Anda di halaman 1dari 39

MINI PROJECT REPORT

GAMBARAN TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT DESA


PUCANGAN TERHADAP PENYAKIT

HIV HEPATITISB dan INFEKSI MENULAR SEKSUAL

Penyusun:

dr. Pradinta Bayu Krisnadewara

Pembimbing:

dr. Nanik

PUSKESMAS KAUMAN

TULUNGAGUNG 2019

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan


banyak Negara di seluruh dunia. UNAIDS memperkirakan jumlah ODHA di seluruh
dunia pada Desember 2004 adalah 35,9 – 44,3 juta orng. Saat ini tidak ada Negara
yang terbebas dari HIV/AIDS. Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun
1981. Meskipun demikian, dari beberapa literature sebelumnya ditemukan kasus yang
cocok dengan definisi surveilans AIDS pada tahun 1950 dan 1960-an di Amerika
Serikat. Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen
Kesehatan tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Dan kini,
kasus HIV/AIDS ini kini semakin meluas dan menyerang berbagai lapisan dan strata
sosial.

Hepatitis A adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus
ini menyebar terutama bila (dan tidak divaksinasi) tidak terinfeksi orang ingests
makanan atau air yang terkontaminasi dengan tinja orang yang terinfeksi. Penyakit ini
sangat erat kaitannya dengan kurangnya air bersih, sanitasi yang tidak memadai dan
kebersihan pribadi yang buruk.Tidak seperti hepatitis B dan C, infeksi hepatitis A tidak
menyebabkan penyakit hati kronis dan jarang berakibat fatal, tetapi dapat
menyebabkan gejala yang melemahkan dan hepatitis fulminan (gagal hati akut), yang
berhubungan dengan kematian yang tinggi.
Di Indonesia berdasarkan data yang berasala dari rumah sakit, hepatitis A masih
merupakan bagian terbesar dari kasus – kasus hepatitis akut yang dirawat yaitu
berkisar dari 39,8 – 68,3 %, di beberapa daerah seperti Jakarta, Bandung, dan
Makassar berkisar antara 35%-45% pada usia 5 tahun.
Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan berbagai infeksi yang dapat menular
dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak seksual. Infeksi Menular Seksual
(IMS) lebih berisiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan
baik melalui vagina, oral maupun anal. IMS yang populer di Indonesia antara lain
gonore dan sifilis. Salah satu penyakit dari IMS yang belum dapat disembuhkan adalah
HIV/AIDS. Faktor terjadinya penyebaran IMS disebabkan karena perilaku seks bebas,
merosotnya nilai agama, gaya hidup, pekerjaan, dan gagalnya membina rumah tangga.

2
Infeksi menular seksual dapat disebabkan seperti, gonore, trikomoniasis, herpes
genitalis, kondiloma akuminata.

Diperkirakan bahwa lebih dari 19,7 juta IMS dengan kasus baru di Amerika
Serikat setiap tahun (CDC, 2013). Data dari Dinkes Provinsi Jateng (2013)
menyebutkan bahwa jumlah kasus baru IMS mencapai 8.671 kasus, jumlah kasus IMS
menurun dibandingkan tahun 2011 yaitu sebanyak 10.752 kasus, meskipun demikian
kemungkinan kasus yang sebenarnya di populasi masih banyak yang belum terdeteksi.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Semakin meningkatnya jumlah penderita HIV di Indonesia
2. Masih ada Masyarakat terutama di Desa Pucangan yang belum memahami HIV
3. Masih banyak jumlah kasus Hepatitis A di Indonesia
4. Masih banyak Masyarakat di Desa Pucangan yang belum memahami Hepatitis A
5. Masih banyak jumlah kasus IMS di Indonesia
6. Masih banyak Masyarakat di Desa Pucangan yang belum memahami IMS
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1. TUJUAN UMUM
Untuk mengetahui tingkat pemahaman masyakarat Desa Pucangan terhadap
HIV, Hepatitis A, dan Infeksi Menular Seksual
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 BAGI PENELITI
 Memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian
 Menerapkan Ilmu Pengetahuan dalam Masyarakat
 Melatih Peneliti untuk membuat suatu program dan karya tulis sebagai salah satu
tugas dalam menjalankan Program Internsip
 Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti
selanjutnya
1.4.2 BAGI PUSKESMAS
 Sebagai masukan bagi petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan di
Masyarakat
 Membantu petugas kesehatan dalam menentukan sasaran penyuluhan

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA

1. HIV
1.1 DEFINISI

HIV atau Human Immunodeficiency Virus, adalah virus yang menyerang


system kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome). AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau
penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akubat infeksi HIV.
AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.

1.2 EPIDEMIOLOGI

Pada tahun 2005, jumlah ODHA di seluruh dunia diperkirakan sekitar 40,3 juta
orang dan yang terinfeksi HIV sebesar 4,9 juta orang. Jumlah ini terus bertambah
dengan kecepatan 15.000 pasien per hari. Jumlah pasien di kawasan Asia Selatan dan
Asia Tenggara sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 7,4 juta pada tahun 2005.
Menurut catatan Departemen Kesehatan, pada tahun 2005 terdapat 4.186 kasus AIDS.

Jumlah Kasus HIV dari tahun 2005 sampai 2017 mengalami kenaikan setiap
tahunnya, jumlah kasus tertinggi di DKI Jakarta ( 51.981 ), diikuti Jawa Timur
( 39.633 ), Papua ( 29.083 ), Jawa Barat ( 28.964), dan Jawa Tengah ( 22.292 )

1.3 ETIOLOGI

Virus HIV yang termasuk dalam famili retrovirus genus lentivirus diketemukan
oleh Luc Montagnier, seorang ilmuwan Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang
mengisolasi virus dari seorang penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada
waktu itu dinamakan Lymphadenopathy Associated Virus (LAV). Gallo (national
Institute of Health, USA 1984) menemukan Virus HTLV-III (Human T Lymphotropic
Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut dibuktikan
bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan International
Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO member nama resmi HIV. Pada
tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat pula menyebabkan AIDS,
disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara genetic maupun antigenic. HIV-2
dianggap kurang patogen dibandingkan dengan HIV-1. Untuk memudahkan, kedua
virus itu disebut sebagai HIV saja.

