Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 1 BLOK 16
“DASAR-DASAR GIGI TIRUAN PENUH”

Kelompok 3

Tutor : drg. Eni Rahmi, Sp. Prost


Ketua : Inne Pratiwi Debita
Sekretaris Meja : Iswara Sardi
Sekretaris Papan : Nazifa Khairunnisa
Izzah Dhiyaul Auni

Kinantya Putri Ridelfi

Kuntum Khaira Ummah

M Reygan Caristo Anwar

M. Iqbal

Marsha Nada Maghfira Pramadiaz

Naufal Delihefian

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Andalas
2018
MODUL I

DASAR-DASAR GIGI TIRUAN PENUH

Skenario 1

Copot gak ya??

Pak sabar (62 tahun) datang ke praktek drg. Prostoro untuk membuat gigi palsu.
Sebenarnya Pak sabar sudah pernah memakai gigi tiruan penuh rahang atas dan gigi tiruan
sebagian lepasan rahang bawah, tetapi gig tiruan tersebut tidak dapat digunakan lagi karena gigi
rahan bawah yang tersisa sudah dicabut karena goyang dan memanjang terus menerus,
sedangkan gigi tiruan rahang atasnya sangat longgar. Pak sabar heran kenapa sekarang rahang
bawahnya makin maju ke depan, selain itu juga mengeluhkan sering merasa telinganya
berdenging. Tapi pak sabar masih terlihat ragu karena beliau takut gigi palsunya akan copot pada
saat berbicara karena sudah tidak mempunyai gigi sama sekali.
dari pemeriksaan klinis, diketahui terdapatnya resorbsi linggir menyeluruh pada
mandibula dan posterior maksila serta linggir flaby pada anterior maksila. Drg prostoro
kemudian menjelaskan keadaan rongga mulut pak sabar dan rencaa perawatan yang akan
dilakukan serta prognosisnya dengan kondisi seperti itu.
bagaimana Anda membantu drg. prostoro membuat desain gigi tiruan yang tepat dengan
memanfaatkan anatomi jaringan pendukung GTP untuk meningkatkan retensi dan stabilisasi gigi
tiruan?

Langkah 1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal


yang dapat menimbulkan kesalahan interprestasi

• Linggir flaby : respon dari jaringan ikat yang mengalami hiperplasia karena trauma/ luka
yang tidak dapat ditoleransi lagi oleh tubuh

Langkah 2. Menentukan masalah

1. Apa sebab gigi pak sabar goyang memanjang?


2. Kenapa GT RA pak sabar makin lama makin longgar?
3. Kenapa RB pak sabar maju?
4. Kenapa telinga pak sabar terasa berdenging?
5. Apa kemungkinan hal yang terjadi jika tidak dibuatkan GTP?
6. Apa akibat edentulous dan resorbsi yang menyeluruh?
7. Apakah resorbsi menyeluruh bisa disebabkan leh pemakaian GTP yang tidak baik?
8. Kenapa linggir flaby hanya ada di maxila?
9. Apa rencana perawatan pak sabar?
10. Apa indikasi perawatan GTP
11. apa saja faktor yang menentukan prognosa dalam perawatan tersebut?
12. Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan GTP agar tidak longgar
13. Apa saja yang bisa digunakan untuk meningkatkan retensi dan stabilisasi GTP?
Langkah 3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge

1. Apa sebab gigi pak sabar goyang memanjang?


• Resorbsi terus menerus menghilangkan dukungan tulang terhadap gigi
• GTSL tidak dibuat seperti semestinya
• Sisa gigi sedikit dan dukungan tulang tidak menyeluruh
• Tekanan gigi RB anterior ke GTP  gigi anterior RB ekstrusi

2. Kenapa GT RA pak sabar makin lama makin longgar?


• Saliva secara fisiologis : kental, cair(retensi bagus)
• Resorbsi tulang alveolar osteoklas terstimulasi
• Osteoporosis patologis
• Penuaan  proses pembaruan jaringan melambat

