Anda di halaman 1dari 13

SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan instrumen untuk mengumpulkan


data, sedangkan dalam penelitian kualitatif-naturalistik, peneliti akan lebih banyak menjadi
instrumen, karena dalam penelitian kualitatif peneliti merupakan key instruments.
Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti. Dengan
demikian jumlah instrumen yang akan digunakan untuk penelitian akan tergantung pada jumlah
variabel yang akan diteliti. Instrumen Penelitian digunakan untuk melakukan pengukuran dengan
tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap instrumen harus mempunyai skala.
A. Macam-macam Skala Pengukuran
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur.sehingga alat ukur tersebut
bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya
timbangan emas sebagai instrumen untuk mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan
akan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur,
meteran sebagai instrumen untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akan
menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.

Jenis-Jenis Skala Pengukuran

1. Skala Nominal

Skala nominal adalah skala pengukuran paling sederhana. skala yang memungkinkan
peneliti mengelompokkan objek, individual atau kelompok kedalam kategori tertentu dan
disimbolkan dengan label atau kode tertentu, selain itu angka yang diberikan kepada obyek
hanya mempunyai arti sebagai label saja dan tidak menunjukan tingkatan.

Skala nominal bersifat mutually excusive atau setiap objek hanya memiliki satu kategori
(Lababa : 2008).

Contoh umum yang biasa dipakai yaitu variabel jenis kelamin . Dalam hal ini hasil pengukuran
tidak dapat diurutkan (wanita lebih tinggi dari pada lak-laki, atau sebaliknya), tetapi lebih pada
perbedaan keduanya.

2. Skala Ordinal

Skala nominal tidak hanya menyatakan kategori tetapi juga menyatakan peringkat
kategori tersebut (Septyanto : 2008). Hasil pengukuran skala ini dapat menggambarkan posisi
atau peringkat tetapi tidak megukur jarak antar peringkat.
 Tingkat pendidikan atau kekayaan, dalam pengukuran yang mengelompakan
status sosial, hasil pengukuran tidak dapat memberikan informasi mengenai
perbedaan antara status sosial (tinggi ke rendah, rendah ke sedang dan tinggi ke
sedang) belum tentu sama.
 Tingkat keparahan penyakit
 Tingkat kesembuhan
 Derajat keganasan kanker

3. Skala Interval

Skala interval adalah suatu skala pemberian angka pada klasifikasi atau kategori dari
objek yang mempunyai sifat ukuran ordinal, ditambah satu sifat lain yaitu jarak atau interval
yang sama dan merupakan ciri dari objek yang diukur. Sehingga jarak atau intervalnya dapat
dibandingkan.

Skala interval bisa dikatakan tingkatan skala ini berada diatas skala ordinal dan nominal.
Selanjutnya skala ini tidak mempunyai nilai nol mutlak sehingga tidak dapat diinterpretasikan
secara penuh besarnya skor dari rasio tertentu.

Contoh Skala Interval:

o Suhu
o Tingkat kecerdasan (IQ)
o Beberapa indeks pengukuran tertentu
4. Skala Rasio (Skala Nisbah)

Skala rasio mempunyai semua sifat skala interval ditambah satu sifat yaitu memebrikan
keterangan tentang nilai absolut dari objek yang diukur. Skala rasio merupakan skala
pengukuran yang ditujukan pada hasil pengukuran yang bisa dibedakan, diurutkan, mempunyai
jarak tertentu, dan bisa dibandingkan (paling lengkap, mencakup semuanya dibanding skala-
skala dibawahanya).

Contoh : Bila kita ingin membadingkan berat dua orang . Berat Fulan1 40Kg dan Fulan2
80Kg. Kita dapat tahu bahwa fulan2 dua kali lebih berat daripada Fulan1, karena nilai variabel
numerik berat mengungkapkan rasio dengan nilai nol sebagai titik bakunya.

Contoh :

o Panjang, berat badan, usia


o Kadar zat dan jumlah sel tertentu
o Dosis obat, dll

- PENGUKURAN SKALA

Dari berbagai macam bentuk skala yang ada, berikut ini adalah bentuk skala yang dapat
digunakan dalam metode penelitian pendidikan, yaitu skala Likert, skala Guttman, semantic
differensial, rating scale, dan skala thurstone.

