Anda di halaman 1dari 131

DRAFT 3

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH


PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN 2008

BADAN PERENCANAAN DAERAH


PROVINSI JAWA BARAT
2008
KATA PENGANTAR

Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang
tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah, proses perencanaan merupakan
hal yang sangat penting. Selain berfungsi memberi arah bagi proses pembangunan
jangka panjang dan jangka menengah; perencanaan tahunan daerah juga akan menjadi
dasar bagi proses penganggaran, pelaksanaan dan pengendalian pelaksanaan
pembangunan tahunan daerah.

Sebagai bagian dari perencanaan pembangunan nasional, perencanaan


pembangunan daerah provinsi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem
perencanaan pembangunan tahunan nasional dan kabupaten/kota. Dalam konteks ini,
Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) akan merupakan penjabaran dari Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah dan/atau Rencana Strategis (Renstra)
Pemerintah Daerah dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Draft 3 ini merupakan rancangan


awal hasil pembahasan baik ditingkat internal Bapeda Provinsi Jawa Barat, maupun
dengan SKPD Provinsi yang telah dilaksanakan oleh masing-masing bidang. Selanjutnya
rancangan awal RKPD ini akan disempurnakan melalui pembahasan dengan Gubernur,
Kabupaten/Kota, serta penyebaran angket melalui media massa, untuk memperoleh
masukan yang berharga bagi penyempurnaan Rancangan Awal RKPD tahun 2008 ini.

Akhir kata, kiranya Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Draft 3 ini masih
sangat perlu mendapat masukan dari semua pihak, agar dapat disempurnakan menjadi
Rancangan RKPD yang sesuai dengan keinginan pemerintah dan masyarakat Jawa Barat.

Bandung, 2007
BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT
Kepala,

Prof. DR.Ir. Deny Juanda Puradimaja, DEA


Pembina Tingkat I
NIP. 131 414 797

i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i

DAFTAR ISI …………………………………..……………………………………………. ii

DAFTAR TABEL .............................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ………….....…………………….………………………… I-1


1.1 Latar Belakang .......................................................................... I-1
1.1.1 Visi dan Misi Pemerintah Daerah ...................................... I-2
1.1.2 Landasan Hukum ............................................................ I-3
1.2 Tujuan, Sasaran dan Fungsi ....................................................... I-5
1.2.1 Tujuan ........................................................................... I-5
1.2.2 Sasaran .......................................................................... I-5
1.2.3 Fungsi ............................................................................ I-5
1.3 Pendekatan dan Proses Penyusunan RKPD ................................... I-5
1.4 Sistematika ................................................................................ I-8

BAB II ISU STARTEGIS PEMBANGUNAN DAERAH ................................... II-1


2.1 Perkembangan Pembangunan Daerah ......................................... II-2
2.2 Isu Strategis .............................................................................. II-20

BAB III PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH ......................................... III-1


3.1 Kerangka Ekonomi Daerah ......................................................... III-2
3.1.1 Perkembangan Ekonomi Daerah ...................................... III-2
3.1.2 Perkembangan Ekonomi Regional 2007-2008 …………………. III-5
3.2 Prioritas Pembangunan Daerah ……………………………………………….. III-7

BAB IV RENCANA KERJA PEMBANGUNAN TAHUN 2008 .......................... IV-1


4.1 Matriks Rencana Kerja Prioritas Pembangunan Tahun 2008 ……….. IV-4
4.2 Matriks Rencana Kerja Penunjang Pembangunan Tahun 2008 ……. IV-24

BAB V ANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH ………………………………… V-1


5.1 Kerangka Anggaran Daerah …………………………………………………….. V-1
5.1.1 Kondisi APBD ………………………………………………………………. V-2
5.1.1.1 Pendapatan Daerah …………………………………………. V-2
5.1.1.2 Belanja Daerah ……………………………………………….. V-5
5.1.1.3 Pembiayaan Daerah ............................................ V-8
5.1.2 Alokasi APBN .................................................................. V-8
5.2 Kebijakan Anggaran ……………………………………………………………….. V-12
5.2.1 Kebijakan Pendapatan Daerah ………………………………………. V-12
5.2.2 Kebijakan Belanja Daerah …………………………………………….. V-13
5.3 Alokasi Anggaran Indikatif Tahun 2008 ....................................... V-15
5.3.1 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ........... V-15
5.3.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ………… V-17

BAB VI PENUTUP……………………………………………………………………… VI-1

i
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Gambaran Indiaktor Makro Pembangunan Jawa Barat


Tahun 2002 s/d 2006 ………………………………………………………………………. II-2
Tabel 3.1 Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi pada 9 Sektor PDRB ..................... III-6
Tabel 3.2 Proyeksi Ekonomi dan Sosial Makro Tahun 2008 ................................... III-8
Tabel 5.1 Perkembangan Dana Pembangunan Berbagai Sumber Dana
di Provinsi Jawa Barat tahun 2004 s/d 2007 ........................................... V-2
Tabel 5.2 Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s/d 2007............................................................................ V-3
Tabel 5.3 Perkembangan Rincian Dana Perimbangan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s/d 2007 ........................................................................... V-4
Tabe 5.4 Perkembangan Total Dana Perimbangan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s/d 2007 ........................................................................... V-4
Tabel 5.5 Perkembangan Total Pendapatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 s/d 2007 V-5
Tabel 5.6 Perkembangan Alokasi Belanja Daerah Tahun 2003 s/d 2007 ................. V-6
Tabel 5.7 Perkembangan Rincian Belanja Tahun 2003 s/d 2007 ............................ V-7
Tabel 5.8 Perkembangan Pembiayaan Tahun 2003 s/d 2007 ................................. V-8
Tabel 5.9 Jumlah Dana APBN Tahun 2004 s/d 2007 ............................................. V-9
Tabel 5.10 Alokasi Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan (APBN) Per-SKPD
di Provinsi Jawa Barat ......................................................................... V-10
Tabel 5.11 Rekapitulasi Daftar Kegiatan APBN/PHLN Tugas Pembantuan
Provinsi Jawa Barat Tahun 2006 Berdasarkan Departemen/LPND ........... V-11
Tabel 5.12 Rekapitulasi Daftar Kegiatan APBN/PHLN Tugas Pembantuan
Provinsi Jawa Barat Tahun 2007 Berdasarkan Departemen/LPND ........... V-11
Tabel 5.13 Perkembangan Komponen Pendapatan Tahun 2000-2007 dan
Proyeksi Tahun 2008 ........................................................................... V-13

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Bagan Alir Penetapan Pembangunan Daerah .................................. III-2

Gambar 5.1 Interaksi Kebijakan Pembangunan ................................................ V-15

Gambar 5.2 Sumber Dana dalam Kebijakan Tahunan Daerah ........................... V-16

iii
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan


yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang
tersedia. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah, proses
perencanaan merupakan hal yang sangat penting. Selain berfungsi memberi arah
bagi proses pembangunan jangka panjang dan jangka menengah; perencanaan
tahunan daerah juga akan menjadi dasar bagi proses penganggaran, pelaksanaan
dan pengendalian pelaksanaan pembangunan tahunan daerah.

Sebagai bagian dari perencanaan pembangunan nasional, perencanaan


pembangunan daerah provinsi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem perencanaan pembangunan tahunan nasional dan kabupaten/kota. Dalam
konteks ini, Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) akan merupakan
penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah
dan/atau Rencana Strategis (Renstra) Pemerintah Daerah dengan mengacu
kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

Renstra Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat disusun untuk jangka


waktu 2003-2008. Dengan demikian, tahun 2008 ini akan merupakan rencana
tahun terakhir dari pelaksanaan Renstra Pemerintah Jawa Barat. Oleh karenanya,
tingkat keberhasilan dari rencana tahun ini akan sangat mewarnai hasil dari
keseluruhan proses pembangunan pada periode sebelumnya. Atau dengan kata
lain, tingkat keberhasilan dari rencana tahun ini akan menentukan keberhasilan
dari kepemerintahan Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat selama periode 2003-
2008.

Sebagaimana juga dialami oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia,


perubahan yang sangat cepat dari kerangka regulasi sejak tahun 2003 merupakan
bentuk tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menyiasati proses
pembangunan agar tetap sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam Renstra
masing-masing daerah. Bentuk tantangan lain adalah berbagai permasalahan
internal yang dialami oleh daerah. Pada tahun 2008 Provinsi Jawa Barat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 1


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

diperkirakan masih dihadapkan kepada beberapa permasalahan strategis, seperti


kependudukan, meluasnya penyebaran penyakit flu burung, rentannya bencana
dan kerusakan lingkungan, kurangnya pengendalian pemanfaatan ruang, dan
rendahnya ketahanan budaya masyarakat Jawa Barat. Disamping itu peta politik
di Jawa Barat akan diwarnai oleh penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah
secara langsung.

Dengan adanya berbagai tantangan tersebut, maka perlu direformulasikan


kembali isu strategis dan prioritas pembangunan yang baru. Upaya reformulasi ini
sangat penting, selain untuk tetap sesuai dengan arah pembangunan pemerintah,
juga untuk mendorong agar kebijakan, program dan kegiatan yang direncanakan
pada tahun 2008 tetap mengarah kepada pencapaian visi, misi dan target yang
ditetapkan dalam Renstra Pemerintah Daerah.

1.1.1 Visi dan Misi Pemerintah Daerah

Visi Jawa Barat yang telah ditetapkan dengan Perda Nomor 1 Tahun 2003
tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Jawa Barat, yaitu “Dengan Iman
dan Taqwa Jawa Barat sebagai Provinsi Termaju di Indonesia dan Mitra
Terdepan Ibukota Negara Tahun 2010”. Visi Pemerintah Provinsi Jawa
Barat sebagaimana telah ditetapkan dengan Perda Nomor 1 Tahun 2004
tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003-
2008 dalam pengelolaan pemerintahan memiliki tekad yang kuat untuk
mewujudkan hal tersebut, sehingga ditetapkan visi “Akselerasi
Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Guna Mendukung
Pencapaian Visi Jawa Barat 2010”.

Dalam rangka mewujudkan visi akselerasi tersebut ditetapkan lima misi


Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu :

Pertama, Meningkatkan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya


Manusia Jawa Barat.

Kedua, Mengembangkan Struktur Perekonomian Regional yang


Tangguh.

Ketiga, Memantapkan Kinerja Pemerintahan Daerah.

Keempat, Meningkatkan Implementasi Pembangunan Berkelanjutan.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 2


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Kelima, Meningkatkan Kualitas Kehidupan Sosial yang Berlandaskan


Agama dan Budaya Daerah.

1.1.2 Landasan Hukum

Peraturan perundang-undangan yang melatarbelakangi penyusunan RKPD


Provinsi adalah sebagai berikut :

1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara;

2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan


Negara;

3. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan


Peraturan Perundang-undangan;

4. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;

5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional;

6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah


Jo Perpu No. 3 Tahun 2005 Jo Undang – undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Pemerintahan Daerah;

7. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan


Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

8. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana


Pembangunan jangka Panjang (RPJP) Nasional;

9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004


Tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga;

10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2005


tentang Pinjaman Daerah;

11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2005


tentang Dana Perimbangan;

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 3


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2005


tentang Hibah Kepada Daerah;

13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2005


tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006


tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan;

15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2006


tentang Tatacara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional;

16. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009;

17. Peraturan Presiden Nomor ......... Tahun 2007 tentang Rencana Kerja
Pemerintah Tahun 2008;

18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang


Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;

19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2006 tentang


Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah;

20. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2003 Tentang
Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Jawa Barat 2010;

21. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 1 Tahun 2004 Tentang
Rencana Strategis Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun
2003-2008;

22. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 72 Tahun 2005 tentang Tata
Cara Perencanaan Pembangunan Tahunan Daerah.

23. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan


Nasional/Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Mendagri
No.0008/M.PPN/01/2007;050/264A/SJ; tentang Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Musrenbang tahun 2007.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 4


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

1.2 TUJUAN, SASARAN DAN FUNGSI

1.2.1 Tujuan

Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) bertujuan untuk


mewujudkan sinergitas antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan
dan pengawasan pembangunan antarwilayah, antarsektor pembangunan,
dan antartingkat pemerintahan serta mewujudkan efisiensi alokasi sumber
daya dalam pembangunan daerah.

1.2.2 Sasaran

Sasaran RKPD adalah menjadi acuan dan pedoman pembangunan daerah


provinsi Jawa Barat, baik yang bersumber dari APBN, APBD maupun
sumber lainnya yang sah.

1.2.3 Fungsi

RKPD Provinsi Jawa Barat berfungsi sebagai pedoman bagi :

1. SKPD Provinsi Jawa Barat dalam menyusun Rencana Kerja SKPD (Renja
SKPD);

2. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dalam menyusun RKPD


Kabupaten/Kota;

3. Penyusunan RAPBD Provinsi Jawa Barat

1.3 PENDEKATAN DAN PROSES PENYUSUNAN RKPD

Dalam penyusunan RKPD Provinsi Jawa Barat, terdapat beberapa


pendekatan yang digunakan, yaitu:

a. Pendekatan politik, yaitu merupakan penjabaran agenda-agenda


pembangunan yang berdasarkan kebijakan kepala daerah maupun aspirasi
masyarakat melalui DPRD;

b. Pendekatan teknokratik, yaitu pendekatan yang menggunakan metode dan


kerangka ilmiah yang dilaksanakan secara fungsional, kewilayahan, lintas
sektor, dan lintas pelaku;

c. Pendekatan partisipatif, yaitu pendekatan yang melibatkan semua pihak


yang berkepentingan terhadap pembangunan;

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 5


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

d. Pendekatan atas-bawah (top down), dan bawah-atas (bottom up) yaitu


dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan melalui musyawarah.

Proses penyusunan RKPD Provinsi dilakukan dengan langkah-langkah


sebagai berikut :

1. Kepala SKPD melakukan evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan


SKPD periode tahun 2006;

2. Kepala Bapeda menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil


evaluasi Kepala SKPD;

3. Bapeda melaksanakan penyusunan Rancangan Awal RKPD dengan bahan-


bahan : hasil evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan tahun 2006,
Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003-2008,
Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 serta Rancangan Awal RKP;

4. Pembahasan Rancangan Awal RKPD dengan para Kepala SKPD guna


disepakati sebagai pedoman penyusunan Rancangan Renja SKPD;

5. Penyampaian secara resmi dokumen Rancangan Awal RKPD kepada masing-


masing Kepala SKPD untuk ditindaklanjuti dengan penyusunan Rancangan
Renja SKPD serta kepada Kabupaten/Kota untuk penyusunan Rancangan
Awal RKPD Kabupaten/Kota;

6. Penyusunan Rancangan Renja SKPD oleh Kepala SKPD dengan


memperhatikan Rancangan Awal RKPD, Renstra SKPD, tugas dan fungsi
SKPD serta capaian keberhasilan dan permasalahan dalam periode
sebelumnya;

7. Kepala SKPD melaksanakan Forum SKPD untuk mendapatkan susunan


prioritas kegiatan dan program serta menampung rencana kerja tambahan
ke dalam Rancangan Renja SKPD yang telah disusun.

8. Bapeda melaksanakan penyusunan Rancangan RKPD, yaitu


mengintegrasikan Rancangan Awal RKPD dengan Rancangan Renja SKPD
yang diterima resmi dari Kepala SKPD;

9. Pemerintah Provinsi (Gubernur u.p Kepala Bapeda Provinsi) sebagai peninjau


mengikuti Rapat Koordinasi Pusat (Rakorpus) RKP Tahun 2008,

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 6


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

menyampaikan aspirasi Daerah Provinsi terhadap agenda dan program


prioritas nasional yang memerlukan dukungan pendanaan dekonsentrasi
dan/atau tugas pembantuan pada tahun 2008;

10. Kepala Bapeda menyelenggarakan Musrenbangprov untuk mendapatkan


program masukan bagi penyempurnaan Rancangan RKPD, dengan
mensinergikan dokumen Rancangan RKP, Rancangan Renja
Kementrian/Lembaga hasil Rakorpus, Rancangan RKPD Kabupaten/Kota
serta melakukan penjaringan aspirasi masyarakat. Tujuannya adalah untuk
merinci kegiatan prioritas pembangunan, rancangan awal Rencana Kerja
Anggaran (RKA) SKPD dan rancangan awal kerangka regulasi menurut SKPD,
mensinkronkan agenda dan program prioritas pembangunan nasional dalam
Rancangan RKP serta mensinkronkan Rancangan Renja KL untuk pendanaan
dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Hasil Musrenbangprov menjadi
masukan untuk penyusunan Rancangan Akhir RKPD;

11. Pemerintah Provinsi (Gubernur u.p Kepala Bapeda Provinsi) sebagai peserta
mengikuti Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional
(Musrengbannas) Tahun 2007, menyampaikan usulan prioritas rencana
kegiatan hasil Musrengbangprov dan kebijakan perioritas daerah yang telah
disesuaikan dengan agenda dan program prioritas pemabangunan nasional
yang tertuang dalam rancangan RKP.

12. Bapeda melakukan Penyusunan Rancangan Akhir RKPD dengan


mempertimbangkan RKP tahun 2008 dan penyusunan naskah Rancangan
Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi;

13. Penetapan Peraturan Gubernur tentang RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun
2008.

14. Sosialisasi dan penyampaian secara resmi Peraturan Gubernur (Pergub)


tentang RKPD Tahun 2008 Kepada para SKPD,Kab./Kota dan Masyarkat.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 7


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

1.4 SISTEMATIKA

RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008, disusun dengan sistematika


sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

1.1.1 Visi dan Misi Pemerintah Daerah.

Mendeskripsikan visi dan misi jangka menengah daerah


dan kaitannya dengan rencana kerja pada tahun rencana.

1.1.2 Landasan Hukum

Mencantumkan peraturan perundang-undangan yang


melatarbelakangi penyusunan RKPD.

1.2. Tujuan, Sasaran dan Fungsi

Menjelaskan tujuan, sasaran dan fungsi RKPD.

1.3. Pendekatan dan Proses Penyusunan RKPD

Menjelaskan pendekatan dan proses penyusunan RKPD sejak


penyusunan rancangan awal RKPD, rancangan RKPD sampai
dengan penetapan peraturan kepala daerah.

1.4. Sistematika

Menjelaskan isi bahasan tiap bab dalam RKPD.

BAB II. ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN DAERAH

Menjelaskan rumusan evaluasi umum pembangunan daerah pada


tahun sebelumnya dan isu strategis pembangunan daerah.

BAB III. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH

Menjelaskan prioritas pembangunan daerah berdasarkan isu strategis


pembangunan daerah, evaluasi pembangunan tahunan, kerangka
ekonomi daerah, capaian kinerja yang direncanakan dalam Renstra
Pemerintah, serta aspirasi masyarakat yang disepakati dalam
musrenbang.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 8


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB IV. RENCANA KERJA PEMBANGUNAN TAHUN 2008

Menjelaskan rumusan prioritas pembangunan, program, sasaran


program, indikasi kegiatan, lokasi, sumber dana dan pelaksana
kegiatan.

BAB V. KERANGKA ANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH

Menjelaskan kondisi keuangan daerah dari berbagai sumber dana dan


kebijakan pemerintah daerah yang dalam hal pendapatan, belanja,
dan pembiayaan pembangunan daerah.

BAB VI. PENUTUP

Memuat kaidah pelaksanaan dan penegasan dalam menerapkan RKPD


serta tindak lanjut yang perlu dilaksanakan oleh SKPD dan pelaku
pembangunan lainnya.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 I - 9


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB II
ISU STRATEGIS PEMBANGUNAN DAERAH

Menyikapi berbagai perkembangan pembangunan, khususnya dalam upaya


pencapaian Visi dan Misi yang telah dicanangkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat,
diperlukan upaya kerja keras dari pemerintah dan masyarakat. Hal tersebut sangatlah
penting apabila dikaitkan dengan pencapaian target indikator makro pembangunan yang
masih kurang memenuhi target. Untuk itu pencapaian target pembangunan, masih perlu
dioptimalisasikan dalam implementasinya. Berbagai upaya yang akan dilakukan oleh
Pemerintah dan masyarakat Jawa Barat pada tahun 2008 diharapkan lebih fokus pada
program maupun kegiatan yang mempunyai daya ungkit pencapaian target dimaksud.
Upaya tersebut antara lain melalui pengembangan 6 (enam) core business Jawa Barat,
yaitu pengembangan Sumber Daya Manusia, Agribisnis, bisnis kelautan, pariwisata,
industri manufaktur dan jasa yang didukung oleh penataan ruang yang mantap dan
tersedianya infrastruktur yang memadai. Keberhasilan dalam mendorong core business
ini, pada gilirannya diharapkan dapat menjadi pendorong dalam proses pembangunan
dalam rangka akselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat tahun 2010.

Perkembangan Indikator makro Jawa Barat sebagai representasi keberhasilan


pembangunan di Jawa Barat menggambarkan tingkat capaian seluruh bidang
pembangunan. Pencapaian Indikator tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh tiga
komponen saja yaitu kesehatan, pendidikan, dan daya beli, akan tetapi sesungguhnya
dipengaruhi pula oleh semua bidang pembangunan, baik yang terkait secara langsung
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ataupun yang dianggap sebagai penunjang.
Di samping itu, keberhasilan pencapaian Indikator makro bukan semata-mata intervensi
dari program maupun kegiatan yang dilakukan dan dibiayai oleh Pemerintah Provinsi,
akan tetapi dipengaruhi oleh semua program maupun kegiatan yang dilakukan dan
didanai oleh berbagai level Pemerintahan, baik itu Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi,
maupun Pemerintah Kabupaten/Kota.

Oleh karena itu, perkembangan pembangunan daerah di Jawa Barat dihasilkan


melalui evaluasi terhadap indikator makro dan terhadap kinerja pembangunan Provinsi
Jawa Barat secara umum selama kurun waktu Tahun 2006, yang kemudian menjadi dasar
dalam menentukan isu–isu strategis yang akan menjadi rujukan utama dalam
menentukan prioritas pembangunan Jawa Barat tahun 2008. Disamping itu hal lain yang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 1


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

dijadikan sebagai dasar rujukan penentuan isu strategis adalah masalah terkini yang
terjadi dalam skala nasional, serta Rencana Strategis Pembangunan Jawa Barat 2003-
2008.

2.1 PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN DAERAH

Karakteristik makro pembangunan daerah merupakan uraian tentang pencapaian


hasil pelaksanaan strategi pembangunan daerah yang telah ditetapkan berdasarkan
indikator-indikator keberhasilan yang telah disepakati. Indikator-indikator keberhasilan ini
merupakan indikator pencapaian visi dan misi Jawa Barat oleh seluruh stakeholders, yang
target setiap tahunnya telah ditetapkan dalam Perda Nomor 3 Tahun 2003 tentang
Program Pembangunan Daerah (Propeda) Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 – 2007. Dalam
bab ini akan diuraikan perkembangan setiap indikator tersebut, perbandingan dengan
target tahunan, serta identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi setiap indikator
tersebut.

Perkembangan indikator makro pembangunan Jawa Barat sampai dengan tahun


2006, dapat disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 2.1
Gambaran Indikator Makro Pembangunan Jawa Barat Tahun 2002 s.d. 2006
TAHUN
NO INDIKATOR
2002 2003 2004 2005 2006
1 IPM 67,45 67,87 68,36 69,35 70,05
2 Indeks Pendidikan 78,27 78,40 79,02 79,59 80,61
Angka Melek Huruf (%) 93,94 93,60 93,96 94,52 95,12
Rata-rata Lama Sekolah
7,04 7,20 7,37 7,46 7,74
(tahun)
3 Indeks Kesehatan 66,55 66,57 67,23 69,28 70,13
Angka Harapan Hidup
64,93 64,94 65,34 66,57 67,08
(tahun)
4 Indeks Daya Beli 57,53 58,63 58,83 59,18 59,42
Purchasing Power
551.350,00 553.699,00 554.570,00 556.100,00 557.110,00
Parity (Rp)
Laju Pertumbuhan
5 3,17 2,25 2,64 2,10 1,94
Penduduk (%)
6 Penduduk Miskin (%) 27,98 27,81 27,51 28,29 29,05 *)
7 Pengangguran (%) 10,23 12,69 12,25 11,91 10,95
Laju Pertumbuhan
8 3,93 4,50 5,06 5,31 6,02
Ekonomi (%)
Jumlah Investasi
9 34,99 36,51 40,52 61,44 75,64
(Trilyun Rp)
10 Kawasan Lindung (%) - 13 17 21 25
Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat dan Bapeda Provinsi Jawa Barat, Tahun 2007 (diolah)
*)Sumber BKKBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 2


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang disepakati sebagai indikator


keberhasilan pembangunan di Jawa Barat berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2004
tentang Rencana Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 - 2008. Walaupun
perlu diingat kembali bahwa IPM, yang dihitung dari rata-rata indeks pendidikan, indeks
kesehatan, dan indeks daya beli, merupakan gambaran kualitas pembangunan manusia.

IPM Jawa Barat, pada tahun 2006 adalah sebesar 70,05. Bila dibandingkan dengan
target IPM Jawa Barat tahun 2010 yang sebesar 80,00, maka sampai dengan tahun 2006
masih terdapat gap sebesar 9,95 poin. Memperhatikan perkembangan IPM Jawa Barat
dari tahun ke tahun, maka perkembangan rata-rata capaian IPM tahunannya adalah
sebesar 0,65 poin, dengan capaian yang cukup besar diraih pada periode tahun 2004-
2005, yaitu sebesar 0,99 poin. Dalam tempo 3 tahun yang tersisa sampai dengan Tahun
2010, Jawa Barat harus meningkatkan rata-rata capaian per tahun menjadi sebesar 3
poin.

Indeks Pendidikan (IP) pada tahun 2006 sebesar 80,61 mengalami


peningkatan sebesar 1,02 poin dibandingkan tahun 2005 yang mencapai angka 79,59.
Besarnya angka peningkatan pada periode 2005 – 2006 tidak terlepas dari upaya
peningkatan angka partisipasi sekolah melalui kegiatan Akselerasi Penuntasan Wajib
Belajar Sembilan Tahun yang ditargetkan tercapai pada tahun 2008 dan realisasi Role
Sharing Pendanaan Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan Dasar antara Pusat,
Provinsi dan Kabupaten/Kota, juga dengan adanya kebijakan anggaran pendidikan
pemerintah yang berorientasi pada pemenuhan amanat UUD 1945 tentang anggaran
pendidikan sebesar minimal 20% dari Total APBD. Meskipun pada tahun 2006 total
anggaran pendidikan di Jawa Barat baru mencapai angka 12,8 % dari Total APBD tahun
2006, namun menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tahun-
tahun sebelumnya.

IP dipengaruhi oleh Angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah
(RLS). AMH di Jawa Barat telah mencapai angka sebesar 95,12 % pada Tahun 2006 atau
terdapat kenaikan sebesar 0,6 % dibandingkan dengan AMH tahun 2005. Hal tersebut
menunjukkan masih terdapat 4,88 % penduduk Jawa Barat yang belum bisa membaca
dan menulis. Penduduk Jawa Barat yang masih buta aksara sebagian besar yaitu
penduduk usia lanjut dan penduduk yang secara geografis sulit menjangkau sarana dan
prasarana pendidikan.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 3


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Berkaitan dengan RLS Tahun 2006 sebesar 7,74 tahun, menunjukkan rata-rata
penduduk Jawa Barat baru mencapai tingkat pendidikan kelas satu SMP. Masih rendahnya
RLS Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh angka partisipasi sekolah baik Angka Partisipasi
Kasar (APK) maupun Angka Partisipasi Murni (APM) terutama pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah. Pada tahun 2005, APK untuk jenjang SD/Sederajat sebesar
103,96% dan APM sebesar 93,87%. Sementara pada jenjang SMP/Sederajat, APK
77,34% dan APM 61,97%. Sedangkan pada jenjang SMA/Sederajat, APK 46,58% dan
APM 39,38%. Beberapa persoalan yang menyebabkan belum optimalnya angka partisipasi
sekolah yaitu biaya sekolah yang tinggi dibarengi dengan rendahnya kemampuan daya
beli masyarakat, terbatasnya kapasitas daya tampung sekolah, kendala budaya dan/atau
tradisi di masyarakat, serta kendala geografis untuk daerah-daerah terpencil.

Pada tahun 2006 tercatat angka anak usia 13-15 tahun yang belum sekolah atau
tidak sekolah karena Drop Out (DO) sebanyak 37.419 anak dan yang terancam DO
sebesar 134.317 anak. Meskipun Pemerintah Pusat telah meluncurkan Program
Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS) BBM bidang pendidikan melalui penyaluran
Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), namun
kehadirannya belum bisa menyelesaikan semua persoalan, karena kebutuhan operasional
sekolah seperti biaya pengadaan buku sekolah dan biaya transportasi masih tetap
menjadi beban orang tua murid.

Keterbatasan daya tampung sekolah lebih dipengaruhi oleh tingginya tingkat


kerusakan bangunan sekolah di seluruh kabupaten/kota dan tidak meratanya persebaran
sekolah. Pada tahun 2006 tercatat jumlah SD/MI yang mengalami rusak berat sebanyak
44.695 ruang kelas, SMP/MTs sebanyak 1.102 ruang kelas, dan SMA/SMK sebanyak 223
ruang kelas. Pemerintah Jawa Barat melalui Role Sharing Pendanaan peningkatan sarana
dan prasarana pendidikan dasar bersama pemerintah pusat dan kabupaten/kota, sejak
tahun 2006 telah menyalurkan dana sebesar Rp 172,907 Milyar untuk rehabilitasi SD/MI
sebanyak 2.223 ruang kelas dan SMP/MTs sebanyak 350 ruang kelas, serta RKB SMP/MTs
sebanyak 700 ruang kelas. Ditargetkan pada tahun 2008 semua sekolah yang mengalami
kerusakan telah direhabilitasi dan semua kebutuhan RKB telah terpenuhi. Upaya lain
untuk mengatasi keterbatasan daya tampung yaitu dengan mengembangkan SMP
Terbuka dan penerapan Double Shift di sekolah-sekolah yang tidak dimungkinkan lagi
dilakukan penambahan ruang kelas baru. Pada tahun 2006 telah dilakukan
pengembangan SMP Terbuka sebanyak 537 sekolah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 4


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Adapun untuk kendala geografis, ditunjukkan oleh masih adanya daerah-daerah


terpencil yang sulit dijangkau oleh sarana dan prasarana pendidikan. Minimnya sarana
dan prasarana pendidikan dan cukup jauhnya jarak antara tempat tinggal penduduk
dengan letak sekolah, adalah kondisi yang terjadi di daerah-daerah tersebut. Upaya yang
telah dilakukan pada tahun 2006 yaitu kegiatan pembangunan 10 Unit Sekolah Baru
(USB) SMP di kabupaten dengan IPM terendah, yang ditujukan untuk menampung lulusan
SD di daerah-daerah terpencil. Selain itu pemerintah Jawa Barat juga terus
mengupayakan pengembangan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di daerah-
daerah terpencil meskipun masih menghadapi kendala rendahnya minat masyarakat dan
kurangnya tenaga tutor PKBM.

Berkaitan dengan tata kelola pendidikan dan pencitraan publik, berdasarkan hasil
evaluasi pada tahun 2006, Manajemen Berbasis Sekolah pada setiap jenjang pendidikan
telah dilaksanakan walaupun hasilnya belum optimal dan bervariasi. Begitu juga dengan
Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pendidikan, sarana dan prasarananya telah dibangun
hampir di semua kabupaten/kota, namun belum dimanfaatkan dengan optimal. Beberapa
kendalanya yaitu terbatasnya jumlah dan kualitas SDM pengelola SIM Pendidikan di
kabupaten/kota, serta kurangnya upaya pemutakhiran data dan informasi.

Sementara itu, dengan semakin heterogennya Masyarakat Jawa Barat dan


semakin mudahnya akses informasi dan pengaruh budaya asing masuk ke Jawa Barat,
membuat Jawa Barat semakin rentan terhadap segala bentuk pengaruh budaya asing,
dan telah mulai dirasakan efeknya. Nilai-nilai budaya daerah mulai berkurang atau luntur
di kalangan masyarakat terutama di kalangan usia sekolah. Hal tersebut dapat dilihat dari
semakin rendahnya apresiasi dan aspirasi masyarakat terhadap bentuk-bentuk kesenian
dan tradisi daerah yang sebenarnya mengandung banyak nilai kearifan lokal. Selain itu
bahasa daerah sebagai Bahasa Ibu masyarakat Jawa Barat juga semakin berkurang
intensitas dan kualitas penggunaannya baik di pergaulan sehari-hari maupun di
lingkungan formal seperti di pemerintahan atau lembaga pendidikan. Selain itu, semakin
tingginya angka kenakalan, penyalahgunaan narkoba, dan pergaulan bebas di kalangan
remaja, selain karena faktor pendidikan keluarga, juga dipercaya disebabkan oleh
lunturnya norma-norma masyarakat yang notabene adalah nilai-nilai luhur budaya
daerah.

Berbagai upaya yang perlu dilakukan sebagai bentuk pencegahan, perlu dilakukan
sejak dini. Diterapkannya muatan pendidikan nilai-nilai budaya daerah terhadap anak usia

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 5


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

dini dan usia pendidikan dasar, akan menjadi salah satu strategi yang optimal. Di samping
itu, revitalisasi lembaga kesenian dan kebudayaan daerah yang ada di Jawa Barat juga
perlu dilakukan. Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian khusus yaitu pelestarian
cagar dan desa budaya, dan pengembangan nilai-nilai yang ada di dalamnya ke daerah
lain.

Indeks Kesehatan (IK) sebagai salah satu komponen penting dalam


perhitungan IPM, mempresentasikan derajat kesehatan masyarakat suatu wilayah pada
periode waktu tertentu yang diukur melalui angka harapan hidup waktu lahir (AHHe0).
Indeks kesehatan Jawa Barat mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama
periode 2004 - 2006, pada tahun 2004 sebesar 67,23, 69,28 pada tahun 2005. dan
menjadi 70,13 pada tahun 2006.

Dari sisi Angka Harapan Hidup (AHH), menunjukkan bahwa rata-rata usia
penduduk Jawa Barat adalah 67,8 tahun meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 66,57
tahun. Namun peningkatan AHH tersebut masih di bawah proyeksi nasional yaitu 68,23
dan belum mencapai kondisi yang sesuai dengan angka harapan hidup maksimal standar
UNDP sebesar 85 tahun. Dengan kondisi tersebut, maka Jawa Barat masih perlu
mengakselerasi program dan kegiatannya untuk memperpendek rentang umur 17,2
tahun.

Sepanjang tahun 2006 terdapat beberapa kejadian dan kasus penyakit menular
wabah flu burung (Avian Influenza), HIV-AIDS dan penyakit menular lainnya serta
masalah gizi buruk pada bayi dan balita. Di Jawa Barat sampai dengan kondisi bulan
Oktober 2006 telah menyebar ke Kabupaten dan Kota dengan jumlah kasus suspect 110
orang, meninggal 16 orang, konfirmasi 23 orang dan meninggal 19 orang. Upaya
penanganan permasalahan wabah flu burung dengan kegiatan pengawasan lalu lintas
ternak melalui pemeriksaan kesehatan hewan / unggas di perbatasan provinsi yaitu check
point Banjar dan Losari, melakukan vaksinasi massal pada ayam milik masyarakat
dengan menyediakan 47,036 juta dosis disertai sarana penyimpanan vaksin,
meningkatkan pengamatan penyakit baik langsung di lapangan maupun secara
laboratorium melalui pengujian rapid test AI, meningkatkan biosecurity melalui
penyediaan desinfektan sprayer, meningkatkan dan memberikan penyuluhan pada
masyarakat, serta menyiapkan rumah sakit rujukan yaitu Rumah Sakit Hasan Sadikin,
Rumah Sakit Rotinsulu, Rumah Sakit Slamet Garut dan Rumah Sakit Sunan Gunung Jati
Cirebon, dalam penanganan kasusnya.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 6


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Jawa Barat merupakan Provinsi yang memiliki jumlah kasus HIV/AIDS terbesar ke-2
setelah DKI Jakarta, sampai dengan September 2006 jumlah kasus sebanyak 2.154 kasus
terdiri 798 AIDS dan 1.356 HIV dengan 62 % penularan HIV karena penyalahgunaan
napza suntik. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang dilakukan melalui fasilitasi
pelaksanaan perilaku hidup bersih sehat (PHBS), upaya deteksi dini khususnya untuk
kejadian-kejadian penyakit menular, dan upaya-upaya perbaikan lingkungan. Selain itu
juga upaya pengurangan dampak buruk HIV/AIDS yang disebabkan penyalahgunaan
narkoba suntik, dilakukan dengan menyiagakan Rumah Sakit Rujukan dan Unit Pelayanan
Kesehatan seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), RS Ujung Berung, RS Bungsu dan
RS Balai Sartika. Kemudian juga menerapkan standar pengamanan untuk donor darah di
PMI, memutus mata rantai penularan dari ibu ke anak melalui Prevention Mother to Child
Transmission (PMTCT), melaksanakan penyelidikan epidemiologi pada penderita suspect,
pengambilan spesimen penderita dan kontak untuk diperiksa, meningkatkan pencegahan
dan penanggulangan HIV/AIDS di bawah koordinasi Komisi Penanggulangan HIV/AIDS
(KPA).

Sementara itu, kasus penyakit lainnya yang terjadi adalah gizi buruk pada bayi dan
balita. Pada tahun 2006 kasus gizi buruk pada bayi dan balita tercatat 24.729 kasus.
Adapun penanggulangannya, dilakukan melalui Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan
(PMT).

Ketersediaan air bersih dan pengelolaan sampah merupakan hal yang


mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Cakupan pelayanan air bersih di
perkotaan baru mencapai 46%, sementara di perdesaan 31%. Kasus persampahan di
kota besar seperti Kota Bandung, mengindikasikan bahwa masalah persampahan di
perkotaan belum memadai, terutama kaitannya dengan tempat pembuangan akhir (TPA)
dan peranan Pemerintah Provinsi dalam mengkoordinasikan TPA ini masih dirasakan
belum memadai.

Upaya meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat di Jawa Barat, pada tahun


2006 dilakukan melalui penyediaan sarana dan prasarana puskesmas dengan
jaringannya, peningkatan sumber daya tenaga kesehatan baik kuantitas maupun kualitas,
pemenuhan obat, dan peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Selain itu
juga dilakukan pengembangan upaya kesehatan bersumber masyarakat, melalui aktivitas
Posyandu, Pos Kesehatan di Pesantren, Polindes, Gerakan Sayang Ibu, Tabungan bagi ibu

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 7


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

bersalin (Tabulin) serta peningkatan kesehatan lingkungan (SARASA, Desa Sehat dan
Desa Siaga).

Pelayanan kesehatan berkaitan dengan ketersediaan sarana kesehatan baik untuk


pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan, ketersediaan sumberdaya manusia
kesehatan, peralatan dan obat-obatan. Pada tahun 2006 terdapat 998 puskesmas yang
didukung oleh 1.465 puskesmas pembantu dan 527 unit puskesmas keliling.
Dibandingkan dengan jumlah penduduk menghasilkan rasio 1 puskesmas berbanding
40.819 orang penduduk, jauh lebih rendah dari kondisi ideal 1 puskesmas berbanding
30.000 orang. Sementara itu jumlah dokter umum di puskesmas sebanyak 1.622 orang
dan jumlah bidan sebanyak 6.481 orang dan 3.919 orang bidan yang tinggal di desa.
Rasio dokter umum per puskesmas adalah 1,6 namun tidak tersebar dengan merata.