3. Kenapa RB pak sabar maju?


• Hilangnya kontak oklusi karena edentulous
• RA resorbsi  RB menekan keatas
• DV berkurang
• GT longgar RB mencari kontak yang nyaman

4. Kenapa telinga pak sabar terasa berdenging?


Malposisi pada TMJ  tekanan lebih kuat pada gigi yang tersisa  gigi antagonis resorbsi

5. Apa kemungkinan hal yang terjadi jika tidak dibuatkan GTP?


• Resorbsi makin bertambah  linggir pendek
• Mengganggu sistem mastikasi dan fonetik
• Tekanan langsung dari gusi
• GT goyang  stabilisasi terganggu  ada yang menerima tekanan lebih

6. Apa akibat edentulous dan resorbsi yang menyeluruh?


• DV semakin rendah  RB maju  sudut mulut menurun saliva sering keluar
Angular cheilitis
• Pipi lebih kempot
• Pengucapan kurang jelas
• Terganggunya fungsi TMJ  aus  kliking
• Kontur tulang berubah

7. Apakah resorbsi menyeluruh bisa disebabkan leh pemakaian GTP yang tidak baik?
• Desain GTP yang baik akan mengurangi resorbsi yang berlebihan
• Bisa,karene pemakaian terus menerus
• Kesalahan mengukur DV

8. Kenapa linggir flaby hanya ada di maxila?


Karena sebelumnya pak sabar memakai GTSL  gigi anterior RB masih adatrauma pada RA
 jar flaby

9. Apa rencana perawatan pak sabar?


RA reparasi GTP/ GTP baru
RB  mouth preparation GTP

10. Apa indikasi perawatan GTP?


• Kehilangan seluruh gigi
• OH baik
• Keadaan pasien baik
• Kondisi tulang alveolar baik
• Kondisi gigi yang tersisa tidak bisa dipetahankan
• Pasien kooperatif
• Tingkan ekonomi baik
• Kemauan pasien

11. apa saja faktor yang menentukan prognosa dalam perawatan tersebut?
• Faktor klinis : umur , kerja sama pasien, dll
• Faktor sistemik
• Sikap pasien

12. Hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan GTP agar tidak longgar
• Stabilisasi dan suport harus baik dari faktor:
Anatomi, fisiologi, fisik, otot, mekanik, adhesif
• Perlunya dukungan bibir, pipi, lidah
• Adaptasi basis
• Perhatikan pencetakan

13. Apa saja yang bisa digunakan untuk meningkatkan retensi dan stabilisasi GTP?
Stabilisasi:
• Cetakan harus sesuai dengan permukaan mukosa
• Adaptasi basis
• Penyusunan anasir di atas proc alveolarisoklusi berimbang
Retensi:
• Otot-otot oral dan wajh
• Anasir yang tepat
• Permukaan GT yang halus dan bentuk yang tepat
• Adaptasi basis
• Tekanan atmosfir
• Gaya gravitasi

Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan


mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi
secara terintegrasi
Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Akibat edentulous


2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Kondisi fisiologis dan anatomis
yang berhubungan dengan konstruksi GTP
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Indikasi dan kontraindikasi GTP
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Desain GTP
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Faktor yang mempengaruhi
prognosa GTP
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang Rencana perawatan pasien GTP

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain

Langkah 7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh


AKIBAT EDENTULOUS

1. Edentulous
1.1 Definisi
Edentulous adalah kondisi dimana hilangnya seluruh gigi asli. Kehilangan gigi telah lama
dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh kerusakan
gigi, periodontitis, atau kecelakaan. Hilangnya beberapa gigi disebut edentulous sebagian dan
hilangnya seluruh gigi disebut edentulous total. Edentulous total dapat didefinisikan sebagai
keadaan fisik dari rahang diikuti hilangnya seluruh gigi dan kondisi dari jaringan pendukung
tersedia untuk terapi penggantian atau rekonstruksi. Edentulous sebagian didefinisikan sebagai
hilangnya beberapa tetapi tidak semua gigi asli pada lengkung rahang. Pada pasien edentulous
sebagian, hilangnya gigi dilanjutkan dengan penurunan tulang alveolar,gigi tetangga dan
pengaruh tingkat kesulitan jaringan pendukung dalam menerima restorasi prostetik yang
adekuat. Kualitas dari jaringan pendukung memperbaiki kondisi keseluruhan dan
dipertimbangkan pada tingkat diagnostik dari sistem klasifikasi.

