Anda di halaman 1dari 26

PRAKTEK KERJA LAPANGAN

PT. MENSA BINA SUKSES

PT. MENSA BINA SUKSES


14 Januari 2019 - 19 Januari 2019

Disusun Oleh :
S U L A I M A N ( 1603002 )
M E I L A N B L O N G K O D ( 1603040 )

PROGRAM STUDI D3 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
MANADO
2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini telah diterima dan disetujui oleh
pembimbing Praktek Kerja Lapangan (PKL). Sebagai salah satu persyaratan
menyelesaikan pendidikan akhir di STIKES Muhammadiyah Manado.

Pembimbing I

Meilani Jayanti, S.Farm., M.Farm., Apt


NIDN. 0921059004

Pembimbing II

Muh. Zulfian A. Disi, S.Farm., M.Farm Apt

Mengetahui

Ketua Prodi D3 Farmasi Penanggung Jawab PBF


STIKES Muhammadiyah Manado PT. Mensa Bina Sukses

Rahmat Ismail, M.Farm., Apt Muh. Zulfian A. Disi, M.Farm Apt


NIDN. 0919108802 SIK.

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami tim penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, karena
berkat rahmat dan kasih-Nya kami tim penyusun dapat melaksanakan tugas dan
menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Mensa Bina Sukses.
Penyusun laporan ini merupakan suatu bentuk pertanggung jawaban terhadap
pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) D3 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Muhammadiyah Manado. Penyusun menyadari bahwa laporan ini dapat
di susun dan diselesaikan berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh
karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Agust A. Laya, SKM.,M.Kes selaku ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Manado yang telah memberikan izin untuk melaksanakan PKL.
2. Rahmat Ismail, S.Farm.,M.Farm.,Apt selaku ketua Program Studi D3 Farmasi
Sekaligus sebagai pembimbing dari kampus.
3. Para dosen-dosen D3 Farmasi STIKES Muhammadiyah Manado dan seluruh
karyawan serta staf PT. Mensa Bina Sukses.
4. Orang tua kami yang telah memberikan do’a dan kepercayaan kepada kami dan
semua pihak yang telah membantu dalam penulisan Laporan Praktek Kerja
Lapangan. Semoga Allah SWT akan selalu meridohi dan membalas semua
bantuan yang telah diberikan kepada kami. Kami menyadari bahwa selama
pelaksanaan PKL terdapat banyak kekurangan dan kekhilafan yang kami
lakukan, untuk itu kami memohon maaf kepada semua pihak yang terkait. Dan
kami menyadari pula bahwa Laporan PKL ini tidak sempurna dikarenakan
keterbatasan pengetahuan dan kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Saran
yang membangun selalu diharapkan semoga Laporan Praktek Kerja Lapangan
ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Manado, Januari 2019

Penyusun

3
DAFTAR ISI

Halaman Judul .................................................................................................. 1


Halaman Pengesahan ........................................................................................ 2
Kata Pengantar ................................................................................................. 3
Daftar Isi ............................................................................................................ 4
BAB I Pendahuluan .......................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 5
1.2 Tujuan PKL .............................................................................................. 6
1.3 Manfaat PKL ............................................................................................ 6
BAB II Tinjauan Pustaka ................................................................................. 8
2.1 Pengertian ................................................................................................. 8
2.2 Perundang –Undangan.............................................................................. 9
2.3 Tugas dan Fungsi PBF ............................................................................. 11
2.4 Manajemen Perbekalan Farmasi .............................................................. 11
BAB III Gambaran Umum .............................................................................. 17
3.1 Ruang Lingkup PKL ................................................................................ 17
3.2 Tugas Karyawan dan Staf PBF ................................................................ 17
BAB IV Pembahasan ........................................................................................ 19
BAB VI Penutup................................................................................................ 21
4.1 Kesimpulan ................................................................................................ 21
4.2 Saran .......................................................................................................... 21
daftar Pustaka ................................................................................................... 22
daftar Lampiran ................................................................................................ 23