Indeks daya beli masyarakat Jawa Barat pada tahun 2006 adalah sebesar 59,42
poin dengan tingkat kemampuan daya beli yang sebesar Rp 557.110,- atau mengalami
peningkatan dibandingkan dengan tahun 2005 yang sebesar 59,18 dengan tingkat
kemampuan daya beli sebesar Rp 556.100,-. Relatif lambatnya peningkatan kemampuan
daya beli masyarakat Jawa Barat, banyak disebabkan oleh faktor eksternal Jawa Barat,
seperti belum mantapnya kebijakan ekonomi makro Nasional, belum stabilnya nilai tukar
rupiah dan kenaikan BBM. Faktor-faktor tersebut cukup menekan laju pengembangan
kemampuan daya beli masyarakat.

Proporsi penduduk miskin di Jawa Barat masih menunjukkan angka yang


tinggi. Pada tahun 2005 tercatat proporsi penduduk miskin dari total keluarga di Jawa
Barat sebesar 28,29% dan pada tahun 2006 menjadi 29,05%. Adapun angka riil keluarga
miskin tahun 2005 sebanyak 2,8 juta KK, dan menjadi 3,02 juta KK pada tahun 2006.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menunjukkan proporsi jumlah


penduduk yang mencari pekerjaan secara aktif terhadap jumlah seluruh angkatan kerja.
Tinggi rendahnya TPT mengalami kepekaan terhadap dinamika pasar kerja dan tingkat
kesejahteraan masyarakat. Tingginya angka pengangguran akan memiliki implikasi
terhadap keamanan dan stabilitas regional. Hasil Suseda 2006 menggambarkan bahwa
TPT Jawa Barat mencapai 10,95%, menurun dari tahun 2005 yang sebesar 11,91%. Pada
tahun 2006, TPT penduduk laki-laki sebesar 8,79% dan TPT penduduk perempuan
sebesar 15,88%. Hal ini mengindikasikan bahwa angkatan kerja yang begitu besar di

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 8


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Jawa Barat belum terserap secara optimal oleh sektor-sektor formal, sebagai akibat
lapangan pekerjaan yang kurang dan tingkat kompetensi angkatan kerja yang rendah.

Beban tingginya angka pengangguran yang ditanggung Provinsi Jawa Barat


disebabkan antara lain tidak sebandingnya jumlah pertumbuhan angkatan kerja dengan
laju pertumbuhan kesempatan kerja yang menjadi pemicu timbulnya permasalahan
sentral dalam ketenagakerjaan.

Angkatan kerja pada tahun 2006 sebesar 17,34 juta meningkat dibandingkan
tahun 2005 yang sebesar 17,04 juta orang, sedangkan yang mencari pekerjaan terjadi
penurunan dari 2,029 juta pada tahun 2005 menjadi 1,89 juta pada tahun 2006.
Berbagai upaya yang telah dilakukan dalam rangka penanggulangan pengangguran,
antara lain melalui program pemberian kerja sementara di desa, pengiriman tenaga kerja
keluar negeri serta pemberian pelatihan agar kualitas tenaga kerja semakin produktif.

Struktur Ketenagakerjaan di Jawa Barat pada tahun 2006 masih didominasi oleh
sektor pertanian sebesar 26,37%, selanjutnya di sektor perdagangan 25,60%, sektor
industri 17,37%, sektor jasa 13,6%. Apabila dibandingkan dengan tahun 2005, terjadi
penurunan penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian, namun di sisi lain terjadi
peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan dan jasa.

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) periode tahun 2004 – 2006 mengalami


kenaikan yang signifikan, bahkan jika diperhatikan berdasarkan skenario target yang telah
ditetapkan, menunjukkan bahwa realisasi telah melampaui target. LPE Jawa Barat pada
tahun 2004 sebesar 5,08%, sedangkan pada tahun 2005 menjadi 5,31%, dan menjadi
6,02% pada tahun 2006. Hal yang mendukung peningkatan LPE adalah terkendalinya laju
inflansi. Laju inflansi Jawa Barat pada tahun 2006 sebesar 6,15% lebih rendah dari inflasi
tahun 2005 sebesar 18,51%.

Jumlah Investasi Jawa Barat berdasarkan Pembentukan Modal Tetap Bruto


(PMTB) selama periode tahun 2004 – 2006 terus mengalami pertumbuhan, dari Rp 40,52
triliun pada tahun 2004, Rp 61,44 triliun pada tahun 2005, dan Rp 75,64 triliun pada
tahun 2006. Gambaran ini menunjukkan terjadinya kecenderungan peningkatan investasi
di Jawa Barat sebagai dampak membaiknya iklim investasi. Jumlah investasi yang terus
berkembang ini, mengindikasikan tingkat kepercayaan yang cukup tinggi dari masyarakat
untuk menanamkan modalnya di Jawa Barat, dan memiliki peran yang cukup besar dalam
meningkatkan pertumbunan ekonomi selama periode tahun 2004 – 2006.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 9


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Secara keseluruhan realisasi PMA/PMDN mengalami peningkatan, pada tahun


2004 sebesar Rp. 14,146 Trilyun, tahun 2005 sebesar Rp. 18,371 Trilyun, dan pada tahun
2006 sebesar Rp 21,968 Trilyun. Gambaran ini menunjukkan terjadinya kecenderungan
peningkatan investasi yang merupakan kontribusi dari peningkatan investasi PMA
maupun PMDN sebagai dampak membaiknya iklim investasi.

Target pencapaian kawasan lindung pada tahun 2006 yaitu sebesar 25 %


dengan rincian kawasan hutan sebesar 12% dan kawasan lindung non hutan sebesar
13%. Dari Neraca Sumber Daya Hutan Jawa Barat tahun 2005, kawasan hutan lindung
dan konservasi adalah 447.543,92 Ha atau sebesar 12% sehingga target luasan kawasan
lindung yang berupa kawasan hutan sudah dapat tercukupi. Sementara kawasan lindung
non hutan yang berasal dari lahan-lahan masyarakat dan perkebunan yang berfungsi
sebagai hutan sekunder maupun hutan primer yaitu sebesar 417.479 Ha atau 11,25%.
Maka, secara keseluruhan pencapaian kinerja kawasan lindung sebesar 23,25 %. Selain
itu, dalam rangka peningkatan fungsi lindung pada kawasan hutan dilaksanakan melalui
upaya preventif maupun kuratip, upaya-upaya preventif dilakukan melalui operasi
pengamanan kawasan hutan dan pembentukan PAM swakarsa di beberapa kabupaten,
juga saresehan Kepala Desa di sekitar Hutan.

Indikator kelestarian hutan sebagai tujuan akhir dari proses pengelolaan hutan
dapat dilihat dari status hukum kawasan hutan yang ditandai dengan tanda batas yang
jelas di lapangan oleh karena itu untuk menjamin status hukum kawasan hutan sampai
dengan tahun 2006 sudah dilaksanakan penataan batas kawasan konservasi sebanyak 13
unit. Pada kawasan lindung non hutan juga dipasang tanda batas di lapangan berupa
Bench Mark yang menghubungkan jaringan titik kontrol geodetik sebanyak 750 titik di
Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Bandung, Sukabumi, Bogor.

Peningkatan fungsi lindung pada kawasan hutan baik hutan lindung maupun hutan
konservasi terus diupayakan dari berbagai sumber anggaran, melalui Dana APBD telah
dilaksanakan rehabilitasi hutan konservasi di Cagar Alam Kamojang, Papandayan dan
Gunung Tilu seluas 2.500 Ha, sementara itu di hutan lindung sampai dengan tahun 2006
telah dilaksanakan reboisasi seluas 41.386 Ha dan kawaan lindung di luar kawasan hutan
seluas 196.806 Ha.

Dlam hal Ketahanan pangan, dewasa ini negara kita termasuk Provinsi Jawa
Barat, menghadapi masalah meningkatnya harga beras yang tentunya sangat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 10


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

memberatkan masyarakat. Pada dasarnya Provinsi Jawa Barat telah berhasil memproduksi
sekitar 9,2 juta ton padi sampai dengan Bulan November 2006, sementara kebutuhan
beras per bulan masyarakat Jawa Barat sebesar 367,5 ribu ton. Selain itu Jawa Barat
memberikan kontribusi terhadap produksi padi nasional sebesar 18%. Walaupun total
produksi setiap tahun selalu surplus, namun produksi di bulan-bulan tertentu selalu terjadi
defisit. Penyebabnya antara lain adalah mundurnya masa tanam akibat kekeringan cukup
panjang yang melanda Provinsi Jawa Barat yang mengakibatkan keterlambatan suplai
beras dan peningkatan kebutuhan masyarakat yang bertepatan dengan Hari Raya Idul
Fitri, Natal, Idul Adha dan Tahun Baru, sehingga memicu kenaikan harga beras.

Infrastruktur wilayah merupakan aspek yang penting dalam pembangunan


daerah. Infrastruktur wilayah yang terdiri dari infrastruktur transportasi, sumberdaya air,
jaringan listrik, serta sarana dan prasarana permukiman berperan sebagai pengarah
pembentukan struktur ruang, pemenuhan kebutuhan wilayah, pemacu pertumbuhan
wilayah serta pengikat wilayah.

Pada aspek transportasi, berdasarkan status jalan, sistem jaringan jalan yang ada
di Provinsi Jawa Barat dapat dibagi menjadi jaringan jalan nasional, jalan provinsi, jalan
non status, jalan kabupaten/kota serta jalan tol dengan rincian sebagai berikut :

1. Jaringan Jalan Nasional sepanjang 1.140,69 km (sesuai Kepmen Kimpraswil


No. 375/KPTS/M/2004)
2. Jaringan Jalan Provinsi sepanjang 2.199,18 km dan jembatan sebanyak 1.303
buah dengan panjang 15.498,00 meter (sesuai Surat Gubernur Jawa Barat
kepada Menteri Pekerjaan Umum No. 620/4135/Sarek perihal Ruas-ruas Jalan
Provinsi di Jawa Barat)
3. Jaringan Jalan Non Status pada jalur horizontal Jawa Barat Bagian Selatan
sepanjang 257,74 km dan jembatan sebanyak 157 buah dengan panjang
4.046,00 meter.
4. Jaringan Jalan Kabupaten/Kota sepanjang 14.520,181 km (sesuai Kep-Gub No.
620 / SK – 74 Peny.Prog/98)
5. Jaringan jalan tol dengan panjang ± 251,0 km.

Tingkat pelayanan jaringan jalan dapat diukur dengan indeks aksesibilitas,


mobilitas dan tingkat kemantapan jalan. Indeks aksesibilitas dan mobilitas masing-masing
adalah perbandingan antara panjang jalan dengan luas wilayah dan perbandingan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 11


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

panjang jalan dengan 1.000 penduduk. Sedangkan tingkat kemantapan jalan adalah
kondisi ruas jalan didasarkan oleh nilai International Roughness Indeks (IRI) dan Lalu
Lintas Harian Rata-rata Tahunan (LHRT) jalan yang diperoleh melalui pengukuran dan
penghitungan di lapangan. Tingkat pelayanan ruas jalan mantap adalah ruas jalan dengan
umur rencana yang dapat diperhitungkan serta mengikuti suatu standar perencanaan
teknis. Jalan dengan kondisi mantap adalah ruas jalan dengan kondisi baik dan sedang.
Sedangkan pengertian ruas jalan tidak mantap adalah ruas jalan yang dalam
kenyataannya sehari-hari masih berfungsi melayani lalu lintas dengan kondisi rusak ringan
dan rusak berat.

Sampai dengan akhir tahun 2006, indeks aksesibilitas dan mobilitas di Provinsi
Jawa Barat masing-masing baru mencapai angka 0,53 dan 0,45. Kondisi ini masih perlu
ditingkatkan mengingat standar pelayanan minimal untuk indeks aksesibilitas dan
mobilitas di Provinsi Jawa Barat masing-masing adalah 1,5 dan 1,0. Sedangkan tingkat
kemantapan jalan baru mencapai 86,1% dari yang ditargetkan sebesar 88,0 %.

Sementara itu, keberadaan bandar udara di Jawa Barat dirasakan masih belum
memadai untuk menampung demand yang ada. Bandara Husein Sastranegara sebagai
bandara terbesar yang dimiliki Provinsi Jawa Barat dan beberapa bandara perintis lainnya
belum dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menampung kebutuhan penumpang
dan kargo baik domestik maupun internasional. Berdasarkan hasil survey Ditjen
Perhubungan Darat, 16 % penumpang domestik dan internasional di Bandara Soekarno
Hatta berasal dari Provinsi Jawa Barat. Demikian pula halnya dengan kebutuhan kargo
domestik dan internasional yang terus meningkat, belum dapat terlayani dengan optimal
oleh berbagai bandara yang ada di Jawa Barat. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun
terakhir ini telah dilakukan persiapan pembangunan bandara internasional Jawa Barat.

Pada aspek sumber daya air dan irigasi, layanan infrastruktur sumber daya air dan
irigasi ditinjau dari aspek pemenuhan kebutuhan air baik untuk menunjang kegiatan
pertanian maupun kebutuhan domestik juga masih kurang memadai. Demikian pula
halnya dengan kondisi jaringan irigasi, dimana sekitar 40 % infrastuktur irigasi masih
dalam kondisi rusak berat dan ringan sehingga intensitas tanam pada sawah di daerah
irigasi yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru mencapai sekitar 187 %. Selain
itu, bencana alam banjir dan kekeringan masih terus terjadi antara lain akibat
menurunnya kapasitas infrastruktur sumber daya air dan daya dukung lingkungan serta
tersumbatnya muara sungai karena sedimentasi yang tinggi.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 12


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Cakupan pelayanan infrastruktur listrik perdesaan di Jawa Barat masih belum


optimal, mengingat masih rendahnya akses listrik masyarakat. Sampai akhir tahun 2006
rasio elektrifikasi rumah tangga baru mencapai 57,73 %, artinya sekitar setengah
rumah tangga di Jawa Barat belum dapat mengakses listrik. Namun demikian tingkat
elektrifikasi perdesaan telah mencapai 99,59 %, dimana hanya 24 desa tersebar di
Kabupaten Bogor, Cianjur, Garut dan Ciamis yang belum tercakup infrastruktur listrik
sampai ke desa.

Dalam hal ketahanan energi, pertambahan penduduk yang terus meningkat dari
tahun ke tahun menyebabkan semakin bertambahnya kebutuhan akan energi. Kebutuhan
enegi tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan penyediaan energi yang pada
akhirnya akan dihadapkan pada masalah kerentanan energi yang berpotensi terhadap
terjadinya krisis energi. Hal ini merupakan ancaman serius yang dapat mengganggu
proses pembangunan di Jawa Barat.

Meningkatnya konsumsi energi khususnya bahan bakar minyak, kenaikan harga


dan kelangkaan BBM secara langsung memberikan implikasi terhadap pasokan listrik Jawa
Barat dan penggunaan energi secara langsung. Untuk memenuhi kebutuhan listrik Jawa
Barat diperlukan jaminan pasokan ketenagalistrikan dan peningkatan layanan serta
cakupan infrastruktur bagi masyarakat. Dengan basis kependudukan Jawa Barat yang
sebagian besar penduduknya bermukin di perdesaan maka peran listrik perdesaan
menjadi sangat strategis. Untuk mencapai rasio elektrifikasi sebesar 95% pada Tahun
2025 secara nasional, dibutuhkan penambahan sebesar 1,3 juta sambungan baru setiap
tahunnya. Selain itu, dalam rangka menjaga kelangsungan pasokan listrik,
pengembangan sumber-sumber energi sebagai pembangkit listrik menjadi langkah
strategis.

Komitmen yang tinggi secara nasional, menjadikan listrik perdesaan sebagai isu
strategis dalam pengelolaan sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Dalam pengembangan
ketenagalistrikan yang diarahkan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, Pemerintah
Provinsi Jawa Barat telah memprogramkan pemasangan sebanyak 80.000 sambungan
dengan perkiraan biaya 267 milyar yang direncanakan terealisir pada Tahun 2008.

Implementasi pemanfaatan energi alternatif dalam rangka peningkatan ketahanan


energi masyarakat khususnya dipedesaan serta pengembangan produk energi alternatif
secara nyata memberikan dampak positif terhadap produktivitas perekonomian dan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 13


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

kualitas kehidupan masyarakat setempat. Pemanfaatan energi alternatif ini akan


memberikan pilihan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya energinya.

Dukungan secara penuh terhadap pengembangan sumber energi alternatif


berikut produknya di Jawa Barat melalui kegiatan implementasi energi alternatif di
masyarakat, sosialisasi, peningkatan industri penunjang serta lainnya, diharapkan dapat
memperluas peran (share) energi alternatif seperti briket batubara, bioenergi, surya,
angin dan sebagainya dalam energy mix Jawa Barat, serta secara nyata merupakan
dukungan yang besar terhadap keberhasilan pencapaian kebijakan pengelolaan energi
nasional (PEN) 2005 – 2025.

Tingginya laju pertumbuhan penduduk yang diiringi pula oleh peningkatan laju
volume sampah, tidak diimbangi dengan laju penyediaan sarana dan prasarana
pengelolaan maupun pengolahannya. Jumlah sampah yang terangkut pada tahun 2006
tidak melebihi 20% dari total sampah yang ada, sehingga 80% sampah yang belum
terlayani memiliki kecenderungan untuk dibuang ke sembarang tempat diantaranya ke
badan sungai. Sementara itu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Jawa Barat
yang pada tahun 2006 berjumlah 43 unit, 70% diantaranya dilakukan secara open
dumping yang dapat mencemari lingkungan, dan 80% dari seluruh TPA yang ada hanya
memiliki masa sisa pakai kurang dari 5 tahun.

Peningkatan pencemaran serta kerusakan lingkungan di Jawa Barat


merupakan sisi lain dari dampak positif pembangunan dalam mendorong pertumbuhan
perekonomian. Fenomena yang ada menunjukkan adanya kemerosotan kualitas
lingkungan di beberapa wilayah seperti kerusakan hutan dan lahan, pencemaran air dan
udara serta persoalan sampah yang cenderung meningkat baik dalam skala regional
maupun lokal. Kondisi tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap daya dukung dan
daya tampung lingkungan yang merupakan faktor penentu yang sangat penting dalam
mendukung pembangunan daerah. Sebagaimana yang terjadi akibat tingkat aktifitas yang
cukup tinggi terutama di daerah perkotaan yang mengakibatkan polusi udara yang cukup
memprihatinkan. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor terhadap polusi udara telah
mencapai 60-70%. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada saat ini semakin
banyak industri yang mulai menggunakan batu bara sebagai sumber energi yang
berkontribusi terhadap degradasi kualitas udara.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 14


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Kemudian, tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan semakin meningkat dari


tahun ke tahun. Pencemaran sumberdaya air dari industri maupun domestik
menyebabkan kualitas air tersebut menjadi semakin buruk. Hal ini ditunjukkan dengan
kualitas beberapa sungai utama seperti Citarum, Ciliwung, Cimanuk, Citanduy dan
Cisanggarung. Tingginya pengambilan air tanah menyebabkan turunnya muka air tanah
secara drastis terutama di Cekungan Bandung yang mencapai penurunan sekitar 2 – 5 m
per tahun. Sementara itu kondisi sumber air semakin parah dengan berkurangnya debit
air yang diakibatkan oleh bertambahnya luasan lahan kritis yang menyebabkan semakin
besarnya tingkat erosi dan sedimentasi. Hasil analisis sementara menunjukkan bahwa
total lahan kritis pada tahun 2004 seluas 580.397 ha. Di sisi lain kerusakan dan
pencemaran lahan dan badan air tersebut pada akhirnya berpengaruh pula terhadap
kondisi pantai Jawa Barat. Kerusakan pantai yang terjadi terutama di pantai utara dengan
adanya akresi, intrusi air laut serta abrasi dan kerusakan pantai selatan terutama pasca
tsunami.

Selanjutnya, kondisi fisik dasar wilayah Jawa Barat dengan struktur geologi yang
kompleks disertai tingginya curah hujan telah menjadikan Jawa Barat sangat rentan
terhadap berbagai ancaman bencana alam. Pada tahun 2006 tercatat ada sekitar 142
kejadian kebakaran, 38 kejadian banjir, 140 tanah longsor, 53 kali angin topan, 3 kali
gempa bumi dan satu kali tsunami di wilayah pantai selatan.

Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) di Provinsi Jawa Barat dari tahun ke


tahun relatif terus menurun. Pada periode 2002-2003, LPP Provinsi Jawa Barat mencapai
2,25 persen meningkat menjadi hanya 2,64 persen pada periode berikutnya (tahun 2003-
2004), tetapi terus mengalami penurunan pada periode tahun 2004-2005 menjadi hanya
sekitar 2,09 persen dan di periode tahun 2005-2006 LPP-nya mengalami penurunan
menjadi 1,94 persen. Kondisi tersebut menunjukkan upaya pengendalian penduduk di
Provinsi Jawa Barat relatif cukup baik.

Upaya pengendalian pertumbuhan penduduk yang telah dilakukan oleh


Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu melalui pengendalian administrasi kependudukan,
Program Keluarga Berencana (KB) dan transmigrasi. Kegiatan penanganan pengendalian
LPP melalui administrasi kependudukan baru sampai tahap pengkoordinasian dari tingkat
kecamatan sampai ke tingkat provinsi dalam pengelolaan Sistem Administrasi
Kependudukan (SAK). Sebagai tahap awal, hasil yang disepakati adalah Up Dating

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 15


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

penduduk hasil pemilihan presiden putaran ke-2 yang akan dijadikan dasar pada
Pemilihan Gubernur Jawa Barat Tahun 2008.

Adapun capaian pelaksanaan Program KB pada tahun 2006 meliputi jumlah


Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak 7.959.189 PUS dan yang menjadi peserta KB aktif
sebanyak 6.510.300 PUS atau CU/PUS 81,79%, terdiri dari Pil 28%, suntik 48,5%, IUD
13,8%, MOP 1,38%, MOW 2,33%, Implant 4,4%, dan kondom 0,77%. Namun demikian
dari dari data penggunaan alat kontrasepsi tersebut menunjukkan bahwa prosentase
terbesar adalah pengguna kontrasepsi yang tidak mantap, dengan kata lain kemungkinan
tingkat drop out nya sangat tinggi. Selain itu pada tahun 2006 di Jawa Barat terjadi
momentum demografi, yang ditunjukkan dengan tingginya jumlah Wanita Usia Subur (15-
49 tahun).

Penanganan transmigrasi tahun 2006 dilaksanakan melalui pengiriman


transmigran antar pulau dan mengoptimalkan transmigrasi lokal. Adapun kegiatan yang
telah dilaksanakan yaitu penandatanganan MoU Bidang Ketransmigrasian antara
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebagai daerah pengirim dengan 14 provinsi di Indonesia
sebagai daerah penerima. Berdasarkan MoU tersebut, pada tahun 2006 telah
terealisasikan pengiriman transmigran ke 13 provinsi daerah penerima sebanyak 600 KK.
Dengan total animo masyarakat untuk bertransmigrasi sebanyak 6.831 KK, berarti baru
sekitar 10% KK yang telah diberangkatkan. Terbatasnya dana baik APBN maupun APBD
dan tingginya biaya pemberangkatan per KK, menjadi penyebab masih kecilnya
prosentase KK yang telah diberangkatkan melalui kegiatan transmigrasi. Adapun
pembinaan transmigrasi lokal (translok) dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi
masyarakat translok di 21 Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) dengan jumlah sasaran
transmigran sebanyak 4.679 KK.

Dalam aspek penataan ruang, terdapat beberapa hal penting yang berkembang
akhir-akhir ini. Sebagaimana yang tercantum dalam Perda Nomor 2 tahun 2003 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat, Wilayah Bodebek ditetapkan sebagai
salah satu dari 3 (tiga) Pusat Kegiatan Nasional (PKN) di Jawa Barat dalam satu sistem
Metropolitan bersama dengan DKI Jakarta, yang sekaligus diharapkan dapat membatasi
kecenderungan pertumbuhan perkotaan yang acak (urban sprawl) ke wilayah sekitarnya.
Maka, kemudian muncul istilah Megapolitan Jakarta yang menginisiasikan suatu konsep
pengembangan ruang dan wilayah secara terpadu dengan melibatkan peran aktif
Pemerintah Daerah masing-masing. Dalam pengembangan wilayah Jawa Barat, Kawasan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 16


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Bodebek bersama dengan Kawasan Bopunjur ditetapkan sebagai kawasan andalan. Di


wilayah Jawa Barat lainnya, terdapat Kawasan Bandung Utara (KBU) yang mempunyai
peran yang sangat penting dalam mempertahankan Daya Dukung dan Daya Tampung di
Kawasan Cekungan Bandung.

Berkaitan dengan visi Jawa Barat yang ingin menjadi mitra terdepan ibukota
Negara, maka posisi Bodebek dan Bopunjur harus sejajar dengan ibukota Negara dalam
aspek pemenuhan public services. Artinya Bodebek dan Bopunjur tidak diposisikan
sebagai penyangga dalam memenuhi kebutuhan DKI Jakarta, akan tetapi sebagai mitra
yang saling menguntungkan. Dalam hal Kawasan Cekungan Bandung, selain sebagai
salah satu Pusat Kegiatan Nasional, juga nota bene merupakan Ibukota Provinsi Jawa
Barat serta merupakan pintu gerbang Jawa Barat, maka keberlanjutan daya dukung dan
daya tampung Kawasan Cekungan Bandung adalah hal yang harus terus diperhatikan.
Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi bersama DPRD Provinsi Jawa Barat telah berhasil
menyetujui suatu Peraturan Daerah yang mengatur mengenai Operasionalisasi
Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Bandung Utara yang dimaksudkan dapat
menjadi payung legalitas dari peran Provinsi Jawa Barat dalam mengendalikan kepesatan
pembangunan di KBU. Dalam hal itu, merupakan suatu hal yang harus dioptimalkan, yaitu
peran provinsi, dalam hal ini Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat, terutama dalam
pengendalian pemanfaatan ruang khususnya di Kawasan yang strategis secara nasional
dan regional, sebagaimana Kawasan Bedebek-punjur dalam konteks Kawasan tertentu
Jabodetabek-Punjur serta Kawasan Bandung Utara (KBU) dalam konteks Metropolitan
Bandung.

Salah satu tujuan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah kepada


masyarakatnya yang mengandung makna adanya kedekatan dalam pelaksanaan
pelayanan publik yang dilakukan pemerintah daerah kepada masyarakat sesuai dengan
penyerahan urusan. Kepuasan pelanggan harus menjadi orientasi utama dalam
pelaksanaan pelayanan publik yang diwujudkan dengan pelayanan yang murah, mudah,
cepat, transparan, pasti dan terjangkau sesuai dengan ketentuan yang berlaku, hal
tersebut didukung pula oleh adanya kebijakan pemerintah dengan ditetapkannya
Permendagri nomor 24 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pelayanan Satu Pintu. Untuk
mewujudkan hal tersebut tentu harus didukung oleh konstruksi kelembagaan perangkat
daerah yang memadai, namun hingga saat ini dukungan regulasi pemerintah pusat
berupa penetapan Peraturan Pemerintah mengenai Penyerahan Urusan Pemerintahan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 17


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

sebagai revisi dari PP 25 Tahun 2000 belum ditetapkan sehingga implementasi penataan
organisasi perangkat daerah mengalami hambatan.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan pelayanan publik, pembangunan bidang


hukum menjadi hal yang krusial baik di sisi penyusunan produk hukumnya maupun dari
penegakkannya, hal ini sejalan dengan ditetapkannya Permendagri 15 Tahun 2006
Tentang Jenis dan Bentuk Produk Hukum Daerah dan Permendagri 16 Tahun 2006
Tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah.

Terkait dengan penegakan hukum, upaya pemberantasan korupsi, kolusi dan


Nepotisme menjadi hal yang substansial dalam reformasi birokrasi, sehingga optimalisasi
pengawasan masyarakat, pengawasan legislative, pengawasan melekat atasan langsung
dan pengawasan fungsional menjadi instrumen yang menjadi pilar pemberantasan KKN
yang bermuara pada terwujudnya Good Governance.

Penguatan otonomi daerah di samping dilaksanakan di Provinsi dan


Kabupaten/Kota juga dilakukan pada Pemerintahan Desa dalam mewujudkan otonomi
desa yang mendukung otonomi daerah, dengan ditetapkannya PP 72 Tahun 2005
Tentang Desa membawa perubahan manajemen dan administrasi pemerintahan Desa
oleh sebab itu fasilitasi Provinsi dalam meningkatkan kinerja pemerintahan Desa menjadi
kata kunci dalam mendukung tercapainya tujuan otonomi Desa.

Sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, hubungan


pemerintahan yang harmonis merupakan prasyarat bagi tercapainya tujuan otonomi
daerah, hubungan pemerintahan baik antar sesama provinsi dan Kabupaten/Kota harus
dilakukan secara harmonis yang dilakukan dengan instrumen Kerjasama Antar Daerah, ini
dilakukan dalam upaya menangani masalah lintas wilayah, lintas sektor khususnya di
wilayah perbatasan guna memperkecil kesenjangan pembangunan antara daerah yang
satu dengan yang lain dengan prinsip saling menguntungkan guna mewujudkan
kesejahteraan rakyat.

Dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah pendapatan daerah merupakan


salah satu modal dasar pembangunan daerah Jawa Barat. Semakin efisien dan efektif
pengelolaan keuangan daerah maka diharapkan dapat mempercepat pencapaian
pembangunan di Jawa Barat. Mengingat pencapaian program-program pembangunan
yang dicanangkan Pemerintah Jawa Barat membutuhkan dukungan biaya, maka trend
pendapatan daerah yang saat ini sudah cukup baik, perlu dipertahankan bahkan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 18


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

ditingkatkan. Hal ini membutuhkan perencanaan yang baik untuk dapat meningkatkan
pendapatan dan pengelolaan keuangan dan kekayaan yang ada tepat sasaran. Saat ini
masih banyak peluang-peluang pada sektor tertentu yang dapat didayagunakan untuk
meningkatkan pendapatan, misalnya masih banyaknya asset-asset daerah yang belum
diinventarisasi dan dimanfaatkan secara benar, pengenaan tariff yang terlalu rendah,
kurangnya ketersediaan sarana prasarana dan sumber daya manusia, dan masih
kurangnya ketersediaan payung hukum sesuai dengan kebutuhan yang ada.

Kontribusi terbesar Pendapatan Asli Daerah Jawa Barat dari mulai tahun 2000
hingga sekarang berbasis pada pajak terutama Pajak kendaraan Bermotor dan pajak
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. Walapun dari tahun 2000-2005 menunjukkan trend
meningkat, namun pada tahun 2005 terdapat trend peningkatan yang melambat.
Mengantisipasi adanya trend penurunan jumlah pemilik kendaraan bermotor baru dengan
mempertimbangkan tingkat kejenuhan masyarakat dalam memiliki kendaraan bermotor,
penambahan panjang jalan (jalur transportasi) yang hingga sekarang belum dapat
mengikuti kecepatan penambahan jumlah kendaraan, dan LPE yang belum dapat
memberikan peningkatan pesat, maka pada masa mendatang diproyeksikan adanya trend
penurunan pendapatan dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor dan Bahan Bakar
Kendaraan Bermotor. Oleh karena itu perlu dikembangkan sumber pendapatan lain untuk
menjaga stabilitas pendapatan, termasuk dari retribusi. Paradigma yang diusung dalam
peningkatan retribusi saat ini harus dapat menjual jasa dengan mengedepankan
kepentingan, kepuasan, dan kenyamanan masyarakat. Seperti contoh retribusi pada
bidang metrologi, selama ini Balai metrologi baru dapat memberikan pelayanan yang
masih terbatas pada masyarakat seperti tera/tera ulang ukuran panjang dan volume.
Sementara sebenarnya masih banyak yang masih bias digali dari bidang kemetrologian
ini, seperti pengukuran kualitas air mineral, pengujian Barang dalam keadaan Terbungkus
(BDKT). Hal ini selain karena masih ada keterbatasan SDM juga kelengkapan peralatan
yang masih terbatas, paying hukum yang belum lengkap, dan kurangnya dana untuk
operasional. Padahal kalau sumber-sumber retribusi yang ada terus digali atau
ditingkatkan kualitasnya, dapat menjadi salah satu andalan pendapatan asli daerah Jawa
Barat.

Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung didasarkan pada Undang-undang


Dasar 1945, pasal 18 ayat (4) menyatakan “Gubernur, Bupati dan Walikota masing-
masing sebagai Kepala Pemerintahan Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 19


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

demokratis”, sedangkan pelaksanaannya didasarkan pada Undang-undang Nomor 32


Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, pasal 24 ayat (5). Pelaksanaan pilkada di
Provinsi Jawa Barat di mulai Tahun 2005, diawali pilkada di Kota Depok, Kabupaten
Sukabumi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Dan Kabupaten Bandung, Tahun
2006 dilaksanakan di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Cianjur. Rencana
pelaksanaan pilkada tahun 2007 yaitu di Kota Tasikmalaya, Kota Cimahi dan Kabupaten
Bekasi sedangkan Tahun 2008 meliputi Provinsi dan 16 Kabupaten/Kota.
Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan pilkada yang telah berjalan, secara umum
berlangsung lancar, aman dan terkendali serta tidak terjadi ekses yang negatif bagi
kehidupan sosial politik di daerah. Permasalahan secara umum meliputi pendaftaran calon
pemilih yang belum terakomodir seluruhnya, serta tingginya anggota masyarakat yang
tidak menggunakan hal pilihnya. Munculnya penolakan atas hasil pemilihan, hal ini dinilai
merupakan cermin belum tumbuhnya sikap kedewasaan dalam menyikapi hasil pilkada
serta belum mampu menerima kemenangan dan kekalahan secara elegan.
Pada masa mendatang diperlukan perbaikan pelaksanaan pilkada antara lain
kecermatan aparat penyelenggara pilkada pada setiap tahapannya, dukungan nyata
pemerintah serta partai politik dan masyarakat dalam menyukseskan pilkada, sosialisasi
intensif kepada masyarakat luas serta peningkatan pendidikan politik untuk semua lapisan
masyarakat. Perbaikan tersebut diharapkan dapat menumbuhkembangkan pemahaman
hak dan kewajiban warga negara secara baik, benar dan proporsional, juga
mengembangkan sikap berkompetisi secara sehat dan dinamis serta siap menghadapi
kemenangan dan kekalahan secara elegan. Pemilihan kepala daerah secara langsung
merupakan fenomena baru bagi sistim politik kontemporer di Indonesia, seyogyanya
demokrasi di tingkat nasional akan bergerak ke arah yang lebih baik apabila tatanan,
instrumen, dan konfigurasi kearifan lokal beserta kesantunan politik lokal lebih dahulu
terbentuk.

2.2. ISU STRATEGIS

1. Pendidikan dan Ketahanan Budaya

Upaya mewujudkan 3 (tiga) Core Bussiness Pendidikan yang terdiri dari aspek
pemerataan, mutu dan relevansi, serta tata kelola pendidikan dan pencitraan publik, telah
dilakukan meskipun belum semuanya optimal. Upaya pemerataan pendidikan di Jawa
Barat telah dilakukan melalui kegiatan Akselerasi Penuntasan Wajar Dikdas Sembilan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 20


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tahun, yang pada tahun 2008 memasuki tahun atau fase yang ke-4. Juga dengan
diwujudkannya MoU Role Sharing Pendanaan Peningkatan Sarana dan Prasarana
Pendidikan Dasar, serta masih dilanjutkannya pemberian beasiswa bagi siswa
SMP/MTs/PKBM yang berasal dari keluarga tidak mampu, upaya tersebut diharapkan telah
optimal memenuhi sasaran yang diharapkan. Selain itu, upaya Rintisan Wajib Belajar 12
Tahun di kabupaten/kota se Jawa Barat telah menjadi agenda stakeholders terkait, baik
dalam tataran perencanaan maupun pelaksanaannya.

Adapun dalam upaya peningkatan aspek mutu dan relevansi, serta tata kelola
pendidikan dan pencitraan publik, masih belum optimal dilaksanakan. Bila melihat
kebijakan Pemerintah Pusat tentang ditingkatkannya standar kelulusan berdasarkan Ujian
Nasional (UN), aspek kualitas pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Di
samping itu, kualitas lulusan pendidikan terutama pendidikan menengah saat ini
menghadapi berbagai tantangan seperti sempitnya lapangan pekerjaan dan semakin
kompetitifnya seleksi masuk Perguruan Tinggi. Empat hal yang menyangkut mutu dan
relevansi pendidikan, yaitu profesionalisme dan kesejahteraan guru, kurikulum berbasis
kompetensi, globalisasi dan teknologi informasi untuk pendidikan, serta kerjasama
dengan dunia usaha dan industri. Begitupun dengan aspek tata kelola yang meliputi
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), standarisasi pelayanan pendidikan, partisipasi
masyarakat, dan Sistem Informasi Manajemen (SIM) pendidikan. Kendala-kendala yang
dihadapi yaitu terbatasnya sarana dan prasarana, terbatasnya jumlah dan kualitas SDM
terutama di kabupaten/kota, serta kurangnya upaya pemutakhiran data dan informasi
pendidikan. Untuk itu perlu dilakukan upaya yang komprehensif tentang peningkatan
aspek-aspek tersebut.

Sementara itu, komitmen Pemerintah Provinsi untuk memenuhi amanat UUD 1945
tentang anggaran pendidikan minimal 20% dari APBD secara bertahap hingga tahun
2010, pada tahun 2007 telah dialokasikan anggaran pendidikan dengan proporsi 14,18%
dari Total Belanja APBD 2007, dan akan terus ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.
Meskipun demikian masih terdapat kendala yang dihadapi Pemerintah Provinsi dalam
upaya pemenuhan anggaran pendidikan 20%, yaitu adanya keterbatasan sumberdaya
dan sumber pendanaan, serta adanya kebutuhan program dan kegiatan di luar pendidikan
yang juga harus ditangani.

Berkaitan dengan semakin berkurang atau lunturnya nilai-nilai agama dan budaya
daerah di kalangan masyarakat Jawa Barat, terutama di kalangan usia sekolah, tidak

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 21


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

terlepas dari belum terakomodasinya muatan pendidikan yang mengangkat nilai kearifan
lokal. Selain itu bahasa daerah sebagai bahasa ibu masyarakat Jawa Barat juga semakin
berkurang intensitas dan kualitas penggunaannya baik di pergaulan sehari-hari maupun di
lingkungan formal seperti di pemerintahan atau lembaga pendidikan. Lunturnya norma-
norma masyarakat yang merupakan nilai-nilai luhur budaya daerah dan kurangnya
intensitas pendidikan agama di sekolah dan keluarga menjadi salah satu faktor semakin
tingginya angka kenakalan, penyalahgunaan narkoba, dan pergaulan bebas di kalangan
remaja. Kondisi tersebut tentu saja bila dibiarkan, akan semakin tidak menguntungkan
bagi masa depan masyarakat Jawa Barat sendiri. Kehilangan jejak budaya dan nilai-nilai
luhur yang terdapat di dalamnya serta hilangnya identitas dan jati diri, akan menjadi
kerugian yang besar bagi generasi penerus di kemudian hari.