1.2 Dampak Edentulous

Ekstrusi
Ekstrusi adalah pergesaran gigi yang melewati garis batas oklusal. Ekstrusi terbagi menjadi
tiga, yaitu ekstrusi pada gigi, ekstrusi pada tulang alveolar, dan ekstrusi pada tulang alveolar dan
gigi.

Gangguan Efisiensi Pengunyahan


Sistem pengunyahan merupakan suatu unit fungsional yang terdiri dari gigi, jaringan
pendukung gigi, sendi temporomandibula, otot-otot termasuk bibir, pipi, lidah, palatum, sekresi
saliva dan peredaran darah serta persarafan. Kehilangan gigi juga merupakan penyebab paling
sering pada gangguan fungsi pengunyahan. Jumlah gigi yang sedikit akan menurunkan efisiensi
pengunyahan makanan sehingga akan memengaruhi status makan dan status nutrisi. Kida dkk
(2008) melaporkan bahwa pada individu yang kehilangan gigi posterior akan memiliki empat
kali lebih banyak masalah dalam pengunyahan.

Gangguan Fungsi Bicara


Kehilangan gigi dapat menurunkan fungsi bicara karena gigi memiliki peranan yang penting
dalam proses berbicara. Beberapa huruf dihasilkan melalui bantuan bibir dan lidah yang
berkontak dengan gigi-geligi. Huruf-huruf yang dibentuk melalui kontak antara lidah dan gigi-
geligi adalah huruf konsonan seperti s, z, x, d, n, l, j, t, th, ch dan sh. Sedangkan huruf yang
dibentuk melalui kontak antara bibir dan gigi-geligi yaitu f dan v. Individu yang mengalami
kehilangan gigi akan sulit menghasilkan huruf-huruf tersebut terutama pada gigi di bagian
anterior. Hal tersebut akan mengganggu proses bicara dan berkomunikasi.

Estetika
Kehilangan gigi dapat menimbulkan dampak emosional dalam kehidupan sehari-
hari.Kehilangan gigi terutama di regio depan dapat mengganggu estetis yang memengaruhi
aspek psikologis individu.Pada kehilangan gigi depan biasanya memperlihatkan wajah dengan
bibir masuk ke dalam dan dagu menjadi tampak lebih ke depan. Selain itu akan timbul garis
yang berjalan dari lateral sudut bibir dan terbentuk lipatan-lipatan yang menyebabkan sulkus
nasolabial menjadi lebih dalam, sehingga wajah tampak lebih tua. Adanya perubahan-perubahan
ini membuat individu merasa sangat terganggu, kehilangan percaya diri, sadar akan penampilan
dan menganggap kehilangan gigi sesuatu yang tidak patut dibicarakan sehingga pasien akan
merahasiakannya.

Terganggunya Kebersihan Mulut


Kehilangan gigi menyebabkan terganggunya kebersihan mulut. Migrasi dan rotasi gigi
menyebabkan gigi kehilangan kontak dengan gigi tetangganya, demikian pula pada gigi
antagonisnya. Adanya ruang interproksimal ini mengakibatkan terbentuknya celah antar gigi
yang mudah disisipi sisa makanan. Dengan sendirinya kebersihan mulut jadi terganggu dan
mudah terbentuk plak; bila tidak diperhatikan maka akan menyebabkan angka kejadian karies
meningkat.