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Farmasi merupakan suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan
pembuatan dan distribusi dari produk yang berkhasiat obat. Farmasi juga
meliputi profesi yang sah dan fungsi ekonomi dari distribusi produk yang
berkhasiat obat yang baik dan aman. Dalam kegiatan farmasi utamanya sangat
diperlukan instansi-instansi kesehatan, balai pengobatan ataupun konsumen
lainnya yang telah ditentukan oleh Menteri Kesehatan. Salah satu distribusi
dalam farmasi adalah Pedagang Besar Farmasi (PBF).
Sebagai salah satu industri yang bergerak dalam bidang kesehatan
masyarakat PT Kimia Farma (Persero) Tbk. memegang peranan yang sangat
penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk yang berkhasiat
obat. PT Kimia Farma (Persero) Tbk. memiliki dua anak perusahaan yaitu, PT
Kimia Farma Trading & Distribution dan PT Kimia Farma Apotek. Dalam hal
penyusunan laporan ini, Penulis hanya menjelaskan sekitar PT Kimia Farma
Trading & Distribution. Dalam perusahaan PT Kimia Farma Trading &
Distribution terdapat ruang lingkup dan permasalahan yang sangat beragam
sehingga diperlukan suatu manajemen perusahaan yang baik sehingga
perusahaan dapat berjalan dengan baik.
Organisasi merupakan salah satu sarana yang dipergunakan oleh
manajemen untuk mencapai tujuan-tujuan pokok usaha perusahaan. Dalam
pencapaian tujuan pokok tersebut akan dilalui tahapan-tahapan yang berkaitan
satu sama lain baik dari segi urutan kerja maupun dari segi fungsi masing-
masing. Banyaknya jenis obat yang diproduksi dan yang diedarkan oleh
Pedagang Besar Farmasi, sehingga sebuah organisasi memanajemenkan
dengan baik, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dan dengan adanya
persaingan diantara Pedagang Besar Farmasi lainnya, maka sebuah organisasi
haruslah memiliki keterampilan khusus dalam mengelola pemasaran. Yang jadi
permasalahan ialah bagaimana manajemen itu dapat melaksanakan dengan

5
baik dan tepat secara cepat, bila hal ini dapat dilaksanakan dengan baik dan
teratur diharapkan akan dapat diberlakukan sistem pengawasan dini, sehingga
kemungkinan terjadinya kelalaian baik yang disengaja maupun yang tidak
disengaja akan dapat dideteksi sedini mungkin untuk dapat diadakan
pencegahannya.
Tata laksana adalah aturan atau prosedur yang dilakukan untuk mengurus
kelangsungan suatu perusahaan. Dengan demikian bahwa setiap pelaksanaan
pekerjaan itu mempunyai aturan dan prosedur. Misalnya dokumen yang
diperlukan, siapa yang berhak mengesahkan dokumen tersebut dan misalnya
dalam pengaturan obat-obatan, bagaimana distribusi obatnya, dari mana
pendistribusiannya, didistribusikan kemana dan sebagainya.
1.2 Tujuan PKL
a. Mempelajari organisasi struktural PBF
b. Mempelajari aspek-aspek CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik)
c. Mempelajari prinsip dasar seleksi obat dan estimasi kebutuhan obat
(perencanaan)
d. Mempelajari monitoring dan pengawasan penyimpanan
e. Mempelajari analisa dan verifikasi pemesanan oleh pelanggan
f. Mempelajari pengelolaan obat rusak, kadaluarsa, dan pemusnahan obat
g. Mempelajari penanganan obat kembalian dan obat yang ditarik
h. Mempelajari tata kelola administrasi dan pelaporan
1.3 Manfaat PKL
a. Menambah ilmu pengetahuan dalam hal mengelola obat, perbekalan farmasi
dan pemasarannya.
b. Dapat mengetahui secara langsung tata laksana pendistribusian dan
pengelolaan sediaan farmasi lainnya di PBF yang sebelumnya hanya
diketahui secara teoritis.
c. Dapat menyesuaikan atau mengembangkan teori yang sudah diterima
disekolah dengan kenyataan yang ada di lapangan untuk dijadikan sebagai
pembelajaran.