1. Skala Likert

Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan
persepsi seseorang atau sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena pendidikan.
Dalam skala Likert terdapat dua bentuk pernyataan yaitu pernyataan positif yang berfungsi untuk
mengukur sikap positif, dan pernyataan negative yang berfungsi untuk mengukur sikap negative
objek sikap.

Jawaban dari setiap instrumen yang mengguakan skala Likert mempunyai gradasi dari
sangat positif sampai sangat negatif yag dapat berupa kata-kata antara lain : sangat setuju, setuju,
ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju ; selalu, sering, kadang-kadang, tidak pernah.

Biasanya skala Likert sering digunakan dalam pengisian kuisioner terkait dengan kualitas
suatu hal atau seseorang. Contohnya seperti angket perkuliahan UNJ yang disebar melalui
masing-masing akun pemilik siakad bagi mahasiswa atau seperti contoh lain dibawah ini.
2. Skala Guttman

Yaitu skala yang menginginkan tipe jawaban tegas, seperti jawaban benar – salah, ya –
tidak, pernah – tidak pernah, positif – negative, tinggi – rendah, baik – buruk, dan seterusnya.
Pada skala Guttman, hanya ada dua interval, yaitu setuju dan tidak setuju.

Contoh : jika peneliti ingin mengumpulkan data tentang kebutuhan mahasiswa, ditentukan 4
macam kebutuhan yaitu : Berteman, Belajar, Rekreasi dan istirahat, salah satu dimensi dari
keempat dimensi tadi akan dibagi menjadi 5 pernyataan dalam kuesioner. Maka Skala Guttman
akan menggunakan kelima pernyataan tersebut sebagai item :

1 Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan (Ya/Tidak)


anda dalam mencari ilmu
2 Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan (Ya/Tidak)
anda dalam melanjutkan pendidikan ?
3 Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan (Ya/Tidak)
anda dalam mendapatkan gelar ?
4 Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan (Ya/Tidak)
anda dalam mendapatkan ijazah ?
5 Apakah dengan belajar akan terpenuhi kebutuhan (Ya/Tidak)
anda dalam memenuhi syarat mencari kerja ?

3. Semantik Differensial
Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda
maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif
terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau
sebaliknya.

Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah

4. Skala Thurstone

Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala
interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci skor menghasilkan nilai yang
berjarak sama. Skala Thurstone dibuat dalam bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan
dengan variable yang hendak diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi
pernyataan itu dengan konten atau konstruk yang hendak diukur.

Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11 menyatakan
sangat relevan.

5. Rating Scale

Dalam rating scale, data yang diperoleh adalah data kuantitatif (angka) yang kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Seperti halnya skala lainnya, dalam rating scale
responden akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Rating scale lebih
fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga digunakan untuk mengukur persepsi
responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status sosial, ekonomi,
pengetahuan, kemampuan, dan lain-lain.

Bentuk-bentuk Rating Scale

Terdapat beberapa bentuk rating scale antara lain :

 Skala Numerik/Kuantitatif
Skala ini menggunakan angka-angka ( skor-skor ) untuk menunjukan gradasi-gradasi, disertai
penjelasan singkat pada masing-masing angka.

 Skala Penilaian Grafis

Skala menggunakan suatu garis sebagai kontinum. Gradasi-gradasi ditunjuk pada garis itu
dengan menyajikan deskripsi-deskripsi singkat di bawah garisnya Pengamat memberikan
tanda silang di garis pada tempat yang sesuai dengan gradasi yang dipilih.

 Daftar Cek

Skala ini mempunyai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan type pilihan
berganda ( multiple choice ). Pada masing-masing sifat atau sikap yang harus dinilai, disajikan
empat sampai lima pilihan dengan deskripsi singkat pada masing-masing pilihan. Pengamat
memberikan tanda cek pada pilihan tertentu di ruang yang disediakan.

Contoh :

Seberapa baik ruang kerja yang ada di perusahaan anda?