Kerusakan Terhadap Jaringan Lunak Mulut


Kehilangan gigi menyebabkan kerusakan terhadap jaringan lunak mulut, seperti bibir, pipi,
lidah. Bila ada gigi yang hilang, ruang yang ditinggalkannya akan ditempati jaringan lunak pipi
dan lidah.

2.1.1 Dampak Edentulus Penuh


Edentulus penuh memberikan dampak sebagai berikut:
a. Dampak Fisik

Jumlah gigi telah dipilih sebagai kunci dalam menentukan fungsi mulut dan status kesehatan
mulut.7Beberapa penelitian menunjukkan bahwa indikator yang penting untuk efisiensi pengunyahan
adalah jumlah gigi. Riadiani dkk (2014) menyatakan bahwa penurunan kemampuan pengunyahan
paling signifikan terdapat pada populasi lansia dengan keadaan edentulus penuh.
b. Dampak Mental

Kehilangan tulang merupakan proses yang terjadi terus menerus karena edentulus. Pada edentulus
penuh ditemukan efek yang signifikan pada resorpsi tulang alveolar, yang mengacu pada
pengurangan tinggi tulang alveolar dan ukuran dari denture bearing area. Pengurangan ini
memberikan efek pada tinggi wajah dan tampilan fasial yang berubah karena edentulus, sehingga
dapat dikatakan bahwa edentulus memberikan efek yang kurang baik terhadap tampilan estetik
Seseorang. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap mental penderita edentulus penuh.

2.1.2 Kualitas Hidup Penderita Edentulus Penuh


Secara umum kualitas hidup didefinisikan sebagai persepsi individual terhadap posisinya dalam
kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai tempat yang ia tinggali dan relasinya terhadap
tujuan, harapan dan perhatiannya. Edentulus penuh kemungkinan akan mengacu pada perubahan
yang lebih buruk pada semua aspek hidup. Gigi memiliki peranan penting dalam tampilan wajah,
bicara dan kemampuan makan. Keadaan edentulus penuh tidak hanya mempengaruhi fungsi oral tapi
juga kehidupan sosial seperti penderita edentulus penuh akan menghindari berpartisipasi dalam
aktivitas sosial karena malu untuk berbicara, tersenyum atau makan di depan banyak orang.

KONDISI ANATOMIS & FISIOLOGIS YANG BERHUBUNGAN


DENGAN KONSTRUKSI GTP

RAHANG ATAS

1. Pendukung bagi GTP RA


 Dukungan  dari tulang palatum dan maksila
 Tulang ditutupi oleh mukosa
 Ketebalan mukosa berbeda di berbagai daerah palatum  perbedaan kompresibilitas jaringan 
perlu diberikan relief palatal:
a. Papilla insisivum
b. Sutura palatina mediana
c. Torus palatinus
2. Daerah penerima tekanan
 Linggir alveolar dan sebagian besar palatum durum  daerah penerima tekanan utama
 Rugae palatina  sebaiknya tidak berubah bentuk sewaktu dicetak
 Daerah kelenjar di kiri-kanan midline posterior palatum durum
3. Papila insisivum
 Menutupi foramen insisivum
 Harus diberi relief agar tidak menekan nervus nasopalatinus yang bermuara di foramen insisivum
 Dapat menjadi petunjuk besarnya resorpsi yang telah terjadi
4. Daerah palatal posterior
 Ditutupi jaringan lunak yang cukup tebal
 Tidak dibutuhkan relief, kecuali pada resorpsi yang hebat
5. Komponen tulang dasar pendukung GTP yang perlu diperhatikan
 Foramen insisivum  menjadi lebih dekat ke puncak alveolar  mengikuti resorpsi
 Tuberositas maksila:
– Sering sangat menonjol akibat gigi poterior atas dibiarkan tanpa antagonis  tulang ikut
tumbuh seiring gigi ektrusi
– Ditutupi oleh jaringan fibrous
– Prosessus zygomatikus  di distal frenulum bukal pada daerah M1 pasien yang
edentulous dalam waktu lama
 Torus palatinus  penonjolan tulang di garis tengah palatum durum
– Dibebaskan dari tekanan basis  relief palatal
RAHANG BAWAH

