Anda di halaman 1dari 55

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KECELAKAAN KERJA KARYAWAN DENGAN METODE STATISTIK


MULTIVARIAT PADA SEKTOR FABRIKASI DI BENGKEL
BHIMASENA RESEARCH & DEVELOPMENT

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Persyaratan Akademik Mata Kuliah
Tugas Akhir Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas
Widyatama

Disusun oleh:

Iqbal Fauzi (0516124024)

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS WIDYATAMA
SK. Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)
Nomor: 112/SK/BAN-PT/Akred/S/III/2015
BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penerapan teknologi akan memicu pembangunan ekonomi memasuki era
indrustrialisasi. Dipihak lain tidak ditanggapi secara berencana dan terpadu
ekonomi industri sehingga dapat menyebabkan kecelakan kerja, penyakit
akibat bekerja, bahkan peningkatan pegangguran. Faktor tersebut yang
menyebabkan perusahaan-perusahan harus menjaga kesejahteraan maupun
keselamatan karyawan dalam menjalakan aktifitas pekerjaan.
Kesejahteraan karyawan merupakan salah satu tujuan yang hendak
dicapai dalam dunia usaha baik itu pegusaha, pekerja itu sendiri maupun
instansi-instansi pemerintah, yang dalam tugasnya pekerja mengelola sumber-
sumber daya manusia, dan pihak-pihak lain dari kelembagaan swasta. Faktor
manusia merupakan salah satu faktor yang dominan dalam pencapaian
keberhasilan dari suatu usaha, sebab merekalah nantinya yang akan mengelola
faktor-faktor yang ada dalam perusahaan.
Hal ini sejalan dengan pemikiran-pemikiran dunia dewasa yang
menuntut perlunya kenyamanan dan keamanan manusia dalam bekerja.
Pemikiran-pemikiran tersebut ditandai dengan filosofi yang menjadikan
manusia sebagai titik sentral dalam pembagunan nasional untuk mencapai
tingkat kehidupan dan kesejahteraan. Semua itu merupakan sasaran pokok
yang tidak terlepas dari sistem dan teknologi apapun yang dipakai dalam proses
produksi. Sebagai salah satu aspek dari kesejahteraan kerja terutama dalam era
indudtrialisasi.
Tantangan dalam industrialisasi akan semakin meningkat dengan adanya
teknologi canggih dan resiko tinggi. Tantangan tersebut harus dijawab dengan
kesiapan tenaga kerja baik dari segi pendidikan, keterampilan, maupun alat-
alat pelindung kerja. Selain pimpinan perusahaan masalah keselamatan
maupun kecelakaan kerja juga harus diperhatikan oleh karyawan itu sendiri.
Angka kecelakaan kerja terus menunjukkan tren meningkat, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat, pada tahun
2017 angka kecelakaan kerja yang dilaporkan mencapai 123.041 kasus,
sementara sepajang 2018 mencapai 173.105 kasus dengan klaim Jaminan
Kecelakaan Kerja (JKK) sebesar Rp 1,2 triliun. "Setiap tahunnya, rata-rata
BPJS Ketenagakerjaan melayani 130 ribu kasus kecelakaan kerja, dari kasus-
kasus ringan sampai dengan kasus-kasus yang berdampak fatal. Di antara
semua kasus yang ditangani, masih didominasi oleh kasus-kasus kecelakaan
kerja ringan di lingkungan pekerjaan yang berkarakter pabrik," kata Direktur
Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, Krishna Syarif di sela peringatan Bulan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2019, di Istora
Senayan, Jakarta, Selasa 15 Januari 2019, oleh karena itu antisipasi kecelakaan
kerja merupakan salah satu usaha agar para karyawan selamat dalam pekerjaan,
sehingga terhindar dari kecelakaan kerja yang mungkin tejadi.
Keselamatan kerja dalam suatu proses produksi dan jasa merupakan
suatu syarat yang harus diperhatikan oleh perusahaan dan para karyawan.
Dengan mendapatkan petunjuk dan pengawasan teknik dari pemerintah seperti
yang tercantum dalam undang-undang No.1 tahun 1970, telah dijabarkan
tentang cara-cara pemerintah mencegah timbulnya kebakaran dan kecelakaan.
Masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja tidak lepas dari
kegiatan dalam industri secara keseluruhan, maka pola-pola yang harus
dikembangkan di dalam penanganan bidang keselamatan dan kesehatan kerja
dan pengadaan pengendalian potensi bahaya harus mengikuti pendekatan
sistem yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3). Perbuatan tidak aman (unsafe act) maupun keadaan
yang tidak aman (unsafe condition) lebih sering terjadi daripada kecelakaan
yang terlihat atau teralami. Seandainya manajemen keselamatan dan kesehatan
kerja mengingatkan sedini mungkin mengenai faktor bahaya dan risiko
kecelakaan kerja serta mewajibkan penggunaan alat pelindung yang sesuai
dengan potensi bahaya yang ada di perusahaan maka para pekerja pun akan
waspada pada saat berada di lokasi berbahaya dan beresiko kecelakaan kerja
tersebut.
Bhimasena Research & Development merupakan perusahaan yang
berfokus dalam produksi dan pengembangan teknologi di bidang militer
terutama untuk TNI AD, AU, dan AL. Bhimasena Research & Development
memiliki jumlah karyawan 201 orang di berbagai bagian, adapun bagian
produksi mempekerjakan 90 orang karyawan yang di bagi di berbagai sektor.
Fasilitas kerja di bagian produksi berupa: Workshop, Warehouse, dan
Toolhouse. Dalam menjalankan proses bisnisnya, setiap hari bagian produksi
tidak dapat dilepaskan dengan peralatan dan mesin yang memiliki risiko
kecelakaan kerja yang tinggi. Berdasarkan hasil wawancara awal dengan
karyawan produksi terutama pada sector fabrikasi ada beberapa resiko yang
dapat terjadi diperusahaan diantaranya adalah cidera terkena alat potong, cidera
mata terkena busur lasan, cidera tertimpa raw material, dan cidera ispa karena
sirkulasi udara, cidera terkena alat pemanas, cidera tertimpa tumpukan raw
material, cidera terkena alat setting bahan, cidera terkena perlatan untuk
maintenance, cidera terkena komponen yang di cek, cidera terkena komponen
yang kurang. Data kecelakaan kerja yang terjadi pada perusahaan dalam waktu
satu tahun terakhir sebanyak 25 kasus terjadi kecelakaan kerja periode 2017-
2018. Angka tersebut merupakan hal yang perlu diminimalisir maka dari itu
penulis memfokuskan penelitian ini pada kecelakaan kerja karyawan bagian
produksi terutama pada sektor fabrikasi.
Berdasarkan fenomana dan permasalahan diatas, penulis tertarik untuk
meneliti tetang faktor apa yang mempengaruhi kecelakaan kerja karyawan
pada Bengkel Bhimasena Research & Development ini dengan metode statistik
multivariate, sehingga penulis mengambil judul: “ANALISIS FAKTOR-
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECELAKAAN KERJA
KARYAWAN DENGAN METODE STATISTIK MULTIVARIAT
PADA SEKTOR FABRIKASI DI BENGKEL BHIMASENA
RESEARCH & DEVELOPMENT.”

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah yang diungkapkan
di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana model matematis yang menggambarkan hubungan faktor
manusia dan faktor teknis terhadap kecelakaan kerja pada pekerja bagian
fabrikasi di PT. Bhimasena Research & Development?
2. Bagaimana pengaruh faktor manusia dan faktor teknis secara simultan
terhadap kecelakaan kerja pada pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development?
3. Bagaimana pengaruh faktor manusia dan faktor teknis secara parsial
terhadap kecelakaan kerja pada pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mendapatkan model matematis berupa persamaan regresi berganda dari
faktor manusia dan faktor teknis terhadap kecelakaan kerja pada pekerja
sebagai langkah awal dalam meminimilkan dan mencegah terjadinya
kecelakaan kerja yang ada di PT. Bhimasena Research & Development
2. Mengetahui pengaruh faktor manusia dan teknis terhadap kecelakaan kerja
di PT. Bhimasena Research & Development secara simultan.
3. Mengetahui pengaruh faktor manusia dan teknis terhadap kecelakaan kerja
di PT. Bhimasena Research & Development secara parsial.

1.4 Manfaat Penelitian


Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah
dengan peraktek yang terjadi dilapangan.
2. Diharapkan pada akhirnya penelitian ini dapat memberikan masukan pada
perusahaan Bhimasena Research & Development mengenai permasalahan
tingkat kecelakaan kerja.
3. Diharapkan pada akhirnya penelitian ini dapat memberikan informasi atau
manfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan menangani masalah yang
sama untuk menciptakan keselamatan kerja karyawan.

1.5 Batasan Masalah


Dalam penelitian ini terdapat beberapa batasan-batasan adalah sebagai
berikut:

1. Penelitian dilakukan di Bengkel Bhimasena Research & Development.


2. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan
pendekatan kuantatif
3. Pengambilan data dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik
wawancara observasi dan dokumentasi/memberikan kuisioner.
4. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan metode statistik
multivariate (regresi linier berganda).
5. Penelitian mengenai penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja dilakukan dengan pengambilan data observasi di perusahan
terkait sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku.
6. Peneletian hanya dilaksanakan pada sector fabrikasi.
7. Tidak membahas mengenai biaya

1.6 Sistematika Penulisan


Penulis terlebih dahulu menyusun sistematika Penulisan laporan agar
mempermudah Penulis dalam penyusunan laporan. Adapun sistematika
Penulisannya adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat pemecahan masalah, pembatasan masalah dan asumsi,
lokasi, dan sistematika penulisan laporan.

BAB II LANDASAN TEORI


Bab ini berisi penjelasan mengenai teori yang relevan dengan metode yang
digunakan untuk pemecahan masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode Statistik Multivariat.

BAB III METODE PENELITIAN


Bab ini berisi penjelasan tentang metode pemecahan masalah dan langkah-
langkahnya. Model pemecahan masalah adalah alat (tools) yang diambil dari
teori yang relevan atau ringkasan kerangka berfikir yang mengandung variabel
yang diteliti termasuk keterkaitan antara variabel yang dapat disajikan dalam
bentuk diagram, perumusan matematis atau bentuk lainnya. Langkah-langkah
pemecahan masalah berisikan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk
memecahkan masalah dan diagram alir (flow chart) pemecahan masalah.

