Anda di halaman 1dari 13

A.

PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara agraris dengan banyaknya pulau dan wilayah lautan
yang terdapat didalamnya serta terpisah antara satu dengan yang lain. Karena banyaknya
jumlah pulau yang berada di Indonesia secara tidak langsung tumbuh pula banyak budaya
pada golongan masyarakat yang tinggal di daerah-daerah di Indonesia. Kebudayaan ini
berkembang sebagai upaya masyarakat/manusia untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya agar mereka dapat bertahan hidup. Arsitektur merupakan salah satu
aspek yang muncul akibat tumbuh dan berkembangnya budaya dalam suatu komunitas
mayarakat di seluruh Indonesia mulai dari Aceh hingga Tanah Papua. Secara khusus pada
makalah ini akan dibahas lebih jauh mengenai budaya arsitektur yang tumbuh dan
berkembang di daerah Papua.
Papua/Irian Jaya seringkali disebut-sebut sebagai “pulau hitam”-nya Indonesia
karena mayoritas masyarakat yang hidup disana berkulit hitam dan masih sedikit primitif
kendati beberapa daerah disana telah disentuh modernisasi dan mulai berkembang. Papua
merupakan tanah yang dianggap sakral bagi kebanyakan masyarakat, bukan hanya
masyarakat Papua sendiri melainkan juga oleh masyarakat yang hidup diluar pulau tersebut.
Hal ini dikarenakan komparasi antara adat dan budaya dengan mobilisasi yang berjalan
disana masih sangat senggang, dimana pola sosial yang bersifat tradisi masih dipegang erat
oleh masyarakat Papua sendiri. Masyarakat Papua banyak yang menganut agama Nasrani,
namun tidak sedikit pula yang masih menganut kepercayaan pemujaan terhadap roh nenek
moyang. Kesemua hal tersebut tentunya memberikan pengaruh terhadap corak arsitektur
mereka selain dari segi adaptasi lingkungan.
Arsitektur tradisional suku-suku yang terdapat di papua terbagi menjadi beberapa
tipe bentuk hunian, yaitu:
1. Bentuk kotak
2. Segi enam bertingkat
3 ( kariwari )
4. Lingkaran ( pada honai suku Dani ) Ketiga bentuk hunian tersebut merupakan
adaptasi masing-masing suku terhadap kondisi geografis daerah tempat mereka berhuni.
Pada makalah ini, penulis hanya akan membahas tentang arsitektur tradisional suku Dani
yang bertempat tinggal di lembah Baliem, Wamena, yang merupakan wilayah pegunungan
dan perbukitan. Lembah Baliem ini memiliki ketinggian sekitar 2500 dari permukaan laut.
Suku Dani merupakan suku yang hidup secara berkelompok dalam satu kesatuan kelompok
teritorial.cara hidup suku dani adalah dengan cara bercocok tanam dan berpindah tempat.

Honai merupakan produk budaya yang lahir akibat usaha masyarakat Papua untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan, serta penyelarsan dengan kepercayaan dan gaya
hidup mereka sehari-hari.
B. LETAK GEOGRAFI

Secara geografi Kabupaten Jayawijaya terletak antara 30.20 sampai 50.20' Lintang
Selatan serta 1370.19' sampai 141 Bujur Timur. Batas-batas Daerah Kabupaten Jayawijaya
adalah sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen
Waropen, Barat dengan Kabupaten Paniai, Selatan dengan Kabupaten Merauke dan Timur
dengan perbatasan negara Papua New Guinea.
Topografi Kabupaten Jayawijaya terdiri dari gunung-gunung yang tinggi dan lembah-
lembah yang luas. Diantara puncak-puncak gunung yang ada beberapa diantaranya selalu
tertutup salju misalnya Pucak Trikora 4750 m, Puncak Yamin 4595 m dan Puncak Mandala
4760 m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit terdapat di daerah
pegunungan sedangkan disekeliling lembah merupakan percampuran antara endapan
Lumpur, tanah liat dan lempung.

