Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS KDP

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN


NUTRISI PADA PASIEN DENGAN THYPOID DI RUANG ANGGREK
RUMAH SAKIT Tk. III
BALADHIKA HUSADA JEMBER

oleh:
Nuhita Siti Rohmin, S.Kep
NIM 142311101042

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Gangguan Rasa Nyaman


Gangguan rasa nyaman adalah merasa kurang nyaman, perasaan lega dan
sempurna dalam diemnsi fisik, psikospiritual, lingkungan, budaya dan sosial
(NANDA, 2018). Perasan yang dialami oleh individu yang menyebabkan
terganggunya aktifitas sehari hari seperti terbebas dari rasa yang tidak
menyenangkan adalah suatu kebutuhan individu. Gangguan rasa nyaman seperti
nyeri merupakan perasaan yang tidak menyenangkan yang terkadang dialami
individu. Kebutuhan terbebas dari rasa nyeri itu merupakan salah satu kebutuhan
dasar yang merupakan tujuan diberikannya asuhan keperawatan pada seorang
pasien di rumah sakit (Prasetyo, 2010).
Nyeri diartikan berbeda-beda antarindividu, bergantung pada persepsinya.
Walaupun demikian, ada satu kesamaan mengenai persepsi nyeri. Secara
sederhana, nyeri dapat diartikan sebagai suatu sensasi yang tidak menyenangkan
baik secara sensori maupun emosional yang berhubungan dengan adanya suatu
kerusakan jaringan atau faktor lain, sehingga individu merasa tersiksa, menderita
yang akhirnya akan mengganggu aktivitas sehari-hari, psikis, dan lain-lain
(Asmadi, 2008).

B. Epidemiologi

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Megasari (2005 dalam


Espasari 2010) di bangsal Penyakit Dalam RS Dr. M. Djamil Padang dilaporkan
sebagian besar pasien masuk RS dalam kondisi 56,67% gizi kurang, 40% gizi
normal, 3,33% gizi lebih. Setelah 2 minggu perawatan tidak ada perbaikan status
gizi pada pasien dimana didapatkan angka gizi kurang pada pasien yang diteliti
meningkat menjadi 60%, gizi normal 36,67%, 3,33% gizi lebih. Tahun 2009, hasil
penelitian Loyanda di Instalasi Rawat Inap B Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
dilaporkan hampir separuh pasien (58,83%) mengalami penurunan status gizi,
20,83% pasien tidak mengalami perubahan status gizi dan 20,83% mengalami
peningkatan status gizi. Data ini diperoleh setelah pasien dirawat selama 14 hari
di ruang rawat inap rumah sakit. Konsumsi makanan yang tidak adekuat karena
penurunan nafsu makan mengakibatkan porsi makanan yang disediakan tidak
habis dan seringkali hanya sebagai catatan tanpa diketahui penyebab ataupun
pemecahannya. Hasil penelitian yang dikutip dari laporan Kurnia di RS Husada
30% - 60% makanan dari dapur rumah sakit terbuang sia-sia (Espasari, 2010).

C. Etiologi
Kebutuhan nutrisi tidak berada dalam kondisi yang menetap. Ada saatnya
kebutuhan nutrisi seseorang meningkat adapula yang mengalami penurunan.
Menurut Asmadi (2008) hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
Faktor yang meningkatkan kebutuhan nurtisi:
1) Pertumbuhan yang cepat, seperti bayi, anak-anak, remaja, dan ibu hamil.
2) Selama perbaikan jaringan atau pemulihan kesehatan karena proses suatu
penyakit.
3) Peningkatan suhu tubuh. Setiap kenaikan suhu 10F, maka kebutuhan kalori
juga meningkat 7%.
4) Meningkatnya aktivitas.
5) Stres. Sebagian individu akan makan sebagai kompensasi akibat stres yang
dialaminya.
6) Terjadinya infeksi.
Faktor yang menurunkan kebutuhan nutrisi:
1) Terjadi penurunan laju pertumbuhan seperti pada lansia.
2) Hipotermi.
3) Penurunan BMR (basal metabolisme rate).
4) Jenis kelamin. Secara umum kebutuhan nutrisi pada perempuan lebih
rendah dibandingkan laki-laki hal ini dikarenakan perempuan mempunyai
BMR yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
5) Gaya hidup pasif.
6) Bedrest.