6
d. Dapat mengetahui bentuk-bentuk sediaan farmasi yang belum pernah ada di
laboratorium sekolah.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1148/
MENKES/ PER/ VI/ 2011 tentang Pedagang Besar Farmasi yang dimaksud
dengan Pedagang Besar Farmasi, yang selanjutnya disingkat PBF adalah
perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan,
penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan (Depkes RI, 2014).
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 1 ayat 12 yang berbunyi Pedagang Besar
Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memilki izin untuk
pengadaan, penyimpanan, penyaluran perbekalan farmasi dalam jumlah besar
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (Depkes RI, 2009).
Dalam Peraturan tersebut juga memberikan batasan terhadap beberapa hal
yang berkaitan dengan kegiatan Pedagang Besar Farmasi yaitu batasan
mengenai :
a. Perbekalan Farmasi adalah perbekalan yang meliputi obat, bahan obat dan
alat kesehatan.
b. Sarana pelayanan kesehatan adalah apotik, rumah sakit, atau unit kesehatan
lainnya yang ditetapkan Mentri Kesehatan, toko obat dan pengecer lainnya.
Setiap PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab yang bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan ketentuan pengadaan, penyimpanan dan
penyaluran obat dan/atau bahan obat. Apoteker penanggung jawab harus
memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pedagang Besar Farmasi wajib memenuhi persyaratan yang telah ditentukan,
yaitu :
a. Dilakukan oleh badan hukum , perseroan terbatas, koperasi, perusahaan
nasional, maupun perusahaan patungan antara penanam modal asing yang
telah memperoleh perusahaan nasional.

8
b. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
c. Memiliki Apoteker sebagai penanggung jawab dan Tenaga Teknis
Kefarmasiaan yang bekerja penuh.
d. Anggota direksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan perundang-
undangan dibidang farmasi (Depkes RI, 2009).
2.2 Perundang –Undangan
a. Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu
sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan
pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas
resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan
obat dan obat tradisional.
b. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan pekerjan
kefarmasian yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
c. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah
mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
d. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam
menjalani pekerjaan kefarmasian,yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli
Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi / Asisten
Apoteker.
e. Surat Tanda Registrasi Apoteker, yang selanjutnya disingkat STRA adalah
bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah
diregistrasi.
f. Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya
disingkat STRTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada
Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi.
g. Surat Izin Kerja Apoteker, yang selanjutnya disebut SIKA adalah surat izin
praktik yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas produksi atau fasilitas distribusi atau
penyaluran.
h. Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya disebut
SIKTTK adalah surat izin praktik yang diberikan kepada Tenaga Teknis

9
Kefarmasian untuk dapat melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada
fasilitas kefarmasian.
i. Fasilitas Distribusi atau Penyaluran sediaan Farmasi adalah sarana yang
digunakan untuk mendistribusikan atau menyalurkan sediaan farmasi, yaitu
Pedagang Besar Farmasi.
j. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.
k. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang
diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
l. Alat kesehatan adalah bahan, instrument aparatus, mesin, implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis,
menyembuhkan dan meringankankan penyakit, merawat orang sakit serta
memulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk membentuk struktur
dan memperbaiki fungsi tubuh.
m. Standar kefarmasiaan adalah pedoman untuk melakukan pekerjaan
kefarmasiaan pada fasilitas produksi, distribusi atau penyaluran, dan
pelayanan kefarmasiaan (Depkes RI, 2009).