2. Aksesibilitas dan Kualitas Kesehatan

Keberhasilan pembangunan kesehatan di Jawa Barat dapat dilihat dari indeks


kesehatan sebagai salah satu komponen penting dalam penentuan Indeks Pembangunan
Manusia (IPM), dalam menentukan indeks kesehatan dapat dilihat salah satunya melalui
Angka Harapan Hidup (AHH). Perkembangan Angka Harapan Hidup di Jawa Barat
menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun, walaupun bila dibandingkan
dengan angka nasional nampaknya kita masih perlu akselerasi dalam pelaksanaan
program maupun kegiatannya.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, masih ada beberapa penyebab yang
perlu mendapat perhatian diantaranya pelayanan kesehatan dasar masih belum mencapai
standar pelayanan minimal (SPM), prasarana pelayanan kesehatan dasar belum dapat
diakses sepenuhnya oleh masyarakat terutama penduduk miskin, tenaga kesehatan
belum merata terutama di perdesaan, masih munculnya kasus-kasus penyakit seperti
DBD, diare, suspect flu burung, gizi buruk dan peran serta masyarakat belum
menunjukkan yang lebih baik, terutama dalam pemahaman terhadap perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS).

Disamping itu juga, kesehatan lingkungan, air bersih dan sanitasi perumahan
masih belum sesuai dengan apa yang diharapkan. Oleh karena itu, penanganan
permasalahan-permasalahan tersebut di atas dapat dijadikan prioritas program dan
kegiatan dalam tahun 2008.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 22


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

3. Penduduk Miskin

Pada umumnya kondisi kesehatan keluarga miskin relatif lebih rendah bila
dibandingkan kondisi kesehatan rumahtangga lainnya. Selain kecukupan pangan, masalah
lain yang juga menyebabkan rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin adalah
rendahnya akses terhadap layanan kesehatan dasar. Selain itu, tingkat pendidikan akan
mempengaruhi di dalam usaha-usaha mengatasi kemiskinan. Berdasarkan hasil
Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) tahun 2005 memperlihatkan bahwa terdapat 92 %
kepala rumahtangga yang dikatagorikan miskin hanya berpendidikan paling tinggi tamat
Sekolah Dasar. Hal-hal yang perlu diupayakan untuk menanggulanginya adalah
mempertahankan program dan peningkatan pengelolaan beberapa kegiatan antara lain
revitalisasi program bantuan beras untuk keluarga miskin, program jaminan kesehatan
keluarga miskin, menghapuskan biaya pendidikan dasar dan menengah dan memberikan
bea siswa bagi keluarga miskin untuk melanjutkan pendidikan tinggi, program
pemberdayaan masyarakat, peningkatan pendidikan informal dan ketrampilan bagi
masyarakat miskin, program pembentukan modal melalui peningkatan akses masyarakat
miskin terhadap lembaga keuangan dan program peningkatan kemajuan pembangunan
pedesaan.

4. Pengangguran

Pengangguran di Jawa Barat pada saat ini masih tinggi, akibat tidak terserapnya
pertumbuhan angkatan kerja oleh pasar kerja yang disebabkan terbatasnya peluang
kerja. Kondisi tersebut didukung oleh masih rendahnya kualitas atau kompetensi pencari
kerja dan pekerja, sehingga mengakibatkan calon pekerja tidak dapat masuk kedalam
pasar kerja dan pekerja yang ada sulit untuk dipertahankan.

Berkaitan dengan tingginya jumlah pengangguran di Jawa Barat, Usaha Kecil dan
Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) perlu mendapat perhatian serius
baik dari pemerintah maupun kalangan masyarakat, karena kelompok unit usaha tersebut
mampu menyerap banyak tenaga kerja dan menjadi sumber bagi penciptaan pendapatan.
Hal ini didasarkan pada fakta empiris yang menunjukkan bahwa kelompok usaha tersebut
mengerjakan lebih banyak orang.

Demikian pula dengan Investasi, dimana iklim investasi nasional mempengaruhi


iklim investasi regional, sehingga menyebabkan tingginya angka pengangguran baik

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 23


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

akibat PHK maupun tidak adanya lapangan kerja baru, serta tinggi migrasi masuk yang
mengambil kesempatan penduduk setempat untuk memperoleh pekerjaan.

5. Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama ketahanan pangan


nasional dan harus diwujudkan, sehingga perlu menjadi prioritas dalam rencana dan
implementasi pembangunan daerah. Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk
terpenuhinya kebutuhan pangan rumah tangga yang memenuhi gizi seimbang, terutama
untuk mewujudkan kecerdasan bangsa.

Kondisi ketahanan pangan akhir-akhir ini dengan tingginya laju pertambahan


penduduk dan gangguan yang disebabkan adanya bencana alam seperti banjir dan
kekeringan, mengakibatkan terganggunya produksi, distribusi dan konsumsi bahan
pangan yang berimplikasi pada penurunan ketersediaan pangan serta daya saing
pertanian. Selain itu kasus kurang gizi/gizi buruk di beberapa daerah, yangmana
masyarakat kurang memperhatikan nilai gizi makanan yang dikonsumsi sehingga
kebutuhan gizi belum/kurang terpenuhi. Kondisi lain yang perlu mendapat perhatian
adalah maraknya flu burung yang menyerang unggas serta manusia, sampai saat ini
penyebarannya telah mencapai seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat kecuali Ciamis.

6. Pelayanan Infrastruktur Wilayah

Rendahnya pelayanan infrastruktur wilayah baik dari segi kualitas maupun


kuantitas masih merupakan persoalan besar di Jawa Barat yang harus segera diatasi
karena dapat menghambat laju pembangunan daerah. Pada aspek transportasi, tingkat
pelayanan jaringan jalan masih perlu ditingkatkan yang ditunjukkan dari masih belum
optimalnya indeks aksesibilitas, mobilitas serta tingkat kemantapan jalan. Hal ini antara
lain disebabkan oleh sudah habisnya umur rencana jalan pada sebahagian besar ruas
jalan provinsi sehingga kondisi struktur jalan menjadi labil, tingginya frekuensi bencana
alam serta beban lalu lintas yang sering melebihi standar muatan sumbu terberat (MST).
Selain itu, keberadaan bandar udara yang merupakan pintu gerbang Jawa Barat juga
dirasakan masih belum memadai.

Pada aspek sumber daya air, kondisi infrastruktur yang mendukung upaya
konservasi, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air serta
keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan sistem informasi sumber
daya air dirasakan masih belum memadai. Hal ini dapat terlihat dari masih terjadinya

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 24


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

bencana kekeringan yang mengakibatkan kekurangan ketersediaan air baku untuk


berbagai keperluan serta bencana banjir yang melanda sebagian besar wilayah Jawa
Barat. Selain itu intensitas tanam padi sawah khususnya pada daerah irigasi yang dikelola
oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga masih belum optimal.

Layanan infrastruktur listrik perdesaan juga belum optimal, seperti ditunjukkan


oleh masih rendahnya rasio elektrifikasi rumah tangga yang baru mencapai 57,73 %. Hal
ini menunjukkan masih rendahnya akses listrik masyarakat khususnya di daerah
perdesaan. Demikian pula halnya dengan layanan persampahan, terbatasnya infrastruktur
persampahan baik dari segi kualitas maupun kuantitas menjadi salah satu penyebab
rendahnya tingkat pelayanan persampahan yang ada di Jawa Barat, yang pada akhirnya
dapat berdampak buruk terhadap lingkungan termasuk manusianya.

7. Ketersediaan Energi

Jawa Barat merupakan Propinsi dengan konsumsi energi yang besar, baik dari
sektor industri, rumah tangga, komersial, maupun transportasi. Setiap tahun terjadi
kenaikan permintaan dan konsumsi energi mencapai rata-rata 8%. Sementara dari sisi
bauran energi (energy mix), ketergantungan sumber energi terhadap energi fossil,
minyak bumi dan gas alam sangat besar. Kenaikan harga kenaikan harga BBM telah
menyebabkan implikasi kepada masyarakat. Akibat dari kondisi tersebut adalah terjadinya
gangguan terhadap jaminan kelangsungan pasokan energi di Jawa Barat.

Diperlukan upaya dalam rangka penanganan sektor energi tersebut, melalui tiga
pilar kebijakan intensifikasi, diversifikasi dan konservasi energi. Intensifikasi bermakna
untuk mencari sumber energi yang bisa dikembangkan di Jawa Barat, khususnya energi
terbarukan seperti panas bumi, air skala kecil, biomassa dan sebagainya. Diversifikasi
diupayakan untuk memberikan substitusi penggunaan energi melalui penggunaan energi
alternatif yang bisa diaplikasikan seperti melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga
mikrohidro, surya, panas bumi maupun pengembangan bahan bakar bersumber bio
energi (biofuel) seperti biokerosene, biogas, biobriket, solar termik dan sebagainya. Yang
ditujukan untuk mengoptimalkan penggunaan energi setempat, khususnya bagi
masyarakat di perdesaan. Untuk meningkatkan ketahanan energi, peran konservasi dan
penghematan energi perlu dilakukan, untuk meningkatan efisiensi dan efektifitas
penggunaan energi. Hal ini perlu untuk menurunkan tingkat intensitas energi yang masih
tinggi di Jawa Barat. Selanjutnya, dalam rangka pengembangan energi tersebut perlu

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 25


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

melibatkan secara aktif Pemerintah Pusat, Daerah, Manufaktur/Pelaku Usaha, Perguruan


Tinggi dan Masyarakat untuk secara sinergis bekerjasama di Jawa Barat.

8. Bencana, Pencemaran, dan Kerusakan Lingkungan

Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang sangat rawan bencana, baik gempa
bumi, letusan gunung api, bencana longsor yang berkaitan dengan gempa dan longsor
yang berkaitan langsung dengan perusakan lingkungan (penggundulan hutan) dan banjir.
Bagian tengah Jawa Barat memiliki risiko nbencana alam berupa letusan gunung berapi
dan gempa krena merupakan satuan vulakmik yang masih aktif, sedangkan pada bagian
selatan Jawa barat banyak terdapat pusat-pusat gempa dangkal dan gempa-gempa besar
yang dapat menyebabkan timbulnya tsunami.

Manusia tidak bisa mencegah dan meramalkan bencana alam. Yang dapat
dilakukan oleh manusia adalah mengelola resiko bencana itu secara cermat dan rapi
untuk memperkecil dampaknya, terutama memperkecil jatuhnya korban jiwa dan
kerugian materil. Pengelolaan risiko seharusnya tidak hanya dilakukan setelah terjadi
bencana melainkan juga upaya pencegahannya melalui metoda penanggulangan risiko
secara profesional sebelum terjadinya bencana sehingga dapat memperkecil akibat yang
terjadi baik langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kerugian atau
kerusakan baik yang merupakan risiko ekonomi maupun non-ekonomi karena terjadinya
suatu bencana; sedangkan akibat tidak langsung adalah kerugian atau kerusakan yang
tidak ada hubungan langsung dengan kejadian bencana melainkan berhubungan dengan
akibat terjadinya bencana, misalnya risiko sosial dan politis.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, kesiagaan terhadap bencana alam perlu


ditingkatkan. Pemerintah Daerah bekerja sama dengan unsur-unsur lain yang terkait perlu
mengadakan bimbingan pada masyarakat untuk meningkatkan kesiagaan tersebut.

Sebagai provinsi dengan kepadatan penduduk yang tinggi, Provinsi Jawa Barat
mempunyai permasahan lingkungan yang sangat kompleks dan melibatkan berbagai
pihak, serta meliputi berbagai bentang lahan dari pegunungan sampai ke wilayah pesisir.
Kondisi ini bukan hanya mempunyai dampak terhadap lingkungan fisik seperti hilangnya
sumberdaya hutan, pencemaran air dan udara, tetapi juga akan mempengaruhi keadaan
ekonomi masyarakat. Kemerosotan fungsi-fungsi ekologi di Jawa Barat terutama pada
hutan alam bisa menyebabkan konsekuensi yang serius terhadap berbagai kegiatan
ekonomi dari masyarakat setempat maupun industri. Dampak kerugian yang disebabkan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 26


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

oleh banjir, erosi dan hilangnya pasokan air akan jauh lebih besar dibandingkan dengan
keuntungan yang didapat dari ekstraksi sumberdaya hutan tersebut.

Sampai saat ini, pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi masih belum
dapat ditangani secara tuntas. Penurunan daya dukung lingkungan pada badan air di
sungai Citarum, Ciliwung, Cimanuk, Citanduy dan Cisanggarung, pencemaran udara di
wilayah perkotaan, deplesi muka air tanah di pusat-pusat kegiatan nasional (Cekungan
Bandung, Bogor, Bekasi-Karawang), kerusakan di wilayah pesisir, dan masih tingginya
lahan kritis, menunjukan belum efektifnya penanganan lingkungan di Jawa Barat. Masih
buruknya perilaku dan kurangnya peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan
memperparah penurunan kualitas lingkungan.

9. Jumlah Penduduk

Pada tahun 2006 jumlah penduduk Jawa Barat sebanyak 40.737.592 jiwa, dengan
Laju Pertumbuhan 1,94%. Pertumbuhan jumlah penduduk tersebut disebabkan Laju
Pertumbuhan Alami (LPA) sebesar 1,63% dan adanya Migrasi Masuk sebesar 0,31%.
Sedangkan pada tahun 2005 LPP Jawa Barat sebesar 2,10% dengan Laju Petumbuhan
Alami sebesar 1,53% dan Migrasi Masuk sebesar 0,57%. Jika dibandingkan dengan tahun
2005, LPP Jawa Barat mengalami penurunan sebesar 0,16%. Walaupun terjadi penurunan
LPP, tetapi LPA mengalami kenaikan dari 1,53% pada tahun 2005 menjadi 1,63% pada
tahun 2006. Hal ini disebabkan berbagai hal diantaranya meningkatnya proporsi kawin
pada usia kurang di bawah 15 tahun dari 16,28% pada tahun 2005 menjadi 18,83% pada
tahun 2006, dan menurunnya rata-rata usia kawin pertama wanita dari 17,87 tahun pada
tahun 2005 menjadi 17,83 tahun pada tahun 2006. Memperhatikan kondisi dan
permasalahan tersebut, perlu adanya upaya-upaya yang lebih intens dalam rangka
pengendalian LPP dengan menekan LPA.

10. Pengendalian pemanfaatan ruang

Berkaitan dengan aspek penataan ruang terutama dalam aspek pengendalian


pemanfaatan ruang, kegiatan pembangunan di Jawa Barat dihadapkan pada berbagai
masalah, baik masalah sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Permasalahan tersebut
antara lain adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh faktor migrasi
maupun pertumbuhan alami. Kondisi tersebut berimplikasi terhadap semakin
meningkatnya penggunaan lahan di kawasan perkotaan di Jawa Barat seperti di
Metropolitan Bandung dan Bodebek. Perkembangan yang terjadi menunjukkan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 27


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

terdapatnya penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
dan kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Hal ini diindikasikan oleh
berkurangnya kawasan lindung, peningkatan konversi lahan sawah, dan munculnya
kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, pengendalian pemanfaatan ruang perlu untuk
dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja penataan ruang.

11. Optimalisasi Kinerja Pemerintahan Daerah

Optimalisasi kinerja pemerintahan daerah dapat dilakukan melalui peningkatan


kualitas manajemen pemerintahan, yaitu menata kembali sisi kelembagaan maupun
sumber daya manusia, meningkatkan sinergitas di bidang perencanaan baik antar SKPD
maupun antar tingkat pemerintahan, serta memfasilitasi penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan di kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan.

Dalam upaya meningkatkan kinerja pelayanan publik telah dilakukan melalui


fasilitasi pelayanan publik kepada kabupaten/kota, menetapkan Keputusan Gubernur
tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Provinsi Jawa
Barat sebagai pedoman bagi Kabupaten/Kota dalam membentuk dan menyelenggaraan
PPTSP. Dari hasil fasilitasi yang dilakukan pada tahun 2006 telah diraih penghargaan dari
Presiden RI kepada 5 Kabupaten/Kota dalam pelayanan publik berupa “Citra Bhakti
Negara”, berdasarkan Keputusan Menpan Nomor 209/Kep.M.Pan/12/2006, dan lima Unit
Pelayanan Publik (UPP) mendapat penghargaan “Citra Pelayanan Prima” berdasarkan
Keputusan Menpan Nomor 210/Kep/M.Pan/12/2006.

Pemantapan kerjasama daerah baik dengan daerah lain, pihak swasta,


Kementerian dan Lembaga Pemerintah, maupun Luar Negeri makin meningkat sejalan
dengan kebutuhan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerjasama
antar Provinsi yang berbatasan dalam bidang perencanaan antara lain dengan Banten,
DKI Jakarta dengan difasilitasi oleh BKSP Jabodetabek, dan dengan Jawa Tengah,
sedangkan dengan Provinsi se-Jawa Bali dilakukan dalam forum Musrenbangreg Jawa-
Bali. Pada tingkat yang lebih operasional dilakukan melalui Mitra Praja Utama (MPU) yang
beranggotakan provinsi di Jawa Bali, Lampung, NTB, dan NTT. Jawa Barat aktif pula
dalam forum APPSI yang merupakan asosiasi pemerintah provinsi pada tingkat nasional.

Pada tahun 2006 terdapat sebanyak 142 kerjasama yang telah dilakukan oleh
pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang dikategorikan dalam 8 bentuk kerjasama, yaitu
Provinsi dengan Provinsi (20 kerjasama); Provinsi dengan Kabupaten/Kota (16

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 28


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

kerjasama); Provinsi dengan Kementerian (4 kerjasama); Provinsi dengan Swasta (57


kerjasama); Provinsi dengan Perguruan Tinggi (10 kerjasama); Provinsi dengan
lembaga/instansi non pemerintah (13 kerjasama); Provinsi dengan luar negeri -
pemerintahan (3 kerjasama); serta Provinsi dengan luar negeri – swasta (19 kerjasama).
Produk hukum kerjasama yang dihasilkan meliputi Letter Of Intent (LoI), Memorandum Of
Understanding (MoU), kesepakatan bersama, keputusan bersama, peraturan bersama
serta perjanjian kerjasama.
12. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan Persiapan Pemilu 2009

Implikasi dari berlakunya Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang


membawa perubahan yang signifikan terhadap pemilihan Kepala Daerah dan pemilihan
umum Presiden/DPR/DPRD yang sebelumnya dilakukan oleh parlemen menjadi oleh
rakyat secara langsung. Hal ini dapat diartikan bahwa kedaulatan rakyat dijunjung tinggi
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemilihan Kepala Daerah secara langsung
juga mempunyai makna yang strategis bagi kehidupan masyarakat dan pemerintahan di
daerah, karena merupakan sarana aktualisasi hak demokrasi rakyat untuk memilih secara
langsung Kepala Daerahnya. Tantangan yang berkaitan dengan pilkada secara langsung
meliputi : pendaftaran pemilih, penggunaan hak pilih dan proses penghitungan suara. Hal
ini harus menjadi perhatian bagi daerah yang akan melaksanakan pilkada pada tahun
2008 di 16 Kabupaten/Kota dan Provinsi Jawa Barat. Selain itu, penyelenggaraan Pemilu
Tahun 2009 harus sudah dipersiapkan pada Tahun 2008, mengingat perlunya kesiapan
dalam sosialisasi dan fasilitasi peraturan-peraturan pemilu untuk mendukung
pelaksanaannya. Pelaksanaan pilkada dan persiapan pemilu secara langsung harus
didukung dengan stabilitas keamanan dan ketertiban, karena merupakan proses yang
krusial untuk suksesnya pesta demokrasi.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 II - 29


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB III
PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH

Pembangunan daerah tahun 2008 merupakan bagian dari pembangunan daerah


jangka menengah tahun 2003-2008. Prioritas pembangunan daerah yang menjadi dasar
penetapan rencana kerja Pemerintah Daerah tahun 2008 ditetapkan berdasarkan isu
strategis pembangunan daerah dengan mengacu pada visi dan misi Pemerintah Provinsi
Jawa Barat yang tercantum pada Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2004 tentang Rencana
Strategis Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2003-2008. Adapun prasyarat yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pembangunan daerah adalah pengamalan ajaran agama
dan nilai-nilai luhur budaya Jawa Barat; pengembangan good governance dan clean
government; pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; peningkatan kemampuan
keuangan; pengembangan pusat keunggulan ilmu pengetahuan dan reformasi sistem
politik. Prasyarat pembangunan tersebut diarahkan untuk pengembangan 6 core business
yaitu agribisnis, bisnis kelautan, industri manufaktur, industri jasa, pariwisata dan
pengembangan sumberdaya manusia. Secara kewilayah pembangunan daerah tersebut
harus didasarkan pada penataan ruang dan penyediaan infrastruktur wilayah yang
memadai.

Penentuan prioritas pembangunan daerah juga mempertimbangkan beberapa hal


lain seperti kebijakan pembangunan nasional, kesepakatan antara Pemerintah Provinsi
dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat, prediksi perkembangan ekonomi
nasional yang dipengaruhi oleh prediksi perkembangan ekonomi global serta prediksi
perkembangan ekonomi regional. Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan
pembangunan daerah serta memberikan arahan yang lebih jelas bagi perencanaan
pembangunan yang lebih rinci maka masing-masing prioritas pembangunan daerah
dilengkapi dengan fokus-fokus. Untuk lebih jelasnya proses penetapan prioritas
pembangunan daerah tahun 2008 dilakukan berdasarkan bagan alir pada gambar 3.1.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 1
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Perda No.1 Perda No.1 Tahun


Tahun 2004 2003
Evaluasi Visi dan Misi Pola Dasar
Isu Strategis Pemerintah
Pembangunan Pembangunan
Pembangunan Provinsi
tahun 2006 Daerah
tahun 2008
Visi dan Misi Provinsi
Jawa Barat
Pengembangan 6
Kebijakan Core Bussiness
Pemerintah Pusat

Kesepakatan Rencana
dengan Kab/Kota Prioritas dan Kerja
Fokus tahun 2008
Pembangunan
Perkembangan
Ekonomi
Nasional

Perkembangan
Ekonomi
Regional

Gambar 3.1

Bagan Alir Penetapan Prioritas Pembangunan Daerah

3.1. KERANGKA EKONOMI DAERAH

3.1.1 Perkembangan Ekonomi Nasional

Pada tahun 2006 Indonesia telah dapat mencapai kestabilan makroekonomi dan
juga sistem keuangan. Hal ini terlihat dari berbagai indikator yang pada tahun
2005 mengalami tekanan, di tahun 2006 mulai menunjukkan perbaikan. Inflasi
pada tahun 2006 dapat dikendalikan dan berada pada tingkat 6,6%, atau berada
dibawah garis kisaran sasaran 8,1%, yang ditetapkan oleh Pemerintah dan Bank
Indonesia. Keberhasilan pengendalian inflasi di tahun 2006 tersebut menunjukkan
bahwa kebijakan moneter telah mampu memitigasi dampak lanjutan kenaikan
BBM di penghujung tahun 2005. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia juga relatif
baik dengan surplus sebesar 3,7% dari PDB telah pula menyumbang pada
stabilitas nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2006 yang berada pada kisaran
Rp. 9.100-9.400/USD. Pada tahun 2006 Pemerintah melakukan pelunasan utang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 2
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

kepada IMF tanpa menimbulkan gejolak yang berarti di pasar keuangan. Meski
telah dilakukan pembayaran kepada IMF, tetapi posisi cadangan devisa tetap
terjaga.

Berdasarkan perkembangan makroekonomi yang terjaga dengan baik, Bank


Indonesia telah menurunkan BI Rate sebesar 300 basis point, sehingga berada
dibawah 2 digit yaitu sebesar 9,75%. Penurunan tersebut diambil untuk
mempertahankan persepsi positif pelaku ekonomi, mendukung perbaikan iklim
usaha dan iklim investasi.

Perkembangan indikator produksi belum cukup berimbang, hal ini disebabkan


masih belum kondusifnya iklim investasi dan masih menggejalanya ekonomi biaya
tinggi, sehingga investasi tumbuh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebagai akibatnya ekspor dan permintaan konsumsi swasta masih menjadi
penopang utama pertumbuhan ekonomi. Dengan kondisi demikian maka
Berdasarkan Bank Indonesia, laju pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2006
mencapai 5,5%.

Di balik semua catatan keberhasilan tersebut, terdapat beban yang harus


ditanggung dari tahun ke tahun yaitu rigiditas struktural dalam perekonomian yang
melahirkan ketidakefisienan waktu dan sumberdaya dalam bentuk akses likuiditas
dan pengangguran, serta kemiskinan yang semakin memprihatinkan dan
menciptakan kondisi yang paradoks. Struktur ekonomi cenderung bergerak kearah
perekonomian yang padat modal dibandingkan padat karya. Sementara itu jumlah
angka pengangguran cenderung meningkat, padahal ekonomi telah menunjukkan
geliat untuk tumbuh. Di sisi lain kemiskinan juga mulai kembali meningkat, hal ini
terjadi karena ketidakseimbangan struktural yang mengontrol perekonomian
disebabkan oleh struktur pasar dan industri yang oligopolistik sehingga
menghambat kemampuan pasar untuk mengalokasikan sumber daya secara
efisien. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan upaya untuk membuka
akses dan partisipasi masyarakat melalui perbaikan iklim investasi,
penyederhanaan perizinan, dan berbagai kemudahan lainnya.

Dengan memperhatikan seluruh kondisi dan dinamika perekonomian tahun 2006


serta kecenderungannya ke depan, kondisi makroekonomi pada tahun 2007
diperkirakan masih tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan berada

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 3
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

dalam kisaran 5,7%-6,3% atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun 2005
dan 2006 dengan investasi swasta sebagai pendorong utama disamping
konsumsi. Pada semester I tahun 2007, peningkatan pertumbuhan ekonomi
sebagian besar akan bersumber dari konsumsi ditambah investasi swasta.
Peningkatan konsumsi tersebut diperkirakan akan didorong oleh berlanjutnya
perbaikan daya beli masyarakat karena adanya kenaikan gaji PNS, peningkatan
UMR di awal semester 2007 dan inflasi yang terkendali pada laju yang rendah.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan semakin kuat pada semester II-2007


sejalan dengan perkiraan peningkatan signifikan pada investasi swasta dan
peningkatan yang semakin besar pada belanja modal pemerintah. Perkiraan
peningkatan investasi swasta baik berbentuk PMA maupun PMDN pada semester
II-2007 ini, selain didorong oleh semakin kuatnya keyakinan pelaku ekonomi
terhadap prospek peningkatan perekonomian ke depan, juga disebabkan oleh
kontribusi kecenderungan penurunan inflasi dan suku bunga, serta stabilitas pada
nilai tukar rupiah.

Ekspor diperkirakan masih tumbuh tinggi meskipun cenderung melambat akibat


pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak sekuat tahun 2006. Sementara impor
barang dan jasa diperkirakan akan mengalami peningkatan sejalan dengan
peningkatan permintaan domestik. Beberapa komoditas yang diperkirakan dapat
memberikan sumbangan terbesar antara lain adalah tekstil, peralatan listrik,
produk kimia dan peralatan mesin.

Neraca Pembayaran Indonesia tahun 2007 diperkiraan akan mencatat surplus,


dengan perkiraan sekitar 1,87% dari PDB. Dengan demikian cadangan devisa
tahun 2007 diperkirakan akan mendekati USD 47 miliar. Surplus neraca
pembayaran, meningkatnya cadangan devisa, dan keyakinan pasar terhadap
kualitas tata-kelola kebijakan makroekonomi pada gilirannya akan mendukung nilai
tukar rupiah pada tahun 2007 secara umum diperkirakan bergerak sesuai dengan
keseimbangan eksternalnya.

Peningkatan kegiatan ekonomi tahun 2007 diperkirakan tidak memberikan tekanan


berlebihan terhadap harga-harga secara umum sehingga inflasi Indeks Harga
Konsumen (IHK) diperkirakan masih dalam kisaran sasaran yang ditetapkan
Pemerintah dan Bank Indonesia yaitu 6,1%. Perkiraan inflasi IHK tahun 2007 juga

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 4
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

didukung oleh ekspektasi inflasi pelaku pasar yang masih terjaga dan tidak adanya
rencana untuk meningkatkan harga kelompok barang yang harganya diatur
Pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi dapat mencapai kisaran atasnya 6,3% apabila investasi


swasta dapat berperan sebagai pendorong utama disamping konsumsi. Sebaliknya
pertumbuhan ekonomi akan mencapai kisaran bawahnya 5,7% jika berbagai
kendala dan risiko perekonomian tidak dapat diatasi terkait dengan fleksibilitas
kapasitas produksi dalam mengimbangi peningkatan permintaan terutama yang
disebabkan oleh iklim investasi yang belum membaik dan ekonomi biaya tinggi.
Pertumbuhan kredit diharapkan dapat mencapai 15%-18% dan terfokus pada
sektor-sektor andalan utama dengan muatan impor rendah dan tidak bersifat
padat modal, seperti di sektor dan sub-sub sektor pertanian.

3.1.2 Perkembangan Ekonomi Regional 2007-2008


Dengan memperhatikan kondisi dan dinamika perekonomian pada tahun 2006
serta prediksi perkembangan ekonomi nasional, kondisi perekonomian regional
secara makro pada tahun 2007 diprediksi masih tetap stabil. Pertumbuhan
ekonomi diperkirakan akan berada pada kisaran 5,3%-6,9% dengan nilai PDRB
dalam harga konstan 2000 berada pada kisaran Rp. 273 trilyun-Rp. 284 trilyun.
Sementara itu pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berada
pada kisaran 5,2%-6,7% dengan nilai PDRB berada pada kisaran Rp. 287 trilyun-
Rp. 304 trilyun. Pertumbuhan perekonomian regional tersebut didukung oleh
pertumbuhan perekonomian dunia yang semakin baik pada tahun 2008 sehingga
aktivitas ekspor akan meningkat, demikian pula halnya dengan investasi.
Berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang moderat kontribusi utama
pertumbuhan ekonomi regional akan tetap diberikan oleh sektor industri
pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran, pertanian dan jasa-jasa.
Pertumbuhan masing-masing sektor pada tahun 2007 dan 2008 diprediksi sebagai
berikut :

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 5
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 3.1
Proyeksi Laju Pertumbuhan Ekonomi Pada 9 Sektor PDRB

No Sektor LPE 2007 LPE 2008


1 Pertanian 0,58 % 0,57%
2 Industri Pengolahan 4,45% 4,31%
3 Perdagangan, Hotel dan Restoran 5,71% 5,78%
4 Pertambangan -1,20% -1,22%
5 Listrik, Gas dan Air Bersih 4,76% 4,54%
6 Bangunan 13,97% 12,59%
7 Angkutan dan Komunikasi 4,56% 4,36%
8 Persewaan, Jasa Keuangan dan Jasa Perusahaan 5,63% 5,56%
9 Jasa-jasa 8,2% 7,58%
Sumber : Hasil Analisis

Pada semester I tahun 2007, peningkatan pertumbuhan ekonomi terutama


didorong oleh konsumsi. Akselerasi pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan
semakin kuat pada semester II tahun 2007 sejalan dengan meningkatnya investasi
swasta. Investor swasta diperkirakan memiliki ekspektasi yang semakin kuat akan
prospek peningkatan kegiatan perekonomian ke depan. Ekspektasi yang dibarengi
dengan kecenderungan penurunan suku bunga perbankan diperkirakan semakin
memberikan ruang bagi investor swasta untuk merealisasikan investasinya pada
tahun 2007. Dari sisi fiskal, pengeluaran pemerintah yang tepat waktu dan tepat
sasaran diharapkan dapat memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi
secara efektif. Kegiatan ekspor diperkirakan masih tumbuh tinggi meskipun
cenderung melambat akibat pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak sekuat tahun
2006. Kegiatan impor barang dan jasa diperkirakan akan mengalami peningkatan
sejalan dengan peningkatan permintaan domestik. Kestabilan kondisi
perekonomian regional juga didukung dengan kestabilan nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing. Sementara itu berdasarkan perkiraan Bank Indonesia,
inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada tahun 2007 akan berada pada kisaran
5%-7%. Namun demikian mengingat terjadinya bencana alam banjir pada awal
tahun 2007 dan kemungkinan terjadinya kekeringan pada akhir tahun 2007 maka
inflasi diperkirakan akan lebih tinggi namun berada di bawah 10%. Sementara itu
pada tahun 2008 inflasi juga diperkirakan akan berada di bawah 10% mengingat
kestabilan ekonomi nasional dan regional yang semakin baik.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 6
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Konsumsi rumah tangga pada tahun 2007 dan 2008 diperkirakan akan tumbuh
lebih tinggi mencapai 4,3% dibandingkan dengan tahun 2006 yang mencapai
3,1%. Proporsi konsumsi rumah tangga terhadap PDRB pada tahun 2008
diperkirakan sebesar 65,05%. Kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil dan Upah
Minimum Provinsi akan berpengaruh pada peningkatan sumber pendapatan
masyarakat. Selain itu sumber pendapatan masyarakat juga berasal dari
peningkatan devisa yang berasal dari Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri seiring
dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja asal Jawa Barat yang bekerja di luar
negeri.
Kegiatan investasi tahun 2007 dan 2008 diperkirakan akan mengalami
peningkatan sebesar 13%-15%. Sumber pembiayaan untuk investasi tersebut
akan berasal dari pemerintah, kredit perbankan, pasar modal dan lembaga
keuangan non bank, investor asing serta sumber pembiayaan lain seperti modal
sendiri dan penyisihan laba. Kredit perbankan tahun 2007 diperkirakan tumbuh
sekitar 18%-20%. Sementara itu pembiayaan dari pasar modal diperkirakan dapat
lebih tinggi seiring dengan terjaganya kestabilan ekonomi makro dan penurunan
suku bunga. Berdasarkan proyeksi moderat Pembentukan Modal Tetap Bruto pada
tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp. 49,3 trilyun berdasarkan harga konstan
tahun 2000 atau sebesar 15,74% dari PDRB.

3.2 PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH


Pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat tahun 2008 merupakan penjabaran
dari Rencana Strategis Pemerintah Daerah 2003-2008 dengan memperhatikan pula isu
strategis yang telah diidentifikasi pada bab sebelumnya, serta prioritas pembangunan
Nasional sebagaimana terdapat dalam rancangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2008.
Terdapat 9 (Sembilan) prioritas Pembangunan Nasional 2008 yaitu :

1. Penanggulangan Kemiskinan;

2. Peningkatan Kesempatan Kerja, Investasi, dan Ekspor;

3. Revitalisasi Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Perdesaan;

4. Peningkatan Aksesibilitas dan Kualitas Pendidikan dan Kesehatan;

5. Penegakan Hukum dan HAM, Pemberantasan Korupsi, dan Reformasi Birokrasi;

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 7
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

6. Penguatan Kemampuan Pertahanan, Pemantapan Keamanan dan Ketertiban serta


Penyelesaian Konflik;

7. Optimalisasi Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Alam;

8. Percepatan Pembangunan Infrastruktur;

9. Pembangunan Daerah Perbatasan dan Wilayah Terisolir.

Sasaran pembangunan pada tahun 2008 merupakan derivat dari sasaran


pembangunan jangka menengah yang tercantum dalam dokumen Rencana Strategis
Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Sasaran-sasaran pembangunan makro daerah tahun 2008 tersebut dapat dilihat


pada tabel berikut :

Tabel 3.2
Proyeksi Ekonomi dan Sosial Makro Tahun 2008

No INDIKATOR Tahun 2008


1. a. Jumlah Penduduk 42,8 juta jiwa
b. Laju Pertumbuhan Penduduk 2,1% - 2,2%
2. Laju Pertumbuhan Ekonomi 5,8% - 6%
3. Inflasi 8% - 10%
4. PDRB berdasarkan harga konstan tahun 2000 Rp. 260 triliun – Rp. 275 triliun
5. Jumlah Keluarga Miskin 27% - 28%
6. Laju Pertumbuhan Investasi 10% - 12%
Sumber : Hasil Analisis Bapeda Provinsi Jawa Barat 2005

Upaya pengendalian pertambahan jumlah penduduk dilakukan dengan


meningkatkan pengendalian migrasi masuk melalui perbaikan sistem administrasi
kependudukan terutama pada kabupaten dan kota yang berada pada Pusat Kegiatan
Nasional di Metropolitan Bodebek, Metropolitan Bandung dan Metropolitan Cirebon. Selain
itu perlu juga ditingkatkan upaya pengendalian pertumbuhan penduduk alami terutama
pada akses masyarakat terhadap alat kontrasepsi baik diperkotaan maupun perdesaan
serta menghindari terjadinya perkawinan pada usia muda.

Upaya pengurangan jumlah keluarga miskin dilakukan melalui pendekatan pada


sisi pendapatan dan pengeluaran masyarakat. Pada sisi pendapatan dilakukan dengan
meningkatkan kesempatan kerja dan pemberdayaan keluarga miskin melalui Bantuan
Modal Usaha, serta penyesuaian upah dengan pertimbangan pemenuhan kebutuhan fisik

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 8
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

minimal dan inflasi yang terjadi. Pada aspek pengeluaran dilakukan dengan pengurangan
pengeluaran rumah tangga terutama bagi keperluan pendidikan dan kesehatan.

Upaya peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat


dilakukan dengan peningkatan produktivitas sektor-sektor ekonomi pada 6 core business
Jawa Barat yaitu agribisnis, bisnis kelautan, industri manufaktur, pariwisata, jasa dan
sumberdaya manusia. Peningkatan produktivitas tersebut dapat dilakukan dengan
peningkatan kemampuan sumberdaya manusia serta peningkatan implementasi ilmu
pengetahuan dan teknologi. Selain itu peningkatan laju pertumbuhan ekonomi harus
dilakukan dengan peningkatan investasi masuk di sektor-sektor unggulan Jawa Barat
terutama yang bersifat padat karya. Selain itu peningkatan laju pertumbuhan ekonomi
harus dilakukan dengan meningkatkan investasi di sektor-sektor unggulan Jawa Barat (6
Core Business). Peningkatan investasi tersebut perlu didukung dengan penyederhanaan
prosedur investasi yang akan berakibat pada pengurangan waktu, biaya serta jumlah
perizinan yang diperlukan.

Upaya peningkatan Indeks Pendidikan dan Indeks Kesehatan dilakukan dengan


upaya peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan dan kesehatan
melalui peningkatan kualitas dan cakupan pelayanan pada aspek sarana/prasarana dan
tenaga kesehatan maupun pendidikan.

Selain upaya-upaya tersebut di atas, dalam rangka mengoptimalkan berbagai


upaya dalam meningkatkan kinerja seluruh sektor layanan publik serta meningkatkan
kerjasama dan partisipasi nyata dari masyarakat untuk keberhasilan pencapaian IPM 80
pada tahun 2010 telah ditetapkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 34 Tahun 2005
tentang Program Pendanaan Kompetisi (PPK) Akselerasi Peningkatan Indeks
Pembangunan Manusia Jawa Barat.

Tujuan program PPK-IPM tersebut di atas salah satunya adalah menerapkan pola
pendanaan dengan misi tertentu (mission budget), yaitu akselerasi pencapaian IPM 80
yang bersifat kompetitif dengan pemberian insentif kepada para pelaksana program dan
kegiatan di setiap Kabupaten/Kota yang unggul dalam kinerjanya.