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA


Bab ini berisi penjelasan tentang pengumpulan dan pengolahan data yang
ditujukan untuk memecahkan masalah, serta berisi penjelasan tentang
pengumpulan data dan pengolahannya yang ditujukan untuk memecahkan
masalah seperti yang telah ditetapkan pada Bab III. Bab ini juga menjawab atas
permasalahan penelitian, membandingkan hasil temuan dengan teori-teori yang
telah ada serta hasil implementasi dari pemecahan masalah.

BAB V ANALISIS
Bab ini berisi analisis dan pembahasan terhadap hasil pengolahan data yang
didapat selama proses kegiatan penelitian berlangsung. Pada bagian ini
menjawab masalah penelitian atau menunjukkan tujuan penelitian yang akan
dicapai. Pada bagian analisis ini dilakukan penjabaran yang telah diuraikan pada
bagian sebelumnya untuk dituangkan dalam kesimpulan.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini berisi tentang kesimpulan Penulis dari hasil penelitian dan merupakan
jawaban dari perumusan masalah dan tujuan penelitian, serta saran yang
diusulkan berdasarkan hasil dari solusi yamg diperoleh Penulis selama
melakukan penelitian.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan kerja pada hakekatnya merupakan tangung jawab dan
kepentingan bersama baik pihak perusahaan, tenaga kerja, maupun pemerintah.
Namun disadari bahwa selama ini kita masih mempunyai hambatan antara
lain disebabkan masih kurangnya kesadaran manyarakat, baik pengusaha
maupun tenaga kerja akan arti pentingnya keselamatan kerja.
Keselamatan kerja adalah pemikiran atau upaya untuk menjamin keadaan,
keutuhan atau kesempurnaan jasmani maupun rohani manusia serta hasil dan
budayanya tertuju pada kesejahteraan manusia pada umumnya dan tenaga kerja
khususnya (Khairulnas, 1999 : 2).
Seorang ahli dalam bidang keselamatan kerja Willie Hammer,
mengatakan bahwa program keselamatan kerja diadakan karena tiga alasan
yang penting, yakni berdasarkan prikemanusiaan, berdasarkan undang-undang
dan alasan economi. (Moekijat, 1999 : 142).
Tujuan dan syarat-syarat mengenai keselamatan kerja telah diatur dalam
undang-undang nomor 1 tahun 1970 yang berlaku tanggal 12 januari 1970
pasal 3 yaitu (Ariandja, 2002 : 313) :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran.
3. Mencegah dan menguragi bahaya peledakan.
4. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
5. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akaibat kerja baik
fisik maupun fisikis, keracunan, infeksi, dan penularan.
6. Pengaman material, kontruksi, bangunan, alat-alat kecil, mesin-mesin
dan instalasi.
7. Peningkatan produksivitas kerja atas tingkat keamanan kerja yang
tinggi
8. Memperoleh fasilitas kerja yang memuaskan bagi karyawan.
9. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan.
10. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamalan pada pekerjaan
yang berbahaya sehingga kecelakaan menjadi tambah tinggi.
Pada dasarnya program keselamatan kerja dirangcang untuk
menciptakan lingkungan dan perilaku kerja yang menunjang keselamatan kerja
dan keamanan itu sendiri, dan membangun serta mempertahankan lingkungan
kerja fisik yang aman, yang dapat dirubah untuk mencegah terjadinya
kecelakaan. (Panggabean, 2002 : 112).

2.1.1 Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja pada hakekatnya merupakan tanggung jawab dan
kepentingan bersaman baik pihak perusahaan, tenaga kerja maupun
pemerintah. Namun disadari bahwa pada saat ini kita masih mempunyai
hambatan, antara lain disebabkan masih kurangnya kesadaran masyarakat,
perusahaan baik pegusaha maupun tenaga kerja akan arti pentingnya
keselamatan kerja. Ada beberapa pengertian mengenai kecelakaan kerja,
antara lain:
1. Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki atau
tidak diduga semula yang dapat mengganggu aktifitas dan
menimbulkan kerugian baik manusia maupun harta benda
(Sastrohadiwirjo, 2002 : 89).
2. Kecelakan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak
dikehendaki, yang mengacukan proses suatu aktivitas yang telah
teratur, dan terdapat empat faktor yang bergerak dalam satu kesatuan
yaitu: lingkungan kerja, bahan, peralatan, dan manusia (Gempur, 2004
: 7).
3. Flippo mengemukakan bahwa kecelakaan kerja adalah suatu peristiwa
yang tidak direncanakan dan harus dianalisis dari segi biaya dan sebab-
sebabnya (Panggabean, 2002 : 114).
4. Menurut Dale S. Beach dalam bukunya “Personal : The Management
Of People at Work”, “an accident is really an unexpected occurrence
that interrupts the regular progress of an activity”. Terjemahannya
kira- kira demikaian : Sesungguhnya suatu kecelakaan kerja adalah
suatu kejadian atau suatu peristiwa yang tidak diharapkan yang
merintagi atau mengganggu jelannya kegiatan biasa (Moekijat, 1999 :
146).

Dari defenisi diatas jelaslah bahwa kecelakaan kerja tidak hanya


sebatas pada insiden-insiden yang menyangkut luka-luka saja, tetapi juga
mengakibatkan kerugian fisik dan material. Kecelakaan akan selalu disertai
dengan kerugian material maupun penderitaan dari yang paling ringan
sampai yang paling berat dan bahkan meninggal. Oleh sebab itu sebelum
terjadi kecelakaan perlu dilakukan tindakan-tidakan dalam mengantisipasi
kecelakaan, karena dengan adanya antisipasi dapat meguragidan
memperkecil jumlah kecelakaan kerja karyawan dalam menjalankan tugas
operasionalnya.
Jenis-jenis kecelakaan kerja dalam buku Himpunan Peraturan
Perundang-undangan Ketenagakerjaan tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja tahun 2003 dan ketentuan Migas, CPI mengklasifikasikan kecelakaan
sebagai berikut :
a. Nyaris celaka ( Near Accident )
Secara fisik seseorang pekerja belum mengalami kecelakaa, tetapi
akibat dari suatu keadaan atau tindakan yang mengarah pada terjadinya
kecelakaan.
b. Kecelakaan ringan (Minor Accident )
Kecelakaan yang cukup dibantu dengan pertolongan pertama pada
kecelakaan atau kecelakaan yang menimbulkan kehilangan kerja
kurang dari dua hari atau 2 x 24 jam.
c. Kecelakaan sedang (Middle Accident )
Kecelakaan yang berakibat timbulnya kehilangan hari kerja tetapi tidak
berakibat cacat atau sementara, dan perawatan di rumah sakit dibawah
21 hari.
d. Kecelakaan berat (Serious Accident)
Kecelakaan yang berakibat timbulnya kehilangan hari kerja dan
berakibat cacat tubuh serta mendapat perawatan di rumah sakit lebih
dari 21 hari (Dua Puluh Satu) Hari.
e. Kecelakaan fatal
Kecelakaan yang berakibat timbulnya korban meninggal. Selain luka –
luka dan kematian, kecelakaan kerja dapat pula mengakibatkan
kerugian karena terganggunya aktivitas kerja, kerusakan alat-alat
lingkungan dan menurunnya moral karyawan terutama bagi mereka
yang langsung memahami atau melihat kecelakaan tersebut.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecelakaan Kerja


Pada dasarnya kecelakaan kerja adalah apa saja yang tidak
direncanakan atau yang tidak diadakan untuk perubahan atau penyimpangan
dari apa yang diharapkan, tetapi ada sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu perlu
diketahui dengan jelas agar usaha keselamatan dan pencegahan dapat diambil,
kecelakaan tidak terulang kembali dan kerugian akibat kecelakaan dapat
dihindari.
Sebab-sebab kecelakaan, dikelompokkan atas: (Husnan dan
Ranopandojo, 2000:250), pertama yaitu sebab teknis. Sebab teknis
menyangkut masalah kekurangan peralatan yang digunakan, mesin-mesin,
bahan-bahan serta buruknya lingkungan kerja, penerangan suara kebisingan
yang berlebihan dan maintenance, selanjutnya yang kedua yaitu sebab
manusia (human) yang biasanya disebabkan oleh devisiensies para individu
seperti: sikap yang ceroboh, tidak hati-hati, tidak mampu menjalankan tugas
dengan baik, mengantuk, pencandu obat bius, atau alkohol.
Selanjutnya dapat pula dikelompokkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kecelakaan kerja, pertama yaitu faktor internal yang berasal
dari karyawan itu sendiri, seperti bertindak sembrono, terlalu
menggampangkan dan cenderung lalai dalam melakukan tugasnya dan
karyawan cenderung malas mengunakan peralatan kesehatan yang sudah
disediakan untuk karyawan dari perusahaan dan kedua yaitu faktor eksternal
yang berasal dari lingkungan, seperti tanah atau medan yang licin,
pemeliharan mesin yang tidak baik, kaca jendela tidak dilengkapi dengan
tirai, tata letak ruang yang kurang aman, dan adanya peralatan yang rusak
sangat berpengaruh dengan keselamatan kerja. (Panggabean, 2002 : 115).
Menurut Sayuti (2013: 200) Sesungguhnya gangguan dan terjadinya
kecelakaan dapat dilihat dari 3 (tiga) faktor utama yang menjadi
penyebabnya, yaitu:

1. Lingkungan kerja, maksudnya tempat di mana pekerja melakukan


pekerjaanya dalam kondisi yang tidak aman atau dalam kondisi
membahayakan. Kondisi yang tidak aman ini dapat terjadi karena tidak
teraturnya suasana, perlengkapan dan peralatan kerja.
Faktor-faktor yang terdapat pada lingkungan kerja oleh Karlinger
(1987) dalam (Isyandi ,2004:134):
a. Fasilitas, bahan baku, mesin dan alat alat produksi
b. Keributan mesin
c. Ventilasi / sirkulasi udara
d. Ruang gerak dalam bekerja
e. Penerangan
f. Temperatur ruangan
2. Manusia atau karyawan, faktor ini banyak disebabkan oleh beberapa
hal:
a. Sifat fisik dan mental manusia yang tidak standar, contohnya:
karyawan yang rabun, penerangan kurang, otot lemah, reaksi
mental lambat, syaraf yang tidak stabil dan lainya. Bagi yang
memiliki sifat dan kondisi seperti ini sering mnjadi penyebab
kecelakaan dan gangguan kerja.
b. Pengetahuan dan keterampilan, karena kurangnya pengetahuan
maka kurang memperhatikan metode kerja yang aman dan baik,
memiliki kebiasaan yang salah, dan kurang pengalaman.
c. Sikap, karyawan memiliki sikap kurang minat dan kurang
perhatian, kurang teliti, malas dan sombong (mengabaikan
peraturan dan petunjuk), tidak peduli akan suatu akibat, hubungan
yang kurang baik dengan pihak lain, sifat ceroboh dan perbuatan
yang berbahaya.
3. Mesin dan alat, jika pada lingkungan kerja menyangkut pengaturan
peralatan dan konstruksi bangunan, maka faktor mesin dan alat ini
adalah penggunaan mesin-mesin dan peralatan yang tidak memenuhi
standar.