C. IKLIM
Jayawijaya beriklim tropic basah, hal ini dipengaruhi oleh letak ketinggian di
permukaan laut dengan temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius dengan suhu
ratarata 17,50Celcius dengan hari hujan 152,42 hari pertahun tingkat kelembaban diatas
80%, angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot dan
terendah 2,5 knot.

D. FLORA DAN FAUNA


Daerah ini terdapat banyak margasatwa yang aneh dan menarik yang hidup di tengah
tengah pepohonan tropis yang luas dan beraneka ragam pada gunung-gunung yang lebih
tinggi.
Hutan-hutan tropis memberi kesempatan bagi tumbuh-tumbuhan dan hutan-hutan
Cemara, semak rhodedendronds dan species tanaman pakis yang dari anggrek yang sangat
mengagumkan.
Dekat daerah bersalju di puncak-puncak gunung terdapat lumut dan tanaman tundra.
Hutan-hutan juga beraneka ragam jenis kayu yang sangat penting bagi perdagangan seperti
intisia, pometis, callophylyum, drokontomiko, pterokorpus dan jajaran pohon berlumut yang
jika diexploitasi dan diproses dapat menghasilkan harga yang sangat tinggi jika
diperdagangkan. Hutan-hutan dan padang-padang rumput Jayawijaya merupakan tempat
hidup kanguru, kuskus, kasuari dan banyak species dari burung endemic seperti burung
Cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka
ragam warna dan coraknya.

E. BUDAYA
Setiap daerah pasti punya ciri khas, begitu pula dengan penduduk Jayawijaya. Di
kabupaten ini babi memegang peranan penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Babi
merupakan prestise dan melambangkan status sosial seseorang. Tetapi babipun bisa
menyebabkan pecahnya perang suku, dan binatang ini juga berperan sebagai mas kawin
(uang mahar).
Di daerah ini masih banyak orang yang mengenakan “koteka” (penutup penis) yang
terbuat dari kunden kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari
rumput/serat dan tinggal di “Honaihonai” (gubuk yang beratapkan jerami/lalang). Upacara-
upacara besar dan keagamaan, perang suku masih dilaksanakan (walaupun tidak sebesar
sebelumnya).

Walaupun mereka menerima Agama Kristen, banyak diantara upacara-upacara


mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku
Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan Nyanyian, tarian
dan persembahan terhadap nenek moyang mereka. Upacara peperangan dan permusuhan
biasanya melintasi daerah perbatasan, wanita, pencurian babi dan masalah-masalah kecil
lainnya. Para prajurit memberi tanda juga terhadap mereka sendiri dengan babi lemak,
kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah dari pohon mangga dan bunga-bungaan,
mempersenjatai diri sendiri dengan; tombak, busur dan anak panah. Di dalam masyarakat
Suku Dani jika salah seorang menjadi manusia buangan karena melanggar tabu, ia biasanya
dihina/ diejek oleh warga yang lain pada pertemuan adat, ia harus membayar denda. Sambil
mereka bekerja di ladang atau pergi berburu mereka bernyanyi expresi heroic atau kisah
yang menyedihkan. Alunan suara dari lagu itu mendorong mereka dalam bekerja, alat-lat
music yang mengiringi lagu disebut “Pikon”. Sepanjang perjalanan berburu. “Pikon”
diselipkan kedalam lubang yang besar dikuping telinga mereka. Dengan Pikon tanda isyarat
dapat dikirim dengan berbagai suara yang berbeda selama berburu untuk memberi isyarat
kepada teman atau lawan di dalam hutan. Berbeda warga memiliki suara Pikon, hanya dapat
dikenal didalam suku mereka sendiri

F. AGAMA
Penduduk di daerah Jayawijaya sebagian besar Pemeluk agama Kristen dan lainnya
agama Islam, tetapi beberapa penduduk yang berada di tempat yang lebih terpencil di
daerah bukit-bukit masih berpegang teguh kepada kepercayaan yang ditinggalkan oleh
nenek moyang mereka.
G. POLA PEMUKIMAN DAN FUNGSI