Cara Distribusi Obat yang Baik, yang selanjutnya disingkat CDOB adalah
cara distribusi/penyaluran obat dan/atau bahan obat yang bertujuan untuk
memastikan mutu sepanjang jalur distribusi/penyaluran sesuai persyaratan dan
tujuan penggunaannya.

a. Larangan bagi Pedagang Besar Farmasi yaitu menjual perbekalan farmasi


secara eceran baik ditempat kerjanya maupun ditempat lain; melayani resep
dokter; melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran Narkotika
tanpa izin khusus dari Mentri Kesehatan.
b. Izin usaha Pedagang Besar Farmasi akan dicabut jika, tidak mempekerjakan
Apoteker penanggung jawab yang memilki surat izin kerja ; tidak aktif lagi
dalam penyaluran obatselama satu tahun ; tidak lagi memenuhi persyaratan
usaha sebagaimana ditetapkan dala peraturan ; tidak lagi menyampaikan
informasi Pedagang Besar Farmasi tiga kali berturut turut ; tidak memenuhi

10
ketentuan tat cara penyaluran perbekalan farmasi sebagaimana yang
ditetapkan (Putra, 2012).
2.3 Tugas dan Fungsi PBF
Untuk melakukan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan
farmasi dalam jumlah kecil maupun jumlah besar sesuai ketentuan Perundang-
undangan yang berlaku. Pedagang Besar Farmasi dapat menyalurkan
perbekalan farmasi ke apotek, rumah sakit, atau unit pelayanan kesehatan
lainnya yang ditetapkan Mentri Kesehatan, toko obat dan pengecer lainnya
(Putra, 2012).
2.4 Manajemen Perbekalan Farmasi
2.4.1 Perencanaan
Perencanaan adalah seluruh proses pemilihan dan penentuan secara
matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan dating dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan
perencanaan perbekalan farmasi adalah untuk menetapkan jenis dan jumlah
perbekalan farmasi sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pelayanan
kesehatan di rumah sakit ( Djatmiko dkk, 2009 ).
2.4.2 Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang
telah direncanakan dan disetujui. Tujuan pengadaan adalah untuk mendapatkan
perbekalan farmasi dengan harga yang layak, dengan mutu yang baik,
pengiriman barang terjamin dan tepat waktu, proses berjalan lancar dan tidak
memerlukan tenaga serta waktu berlebihan.
Pengadaan perbekalan farmasi dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu :
a. Pembelian
Pembelian merupakan rangkaian proses pengadaan untuk mendapatkan
perbekalan farmasi. Ada 4 metoda pada proses pembelian :
 Tender terbuka
Tender terbuka berlaku untuk seluruh rekanan yang terdaftar dan sesuai
dengan kriteria yang telah ditentukan. Pada penentuan harga, metoda ini

11
lebih menguntungkan, tapi memerlukan staf yang kuat, waktu yang lama
dan perhatian penuh.
 Tender terbatas
Tender terbatas dikenal juga dengan lelang tertutup. Hanya dilakukan
pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan mempunyai riwayat yang
baik. Harga masih dapat dikendalikan, tenaga dan beban kerja lebih
ringan bila dibandingkan dengan tender terbuka.
 Pembelian dengan tawar menawar
Pembelian tawar menawar dilakukan bila item tidak penting dan tidak
banyak. Biasanya dilakukan pendekatan langsung untuk item tertentu.
 Pembelian langsung
Pembelian langsung biasanya dilakukan untuk pembelian dalam jumlah
kecil dan perlu segera tersedia. Harga tertentu dan realtif lebih mahal
( Djatmiko dkk, 2009 ).
2.4.3 Penerimaan
Penerimaan adalah kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang
telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasiaan, melalui pembelian
langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Tujuan penerimaan adalah untuk
menjamin perbekalan farmasi yang diterima sesuai kontrak baik spesifikasi
mutu, jumlah maupun waktu kedatangan. Semua perbekalan farmasi yang
diterima harus diperiksa dan disesuaikan dengan spesifikasi pada order
pembelian rumah sakit. Penerimaan perbekalan farmasi harus dilakukan oleh
petugas yang bertanggung jawab ( Djatmiko dkk, 2009 ).
2.4.4 Penyimpanan
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan
cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai
aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat.
Tujuan penyimpanan adalah memelihara mutu sediaan farmasi, menghindari
penggunaan yang tidak bertanggungjawab, menjaga ketersediaan dan
memudahkan pencarian dan pengawasan. Metode penyimpanan dapat
dilakukan berdasarkan kelas terapi, menurut bentuk sediaan dan alfabetis

