metil-merkuri diketahui mengganggu
perkembangan janin, mengakibatkan cacat lahir pada janin yang ibunya terpajan merkuri.

Pengaruh dari toksisitas merkuri terhadap tubuh antara lain : kerusakan syaraf,
termasuk menjadi pemarah, paralisys, kebutaan atau ganguan jiwa, kerusakan kromosom
dan cacat bayi dalam kandungan. gejala-gejala ringan akibat keracuna merkuri adalah
depresi dan suka marah-marah yang merupakan sifat dari penyakit kejiwaan, sakit kepala,
sukar menelan, penglihatan menjadi kabur, daya dengan menurun, merasa tebal di bagian
kaki dan tangannya, mulut terasa tersumbat oleh logam, gusi membengkak dan disertai
diare, lemah badan, dan cacat pada janin manusia.

Merkuri dengan konsentrasi tinggi kadang kala di dapatkan di perairan dan jaringan
ikan yang berasal dari pembentukan ion monoetil merkuri yang larut, CH 3Hg+ dan (CH3)2
Hg, oleh bakteri anaerobik di dalam sedimen, merkuri dari senyawa-senyawa ini menjadi
pekat di dalam lemak jaringan ikan (penguat biologis) dapat mencapai 103.

Sebagai hasil dari kuatnya interaksi antara merkuri dan komponen tanah lainnya,
penggantian bentuk merkuri dari satu bentuk ke bentuk lainnya selain gas biasanya sangat
lambat. Proses methylisasi merkuri biasanya terjadi di alam di bawah kondisi terbatas,
membentuk satu dari sekian banyak elemen berbahaya, karena dalam bentuk ini merkuri
sangat mudah terakumulasi pada rantai makanan. Karena berbahaya, penggunaan
fungisida alkylmerkuri dalam pembenihan tidak diizinkan di banyak negara.

Logam Berat di Surabaya

SELURUH limbah beracun yang ada dalam lingkungan air memiliki kadar tertentu. Lewat
proses pencernaan, maka limbah tadi dapat masuk ke dalam tubuh biota, baik ikan maupun
tumbuhan air. Apabila racun tadi tak dapat diuraikan, maka akan terjadi biomagnifikasi di
dalam tubuh biota. Apabila biota tadi dikonsumsi lagi oleh biota dalam taraf trofis yang lebih
tinggi, maka konsentrasi zat racun per kilogram berat badan biota akan meningkat.

Di Indonesia, dari hasil penelitian Effendi (1996) ditemukan residu pestisida pada plankton
sebesar 0,04 ppm, pada tanaman air sebesar 0,08 ppm, pada kerang 0,42 ppm, pada ikan
1,20 ppm, dan pada bebek 3,5 ppm. Manusia yang makan bebek tersebut akan memiliki
kadar pestisida dalam tubuhnya lebih besar lagi.
Saat ini, bila melihat data-data kesehatan dari beberapa hasil penelitian memberikan
indikasi bahwa kadar logam berat maupun pestisida dalam tubuh warga Surabaya telah di
atas ambang batas. Penelitian Vera Hakim (1998) rata-rata kadar Pb darah anak-anak di
Kenjeran 59,62 mikrogram/dl, untuk populasi anak-anak Surabaya sesuai penelitian
Soesanto (1997) rata-rata-nya 39,73 mikrogram/dl.

Padahal, nilai ambang batas menurut WHO adalah 10 mikrogram/dl. Kondisi ini sudah
cukup berdampak pada anak-anak Surabaya, antara lain menurunnya IQ sampai empat
poin, kurang konsentrasi dalam belajar sehingga prestasi belajar menurun, berperilaku
agresivitas tinggi, penyakit kanker serta penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Itu di
antaranya disebabkan mengonsumsi ikan yang tercemar limbah.(Abdul Rohim T,2008)