Beri jawaban angka :

4 bila tata ruang itu sangat baik

3 bila tata ruang itu cukup baik

2 bila tata ruang itu kurang baik

1 bila tata ruang itu sangat tidak baik

Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia :

No. Pertanyaan tata ruang kantor Interval jawaban


Item
1 Penataan meja kerja sehingga arus kerja menjadi 4 3 2 1
pendek
2 Pencahayaan alam tiap ruangan 4 3 2 1
3 …………….
- Instrumen Penelitian
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap fenomena sosial maupun
alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat kalau dinamakan membuat laporan dari
pada melakukan penelitian. Namun demikian dalam skala yang paling rendah laporan juga dapat
dinyatakan sebagai bentuk penelitian (Emory, 1985).
Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran, maka harus ada alat ukur yang
baik. Alat ukur penelitia disebut instrumen penelitian.
Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara,
maka didalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu.
Secara minimal alat bantu tersebut berupa ancer-ancer pertanyaan yang akan ditanyakan sebagai
catatan, serta alat tulis untuk menuliskan jawaban yang diterima. Ancer-ancer ini disebut
pedoman wawancara. Oleh karena pedoman wawancara ini merupakan alat bantu, maka disebut
juga instrumen pengumpulan data. dengan demikian jika menggunakan metode wawancara,
instrumennya adalah pedoman wawancara.

Jenis- jenis Instrumen Pengumpulan Data


Secara garis besar alat evaluasi dalam pengumpulan data ada 2 macam, yaitu tes dan non tes.
1. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok.
Bebrapa macam tes, contohnya:
a. Tes kepribadian
b. Tes bakat
c. Tes intelegensi
d. Tes sikap
e. Tes minat
f. Tes prestasi
Dalam menggunakan metode tes, peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-
soal tes.

2. Angket atau kuesioner


Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh
informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui.
Kuesioner dapat dibedakan atas bebrapa jenis , tergantung pada sudut pandang.
a. Dari cara menjawab:
- Kuesioner terbuka, responden dapat menjawab dengan kalimatnya sendiri
- Kuesioner tertutup, adanya pilihan jawaban
b. Jawaban yang diberikan:
- Kuesioner langsung, responden menjawab tentang dirinya
- Kuesioner tidak langsung, responden menjawab tentang orang lain .
c. Dari bentuknya;
- Kuesioner pilihan ganda
- Kuesioner isian
- Check list
- Rating Scale

3. Interview atau wawancara


Interview yang sering disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan, adalah sebuah
dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.
Interview digunakan oleh peneliti untuk menilai keadaan seseorang. Misalnya untuk mencari
data tentang variabel latar belakang murid, orang tua, pendidikan, perhatian, sikap terhadap
sesuatu.
Ditinjau dari pelaksanaannya , interview dibedakan atas:
a. Interview bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja
b. Interview terpimpin, pewawancara membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci
seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur,
c. Interview bebas terpimpin, gabungan dari dua Interview diatas

4. Observasi
Observasi sebagai suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan
menggunakan mata. Didalam pengertian psikologik, observasi atau yang disebut pula dengan
pengamatan, meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan
seluruh alat indra. Apa yang dikatakan ini sebenarmya adalah pengamatan langsung. Didalam
artian penelitian observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman
suara.
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Observasi non-sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan
instrumen pengamatan.
2. Observasi sistematis, yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan pedoman sebagai
instrumen pengamatan.

5. Skala Bertingkat atau Rating Scale


Skala bertingkat adalah suatu ukuran subjektif yang dibuat berskala. Walaupun bertingkat
ini menghasilkan data yang kasar, tetapi cukup memberikan informasi tertentu program atau
orang. Instrumen ini dapat dengan mudah memberikan gambaran penampilan, terutama
penampilan didalam orang menjalankan tugas, yang menunjukan frekuensi munculnya sifat-sifat.
Rating scale dapat juga menghasilkan gambaran yang kasar dari jawaban responden
sehingga tidak mudah percaya begitu saja. Hal-hal yang mempengaruhi tersebet antara lain
persahabatan, kecepatan menerka, cepat memutuskan, jawaban kesan pertama, dan sebagainya.

6. Dokumentasi
Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam
melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku,
majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian,dan sebagainya.