2.1.3 Pencegahan Kecelakaan Kerja


Suatu pencegahan kecelakaan yang efektif memerlukan pelaksanaan
pekerjaan dengan baik oleh setiap orang ditempat kerja. Semua pekerja harus
mengetahui bahaya dari bahan dan peralatan yang mereka tangani, semua
bahaya dari operasi perusahaan serta cara pengendaliannya. Untuk itu
diperlukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan pekerja mengenai
keselamatan dan kesehatan kerja atau dijadikan satu paket dengan pelatihan
lain (Depnaker RI, 1996:48).

Pencegahan kecelakaan berdasarkan pengetahuan tentang sebab


kecelakaan. Sebab disuatu perusahaan diketahui dengan mengadakan analisa
kecelakaan. Pencegahan ditujukan kepada lingkungan, mesin, alat kerja,
perkakas kerja, dan manusia (Suma’mur PK., 1996:215).

Menurut Bennett NB. Silalahi (1995:107) ditinjau dari sudut dua sub
sistem perusahaan teknostruktural dan sosio proseksual, teknik pencegahan
kecelakaan harus didekati dari dua aspek, yakni aspek perangkat keras
(peralatan, perlengkapan, mesin, letak dan sebagainya) dan perangkat lunak
(manusia dan segala unsur yang berkaitan).

Menurut Julian B. Olishifski (1985) dalam Gempur Santoso (2004:8)


bahwa aktivitas pencegahan kecelakaan dalam keselamatan kerja
professional dapat dilakukan dengan memperkecil (menekan) kejadian yang
membahayakan, memberikan alat pengaman, memberikan pendidikan
(training), dan memberikan alat pelindung diri.

Menurut ILO dalam ILO (1989:20) berbagai cara yang umum


digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja bidang industri dewasa ini
diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Peraturan
Peraturan merupakan ketentuan yang harus dipatuhi mengenai hal-hal
yang seperti kondisi kerja umum, perancangan, kontruksi, pemeliharaan,
pengawasan, pengujian dan pengoperasian peralatan industri, kewajiban
para pengusaha dan pekerja, pelatihan, pengawasan kesehatan,
pertolongan pertama, dan pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi
Yaitu menetapkan standar resmi, setengah resmi, ataupun tidak resmi,
misalnya mengenai konstruksi yang aman dari jenis peralatan industri
tertentu, kebiasaan yang aman dan sehat, ataupun tentang alat pengaman
perorangan.
3. Pengawasan
Untuk meningkatkan keselamatan kerja perlu dilakukan pengawasan
yang berupa usaha penegakan peraturan yang harus dipatuhi. Hal ini
dilakukan supaya peraturan yang ada benar-benar dipatuhi atau tidak
dilanggar, sehingga apa yang menjadi sasaran maupun tujuan dari
peraturan keselamatan kerja dapat tercapai. Bagi yang melanggar
peraturan tersebut sebaiknya diberikan sanksi atau punishment.
4. Riset Teknis
Hal yang termasuk dalam riset teknis berupa penyelidikan peralatan dan
ciri-ciri dari bahan berbahaya, penelitian tentang perlindungan mesin,
pengujian masker pernafasan, dan sebagainya. Riset ini merupakan cara
paling efektif yang dapat menekan angka kejadian kecelakaan kerja
maupun penyakit akibat kerja.
5. Riset Medis
Termasuk penyelidikan dampak fisiologis dan patologis dari faktor
lingkungan dan teknologi, serta kondisi fisik yang amat merangsang
terjadinya kecelakaan. Setelah diketahui faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya kecelakaan, maka seseorang dapat menghindari dan
lebih berhati-hati dengan potensi bahaya yang ada.
6. Riset Psikologis
Sebagai contoh adalah penyelidikan pola psikologis yang dapat
menyebabkan kecelakaan. Psikologis seseorang sangat membawa
pengaruh besar dengan kecelakaan. Karena apa yang dirasakan/sedang
dialami cenderung terus menerus berada dalam pikiran, hal inilah yang
dapat mempengaruhi konsentrasi saat bekerja sehingga adanya bahaya
kadang terabaikan.
7. Riset Statistik
Digunakan untuk mengetahui jenis kecelakaan yang terjadi, berapa
banyak, kepada tipe orang yang bagaimana yang menjadi korban, dalam
kegiatan seperti apa, dan apa saja yang menjadi penyebabnya. Riset
seperti ini dapat dijadikan sebagai pelajaran atau acuan agar dapat
terhidar dari kecelakaan, kerena belajar dari pengalaman yang terdahulu.
8. Pendidikan
Hal ini meliputi pengajaran subyek keselamatan sebagai mata ajaran
dalam akademi teknik, sekolah dagang ataupun kursus magang.
Pemberian pendidikan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja pada
usia sekolah diharapkan sebelum siswa terjun ke dunia kerja sudah
memiliki bekal terlebih dahulu tentang bagaimana cara dan sikap kerja
yang yang aman dan selamat, sehingga ketika terjun ke dunia kerja
mereka mampu menghindari potensi bahaya yang dapat menyebabkan
celaka.
9. Pelatihan
Salah satu contoh pelatihan yaitu berupa pemberian instruksi praktis bagi
para pekerja, khususnya bagi pekerja baru dalam hal keselamatan kerja.
Perlunya
pemberian pelatihan karena pekerja baru cenderung belum mengetahui
hal-hal yang ada di perusahaan yang baru ditempatinya. Karena setiap
tempat kerja mempunyai kebijakan dan peraturan yang tidak sama
dengan tempat kerja lain. Bahaya kerja yang ada juga sangat berbeda.
10. Persuasi
Penerapan berbagai metode publikasi dan imbauan untuk
mengembangkan ”kesadaran akan keselamatan” dapat dijadikan sebagai
contoh dari persuasi.
Persuasi dapat dilakukan anatar individu maupun melalui media seperti
poster, spanduk, dan media lainnya.
11. Asuransi
Dapat dilakukan dengan cara penyediaan dana untuk untuk
meningkatkan upaya pencegahan kecelakaan. Selain itu asuransi juga
dapat digunakan untuk membantu meringankan beban korban
kecelakaan karena sebagian dari biaya di tanggung asuransi.
12. Tindakan Pengamanan oleh Masing-masing Individu
Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kesadaran tiap individu terhadap
kesehatan dan keselamatan kerja. Peningkatan kesadaran dimulai dari
diri sendiri kemudian menularkannya kepada orang lain.

