Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

KONSERVASI DAN REKLAMASI LAHAN


(PNA 3522)

ACARA V
PEMBUATAN GARIS KONTUR (SABUK GUNUNG) MENGGUNAKAN
ONDOL-ONDOL

Oleh :
Aufa Anggarseti
NIM A1D116042
Rombongan 10

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keadaan geografis Indonesia memiliki banyak perbukitan mengakibatkan para

petani kesulitan mengolah lahan di perbukitan dengan tetap mempertahankan keadaan

tanah dan mengurangi erosi yang sering terjadi pada lahan dengan kondisi miring.

Seringnya terjadi erosi di daerah berlereng akan mengakibatkan hasil produksi

pertanian berkurang adan tidak produktif jika terjadi terus menerus akan menyebabkan

kerugian di sektor ekonomi bagi petani, untuk itu pembuatan kontur tanaman dengan

ondol-ondol dapat dilakukan. Pengolahan tanah menurut kontur, pembajakan

dilakukan menurut kontur atau memotong lereng, sehingga terbentuk jalur tumpukan

tanah dan alur di antara tumpukan tanah yemng terbentang menurut kontur.

Proses erosi maupun pengolahan lahan yang kurang intensif merupakan salah

satu faktor penyebab kerusakan sifat fisik tanah hal ini dapat berimbas kepada

penurunan produktivitas lahan. Pelestarian lahan sangat diperlukan untuk

mempertahankan sifat fisik tanah dengan berbagai tindakan yang dapat dilakukan.

Salah satu cara yaitu dengan melakukan konservasi dan reklamasi lahan. Tujuan

konservasi dan reklamasi lahan yaitu mencegah erosi, mengendalikan air supaya

menyerap ke dalam tanah, mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah.

Kegiatan yang dapat dilakukan yaitu pengolahan tanah atau penanaman mengikuti

garis kontur yang dilakukan pada lahan miring untuk mengurangi erosi dan aliran

permukaan. Pengolahan tanah dan penanaman mengikuti kontur banyak dipromosikan

di berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.


Selain mencegah erosi pembuatan garis kontur dapat mengetahui kemiringan suatu

wilayah. Oleh karena untuk mengembangkan pertanian Indonesia yang berkelanjutan

perlu adanya pembelajaran mengenai pembuatan garis kontur menggunakan ondol-

ondol.

B. Tujuan

Tujuan pada praktikum kali ini adalah:

1. Mahasiswa dapat melakukan tindakan konservasi tanah dan air.

2. Mahasiswa dapat mengetahui tingkat kemiringan pada suatu wilayah.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Konservasi tanah diartikan sebagai penempatan setiap bidang tanah pada cara

penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya

sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah,

dikatakan selanjutnya bahwa konservasi tanah tidaklah berarti penundaan atau

pelarangan pengunaan tanah, tetapi menyesuaikan jenis penggunaannya dengan

kemampuan tanah dan memberikan perlakuan sesuai dengan syarat-syarat yang

diperlukan, agar tanah dapat berfungsi secara lestari. Konservasi tanah berhubungan

erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan

mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga merupakan

konservasi air. Salah satu tujuan konservasi tanah adalah meminimumkan erosi pada

suatu lahan. Laju erosi yang masih lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransikan

merupakan masalah yang bila tidak ditanggulangi akan menjebak petani kembali ke

dalam siklus yang saling memiskinkan. Tindakan konservasi tanah merupakan cara

untuk melestarikan sumberdaya alam (Arsyad, 2000).

Menurut Sastrodarsono (2005) bentuk permukaan tanah dapat dinyatakan dengan

susunan garis-garis lengkung horizontal dengan interval tinggi tertentu. Elevasi

lapangan dapat diukur dengan garis-garis lengkung horizontal. Peta-peta topografi

mempunyai ketinggian garis-garis lengkung horizontal yang sama disebut jarak antara

garis-garis lengkung horizontal. Pengolahan tanah menurut kontur lebih efektif jika

diikuti dengan penanaman menurut kontur, yaitu barisan tanaman diatur sejalan dengan
garis kiontur. Dalam bahasa Inggris cara ini dinamai contour cultivation atau contour

farming atau contouring (Paryanti, 2014).

