Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hernia inguinalis merupakan permasalahan yang bisa ditemukan dalam
kasus bedah. Kasus kegawatdaruratan dapat terjadi apabila hernia inguinalis
bersifat Strangulasi (tertekan) dan inkarserasi (terjepit). Inkarserasi merupakan
penyebab obstruksi usus nomor satu dan tindakan operasi darurat nomor dua
setelah appendicitis akut di Indonesia (Sjamsuhidayat, 2010 dan Greenberg et
al, 2008).
Menurut World Health Organization (WHO), penderita hernia tiap
tahunnya meningkat. Didapatkan data pada decade tahun 2005 sampai tahun
2010 penderita hernia segala jenis mencapai 19.173.279 penderita (12.7%)
dengan penyebaran yang paling banyak adalah daerah Negara-negara
berkembang seperti Negara-negara Afrika, Asia tenggara termasuk Indonesia,
selain itu Negara Uni emirat arab adalah Negara dengan jumlah penderita
hernia terbesar di dunia sekitar 3.950 penderita pada tahun 2011.
Angka kejadian hernia inguinalis 10 kali lebih banyak daripada hernia
femoralis (Sjamsuhidajat, 2010 dan Lavelle et al 2002). Secara umum,
kejadian hernia inguinalis lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada
perempuan. Berdasarkan data dari Departermen Kesehatan Republik
Indonesia di Indonesia periode Januari 2010 sampai dengan Februari 2011
berjumlah 1.243 yang mengalami gangguan hernia inguinalis, termasuk
berjumlah 230 orang (5,59%) (DepKes RI, 2011).
Pengobatan operasi merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yang rasional. Laparatomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor,
dengan melakukan penyayatan pada lapisan-lapisan dinding abdomen untuk
mendapatkan bagian organ abdomen yang mengalami masalah (hemoragi,
perforasi, kanker dan obstruksi). Laparatomi dilakukan pada kasus-kasus
seperti apendiksitis, perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker
colon dan rectum, obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolestisitisdan
peritonitis (Sjamsuhidajat, 2005). Laparatomy merupakan prosedur
pembedahan yang melibatkan suatu insisi pada dinding abdomen hingga ke
cavitas abdomen (Sjamsurihidayat dan Jong, 1997).

1
2

Masalah umum yang sering timbul untuk proses setelah operasi yaitu
biasanya pasien merasakan rasa nyeri karena sayatan pada kulit, infeksi akibat
luka operasi yang bisa menyebabkan sakit dan imobilisasi pada pasien akibat
efek dari tindakan post operasi. Untuk penangannya itu biasanya memberikan
obat pereda nyeri seperti memberikan obat ibuprofen dan naproxen dengan
resep yang sudah di konsulkan ke dokter, selain itu untuk penanganan
imobilisasi pada pasien post op biasa nya di berikan tindakan mobilisasi pada
pasien untuk bisa menggerakan kembali tubuh pasien seperti semula.
Proses penyembuhan luka adalah suatu proses yang kompleks dengan
melibatkan banyak sel yang terjadi maka perawatan post op dan adekuat akan
mempengaruhi penyembuhan luka dan pemulihan kesehatan pasien. Faktor
yang mempengaruhi penyembuhan luka yaitu dari usia, nutrisi, infeksi,
sirkulasi, hematoma, tidak adanya benda asing, iskemia, keadaan luka dan
obat. Flangan,dkk (1997) dalam kutipan Wulan Sari (2017), berpendapat
bahwa lambatnya penyembuhan luka pasca pembedahan karena penyebab lain
dapat diatasi dengan perawatan atau pelaksanaan luka yang baik dan
meningkatkan sirkulasi, nutrisi serta pengobatan yang adekuat dengan
meningkatkan aktivitas fisik atau mobilisasi dini pasca bedah. Mobilisasi
merupakan faktor yang menonjol dalam mempercepat penyembuhan atau
pemulihan luka pasca bedah. Penyembuhan luka yang tidak cepat diatasi bisa
terjadi infeksi, perdarahan, dehiscence, dan eviscerasi.
Menurut Garrison (2004) tujuan dari mobilisasi dini yaitu memperlancar
peredaran darah sehingga mempercepat penyembuhan luka. Pada
penyembuhan luka post operasi selain dipengaruhi oleh faktor sistemik dan
local. Penyembuhan luka juga bisa dipengaruhi adanya pergerakan dari luar
(mobilisasi dini). Hal ini sesuai dengan teori jika dilakukan mobilisasi dini
pada post operasi hernia inguinalis dapat mempercepat penyembuhan luka.
Mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas,
mudah, teratur, mempunyai tujuan memenuhi kebutuhan hidup sehat, dan
penting untuk kemandirian (Kozier, 1995, dalam kutipan Wulan Sari, 2017).
Mobilisasi setelah operasi yaitu proses aktivitas yang dilakukan setelah
operasi dimulai dari latihan ringan diatas tempat tidur sampai dengan bisa
3

