Anda di halaman 1dari 3

DISKUSI PERTANYAAN DAN JAWABAN

TENTANG

BASIC MAXIMS OF INCOME TAX PLANNING (VARIABEL YURISDIKSI DAN VARIABEL KARAKTER)

1. Bu isye
Sebagai wajib pajak menguntungkan asas sumber atau domisili? Apakah WP dalam negeri yang
belum melunasi hutangnya dan yang bersangkutan ada di luar negeri, akan tetap dikejar ke luar
negeri?
jawab
WP Kerja diluar negeri World wide income/ global income, Dari tiga asas bisa diambil
sebuah kesimpulan yang menunjukkan bahwa dua asas yakni asas domisili dan asas kebangsaan
memiliki makna yang sama yaitu fokus pemungutan pajak pada subjeknya, yaitu dimana dia
berdomisili dan apa kewarganegaraannya, di situlah ia wajib membayar pajak. Berbeda dengan
asas sumber, dalam asas ini tidak peduli siapa dia dan dari mana asalnya dia, yang menjadi fokus
pemungutan pajak adalah dimana sumber dia mendapatkan penghasilan, meskipun dia warga
negara asing atau tidak berdomisili di tempat kerjanya namun ia tetap dikenakan pajak. Selain itu
ada lagi perbedaan diantara asas-asas tersebut, yakni dalam asas domisili dan kebangsaan,
penghasilan yang terkena pajak tidak dibatasi mau didapat dari dalam maupun luar negeri,
penghasilan tersebut akan dikenai pajak. Sedangkan dalam asas sumber penghasilan yang terkena
pajak terbatas hanya penghasilan dari sumber itulah yang dikenakan pajak

2. Bu Resti
Dalam karakteristik perencanaan pajak ada point yang menjelaskan, memaksimalkan net present
value (NPV), maksudnya apa?
Jawab
Uang untuk pembayaran pajak bisa dibayar pada masa yang akan datang dengan tidak
mengubah nominal. Dan uang bisa di investasikan.
Contohnya: Seperti pembayaran PPH 25 dari bulan april sampai dengan maret tahun depan
jumlah yang dibayarkannya selalu sama dan bisa diinvestasikan sebagai kredit pajak untuk PPH
Badan, contohnya yang kedua kompensasi PPN Yang di kompensasikan ke masa selanjutnya
seperti lebih bayar PPN Masa November di kompensasi ke Masa Desember kompensasi tersebut
tida merubah nominal dan bias mengurangi pembayaran PPN pada masa Desember karena
adanya kompensasi PPN dari bulan November.