Untuk memberikan arahan yang lebih jelas dalam penentuan kegiatan yang perlu
dilaksanakan pada tahun 2008, berikut ini disajikan prioritas pembangunan daerah tahun
2008 beserta fokus-fokus yang harus dilaksanakan pada masing-masing prioritas.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 9
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

1. Peningkatan Aksesibilitas, Kualitas, dan Tata Kelola Pendidikan


Fokus :
• Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan

• Peningkatan ketersedian dan kualitas guru, serta mutu dan relevansi lulusan
pendidikan

• Pengembangan pendidikan alternatif dan pendidikan non formal

• Peningkatan tata kelola pendidikan dan pencitraan publik

2. Peningkatan Pemahaman dan Pengamalan Nilai-Nilai Agama dan Budaya


Daerah
Fokus :
• Pelestarian dan pengembangan budaya daerah
• Peningkatan budaya hidup bersih dan lingkungan sehat
• Peningkatan implementasi nilai-nilai agama
• Pelestarian dan pengembangan desa budaya
• Peningkatan pendidikan budi pekerti
• Pendidikan lingkungan hidup berbasis sekolah
3. Peningkatan Aksesibilitas dan Kualitas Kesehatan Masyarakat
Fokus :
• Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan dasar

• Penyediaan sumber daya kesehatan terutama untuk daerah perbatasan dan desa
tertinggal

• Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular terutama daerah perbatasan


dan desa tertinggal

• Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan dasar

• Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan

• Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perumahan dan permukiman di kota


pusat pertumbuhan

4. Pemberdayaan Penduduk Miskin


Fokus :
• Peningkatan akses pendidikan bagi siswa miskin

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 10
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

• Peningkatan pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin

• Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perumahan dan permukiman bagi


penduduk miskin terutama di desa tertinggal

• Peningkatan peluang berusaha bagi penduduk miskin

5. Peningkatan Kompetensi dan Perlindungan Ketenagakerjaan


Fokus :
• Peningkatan keterampilan ketenagakerjaan bagi pencari kerja
• Peningkatan peluang kerja
• Peningkatan peran dan fungsi kelembagaan hubungan industrial

6. Peningkatan Peran KUKM dan IKM

Fokus :
• Pengembangan KUKM dan IKM terutama di desa pusat pertumbuhan
• Peningkatan wirausaha baru
7. Peningkatan Peluang Investasi Untuk Perluasan Kesempatan Kerja
Fokus
• Penyederhanaan prosedur dan kelembagaan perizinan investasi di daerah
• Optimalisasi promosi untuk menarik investasi baru
• Pemberian insentif bagi kegiatan investasi di daerah
8. Revitalisasi Agribisnis dan Industri
Fokus :
• Peningkatan peran dan fungsi penyuluh pertanian
• Peningkatan produktifitas, produksi, distribus serta diversifikasi pangan.
• Peningkatan upaya pengendalian hama dan penyakit tanaman, ternak dan ikan
• Peningkatan daya saing industri

9. Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Wilayah

Fokus :
• Pengelolaan persampahan di Metropolitan Bandung dan Jabodetabekpunjur
• Pembangunan jalan dan jembatan di Jabar Selatan, Metropolitan Bandung,
Metropolitan Cirebon dan PKW Sukabumi
• Persiapan pembangunan Bandara Internasional

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 11
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

• Peningkatan infrastruktur penyedia air baku dan pengendali daya rusak air di
Metropolitan Bandung, Bodebek dan Pantura.
• Peningkatan infrastruktur irigasi di Pantura
• Pembangunan Waduk Jatigede
• Pembangunan Jalan Tol
• Perluasan jaringan listrik perdesaan

10. Peningkatan Ketahanan Energi

Fokus :
• Pengembangan dan pendayagunaan energi alternatif
• Pengembangan energi panas bumi sebagai sumber energi
• Peningkatan upaya konservasi dan penghematan energi

11.Optimalisasi Penanganan Bencana, Pengendalian Pencemaran dan


Kerusakan Lingkungan

Fokus :
• Peningkatan upaya pengurangan resiko bencana

• Peningkatan sarana dan prasarana pengendalian pencemaran dan kerusakan


lingkungan

• Peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan

12. Pengendalian Laju Pertumbuhan Penduduk

Fokus :

• Pengendalian laju pertumbuhan alamiah

• Pemberdayaan sistem administrasi kependudukan

13. Peningkatan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

Fokus :
Peningkatan pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan Bandung Utara (KBU)
dan Jabodetabekpunjur

14. Pemantapan Manajemen Pemerintahan Daerah

Fokus :
• Penataan kelembagaan dan ketatalaksanaan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 12
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

• Peningkatan kualitas pelayanan publik


• Penataan dan penegakan hukum daerah dan HAM serta bantuan hukum
• Peningkatan kerjasama antar provinsi di daerah perbatasan
• Peningkatan kinerja pemerintah desa
• Optimalisasi potensi pendapatan daerah

15. Pemantapan Stabilitas Politik

Fokus :

• Pelaksanaan Pilkada dan persiapan Pemilu


• Stabilitas keamanan dan ketertiban umum dalam mendukung Pilkada dan Pemilu

Prioritas pembangunan daerah tahun 2008 tersebut harus dilaksanakan secara


sinergis baik antarsektor pembangunan, antar pelaku pembangunan maupun
antarwilayah. Dari sisi kewilayahan, program-program prioritas pembangunan tersebut
akan dilaksanakan pada wilayah sasaran yang terdiri dari :

a. Desa Pusat Pertumbuhan


Desa Pusat Pertumbuhan adalah desa yang menjadi simpul jasa dan simpul distribusi
dari desa-desa di sekitarnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat
Pertumbuhan diharapkan dapat menjadi pemicu dan pemacu pertumbuhan ekonomi
wilayah sekitarnya. Intervenís pembangunan yang dilakukan di Desa Pusat
Pertumbuhan harus merupakan kegiatan pengembangan ekonomi daerah yang
berbasis pada potensi lokal serta mempertimbangkan keterkaitan dengan
perkembangan wilayah sekitarnya. Berdasarkan analisis Bapeda pada tahun 2006
teridentifikasi sebanyak 980 desa yang merupakan Desa Pusat Pertumbuhan.
Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada maka pada tahun 2008 kegiatan
pembangunan daerah di Desa Pusat Pertumbuhan akan difokuskan ke 438 Desa pada
25 Kabupaten/Kota.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 13
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

b. Desa Budaya Jawa Barat


Desa Budaya Jawa Barat adalah desa khas yang ditata untuk kepentingan pelestarian
budaya. Kekhasan tersebut bisa berupa kampung adat atau rumah adat. Pelaksanaan
pembangunan daerah harus senantiasa memperhatikan aspek budaya yang
merupakan bagian dari modal sosial yang dapat dikembangkan menjadi sebuah
potensi pembangunan. Salah satu upaya pelestarian budaya khas Jawa Barat adalah
dengan memfokuskan pembangunan di desa-desa budaya Jawa Barat. Berdasarkan
identifikasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2005 teridentifikasi
sebanyak 9 buah desa budaya dan 12 bentuk rumah adat yang merupakan salah satu
fokus wilayah pada pembangunan daerah tahun 2008.

c. Desa Tertinggal.
Desa Tertinggal adalah desa yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang
berkembang dibandingkan desa lain dalam suatu wilayah tertentu. Ketertinggalan
suatu wilayah tentu harus segera dikurangi untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Intervensi pembangunan yang dilakukan di Desa Tertinggal ini
dititikberatkan pada pemenuhan sarana dan prasarana dasar permukiman serta
pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat seperti akses terhadap
pendidikan dasar dan kesehatan dasar. Berdasarkan analisis Bapeda pada tahun 2006
teridentifikasi 753 desa tertinggal. Mengingat keterbatasan sumberdaya yang ada
maka pada tahun 2008 pembangunan di desa tertinggal akan difokuskan ke 379 desa
di 16 kabupaten.

d. Kota Pusat Pertumbuhan


Kota Pusat Pertumbuhan atau Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) adalah kota sebagai
pusat jasa, pusat pengolahan, dan simpul transportasi yang melayani beberapa
kabupaten. Berdasarkan Perda No. 2 tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat, rencana pengembangan sistem kota-kota di
Jawa Barat yang berkaitan dengan penataan distribusi PKW untuk mendukung
keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah adalah meliputi
pengembangan PKW Cianjur-Sukabumi, Cikampek-Cikopo, Palabuhanratu,
Tasikmalaya, Kadipaten dan Pangandaran. Kegiatan pembangunan yang dilakukan di
Kota Pusat Pertumbuhan dititikberatkan peningkatan pusat pelayanan pendidikan,
kesehatan dan transportasi.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 14
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

e. Daerah Perbatasan Dengan Provinsi Lain


Daerah perbatasan dengan provinsi lain merupakan salah satu prioritas lokasi
pembangunan daerah tahun 2008. Kegiatan akan difokuskan pada daerah perbatasan
dengan Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Cirebon, Ciamis dan Kuningan;
perbatasan dengan DKI di Kabupaten Bogor, Bekasi dan Kota Depok; serta
perbatasan dengan Provinsi Banten di Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Kegiatan di
daerah perbatasan ini dititikberatkan pada perbaikan sarana dan prasarana dasar
permukiman serta infrastruktur wilayah.

f. Kawasan Andalan
Kawasan andalan merupakan suatu deliniasi wilayah yang apabila dilakukan sedikit
dorongan intervensi ekonomi akan mendongkrak perkembangan ekonomi di wilayah
tersebut. Berdasarkan PP No. 47 Tahun 2001 terdapat 8 kawasan andalan di Jawa
Barat. Pada tahun 2008 kegiatan di kawasan andalan akan difokuskan pada seluruh
kawasan andalan yaitu Cekungan Bandung, Bodebek, Sukabumi, Bopunjur,
Purwasuka, Ciayumajakuning, Pangandaran dan Priangan Timur. Kegiatan
pembangunan di kawasan andalan akan dititikberatkan pada pengembangan investasi
untuk mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal dan berorientasi
ekspor serta upaya mempertahankan investasi lama dan merangsang tumbuhnya
usaha ekonomi baru.

g. Daerah Rawan Bencana

Pada tahun 2005 dan tahun 2006 wilayah Jawa Barat didera bencana alam dengan
frekuensi yang cukup tinggi. Untuk menghindari resiko bencana dan meminimalkan
dampak bencana alam maka intervensi yang berupa kegiatan mitigasi bencana alam
perlu ditingkatkan. Daerah rawan bencana alam yang merupakan fokus adalah
daerah rawan bencana banjir dan gerakan tanah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 III - 15
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB IV
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN TAHUN 2008

Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2008 disusun berdasarkan pada isu strategis dan prioritas pembangunan daerah
sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya dan dituangkan ke dalam bentuk matrik yang terdiri dari Rencana Kerja Prioritas Pembangunan
tahun 2008 dan Rencana Kerja Penunjang Pembangunan tahun 2008. Rencana Kerja Prioritas Pembangunan tahun 2008 didasarkan pada
fokus-fokus dari prioritas pembangunan dan merupakan rencana kerja yang berisi indikasi kegiatan yang diprioritaskan untuk menjawab isu
strategis yang dihadapi saat ini. Sedangkan Rencana Kerja Penunjang merupakan rencana kerja yang memuat indikasi kegiatan untuk
mendukung pencapaian sasaran program Rencana Kerja Prioritas yang diuraikan berdasarkan Misi dan Program Pembangunan Jawa Barat.
Program-program pembangunan tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Rencana Strategis
Pemerintah Provinsi Jawa Barat 2003-2008, terdiri dari 49 program meliputi :
1. Program Peningkatan Pendidikan Dasar dan Pra Sekolah
2. Program Peningkatan Pendidikan Menengah dan Tinggi
3. Program Peningkatan Pendidikan Luar Sekolah
4. Program Peningkatan Pendidikan Luar Biasa
5. Program Sumber Daya Kesehatan
6. Program Upaya Kesehatan
7. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Perumahan dan Permukiman
8. Program Peningkatan Kompetensi, Penempatan, Perluasan, Perlindungan dan Pengawasan Tenaga Kerja
9. Program Peningkatan Aktivitas, Kreativitas dan Kelembagaan Pemuda
10. Program Peningkatan Pemberdayaan Perempuan
11. Program Peningkatan Olahraga
12. Program Pengembangan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian dan IPTEK

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 1


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

13. Program Pengembangan Agribisnis


14. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
15. Program Pengembangan Usaha dan Pemanfaatan Sumberdaya Kelautan
16. Program Pengembangan Industri Manufaktur
17. Program Pengembangan Perdagangan Dalam dan Luar Negeri
18. Program Pengembangan Kepariwisataan
19. Peningkatan Mutu produk dan Pelayanan Jasa
20. Pengembangan dan Penguatan Koperasi, UKM, BUMD dan Lembaga Keuangan Daerah.
21. Program Peningkatan Penanaman Modal di Daerah Untuk Menciptakan Perluasan Kesempatan Kerja
22. Program Pengembangan Sumberdaya Mineral dan Panas Bumi
23. Program Pengembangan Infrastruktur Transportasi dan Telekomunikasi
24. Program Pengembangan dan Pengelolaan Infrastruktur Sumber Daya Air dan Irigasi
25. Program Pengembangan dan Pengelolaan Infrastruktur Listrik dan Energi
26. Program Penataan dan Pembentukan Hukum Daerah, Serta Kesadaran Hukum dan HAM
27. Program Perencanaan, Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan
28. Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur
29. Program Peningkatan Kualitas Sumberdaya Aparatur Pemerintah
30. Program Pemantapan Otonomi Daerah dan Kerjasama Daerah
31. Program Pemantapan Pemerintahan dan Pembangunan Desa
32. Program Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah
33. Program Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat Desa
34. Program Pengendalian Pertumbuhan Penduduk
35. Program Penataan Ruang
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 2
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

36. Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan


37. Program Peningkatan Efektifitas Pengelolaan dan Konservasi SDA dan LH
38. Program Pemantapan Kawasan Lindung
39. Program Peningkatan Pemahaman dan Pengamalan agama
40. Program Peningkatan Kerukunan Hidup Intern dan Antar Umat Beragama
41. Program Penelusuran Sejarah dan Pelestarian Nilai-nilai Tradisional
42. Program Peningkatan Apresiasi Seni
43. Program Pelestarian dan Pengembangan Bahasa, Aksara dan Sastra Daerah
44. Program Pemberdayaan Infrastruktur dan Suprastruktur Politik
45. Program Peningkatan Kesadaran Politik
46. Program Pemeliharaan Ketentraman dan Ketertiban Umum serta Perlindungan Masyarakat
47. Program Peningkatan Kesejahteraan Sosial
48. Program Perlindungan Perkembangan Sosial Anak dan Remaja
49. Program Pembinaan Lembaga Sosial Keagamaan

Menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, bahwa
rencana kerja Prioritas dan Penunjang yang merupakan Belanja Langsung (BL) dan kegiatan-kegiatan lain yang dialokasikan dari Belanja Tidak
Langsung (BTL) harus mengacu kepada 49 program. Hal tersebut untuk mengintegrasikan perencanaan dan penganggaran yang telah
dibelanjakan sehingga dapat dinilai pencapaian kinerjanya.
Prioritas pembangunan yang diwadahi dalam program-program, didukung pula oleh program lain untuk mengakselerasi pencapaian
IPM diantaranya melalui Program Pendanaan Kompetisi (PPK) – Index Pembangunan Manusia (IPM) dan Program Raksa Desa. Program PPK-
IPM merupakan metode atau pendekatan pelaksanaan pembangunan dengan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan pada bidang kesehatan,

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 3


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

pendidikan dan daya beli didukung oleh pendekatan yang akurat, peningkatan kemampuan (capacity building) aparat dan masyarakat serta
manajemen.

4.1 MATRIKS RENCANA KERJA PRIORITAS PEMBANGUNAN TAHUN 2008

1. Peningkatan Aksesibilitas, Kualitas dan Tata Kelola Pendidikan

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan Sarana dan Prasarana 1. Peningkatan Pendidikan 1. Meningkatnya kualitas sarana dan Rehabilitasi Gedung SD/MI, 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Pendidikan Dasar Dan Pra Sekolah prasarana SD/MI sebanyak dan SMP/MTs ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
16.466 lokal dan SMP/MTs
sebanyak 3.109 lokal
2. Meningkatnya daya tampung Penambahan RKB SMP/MTs 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
sarana prasarana SMP/MTs ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
sebanyak 2.373 lokal
3. Meningkatnya layanan PAUD • Peningkatan kualitas dan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
kuantitas PAUD ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
• Pemberdayaan pengelola 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
satuan PAUD sejenis ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
2. Peningkatan Pendidikan Meningkatnya daya tampung Rehabilitasi dan penambahan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBD Provinsi
Menengah dan Tinggi SMA/SMK sebanyak 500 lokal Ruang Kelas Baru SMA/SMK ƒ Kanwil Depag
2. Peningkatan Ketersediaan dan Kualitas Peningkatan Pendidikan Dasar 1. Meningkatnya kompetensi dan ƒ Pemerataan kesempatan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Guru, serta Mutu dan Relevansi Lulusan Dan Pra Sekolah meningkatnya kesejahteraan guru diklat bagi guru SD/MI dan ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
Pendidikan SMP/MTs
ƒ Pemerataan distribusi guru 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Peningkatan kesejahteraan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
guru di daerah terpencil ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Sertifikasi guru 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
2. Meningkatnya kualitas lulusan Penyelenggaraan Ujian 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pendidikan Nasional yang akuntabel di 25 ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
Kabupaten/Kota
3. Pengembangan Pendidikan Alternatif dan 1. Peningkatan Pendidikan Meningkatnya kualitas lulusan dan ƒ Penyelenggaraan SD-SMP 16 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Pendidikan Non Formal Dasar dan Pra Sekolah daya tampung SMP/MTs Satu Atap ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Penyelenggaraan kelas 16 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
jauh SMP 64 lokal ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Pengembangan Induk SMP 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Terbuka 195 kecamatan ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Pengembangan Pendidikan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Kecakapan Hidup (PKH) ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
ƒ Pengembangan Pendidikan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Teknologi Dasar (PTD) ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 4


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

2. Peningkatan Pendidikan Luar Meningkatnya kualitas dan kuantitas ƒ Pengembangan kejar paket Daerah terpencil di 16 ƒ Dinas Pendidikan APBN
Sekolah pendidikan non formal A, B, dan C di komunitas Kabupaten ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
dan lokasi yang sulit ƒ Kanwil Depag
mengakses pendidikan ƒ Disnakertrans
ƒ BAPUSDA
ƒ Pengembangan 25 Kab/Kota Dinas Pendidikan APBN
keaksaraan fungsional APBD Provinsi
ƒ Peningkatan kualitas dan 25 Kab/Kota Dinas Pendidikan APBN
kesejahteraan tenaga APBD Provinsi
pendidik non formal
ƒ Pembinaan dan 25 Kab/Kota Dinas Pendidikan APBN
pengembangan lembaga APBD Provinsi
kursus
ƒ Peningkatan kapasitas 25 Kab/Kota Dinas Pendidikan APBN
PKBM APBD Provinsi
4. Peningkatan Tata Kelola Pendidikan dan 1. Peningkatan Kualitas Sumber Meningkatnya kinerja manajemen ƒ Peningkatan kinerja 25 Kab/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Pencitraan Publik Daya Aparatur Pemerintah pengelolaan pendidikan manajemen birokrasi ƒ Biro Organisasi APBD Provinsi
pendidikan
ƒ Peningkatan implementasi 25 Kab/Kota Dinas Pendidikan APBN
manajemen berbasis APBD Provinsi
sekolah
2. Program Pengembangan dan Tersedianya data yang mutakhir dan Revitalisasi sistem informasi 25 Kab/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Pemanfaatan Hasil Penelitian akuntabel. manajemen data pendidikan ƒ Bapesitelda APBD Provinsi
dan IPTEK dan infrastruktur teknologi
informasinya

2. Peningkatan Pemahaman dan Pengamalan Nilai-nilai Agama dan Budaya Daerah

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Pelestarian dan Pengembangan Budaya 1. Pelestarian dan Meningkatkan apresiasi masyarakat ƒ Penggunaan bahasa 25 Kab/Kota ƒ Disbudpar APBD
Daerah Pengembangan Bahasa, terhadap bahasa daerah daerah di lembaga ƒ Dinas Pendidikan APBN
Aksara Dan Sastra Daerah pemerintahan, pendidikan
dan masyarakat;
ƒ Peningkatan apresiasi 25 Kab/Kota ƒ Disbudpar APBN
masyarakat terhadap ƒ Dinas Pendidikan APBD
bahasa daerah
ƒ Peningkatan kemampuan 25 Kab/Kota ƒ Disbudpar APBN
guru bahasa daerah ƒ Dinas Pendidikan APBD
2. Peningkatan Apresiasi Seni Meningkatnya apresiasi masyarakat ƒ Kreativitas seni dan budaya 25 Kab/Kota ƒ Disbudpar APBN
terhadap seni dan budaya daerah daerah oleh masyarakat ƒ Bapusda APBD
melalui berbagai media
ƒ Pergelaran dan Apresiasi 25 Kab/Kota Disbudpar APBN
seni tradisional dan APBD
kontemporer
ƒ Pembinaan terhadap 25 Kab/Kota Disbudpar APBN
lembaga-lembaga kesenian APBD

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 5


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

3. Program Penelusuran Terpeliharanya dan ƒ Penanaman nilai-nilai Jawa Barat ƒ Disbudpar APBD
Sejarah dan Pelestarian Nilai- termanfaatkannya nilai-nilai budaya daerah di ƒ Dinas Pendidikan
nilai Tradisional tradisional, peninggalan kesejarahan, masyarakat ƒ Biro Yansos
permuseuman dan kepurbakalaan
ƒ Pengembangan kearifan Jawa Barat ƒ Disbudpar APBD
bagi pengembangan budaya daerah
lokal dalam kehidupan ƒ Dinas Pendidikan
masyarakat
ƒ Penghimpunan, Jawa Barat ƒ Disbudpar APBD
pengelolaan dan ƒ Bapusda
pemberdayaan koleksi
permuseuman dan
perpustakaan Jawa Barat
2. Peningkatan Budaya Hidup Bersih dan 1. Upaya Kesehatan 1. Mendorong peningkatan mutu Melakukan sosialisasi Kabupaten/Kota dengan ƒ Distarkim APBD
Lingkungan Sehat kesehatan lingkungan perumahan lingkungan sehat indeks kesehatan lebih ƒ Dinas Kesehatan
rendah dari rata-rata Jawa ƒ BPMD
Barat
2. Menggerakkan promosi dan Promosi kesehatan dan 25 Kab./Kota Dinkes APBN
penyebarluasan informasi pemberdayaan masyarakat APBD Provinsi
kesehatan serta pemberdayaan
masyarakat.
2. Pendidikan Dasar dan Pra Meningkatnya pengetahuan tentang Pendidikan lingkungan hidup Jawa Barat ƒ Dinas Pendidikan APBD
Sekolah lingkungan hidup sehat bagi siswa berbasis sekolah ƒ BPLHD
sekolah
3. Peningkatan Implementasi Nilai-nilai 1. Peningkatan Pemahaman dan 1. Terciptanya suasana kehidupan ƒ Pengembangan dialog Kabupaten/Kota se-Jawa ƒ Biro Yansosdas APBD
Agama Pengamalan Agama keagamaan yang kondusif di Jawa antar pemuka agama Barat ƒ Kanwil Depag
Barat ƒ Peningkatan kemampuan Kabupaten/Kota se-Jawa ƒ Biro Yansosdas APBD
para juru da’wah Barat ƒ Kanwil Depag
2. Meningkatnya pemahaman dan Implementasi kesalehan Kabupaten/Kota se-Jawa ƒ Biro Yansosdas APBD
pengamalan agama dalam sosial oleh aparatur Pemda Barat ƒ Kanwil Depag
kehidupan bermasyarakat
2. Peningkatan Kerukunan Hidup Terfasilitasinya kegiatan intern dan Pembinaan kerukunan hidup Kabupaten/Kota se-Jawa ƒ Biro Yansosdas APBD
Intern dan Antar Umat kegiatan antar umat beragama. umat beragama. Barat ƒ Kanwil Depag
Beragama
4. Pelestarian dan Pengembangan Desa Penelusuran Sejarah dan Terpeliharanya dan ƒ Pembinaan, pelestarian, Desa Budaya di Jawa Barat Disbudpar APBD
Budaya Pelestarian Nilai –nilai Tradisional termanfaatkannya nilai-nuilai dan pengembangan Desa
tradisional, peningglan kesejarahan, Budaya
permuseuman, dan kepurbakalaan ƒ Penataan lingkungan Desa Desa Budaya di Jawa Barat Disbudpar APBD
bagi pengembangan budaya daerah Budaya
ƒ Pembinaan dan Jawa Barat Disbudpar APBD
Pengembangan kearifan
lokal
ƒ Pengembangan Desa/kawasan Budaya di ƒ Disbudpar APBD
Desa/kawasan Budaya Jawa Barat ƒ Distarkim APBN
sebagai potensi Pariwisata
5. Peningkatan Pendidikan Budi Pekerti 1. Peningkatan Pemahaman Meningkatnya pemahaman dan ƒ Pengembangan Nilai-nilai 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
dan Pengamalan Agama pengamalan nilai-nilai ajaran agama ajaran agama di sekolah ƒ Kanwil Depag APBD
sebagai dasar bagi pendidikan budi ƒ Implementasi nilai-nilai 25 Kabupaten/Kota ƒ Biro Yansos APBN
pekerti ajaran agama ƒ Kanwil Depag APBD

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 6


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

ƒ Mengoptimalkan fungsi 25 Kabupaten/Kota ƒ Kanwil Depag APBN


kader juru dakwah dan ƒ Biro Yansos APBD
DKM dalam
pengembangan
pendidikan budi pekerti di
lingkungan RT/RW
2. Peningkatan Pendidikan Meningkatnya pemahaman dan ƒ Pengembangan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Dasar Dan Pra Sekolah pengamalan nilai-nilai tentang etika pendidikan berbasis nilai ƒ Kanwil Depag APBD
dan budi pekerti di lingkungan ƒ Pengembangan kurikulum 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pendidikan dasar dan pra sekolah.
muatan lokal tentang etika ƒ Kanwil Depag APBD
dan budi pekerti
ƒ Mengembangkan kearifan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
lokal dan nilai-nilai budaya ƒ Disbudpar APBD
daerah di Sekolah
ƒ Pelatihan pendidikan budi 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pekerti bagi guru SDMI ƒ Disbudpar APBD
dan SLTP/MTs
6. Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Peningkatan Pendidikan Dasar 1. Terlaksananya pendidikan ƒ Sosialisasi kepada guru 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Sekolah Dan Pra Sekolah lingkungan hidup bagi siswa TK/RA, SD/MI dan ƒ Kanwil Depag APBD
SD/MI, SLTP/MTs dan pra SLTP/MTs tentang ƒ BPLHD
sekolah. kurikulum lingkungan
hidup
ƒ Pengembangan kurikulum 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
lingkungan hidup di tingkat ƒ Kanwil Depag APBD
pendidikan dasar dan pra ƒ BPLHD
sekolah
ƒ Pelaksanaan kurikulum 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
lingkungan hidup di tingkat ƒ Kanwil Depag APBD
pendidikan dasar dan pra ƒ BPLHD
sekolah
2. Terwujudnya pengetahuan dan ƒ Pengembangan Sekolah 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pemahaman siswa tentang hijau ƒ BPLHD APBD
lingkungan hidup

3. Peningkatan Aksesibilitas dan Kualitas Kesehatan Masyarakat

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan Sarana dan Prasarana Sumber Daya Kesehatan Mendorong peningkatan dan Pengembangan sarana dan 25 Kabupaten/Kota Dinkes APBN
Kesehatan Dasar penyediaan sarana dan prasarana prasarana kesehatan dan APBD Provinsi
kesehatan yang dapat diakses balai pengembangan
masyarakat dengan cepat dan laboratorium kesehatan
murah.
2. Penyediaan Sumber Daya Kesehatan Sumber Daya Kesehatan Mendorong peningkatan • Pengembangan dan Daerah Terpencil Dinkes APBN
terutama untuk Daerah Perbatasan dan pemerataan, kualitas dan kuantitas pendayagunaan tenaga APBD Provinsi
Desa Tertinggal tenaga kesehatan (Dokter di kesehatan
Puskesmas 70% dan Bidan di Desa • Pengembangan balai 25 Kabupaten/Kota Dinkes APBN
Terpencil 80%) pelatihan tenaga kesehatan APBD Provinsi
masyarakat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 7


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

3. Pencegahan dan Pemberantasan Upaya Kesehatan 1. Menggerakkan upaya Pencegahan, penanganan dan 25 Kab/kota ƒ Dinkes APBN
Penyakit Menular terutama Daerah pencegahan, pemberantasan, dan pemberantasan penyakit ƒ RSJ Cimahi APBD Provinsi
Perbatasan dan Desa Tertinggal pengendalian penyakit menular ƒ RSJ Bandung
dan tidak menular ƒ KP4 Cirebon
(Desa/Kelurahan mengalami KLB
ƒ RSP Sidawangi
yang dapat ditangani < 24 jam
95%, AFP Rate/100.000 ƒ Distarkim
penduduk <15 tahun <1%, ƒ Biro Yansos
kesembuhan penderita TBC-BTA
Positif >80%, cakupan balita
dengan Pnemonia yang ditangani
95%, meningkatnya pelayanan
kesehatan jiwa klien yang
mendapat pelayanan HIV/AIDS
95%, Infeksi menular seksual
yang diobati 95%, penderita DBD
yang diobati 75%, balita diare
yang ditangani 75%, dan rumah
bebas jentik 90%), API penderita
Malaria < 1/1000, kewaspadaan
dini dan penanggulangan
terhadap penderita Polio, Kusta,
Jantung dan gangguan sirkulasi,
Diabetes Mellitus dan Kanker.
2. Mendorong peningkatan Peningkatan surveilance 25 Kab/Kota Dinkes APBN
surveilance penyakit & penyakit APBD Provinsi
penanggulangan KLB/bencana
serta imunisasi
4. Peningkatan Cakupan Pelayanan Upaya Kesehatan 1. Mendorong upaya perbaikan gizi, Perbaikan gizi masyarakat 25 Kab/Kota Dinkes APBN
Kesehatan Dasar bagi seluruh penduduk melalui kewaspadaan pangan APBD Provinsi
(Kecamatan Bebas Rawan Gizi
65%, cakupan balita mendapat
kapsul vitamin A 2x per tahun
85%, cakupan Ibu Hamil
mendapat 90 tablet Fe 85%,
cakupan pemberian makanan
pendamping ASI bayi Gakin 95%,
dan Balita Gizi Buruk mendapat
Perawatan 90%).
2. Mendorong peningkatan cakupan Peningkatan pelayanan 25 Kab/Kota Dinkes APBN
pelayanan kesehatan (Linakes kesehatan keluarga APBD Provinsi
80%)
3. Mendorong peningkatan rujukan Peningkatan pelayanan 25 Kab/Kota Dinkes APBN
ibu hamil risiko tinggi & bayi kesehatan bagi ibu hamil dan APBD Provinsi
(Rujukan Bumil Risti 75% dan anak
Neonatal Risti 75%)
5. Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Upaya Kesehatan 1. Menggerakkan perilaku hidup Revitalisasi Posyandu 25 Kab/Kota • Dinkes APBD Provinsi
dalam Bidang Kesehatan sehat • BPMD
2. Menggerakkan peranserta Promosi Pembangunan 25 Kab/Kota Dinkes APBN
kelembagaan di perdesaan Kesehatan
6. Peningkatan Kualitas Sarana dan Pengembangan Sarana dan Meningkatkan kapasitas daya dukung • Memfasilitasi pembangunan Kota Pusat Pertumbuhan Distarkim APBN
Prasarana Perumahan dan Permukiman Prasarana Perumahan dan perumahan di perkotaan perumahan bagi APBD Provinsi
di Kota Pusat Pertumbuhan Perkotaan masyarakat berpenghasilan
rendah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 8


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

• Fasilitasi pelaksanaan Jawa Barat Biro Yansos APBD Provinsi


pembangunan bidang
permukiman

4. Pemberdayaan Penduduk Miskin

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan akses pendidikan bagi siswa Program Peningkatan Pendidikan Menurunnya angka drop out (DO) Pemberian bantuan beasiswa 25 Kab./Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Miskin Dasar dan Pra Sekolah siswa pendidikan dasar bagi siswa dari keluarga ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
miskin
2. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Bagi 1. Sumberdaya Kesehatan 1. Mendorong peningkatan Peningkatan keterjangkuan 6 Kabupaten ( Kab. Dinskes APBN
Penduduk Miskin penyediaan obat baik generik harga obat dan perbekalan Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
maupun esensial kesehatan untuk keluarga Kab. Bandung, Kab.
miskin Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
2. Meningkatnya pertolongan ƒ Peningkatan peran serta 6 Kabupaten ( Kab. Dinskes APBN
persalinan oleh tenaga kesehatan masyarakat dalam Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
menentukan pelayanan Kab. Bandung, Kab.
kesehatan masyarakat Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
ƒ Peningkatan ketersediaan 6 Kabupaten ( Kab. Dinskes APBN
pelayanan kesehatan yang Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
bermutu dan terjangkau Kab. Bandung, Kab.
oleh keluarga miskin Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
2. Upaya Kesehatan 1. Mendorong penyediaan jaminan Pelayanan asuransi kesehatan 6 Kabupaten ( Kab. Dinskes APBN
pembiayaan kesehatan pra bayar gakin (Askeskin) Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
bagi keluarga miskin dan Kab. Bandung, Kab.
masyarakat rentan 95% Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
2. Mendorong penurunan angka gizi Peningkatan pengetahuan 6 Kabupaten ( Kab. Dinskes APBN
kurang dan buruk pada balita masyarakat miskin tentang gizi Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
dan perawatan anak Kab. Bandung, Kab.
Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
3. Peningkatan Kualitas Sarana dan Pengembangan Sarana dan 1. Meningkatnya Kualitas dan ƒ Memfasilitasi Penyediaan 6 Kabupaten ( Kab. • Distarkim APBN
Prasarana Perumahan dan Permukiman Prasarana Perumahan dan Cakupan Pelayanan Air bersih Air bersih Sukabumi, Kab. Bogor, • Distamben APBD Provinsi
Bagi Penduduk Miskin Terutama di Desa Permukiman dan Sanitasi Kab. Bandung, Kab.
Tertinggal Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
ƒ Memfasilitasi Penyediaan 6 Kabupaten ( Kab. Distarkim APBN
Sanitasi Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
Kab. Bandung, Kab.
Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
2. Meningkatnya Kualitas ƒ Sosialisasi Lingkungan 6 Kabupaten ( Kab. Distarkim APBN
Perumahan Rumah Sehat Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
Kab. Bandung, Kab.
Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 9


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

ƒ Memberikan Bantuan 6 Kabupaten ( Kab. Distarkim APBN


Stimulan Untuk Sukabumi, Kab. Bogor, APBD Provinsi
Meningkatkan Kualitas Kab. Bandung, Kab.
Perumahan Garut, Kab. Indramayu,
Kab. Karawang
4. Peningkatan Peluang Berusaha Bagi 1. Peningkatan Agribisnis Meningkatnya pendapatan petani ƒ Pengembangan usaha Kab. Bandung, Bogor, ƒ Dinas Perkebunan APBN
Penduduk Miskin dan nelayan masyarakat perkebunan Sukabumi, Indramayu, ƒ Dinas Kehutanan APBD Provinsi
dan sekitar hutan Garut, Karawang ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Diversifikasi agribisnis Kab. Bandung, Bogor, ƒ Dinas Perkebunan APBN
Sukabumi, Indramayu, ƒ Dinas Pertanian APBD Provinsi
Garut, Karawang ƒ Dinas Perikanan
ƒ Dinas Kehutanan
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod
2. Pengembangan dan 1. Meningkatnya partisipasi ƒ Pengembangan usaha Kab. Sukabumi, Kab. ƒ Dinas Perkebunan APBN
penguatan KUKM, BUMD dan masyarakat miskin dalam peluang diluar pertanian ( off farm) Bogor, Kab. Bandung, ƒ Dinas Pertanian APBD
Lembaga Keuangan Daerah berusaha di pedesaan Kab. garut, Kab. ƒ Dinas Perikanan
Indramayu, Kab. ƒ Dinas Kehutanan
Karawang
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod
ƒ Peningkatan kerjasama Kab. Sukabumi, Kab. ƒ Dinas Perkebunan APBN
antar lembaga, antar bursa Bogor, Kab. Bandung, ƒ Dinas Pertanian APBD
ekonomi dan Kab. garut, Kab. ƒ Dinas Perikanan
Indramayu, Kab. ƒ Dinas Kehutanan
Karawang
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod
2. Meningkatnya akses terhadap ƒ Pengembangan mekanisme Kab. Sukabumi, Kab. ƒ Dinas Perkebunan APBN
sumber permodalan melalui penyaluran kredit bagi Bogor, Kab. Bandung, ƒ Dinas Pertanian APBD
lembaga keuangan mikro dan usaha koperasi, dan usaha Kab. garut, Kab. ƒ Dinas Perikanan
penguatan kelembagaan KUKM di mikro dan kecil dengan Indramayu, Kab. ƒ Dinas Kehutanan
pedesaan bunga yang terjangkau Karawang
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod
ƒ Perlindungan dan dukungan Kab. Sukabumi, Kab. ƒ Dinas Perkebunan APBN
bagi lembaga keuangan Bogor, Kab. Bandung, ƒ Dinas Pertanian APBD
mikro Kab. garut, Kab. ƒ Dinas Perikanan
Indramayu, Kab. ƒ Dinas Kehutanan
Karawang
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod
ƒ Penguatan dan Kab. Sukabumi, Kab. ƒ Dinas Perkebunan APBN
pembentukan lembaga Bogor, Kab. Bandung, ƒ Dinas Pertanian APBD
keuangan keuangan mikro Kab. garut, Kab. ƒ Dinas Perikanan
Indramayu, Kab. ƒ Dinas Kehutanan
Karawang
ƒ Dinas Peternakan
ƒ Dinas Indag Agro
ƒ Binprod

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 10


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

5. Peningkatan Kompetensi dan Perlindungan Ketenagakerjaan

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan Keterampilan Peningkatan Kompetensi, Meningkatnya Kompetensi Tenaga • Pembinaan dan Fasilitasi Jawa Barat • Disnakertrans APBN
Ketenagakerjaan Bagi Pencari Kerja Penempatan, Perluasan, Kerja melalui Sertifikasi dan Pelatihan Lembaga Pelatihan dan APBD Provinsi
Perlindungan dan Pengawasan serta Pembinaan Institusional produktivitas
Tenaga Kerja. BLK/LKK. • Standarisasi Sertifikasi Jawa Barat • Disnakertrans APBN
APBD Provinsi
• Pelatihan Jawa Barat • Disnakertrans APBN
Ketenagakerjaan APBD Provinsi
2. Peningkatan Peluang Kerja Peningkatan Kompetensi, Meningkatnya Penempatan Tenaga • Penempatan Tenaga Jawa Barat • Disnakertrans APBN
Penempatan, Perluasan, Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja APBD Provinsi
Perlindungan dan Pengawasan Kerja di Dalam dan Luar Negeri.
• Perluasan Lapangan Kerja Jawa Barat • Disnakertrans APBN
Tenaga Kerja.
APBD Provinsi
3. Peningkatan Peran dan Fungsi Peningkatan Kompetensi, 1. Meningkatnya Perlindungan serta Perlindungan dan Jawa Barat • Disnakertrans APBN
Kelembagaan Hubungan Industrial Penempatan, Perluasan, Pengawasan Tenaga Kerja dan Pengawasan • Biro Bangsos APBD Provinsi
Perlindungan dan Pengawasan Perusahaan. Ketenagakerjaan
Tenaga Kerja.
2. Meningkatnya Pemberdayaan • Pembinaan Hubungan Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
Hubungan Industrial melalui Industrial ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
Pengembangan Lembaga-lembaga
• Perencanaan Tenaga Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
Ketenagakerjaan
Kerja Daerah ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi

6. Peningkatan Peran Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Industri Kecil dan Menengah

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Pengembangan KUKM dan IKM Terutama Pengembangan dan Penguatan 1. Meningkatnya peran KUKM dan Pengembangan UKM di Desa 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN
di Desa Pusat Pertumbuhan Koperasi, UKM, BUMD dan IKM di pedesaan. Pusat Pertumbuhan (DPP) • Biro Sarek APBD Provinsi
Lembaga Keuangan Daerah dan Desa Tertinggal (DT).

