Anda di halaman 1dari 28

BADAN LEGISLATIF

2.1. Pengertian Badan Legislatif

Lembaga legislatif adalah sebuah lembaga yang mewakili seluruh rakyat dalam
menyusun undang-undang serta ikut mengawasi atas implementasi undang-undang yang ada
oleh badan eksekutif yang mana setiap anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

Lembaga legislatif dikenal dengan sebutan berbagai macam nama seperti parlemen,
kongres atau asembli nasional.

2.2. Struktur Badan Legislatif

Lembaga legislatif di Indonesia mempunyai struktur yang di dalamnya terdiri dari


Majelis Permusyawaratan Rakyat, kemudian Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat I dan
Tingkat II, lalu Dewan Perwakilan Rakyat, dan yang terakhir adalah Dewan Perwakilan
Daerah.

Negara Indonesia merupakan penganut demokrasi sehingga pemerintah menerapkan Trias


Politika dan presidensial merupakan sistem pemerintahan Indonesia. Trias Politika sendiri di
dalamnya mengatur pembagian kekuasaan pemerintah melalui 3 lembaga yang berdiri sejajar,
salah satunya adalah lembaga legislatif yang tugasnya adalah membuat undang-undang.

Berikut adalah penjelasan beberapa struktur yang terdapat dalam lembaga legislatif :

- Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

Saat undang-undang 1945 belum diamandemen, Majelis Permusyawaratan Rakyat


merupakan lembaga tertinggi yang ada di Indonesia. Tapi setelah undang-undang
diamandemen, Majelis Permusyawaran Rakyat bukan merupakan lembaga tertinggi di
Indonesia lagi karena kedudukan tersebut telah dihapuskan dan yang ada hanyalah
kedudukan sebagai lembaga negara Indonesia. Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri dari
anggota DPR dan DPD yang telah terpilih pada saat pemilu dan akan menempati jabatan
tersebut dalam jangka waktu 5 tahun.

Dalam menjalankan tugas sebagai salah satu struktur lembaga legislatif yang ada di Indonesia
tentunya Majelis Permusyawaratan Rakyat mempunyai beberapa tugas yang harus dilakukan,
yaitu :

• Mengubah dan menetapkan undang-undang dasar

• Melantik presiden serta wakil presiden


• Memberhentikan presiden serta wakil presiden mengikuti peraturan masa jabatan
yang telah diatur dalam undang-undang dasar.

- Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)

Dewan Perwakilan Rakyat mempunyai kedudukan di tingkat pusat, untuk Dewan Perwakilan
Rakyat yang berada di tingkat provinsi maka akan disebut dengan DPRD Provinsi sedangkan
yang letaknya di tingkat Kabupaten sudah tentu akan disebut DPRD Kabupaten. Sesuai
dengan Undang Undang Pemilu NO 10 Tahun 2008 sudah ditetapkan bahwa anggota DPR
berjumlah 560 orang. Kemudian jumlah anggota DPRD Provinsi minimal sebanyak 35 orang
dan maksimal 100 orang, sedangkan DPRD Kabupaten minimal harus mempunyai anggota
sebanyak 20 orang dan maksimal sebanyak 50 orang.

Dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat menjalankan fungsinya sebagai salah satu struktur
lembaga legislatif dengan menjalankan tugas DPR sebagai berikut :

• Meminta keterangan kepada pemerintah terkait mengenai kebijakan pemerintah yang


penting dan akan mempunyai dampak yang sangat besar bagi seluruh masyarakat Indonesia

• Melakukan penyelidikan akan suatu kebijakan pemerintah yang dicurigai


bertentangan dengan undang-undang

• Memberi pendapat mengenai kebijakan dalam negeri yang menimbulkan kejadian


luar biasa dan ikut menyumbang solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Selain menjalankan tugasnya, sebagai salah satu lembaga legislatif mereka pun mempunyai
hak-hak DPR dan kewajibannya.

- Dewan Perwakilan Daerah (DPD)

Dewan Perwakilan Daerah merupakan salah satu struktur lembaga legislatif di Indonesia
yang terdiri dari wakil-wakil dari provinsi yang telah dipilih saat Pemilihan Umum.
Banyaknya anggota DPD adalah 1/3 dari jumlah anggota DPR, dan keanggotaaan DPD akan
diresmikan oleh presiden.

Tugas DPD telah diatur dalam UUD 1945 pasal 22 D yang mempunyai kaitan dengan hal-hal
otonomi daerah, hubungan daerah tersebut dengan pusat, Sumber Daya Alam yang ada di
daerah tersebut serta Sumber Daya Ekonomi. Hal tersebut diwujudkan dengan kegiatan
sebagai berikut :

• Ikut serta dalam merancang Undang-Undang yang mempunyai kaitan dengan


otonomi daerah, hubungan daerah dengan pusat, dsb.

• Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang yang berkaitan dengan


otonomi daerah.

- Anggota Lembaga Legislatif


Untuk menjadi anggota legislatif, seseorang harus melalui tahapan menjadi calon legislatif
terlebih dahulu yang mana nanti apakah dia akan benar atau tidaknya menjadi anggota
legislatif ditentukan oleh pemilihan umum. Banyaknya anggota legislatif di negara Indonesia
yang sudah tersandung dengan masalah korupsi membuat masyarakat semakin berhati-hati
dalam memilih saat pemilihan umum karena mereka tidak dapat menjalankan fungsi negara
secara utuh.

Tentunya masyarakat Indonesia berharap di pemilu mendatang calon legislatif yang ada
bukan hanya bermodalkan uang kampanye besar-besaran sehingga dapat membeli hak pilih
seseorang melainkan memiliki kesungguhan untuk menjadi anggota dewan sehingga bisa
menepati janji atau amanah yang telah diberikan masyarakat kepadanya. Selain itu diperlukan
juga seseorang yang mempunyai visi dan misi yang sejalan dengan masyarakat, yaitu
memajukan negara kita dengan mensejahterakan masyarakat.

2.3. Fungsi Badan Legislatif

- Menentukan kebijakan (policy) dan membuat undang-undang. Untuk itu badan


legislatif diberi hak inisiatif, hak untuk mengadakan amandemen terhadap rancangan undang-
undang yang disusun oleh pemerintah dan terutama di bidang budget atau anggaran.

- Mengontrol badan eksekutif, dalam arti menjaga agar semua tindakan badan eksekutif
sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan. Untuk menyelenggarakan tugas ini,
badan eksekutif perwakilan rakyat diberi hak-hak kontrol khusus, seperti hak bertanya,
interpelasi dsb.

2.4 Hak Badan Legislatif

1. Anggota badan legislatif berhak untuk mengajukan pertanyaan kepada pemerintah


mengenai sesuatu masalah dan mengorek informasi mengenai kebijakan pemerintah.
Kegiatan ini banyak menarik perhatian media massa.

2. Interpelasi, yaitu hak untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai


kebijakan di suatu bidang. Badan eksekutif wajib memberi penjelasan dalam sidang pleno,
yang mana dibahas oleh anggota-anggota dan diakhiri dengan pemungutan suara mengenai
apakah keterangan pemeritah memuaskan atau tidak. Dalam hal terjadi perselisihan antara
badan legislatif dan badan eksekutif, interpelasi dapat dijadikan batu loncatan untuk diajukan
mosi tidak percaya.
3. Angket (Enquete), adalah hak anggota badan legislatif untuk mengadakan penyelidikan
sendiri.

4. Mosi, merupakan hak kontrol yang paling ampuh. Jika badan legislatif menerima suatu
mosi tidak percaya, maka dalam sistem parlementar kebinet harus mengundurkan diri dan
terjadi suatu krisis kabinet. Pada masa reformasi, anggota DPR (1994-2004) menggunakan
hak mosi ketika melakukan pemakzulan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai presiden
tahun 2001.

BAB III

KESIMPULAN

Lembaga legislatif adalah sebuah lembaga yang mewakili seluruh rakyat dalam menyusun
undang-undang serta ikut mengawasi atas implementasi undang-undang yang ada oleh badan
eksekutif yang mana setiap anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.

Lembaga legislatif di Indonesia mempunyai struktur yang di dalamnya terdiri dari


Majelis Permusyawaratan Rakyat, kemudian Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat I dan
Tingkat II, lalu Dewan Perwakilan Rakyat, dan yang terakhir adalah Dewan Perwakilan
Daerah.