4
1.4 MANIFESTASI KLINIS

Gejala infeksi HIV pada awalnya sulit dikenali karena seringkali mirip penyakit
ringan sehari-hari seperti flu dan diare sehingga penderita tampak sehat.
Kadang-kadang dalam 6 minggu pertama setelah kontak penularan timbul gejala tidak
khas berupa demam, rasa letih, sakit sendi, sakit menelan dan pembengkakan kelenjar
getah bening di bawah telinga, ketiak dan selangkangan. Gejala ini biasanya sembuh
sendiri dan sampai 4-5 tahun mungkin tidak muncul gejala. (1,6,7,8,9)

Pada tahun ke 5 atau 6 tergantung masing-masing penderita, mulai timbul diare


berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut dan
pembengkakan di daerah kelenjar getah bening. Kemudian tahap lebih lanjut akan
terjadi penurunan berat badan secara cepat (> 10%), diare terus-menerus lebih dari 1
bulan disertai panas badan yang hilang timbul atau terus menerus. (1,6,7,8,9)

Tanda-tanda seorang tertular HIV Sebenarnya tidak ada tanda-tanda khusus


yang bisa menandai apakah seseorang telah tertular HIV, karena keberadaan virus
HIV sendiri membutuhkan waktu yang cukup panjang (5 sampai 10 tahun hingga
mencapai masa yang disebut fullblown AIDS). Adanya HIV di dalam darah bisa
terjadi tanpa seseorang menunjukan gejala penyakit tertentu dan ini disebut masa HIV
positif. Bila seseorang terinfeksi HIV untuk pertama kali dan kemudian
memeriksakan diri dengan menjalani tes darah, maka dalam tes pertama tersebut
belum tentu dapat dideteksi adanya virus HIV di dalam darah. Hal ini disebabkan
karena tubuh kita membutuhkan waktu sekitar 3 – 6 bulan untuk membentuk antibodi
yang nantinya akan dideteksi oleh tes darah tersebut. Masa ini disebut window period
(periode jendela) . Dalam masa ini , bila orang tersebut ternyata sudah mempunyai
virus HIV di dalam tubuhnya (walau pun belum bisa di deteksi melalui tes darah), ia
sudah bisa menularkan HIV melalui perilaku yang disebutkan di atas tadi

Secara umum, tanda-tanda utama yang terlihat pada seseorang yang sudah
sampai pada tahapan AIDS adalah:

 Berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat


 Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari satu bulan)
 Diare berkepanjangan (lebih dari satu bulan)

Sedangkan gejala-gejala tambahan berupa :

 Batuk berkepanjagan (lebih dari satu bulan)

5
 Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
 Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
 Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh, seperti di bawah
telinga, leher, ketiak dan lipatan paha.

Perbedaan antara HIV dan AIDS, yaitu:

A. HIV adalah Human Immuno Deficiency Virus, suatu virus yang menyerang sel
darah putih manusia dan menyebabkan menurunnya kekebalan/ daya tahan tubuh,
sehingga mudah terserang infeksi/penyakit.

B. AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome, yaitu timbulnya


sekumpulan gejala penyakit yang terjadi karena kekebalan tubuh menurun,oleh karena
adanya virus HIV di dalam darah

Infeksi HIV/AIDS berbahaya, karena telah banyak pengidap HIV/AIDS yang


meninggal

 Gejala muncul setelah 2 - 10 tahun terinfeksi HIV.


 Pada masa tanpa gejala sangat mungkin menularkan kepada orang lain.
 Setiap orang dapat tertular HIV/AIDS.
 Belum ada vaksin dan obat penyembuhnya.

Perjalanan Penyakit dan Gejala yang Timbul

 Dalam masa sekitar 3 bulan setelah tertular, tubuh belum membentuk


antibodi secara sempurna, sehingga tes darah tidak memperlihatkan
bahwa orang tersebut telah tertular HIV. Masa 3 bulan ini sering disebut
dengan masa jendela
 Masa tanpa gejala, yaitu waktu (5 - 7 tahun) dimana tes darah sudah
menunjukkan adanya anti bodi HIV dalam darah, artinya positif HIV,
namun pada masa ini tidak timbul gejala yang menunjukkan orang
tersebut menderita AIDS, atau dia tampak sehat.
 Masa dengan gejala, ini sering disebut masa sebagai penderita AIDS.
Gejala AIDS sudah timbul dan biasanya penderita dapat bertahan 6 bulan
sampai 2 tahun dan kemudian meninggal

1.5 PENCEGAHAN

PENULARAN LEWAT SUNTIKAN

6
- Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan
penyuntikan

atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka

Ada dua hal yang perlu diperhatikan:

1. Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau

pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar

2. Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian

dengan orang lain

PENULARAN LEWAT HUBUNGAN SEKS

- Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang
tidak

memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan


penularan HIV)

Ada tiga cara:

1. Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks)

2. Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia
kepada pasangannya

3. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan


melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom

PENULARAN LEWAT ASI

- Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko
dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada sendiri dan bayinya, sehingga
keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan.

PENULARAN DARI IBU KE BAYI

1. pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi

2. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif

3. pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya.

7
4. pemberian dukugan psikologis, social dan perawatan kepada ibu HIV positif
berserta bayi dan keluarganya.

Strategi yang digunakan untuk emncegah penularan disaat kehamilan, persalinan dan
penyusuan adalah.

1. penggunaan terapi ARV pada ibu dan bayi.


2. seksio sesaria sebelum terjadinya pecah selaput ketuban.
3. pemberian susu formula.

2. HEPATITIS A

2.1 Definisi

Hepatitis A adalah penyakit yang mengenai sel-sel hati yang disebabkan oleh
virus hepatitis A (VHA). Self-limiting dan memberikan kekebalan seumur hidup
Menurut WHO (2012) Hepatitis A adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus
hepatitis A. Virus ini menyebar terutama bila (dan tidak divaksinasi) tidak terinfeksi
orang ingests makanan atau air yang terkontaminasi dengan tinja orang yang
terinfeksi. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kurangnya air bersih, sanitasi yang
tidak memadai dan kebersihan pribadi yang buruk.