- Cara Menyusun Instrumen


Instrumen-instrumen penelitian dalam bidang sosial umumnya dan khususnya bidang
administrasi yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu maka peneliti harus mampu membuat
instrumen yang akan digunakan untuk penelitian.
Titik tolak dari penyusunan adalah variabel-variabel penelitian yang ditetapkan untuk
diteliti. Dari variabel tersebut diberikan definisi operasionalnya, dan selanjutnya ditentukan
indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan menjadi butir-butir
pertanyaan atau pernyataan.
Sebagai contoh misalnya variabel penelitiannya ‘tingkat kekayaan’ indikator kekayaan
misalnya: rumah, kendaraan, tempat belanja,pendidikan, jenis makanan yang sering dimakan,
jenis olah raga yang dilakukan dan sebagainya. Untuk indikator rumah, bentuk pertanyaannya
misalnya:1) berapa jumlah rumah, 2) dimana letak rumah, 3) berapa luas masing-masing rumah,
4) bagaimana kualitas bangunan dan sebagainya.
Untuk bisa menetapkan indikator dari setiap variabel yang diteliti, maka diperlukan
wawasan yang luas dan mendalam tentang variabel yang diteliti, dan teori-teori yang
mendukungnya. Penggunaan teori untuk menyusun instrumen harus secermat mungkin agar
diperoleh indikator yang valid. Caranya dapat dilakukan dengan membaca berbagai referensi
(seperti buku, jurnal) membaca hasil-hasil penelitian sebelumnya yang sejenis, dan konsultasi
pada orang yang dipandang ahli.
1. Pengadaan instrumen yang baik adalah,
- Perencanaan
- Penulisan butir soal
- Penyuntingan
2. Pemilihan instrumen yang sesuai dengan metodenya.
- Instrumen untuk metode tes adalah tes atau soal tes
- Instrumen untuk metode angket atau kuesioner adalah angket atau kuesioner
- Instrumen untuk metode observasi adalah chek list
- Instrumen untuk metode dokumentasi adalah pedoman observasi atau dapat juga check list.
3. Waktu pemilihan metode
- Angket, digunakan bila responden jumlahnya besar dapat membaca dengan baik, dan dapat
menggungkapkan hal-hal yang sifatnya rahasia.
- Observasi, digunakan apabila objek penelitia bersifat perilaku manusia, proses kerja, gejala
alam, responden kecil.
- Wawancara, digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam
serta jumlah responden sedikit.
- Gabungan ketiganya, digunakan bila ingin mendapatkan dat yang lengkap, akurat dan
konsisten.

 Validitas dan Reliabilitas Instrumen


Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data
(mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa
yang seharusnya diukur. Meteran yang valid dapat digunakan untuk mengukur panjang dengan
teliti, karena meteran memang alat untuk mengukur panjang. Meteran tersebut menjadi tidak
valid jika digunakan untuk mengukur berat. Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila
digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama
Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka
diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel.
Instrumen yang reliabel belum tentu valid. Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk
pengujian validitas instrumen. Oleh karena itu walaupun instrumen yang valid umumnya pasti
reliabel, tetapi pengujian reliabilitas instrumen perlu dilakukan.
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen, yaitu instrumen yang berbentuk test untuk
mengukur prestasi belajar dan instrumen yang non-test untuk mengukur sikap.
Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Instrumen yang
mempunyai validitas eksternal bila kriteria didalam instrumen disusun berdasarkan fakta-fakta
empiris yang telah ada. Kalau validitas internal instrumen dikembangkan menurut teori yang
relevan.
Penelitian yang mempunyai validitas internal, bila data yang dihasilkan merupakan fungsi
dari rancangan dan instrumen yang digunakan. Instrumen tentang kepemimpinan akan
menghasilkan data tentang kepemimpinan, bukan motivasi. Penelitian yang mempunyai validitas
eksternal bila, hasil penelitian dapat diterapkan pada sampel yang lain, atau hasil penelitian itu
dapat digeneralisasikan.

 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen


1. Pengujian Validitas Instrumen
- Pengujian Validitas Konstruksi (construct validity)
- Pengujian validitas isi (Content validity)
- Pengujian validitas eksternal

2. Pengujian reliabilitas Instrumen


- Test-retest
- Ekuivalen
- Gabungan
- Internal Consistency.

 Keampuhan Instrumen

Salah satu faktor yang mempengaruhi validitas hasil penelitian adalah kualitas instrument yang
digunakan untuk mengambil data. Peneliti harus berusaha menyusun instrument agar diperoleh
instrument yang ampuh. Keampuhan instrument ditentukan oleh dua hal, yaitu tingkat validitas
dan tingkat reliabilitasnya.

