Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

KMB III

“ STUDY KASUS DAN LAPORAN PENDAHULUAN PADA


PASIEN DENGAN CA LAMBUNG”

OLEH:

KELOMPOK III
KEPERAWATAN C / 2016

PROGRAM STUDY ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GORONTALO
Nama-nama anggota kelompok:

1. Ketua : Serlin Mohamad Umar


2. Sekretaris : Deyasrin Ratnasari Pakaya
3. Anggota :
1) Buang Muhamad Misilu
2) Cahyani Napu
3) Devi Lestari
4) Riyanti Mile
5) Siskawati I. Latif
6) Sindiwati Adam
7) Chintya Puhi
8) Riyan S. Hunggola
9) Nindy Binol
10) Nuriman
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hampir sebagian masyarakat lebih memilih mengkonsumsi makanan
cepat saji yang mereka sendiri tidak tahu bahan apa saja yang digunakan
untuk mengolah makanan tersebut dibandingkan mengolah bahan makanan
sendiri dirumah. Dengan alasan lebih mudah dan efisien. Namun dibalik rasa
nikmat yang dirasakan, mereka tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi jika
mereka mengkonsumsi makanan tersebut dalam jangka panjang. Berbagai
penyakit bisa saja mereka derita akibat mengkonsumsi makanan cepat saji
yang menjadi pilihan mereka. Salah satu penyakit yang mungkin timbul
akibat mengkonsumsi berbagai makanan cepat saji dalam jangka panjang
adalah kanker. Sebagian manusia terkadang mengabaikan suatu gejala
penyakit yang timbul dalam dirinya, sehingga penyakit tersebut baru diketahui
ketika telah mencapai stadium lanjut. Salah satu contoh kanker akibat
kebiasaan buruk ini adalah kanker lambung dimana kanker lambung ini
merupakan suatu bentuk neoplasma maligna gastrointestinal.
Adenokarsinoma merupakan jenis kanker lambung yang paling
banyak ditemukan. Kanker jenis ini menempati urutan ke-3 pada kanker
saluran pencernaan di AS setelah kanker usus besar dan pankreas. Kanker
lambung masih sering terjadi pada masyarakat dunia. Penderita kanker
lambung di Jepang sangat tinggi dibandingkan di negara-negara Barat. Tumor
lambung terbagi atas tumor jinak dan tumor ganas. Penderita tumor jinak
lebih jarang dibandingkan dengan tumor ganas.
Cancer lambung merupakan neoplasma maligna yang ditemukan di
lambung, biasanya adenokarsinoma, meskipun mungkin merupakan limfoma
malignansi. Diketahui bahwa cancer lambung 2 kali lebih umum terjadi pada
pria daripada wanita dan lebih sering terjadi pada klien yang mengalami
anemia pernisiosa. Meskipun tidak ada faktor etiologi khusus yang
dihubungkan dengan ca lambung,banyak faktor yang tampak berhubungan
dengan perkembangan penyakit ini seperti inflamasi lambung kronik, anemia
pernisiosa, ulkus lambung, bakteri Helicobacter Pylori dan faktor keturunan.
Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel
yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan
jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh. (Patologi, dr. Achmad
Tjarta,2002). Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada
Gaster. (R. Simadibrata,2000).
Penyebab kanker Lambung Adanya kerusakan selaput lendir lambung
akibat infeksi basil Helikobakter pilori memacu terbentuknya sel-sel kanker
dilambung. Kanker lambung jarang bersifat menurun. Namun, perlu dicurigai
adanya faktor keturunan pada penderita kanker lambung yang berusia sangat
muda, factor itu menjadi salah satu penyebab kanker lambung.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas timbul permasalahan sebagai berikut :
a. Apa definisi dari Ca Lambung?
b. Apa etiologi dari Ca Lambung?
c. Bagaimana patofisiologi dari Ca Lambung?
d. Jelaskan pathway dari Ca Lambung?
e. Bagaimana manifestasi klinik dari Ca lambung?
f. Apa saja pemeriksaan diagnostic dari Ca Lambung?
g. Bagaimana penatalaksanaan medis dari Ca Lambung?
h. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan Ca Lambung?
C. Manfaat
1. Untuk mengetahui konsep dasar dan teori penyakit Ca lambung.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit Ca
lambung.
BAB I
STUDY KASUS

A. Skenario

Seorang laki-laki umur 45 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan utama
nyeri perut, rasa sakit ini dialami sejak 4 bulan yang lalu, hasil pengkajian
perawat di dapatkan nyeri di rasakan pada lokasi epigastrium, abdomen tampak
asites. Saat di lakukan palpasi klien tampak meringis, bersikap protektif, gelisah
serta mengeluh sulit tidur, keluhan lain yang menyertai adalah mual muntah,
perasaan penuh atau tidak nyaman terutama setelah klien makan, klien
mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini terjadi penurunan BB lebih dari 10 kg,
riwayat BAB adanya bercak darah dalam tinja, klien tampak anemia, TD
130/90mmHg, RR 32x/menit, Nadi 100x/menit, suhu badan 38°C.