D. Tanda dan Gejala


Seseorang yang mengalami gangguan nutrisi mengalami beberapa tanda
dan gejala antara lain (Herdman dan Kamitsuru, 2015):
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
1) 20% atau lebih berat badan berada di bawah rentang ideal
2) Bising usus hiperaktif
3) Cepat kenyang setelah makan
4) Diare
5) Gangguan sensasi rasa
6) Kehilangan rambut secara berlebihan
7) Kelemahan otot pengunyah dan untuk menelan
8) Ketidakmampuan memakan makanan
9) Kurang informasi
10) Kurang minat pada makanan
11) Nyeri abdomen
12) Penurunan berat badan dengan asupan makan adekuat
13) Sariawan rongga mulut
b. Gangguan menelan
1) Muntah sebelum menelan
2) Ngiler
3) Tersedak sebelum makan
4) Waktu menelan lama dengan konsumsi yang tidak adekuat
5) Menolak makan
c. Berat badan berlebih
1) BMI > 25 kg/m2
d. Kekurangan volume cairan
1) haus
2) Kulit kering
3) Membran mukosa kering
4) Peningkatan frekuensi nadi
5) Peningkatan suhu tubuh
6) Penurunan berat badan tiba-tiba
7) Penurunan tekanan darah

E. Patofisiologi dan Clinical Pathway


Tubuh manusia mempunyai kebutuhan esensial terhadap nutrisi, meskipun
tubuh dapat bertahan tanpa makanan lebih lama daripada cairan. Kebutuhan
nutrisi mungkin tidak terpenuhi pada manusia dalam berbagai usia. Proses
metabolik tubuh mengontrol pencernaan, megeluarkan produk sampah, dan
menyimpan zat makanan. Mencerna dan menyimpan zat makanan merupakan hal
yang penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh (Potter dan Perry, 2005).
Nutrisi merupakan bagian dari komponen yang penting dalam menunjang
keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan dimana hal ini menjadi
kebutuhan tumbuh kembang selama proses pertumbuhan dan perkembangan.
Kebutuhan zat gizi yang diperlukan antara lain: karbohidrat, lemak, mineral,
vitamin, dan air (Hidayat 2005 dalam Indriyani 2013). Gangguan pada nutrisi
tubuh dapat menyebabkan beberapa masalah antara lain:
a. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
Penyakit saluran pencernaan sehingga terjadi erosi mukosa lambung.
Setelah itu tonus dan peristaltik lambung menurun sehingga menyebabkan refluk
duodenum ke lambung terjadi mual dan muntah dan diangkat diagnosa
keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Selain itu diagnosa tersebut
dapat disebabkan oleh status kesehatan yang menurun kemudian otot menelan
menjadi lemah dan terjadilah gangguan menelan makanan sehingga asupan nutrisi
tidak terpenuhi dan pasien mengalami penurunan berat badan (Aditya, 2014).
b. Berat badan berlebih
Pertumbuhan membutuhkan metabolisme. Hal ini menyebabkan terjadinya
engingkatan intake nutrisi sehingga kebutuhan energi meningkat.
Seseorangmenjadi mudah lapar dan nafsu makan meningkat, sering makan dan
terjadi peningkatan berat badan (Aditya, 2014).
c. Gangguan menelan
Gangguan pada struktur oral, faring atau esofagus antara lain sariawan dan
nyeri pada epigastrik menyebabkan seseorang mengalami kesulitan menelan. Pada
keadaan lain dapat juga menyebabkan muntah dan bisa menyebabkan volume
kekurangan cairan (Herdman dan Kamitsuru, 2015).
Clinical Pathway:

Penyakit saluran pencernaan Status kesehatan menurun Kebutuhan metabolisme Gangguan pada stuktur
untuk pertumbuhan oral, faring atau esofagus

Erosi mukosa lambung Kelemahan otot menelan Peningkatan intake nutrisi Sariawan, nyeri epigastrik

Kebutuhan energi Kesulitan menelan


Menurunnya tonus dan Gangguan menelan makanan
meningkat
peristaltik lambung
Muntah
Asupan nutrisi tidak terpenuhi Mudah lapar
Refluksi duodenum ke
lambung Gangguan menelan
Nafsu makan
Penurunan berat badan meningkat

Mual
Sering makan

Muntah Kekurangan Sumber: (Aditya, 2014).