2.2 Komponen-komponen Penelitian


Penelitian dapat dipandang sebagai sistem berpikir dan bertindak yang
diarahkan pada pencapaian tujuan. Sebagai suatu sistem, penelitian memiliki
berbagai komponen yang saling berhubungan sebagai suatu kesatuan.
Komponen-komponen penelitian adalah sebagai berikut.
1. Permasalahan
Masalah atau problem dapat diartikan sebagai jarak antara apa yang
diharapkan (das Sollen) dengan apa yang terwujud atau tercapai (dasSein).
Masalah menunjukkan adanya ketidak sesuaian antara apa yang diinginkan
dengan apa yang terwujud atau tercapai. Apabila permasalahan yang akan
diteliti telah ditetapkan, langkah berikutnya adalah merumuskan masalah.
Tuckman (dalam Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 99) mengemukakan
beberapa kirteria dalam merumuskan masalah, yaitu :
a. Bersifat kausalitas atau menghubungkan dua variabel atau lebih.
b. Dapat diukur secara empiris dan objektif.
c. Dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, lebih baik
dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
d. Tidak mencerminkan ambisi pribadi atau masyarakat, dan tidak pula
menuntut jawaban dengan pertimbangan moral subjektif.
2. Teori Ilmiah
Pentingnya teori ilmiah dalam penelitian dapat disebutkan sebagai berikut
(Kuntjojo, 2009) :
a. Sebagai acuan dalam pengkajian suatu masalah.
b. Sebagai dasar dalam merumuskan kerangka teoritis penelitian.
c. Sebagai dasar dalam merumuskan hipotesis.
d. Sebagai informasi untuk menetapkan cara pengujian hipotesis.
e. Untuk mendapatkan informasi historis dan perspektif permasalahan
yang akan diteliti.
f. Memperkaya ide-ide baru.
g. Untuk mengetahui siapa saja peneliti lain dan pengguna di bidang
yang sama.
3. Indentifikasi variabel
Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi
tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2013: 38).
Variabel yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan menjadi:
a. variabel independen (bebas), yaitu variabel yang menjelaskan dan
memengaruhi variabel lain.
b. variabel dependen (terikat), yaitu variabel yang dijelaskan dan
dipengaruhi oleh variabel independen.
4. Populasi dan Sampel
a. Pengertian populasi
Populasi atau universe adalah jumlah keseluruhan dari satuan-satuan
atau individu-individu yang karakteristiknya hendak diteliti. Dan
satuan-satuan tersebut dinamakan unit analisis, dan dapat berupa orang-
orang, institusi-institusi, benda-benda, dst. (Djawranto, 1994 : 420).
b. Penegrtian Sampel
Sampel atau contoh adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya
hendak diteliti (Djarwanto, 1994 : 43). Sampel yang baik, yang
kesimpulannya dapat dikenakan pada populasi, adalah sampel yang
bersifat representatif atau yang dapat menggambarkan karakteristik
populasi.
Bila jumlah populasi dipandang terlalu besar, dengan maksud meng-
hemat waktu, biaya, dan tenaga, penelitili tidak meneliti seluruh
anggota populasi. Bila peneliti bermaksud meneliti sebagian dari
populasi saja (sampel), pertanyaan yang selalu muncul adalah berapa
jumlah sampel yang memenuhi syarat. Ada hukum statistika dalam
menentukan jumlah sampel, yaitu semakin besar jumlah sampel
semakin menggambarkan keadaan populasi (Sukardi, 2004 : 55).
5. Data
Data dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat, sumber, dan juga skala
pengukurannya (Kuntjojo, 2009).
a. Berdasarkan sifatnya :
1) data kuantitatif : data yang berupa angka-angka
2) data kualitatif : data yang berupa kata-kata atau pernyataan
pernyataan
b. Berdasarkan sumbernya :
1) data primer, adalah data yang diperoleh langsung pihak yang
diperlukan datanya.
2) data sekunder, merupakan data yang tidak diperoleh langsung dari
pihak yang diperlukan datanya.
c. Berdasarkan skala pengukurannya
Data yang merupakan hasil pengukuran variabel memiliki jenis skala
pengukuran sebagaimana yang terdapat pada variabel. Dengan
demikian berdasarkan tinjauan ini, data dapat dibedakan menjadi :
1) data nominal
2) data ordinal
3) data interval
4) data rasio
2.3 Analisis Multivariat
Analisis statistik multivariat merupakan metode dalam melakukan
penelitian terhadap lebih dari dua variable secara bersamaan. Dengan
menggunakan teknik analisis ini maka kita dapat menganalisis pengaruh
beberapa variable terhadap variabel lainnya dalam waktu yang bersamaan.
Berdasarkan hubungan antar variabel, analisis multivariat dapat dibedakan
menjadi dependence techniques dan interdependence techniques. Dalam
dependence techniques, terdapat dua jenis variabel, yaitu variabel terikat dan
variabel bebas. Dependence techniques ini digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan mengenai hubungan antara dua kelompok
variabel tersebut. Sedangkan dalam interdependence techniques, kedudukan
setiap variabel sama, tidak ada variabel terikat dan variabel bebas. Biasanya
interdependence techniques ini digunakan untuk melihat saling keterkaitan
hubungan antar semua variabel tanpa memperhatikan bentuk variabel yang
dilibatkan (Bilson Simamora, 2005).

Zikmund (1997: 634)

2.2.1 Teknik Dependence


Bila peneliti dalam analisis multivariat dapat mengenali variabel
dependen dan independen, maka teknik ini disebut teknik dependen.
Teknik dependen memiliki dua kelompok berdasarkan :
a. Jumlah variabel dependen dan,
b. Jenis pengukuran data baik variabel dependen maupun independen.
Berdasarkan jumlah variabel dependen, teknik dependen bisa
memiliki satu, dua atau beberapa variabel dependen. Setelah diketahui
jumlah variabel dependen, selanjutnya dikelompokan berdasarkan
jenis pengukuran data baik variabel dependen maupun independen.
Untuk memperjelas pembahasan ini, selanjutnya disajikan Table 2.2.
Jenis Teknik Dependen.

Tabel 2.1 Jenis Teknik Dependen.

2.2.2 Teknik Interdepedence


Dalam banyak kasus, peneliti sering mengalami kesulitan dalam
menentukan jenis variabel apakah dependen atau independen. Seringkali
ditemukan semua variabel adalah independen. Menurut Santoso (2006:6)
hubungan antar variabel yang bersifat interdependen ditandai dengan
tidak adanya variabel tergantung (dependent) dan bebas (independent).
Pada jenis ini, metode multivariate yang digunakan adalah analisis faktor,
analisis cluster, Multi Dimensional Scaling Analysis (MDS) dan analisis
categorical.
Tujuan utama analisis interdependen adalah menganalisis mengapa
dan bagaimana variabel yang ada saling berhubungan. Karena peneliti
kesulitan menentukan variabel dependen atau independen, maka metode
interdependen ditentukan berdasarkan jenis pengukuran variabel apakah
bersifat metric atau non metric. Jika data berskala non metrik hanya ada
satu analisis yaitu analisis koresponden (correspondence analysis). Tabel
2.3. Jenis Teknik Interdependen menyajikan pengujian metode
interdependen.
Table 2.2 Jenis Teknik Interdependen.

2.4 Regresi Linier Berganda


Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis data dalam
statistika yang seringkali digunakan untuk mengkaji hubungan antara
beberapa variabel dan meramal suatu variabel (Kutner, Nachtsheim dan
Neter, 2004).

Istilah “regresi” pertama kali dikemukakan oleh Sir Francis Galton


(1822 1911), seorang antropolog dan ahli meteorologi terkenal dari Inggris.
Dalam makalahnya yang berjudul “Regression towards mediocrity in
hereditary stature”, yang dimuat dalam Journal of the Anthropological
Institute, volume 15, hal. 246-263, tahun 1885. Galton menjelaskan bahwa
biji keturunan tidak cenderung menyerupai biji induknya dalam hal besarnya,
namun lebih medioker (lebih mendekati rata-rata) lebih kecil daripada
induknya kalau induknya besar dan lebih besar daripada induknya kalau
induknya sangat kecil (Draper dan Smith, 1992).
Dalam mengkaji hubungan antara beberapa variabel menggunakan
analisis regresi, terlebih dahulu peneliti menentukan satu variabel yang
disebut dengan variabel tidak bebas dan satu atau lebih variabel bebas. Jika
ingin dikaji hubungan atau pengaruh satu variabel bebas terhadap variabel
tidak bebas, maka model regresi yang digunakan adalah model regresi linier
sederhana. Kemudian Jika ingin dikaji hubungan atau pengaruh dua atau lebih
variabel bebas terhadap variabel tidak bebas, maka model regresi yang
digunakan adalah model regresi linier berganda (multiple linear regression
model). Kemudian untuk mendapatkan model regresi linier sederhana
maupun model regresi linier berganda dapat diperoleh dengan melakukan
estimasi terhadap parameter-parameternya menggunakan metode tertentu.
Adapun metode yang dapat digunakan untuk mengestimasi parameter model
regresi linier sederhana maupun model regresi linier berganda adalah dengan
metode kuadrat terkecil (ordinary least square/OLS) dan metode
kemungkinan maksimum (maximum likelihood estimation/MLE) (Kutner
et.al, 2004).

Bentuk umum model regresi linier berganda dengan p variabel bebas


adalah seperti pada persamaan (2.1) berikut (Kutner, Nachtsheim dan Neter,
2004).

dengan :

Yi = Variabel dependen
𝛽0 , 𝛽1 , 𝛽2 … . 𝛽𝑝 = Parameter
𝑋𝑖 1 , 𝑋𝑖 2 , … . 𝑋𝑖 𝑝 = Variabel bebas
𝜀𝑖 adalah sisa (error) untuk pengamatan ke-i yang diasumsikan
berdistribusi normal yang saling bebas dan identik dengan rata-rata 0 (nol)
dan variansi 𝜎 2 .

Dalam notasi matriks persamaan (2.1) dapat ditulis menjadi persamaan


(2.2) berikut.
dengan :

Y adalah vector variabel dependen berukuran n x 1


X adalah matriks variabel independen berukuran n x (p-1)
𝛽 adalah vector parameter berukuran p x 1
𝜀 adalah vector error berukuran n x 1

2.3.1 Asumsi-asumsi Regresi Linier Berganda


Menurut Gujarati (2003) asumsi-asumsi pada model regresi linier
berganda adalah sebagai berikut:
1. Model regresinya adalah linier dalam parameter.
2. Nilai rata-rata dari error adalah nol.
3. Variansi dari error adalah konstan (homoskedastik).
4. Tidak terjadi autokorelasi pada error.
5. Tidak terjadi multikolinieritas pada variabel bebas.
6. Error berdistribusi normal.

2.3.2 Uji Asumsi Klasik


1. Uji Heterokedastisitas
Heteroskedastisitas adalah varian residual yang tidak sama pada semua
pengamatan di dalam model regresi. Regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi heteroskedastisitas (Bambang Suharjo, 2008). Kriterianya adalah
sebagai berikut:
a. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu
pola tetentu yang teratur, maka terjadi heteroskedastisitas.
b. Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan
di bawah angka 0 pada sumbu Y , maka tidak terjadi
heteroskedastisitas.
2. Uji Multikolinearitas
Menunjukkan adanya lebih dari satu hubungan linier yang sempurna.
Koefisien-koefisien regresi biasanya diinterprentasikan sebagai ukuran
perubahan variabel terikat jika salah satu variabel bebasnya naik sebesar
satu unit dan seluruh variabel bebas lainnya dianggap tetap. Untuk
mendeteksi adanya multikolinieritas adalah dengan menggunakan nilai
Variance Inflation Factor (VIF). Jika VIF lebih kecil dari 10, maka dalam
model tidak terdapat multikolinieritas (Sumarno Zain, 1995).

Keterangan :
𝑅2
= koefisien determinasi (𝑅 2 ) berganda ketika 𝑋𝑘
𝑘

diregresikan dengan variabel-variabel X lainnya.


3. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan guna melihat apakah variabel independen
maupun variabel dependen mempunyai distribusi normal ataukah tidak.
Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati
normal. Imam Ghozali (2002) mengemukakan bahwa uji normalitas
dapat dilakukan dengan dengan menggunakan grafik normal plot dimana
jika titik – titik menyebar disekitar dan mengikuti arah garis diagonal,
maka data terdistribusi normal.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi (Imam Ghozali, 2011: 110).
Pada

penelitian ini untuk menguji ada tidaknya gejala autokorelasi


menggunakan uji Durbin-Watson (DW test).