B. Kalisifikasi istilah-istilah penting


1. Epigastrium
Definisi/arti kata 'epigastrium' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah /épigastrium/ n 1 Dok bagian perut sebelah atas, di antara ujung tulang
dada.
2. Asites
Asites adalah penumpukan cairan (biasanya cairan benang dan cairan serosa
yang berwarna kuning pucat) di rongga perut.
3. Protektif
Sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang disayanginya secara
berlebihan sifat orang untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang
disayanginya secara berlebihan.
4. Palpasi
Palpasi ialah metode pemeriksaan di mana penguji merasakan ukuran,
kekuatan, atau letak sesuatu.
5. Anemia
Suatu kondisi di mana jumlah sel darah merah Anda lebih rendah dari jumlah
normal.
6. Abdomen
Istilah yang digunakan untuk menyebut bagian dari tubuh yang berada di
antara thorax atau dada dan pelvis di hewan mamalia dan vertebrata lainnya.

C. Kata Kunci
1. Nyeri
Digambarkan sebagai sensasi tidak menyenangkan yang terjadi bila kita
mengalami cedera atau kerusakan pada tubuh kita.
2. Meringis
Meringis memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga meringis
dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian
dinamis lainnya.
3. Gelisah
Definisi/arti kata 'gelisah' di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah a
tidak tenteram, selalu merasa khawatir (tentang suasana hati); tidak tenang.
4. Sulit tidur
Gangguan tidur yang menyebabkan penderitanya sulit tidur, atau tidak cukup
tidur, meskipun terdapat cukup waktu untuk melakukannya.
5. Mual
Sensasi tidak nyaman pada perut bagian atas yang disertai dorongan untuk
muntah.
6. Muntah
Suatu refleks yang tidak dapat dikontrol untuk mengeluarkan isi lambung
dengan paksa melalui mulut.
7. Bercak darah dalam tinja
D. Mind Map

Kolik Abdomen

Penyebab: Faktor genetik, usia dan presipitasi Penyebab: idiopatik, makan makan tidak
teratur, kerja fisik keras.

Perubahan metaplasia dan epitelium pada


Dinding lambung Masa feses keras

Ca Lambung
Obstruksi lumen

Suplai aliran darah menurun, mukosa


Invasi jaringan dan efek kompresi oleh
terkikis
tumor

Peradangan pada appendiks


Komprensi saraf lokal

NYERI AKUT
TABEL PENSORTIRAN
Manifestasi Klinik
Bercak
Nama penyakit Penurunan Mual
Nyeri Gelisah darah Anemia Asites
BB Muntah
pada tinja
Ca Lambung + + + + + + +
Kolik
+ + + + + _ _
Abdomen

E. Pertanyaan Penting
1) Apa penyebab klien mengalami penurunan berat badan lebih dari 10 kg
2) Apa yang menyebabkan nyeri pada epigastrium?
3) Apa yang menyebabkan klien anemia?
F. Jawaban Pertanyaan
1) Karena terjadi penurunan nafsu makan yang diakibatkan oleh rasa nyeri,
nafsu makan menurun selama 4 bulan sehingga mudah lelah karena tidak
ada asupan energi dan juga disertai adanya gejala lainnya yaitu mual dan
muntah, bagian atas perut tidak nyaman, adanya bercak darah dalam tinja,
tampak anemia sehingga terjadi penurunan berat badan.
2) Penyebab epigastrium
a. Tukak lambung adalah luka terbuka pada lapisan dinding lambung
atau sebagian usus kecil, hal ini tejadi ketika zat asam dalam sluran
pencernaan merusak permukaan dalam lambung atau usus kecil. Zata
asam tersebut tersebut bisa membuat luka terbuka yang sangat
menyakitkan atau membuat dia berdarah
b. Sindrom iritasi usus adalah selain rasa sakit di ulu hati, kondisi yang
menyerang usus besar ini menyebabkan, kram, perut kembung, dan
perubahan frekuensi buang air besar. Kondisi ini mungkin terjadi
karena dinding usus yang dilapisi oleh bergerak lebih kuat dan lama
dibandingkan biasanya ketika membawa makanan dari perut melalui
saluran usus menuju anus, mereka yang beresiko tinggi terkena
sindrom ini diantaranya adalah wanita, orang-orang yang berusia 45th .
c. Pankreatitis adalah organ yang menghasilkan enzim yang membantu
proses pencernaan dan horomon dalam mengatur upaya tubuh dalam
memproses gula. Pankreatis terjadi ketika pancreas meradang.
3) Kanker lambung dapat menyebabkan penderita sulit makan sehingga
nutrisi yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah atau vitamin B
tidak cukup untuk memproduksi sel darah merah sehingga menyababkan
anemia.
G. Tujuan Pembelajaran Selanjutnya
Mengetahui lebih lanjut mengenai pengendalian atau penatalaksanaan
Ca Lambung secara lebih mendalam
H. Informasi Tambahan
Pemeriksaan darah lengkap terdiri dari: Leukosit, Trombosit, Eritrosit,
Hemoglobin.
I. Analisa dan Sintesis Informasi
Seorang laki-laki umur 45 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan utama
nyeri perut, rasa sakit ini dialami sejak 4 bulan yang lalu, hasil pengkajian
perawat di dapatkan nyeri di rasakan pada lokasi epigastrium, abdomen
tampak asites. Saat di lakukan palpasi klien tampak meringis, bersikap
protektif, gelisah serta mengeluh sulit tidur, keluhan lain yang menyertai
adalah mual muntah, perasaan penuh atau tidak nyaman terutama setelah
klien makan, klien mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini terjadi penurunan
BB lebih dari 10 kg, riwayat BAB adanya bercak darah dalam tinja, klien
tampak anemia, TD 130/90mmHg, RR 32x/menit, Nadi 100x/menit, suhu
badan 38°C.
Dari kasus di atas dapat dianalisis bahwa klien tersebut mengalami
penyakit Ca Lambung. Kanker lambung merupakan bentuk neoplasma
maligna gastrointestinal. Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma
lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari
semua kematian akibat kanker
Pada skenario kasus terdapat hasil pengkajian perawat di dapatkan
nyeri di rasakan pada lokasi epigastrium, abdomen tampak asites. Saat di
lakukan palpasi klien tampak meringis, bersikap protektif, bercak darah pada
tinja, penurunan berat badan dan Anemia. Hal ini merujuk bahwa adanya
suatu benda asing atau penyakit yang sangat kronis yang membahayakan
nyawa pasien. Gejala umum Ca Paru: Nyeri, Penurunan Berat badan,
Muntah, Anoreksia, Disfagia, Nausea, Kelemahan, Hematemasis,
Regurgitasi, Mudah kenyang, Asites ( perut membesar), Keram abdomen,
Darah yang nyata atau samar dalam tinja, Pasien mengeluh rasa tidak enak
pada perut terutama sehabis makan.