2. Terintegrasinya jaringan business Pengembangan jaringan 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN


KUKM pedesaan dengan IKM di kerjasama antara UKM di DPP • Din Pertanian APBD Provinsi
perkotaan. (Agropolitan) dengan IKM di Tanaman Pangan
perkotaan (Centre Business • Dinas Indag
Distrik).
• Dinas Indag Agro
2. Peningkatan Wirausaha Baru Pengembangan dan Penguatan Terbentuknya wirausaha baru yang • Fasilitasi pelatihan Kab/Kota Sukabumi, • Dinas Indag APBN
Koperasi, UKM, BUMD dan memiliki daya saing kewirausahaan bagi Bekasi, Bogor, Bandung, • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
Lembaga Keuangan Daerah pengusaha baru Cirebon, Pangandaran - • Dinas KUKM
(kemampuan teknik an Ciamis,
entrepreuneurship).
• Pendampingan dan Kab/Kota Sukabumi, • Dinas Indag APBN
monitoring bisnis pelaku Bekasi, Bogor, Bandung, • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
usaha baru. Cirebon, Pangandaran- • Dinas KUKM
Ciamis,

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 11


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

• Fasilitasi kegiatan Kab/Kota Sukabumi, • Dinas Indag APBN


pemagangan di Bekasi, Bogor, Bandung, • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
perusahaan besar yang Cirebon, Pangandaran- • Dinas KUKM
terkait dengan kegiatan Ciamis,
wirausaha baru
• Fasilitasi permodalan dan Kab/Kota Sukabumi, • Dinas Indag APBN
keringanan biaya perizinan Bekasi, Bogor, Bandung, • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
bagi wirasuaha baru. Cirebon, Pangandaran- • Dinas KUKM
Ciamis,

7. Peningkatan Investasi Untuk Perluasan Kesempatan Kerja

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Penyederhanaan prosedur dan Peningkatan Penanaman Modal Terwujudnya Penyederhanaan ƒ Menciptakan Jawa Barat • BPPMD APBN
kelembagaan perizinan investasi di di Daerah Untuk Menciptakan Regulasi dan Mekanisme Pelayanan penyederhanaan prosedur • Biro Sarek APBD Provinsi
daerah Perluasan Kesempatan Kerja Investasi yang terkoordinasi dan perizinan investasi melalui
efektif One Stop Services (OSS)
pelayanan investasi.
ƒ Pemanfaatan Teknologi Jawa Barat • BPPMD APBN
Informasi dan Komunikasi • Biro Sarek APBD Provinsi
(TIK) dalam pelayanan • Bapesitelda
investasi One Stop Service
(OSS)
ƒ Membangun mekanisme Jawa Barat • BPPMD APBN
pelayanan investasi yang • Biro Sarek APBD Provinsi
terkoordinasi dan efektif
Provinsi Jawa Barat
2. Optimalisasi promosi untuk menarik Peningkatan Penanaman Modal Terkoordinasinya penyelenggaraan • Fasilitasi koordinasi Jawa Barat • Dinas Indag APBN
investasi baru. di Daerah Untuk Menciptakan promosi secara efektif dan efisien. peningkatan investasi di • BPPMD APBD Provinsi
Perluasan Kesempatan Kerja Jawa Barat • Biro Sarek
• Peningkatan kerjasama Jawa Barat • Dinas Indag APBN
dan promosi investasi • BPPMD APBD Provinsi
investasi di kawasan • Biro Sarek
khusus.
3. Pemberian insentif bagi kegiatan Peningkatan Penanaman Modal Meningkatnya realisasi investasi • Peningkatan PMA/PMDN Jawa Barat • BPPMD APBN
investasi di daerah di Daerah Untuk Menciptakan PMA/PMDN di Jawa Barat. melalui pemberian insentif • Biro Sarek ABPD Provinsi
Perluasan Kesempatan Kerja
• Kajian sistem Jawa Barat • BPPMD APBN
perpajakan/retribusi yang • Biro Sarek ABPD Provinsi
terkait dengan investasi di
Jawa Barat.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 12


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

8. Revitalisasi Agribisnis dan Industri

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan peran dan fungsi penyuluh Pengembangan Agribisnis Meningkatnya kapasitas • Peningkatan kinerja 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
pertanian kelembagaan dan pemberdayaan penyuluh pertanian ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
sumberdaya penyuluh pertanian ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Pengembangan penyuluh 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
swakarsa ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Penyelenggaraan 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
Pendidikan dan Pelatihan ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
Teknologi Tepat Guna bagi ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
penyuluh pertanian dan ƒ Dinas Peikanan
penyuluh swakarsa.
ƒ Biro Bina Produksi
• Meningkatkan kualitas 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
sarana balai penyuluh ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
pertanian. ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Perikanan
ƒ Biro Bina Produksi
2. Peningkatan produktivitas, produksi, 1. Pengembangan Agribisnis Meningkatnya produktivitas produksi, • Pengembangan agribisnis 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
distribusi serta diversivikasi pangan distribusi, serta disertifikasi agribisnis berbasis komoditas ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
unggulan ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Pengawasan dan 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
pengendalian peredaran ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
input produksi ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Penanganan panen dan 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
pasca panen untuk ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
mengurangi kehilangan ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
hasil ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Penganekaragaman usaha 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
tani ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
• Antisipasi terhadap cuaca 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian APBN
dan ketersediaan ƒ Dinas Perkebunan APBD Provinsi
sumberdaya air ƒ Dinas Peternakan APBD Kab./ Kota
ƒ Dinas Peikanan
ƒ Biro Bina Produksi
1. Pengembangan Usaha dan Meningkatnya produktivitas usaha • Pengembangan budidaya Pantai Utara dan Pantai Dinas Perikanan APBN
Pemanfaatan sumberdaya perikanan laut laut dan payau Selatan Jawa Barat APBD Provinsi
Kelautan APBD Kab/ Kota

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 13


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

• Pengembangan usaha Pantai Utara dan Pantai Dinas Perikanan -


perikanan tangkap Selatan Jawa Barat
• Pengembangan teknologi Pantai Utara dan Pantai Dinas Perikanan -
perikanan laut Selatan Jawa Barat
3. Peningkatan Ketahanan Terkendalinya tingkat kerawanan • Pengembangan sistem 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian - APBN
Pangan pangan masyarakat logistik dan distribusi ƒ Dinas Peternakan - APBD Provinsi
pangan ƒ Dinas Peikanan - APBD Kabupaten/
ƒ Biro Bina Produksi Kota
ƒ Dinas Indag Agro
• Meningkatkan kemampuan 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian - APBN
penyediaan pangan yang ƒ Dinas Peternakan - APBD Provinsi
diperlukan. ƒ Dinas Perikanan - APBD Kabupaten/
ƒ Biro Bina Produksi Kota
ƒ Dinas Indagagro
• Pengembangan sistem 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian - APBN
isyarat dini serta sistem ƒ Dinas Peternakan - APBD Provinsi
pemantauan dan ƒ Dinas Perikanan - APBD Kabupaten/
pendataan kondisi pangan ƒ Biro Bina Produksi Kota
yang handal dan akurat
ƒ Dinas Indagagro
• Peningkatan teknologi 16 Kabupaten ƒ Dinas Pertanian - APBN
pangan ƒ Dinas Peternakan - APBD Provinsi
ƒ Dinas Perikanan - APBD Kabupaten/
ƒ Biro Bina Produksi Kota
ƒ Dinas Indagagro
3. Peningkatan upaya pengendalian hama Pengembangan Agribisnis Terkendalinya hama dan penyakit Pengendalian hama dan Jawa Barat ƒ Dinas Pertanian - APBN
dan penyakit tanaman, ternak dan ikan tanaman, ternak dan ikan penyakit tanaman, ternak dan ƒ Dinas Perkebunan - APBD Provinsi
ikan ƒ Dinas Peternakan - APBD Kabupaten/
ƒ Dinas Perikanan Kota
ƒ Biro Bina Produksi
4. Peningkatan Daya Saing Industri Program Pengembangan Industri 1. Meningkatnya nilai tambah dan Kemampuan inovasi produk, Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Manufaktur produktivitas industri manufaktur teknologi dan manajemen • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
2. Pemberdayaan Industri Kecil dan Pengembangan pola Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Menengah kemitraan antar industri • Dinas Indag Agro APBD Provinsi

9. Peningkatan Pelayanan Infrastruktur Wilayah


No. Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana
1. Pengelolaan persampahan di Metropolitan Pengembangan sarana dan Meningkatnya cakupan pelayanan ƒ Refungsionalisasi Lahan Leuwigajah, Kota Cimahi Distarkim APBD Provinsi
Bandung dan Jabodetabekpunjur prasarana perumahan dan persampahan TPA Leuwigajah
permukiman
ƒ Penyiapan DED Calon Citiis dan Legok Nangka, Distarkim APBD Provinsi
Lahan TPA Citiis atau Kab. Bandung
Legok Nangka
2. Peningkatan Pemanfaatan Air Baku di Pengembangan sarana dan Meningkatnya cakupan pelayanan air Pembangunan sarana dan Jawa Barat Distarkim APBD Provinsi
Wilayah Rawan Air Bersih prasarana perumahan dan bersih prasarana pengelolaan air
permukiman baku untuk kegiatan domestik
3. Penyediaan Rumah Bagi Masyarakat Pengembangan sarana dan Meningkatnya kapasitas daya Memfasilitasi pembangunan Wilayah Perkotaan Jawa Distarkim APBN
prasarana perumahan dan rumah bagi masyarakat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 14


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No. Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana
Berpenghasilan Rendah permukiman dukung perumahan dan permukiman berpenghasilan rendah Barat APBD Provinsi
Fasilitasi pelaksanaan Jawa Barat Biro Yansos APBD Provinsi
pembangunan bidang
permukiman
4. Pembangunan jalan dan jembatan di Pengembangan Infrastruktur 1. Terlaksananya pembangunan Pembangunan jalan dan Kab. Cianjur, Kab. Garut, • Dinas Bina Marga APBN
Jabar Selatan, Metropolitan Bandung, dan Transportasi dan Telekomunikasi jalan sepanjang 20,4 Km dan jembatan Bandung, dan Sumedang • Departemen PU
Metropolitan Cirebon, dan PKW Sukabumi jembatan sepanjang 1860 m
2. Terlaksanya pembangunan jalan Pembangunan jalan dan Kab. Kuningan Dinas Bina Marga APBD Provinsi
sepanjang 1,2 Km dan jembatan
pembangunan jembatan
sepanjang 100 m
5. Persiapan pembangunan bandara Pengembangan Infrastruktur Terlaksananya persiapan Desain, fasilitasi dan Kec. Kertajati Kab. • Dinas Perhubungan APBD Provinsi
internasional Transportasi dan Telekomunikasi pembangunan bandara internasional koordinasi pembangunan Majalengka • Setda Jabar APBN
di Jawa Barat bandara internasional di Jawa • Dep. Perhubungan
Barat
6. Peningkatan infrastruktur penyedia air Pengembangan dan Pengelolaan Meningkatnya kondisi dan fungsi ƒ Persiapan pembangunan Cekungan Bandung, • Dinas PSDA APBD Provinsi
baku, pengendali daya rusak air di Infrastruktur Sumber Daya Air situ, waduk dan embung dalam waduk-waduk kecil Bodebek, dan Pantura • Departemen PU APBN
Cekungan Bandung, Bodebek, dan dan Irigasi rangka penyediaan air baku di
Pantura Metropolitan Bandung, Bodebek dan
ƒ Pengelolaan situ, waduk, Cekungan Bandung, • Dinas PSDA APBD Provinsi
dan embung Bodebek, dan Pantura • Departemen PU APBN
Pantura
ƒ Pengelolaan jaringan air Cekungan Bandung, • Dinas PSDA APBD Provinsi
baku. Bodebek, dan Pantura • Departemen PU APBN
ƒ Pengendalian pemanfaatan Cekungan Bandung, • Dinas PSDA APBD Provinsi
air permukaan Bodebek, dan Pantura • Departemen PU APBN
7. Peningkatan infrastruktur irigasi di Pantura Pengembangan dan Pengelolaan Meningkatnya intensitas tanam padi Rehabilitasi dan Peningkatan Daerah Pantura Jawa Barat Dinas PSDA APBD Provinsi
Infrastruktur Sumber Daya Air pada daerah irigasi teknis yang Daerah Irigasi Lintas Kab/Kota
dan Irigasi dikelola oleh Pemerintah dan dan Daerah Irigasi dengan
Pemerintah Daerah di Pantura Jawa Luas antara 1000-3000 Ha
Barat dan diatas 3000 Ha
8. Pembangunan Waduk Jatigede Pengembangan dan Pengelolaan Terlaksananya persiapan dan ƒ Pembebasan tanah dan Kabupaten Sumedang • Dinas PSDA APBD Provinsi
Infrastruktur Sumber Daya Air pembangunan Waduk Jatigede pemindahan penduduk • Biro Sarek APBN
dan Irigasi • Departemen PU
ƒ Fasilitasi dan koordinasi Kabupaten Sumedang • Dinas PSDA APBD Provinsi
pembangunan Waduk • Biro Sarek APBN
Jatigede • Departemen PU
ƒ Pembangunan Waduk Kabupaten Sumedang Departemen PU APBN
Jatigede
9. Pembangunan jalan tol Pengembangan Infrastruktur Terlaksananya persiapan dan Fasilitasi dan koordinasi Jalan Tol Cisumdawu, • Dinas Bina Marga APBD Provinsi
Transportasi dan Telekomunikasi pembangunan Jalan Tol Cileunyi- pembangunan jalan tol Cikacir,Bogor Ring Road, • Biro Sarek APBN
Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), dan Kanci Pejagan • Departemen PU
Cikampek-Cirebon (Cikacir), Bogor
Ring Road, dan Kanci-Pejagan
10. Perluasan jaringan listrik perdesaan Pengembangan dan Pengelolaan Meningkatnya cakupan dan akses Pengembangan listrik Jawa Barat • Distamben APBD Provinsi
Infrastruktur Listrik dan Energi pelayanan listrik terhadap perdesaan / masyarakat di • DESDM APBN
masyarakat daerah melalui perluasan
jaringan PLN dan Non PLN

10. Peningkatan Ketahanan Energi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 15


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Pengembangan dan pendayagunaan Program Pengembangan dan 1. Meningkatnya cakupan dan akses Pengembangan mikrohidro Jabar Selatan Distamben APBD
energi alternatif Pengelolaan Infrastruktur Listrik pelayanan energi listrik bagi dan PLTS
dan Energi masyarakat dan bagi wilayah
Jabar Selatan.
2. Meningkatnya penyediaan energi ƒ Pengembangan Pantura Distamben APBD
alternatif Pemanfaatan Energi Jabar Selatan
Alternatif PLT Angin, dan
Biogas
3. Terfasilitasinya pengembangan ƒ Penyediaan energi Desa Pertumbuhan Distamben APBD
bioenergi alternatif bagi masyarakat
melalui pengembangan
biokerosin, biodiesel,
biofuel
2. Pengembangan energi panas bumi Program pengembangan Termanfaatkannya panas bumi Pengembangan pemanfaatan Kawasan Gunung Distamben APBD
sebagai sumber energi Sumberdaya mineral dan panas untuk direct use dan pembangkit sumberdaya panas bumi di Talagabodas, Papandayan,
bumi listrik Jawa Barat Galunggung, dan Sangkan
Hurip
3. Peningkatan upaya konservasi dan Program Pengembangan dan Terfasilitasinya kegiatan hemat ƒ Kemitraan konservasi Bandung Distamben APBD
penghematan energi Pengelolaan Infrastruktur Listrik energi energi
dan Energi ƒ Monitoring dan evaluasi Bandung Distamben APBD
pelaksanaan
penghematan energi
ƒ Fasilitasi peningkatan Bandung Biro Binprod APBD
gerakan hemat energi

11. Optimalisasi Penanganan Bencana, Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan upaya pengurangan resiko 1. Pemantapan Kawasan 1. Terbangunnya sistem informasi, • Pengembangan sistem Kota Bandung Bapeda APBD
bencana Lindung monitoring dan evaluasi kawasan informasi kawasan lindung 15 kabupaten Dishut, BPLHD
lindung
• Penyusunan sistem Kota Bandung ƒ BPLHD APBD
monitoring dan evaluasi ƒ Bapeda
kawasan lindung ƒ Dishut
2. Meningkatnya fungsi dan kualitas • Rehabilitasi lahan kritis di DAS Citarum, Citanduy, ƒ Dishut APBD
kawasan lindung kawasan lindung Cimanuk dan Ciliwung ƒ Binprod APBN
• Peningkatan pengelolaan Dishut APBD
TAHURA
• Pemeliharaan tanaman DAS Citarum, Citanduy, Dishut APBD
penghijauan dan reboisasi Cimanuk
• Pengelolaan sumberdaya Kawasan Lindung ƒ BPLHD APBD
Kehati ƒ Dishut
3. Terfasilitasinya pemberdayaan Pemberdayaan masyarakat di Garut, Kuningan, Cianjur ƒ Dishut APBD
masyarakat di sekitar kawasan sekitar kawasan hutan atau dan Bandung ƒ Disbun
lindung kawasan lindung non hutan
4. Terkendalinya pemanfaatan, Pengawasan dan Kuningan, Cianjur, Dishut APBD
kerusakan dan keamanan pengamanan hutan Sukabumi dan Ciamis
kawasan lindung
2. Peningkatan efektivitas 1. Tersedianya sistem informasi • Pengembangan Sistem Kota Bandung Bapeda APBD

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 16


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

pengelolaan dan konservasi kebencanaan yang mudah Informasi Kebencanaan


SDA dan lingkungan diakses Jawa Barat
ƒ Penyusunan peta resiko Kota Bandung Distamben APBD
bencana
ƒ Inventarisasi objek/ Jawa Barat Distamben APBN
infrastruktur vital terhadap
bencana
ƒ Fasilitasi dan penyediaan Kab Ciamis, Tasikmalaya, Dept PU, Kelautan & APBN
sistem informasi dan Sukabumi, Cianjur dan Perikanan, Basarnas
pemasangan early warrning Garut
sistem (EWS) pada titik
rawan bencana (tsunami)
dan sistem deteksi
tradisonal
ƒ Penyiapan data lokasi Kab. Sukabumi, Cianjur, Bakesbanglinmasda APBN
untuk pengamanan Bandung, Garut, Tasikmalaya, Dinas Sosial APBD
Ciamis, Sumedang, Majalengka,
masyarakat di daerah
Bekasi, Karawang, Subang,
rawan bencana Indramayu
2. Optimalisasi manajemen ƒ Penyusunan rencana Kota Bandung ƒ Bapeda APBN
kebencanaan kontijensi mitigasi dan ƒ BPLHD
penanganan bencana di
Jawa Barat
ƒ Penyusunan Rencana Aksi Kota Bandung ƒ Bapeda-Satkorlak APBD
Daerah Pengurangan ƒ BPLHD
Resiko Bencana
ƒ Fasilitasi dan simulasi Daerah Rawan Bencana Biro Bansos APBD
pemberdayaan satuan
linmas dalam penanganan
bencana
ƒ Fasilitasi penyusunan Bandung ƒ Distamben APBN
mitigasi bencana di ƒ Bakesbanglinmas APBD
masing-masing daerah
ƒ Penyusunan rancangan Kab bandung Distamben APBD
teknis penataan lahan
akibat bencana longsor
3. Meningkatnya kesiapsiagaan ƒ Pengembangan sistem Daerah rawan bencana, ƒ BPLHD APBD
masyarakat dalam menghadapi peringatan dini, mekanisme banjir, stunami ƒ Biro Bansos
bencana mitigasi berbasis ƒ Distamben
masyarakat
ƒ Pelatihan dan sosialisasi Daerah rawan bencana, ƒ Distamben APBD
menghadapi bencana bagi banjir, gerakan tanah ƒ Biro Bansos
masyarakat di daerah
rawan bencana
ƒ Pelatihan dan sosialisasi Jawa Barat ƒ Distamben APBN
rencana aksi nasional, ƒ Bakesbanglinmasda APBD
pengurangan resiko ƒ Dinsos
bencana (RAN PRB) ƒ Biro bangsos
ƒ Bappenas
ƒ Basarnas
ƒ Fasilitasi dan simulasi Jawa Barat ƒ Distamben APBN
pemberdayaan satuan ƒ Bakesbanglinmasda APBD
linmas dalam penanganan ƒ Dinsos
bencana

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 17


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

ƒ Biro bangsos
ƒ Bappenas
ƒ Basarnas
2. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pengendalian Pencemaran dan 1. Tersedianya indikator baku mutu ƒ Pengembangan pedoman Bandung, Jawa Barat BPLHD APBD
pengendalian pencemaran dan kerusakan Kerusakan Lingkungan dan pedoman pengendalian dan indikator pengendalian
lingkungan pencemaran dan kerusakan pencemaran air , B3, dan
lingkungan udara se Jawa Barat.
ƒ Tersedianya pedoman dan Bandung ƒ BPLHD APBD
indikator pengendalian ƒ Distamben
kerusakan lingkungan di
kawasan lindung, pesisir,
dan pertambangan
2. Tersedianya sistem pemantauan ƒ Tersedianya sistem Bandung , Bodebek BPLHD APBD
pencemaran dan kerusakan pemantauan kualitas air DAS Citarum, Ciliwung,
lingkungan dan udara di Jawa Barat Cimanuk
ƒ Pemantauan pengelolaan Kawasan Andalan ƒ Distarkim APBD
persampahan di perkotaan. ƒ BPLHD
ƒ Pemantauan kerusakan Pantura dan Pansela BPLHD APBD
wilayah pesisir.
ƒ Pengembangan sistem CAT Bandung, Bogor Distamben APBD
pemantauan telemetri air
tanah
3. Tersedianya media komunikasi ƒ Pembentukan wadah Bandung BPLHD APBD
penyelesaian kasus fasilitasi pengaduan dan
pencemaran dan kerusakan penyelesaian kasus
lingkungan lingkungan
4. Terfasilitasinya penerapan ƒ Pengembangan Jawa Barat ƒ BPLHD APBD
teknologi tepat guna dalam implementasi produksi ƒ Disperindag
pengendalian pencemaran dan bersih untuk industri dan ƒ Distamben
kerusakan lingkungan pertambangan
ƒ Fasilitasi perbaikan Bodebek, Bandung, Cirebon BPLHD APBD
pengelolaan dan teknologi
sampah perkotaan
5. Tersedianya sistem informasi Pengembangan sistem Bandung BPLHD APBD
lilngkungan dan kebencanaan informasi kualitas sumber
yang mudah diakses daya air, kehati, udara
perkotaan, persampahan, B3
3. Peningkatan peran masyarakat dalam Peningkatan efektivitas 1. Terciptanya jejaring mitra Peningkatan kemitraan Kuningan ƒ Dishut APBD
pengelolaan lingkungan pengelolaan dan konservasi SDA pelestarian lingkungan di Jawa pengelolaan lingkungan Bandung ƒ BPLHD
dan lingkungan Barat dengan pencinta lingkungan,
LSM, sekolah dan pesantren
2. Terbangunnya sinergitas kegiatan • Fasilitasi dan koordinasi Pesisir Utara dan Pesisir BPLHD APBD
pengelolaan lingkungan antar pengelolaan wilayah Selatan
stakeholder pesisir
• Fasilitasi dan koordinasi DAS Citanduy, dan DAS ƒ Dishut APBD
pengelolaan Daerah Aliran Cimanuk ƒ BPLHD
Sungai Prioritas / Kritis

12. Pengendalian Laju Pertumbuhan Penduduk

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 18


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Pengendalian laju pertumbuhan alamiah Program Pengendalian 1. Tercapainya peserta KB baru Penyediaan alat dan obat 25 kabupaten/ kota ƒ BKKBN APBN
Pertumbuhan Penduduk sebanyak 1.126.336 akseptor kontrasepsi terutama bagi GAKIN
APBD Provinsi
dan terbinanya peserta KB aktif
sebanyak 5.949.600 akseptor
atau 72,62% dari PUS sebanyak
8.192.784
2. Pendewasaan usia perkawinan Peningkatan rata-rata usia 25 kabupaten/ kota ƒ BKKBN APBD Provinsi
kawin pertama wanita menjadi
18,3 th.
3. Terbinanya masyarakat translok Pembinaan dan 21 Unit Permukiman ƒ Disnakertrans APBN
di 21 UPT pemberdayaan masyarakat Transmigrasi (UPT) di 11 APBD Provinsi
translok kabupaten
4. Terselenggaranya kerjasama Pengerahan, penempatan 18 provinsi di daerah ƒ Disnakertrans APBN
bidang transmigrasi antar transmigrasi serta kerjasama perbatasan ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
provinsi penempatan dan antar daerah
kabupaten/kota se- Jawa Barat
2. Pemberdayaan Sistem administrasi Program Pengendalian Terkendalinya tingkat pertumbuhan Pengendalian pertumbuhan 25 kabupaten/ kota Biro Dekon APBN
kependudukan Pertumbuhan Penduduk migrasi dibawah 0,5% melalui migrasi dan persebaran APBD Provinsi
pelaksanaan Sistem Administrasi penduduk
Kependudukan

13. Peningkatan Pengendalian Pemanfaatan Ruang

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Peningkatan pengendalian Pemanfaatan Penataan Ruang Meningkatnya kinerja ƒ Fasilitasi pelaksanaan Bandung Utara Distarkim APBD Provinsi
ruang di Kawasan Bandung Utara dan pengendalian pemanfaatan ruang petunjuk operasional
Jabodetabekpunjur Bandung Utara
ƒ Fasilitasi penataan ruang di Kab/Kota Bogor, Depok, Distarkim APBD Provinsi
Jabodetabekpunjur Cianjur, Kab/Kota Bekasi

14. Pemantapan Manajemen Pemerintahan Daerah

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Penataan kelembagaan dan Pemantapan Otonomi Daerah Meningkatnya fungsi kelembagaan • Penataan kelembagaan Jawa Barat Setda (Biro Organisasi) APBN
ketatalaksanaan dan Kerjasama Antar Daerah dan ketatalaksanaan organisasi dan ketatalaksanaan APBD Prov
perangkat daerah. pemerintahan APBD Kab/Kota
• Fasilitasi dan evaluasi Jawa Barat Setda (Biro Organisasi) APBN
kelembagaan dan APBD Prov
ketatalaksanaan di APBD Kab/Kota
Kabupaten/Kota
2. Peningkatan kualitas pelayanan publik 1. Pemantapan Otonomi Daerah Meningkatnya fungsi kelembagaan • Fasilitasi pelaksanaan Jawa Barat Setda (Biro Organisasi) APBD Prov
dan Kerjasama Antar Daerah dan ketatalaksanaan organisasi SPM kepada SKPD APBD Kab/Kota

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 19


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

perangkat daerah dalam Provinsi dan pembinaan


meningkatkan pelayanan kepada serta penerapannya untuk
masyarakat Kabupaten/Kota
berdasarkan Juknis/SPM
yang ditetapkan oleh
Pemerintah Pusat
• Penyederhanaan Prosedur 26 Kabupaten/Kota ƒ Setda (Biro APBD Provinsi
Pelayanan Organisasi)
ƒ BPPMD
ƒ Dispenda
• Revitalisasi dan 26 Kabupaten/Kota Setda (Biro Organisasi) APBD Provinsi
optimalisasi pelayanan satu
pintu
• Fasilitasi pelaksanaan 26 Kabupaten/Kota Setda (Biro Desen) APBD Provinsi
otonomi kabupaten/kota
dan penguatan daerah
otonom baru
2. Peningkatan Sarana dan Meningkatnya sarana, prasarana Pengembangan sarana dan Kabupaten/Kota yang ƒ Setda (Biro Per- APBN
Prasarana Aparatur pelayanan kepada masyarakat prasarana pelayanan berbatasan dengan lengkapan, Biro APBD Prov
masyarakat khususnya Provinsi Jawa Barat Desen, Biro Dekon) APBD Kab/Kota
perbaikan Kantor Kecamatan, ƒ Distarkim
Desa/Kelurahan di wilayah ƒ SKPD lainnya
perbatasan antar provinsi dan
Kabupaten
3. Peningkatan Kualitas Sumber Meningkatnya kualitas aparatur Diklat dan Bintek yang Jawa Barat ƒ Bandiklatda APBN
Daya Aparatur yang memberikan pelayanan berkaitan dengan pelayanan ƒ Setda (Biro APBD Prov
masyarakat Kepegawaian) APBD Kab/Kota
ƒ SKPD lainnya
4. Pemantapan Pemerintahan Meningkatnya kinerja Aparat Desa Fasilitasi peningkatan kinerja 26 Kabupaten/Kota ƒ Setda (Biro Desen, APBN
dan Pembangunan Desa Aparat Desa Biro Dekon) APBD Prov
ƒ BPMD APBD Kab/Kota

5. Program Pengembangan dan Meningkatnya pelayanan yang Pemanfaatan Teknologi Jawa Barat Bapesitelda
Pemanfaatan Hasil Penelitian didukung Teknologi Informasi (TI) Informasi (TI) di Jawa Barat
dan IPTEK dalam manajemen
pemerintahan dan pelayanan
3. Penataan dan penegakan hukum daerah 1. Penataan dan pembentukkan 1. Terwujudnya perlindungan hak • Sosialisasi Produk Hukum 26 Kabupaten/Kota ƒ Setda (Biro Hukum) APBD Prov
dan HAM serta Bantuan Hukum Hukum daerah serta azasi manusia dan HAM ƒ Dinas Pol PP APBD Kab/Kota
kesadaran hukum dan HAM
• Kerjasama antara penegak Jawa Barat ƒ Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi
hukum di daerah dalam ƒ POLRI
menyelesaikan kasus- ƒ Kejaksaan
kasus pelanggaran hukum,
HAM dan lingkungan
• Optimalisasi pemberian Jawa Barat Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi
bantuan hukum kepada
aparat dan masyarakat
2. Terwujudnya penyediaan produk • Penyusunan produk hukum Jawa Barat Setda (Biro Hukum) APBD Prov
hukum daerah untuk operasional daerah 26 Kabupaten/Kota APBD Kab/Kota
pemerintahan • Penyusunan dan
penyerasian produk hukum
daerah kab/kota dengan
provinsi
• Evaluasi produk hukum 26 Kabupaten/Kota Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 20


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

kabupaten/kota yang
berkaitan dengan
Rancangan Peraturan
Daerah tentang APBD,
Tata Ruang, Pajak dan
Retribusi Daerah
• Peningkatan kualitas legal 26 Kabupaten/Kota Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi
drafter dan penegak
hukum
3. Terwujudnya pemerintahan yang • Kampanye anti korupsi Jawa Barat Bawasda APBD Provinsi
bersih dari KKN
• Peningkatan pengawasan SKPD di seluruh Jawa Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi
melekat di lingkungan Barat
aparatur pemerintah
terhadap Korupsi, Kolusi
dan Nepotisme
2. Pemeliharaan Ketentraman Terwujudnya Ketentraman dan Penegakkan Perda Provinsi Jawa Barat Dispol PP APBD Prov
dan Ketertiban Umum Ketertiban Umum Jawa Barat APBD Kab/Kota
4. Peningkatan kerjasama antar provinsi di 1. Pemantapan Otonomi Daerah 1. Terwujudnya pengembangan Fasilitasi pelayanan dasar di Kabupaten/Kota yang ƒ BKSP Jabodetabekjur APBN
daerah perbatasan dan Kerjasama Daerah kerjasama antar daerah daerah perbatasan berbatasan dengan ƒ Bakorwil APBD Prov
khususnya di daerah perbatasan Provinsi Jawa Barat ƒ SKPD Lainnya APBD Kab/Kota
2. Terwujudnya kelembagaan yang Optimalisasi BKSP Kabupaten/Kota yang ƒ BKSP Jabodetabekjur APBN
capable dalam melakukan Jabodetabekjur berbatasan dengan ƒ Setda (Biro APBD Prov
kerjasama antardaerah Provinsi Jawa Barat Organisasi) APBD Kab/Kota
perbatasan
3. Terwujudnya tugu batas dan Perbaikan tugu batas dan Kab. Sukabumi (Kec. ƒ Setda (Biro Dekon) APBN
kejelasan batas daerah penataan batas wilayah Cibareno), Kota Depok ƒ Dinas Tarkim APBD Prov
(Kec. Sawangan dan Kec. APBD Kab/Kota
Limo), Kota Bekasi, Kab.
Bogor, Kab. Kuningan
(Kec. Cibingbin), Kab.
Ciamis (Kec. Langensari),
ƒ Fasilitasi permasalahan 25 Kabupaten/Kota ƒ Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
batas wilayah
ƒ Fasilitasi permasalahan Jawa Barat ƒ Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan
perbatasan
4. Terwujudnya pendataan ƒ Inventarisasi masalah Jawa Barat ƒ BPN APBN
pertanahan pertanahan di Provinsi
Jawa Barat
ƒ Sosialisasi kebijakan Jawa Barat ƒ Setda ( Biro Dekon) APBN
pertanahan
2. Peningkatan Kualitas Sumber Terwujudnya profesionalitas • Dilklat dan Bintek Jawa Barat ƒ Setda (Biro Desen) APBN
Daya Aparatur aparatur pengelola kerjasama Kerjasama Daerah ƒ Bandiklatda APBD Prov
daerah dan aparatur di daerah APBD Kab/Kota
perbatasan
• Diklat substantif, struktural Kabupaten/Kota yang ƒ Setda (Biro Desen) APBD Provinsi
dan fungsional bagi berbatasan dengan ƒ Bandiklatda APBD Kab/Kota
aparatur di daerah provinsi lain
perbatasan
3. Perencanaan, Pengendalian Terwujudnya sinergitas • Sinergitas perencanaan Jawa Barat ƒ Bapeda APBD Provinsi
dan Pengawasan perencanaan dan pelaksanaan dan pelaksanaan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 21


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

Pembangunan pembangunan di daerah perbatasan pembangunan di daerah ƒ Biro Desen


provinsi perbatasan
5. Peningkatan Kinerja Pemerintah Desa Program Pemantapan 1. Meningkatnya kinerja dan ƒ Fasilitasi peningkatan Jawa Barat ƒ Biro Desen APBN
Pemerintahan dan Pembangunan kapasitas aparat Desa kinerja aparat Desa ƒ Biro Dekon APBD Provinsi
Desa ƒ BPMD APBD Kab/Kota
ƒ Diklat dan bintek bagi Jawa Barat • Bandiklatda APBD Provinsi
aparat desa dan BPD • Biro Dekon
2. Tertatanya organisasi pemerintah ƒ Fasilitasi penyelengaraan Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBN
desa pemerintahan desa APBD Provinsi
APBD Kab/Kota
ƒ Fasilitasi musyawarah Jawa Barat Biro Dekon APBD Provinsi
asosiasi BPD dan
pemerintah desa
3. Memantapkan sumber Penyusunan pedoman Jawa Barat • Biro Dekon APBD Provinsi
pendapatan dan kekayaan desa manajemen keuangan desa • Biro Keuangan
serta manajemen keuangan desa
6. Optimalisasi Potensi Pendapatan Daerah Program Pengelolaan Keuangan Meningkatkan pendapatan asli ƒ Fasilitasi pengembangan Jawa Barat • Biro Desen APBD Provinsi
dan Kekayaan Daerah daerah sumber PAD • Biro Perlengkapan
kabupaten/kota se Jawa • Biro Keuangan
Barat
ƒ Penilaian pengelolaan Jawa Barat Setda (Biro Desen, Biro APBD Provinsi
sumber PAD Perlengkapan, Biro
kabupaten/kota se Jawa Keuangan
Barat
ƒ Pengelolaan sumber PAD Jawa Barat Dinas Penghasil APBD Provinsi
Dinas/Instansi penghasil di
lingkungan Pemerintah
Provinsi Jawa Barat
ƒ Pemutihan pajak daerah Jawa Barat Dispenda APBD Provinsi
BBNKB kendaraan dari
Provinsi lain ke Jawa Barat
ƒ Peningkatan pendapatan Jawa Barat Dinas penghasil APBD Provinsi
melalui retribusi
ƒ Penyusunan juklak/juknis Bandung ƒ Setda (Biro Hukum) APBD Provinsi
untuk dinas penghasil ƒ Dispenda
ƒ Bapeda

15. Pemantapan Stabilitas Politik


No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

1. Pelaksanaan Pilkada dan Persiapan 1. Program Pemberdayaan 1. Terwujudnya penyelenggaraan • Fasilitasi penyelenggaraan Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
Pemilu Infrastruktur dan Suprastruktur pilkada Gubernur dan Pilkada Pilkada di 16 Kab/Kota • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
Politik kabupaten/kota
• Fasilitasi Pilgub di 26 Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
Kab/Kota • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
• Fasilitasi Kesiapan Parpol Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
dalam Pilkada • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
2. Terwujudnya kegiatan Desk Fasilitasi Desk Pilkada Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
Pilkada Provinsi dalam Provinsi dalam • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 22


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

No Fokus Program Pembangunan Sasaran Program Indikasi Kegiatan Lokasi Pelaksana Sumber Dana

penyelenggaraan Pilgub dan penyelenggaraan Pilgub dan


Pilkada Kab/Kota Pilkada Kab/Kota
3. Terwujudnya persiapan pemilihan Fasilitasi persiapan pemilihan Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
anggota DPRD Provinsi dan anggota DPRD Provinsi dan
Kabupaten/Kota Tahun 2009 Kabupaten/Kota Tahun 2009
4. Terwujudnya persiapan Fasilitasi persipan Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
penyelenggaraan Pemilu tahun penyelenggaraan pemilu
2009 tahun 2009
2. Program Peningkatan Terwujudnya pendidikan politik Sosialisasi peraturan- Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
Kesadaran Politik Masyarakat kepada masyarakat peraturan dalam rangka • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
Pilkada
3. Program Pengembangan dan Terwujudnya sinergitas sistem Pengembangan dan Jawa Barat • Setda (Biro Dekon) APBN
Pemanfaatan Hasil Penelitian informasi dalam rangka Pilkada revitalisasi Sistem Informasi • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
dan IPTEK Administrasi Kependudukan
(SIAK) dalam rangka Pilkada
2. Stabilitas keamanan dan ketertiban Program Pemeliharaan Terwujudnya keamanan dan • Fasilitasi penyelenggaraan Jawa Barat Bakesbanglinmasda APBN
umum dalam mendukung Pilkada dan Ketentraman dan Ketertiban ketentraman yang kondusif di ketentraman dan ketertiban APBD Provinsi
Pemilu Umum Serta Perlindungan daerah umum dalam Pilkada
Masyarakat
• Fasilitasi peningkatan Jawa Barat Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
peran Satuan Linmas
dalam Pilkada
• Fasilitasi peran masyarakat Jawa Barat Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
dalam ketentraman dan
ketertiban dalam Pilkada

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 IV - 23


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

4.2 MATRIKS RENCANA KERJA PENUNJANG PEMBANGUNAN TAHUN 2008

MISI 1 : MENINGKATKAN KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SUMBERDAYA MANUSIA


NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA
1. Program 1. Meningkatnya partisipasi masyarakat • Optimalisasi Manajemen Berbasis Sekolah Jawa Barat ƒ Dinas Pendidikan APBD Provinsi
Peningkatan dalam penyelenggaraan pendidikan (MBS) ƒ Biro Yansosdas
Pendidikan Dasar dasar • Mendorong gerakan masyarakat peduli Jawa Barat ƒ Dinas Pendidikan APBD Provinsi
dan Pra Sekolah pendidikan ƒ Biro Yansosdas
2. Meningkatnya kesempatan melanjutkan Bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi di Jawa Barat Dinas Pendidikan APBD Provinsi
pendidikan bagi siswa berprestasi bidang kesenian, olahraga, dan IPTEK
2. Program 1. Meningkatnyan kualitas lulusan • Pengembangan SMA/SMK berbasis 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Peningkatan pendidikan menengah dan tinggi kompetensi ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
Pendidikan ƒ Kanwil Depag
Menengah dan ƒ Disnakertrans
Tinggi ƒ KADIN
• Rintisan Wajib Belajar 12 tahun Kota terpilih ƒ Dinas Pendidikan APBN
ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
ƒ Kanwil Depag
ƒ Disnakertrans
ƒ KADIN
• Pembentukan jaringan kerjasama dengan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pihak swasta dan dunia industri melalui ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
pengembangan sistem Tri Partied ƒ Kanwil Depag
ƒ Disnakertrans
ƒ KADIN
• Pemerataan kesempatan diklat bagi guru 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
SMA/SMK ƒ Disnakertrans APBD Provinsi
• Lomba Keterampilan Siswa (LKS) 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
SMA/SMK tingkat provinsi ƒ Disnakertrans APBD Provinsi
2. Meningkatnya relevansi pendidikan Pengembangan Perguruan Tinggi 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
dengan kebutuhan pasar kerja ƒ Biro Yansos APBD Provinsi
ƒ Depdiknas
3. Program 1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas • Pengembangan metode pembelajaran 25 Kab/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
Peningkatan penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia PAUD ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
Pendidikan Luar Dini (PAUD) ƒ Kanwil Depag
Sekolah • Peningkatan mutu tenaga pendidik dan 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
tenaga kependidikan PAUD melalui ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
pelatihan dan lokakarya ƒ Kanwil Depag
• Peningkatan kesejahteraan tenaga 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
pendidik PAUD ƒ Biro Yansosdas APBD Provinsi
ƒ Kanwil Depag
2. Meningkatnya partisipasi masyarakat Pengembangan Taman Pustaka Masyarakat 25 Kabupaten/Kota ƒ Dinas Pendidikan APBN
dalam pendidikan non formal dan Perpustakaan Desa/ Kelurahan ƒ BAPUSDA APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 24


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


4. Program 1. Meningkatnya kualitas sarana prasarana • Pengembangan sekolah inklusi 25 Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan APBN
Peningkatan SLB APBD Provinsi
Pendidikan Luar
• Peningkatan daya tampung SLB 25 Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan APBN
Biasa
APBD Provinsi
2. Meningkatnya kemampuan siswa dalam Pengembangan dan penerapan metode 25 Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan APBN
mengikuti pembelajaran pembelajaran terkini APBD Provinsi
3. Meningkatnya kualitas guru SLB • Pemerataan diklat bagi guru SLB 25 Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan APBN
APBD Provinsi
• Pemberian kesempatan mengikuti 25 Kabupaten/Kota Dinas Pendidikan APBN
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi APBD Provinsi
5. Program Sumber 1. Tersediaya dokumen perencanaan ƒ Penyusunan perencanaan kesehatan 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
Daya Kesehatan pembangunan kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
ƒ Pengembangan Sistem Informasi 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
Manajemen Kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
ƒ Peningkatan pengendalian dan evaluasi 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
program pembangunan kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
2. Mendorong penyediaan jaminan Peningkatan pelayanan kesehatan bagi 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
pembiayaan kesehatan (cakupan JPK masyarakat • Biro Yansos APBD Provinsi
pra bayar 35%) • RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
3. Mendorong peningkatan pengawasan ƒ Peningkatan ketersediaan obat dan 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
dan pengendalian obat, Kosalkes perbekalan kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
(kosmetik, alat kesehatan) dan NAPZA • RSJ Cimahi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 25


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


dari tingkat produksi sampai tingkat • RSJ Bandung
konsumsi • KP4 Cirebon
(ketersediaan obat 85%, pengadaan • RSP Sidawangi
obat esensial 95% dan generik 85%)
• Biro Bangsos
ƒ Peningkatan keterjangkauan harga obat 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
dan perbekalan kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
ƒ Pencegahan penyalahgunaan NAPZA 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
• Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
ƒ Pelayanan rehabilitasi penyalahgunaan 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
NAPZA • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
ƒ Peningkatan kualitas tenaga pengawas 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
• Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
4. Meningkatnya sinergitas pembangunan Peningkatan Koordinasi dan fasilitasi 25 Kab/Kota • Din Kesehatan APBN
kesehatan pembangunan kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
• RSJ Cimahi
• RSJ Bandung
• KP4 Cirebon
• RSP Sidawangi
• Biro Bangsos
6. Program Upaya 1. Mendorong peningkatan mutu ƒ Peningkatan kesehatan lingkungan 25 Kab./Kota • Din Kesehatan APBN
Kesehatan kesehatan lingkungan perumahan dan • Biro Yansos APBD Provinsi
permukiman termasuk pengungsian,
sanitasi dasar, dan hygiene sanitasi di • Distarkim

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 26


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


tempat-tempat umum, industri & tempat-
tempat lain yang mempengaruhi
ƒ Fasilitasi perbaikan sanitasi lingkungan 25 Kab./Kota • Din Kesehatan APBN
kesehatan. (rumah/bangunan bebas
masyarakat • Biro Yansos APBD Provinsi
jentik 90%, tempat umum yang
memenuhi syarat 75%, institusi yang • Distarkim
dibina 65% dan cakupan air bersih 80%)
2. Mendorong peningkatan akses kualitas Peningkatan cakupan dan mutu pelayanan 25 Kab./Kota • Din Kesehatan APBN
dan citra masyarakat terhadap kesehatan • Biro Yansos APBD Provinsi
pelayanan kesehatan dasar, rujukan,
khusus, jiwa termasuk • RSJ Cimahi
kegawatdaruratan medis. (Pelayanan • RSJ Bandung
kesehatan ibu hamil risti yang di rujuk • KP4 Cirebon
95%, cakupan deteksi dini tumbuh • RSP Sidawangi
kembang anak balita 70%, UCI Desa
90%, pelayanan gangguan jiwa 65%,
gizi buruk balita < 1%).
3. Menggerakkan peran dan fungsi labkes ƒ Peningkatan pelayanan pemeriksaan lab. Jawa Barat Balai Latihan APBN
daerah Kes pada masyarakat Kesehatan (BLK) APBD Provinsi
ƒ Peningkatan sarana dan prasarana Jawa Barat Balai Latihan APBN
labkes. Kesehatan (BLK) APBD Provinsi
4. Menggerakkan kesadaran masyarakat Pembinaan dan pengembangan Usaha 25 Kabupaten/Kota • Dinas Kesehatan APBD Provinsi
terhadap kesehatan melalui pengenalan Kesehatan Sekolah (UKS) • Dinas Pendidikan
hidup sehat di sekolah
7. Program 1. Meningkatnya tertib pengelolaan gedung Memfasilitasi pengelolaan gedung negara/ Jawa Barat Distarkim APBD Provinsi
Pengembangan negara/daerah, dan rumah negara daerah dan rumah negara APBN
Sarana dan
2. Meningkatnya cakupan pelayanan Memfasilitasi penyediaan instalasi sanitasi Metro Bandung Distarkim APBD Provinsi
Prasarana
sanitasi (air limbah dan drainase) regional di perkotaan Bodebek APBN
Perumahan dan
Permukiman 3. Tersedianya prasarana dasar • Memfasilitasi penyediaan prasarana dasar Kab. Cirebon, Distarkim APBD Provinsi
perumahan bagi pengungsi dan perumahan bagi transmigran lokal dan Majalengka,
transmigran lokal pengungsi Indramayu, Sumedang
• Memfasilitasi perbaikan sarana dan Pantura Distarkim APBD Provinsi
prasarana permukiman akibat bencana alam
8. Program 1. Meningkatnya penempatan tenaga kerja • Penempatan Tenaga kerja melalui Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
Peningkatan melalui pemberian kerja sementara serta penyuluhan, pembinaan, sosialisasi ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
Kompetensi, penempatan dalam dan luar negeri, PTKLN serta penyebaran pendataan
Penempatan, sosialisasi dan penyebaran informasi • Penempatan Tenaga Kerja melalui Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
Perluasan, serta pendataan calon pekerja. pemberian kerja sementara dan ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
Perlindungan dan penempatan dalam/luar negeri
Pengawasan
Tenaga Kerja • Penyusunan pola kebijakan Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
pendayagunaan informasi pasar kerja ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
• Penyusunan pola standar pengukuran Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
produktivitas tenaga kerja di Jawa Barat ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
• Penyusunan pedoman peningkatan fungsi Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 27


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


pengawasan ketenagakerjaan di Jawa ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
Barat
2. Meningkatnya perluasan melalui • Pemberdayaan Tenaga Kerja Jawa Barat ƒ Disnakertrans APBN
pemberdayaan tenaga kerja serta ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
peningkatan usaha produktif
• Peningkatan Usaha Produktif dan Bursa Jawa Barat Disnakertrans APBN
Kerja APBD Provinsi
9. Program 1. Meningkatnya aktivitas dan kreativitas • Diklat kepemudaan, kewirausahaan, dan 25 Kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
Peningkatan kepemudaan di berbagai bidang keterampilan ƒ Dinas Pendidikan APBD Provinsi
Aktivitas, pembangunan ƒ Disnakertrans
Kreativitas dan ƒ Biro Bangsos
Kelembagaan ƒ Dinas Sosial
Pemuda
• Fasilitasi Aktifitas Kepemudaan di Jawa 25 Kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
Barat ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
ƒ Dinas Pendidikan
2. Meningkatnya peranserta pemuda Keikutsertaan lembaga pemuda dalam 25 Kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
dalam pembangunan tahapan perencanaan dan pelaksanaan ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
pembangunan
3. Meningkatnya peran dan partisipasi Penguatan kemitraan antara Pemerintah 25 Kabupaten/Kota ƒ Biro Bangsos APBN
pemuda dalam pencegahan dan Daerah dengan Organisasi Pelajar dan ƒ Dinas Pendidikan APBD Provinsi
penanggulangan Narkoba Mahasiswa
10. Program 1. Mendorong peningkatan kualitas dan Peningkatan pengetahuan bagi pengurus 25 kab/kota • BPMD APBN
Peningkatan kuantitas organisasi/lembaga organisasi/lembaga perempuan • Biro Bangsos APBD Provinsi
Pemberdayaan perempuan dalam pembangunan • Disnakertrans
Perempuan
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan

2. Mendorong peningkatan kualitas dan Peningkatan pengetahuan dan keterampilan 25 kab/kota • BPMD APBN
kuatitas perempuan dalam perempuan dalam pembangunan • Biro Bangsos APBD Provinsi
pembangunan • Disnakertrans
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan
3. Mendorong pengarusutamaan gender Peningkatan peran gender dalam dalam 25 kab/kota • BPMD APBN
pada setiap aspek kehidupan masyarakat • Biro Bangsos APBD Provinsi
• Disnakertrans
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan
4. Meningkatnya kebijakan yang berbasis Peningkatan pemahaman aparat dan 25 kab/kota • BPMD APBN
gender masyarakat terhadap peraturan perundang- • Biro Bangsos APBD Provinsi
undangan yang berbasis gender • Disnakertrans
• Dinas Sosial

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 28


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


• Dinas Pendidikan
5. Meningkatnya pemahaman dan ƒ Peningkatan pemahaman dan 25 kab/kota • BPMD APBN
perlindungan terhadap hak-hak perlindungan hak-hak perempuan serta • Biro Bangsos APBD Provinsi
perempuan dan anak pengarusutamaan gender • Disnakertrans
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan
ƒ Perlindungan dari tindak kekerasan dan 25 kab/kota • BPMD APBN
perdagangan perempuan dan anak • Biro Bangsos APBD Provinsi
(Traficking) • Disnakertrans
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan
ƒ Peningkatan pemahaman tentang tindak 25 kab/kota • BPMD APBN
kekerasan Traficking terhadap perempuan • Biro Bangsos APBD Provinsi
dan anak • Disnakertrans
• Dinas Sosial
• Dinas Pendidikan
11. Program 1. Meningkatnya prestasi olahraga dalam • Pembentukan dan pemusatan pelatihan 25 kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
Peningkatan event nasional kontingan PON 2008 ƒ Biro Bangsos APBD Provims
Olahraga ƒ Dinas Pendidikan
• Pemberian uang kadeudeuh pada atlet 25 kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
berprestasi ƒ Biro Bangsos APBD Provims
ƒ Dinas Pendidikan
ƒ Distarkim
2. Meningkatnya usaha pengembangan Pelatihan instruktur dan tenaga penggerak 25 kabupaten/Kota ƒ BPMD APBN
olahraga tradisional olahraga masyarakat dan olahraga tradisional ƒ Biro Bangsos APBD Provims
ƒ Dinas Pendidikan
ƒ Distarkim
3. Tersedianya sarana dan prasarana Memfasilitasi pembangunan sarana Jawa Barat ƒ Distarkim APBD Provinsi
olahraga bagi masyarakat prasarana olah raga masyarakat ƒ BPMD
ƒ Biro Bangsos
4. Tersedianya sarana prasarana olahraga Memfasilitasi persiapan pembangunan Kabupaten/Kota ƒ Distarkim APBD Provinsi
yang memadai stadion olahraga bertaraf Bandung ƒ Biro Bangsos
nasional/internasional
5. Meningkatnya aktivitas dan prestasi • Keikutsertaan dalam Pekan Olahraga Kalimantan Timur Dinas Pendidikan APBN
olahraga pelajar dan mahasiswa Pelajar Wilayah APBD Provinsi
• Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Bandung Dinas Pendidikan APBN
Olahraga Pelajar APBD Provinsi
• Pengembangan Olahraga Pendidikan Jawa Barat Dinas Pendidikan APBN
APBD Provinsi
12. Program 1. Meningkatnya pemanfaatan hasil ƒ Penelitian terhadap isu-isu strategis untuk 26 Kabupaten/Kota Balitbangda APBN
Pengembangan penelitian dan pengembangan kepentingan perencanaan dan kebijakan APBD Provinsi
dan Pemanfaatan publik

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 29


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


Hasil Penelitian ƒ Pengembangan Sistem Informasi dan Jawa Barat ƒ Balitbangda APBD Provinsi
dan IPTEK Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ƒ Bapesitelda
hasil Ristek
2. Meningkatnya pemanfaatan TTG dalam • Pengembangan TTG usaha kecil dan Jawa Barat Dinas KUKM APBD Provinsi
pelaksanaan pembangunan menengah
• Pengembangan TTG dalam Diversifikasi Jawa Barat Distamben APBN
pemanfaatan Energi
3. Meningkatnya peran perpustakaan ƒ Pengembangan Perpustakaan khusus Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
berbasis Teknologi Informasi (TI) SKPD di Jawa Barat Jawa Barat
ƒ Peningkatan pelayanan perpustakaan Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Jawa Barat
ƒ Peningkatan pengelolaan perpustakaan Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Jawa Barat
4. Meningkatnya peran kearsipan berbasis • Peningkatan pengembangan kearsipan Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Teknologi Informasi (TI) Jawa Barat
• Peningkatan pelayanan kearsipan Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Jawa Barat
• Peningkatan pengelolaan kearsipan Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Jawa Barat
5. Meningkatnya pemanfaatan teknologi • Pengembangan Sistem Informasi Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
informasi dalam pelaksanaan Manajemen dan penguatan basis data Jawa Barat
pembangunan berbasis Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK)
• Peningkatan pelayanan melalui Teknologi Jawa Barat Seluruh SKPD Prov. APBD Provinsi
Informasi dan Komunikasi (TIK) Jawa Barat
• Peningkatan kualitas pelayanan kepada Jawa Barat Bapesitelda, Seluruh APBD Provinsi
masyarakat melalui Teknologi Informasi SKPD Prov.
dan Komunikasi (TIK) Jawa Barat
MISI 2 : MENGEMBANGKAN STRUKTUR PEREKONOMIAN REGIONAL YANG TANGGUH

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA

13. Program 1. Meningkatnya inovasi dan diseminasi ƒ Pengembangan teknologi Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
Pengembangan teknologi agribisnis pembenihan/bibit dan pembudidayan ƒ Din Perkebunan APBN
Agribisnis pertanian, perikanan dan kehutanan. ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Pengembangan teknologi agribisnis tepat Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
guna dan spesifik lokasi. ƒ Din Perkebunan APBN
ƒ Pelaksanaan penyaluran peredaran hasil Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
teknologi benih/bibit dan Alsintan. ƒ Din Perkebunan APBN
ƒ Din Peternakan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 30


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
2. Meningkatnya koordinasi dan manajemen ƒ Penyelarasan, pengawasan dan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
pembangunan agribisnis pengendalian manajemen pembangunan ƒ Din Pertanian APBN
agribisnis antar sektor dan antar wilayah. ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Peningkatan koordinasi pengembangan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
agribisnis Jawa Barat ƒ Din Pertanian
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Pengembangkan koordinasi kelompok Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBN
usaha dan kelompok tani (Gapoktan dan ƒ Din Petanian
Asosiasi).
3. Meningkatnya akses petani terhadap ƒ Peningkatan akses petani terhadap Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
faktor produksi sumberdaya produktif serta permodalan ƒ Din Perkebunan APBN
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Peningkatan akses petani terhadap pasar Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
ƒ Din Perkebunan APBN
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Pengawasan dan pengendallian Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
peredaran serta ketersediaan pupuk, ƒ Din Perkebunan APBN
benih/bibit dan pakan ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
4. Meningkatnya kapasitas kelembagaan ƒ Peningkatan kualitas/kompetensi sumber Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
dan pemberdayaan sumberdaya manusia daya manusia aparatur dan petani. ƒ Din Pertanian APBN
agribisnis. ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Pengembangan kelembagaan petani Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 31


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


ƒ Din Pertanian APBN
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Pembinaan dan pengendalian Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
pengusahaan lahan. ƒ Din Pertanian APBN
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Penataan kelembagaan Pemerintah Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
Daerah dalam pengembangan Agribisnis. ƒ Din Pertanian APBN
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
5. Meningkatnya ketersediaan dan kualitas ƒ Fasilitasi sarana dan prasarana agribisnis Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBN
sarana prasarana pendukung agribisnis ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Distarkim
ƒ Pengelolaan pasca panen dan pengolahan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBN
hasil ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Optimalisasi Terminal/ Sub Terminal Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBN
Agribisnis (TA/STA) ƒ Din Perkebunan APBD Provinsi
ƒ Din Indag Agro
ƒ Memfasilitasi sarana dan prasarana Kab. Ciamis, Purwa- ƒ Biro Binprod APBN
agropolitan karta, Cianjur, Garut, ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
Bogor, Indramayu, ƒ Din Perkebunan
Kuningan, Cirebon, ƒ Din Peternakan
Subang dan Bandung ƒ Din Perikanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Distarkim
ƒ Pengembangan Pasar Ikan Kab. Subang, ƒ Din Perikanan APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 32


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


Indarmayu, Cianjur, ƒ Din Indag Agro APBD Provinsi
Sukabumi, Bogor,
Bandung,
Tasikmalaya, Ciamis
dan Kuningan
6. Mempromosikan dan memproteksi ƒ Peningkatan ekspor dan pengendalian Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
komoditas agribisnis impor sektor pertanian ƒ Din Pertanian APBN
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Penguatan sistem usaha dan perlindungan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
usaha ƒ Din Pertanian APBN
ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
ƒ Peningkatam dam pengoptimalan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
kelembagaan agribisnis dan menarik minat ƒ Din Pertanian APBN
investasi. ƒ Din Perkebunan
ƒ Din Peternakan
ƒ Din Perikanan
ƒ Din Kehutanan
ƒ Din Indag Agro
14. Program 1. Meningkatnya keanekaragaman ƒ Pengembangan diversifikasi produk, Jawa Barat • Biro Binprod APBD Provinsi
Peningkatan konsumsi, kualitas dan menurunnya konsumsi komoditas pangan beragam, • Din Pertanian APBN
Ketahanan ketergantungan pada pangan pokok beras bergizi dan berimbang. • Din Peternakan
Pangan serta ketersediaannya sepanjang tahun
• Din Perikanan
• Din Indag Agro
ƒ Peningkatan produktivitas pangan melalui Jawa Barat • Din Pertanian APBD Provinsi
peningkatan mutu intensifikasi serta • Din Peternakan APBN
perbaikan mutu benih/bibit • Din Perikanan
ƒ Peningkatan pemanfaatan dan pelestarian Kab. Subang, Ciamis, Din Perikanan APBD Provinsi
perairan umum untuk peningkatan Indramayu, Cianjur, APBN
produksi ikan Sukabumi, Bogor,
Bandung, Tasikmalaya
dan Kuningan
ƒ Peningkatan teknologi pengolahan pangan Jawa Barat • Din Pertanian APBD Provinsi
• Din Peternakan APBN
• Din Perikanan
ƒ Peningkatan ketersediaan, distribusi, dan Jawa Barat • Din Pertanian APBD Provinsi
konsumsi serta mutu gizi dan keamanan • Din Peternakan APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 33


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


pangan • Din Perikanan
• Biro Binprod
2. Meningkatnya pengetahuan dan ƒ Pengembangan pangan lokal. Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
kesadaran masyarakat dalam ƒ Din Peternakan APBN
mengkonsumsi pangan yang beragam, ƒ Din Perikanan
bergizi dan berimbang ƒ Biro Binprod
ƒ Din Indag Agro

ƒ Peningkatan penerapan pola konsumsi Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
pangan beragam, bergizi dan berimbang ƒ Din Perkebunan APBN
ƒ Din Kehutanan
ƒ Meningkatkan distribusi pangan ke daerah Jawa Barat ƒ Din Pertanian APBD Provinsi
rawan pangan ƒ Din Peternakan APBN
ƒ Din Perikanan
ƒ Biro Bina Produksi
15. Program 1. Meningkatnya usaha dan kesempatan ƒ Peningkatan kualitas/kompetensi SDM Kabupaten Garut, • Dinas Perikanan APBD Provinsi
Pengembangan kerja Bisnis Kelautan dan kelembagaan usaha kelautan Tasikmalaya, Ciamis, • Dinas Indag Agro APBN
Usaha dan Sukabumi, Cianjur,
Pemanfaatan Subang, Indramayu
Sumberdaya dan Cirebon
Kelautan ƒ Pengembangan input produksi berbahan Jawa Barat • Dinas Perikanan APBD Provinsi
baku lokal • Dinas Indag Agro APBN
ƒ Peningkatan efisensi usaha kelautan Pantai Utara, Selatan Dinas Perikanan APBD Provinsi
APBN
ƒ Pengembangan pengelolaan hasil Pantai Utara, Selatan • Dinas Perikanan APBD Provinsi
perikanan dan kelautan • Dinas Indag Agro APBN
ƒ Pengembangan pengelolaan kawasan Pantai Utara, Selatan Din Perikanan APBD Provinsi
pesisir dan laut APBN
ƒ Pengembangan kawasan industri Kab. Subang, • Din Perikanan APBD Provinsi
pengolahan hasil perikanan Indarmayu, Cianjur, • Din Indag Agro APBN
Sukabumi, Bogor,
Bandung,
Tasikmalaya, Ciamis
dan Kuningan
ƒ Pengembangan industri berbasis kelautan. Pantai Utara, Selatan Dinas Perikanan APBD Provinsi
APBN
2. Meningkatnya akses petani dan nelayan ƒ Peningkatan akses petani dan nelayan Kab. Garut, Cianjur, Dinas Perikanan APBD Provinsi
terhadap faktor produksi terhadap sumberdaya produktif dan Tasikmalaya, Ciamis, APBN
permodalan Sukabumi, Bekasi,
Karawang, Subang,
Indramayu, Cirebon
dan Kota Cirebon
ƒ Pengembangan teknologi perbenihan dan Pantai Utara, Selatan Dinas Perikanan APBD Provinsi
pembudidayaan ikan laut dan payau APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 34


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA

3. Meningkatnya cakupan pemasaran ƒ Fasilitasi kemitraan dan pemasaran dalam Kab. Garut, Ciamis, ƒ Din Perikanan APBD Provinsi
dan luar negeri Tasikmalaya, Bekasi, ƒ Din Indag Agro APBN
Sukabumi, Cianjur,
Cirebon, Karawang,
Indramayu, Subang
dan Kota Cirebon
ƒ Pemberdayaan pelaku usaha dan simpul- Jawa Barat ƒ Din Perikanan APBD Provinsi
simpul distribusi usaha kelautan ƒ Din Indag Agro APBN
ƒ Peningkatan akses terhadap pasar dan Jawa Barat ƒ Din Perikanan APBD Provinsi
informasi bisnis kelautan ƒ Din Indag Agro APBN
4. Meningkatnya ketersediaan dan kualitas Peningkatan sarana prasarana usaha Kabupaten Sukabumi, Din Perikanan APBD Provinsi
sarana dan prasarana usaha kelautan kelautan Ciamis, Cirebon APBN
16. Program Pemantapan struktur industri manufaktur • Peningkatan kemampuan sumber daya Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Pengembangan manusia di bidang industri • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
Industri Manufaktur
• Pengembangan industri berbahan baku Jawa Barat • Dinas Indag APBN
lokal • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Pengembangan Klaster Industri Jawa Barat • Dinas Indag APBN
• Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Pembangunan Industri Yang Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Berkelanjutan • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Peningkatan kemampuan inovasi dan Jawa Barat • Dinas Indag APBN
diversifikasi produk IKM • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Peningkatan kemampuan wirausaha Jawa Barat • Dinas Indag APBN
• Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Peningkatan Koordinasi dan konsolidasi Jawa Barat • Dinas Indag APBN
pengembangan industri • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Biro Sarek
17. Program Pengembangan perdagangan dan fasilitasi • Peningkatan sistem perdagangan dalam Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Pengembangan penetrasi dagang dan luar negeri • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
Perdagangan
Dalam dan Luar • Peningkatan promosi dan penetrasi Jawa Barat, Provinsi • Dinas Indag APBN
Negeri dagang Lain dan LN • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• BPPMD
• Peningkatan sarana dan prasarana Jawa Barat • Dinas Indag APBN
perdagangan • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Pengembangan usaha perdagangan dan Jawa Barat • Dinas Indag APBN
peningkatan informasi perdagangan • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Peningkatan pengawasan peredaran Jawa Barat • Dinas Indag APBN
produk di Jawa Barat • Dinas Indag Agro APBD Provinsi
• Fasilitasi pengembangan perdagangan Jawa Barat • Dinas Indag APBN
antar stakeholder • Dinas Indag Agro APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 35


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA

• Biro Sarek

18. Program Peningkatan pengelolaan daya tarik wisata • Penataan objek dan daya tarik wisata di 9 Kawasan Wisata • Disbudpar APBN
Pengembangan Kawasan Wisata Unggulan Unggulan • Dishut APBD Provinsi
Kepariwisataan
• Peningkatan kualitas dan standarisasi Jawa Barat Disbudpar APBN
produk pariwisata APBD Provinsi
• Peningkatan promosi pariwisata Jawa Barat dan LN Disbudpar APBN
APBD Provinsi
• Pengembangan kemitraaan di bidang Jawa Barat Disbudpar APBN
pariwisata APBD Provinsi
• Peningkatan pengetahuan dan Jawa Barat Disbudpar APBN
keterampilan sumber daya manusia di APBD Provinsi
bidang pariwisata
• Peningkatan koordinasi dan konsolidasi Jawa Barat • Disbudpar APBN
pengembangan pariwisata • Biro sarek APBD Provinsi
19. Program 1. Meningkatnya kualitas produk Peningkatan kualitas dan penerapan Jawa Barat • Dinas Indag APBN
Peningkatan standarisasi produk • Din Indag Agro APBD Provinsi
Mutu produk dan
2. Meningkatnya pelayanan jasa terhadap ƒ Peningkatan sarana dan prasarana Balai Jawa Barat Dinas Indag APBN
Pelayanan Jasa
masyarakat Pengembangan Perindustrian dan APBD Provinsi
Kemetrologian
ƒ Peningkatan pelayanan metrologi dan Jawa Barat • Dinas Indag APBN
panas bumi • Dinas Tamben APBD Provinsi
3. Meningkatnya pemahaman ƒ Sosialisasi dan diseminasi peraturan Jawa Barat • Distarkim APBN
peraturan/perundang-undangan bagi perundang-undangan jasa konstruksi dan APBD Provinsi
pengguna, penyedia jasa konstruksi peraturan lainnya yang terkait
4. Meningkatnya kualitas SDM pengguna ƒ Pemberdayaan penyedia jasa konstruksi Jawa Barat • Distarkim APBN
dan penyedia jasa bidang jasa konstruksi (orang perseorangan, badan usaha) APBD Provinsi
ƒ Pemberdayaan pengguna jasa konstruksi Jawa Barat • Distarkim APBN
(instansi pemerintah, orang perseorangan, APBD Provinsi
dan badan usaha)
ƒ Pemberdayaan jasa konstruksi kepada Jawa Barat • Distarkim APBN
masyarakat APBD Provinsi
5. Terwujudnya tertib penyelenggaraan jasa ƒ Pengawasan tertib penyelenggaraan jasa Jawa Barat • Distarkim APBN
konstruksi konstruksi APBD Provinsi
6. Meningkatnya kualitas produk jasa ƒ Pengawasan tertib pemanfaatan jasa Jawa Barat • Distarkim APBN
konstruksi konstruksi APBD Provinsi
ƒ Pengawasan terhadap perijinan jasa Jawa Barat • Distarkim APBN
konstruksi APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 36


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA

ƒ Pengawasan terhadap ketentuan Jawa Barat • Distarkim APBN


keteknikan APBD Provinsi
ƒ Pengawasan terhdap K3 Jawa Barat • Distarkim APBN
APBD Provinsi
20. Pengembangan 1. Meningkatnya Pengetahuan, Peningkatan Kapasitas Sumberdaya 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN
dan Penguatan Keterampilan Sumberdaya Manusia UKM manusia (SDM) KUKM • Biro Sarek APBD Provinsi
Koperasi, UKM,
BUMD dan • Dinas Pertanian
Lembaga Tanaman Pangan
Keuangan • Dinas Perikanan
Daerah.
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben
2. Meningkatnya peran kelembagaan, ƒ Peningkatan akses pasar produk KUKM; 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN
sarana dan prasarana lembaga KUKM • Biro Sarek APBD Provinsi
• Dinas Pertanian
Tanaman Pangan
• Dinas Perikanan
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben

ƒ Peningkatan kapasitas kelembagaan 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN


KUKM • Biro Sarek APBD Provinsi
• Dinas Pertanian
Tanaman Pangan
• Dinas Perikanan
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben
3. Meningkatnya akses terhadap ƒ Peningkatan kapasitas informasi KUKM 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 37


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


permodalan dan teknologi bagi KUKM • Biro Sarek APBD Provinsi
• Dinas Pertanian
Tanaman Pangan
• Dinas Perikanan
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben
ƒ Pembangunan pusat promosi dan 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN
pemasaran produksi industri kecil • Biro Sarek APBD Provinsi
• Dinas Pertanian
Tanaman Pangan
• Dinas Perikanan
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben
ƒ Fasilitasi akses permodalan dan teknologi 25 kab/kota • Dinas KUKM APBN
KUKM • Biro Sarek APBD Provinsi
• Dinas Pertanian
Tanaman Pangan
• Dinas Perikanan
• Dinas Peternakan
• Dinas Perkebunan
• Dinas Indag
• Dinas Indag Agro
• Dinas Pariwisata
• Dinas Tamben
4. Meningkatnya kontribusi BUMD terhadap ƒ Pengembangan dan penguatan struktur ƒ Kab. Sukabumi • Dinas KUKM ƒ APBN
peningkatan PAD, Investasi dan tenaga BUMD ƒ Kab. Garut • Biro Sarana ƒ APBD Provinsi
kerja. ƒ Bopuncur Perekonomian
ƒ Bodebek
ƒ Purwasuka
ƒ Ciayumajakuning
ƒ Peningkatan kinerja & performa Jawa Barat • Dinas KUKM ƒ APBN
perusahaan daerah • Biro Sarana ƒ APBD Provinsi
Perekonomian
ƒ Kajian peran BUMD terhadap Jawa Barat • Dinas KUKM ƒ APBN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 38


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


perekonomian daerah • Biro Sarana ƒ APBD Provinsi
Perekonomian
ƒ Bantuan keuangan kepada BPR ƒ Kab. Sukabumi • Dinas KUKM ƒ APBN
ƒ Kab. Garut • Biro Sarana ƒ APBD Provinsi
ƒ Bopuncur Perekonomian
ƒ Bodebek
ƒ Purwasuka
ƒ Ciayumajakuning
21. Program 1. Terwujudnya data dan informasi yang Tersusunya basis data investasi potensial di ƒ Kab. Sukabumi BPPMD ƒ APBN
Peningkatan akurat untuk meningkatkan minat wilayah ƒ Kab. Garut ƒ APBD Provinsi
Penanaman investasi.
Modal di Daerah 2. Terkordinasinya penyelenggaraan ƒ Menyempurnakan regulasi ƒ Bopuncur • Distamben APBD Provinsi
Untuk promosi investasi secara efektif dan ƒ Bodebek
Menciptakan • BPPMD
efisien, tumbuhnya minat investasi di
Perluasan Kawasan Andalan. ƒ Menyiapkan proposal kelayakan usaha ƒ Bopuncur • Distamben APBD Provinsi
Kesempatan Kerja komoditass ungulan kawasan ƒ Bodebek • BPPMD
ƒ Mengadakan promosi wilayah andalan ƒ Bopuncur • Distamben APBD Provinsi
ƒ Bodebek • BPPMD
22. Program 1. Meningkatnya pengusahaan dan nilai • Eksplorasi kelayakan mineral unggulan ƒ Purwakarta Distamben APBD
Pengembangan tambah produksi sumberdaya mineral ƒ Bandung
Sumberdaya ƒ Cirebon
Mineral dan
• Standarisasi kualitas produk mineral ƒ Purwakarta Distamben APBD
Panas Bumi
ƒ Bandung
ƒ Cirebon
• Peningkatan mutu dan produk ƒ Purwakarta Distamben APBD
pertambangan skala kecil ƒ Bandung
ƒ Cirebon
2. Terfasilitasinya peningkatan mutu Pengendalian pemanfaatan batubara oleh ƒ Bandung Distamben APBD
batubara untuk konsumsi energi industri ƒ Sumedang
ƒ Cirebon
23. Program 1. Meningkatnya kondisi kemantapan jalan • Kegiatan penunjang pengembangan Jawa Barat • Dinas Bina Marga APBD Provinsi
Pengembangan (kondisi baik dan sedang) ruas-ruas jalan jaringan jalan dan pemanfaatan jalan • Bapeda
Infrastruktur Provinsi menjadi 90% melalui rehabilitasi
Transportasi dan jalan sepanjang 110 km dan jembatan • Peningkatan jalan dan penggantian Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi
Telekomunikasi sepanjang 1251 m, dan peningkatan jalan jembatan
sepanjang 156 km dan penggantian • Rehabilitasi jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi
jembatan sepanjang 175 m
2. Terpeliharanya kondisi jalan provinsi Pemeliharaan jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi
sesuai dengan umur rencana melalui
pemeliharaan rutin jalan sepanjang
1933,22 km dan jembatan sepanjang
13.972 m
3. Meningkatnya aksesibilitas dan mobilitas • Peningkatan jalan dan penggantian Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 39


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


jalan non status melalui pemeliharaan jembatan Dept. PU APBN
sepanjang 231,74 km dan jembatan
sepanjang 4046 m, rehabilitasi jalan
sepanjang 10 Km dan jembatan
• Rehabilitasi jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi
sepanjang 651 m, dan pembangunan
Dep. PU APBN
jalan sepanjang 15 Km dan penggantian
jembatan sepanjang 195 m
• Pemeliharaan jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBD Provinsi
Dep. PU APBN

4. Meningkatnya nilai struktur jalan nasional • Peningkatan jalan dan penggantian Jawa Barat Dinas Bina Marga APBN
melalui rehabilitasi jalan sepanjang 56 km, jembatan Dep. PU
dan peningkatan jalan sepanjang 285,18
km
• Rehabilitasi jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBN

5. Terpeliharanya kondisi jalan nasional Pemeliharaan jaringan jalan dan jembatan Jawa Barat Dinas Bina Marga APBN
sesuai dengan umur rencana melalui
pemeliharaan rutin sepanjang 659,22 km
dan rehabilitasi jalan sepanjang 56 km
6. Meningkatnya kenyamanan, keamanan • Peningkatan kondisi fasilitas perlengkapan Jawa Barat Dinas Perhubungan APBN
dan ketertiban berlalu lintas serta jalan provinsi dan nasional APBD Provinsi
meningkatnya mobilitas manusia, barang • Pengkajian dan Identifikasi Jembatan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
dan jasa Timbang
• Pemeliharaan, Pengawasan dan Jawa Barat ƒ Dinas perhubungan APBD Provinsi
pembinaan jembatan timbang
• Pengadaan Sarana Operasional Jawa Barat ƒ Dinas perhubungan APBD Provinsi
Pengawalan dan pengawasan
• Relokasi jembatan timbang • Kab, Ciamis ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
• Kab. Bogor ƒ Dep. Perhubungan APBN
• Kab. Cianjur
• Kab. Cirebon
• Peningkatan sarana dan prasarana Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
jembatan timbang ƒ Dep. Perhubungan APBN
• Fasilitasi dan koordinasi pembangunan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
terminal ƒ Dep. Perhubungan APBN
• Fasilitasi penetapan jaringan trayek Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
angkutan jalan di Jawa Barat ƒ Biro Sarek

• Fasilitasi dan koordinasi hari-hari besar Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
dan kegiatan perhubungan
• Fasilitasi dan koordinasi peningkatan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
keselamatan penyelenggaraan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 40


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


perhubungan
• Pengawasam dan pengendalian Jawa Barat ƒ Dinas perhubungan APBD Provinsi
penyelenggraan perhubungan
7. Penyusunan Standart Pelayanan • Penyusunan Pedoman mekanisme Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
Minimal (SPM) Penyelenggaraan prosedur penelitian dan pengkajian
Perhubungan Darat rekayasa dan manajemen lalu lintas jalan
8. Meningkatkan Ketersediaan Prasarana • Meningkatkan keselamatan di persilangan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
Perhubungan sebidang antara jalan dengan kereta api
9. Meningkatnya kualitas sarana • Pemeriksaan dan pengawasan produk Jawa Barat ƒ Dep. Perhubungan APBN
perhubungan darat karoseri kendaraan bermotor ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
10. Terstruktur jaringan angkutan AKAP, • Pemetaan struktur jaringan trayek melalui Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
AKDP, Taksi, Pariwisata dan Karyawan digitalisasi hasil kegiatan evaluasi jaringan
trayek terdahulu
• Sosialisasi struktur jaringan trayek Jawa Barat ƒ Dishub APBD Provinsi