Tabel 2.3 Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi


Nilai DW Interpretasi
4-dL<DW<4 Ada autokorelasi (negatif)
4-dL<DW<4-dL Hasil tidak bisa ditentukan
2<DW<4-dU Tidak ada autokorelasi
dU<DW<4-dU Tidak ada autokorelasi
dL<DW<dU Hasil tidak bisa ditentukan
0<DW<dL Ada autokorelasi (positif)
Sumber : Gudono, 2016

2.3.3 Uji Koefisien Determinasi


Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk melihat kelayakan
penelitian yang dilakukan dengan melihat pengaruh variable independent
terhadap variable dependent. Koefisien determinasi R² digunakan untuk
mengetahui berapa persen Variasi Variabel Dependent dapat dijelaskan oleh
variasi variabel independen. Nilai R² ini terletak antara 0 dan 1. Bila nilai R²
mendekati 0 berati sedikit sekali variasi variable depanden yang diterangkan
oleh variable independen. Jika nilai R² bergerak mendekati 1 berati semakin
besar variasi variable dependen yang dapat diterangkan oleh variable
Independen.jika ternyata dalam perhitungan nilai R² sama dengan 0 maka ini
menunjukan bahwa variable dependen tidak bisa dijelaskan oleh variable
independent. Nugroho (2005) menyatakan untuk regresi linear berganda
sebaiknya menggunakan R square yang sudah disesuaikan atau tertulis
Adjusted R square untuk melihat koefisien determinasi karena disesuaikan
dengan jumlah variabel independen yang digunakan dimana jika variabel
independent 1(satu) maka menggunakan R square dan jika telah melebihi
1(satu) menggunakan adjusted R square. Untuk memastikan tipe hubungan
antar variabel dengan berpedoman pada Tabel 2.3.
Table 2.3 Interpretasi Koefisien Korelasi r

sumber: Analisis Data (Syafrizal, 2010)


Berikut rumus untuk menghitung koefisien determinasi (Sujana, 2001)
Keterangan :
𝑅2 = koefisien determinasi
𝑆𝑦 = standar defiasi variabel terikat Y
𝑛 = banyal sampel

2.3.4 Pengujian Hipotesa


Agar dapat diketahui apakah diantara variabel ada yang
mempunyai pengaruh harus dilakukan pengujian Hipotesis.
1. Uji F atau Simultan
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui secara serentak atau
bersama-sama variabel independen berpengaruh secara signifikan
atau tidak terhadap variabel dependen (Djarwanto PS dan Pangestu
S,1998:42). Dengan hipotesa :
𝐻0 : 𝛽1 = 𝛽2 = … = 𝛽𝑘 = 0 (model sesuai)
𝐻𝑎 : minimal ada satu 𝛽𝑘 ≠ 0 (model tidak sesuai)
Statistik uji yang digunakan dalam pengujian ini menggunakan
statistik F hitung. Perhitungan untuk mendapatan nilai F hitung yakni
:

dengan :
R = Koefisien korelasi berganda
K = Jumlah variabel bebas
n = Jumlah sampel
Dengan tingkat signifikansi (α) yang digunakan adalah 5%,
distribusi F dengan derajat kebebasan (α; K-1, n-K).
Kriteria Pengujian :
F hitung < F tabel = Ho diterima, artinya variabel independen secara
serentak atau bersamaan tidak mempengaruhi variabel dependen
secara signifikan.
F hitung > F tabel = Ho ditolak, artinya variabel independen secara
serentak atau bersama-sama mempengaruhi variabel dependen
secara signifikan.
2. Uji t atau Parsial
Pengujian secara individual (uji-t) yaitu pengujian koefisien regresi
secara parsial dengan menentukan formula statistik yang akan diuji,
dengan hipotesa:
𝐻𝑜 : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen .
𝐻𝑎 : b1 =0, artinya ada pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen.
Uji t sebagai uji masing-masing variabel dari suatu persamaan
regresi, dimana nilai t hitung diperoleh dari:

dengan :
bi = koefisien regresi
Sei = Standar error
(Djarwanto PS dan Pangestu S, 1998 )

Dengan tingkat signifikansi (α) 5% dari df=n-K-1 diperoleh nilai t tabel,


kemudian nilai t tabel dibandingkan dengan nilai thitung yang diperoleh.
Dengan membandingkan kedua nilai t tersebut, maka akan diketahui
pengaruhnya, yaitu dapat diterima atau ditolaknya hipotesis. Kriteria
pengujian:
t hitung > t tabel Ho ditolak dan Ha diterima, artinya variabel independen
mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.
t hitung < t tabel Ho diterima dan Ha ditolak, artinya variabel independen
tidak mempengaruhi variabel dependen.

2.4 Penelitian Terdahulu


Berdasarkan permasalahan yang muncul maka dilakukan analisis
komprehensif terhadap penelitian-penelitian terdahulu yang relevan. Analisis
dilakukan berdasarkan metode penilitian yang digunakan, objek penelitian, dan
kesimpulan. Penjelasan lebih lanjut tentang analisis penelitian sebelumnya ini
terdapat pada tabel 2.3.
2.4 Analisis Penelitian Sebelumnya
Nama Metode Objek Lokasi
No Penelitian Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian
Faktor personal
dan manajemen
K3 memiliki
pengaruh yang
tidak searah
(negatnegativehad
ap tindakan tidak
Maeka Multiple Unsafe PT. Yogya aman (unsafe
1
(2017) Regresion Action Indo Global action).
Dari ketiga model
yang dibuat dapat
dipergunakan
sebagai model
prediksi.

Dari tahun 2005,


2006, 2007, 2008
dan 2009
Kecelakaan kerja
menurun dan
produktivitas
Mutivariat meningkat. Dari
Dodi
(Regresi PT. Perisai uji statistik dengan
2 Hermanto Produktivitas
Linier Guna Abadi mengunakan SPSS
(2011)
Ganda) frekuensi rate dan
produktivitas
maka dari itu
frekuensi rate
terhadap
produktivitas tidak
ada pengaruh.
Nama Metode Objek Lokasi
No Penelitian Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian
Dari hasil uji
statistic, bahwa
variabel
lingkungan kerja
dan variabel faktor
manusia secara
bersama-sama
Dewi
Multiple Kecelakaan PT. Putri berpengaruh
3 Transiska
regresion Kerja Midai signifikan tehadap
(2015)
kecelakaan kerja
karyawan
Dari uji parsial,
faktor manusia
mempengaruhi
terjadinya
kecelakaan kerja
Variabel yang
memiliki
Nurbaiti hubungan yang
Fadhilah, Kecelakaan signifikan dengan
Univariat
4 Suryanto, Kerja Proses PT. X kecelakaan kerja
dan Bivariat
NurUlfah Die Casting adalah shift kerja
(2013) dan penggunaan
APD. a. = 0,022 ;
OR = 5,042).
Faktor yang
mempengaruhi
safety
performance
adalah safety
climate dan safety
Kartika leadership. Model
Rahayu Rumah Sakit persamaan yang
PCR dan Safety
5 Tri Bhayangkara menyatakan
NIPALAS Performance
Prasetyo Kediri hubungan antara
Sari PC Y dengan PC
X yang terbaik
adalah sebagai
berikut. PC Y2 =
0,03525 +
0,006921 PC X1 -
0,00934 PC X2
Nama Metode Objek Lokasi
No Penelitian Kesimpulan
Peneliti Penelitian Penelitian

PT.
Penelitian Multiple Kecelakaan Bhimasena
6 TBA
ini (2018) regresion Kerja Research &
Development

Tabel 2.4 menunjukkan bahwa sebagian peneltian yang dianggap


relevan menggunakan metode multiple regresion. Penelitian ini juga akan
menggunakan metode multiple regresion. Namun, yang membedakan antar
penelitian diatas adalah lokasi yang di telitinya. Penjelasan tersebut
mengaskan bahwa penelitian ini masih dikatakan layak untuk dilakukan
karena mengandung unsur originalitas dan kebaruan.

2.5 Kerangka Konsep


Berdasarkan studi literatur penelitian-penelitian pada uraian di atas bedasarkan
hasil wawancara langsung dengan responden, maka dapat dibuat suatu
kerangka konsep penelitian seperti di ilustrasikan pada gambar 2…
Faktor Manusia:
1. Sikap karyawan
2. Kemampuan & Keahlian
3. Kondisi Fisik karyawan

Kecelakaan kerja

Faktor Teknis:
1. Mesin & Peralatan
2. APD
3. Lingkungan Kerja

Gambar 2.2 Model Kerangka Konsep


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Flow Chart Penelitian


Bab ini dijelaskan mengenai tahapan-tahapan dalam melakukan
penelitian, dimana tahapan yang dilakukan akan menjadi pedoman untuk
mencapai tujuan penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan dapat dilihat
pada flowchart Gambar 3.1:
Tahap Pendahuluan
Mulai

Studi Literatur Observasi Awal

Rumusan Masalah

Tahap Konseptual
Kerangka Konsep
Model

Tahap Pengumpulan Data


Kuesioner

Uji Validitas Uji Reliabilitas

Apakah hasil
Sesuai?

Tahap Pengolahan Data


Uji Asumsi Klasik

Apakah hasil
Sesuai?

Model Regresi Linier Berganda

Uji Simultan (F) Uji Parsial (t)

Tahap Analisis
Analisis

Tahap Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 3.1 Flowchart kegiatan penelitian


3.2 Uraian Flowchart Penelitian
3.2.1 Tahap Pendahuluan

Studi awal telah dilaksanakan di PT. Bhimasena Research &


Development sejak Juli sampai Oktober tahun 2018. Pelaksanaan studi
pendahuluan dilakukan dengan observasi langsung dengan pekerja pada
bagian fabrikasi. Sebelum memulai tahapan ini perlu dilakukan identifkasi
awal terhadap kecelakaan kerja yang terjadi pada pekerja dalam melakukan
aktifitas pekerjaan mereka, sehingga perlu dilakukan pengkajian terlebih
dahulu berdasarkan studi literature dan juga observasi lapangan secara
langsung. Kemudian hasil dari pengkajian studi literatur dan observasi
lapangan dijadikan sebagai acuan utama dalam perumusan masalah pada
penelitian ini yaitu bagaimana pengaruh faktor manusia dan teknis terhadap
kecelakaan kerja pada pekerja/karyawan bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development Tahun 2018. Hasil yang diharapkan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor manusia dan teknis terhadap
kecelakaan kerja pada pekerja/karyawan bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development Tahun 2018. Selain itu, untuk sumber informasi
bagi pihak perusahaan untuk mengembangkan program K3 yang
dilaksanakan dalam rangka menurunkan angka kecelakaan kerja sehingga
mencapai Zerro Accident. Manfaat lain dari penelitian ini adalah hasil
penelitian ini dapat digunakan untuk mengembangkan metodologi penelitian
mengenai kecelakaan kerja. Selain itu juga menambah wawasan ilmu
pengetahuan kesehatan masyarakat.