Dalam data tersebut dapat disimpulkan bahwa pada kasus tersebut benar-
benar pasien terdiagnosa penyakit Ca Lambung.
BAB III
TINJAUN PUSTAKA

A. Konsep Medis
1. Definisi
Kanker lambung merupakan bentuk neoplasma maligna
gastrointestinal. Karsinoma lambung merupakan bentuk neoplasma lambung
yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% dari semua kematian
akibat kanker (Cancer Facts and Figures, 1991).
Neopasma ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel
yang tumbuh terus-menerus secara tak terbatas, tidak terkoordinasi dengan
jaringan sekitarnya dan tidak berguna bagi tubuh.(Patologi, dr. Achmad
Tjarta, 2002).
Karsinoma Gaster ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster.
(R. Simadibrata, 2000).
Kanker lambung adalah salah satu penyakit pembunuh manusia
dengan jumlah kematian 14.700 setiap tahun.Kanker lambung terjadi pada
kurvatura kecil atau antrum lambung dan adenokarsinoma. Factor lain selain
makanan tinggi asam yang menyebabkan insiden kanker lambung mencakup
Inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria ( tidak adanya hidroklorida
). Ulkus lambung, bakteri H, plylori, dan keturunan.( Suzanne C. Smeltzer ).
Kanker lambung atau tumor malignan perut adalah suatu adeno
kararsinoma .kanker ini menyebar ke paru –paru,nodus limfe dan hepar.faktor
risiko meliputi gastritis atrofik kronis dengan metaplasia usus anemia
pernisiosa ,konsumsi alkohol tinggi dan merokok .(Nettina sandra ,pedoman
praktik keperawatan )
2. Epidemiologi
Kanker lambung terus berkurang di Amerika Serikat. Namun, ini
masih menjadi masalah serius dengan jumlah 14.700 kematian setiap
tahunnya, kebanyakan pada individu dengan usia lebih dari 40 tahun dan
kadang-kadang pada individu yang lebih muda. Kebanyakan kanker lambung
terjadi pada kurvatura kecil atau antrum lambung dan adenokarsinoma.Insiden
kanker lambung lebih banyak di Jepang, yang telah menyababkan
diadakannya skriningmassa untuk diagnosis awal di negara ini.
Diet tampaknya menjadi faktor yang signifikan. Diet tinggi makanan
asap dan kurang buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan resiko
terhadap kanker lambung. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden
kanker lambung mencakup inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria
( tidak adanya asam hidroklorida ), ulkus lambung, bakteri H. pylori, dan
keturunan.

