Anda di halaman 1dari 51

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

NG DENGAN DEMAM
BERDARAH DENGUE (DBD) DI RUANG CEMPAKA
RSUD RAA SOEWONDO PATI

“ Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas kelompok

Profesi Ners Stase Anak“

Disusun Oleh :

Kelompok II :

1. Anwar Hartanto 2. Endang Sri Kusrini

3. Giarti Dwi Susanti 4. Jumiyati

5. Juwarto 6. Kundarto

7. Linggar Apsari Dwi M 8. Rina Asrinie

9. Sistini 10.Siti Rochmah

11.Sri Hestiwinigsih 12.Sudarsih

13.Sulistyani 14.Syafiah

15.Tutut Eko Rahayu

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS
2018
1
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa,

atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada An. BA

Dengan Dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Ruang Cempaka RSUD

RAA Soewondo Pati”. Makalah ini digunakan dalam rangka memenuhi tugas

keperawatan Ners stase anak.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari

bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan

rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Direktur RSUD RAA Soewondo Pati, yang memberikan dorongan penulis untuk

pembuatan makalah.

2. Seluruh perawat di RSUD RAA Soewondo Pati.

3. Seluruh TIM kelompok yang selalu kompak.

4. Semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi

banyak pihak dan kami sangat bersyukur apabila makalah ini dapat dijadikan

pedoman bagi pembaca.

Pati, November 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................... 1


KATA PENGANTAR ........................................................................................2
DAFTAR ISI .......................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................4
B. Tujuan Penulisan ..........................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian .....................................................................................7
B. Klasifikasi .....................................................................................7
C. Etiologi .........................................................................................8
D. Manifestasi Klinik .......................................................................9
E. Patofisiologi..................................................................................9
F. Pathways .....................................................................................11
G. Pemeriksaan Penunjang ..............................................................12
H. Penatalaksanaan .........................................................................13
I. Komplikasi .................................................................................15
J. Penatalaksanaan Keperawatan ...................................................16
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ..................................................................................24
B. Analisa Data ..............................................................................33
C. Masalah Keperawatan ................................................................34
D. Perencanaan (Intervensi) ............................................................34
E. Pelaksanaan ...............................................................................35
F. Evaluasi ......................................................................................46
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................49
B. Saran .....................................................................................49
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................51

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan pada prinsipnya dapat mempengaruhi kehidupan manusia,

manusia dapat mengalami kondisi kesehatan yang sehat maupun sakit dan

kondisi tersebut dapat mempengaruhi prilaku manusia tersebut. Pada

keadaan tertentu manusia dapat mengalami gangguan baik itu gangguan fisik

atau psikologis sehingga perlu dilakukan perawatan, perawatan yang

diberikan secara menyeluruh baik bio, psiko, sosio dan spiritual (Golberg,

2009).

Salah satu perilaku yang dapat mengganggu kesehatan adalah

kebiasaan membuang sampah sembarangan sehinggu dapat mengakibatkan

lingkungan kotor. Lingkungan yang kotor dapat menjadi salah satu penyebab

penyakit Demam Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue banyak

ditemukan di daerh tropis dan sub – tropis (Sudoyo, 2014).

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa 50 sampai

100 juta infeksi terjadi setiap tahun, termasuk 500.000 kasus DBD dan 22.000

kematian, dimana korban terbanyak berasal dari kalangan anak-anak.

Berdasarkan data yang ada, Asia menempatkan urutan pertama dalam jumlah

penderita DBD setiap tahunnya. Jumlah kasus DBD meningkat di Asia

Tenggara pada periode 1996-2006 (Suhendro, 2006).

Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968

di Surabaya (Ngastiyah, 2009). Sejak pertama kali ditemukan, jumlah kasus


4
menunjukkan kecenderungan meningkat baik dalam jumlah maupun luas

wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi KLB setiap tahun.

KLB DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence Rate (IR) =

35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun

tajam sebesar 10,17%, namun tahun-tahun berikutnya IR cenderung

meningkat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun 2002);

dan 23,87 (tahun 2003) (Hidayat, 2008).

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kejadian

DBD yang cukup tinggi, dengan lebih dari 54 kasus per 100.000 penduduk di

tahun 2009. Jawa Tengah digolongkan ke dalam provinsi dengan risiko

sedang DBD. Tapi penurunan jumlah kasus berbanding terbalik dengan

jumlah kematian akibat DBD yang mengalami kenaikan menjadi 43 orang

dari 18 orang pada tahun 2008, dengan CFR sebesar 1,1% dari 0,3% pada

tahun 2008. Wilayah Kota Semarang yang memiliki status endemisitas

tertinggi adalah Kelurahan Gajahmungkur dan Kelurahan Tembalang pada

kisaran tahun 2009-2011 (Dinkes Jateng, 2012).

Dari data yang diperoleh dari RSUD RAA Soewondo Pati kejadian

DHF pada tahun 2016 dari bulan januari sampai maret terjadi 218. Pada

bulan Januari 2017 terdapat penderita DHF pada anak mencapai 48 pasien

dan pada bulan Februari 2017 jumlah penderita DHF hanya 52 pasien (Rekam

Medis RSUD RAA Soewondo Pati, 2017).

Berdasarkan data tersebut, dari mulai banyaknya kasus DHF dan

prosentase yang tinggi tentang penyakit tersebut maka dari itu penulis tertarik

membuat studi kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada An. BA


5
Dengan Dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Ruang Cempaka RSUD

RAA Soewondo Pati”.

B. Tujuan Studi Kasus

1. Tujuan Umum

Setelah dilaksanakan seminar kurang lebih 60 menit diharapkan

mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada An. BA dengan

Demam Berdarah Dengue (DBD) di Ruang Cempaka RSUD RAA

Soewondo Pati.

2. Tujuan Khusus

a. Mampu mengetahui dan memahami tentang konsep dasar anak

dengan Demam Berdarah Dengue (DBD).

b. Mampu melaksanakan pengkajian pada anak dengan Demam

Berdarah Dengue (DBD).

c. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan yang tepat untuk

membuat rencana tindakan pada anak dengan Demam Berdarah

Dengue (DBD).

d. Mampu menetapkan rencana dan tindakan keperawatan pada anak

dengan Demam Berdarah Dengue (DBD).

e. Mampu merumuskan evaluasi keperawatan pada anak dengan Demam

Berdarah Dengue (DBD).

6
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN PERAWATAN ANAK DENGAN DBD

A. Pengertian

Demam berdarah merupakan penyakit yang dapat membuat suhu tubuh

penderita menjadi sangat tinggi dan pada umumnya disertai sakit kepala, nyeri

sendi, otot, dan tulang, serta nyeri di bagian belakang mata. Demam Berdarah

Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue

dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan atau nyeri sendi yang disertai

lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, dan diatesis hemoragik

(Sudoyo, 2014).

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut, dengan

ciri-ciri demam manifestasi perdarahan, dan bertendensi mengakibatkan

renjatan yang dapat menyebabkan kematian (Mansjoer A, 2014).

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah infeksi akut yang disebabkan

oleh arbovirus (arthropodborn) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes

(Aedes albopictus dan Aedes aegypty) (Ngastiyah, 2009).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Dengue

Haemorrhagic Fever merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus dengue

yang termasuk golongan arbovirus melalui gigitan nyamuk aedes aegypti

betina yang memiliki tanda dan gejala seperti perdarahan, dan bertendensi

mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan kematian.

B. Klasifikasi Demam Berdarah Dengue

Derajat beratnya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) secara

klinis dibagi sebagai berikut :

7
1. Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat

manifestasi perdarahan (Uji turniket positif).

2. Derajat II : Seperti derajat I disertai perdarahan spontan diikuti dan

perdarahan lain yaitu petekie, purpura(perdarahan kecil yang lebih

dari petkie yang berwarna keunguan), sianosis, perdarahan sub

konjungtiva, epistaksis, hematemesis melena, hemokonsentrasi (Ht

lebih dari 20% yang merupakan indikator terjadinya renjatan).