12
dengan menerapkan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In
First Out). Penyusunan obat-obatan hendaklah berdasarkan susunan alphabet
( Djatmiko dkk, 2009 ).
2.4.5 Distribusi
Distribusi adalah kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di
rumahsakit, untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat
inap dan rawat jalan serta untuk pelayanan medis. Tujuan pendistribusian
adalah tersedianya perbekalan farmasi di unit – unit pelayanan secara tepat
waktu, tepat jenis, dan jumlah ( Djatmiko dkk, 2009 ).
2.4.6 Penghapusan
Merupakan kegiatan penyelesaian terhadap perbekalan farmasi yang
tidak terpakai karena kadaluarsa, rusak, mutu tidak memenuhi standar.
Tujuannya adalah menjamin perbekalan farmasi yang sudah tidak memenuhi
syarat dikekola sesuai dengan standar yang berlaku. Penghapusan akan
mengurangi beban penyimpanan maupun mengurangi resiko terjadinya
penggunaan obat sub standar. Penghapusan perbekalan farmasi yang tidak
terpakai di RSUD Kota dilaksanakan di Instalasi Sanitasi dengan menggunakan
alat insenerator limbah medis sesuai prosedur yang berlaku, kemudian
Dimintakan ijin penghapusan ke Walikota dan dikeluarkan Surat Keputusan
Penghapusan dan Tim Pelaksana Penghapusan dari Walikota. Selanjutnya
dibuat berita acara penghapusan perbekalan farmasi ( Djatmiko dkk, 2009 ).
Metode Pemusnahan:
Penimbunan dan enkapsulasi tepat pada lokasi tanpa sumber air yang dangkal
dan untuk sampah dengan volume kecil.
a. Lubang penimbunan: dasar lubang seharusnya 1,5 m di atas permukaan
air, dengan kedalaman 3-5 m, dan dilapisi dengan substansi permebeabilitas
rendah seperti: tanah liat. Kelilingi permukaan lubang dengan gundukan
untuk mencegah air memasuki lubang, dan bangun pagar di sekitar area.
Secara berkala, tutupi permukaan dengan 10-15 cm tanah.
b. Enkapsulasi: Lubang yang dilapisi semen atau penampung plastic densitas
rendah atau drum, diisi hingga 75% dari kapasitasnya dengan pembuangan

13
yang memperhatikan kesehatan. Pemampung kemudian diisi dengan plastik
busa, pasir, semen, tanah liat untuk menghentikan pergerakan sampah.
Sampah yang dienkapsulasi kemudian dibuang pada daerah pembuangan
atau ditinggalkan di tempat dimana penampung itu dikonstruksikan di
tanah.
c. Insenerasi: Peralatan insenerasi temperatur medium dan tinggi
memerlukan suatu modal investasi dan suatu dana operasi pemeliharaan,
Mereka beroperasi dengan bahan bakar, kayu, atau material lain yang
mudah terbakar dan memproduksi abu dan gas. Polutan yang dihasilkan
bervariasi. Abu bersifat toksik dan harus dikuburkan dalam lubang yang
dilindungi. Sampah mudah terbakar dapt menjadi sampah tidak mudah
terbakar dengan suatu penurunan volume. Suhu yang tinggi dapat
membunuh mikroorganisme.
Insenerator temperature medium, pada umumnya mempunyai
design dua ruang atau insenerator pirolitik, bekerja pada proses pembakaran
temperature medium (800-1000°C). Sedangkan insenerator etemperatur
tinggi, yang direkomendasikan oleh WHO, diperlakukan dengan
pembuangan yang memperhatikan kesehatan ada temperature > 1000°C.
d. Pembakaran temperature rendah: Alat pembakaran tidak lebih dari
400°C terdiri dari tungku bata beruang satu, drum pembakaran, dan lubang
pembakara. Mereka tidak terbakar secara sempurna tidak menghancurkan
sampah sepenuhnya. Mereka mungkin tidak membunuh mikroorganisme.
Pembakaran temperature rendah seharusnya digunakan sebagai solusi
jangka pendek.
e. Pembakaran dan penguburan: Lubang pembakaran memppunyai biaya
rendah tapi tidak efektif untuk memusnahkan sampah. Pagar seharusnya
mengelilingi lubang untuk mencegah anak-anak, binatang, dan yang lain
untuk berkontak dengan sampah. Lokasi lubang seharusnya menghindari
jalan. Api, biasanya dimulai dengan bahan bakar berdasarkan petroleum,
harus disupervisi oleh staf dan dilokasikan pada dengan angin yang rendah
dari fasilitas dan area pemukiman. Api temperature rendah menghasilkan