3. Etiologi
Penyebab pasti dari kanker lambung belum diketahui, tetapi ada
beberapa faktor yang bisa meningkatkan perkembangan kanker lambung,
meliputi hal- hal sebagai berikut:
a) Faktor predisposisi
(1) Faktor genetik.
Sekitar 10% pasien yang mengalami kanker lambung memiliki
hubungan genetik. Walaupun masih belum sepenuhnya
dipahami, tetapi adanya mutasi dari gen E-cadherin terdeteksi
pada 50% tipe kanker lambung.Adanya riwayat keluarga anemia
pernisiosa dan polip adenomatus juga dihubungkan dengan
kondisi genetik pada kanker lambung (Bresciani, 2003).
(2) Faktor umur
Pada kasus ini ditemukan lebih umum terjadi pada usia 50-70
tahun, tetapi sekitar 5 % pasien kanker lambung berusia kurang
dari 35 tahun dan 1 % kurang dari 30 tahun (Neugut, 1996).

b) Faktor presipitasi
(1) Konsumsi makanan yang diasinkan, diasap, atau yang
diawetkan. Beberapa studimenjelaskan intake diet dari makanan
yang diasinkan menjadi faktor utama peningkatan kanker
lambung.Sehingga menfasilitasi konversi golongan nitrat
menjadi carcinogenic nitrosamines didalam lambung.Kondisi
terlambatnya pengosongan asam lambung dan peningkatan
komposisi nitrosamines didalam lambung memberikan
konstribusi terbentuknya kanker lambung (Yarbro, 2005).
(2) Infeksi H. Pylori. H. Pylori adalah bakteri penyebab lebih dari
90% ulkus doudenum dan 80% tukak lambung (fuccio, 2007).
Bakteri ini menempel dipermukaan dalam tukak lambung
melalui interaksi antara membran bakteri lektin dan
oligosakarida spesifik dari glikoprotein membran sel-sel epitel
lambung (fuccio, 2009).Mekanisme utama bakteri ini dalam
menginisiasi pembentukan luka adalah melalui produksi racun
VacA. Racun VacA bekerja dalam menghancurkan keutuhan sel-
sel tepi lambung melalui berbagai cara; diantaranya melalui
pengubahan fungsi endolisosom, peningkatan permeabilitas sel,
pembentukan pori dalam membran plasma, atau apoptosis
(pengaktifan bunuh diri sel). Pada beberapa individu, H. Pylori
juga menginfeksi bagian badan lambung. Bila kondisi ini sering
terjadi, maka akan menghasilkan peradangan yang lebih luas
yang tidak hanya memengaruhi ulkus didaerah badan lambung,
tetapi juga meningkatkan risiko kanker lambung. Peradangan
dilendir lambung juga merupakan faktor risiko tipe khusus tumor
limfa (lymphatic neoplasm) dilambung, atau disebut dengan
limfoma MALT (Mucosa Lymphoid Tissue).Infeksi H. Pylori
berperan penting dalam menjaga kelangsungan tumor dengan
menyebabkan dinding atrofi dan perubahan metaplastik pada
dinding lambung (santacroce, 2008).
(3) Mengkonsumsi rokok dan alkohol. Pasien dengan konsumsi
rokok lebih dari 30 batang sehari dan kombinasi dengan
konsumsi alkohol kronik akan meningkatkan risiko kanker
lambung (Gonzalez, 2003).
(4) NSAIDs. Inflamasi polip lambung bisa terjadi pada pasien yang
mengkonsumsi NSAIDs dalam jangka waktu yang lama dalam
hal ini (polip lambung) dapat menjadi prekursor kanker lambung.
Kondisi polip lambung berulang akan meningkatkan risiko
kanker lambung (Houghton, 2006).
(5) Anemia pernisiosa. Kondisi ini merupakan penyakit kronis
dengan kegagalan absorpsi kobalamin (vitamin B12), disebabkan
oleh kurangnya faktor instrinsik sekresi lambung, kombinasi
anemia pernisiosa dengan infeksi H. Pylori memberikan
konstribusi penting terbentuknya tumorigenesis pada dinding
lambung (Santacroce, 2008).

4. Patofisiologi
Seperti pada umumnya tumor ganas ditempat lain penyebab tumor
gaster juga belum diketahui secara pasti. Faktor yang mempermudah
timbulnya. Tumor ganas gaster adalah perubahan mukosa yang abnormal
antara lain seperti gastritis atropik, polip di gaster, dan anemia pernisiosa.
Disamping itu juga pengaruh keadaan lingkungan mungkin memegang peran
penting.
Kebanyakan kanker gaster adalah adenokarsinoma (90-95%). Yang
lain limfoma, leimiosarkoma, adenoxanthoma, karsinoid dan sarkoma,
adenokarsinoma lambung terdiri dari dua type, yaitu tipe intestinal (tipe
struktur glandular) dan tipe difus (tipe infiltratif pada dinding lambung).
Kebanyakan lokasi tumor pada daerah antropilorik, kuravtura minor lebih
sering daripada kurvatura mayor.
Karsinoma gaster berasal dari perubahan epitel pada membran mukosa
gaster yang berkembang pada bagian bawah gaster, sedangkan pada atrofi
gaster didapatkan bagian atas gaster dan secara multisenter. Karsinoma gaster
terlihat beberapa bentuk:
1. Seperempatnya berasal dari propria yang berbentuk fungating yang
tumbuh ke lumen sebagai massa.
2. Seperempatnya berbentuk tumor yang berulserasi.
3. Massa yang tumbuh melalui dinding menginvasi lapisan otot.
4. Penyebarannya melalui dinding yang disemari penyebaran pada
permukaan.
5. Bentuk linisplatika.
6. Sepertiganya karsinoma berbagai bentuk di atas.