3. Derajat III : Ditemukan tanda-tanda dini renjatan yaitu ditemukan

kegagalan sirkulasi dengan tanda nadi cepat dan pulsasi lambat, TD

menurun atau hipotensi disertai kulit yang dingin, lembab dan

penderita gelisah.

4. Derajat IV : Renjatan dengan nadi tidak dapat diukur/diraba dan

tekanan darah yang tidak dapat diukur (Ngastiyah, 2009).

C. Etiologi

Virus dengue serotype 1,2,3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor

nyamuk Aedes aegypty, nyamuk aedes albopictus, nyamuk polinesiensis, dan

beberapa spesies lain merupakan vektor lain yang kurang berperan. Infeksi

dengan salah satu serotip akan menimbulkan antibody seumur hidup terhadap

serotype bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotype lain

(Mansjoer A, 2014).

Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4

yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah

dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan


8
serotype terbanyak. Terdapat reaksi silang antara serotype dengue dengan

Flavivirus lain seperti Yellow fever. Japanese encehpalitis dan West Nile virus

(Sudoyo, 2014).

D. Manifestasi Klinik

1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari ( tanpa

sebab jelas).

2. Perdarahan, paling tidak terdapat uji torniket positif dan adanya salah

satu bentuk perdarahan yang lain misalnya petakia, ekimosis, epitaksis,

perdarahan gusi, melena, atau hematemesis.

3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit).

4. Syok yang ditandai nadi lemah, cepat, disertai tekanan nadi yang

menurun (menjadi 20 mmHg atau kurang) tekanan darah menurun

(tekanan sistolik menurun sampai 80 mmHg atau kurang) disertai kulit

yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan kaki,

pasien menjadi gelisah, timbul sianosis disekitar mulut (Ngastiyah,

2009).

E. Patofisiologi

Setelah virus dengue masuk kedalam tubuh, terjadi viremia yang

ditandai dengan demam, sakit kepala, muak nyeri otot, pegal disekitar tubuh,

hiperemia di tenggorokan, suam atau bintik-bintik merah pada kulit, selain itu

kelainan dapat terjadi pada sistem retikula endotetial, seperti pembatasan

kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Peningkatan permeabilitas

9
dinding kapiler ehingga cairan keluar dari intraseluler ke ekstraseluler.

Akibatnya terjadi pengurangan volume plasma, penurunan tekanan darah,

hemokosentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Plasma meembes sejak

permulaan demam dan mencapai puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan

renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau kurang. Bila

renjatan hipopolemik yang terjadi akibatkehilangan plasma tidak segera

diatasi, maka akan terjadi anorekma jaringan, asidosis metabolik, dan

kematian (Price, 2009).

Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastik setelah

pemberian plasma yang efektif sedangkan pada autopsy ditemukan kerusakan

dinding pembuluh darah yang ditrotif atau akibat radang, menimbulkan

dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin

disebabkan mediate farmakologis yang bekerja singkat. Sebab lain kematian

DHF adalah pendarahan hebat, yang biasanya timbul setelah renjatan

berlangsung lama dan tidak teratasi (Price, 2009)

Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses

imunologis terbukti dengan terdapatnya komplek imun dalam peredaran darah.

Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang

fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktifasi sitem koagulasi. Masalah

terjadi tidaknya DIC pada DHF/DSS, terutama pada pasien dengan pendarahan

obat, sejak lama telah menjadi bahan perdebatan (Mansjoer, 2014).

10
F. Pathways

Nyamuk Aedes Albopictus Nyamuk Aedes Aegypty

Menggigit tubuh manusia

Virus dengue masuk kedalam tubuh manusia

Demam Berdarah Dengue

infeksi dalam Agregasi terjadi reaksi anamnestik antibody


tubuh/viremia trombosit dalam tubuh
menurun
Vasodilatasi Menimbulkan
pembuluh darah Trombositopenia konsetrasi komplek
antigen antibodi
Peningkatan Pelepasan trombosit
Permeabilitas pelepasan anafilaktosin
dinding kapiler
Koagulasi intravaskuler
pelepasan anafilaktosin
Evaporasi Terjadi
perdarahan Resti Kurang volume
(syok/Perdarahan) cairan
Peningkatan Hb menurun kebocoran plasma WBC ↑
metabolisme
Terdapatnya
Anemia cairan dalam Imun ↓
Suhu tubuh efusi pleura
Rongga serosa
meningkat
Suplai O2 ke Dipsneu Resiko Infeksi
Jaringan menurun Mendesak rongga
Proses inflamasi perut Ht ↑

Metabolisme anaerob G3 Pola Nafas


Hipertermi Mual/muntah Viskositas ↑

Penimbunan asam Anoreksia Aliran darah ↑


laktat Kurang nutrisi dari
kebutuhan Tubuh Suplai darah kurang
Mudah lelah Kelemahan Intoleransi
G3 Perfusi Jaringan
Fisik aktivitas

Sumber, Price (2009), Mansjoer (2014) 11


G. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan Laboratorium darah

a. Leukosit : Dapat normal atau menurun. Mulai hari ke-3 dapat

ditemui limfositosis relative (>45% dari total leukosit) disertai

adanya limfosit plasma biru (LPB) >15% dari jumlah total leukosit

yang pada fase syok akan meningkat.

b. Trombosit : Umumnya terdapat trombositopenia pada hari ke 3-8.

c. Hemostasis : Dilakukan pemeriksaan PT,APTT. Fibrinogen, D-

Dimer, atau FDP pada keadaan yang dicurigai terjadi perdarahan

atau kelainan pembekuan darah.

d. Hematokrit : Kebocoran plasma dibuktikan dengan ditemukannya

peningkatan hematokrit ≥ 20% dari hematokrit awal, umumnya

dimulai pada hari ke-3 demam.

e. Protein/Albumin : Dapat terjadi hipoproteinemia akibat kebocoran

plasma.

f. SGOT/SGPT : Dapat meningkat.

g. Ureum, Kreatinin : Bila didapatkan gangguan fungsi ginjal.

h. IgM : Terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke-3,

menghilang setelah 60-90 hari.

i. IgG : Pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke-14, pada

infeksi sekunder IgG mulai terdeteksi hari ke-2.

j. Uji HI (Haemagglutination inhibiting antibody) : Dilakukan

pengambilan bahan pada hari pertama serta saat pulang dari

12
perawatan uji ini digunakan untuk kepentingan surveilans (Sudoyo,

2014).

2. Pemeriksaan Radiologis

Pada Foto dada didapatkan efusi pleura, terutama pada

hemitoraks kanan tetapi apabila terjadi perembesan plasma hebat, efusi

pleura dapat dijumpai pada kedua hemitoraks. Pemeriksaan foto rontgen

dada sebaiknya dalam posisi lateral dekubitus kanan (posisi tidur pada

sisi badan sebelah kanan). Asites dan efusi pleura dapat juga dideteksi

dengan pemeriksaan USG (Sudoyo, 2014).

H. Penatalaksanaan

1. Keperawatan

a. Derajat I

Pasien istirahat, obsevasi tanda-tanda vital setiap 3 jam,

periksa Ht, Hb dan trombosit tiap 4 jam sekali. Berikan minum 1,5 – 2

liter dalam 24 jam dan kompres dingin.

b. Derajat II

Segera dipasang infus. Bila keadaan pasien sangat lemah

sering dipasang pada 2 tempat karena dalam keadaan renjatan

walaupun klem dibuka tetesan infus atau tetesan cairan tetap tidak

lancer maka jika 2 tempat akan membantu memperlancar. Kadang-

kadang 1 infus untuk memberikan plasma darah dan yang lain cairan

biasa.

13
c. Derajat III dan IV (DSS)

1) Penggantian plasma yang keluar dan memberikan cairan elektrolit

(RL) dengan cara diguyur kecepatan 20 mL/ kg BB/ jam.

2) Dibaringkan dengan posisi semi fowler dan diberikan O2.