Honai adalah rumah adat masyarakat pegunungan tengah Papua yang berbentuk
bulat dan biasanya dihuni oleh 5-10 orang. Menurut adat, hanya pria dewasa yang boleh
menempati honai. Sesuai dengan namanya yang diambil dari istilah hun yang berarti laki-laki
dewasa dan ai yang berarti rumah. Honai tidak hanya mengedepankan unsur laki-laki
dewasa, tapi juga kepemilikan. Honai terdiri dari Honai untuk laki-laki yang disebut Itorei,
honai untuk perempuan dan anak-anak yang disebut ongoi atau ebei, dan bangunan tempat
pemujaan dan penggemblengan para pemuda yang disebut karriwari. Umumnya dalam
sebuah kelompok terdiri atas satu 'Itorei' (honae untuk laki-laki), beberapa 'Ongoi' (honae
untuk perempuan), dan dapur. Jarak antarhonai tidak saling berdekatan untuk menyisakan
sebidang lahan sebagai tempat bakar batu. Honai itu sendiri adalah sebuah bangunan yang
berbentuk seperti tabung silinder.
Berdinding papan kayu, berlantai tanah yang ditutupi rumput-rumput kering dengan
sebuah pintu untuk keluar-masuk rumah dan atap rumbia.
Kompleks permukiman terkecil dari suku Dani adalah Silimo. Satu kompleks silimo
terdiri dari beberapa massa bangunan dengan fungsi-fungsi khusus, dan satu silimo dihuni
oleh satu keluarga luas terbatas (extended family).
Kemudian beberapa silimo akan membentuk suatu perkampungan yang
memiliki batas teritori wilayah berupa bentukan bentang alam, seperti gunung,
bukit,lembah, atau sungai. Pola permukiman dalam satu perkampungan ini
terpencar- pencar dan tidak mengikuti suatu pola khusus. Biasanya untuk mendirikan suatu
silimo, mereka memilih suatu daerah yang tinggi dan tidak terlalu jauh dengan sungai.
Pemilihan lokasi yang tinggi ini merupakan salah satu cara masyarakat Dani untuk
menghindari bahaya banjir, air tergenang, serbuan binatang buas, serta sergapan suku-suku
lain.
Pada suatu silimo, konsep yang dipakai adalah sebagai berikut: Konsep berhuni
masyarakat Dani membagi unit-unit massa huniannya sesuai dengan fungsi dan makna
masing-masing.
Pada satu silimo, terdiri dari unit-unit massa bangunan sebagai berikut:
1. Honai tempat tinggal laki-laki2
2. Pilamo (rumah adat)
3. Honai tempat tinggal perempuan (ebeai)
4. Hunila (dapur)
5.Wamdabu (kandang babi) Konsep penataan massa pada silimo yaitu berbentuk
huruf U atau berbentuk melingkar, dengan dikelilingi oleh pagar dari kayu sebagai
penanda teritori dan pengaman dari gangguan manusia suku lain atau binatang.