2.2 EPIDEMIOLOGI

Di negara-negara berkembang dengan kondisi sanitasi yang sangat buruk dan


praktek-praktek higienis, kebanyakan anak (90%) telah terinfeksi dengan virus
hepatitis A sebelum usia 10 tahun. Mereka yang terinfeksi di masa kecil tidak
mengalami gejala nyata. Wabah jarang terjadi karena anak-anak lebih tua dan orang
dewasa umumnya kebal. Gejala penyakit suku di daerah ini rendah dan wabah jarang
terjadi.

HAV ditemukan di seluruh dunia, khususnya di daerah miskin sumber daya.


Seropositivitas tertinggi (yaitu, prevalensi tertinggi antibodi terhadap HAV) diamati
pada orang dewasa di perkotaan Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, di mana
ditemukan pernah terinfeksi HAV. Infeksi pada anak usia dini adalah normal di
negara-negara ini dan biasanya tanpa gejala. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah
kepadatan penduduk, sanitasi yang buruk, praktik sosial tertentu, dan kurangnya
sumber daya air bersih. Dalam kerangka sosial ekonomi (yaitu, struktur kelas) dari
beberapa negara berkembang adalah perbedaan frekuensi antibodi HAV dalam

8
populasi yang lebih tua, karenanya, kasus sporadis dapat diamati pada beberapa
individu. Imigran dari negara-negara dengan endemisitas tinggi ke negara-negara
dengan endemisitas rendah mungkin bertanggung jawab atas beberapa periodisitas
yang diamati dengan wabah infeksi. Dalam hal ini, individu yang terkena cenderung
bayi yang lahir sejak wabah terakhir atau orang dewasa yang rentan yang pindah ke
daerah tersebut.

2.3 ETIOLOGI

Hepatitis A virus akut merupakan infeksi virus yang ditularkan melalui transmisi
enteral virus RNA yang mempunyai diameter 27 nm. Virus ini bersifat self-limiting dan
biasanya sembuh sendiri, lebih sering menyerang individu yang tidak memiliki
antibodi virus hepatitis A seperti pada anak-anak, namun infeksi juga dapat terjadi pada
orang dewasa. Jarang terjadi fulminan (0.01%) dan transmisi menjadi hepatitis konis
tidak perlu ditakuti, tidak ada hubungan korelasi akan terjadinya karsinoma sel hati
primer. Karier HAV sehat tidak diketahui. Infeksi penyakit ini menyebabkan pasien
mempunyai kekebalan seumur hidup.

HAV terdiri dari asam nukleat yang dikelilingi oleh satu atau lebih
protein.beberapa virus juga memiliki outer-membran envelop. Virus ini bersifat
parasite obligat intraseluler, hanya dapat bereplikasi didalam sel karena asam
nukleatnya tidak menyandikan banyak enzim yang diperlukan untuk metabolisme
protein, karbohidrat atao lipid untuk menghasilkan fossat energi tinggi. Biasanya asam
nukleat virus menyandi protein yang diperlukan untuk replikasi dan membungkus asam
nukleatnya pada bahan kimia sel inang. Replikasi HAV terbatas di hati, tetapi virus ini
terdapat didalam empedu, hati, tinja dan darah selama masa inkubasi dan fase akhir
preicterik akut penyakit.

HAV digolongkan dalam picornavirus, subklasifikasi sebagai hepatovirus,


diameter 27 – 28 nm dengan bentuk kubus simetrik, untai tunggal (single stranded),
molekul RNA linier 7,5 kb, pada manusia terdiri dari satu serotipe, tiga atau lebih
genotipe, mengandung lokasi netralisasi imunodominan tunggal, mengandung tiga atau
empat polipeptida virion di kapsomer, replikasi di sitoplasma hepatosit yang terinfeksi,
tidak terdapat bukti adanya repliksai di usus, menyebar pada galur primata non manusia
dan galur sel manusia.

9
Gambar 1. Virus Hepatitis A

2.4 MANIFESTASI KLINIS

1. Stadium Inkubasi

Periode antara infeksi HAV dan munculnya gejala berkisar 15 – 49 hari, rata-rata 25-30
hari. Inkubasi tergantung jumlah virus dan kekebalan tubuh.4

2. Stadium prodromal

Ditandai dengan gejala seperti : mual, muntah, nafsu makn menurun, merasa penuh
diperut, diare (sembelit), yang diikuti oleh kelemahan, kelelahan, demam, sakit kepala,
gatal-gatal, nyeri tenggorokan, nyeri sendi, gangguan penciuman dan pengecapan,
sensitif terhadap cahaya, kadang-kadang batuk. Gejala ini

seperti “febrile influenza infection”. Pada anak-anak dan remaja gejala gangguan
pencernaan lebih dominan, sedangkan pada orang dewasa lebih sering menunjukkan
gejala ikterik disertai mialgia.

3. Stadium klinis

90% dari semua pasien HAV akut adalah subklinis, sering tidak terdeteksi. Akhir dari
prodromal dan awal dari fase klinis di tandai dengan urin yang berwarna coklat,
urobilinogenuria persisten, proteinuria ringan dan microhaematuria dapat berkembang.
Feses biasanya acholic, dengan terjadinya ikteric (60-70% pada anak-anak, 80-90%
pada dewasa). Sebagian gejala mereda, namun demam bisa tetap terjadi. Hepatomegali,
nyeri tekan hepar splenomegali, dapat ditemukan. Akhir masa inkubasi LDL dapat
meningkat sebagai espresi duplikasi virocyte, peningkatan SGOP, SGPT, GDH. Niali
Transaminase biasanya tidak terlalu diperlukan untuk menentukan derajat keparahan.
Peningkatan serum iron selalu merupakan ekspresi dari kerusakan sel hati. AP dan LAP
meningkat sedikit. HAV RNA terdeteksi sekitar 17 hari sebelum SHPT meningkat dan
beberapa hari sbelum HAV IgM muncul. Viremia bertahan selama rata-rata 79 hari
setelah peningkatan GPT , durasinya sekitar 95 hari.