 Buccal shelf
– Daerah dukungan utama
– Ditutupi tulang kortikal
– Memberi daya tahan yang sangat baik terhadap tekanan oklusal

 Anatomi tepi labial dan bukal


– Di bagian tengah vestibulum labialis  frenulum labialis  dibebaskan
dari sayap GT
– Vastibulum bukalis  Meluas dari frenulum bukal ke posterior sampai
bagian luar retromolar pad serta dari puncak alveolar ke pipi
– Vestibulum bukalis akan ditempati oleh sayap bukal GT

 Daerah otot masseter


– Tepi distobukal GTP RB harus melandai atau cekung 
menghindari bergesernya GT akibat kontraksi otot masseter

 Anatomi tepi lingual


– Terdapat mylohyoid ridge
– Sayap lingual yang panjang pada daerah ini  sakit dan GT goyang
sewaktu lidah digerakkan
– Sayap lingual harus sejajar dengan mylohyoid sewaktu berfungsi 
tidak menimbulkan rasa sakit
– Pergerakan dasar mulut mempengaruhi panjang sayap
– Frenulum lingualis dibebaskan dari sayap GT

 Sulkus alveolingual
– Ruangan antara lidah dengan linggir alveolar dari frenulum lingual
meluas ke fossa retromylohyoid
– Daerah anterior : meluas dari frenulum lingual ke fossa
premylohyoid
– Daerah tengah : dari fossa premylohyoid ke ujung distal krista
mylohyoid
– Daerah posterior : fossa retromylohyoid

 Batas distal : Retromolar pad


– Batas posterior GTP RB
– Basis menutupi retromolar pad  peripheral seal
– Harus diperoleh pada cetakan

INDIKASI & KONTRAINDIKASI GTP

INDIKASI :

1. Individu yang seluruh giginya telah tanggal atau dicabut


2. Individu yang masih punya beberapa gigi yang harus dicabut karena kerusakan gigi yang masih
ada tidak mungkin diperbaiki.
3. Bila dibuatkan GTS, isa gigi yang masih ada akan mengganggu keberhasilannya.
4. Keadaan umum dan kondisi mulut pasien sehat.
5. Ada persetujuan mengenai waktu, biaya dan prognosis yang akan diperoleh.

KONTRAINDIKASI :

1. Tidak ada perawatan alternative


2. Pasien belum siap secara fisik dan mental
3. Pasien alergi terhadap material gigi tiruan penuh
4. Pasien tidak tertarik mengganti gigi yang hilang.
DESAIN GTP
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROGNOSA

Faktor retensi dan stabilisasi adalah faktor yang penting dalam keberhasilan gigi tiruan lengkap.
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi GTL:

a. Faktor fisis: Peripherial seal, efektifitas peripherial seal sangat mempengaruhi efek retensi dari
tekananatmosfer. Posisi terbaik peripherial seal adalah di sekeliling tepi gigi tiruan yaitu pada permukaan
bukal gigitiruan atas, pada permukaan bukal gigi tiruan bawah.Peripherial seal bersambung dengan
Postdam padarahang atas menjadi sirkular seal. Sirkular seal ini berfungsi membendung agar udara dari
luar tidak dapatmasuk ke dalam basis gigi tiruan (fitting surface) dan mukosa sehingga tekanan atmosfer
di dalamnya tetapterjaga. Apabila pada sirkular seal terdapat kebocoran (seal tidak utuh/terputus) maka
protesa akan mudahlepas. Hal inilah yang harus dihindari dan menjadi penyebab utama terjadinya
kegagalan dalam pembuatanprotesa gigi tiruan lengkap.Postdam, diletakkan tepat disebelah anterior garis
getar dari palatum molle dekatfovea palatina.