3) Pengawasan tanda-tanda vital dilakukan setiap 15 menit.

4) Pemeriksaan Ht, Hb dan Trombosit dilakukan secara periodik.

5) Bila pasien muntah bercampur darah perlu diukur untuk tindakan

secepatnya baik obat-obatan maupun darah yang diperlukan.

6) Makanan dan minuman dihentikan, bila mengalami perdarahan

gastrointestinal biasanya dipasang nasogastrik tube (NGT) untuk

membantu pengeluaran darah dari lambung. NGT perlu dibilas

dengan Nacl karena sering terdapat bekuan darah dari tube. Tube

dicabut bila perdarahan telah berhenti. Jika kesadaran telah

membaik sudah boleh diberikan makanan cair walaupun feses

mengndung darah hitam kemudian lunak biasa (Ngastiyah, 2009).

2. Medis

a. Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien

dehidrasi dan haus. Pasien diberi banyak minum yaitu 1 ½ - 2 liter

dalam 24 jam. Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik

dan kompres dingin. Jika terjadi kejang diberikan antikonvulsan.

Luminal diberikan dengan dosis : anak umur < 12 bulan 50 mg im;

anak > 1 tahun 75 mg. jika 15 menit kejang belum berhenti luminal

diberikan lagi dengan dosis 3 mg/ kg BB. Infus diberikan pada pasien

DHF tanpa renjatan apabila : pasien terus menerus muntah, tidak


14
dapat diberikan minum sehingga mengancam terjadinya dehidrasi dan

hematokrit yang cenderung meningkat.

b. Pasien mengalami syok segera dipasang infus sebagai pengganti

cairan hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan

biasanya RL. Jika pemberian cairan tersebut tidak ada respon

diberikan plasma atau plasma ekspander banyaknya 20 – 30 mL/kg

BB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian infus harus diguyur.

Apabila syok telah teratasi, nadi sudah jelas teraba, amplitude nadi

sudah cukup besar, tekanan sistolik 80 mmHg dan kecapatan tetesan

dikurangi menjadi 10 mL/ kg BB/ jam. Pada pasien dengan syok berat

atau syok berulang perlu dipasang CVV untuk mengukur tekanan

vena sebtral melalui vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di

ICU (Ngastiyah, 2009).

I. Komplikasi

1. Perdarahan luas

Faktor penyebab perdarahan yang meluas adalah terjadinya

kelainan fungsi trombosit sehingga akan merangsang atau mengaktivasi

faktor pembekuan.

2. Syok

Akibat dari permeabilitas vaskuler yang meningkat maka akan

berdampak pada kebocoran plasma. Volume plasma akan menurun

sehingga terjadi hipovolemia dan berakhir syok pada penderita.

15
3. Efusi pleura

Infeksi virus dengue mengakibatkan peningkatan permeabilitas

dinding kapiler. Hal ini menyebabkan kebocoran plasma sehingga terjadi

efusi pleura.

4. Penurunan kesadaran

Penurunan kesadaran pada penderita terjadi pada derajat IV yang

ditandai dengan nadi yang tidak teraba dan tekanan darah yang sulit

diukur (Mansjoer, 2014).

J. Proses/Penatalaksanaan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Aktifitas / Istirahat

Gejala : Kelelahan umum, kelemahan, ketidakmampuan melakukan

aktivitas

Tanda :

1) Perubahan TTV

2) Tekanan darah menurun

3) Nadi meningkat

4) RR menurun

5) Suhu meningkat

b. Sirkulasi

Gejala : Tekanan darah menurun, perdarahan.

Tanda : Petakie, hipotensi, nadi cepat / takhikardi, kaki teraba

dingin.

16
c. Integritas ego

Gejala : Perubahan pola hidup, peningkatan faktor resiko

Tanda : Ansietas, muntah, anoreksia.

d. Makanan / Cairan

Gejala : Mual, muntah, anoreksia

Tanda : Turgor kulit kurang atau jelek, penurunan BB, penurunan

lemak / massa otot.

e. Neurosensori

Gejala : Sakit kepala, pusing dan terjadi penurunan kesadaran.

Tanda : Gelisah, ketakutan, disorientasi bahkan dilirium / koma.

f. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : Nyeri lokalisasi pada ulu hati, sakit kepala dan pusing.

g. Pernafasan

Gejala : Nafas pendek

Tanda : Dispnea

h. Hyegiene

Gejala : Penurunan kemampuan / peningkatan kebutuhan bantuan

melakukan ADL.

Tanda : Kebersihan buruk, bau badan tidak enak.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan pola nafas berhubungan dengan adanya cairan dalam

Rongga serosa

b. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan supali darah ke

jaringan kurang
17
c. Hipertermi berhubungan dengan adanya viremia

d. Kekurangan volume cairan dalam tubuh berhubungan dengan

peningkatan permeabilitas dinding kapiler

e. Kurang nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

muntah, anoreksia, disfagia

f. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

g. Resiko Infeksi berhubungan dengan imun turun

h. Resti perdarahan berhubungan dengan koagulasi intravaskuler

3. Intervensi Keperawatan

Tujuan dan
Dianogsa
No kriteria hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan
(NOC)
1. Gangguan pola nafas Setelah dilakukan Manajemen Jalan Napas :
berhubungan dengan tindakan keperawatan
adanya cairan dalam selama, diharapkan pola 1. Buka jalan napas
Rongga serosa 2. Posisikan bayi untuk
napas bayi efektif memaksimalkan ventilasi
dengan kriteria : dan mengurangi dispnea
Status Respirasi : 3. Auskultasi suara napas,
Ventilasi : catat adanya suara
1. Pernapasan pasien tambahan
30-60X/menit. 4. Identifikasi bayi perlunya
2. Pengembangan dada pemasangan alat jalan
simetris. napas buatan
3. Irama pernapasan 5. Keluarkan sekret dengan
teratur suctin
4. Tidak ada retraksi 6. Monitor respirasi dan ststus
dada saat bernapas oksigen bila
5. Inspirasi dalam memungkinkan
tidak ditemukan Monitor Respirasi :
6. Saat bernapas tidak 1. Monitor kecepatan, irama,
memakai otot napas kedalaman dan upaya
tambahan bernapas
7. Bernapas mudah 2. Monitor pergerakan,
tidak ada suara kesimetrisan dada, retraksi
napas tambahan dada dan alat bantu
pernapasan
3. Monitor adanya cuping
18
hidung
4. Monitor pada pernapasan:
bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, respirasi
kusmaul, cheyne stokes,
apnea
5. Monitor adanya
penggunaan otot diafragma
6. Auskultasi suara napas,
catat area penurunan dan
ketidakadanya ventilasi dan
bunyi napas.
2. Gangguan perfusi Setelah dilakukan Manajemen sensasi perifer :
jaringan berhubungan tindakan keperawatan 1. Monitor adanya daerah
dengan supali darah ke selama 3 x 24 jam tidak tertentu yang hanya peka
jaringan kurang gangguan perfusi terhadap
jaringan. panas/dingin/tajam/tumpul
Kriteria hasil (NOC): 2. Monitor adanya paretese
1. Tekanan systole dan 3. lnstruksikan keluarga untuk
diastole dalam mengobservasi kulit jika
rentang yang ada isi atau laserasi
diharapkan 4. Gunakan sarung tangan
2. Tidak ada ortostatik untuk proteksi
hipertensi 5. Batasi gerakan pada kepala,
3. Tidak ada tanda leher dan punggung
tanda peningkatan 6. Monitor kemampuan BAB
tekanan intrakranial 7. Kolaborasi pemberian
(tidak lebih dari 15 analgetik
mmHg) 8. Monitor adanya
tromboplebitis
9. Diskusikan menganai
penyebab perubahan sensasi
3. Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan 1) Monitor suhu minimal
dengan adanya viremia tindakan keperawatan tiap 2 jam
selama 3 x 24 jam tidak 2) Rencanakan monitoring
terjadi peningkatan suhu suhu secara kontinyu
tubuh. 3) Monitor TD, nadi, dan RR
Kriteria hasil (NOC): 4) Monitor warna dan suhu
Termoregulasi kulit
1) Suhu tubuh dalam 5) Monitor tanda-tanda
rentang normal hipertermi dan hipotermi
2) Nadi dan RR 6) Tingkatkan intake cairan
dalam rentang dan nutrisi
normal 7) Ajarkan pada pasien cara
3) Tidak ada mencegah keletihan akibat
perubahan warna panas