3. Bu Wulan
Apa yang dimaksud dengan DPS (diverted profit shifting) dan tax settlement?
Jawab
DPS  pergeseran/ menggeser (shifting). Penggeseran penjualan atau biaya. DPS tidak dapat
dilepaskan dari offshore financial center atau negara-negara yang disebut tax haven yang tidak
mengenakan pajak atau mengenakan pajak dengan rendah.
Tax settlement dengan contoh kasus Google Indonesia:
Tax settlement yang dimaksud merupakan angka kesepakatan pajak yang harus di bayar Google,
yang bukan nilai dari keseluruhan pajak tertunggak. Tax settlement bisa disebut sebagai
perhitungan pajak.
4. Kang Mus
Bagaimana tahapan pernyataan pada karakteristik perencanaan pajak terkait legal, integral, valid,
cash flow dan npv?
Jawab
Ketika kita akan membayar pajak, kita putarkan dulu uangnya agar cash flow-nya baik untuk
perusahaan contohnya seperti pembayaran PPN, karena pembayaran PPN pada masa akhir bulan
selanjutnya alangkah lebih baiknya uang yang untuk PPN tersebut di alihkan terlebih dahulu untuk
pembelian bahan baku untuk kegiatan produksi, untuk hasil produksi tersebut di jual ke
konsumen dengan jangka waktu penjualan tersebut sampai dengan akhir bulan agar pembayaran
PPN dan dilakukan dan tidak terlambat dan cash flow perusahaan tersebut akan berjalan baik
apabila hal tersebut dilakukan karena pemutaran pajak yang dilakukan tersebut baik untuk
kelangsungan usaha suatu perusahaan.
5. Bu Fika
Terkait pajak tangguhan untuk periode yang sama tetapi pada tingkat pajak yang lebih tinggi.
Jelaskan yang dimaksud dengan tingkat pajak yang lebih tinggi?
Jawab
Dalam menghitung beban pajak yang harus dibayar pada akhir tahun (yang dikenal
dengan istilah beban pajak kini), Wajib Pajak menggunakan pendekatan Akuntansi Komersial
(berdasarkan PSAK) mulai dari pengakuan unsur pendapatan, pengakuan beban yang dijadikan
pengurang, metode penyusutan untuk menentukan beban penyusutan aset, pengakuan nilai sisa
aset dan penerapan jangka waktu untuk penyusutan, hingga penetapan besaran penyisihan/biaya
cadangan. Hasil penerapan ini tertuang di dalam Laporan Keuangan yang oleh Wajib Pajak
dijadikan dasar untuk menghitung beban PPh terutang secara komersial. Namun demikian, untuk
kepentingan pelaporan SPT Tahunan, hasil perhitungan yang sudah dijabarkan di dalam Laporan
Keuangan komersial tidak bisa dijadikan dasar penentuan beban pajak kini. Artinya PPh yang
dihitung Wajib Pajak atas dasar laba komersial tidak bisa langsung ditetapkan sebagai beban pajak
kini. Hal ini dikarenakan untuk dapat digunakan sebagai dasar pelaporan SPT Tahunan,
pendekatan yang digunakan adalah ketentuan perpajakan (berdasarkan UU Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan beserta aturan pelaksanaan dibawahnya). Pendekatan ini kerap
kali berbeda dengan ketentuan yang digunakan dalam pendekatan menurut Akuntansi Komersial.
Perbedaan ini ada yang bersifat mutlak (tetap) ada juga yang sifatnya relatif (sementara).
Perbedaan mutlak ini terjadi misalnya karena perbedaan pengakuan unsur pendapatan
seperti misalnya pada penghasilan yang bersifat final dan telah dikenakan PPh Final tidak boleh
lagi diperhitungkan sebagai unsur pendapatan atau pengakuan biaya yang boleh dikurangkan,
beberapa item biaya mutlak dilarang dijadikan sebagai pengurang menurut ketentuan
perpajakan. Sementara itu laba yang sifatnya relatif ini dikarenakan perbedaan pengakuan nilai
sisa atau penentuan jangka waktu masa manfaat dalam menghitung beban penyusutan.
Perbedaan semacam ini menyebabkan perbedaan yang sifatnya tidak mutlak selamanya,
melainkan hannya sementara saja karena sifatnya hanya perbedaaan waktu dan angka tahun
pembagi, dan pada titik tertentu akan beban pajak yang ditimbulkan akan tiba pada besaran
nominal yang sama. Laba bersih yang dihasilkan melalui proses rekonsiliasi fiskal, yakni
penghitungan sebagaimana diatur menurut ketentuan perpajakan, diistilahkan sebagai
Penghasilan Kena Pajak. Sehingga pada titik ini, jelas dapat dibedakan makna dari istilah laba
komersial sebelum pajak (komersial) dengan Penghasilan Kena Pajak (fiskal).
Jika tarif pajak diterapkan pada laba pada Laba Komersial (Laba Akuntansi) dengan
Penghasilan Kena Pajak (Laba Pajak), maka hasilnya besar kemungkinan akan berbeda. Perbedaan
ini yang disebut dengan istilah Pajak Tangguhan. Jika Laba Akuntansi lebih besar daripada Laba
Pajak maka akan terbentuk Kewajiban Pajak Tangguhan, sebaliknya bila Laba Akuntansi lebih
kecil daripada Laba Pajak maka akan terbentuk Aset Pajak Tangguhan. Singkatnya, Pajak
Tangguhan tidak bisa dihindari dan dapat muncul sebagai akibat adanya dua pendekatan yang
harus dijalani dalam menghitung beban pajak kini. Pajak Tangguhan dalam bentuk aset/manfaat
membuat Wajib Pajak mengetahui bahwa seharusnya nilai beban pajak yang harus dibayar dapat
dipulihkan pada masa mendatang sedangkan Pajak Tangguhan dalam bentuk kewajiban
menimbulkan adanya beban pajak yang akan terutang pada masa yang akan datang.