b. Adaptasi yang baik antara gigi tiruan dengan mukosa mulut. Ketepatan kontak antara basis gigi
tiruan denganmukosa mulut, tergantung dari efektivitas gaya-gaya fisik dari adhesi dan kohesi, yang
bersama-sama dikenalsebagai adhesi selektif.

c. Perluasan basis gigi tiruan yang menempel pada mukosa (fitting surface). Retensi gigi tiruan
berbandinglangsung dengan luas daerah yang ditutupi oleh basis gigi tiruan.

d. Residual Ridge, karena disini tidak ada lagi gigi yang dapat dipakai sebagai pegangan terutama pada
rahangatas.

e. Faktor kompresibilitas jaringan lunak dan tulang di bawahnya untuk menghindari rasa sakit dan
terlepasnyagigi tiruan saat berfungsi

f. Pemasangan gigi geligi yang penting terutama untuk gigi anterior (depan) karena harus mengingat
estetis (ukuran,bentuk, warna) walaupun tidak kalah pentingnya untuk pemasangan gigi posterior
(belakang) yang tidak harus samaukurannya dengan gigi asli, tetapi lebih kecil, untuk mengurangi
permukaan pengunyahan supaya tekanan padawaktu penguyahan tidak memberatkan jaringan
pendukung.

g. Untuk pemasangan gigi yang harus diperhatikan adalah personality expression, umur, jenis kelamin
yang mananantinya akan berpengaruh dalam pemilihan ukuran, warna dan kontur gigi. Disamping itu
juga perlu diperhatikan keberadaan over bite, over jet, curve von spee, curve monson, agardiperoleh suatu
keadaan yang diharapkan pada pembuatan gigi tiruan l

Faktor penyulit retensi dan stabilisasi gigi tiruan

Empat factor penting agar gigi tiruan penuh dapat berfungsi secara efisien adalah cukupnya dukungan,
retensi, keseimbangan otot dan keseimbangan oklusi. Factor-faktor retensi gigi tiruan seperti adhesi,
kohesi, tegangan permukaan interfasial dan daya tarik menarik kapiler terjadi karena adanya saliva dalam
rongga mulut. saliva berfungsi sebagai lubrikan dan bantalan basis GTP dan jaringan lunak.

Saliva dengan viskositas cair dalam jumlah yang banyak dapat membasahi anatomi gigi tiruan sehingga
mempertinggi tegangan permukaan. Sedangkan saliva yang banyak dengan viskositas kental menjadi
factor penyulit karena mudah melepas gigi tiruan. Pada penderita xerostomia saliva menjadi sangat
berkurang sehingga akan mengurangi retensi yang berakibat pada berkurangnya stabilisasi dan proteksi
mekanis gigi tiruan dukungan jaringan lunak oleh selapis tipis saliva. Oleh karena itu pada penderita
xerostomia pembuatan GTP bisa disertai dengan reservoir sebagai wadah untuk menyimpan sediaan
saliva buatan.

Selain adanya saliva, retensi dan stabilitas gigi tiruan juga dipengaruhi oleh kondisi anatomi landmark
rongga mulut yang bersifat baik mendukung dan ada yang mempersulit. Pada gigi tiruan lengkap rahang
bawah, batas posterior bagian sayap lingual dapat diperluas kea rah posteroinferior ke ruang
retromylohyoid sehingga menghasilkan retensi dan stabilisasi gigi tiruan. Apabila kedalaman ruang ini
lebih dari setengah kaca mulut nomer 3, menunujukkan bahwa daerah tersebut dalam dan dapat
memberikan retensi yang efektif. Akan tetapi apabila daerah tersebut dangkal, akan mempersulit retensi
yang efektif.