1. Validitas instrument penelitian

Validitas adalah ukuran tingkat keshahihan (keabsahan) suatu instrmen. Suatu instrument
yang valid memiliki tingkat keshahihan yang tinggi. suatu instrument dikatan valid jika
instrument tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.

Empat katagori yang diusulkan oleh APA (America Psychologocal Association) sebagaimana
yang dikutip Surapranata (2005:50) adalah sebagai berikut:

a) Validitas isi, yaitu suatu instrument dikatakan valid jika sesuai standar isi kurikulum yang
berlaku.

b) Validitas konstruk, yaitu validitas yang didasarkan pada kesesuaian instrument dengan
konstruksi teoritik di mana instrument itu dibuat

c) Validitas prediktif, yaitu validitas yang didasarkan pada kemamapuan instrument tersebut
memprediksi hal-hal yang akan terjadi di masa-masa yang akan datang terkait dengan variable
yang diukur atau diungkap

d) Validitas konkuren, yaitu validitas yang didasarkan pada kesesuaiannya dengan hasil
pengukuran insstrumen lain yang terkait dengan variable yang dilibatkan.

Menurut pengujiannya, validitas instrument dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu

a) Validitas internal, yaitu validitas yang didasarkan pada kesesuainantara bagian-bagian dari
instrument terhadap instrument secara keseluruhan.

b) Validitas eksternal, yaitu validitas yang didasarkan pada data-data atau informasi lain yang
terkait dengan variabel yang diukur dan yang dihasilkan oleh instrument-instrumen lain.
 Reliabilitas instrument

Reliabilitas adalah suatu ukuran tingkat keajagan, tingkat kehandalan, atau tingkat ketidak
percayaan suatu instrument. Suatu instrument dikatakan reliabel jika instrument itu memiliki
reliabilitas yang tinggi.

Ditinjau dari cara pengujiannya, reliabilitas dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a) Reliabilitas internal, yaitu reliabilitas instrument yang didasarkan pada hasil pencocokan
antar bagian-bagian dari hasil tes. Pengujian relibialitas ini dilakukan dengan hanya mengadakan
satu kali pengetesan atau uji coba.

b) Reliabilitas eksternal, yaitu reliabilitas instrument yang didasarkan pada hasil pencocokan
terhadap hasil tes yang berbeda, baik dari instrument yang sam atau dengan instrument lainnya.
Uji reliabilitas ini dilakukan dengan hanya mengadakan satu kali pengetesa atau uji coba.

 Langkah-langkah penyusunan Instrumen Penelitian


Langkah pertama yang harus dilakukan oleh peneliti adalah mengkaji secara teoritik tentang
substansi yang akan diukur. Peneliti harus menentukan defenisi konseptual kemudian definisi
operasional. Selanjutnya definisi operasional ini dijabarkan menjadi indikator dan butir-butir.
Menurut Tim Pusisjian (1997/1998), ada enam langkah untuk mengembangkan instrumen alat
ukur, yaitu :

 Menyusun spesifikasi alat ukur termasuk kisi-kisi dan indikator


 Menulis pertanyaan
 Menelaah pertanyaan
 Melakukan uji coba
 Menganalisis butir instrumen
 Merakit instrument dan memberi label

Iskandar (2008: 79) mengemukakan enam langkah dalam penyusunan instrumen penelitian,
yaitu:

 Mengidentifikasikan variabel-variabel yang diteliti.


 Menjabarkan variabel menjadi dimensi-dimensi
 Mencari indikator dari setiap dimensi.
 Mendeskripsikan kisi-kisi instrument
 Merumuskan item-item pertanyaan atau pernyataan instrument
 Petunjuk pengisian instrumen.
Beberapa Kesalahan dalam Pengukuran
Pengukuran variabel sulit dihindarkan dari kemungkinan terjadinya kesalahan (error). Beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi hasil dapat dikontrol, sementara yang lain tidak. Berikut ini
kemungkinan-kemungkinan sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran variabel (Brockopp
dan Tolsma, 2000 : 171 – 172):

1. Kejelasan perintah yang ada dalam instrumen.


2. Variasi-variasi dalam administrasi.
3. Variasi-variasi situasi.
4. Respons menyebabkan bias.
5. Faktor-faktor pribadi yang sementara.
6. Sampling respons.