19
kulit dan tidak ada 8) Diskusikan tentang
pusing, merasa pentingnya pengaturan
nyaman suhu dan kemungkinan
efek negatif dari
kedinginan
9) Beritahukan tentang
indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan
emergency yang
diperlukan
10) Ajarkan indikasi dari
hipotermi dan penanganan
yang diperlukan
11) Berikan anti piretik jika
perlu
4. Kekurangan volume Setelah dilakukan 1) Kaji adanya tanda
cairan dalam tubuh tindakan keperawatan dehidrasi
berhubungan dengan selama 3 x 24 jam tidak 2) Jaga kelancaran aliran
peningkatan terjadi kekurangan infus
permeabilitas dinding volume cairan. 3) Periksa adanya
kapiler Kriteria hasil (NOC): tromboplebitis
1) Fulid balance 4) Pantau tanda vital tiap 6
2) Hydration jam
3) Nutritional status : 5) Lakukan kompres dingin
Food and fluid jika terdapat hipertermia
intake suhu diatas 38 0C
 Tidak ada 6) Pantau balance cairan
tanda dehidrasi 7) Berikan nutrisi sesuai diit
 Suhu tubuh 8) Awasi turgor kulit
normal 36,5-
37 0C
 Kelopak mata
tidak cekung
 Turgor kulit
baik
 Akral hangat
4. Kurang nutrisi dari Setelah dilakukan Manajemen nutrisi:
kebutuhan tubuh tindakan keperawatan 1) Tentukan motivasi pasien
berhubungan dengan selama 3 x 24 jam untuk mengubah
mual muntah, anoreksia, kebutuhan nutrisi kebiasaan makan
disfagia terpenuhi. 2) Pantau nilai laboratorium,
Kriteria hasil (NOC): khususnya transferin,
1) Selera makan albumin, dan elektrolit
dalam keadaan 3) Ketahui makanan
sakit meningkat kesukaan pasien
2) Peningkatan 4) Anjurkan pasien makan

20
ketersediaan zat sedikit tapi sering
gizi untuk 5) Tentukan kemampuan
memenuhi pasien untuk memenuhi
kegiatan kebutuhan nutrisi
metabolic. 6) Anjurkan menjaga
3) Status gizi: asupan kebersihan mulut
makanan dan 7) Pantau kandungan nutrisi
cairan; jumlah dan kalori pada catatan
makanan dan asupan
cairan yang 8) Timbang pasien pada
dikonsumsi tubuh interval yang tepat
dalam waktu 24
jam meningkat.
4) Tingkat kesesuaian
berat badan, otot,
dan lemak dengan
tinggi badan,
rangka tubuh, jenis
kelamin dan usia.
6. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan 1) Pantau tanda-tanda vital
berhubungan dengan tindakan keperawatan sebelum, selama dan
kelemahan fisik selama 3 x 24 jam sesudah aktivitas
aktivitas pasien 2) Kaji tingkat kemampuan
terpenuhi. pasien untuk berpindah
Kriteria hasil (NOC): dari tempat tidur, berdiri,
1) TTV dalam batas ambulasi, dan melakukan
normal ADL
2) Toleransi aktivitas 3) Tentukan penyebab
yang memakan keletihan
energy 4) Pantau respon nutrisi
3) Kemampuan untuk untuk memastikan
menyelesaikan sumber-sumber energy
aktivitas yang adekuat
4) Penghematan 5) Membantu aktivitas klien
energy sehari-hari
5) Peningkatan 6) Ajarkan tentang
kebutuhan aktifitas pengaturan aktivitas dan
sehari-hari teknik manajemen waktu
untuk mencegah kelelahan
7) Bantu pasien untuk
mengubah posisi secara
berkala, jika perlu
7. Resiko Infeksi Setelah dilakukan Mengontrol Infeksi :
berhubungan dengan tindakan keperawatan,
imun turun 1. Bersihkan box / incubator
bayi diharapkan terhin- setelah dipakai bayi lain
dar dari tanda dan gejala 2. Pertahankan teknik isolasi

21
infeksi dengan indicator bagi bayi ber-penyakit
: menular
Status Imun : 3. Batasi pengunjung
4. Instruksikan pada
1. RR : 30 - 60 x/menit pengunjung untuk cuci
- Irama napas teratur tangan sebelum dan
2. Suhu 36,5 - 37,5˚ C sesudah berkunjung
3. Integritas kulit baik 5. Gunakan sabun
4. Integritas mukosa antimikroba untuk cuci
baik tangan
5. Leukosit dalam 6. Cuci tangan sebelum dan
batas normal sesudah melakukan
tindakan keperawatan
7. Pakai sarung tangan dan
baju sebagai pelindung
8. Pertahankan lingkungan
aseptik selama pemasangan
alat
9. Ganti letak IV perifer dan
line kontrol dan dressing
sesuai ketentuan
10. Tingkatkan intake nutrisi
11. Kolaborasi dengan dokter :
antibiotik bila perlu.
Mencegah Infeksi
1. Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
2. Batasi pengunjung
3. Skrining pengunjung
terhadap penyakit menular
4. Pertahankan teknik aseptik
pada bayi beresiko
5. Bila perlu pertahankan
teknik isolasi
6. Beri perawatan kulit pada
area eritema
7. Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap
kemerahan, panas, dan
drainase
8. Dorong masukan nutrisi
yang cukup

22
8. Resti perdarahan Setelah dilakukan 1) Kaji keadaan umum
berhubungan dengan tindakan keperawatan pasien
koagulasi intravaskuler selama 3 x 24 jam tidak 2) Observasi tanda – tanda
terjadi perdarahan. vital
Kriteria hasil (NOC): 3) Monitor tanda penurunan
1) TTV dalam batas trombosit yang disertai
normal gejala klinis
2) Trombosit dalam 4) Monitor hasil
batas normal pemeriksaan laboratorium
(150.000-400.000 ( Trombosit )
/ul. 5) Beri penjelasan tentang
3) Pasien mampu pengaruh trombositopenia
memnuhi pada klien
kebutuhan 6) Anjurkan pasien untuk
istirahatnya banyak istirahat
4) Toleransi aktivitas
sesuai keadaan
umum

23
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. NG DENGAN DEMAM
BERDARAH DENGUE (DBD) DI RUANG CEMPAKA

A. Pengkajian

Kelompok II : 1. Anwar Hartanto 2. Endang Sri Kusrini

3. Giarti Dwi Susanti 4. Jumiati

5. Juwarto 6. Kundarto

7. Linggar Apsari Dwi M 8. Rina Asrinie

9. Sistini 10. Siti Rochmah

11. Sri Hestiwingsih 12. Sudarsih

13. Sulistyani 14. Syafiah

15. Tutut Eko Rahayu

Tempat Praktek : Ruang Cempaka


Tanggal Pengkajian : 29 Oktober 2018 Jam : 14.00 WIB.
1. Identitas Data
Nama : AN. NG
Alamat : Growong Kidul 3/1 Juwana
Tempat/tgl lahir : Pati, 02 Desember 2015
Agama : Islam
Usia : 2 Tahun 11 bulan 2 hari
Suku bangsa : Jawa
Nama ayah/ibu : Tn. S/Ny.R
Pendidikan ayah : SLTP
Pekerjaan ayah : Wiraswasta
Pendidikan ibu : SLTP
Pekerjaan ibu : Ibu Rumah Tangga
2. Keluhan Utama
Keluarga mengatakan anaknya panas
24
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke IGD Rumah Sakit RSUD RAA Soewondo Pati tanggal
29 Oktober 2018 jam 11.50 WIB dengan keluhan panas, muntah 4 kali
dan menggigil sudah 5 hari. Sebelum pasien dibawa kerumah sakit pasien
sudah diperiksakan ke dokter swasta. Saat diperiksa di IGD RSUD RAA
Soewondo didapatkan hasil pemeriksaan RR : 32 X/menit, N : 102
x/menit, S : 38,8˚C, dan setelah mendapatkan ruangan pasien kemudian
dilakukan pemasangan infus RL Mikro 32 tpm dan pengambilan darah
vena untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