Negara Indonesia merupakan penganut demokrasi sehingga pemerintah menerapkan Trias


Politika dan presidensial merupakan sistem pemerintahan Indonesia. Trias Politika sendiri di
dalamnya mengatur pembagian kekuasaan pemerintah melalui 3 lembaga yang berdiri sejajar,
salah satunya adalah lembaga legislatif yang tugasnya adalah membuat undang-undang.
Badan legislatif di Indonesia atau representatives bodies adalah struktur politik yang
mewakili rakyat Indonesia dalam menyusun undang-undang serta melakukan pengawasan
atas implementasi undang-undang oleh badan eksekutif di mana para anggotanya dipilih
melalui Pemilihan Umum. Struktur-struktur politik yang termasuk ke dalam kategori ini
adalah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat Tingkat I dan
Tingkat II, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Dewan Perwakilan Daerah. Selain badan
legislatif, di Indonesia juga terdapat dua badan trias politika lainnya yaitu badan eksekutif
dan badan yudikatif.

Lembaga Legislatif di Indonesia ini meliputi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR
merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. Anggota
DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil pemilu.
DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut
DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota.

Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di ibu
kota negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota
DPR yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung
dalam sidang paripurna DPR.

Jumlah Anggota DPR/DPRD Berdasarkan UU Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai
berikut:

jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;

jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak- banyak 100
orang;

jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak- banyaknya 50


orang.

Fungsi Lembaga DPR

Lembaga negara DPR yang bertindak sebagai lembaga legislatif mempunyai fungsi berikut
ini :

Fungsi legislasi, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang.

Fungsi anggaran, artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk menetapkan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fungsi pengawasan, artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan terhadap
pemerintahan yang menjalankan undang-undang.

Hak-Hak DPR

DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut.

Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai
kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas bagi kehidupan
masyarakat.

Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu kebijakan tertentu
pemerintah yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.

Hak menyatakan pendapat adalah hak DR untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan
pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di dalam negeri disertai dengan
rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut pelaksanaan hak interpelasi dan hak
angket. Untuk memudahkan tugas anggota DPR maka dibentuk komisi-komisi yang bekerja
sama dengan pemerintah sebagai mitra kerja.

Dewan Perwakilan Daerah

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) merupakan lembaga perwakilan daerah yang


berkedudukan sebagai lembaga negara. DPD terdiri atas wakil-wakil dari provinsi yang
dipilih melalui pemilihan umum. Jumlah anggota DPD dari setiap provinsi tidak sama, tetapi
ditetapkan sebanyak-banyaknya empat orang. Jumlah seluruh anggota DPD tidak lebih dari
1/3 jumlah anggota DPR. Masa jabatan anggota DPD adalah lima tahun.

Tugas dan Wewenang DPD

Berdasarkan Pasal 22 D UUD 1945 kewenangan DPD sebagai berikut.

Dapat mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR yang berkaitan dengan otonomi
daerah, hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan
keuangan pusat dan daerah.

Ikut merancang undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat
dengan daerah, pembentukan dan pemekaran, serta penggabungan daerah, pengelolaan
sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan pusat dan
daerah.

Memberi pertimbangan kepada DPR yang berkaitan dengan rancangan undang-undang,


RAPBN, pajak, pendidikan, dan agama.

Melakukan pengawasan yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang otonomi daerah,


hubungan pusat dengan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, perimbangan keuangan
pusat dengan daerah, pajak, pendidikan, dan agama.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

Lembaga MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD yang dipilih melalui pemilihan
umum untuk masa jabatan selama lima tahun dan berakhir bersamaan pada saat anggota MPR
yang baru mengucapkan sumpah/janji yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam
sidang paripurna MPR. Sebelum UUD 1945 diamandemen, MPR berkedudukan sebagai
lembaga tertinggi negara. Namun, setelah UUD 1945 istilah lembaga tertinggi negara tidak
ada yang ada hanya lembaga negara.

Tugas dan Wewenang MPR

Berdasarkan Pasal 3 Ayat 1 UUD 1945 , MPR mempunyai tugas dan wewenang sebagai
berikut :

Mengubah dan menetapkan undang-undang dasar;

Melantik presiden dan wakil presiden;

Memberhentikan presiden dan wakil presiden dalam masa jabatannya menurut undang-
undang dasar.

Anggota MPR mempunyai hak berikut ini dalam menjalankan tugasnya:

Mengajukan usul perubahan pasal-pasal undang-undang dasar;

Menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan;

Memilih dan dipilih;

Membela diri;

Imunitas;

Protokoler;

Keuangan dan administratif.

Tugas dan Fungsi Lembaga Eksekutif


Lembaga Eksekutif di Indonesia meliputi presiden dan wakil presiden beserta menteri-
menteri yang membantunya. Presiden adalah lembaga negara yang memegang kekuasaan
eksekutif yaitu mempunyai kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan. Di Indonesia,
Presiden mempunyai kedudukan sebagai kepala pemerintahan dan sekaligus sebagai kepala
negara. Presiden dan wakil presiden memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya
dapat dipilih kembali hanya untuk satu kali masa jabatan. Presiden dan wakil presiden
sebelum menjalankan tugasnya bersumpah atau mengucapkan janji dan dilantik oleh ketua
MPR dalam sidang MPR. Setelah dilantik, presiden dan wakil presiden menjalankan
pemerintahan sesuai dengan program yang telah ditetapkan sendiri. Dalam menjalankan
pemerintahan, presiden dan wakil presiden tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945.
Presiden dan wakil presiden menjalankan pemerintahan sesuai dengan tujuan negara yang
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

Tugas dan Wewenang Presiden

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Presiden


sebagai kepala negara mempunyai wewenang sebagai berikut:

Membuat perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat.

Mengangkat duta dan konsul. Duta adalah perwakilan negara indonesia di negara sahabat.
Duta bertugas di kedutaan besar yang ditempatkan di ibu kota negara sahabat itu. Sedangkan
konsul adalah lembaga yang mewakili negara Indonesia di kota tertentu di bawah kedutaan
besar kita.

Menerima duta dari negara lain

Memberi gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan lainnya kepada warga negara indonesia atau
warga negara asing yang telah berjasa mengharumkan nama baik Indonesia.

Sebagai seorang kepala pemerintahan, presiden mempunyai kekuasaan tertinggi untuk


menyelenggarakan pemerintahan negara Indonesia.

Wewenang, hak dan kewajiban Presiden sebagai kepala pemerintahan, diantaranya:

Memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar

Berhak mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) kepada DPR

Menetapkan peraturan pemerintah

Memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala Undang- Undang dan
peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa
Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.
Grasi adalah pengampunan yang diberikan oleh kepala negara kepada orang yang dijatuhi
hukuman. Sedangkan rehabilitasi adalah pemulihan nama baik atau kehormatan seseorang
yang telah dituduh secara tidak sah atau dilanggar kehormatannya.

Memberi amnesti dan abolisi dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Amnesti adalah
pengampunan atau pengurangan hukuman yang diberikan oleh negara kepada tahanan-
tahanan, terutama tahanan politik. Sedangkan abolisi adalah pembatalan tuntutan pidana.

Presiden juga merupakan panglima tertinggi angkatan perang.

Wewenang presiden sebagai panglima tertinggi angkatan perang adalah sebagai berikut:

Menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain dengan
persetujuan DPR

Membuat perjanjian internasional lainnya dengan persetujuan DPR

Menyatakan keadaan bahaya..

Lembaga legislatif adalah lembaga yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan,
peraturan, dan perundang-undangan. Lembaga legislatif terdiri dari Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Dewan Perwakilan
Daerah (DPD). Lembaga tersebut sangat penting dalam menjalani sebuah negara. Berikut
merupakan penjabarannya.

1. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).