turun dari tempat tidur, berjalan kekamar mandi dan berjalan keluar kamar
(Brunner & Suddarth, 2002, dalam kutipan Wulan Sari, 2017).
Menurut Brunner dan Suddarth (1996) dalam kutipan Wulan Sari (2017),
pasien pasca operasi diharapkan dapat melakukan mobilisasi sesegera
mungkin. Mobilisasi secara bertahap sangat berguna untuk membantu
jalannya penyembuhan pasien. Manfaat dari mobilisasi tersebut untuk
peningkatan sirkulasi darah yang dapat menyebabkan pengurangan rasa nyeri,
mencegah tromboflebitis, memberi nutrisi untuk penyembuhan pada daerah
luka, dan meningkatkan kelancaran fungsi ginjal (Long,1998, dalam kutipan
Wulan Sari, 2017). Perubahan gerakan dan posisi ini harus diterangkan pada
pasien atau keluarga yang mendampingi. Pasien dan keluarga akan dapat
mengetahui manfaat mobilisasi, sehingga akan berpartisipasi dalam
pelaksanaan mobilisasi. Latihan mobilisasi biasanya diberikan pada pasien
post op laparatomi atau post op lain nya yang telah di indikasikan untuk
latihan mobilisasi untuk mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga
mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah, memperbaiki
pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organ-organ
vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat penyembuhan luka.
Berdasarkan hasil dari penelitian Wulan Sari (2017) dalam jurnal
“Efektivitas Mobilisasi Dini Terhadap Penyembuhan Luka Post Operasi
Hernia Inguinalis Di RS Bedah Mitra Sehat Di Kabupaten Lamongan Jawa
Timur”, hasil penelitian didapatkan ada pengaruh mobilisasi dini terhadap
penyembuhan luka post operasi. Hal ini tentu juga dapat dilihat pada tabulasi
silang, dengan dilakukan mobilisasi dini hampir seluruhnya 90,9%
penyembuhannya baik dan sebagian kecil 9,09 penyembuhannya kurang baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Ditya (2016) dalam jurnal yang berjudul
“Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Proses Penyembuhan Luka Pada Pasien
Pasca Laparatomi” membuahkan hasil yang sama yaitu mobilisasi dini dapat
menunjang proses penyembuhan luka pasien karena dengan menggerakan
anggota badan akan mencegah kekauan otot dan sendi, sehingga dapat
mengurangi nyeri dan dapat memperlancar peredaran darah ke bagian yang
mengalami perlukaan agar proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat.
Data yang di dapat peneliti dari RSUD Sayang Cianjur tentang hasil
rekapitulasi 10 besar penyakit klinik bedah pada tahun 2014, untuk penderita
4

penyakit hernia inguinalis tercatat 1.105 (18,74%) pasien yg mengidap


penyakit tersebut pada tahun 2014.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas peneliti tertarik untuk
meneliti lebih lanjut tentang “Efektifitas Mobilisasi Dini Terhadap
Penyembuhan Luka Post Operasi Hernia Inguinalis”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan diatas peneliti bermaksud untuk meneliti
“Efektifitas Mobilisasi Dini Terhadap Penyembuhan Luka Post Operasi Hernia
Inguinalis?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Berdasarkan penelitian tersebut peneliti ingin melihat hasil dari tindakan
mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post op hernia inguinalis.
2. Tujuan Khusus
a. Peneliti melakukan pengkajian keperawatan pada pasien tentang
penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post op
hernia inguinalis.
b. Peneliti merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien tentang
penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post op
hernia inguinalis.
c. Peneliti menyusun perencanaan/ intervensi pada pasien tentang
penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post op
hernia inguinalis.
d. Peneliti melakukan tindakan keperawatan/ implementasi pada pasien
tentang penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka
post op hernia inguinalis.
e. Peneliti melakukan evaluasi pasien tentang penerapan tindakan
mobilisasi dini terhadap penyembuhan luka post op hernia inguinalis.
f. Peneliti menganalisis hasil penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap
penyembuhan luka post op hernia inguinalis.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai
pengembangan terbaru ilmu keperawatan dan memberikan wawasan baru
5

sehingga dapat digunakan sebagai bahan peningkatan dalam bidang


keperawatan mengenai penerapan tindakan mobilisasi dini terhadap
penyembuhan luka post op hernia inguinalis.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Pasien
Tindakan ini sangat bermanfaat bagi pasien post op hernia untuk
mempercepat proses penyembuhan luka terhadap post operasi dan biasa
mencegah terjadinya infeksi pada luka tersebut yang dapat memperburuk
keadaan pasien setelah post operasi.
b. Bagi perawat
Tindakan ini sangat bermanfaat bagi perawat sebagai referensi baru
untuk penanganan penyembuhan luka post op hernia dengan mobilisi dini
pada pasien hernia inguinalis dalam pelayanan asuhan keperawatan di
rumah sakit.
c. Bagi Institusi pendidikan
Tindakan ini diharapkan bermanfaat bagi institusi pendidikan untuk
bahan masukan ketika proses kegiatan belajar mengajar dan untuk
menambah wawasan pengetahuan mengenai efektifitas mobilisasi dini
terhadap penyembuhan luka post op hernia inguinalis.
d. Bagi instansi kesehatan
Tindakan ini diharapkan dapat memberikan referensi atau tambahan
ilmu pengetahuan yang baru dan dapat dikembangkan lagi untuk masalah
penanganan mobilisasi dini pada post op hernia inguinalis diinstitusi
kesehatan.