10
4. Penyembuhan

fase ikterik berlangsung sekitar 2-6 minggu. Parameter laboratorium benar-benar


normal setelah 4-6 bulan. Normalisasi dari serum asam empedu juga dianggap sebagai
perameter dari penyembuhan

Gejala klinis Hepatitis A dapat dibagi menjadi :

Hepatitis A Klasik : timbul secara mendadak didahului gejala prodromal sekitar 1


minggu sebelum jaundice.

Hepatitis A relaps : Timbul 6-10 minggu setelah sebelumnya dinyatakan sembuh secara
klinis. Kebanyakan terjadi pada umur 20-40 tahun. Gejala relaps lebih ringan daripada
bentuk pertama.

Hepatitis A kolestatik : Terjadi pada 10% penderita simtomatis. Ditandai dengan


pemanjangan gejala hepatitis dalam beberapa bulan disertai panas, gatal-gatal dan
jaundice.

2.5 PENCEGAHAN

Pencegahan Hepatitis A dilakukan dengan cara seperti misalnya dengan


menyajikan makanan dan minuman yang higienis, memastikan setiap makanan sudah
dimasak dengan betul, pola hidup sehat, mencuci tangan sebelum makan. Menjaga
kebersihan perorangan seperti mencuci tangan dengan baik dan benar. Cuci tangan
yanng baik dan benar dengan memakai sabun adalah cara sehat dan pencegahan yang
paling sederhana dan paling penting. Tetapi sayangnya perilaku hidup sehat yang baik
itu belum membudaya di sebagian kelompok masyarakat. Padahal bila dilakukan
dengan baik dapat mencegah berbagai penyakit menular seperti penyakit Hepatitis
A. Perilaku dan kebiasaan cuci tangan bila dilakukan dengan kegiatan lain misalnya
tidak buang air sembarangan, buang sampah pada tempatnya dan pengelolaan air
minum yang benar maka dapat lebih meminimalkan tertularnya virus Heptitis A.

Kontak dengan penderita atau orang yang dekat dengan penderita mungkin
memerlukan terapi imunoglobulin. Bagi mereka yang terkena HAV, globulin imun
(IG) harus diberikan sesegera mungkin dan selambat-lambatnya 2 minggu setelah
paparan awal.

Saat ini sudah tersedia vaksin hepatitis A untuk pencegahan terkena


penularan penyakit tersebut. Vaksin dibuat dari virus yang dimatikan dan

11
dapat diberikan pada usia mulai dari 2 tahun. Imunisasi hepatitis A
dilakukan dua kali, yaitu vaksinasi dasar dan booster yang dilakukan 6-12
bulan kemudian. Imunisasi hepatitis A dianjurkan bagi orang yang
potensial terinfeksi

3. IMS

3.1 DEFINISI

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya terutama


melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai gejala-gejala klinis
maupun asimptomatis. Penyebab infeksi menular seksual ini sangat beragam dan
setiap penyebab tersebut akan menimbulkan gejala klinis atau penyakit spesifik yang
beragam pula.

3.2 EPIDEMIOLOGI

Di dunia, gonore merupakan IMS yang paling sering terjadi sepanjang abad ke
20, dengan perkiraan 200 juta kasus baru yang terjadi tiap tahunnya. Sejak tahun
2008, jumlah penderita wanita dan pria sudah hampir sama yaitu sekitar 1,34 tiap
100.000 penduduk untuk wanita dan 1,03 tiap 100.000 penduduk untuk pria .
Sedangkan di Indonesia, dari data rumah sakit yang beragam seperti RSU Mataram
pada tahun 1989 dilaporkan gonore yang sangat tinggi yaitu sebesar 52,87% dari
seluruh penderita IMS.Sedangkan pada RS Dr.Pirngadi Medan ditemukan 16% dari
sebanyak 326 penderita IMS. Jumlah Kasus DTU ( Duh Tubuh Uretra ) di Indonesia
pada tahun 2016 dilaporkan sebanyak 10.672 kasus dan pada tahun 2017 sebanyak
9.590

3.3 ETIOLOGI

Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis,yaitu:bakteri


(diantaranya mN.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum),virus (diantaranya
HSV,HPV,HIV, Herpes B virus, Molluscum contagiosum virus), protozoa
(diantaranya Trichomonas vaginalis),jamur(diantaranya Candida albicans) ektoparasit
(diantaranya Sarcoptes scabiei)

3.4 MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi Klinis IMS bergantung dengan patogen yang menginfeksi.

12
3.4.1 Neisseria gonorrhoeae

Laki-laki: uretritis, epididimitis, orkitis, kemandulan Perempuan: servisitis,


endometritis, salpingitis, bartolinitis, penyakit radang panggul,kemandulan, ketuban
pecah dini, perihepatitis Laki-laki & perempuan: proktitis, faringitis, infeksi
gonokokus diseminata Neonatus: konjungtivitis, kebutaan.

3.4.2 Chlamydia trachomatis

Laki-laki: uretritis, epididimitis, orkitis, kemandulan Perempuan: servisitis,


endometritis, salpingitis, penyakit radang panggul, kemandulan, ketuban pecah dini,
perihepatitis, umumnya asimtomatik Laki-laki & perempuan: proktitis, faringitis,
sindrom Reiter Neonatus: konjungtivitis, pneumonia

3.4.3 Treponema pallidum

Laki-laki & perempuan: ulkus durum dengan pembesaran kelenjar getah bening
lokal, erupsi kulit, kondiloma lata, kerusakan tulang, kardiovaskular dan neurologis
Perempuan: abortus, bayi lahir mati, kelahiran prematur Neonatus: lahir mati, sifilis
kongenital

3.4.4 Haemophilus ducreyi

Laki-laki & perempuan: ulkus genitalis yang nyeri, dapat disertai dengan bubo
3.4.5 Klebsiella

Laki-laki & perempuan: pembengkakan kelenjar getah bening dan lesi


ulseratif didaerah inguinal, genitalia dan anus.