MPR merupakan lembaga negara yang memiliki kedudukan sederajat dengan lembaga
negara yang lain. Hal ini berbeda dengan kedudukan MPR sebelum perubahan UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai lembaga negara tertinggi.
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur tentang MPR dalam pasal 2 dan
pasal 3. Dalam pasal 2 (1) dinyatakan anggota MPR terdiri dari DPR dan DPD yang dipilih
melalui pemilihan umum.Masa jabatan anggota MPR adalah 5 tahun. Alat kelengkapan
MPR terdiri atas pimpinan, badan pekerja, dan komisi. Pimpinan MPR terdiri atas 1 orang
ketua dan 3 orang wakil ketua.
Majelis Permusyawaratan Rakyat bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun di ibukota
negara. Sidang MPR terdiri atas sidang umum dan sidang istimewa. Sidang Umum yaitu
rapat paripurna yang pertama kali dalam masa jabatan MPR. Biasanya dalam sidang umum
ini MPR melantik Presiden dan Wakil Presiden terpilih dalam pemilihan umum. Sidang
Istimewa yaitu rapat paripurna yang dilaksanakan diluar sidang umum dan dilaksanakan
kapan saja. Seperti apabila MPR akan memberhantikan Presiden dan/atau Wakil Presiden,
memilih Wakil Presiden yang diusulkan Presiden, dan sebagainya.
Tugas dan wewenang MPR ditegaskan dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun
1945, yaitu :

1. Mengubah dan menetapkan UUD [Pasal 3 ayat (1)].


2. Melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden [Pasal 3 ayat (2)].
3. Memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut
UUD [Pasal 3 ayat (3)].
4. Memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden dalam hal terjadi
kekosongan Wakil Presiden [Pasal 8 ayat (2)].
5. Memilih Presiden dan Wakil Presiden dari dua pasangan calon Presiden dan Wakil
Presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan
calon Presiden dan Wakil Presidennya meraih suara terbanyak pertama dan kedua
dalam pemilihan umum sebelumnya sampai berakhir masa jabatannya, jika Presiden
dan Wakil Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan
kewajibannya dalam masa jabatannya secara bersamaan [Pasal 8 ayat (3)].

2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).


DPR merupakan lembaga tinggi yang ada dalam Negara Indonesia yang memegang
kekuasaan legislatif. Anggota DPR dipilih secara langsunng dengan pemilu oleh rakyat yang
telah tertera dalam UUD 1945 pasal 19 ayat 1, 2, dan 3.
Kedudukan DPR sesuai UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 20 adalah
lembaga negara pembuat undang-undang atau lembaga legislatif. Namun kekuasaan ini
harus dengan persetujuan Presiden. Jumlah anggota DPR sesuai undang-undang sebanyak
560 orang. Masa jabatan anggota DPR selama lima tahun. DPR bersidang sedikitnya sekali
dalam setahun, namun saat ini masa sidang DPR dalam setahun sebanyak empat kali masa
sidang.
Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi sebagaimana diatur dalam Pasal 20A ayat 1
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 , yaitu sebagai berikut.

1. Fungsi Legislasi, ialah menetapkan undang-undang dengan persetujuan Presiden.


2. Fungsi Anggaran, ialah menyusun dan menetapkan APBN melalui undangundang.
3. Fungsi Pengawasan, ialah mengawasi pelaksanaan pemerintahan oleh Presiden.

Sedangkan Pasal 20A ayat 2 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur
hak-hak DPR. Hak DPR ini berfungsi untuk menjalankan fungsi DPR agar lebih efektif, yaitu
sebagai berikut.

1. Hak Interpelasi, ialah hak DPR untuk meminta keterangan kepada Pemerintah dalam
menjalankan pemerintahan.
2. Hak Angket, ialah hak DPR untuk melakukan penyelidikan mengenai kebijakan
pemerintah yang diduga bertentangan dengan hukum.
3. Hak Mengeluarkan Pendapat, ialah hak DPR untuk menyampaikan pendapat atau usul
mengenai kebijakan pemerintah.

Selain itu setiap anggota DPR memiliki hak untuk mengajukan pertanyaan,
menyampaikan pendapat dan usul, dan hak imunitas.

3. Dewan Perwakilan Daerah (DPD).


Dewan Perwakilan Daerah merupakan lembaga negara baru yang dibentuk setelah
perubahan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Lembaga negara ini dibentuk
untuk menampung aspirasi masyarakat di daerah-daerah, karena sebelumnya aspirasi
daerah belum mendapat penyaluran secara baik. Salah satu hasil reformasi sistem
pemerintahan adalah pembentukan lembaga negara yang mampu mewakili aspirasi daerah
secara khusus, di samping lembaga wakil rakyat yang sudah ada sebelumnya.
Anggota DPD dipilih dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. Anggota DPD setiap
provinsi jumlahnya sama, dan jumlah seluruh anggota DPD tidak lebih dari sepertiga jumlah
anggota DPR. Saat ini jumlah anggota DPD setiap provinsi sebanyak empat wakil. Anggota
DPD berdomisili di daerah pemilihannya, dan selama bersidang bertempat tinggal di Ibukota
negara RI (UU No. 22 Tahun 2003).
Tugas dan wewenang DPD ditegaskan dalam Pasal 22D UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, sebagai berikut.

1. Mengajukan kepada DPR rancangan undang-undang berkaitan dengan otonomi daerah,


hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta pengembangan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
2. Membahas rancangan undang-undang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan
pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta pengembangan daerah,
pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta perimbangan
keuangan pusat dan daerah; serta memberikan pertimbangan kepada DPR atas
rancangan undang-undang APBN, pajak, pendidikan, dan agama.
3. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan undang-undang tersebut di atas, serta
menyampaikan hasil pengawasan kepada DPR.
4. Berhak mengajukan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah
dan membahas yang berkaitan dengan daerah. DPD juga berhak memberikan
pertimbangan tentang rancangan undang-undang APBN, pajak, pendidikan dan agama.

Sekian artikel sederhana dari “Blognya Ikhsan” tentang “Tugas Dan Wewenang Lembaga
Legislatif” semoga bermanfaat bagi kita semua. Apabila ada kesalahan kata/tulisan mohon
dimaafkan. Kurang lebihnya kami ucapkan Terima Kasih.
Wassalamualaikum.Wr.Wb.

Menurut kaidah bahasa, badan legislatif adalah badan yang bertugas untuk menyusun
kebijakan untuk dilaksanakan nantinya. Dalam konsep demokrasi, badan legislatif identik
dengan badan perwakilan. Artinya, badan legislatif sebagai badan pengemban kedaulatan
atau badan yang menjalankan kedaulatan yang bertugas untuk membentuk kebijakan yang
mencerminkan dari keinginan mahasiswa. Jadi, kebijakan tersebut nantinya bukanlah dari
suatu pihak atau golongan semata. Untuk itu, badan legislatif mahasiswa haruslah
mencerminkan representasi dari mahasiswa – mahasiswa yang ada. Dalam kenyataannya, kita
sering mendengar adanya Dewan Perwakilan Mahasiswa ( DPM ), Badan Perwakilan
Mahasiswa ( BPM ), Dewan Legislatif Mahasiswa ( DLM ), Dewan Mahasiswa ( DEMA ),
Parlemen Mahasiswa, dan lain – lain.

Istilah – istilah diatas merupakan bentuk dari badan legislatif mahasiswa yang ada di
universitas – universitas di Indonesia. Badan legislatif mahasiswa beranggotakan wakil –
wakil mahasiswa yang dipilih melalui Pemilu atau mekanisme tertentu. Wakil mahasiswa
tersebut haruslah mewakili dari golongan tertentu. Seorang wakil mahasiswa mengemban
amanat untuk menampung dan menyalurkan aspirasi mahasiswa untuk menjadi suatu
kebijakan ( legislator ). Maka dari itu, wakil mahasiswa dituntut untuk dapat sensitif dalam
mendengarkan keluhan mahasiswa serta aktif dalam menuangkan pemikiran untuk menyusun
suatu kebijakan yang akan diberlakukan dalam lingkungan mahasiswa. Dalam praktik sehari
– hari, seorang wakil mahasiswa dituntut untuk mampu turun kebawah untuk menampung
aspirasi mahasiswa sebesar – besarnya dan menuangkannya dalam suatu forum kerja yang
berupa rapat – rapat serta Sidang Umum. Sangat ironis apabila seorang wakil mahasiswa
ketika menjalankan tugasnya bersikap pasif alias diam dan cenderung acuh tak acuh tanpa
memberikan suatu kontribusi yang berarti bagi penyelenggaraan kehidupan kemahasiswaan.
Secara keseluruhan, badan legislatif mahasiswa dituntut harus mampu menuangkan terobosan
– terobosan yang bersifat inovatif dalam hal kebijakan – kebijakan sehingga fungsi legislatif
tersebut benar – benar berjalan secara optimal.