11. Terwujudnya pengembangan angkutan • Persiapan pembangunan angkutan massal Metropolitan Bandung, ƒ Dep. Perhubungan APBN
massal BODEBEK ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
• Lanjutan pembangunan jalur ganda KA Jalur ganda Dept. Perhubungan APBN
Cikampek-Padalarang
• Persiapan revitalisasi jalur KA, dan Jalur KA Bandung- ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
penambahan jalur Kereta Api Soreang, Rancaekek- ƒ Dept. Perhubungan APBN
Jatinangor,
penambahan jalur
Kereta Api Bdg-
Cicalengka
• Peningkatan jalur KA Jalur KA Bdg- Dep. Perhubungan APBN
Sukabumi
12. Meningkatnya peran bandar udara • Peningkatan sarana dan prasarana operasi Bandara Husein ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
untuk melayani angkutan barang penerbangan Sastranegara dan ƒ Dep. Perhubungan APBN
maupun penumpang Nusawiru
• Persiapan pembangunan Bandara Lokasi BIJB di Kec. ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
Internasional Jawa Barat Kertajati, Kab. ƒ Dep. Perhubungan APBN
Majalengka
• Identifikasi rute-rute potensial angkutan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
udara dari/ ke Bandung
13. Meningkatkan jumlah penerbangan dari/ Tersedianya Analisa Mengenai Dampak Jawa Barat ƒ Dephub APBN
ke Bandung Lingkungan (AMDAL) pemangkasan Gunung
Bohong
14. Meningkatnya peran pelabuhan laut • Perluasan dermaga dan pengerukan kolam Pelabuhan Cirebon ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
(pelabuhan umum, khusus/perikanan) pelabuhan regional serta melengkapi Muara Gebang ƒ Dinas Perikanan APBN
dan ASDP serta pelayanan dibidang sarana bongkar muat (Kab.Cirebon) ƒ Dep. Perhubungan
keselamatan pelayaran untuk melayani Muara Dadap
angkutan barang maupun penumpang (Kab.Indramayu)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 41


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


Muara Ciasem
(Kab.Subang)
Cikidang (Kab.Ciamis)
• Melengkapi sarana dan prasarna bongkar Pelabuhan Cirebon ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
muat Muara Gebang ƒ Dinas Perikanan APBN
(Kab.Cirebon) ƒ Dep. Perhubungan
Muara Dadap
(Kab.Indramayu)
Muara Ciasem
(Kab.Subang)
Cikidang (Kab.Ciamis)
• Pengembangan pelabuhan laut Pelabuhan Cirebon Dep. Perhubungan APBN
internasional Cirebon Dishub
PT. PELINDO
• Sosialisasi keselamatan pelayaran Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
ƒ Dep. Perhubungan APBN

• Optimalisasi TPKB Gedebage Kota Bandung Biro Sarek APBD Provinsi


Dishub

• Rencana Induk/Master Plan Pelabuhan Kab. Karawang Dephub APBN


Laut Internasional Cilamaya/ Ciparage Investor Investor
Jaya
• Peningkatan Sumber Daya Manusia di Kab.Caimis, Kab. Dishub APBD Provinsi
Bidang angkutan laut, kepelabuhan dan Bandung, Kab. Bandiklatda APBN
kesematan pelayaran Purwakarta dan Pusdiklat Phb Laut
Cianjur, Kab. Bekasi Pusdiklat Phb Darat
• Penertiban alur pelayaran dan lintasan Kab. Ciamis, Kab. Dinas Perhubungan APBD Provinsi
trayek kapal pedalaman Bandung
Kab. Purwakarta dan
Cianjur,Kab. Bekasi
• Pengadaan fasilitas sarana dan prasarana Jawa Barat (al: Dinas Perhubungan APBD Provinsi
SAR dan fasilitas pelabuhan laut ASDP Kab.Ciamis, Dep. Perhububgan APBN
(Darat, udara laut dan ASDP) Kab.Bandung
Kab.Purwakarta dan
Cinajur
Kab.Bekasi
Kab. Indramayu)
15. Meningkatnya kesadaran masyarakat Peningkatan pengguna frekuensi radio dan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
dan tertibnya serta terbinanya ketertiban pengguna frekuensi radio juga
pengguna frekuensi radio frekuensi radio amatir

16. Meningkatnya fungsi lembaga Pos dan ƒ Peningkatan pelayanan unit organisasi Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 42


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


Telekomunikasi dan perijinan frekuensi radio dan pos
ƒ Peningkatan kelancaran koordinasi unit Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
unit operasional pengguna frekuensi radio
dan pos
17. Terwujudnya jaringan telekomunikasi Pembangunan Fasilitas Jaringan Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
Bencana Alam Telekomunikasi Bencana Alam
18. Meningkatnya cakupan layanan Pembangunan fasilitas telekomunikasi Jawa Barat ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
telekomunikasi pedesaan pedesaan ƒ Depkoinfo APBN
19. Tersusunnya konsep Rencana Induk Penyusunan Rencana Induk Transportasi Metropolitan Bandung Bapeda APBD Provinsi
Transportasi Metropolitan Bandung Metropolitan bandung
20. Terfasilitasi dan terkoordinasinya • Fasilitasi dan koordinasi aspek Jawa Barat ƒ Bapeda APBD Provinsi
pengelolaan infrastruktur transportasi kebinamargaan ƒ Biro SAREK
dan telekomunikasi • Fasilitasi dan koordinasi aspek Jawa Barat ƒ Bapeda APBD Provinsi
perhubungan ƒ Biro SAREK
24. Program 1. Meningkatnya kondisi dan fungsi situ, • Penunjang pengembangan infrastruktur Jawa Barat ƒ Dinas PSDA APBD Provinsi
Pengembangan waduk, embung, sungai dan pantai dalam sumber daya air dan irigasi ƒ Bapeda APBN
dan Pengelolaan rangka penyediaan air baku dan ƒ Dep PU
Infrastruktur pengendalian daya rusak air serta
• Pengelolaan situ, waduk, embung, sungai Jawa Barat ƒ Dinas PSDA APBD Provinsi
Sumber Daya Air pengamanan pantai
dan pantai ƒ Dept. PU APBN
dan Irigasi
• Pengelolaan jaringan air baku. Jawa Barat ƒ Dinas PSDA APBD Provinsi
ƒ Dept. PU APBN
• Normalisasi sungai, pembangunan dan Jawa Barat ƒ Dinas PSDA APBD Provinsi
perbaikan infrastruktur pengendali banjir ƒ Dept. PU APBN
• Pengendalian pemanfaatan air permukaan Jawa Barat Dinas PSDA APBD Provinsi
• Pengelolaan jaringan hidrologi Jawa Barat Dinas PSDA APBD Provinsi
2. Meningkatnya intensitas tanam padi pada Pengelolaan jaringan irigasi Jawa Barat ƒ Dinas PSDA APBD Provinsi
daerah irigasi teknis yang dikelola oleh ƒ Dept. PU APBN
pemerintah dari 190% menjadi 192%.
3. Meningkatnya ketersediaan data dan Penataan pengelolaan database Jawa Barat Dinas PSDA APBD Provinsi
informasi.
4. Terfasilitasi dan terkoordinasinya Fasilitasi dan koordinasi pengelolaan sumber Jawa Barat ƒ Bapeda APBD Provinsi
pengembangan dan pengelolaan daya air dan irigasi ƒ Biro SAREK APBN
infrastruktur sumber daya air dan irigasi ƒ Dinas PSDA
ƒ Dep PU
25. Program 1. Terfasilitasi dan terkoordinasinya Fasilitasi dan Koordinasi pengelolaan Jawa Barat ƒ Biro Binprod APBD Provinsi
Pengembangan pengembangan dan pengelolaan infrastruktur listrik dan energi ƒ Distamben
dan Pengelolaan infrastruktur listrik dan energi
Infrastruktur 2. Terpantaunya operasi, distribusi dan Pengendalian kegiatan usaha di sektor Jawa Barat Distamben APBN
Listrik dan Energi niaga BBM (200 Agen, 300 SPBU) migas hilir APBD Provinsi
3. Tersedianya rancangan pengembangan Penyiapan pengembangan pemanfaatan Kabupaten penghasil Distamben APBD Provinsi
sumur migas sumur migas sebagai sumber energi migas

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 43


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

MISI 3 : MEMANTAPKAN KINERJA PEMERINTAHAN DAERAH

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


26. Program Penataan 1. Terwujudnya landasan hukum dalam • Evaluasi produk hukum berkaitan dengan Jawa Barat Biro Hukum APBN
dan Pembentukan penyelenggaraan pemerintahan daerah perjanjian kerjasama pemerintah dengan APBD Provinsi
Hukum Daerah, institusi lain
Serta Kesadaran
Hukum dan HAM • Revisi dan/atau menyusun produk hukum Jawa Barat Biro Hukum APBD Provinsi
untuk memperkuat akses publik ke proses
peradilan

• Sosialisasi kepada masyarakat dan Jawa Barat Biro Hukum APBD Provinsi
penegak hukum mengenai akses ke
peradilan
27. Program 1. Tersusun dan terkoordinasikannya • Penyusunan perencanaan yang terpadu Jawa Barat • Bapeda APBN
Perencanaan, perencanaan regional dan sektoral dengan didukung data dan informasi yang • SKPD terkait APBD Provinsi
Pengendalian dan akurat
Pengawasan
• Penyusunan perencanaan regional dan Jawa Barat Bapeda APBD Provinsi
Pembangunan
penganggaran pembangunan daerah

2. Terpadu dan terkendalinya ƒ Penyusunan pelaporan hasil pelaksanaan Jawa Barat ƒ Bapeda APBN
pelaksanaan program-program pembangunan (evaluasi, LKPJ, LAKIP, ƒ Biro Dalprog APBD Provinsi
pembangunan daerah Capaian Kinerja, AMJ, dll)

ƒ Pengendalian pelaksanaan Jawa Barat ƒ Bapeda APBN


pembangunan Jawa Barat ƒ Setda (Biro Dalprog) APBD Provinsi
3. Terwujudnya birokrasi pemerintahan Pengawasan pembangunan daerah. 26 Kabupaten/Kota BAWASDA APBN
yang akuntabel dan efisien. APBD Provinsi
28. Peningkatan 1. Meningkatnya sarana prasarana Pengembangan/peningkatan sarana dan 26 Kabupaten/Kota • Biro Umum APBN
Sarana dan pelayanan publik prasarana pelayanan masyarakat • Biro Perlengkapan APBD Provinsi
Prasarana • SKPD Terkait
Aparatur
2. Meningkatnya sarana dan prasarana ƒ Penyelenggaraan Administrasi Seluruh SKPD Seluruh SKPD Provinsi APBD Provinsi
aparatur Perkantoran Provinsi Jawa Barat Jawa Barat (fixed cost)
ƒ Penyelenggaraan Pengadaan Barang dan Seluruh SKPD Seluruh SKPD Provinsi APBD Provinsi
Jasa Provinsi Jawa Barat Jawa Barat (fixed cost)
ƒ Pemeliharaan sarana dan prasarana Seluruh SKPD Seluruh SKPD Provinsi APBD Provinsi
kantor Provinsi Jawa Barat Jawa Barat (fixed cost)
ƒ Pembangunan sarana dan prasarana SKPD terkait SKPD terkait APBN
pemerintahan APBD Provinsi
ƒ Rehabilitasi dan renovasi sarana dan SKPD terkait SKPD terkait APBN
prasarana kantor APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 44


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


ƒ Pengadaan tanah SKPD terkait SKPD terkait APBN
APBD Provinsi
ƒ Pembangunan pusat pemerintahan ƒ Pelabuhan Ratu ƒ Pemda Kab. Sukabumi APBN
Kab. Sukabumi ƒ Pemda Kota APBD Provinsi
ƒ Kota Tasikmalaya Tasikmalaya APBD Kab/Kota
ƒ Kab. Bandung ƒ Pemda Kab. Bandung
Barat Barat
3. Penyediaan Sarana mobilitas ƒ Pengadaan kendaraan dinas SKPD terkait SKPD terkait APBN
APBD Provinsi
ƒ Pengadaan alat berat/peralatan SKPD terkait SKPD terkait APBN
APBD Provinsi
4. Penyediaan infrastruktur penunjang • Pengadaan perangkat keras dan jaringan SKPD terkait ƒ Bapesitelda APBN
teknologi informasi komunikasi data teknologi informasi ƒ SKPD terkait APBD Provinsi
29. Program 1. Terwujudnya peningkatan keahlian dan ƒ Peningkatan Kualitas dan Kesejahteraan Seluruh SKPD di Seluruh SKPD di Provinsi APBD Provinsi
Peningkatan kinerja aparatur pegawai Provinsi Jawa Barat Jawa Barat (fixed cost)
Kualitas
Sumberdaya ƒ Pengembangan basis data, sistem Jawa Barat ƒ Biro Kepeg APBN
Aparatur informasi, dan jaringan dokumentasi serta ƒ Bapesitelda APBD Provinsi
Pemerintah informasi kepegawaian.
ƒ Kerjasama kemitraan antara lembaga Jawa Barat ƒ Setda (Biro Desen) APBN
diklat daerah dengan pusat, lembaga ƒ Bandiklatda APBD Provinsi
profesi dalam dan luar negeri, perguruan ƒ Biro Kepeg.
tinggi dalam diklat aparatur
ƒ Peningkatan manajemen sumber daya Jawa Barat ƒ Setda (Biro Kepeg) APBD Provinsi
aparatur yang berbasis kompetensi
ƒ Peningkatan profesionalisme pegawai Jawa Barat Bandiklatda APBD Provinsi
melalui Diklat-diklat
ƒ Peningkatan profesionalisme pegawai Jawa Barat Seluruh SKPD APBD Provinsi
melalui penataan jabatan fungsional
• Peningkatan dan pemanfaatan Teknologi Jawa Barat Bapesitelda APBD Provinsi
Informasi (TI) untuk kebutuhan aparatur SKPD terkait
dalam meningkatkan kinerja
• Peningkatan standar manajemen Jawa Barat Seluruh SKPD APBD Provinsi
kediklatan
2. Terwujudnya tertib asministrasi izin ƒ Terlaksananya administrasi izin pejabat Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
pejabat negara negara
3. Terlaksananya proses penggantian antar ƒ Terfasilitasinya proses penggantian antar Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
waktu anggota DPRD Provinsi/Kab/Kota waktu anggota DPRD Provinsi/Kab/Kota
ƒ Terlaksananya administrasi penggantian Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
antar waktu anggota DPRD Provinsi/Kab/
Kota

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 45


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


30. Program 1. Terwujudnya administrasi Pembinaan penyelenggaraan Dekonsentrasi Jawa Barat ƒ Biro Dekon APBN
Pemantapan pemerintahan daerah yang efektif dan dan tugas pembantuan. ƒ Bapeda APBD Provinsi
Otonomi Daerah efisien.
dan Kerjasama
Daerah
2. Pemantapan pelaksanaan Otda ƒ Fasilitasi pelaksanaan Otda dan Jawa Barat Biro Desentralisasi APBN
pengembangan daerah otonom. APBD Provinsi
ƒ Pelaksanaan Bantuan Kecamatan untuk Kabupaten Bogor, • Biro Desen APBD Provinsi
meningkatkan kinerja Camat Kota Depok, • Biro Keuangan
Kab.Bekasi,
Kab. Sukabumi
Ciamis, Kuningan,
Cirebon, Kota Banjar
3. Optimalisasi peran Jawa Barat dalam ƒ Kerjasama daerah dalam upaya Jawa Barat dan ƒ BKSP Jabode-tabekjur APBD Provinsi
kerjasama daerah percepatan pembangunan daerah melalui Provinsi lain ƒ Biro Desen
Forum MPU, Konregbang, APPSI, dan ƒ Bapeda
Perbatasan antar Provinsi ƒ SKPD terkait
ƒ Penyusunan instrumen hukum pengelolaan Bandung ƒ Biro Hukum APBD Provinsi
kerjasama daerah ƒ Biro Desen
ƒ Pelibatan peran lembaga kajian dan Jawa Barat ƒ Biro Hukum APBD Provinsi
Universitas dalam penyediaan bahan ƒ Biro Desen
legislasi
ƒ Koordinasi, fasilitasi dan pengendalian Jawa Barat Bakorwil APBD Provinsi
pembangunan bidang pemerintahan,
kesejahteraan sosial dan perekonomian
31. Program 1. Terselenggaranya Tugas Pembantuan ƒ Fasilitasi tugas pembantuan dari Provinsi Jawa Barat Seluruh SKPD APBN
Pemantapan dari Provinsi ke Desa dan dari Provinsi kepada Desa APBD Provinsi
Pemerintahan dan ke Kab/Kota
Pembangunan ƒ Penyusunan dan sosialisasi pedoman Jawa Barat ƒ Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
Desa umum penyelenggaraan asas tugas ƒ
pembantuan
ƒ Fasilitasi penyusunan pedoman Jawa barat ƒ Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
penyelenggaraan tugas pembantuan bagi
Kab/Kota
2. Meningkatkan sinergitas ƒ Terkoordinasinya penyelenggaraan tugas Jawa barat ƒ Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
penyelenggaraan pemerintahan antar pembantuan dari sumber dana APBN dan
pemerintah dan daerah APBD Provinsi
3. Pemantapan penyelenggaraan ƒ Peningkatan wawasan bagi aparat Jawa Barat Bandiklatda APBD Provinsi
Pemerintahan dan Pembangunan Desa pemerintah desa dan BPD BPMD
ƒ Penyediaan sarana dan prasarana Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
pemerintah desa BPMD
ƒ Penguatan/pemberdayaan Badan Usaha Jawa Barat ƒ Setda (Biro Organisasi APBD Provinsi
Milik Desa (BUMDes) ƒ BPMD

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 46


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


ƒ Fasilitasi pemantapan tata laksana Jawa Barat ƒ Setda (Biro Organisasi APBD Provinsi
pelayanan publik di tingkat desa/kelurahan ƒ BPMD
ƒ Dukungan terhadap kegiatan TNI Jawa Barat ƒ BPMD APBD Provinsi
Manunggal Masuk Desa ƒ Bawasda
ƒ Review dan Evaluasi penyelenggaraan Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
pemerintahan desa bagi desa
ƒ Fasilitasi kepada pemerintah kabupaten Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
dan kota tentang penyusunan Perda
pemerintah desa dan kelurahan
ƒ Fasilitasi musyawarah daerah aosiasi Jawa Barat Setda (Biro Dekon) APBD Provinsi
pemerintah desa di BPD
32. Program 1. Terwujudnya sinergitas pengelolaan ƒ Penataan dan pendayagunaan aset daerah Jawa Barat Biro Perlengkapan APBD Provinsi
Pengelolaan keuangan dan kekayaan daerah
Keuangan dan ƒ Penatausahaan pengelolaan keuangan Bandung ƒ Biro Keuangan APBD Provinsi
Kekayaan Daerah daerah ƒ Dispenda
ƒ Sinkronisasi Peraturan-peraturan Bandung ƒ Depdagri APBN
pengelolaan keuangan daerah ƒ Bappenas APBD Provinsi
ƒ Depkeu
ƒ Biro Hukum
2. Terwujudnya pengelolaan keuangan dan ƒ Penerapan manajemen pengelolaan Jawa Barat Biro Keuangan APBN
kekayaan daerah yang akuntabel, efektif keuangan daerah berdasarkan APBD Provinsi
dan efisien Permendagri No. 13 Tahun 2006
ƒ Penerapan akuntabilitas bidang Bandung Biro Keuangan APBD Provinsi
pendapatan dan belanja, penganggaran
dan pengawasan
ƒ Penataan dan pemantapan efektivitas Bandung Biro Organisasi APBD Provinsi
fungsi kelembagaan pengelola keuangan
daerah yang akuntabel

ƒ Peningkatan PAD, Dana Perimbangan dan Jawa Barat ƒ Dispenda APBD Provinsi
Dana Dekonsentrasi serta Dana Tugas ƒ Biro Desen
Pembantuan. ƒ Biro Dekon
ƒ Penertiban administrasi Penggunaan Bandung Biro Keuangan APBD Provinsi
Anggaran.
ƒ Koordinasi dengan departemen/lembaga Bandung ƒ Bapeda APBD Provinsi
pemerintah pusat ƒ Biro Desen

33. Program 1. Menggerakkan peningkatan kerjasama ƒ Penggerakan partisipasi masyarakat dalam Jawa Barat ƒ BPMD APBN
Pengembangan kemitraan, pemerintah, swasta dan pemugaran perumahan dan lingkungan ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
Pemberdayaan masyarakat dalam pemberdayaan permukiman, pengelolaan sarana air bersih ƒ Dinas Sosial
Masyarakat Desa masyarakat dan persampahan ƒ Distarkim
ƒ Pembentukan dan pengembangan Jawa Barat Bapusda APBD Provinsi
perpustakaan desa/kelurahan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 47


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


2. Mendorong peran dan fungsi ƒ Peningkatan kelembagaan masyarakat Jawa Barat ƒ BPMD APBN
masyarakat dan kelembagaan dalam pelayanan dasar ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
masyarakat dalam pembangunan ƒ Dinas Sosial
ƒ Pemanfaatan profil desa/kelurahan dalam Jawa Barat BPMD APBD Provinsi
pembangunan
ƒ Peningkatan peran serta masyarakat Jawa Barat ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
dalam perencanaan pembangunan ƒ Dinas Sosial
ƒ Peningkatan peranserta masyarakat dalam Jawa Barat Bapusda APBD Provinsi
pembangunan melalui pemberdayaan
perpustakaan desa.

3. Mendorong pemanfaatan teknologi tepat Pemasyarakatan dan penerapan teknologi Kota Bandung BPMD APBD Provinsi
guna di perdesaan tepat guna dan pengembangan usaha
berbasis kelompok
4. Meningkatnya keterpaduan penanganan Pemberdayaan masyarakat dan keluarga Kota Bandung ƒ BPMD APBN
kemiskinan miskin ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi
ƒ Dinas Sosial
5. Mendorong penguatan jaringan sosial Peningkatan usaha ekonomi kerakyatan Kota Bandung ƒ BPMD APBN
ekonomi masyarakat ƒ Biro Bangsos APBD Provinsi

MISI 4 : MENINGKATKAN IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN


NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA
34. Program
Pengendalian
Pertumbuhan
Penduduk
35. Program Penataan 1. Tersedianya acuan dalam penyediaan ƒ Mengoperasionalisasikan pengelolaan Jawa Barat Bapeda APBD Provinsi
Ruang data spasial IDSD
ƒ Menyediakan data spasial Jabar Jawa Barat Bapeda APBD Provinsi
APBN
2. Meningkatnya kinerja koordinasi Melaksanakan fasilitasi dan koordinasi Jawa Barat ƒ Bapeda APBD Provinsi
penataan ruang penataan ruang ƒ Distarkim
3. Penyusunan perencanaan yang terpadu Penyusunan Master Palan Transportasi di Kota Bandung, Cimahi, ƒ Dinas Perhubungan APBD Provinsi
dengan didukung data dan analisa yang Wilayah Metro Bandung & Bodebek Kab. Bandung, Kab.
akurat dan berdasarkan SISTRANAS Sumedang, Bogor,

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 48


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


dan tersusunnya perencanaan umum Depok dan Bekasi
sistem perhubungan terpadu di Jawa
Barat

36. Program 1. Tersusunnya atau Tersosialisasikannya • Fasilitasi penanganan sengketa Jawa Barat BPLHD APBD Provinsi
Pengendalian aturan hukum maupun aturan teknis lingkungan melalui ADR
Pencemaran dan pengendalian pencemaran dan
Kerusakan kerusakan lingkungan • Sosialisasi Peraturan dan pedoman Jawa Barat • BPLHD APBD Provinsi
Lingkungan mengenai pengelolaan lingkungan • Biro Yansos
2. Meningkatnya sistem pengendalian Penertiban dan pendayagunaan air bawah CAT Bandung Distamben APBD Provinsi
pemanfaatan dan konservasi air tanah tanah Bogor
37. Program 1. Terbangunnya sinergitas kegiatan ƒ Fasilitasi dan koordinasi pengelolaan Bodebek BPLHD APBD
Peningkatan pengelolaan lingkungan antar B3 dan limbah B3 Metro Bandung
Efektifitas stakeholders ƒ Fasilitasi dan koordinasi peningkatan Jawa Barat BPLHD APBD
Pengelolaan dan jejaring dan kapasitas laboratorium
Konservasi SDA lingkungan
dan LH
ƒ Peningkatan kinerja dan koordinasi Jawa Barat BPLHD APBD
komisi AMDAL Provinsi dan Kab/kota
ƒ Fasilitasi dan koordinasi pengelolaan Jawa Barat • Bapeda APBD
sumber daya alam dan lingkungan • BPLHD
hidup • Distamben
• Dishut
2. Tersedianya sistem informasi lingkungan Penyusunan SoE , ASER, Neraca SDA, Jawa Barat • BPLHD APBD
yang mudah diakses Statistik Lingkungan Jawa Barat , dan • Dishut
AMDAL • Dishub
3. Optimalisasi Sistem Manajemen Penyusunan SOP penanganan bencana Bandung Biro Bansos APBD Provinsi
Bencana Jawa Barat
4. Terfasilitasinya upaya peningkatan ƒ Program ADIPURA Jabar BPLHD APBD Provinsi
kualitas lingkungan melalui program
ƒ Program Indonesia Hijau ƒ Kuningan BPLHD APBN
inovatif atau strategis
• Majalengka
ƒ Program EPCM Jawa Barat BPLHD APBD
38. Pemantapan 1. Meningkatkan fungsi dan kualitas • Penyuluhan dan sosialisasi kawasan ƒ Ciayumajakuning BPLHD APBD
Kawasan Lindung kawasan lindung lindung ƒ Priangan
• Penyuluhan pengamanan dan ƒ Kab. Kuningan Dishut APBD
perlindungan kawasan hutan ƒ Kab. Sukabumi
ƒ Kab. Garut
• Rehabilitasi Kawasan Lindung di KBU • Kota Bandung Dishut APBD
• Kab. Bandung
• Kota Cimahi
2. Terfasilitasinya sinergitas pemantapan • Forum dialog dan komunikasi kawasan Bandung Biro Yansos APBD Provinsi
kawasan lindung lindung Jabar

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 49


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA SUMBER DANA


• Fasilitasi dan koordinasi pengelolaan • Kota Bandung Dishut APBD
kawasan lindung ( Tahura Juanda) • Kab. Bandung
• Kota Cimahi

MISI 5 : MENINGKATKAN KUALITAS KEHIDUPAN SOSIAL YANG BERLANDASKAN AGAMA DAN BUDAYA DAERAH
SUMBER
NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA
DANA
39. Program Terpeliharanya dan termanfaatkannya nilai- ƒ Pembinaan, pelestarian, dan pengembangan Jawa Barat ƒ Disbudpar APBN
Penelusuran nuilai tradisional, peninggalan kesejarahan, kepurbakalaan, permuseuman, sejarah dan ƒ Bapusda APBD Provinsi
Sejarah dan permuseuman, dan kepurbakalaan bagi nilai tradisional Jawa Barat. ƒ Biro Yansos
Pelestarian Nilai- pengembangan budaya daerah ƒ Penataan lingkungan dan situs Jawa Barat Disbudpar APBN
nilai Tradisional
kepurbakalaan APBD Provinsi
ƒ Pengembangan Permuseuman Jawa Barat Disbudpar APBN
APBD Provinsi
40. Program 1. Terwujudnya peran dan fungsi partai Fasilitasi penjaringan aspirasi masyarakat di Jawa Barat ƒ Setwan DPRD APBN
Pemberdayaan politik dalam mewujudkan sistem politik 26 Kab/Kota APBD Provinsi
Infrastruktur dan yang demokratis
Suprastruktur
Politik 2. Terwujudnya peningkatan kapasitas ƒ Fasilitasi capacity building anggota DPRD Jawa Barat Setwan DPRD APBD Provinsi
DPRD dan parpol
ƒ Fasilitasi pelaksanaan fungsi, tugas, Jawa Barat ƒ Sekretariat DPRD APBD Provins
wewenang , hak, dan kewajiban DPRD
Provinsi Jawa Barat

41. Program 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat Peningkatan wawasan kebangsaan kepada 25 Kabupaten/Kota Bakesbanglinmasda APBN
Peningkatan dalam politik generasi muda, partai politik dan organisasi dan Provinsi APBD Provinsi
Kesadaran Politik kemasyarakatan di Jawa Barat APBD
Kab/Kota
2. Terwujudnya peran dan fungsi Peningkatan peran dan fungsi organisasi/ Jawa Barat Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
organisasi/lembaga non pemerintah dalam lembaga non pemerintah dalam perencanaan
partisipasi pembangunan politik pembangunan politik
3. Terlaksananya penerapan kode etik Terlenggaranya konvensi dialog, seminar antar Jawa Barat • Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
berbangsa oleh organisasi sosial budaya, kelompok organisasi kebangsaan di Jawa • Majelis Kode Etik
ekonomi bisnis, keilmuan dan lingkungan Barat, kabupaten/kota
serta terbentuknya majelis kode etik
berbangsa tingkat provinsi, Kab dan kota.
42. Program 1. Terpeliharanya/terciptanya ketentraman ƒ Pelatihan dan sosialisasi pemeliharaan dan Jawa Barat Bakesbanglinmasda APBD Provinsi
Pemeliharaan dan ketertiban umum masyarakat ketertiban umum serta perlindungan
Ketentraman dan masyarakat melalui kerjasama kemitraan
Ketertiban Umum ƒ Fasilitasi kebijakan dan koordinasi Bandung Biro Desentralisasi APBD Provinsi
serta Perlindungan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 50


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

SUMBER
NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA
DANA
Masyarakat pemeliharaan ketentraman dan ketertiban
umum di Jawa Barat
2. Terwujudnya pemeliharaan ketentraman Kerjasama operasional dalam pemeliharaan Kab/Kota di wilayah Dinas Pol PP APBD Provinsi
dan ketertiban umum di daerah perbatasan ketentraman dan ketertiban umum di daerah perbatasan DKI,
antar provinsi dan antar kab/kota perbatasan Banten, Jateng
3. Meningkatnya kemampuan tanggap darurat • Sosialisasi daerah rawan bencana geologi • Kab. Bandung • Distamben APBN
masyarakat dalam menghadapi bencana di Jawa Barat • Kab. Garut • Kesbanglinmas APBD Provinsi
alam • Kab. Cianjur • Dept. ESDM
• Kab. Bogor • Direktorat Mitigasi
Bencana Geologi
• Pelatihan dan sosialisasi penanggulangan • Bekasi Bakesbanglinasda APBD Provinsi
bencana • Karawang
• Subang
• Indramayu
• Ciamis
• Tasikmalaya
• Garut
• Cianjur
• Sukabumi
• Bandung
• Sumedang
ƒ Inventarisasi objek/infrastruktur vital Jawa Barat ƒ Distamben APBN
terhadap bencana geologi ƒ Badan Geologi
ƒ Pengembangan sistem peringatan dini, Jawa Barat ƒ Distamben APBN
mekanisme mitigasi dan penanggulangan ƒ Badan Geologi APBD Provinsi
bencana alam geologi
ƒ Mengembangkan kesiapan masyarakat ƒ Kab. Kuningan ƒ Kesbanglinmas APBN
menghadapi ancaman bencana ƒ Kab. Tasikmalaya ƒ Distamben
ƒ Kab. Garut
ƒ Kab. Cianjur
44. Program 1. Mendukung penanganan dan pemulihan Peningkatan kesejahteraan sosial eks korban • Kab. Garut • Dinas Sosial APBD Provinsi
Peningkatan eks korban bencana bencana melalui bantuan darurat dan bantuan • Kab. Ciamis • Biro Bangsos
Kesejahteraan bahan bangunan rumah • Kab. Sukabumi
Sosial
• Kab. Indramayu
• Kab. Sumedang

2. Meningkatnya sistem manajemen Peningkatan koordinasi dan peranserta 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
penanggulangan bencana di Jawa Barat masyarakat serta aparat dalam mengantisipasi • Biro Bangsos APBD Provinsi
dan menanggulangi bencana
3. Mendorong peningkatan pembinaan, ƒ Meningkatkan pelayanan kesejahteraan 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
penyuluhan dan bantuan sosial bagi sosial bagi PMKS • Biro Bangsos APBD Provinsi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 51


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

SUMBER
NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA
DANA
penyandang masalah kesejahteraan sosial ƒ Meningkatkan kualitas manajemen dan 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
dalam meningkatkan keterampilan dan profesionalisme dalam pelayanan Kesos • Biro Bangsos APBD Provinsi
kemampuan berusaha sehingga mampu
melaksanakan fungsi sosialnya kembali ƒ Meningkatkan pelayanan sosial di komunitas 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
secara wajar sebagai SDM yang berkualitas adat • Biro Bangsos APBD Provinsi
dan produktif ƒ Peningkatan penanggulangan korban 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
bencana alam • Biro Bangsos APBD Provinsi
4. Menggerakkan peranserta masyarakat dan Mengembangkan potensi dan partisipasi sosial 25 Kabupaten/Kota BPMD APBN
menggali sumber-sumber potensi masyarakat APBD Provinsi
masyarakat dalam penanggulangan
masalah kesejahteraan sosial
5. Mendorong peningkatan kesadaran untuk Menumbuhkembangkan nilai-nilai 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
melestarikan nilai-nilai keperintisan, kepahlawanan, keperintisan, kejuangan, serta • Biro Bangsos APBD Provinsi
kepahlawanan dan kejuangan kesetiakawanan sosial
6. Terpenuhinya pengadaan sarana dan ƒ Pengembangan sistem informasi masalah 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
prasarana sosial sosial • Biro Bangsos APBD Provinsi
ƒ Penyediaan sarana dan prasarana Balai/ 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
Panti Sosial • Biro Bangsos APBD Provinsi
7. Meningkatkan koordinasi dan fasilitasi Koordinasi dan fasilitasi penanganan masalah 25 Kabupaten/Kota • Dinas Sosial APBN
dalam penanganan masalah Kesos kesejahteraan sosial • Biro Bangsos APBD Provinsi
45. Program 1. Meningkatnya pemahaman tentang hak ƒ Melakukan penyebaran informasi tentang 25 Kabupaten/Kota • Din Sosial APBN
Perlindungan dan kewajiban anak dan remaja serta hak-hak anak dan perlindungan sosial anak • Disnakertrans APBD Provinsi
Perkembangan reproduksi remaja dan remaja • Biro Bangsos
Sosial Anak dan
Remaja ƒ Meningkatkan pelayanan dan 25 Kabupaten/Kota • Din Sosial APBN
penanggulangan anak jalanan dan anak • Disnakertrans APBD Provinsi
terlantar • Biro Bangsos

2. Mendorong peran lembaga dan pemulihan Fasilitasi, pelayanan dan rehabilitasi sosial 25 Kabupaten/Kota • Din Sosial APBN
sosial serta penanggulangan anak korban bagi korban penyalahgunaan NAPZA. • Disnakertrans APBD Provinsi
narkoba • Biro Bangsos
3. Mendorong peningkatan kesadaran Peningkatan koordinasi dan fasilitasi 25 Kabupaten/Kota • Din Sosial APBN
masyarakat terhadap bahaya Pencegahan, Penanggulangan, • Disnakertrans APBD Provinsi
penyalahgunaan narkoba Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap • Biro Bangsos
Narkoba (P4GN)
4. Mendorong pertumbuhan anak dengan Fasilitasi penanganan masalah anak di Jawa 25 Kabupaten/Kota • Din Sosial APBN
terlindunginya hak-hak anak Barat • Disnakertrans APBD Provinsi
• Biro Bangsos
46. Program Pembinaan Meningkatnya peran lembaga-lembaga sosial ƒ Pemberdayaan lembaga-lembaga sosial Kabupaten/Kota se- ƒ Biro Yansos APBN
Lembaga Sosial keagamaan dan lembaga pendidikan keagamaan, seperti kelompok jemaah Jawa Barat ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
Keagamaan keagamaan dalam pembangunan keagamaan, majelis ta’lim, organisasi
keagamaan, Baitul Mal wa Tamwil (BMT),
Badan Amil Zakat, dan petugas wakaf;

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 52


Draft 3 RKPD BAPEDA PROVINSI JAWA BARAT

SUMBER
NO PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKASI KEGIATAN LOKASI PELAKSANA
DANA
ƒ Subsidi dan imbal swadaya pembangunan & Kabupaten/Kota se- ƒ Biro Yansos APBN
rehabilitasi sarana serta prasarana kepada Jawa Barat ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
lembaga sosial keagamaan dan lembaga
pendidikan keagamaan;
ƒ Peningkatan kualitas tenaga pengelola Kabupaten/Kota se- ƒ Biro Yansos APBN
lembaga-lembaga sosial keagamaan dan Jawa Barat ƒ Kanwil Depag APBD Provinsi
lembaga pendidikan keagamaan.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi – 2008 IV - 53


PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB V
ANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH

A
nggaran pembangunan daerah pada Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun
2008 memberikan gambaran anggaran pembangunan yang diperlukan untuk
pelaksanaan kegiatan dengan memperhatikan kemampuan fiskal Pemerintah Provinsi Jawa
Barat. Anggaran pembangunan daerah tersebut pendanaannya bersumber antara lain dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN).

5.1 KERANGKA ANGGARAN DAERAH

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah, Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah serta lebih teknis telah terbit Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, APBD merupakan dasar pengelolaan
keuangan daerah dalam masa 1 (satu) Tahun Anggaran terdiri atas pendapatan daerah,
belanja daerah dan pembiayaan daerah.

Sumber penerimaan daerah terdiri atas Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana
Perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah. Sedangkan pembiayaan bersumber dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA), Penerimaan Pinjaman Daerah, Dana Cadangan
Daerah (DCD), dan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan. Selain dana dari
penerimaan daerah tersebut, daerah menerima dana yang bersumber dari pemerintah Pusat
berupa dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan yang mana dana tersebut sesuai
dengan kebijakan Pemerintah Pusat yang diperuntukan bagi kepentingan pelaksanaan
pembangunan di Jawa Barat.

Sumber pendanaan pembangunan di Jawa Barat selama 5 (lima) tahun (2004-2007)


secara keseluruhan adalah sebagai berikut :

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-1
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.1
Perkembangan Dana Pembangunan berbagai Sumber Dana
di Provinsi Jawa Barat Tahun 2003 s.d 2007
Jumlah Dana Pertumbuhan
Tahun APBD APBN/BLN
Pembangunan per Tahun

2003 3.885.420.919.258,22 27.260.752.820.000,00 31.146.173.739.258,20


2004 4.712.887.298.214,09 2.434.715.925.000,00 7.147.603.223.214,09 (77,05)
2005 5.700.026.831.254,93 3.625.222.642.000,00 9.325.249.473.254,93 30,47
2006 5.564.023.660.142,09 3.347.331.395.000,00 8.911.355.055.142,09 (4,44)
2007 5.569.049.568.751,84 3.542.579.416.000,00 9.111.628.984.751,84 2,25
Rata-Rata Pertumbuhan Per Tahun (12,19)
Sumber : data APBD Tahun 2004 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang Perubahan
APBD dan Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni), DIPA APBN/BLN TA 2003 – 2007

Perkembangan dana pembangunan di Jawa Barat secara keseluruhan yang berasal dari
dana APBD dan APBN/BLN (dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan), yang masuk ke
Jawa Barat selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007), rata-rata per tahun mengalami
penurunan sebesar 12,19%.

5.1.1 Kondisi APBD

Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terdiri dari Pendapatan
Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiyaan Daerah. Pendapatan diantaranya dari Pendapatan
Asli Daerah, Dana Perimbangan dan Pendapatan Lain-lain yang Sah.

Belanja daerah yang merupakan pengeluaran dalam rangka penyelenggaraan


pemerintah dan kepentingan pelaksanaan pembangunan daerah, diklasifikasikan menurut
organisasi, fungsi, program dan kegiatan, serta jenis belanja. Sedangkan pembiayaan daerah
yang berfungsi untuk menutupi defisit anggaran, merupakan selisih antara pendapatan dan
belanja. Pembiayaan daerah tersebut terdiri dari penerimaan dan pengeluaran.