Usaha konservasi tanah dan air lebih intensif yang harus dilakukan di wilayah

Jawa. Usaha konservasi tersebut dapat berupa pengaturan penyaluran air yang tepat

sehingga dapat menyeimbangi intensitas curah hujan yang tinggi ketika terjadi di

eilayah ini. Pembenahan tanah juga bisa dilakukan sebagai usaha konservasi. Dengan

kondisi tanah yang baik, atau dengan kata lain mampu menyerap air dengan baik, bisa

menyeimbangi pula ketika satuwaktu hujan terjadi dalam intensitas yang tinggi

(Sundra, 2006).

Pengolahan tanah meliputi pemeliharaan kandungan bahan organik tanah,

praktek pembajakan, dan penstabilan tanah. Penambahan bahan organik ke dalam

tanah berfungsi tidak saja untuk mempertahankan kesuburan tanah, tetapi juga dapat

meningkatkan kapasitas tanah untuk meretensi air, dan menstabilkan agregat tanah.

Tanah dengan kandungan bahan organik kurang dari 2 persen biasanya paling peka

terhadap erosi. Karena itu perlu penambahan bahan organik hingga angka tersebut.

Penambahan bahan organik ke tanah perlu memperhatikan jenis tanah, karena hal itu

berhubungan dengan faktor isohumik jumlah humus yang dihasilkan persatuan bahan

organik (Rahim, 2003).

Manfaat penerapan teknik konservasi tanah dan air

a. Menghambat erosi dan aliran permukaan

Usaha tani sayuran di dataran tinggi dengan lereng curam memiliki risiko tinggi

terhadap erosi tanah dan longsor. Erosi dan longsor akan terjadi apabila cara

pengelolaan lahan tidak menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air yang pada
gilirannya akan mengakibatkan turunnya kualitas lahan atau degradasi lahan dan

akhirnya menurunkan produksi tanaman. Hasil penelitian di dataran tinggi Kerinci,

Jambi menunjukkan bahwa penerapan teknologi konservasi tanah pada tanaman

kentang dapat menurunkan erosi dan aliran permukaan masing-masing 14 - 26% dan 7

- 22%. Penggunaan teknik konservasi tersebut, erosi yang terjadi sudah berada di

bawah erosi yang ditoleransi (Tolerable Soil Loss) menurut metode Thompson (1975)

dalam Arsyad (2010).

b. Mengurangi hara yang hilang

Penerapan teknik konservasi tanah dan air pada pertanaman kentang di dataran

tinggi sangat berguna untuk memelihara dan meningkatkan kualitas lahan. Menurut

Banuwa (1994) unsur hara N yang hilang dari lahan budi daya sayuran mencapai 333

kg/ ha/tahun yang setara dengan 740 kg urea serta kehilangan C-organik sebanyak

3.120 kg/ha/tahun atau 5.304 kg/ha/tahun bahan organik.

c. Meningkatkan efisiensi pemupukan

Budi daya sayuran intensif di dataran tinggi tanpa disertai dengan penerapan

teknik konservasi tanah dan air yang memadai akan meningkatkan jumlah unsur hara

yang hilang. Secara perlahan-lahan tetapi pasti, unsur hara di dalam tanah akan terus

terkuras sehingga untuk mendapatkan hasil kentang dalam jumlah tertentu diperlukan

pupuk buatan yang semakin tinggi. Sebaliknya, penggunaan pupuk akan semakin

efisien apabila teknik konservasi tanah dan air serta pemberian pupuk kandang

dilakukan dengan baik pada lahan tersebut. Pupuk yang diberikan akan lebih hemat

dan tersedia bagi tanaman karena pupuk yang terbawa oleh aliran permukaan dan erosi

berkurang.
d. Menyeimbangkan kehilangan dan laju pembentukan tanah

Penerapan teknik konservasi tanah dan air, akan menyebabkan jumlah tanah

tererosi dan aliran permukaan berkurang sehingga proses pengendapan (sedimentasi)

pada badan air (sungai) juga berkurang. Disamping itu, aliran permukaan yang terjadi

dapat ditekan sampai < 15 % dari curah hujan efektif, sehingga aliran air tersebut tidak

berpotensi menggerus tanah. Mencegah tanah dari kejadian erosi melalui tindakan

konservasi tanah dan air juga ditujukan agar kehilangan tanah tidak melebihi batas erosi

yang diperkenankan (tolerable soil loss), dalam arti bahwa laju erosi tanah tidak

melebihi laju atau kecepatan pembentukan tanah sehingga tanah dapat digunakan

secara lestari dan berkelanjutan.