Kondisi GTL yang longgar dapat dikarenakan oleh :

1. Adanya perubahan dimensi (thermal dan stress) gigi tiruan yang dipakai

2. Adanya factor intra oral, contoh resorbsi tulang alveolar

3. Adanya factor psikologis pasien, contoh usia pasien lanjut

4. Adanya factor patologis, contoh osteoporosis

Faktor Patologis :

I. Diabetes Mellitus

Pada pendertita diabetes, suatu kombinasi infeksi dan penyakit pembuluh darah menyebabkan
berkembangnya komplikasi-komplikasi di dalam mulut, seperti jaringan mukosa yang meradang, cepat
berkembangnya penyakit periodontal yang sudah ada dengan hilangnya tulang alveolar secara menyolok
dan mudah terjadinya abses periapikal. Infeksi monilial, berkurangnya saliva, bertambahnya
pembentukan kalkulus, merupakan hal yang khas dari penyakit diabetes yang tidak terkontrol.
Manifestasi klinis ini terjadi bersama-sama dengan gejala-gejala yang sering ditemukan seperti poliuria,
haus, mengeringnya kulit, gatal-gatal, cepat lapar, cepat lelah, serta berkurangnya berat badan. Hal
pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol diabetesnya dan menyehatkan kembali jaringan mulut.

Dalam lingkungan mulut yang sudah sehat kembali, pembuatan protesa dapat dilakukan dengan
saran-saran tambahan sebagai berikut. Pertama, hindari tindakan pembedahan yang besar selama hal itu
mungkin dilakukan. Gunakan bahan cetak yang bisa mengalir bebas dan buat desain rangka geligi tiruan
yang terbuka dan mudah dibersihkan, serta distribusikan beban fungsional pada semua bagian yang dapat
memberikan dukungan. Lalu, susunlah oklusi yang harmonis. Bila dibutuhkan, rangsanglah pengaliran air
liur dengan obat hisap yang bebas karbohidrat. Tekankan kepada pasien mengenai pentingnya
pemeliharaan kesehatan mulut. Akhirnya, tentukan kunjungan ulang penderita setiap enam bulan sekali
(bahkan kalau oerlu lebih sering dari itu) untuk mempertahankan kesehatan mulut (Gunadi, dkk., 1991 :
110).

II. Penyakit Kardiovaskular

Hal ini perlu diperhatikan pada waktu pencabutan gigi. Hindari pemakaian anastetikum yang
mengandung vasokonstriktor seperti adrenalin; oleh karena bahan ini dapat mempengaruhi tekanan darah
(Gunadi, dkk., 1991 : 110).

III. Tuberkulosis dan Lues

Terjadinya gangguan metabolism pada penderita Tuberkulosis dan Lues, menyebabkan resorpsi
berlebihan pada tulang alveolar.

Dalam merawat penderita-penderita ini, perlindungan terhadap dokter gigi serta penderita lain
merupakan pertimbangan yang sangat penting; umpamanya jangan memasukkan jari telanjang ke dalam
mulut seorang penderita Lues. Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan Longue Blader; sedangkan
penggunaan sarung tangan karet sangat dianjurkan.

Cucilah tangan dengan sabun dan air panas, segera sesudah kita merawat penderita tersebut.
Dalam hal ini, menyikat tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan abrasi kecil. Sebagai tambahan, baik
sekali untuk mencuci wajah secara hati-hati, karena mungkin saja setetes darah/ saliva memercik
mengenai muka atau sepotong kecil kalkulus terpental mengnai wajah dapat menyebabkan erosi kulit
sehingga menyebabkan terjadinya infeksi. Penderita Lues aktif dan tidak dirawat sebaiknya hanya
menerima perawatan darurat saja, sedangkan semua pekerjaan lainnya harus ditunda sampai penyakitnya
sembuh(Gunadi, dkk., 1991 : 110-111).

IV. Anemia

Penderita anemia biasanya menunjukkan resorpsi tulang alveolar yang cepat. Untuk kasus ini
sebaiknya gunakanlah elemen gigi tiruan yang tidak ada tonjol (cusp) (Gunadi, dkk., 1991 : 111).