Ikan yang dijual di pasar-pasar Surabaya saat ini juga ada yang ditemukan mengandung
kadar logam berat dan kadarnya tidak bisa ditolerir lagi. Hasil penelitian Ririh dan kawan-
kawan (1998) ditemukan kadar Pb (tembaga) dan Cd (cadmium) yang terkandung dalam
ikan yang dijual di Surabaya telah melewati ambang batas WHO (dalam penelitian itu juga
dilaporkan bahwa 92,3 persen responden di Surabaya mengonsumsi ikan setiap hari), Kadar
Hg (raksa) pada ikan di Surabaya rata-rata 70,72 mikrogram/l (standar WHO = 30
mikrogram/ l) dan kadar Pb dalam ikan 70,72 mikrogram/l (standar WHO 200
mikrogram/l), bila mengacu pada standar EPA Amerika Serikat dan ADI (Acceptable Daily
Intake) kadar semua logam karat tersebut telah di atas ambang batas
BAHAYA LOGAM BERAT BAGI KESEHATAN

MANUSIA bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi
juga akibat mengasup makanan yang tercemar logam berat. Sumbernya sayur-sayuran
dan buah-buahan yang ditanam di lingkungan yang tercemar atau daging dari ternak
yang makan rumput yang sudah mengandung logam berat yang sangat berbahaya bagi
kesehatan manusia.

Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin
meningkat jumlahnya. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan merupakan
suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan bahan tersebut oleh
manusia.
Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri yang menggunakan
logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama saat
membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat
berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara).
Sumber utama kontaminan logam berat sesungguhnya berasal dari udara dan air yang
mencemari tanah. Selanjutnya semua tanaman yang tumbuh di atas tanah yang telah
tercemar akan mengakumulasikan logam-logam tersebut pada semua bagian (akar,
batang, daun dan buah).
Ternak akan memanen logam-logam berat yang ada pada tanaman dan menumpuknya
pada bagian-bagian dagingnya. Selanjutnya manusia yang termasuk ke dalam
kelompok omnivora (pemakan segalanya), akan tercemar logam tersebut dari empat
sumber utama, yaitu udara yang dihirup saat bernapas, air minum, tanaman (sayuran
dan buah-buahan), serta ternak (berupa daging, telur, dan susu).
Sesungguhnya, istilah logam berat hanya ditujukan kepada logam yang mempunyai
berat jenis lebih besar dari 5 g/cm3. Namun, pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid
yang mempunyai sifat berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut.
Dengan demikian, yang termasuk ke dalam kriteria logam berat saat ini mencapai lebih
kurang 40 jenis unsur. Beberapa contoh logam berat yang beracun bagi manusia
adalah: arsen (As), kadmium (Cd), tembaga (Cu), timbal (Pb), merkuri (Hg), nikel (Ni),
dan seng (Zn).
Arsen
Arsen (As) atau sering disebut arsenik adalah suatu zat kimia yang ditemukan sekitar
abad-13. Sebagian besar arsen di alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa
substansi inorganik. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan
terpapar pada manusia. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health
(1975), arsen inorganik bertanggung jawab terhadap berbagai gangguan kesehatan
kronis, terutama kanker. Arsen juga dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang
sangat kuat.
Merkuri
Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang ada secara alami, merupakan satu-
satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Logam murninya berwarna
keperakan, cairan tak berbau, dan mengkilap. Bila dipanaskan sampai suhu 3570C, Hg
akan menguap. Selain untuk kegiatan penambangan emas, logam Hg juga digunakan
dalam produksi gas klor dan soda kaustik, termometer, bahan tambal gigi, dan baterai.
Walaupun Hg hanya terdapat dalam konsentrasi 0,08 mg/kg kerak bumi, logam ini
banyak tertimbun di daerah penambangan. Hg lebih banyak digunakan dalam bentuk
logam murni dan organik daripada bentuk anorganik. Logam Hg dapat berada pada
berbagai senyawa. Bila bergabung dengan klor, belerang, atau oksigen, Hg akan
membentuk garam yang biasanya berwujud padatan putih. Garam Hg sering digunakan
dalam krim pemutih dan krim antiseptik.
Timbal
Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh
masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri
nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah
sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan
dari pertambangan.
Dalam pertambangan, logam ini berbentuk sulfida logam (PbS), yang sering disebut
galena. Senyawa ini banyak ditemukan dalam pertambangan di seluruh dunia. Bahaya
yang ditimbulkan oleh penggunaan Pb ini adalah sering menyebabkan keracunan.
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk,
mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam
untuk mencegah perkaratan. Bila dicampur dengan logam lain, membentuk logam
campuran yang lebih bagus daripada logam murninya, mempunyai kepadatan melebihi
logam lain.
Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai zat pewarna),
penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat antiletup pada
bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai
formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai
banyak kemungkinan kontak dengan Pb (Saeni, 1997).
Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman.
Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam
tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada
bagian tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut.
Tembaga
Tidak seperti logam-logam Hg, Pb, dan Cd, logam tembaga (Cu) merupakan
mikroelemen esensial untuk semua tanaman dan hewan, termasuk manusia. Logam Cu
diperlukan oleh berbagai sistem enzim di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Cu
harus selalu ada di dalam makanan. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar
kadar Cu di dalam tubuh tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan.
Kebutuhan tubuh per hari akan Cu adalah 0,05 mg/kg berat badan. Pada kadar tersebut
tidak terjadi akumulasi Cu pada tubuh manusia normal. Konsumsi Cu dalam jumlah
yang besar dapat menyebabkan gejala-gejala yang akut.
Logam Cu yang digunakan di pabrik biasanya berbentuk organik dan anorganik. Logam
tersebut digunakan di pabrik yang memproduksi alat-alat listrik, gelas, dan zat warna
yang biasanya bercampur dengan logam lain seperti alloi dengan Ag, Cd, Sn, dan Zn.
Garam Cu banyak digunakan dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan
“Bordeaux” yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk membasmi jamur pada sayur dan
tumbuhan buah. Senyawa CuSO4 juga sering digunakan untuk membasmi siput
sebagai inang dari parasit, cacing, dan juga mengobati penyakit kuku pada domba
(Darmono, 1995).
Sumber Kontaminan
Kandungan alamiah logam pada lingkungan dapat berubah-ubah, tergantung pada
kadar pencemaran oleh ulah manusia atau perubahan alam, seperti erosi. Kandungan
logam tersebut dapat meningkat bila limbah perkotaan, pertambangan, pertanian, dan
perindustrian yang banyak mengandung logam berat masuk ke lingkungan.
Dari berbagai limbah tersebut, umumnya yang paling banyak mengandung logam berat
adalah limbah industri. Hal ini disebabkan senyawa atau unsur logam berat
dimanfaatkan dalam berbagai industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun
sebagai bahan tambahan.
Penyebab utama logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena
sifatnya yang tidak dapat dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada
di lingkungan. Akibatnya, logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama
mengendap di dasar perairan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik
dan anorganik secara adsorbsi dan kombinasi.
Arsen banyak ditemukan di dalam air tanah. Hal ini disebabkan arsen merupakan salah