e. Meningkatkan hasil tanaman

Penerapan teknik konservasi tanah dapat meningkatkan hasil tanaman, karena

pupuk yang diberikan tidak banyak yang hilang dan tanaman mempunyai waktu lebih

lama untuk menyerap unsur hara yang diperlukan.


III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada saat praktikum meliputi sebidang luasan lahan yang

akan diamati dan lembar hasil pengamatan. Sedangkan alat yang digunakan meliputi

ondol-ondol, meteran, patok kayu, tali rafia, clinometer, transportasi dan alat tulis.

B. Prosedur Kerja

1. Bahan dan alat disiapkan sebelum praktikum.

2. Puncak bukit awal ditentukan, misal titik A pada saat tiba dilokasi.

3. Titik B ditentukan pada bagian lereng yang lebih rendah sesuai dengan beda tinggi

(interval vertical = IV) yang diinginkan, maksimal 1.5 m.

4. Kaki ondol – ondol diletakkan pada titik B, sedang kaki lainnya digerakkan ke atas

atau ke bawah sedemikian rupa sehingga tali bandul persis pada titik tengah palang

yang sudah ditandai. Titik yang baru ini, misalnya titik B1, adalah titik yang sama

tinggi dengan titik B.

5. Titik B1 ditentukan titik B2 dengan cara yang sama pada tahap sebelumnya,

semikian seterusnya sehinggga diperoleh sejumlah titik pada lahan yang akan

ditentukan garis konturnya.

6. Titik ditandai kayu dan dihubungkan dengan tali rafia sehingga membentuk garis

yang sama tinggi.


7. Garis yang terbentuk tersebuat adalah garis sabuk pertama.

8. Tahapan selanjutkan dilakukan pekerjaan yang sama untuk membuat garis kontur

kedua pada titik C dan seterusnya dengan beda tinggi maksimal 1.5 m. Pada garis

kontur tersebut dibuat teras gulud, teras bangku, strip rumput ataupun pertanaman

lorong.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Lokasi : Perhutani Desa Tambanegara, Kecamatan Rawalo,

Banyumas

2. Kemiringan : 54°/ 137%

3. Ketinggian : 103 mdpl

4. Vegetasi : Jati, nanas, salak, pinus dan talas

5. Sketsa Garis Kontur :

Kontur 1

Kontur 2

Kontur 3
B. Pembahasan

Garis kontur adalah suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang

tingginya sama dan berpotongan tegak lurus dengan arah kemiringan lahan. Bangunan

dan tanaman dibuat sepanang garis kontur dan disesuaikan dengan keadaan permukaan

lahan. Penanaman pada garis kontur dapat mencakup pula pembuatan perangkap tanah,

teras bangku atau teras guludan, atau penanaman larikan. Penanaman pada garis kontur

dapat mencakup pula pembuatan perangkap tanah, teras bangku atau teras guludan,

atau penanaman larikan (Paryanti, 2014).

Menurut Pertiwi (2011) Garis kontur didefinisikan sebagai garis khayal yang

menghubungkan setiap titik pada ketinggian yang sama. Pada pengertian garis kontur

di atas dapat dijelaskan bahwa sifat dari salah satu garis kontur tersebut memiliki nilai

ketinggian yang tunggal. Untuk merepresentasikan seluruh bentuk relief dalam bentuk

gambaran garis kontur dalam suatu peta, perlu dilakukan penggambaran beberapa garis

kontur yang memiliki ketinggian yang berbeda dengan garis kontur disebelahnya

berdasarkan nilai tinggi yang berurutan. Adanya nilai tinggi dari garis kontur yang

berurutan dengan garis kontur lainnya berarti terdapat suatu besaran yang membatasi

antara dua kontur tersebut, yang dinamakan interval kontur. Garis kontur pada suatu

peta merupakan proyeksi pada serangkaian titik pada ketinggian yang sama secara

tegak lurus (ortogonal) pada bidang datar (peta).

Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak dilakukan untuk melukiskan

bentuk permukaan tanah dan ketinggian pada peta, karena memberikan ketelitian yang
lebih baik. Cara lain untuk melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu dengan cara

hachures dan shading. Setiaji (2008) mengungkapkan bahwa garis kontur memiliki

sifat sebagai berikut:

1. Berbentuk kurva tertutup.

2. Tidak bercabang.

3. Tidak berpotongan.

4. Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai.

5. Menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan.

6. Tidak tergambar jika melewati bangunan.

7. Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal.

8. Garis kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai

9. Penyajian interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan, jika

datar maka interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan, jika

datar maka interval garis kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan nilai skala peta ,

jika berbukit maka interval garis kontur adalah 1/500 dikalikan dengan nilai skala

peta dan jika bergunung maka interval garis kontur adalah 1/200 dikalikan dengan

nilai skala peta.

10. Penyajian indeks garis kontur pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis

kontur, pada daerah berbukit setiap selisih 4 garis kontur sedangkan pada daerah

bergunung setiap selisih 5 garis kontur.

11. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu..

12. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi.
13. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan

gunung.

14. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" menandakan suatu

lembah/jurang.

Manfaat penggunaan garis kontur khususnya bidang pertanian yaitu sebagai

berikut (Rahim, 2003):

1. Membuat potongan memanjang (long-section).

2. Menghitung luas dan volume suatu wilayah.

3. Menghitung tingkat kemiringan suatu wilayah.

Adanya garis kontur yang dibuat di areal tambang dapat bermanfaat bagi suatu

perusahaan tambang antara (Paryono, 1994):

1. Menjadi bahan acuan atau dasar untuk menghitung galian dan timbunan yang akan

dilakukan dalam kegiatan penambangan.

2. Menjadi bahan acuan untuk pembangunan jalan angkutan pada areal tambang,

saluran drainase, dan membantu memberikan informasi terbaru mengenai keadaan

tambang tersebut.

3. Mempermudah atau mempercepat suatu pengerjaan pada survei lanjutan.

Adapun menurut Sutedjo (2002) manfaat penggunaan garis kontur dalam bidang

pertanian antara lain:

1. Digunakan pada pengolahan tanah karena dapat mengurangi terjadinya erosi.

2. Dapat digunakan dalam sistem penanaman (countur strip cropping).


3. Dapat terbentuknya penghambat aliran permukaan yang memungkinkan

penyerapan air dan menghindari pengangkutan tanah.

4. Dapat mengurangi kekuatan aliran permukaan dan menekan erosi.

5. Memperbesar resapan air.

Terasering atau sengkedan dalam pertanian adalah metode upaya pelestarian

lingkungan dalam bidang pertanian yang memperhatikan kemudahan dan manfaat

disetiap komponen pembudidayaan terutama budidaya dengn dibuat teras-teras yang

berguna untuk mengurangi curamnya lereng gunung dengan tujuan menahan abrasi dan

longsong terhadap tanah yang diakibatkan oleh air dan memperbesar peluang

penyerapan air oleh tanah. Terasering atau sengkedan dapat ditemui di daerah

pegunungan yang mempunyai lereng-lereng yang dibuat oleh pertani untuk

dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, bentuk dari teraseing atau sengkedan yaitu datar

dan bertahap seperti tangga, lebar dari tersering bermacam-macam tergantung lereng

gunung yang akan dijadikan tempat budidaya. Pemanfaatan terasering atau sengkedang

selain untuk pertanian, dapat juga menahan terjadinya longsong pada lereng gunung

yang di akibatkan oleh air hujan. dibeberapa tempat metode terasering pun digunakan

sebagai lahan pembangunan rumah. Di samping berbagai kelebihan terasering bagi

pertanaman dan lingkungan, sisi negatif dari pembuatan terasering pada pertanaman

meliputi susahnya akses teknologi pertanian sehingga sebagian budidaya pertanian di

lahan terasering menggunakan sistem tradisional. Hal ini berbeda dengan lahan yang

datar mudah dimasuki alat dan mesin pertanian yang dapat mengefisienkan waktu

budidaya (Pertiwi, 2011).