Dengan adanya kanker lambung, lesi tersebut akan menginvasi


muskularis propia dan akan melakukan metastasis pada kelenjar getah bening
regional. Lesi pada kanker lambung memberikan berbagai macam keluhan
yang timbul, gangguan dapat dirasakan pada pasien biasanya jika sudah pada
fase progresif, dimana berbagai kondisi akan muncul seperti dispepsia,
anoreksia, penurunan BB, nyeri abdomen, konstipasi, anemia, mual serta
muntah. Kondisi ini akan memberikan berbagai masalah keperawatan.
Kanker lambung mungkin timbul sebagai penyebaran tumor
superficial yang hanya melibatkan prmukaan mukosa dan menimbulkan
keadaan granuler walupun hal ini jarang. Kira-kira 75% dari karsinom
ditemukan pada 1/3 distal lambung, selain itu menginvasi struktur lokal
seperti bag.bawah dari esophagus, pancreas, kolon transversum dan
peritoneum. Metastase timbul pada paru, pleura, hati, otak dan lambung.

5. Klasifikasi
a. Early gastric cancer (tumor ganas lambung dini).
Berdasarkan hasil pemeriksaan radiologi, gastroskopi dan pemeriksaan
histopatologis dapat dibagi atas :
1) Tipe I (pritrured type)
Tumor ganas yang menginvasi hanya terbatas pada mukosa dan sub
mukosa yang berbentuk polipoid. Bentuknya ireguler permukaan
tidak rata, perdarahan dengan atau tanpa ulserasi.
2) Tipe II (superficial type)
Dapat dibagi atas 3 sub tipe.
a) Elevated type
Tampaknya sedikit elevasi mukosa lambung.Hampir seperti
tipe I, terdapat sedikit elevasi dan lebih meluas dan melebar.
b) Flat type
Tidak terlihat elevasi atau depresi pada mukosa dan hanya
terlihat perubahan pada warna mukosa.
c) Depressed type
Didapatkan permukaan yang iregular dan pinggir tidak rata
(iregular) hiperemik / perdarahan.
3) Type III. (Excavated type)
Menyerupai Bormann II (tumor ganas lanjut) dan sering disertai
kombinasi seperti IIC + III atauIII + IIc dan IIa + IIc
b. Advanced gastric cancer (tumor ganas lanjut).
Menurut klasifikasi Bormann dapat dibagi atas :
1) Bormann I.
Bentuknya berupa polipoid karsinoma yang sering juga disebut
sebagai fungating dan mukosa di sekitar tumor atropik dan iregular.

2) Bormann II
Merupakan Non Infiltrating Carsinomatous Ulcer dengan tepi ulkus
serta mukosa sekitarnya menonjol dan disertai nodular.Dasar ulkus
terlihat nekrotik dengan warna kecoklatan, keabuan dan merah
kehitaman.Mukosa sekitar ulkus tampak sangat hiperemik.
3) Bormann III.
Berupa infiltrating Carsinomatous type, tidak terlihat bats tegas
pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.
4) Bormann IV
Berupa bentuk diffuse Infiltrating type, tidak terlihat batas tegas
pada dinding dan infiltrasi difus pada seluruh mukosa.

6. Tanda Dan Gejala


Pada tahap awal kanker lambung, gejala mungkin tidak ada.Beberapa
penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal, seperti nyeri yang hilang
dengan antasida, dapat menyerupai gejala pada pasien ulkus benigna. Gejala
penyakit progresif dapat meliputi:
a. Nyeri
b. Penurunan Berat badan.
c. Muntah
d. Anoreksia.
e. Disfagia.
f. Nausea.
g. Kelemahan.
h. Hematemasis.
i. Regurgitasi.
j. Mudah kenyang.
k. Asites ( perut membesar).
l. Keram abdomen
m. Darah yang nyata atau samar dalam tinja
n. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan.

7. Pemerikasaan Penunjang
a. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisis dapat membantu diagnosis berupa berat badan menurun
dan anemia. Didaerah epigastrium mungkin ditemukan suatu massa dan
jika telah terjadi metastasis ke hati, teraba hati yang iregular, dan kadang-
kadang kelenjar limfe klavikula teraba.
b. Radiologi.
Pemeriksaan radiologi yang penting adalah pemeriksaan kontras ganda
dengan berbagai posisi seperti telentang.Tengkurap, oblik yang disertai
dengan komprsi.
c. Gastroskopi dan Biopsi.
Pemeriksaan gastroskopi banyak sekali membantu diagnosis untuk melihat
adanya tumor gaster.Pada pemeriksaan Okuda (1969) dengan biopsi
ditemukan 94 % pasien dengan tumor ganas gaster sedangkan dengan
sitologi lavse hanya didapatkan 50 %.
d. Pemeriksaan darah pada tinja.
Pada tumor ganas sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood),
untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes Benzidin.
e. Sitologi.
Pemeriksaan Papanicolaou dari cairan lambung dapat memastikan tumor
ganas lambung dengan hasil 80 – 90 %.Tentu pemeriksaan ini perlu
dilengkapi dengan pemeriksaan gastroskopi dan biopsi.
8. Penatalaksanaan
a. Bedah
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik
adalah pembedahan. Walaupun telah terdapat daerah sebar, pembedahab
sudah dapat dilakukan sebagai tindakan paliatif. Reaksi kuratif akan
berhsil bila tidak ada tanda metastasis di tempat lain, tidak ada sisa Ca
pada irisan lambung, reseksi cairan sekitar yang terkena, dari pengambilan
kelenjar limfa secukupnya.
b. Radiasi
c. Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil.
d. Kemoterapi
Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau
kombinsi kemoterapi. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU,
trimetrexote, mitonisin C, hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan
hasil 18 – 30 %.