4. Riwayat Penyakit Dahulu


a. Penyakit pada waktu kecil
Panas
b. Pernah dirawat di RS
Keluarga mengatakan bahwa anak belum pernah dirawat di rumah
sakit selama ini.
c. Obat-obatan yang digunakan
Keluarga mengatakan bahwa anak tidak pernah mengkonsumsi obat
tertentu.
d. Tindakan Operasi
Tidak Pernah
e. Riwayat Imunisasi
Keluarga mengatakan anak sudah mendapatkan imunisasi dasar
lengkap.
f. Alergi
Keluarga mengatakan anak tidak pernah alergi makanan atau obat.
g. Kecelakaan
Tidak pernah
5. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Kemandirian dan bergaul

25
Anak BAB dan BAK masih dengan bantuan dengan keluarga dan
bergaul dengan teman sebayanya dirumah
b. Motorik halus
Anak mampu menggenggam benda kecil,melipat kertas,membuat
garis lurus
c. Kognitif dan bahasa
Anak sudah mampu menyebutkan namanya sendiri dan nama ayah
dan ibunya serta adiknya,bias berhitung 1-10
d. Motorik Kasar
Anak mampu berdiri sesaat pada satu kaki,mampu naik turun tangga

dengan kaki bergantian dan juga dapat naik sepeda roda

Kesimpulan perkembangan anak


Tumbuh kembang anak berjalan dengan baik dan dalam batas normal.
DDST : Interpretasi Nilai Denver II
An. NG adalah anak usia 2 Tahun 11 bulan dengan skoring passed atau
lulus. Garis umur An.NG terletak antara persentil 25 dan 75 maka anak
dikategorikan sebagai normal. Aspek yang dinilai yaitu :
o Personal Social (Perilaku Sosial) : Anak sudah mampu melewati,
menatap muka, membalas senyum pemeriksa, tersenyum spontan,
mengamati tangannya, berusaha menggapai mainan, makan sendiri,
tepuk tangan, menyatakan keinginan, daag-daag dengan tangan dan
main bola dengan pemeriksa.
o Gerakan motorik halus : Anak sudah mampu mengikuti ke garis
tengah, mengikuti lewat garis tengah, memegang icik-icik,
mengikuti 1800, mengamati manik-manik, tangan bersentuhan,
mencari benang, menggaruk manik-manik, memindahkan kubus,
mengambil dua buah kubus dan memegang dengan ibu jari dan jari.
o Bahasa : anak sudah mampu melewati bereaksi, bersuara, Oooo ?
Aaaah, tertawa, berteriak, menoleh ke arah suara, satu silabel,
meniru bunyi kata-kata, kombinasi silabel, memanggil papa/mama
spesifik.
26
o Gerak Motorik Kasar : gerakan seimbang, mengangkat kepala,
kepala terangkat ke atas, duduk kepala tegak, menumpu badan pada
kaki, dada terangkat menumpu satu lengan, membalik, bangkit
kepala tegak, duduk tanpa pegangan, berdiri tanpa pegangan, bangkit
waktu berdiri, bangkit terus duduk, berdiri dengan satu kaki 2 detik,
berdiri sendiri, membungkuk kemudian berdiri dan berjalan dengan
baik.
6. Riwayat Kesehatan Keluarga (Disertai Genogram)

Keterangan

= Laki-laki

= Perempuan

= An. NG

= Tinggal satu rumah

7. Pola Kesehatan Fungsional Menurut Gordon


a. Persepsi kesehatan dan pola menajemen kesehatan
1) Sebelum Sakit : Kesehatan anak sejak lahir dalam keadaan sehat
dan sudah mendapat imunisasi lengkap.
2) Selama Sakit : Anak terjaga dengan baik di ruang Cempaka
namun kondisinya lemah
b. Pola Metabolik Nutrisi
1) Sebelum sakit : Pasien makan bubur 3-4x, Porsi 1 piring kecil
habis, pasien juga makan tambahan seperti pisang saat di rumah
dan pasien minum susu 3-7 gelas/ hari (±250cc/gelas).

27
2) Selama sakit : Pasien makan bubur halus tidak habis 1 porsi,
tidak mau makan dan hanya minum susu 3-5 botol dot/ hari
(±250cc/botol dot).
c. Pola Eliminasi
1) Sebelum Sakit : Pasien BAB 1x /hari dengan konsistensi
lembek, warna kuning dan bau khas, BAK 4-6 x/hr.
2) Selama Sakit : Pasien BAB 2x /hr dengan konsitensi lembek,
warna kuning, bau khas, BAK 8-10 /hr.
d. Pola Aktivitas dan Latihan
1) Sebelum Sakit : Ibu pasien mengatakan anaknya sangat periang
dan aktif
2) Selama Sakit : Anak kondisinya lemah dan tidak bisa
beraktifitas.
e. Pola Istirahat Tidur
1) Sebelum Sakit : Ibu pasien mengatakan anaknya tidur 8-9 jam
sehari.
2) Selama Sakit : Anak tidur 6-7 jam sehari sering nangis dan
bangun jika tidur.
f. Persepsi dan Kognitif
Pasien masih kecil dan belum mengetahui tentang kondisinya. Pasien
hanya menangis jika merasa sakit dan .Pasien sudah bisa mengontrol
BAK dan BAB dengan bantuan orang tuanya
g. Persepsi diri
Orang tua pasien sangat berharap akan kesembuhannya anaknya.
Orang tua yakin jika anaknya dapat sembuh setelah dirawat di RS.
h. Hubungan Sosial
Keluarga mengatakan bahwa An. NG berusia 2 tahun yang masih
berusia anak. An. NG dan keluarga berhubungan dengan baik selama
ini terutama dengan ibunya. Anak juga berhubungan baik dengan
teman sebayanya.

28
i. Seksualitas
An.NG berjenis kelamin Laki-Laki yang baru berusia 2 tahun
11bulan .
j. Pemecahan Masalaah Untuk Mengatasi Stres
Keluarga mengatakan bahwa jika anak sakit di bawa langsung ke
Puskesmas atau dokter praktik swasta yang ada di Desanya.
k. Nilai dan Kepercayaan
Keluarga dan An. NG beragama islam. Selama ini keluarga berharap
dan berdoa demi kesembuhan anaknya dengan melaksanakan ibadah
solat 5 waktu.
8. Keadaan Saat Ini
a. Diagnosa Medis
Anak didiagnosa DBD
b. Tindakan Operasi
Tindakan operasi tidak dilaksanakan
c. Status nutrisi
Status nutrisi anak masih baik, diet Tim, anak masih menyusui ASI
ibunya.
 Antropometri measurements
BB : 14 kg, TB : 64 cm dan Lingkar Kepala : 32 cm.
Z skor (14 -14,2) : (14,2 -12,6) = - 0,125
 Biochemical data
Hemoglobin : 11,5 g/dl, Hematokrit : 33,8% dan total limposit :
69%.
 Clinical signs
Keadaan umum pasien terlihat lemas,banyak tidurnya,turgor
kulit elastis,kulit lembab dan tidak ada oedem, rambut baik tidak
ada perubahan warna,mata baik tidak ada gangguan,mulut dan
gigi bersih tidak ada stomatitis,tidak ada riwayat kejang,tidak
ada gondok,kondisi tulang bagus,Paisen muntah dan nafsu
makan berkurang