Arsitektur Papua adalah arsitektur yang berorientasi pada alam, sehingga tidak ada
tata ruang dalam bangunan praktis, kecuali ruang dan gudang. Meski sederhana,
perkampungan Papua juga memperhatikan faktor keamanan yaitu dengan membuat pagar
keliling dari batu, kayu, atau dari gumpalan tanah.
Menurut kepercayaan masyarakat Papua, babi merupakan prestise dan
melambangkan status social seseorang dan berperan sebagai mas kawin, jadi terkadang
babi, walaupun telah mempunyai kandang, juga ikut masuk ke dalam honai karena orang
Papua menganggap ternak yang satu ini sebagai lambang kemakmuran. Babi dan Poligami
adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya, semakin tinggi derajat seorang
lakilaki maka semakin banyak pula istri yang dimilikinya sementara untuk menunjukkan
kekeyaan seseorang yakni dengan jumlah babi yang dimilikinya. Berikut adalah ilustrasi
konsep penataan massa di dalam satu silimo:
Letak honai laki-laki adalah tegak lurus dengan pintu masuk, agar kepala keluarga dapat
segera berhadapan dengan tamu ataupun gangguan dan ancaman yang masuk ke kompleks
silimo. Honai untuk laki-laki dan rumah adat/pilamo merupakan bangunan yang terlarang
bagi para wanita untuk memasukinya.Demikian juga dengan honai untuk perempuan
merupakan area terlarang bagi para lelaki. Pada beberapa silimo, honai perempuan/ebeai
jumlahnya lebih dari satu. Hal ini karena masyarakat Dani menganut sistem perkawinan
monogami dan juga poligami, dengan tujuan untuk menghasilkan banyak keturunan
sehingga dapat menambah tenaga kerja dan generasi penerus suku Dani.
Selain penataan massa bangunan di silimo seperti ilustrasi sebelumnya,ada juga
penataan massa bangunan di silimo yang meletakkan dapur dan kandang babi bersebelahan,
yaitu sebagai berikut :

Berikut adalah fungsi masing-masing bangunan di sebuah silimo:

1. Honai laki-laki
Merupakan tempat tinggal untuk kepala keluarga, kerabat dan keluarga laki-
laki, serta anak laki-laki yang telah berumur lebih dari 5 tahun. Honai laki-laki ini
berbentuk bulat dan terdiri dari dua lantai, dengan sebuah perapian terletak di
pusat bangunan. Lantai satu difungsikan sebagai tempat bersantai dan lantai dua
sebagai tempat beristirahat/tidur. Masyarakat suku Dani tidur dengan pola kepala
membujur di bagian dinding dan kaki mengarah ke pusat honai (perapian).

2. Rumah adat / Pilamo


Pilamo berbentuk bulat dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan
sebagai tempat untuk mendidik dan membina para remaja suku Dani agar menjadi
laki-laki yang kuat dan tangguh (sejak berusia 4-5 tahun). Selain itu, juga
difungsikan untuk tempat mengatur strategi perang, membicarakan konflik dan
masalah yang menyangkut peperangan dan mas kawin/perkawinan. Lantai dua
berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka dan senjata
perang, serta mumi dari leluhur.

3. Honai perempuan/ebeai
Ebeai berbentuk bulat dan terdiri dari dua lantai, dengan sebuah perapian
terletak di pusat bangunan. Lantai pertama digunakan untuk mendidik para anak-
anak dan remaja suku Dani agar mengerti dan dapat mengerjakan tugas-tugas
kewanitaannya. Selain itu, juga digunakan sebagai tempat bersantai dan
mengobrol, yaitu di sekeliling perapian. Lantai dua digunakan sebagai
tempat beristirahat/tidur bagi para wanita.

4.Dapur/hunila.
Dapur bersama/hunila merupakan bangunan yang berbentuk persegi
panjang,dengan tinggi sekitar 1,5 meter – 2 meter. Dapur digunakan sebagai
tempat memasak sehari-hari, biasanya memasak hipere/ubi jalar. Pada bangunan
dapur ini para anggota keluarga biasanya berkumpul dan bersantai pada waktu
siang atau malam hari.

5.Kandang babi/wamdabu.
Kandang babi merupakan suatu bangunan yang berbentuk persegi panjang
dan terletak melintang di seberang honai perempuan. Di depan kandang babi
terdapat tanah kosong yang digunakan sebagai tempat bermain bagi babi. Ditanah
ini babi-babi akan dilepas dan dihitung jumlahnya.