3.4.6 Mycoplasma genitalium

Laki-laki: duh tubuh uretra (uretritis non-gonore) Perempuan: servisitis dan


uretritis non-gonore, mungkin penyakit radang panggul

3.4.7 Ureaplasma urealyticum

Laki-laki: duh tubuh uretra (uretritis non-gonokokus) Perempuan: servisitis dan


uretritis non-gonokokus, mungkin penyakit radang panggul

3.4.8 Human Immunedeficiency Virus (HIV)

Laki-laki & perempuan: penyakit yang berkaitan dengan infeksi HIV, AIDS

3.4.9 Herpes simplex virus (HSV) tipe2 dan tipe 1

13
Laki-laki & perempuan: lesi vesikular dan/atau ulseratif didaerah genitalia dan anus
Neonatus: herpes neonatus

3.4.10 Human papillomavirus (HPV)

Laki-laki: kutil di daerah penis dan anus, kanker penis dan anus Perempuan: kutil di
daerah vulva, vagina, anus, dan serviks; kanker serviks, vulva, dan anus Neonatus:
papiloma larings

3.4.11 Virus hepatitis B

Laki-laki & perempuan: hepatitis akut, sirosis hati, kanker hati Virus moluskum
kontagiosum

3.4.12 MOLUSKUM KONTAGIOSUM

Laki-laki & perempuan: papul multipel, diskret, berumbilikasi di daerah genitalia atau
generalisata

3.4.13 Trichomonas vaginalis

Laki-laki: uretritis non-gonokokus, seringkali asimtomatik Perempuan: vaginitis


dengan duh tubuh yang banyak dan berbusa, kelahiran prematur Neonatus: bayi
dengan berat badan lahir rendah

3.4.14 Candida albicans

Laki-laki: infeksi di daerah glans penis Perempuan: vulvo-vaginitis dengan duh tubuh
vagina bergumpal, disertai rasa gatal & terbakar di daerah vulva

3.4.15 Phthirus pubis

Laki-laki & perempuan: papul eritematosa,gatal, terdapat kutu dan telur di rambut
pubis

3.4.16 Sarcoptes scabiei

Papul gatal, di tempat predileksi, terutama malam hari

3.5 PENCEGAHAN

14
 Abstinance, tidak melakukan hubungan seksual sama sekali sebelum menikah.
Jadi, sebagai remaja jangan sekali-kali mencoba melakukan hubungan seks
sebelum menikah.

 Melakukan kegiatan yang positif, dalam pengelolaan dorongan seksual yang


muncul dalam diri remaja, salah satu bentuknya adalah dengan banyak
melakukan kegiatan positif. Konsentrasi remaja tidak hanya terfokus untuk
memikirkan hal-hal yang bersifat erotis yang bisa memicu munculnya dorongan
seksual. Hal ini sebagai salah satu bentuk penyaluran agar remaja dapat
menghindari untuk berhubungan seks.

 Cari informasi yang benar, tentunya dari sumber yang tepat dan terpercaya
sebanyak mungkin tentang Kesehatan Reproduksi dan Seksual, termasuk
informasi tentang IMS. Dengan informasi yang benar, remaja akan terhindar dari
mitos-mios yang banyak beredar di masyarakat tentang IMS. Dengan mengetahui
fakta tentang IMS, sebagai benteng remaja untuk tehindar dari IMS.

 Remaja harus mempunyai Self Esteem yang tinggi. Yang dimaksudkan dengan
self esteem adalah penghargaan terhadap diri sendiri. Ketika remaja mampu
menghargai dirinyasendiri, tentunya dia akan paham mana yang sesuai dengan
dirinya atau tidak. Dengan self esteem yang tinggi, remaja bisa berani menolak
dengan tegas bila ada yang mengajak berhubungan seks dengan alasan apapun.

 Tidak menggunakan atau bertukar dengan orang barang-barang yang bersifat


pribadi, misal celana dalam, handuk.

Cara merawat organ reproduksi yang benar:

 Sering-sering mandi. Mandi seringkali dianggap sebagai hal yang sepele, tetapi
tidak jarang remaja seringkali melupakan hal yang satu ini.

 Sering-sering mengganti celana dengan dengan celana dalam yang bersih.

 Bagi perempuan, pada saat menstruasi juga sering-sering mengganti pembalut.

 Perhatikan cara cebok bagi perempuan. Selain menggunakan air yang bersih dan
mengalir, cara cebok yang benar akan menghindarkan remaja perempuan dari
IMS. Air yang menggenang, walaupun terlihat bersih tapi tidak menutup
kemungkinan itu menjadi media hidup dan berkembang bakteri atau kuman.
Ketika air tersebut dipakai untuk membasuh vagina setelah selasai buang air,

15
kemungkinan besar bakteri atau kuman berpindah ke vagina sangat besar. Jika
terjadi hal ini, bisa mengakibatkan infeksi di vagina jika kemudian bakteri atau
kuman tersebut kemudian berkembang di vagina. Cara cebok yang benar bagi
perempuan setelah buang air kecil adalah, dari arah atas ke bawah, bukan
sebaliknya. Karena ketika dari belakang ke depan, takutnya ketika secara tidak
segaja tangan menyentuh ke anus, padah di anus banyak sekal terdapat kuman
atau bakteri. Ditakutkan, jika bakteri yang ada di anus akan berpindah ke vagina
jika cara ceboknya salah. Bakteri yang ada di anus ketika berpindah dan
berkembang di vagina juga bisa mengakibatkan IMS bagi perempuan.

 Menghindari munculnya luka atau lecet di alat reproduksi.

16
BAB III

Metodologi Penelitian

3.1 DESAIN PENELITIAN

Desain penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif untuk mendapatkan


gambaran tentang tingkat pemahaman Masyarakat Desa Pucangan terhadap HIV,
Hepatitis A, dan IMS

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2019 dan 23 Januari 2019 di
wilayah Polindes Pucangan Kauman, Tulungagung.

3.3 SUMBER DATA

Sumber data terdiri dari data primer yang diambil dengan wawancara pada
warga yang Pucangan Kauman, Tulungagung.