volume cairan Peningkatan berat
badan

Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari


kebutuhan tubuh Berat badan berlebih

Ketidakdakseimbangan nutrisi : lebih dari


kebutuhan tubuh
F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis untuk nutrisi antara lain:
1) Nutrisi oral
Nutrisi oral adalah pemberian nutrien kepada tubuh secara alami lewat
mulut. nutrisi oral merupakan tindakan yang umumnya dilakukan di bawah
pengawasan ahli gizi. Namun dengan semakin kompleksnya suplemen gizi
yang ada di samping sejumlah suplemen juga hanya dapat diperoleh
dengan resep dokter seperti suplemen imunonutrisi, maka nutrisi oral
dengan suplemen gizi klinik atau kerjasama yang baik antar dokter dan
ahli gizi (Hartono, 2006).
2) Nutrisi enteral
Nutrisi enteral diindikasikan pada pasien yang tidak bisa makan cukup,
tapi memiliki usus yang masih berfungsi. Penurunan kesadaran, disfagia,
obstruksi esofagus, bedahkepala-leher, hilangnya gizi akibat fistula atau
stoma, semua penyakit berat seperti pasca operasi, sesudah radioterapi atau
kemoterapi, luka bakar. Pemberian dapat berupa selang nasogastrik
berukuran kecil biasanya dapat ditoleransi dengan baik. Apabila terdapat
obstruksi esofagus atau makana yang harus diberikna dalam waktu yang
lama. Selang dapat dimasukkan langsung ke lambung melalui dinding
abdomen (Rubenstein et al, 2007).
3) Nutrisi parenteral
Nutrisi parenteral diindikasikan bila pemberian makanan melalui usus
tidak memungkinkan untuk dilakukan karena penurunan fungsi usus, pasca
operasi ileus, atau hilangnya kandungan usus akibat fistula. Pemberian
nutrisi parenteral dapat merupakan tambahan untuk pemberian makanan
melalui oral atau enteral atau menjadi satu0satunya sumber gizi-nuyrisi
parenteral total (Rubenstein et al, 2007).

G. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan faktor biologis, ketidakmampuan makan, ketidakmampuan
mencerna makanan yang ditandai dengan:
a. 20% atau lebih berat badan berada di bawah rentang ideal
b. Bising usus hiperaktif
c. Cepat kenyang setelah makan
d. Diare
e. Gangguan sensasi rasa
f. Kehilangan rambut secara berlebihan
g. Kelemahan otot pengunyah dan untuk menelan
h. Ketidakmampuan memakan makanan
i. Kurang informasi
j. Murang minat pada makanan
k. Nyeri abdomen
l. Penurunan berat badan dengan asupan makan adekuat
m. Sariawan rongga mulut
2. Gangguan menelan berhubungan dengan abnormalitas jalan napas atas,
gangguan pernapasan, ditandai dengan:
a. Muntah sebelum menelan
b. Ngiler
c. Tersedak sebelum makan
d. Waktu menelan lama dengan konsumsi yang tidak adekuat
e. Menolak makan
3. Berat badan berlebih berhubungan dengan perilaku kurang gerak yang
terjadi selama > 2 jam/hari, gangguan genetik, waktu tidur pendek, ditandai
dengan:
a. BMI > 25 kg/m2
4. kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
ditandai dengan:
a. haus
b. Kulit kering
c. Membran mukosa kering
d. Peningkatan frekuensi nadi
e. Peningkatan suhu tubuh
f. Penurunan berat badan tiba-tiba
g. Penurunan tekanan darah

b. Perencanaan/Nursing Care Plan :

No. Masalah NOC NIC


Keperawatan
1. Ketidakseimbangan Status nutrisi: Manajemen gangguan
nutrisi: kurang dari 1. Pasien makan
kebutuhan tubuh melaporkan Mandiri
nafsu makanan 1. Monitor asupan kalori
meningkat 2. Observasi klien selama dan
2. Berat badan setelah pemberian makan
pasien untuk meyakinkan bahwa
bertambah asupan makanan cukup
3. Pasien tercapai dan
melaporkan dipertahankan.
lingkungan 3. Timbang berat badan
nyaman untuk pasien secara rutin (pada
makan hari yang sama dan setelah
4. Pasien mampu BAB/BAK)
melakukan 4. Monitor intake dan asupan
perawatan oral cairan secara tepat
sebelum makan Edukatif
5. Ajarkan dan dukung
konsep nutrisi yang baik
dengan klien
Kolaboratif
6. Rundingkan dengan ahli
gizi dalam menentukan
asupan kalori harian yang
diperlukan

Manajemen Nutrisi
Mandiri
1. Identifikasi adanya alergi
atau intolernasi makanan
yang dimiliki pasien
2. Monitor kalori dan asupan
makanan
3. Ciptakan lingkungan yang
optimal pada saat
mengkonsumsi makanan
4. Atur diet yang diperlukan
5. Lakukan atau bantu pasien
terkait dengan perawatan
mulut sebelum makan
6. Berikan obat-obatan
sebelum makan
(penghilang rasa sakit,
antiemetik) jika diperlukan
Promotif
7. Anjurkan keluarga untuk
membawa makanan
favorite passien sementara
berada dirumah sakit.
2. Gangguan menelan Status menelan: Pencegahan aspirasi
1. Pasien mampu Mandiri
mempertahankan 1. Pertahankan kepatenan
makanan dalam jalan napas
mulut 2. Monitor status pernapasan
2. Jumlah menelan 3. Posisikan kepala pasien
sesuai dengan tegak lurus
ukuran atau 4. Haluskan pemberian obat
tekstur bolus dalam bentuk pil sebelum
3. Reflek menelan pemberian
sesuai dengan 5. Potong makanan menjadi
waktunya potongan-potongan kecil
4. Mempertahankan Kolaborasi
posisi kepala dan 6. Sarankan konsultasi pada
batang tubuh terapi wicara patologis
netral dengan tepat