9. Komplikasi
i. Perforasi
Dapat terjadi perforasi akut dan perforasi kronik.
ii. Hematemesis.
Hematemesis yang masif dan melena dapat terjadi pada tumor ganas
lambung sehingga dapat menimbulkan anemia.
iii. Obstruksi.
Dapat terjadi pada bagian bawah lambung dekat daerah pilorus yang
disertai keluhan mintah-muntah.
iv. Adhesi
B. Konsep Dasar Keperawatan
1. Pengkajian
a. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
1) Apakah ada riwayat kanker pada keluarga
2) Status kesehatan dan penyakit yang diderita, upaya yang dilakukan
3) Lingkungan tempat tinggal klien
4) Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien
5) Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok,
alkohol, obat-obatan, polusi, lingkungan, ventilasi.
b. Nutrisi metabolic
1. Jenis, frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang
dikonsumsi sehari
2. Adanya mual, muntah, anorexia, ketidakmampuan memenuhi
kebutuhan nutrisi
3. Adanya kebiasaan merokok, alkohol dan mengkonsumsi obat-
obatan tertentu.
4. Ketaatan terhadap diet, kaji diet khusus
5. Jenis makanan yang disukai (pedas, asam, manis, panas, dingin)
6. Adanya makanan tambahan
7. Napsu makan berlebih/kurang
8. Kebersihan makanan yang dikonsumsi
c. Eliminasi
1) Pola BAK dan BAB: frekuensi, karakteristik, ketidaknyamanan,
masalah pengontrolan
2) Adanya mencret bercampur darah
3) Adanya Diare dan konstipasi
4) Warna feses, bentuk feses, dan bau
5) Adanya nyeri waktu BAB
d. Aktivitas dan latihan
1) Kebiasaan aktivitas sehari hari
2) Kebiasaan olah raga
3) Rasa sakit saat melakukan aktivitas
e. Tidur dan istirahat
1) Adanya gejala susah tidur/ insomnia
2) Kebiasaan tidur per 24 jam
f. Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah
1) Mekanisme koping yang biasa digunakan
2) Respon emosional klien terhadap status saat ini
3) Orang yang membantu dalam pemecahan masalah

2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul:

a. Nyeri Akut
b. Defisit Nutrisi
c. Intoleransi Aktivitas
3. Intervensi Keperawatan

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN & KRITERIA HASIL


NO. INTERVENSI (NIC)
(SDKI) (NOC)
1. NyeriAkut NOC NIC
D.0077 1. Pain level Pain management
Kategori : Psikologi 2. Pain control 1. Lakukan pengkajian nyeri secara
Subkategori : Nyeridankenyamanan 3. Comfort level komperhensif termasuk lokasi,
karakteristik , durasi, frekuensi,
Definisi: pengalaman sensorik atau Kriteria hasil kualitas dan factor presipitasi.
emonisional yang berkaitan dengan kerusakan 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu 2. Observasi reaksi nonverbal dari
jaringan actual fungsional, dengan onset penyebeb nyeri, mampu ketidaknyamanan
mendadak atau lambat dan berintensitas menggunakan tehnik 3. Gunakan tehnik komunikasi
ringan hingga berat yang berlangsung kurang nonfarmakologi untuk terapeutik untuk mengetahui
dari 3 bulan. mengurangi nyeri, mencari pengalaman nyeri pasien
bantuan) 4. Bantu pasien dan keluarga untuk
Penyebab : 2. Melaporkan bahwa nyeri mencari dan menemukan
1. Agen pencederaan fisiologi berkurang dengan dukungan
(mis.inflamasi, iskemia, neoplasma) menggunakan manajemen nyeri 5. Berikan analgetik untuk
2. Agen pencederaan kimiawi 3. Mampu mengenali nyeri (skala, mengurangi nyeri
(mis.terbakar, bahan kimia, iritan) intensitas, frekuensi dan tanda 6. Kolaborasi dengan dokter jika
3. Agen pencedera fisik (mis.abses, nyeri) ada keluhan dan tindakan nyeri
amputasi, terbakar, terpotong, 4. Menyatakan rasa nyaman tidak berhasil
mengangkat berat, prosedur operasi, setelah nyeri berkurang
trauma, latihan fisik berlebihan)