3.4 SAMPEL

Pengambilan sampel menggunakan simpel random sampling, dilakukan secara


acak di Desa Pucangan. Dimana sampel yang didapatkan sebanyak 50 sampel

3.5 PROTOKOL MINI PROJECT


Menentukan rumusan masalah Koordinasi kepada kepala polindes Pucangan.
Melakukan pengambilan data, Melakukan pengolahan data Pelaporan hasil
pelaksanaan mini project

3.6 MANAJEMEN DATA


1. Pengumpulan Data

17
Data dikumpulkan menggunakan metode simpel random sampling di Desa
Pucangan Kauman Tulungaung pada Januari 2019, tekhnik pengumpulan data
menggunakan kuisioner
2. Pengolahan Data
Data-data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan berupa proses editing,
verifikasi, data entry, dan cleaning. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan
menggunakan program komputer, yaitu program Microsoft Word dan Microsoft
Excel.
3. Penyajian Data
Penyajian deskriptif dalam penelitian ini disajikan menggunakan tabel dan
grafik.
4. Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang akan di presentasikan di
hadapan Pembimbing iship di Puskesma Kauman, Tulungagung

18
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 HIV

Dari kuisioner yang telah dibagikan terdapat enam pertanyaan dimana tiga
pertanyaan dipergunakan untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat tentang
HIV dan tiga pertanyaan lainnya digunakan untuk mengetahui darimanakah
masyarakat mendapatkan info tentang HIV dan Respon masyarakat jika ada Penderita
HIV di daerah mereka.

4.1.2 Hasil Penelitian

4.1.2.1. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang HIV

Masyarakat yang pernah mendengar tentang HIV


50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
IYA TIDAK

Grafik 1. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang HIV

19
Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden sebanyak 47 orang
masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang HIV sedangkan 3 orang masyarakat
belum pernah sama sekali mendengar tentang HIV

4.1.2.2 Sumber Informasi HIV

Sumber Informasi HIV


35

30

25

20

15

10

0
Media elektronik Internet Petugas Guru Media Cetak
Kesehatan

Grafik 2. Sumber Informasi Masyarakat Tentang HIV

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 47 orang yang pernah mendengar
HIV. Sebanyak 28 orang masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang HIV
melalui Media Elektronik ( TV dan Radio ), 8 orang pernah mendengar HIV melalui
Internet, 29 orang pernah mendengar HIV melalui Petugas Kesehatan, 4 orang
melalui Media Cetak, dan tidak ada yang pernah mendapatkan informasi tentang HIV
melalui Guru.

4.1.2.3 Respond terhadap Penderita HIV

20
Respond Masyarakat terhadap penderita HIV

Menghindar Tidak mau menerima Memberi dukungan

Grafik 3. Respond Masyarakat terhadap penderita HIV

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebanyak 48 orang


memilih untuk memberikan dukungan kepada penderita HIV, 2 orang memilih untuk
menhidar dari penderita HIV, dan tidak ada yang memilih untuk tidak mau menerima
Penderita HIV di masyarakat

4.1.2.4 Tingkat Pemahaman Masyarakat Pucangan terhadap HIV

Untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat, peneliti menggunakan poin


untuk 3 pertanyaan di Kuisioner, total poin adalah 10. Dimana score 0 menunjukkan
bahwa Masyarakat tidak memahami, 1-4 Kurang memahami, 5-7 cukup memahami,
8-10 memahami dengan baik.

Tingkat Pemahaman HIV


40

35

30

25

20

15

10

0
Belum mengetahui Kurang Cukup Baik

21
Grafik 4. Tingkat Pemahaman HIV

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa sebanyak 3 orang masyarakat Desa


Pucangan belum mengetahui, 12 orang Cukup mengetahui, dan 35 orang mengetahui
dengan baik tentang HIV.

4.2 Hepatitis A

Dari kuisioner yang telah dibagikan terdapat enam pertanyaan dimana tiga
pertanyaan dipergunakan untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat tentang
Hepatitis A dan tiga pertanyaan lainnya digunakan untuk mengetahui darimanakah
masyarakat mendapatkan info tentang Hepatitis A dan Respon masyarakat jika ada
Penderita Hepatitis A di daerah mereka.

4.2.2 Hasil Penelitian

4.2.2.1. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang Hepatitis A

Masyarakat yang pernah mendengar tentang


Hepatitis A

50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0
IYA TIDAK

Grafik 5. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang

22
Hepatitis A

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden sebanyak 46 orang


masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang Hepatitis A sedangkan 4 orang
masyarakat belum pernah sama sekali mendengar tentang Hepatitis A

4.2.2.2 Sumber Informasi Hepatitis A

Sumber Informasi Hepatitis A


30

25

20

15

10

0
Media elektronik Internet Petugas Guru Media Cetak
Kesehatan

Grafik 6. Sumber Informasi Masyarakat Tentang Hepatitis A

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 46 orang yang pernah mendengar
Hepatitis A. Sebanyak 17 orang masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang
Hepatitis A melalui Media Elektronik ( TV dan Radio ), 5 orang pernah mendengar
Hepatitis A melalui Internet, 28 orang pernah mendengar Hepatitis A melalui Petugas
Kesehatan, 3 orang melalui pernah mendengar Hepatitis A melalaui Media Cetak, dan
tidak ada yang pernah mendapatkan informasi tentang Hepatitis A melalui Guru.

4.2.2.3 Respond terhadap Penderita Hepatitis A

23
Respond Masyarakat terhadap penderita
Hepatitis A

Menghindar Tidak mau menerima Memberi dukungan

Grafik 7. Respond Masyarakat terhadap Penderita Hepatitis A

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebanyak 45 orang


memilih untuk memberikan dukungan kepada penderita Hepatitis A, 4 orang memilih
untuk menhidar dari penderita Hepatitis A, dan 1 yang memilih untuk tidak mau
menerima Penderita Hepatitis A di masyarakat

4.2.2.4 Tingkat Pemahaman Masyarakat Pucangan terhadap Hepatitis A

Tingkat Pemahaman Hepatitis A


25

20

15

10

0
Belum mengetahui Kurang Cukup Baik

Grafik 8. Tingkat Pemahaman Hepatitis A

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa sebanyak 4 orang masyarakat Desa


Pucangan belum mengetahui, 22 orang kurang memahami,7 orang cukup mengetahui,
dan 17 orang mengetahui dengan baik tentang HIV.

24
4.3 Infeksi Menular Seksual ( IMS )

Dari kuisioner yang telah dibagikan terdapat enam pertanyaan dimana dua
pertanyaan dipergunakan untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat tentang
IMS dan empat pertanyaan lainnya digunakan untuk mengetahui darimanakah
masyarakat mendapatkan info tentang IMS dan Respon masyarakat jika ada IMS di
daerah mereka.