5.1.1.1 Pendapatan Daerah

Sumber pendapatan daerah antara lain dari Pendapatan Asli Daerah, Dana
Perimbangan dan Pendapatan Lain-lain yang Sah. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas hasil
pajak daerah, hasil retribusi dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah.

Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 5
tahun (2003-2007), rata-rata pertumbuhannya per tahun mengalami kenaikan sebesar
14,64% dan kontribusi terhadap APBD rata-rata per tahun adalah sebesar 62,40%. Berikut
disajikan tabel perkembangannya :

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-2
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.2
Perkembangan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s.d 2007

Pertumbuhan Proporsi
Tahun PAD APBD
% %
2003 2.170.593.640.359,73 3.885.420.919.258,22 55,87
2004 2.846.800.734.938,37 31,15 4.712.887.298.214,09 60,40
2005 3.604.767.565.479,84 26,63 5.700.026.831.254,93 63,24
2006 3.747.256.213.011,00 3,95 5.564.023.660.142,09 67,35
2007 3.627.802.762.512,00 (3,19) 5.569.049.568.751,84 65,14
Rata-rata Per Tahun 14,64 62,40
Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang
Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

Jika melihat kemampuan keuangan dari Pendapatan Asli Daerah Provinsi Jawa Barat
dengan rata-rata per tahun kontribusi terhadap APBD sebesar 62,40% berarti bahwa
Provinsi Jawa Barat memiliki kemampuan fiskal dalam kategori cukup mampu karena diatas
dari 50%. Hal ini berarti pendapatan di luar PAD hanya sebesar 37,60% yaitu dari dana
perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah.

Bila memperhatikan kecenderungan pendapatan daerah sejak tahun 2003-2006


terlihat bahwa dari tahun 2003 terjadi peningkatan dengan kecenderungan menurun
pertumbuhannya hingga tahun 2006. Kondisi ini diperkirakan berlanjut terus pada tahun
2007. Terjadinya penurunan pertumbuhan pendapatan daerah ini karena sektor pajak
daerah yang selama ini memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan daerah
mengalami penurunan pendapatan dari sektor Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea
Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB). Dengan asumsi bahwa pada tahun 2008
pendapatan dari sektor pajak daerah hanya mengalami pertumbuhan 7% dibanding tahun
sebelumnya dan pendapatan yang berasal dari retribusi, perusahaan milik daerah dan
kekayaan daerah, serta lain-lain PAD yang sah mengalami kenaikan rata-rata 30%, maka
diproyeksikan pendapatan daerah adalah sebesar Rp. 5.600.901.571.090,00 atau mengalami
kenaikan 9,2% dari tahun 2007.
Dana perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU) dan Bagi hasil pajak/bukan
pajak. DAU yang diluncurkan dari pemerintah pusat ke daerah bertujuan untuk menghindari
kesenjangan fiskal (fiscal gap) antar daerah. Besarnya DAU ditetapkan berdasarkan kriteria
tertentu yang menekankan pada aspek pemerataan dan keadilan yang selaras dengan
penyelenggaraan urusan pemerintahan dengan formula dan perhitungan yang ditetapkan
sesuai undang-undang. Berdasarkan formula dan perhitungan tersebut, sesuai dengan
tujuannya diharapkan suatu daerah alokasi DAU-nya menurun dari tahun ke tahun. Dengan

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-3
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

demikian daerah tersebut dianggap atau dikategorikan sudah mandiri dalam kemampuan
fiskalnya.

Perkembangan Dana Alokasi Umum (DAU) Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 5
tahun terakhir, rata-rata kenaikan per tahunnya adalah sebesar 15,85% dan rata-rata
kontribusi per tahun terhadap APBD sebesar 12,78%. Namun demikian, bila dilihat lebih
rinci, dari tahun 2003-2006 terdapat kecenderungan penurunan nilai DAU, sementara pada
tahun 2007 terjadi peningkatan nilai DAU yang sangat signifikan. Sedangkan dana
perimbangan dari bagi hasil perkembangan selama kurun waktu 5 tahun rata-rata
kenaikannya adalah sebesar 4,37% dan rata-rata per tahun kontribusi terhadap APBD adalah
sebesar 12,35%, berikut tabel perkembangannya :

Tabel 5.3
Perkembangan Rincian Dana Perimbangan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s.d 2007

Bagi hasil Pertumbu Pertumbu


Tahun Proporsi DAU Proporsi APBD
Pajak/Bukan Pajak han % han %

2003 519.011.196.731,11 13,36 574.880.116.999,00 14,80 3.885.420.919.258,22


2004 623.885.954.522,50 20,21 13,24 573.778.000.000,00 (0,19) 12,17 4.712.887.298.214,09
2005 649.460.700.066,00 4,10 11,39 570.660.000.000,00 (0,54) 10,01 5.700.026.831.254,93
2006 733.042.160.567,00 12,87 13,17 565.753.000.000,00 (0,86) 10,17 5.564.023.660.142,09
2007 588.630.853.000,00 (19,70) 10,57 933.436.000.000,00 64,99 16,76 5.569.049.568.751,84
Rata-Rata per Tahun 4,37 12,35 15,85 12,78
Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang
Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

Sedangkan perkembangan dana perimbangan secara total selama kurun waktu 5


tahun terakhir (2003-2007) rata-rata pertumbuhan per tahunnya adalah sebesar 8,75 %,
dan kontribusi terhadap APBD dalam kurun waktu yang sama rata-rata sebesar 25,13 %.
Berikut tabel perkembangannya :

Tabel 5.4
Perkembangan Total Dana Perimbangan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s.d 2007
Pertumbuhan Proporsi
Tahun Perimbangan APBD
% %
2003 1.093.891.313.730,11 3.885.420.919.258,22 28,15
2004 1.197.663.954.522,50 9,49 4.712.887.298.214,09 25,41
2005 1.220.120.700.066,00 1,88 5.700.026.831.254,93 21,41
2006 1.114.383.853.000,00 6,45 5.564.023.660.142,09 23,34
2007 1.522.066.853.000,00 17,19 5.569.049.568.751,84 27,33
Rata-rata per Tahun 8,75 25,13
Sumber : Tahun 2004 dan 2005 Realisasi Perda Perhitungan APBD, Tahun 2006 Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda
APBD (Murni)

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-4
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Secara total pendapatan Provinsi Jawa Barat yaitu penerimaan dari Pendapatan Asli
Daerah dan Dana Perimbangan dalam kurun waktu 2003-2007 mengalami peningkatan
sebesar 12,46 % per tahun dan kontribusinya terhadap APBD sebesar 87,53 % per tahun
sebagaimana tabel 5.5 di bawah ini :

Tabel 5.5
Perkembangan Total Pendapatan Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 s.d 2007
Pertumbuhan Proporsi
Tahun Pendapatan APBD
% %
2003 3.264.484.954.089,84 3.885.420.919.258,22 84,02
2004 4.044.464.689.460,87 23,89 4.712.887.298.214,09 85,82
2005 4.824.888.265.545,84 19,30 5.700.026.831.254,93 84,65
2006 5.046.051.373.578,00 4,60 5.564.023.660.142,09 90,71
2007 5.149.869.615.512,00 2,04 5.569.049.568.751,84 92,47
Rata-rata per Tahun 12,46 87,53
Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang
Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

5.1.1.2 Belanja Daerah

Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan


pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari
urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang
tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau
antar pemerintah daerah yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan.

Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan


masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk
peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang
layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.

Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja dalam


pencapaian standar pelayanan minimal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Perkembangan alokasi belanja daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 5
tahun terakhir (2003-2007) mengalami kenaikan sebesar 14,08 % dan rata-rata proporsi
sebesar 84,15 % per tahun sebagaimana terlihat pada tabel 5.6.

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-5
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.6
Perkembangan Alokasi Belanja Daerah Tahun 2003 s.d 2007
Pertumbuhan
Tahun Belanja APBD Proporsi%
%
2003 3.132.781.224.902,00 3.885.420.919.258,22 80,63
2004 3.670.567.300.180,00 17,17 4.712.887.298.214,09 77,88
2005 4.309.282.267.306,84 17,40 5.700.026.831.254,93 75,60
2006 5.118.814.954.732,31 18,79 5.564.023.660.142,09 92,00
2007 5.271.083.679.606,84 2,97 5.569.049.568.751,84 94,65
Rata-rata per Tahun 14,08 84,15
Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang
Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

Sesuai Pasal 37 Permendagri No. 13 Tahun 2006 belanja daerah terbagi atas belanja
Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai,
bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja
tidak terduga. Perkembangan belanja daerah Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 5
tahun (2003–2007) rata-rata pertumbuhan per tahunnya belanja Tidak Langsung mengalami
kenaikan sebesar 14,08% terdiri dari belanja pegawai naik sebesar 15,58%, belanja bagi
hasil naik sebesar 18,45%, belanja bantuan naik sebesar 32,78% dan belanja tidak terduga
turun sebesar 1,95% serta belanja Langsung naik sebesar 2,81%. Sedangkan proporsi
masing-masing belanja terhadap volume APBD rata-rata per tahun adalah belanja Tidak
Langsung meningkat sebesar 52,52% terdiri dari belanja pegawai naik sebesar 12,01%,
belanja bagi hasil naik sebesar 20,83, belanja bantuan naik sebesar 18,25%, dan belanja
tidak terduga naik sebesar 1,43% serta Belanja Langsung naik sebesar 31,64%.
Perkembangan rincian belanja sebagaimana yang tecantum dalam tabel 5.7 berikut :

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-6
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.7
Perkembangan Rincian Belanja Tahun 2003 s.d 2007
Rata2
Rata2 Proporsi
No. Uraian 2003 2004 2005 2006 2007 Pertumbuhan per
per Tahun (%) Tahun
(%)
Belanja 3.132.781.224.902,00 3.670.567.300.180,00 4.309.282.267.306,84 5.118.814.954.732,31 5.271.083.679.606,84 14,08 84,15
1 Belanja Tidak Langsung 1.675.719.527.464,00 2.166.410.076.421,50 2.711.595.944.207,00 3.348.434.419.612,94 3.660.402.959.795,64 21,81 52,52
Belanja Pegawai 414.494.345.255,00 524.972.290.430,50 641.468.582.950,00 786.394.262.587,98 714.818.238.942,00 15,58 12,01
Belanja Bagi Hasil 693.393.046.272,00 920.653.685.803,00 1.138.599.366.767,00 1.261.370.961.840,00 1.344.162.607.790,00 18,45 20,83
Belanja Bantuan 497.346.321.298,00 649.887.246.188,00 862.514.990.460,00 1.214.859.623.384,74 1.541.422.113.063,64 32,78 18,25
Belanja Tidak Terduga 70.485.814.639,00 70.896.854.000,00 69.013.004.030,00 85.809.571.800,22 60.000.000.000,00 -1,95 1,43
2 Belanja Langsung 1.457.061.697.438,00 1.504.157.223.758,50 1.597.686.323.099,84 1.770.380.535.119,37 1.610.680.719.811,20 2,81 31,64

Volume APBD 3.885.420.919.258,22 4.712.887.298.214,09 5.700.026.831.254,93 5.564.023.660.142,09 5.569.049.568.751,84


Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang Perubahan APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 V-7
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

5.1.1.3 Pembiayaan Daerah

Pembiayaan merupakan transaksi keuangan yang dimaksudkan untuk menutupi


selisih antara Pendapatan dan Belanja Daerah. Adapun pembiayaan tersebut bersumber
dari sisa lebih perhitungan anggaran sebelumnya (SiLPA), pencairan dana cadangan, hasil
penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan
kembali pemberian pinjaman dan penerimaan piutang daerah.

Berdasarkan tabel 5.8, APBD Provinsi Jawa Barat setiap tahun mengalami defisit
anggaran, yang selama kurun waktu 5 tahun (2003-2007) rata-rata per tahunnya
mengalami peningkatan sebesar 37,54%, yang dapat ditutup dengan pembiayaan, tetapi
rata-rata pertumbuhan dari penerimaan pembiayaan untuk menutupi anggaran defisit
tersebut mengalami penurunan sebesar 1,25% per-tahun, begitu pula pengeluaran
pembiayaan rata-rata pertumbuhan per-tahun mengalami penurunan sebesar 9,71%.

Tabel 5.8
Perkembangan Pembiayaan Tahun 2003 s.d 2007
Pembiayaan
Pertumb
Tahun Pertumbuhan Pertumbuhan Surplus/Defisit uhan
Penerimaan Pengeluaran Defisit
Penerimaan Pengeluaran

2003 620.935.965.168,38 752.639.694.356,22 (131.703.729.187,84)


2004 668.422.608.753,22 7,65 1.042.319.998.034,09 38,49 (373.897.389.280,87) 183,89
2005 875.138.565.709,09 30,93 1.390.744.563.948,09 33,43 (475.915.916.408,96) 27,29
2006 1.003.184.186.166,09 14,63 445.208.705.409,78 (67,99) (557.975.480.756,31) 17,24
2007 419.179.953.239,84 (58,22) 297.965.889.145,00 (33,07) (121.214.064.094,84) (78,28)
Rata-Rata per Tahun -1,25 -9,71 37,54
Sumber : Data Tahun 2003 s.d 2005 Perda tentang Perhitungan/Realisasi APBD, Tahun 2006 Perda tentang Perubahan
APBD, Tahun 2007 Perda tentang APBD (Murni)

5.1.2 Alokasi APBN

Sumber pendanaan pembangunan di Jawa Barat yang lainnya berasal dari


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), baik berupa dana dekonsentrasi yang
pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada SKPD Provinsi maupun dana Tugas
Pembantuan, yaitu dana yang langsung disalurkan ke Kabupaten/Kota.

Besarnya alokasi APBN yang masuk ke Jawa Barat setiap tahunnya mengalami
fluktuasi. Pada tahun 2004, total APBN yang masuk ke Provinsi Jawa Barat mencapai Rp.
2,435 trilyun, tahun 2005 sebesar Rp. 3,625 trilyun dan pada tahun 2006 sebesar Rp.
3,347 trilyun atau mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp. 277,9

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V-8
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

milyar. Sedangkan pada tahun 2007, APBN yang masuk ke Jawa Barat mencapai Rp.
3,542 milyar atau mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, sebesar Rp. 195,3 milyar.
Adapun perkembangan alokasi APBN di Jawa Barat selama kurun waktu 4 (empat) Tahun
(2004 s.d 2007) dapat dilihat pada tabel 5.9 berikut ini :

Tabel 5.9
Jumlah Dana APBN tahun 2004 – 2007

Sumber Dana (Ribu Rupiah) % Perubahan


Tahun
APBN PNBP PHLN Total
2004 2.134.795.083 299.920.842 2.434.715.925 -
2005 3.136.911.533 190.929.375 297.381.734 3.625.222.642
2006 3.189.372.339 1.611.766 156.327.290 3.347.311.395
2007 3.364.711.856 - 177.867560 3.542.579.416

Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007

Pada tahun 2007 alokasi dana dekonsentrasi tersebar di 20 (dua puluh) SKPD
sedangkan tahun 2006 tersebar di 16 (enam belas) SKPD. SKPD baru yang memperoleh
alokasi dana dekonsentrasi pada tahun 2007 adalah Bawasda, BPMD, Badan Kesbang &
Linmasda dan Bapeda Provinsi Jawa Barat.

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat merupakan SKPD yang memperoleh alokasi
terbesar baik pada tahun 2006 yang mencapai Rp. 2,258 trilyun maupun pada tahun 2007
yang mencapai Rp. 2,525 trilyun. SKPD yang memperoleh alokasi terbesar kedua adalah
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dimana pada tahun 2006 mencapai Rp. 255 milyar
dan pada tahun 2007 mencapai Rp. 181 milyar. Sedangkan alokasi terkecil berada pada
Badan Arsip Daerah baik pada tahun 2006 maupun pada tahun 2007 hanya memperoleh
dana sebesar Rp. 150 juta.

Untuk lebih jelasnya, distribusi alokasi dana APBN berupa dana dekonsentrasi yang
masuk ke Provinsi Jawa Barat melalui SKPD Provinsi Jawa Barat sebagaimana terlihat
pada Tabel 5.10 berikut ini.

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V-9
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.10
Alokasi Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan (APBN)
Per SKPD di Provinsi Jawa Barat

TAHUN 2006 TAHUN 2007


NO. SKPD Jmlh. ALOKASI DANA Jmlh. ALOKASI DANA
DIPA (Rp) DIPA (Rp)

1. Dinas Pertanian TPH 9 33.240.528.000 7 34.181.829.000


2. Dinas Peternakan 3 10.179.729.000 3 8.854.010.000
3. Dinas Perkebunan 3 12.441.214.000 3 4.579.065.000
4. Dinas Perindustrian dan Perdagangan 4 3.954.880.000 5 10.075.320.000
5. Dinas Pertambangan dan Energi 1 2.606.692.000 1 3.656.692.000
6. Dinas Pendidikan 5 2.258.537.158.000 5 2.524.843.949.000

7. Dinas Kesehatan Jawa Barat 8 169.929.699.000 6 181.185.557.000


8. Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi 9 18.285.234.000 5 10.469.335.000
9. Dinas Sosial 4 36.083.195.000 4 34.897.554.000

10. Dinas Kehutanan 3 1.960.705.000 3 1.820.114.000

11. Dinas Perikanan 5 28.800.000.000 6 28.158.000.000


12. Dinas Koperasi dan UKM 1 9.036.661.000 1 9.037.000.000
13. Biro Bina Produksi 1 26.687.560.000 - -
14. Biro Dekonsentrasi dan Tuban 1 1.941.240.000 - -
15. Badan Arsip Daerah 1 150.000.000 1 150.000.000
16. Badan Perpustakaan Daerah 1 250.000.000 1 17.250.000.000
17. Dinas PSDA 11 517.967.620.000 -
18. Dinas Bina Marga 5 266.656.632.000 -
19. Sekretariat Prov.Jabar - - 6 29.301.015.000
20. Bawasda Prov. Jabar - - 1 155.155.000
21. BPMD Prov. Jabar - - 1 354.930.000
22. Badan Kesbang & Linmasda Prov. Jabar - - 1 165.307.000
23. Bapeda Prov. Jabar - - 3 559.468.000

TOTAL 75 2.613.729.495.000 2.900.590.000.000


Sumber : Bapeda Provinsi Jawa Barat, 2007

Apabila dilihat berdasarkan Departemen/LPND, alokasi APBN Tugas Pembantuan


(Tuban) yang masuk ke Jawa Barat pada tahun 2007 mengalami penurunan dibandingkan
dengan alokasi APBN Tuban pada tahun 2006 seperti terlihat pada tabel 5.12. dan tabel
5.13. Pada Tahun 2007 jumlah dana APBN Tuban yang masuk ke Provinsi Jawa Barat
sebesar Rp. 641.989.416.000,- tersebar di delapan (8) departemen. Sedangkan jumlah
dana APBN Tuban yang masuk ke Provinsi Jawa Barat pada tahun 2006 mencapai Rp.
646.518.078.000,- yang tersebar di enam (6) Departemen.
Sedangkan alokasi dana APBN Tuban pada tahun 2006, jumlah terbesar berada pada
Depertemen Pekerjaan Umum yang mencapai Rp. 423.900.510.000,-, kemudian
Departemen Kesehatan yang mencapai Rp. 117.613.703.000,- serta alokasi terkecil

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 10
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

berada pada Departemen Kelautan dan Perikanan yakni sebesar Rp. 7.075.000.000,-
Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun 2007 alokasi dana APBN Tuban
didistribusikan kepada 8 Departemen yang sebelumnya hanya 6 departeman, yakni
ditambah Departemen Perindustrian dan Departemen Pendidikan Nasional. Pada tahun
2007 alokasi terbesar berada pada Departemen Pertanian yakni sebesar Rp.
213.171.278.000,- kemudian Departemen Kesehatan sebesar Rp. 150.295.285.000,- dan
yang mendapatkan alokasi terkecil adalah Departemen Perindustrian yang mancapai Rp.
550.000.000,-.

Tabel 5.11
REKAPITULASI DAFTAR KEGIATAN APBN/PHLN TUGAS PEMBANTUAN
PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2006
BERDASARKAN DEPARTEMEN/LPND

Sumber Dana
No. Departemen/LPND
Rupiah Murni PNBP PHLN Jumlah
1. Dalam Negeri 2.048.400.000 - 12.290.410.000 14.338.810.000
2. Pertanian 70.278.060.000 - - 70.278.060.000
3. Kesehatan 117.613.703.000 - - 117.613.703.000
4. Tenaga Kerja dan 13.311.995.000 - - 13.311.995.000
Transmigrasi
5. Kelautan dan Perikanan 7.075.000.000 - - 7.075.000.000
6. Pekerjaan Umum 365.315.686.000 - 58.584.824.000 423.900.510.000
Jumlah 575.642.844.000 - 70.875.234.000 646.518.078.000

Tabel 5.12
REKAPITULASI DAFTAR KEGIATAN APBN/PHLN TUGAS PEMBANTUAN
PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2007
BERDASARKAN DEPARTEMEN/LPND

Sumber Dana
No. Departemen/LPND
Rupiah Murni PNBP PHLN Jumlah
1. Dalam Negeri 1.600.000.000 - 126.181.455.000 127.781.455.000
2. Pertanian 211.165.168.000 - 2.006.110.000 213.171.278.000
3. Kesehatan 132.265.375.000 - 18.029.910.000 150.295.285.000
4. Tenaga Kerja dan 25.369.899.000 - - 25.369.899.000
Transmigrasi
5. Kelautan dan Perikanan 5.575.000.000 - - 5.575.000.000
6. Pekerjaan Umum 87.115.214.000 - 31.500.085.000 118.615.299.000
7. Perindustrian 550.000.000 - - 550.000.000
8. Pendidikan Nasional 481.200.000 - 150.000.000 631.200.000
Jumlah 464.121.856.000 - 177.867.560.000 641.989.416.000

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 11
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

5.2 KEBIJAKAN ANGGARAN


5.2.1 Kebijakan Pendapatan Daerah
Kebijakan anggaran Tahun 2008 untuk pendapatan daerah yang merupakan
potensi daerah dan sebagai penerimaan Provinsi Jawa Barat sesuai urusannya diarahkan
melalui upaya peningkatan pendapatan daerah dari sektor pajak daerah, retribusi daerah
dan dana perimbangan. Upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pendapatan
daerah adalah :
a. Pemantapan kelembagaan dan Sistem Operasional Pemungutan Pendapatan
Daerah;
b. Peningkatan Pendapatan Daerah dengan intensifikasi dan ekstensifikasi;
c. Meningkatkan koordinasi secara sinergis di bidang Pendapatan Daerah dengan
Pemerintah Pusat, SKPD Penghasil, Kabupaten/Kota, POLRI;
d. Mengoptimalkan kinerja Badan usaha Milik Daerah untuk memberikan kontribusi
secara signifikan terhadap Pendapatan Daerah;
e. Meningkatkan pelayanan dan perlindungan masyarakat sebagai upaya
meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membayar retribusi daerah;

Adapun kebijakan pendapatan untuk meningkatkan Dana Perimbangan sebagai


upaya peningkatan kapasitas fiskal daerah adalah sebagai berikut :
a. Optimalisasi intensifikasi dan ekstensifikasi pemungutan PBB, Pajak Orang Pribadi
Dalam Negeri (PPh OPDN), PPh Pasal 21 dan BPHTB;
b. Meningkatkan akurasi data Sumber Daya Alam sebagai dasar perhitungan
pembagian dalam Dana Perimbangan;
c. Meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Kabupaten/Kota dalam
pelaksanaan Dana Perimbangan.
Berdasarkan perkembangan komponen pendapatan dari tahun 2000 sampai dengan
tahun 2006, selanjutnya diproyeksikan perkiraan pendapatan daerah tahun 2008
sebagaimana disajikan dalam tabel 5.13.

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 12
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Tabel 5.13
PERKEMBANGAN KOMPONEN PENDAPATAN TAHUN 2000-2007, DAN
PROYEKSI TAHUN 2008
TAHUN PAD BAGI HASIL DAU LAIN-LAIN TOTAL
2000 694.620.776.339,98 577.056.079.666,39 1.271.676.856.006,37
2001 1.211.418.015.297,90 1.049.002.357.695,08 521.230.085.000,00 2.781.650.457.992,98
2002 1.571.110.302.830,14 1.261.995.885.450,21 393.880.000.000,00 3.226.986.188.280,35
2003 2.170.593.640.359,73 1.343.632.808.179,33 574.880.116.999,00 4.089.106.565.538,06
2004 2.943.726.194.388,67 1.604.163.025.531,50 489.219.000.000,00 84.559.000.000,00 5.037.108.219.920,17
2005 3.604.767.565.479,84 1.096.269.336.016,00 570.660.000.000,00 56.719.000.000,00 5.271.696.901.495,84
2006 3.051.780.791.173,80 903.909.421.602,00 518.606.000.000,00 4.474.296.212.775,80
2007 4.068.401.760.327,70 933.436.000.000,00 588.630.853.000,00 5.590.468.613.327,70
2008 4.512.609.200.964,95 933.436.000.000,00 588.630.853.000,00 6.034.676.053.964,95

Dari tabel 5.13 menunjukan bahwa perkiraan total pendapatan tahun 2008 adalah
sebesar Rp. 6.034.676.053.964,95, atau mengalami peningkatan 7,90% dibandingkan
tahun 2007. Sedangkan bila diperhatikan berdasarkan komponen Pendapatan Asli Daerah
(PAD), mengalami peningkatan sebesar 10,90% pada tahun 2008.

5.2.2 Kebijakan Belanja Daerah


Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran, belanja daerah disusun
dengan pendekatan anggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input
yang direncanakan dengan memperhatikan prestasi kerja setiap satuan kerja perangkat
daerah dalam pelaksanaan tugas, pokok dan fungsinya, tujuannya adalah untuk
meningkatkan akuntabilitas perencanan anggaran serta menjamin efektivitas dan efisiensi
penggunaan anggaran ke dalam program/kegiatan.
Kebijakan belanja daerah tahun 2008 diupayakan dengan pengaturan pola
pembelanjaan yang proporsional, efisien dan efektif, upaya tersebut antara lain adalah:
a. Penggunaan anggaran belanja langsung disesuaikan dengan kebijakan
pembangunan.
b. Peningkatan efektivitas belanja bantuan keuangan dan bagi hasil kepada
kabupaten/kota dalam belanja tidak langsung dengan pola :
1) Alokasi yang bersifat block grant dari Pos Bagi Hasil secara proporsional, guna
memperkuat kapasitas fiskal kabupaten/kota dalam melaksanakan otonomi
daerah;
2) Alokasi yang bersifat spesific grant dari pos bantuan kepada kabupaten/kota
yang diarahkan dalam rangka mendukung agenda akselerasi pencapaian Visi
Jawa Barat 2010 yaitu :

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 13
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

a) berdasarkan pola penyaluran yang bersifat kompetisi melalui Program


Pendanaan Kompetisi (PPK).
b) membagi alokasi menjadi tiga bagian yaitu dana pemerataan, dana
proporsional dan dana penyeimbang. Dana pemerataan dialokasikan sama
untuk setiap kabupaten/kota, dana proporsional dihitung berdasarkan
indeks Kabupaten/Kota, dan dana penyeimbang ditentukan berdasarkan
variabel kualitatif seperti Ibu Kota Provinsi, Kabupaten/Kota perbatasan
dengan Provinsi lain serta Kabupaten/Kota yang akan menyelenggarakan
even khusus yang berskala regional atau nasional. Variabel-variabel yang
digunakan untuk menghitung indeks kabupaten/kota adalah : Indeks
Pendidikan, Indeks Kesehatan, Indeks Daya Beli, Luas Wilayah, Jumlah
Penduduk, Jumlah Penduduk Miskin, PDRB/Kapita, Pendapatan Asli
Daerah, Proporsi Pengangguran, dan Proporsi Kawasan Lindung. Adapun
kriteria kegiatan yang mendapatkan alokasi bantuan keuangan
Kabupaten/Kota adalah mendukung secara signifikan upaya peningkatan
IPM Jawa Barat; menanggulangi masalah kemiskinan; menanggulangi
masalah pengangguran dan meningkatkan upaya pelestarian lingkungan
khususnya kawasan lindung.
Sedangkan kebijakan pembiayaan bahwa kebutuhan pembangunan daerah yang
semakin meningkat akan berimplikasi pada kemungkinan terjadinya defisit anggaran.
Untuk itu perlu dilakukan antisipasi, upaya yang dapat ditempuh adalah melalui :
a Sisa Lebih Perhitungan Anggaran tahun lalu;
b Transfer dari Dana Cadangan Daerah;
c Penjualan Asset Daerah dan atau Kekayaan Daerah yang dipisahkan;

Seandainya terjadi surplus anggaran maka kebijakan pengeluaran pembiayaan


adalah ditujukan untuk pembentukan Dana Cadangan Daerah (DCD), penyertaan modal
kepada Perusahaan Milik Daerah serta investasi daerah lainnya dalam rangka
menciptakan kemandirian usaha serta untuk pemenuhan kewajiban-kewajiban utang
daerah, sehingga pada akhirnya tetap diupayakan anggaran yang berimbang setelah
pembiayaan.

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 14
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

5.3 PROSEDUR PENETAPAN PAGU INDIKATIF ANGGARAN


Strategi kebijakan pembangunan daerah yang dituangkan dalam dokumen RKPD,
pada dasarnya merupakan akumulasi skenario aktivitas intervensi terhadap tujuan
pembangunan tahunan yang telah disepakati bersama, melalui pengerahan seluruh
sumber daya pembangunan daerah yang tersedia. Salah satu sumber daya yang memiliki
peran penting untuk menjaga konsistensi rencana dengan implementasi kebijakan
tersebut adalah sumber daya keuangan.

Kebutuhan masyarakat yang terkristalisasi dalam skenario pembangunan daerah


memiliki volume yang cukup besar, sedangkan pada sisi supply sumber daya keuangan
daerah memiliki keterbatasan. Oleh karena itu pemilihan prioritas aktivitas serta efisiensi
sumber daya dengan tetap memperhatikan efektivitas tujuan yang telah ditetapkan,
menjadi hal yang teramat penting dalam merancang sistem dan mekanisme alokasi
pemanfaatan sumber daya keuangan daerah. Gambaran interaksi kebijakan
pembangunan daerah dengan potensi sumber daya keuangan daerah, disajikan dalam
gambar 5.1.

ISU PERKEMBANGAN
PEMBANGUNAN PEMBANGUNAN
DAERAH DAERAH

PRIORITAS POTENSI
EVALUASI KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN SUMBER DAYA
PROGRAM DAN KEGIATAN
DAERAH PEMBANGUNAN

RENCANA KERJA IMPLEMENTASI


RENCANA ANGGARAN ASUMSI
PEMBANGUNAN KEBIJAKAN PROGRAM
PEMBANGUNAN DAERAH IMPLEMENTASI
DAERAH DAN KEGIATAN

TUJUAN
PROGRAM PROGRAM Definisi Tujuan dan
SASARAN
Sasaran Program
Definisi Kegiatan
PERTIMBANGAN terhadap Sasaran
MASUKAN Program
KEGIATAN KELUARAN KEGIATAN Definsi alokasi Program
HASIL dan Kegiatan, untuk
setiap Sumber Dana

Gambar 5.1.

Interaksi Kebijakan Pembangunan

Kebijakan pembangunan tahunan daerah yang dituangkan dalam dokumen RKPD, pada
dasarnya merupakan bagian dari kebijakan jangka menengah yang telah disusun. Domain
pokok kebijakan tahunan secara prinsip memiliki korelasi, yang pada gilirannya akan
mendukung tercapaianya target kebijakan jangka menengah, walaupun pada beberapa

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 15
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

hal akan dijumpai kebijakan yang bersifat spesifik untuk dilaksanakan. Oleh karenannya
posisi kebijakan tahunan dalam interaksi kebijakan jangka menengah, hendaknya memiliki
kriteria yang jelas dan tetap mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan dalam
kebijakan jangka menengahnya.

Strategi kebijakan tahunan daerah yang dituangkan dalam kebijakan program dan
kegiatan, akan berkonsekuensi pada kebutuhan sumber daya keuangan, meliputi :
APBN/PHLN, APBD, dan Dana-dana lainnya. Berkenaan dengan adanya kebutuhan akan
anggaran dalam iimplementasi kebijakan, serta terjadinya diversifikasi sumber dana
tersedia namun memiliki keterbatasan, maka penetapan pagu indikatif menjadi sangat
penting. Hal ini dilakukan untuk mendukung terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam
pemandaatan sumber dana, berdasarkan strategi perencanaan pembangunan yang telah
disepakati.

Kebijakan
Jangka Menengah Kebijakan Tahunan

Program Program Sumber Dana

VISI . . APBN/BLN
Program Program Kegiatan

. .
MISI Program Program . APBD

. .
Program Program Kegiatan
DANA
. . LAINNYA

Program Program

2004 2005 2006 2007 2008

Gambar 5.2.

Sumber Dana dalam Kebiijakan Tahunan Daerah

Pagu indikatif anggaran pada dasarnya merupakan batas maksimal alokasi anggaran yang
dibutuhkan untuk mendukung implementasi kebijakan (baik program maupun kegiatan)
berdasarkan rencana yang telah ditetapkan. Adapun pertimbangan yang dijadikan sebagai

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 16
PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

kriteria penetapan dalam penyusunan pagu anggaran indikatif tersebut adalah hasil
evaluasi kinerja kebijakan tahun sebelumnya, serta prioritas pembangunan yang
ditetapkan berdasarkan definisi isu strategisnya.

Dalam penetapan pagu anggaran indikatif, yang perlu diperhatikan adalah


kejelasan definsi struktur baik program maupun kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini
dilakukan untuk memberikan kejelasan posisi relatif kegiatan terhadap program, melalui
tujuan dan sasaran program yang telah ditetapkan. Pemilahan yang jelas antara program
dan kegiatan, berdasarkan definsi komposisi sasaran dalam program, serta kegiatan
dalam setiap sasaran, akan memberikan informasi berkenaan dengan bobot pagu yang
semestinya disusun.

Metode yang digunakan dalam menetapkan pagu anggaran indikatif RKPD Provinsi
Jawa Barat tahun 2008 adalah metode TAD (Treatment of Domain Allocation). Persamaan
matematis yang digunakan berdasarkan metode ini adalah sebagai berikut :

PBi = a + ( 1 + k ) Xi , dimana i = 1, 2, . . . , 49

Keterangan :
PBi : Proporsi Bobot, dimana variabel ini menunjukan proporsi relatif program terhadap program
lainnya,
a : Intercept, dimana variabel ini merupakan kebutuhan minimal yang memang seharusnya tersedia,
dimana kebutuhan tersebut mendukung aktivitas rutin,
k : Koreksi, dimana variabel ini merupakan konstanta koreksi terhadap hasil penilaian program,
Xi : Nilai Program, dimana variabel ini merupakan bobot program berdasarkan hasil penilaian (evaluasi,
program prioritas).

Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2008 V - 17
Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

BAB VI
PENUTUP

RKPD Provinsi Jawa Barat 2008 merupakan penjabaran dari Renstra Pemerintah
Jawa Barat 2003-2008 dengan mengacu kepada RKP 2008. Dari pencermatan jangka
waktu rencana, RKPD 2008 bersifat sangat strategis, karena merupakan rencana tahun
terakhir dari Renstra Pemerintah Jawa Barat, sehingga tingkat keberhasilan dari rencana
ini akan menentukan pula keberhasilan dari pemerintahan Kepala Daerah Provinsi Jawa
Barat.
Disisi lain, dalam kurun waktu perjalanan Renstra Pemerintah Jabar 2003-2008 ini,
diketahui bahwa beragam ketentuan hukum (kerangka regulasi) telah ditetapkan sebagai
dasar pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Berawal dari kerangka perencanaan (UU
25/2004) sampai dengan kerangka pengendalian dan evaluasi (PP 39/2006). Diantara
kerangka regulasi yang ada, hal yang cukup menimbulkan perdebatan panjang adalah
berkenaan dengan persoalan pembagian bidang kewenangan antara pemerintah dengan
pemerintah daerah. Tuntutan kejelasan kewenangan ini sangat mengemuka dalam proses
penganggaran, sebagaimana dituntut oleh Permendagri No. 13 Tahun 2006. Namun
demikian, hingga akhir tahun 2007, Peraturan Pemerintah yang mengatur kewenangan
pemerintah daerah belum juga ditetapkan.
Berdasarkan kedua hal diatas, dalam pelaksanaan RKPD 2008 tentu saja akan
memerlukan langkah-langkah taktis strategis. Beberapa kaidah pelaksanaan yang
diperlukan adalah sebagai berikut :
1. Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta
seluruh pelaku pembangunan berkewajiban untuk melaksanakan program-
program/kegiatan-kegiatan dalam RKPD tahun 2008, dengan sebaik-baiknya.
2. Sebagai pedoman penyusunan RAPBD, RKPD perlu dijabarkan kedalam Kebijakan
Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (KU-APBD) Provinsi Jawa Barat dan
Penyusunan Prioritas Plafon Anggaran (PPA). Namun demikian, penjabaran terhadap
KU-APBD dan PPA ini, akan memerlukan perumusan tentang pengelompokkan urusan
yang bersifat wajib dan/atau pilihan. Hal ini penting untuk dilaksanakan agar tidak
menimbulkan bias dalam pengorganisasian anggaran yang berbasis Permendagri
13/2006.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 VI - 1


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

3. Dalam upaya sinkronisasi/sinergitas pelaksanaan setiap program dan kegiatan yang


pendanaannya bersumber dari APBD, APBN/BLN dan sumber lainnya, setiap Satuan
Kerja Perangkat Daerah harus membuat Rencana Kerja yang dapat menggambarkan
sinergitas program/kegiatan sesui dengan sumber anggaran.
4. Partisipasi masyarakat dalam proses penyusunan rencana pembangunan melalui
Forum SKPD serta forum penyelenggaraan Musyawarah Perencanaan Pembangunan
(Musrenbang) ditujukan untuk mengakomodasi aspirasi dan kepentingan masyarakat.
5. Masyarakat dan dunia usaha wajib berperanserta dalam pembangunan, baik sebagai
pelaksana maupun sebagai pengawas dalam pelaksanaan kebijakan dan
program/kegiatan.
6. Untuk menjaga efisiensi dan efetivitas pelaksanaan program, setiap Kepala SKPD
wajib melakukan pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan/kegiatan melalui
upaya koreksi dan melaporkannya secara berkala 3 (tiga) bulanan kepada Gubernur
melalui Kepala Bapeda.
7. Kepala Bapeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana
pembangunan/kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing Kepala SKPD.
8. Pada akhir tahun anggaran 2008, setiap Kepala SKPD wajib melakukan evaluasi
Kinerja Pelaksanaan Rencana Pembangunan/Kegiatan Tahun 2008.
9. Kepala Bapeda menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi
Kepala SKPD, dan hasil evaluasi ini menjadi bahan bagi penyusunan Rencana
Pembangunan Daerah untuk periode tahun 2009.

RKPD Provinsi Jawa Barat Tahun 2008, berlaku sejak tanggal ditetapkan sampai
dengan 31 Desember 2008. Langkah-langkah persiapan dimulai sejak tanggal ditetapkan
hingga pelaksanaan.

GUBERNUR JAWA BARAT

DANNY SETIAWAN

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 VI - 2


Draft 3 RKPD PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Apabila ada saran dan tanggapan mengenai Draft RKPD Provinsi Jawa
Barat 2008 :
1. Pada web Bapeda, link ”Pelayanan Kami”
2. E-mail Bapeda : public@bapeda-jabar.go.id

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Barat 2007 VI - 3