Gejala dan tanda mayor


Subjektif
1. Mengeluh nyeri
Objektif
1. Tampak meringis
2. Bersikap protektif (mis.waspada posisi
menghindari nyeri)
3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat
5. Sulit tidur

Gejala dan tanda minor


Subjektif
(tidaktersedia)
Objektif
1. Tekanan darah meningkat
2. Pola napas berubah
3. Nafsu makan berubah
4. Proses berpikir terganggu
5. Menarik diri
6. Berfokus pada diris endiri
7. Diaphoresis

Kondisi klinis terkait


1. Kondis ipembedahan
2. Cedera traumatis
3. Infeksi
4. Sindrom coroner akut
5. Glaucoma

Keterangan
Pengkajian nyeri menggunakan isinstrumen
skala nyeri, seperti :
1. FLACC behavioral pain scale untuk
usia kurang dari 3 tahun
2. Boker-wong-FACES scale untuk usia
3-7 tahun
3. Visual analogue scale atau numeric
reting scale untuk usia di atas 7 tahun
2 Defisit Nutrisi NOC NIC
D.0019 1. Status Menelan Terapi Menelan
Kategori : Fisiologis 2. Nutritional status: Adequacy of 1. Pantau gerakan lidah klien saat Makan
Subkategori : Nutrisi dan Cairan nutrient 2. Pantau tanda dan gejala aspirasi
3. Nutritional Status : food and Fluid 3. Pantau adanya penutupan bibir saat
Definisi : Intake makan, minum, dan menelan.
Asupan nutrisi tidak cukup untuk 4. Wheight kontrol 4. Kaji mulut adanya makanan setelah
memenuhi kebutuhan menelan
metabolisme. Setelah dilakukan tindakan keperawatan 5. Pantau hidrasi tubuh (misalnya asupan,
selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien haluaran, turgor kulit membran mukosa)
Penyebab : terpenuhi dengan Kriteria Hasil / NOC : 6. Berikan perawatan mulut jika diperlukan
1. Ketidakmampuan menelan 1. Menunjukan status menelan 7. Hindari minum menggunakan sedotan
makanan 2. Intake nutrian normal 8. Bantu klien untuk mengatur posisi kepala
2. Ketidakmampuan mencerna 3. memperlihatkan status gizi ; asupan fleksi kedepan untuk menyiapkan
makanan nutrisi dan cairan menelan.
3. Ketidakmampuan mengabsorbsi 4. factor yang dapat meningkatkan 9. Bantu klien untuk mendapatkan makanan
nutrient berat badan. dibelakang mulut dan bagian yang tidak
4. Peningkatan kebutuhan sakit.
metabolism
5. Factor ekonomi (mis. Finansial Monitor Nutrisi
tidak mencukupi) 1. Monitor berat badan jika memungkinkan
6. Factor psikologi (mis. Stress, 2. Monitor adanya gangguan dalam input
keengganan untuk makan) makanan misalnya adanya mual muntah,
perdarahan, bengkan dan sebagainya.
7. Gejala dan tanda mayor : 3. Monitor respon klien terhadap situasi
8. Subyektif : yang mengharuskan klien makan
9. (tidaktersedia) 4. Monitor intake nutrisi dan kalori
Obyektif : 5. Monitor kadar energi, kelemahan, dan
1. Berat badan menurun 10 % kelelahan.
dibawah rentang ideal 6. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak
bersamaan dengan waktu klien makan.
2. Gejala dan tanda minor : 7. Kolaborasi untuk pemberian terapi sesuai
3. Subyektif : order.
1. Kram/nyeri abdomen ManajemenNutrisi
2. Nafsu makan menurun 1. Kaji adanya alergi makanan
3. Cepat kenyang setelah makan 2. Kaji makanan yang tidak disukai klien
4. Obyektif 3. Yakinkan diet yang dikonsul
1. Bising usus hiperaktif mengandung cukup serat untuk mencegah
2. Otot pengunyah lemah konstipasi
3. Otot menelan lemah 4. Berikan informasi tentang kebutuhan
4. Membrane mukosa pucat nutris
5. Rambu trontok berlebihan 5. Sajikan makanan dengan tampilan yang
6. Sariawan menarik
7. Diare 6. Kolaborasi team gizi untuk penyediaan
8. Serum albumin turun nutrisi TKTP
KondisiKlinisTerkait 7. Kolaborasi pemberian obat anti-emetik.
1. Stroke Weight Gain Asistance
2. Parkinson 1. Memantau adanya rasa mual, dan adanya
3. Mobius syndrome muntah
4. Cerebral palsy 2. Membicarakan kemungkinan penyebab
5. Cleft it dari berat badan dibawah normal.
6. Cleft palate 3. Menentukan penyebab mual dan muntah
7. Amotropic lateral sclerosis sekaligus perawatannya.
8. Kerusakan neuromuscular 4. Memantau konsumsi kalori setia phari
9. Luka bakar 5. Memantau tingkat albumin, limfosit dan
10. Kanker eletrolit
11. Infeksi Health Education
12. AIDS 1. Anjurkan klien untuk meningkatkan
13. Enterokolitis asupan nutrisi TKTP
14. Fibrosis kistik 2. Ajari keluarga mengenai jenis, penyebab
dan pengobatan ketidakeimbangan
elektrolit.
3. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi
kalium sperti kacang-kacangan, bayam,
pisang dan kentang.
4. Anjurkan pasien untuk meningkatkan
intake Fe
5. Anjurkan pasien untuk meningkatkan
protein dan vitamin C
6. Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi
7. Anjurkan klien untuk makan sedikit
namun sering.
8. Ajarkan pemilihan makanan bagi klien
Intoleransi aktivitas 6. Energy conservation 1. Monitor responfisik, emosi, social, dan
7. Activity tolerance
D.0056 spiritual
8. Self care : ADLs
Kategori : Fisiologi 2. Bantu klienuntukmengidentifikasiaktivitas
KriteriaHasil : yang mampu di lakukan.
Subkategori : Aktivitas/Istirahat
1. Berpartisipasidalamaktivitasfisiktanpa di 3. Bantukuntukmemilihaktivitaskonsisten
sertaipeningkatantekanandarah, nadi, dan yang sesuaidengankemampuanfisik,
RR. psikologidan social.
Definisi
2. Mampumelakukanaktivitassehari-hari 4. Bantu
Ketidakcukupan energi untuk (ADLs) secaramandiri. untukmendapatkanalatbantuaktivitassepert
3. Tanda-tanda vital normal. ikursiroda, krek.
melakukan aktivitas sehari-hari.
4. Energy psikomotor. 5. Bantu untukmengidentifikasiaktivitas
5. Level kelamahan. yang di sukai.
6. Mampuberpindah: 6. Bantu klienuntukmembuatjadwallatihan di
Penyebab
denganataubantuanalat. waktuluang.
1. Ketidakseimbangan antara 7. Status kardiopulmonariadekuat. 7. Bantu
8. Sirkulasi status baik. pasien/keluargauntukmengidentifikasikek
suplai dan kebutuhan oksigen
9. Status respirasi: Pertukaran gas urangandalamberaktivitas.
2. Tirah baring danventilasiadekuat. 8. Kolaborasidengantenagarehabilitasi medic
dalammerencanakan program terapi yang
3. Kelemahan
tepat.
4. Imobilitas
5. Gaya hidup monoton