satu mineral yang memang terkandung dalam susunan batuan bumi. Arsen dalam air
tanah terbagi dalam dua bentuk, yaitu bentuk tereduksi, terbentuk dalam kondisi
anaerobik, sering disebut arsenit. Bentuk lainnya adalah bentuk teroksidasi, terjadi pada
kondisi aerobik, umum disebut sebagai arsenat (Jones, 2000).
Hg anorganik (logam dan garam Hg) terdapat di udara dari deposit mineral dan dari
area industri. Logam Hg yang ada di air dan tanah terutama berasal dari deposit alam,
buangan limbah, dan akitivitas vulkanik. Logam Hg dapat pula bersenyawa dengan
karbon membentuk senyawa Hg organik.
Senyawa Hg organik yang paling umum adalah metil merkuri, yang terutama dihasilkan
oleh mikroorganisme (bakteri) di air dan tanah. Bila bakteri itu kemudian termakan oleh
ikan, ikan tersebut cenderung memiliki konsentrasi merkuri yang tinggi.
Logam ini digunakan secara luas untuk mengekstrak emas dari bijihnya, baik sebelum
maupun sesudah proses sianidasi digunakan. Ketika Hg dicampur dengan bijih
tersebut, Hg akan membentuk amalgam dengan emas atau perak. Untuk mendapatkan
emas dan perak, amalgam tersebut harus dibakar untuk menguapkan merkurinya.
Para penambang emas tradisional menggunakan merkuri untuk menangkap dan
memisahkan butir-butir emas dari butir-butir batuan. Endapan Hg ini disaring
menggunakan kain untuk mendapatkan sisa emas. Endapan yang tersaring kemudian
diremas-remas dengan tangan. Air sisa-sisa penambangan yang mengandung Hg
dibiarkan mengalir ke sungai dan dijadikan irigasi untuk lahan pertanian.
Selain itu, komponen merkuri juga banyak tersebar di karang, tanah, udara, air, dan
organisme hidup melalui proses fisik, kimia, dan biologi yang kompleks. Walaupun
mekanisme keracunan merkuri di dalam tubuh belum diketahui dengan jelas, beberapa
hal mengenai daya racun merkuri dapat dijelaskan sebagai berikut (Fardiaz, 1992):
1. Semua komponen merkuri dalam jumlah cukup, beracun terhadap tubuh.
2. Masing-masing komponen merkuri mempunyai perbedaan karakteristik dalam daya
racun, distribusi, akumulasi, atau pengumpulan, dan waktu retensinya di dalam tubuh.
3. Transformasi biologi dapat terjadi di dalam lingkungan atau di dalam tubuh, saat
komponen merkuri diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
4. Pengaruh buruk merkuri di dalam tubuh adalah melalui penghambatan kerja enzim
dan kemampuannya untuk berikatan dengan grup yang mengandung sulfur di dalam
molekul enzim dan dinding sel.
5. Kerusakan tubuh yang disebabkan merkuri biasanya bersifat permanen, dan sampai
saat ini belum dapat disembuhkan.
Sumber kontaminan timbal (Pb) terbesar dari buatan manusia adalah bensin beraditif
timbal untuk bahan bakar kendaraan bermotor. Diperkirakan 65 persen dari semua
pencemaran udara disebabkan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.
Cemaran logam Cu pada bahan pangan pada awalnya terjadi karena penggunaan
pupuk dan pestisida secara berlebihan. Meskipun demikian, pengaruh proses
pengolahan akan dapat mempengaruhi status keberadaan tersebut dalam bahan
pangan.
Kebun Sayur di Pinggir Jalan Berbahaya
Logam berat dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar pada tanaman seperti
padi, rumput, beberapa jenis leguminosa untuk pakan ternak, dan sayuran. Logam
berat seperti Pb, Cd, Cu, dan Zn sering terakumulasi pada komoditi tanaman.
Kandungan merkuri pada beras yang dipanen dari sawah dengan irigasi air limbah
penambangan emas tradisional di Nunggul dan Kalongliud sekitar Pongkor, Bogor,
Jawa Barat, masing-masing mencapai 0,45 dan 0,25 ppm (Sutono, 2002).
Sumber bahan pangan lain yang dilaporkan tinggi kadar timbalnya adalah makanan
kaleng (50-100 mkg/kg), jeroan terutama hati dan ginjal ternak (150 mkg/kg), ikan (170
mkg/kg). Kelompok yang paling tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-
udangan (crustacea), yaitu rata-rata lebih tinggi dari 250 mkg/kg (Winarno dan Rahayu,
1994).
Jenis bahan pangan lain yang mengandung kontaminan timbal cukup tinggi adalah
sayuran yang ditanam di tepi jalan raya. Kandungan rata-ratanya sebesar 28,78 ppm,
jauh di atas batas aman yang diizinkan Direktorat Jendral Pengawas Obat dan
Makanan, yaitu sebesar 2 ppm (Winarno, 1997).
Cemaran tembaga (Cu) terdapat pada sayuran dan buah-buahan yang disemprot
dengan pestisida secara berlebihan. Penyemprotan pestisida banyak dilakukan untuk
membasmi siput dan cacing pada tanaman sayur dan buah.
Arsen terkandung dalam ikan dan makanan laut lainnya, seperti udang, cumi-cumi, dan
kerang. Kandungan arsen dalam makanan laut mencapai angka lebih dari 4,5
mikrogram arsen/g berat basah. Arsen juga terdapat dalam daging dan sayur-sayuran,
namun jumlahnya amat kecil.
Dari Tremor Sampai ke Kematian
Sulit untuk menduga seberapa besar akibat yang ditimbulkan oleh adanya logam berat
dalam tubuh. Namun, sebagian besar toksisitas yang disebabkan oleh beberapa jenis
logam berat seperti Pb, Cd, dan Hg adalah karena kemampuannya untuk menutup sisi
aktif dari enzim dalam sel.
Hg mempunyai bentuk kimiawi yang berbeda-beda dalam menimbulkan keracunan
pada mahluk hidup, sehingga menimbulkan gejala yang berbeda pula. Toksisitas Hg
dalam hal ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu toksisitas organik dan anorganik.
Pada bentuk anorganik, Hg berikatan dengan satu atom karbon atau lebih, sedangkan
dalam bentuk organik, dengan rantai alkil yang pendek. Senyawa tersebut sangat stabil
dalam proses metabolisme dan mudah menginfiltrasi jaringan yang sukar ditembus,
misalnya otak dan plasenta. Senyawa tersebut mengakibatkan kerusakan jaringan yang
irreversible, baik pada orang dewasa maupun anak (Darmono, 1995).
Toksisitas Hg anorganik menyebabkan penderita biasanya mengalami tremor. Jika
terus berlanjut dapat menyebabkan pengurangan pendengaran, penglihatan, atau daya
ingat.
Senyawa merkuri organik yang paling populer adalah metil merkuri yang berpotensi
menyebabkan toksisitas terhadap sistem saraf pusat. Kejadian keracunan metil merkuri
paling besar pada makhluk hidup timbul di tahun 1950-an di Teluk Minamata, Jepang
yang terkenal dengan nama Minamata Disease.
Timbal (Pb) dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman.
Accidental poisoning seperti termakannya senyawa timbal dalam konsentrasi tinggi
dapat mengakibatkan gejala keracunan timbal seperti iritasi gastrointestinal akut, rasa
logam pada mulut, muntah, sakit perut, dan diare.
Menurut Darmono (1995), Pb dapat mempengaruhi sistem saraf, inteligensia, dan
pertumbuhan. Pb di dalam tubuh terikat pada gugus SH dalam molekul protein dan hal
ini menyebabkan hambatan pada aktivitas kerja sistem enzim. Efek logam Pb pada
kesehatan manusia adalah menimbulkan kerusakan otak, kejang-kejang, gangguan
tingkah laku, dan bahkan kematian.