3.2.2 Tahap Konseptual


Pada tahap ini, hal yang pertama yang dilakukan adalah menentukan
variabel-variabel dari penelitian sebelumnya sebagai acuan untuk melakukan
pengembangan konsep penelitian yang dilakukan. Variabel-variabel utama
tersebut sebelumnya didapatkan dari karakter sistem model yang jadi tujuan
pada penelitian ini. Setelah penentuan variabel utama tersebut kemudian
melakukan penyusunan kuisioner untuk melakukan seleksi dari variabel-
variabel utama yang menjadi variabel independennya. Hal ini dimaksudkan
untuk menyeleksi variabel utama mana yang paling berpengaruh terhadap
kecelakaan kerja di PT. Bhimasena Research & Development.
Setelah variabel utama sudah ditentukan kemudian melakukan
seleksi indikator-indikator dari variabel utama yang diperoleh dari referensi
yang digunakan dalam penelitian dan berdasarkan hasil observasi serta
wawancara dengan pihak perusahaan. Indikator-indikator ini nantinya yang
akan berfungsi untuk membentuk pertanyaan-pertanyaan pada kuisioner
yang mana kuisioner tersebut dipergunakan sebagai alat yang menjembatani
dalam pembuatan model pada penelitian ini.
Hasil dari kuisioner tersebut diolah dengan melakukan beberapa
jenis uji statistik menggunakan software SPSS. Apabila data sudah
memenuhi dalam uji asumsi klasik yang mana merupakan persyaratan
dalam penggunaan metode regresi linear berganda maka dilakukanlah
perancangan model dengan menggunakan metode regresi linear berganda.
Tujuan penelitian ini ditetapkan sejalan dengan rumusan masalah
yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja pada
karyawan sektor fabrikasi di Bengkel Bhimasena Research & Development,
mengetahui faktor yang mendominasi kecelakaan kerja pada karyawan
sector fabrikasi di Bengkel Bhimasena Research & Development dan untuk
meminimalisir faktor yang mendominasi kecelakaan kerja yang terjadi pada
karyawan sektor fabrikasi di Bengkel Bhimasnea Research & Development.

3.2.3 Tahap Pengumpulan Data


1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian fabrikasi di
PT. Bhimasena Research & Development. Dalam penelitian jumlah
pekerja bagian fabrikasi sebanyak 64 orang dan di ambil sampel
sebanyak 50 orang. Penggunaan sampel sebanyak 50 orang ini
merupakan minimal pengambilan data dari populasi yang di pengaruhi
oleh margin of error (Slovin, 1960).
2. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung
dari sumber pertama atau tempat objek penelitian dilakukan (Siregar,
2013). Data primer yang ada dalam penelitian ini merupakan data dari
penyebaran kuesioner yang bersumber pada responden yang berjumlah 50
pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena Research & Development.
3. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi
yang bukan pengolahannya (Siregar, 2013). Dalam penelitian ini yang
menjadi sumber data sekunder adalah buku-buku, literature, artikel, jurnal,
serta situs di internet yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
4. Pembuatan Kuesioner
Sebelum membuat kuesioner, peneliti melakukan wawancara langsung
dengan karyawan pada bagian fabrikasi di PT. Bhimasena Research &
Development mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi
kecelakaan kerja. Setelah diketahui kriteria-kriteria atau faktor-faktor yang
mempengaruhi kecelakaan kerja dibuatlah kuesioner. Pembuatan
kuesioner ini dibuat dengan tujuan untuk membuat model matematis
nantinya. Pengumpulan data yang dilakukan dari kuesioner ini , maka
nantinya akan digunakan untuk menentukan koefisien-koefisien yang ada
dalam model matematis yang akan dibuat penelitian ini. Responden untuk
kuesioner ini sebanyak 50 orang dan kuesioner yang digunakan dengan
model skala likert.
5. Validasi dan Reliabiliti Data
Sebelum data kuesioner diolah, data tersebut dilakuakn uji validitas dan
reliablitas data. Uji ini dilakukan agar data tersebut dapat diolah ke langkah
berikutnya yaitu regresi linier berganda.

3.2.4 Tahap Pengolahan Data


Setelah data dikumpulkan selanjutnya akan diolah dengan metode
sebagai berikut :
1. Uji Asumsi Klasik yang berupa uji normalitas, uji autokorelasi, uji
multikolinieritas, uji heterokedastisitas, dan uji linieritas.
2. Analisis Multivariat dengan metode regresi linier berganda untuk
menunujukan keterkaitan hubungan tibal balik atau besar kecilnya korelasi
yang di selidiki.
3.2.5 Analisis
Analisis dilakukan untuk menilai solusi yang terbaik dari hasil
pengolahan data yang telah dilakukan. Data yang telah diolah selanjutnya
dilakukan analisis untuk mencapai tujuan awal dari kecelakaan kerja yang
terjadi di Bengkel Bhimasena Research & Development.

3.2.6 Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan berisi tentang hasil yang didapatkan dalam pengolahan


data sebagai jawaban atas rumusan masalah dan tujuan penelitian, sedangkan
saran berisi tentang masukan terhadap pengembangan penelitian selanjutnya.
BAB IV

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

4.1 Pengumpulan Data


Pengumpulan data dalam penelitian ini disajikan hasil informasi
mengenai profil PT. Bhimasena Research & Development serta informasi dari
responden dalam bentuk kuesioner. Kuesioner yang digunakan bersifat tertutup
dengan skala ordinal.

4.1.1 Profil Perusahaan


Bhimasena Research & Development merupakan perusahaan yang
berfokus dalam produksi dan pengembangan teknologi di bidang militer
terutama untuk TNI AD, AU, dan AL. Secara garis besar konsumen utama
PT Bhimasena Research & Development ini yaitu TNI AD, AU dan AL
karena sesuai dengan visinya yaitu menjadikan Badan Usaha Milik Swasta
(BUMS) pertam yang mampu secara mandiri membuat alat peralatan
pertahan dan keamanan di dalam negeri serta misinya yaitu melakukan
inovasi dan pengembangan alat peralatan pertahanan dan keamanan baik
produk dalam negeri maupun produk luar negeri dengan melakukan usaha
terpadu mulai dari riset serta rekayasa industry dan manufaktur.
Bhimasena Research & Development di dirikan sejak tahun 2013
dan hingga sekarang memiliki jumlah karyawan 250 orang di berbagai
departemen, adapun bagian produksi mempekerjakan 80 orang karyawan
yang di bagi di berbagai sektor. Fasilitas kerja di bagian produksi berupa:
Workshop, Warehouse, dan Toolhouse. Untuk menunjang aktivitas
perusahaan. Bhimasena Research & Development juga berusaha untuk
mencegah timbulnya kecelakan kerja dan kebakaran baik bagi perusahaan
maupun karyawan yang bekerja diperusahaan.
4.1.2 Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan
Berikut visi, misi dan tujuan PT. Bhimasena Research &

Development:

1. Visi Perusahaan
Menjadikan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) pertama yang mampu
scara mandiri membuat alat peralatan pertahanan dan keamanan di
dalam negeri.
2. Misi Perusahaan
Melakukan inovasi dan pengembangan alat peralatan pertahanan dan
keamanan baik produk dalam negeri maupun produk luar negeri,
dengan melakukan usaha terpadu mulai dari riset serta rekayasa
industry dan manufaktur
3. Tujuan Perusahaan
Mampu menyediakan kebutuhan alat peralatan pertahanan dan
keamanan, termasuk penyediaan suku cadang alat peralatan militer
yang dibeli dari luar negeri dan dibuat di dalam negeri sehingga
mengurangi ketergantungan terhadap produk buatan luar negeri.

4.1.3 Kondisi Lapangan


PT. Bhimasena Research & Development merupakan BUMS yang
bergerak dalam bidang produksi dan pengembangan teknologi di bidang
pertahanan dan keamanan dalam negeri. Penelitian ini lebih mengamati
pada proses produksi di Bengkel Bhimasena Research & Development
terutama pada sector fabrikasi. Aktifitas yang dilakukan pada sector
fabrikasi meliputi proses pengelasan, proses penggerindaan, pemotongan
plat, hollo dan part lainnya dengan menggunakan gerinda tangan, gerinda
potong dan mesin potong serta proses bor dengan menngunakan bor tangan
dan bor duduk.
Aktivitas fabrikasi yang dilakukan tidak menuntut kemungkinan di
perlukan perlatan keselamatan kerja. Berikut APD (Alat Pelindung Diri)
yang digunakan oleh pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena Research
& Development pada gambar 4.1.
Gambar 4.1 APD Pekerja Bagian Fabrikasi
Berdasarkan gambar 4.1 bahwa APD (Alat Pelindung Diri) yang
digunakan sehari-hari oleh pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development terdiri dari :
1. Safety Helmet
2. Kaca mata alas
3. Masker
4. Wearpack
5. Sarung tangan
6. Safety shoes
4.1.4 Produk Perusahaan

PT. Bhimasena Research & Development memproduksi beragam


kendaraan dan peralatan untuk memenuhi berbagai militer dan juga misi
khusus. Berikut beberapa produk yang di produksi oleh PT. Bhimasena
Research & Development.