Disamping itu, badan legislatif mahasiswa juga dituntut untuk aktif mengawasi
pelaksanaan dan mengevaluasi dari praktik – praktik penyelenggaraan sistem tersebut.
Praktik – praktik penyelenggaraan dapat berupa kebijakan – kebijakan atau proses yang
terjadi di dalam sistem tersebut. Hal ini bertujuan agar terjadi kontrol dan keseimbangan (
check and balances ) sehingga menghindarkan penumpukan kekuasaan yang berdampak pada
absolutisme. Untuk itu, disinilah dituntut peran serta dari seluruh wakil mahasiswa yang
duduk di badan legislatif mahasiswa untuk menjalankan fungsi dari badan tersebut secara
menyeluruh. HAK & KEWAJIBAN ANGGOTA LEMBAGA LEGISLATIF MAHASISWA
Setiap anggota DPM berkedudukan sebagai wakil mahasiswa dalam lembaga DPM.

Untuk itu, setiap anggota DPM memiliki hak yang terdiri dari :

- Hak Bertanya, ialah hak untuk mempertanyakan suatu kebijakan

- Hak Bicara, ialah hak untuk menyampaikan pendapat

- Hak Suara, ialah hak untuk menetapkan sebuah pilihan - Hak Budget, ialah hak untuk
mengusulkan anggaran

- Hak Inisiatif, ialah hak untuk mengajukan rancangan peraturan kemahasiswaan

Disamping memiliki hak, anggota DPM juga memiliki kewajiban yaitu :

- Menjalankan tugas sebagai wakil mahasiswa

- Menghadiri setiap sidang maupun rapat – rapat yang telah ditetapkan

- Melakukan advokasi kepada mahasiswa yang membutuhkan

- Menyerap aspirasi mahasiswa yang kemudian dibawa ke dalam sidang maupun rapat – rapat
DPM - Menjalankan semua konsekuensi DPM

Setiap manusia merupakan pemimpin bagi dirinya masing-masing. Jiwa


kepemimpinan telah ada sejak manusia dilahirkan dan merupakan bekal yang ada
sejak lahir. Setiap individu hanya perlu mengembngkannya, dan memanfaatkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam lingkup yang lebih luas manusia yang
satu akan memimpin golongan, kelompok, atau bahkan jutaan manusia lainnya
Tugas pemimpin sangat fungsional untuk mengakomodir berjalannya proses
dalam kehidupan berkelompok atau bermasyarakat . Pemimpin adalah panutan
dan teladan bagi anggotanya dimana setiap kata-kata, sikap, dan tindak tanduknya
akan menentukan kebijakan-kebijakan apa yang akan diambil dalam
menyelesaikan semua permasalahan yang ada demi perubahan yang lebih baik.
Dan dengan pemimpin semua proses pemerintahan dapat terpusat atau terkoordinir
dan terevaluasi . Sehingga apa yang telah menjadi visi dan misi dalam suatu
kelompok atau masyarakat tercapai.

Pemerintahan merupakan hal yang terkait dengan pemimpin dan siapa yang
dipimpin. Pemeritahan mengandung makna proses, fungsi, jabatan, dan
kepentingan bersama. Pemerintah adalah salah satu syarat terbentuknya negara
atau kedaulatan disamping adanya masyarakat dan wilayah kekuasaan sesuai apa
yang dimaksud dengan pengakuan de facto. Dalam pemerintah selain fungsi
pemimpin masih ada lagi fungsi-fungsi lain yang akan menjalankan proses
pemerintahan.

Fungsi pemerintahan bagi manusia awam adalah apa yang terjadi dalam suatu
Negara yang merdeka. Pada kenyataannya fungsi-fungsi tersebut telah
terpraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat dalam cakupan
yang lebih kecil dan lebih sederhana tentunya. Dan semua fungsi yang ada
memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan tujuan yang sama sesuai
kesepakatan bersama.

Kesepakatan yang telah disimpulkan dan diputuskan bersama dalam suatu


musyawarah atau diskusi untuk kepentingan bersama. Kesepakatan yang di
dalamnya terdapat fungsi pemimpin, para pengambil keputusan, dan aspirasi
semua anggota masyarakat.

Fungsi-fungsi yang terdapat pemerintahan antara lain adalah eksekutif, legilasi,


anggran dan pengawasan. Fungsi Eksekutif adalah fungsi atau wewenang yang
dimiliki pemimpin sebagai seorang yang memutuskan menerima ataupun menolak
kesepakatan yang ada dengan mempertimbangkan fungsi para pengambil
keputusan. Fungsi Legilasi, Anggaran, dan Pengawasan adalah fungsi atau
wewenang yang ada pada Dewan legislatif atau DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Praktek kepemimpinan ini terjadi di seluruh lapisan masyarakat bahkan salah


satunya di suatu lembaga, instansi, dan salah satunya di perguruan tinggi atau yang
sering dikenal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). BEM suatu badan yang berdiri
tanpa ada kaitan dengan birokrasi kampus. BEM wujud dari pemerintah dalam
lingkup kampus terdiri dari mahasiswa-mahasiswa yang berada di dalamnya. BEM
wadah bagi mahasiswa untuk mengalami kehidupan berpolitik secara langsung
dalam lingkup fakultas maupun kampus. Semua yang dilakukan dalam badan ini
dirancang menyerupai bentuk pemerintahan Negara. Selain BEM terdapat pula
BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) yang merupakan badan mendampingi BEM
dalam hal check and Balances, menampung aspirasi mahasiswa, menyatukan
mahasiswa dalam gerakan mahasiswa aktif.

Dalam perannya BLM hampir menyerupai peran DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
seperti kita ketahui fungsi DPR adalah mentapkan undang-undang, membantu
presiden dalam menetapkan anggaran, dan mengawasi pelaksanaan undang-undang
.

BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) pada setiap perguruan tinggi memiliki sebutan
tersendiri seperti MAM (Majelis Aspirasi Mahasiswa) atau DPM (Dewan
Perwakilan Mahasiswa). Badan ini memiliki tugas dan wewenang serta hak
tersendiri yang berbeda dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) namun
kinerjanya menunjang kinerja BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). BLM (Badan
Legislatif Mahasiswa) telah ada di tingkat fakultas dan fungsinya membantu BLM
(Badan Legislatif Mahasiswa) di tingkat kampus. Tugas dan wewenang BLM ini
diantaranya :

1. Membentuk Undang-undang yang dibahas dengan Presiden Mahasiswa untuk


mendapatkan persetujuan bersama
2. Menampung dan mempertimbangkan segala aspirasi mahasiswa yang disampaikan
kepada DPM
3. Memberikan mandat untuk pelaksaan PEMIRA
4. Mengawasi pelaksanaan hasil-hasil sidang DPM
5. Mengawasi pelaksanaan Program Kerja dan kebijakan Badan Eksekutif Mahasiswa
6. Menyelesaikan masalah yang timbul dalam negara tingkat Universitas
7. Menerima dan membahas usulan RUU yang diajukan DPF yang berkaitan dengan
bidang tertentu dan mengikut sertakannya dalam pembahasan

Pada dasarnya BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) terdiri dari mahasiswa yang
merupakan perwakilan dari setiap partai-partai yang ada dalam kampus. Partai
inilah yang mengusung para calon presiden mahasiswa. Dalam prakteknya tak jauh
beda seperti PEMILU (Pemilihan Umum) yang ada di masyarakat umumnya,
hanya saja para pemilih adalah mahasiswa dan dengan sebutan yang berbeda yaitu
PEMIRA (Pemilihan Raya). Hak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) antara lain:

1. Mempunyai hak angket, budget, inisiatif dan interpelasi


2. Meminta pertanggungjawaban Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa sewaktu-
waktu bila dianggap perlu
3. Menerima, menimbang dan mengesahkan pengajuan pembentukan Badan Otonom
di tingkat universitas
Hak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) ini tentunya merupakan hak yang
digunakan untuk kepentingan mahasiswa. Karena dalam prosesnya banyak hal
maupun penerapan kebijakan yang tak sesuai. Maka dari itu peran BLM (Badan
Legislatif Mahasiswa) sangat penting. Setiap anggota BLM (Badan Legislatif
Mahasiswa) memiliki hak dan kewakiban yang harus mereka laksanakan
diantaranya:

Hak Anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa)

1. Mengajukan usulan Rancangan Undang-undang


2. Mengajukan pertanyaan
3. Menyampaikan usul dan pendapat
4. Memilih dan dipilih; dan
5. Membela diri

Kewajiban Anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa)

1. Mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi


2. Mentaati Undang-undang Dasar Negara (Peraturan Organisasi)
3. Menjaga stabilitas negara dan kerukunan nasional; dan
4. Melaksanakan peranan sebagai wakil mahasiswa

Dalam pelaksanaan tugas BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) juga mengadopsi


teknik-teknik yang ada di lembaga legislatif negara seperti teknik persidangan.
Pembahasannya mencakup pembuatan konstitusi, pengawasan BEM (Badan
Legislatif Mahasiswa), Komisi Pengawasan Kementrian BEM dan pembahasan
lainnya yang berkaitan dengan aspirasi mahasiswa.