Di dalam rumah honai ini tersimpan benda pusaka warisan, termasuk mumi dari leluhur
mereka. Bentuk Itorei dan Ebei yang bulat ini, dirancang untuk menghindari cuaca dingin
karena tiupan angin yang kencang. Bangunan Itorei dan Ebei ini berdiameter tiga sampai
empat meter, dengan tinggi sekitar 2,5 meter. Yang membedakan Itorei dan Ebei adalah
lantai Ebei selalu lebih tinggi daripada permukaan tanah sedangkan Itorei lantai pertama
langsung merekat pada tanah. Kariwari memiliki ukuran tinggi kayu 20-25 meter dimana
didalamnya terdapat ornament berupa patung-patung manusia dan tempat pemujaan bagi
kaum pria. Pada tahun 1930 Belanda pernah melarang untuk tidak membuat bangunan
Kariwari karena dianggap akan fungsi bangunan Kariwari yang berfungsi sebagai tempat
penggemblengan pemuda sehingga Belanda berpikir bahwa nantinya hal ini akan
membahayakan posisi mereka. Dari segi arsitektur rancang bangun, honai yang dibangun
dengan bentuk silinder bukanlah tanpa maksud. Dengan bentuknya yang melingkar di semua
sisi, bangunan ini dapat menahan kerasnya terpaan angin kencang yang sering terjadi di
Pegunungan Papua. Tepat di tengah ruangan, di permukaan lantai, dibangun perapian yang
berfungsi utama sebagai penghangat ruangan dan penerangan di malam hari sekaligus
sebagai tempat untuk memasak/membakar ubi jalar, dalam bahasa Dani disebut "Hipere".
Ruangan bagian dalam mereka gunakan untuk tempat berkumpul sekaligus ruang tidur
anggota keluarga. Hanya satu jendela kecil yang dimiliki oleh setiap honai. Jendela sengaja
dibuat kecil untuk mempersempit celah udara yang masuk dari luar. Hawa dalam ruangan
akan terasa hangat dan dapat mengusir dinginnya hawa pegunungan. Kecilnya celah untuk
sirkulasi udara membuat asap hasil perapian kayu bakar tidak dapat keluar dengan baik.
Ruangan dipenuhi asap yang terus mengepul. Karena itu, langit-langit honai berwarna hitam
legam akibat terpanggang asap. Honai biasanya ramai di malam hari setelah pada siang
harinya para anggota keluarga beraktivitas di luar honai. Sambil berkumpul, mereka
memasak umbi-umbian dengan cara meletakkannya di dalam abu hasil kayu yang terbakar.
Abu hasil kayu bakar ini dapat dipakai untuk memasak umbi-umbian hingga matang dalam
waktu yang tidak terlalu lama.

H. KONSTRUKSI BANGUNAN
Bahan-bahan yang digunakan pada rumah tradisional Papua merupakan bahan-
bahan yang sudah tersedia di alam. Masyarakat Papua masih menggunakan rumah sebagai
kebutuhan berteduh dan bukan tempat tinggal menetap karena hidup mereka masih
nomaden untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Bahan-bahannya antara lain :
 Bambu Kayu

 Jerami/talas sebagai atap

 Pelepah pohon pinang hutan atau nibung


 Pelepah pohon sagu dan daun pohon sagu sebagai atap

Kemudian akan dibahas satu per satu detail konstruksi dan karakteristik dari masing-
masing elemen rumah honai.
1. Atap rumah honai
berbentuk bulat kerucut dengan lingkaran-lingkaran besar dari kayu yang
dibakar sebagai kerangka atapnya, yang kemudian diikatmenjadi satu di bagian
atas (membentuk dome). Terdapat 4 pohon muda yang berfungsi sebagai kolom
penyangga utama yang diikat di atas dan vertikal ke bawah menancap ke dalam
tanah. Pada lantai 1, ruang yang terbentuk diantara 4 kolom ini difungsikan
sebagai tempat meletakkan perapian untuk menghangatkan honai. Bahan
penutup atap terbuat dari jerami/rumbia (rumput alang-alang),
dengan pertimbangan bahwa material tersebut ringan, lentur, menyerap
goncangan gempa, serta dapat menghangatkan dan melindungi dari hujan dan
panas matahari.