29
 D : Diet Tim dan anak makan menghabiskan 40% dari porsi
rumah sakit.
Usia (Bulan) -1 SD Median 1 SD
35 Bulan 12,6 14,2 16,0
Karena usia anak 35 bulan dengan berat badan 14 kg, maka anak
dikatakan Gizi Baik.
d. Status Cairan
Anak mengalami penurunan BB 1 kg selama di sakit sehingga anak
mengalami dehidrasi ringan.
1/14 X 100 % : 7 %
e. Obat-obatan
Cairan IV : RL 32 tpm
1) Obat Oral :
Paracetamol 2 x 200 mg
Colistin 2 x 500 mg
2) Obat Injeksi :
Vicilin 2 x 500 mg
Dexametason 2 x ½ ampul
f. Aktivitas
Anak kondisinya lemah dan tidak bisa beraktifitas.
g. Tindakan Keperawatan
- Monitor TTV
- Lakukkan kompres
- Anjurkan banyak minum
- Kolaborasi pemberian antipiretik
h. Hasil Laboratotium
Pemeriksaan Laborat : tanggal 29 OKTOBER 2018

Prosedur Hasil Satuan Nilai Analisa


diagnostik/ Normal
laboratorium

30
Lekosit 3,1 10 ^3/ul 4,6-11 Di bawah normal

Eritrosit 4,24 10 ^6/ul 3,7-5,9 Normal

Hemoglobin 11,5 g/dl 12-16 Di bawah normal

Hematokrit 33,8 % 34-48 Di bawah normal

MCV 79,7 Fl 78-98 Normal

MCH 27,1 Pg 26-34 Normal

MCHC 34,0 % 30-37 Normal

Trombosit 96 10 ^ 3/ul 150-400 Di bawah normal

Prosedur Hasil Satuan Nilai Analisa


diagnostik/ Normal
laboratorium

Limfosit 69 % 20-40 Di Atas Normal

Mix 4 % 0-8,0 Normal

Granulosit 27 % 50-70 Di bawah normal

i. Hasil Rontgen
Tidak ada
j. Data Tambahan
Tes Widal (+) 1/320
9. Pemeriksaan Fisik
a. Temperatur : 38,8 0C
b. Denyut Jantung/Nadi : 102 X/menit
c. Respirasy Rate : 32 X/menit
d. Tekanan Darah : -
e. Pertumbuhan : baik sesuai dengan usia anak
f. Keadaan Umum : Lemah
g. BB : 14 kg, TB : 64 cm, Lingkar kepala : 32 cm

31
h. Mata : Simetris, konjugtiva anemis, merah muda, sklera : putih
bening, tidak ikterik.
i. Hidung : Lubang hidung kanan dan kiri simetris, tidak ada polip,
pernafasan normal, tidak terpasang O2.
j. Mulut : Mukosa bibir kering, tidak ada pernafasan menggunakan
bibir, tidak ada sekret didalam mulut.
k. Telinga : simetris kanan dan kiri, bersih, tidak terdapat serumen dan
tidak terdapat gangguan pendengaran.
l. Tengkuk : tengkuk bersih dan tidak terdapat pembesaran kelenjar
tiroid.
m. Dada : bentuk barel case, dada tidak ada luka, bersih dan nampak
pergerakan dada saat bernafas.
n. Jantung
 Inspeksi : Tidak ada pembesaran ventikal
 Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
 Perkusi : Pekak
 Auskultasi : Suara 1 dan 2 terdengar di mid clavikula
o. Paru-Paru
 Inspeksi : bentuk dada normal, tidak ada retraksi inter costa
 Palpasi : tidak ada nyeri tekan
 Perkusi : sonor
 Auskultasi : vesikuler
p. Perut
 Inspeksi : datar
 Auskultasi : peristaltik 10 x/menit
 Perkusi : tympani
 Palpasi : tidak ada nyeri tekan pada abdomen
q. Punggung : Bersih, tidak ada luka.
r. Genetalia : Genital bersih, anus tidak ada hemoroid.
s. Ektrimitas

32
o Atas : Tidak ada oedema, ekstrimitas kiri atas terpasang infus
RL mikro 32 tetes per menit.
o Bawah : Tidak ada oedema.
t. Kulit : bersih, turgor kulit sedang, akral hangat dan CRT 3 detik.
B. Analisa Data
NO TANDA & GEJALA PROBLEM ETIOLOGI
1. DS: Kurang volume - Muntah yang
Keluarga pasien menyatakan muntah cairan berlebihan
sudah 4x dengan konsistensi cair
Do = - Mukosa bibir kering
- Turgor kulit sedang
- Pasien terlihat lemah
- Pasien muntah
- Dehidrasi ringan
- CRT 3 detik
Laboratorium
- Hb : 11,5 g/dl
- Ht : 33,8 %
- Trombosit : 96.000 ul
2. Ds: Hipertermi Adanya viremia
Keluarga pasien mengatakan badan
terasa panas dan menggigil.
Do :
- Raut muka memerah
- Akral dingin
- Pasien muntah
- Pasien berkeringat dingin
- TTV :
 RR: 32 X/menit
 N:102x/menit
 S:38,8˚c
- Leukosit 3.100 ul
- Trombosit 96.000 ul
3. DS: Resiko kurang Menurunya nafsu
Keluarga pasien mengatakan anak
nutrisi makan, mual, muntah,
tidak menghabiskan
makanannya,sering minum susu anoreksia, disfagia
DO:
1 : Hb : 11,5 g/dl
2 : RR:32 X/menit
N:102x/menit
S:38,8˚c
konjungtiva anemis, pasien lemas.
33
 Pasien diberikan diit TIM
dan kadang mengkonsumsi
biscuit.dan susu 3 – 5 botol/hari
 A : BB : 14 kg, TB : 64 cm dan
Lingkar Kepala : 32 cm.
 B : Hemoglobin : 11,5 g/dl,
Hematokrit : 33,8% dan total
limposit : 69%.
 C : Tidak ada kelainan misalnya
pembengkaan (oedema),tidak ada
perubahan pada rambut,kulit,gigi
dan mulut dan kejang -,gondok -.
D : Diet Tim dan anak makan
tidak habis 1 porsi dari porsi rumah
sakit.

C. Masalah Keperawatan
NO Tgl/jam Diagnosa Keperawatan Paraf Tgl/jam Paraf
ditemukan teratasi
1 29 /10/2018 Volume cairan berhubungan dengan Belum
15.00 muntah berlebihan teratasi
2 29 /10/2018 Hipertermi berhubungan dengan adanya Belum
15.00 viremia teratasi
3 29 /10/2018 Resiko Kurang nutrisi berhubungan Belum
15.00 dengan penurunan nafsu makan, mual, teratasi
muntah, anoreksia dan disfagia

D. Rencana Asuhan Keperawatan


NO Dx Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Keperawatan (NIC) Paraf
Kep (NOC)
1 1 Setelah dilakukan tindakan 1) Kaji adanya tanda dehidrasi
keperawatan selama 3 x 24 2) Jaga kelancaran aliran infus
jam tidak terjadi kekurangan 3) Periksa adanya tromboplebitis
volume cairan. 4) Pantau tanda vital tiap 6 jam
Kriteria hasil (NOC): 5) Lakukan kompres dingin jika
1) Fulid balance terdapat hipertermia suhu diatas
34
2) Hydration 38 0C
3) Nutritional status : 6) Pantau balance cairan dan cek
Food and fluid intake laborat ANC tiap hari
 Tidak ada tanda 7) Berikan nutrisi sesuai diit
dehidrasi 8) Awasi turgor kulit dan tanda –
 Suhu tubuh normal tanda syock yang berhubungan
36,5-37 0C dengan trombositopeni
 Kelopak mata
tidak cekung
 Turgor kulit baik
Akral hangat
2 2 Setelah dilakukan tindakan 1) Monitor suhu minimal tiap 2 jam
keperawatan selama 3 x 24 2) Rencanakan monitoring suhu
jam tidak terjadi secara kontinyu
peningkatan suhu tubuh. 3) Monitor TD, nadi, dan RR
Kriteria hasil (NOC): 4) Monitor warna dan suhu kulit
Termoregulasi 5) Monitor tanda-tanda hipertermi
1) Suhu tubuh dalam dan hipotermi
rentang normal 6) Tingkatkan intake cairan dan
2) Nadi dan RR dalam nutrisi
rentang normal 7) Ajarkan pada pasien cara
3) Tidak ada perubahan mencegah keletihan akibat panas
warna kulit dan tidak 8) Diskusikan tentang pentingnya
ada pusing, merasa pengaturan suhu dan
nyaman kemungkinan efek negatif dari
kedinginan
9) Beritahukan tentang indikasi
terjadinya keletihan dan
penanganan emergency yang
diperlukan
10) Ajarkan indikasi dari hipotermi