3. Berat badan Status nutrisi: Konseling nutrisi:


berlebih 1. Intake dan output Mandiri
cairan pasien 1. Kaji asupan makanan dan
seimbang kebiasaan makan pasien
2. Pasien memahami 2. Kaji ulang pengukuran
perlunya intake dan output cairan
modifikasi diet pasien
dan penurunan Edukatif
BB 3. Berikan informasi sesuai
3. Pasien memahami kebutuhan mengenai
kebutuhan nutrisi perlunya modifikasi diet
dan persepsi bagi kesehatan dan
mengenai diet penurunan BB
yang 4. Diskusikan kebutuhan
direkomendasikan nutrisi dan persepsi pasien
mengenai diet yang
direkomendasikan
Kolaboratif
5. Sediakan
konsultasi/rujukan dengan
anggota kesehatan lain
sesuai kebutuhan.
4. Kekurangan Keseimbangan Manajemen cairan
volume cairan cairan Mandiri:
1. Pertambahan 1. Timbang berat badan
tekanan darah setiap hari
120/80 mmHg 2. Monitor TTV
2. Perubahan 3. Monitor makanan/cairan
frekuensi yang dikonsumsi dan
pernapasan (12- hitung asupan kalori
20x/menit) harian
3. Perubahan 4. Tingkatan asupan oral
frekuensi nadi Kolaborasi:
radial (80- 1. Konsultasikan dengan
100x/menit) dokter jika tanda-tanda
4. Suhu menurun dan gejala kelebihan
dalam rentang volume cairan menetap
36,5-37,50 atau memburuk
5. Kulit dan mukosa
lembab
6. Peningkatan berat
badan
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, B. 2014. Pathway Nutrisi.


https://www.scribd.com/doc/247992526/Pathway-Nutrisi [Diakses pada 5
Maret 2018]
Aquilino, Mary Lober, Et al. 2008. Nursing Outcomes Classification. Fifth
Edition. United State of America: Mosby Elsevier.

Asmadi, 2008. Tekkik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan


Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika https://books.google.co.id
[Diakses pada 3 September 2018]
Dochterman, Janne McCloskey dan Bulcchek, Gloria M. 2008. Nursing
Interventions Clarifications. Fifth Edition.united State of America: Mosby
Elsevier.

Espasari. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Konsumsi Makanan


Pasien Dan Kaitannya Dengan Perubahan Status Gizi Di Irna Non Bedah
(Penyakit Dalam) RSUP Dr. M. Djamil Padang. Skripsi: Padang.
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Andalas Padang http://repo.unand.ac.id/168/1/8.pdf [Diakses pada 5
Maret 2018]
Harnanto, A. M. dan S. Rahayu. 2016. Modul Bahan Ajar Cetak Keperawatan:
Kebutuhan Dasar Manusia II. Jakarta: Pusdik SDM Kesehatan
http://bppsdmk.kemkes.go.id/ [Diakses pada 5 Maret 2018]
Hartono, A. 2006. Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit. Jakarta: EGC
https://books.google.co.id [Diakses pada 5 Maret 2018]
Herdman, T. Heather. 2015. NANDA Internasional Inc. diagnosa keperawatan:
definisi & klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC

Indriyani, W. 2013. Studi Kasus Asuhan Keperawatan Ketidakseimbangan Nutrisi


Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada An. S dengan Febris Typhoid Rumah
Sakit Panti Waluyo Surakarta. Program Studi DIII keperawatan Sekolah
Tinggi Ilmu kesehatan Kusuma Husada Surakarta
http://digilib.stikeskusumahusada.ac.id/files/disk1/11/01-gdl-wiwinindri-
518-1-wiwinin-8.pdf [Diakses pada 5 Maret 2018]
Potter, P. A. & Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep,
proses, dan praktik. Jakarta: EGC
Rubenstein, D., D. Wayne, dan J. Bradley. 2007. Kedokteran klinis Edisi keenam.
Jakarta: Erlangga https://books.google.co.id [Diakses pada 5 Maret 2018]