Ondol-ondol atau gawang segitiga merupakan suatu alat yang biasa digunakan

sebagai pembuatan garis kotur (sabuk gunung) terbuat dari kayu atau bambu, terdiri

dari dua buah kaki) yang sama panjang (A = B = 2 m), sebuah palang penyangga (C =

1 m), benang (D), dan pemberat (ondol-ondol, E), Pada bagian tengah palang diberi

tanda untuk menentukan bahwa kedua ujung kaki ondol-ondol terletak pada posisi yang

sama tinggi. Untuk mempermudah melakukan pengukuran pada palang penyangga (C)

dapat dipasang waterpas sebagai pengganti ondol-ondol (Balai Litbang Pertanian,

2007). Alat ini dilengkapi dengan beberapa tambahan seperti benang gandulan atau

tabung waterpas sehingga dapat digunakan untuk mengukur kemiringan suatu tempat.

Ondol-ondol lebih mudah digunakan tapi jauh lebih rumit dalam pengelolaan datanya,

karena yang didapatkan dari pengukuran hanya berupa jarak dari satu titik ke titik

lainnya. Untuk mendapatkan nilai derajat dan persentasenya masih harus dimasukkan

kedalam persamaannya tetapi dapat diketahui garis-garis dalam peta kontur (Saleh,

2010).

Ondol-ondol.
Sumber: (Balai Litbang Pertanian, 2007)
Praktikum pengukuran garis kontur dilakukan di Perhutani Desa Tambaknegara,

Kecamatan Rawalo Banyumas. Setiap kelompok melakukan pembuatan garis kontur

pada sebidang luasan lahan yang berbeda. Garis kontur dibuat menjadi tiga garis,

dimana perbedan ketinggian setiap garis ± 1,5 m. Setiap garis terdiri dari 6 patok yang

dihubungan menggunakan talia rafia, sehingga diperoleh jumlah patok sebanyak 18

patok. Pengukuran kelerengan atau kemiringan dilakukan menggunakan alat yaitu

clinometer. Clinometer adalah sejenis alat yang dipergunakan untuk mengukur sudut

kemiringan lereng. Alat ini dapat juga digunakan untuk mengukur ketinggian benda

seperti pohon, rumah, dan lain sebagainya. Penggunaan alat ini lebih praktis dengan

hanya membaca besaran sudut atau kemiringan lahan tersebut dalam dua macam

satuan, yaitu derajat (°) dan persentase (%). Hasil pengukuran diperoleh data yaitu 54o

setara 137%. Ketinggian tempat dilakukannya praktikum yaitu ± 103 m dpl. Menurut

Setiadi (2009) ketinggian memiliki peranan dalam proses pembuatan garis kontur.

Salah satu cara untuk membuat peta garis tinggi (peta kontur) yaitu dengan cara

menarik garis yang mempunyai ketinggian yang sama dari data penyebaran titik-titik

ketinggian pada suatu daerah. Penyebaran titi-titik ketinggian tersebut diukur secara

terestrial dengan mengikatkan salah satu titik ketinggian tertentu dan titik ketinggian

tersebut dihitung dari ketinggian di atas permukaan laut. Titik ketinggian tertentu

tersebut dapat berupa titik trianggulasi, titik dasar teknik (TDT), titik puncak bukit,

titik pada garis pantai sebagai titik nol (0 m) atau titik tertentu yang mempunyai nilai

ketinggian.
Selain mengukur kelerengan dan ketinggian kami mengatami vegetasi yang

berada di sebidang luasan lahan. Adapun vegetasi yang berada di lahan meliputi Pohon

jati (Tertona grandis), tanaman nanas (Ananas comasus), alang-alang (Imperata

cylindrica) dan paku-pakuan. Menurut Waluyaningsih (2008) penggunaan lahan kebun

mempunyai tingkat erosi yang paling kecil. Hal ini disebabkan karena pada lahan

kebun, tanaman yang diusahakan merupakan tanaman tahunan, sehingga akan

membentuk pohon yang tinggi-tinggi yang mempunyai perakaran yang kuat dan dalam.