35
dan penanganan yang diperlukan
11) Berikan anti piretik jika perlu
3 3 Setelah dilakukan tindakan 1) Tentukan motivasi pasien untuk
keperawatan selama 3 x 24 mengubah kebiasaan makan
jam kebutuhan nutrisi 2) Pantau nilai laboratorium,
terpenuhi. khususnya transferin, albumin,
Kriteria hasil (NOC): dan elektrolit
1) Selera makan dalam 3) Ketahui makanan kesukaan
keadaan sakit pasien
meningkat 4) Anjurkan pasien makan sedikit
2) Peningkatan tapi sering
ketersediaan zat gizi 5) Tentukan kemampuan pasien
untuk memenuhi untuk memenuhi kebutuhan
kegiatan metabolic. nutrisi
3) Status gizi: asupan 6) Anjurkan menjaga kebersihan
makanan dan cairan; mulut
jumlah makanan dan 7) Pantau kandungan nutrisi dan
cairan yang kalori pada catatan asupan
dikonsumsi tubuh 8) Timbang pasien pada interval
dalam waktu 24 jam yang tepat
meningkat.
4) Tingkat kesesuaian
berat badan, otot, dan
lemak dengan tinggi
badan, rangka tubuh,
jenis kelamin dan usia.

E. Pelaksanaan Asuhan Keperawatan


No Tgl/Jam Dx Implementasi Respon Paraf

36
29 I,II,III Mengkaji kondisi umum S: Keluarga pasien
/10/2018 pasien menyatakan badan
15.45 anaknya lemah
O: Pasien berbaring
ditempat tidur
15.50 I,II Memonitor vital sign S: Pasien menangis
kuat
O: TTV :
- N : 104 x/menit
-S : 38,1˚C
- RR: 28 x/menit
15.55 II Memberikan kompres S : Keluarga pasien
hangat menyatakan
bersedia
anaknya untuk
dikompres
O : Dilakukan
kompres hangat
pada kepala dan
ketiak pasien
16.00 I Mengobservasi tanda – S: Keluarga pasien
tanda syok menyatakan
bersedia
O:Pasien tampak lemas
tidak ada tanda syok
TTV :
- N : 104 x/menit
-S : 38,1˚C
RR: 28 x/menit

16.45 II Menganjurkan untuk S: Keluarga pasien

37
tidak memakai selimut menyatakan
dan jaket tebal bersedia
. O: Pasien hanya
memakai kaos
singklet
17.00 I Mengkaji keluhan mual, S: Keluarga pasien
muntah atau penurunan menyatakan
nafsu makan aaknya tidak nafsu
makan ingin
muntah
O: Makanan tidak
dihabiskan,
Makanan tersisa
1/3 porsi
17.30 III Memberikan makanan S: Keluarga pasien
porsi kecil tapi sering. menyatakan
bersedia.
O: Pasien disuapin
makanan sedikit-
sedikit biskuit
17.45 I,II - Mengajurkan S: Keluarga pasien
pasien untuk bersedia
minum yang O: Pasien diberikan
banyak minum air putih
- Mengobservasi dan susu botol
balance cairan habis 3 -6
botol/hari
Balance cairan +
119
18.30 III Berkolaborasi dengan tim S: Keluarga pasien
gizi untuk pemberian menyatakan

38
nutrisi dengan diit bubur anaknya mau
halus. makan dengan
paksaan
O: Pasien diberikan
diit bubur halus.
Makanan tersisa
sedikit kurang lebih
5 sendok
19.00 I,II Memonitor vital sign S: Keluarga pasien
bersedia
O:
- N : 104x/menit
-S : 37,6˚C
- RR: 28x/menit
19.30 I,II,III Mengkaji kondisi umum S: Keluarga pasien
pasien menyatakan badan
anaknya lemah
O: Pasien berbaring
ditempat tidur
19.45 I,II Mengajurkan pasien S: Keluarga pasien
untuk minum yang bersedia
banyak O: Pasien diberikan
minum air putih
dan susu
20.30 I,II Berkolaborasi dalam S: Keluarga pasien
pemberian cairan mengatakan
parenteral infuse RL bersedia diganti
mikro 32 tpm infus.
O: Infus RL mikro 32
tpm.
20.40 II Memberikan obat S: Keluarga pasien

39
antipiretik Paracetamol mengatakan
200 mg bersedia minu obat
Injeksi vicilin 500 mg O: Pasien terlihat
meminum obatnya
dan tidak ada
tanda2 alergi obat
20.45 II Menganjurkan untuk S: Keluarga pasien
tidak memakai selimut menyatakan
dan jaket tebal bersedia
O: Pasien hanya
memakai kaos
lengan pendek
21.00 I,II,III Mengkaji kondisi umum S: Keluarga pasien
pasien menyatakan badan
anaknya tidur
O: Pasien terlihat
tidur
30 I,II Berkolaborasi dalam S: Keluarga pasien
/10/2018 pemberian cairan mengatakan
04.15 parenteral infuse RL bersedia diganti
mikro 32 tpm infus.
O: Infus RL mikro 32
tpm.
17.00 III Berkolaborasi dengan tim S : Pasien
gizi untuk pemberian menyatakan mau
nutrisi dengan diit bubur makan
halus. O: Pasien diberikan
diit bubur halus.
Makanan tersisa
sedikit kurang lebih 4
sendok

40
19.00 I,II,III Mengkaji kondisi umum S: Keluarga pasien
pasien menyatakan badan
anaknya lemah
O: Pasien berbaring
ditempat tidur
19.30 II Memberikan obat S: Keluarga pasien
antipiretik Paracetamol mengatakan
200 mg bersedia
meminumkan obat
O: Pasien terlihat
meminum obatnya
19.40 III Menganjurkan keluarga S : Keluarga pasien
untuk memberikan menyatakan
makanan porsi kecil tapi bersedia
sering. O : Pasien terlihat
diberi makan
biskuit sedikit-
sedikit tapi sering
20.00 II - Memonitor vital S: Keluarga pasien
sign menyatakan
- Memonitor hasil bersedia
laborat O: N : 94x/menit
- Memonitor -S : 37,1˚C
balance cairan - RR: 24/menit
- Hasil laborat
(30/10/2018)
- Hb :11.8,Ht : 33.9
- Lekosit : 4.200
- Trombosit :
126.000
- Balance cairan

41
+255

20.10 II Menganjurkan untuk S: Keluarg a Pasien


tidak memakai selimut menyatakan
dan jaket tebal bersedia
O : Pasien memakai
kaos
20.20 II Menganjurkan keluarga S : Keluarga
untuk melakukan menyatakan
kompres hangat bersedia
O: Keluarga
melakukan
kompres hangat
20.30 I,II Berkolaborasi dalam S: Keluarga pasien
pemberian cairan mengatakan
parenteral infuse RL bersedia diganti
mikro 32 tpm infus.
O: Infus RL mikro 32
tpm.
21.00 I,II,III Mengkaji kondisi umum S: Keluarga pasien
pasien menyatakan
anaknya sudah
memulai membaik
O: Pasien terlihat
tidur
31 I,II Memonitor vital sign S: Keluarga pasien
/10/2018 menyatakan
14.00 bersedia
O: TTV :
- N : 82x/menit
-S : 37,3˚C