2.Pada rumah honai,


dinding terbuat dari bahan papan kayu kasar, dan terdiri dari 2 lapis, dengan
tujuan untuk menahan udara dingin dan angin kencang dari luar. Di sekeliling
dinding rumah, terdapat bukaan yang sangat minim,yaitu berupa sebuah pintu
masuk yang sempit dan rendah sehingga penghuni rumah harus membungkuk
untuk melewatinya.
Terkadang terdapat sebuah jendela sempit pada honai laki-laki, agar dapat
mengetahui jika ada tamu yang berkunjung atau musuh yang memasuki silimo.

Sedangkan pada honai perempuan, sama sekali tidak terdapat bukaan berupa
jendela. Jadi, suasana didalam honai adalah remang-remang atau bahkan gelap.
Pada malam hari,hanya diterangi oleh nyala api dari perapian yang terdapat di
tengah honai.

3.Honai,
honai terdiri dari dua lantai, yaitu lantai satu yang digunakan sebagai
tempat bersantai dan mengobrol di sekeliling perapian, serta lantai panggung yang
digunakan sebagai tempat menyimpan barang berharga dan istirahat/tidur.Lantai honai
dialasi dengan rumput atau jerami yang diganti secara berkala jika sudah rusak/kotor.
I. TEKNOLOGI
Teknologi yang digunakan sangat sederhana dan bisa dibilang masih primitiv karena selain
yang bahan-bahannya juga alat yang digunakan masih sangat sederhana. Seperti :
 Untuk mengikat struktur masih menggunakan tali yang bahannya dari bahan alami
 Dikerjakan secara manual dengan tangan tanpa adanya alat bantu yang memadai
 Keluarga mendirikan sendiri rumahnya
 Anyaman digunakan pada pembuatan atap jerami atau atap yang terbuat dari
daundaunan

J. CARA PEMBUATAN
Pada proses pembangunan honai, terdapat beberapa tahapan konstruksi yaitu sebagai
berikut:
 Dalam membuat rumah dibantu oleh semua penduduk disekitar dan juga seluruh
anggota keluarga. Langkah-langkahnya adalah :
 Membuat kerangka rumah dari kayu atau bamboo yang diikat dengan tali tanpa
pondasi-untuk rumah suku tertentu alas rumah ditinggikan sampai lebih dai 1 m atau
bahkan diatas pohon.
 Membuat dinding pelepah pohon sagu atau nibung untuk dinding yang kemudian
dipasang dengan mengikatkan pelepah atau nibung tersebut pada rangka.
 Membuat atap dengan daun talas, daun sagu atau jerami dan sejenisnya yang di
sambung satu persatu dengan tali kemudian dijepit oleh 2 buah bambu atau kayu
menjadi satu deret.
 Setelah terkumpul banyak deret daun untuk atap kemudian dipasang sebagaimana
memasang dinding.
 Ada sebagian yang memasang atap langsung tanpa disambung dulu
.

K. FILOSOFI
Bentuk bulat dan melingkar dari rumah honai memiliki filosofi yang dipegang teguh oleh
masyarakat Dani, yang mencerminkan nilai-nilai yangditurunkan dari generasi ke generasi,
yaitu sebagai berikut.
 Kesatuan dan persatuan yang paling tinggi untuk mempertahankan dan mewariskan
budaya, suku, harkat, martabat yang telah dipertahankan oleh nenek moyang dari
dulu hingga saat ini.
 Bermakna sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

L. ASPEK KOSMOLOGI
Adat ritual merupakan perwujudan atau symbol dari adat yang berlakudi dalam
suatu masyarakat. Sedangkan adat itu sendiri dapat hadir karena tradisi yang telah
berlangsung dalam masyarakat tersebut. Berbicara mengenai pemukiman tradisional
tentunya selalu dikaitkan dengan makna yang lebih dalam di balik bentukan yang terjadi.
Dari bentuk atap ini dapat menjadi gambaran dari bentuk utuh bangunan yang terdiri dari
kaki, badan dan kepala, yang secara keseluruhan berarti menggambarkan hubungan
harmonis antara alam raya sebagai makrokosmos dengan pencipta, juga alam raya dengan
manusia.