14
polutan dan abu dan material yang tersisa harus ditutupi dengan 10-15 cm
tanah.
f. Metode lain: Metode lain yang digunakan dalam beberapa peengaturan,
seperti penghapusan/penghancuran jarum, pelelehan syringe, sterilisasi uap
(autoklaf dan hidroklaf), dan microwave (dengan penggirisan).
Sampah yang tidak bisa diinsenerasi:
 Penampung yang diberi tekanan udara.
 Sejumlah besar sampah kimia reaktif.
 Garam perak dan sampah fotografik atau radiografik.
 Plastik terhalogenasi seperti polivinil klorida (PVC).
 Sampah dengan kandungan merkuri atau cadmium tinggi., seperti
thermometer rusak, baterai yang telah terpakai dan panel kayu berlapis
timah.
 Ampul bersegel atau ampul ynag mengandung logam berat.
2.4.7 Pelaporan
a. Pencatatan
 Pencatatan bertujuan memonitor transaksi perbekalan farmasi yang
masuk dan keluar
 Pencatatan secara manual (buku & kartu Stok) dan komputerisasi
b. Pelaporan
Kumpulan catatan dan pendataan kegiatan administrasi perbekalan
farmasi
Tujuannya adalah:
 Tersedianya data yang akurat untuk bahan evaluasi
 Tersedianya informasi yang akurat
 Tersedianya data yang lengkap untuk membuat perencanaan
Jenis laporan yang dibuat di gudang perbekalan farmasi
1. Laporan pembelian
2. Laporan mutasi
3. Laporan permintaan perbekalan farmasi tidak terlayani

15
4. Laporan perbekalan farmasi yang stagnan (jarang/tidak di tulis
dokter)
5. Laporan perbekalan farmasi yang hampir kadaluarsa( maksimal 6
bulan sebelum kadaluarsa) untuk di informasikan ke dokter penulis
resep
6. Laporan perbekalan farmasi yang kadaluarsa
7. Laporan ketersediaan obat
8. Laporan stok opname

16
BAB III

GAMBARAN UMUM

3.1 Ruang Lingkup PKL


Nama PBF : PT. Mensa Bina Sukses
Tahun Berdiri : 1973
Personalia
Timotius Didin Puji Santoso
Kepala Cabang

Muh. Zulfian A. Disi, S.Farm., M.Farm Apt


Apoteker

Jimmy
Kepala Gudang
Kepala Cabang

Gunawan Guntur Satria g Fendi Eky Iqbal


Non TTK Non TTK Non TTK Non TTK Non TTK Non TTK

Pelaksanaan PKL
Tanggalg pelaksanaan
g PKL g: 14 Januari g2019 – 19 Januari
g 2019 g

Hari pelaksanaan : Senin – Sabtu


Waktu pelaksanaan : 08.00 – 16.00 WITA
3.2 Tugas Karyawan dan Staf PBF
a. Fakturis / operator penjualan
1) Mengedit pesanan
2) Mencetak faktur
3) Memisahkan faktur untuk simpanan dan yang untuk pemesanan
4) Membubuhkan stempel pada faktur
5) Menyusun faktur
6) Bertanggung jawab kepada supervisor penjualan
7) Menerbitkan faktur
8) Memasukkan data penjualan kedalam komputer / data entri