42
- RR: 22x/menit
15.30 I,II - Menganjurkan S : Keluarga pasien
pasien untuk menyatakan
minum banyak air bersedia
putih O: Pasien terlihat
- Memonitor diberi minum air
balance cairan putih dan susu
Balance cairan
+255
- Hasil laborat
(31/10/2018)
Lekosit: 4.300 ul
Hb : 12,2 g/dl
Ht : 34,0
Trombosit 140
000

16.30 III Berkolaborasi dengan tim Pasien menyatakan


gizi untuk pemberian mau makan
nutrisi dengan diit bubur O: Pasien diberikan
halus. diit bubur halus.
- Makanan tersisa
sedikit kurang
lebih 3 sendok

1. Medical manajemen
a. IVF, O2 Therapi

43
Madical managemen Tanggal therapy

- Infus RL 32 TPM 29 Oktober 2018


BALANCE CAIRAN 29 Oktober 2018 jam 17.45
Intake Output
Minum : 200cc BAK : 50 cc
Makan : 50 cc Bab : -
Infus : 50 cc muntah : 70cc
Oral : 50 cc IWL : 129 cc
AM : 18 cc Total : 249 cc
Total : 368 cc
Balance cairan 368 -249 = +119

30 Oktober 2018 jam 20.00


Intake Output
Minum : 250 Bak : 80 cc
Makan : 60 cc Bab : 30 cc
Infus : 50 cc Muntah : 10 cc
Injeksi : 10 cc IWL : 63 cc
Oral : 50 cc Total : 183 cc
AM : 18 cc
Total : 438 cc
Balance cairan 438 – 183 = +225

31 Oktober 2018 jam 15.30


Minum : 300 cc Bak : 80 cc
Makan : - Bab :-
Infus : 50 cc Muntah : -
Injeksi :- IWL : 63 cc
Oral : 30 cc
AM : 18 cc

44
Total : 398 cc
Balanca Cairan 398 – 143 = +255

Tanggung jawab perawat : (sebelum, selama dan sesudah)


b. Obat-Obatan
Nama Obat Tgl. Therapy
1) Obat Oral : 29 /10/2018
Paracetamol 2 x 200 mg
Colistin 2 x 500 mg
2) Obat Injeksi :
Vicilin 2 x 500 mg
Dexametason 2 x ½ ampul

Tanggungjawab perawat : (sebelum, selama dan sesudah)


c. Diet
Jenis diet Tgl terapi Penjelasan Indikasi & Makanan Respon
umum tujuan spesifik klien
Nasi TIM 29 /10/2018 Memberikan Memenuhi TIM Tidak habis
nasi TIM kebutuhan 1 porsi
nutrisi

d. Aktivitas dan latihan


Jenis aktivitas / Tgl terapi Penjelasan umum Indikasi & Respon
latihan tujuan klien
- - - - -

F. Evaluasi

45
No Tgl/jam DX Perkembangan Paraf
Kep.
1 31 /10/2018 1 S: Keluarga pasien mengatakan sudah tidak muntah
18.00 WIB O: Mukosa bibir lembab
TTV : - N : 98 x/menit
- S : 37,3˚C
- RR: 26x/menit
Turgor kulit elastis
Laboratorium (31 /10/2018)
Hb : 12,2 g/dl
Ht : 34,0 %
Lekosit: 4.300 ul
Trombosit: 140.000 ul
Balance cairan +121
A: Masalah teratasi
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kaji kondisi umum pasien
2. Monitor vital sign
3. Anjurkan pasien untuk banyak minum
4. Pertahankan maintenen cairan sesuai advis
dokter
2 31 /10/2018 2 S : Keluarga pasien menyatakan badan anaknya
18.00 WIB masih terasa hangat
O : - Pasien masih terlihat lemas
- Pasien sudah tidak muntah
TTV :
- N : 98x/menit
- S : 37,3˚C
- RR: 26x/menit
Laboratorium (31/10/2018)
Lekosit: 4.300 ul

46
Hb : 12,2 g/dl
Ht : 34,0
Trombosit : 140.000
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
1. Kaji kondisi umum pasien.
2. Monitor vital sign
3. Berikan kompres hangat
4. Anjurkan untuk banyak minum air putih
5. Anjurkan untuk tidak memakai selimut dan
jaket tebal
6. Berikan terapi cairan intravena dan obat
sesuai program dokter
7. Kolaborasi pemberian antipiretik
3 31 /10/2018 3 S : Keluarga pasien mengatakan pasien mau makan
18.00 WIB walaupun tidak dihabiskan
O : Mukosa lembab, pasien lemas
o Pasien terlihat makan sedikit tapi sering
o Pasien lemah
o Sisa makan 3 sendok makan
o Diit : Pasien diberikan diit TIM habis 1/3
porsi
o Minum susu habis 3 – 7 botol /hari
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
1. Berikan makanan yang mudah ditelan mudah
cerna.
2. Berikan makanan porsi kecil tapi sering.
3. Beri makanan kesukaan klien.
4. Kolaborasi dengan tim gizi untuk pemberian
nutrisi dengan diet TIM halus dan

47
dihidangkan saat masih hangat
5. Kolaborasi dengan tim medis dalam
pemberian obat sesuai indikasi
6. Kolaborasi pemberian cairan parenteral

BAB IV
PENUTUP

48
A. Kesimpulan

1. Pengkajian pada An.NG 29 Oktober 2018 didapatkan mukosa bibir

kering, turgor kulit sedang, pasien terlihat lemah, pasien muntah 4 kali,

dehidrasi sedang, CRT 3 detik, RR: 32 X/menit, N:102x/menit dan

S:38,8˚c

2. Diagnosa yang dapatkan yaitu kekurangan volume cairan dalam tubuh

berhubungan dengan muntah yang berlebihan, hipertermi berhubungan

dengan adanya viremia, kurang nutrisi dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan mual muntah, anoreksia, disfagia.

3. Diagnosa yang didapat di atas dilaksanakan pembuatan intervensi sesuai

NIC NOC dengan implementasi keperawatan yang mengacu pada

intervensi oleh penulis

4. Evaluasi diagnosa pertama masalah belum teratasi dan planingnya

lanjutkan intervensi. Evaluasi diagnosa kedua masalah belum teratasi dan

planingnya lanjutkan intervensi. Evaluasi diagnosa ketiga masalah belum

teratasi dan planingnya lanjutkan intervensi.

B. Saran

1. Bagi Penulis

Manfaat bagi penulis yaitu selain sebagai pemenuhan syarat

tugas profesi ners stase anak, makalah ini juga sebagai pengalaman yang

realita serta sebagai motivasi dalam melaksanakan asuhan keperawatan

pada anak dengan DHF.

2. Bagi Instansi Rumah Sakit

49
Mampu meningkatkan pelayanan kesehatan yang memadai guna

terpenuhinya perawatan dan tindakan yang sesuai dengan prosedur

keperawatan khususnya pada anak dengan DHF.

3. Bagi Profesi Keperawatan

Mampu meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang

diberikan pada anak dengan DHF dan perawat harus memprioritaskan

bagi anak yang membutuhkan penanganan segera sehingga anak

mendapatkan perawatan yang optimal untuk meningkatkan kesembuhan

anak.

50
DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat A. Aziz. (2008). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta


Salemba medika
Golberg Theo David. (2009). The Threat Of Race. Jakarta : Wiley
Mansjoer, Arif. (2014). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : Media
Aesculapius
Ngastiyah. (2009). Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta : EGC
Price, A. Silvia. (2009). Patofisiologi. EGC : Jakarta.
Sodikin. (2012). Prinsip Keperawatan Demam Pada Anak. Yokyakarta : Pustaka
belajar
Sudoyo W. Aru. (2014). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 4 Jilid 3. Jakarta :
FKUI

51