Tajuk tanaman juga lebar, sehingga dengan adanya intersepsi air hujan oleh tajuk

tanaman akan memperlambat limpasan dan memperkecil erosi. Perakaran tanaman

yang dalam berperan sebagai pemantap agregat, karena akar dapat berfungsi untuk

menggenggam massa tanah sehingga mempengaruhi nilai daya geser tanah. Tanaman

jati adalah tanaman tahunan yang mempunyai perakaran dalam (hingga >1 meter),

adanya akar yang kuat dan dalam pada tanaman tahunan akan memiliki kemampuan

untuk meneruskan air ke lapisan bawah yang tinggi, di sisi lain ketahanan tanah

terhadap perusakan oleh air menjadi tinggi pula. Pada lokasi praktikum, lahan kebun

yang diusahakan adalah tanaman jati. Di bawah pohon jati banyak terdapat daun-daun

yang jatuh dan menutupi permukaan tanah. Peranannya dalam hal ini adalah sebagai

pemulsa tanah yang dapat mengurangi kecepatan aliran permukaan serta melindungi

permukaan tanah terhadap daya kikis air, di samping peranannya yang lain yaitu

memperkaya bahan organik tanah yang dapat mempertinggi resistensi tanah terhadap

aliran permukaan, karena adanya bahan organik dapat mengikat agregat tanah.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Tindakan konservasi tanah dan air yang dilakukan yaitu pembuatan garis kontur

menggunakan ondol-ondol. Garis kontur merupakan salah satu cara yang sangat

penting dalam budidaya tanaman pada lahan yang memiliki kemiringan.

2. Tingkat kemiringan wilayah di Perhutani Desa Tambaknegara yaitu 137% yakni

cukup curam dengan ketinggian tempat ± 103 m dpl.

B. Saran

Praktikan seharusnya melakukan pengukuran dengan tepat dan cepat supaya

tidak terjadi kekeliruan.


DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2010. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor.

Balai Litbang Pertanian, 2007. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Banuwa, I. S. 1994. Dinamika Aliran Permukaan dan Erosi Akibat


Tindakan Konservasi Tanah pada Andisol Pengalengan, Jawa Barat. Tesis
Program Pasca sarjana IPB. Bogor.

Paryanti, dkk. 2014. Pembuatan Kontur di Lahan Pertanian dengan menggunakan


Ondol-Ondol. Jurnal Nasional Ecopedon. 1 (1): 38-40.

Paryono. 1994. Sistem Informasi Geografi. Andi Offset, Yogyakarta.

Pertiwi, Ayu. 2011. Metoda Interpolasi Inverse Distance untuk Peta Ketinggian
(Kontur). Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Terapan.
ISBN 978-26-0255-0.

Rahim, S. R., 2003. Pengendalian Erosi Tanah. Bumi Aksara, Jakarta.

Sastrodarsono, Suyono. 2005. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. Jakarta:


Pradnya Paramita.

Setiaji, Heri. (2009). Pembuatan Peta Garis Kontur. Modul Pembelajaran STPN,
Yogyakarta.

Sundra, I.K. 2006. Kualitas Air Tanah di Wilayah Pesisir Kabupaten Badung, Jurnal
Ilmu Lingkungan, Ecotrophic. 1 (2): 15-18

Sutedjo, M.M. 2002. Pengantar Ilmu Tanah. Penerbit Bineka Cipta, Jakarta.

Waluyaningsih, S. R. 2008. Studi Analisis Kualitas Tanah pada beberapa Penggunaan


Lahan dan Hubungannya dengan Tingkat Erosi di Sub DAS Keduang
Kecamatan Jatisrono Wonogiri. Tesis. Program Studi Ilmu Lingkungan Program
Pasacasarjana. Universitas Sebelas Maret, Surakta.