17
b. Bagian Gudang
1) Melakukan penerimaan barang masuk dan pengeluaran barang yang
dipesan
2) Memelihara barang – barang dengan sebaiknya
3) Mengisi kartu stok pada saat barang masuk dan mengisinya sesuai
dengan stok barang masuk dan barang keluar
4) Mengecek barang masuk dan pengambilan barang yang dipesan
c. Tugas dan kegiatan utama bagian gudang
1) Koordinator gudang
 Bertanggung jawab kepada kepala cabang
 Mengkoordinir petugas gudang dan pengantar barang
 Bertanggung jawab terhadap keluar masuk barang
 Bertanggung jawab terhadap keamanan barang
2) Petugas Gudang
 Bertanggung jawab terhadap koordinator gudang
 Menerima dan menyimpan barang atas instruksi dari koordinator
gudang
d. Bagian Kasir
i. Menyusun buku kas
ii. Menyusun buku bank
Tugas utama kasir :
 Bertanggung jawab langsung kepada kepala cabang
 Bertanggung jawab secara tidak langsung ke supervisor TU
untuk pekerjaan yang bersifat administrasi
 Menangani proses penerimaan dan pengeluaran kas
 Melakukan kliring ke bank

18
BAB IV

PEMBAHASAN

PBF (Pedagang Besar Farmasi) adalah perusahaan berbentuk badan hukum


yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan penyaluran perbekalan farmasi
dalam jumlah besar, sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku. Setiap
PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan
pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat atau bahan obat, apoteker
penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Mensa Binasukses awalnya dikenal sebagai Masa Bhakti Surya (MBS).
Perusahaan ini didirikan pada tahun 1973. Dimulai dari 4 (empat) kantor cabang
dan bergerak dalam distribusi bahan baku farmasi dan barang jadi. Pada tahun 1985,
Masa Bhakti Surya diakui sisi dan menjadi salah satu perusahaan besar dalam
Mensa Group. Pada tahun 1993 namanya diubah menjadi Mensa Binasukses untuk
mencerminkan hubungan dengan Grup Mensa. Dengan perubahan nama, inisial,
MBS, masih dipertahankan ( Anonim, 2011 ).
PT. Mensa Bina Sukses (MBS) Manado adalah sebuah PBF yang dipimpin
oleh Bapak Timotius Didin Puji Santoso, Yang didampingi oleh penanggung jawab
Apoteker Muhammad Zulfian A. Disi, S.Farm., M.Farm Apt.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pedagang Besar Farmasi PT.
Mensa Bina Sukses yaitu :
1. Pengadaan barang
Pengadaan obat-obatan dilakukan berdasarkan jumlah persediaan yang ada
digudang melalui kartu stok. Jika ada barang yang akan habis maka segera
dilakukan pemesanan barang ke pabrik. Pemesanan barang dilakukan oleh
tenaga teknis kefarmasian dan disetujui oleh pimpinan dengan mengirimkan
surat pesanan langsung kepada pabrik yang bersangkutan melalui faximile.
Selanjutnya pabrik akan mengirimkan barang sesuai dengan pesanan yang
disertai faktur pengiriman barang dari pabrik.