V. Depresi Mental

Penderita depresi mental biasanya diberi pengobatan dengan obat yang mempunyai efek
samping mengeringnya mukosa mulut. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya retensi geligi tiruan.
Maka perawatan dalam bidang prostodontik sebaiknya ditunda dahulu sampai perawatan terhadap depresi
mentalnya dapat diatasi.

Seorang penderita yang frustasi biasanya menempatkan faktor estetik tidak secara realistic. Ia
mungkin datang dengan sebuah foto yang dibuat pada waktu ia masih muda/ remaja serta mengharapkan
penampilan yang sesuai dengan foto tadi diterapkan pada protesa yang akan dibuat (Gunadi, dkk., 1991 :
111).

VI. Alkoholisme

Sebagai pemakai geligi tiruan sebagian lepasan, pecandu alcohol biasanya mengecewakan.
Tanda-tanda penderita semacam ini antara lain napasnya berbau alcohol, tremor, mata dan kulit pada
bagian tengah wajah memerah, gugup, dan kurus.

Dalam upaya menutupi rasa rendah dirinya, penderita alkoholik menuntut pemenuhan faktor
estetik yang tinggi untuk protesa yang akan dibuat. Keyakinan dirinya serta kerja sama dengan penderita
ini dapat dikembangkan, bila hal tadi dapat kita penuhi. Sebaliknya, bila hal ini gagal, bisa membawa
akibat yang buruk.

Perawatan gigi untuk penderita alkoholik pada umumnya dihindari sampai kebutuhan ini sudah
begitu mendesak, supaya pembuatan protesa dapat berhasil untuk jangka waktu cukup panjang. Di
samping semua problem di atas, seorang penderita alkoholik cenderung mengalami kecelakaan. Patah
atau hilangnya geligi tiruan karena jatuh atau kecelakaan kendaraan adalah suatu hal yang biasa terjadi
(Gunadi, dkk., 1991 : 111-112).

RENCANA PERAWATAN PASIEN GTP


Referensi :
• Zarb GA, Bolender CL, Hickey JC, Carlsson GE: Buku ajar prostodonti untuk pasien tak
bergigi menurut Boucher, Edisi 10, Jakarta, 2002, EGC.

• Basker RM: Perawatan prostodontik bagi pasien tidak bergigi, Jakarta, EGC

• Mark Vallee : Secrets to successful dentures part II <


http://removpros.dentistry.dal.ca/RemovSite/Secrets_of_Dentures_files/Successful%20D
entures%20Part%202.pdf> (13 April 2011)

• Nallaswamy D: Textbook of prosthodontics, India, 2003, Jaypee

• Soratur SH: Essentials of prosthodontics, India, 2006, Jaypee

• Watt, David M dan MacGregor, A. Roy. 1992. Membuat Desain Gigi Tiruan Lengkap.
Jakarta: Hipokrates. Pp : 187-197
• W.H. Itjiningsih. 1993. Geligi Tiruan Lengkap Lepas. Jakarta: EGC. Pp : 62-73

• Gunadi, Haryanto. A; Burhan, Lusiana A.; Suryatenggara, Freddy. 1995. Ilmu Geligi
Tiruan Sebagian Lepasan Jilid 1. Jakarta: Hipokrates. Pp : 112-116

• Zarb, George A. 2002. Buku Ajar Prostodonti untuk Pasien Tak Bergigi Menurut
Boucher. Jakarta: EGC. Pp : 261-263

• Basker, R.M., Davenport. J.C. and Tomlin, H.R. 1996. Perawatan Prostodontik bagi
Pasien Tak Bergigi (terj.), Edisi III. Jakarta : EGC

• Soelarko, R. M. dan Wachijati, H., 1980, Diktat Prostodonsia Full Denture, FKG
Unnpad, Bandung.

• Swenson, M. G., 1960, Complete Denture, 5 th ed., C. V. Mosby Co., Saint


Louis.