FUNGSI, HAK & KEWAJIBAN BLM

FUNGSI BADAN LEGISLATIF MAHASISWA

1. Pengawasan. Mengawasi kinerja dan program kerja Badan Eksekutif Mahasiswa


(BEM)

2. Anggaran. Menentukan rancangan anggaran peraturan serta rancangan keuangan


bersama-sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa

3. Legislasi. Merumuskan, merancang, dan membuat suatu aturan/ atau kebijakan yang
harus dijalankan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa.

4. Aspirasi. Menampung setiap keluhan dan aspirasi anggota (Mahasiswa) untuk


ditindak lanjuti sebagaimana mestinya
HAK BADAN LEGISLATIF MAHASISWA

1. Hak Interpelasi. BLM berhak meminta keterangan atau penjelasan dari BEM
mengenai suatu hal

2. Hak Angket. BLM berhak untuk mengusulkan penyelidikan terhadap suatu


pelaksanaan/ atau kebijakan yang dilaksanakan oleh BEM

3. Hak Mengemukakan Pendapat. BLM berhak untuk mengemukakan pendapat


mengenai suatu hal kepada BEM

4. Hak Imunitas. BLM berhak untuk tidak diganggu gugat oleh siapapun, tidak dapat
diturunkan oleh siapapun dan tidak bertanggungjawab kepada pihak apapun kecuali
anggota

5. Berhak mengadakan Musyawarah Mahasiswa Luar Biasa (Mumaslub) dengan alasan-


alasan tertentu

6. Berhak memberikan sanksi/ atau teguran kepada BEM bilamana melanggar AD ART

7. Berhak mengangkat dan menurunkan ketua BEM apabila ketua BEM melanggar
AD/ART. Penurunan dan pengangkatan dilaksanakan dalam Mumaslub

8. Setiap pengurus BLM berhak untuk memilih dan dipilih kembali setelah jabatannya
berakhir (maksimal 2 periode jabatan)

KEWAJIBAN BADAN LEGILATIF MAHASISWA

1. Mengadakan Musyawarah Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


(MUMAS FISIP) Universitas Siliwangi Tasikmalaya

2. Melaksanakan program kerja BLM sesuai AD/ART

3. Mengawasi pelaksanaan program kerja BEM

4. Mengaudit keuangan BEM

5. Meminta laporan pertanggungjawaban kegiatan yang dilaksanakan BEM

6. Melakukan Rapat Koordinasi (Rakoor) secara berkala dengan BEM

Setiap kita merupakan pemimpin setidaknya bagi diri kita masing-masing. Berangkat dari itu,
kita akan bisa menjadi pemimpin bagi yang lain. Jiwa kepemimpinan telah ada sejak manusia
dilahirkan dan merupakan bekal alami yang ada sejak lahir tergantung bagaimana kita
mengasahnya untuk bisa menjadi lebih baik dari yang lain. Setiap individu hanya perlu
mengembangkannya dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari karena dalam
lingkup yang lebih luas manusia yang satu akan memimpin golongan, kelompok, atau
bahkan jutaan manusia lainnya. Dalam dunia kepemimpinan itu, kita mengenal pemerintahan.
Pemerintahan merupakan hal yang terkait dengan pemimpin dan siapa yang dipimpin.
Pemeritahan mengandung makna perwujudan proses, fungsi, jabatan, dan kepentingan
bersama. Adanya pemerintah dalam suatu pemerintahan adalah salah satu syarat terbentuknya
negara atau kedaulatan disamping adanya masyarakat dan wilayah kekuasaan sesuai apa
yang dimaksud dengan pengakuan de facto. Dalam pemerintahan, selain fungsi pemimpin
masih ada lagi fungsi-fungsi lain yang harus ada agar pemerintahan bisa berjalan dengan
baik.

Praktek pemerintahan dan kepemimpinan terjadi di seluruh lapisan masyarakat


bahkan salah satunya di suatu lembaga, instansi, dan juga di perguruan tinggi. Hal itu
terwujud dalam suatu organisasi mahasiswa dalam naungan students government. Semua
yang dilakukan dalam students government ini dirancang menyerupai bentuk pemerintahan
negara. Pemerintahan mahasiswa itu sendiri terbentuk oleh unsur organisasi mahasiswa
(ormawa) yang berkumpul dan menyelenggarakan fungsinya masing-masing. Organisasi
Mahasiswa di Indonesia dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu organisasi
mahasiswa internal kampus dan eksternal kampus. Organisasi internal kampus seperti Dewan
Perwakilan Mahasiswa (DPM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Himpunan
mahasiwa jurusan (HMJ), serta Para Ketua Tingkat. Kewenangan pengaturan sepenuhnya ada
di tangan pemimpin perguruan tinggi yang dituangkan dalam Statuta (UU No. 12 Tahun
2012). Organisasi internal kampus pada suatu perguruan tinggi dapat bergabung dalam skala
daerah, nasional, dan bahkan internasional. Gabungan organisasi internal-kampus beberapa
perguruan tinggi ini disebut organisasi antar-kampus. Para aktivis organisasi mahasiswa
internal kampus pada umumnya juga berasal dari kader-kader organisasi ekstra kampus
seperti: HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik
Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia) dan PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), Organisasi
Mahasiswa Lokal (Somal), Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos), Ikatan Mahasiswa
Bandung (Imaba), dan Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada) serta ada juga kesatuan
mahasiswa profesi seperti Formapsi, IMAPESI, IMEPI, IMKI (Ikatan Mahasiswa Kedokteran
Indonesia), Mafasri (Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia), IMEI (Ikatan Mahasiswa
Ekonomi Indonesia), IMPsi ((Ikatan Mahasiswa Psikologi Indonesia), dan lain-lain. Saat
pemilu atau biasanya disebut PEMIRA dimana mahasiswa di tuntut untuk memilih Ketua
BEM dan Anggota Dewan perwakilan mahasiswa persaingan kader antar organisasi-
organisasi ekstra-kampus sangat terasa.

Salah satu badan penting yang berperan sangat penting dalam students government ini
adalah Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang merupakan organisasi mahasiswa
independen intra kampus sebagai mitra Badan Eksekutif Mahasiswa dalam hal check and
Balances, menampung aspirasi mahasiswa, menyatukan mahasiswa dalam gerakan
mahasiswa aktif, dan masih banyak lagi tergantung pada kesepakatan yang tertuang di dalam
konstitusi yang di anut oleh masing-masing pemerintahan mahasiswa. Dalam pelaksanaan
tugas pokok, fungsi, dan peran DPM menyerupai peran DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
seperti kita ketahui beberapa fungsi DPR adalah menetapkan undang-undang, membantu
presiden dalam menetapkan anggaran, dan mengawasi pelaksanaan undang-undang.

DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) pada setiap perguruan tinggi memiliki sebutan
tersendiri seperti MAM (Majelis Aspirasi Mahasiswa) atau BPM (Badan Perwakilan
Mahasiswa), atau BLM (Badan Legislatif Mahasiswa), bahkan ada juga yang menyebutnya
senat mahasiswa. Untuk membahas lebih jauh kita akan sedikit melihat sejarah. Bermula dari
adanya dewan mahasiswa. Dewan Mahasiswa baik dalam ranah eksekutif dan legislatif ini
sangat independen dan merupakan kekuatan yang cukup diperhitungkan sejak Indonesia
merdeka hingga masa Orde Baru berkuasa. Ketua dewan mahasiswa selalu menjadi kader
pemimpin nasional yang diperhitungkan. Dewan mahasiswa berfungsi sebagai eksekutif
dan senat mahasiswa. Masa dewan mahasiswa dan juga majelis mahasiswa di Indonesia
berakhir pada tahun 1978-an ketika pemerintah memberangus aksi kritis para mahasiswa dan
dewan mahasiswa dibekukan. Kegiatan politik di dalam kampus juga secara resmi dilarang.
Kebijakan itu dikenal dengan nama kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan
pengganti lembaga tersebut adalah badan koordinasi kemahasiswaan (BKK). Senat
mahasiswa adalah organisasi mahasiswa yang dibentuk pada saat pemberlakuan kebijakan
NKK/BKK pada tahun 1978. Sejak 1978-1989, senat mahasiswa hanya ada di tingkat
fakultas, sedangkan di tingkat universitas ditiadakan. Di tingkat jurusan keilmuan
dibentuk keluarga mahasiswa jurusan atau himpunan mahasiswa jurusan yang berkoordinasi
dengan senat mahasiswa dalam melakukan kegiatan intern. Pada umumnya senat mahasiswa
dimaksudkan sebagai lembaga eksekutif, sedangkan fungsi legislatifnya dijalankan organ lain
bernama badan perwakilan mahasiswa (BPM).

Pada tahun 1990, pemerintah memperbolehkan dibentuknya senat mahasiswa tingkat


perguruan tinggi namun model student government ala dewan mahasiswa tidak
diperbolehkan. Senat mahasiswa yang dimaksudkan adalah kumpulan para ketua organisasi
mahasiswa intrakampus yang ada: ketua umum senat mahasiswa fakultas, ketua umum BPM,
dan ketua umum unit kegiatan mahasiswa. Model seperti ini di beberapa perguruan tinggi
kemudian ditolak, dan dipelopori oleh UGM, senat mahasiswa memakai model student
government. Senat mahasiswa kemudian menjelma menjadi lembaga legislatif, termasuk di
tingkat fakultas. Lembaga eksekutifnya adalah badan pelaksana senat mahasiswa.
Belakangan nama badan pelaksana diganti dengan istilah yang lebih praktis, badan eksekutif
mahasiswa (BEM). Awalnya BEM dipilih, dibentuk, dan bertanggung jawab kepada sidang
umum senat mahasiswa namun sekarang pengurus kedua lembaga sama-sama dipilih
langsung dalam suatu pemilihan umum di tingkat kampus.

Badan perwakilan mahasiswa (BPM) adalah organisasi mahasiswa yang dibentuk


pada saat pemberlakuan kebijakan NKK/BKK pada tahun 1978. Sejak 1978-1989, badan
perwakilan mahasiswa hanya ada di tingkat fakultas bersama-sama dengan senat mahasiswa.
Ada kerancuan istilah BPM dengan senat mahasiswa karena sama-sama berarti wakil. Hanya
saja menurut aturan main, BPM dianggap berfungsi sebagai badan legislatif sedangkan senat
mahasiswa menjalani fungsi eksekutif.
Akhirnya, karena ketidakjelasan fungsi BPM pada era senat mahasiswa perguruan tinggi,
BPM digantikan senat mahasiswa. BPM sendiri dihapuskan. Senat mahasiswa yang tadinya
badan eksekutif berubah menjadi badan legislatif. Sedangkan badan eksekutifnya dibentuk
badan pelaksana senat mahasiswa, yang lantas diubah lagi menjadi badan eksekutif
mahasiswa atau BEM. Istilah ini bertahan hingga saat ini. [1]

Tugas dan wewenang secara umum dari Badan Legislatif Mahasiswa ini diantaranya :

1. Membentuk Undang-undang yang dibahas dengan Presiden Mahasiswa untuk


mendapatkan persetujuan bersama

2. Menampung dan mempertimbangkan segala aspirasi mahasiswa yang disampaikan


kepada DPM

3. Memberikan mandat untuk pelaksaan PEMIRA

4. Mengawasi pelaksanaan hasil-hasil sidang DPM

5. Mengawasi pelaksanaan Program Kerja dan kebijakan Badan Eksekutif Mahasiswa

6. Menyelesaikan masalah yang timbul dalam negara tingkat Universitas

7. Menerima dan membahas usulan RUU yang diajukan DPF yang berkaitan dengan
bidang tertentu dan mengikut sertakannya dalam pembahasan

Pada dasarnya BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) terdiri dari mahasiswa yang merupakan
perwakilan dari setiap partai-partai yang ada dalam kampus maupun dari pribadi yang maju
mengatasnamakan jurusan atau fakultas. Dalam prakteknya tak jauh beda seperti PEMILU
(Pemilihan Umum) yang ada di masyarakat umumnya, hanya saja para pemilih adalah
mahasiswa dan dengan sebutan yang berbeda yaitu PEMIRA (Pemilihan Raya).

Hak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) antara lain:

1. Mempunyai hak angket, budget, inisiatif dan interpelasi

2. Meminta pertanggungjawaban Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa sewaktu-waktu


bila dianggap perlu

3. Menerima, menimbang dan mengesahkan pengajuan pembentukan Badan Otonom di


tingkat universitas

Hak BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) ini tentunya merupakan hak yang digunakan untuk
kepentingan mahasiswa. Karena dalam prosesnya banyak hal maupun penerapan kebijakan
yang tak sesuai. Maka dari itu peran BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) sangat penting.
Setiap anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa) memiliki hak dan kewakiban yang harus
mereka laksanakan diantaranya:

Hak Anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa)

1. Mengajukan usulan Rancangan Undang-undang


2. Mengajukan pertanyaan

3. Menyampaikan usul dan pendapat

4. Memilih dan dipilih; dan

5. Membela diri

Kewajiban Anggota BLM (Badan Legislatif Mahasiswa)

1. Mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi

2. Mentaati Undang-undang Dasar Negara (Peraturan Organisasi)

3. Menjaga stabilitas negara dan kerukunan nasional; dan

4. Melaksanakan peranan sebagai wakil mahasiswa

Seperti yang sudah disebutkan di atas, organisasi internal kampus pada suatu
perguruan tinggi dapat bergabung dalam skala daerah, nasional, dan bahkan internasional.
Gabungan organisasi internal-kampus beberapa perguruan tinggi ini disebut organisasi antar-
kampus. Dewan Perwakilan Mahasiswa memiliki forum di tingkat nasional dengan nama
FL2MI (Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia), di tingkat regional akan
terakumulasi kedalam regional masing-masing seperti jabagteng, sumbagsel, dan sebagainya
berdasarkan pembagian wilayah. Pada tingkat fakultas biasanya akan ternaungi dalam suatu
forum legislatif yang dibentuk secara bersama-sama sebagai wadah musyawarah antar
lembaga legislatif.

Lembaga mahasiswa berlabel legislatif mahasiswa di kampus manapun terkesan


minim fungsi. Bahkan cenderung hanya dijadikan formalitas pelengkap keberadaan lembaga
kemahasiswaan. Nama lembaga legislatif mahasiswa memang cenderung tenggelam
oleh glamour lembaga eksekutif mahasiswa. Sangat dimaklumi mengingat peran-peran
eksekutif mahasiswa terkesan lebih menyentuh langsung kepada mahasiswa, sedangkan peran
legislatif mahasiswa terkesan menjalankan peran legislasif yang berkutat hanya pada
pembuatan regulasi. Lebih memprihatinkan lagi, ada kesan bahwa fungsi lembaga legislatif
mahasiswa hanya berperan temporal ketika membuat regulasi ketika Ospek, Pemilu
Mahasiswa, dan kongres mahasiswa di akhir kepengurusan eksekutif mahasiswa. Hal tersebut
ternyata tidak hanya menjangkit di tataran kampus, namun juga terakumulasi secara nasional
bahwa lembaga legislatif mahasiswa terkesan miskin fungsi dan tak terdengar kiprah serta
gaungnya dibandingkan dengan lembaga eksekutif mahasiswa di tataran nasional seperti
BEM se Indonesia (BEM SI) maupun BEM Nusantara sebagai forum perkumpulan lembaga-
lembaga eksekutif nasional baik dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. [2]

Untuk mengkaji masalah tersebut perlu sering diadakan diskusi antar lembaga
legislatif secara intensif demi tata kelola lembaga yang sehat di dalam tubuh internal lembaga
legislatif itu sendiri. Termasuk pembahasan mengenai peran serta yang mungkin bisa
diperluas ke dalam bidang kajian yang lebih bisa menyentuh ke mahasiswa sebagai pihak
yang terwakili secara langsung. Hal ini nantinya akan berpengaruh juga dengan pengkaderan
demi tumbuhnya legislator muda pembaharu yang mempunyai pandangan konservatif
terhadap lembaga perwakilan kampus.