Toksisitas logam Cu pada manusia, khususnya anak-anak, biasanya terjadi karena


CuSO4. Beberapa gejala keracunan Cu adalah sakit perut, mual, muntah, diare, dan
beberapa kasus yang parah dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian (Darmono,
1995).
Senyawa arsen sangat sulit dideteksi karena tidak memiliki rasa yang khas atau ciri-ciri
pemaparan lain yang menonjol. Gejala keracunan senyawa arsen terutama adalah sakit
di kerongkongan, sukar menelan, menyusul rasa nyeri lambung dan muntah-muntah.
Kompensasi dari pemaparan arsen terhadap manusia adalah kanker, terutama kanker
paru-paru dan hati. Terpapar arsen di udara juga dapat menyebabkan pembentukan
kanker kulit pada manusia.
Awas, Koran Bekas
Usaha-usaha untuk menanggulangi pencemaran logam berat di Indonesia sampai saat
ini belum banyak dilakukan. Hal ini terutama karena sebagian besar industri di
Indonesia belum mempunyai sarana pengolahan limbah yang memadai.
Usaha yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya logam berat, antara lain
dengan menghindari sumber bahan pangan yang memiliki risiko mengandung logam
berat, mencuci dan mengolah bahan pangan yang akan dikonsumsi dengan baik dan
benar.
Selain itu, kita juga perlu memperhatikan dan peduli terhadap lingkungan agar
pencemaran tidak semakin bertambah jumlahnya. Peningkatan pengetahuan mengenai
logam berat juga dapat bermanfaat dan membuat kita lebih waspada terhadap
pencemaran logam berat.
Logam berat di dalam bahan pangan ternyata tidak hanya terdapat secara alami,
namun juga dapat merupakan hasil migrasi dari bahan pengemasnya. Oleh karena itu,
pengemasan bahan pangan harus dilakukan secara hati-hati. Pengemasan makanan
dengan menggunakan kertas koran bekas tentu tidak tepat karena memungkinkan
terjadinya migrasi logam berat (terutama Pb) dari tinta pada koran ke makanan.
Pengemasan makanan dengan bahan yang memiliki aroma kuat, seperti PVC (Poly
Vinyl Chloride) dan styrofoam, memungkinkan terjadinya migrasi arsen ke makanan.
(Kompas.com)