Tabel 4.1 Produk PT. Bhimasena Research & Development


No. Nama Kendaraan Gambar Keterangan
Didesain untuk
kebutuhan reaksi
cepat tanggap darurat
nulkir, biologi dan
kendaran dapur
lapangan (Kitchen
1. Kitchen Truck Trcuk) yang didesain,
diperlengkap dan
berfungsi sebgai dapur
lapangan sehingga
mampu bermanufer
untuk memebrikan
dukungan logistic bagi
seluruh prajurit
Meningkatkan
keamanan, efisiensi,
dan efektifitas
pasukan penjinak
dalam merespon
ancaman-ancaman
strategis bahan
peledak. Dilengkapi
dengan berbagai
2. Jihandak kelengkapan evakuasi,
proteksi, disposal,
deteksi, serta alat
bantu lainnya untuk
menangani berbagai
kebutuhan taktis serta
operasional untuk
penanganan yang
lebih aman di temapt
terjadinya ancaman.

Didesain untuk
kebutuhan
pelaksanaan kegiatan
3. Dekontaminasi
dekontaminasi nubika
(nuklir, biologi, dan
kimia) bagi personel
No. Nama Kendaraan Gambar Keterangan
materil dan unit
kendaraan kecil.
Dedesain untuk
kebutuhan reaksi
cepat tanggap darurat
4. Shop Contact dalam menanggulangi
bantuan alat
perbengkelan maupun
dalam pengawasan
perawatan kendaraan
Unit pesawat tanpa
awak yang dapat
diterbangkan tanpa
menggunakan area
landasan baik untuk
landing atatupun take-
5. SWG R – 1 UAV off, selain bentuk yang
sangat aero dinamis,
uav ini dapat dengan
mudah di kendalikan
oleh pilot dan
mempunyai banyak
fitur yang terintegrasi
di dalam uav swg R-1

4.1.5 Pengambilan Data


Data di ambil dari pekerja bagian fabrikasi di PT. Bhimasena
Research & Development dengan menyebarkan kuesioner yang telah disusun
berdasarkan hasil wawancara dengan pekerja serta studi literature mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi kecelakaan kerja. Sebagai pengambilan
sampel, kuesioner disebarkan kepada 50 pekerja bagian fabrikasi. Bentuk
kuesioner ini menggunakan skala ordinal yaitu dengan menyediakan 5
jawaban pada setiap item pertanyaan yang berupa pendapat pekerja atau
responden tersebut. Berikut bentuk-bentuk jawaban yang teresedia :
1. STT (Sangat Tidak Tahu) 6. HTP (Hampir Tidak Pernah)
2. TT (Tidak Tahu) 7. TP ( Tidak Pernah)
3. R (Ragu) 8. KK (Kadang-kadang)
4. T (tahu) 9. S (Sering)
5. ST (Sangat Tahu) 10. SS (Sangat Sering)
Mengenai bentuk dari kuesioner teresbut dapat dilihat pada lampiran
…. Terlampir.

4.1.6 Uji Validitas


Uji validitas digunakan untuk mengukur apakah alat ukur (kuisioner)
tersebut sudah benar kerangka konsepnya. Uji validitas berguna untuk mengetahui
apakah ada pernyataan-pernyataan pada kuesioner yang harus dibuang/diganti
karena dianggap tidak relevan. Validitas kuesioner adalah dengan melihat nilai
korelasi data pada masing-masing pernyataan (setiap indikator) dengan skor total.
Hipotesis uji validitas adalah sebagai berikut.

H0 : Pertanyaan tidak dapat mengukur aspek yang sama

H1 : Pertanyaan dapat mengukur aspek yang sama

Nilai signifikasi ini diperoleh dari proses perhitungan pada uji validitas yang
dilakukan dengan menggunakan M.Excel dengan teknik pearson/product moment.
Sehingga apabila nilai r hitung atau korelasi ≤ r tabel maka tolak H1 yang berarti
pertanyaan tidak ada hubungan. Namun bila nilai r hitung atau korelasi ≥ r tabel
maka tolak H0 yang artinya pertanyaan tersebut memiliki hubungan karena dapat
mengukur aspek yang sama dan kuisioner tersebut dinyatakan valid. Nilai r tabel
dapat ditemukan dengan melihat jumlah responden yang mengisi kuesioner dan
nilai signifikansi yang sebesar 5%. Berikut hasil uji validitas dengan teknik pearson.

Tabel 4.2 Hasil Uji Validitas


No Variabel Pernyataan r-Hitung r-Tabel Keterangan
P1 0,5472 0,2787 Valid
P2 0,5215 0,2787 Valid
P3 0,5939 0,2787 Valid
P4 0,4676 0,2787 Valid
1 Faktor Manusia (X1 )
P5 0,4598 0,2787 Valid
P6 0,6824 0,2787 Valid
P7 0,5075 0,2787 Valid
P8 0,5055 0,2787 Valid
P9 0,4306 0,2787 Valid
P10 0,5029 0,2787 Valid
P1 0,3726 0,2787 Valid
P2 0,5854 0,2787 Valid
P3 0,5007 0,2787 Valid
P4 0,5836 0,2787 Valid
P5 0,6028 0,2787 Valid
2 Faktor Teknis (X2 )
P6 0,6797 0,2787 Valid
P7 0,4714 0,2787 Valid
P8 0,5083 0,2787 Valid
P9 0,5827 0,2787 Valid
P10 0,3989 0,2787 Valid
P1 0,8331 0,2787 Valid
P2 0,8226 0,2787 Valid
3 Kecelakaan Kerja (Y) P3 0,8820 0,2787 Valid
P4 0,8470 0,2787 Valid
P5 0,6266 0,2787 Valid
Sumber : Pengolahan data

4.1.7 Uji Reliabilitas


Langkah selanjutnya untuk mengetahui kehandalan alat ukur kuisioner adalah
dengan melakukan pengujian reliabilitas dengan M.Excel. Hasil dari uji reabilitas
tersebut kemudian dibandingkan dengan nilai alpha cronbach’s pada tabel 4.3
berikut:

Tabel 4.3 Nilai Cronbach’s Alpha


Nilai Cronbach's
No Alpha Keterangan
1 0,00 - 0,2 Tidak reliable
2 0,21 - 0,4 Kurang reliable
3 0,41 - 0,6 Cukup reliable
4 0,61 - 0,8 Reliable
5 0,81 - 1,0 Sangat Reliable
Sumber : Ghozali, 2009:45
Berikut ini adalah hasil uji reliabilitas kuesioner yang ditunjukan pada
tabel 4.4
Tabel 4.4 Hasil Uji Reliabilitas
Cronbach's
No Faktor Alpha Keterangan
1 Faktor Manusia 0,70 Reliable
2 Faktor Teknis 0,71 Reliable
3 Kecelakaan Kerja 0,86 Sangat Reliable
Sumber : Pengolahan data
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa seluruh faktor sudah reliable untuk
digunakan sebagai alat ukur dengan melihat nilai cronbach’s alpha. Berdasarkan
hasil uji validitas dan reliabilitas yang telah dilakukan, maka dapat di simpulkan
indicator-indikator yang dijadikan alat ukur bagi masing-masing variabel telah
memenuhi syarat validitas dan reliabilitas dan kuesioner yang telah dibuat dapat
digunakan untuk pengambilan data selanjutnya.

4.2 Pengolahan Data


Pengolahan data merupakan tahap selanjutnya setelah data dari kuesioner
telah di uji validitas dan reliabilitas maka langkah selanjutnya data di uji asumsi
klasik yang merupakan persyaratan dalam penerapan regresi linier berganda.

4.2.1 Uji Asumsi Klasik


1. Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan
berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Metode klasik dalam
pengujian normalitas suatu data tidak begitu rumit. Namun untuk memberikan
kepastian, data yang dimiliki berdistribusi normal atau tidak, sebaiknya
digunakan uji statistik normalitas. Karena belum tentu data yang lebih dari 50
bisa dipastikan berdistribusi normal, demikian sebaliknya data yang banyaknya
kurang dari 50 belum tentu tidak berdistribusi normal, untuk itu perlu suatu
pembuktian. Uji statistik normalitas yang dapat digunakan yaitu Kolmogorov
Smirnov.
Berikut ini hasil pengujian asumsi normalitas Kolmogorov-Smirnov multivariat
dimana terdapat hipotesa sebagai berikut:
H0 : Data berdistribusi normal
H1 : Data tidak berdistribusi normal
Daerah kritis : tolak H0 jika nilai absolute > D tabel
Hasil pengujian asumsi normalitas Kolmogorov-Smirnov multivariat dari data
yang diperoleh melalui kuisioner dengan nilai D tabel untuk sampel 50 di
peroleh dengan nilai sebesar 0,188 yaitu nilai absolute < D tabel maka gagal
tolak H0 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Berikut
ini adalah hasil uji normalitas hasil kuesioner yang ditunjukan pada tabel 4.5.

Tabel 4.5 Hasil Uji Kolmogrov-Smirnov

Sumber : Pengolahan SPSS


2. Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan
varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang
harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala
heteroskedastisitas. Hasil pengujian heterokedastisitas dengan menggunakan
SPSS, dapat dilihat sebagai berikut:
Gambar 4.2 Grafik Hasil Uji Heterokedastisitas
Pada Gamabar 4.2 grafik scatterplot terlihat bahwa tidak adanya pola yang
jelas atau titik-titik tersebar secara acak serta tersebar baik di atas maupun di
bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi
heterokedastisitas pada model regresi sehingga model regresi dapat dipakai
untuk memprediksi besaran kecelkaan kerja berdasarkan variabel faktor
manusia dan teknis.
3. Uji Multikolinieritas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya
penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas yaitu adanya hubungan linear
antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi
dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Ada beberapa
metode pengujian yang bisa digunakan diantaranya yaitu :
a. dengan melihat nilai inflation factor (VIF) pada model regresi,
b. dengan membandingkan nilai koefisien determinasi individual (𝑟 2 )
dengan nilai determinasi secara serentak (R)
c. dengan melihat nilai eigenvalue dan condition index.