4.3.2 Hasil Penelitian

4.3.2.1. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang IMS

25
Masyarakat yang pernah mendengar tentang IMS
40

35

30

25

20

15

10

0
IYA TIDAK

Grafik 9. Banyaknya Masyarakat yang pernah mendengar tentang IMS

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden sebanyak 37 orang


masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang IMS sedangkan 13 orang
masyarakat belum pernah sama sekali mendengar tentang IMS

4.3.2.2. Banyaknya Masyarakat yang menggagap pembicaraan tentang Seks


adalah Tabu

26
Seks Adalah Hal yang Tabu

IYA TIDAK

Grafik 10. Masyarakat yang menganggap pembicaraan seks adalah Tabu

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden sebanyak 12 orang


masyarakat Pucangan menganggap pembicaraan tentang seks adalah hal yang tabu
sedangkan 37 orang masyarakat menganggap pembicaraan tentang seks bukanlah hal
yang tabu untuk dibicarakan.

4.3.2.3. Sumber Informasi IMS

Sumber Informasi IMS


25

20

15

10

0
Media elektronik Internet Petugas Guru Media Cetak
Kesehatan

Grafik 11. Sumber Informasi Masyarakat Tentang IMS

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 37 orang yang pernah mendengar
IMS. Sebanyak 11 orang masyarakat Pucangan pernah mendengar tentang IMS

27
melalui Media Elektronik ( TV dan Radio ), 10 orang pernah mendengar IMS melalui
Internet, 20 orang pernah mendengar IMS melalui Petugas Kesehatan, 3 orang pernah
mendengar IMS melalui Media Cetak, dan tidak ada yang pernah mendapatkan
informasi tentang IMS melalui Guru.

4.3.2.4 Respond terhadap Penderita IMS

Respond Masyarakat terhadap penderita IMS

Menghindar Tidak mau menerima Memberi dukungan

Grafik 12. Respond Masyarakat terhadap Penderita IMS

Dari Grafik diatas menunjukkan bahwa dari 50 responden, sebanyak 45 orang


memilih untuk memberikan dukungan kepada penderita IMS, 5 orang memilih untuk
menhidar dari penderita IMS, dan tidak ada yang memilih untuk tidak mau menerima
Penderita IMS di masyarakat

4.3.2.5 Tingkat Pemahaman Masyarakat Pucangan terhadap IMS

28
Tingkat Pemahaman IMS
35

30

25

20

15

10

0
Belum mengetahui Kurang Cukup Baik

Grafik 13. Tingkat Pemahaman IMS

Dari grafik diatas menunjukkan bahwa sebanyak 13 orang masyarakat Desa


Pucangan belum mengetahui, 4 orang kurang memahami, 4 orang cukup mengetahui,
dan 29 orang mengetahui dengan baik tentang HIV.

BAB V

29
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

1. Masyarakat Desa Pucangan sudah cukup memahami tentang HIV, Hepatitis A, dan
IMS. Walaupun masih terdapat masyarakat yang bahkan belum pernah mendengar
sama sekali tentang HIV, Hepatitis A, dan IMS

2. Sebagian besar Masyarakat Desa Pucangan mendapatkan info tentang HIV,


Hepatitis A, dan IMS melalui Media Elektronik ( TVdan Radio ) dan melalui Petugas
Kesehatan, didukung dengan adanya internet dan media cetak

3. Sebagian besar Masyarakat Desa Pucangan memilih untuk memberikan support


dukungan kepada penderita HIV, Hepatitis A, dan IMS. Walaupun ada yang memilih
untuk menghindari penderita bahkan menolak penderita di lingkungan sekitar.

4. Sebagian besar Masyarakat Desa Pucangan menganggap bahwa pembicaraan


tentang Seks bukanlah hal yang tabu.

5.2 SARAN

1. Diharapkan petugas kesehatan dapat lebih giat dalam memberikan penyuluhan,


supaya pemahaman tentang penyakit di masyarakat menjadi lebih merata

2. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dikembangkan dalam skala yang lebih besar
cakupannya dimana bisa memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tingkat
pemahaman tentang HIV, Hepatitis A, dan IMS di Desa Pucangan.