Dalam pemerintahan negara, pengkaderan tokoh-tokoh yang akan masuk ke dalam


struktur pemerintahan utamanya di pegang oleh partai politik untuk selanjutnya bersaing
dalam pemilihan umum legislatif maupun eksekutif. Pengkaderan legislatif di kampus bisa
berangkat dari partai kampus (parkam) maupun secara pribadi, kebanyakan kampus yang
tidak menganut sistem kepartaian menyerahkan pengkaderan kepada pencerdasan politik
kemahasiswaan dalam forum-forum pelatihan kepemimpinan baik legislatif maupun
eksekutif.

Seiring dengan makin dikenalnya istilah student governence di lingkungan kampus,

tentunya akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang apa sebenarnya

student governance atau yang kita artikan sebagai pemerintahan mahasiswa. Disamping itu,

pengkajian terhadap setiap tugas, peran dan fungsi dari tiap-tiap lembaga tersebut wajib kita

ilhami dengan baik, sehingga sistem baku yang telah dibentuk dalam lingkungan kampus ini

dapat berjalan secara dinamis dan sinergis dalam mewujudkan pemerintahan mahasiswa.

Layaknya sebuah pemerintahan negara, “organisasi kemahasiswaan di perguruan tinggi

diselenggarakan berdasarkan prinsip dari, oleh dan untuk mahasiswa”. Berangkat dari

landasan tersebut, tentunya dapat kita simpulkan bahwa prinsip “dari mahasiswa, oleh

mahasiswa, dan untuk mahasiswa” merupakan prinsip dasar dalam kehidupan mahasiswa.

Untuk itu diperlukan suatu tatanan sistem organisasi mahasiswa untuk menjalankan prinsip-

prinsip tersebut.

Sistem student governence merupakan suatu sistem yang mengibaratkan kampus

menjadi suatu negara dimana didalamnya terdapat perangkat perangkat kenegaraan.


Berlandaskan dari prisip dasar tersebut, maka perangkat-perangkat yang ada ditujukan untuk

menjamin dan melaksanakan implementasi dalam kehidupan mahasiswa. Dalam hal ini,

prinsip tersebut harus dikukuhkan oleh mahasiswa melalui suatu prosesi tertentu. Dimana

didalamnya meliputi keterlibatan mahasiswa dalam menata sistem, partisipasi mahasiswa

dalam perangkat sistem, serta adanya pengakuan bahwa kedaulatan berada ditangan

mahasiswa.

Seperti halnya sistem politik pada umumnya, selain dengan adanya lembaga eksekutif,

suatu pemerintahan pun juga membutuhkan peran lembaga legislatif untuk menjamin

kedinamisan suatu sistem. Dimana di dalam dunia kampus, lembaga eksekutif tertinggi

tersebut dipegang Badan Eksekutif Mahasiswa dan lembaga legislatif dipegang oleh Dewan

Mahasiswa.

Secara garis besar, lembaga eksekufif merupakan lembaga yang berfungsi untuk

menjalanankan suatu kebijakan atau lebih dikenal dengan eksekutor, sementara lembaga

legislatif lebih dikhususkan untuk melakukan pengawasan dan pembuat kebijakan atau

Undang-undang yang lebih dikenal dengan legislator.

Sebagaimana dengan DEMA UNS yang memiliki fungsi sebagai lembaga legislatif

tertinggi di tataran universitas. Lembaga ini merupakan perwakilan mahasiswa yang

berkedudukan sebagai lembaga tinggi Universitas yang mempunyai fungsi legislasi,

anggaran, pengawasan, penilaian, aspirasi dan advokasi.

Tidak jauh berbeda dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Mahasiswa pun juga

menduduki posisi yang sama dalam teori Trias Politika yaitu badan Legislatif. Keduanya

memiliki fungsi yang sama namun dalam ranah yang berbeda. DPR mencakup seluruh

Indonesia sedangkan DEMA mencakup satu universitas. Jika Dewan Perwakilan Rakyat di
Indonesia menduduki 3 fungsi penting, yakni fungsi legislasi yang berarti fungsi untuk

membuat undang – undang, fungsi pengawasan yang berarti memiliki fungsi untuk

mengawasi pemerintahan dalam hal ini eksekutif, dan fungsi anggaran yang memiliki fungsi

menyusun RAPBN, maka Badan Legislatif Mahasiswa atau Dewan Mahasiswa juga memiliki

3 fungsi utama. Fungsi tersebut adalah fungsi legislasi dalam membuat perundang-undangan,

fungsi pengawasan terhadap ormawa khususnya Badan Eksekutif Mahasiswa dan Badan

Semi Otonomnya, serta fungsi aspirasi yang berfungsi menyalurkan aspirasi mahasiswa

kepada yang berwenang.

Badan Legislatif Mahasiswa atau Lembaga Legislatif Mahasiswa berperan penting

dalam politik yang terjadi di universitas. Badan tersebut mempunyai tugas dan wewenang

seperti membentuk undang–undang yang dibahas dengan Presiden Mahasiswa untuk

mendapatkan persetujuan bersama, menampung dan mempertimbangkan segala aspirasi

mahasiswa, memberikan mandat untuk pelaksanaan PEMIRA, mengawasi pelaksanaan

program kerja dan kebijakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), menyelesaikan masalah

yang timbul dalam tingkat Universitas, menerima dan membahas usulan RUU, dan lain

sebagainya.

Disamping itu Badan Legislatif Mahasiswa juga memiliki hak seperti hak angket,

budget, inisiatif dan interpelasi, meminta pertanggungjawaban Presiden Badan Eksekutif

Mahasiswa sewaktu-waktu bila dianggap perlu, kemudian menerima, menimbang dan

mengesahkan pengajuan pembentukan Badan Otonom di tingkat universitas. Anggota–nggota

dari Badan Legislatiif Mahasiswa juga memiliki kewajiban untuk mengamalkan Tri Dharma

Perguruan Tinggi, menaati Undang-Undang Dasar negara (Peraturan Organisasi), menjaga

stabilitas dan kerukunan, serta melaksanakan peranan sebagai wakil mahasiswa.


Begitu banyak dan kompleksnya Badan Legislatif Mahasiswa di Perguruan Tinggi

yang seharusnya menjalankan fungsi check and balance terhadap Badan Eksekutif

Mahasiswa, namun dalam tinjauan lapangan serta dari sudut pandang kebanyakan mahasiswa

seolah-olah Badan Legislatif Mahasiswa itu miskin peran tidak seperti Badan Eksekutif

Mahasiswa yang selalu eksis di mata mahasiswa, bahkan terkadang hanya cenderung

dijadikan sebagai formalitas pelengkap keberadaan lembaga kemahasiswaan di suatu

universitas. Hal ini semakin terpuruk dengan minimnya minat mahasiswa untuk berkiprah di

Lembaga Legislatif Mahasiswa.

Padahal Lembaga Legislatif Mahasiswa memegang kunci regulasi tatanan

kemahasiswaan, sehingga seharusnya dinamisasi mahasiswa yang nantinya direpresentasikan

dalam gerakan eksekutif mahasiswa tetap terjaga. Ketika suatu badan eksekutif dirasa kurang

mampu dalam menjalakan suatu kebijakan, maka Lembaga legislatif seharusnya bisa

mencarikan treatment-nya, yaitu dengan melakukan preasure sebagai representasi aspirasi

suara mahasiswa dan merekomendasikannya kepada eksekutif mahasiswa sebagai

eksekutornya. Peran sebagai watch dog dan sparing partner bagi eksekutif mahasiswa inilah

yang sepertinya jarang dilakuakan oleh Lembaga Legislatif Mahasiswa.