Pada pembahasan ini akan dilakukan uji multikolinearitas dengan melihat nilai
inflation factor (VIF) pada model regresi dan membandingkan nilai koefisien
determinasi individual (r) dengan nilai determinasi secara serentak (𝑅 2 )).
Menurut Santoso (2001), pada umumnya jika VIF lebih besar dari 5, maka
variabel tersebut mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas
lainnya. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan VIF.
Apabila nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10 maka tidak terjadi
multikolinearitas pada persamaan regresi. Hasil pengujian dapat dilihat pada
hasil perhitungan sebagai berikut:
Tabel 4.6 Nilai VIF Uji Multikolinieritas

Sumber : Pengolahan SPSS


4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada
korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi (Imam Ghozali, 2011: 110). Pada
penelitian ini untuk menguji ada tidaknya gejala autokorelasi menggunakan uji
Durbin-Watson (DW test). Berikut hasil uji DW :

Tabel 4.7 Hasil Uji Durbin-Watson


Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson

1 .796a .634 .618 2.137 1.967

a. Predictors: (Constant), FAKTOR TEKNIS, FAKTOR MANUSIA


b. Dependent Variable: KECELAKAAN KERJA

Sumber: Pengolahan SPSS


Berdasarkan tabel 4.7, dihasilkan nilai DW sebesar 1.967. Angka tersebut akan
di badningkan dengan kriteria penerimaan atau penolakan yang akan dibuat
dengan nilai dL dan dU ditentukan berdasarkan jumlah variabel bebas dalam
model regresi (k) dan jumlah sampelnya (n). Nilai dL dan dU dapat dilihat pada
Tabel Durbin-Watson dengan tingkat signifikansi 5% (𝛼 = 0,05 (Terlampir).
Nilai dL yang di dapat yaitu 0,14625 dan nilai dU yaitu 1,6283. Berdasarkan
tabel pengambilan keputusan nilai uji DW (dU<DW<4-dU), tidak terjadi
autokorelasi pada model regresi penelitian ini.
4.2.2 Model Regresi Linier Berganda
Setelah dilakukan seluruh uji asumsi klasik dengan menggunakan software
SPSS, maka didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut :

Tabel 4.8 Hasil Ouput Regresi


Sumber : Pengolahan SPSS

Berdasarkan persamaan awal :

Y = 𝛽0 – 𝛽1X1+ 𝛽2X2 + e

tabel 4.8 sehingga di dapat model regresi sebagai berikut :

Y = 16,726 – 0,567 X1+ 0,422 X2 + e

Interpretasi dari persamaan regresi linier berganda tersebut adalah sebagai berikut:

a. 𝛽0 = 16.726
Nilai konstanta sebesar 16.726 maka hal ini dapat diinterpretasikan bahwa
apabila variabel kesehatan kerja dan variabel keselamatan kerja adalah konstan
(tidak berubah), maka kinerja karyawan adalah sebesar 16.726
b. 𝛽1 = -0.567
Nilai koefisien Faktor Mnausia untuk variabel X1 sebesar 0,567 dan bertanda
negatif, ini menunjukkan bahwa faktor manusia mempunyai hubungan yang
berlawanan arah dengan Risiko Sistematis. Hal ini mengandung arti bahwa
setiap kenaikan faktor manusia satu satuan maka variabel Beta (Y) akan turun
sebesar 0,567 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model regresi
adalah tetap.

c. 𝛽2 = 0,422
Variabel faktor teknis (X2) mempengaruhi kecelakaan kerja sebesar 0,422
artinya, jika variabel faktor teknis (X2) mengalami peningkatan sebesar 0,422
maka, kecelakaan kerja akan meningkat secara linier sebesar 0,422. Sebaliknya
jika variabel faktor teknis (X2) mengalami penurunan maka, kecelakaan kerja
akan menurun pula.
d. Y merupakan variabel dependen (keecelkaan kerja) yang dipengaruhi oleh faktor
manusia dan faktor teknis
BAB V
ANALISIS

Setelah dilakukan pengolahan data tahap berikutnya yaitu menganalisis data


kuesioner tersebut dengan meggunakan analissi regresi linier berganda. Analisis
regresi linier berganda dilakukan untuk mengetahui hubungan fungsional antara
dua variabel atau lebih. Terdapat 2 variabel yang mempengaruhi terjadinya
kecelakaan kerja yaitu faktor manusia (X1) dan faktor teknis (X2). Berikut hasil
analisis regresi linier berganda :

Tabel 5.1 Uji Regresi Berganda


Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.


1 (Constant) 16.726 3.106 5.384 .000
FAKTOR
-.567 .076 -.679 -7.464 .000
MANUSIA
FAKTOR
.422 .063 .610 6.712 .000
TEKNIS
Sumber : SPSS 15.0
Berdasarkan tabel 5.1 nilai dari :
𝛽0 = 16,726 𝛽1 = -0,567 𝛽2= 0,422 𝐹ℎ𝑖𝑢𝑡𝑛𝑔 = 40,676 Adj 𝑅 2 = 0,618
Persamaan regresi untuk variabel faktor manusia (X1) dan faktor teknis (X2)
dengan variabel kecelakaan kerja (Y) dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = 16,726 – 0,567 X1+ 0,422 X2
Untuk semakin meyakinkan hubungan fungsional antara variabel X1 dan X2 dengan
variabel Y maka perlu dilakukan uji simultan (F), uji parsial (t) dan koefisien
determinasi 𝑅 2 .
Uji simultan (F) digunakan untuk mengetahui pengaruh secara simultan
variabel bebas X1 dan X2 secara signifikan terhadap variabel terikat maka dapat
melakukan uji signifikansi dengan hipotesis sebagai berikut:
H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan anatara variabel bebas (X1 dan X2)
secara bersama-sama dengan variabel terikat (Y).
Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X1 dan X2) secara
bersama-sama dengan variabel terikat (Y).
Adapapun statistik pengujiannya adalah sebagai berikut:
Jika F hitung ≥ Ftabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Jika Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima dan Ha ditolak.
Pengujian regresi antara variabel bebas X1 dan X2 terhadap variabel terikat
Y pada tingkat signifikan 5%. Jumlah sampel (N) adalah 50, dan jumlah variabel
bebas (f) adalah 2, sehingga dapa diketahui df pembilang = f = 2, dan df penyebut
= N – k – 1 = 47. Setelah df pembilang dan df penyebut diketahui, maka didapatkan
nilai F tabel sebesar 3,2 dan Fhitung sebesar 40,676 . Karena Fhitung > dari Ftabel,
maka H0 ditolak dan Ha diterima yang artinya terdapat pengaruh yang signifikan
antara variabel bebas (X1 dan X2) secara bersama sama dengan variabel terikat (Y).
Uji Parsial digunakan untuk mengetahui masing-masing variabel bebasnya
secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikatnya, maka
dapat melakukan uji signifikansi dengan hipotesis sebagai berikut :
H0 : tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X1 dan X2)
secara parsial dengan variabel terikat (Y).
Ha : terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel bebas (X1 dan X2) secara
parsial dengan variabel terikat (Y).
Adapapun statistik pengujiannya adalah sebagai berikut:
Jika t hitung > ttabel, atau -thitung < -ttabel maka H0 diterima dan Ha ditolak
Jika -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel, maka H0 ditolah dan Ha diterima.
Berdasarkan Tabel 5.1 didapat t hitung untuk variabel bebas faktor manusia
sebesar -7,464, bila dibandingkan dengan nila t tabel dengan taraf signifikan 5%
dan dk= N – 2 = 48 diperoleh nilai t tabel sebesar 2,010. Karena -7,464 < -2,010,
maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara
variabel bebas (X2 dan X4) secara bersamasama dengan variabel terikat (Y).
4.2.3 Regresi Linier Berganda
4.2.4 Asumsi Klasik
4.2.5 Uji Simultan (F)
4.2.6 Uji Parsial (t)
4.2.7 Koefisien Determinasi (𝑹𝟐 )
DAFTAR PUSTAKA

Ahyari, A, 1999, Perencanaa Letak Fasilitas Produksi Perencanaan Lingkungan


Kerja Perencanaan Standar Produksi Buku 2 BPFE, Yogyakarta,
Ariandja, E. T. M, 2002, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Grasindo.
Bilson Simamora.(2005), Analisis Multivariat Pemasaran. PT Gramedia
Pustaka Umum
Gempur, S. (2004), Manajemen Keselamatan Dan Kesejahteraan Kerja, Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Hasibuan, S. P. M,. (2001), Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi,
Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Heizer, Jay dan Render Barry. (2001), Prinsip-prinsip Manajemen Personalia,
Jakarta: Selemba Empat.
Husnan, dan Suad Ranupandoyo, H. (2000), Manajemen Personalia, Yogyakarta:
BPFE UGM.
Khairulnas. (1999), Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Industry. Riau:
Fakultas Teknik Universitas Riau.
Mangkunegara. (2004), Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan,
Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Moekijat,. (1999), Manajemen Sumber Daya Manusia, Bandung: CV. Mandar
Maju.
Panggabean, M. S,. (2002), Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Sarwono, S.W. (2012). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada
Sastrohadiwirjo, S, 2002, Manajemen Tenaga Kerja Indonesia, Jakarta: PT. Bumi
Akasia.
Simamora, H, 2000, Manajemen Sumber Daya manusia Cetakan ketiga, Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
Sugiono, B, 2003, Program Keselamatan dan Kesehatan kerja, semarang: Undip.
Sumayang, L, 2003, Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan OperasI, Jakarta:
Grasindo.
Wibowo, 2007, Manajemen Kinerja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

47
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS
(Yogyakarta: Andi Offset,2005), h.67-68
48
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS,
h.72.
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu: Memilih Metode Statistik Penelitian
Dengan SPSS,h. 72.
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti
Pemula,dengan
kata pengantar oleh Buchari Alma (Bandung: Alfabeta, 2008), h. 87.

Nasutioan, Proses Penelitian Kuantitatif (Fakultas Ekonomi, Universitas


Indonesia, 2003),
h.143

Nasutioan, Proses Penelitian Kuantitatif, h. 143

Djarwanto, PS. dan Subagyo Pangestu., 1998. “Statistik Induktif”, BPFE, Jakarta.

Ghozali, Imam. 2002. Aplikasi Analisis Multivariate dengan ProgramSPSS (4th ed.).
Semarang: Badan Penerbit-Undip.
Sujana, 2001. Metode Statistik. Bandung : Tarsito.
RENCANA PELAKSANAAN PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Perusahaan Bhimasena Research & Development Jl.


Raya Ir. Soekarno No. 7-9, Jatinangor, 45363 Bandung, Jawa Barat, Indonesia.
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus hingga September tahun 2017.