19
2. Penerimaan Barang
Pada saat penerimaan barang, pertama kali dilakukan adalah menerima bukti
permintaan barang dari pengantar obat kemudian melakukan pengecekan atau
pemeriksaan barang sesuai dengan faktur, jika terdapat ketidaksesuain PO maka
dari pihak PBF memberikan informasi kepada sales yang bersangkutan, dan jika
sesuai dengan PO maka dilakukan proses pembongkaran barang dan pemasukan
barang ke gudang sesuai dengan faktur pesanan obat. Setelah itu dilakukan
pengecekan fisik barang yang diterima meliputi nama barng, bentuk dari sediaan
obat, nomor batch, dan expire date, jumlah, kemudian dilakukan pengecekan
fisik dan kemasan dari obat pembuatan laporan hasil pengecekan barang dan
menandatangani faktur asli sesuai dengan tanggal penerimaan barang, kemudian
membuat laporan hasil pengecekan.
3. Penyimpanan
Penyimpanan barang dalam gudang, diatur berdasarkan nama pabrik, jenis
sediaan obat, dan dipisahkan atau disimpan berdasarkan suhu dari masing-
masing obat tersebut, dan ada pula yang harus diperhatikan adalah penyimpanan
barang dalam gudung yaitu tidak menyentuh lantai, hal itu dilakukan agar tidak
terjadi kelembaban yang bisa menyebabkan kerusakan pada obat.
4. Distribusi Barang
Pendistribusian barang (obat) PBF Mensa Bina Sukses menyalurkan obat kepada
PBF lain, apotek, melewati ekspedisi, instalasi farmasi rumah sakit, klinik dan
toko obat (selain obat keras), melalui surat pesanan (SP) dari apotek melalui
sales. Kemudian orderan disampaikan ke pada fakturis yang telah di periksa oleh
apoteker, setelah itu orderan atau pesanan di fakturkan dan disiapkan.
5. Pengeluaran
Pengeluaran barang yaitu dengan mengeluarkan barang-barang yang telah di
periksa kelengkapan dari barang tersebut, berdasarkan faktur penjualan
kemudian dilakukan penyiapan dan pengemasan barang, dan setelah barang siap
untuk dikirim, dan di cek kembali berapa banyak yang akan dikirim ke masing-
masing Apotek, setelah itu dipisahkan barang yang akan dikirim ke luar daerah
dan dalam daerah, dan siap untuk dikirim.

20
BAB VI

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan PKL selama 1 minggu, kami dapat menyimpulkan
bahwa PBF (Pedagang Besar Farmasi) adalah perusahaan berbentuk badan
hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan penyaluran
perbekalan farmasi dalam jumlah besar, sesuai peraturan perundang undangan
yang berlaku. Setiap PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab terhadap
pelaksanaan ketentuan pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat atau
bahan obat, apoteker penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
4.2 Saran
1. Diharapkan agar lebih melengkapi sarana dan prasarana yang ada di PBF
(Pedagang Besar Farmasi).
2. Diharapkan agar mampu menerapkan CDOB yang lebih maksimal, agar bisa
menjadi PBF yang lebih berkualitas dan lebih baik untuk kedepannya lagi.

21
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Tentang Sejarah PT. Mensa Binasuskes, https://www.mbs .co.id/


Diakses Tanggal 20 Januari 2019

Depkes RI, 2009, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009
tentang Pekerjaan Kefarmasian, Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI, 2014, Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 34 Tahun 2014 tentang
Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1148/Menkes/
Per/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi, Jakarta: Depkes RI.

Djatmiko, M., Anggraeni, A.T.D., dan Nuria, M.C., 2009. Sistem Pengelolaan Obat
Instalasi Perbekalan Farmasi. Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik.

Putra, A. A. P., dan Hartini, Y. S., 2012, Implementasi Cara Distribusi Obat yang
Baik pada Pedagang Besar Farmasi di Yogyakarta, Jurnal Farmasi
Indonesia.

22
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kartu Stelling, Surat Retur, Surat


Pesanan, Faktur, Surat Pengantaran barang

23
Lampiran 2. Stock Op Name, Rak dan Desain
Gudang, Distribusi Ekspedisi, Rak Kosmetik

24
Lampiran 3. Ruang Alkes, Ruang Aromaterapik,
Lemari Pendingin, Rak Injeksi, Stock Obat siap
distribusi

25
Lampiran 4. Ruang Prekursor dan OKT, Loket
Pengecekan Barang, Stock Obat siap distribusi

26

Anda mungkin juga menyukai