LAMPIRAN

30
1. TABEL DATA

1.1 HIV

IYA TIDAK TOTAL

Jumlah 47 3 50

Tabel1. Tabel Masyarakat yang pernah mendengar tentang HIV

Media Petugas Media


Internet Guru
elektronik Kesehatan Cetak

Jumlah 28 8 29 0 4

Tabel2. Sumber Informasi HIV

Tidak mau Memberi


Menghindar TOTAL
menerima dukungan

Jumlah 2 48 50

Tabel3.Respon Masyarakat terhadap Penderita HIV

Belum
Kurang Cukup Baik TOTAL
mengetahui

Jumlah 3 0 12 35 50

Tabel4.Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap HIV

31
1.2 Hepatitis A

IYA TIDAK TOTAL

Jumlah 46 4 50

Tabel5. Tabel Masyarakat yang pernah mendengar tentang Hepatitis A

Media Petugas Media


Internet Guru
elektronik Kesehatan Cetak

Jumlah 17 5 28 0 3

Tabel6. Sumber Informasi Hepatitis A

Tidak mau Memberi


Menghindar TOTAL
menerima dukungan

Jumlah 4 1 45 50

Tabel7.Respon Masyarakat terhadap Penderita Hepatitis A

Belum
Kurang Cukup Baik TOTAL
mengetahui

Jumlah 4 22 7 17 50

32
Tabel8. Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap Hepatitis A

1.3 Infeksi Menular Seksual (IMS)

IYA TIDAK TOTAL

Jumlah 37 13 50
Tabel9. Tabel
Masyarakat yang pernah mendengar tentang IMS

IYA TIDAK TOTAL

Jumlah 12 38 50

Tabel10. Tabel Masyarakat yang menganggap pembicaraan seks adalah Tabu

Media Petugas Media


Internet Guru
elektronik Kesehatan Cetak

Jumlah 11 10 20 0 3

Tabel11. Sumber Informasi IMS

33
Tidak mau Memberi
Menghindar TOTAL
menerima dukungan

Jumlah 5 45 50

Tabel12.Respon Masyarakat terhadap Penderita IMS

Belum
Kurang Cukup Baik TOTAL
mengetahui

Jumlah 13 4 4 29 50

Tabel13. Tingkat Pemahaman Masyarakat terhadap IMS

2. Kuisioner

2.1 Kuisioner HIV AIDS

1. Apakah anda pernah mendengar tentang HIV AIDS?


a) IYA
b) TIDAK
2. Apakah HIV AIDS adalah penyakit menular?
a) IYA

34
b) TIDAK
3. Jika nomor SATU IYA, darimanakah anda mengetahui info tentang
HIV AIDS? (Boleh pilih lebih dari satu)
a) Media Elektronik ( Televisi, Radio )
b) Internet
c) Pelayanan Kesehatan ( Kader Kesehatan, Perawat, Bidan,
Dokter)
d) Guru
e) Media Cetak ( Koran, Majalah, Brosur)
4. Bagaimanakah cara penularan HIV AIDS?
a) Hubungan seks tanpa pelindung dan berganti ganti
pasangan seks
b) Mandi menggunakan sabun yang sama dengan penderita
c) Berpegangan tangan dengan penderita Hepatitis A
d) Minum dan makan menggunakan alat-alat makan yang
tidak dicuci dengan baik
e) Menggunakan pakaian atau handuk yang sama dengan
penderita
5. Bagaimana salah satu cara pencegahan penularan HIV AIDS?
a) Mencuci bersih alat alat makan dan minum, menghindari
jajan makanan dan minuman sembarangan
b) Menghindari kontak badan dengan penderita
c) Setia kepada satu pasangan
d) Menghindari menggunakan alat mandi yang sama dengan
penderita
e) Menghindari berbicara dengan penderita
6. Bagaimana sikap anda jika mengetahui ada tetangga atau keluarga
yang terkena HIV AIDS?
a) Menghindari kontak dengan penderita
b) Tidak mau menerima penderita di lingkungan keluarga atau
desa
c) Memberi dukungan kepada penderita

35
2.2 Kuisioner Hepatitis A

7. Apakah anda pernah mendengar tentang Hepatitis A?


a) IYA
b) TIDAK
8. Apakah Hepatitis A adalah penyakit menular?
a) IYA
b) TIDAK
9. Jika nomor SATU IYA, darimanakah anda mengetahui info tentang
Hepatitis A? (Boleh pilih lebih dari satu)
a) Media Elektronik ( Televisi, Radio )
b) Internet
c) Pelayanan Kesehatan ( Kader Kesehatan, Perawat, Bidan,
Dokter)
d) Guru
e) Media Cetak ( Koran, Majalah, Brosur)
10. Bagaimanakah cara penularan Hepatitis A?
a) Hubungan seks tanpa pelindung dan berganti ganti
pasangan seks
b) Mandi menggunakan sabun yang sama dengan penderita
c) Berpegangan tangan dengan penderita Hepatitis A
d) Minum dan makan menggunakan alat-alat makan yang
tidak dicuci dengan baik
e) Menggunakan pakaian atau handuk yang sama dengan
penderita

36
11. Bagaimana salah satu cara pencegahan penularan Hepatitis A?
a) Mencuci bersih alat alat makan dan minum, menghindari
jajan makanan dan minuman sembarangan
b) Menghindari kontak badan dengan penderita
c) Setia kepada satu pasangan
d) Menghindari menggunakan alat mandi yang sama dengan
penderita
e) Menghindari berbicara dengan penderita
12. Bagaimana sikap anda jika mengetahui ada tetangga atau keluarga
yang terkena Hepatitis A?
a) Menghindari kontak dengan penderita
b) Tidak mau menerima penderita di lingkungan keluarga atau
desa
c) Memberi dukungan kepada penderita

2.3 Kuisioner Infeksi Menular Seksual

1. Apakah anda pernah mendengar tentang Infeksi Menular Seksual?


a) IYA
b) TIDAK
2. Apakah pembicaraan tentang Seks adalah hal yang tabu?
a) IYA

37
b) TIDAK
3. Jika nomor SATU IYA, darimanakah anda mengetahui info tentang
Infeksi Menular Seksual? (Boleh pilih lebih dari satu)
a) Media Elektronik ( Televisi, Radio )
b) Internet
c) Pelayanan Kesehatan ( Kader Kesehatan, Perawat, Bidan,
Dokter)
d) Guru
e) Media Cetak ( Koran, Majalah, Brosur)
4. Bagaimanakah cara penularan Infeksi Menular Seksual?
a) Hubungan seks tanpa pelindung dan berganti ganti
pasangan seks
b) Mandi menggunakan sabun yang sama dengan penderita
c) Berpegangan tangan dengan penderita IMS
d) Minum dan makan menggunakan alat-alat makan yang
tidak dicuci dengan baik
e) Menggunakan pakaian atau handuk yang sama dengan
penderita
5. Bagaimana salah satu cara pencegahan Infeksi Menular Seksual?
a) Mencuci bersih alat alat makan dan minum, menghindari
jajan makanan dan minuman sembarangan
b) Menghindari kontak badan dengan penderita
c) Setia kepada satu pasangan
d) Menghindari menggunakan alat mandi yang sama dengan
penderita
e) Menghindari berbicara dengan penderita
6. Bagaimana sikap anda jika mengetahui ada tetangga atau keluarga
yang terkena Infeksi Menular Seksual?
a) Menghindari kontak dengan penderita
b) Tidak mau menerima penderita di lingkungan keluarga atau
desa
c) Memberi dukungan kepada penderita

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Z. Djoerban, S. Djauri. Infeksi tropical. Hiv aids. Buku ajar Ilmu Penyakit
Dalam FKUI. Edisi IV. Jilid III. Hal. 1803-1807.
2. https://www.hiv.uw.edu/go/screening-diagnosis/acute-recent-early-hiv/core-co
ncept/all
3. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hepatitis-a/symptoms-causes/
syc-20367007
4. Richard K Gilroy, MBBS, FRACP, Hepatitis A, Medscape
5. Pedoman Tatalaksana IMS 2015
6. Laporan Perkembangan HIV AIDS dan IMS triwulan IV tahun 2017

39