Gejala dan Tanda


Subjektif
1. Mengeluh lelah
2. Disnea saat/setelah beraktifitas
3. Merasa lemah
Objektif
1. Frekuensi jantung
meningkat >20% dari
kondisi istirahat
2. Sianosis
3. Gambaran EKG
menunjukkan iskemik

Kondisi klinis terkait


1. Anemia
2. Gagal jantung kongestif
3. PJK
4. Aritmia
5. PPOK
6. Ggg. Metabolik
7. Ggg. muskuloskeletal
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kanker lambung adalah suatu keganasan yang terjadi dilambung, sebagian


besar adalah dari jenis adenokarsinoma. Jenis kanker lambung lainnya adalah
leiomiosarkoma (kanker otot polos) dan limfoma.
Kanker lambung lebih sering terjadi pada usia lanjut. Kurang dari 25%
kanker tertentu terjadi pada orang dibawah usia 50 tahun (Osteen, 2003).
Perubahan pada mukosa mungkin mengakibatkan peningkatan absorbsi
karsinogen dari diet, seperti makanan yang diasinkan, ikan asin dan nitrat. Faktor
etiologi lain termasuk aklorhidria, anemia pernisiosa dan merokok. Mungkin juga
ada faktor genetis karena penyakit ini terlihat terjadi dalam keluarga. Penambang
batu bara, tukang roti, pekerja yang bekerja pada kerajinan logam dan mereka
yang bekerja ditempat yang berdebu, berasap dan lingkungan yang mengandung
sulfur dioksida berada pada resiko tinggi. asap kayu atau tembakau, pengawet
makanan nitrit, dan produk lemak panas dapat menyebabkan klien rentan terhadap
kanker lambung.
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani karsinoma lambung kecuali
mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih terlokalisasi di
lambung, pasien dapat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area lain yang dapat
dieksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi. Pada kebanyakan
pasien ini, paliasi efektif, untuk mencegah gejala seperti obstruksi. Bila
gastrektomi subtotal radikal dilakukan, puntung lambung dianastomosiskan pada
jejenum, seperti pada gastrektomi untuk ulkus.
B. Saran

1. Untuk Mahasiswa
Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal
sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan
2. Untuk Klien dan Keluarga
Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun
teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan
yang diharapkan tidak tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

AMK, Drs. H Syaifuddin. 2012. Anatomi Fisiologis Edisi 4. Jakarta: EGC

Herdman, t.h., dan Kamitsuru. s. 2015. Dignosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta:
EGC

Muttaqin dan Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan

MedikalBedah. Salemba Medika : Jakarta.

SDKI.(2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus

Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.