Peran legislatif mahasiswa sebagai penyerap aspirasi mahasiswa dan menjaga

stabilitas harus mampu mendorong hal tersebut. Penyadaran tentang hak politik mahasiswa

dan pemahaman tentang penindasan negara melalui sistem pendidikan harus mulai

diinjeksikan kepada kalangan mahasiswa dan legislatif mahasiswa sebagai upaya

membangun kekuatan dan konsolidasi menghadapi manuver dari banyaknya pejabat legislatif

yang memiliki pengaruh kuat untuk merusak bangsa. Sehingga dalam kurun beberapa waktu

kedepan bukan hanya segelintir aktivis mahasiswa tetapi akan tumbuh ratusan bahkan ribuan

mahasiswa yang siap untuk merevolusi parlemen negeri ini yang tentunya dimulai dari

Lembaga Legislatif Mahasiswa.


LEMBAGA LEGISLATIF MAHASISWA : APA, SIAPA, DAN BAGAIMANA?
Menurut kaidah bahasa, badan legislatif adalah badan yang bertugas untuk menyusun
kebijakan untuk dilaksanakan nantinya. Dalam konsep demokrasi, badan legislatif identik
dengan badan perwakilan. Artinya, badan legislatif sebagai badan pengemban kedaulatan
atau badan yang menjalankan kedaulatan yang bertugas untuk membentuk kebijakan yang
mencerminkan dari keinginan mahasiswa. Jadi, kebijakan tersebut nantinya bukanlah dari
suatu pihak atau golongan semata. Untuk itu, badan legislatif mahasiswa haruslah
mencerminkan representasi dari mahasiswa – mahasiswa yang ada.

Dalam kenyataannya, kita sering mendengar adanya Dewan Perwakilan Mahasiswa ( DPM ),
Badan Perwakilan Mahasiswa ( BPM ), Dewan Legislatif Mahasiswa ( DLM ), Dewan
Mahasiswa ( DEMA ), Parlemen Mahasiswa, dan lain – lain. Istilah – istilah diatas
merupakan bentuk dari badan legislatif mahasiswa yang ada di universitas – universitas di
Indonesia. Badan legislatif mahasiswa beranggotakan wakil – wakil mahasiswa yang dipilih
melalui Pemilu atau mekanisme tertentu. Wakil mahasiswa tersebut haruslah mewakili dari
golongan tertentu. Seorang wakil mahasiswa mengemban amanat untuk menampung dan
menyalurkan aspirasi mahasiswa untuk menjadi suatu kebijakan ( legislator ).

Maka dari itu, wakil mahasiswa dituntut untuk dapat sensitif dalam mendengarkan keluhan
mahasiswa serta aktif dalam menuangkan pemikiran untuk menyusun suatu kebijakan yang
akan diberlakukan dalam lingkungan mahasiswa. Dalam praktik sehari – hari, seorang wakil
mahasiswa dituntut untuk mampu turun kebawah untuk menampung aspirasi mahasiswa
sebesar – besarnya dan menuangkannya dalam suatu forum kerja yang berupa rapat – rapat
serta Sidang Umum. Sangat ironis apabila seorang wakil mahasiswa ketika menjalankan
tugasnya bersikap pasif alias diam dan cenderung acuh tak acuh tanpa memberikan suatu
kontribusi yang berarti bagi penyelenggaraan kehidupan kemahasiswaan.

Secara keseluruhan, badan legislatif mahasiswa dituntut harus mampu menuangkan terobosan
– terobosan yang bersifat inovatif dalam hal kebijakan – kebijakan sehingga fungsi legislatif
tersebut benar – benar berjalan secara optimal. Disamping itu, badan legislatif mahasiswa
juga dituntut untuk aktif mengawasi pelaksanaan dan mengevaluasi dari praktik – praktik
penyelenggaraan sistem tersebut. Praktik – praktik penyelenggaraan dapat berupa kebijakan –
kebijakan atau proses yang terjadi di dalam sistem tersebut. Hal ini bertujuan agar terjadi
kontrol dan keseimbangan ( check and balances ) sehingga menghindarkan penumpukan
kekuasaan yang berdampak pada absolutisme. Untuk itu, disinilah dituntut peran serta dari
seluruh wakil mahasiswa yang duduk di badan legislatif mahasiswa untuk menjalankan
fungsi dari badan tersebut secara menyeluruh.

SUSUNAN, KEDUDUKAN, TUGAS, DAN WEWENANG, SERTA ALAT


KELENGKAPAN
Lembaga legislatif mahasiswa ( selanjutnya akan disebut DPM ) merupakan lembaga yang
terdiri dari mahasiswa – mahasiswa yang duduk di lembaga tersebut dengan mengedepankan
azaz demokrasi perwakilan.
Dalam konteks demokrasi kampus, lembaga ini berkedudukan sebagai lembaga tertinggi
mahasiswa yang memiliki fungsi antara lain :

– Fungsi Legislasi
Legislasi merupakan tugas utama dari seorang anggota dewan karena dengan fungsi inilah
seorang anggota dewan mampu menyalurkan aspirasinya banyaknya produk perundang-
undangan yang diciptakan dalam satu periode kerja merupakan salah satu parameter
keberhasilan dari DPM tersebut .

– Fungsi Pengawasan
DPM mempunyai kewajiban untuk mengawasi kinerja dari lembaga eksekutif . Hal ini
bertujuan agar lembaga eksekutif bekerja secara optimal dan sesuai dengan amanat rakyat
(baca : mahasiswa yang memilih).

– Fungsi Anggaran
Sudah seyogyanya jika keuangan mahasiswa di pegang oleh mahasiswa itu sendiri.
Pengelolaan keuangan ini dipegang dan diatur penggunaannya oleh DPM/Senat Mahasiswa
sebagaimana yang terjadi pada pemerintahan yang sebenarnya (Pemerintahan Republik
Indonesia). Senat/DPM mengevaluasi kinerja dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan
BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) sehingga pengelolaan dana keuangan dan pemberian
anggaran dilakukan berdasarkan kinerja dari ormawa tersebut.

– Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi ini dilakukan untuk menyampaikan keluhan, masukan, saran dan kritik
mahasiswa kepada pihak pengelola universitas agar aspirasi serta permasalahan yang ada
dapat terselesaikan.

DPM mempunyai tugas dan wewenang:


a. Membentuk peraturan kemahasiswaan yang dibahas bersama Ketua BEM yang bertujuan
untuk mendapat kesepakatan bersama
b. Membahas bersama Ketua BEM dengan memperhatikan pimpinan kelembagaan terkait
dalam hal memberikan persetujuan atas rancangan anggaran kemahasiswaan yang diajukan
oleh Ketua BEM;
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan kemahasiswaan;
d. Memberikan persetujuan atas sikap dan pandangan politis dari Ketua BEM;
e. Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan kemahasiswaan;
f. Menyerap, menghimpun, menampung, dan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa; dan.
DPM memiliki beberapa hak yaitu :
– Hak Interpelasi, yaitu hak yang mempertanyakan kebijakan – kebijakan lembaga
eksekutif
– Hak Budget, yaitu hak untuk mengusulkan anggaran
– Hak Angket, yaitu hak untuk menghimpun pendapat dalam menyikapi sebuah kebijakan
– Hak Insiatif, yaitu hak dalam mengajukan rancangan peraturan kemahasiswaan
Dalam menjalankan fungsinya, DPM memiliki alat kelengkapan yaitu sekretariat dan komisi
– komisi. Sekretariat adalah alat kelengkapan DPM yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan administrasi, keuangan, perlengkapan, serta penyediaan kebutuhan – kebutuhan
DPM. Alat kelengkapan ini dipimpin oleh seorang Sekretaris yang bertanggung jawab
langsung kepada Ketua DPM.

Sedangkan untuk menjalankan fungsi – fungsi seperti pengawasan, legislasi, anggaran, dan
advokasi, DPM membentuk komisi – komisi. Alat kelengkapan ini bukanlah alat
kelengkapan pelaksana teknis seperti alat kelengkapan yang terdapat pada organisasi –
organisasi yang bersifat eksekutif. Komisi – komisi hanya merupakan perpanjangan tangan
DPM dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan, anggaran, dan advokasi.

Dalam kondisi tertentu, DPM dapat membentuk panitia kerja untuk menindaklanjuti
permasalahan – permasalahan tertentu ( Misalnya : Panitia Kerja Pembahasan Wacana
Semester Pendek ). Panitia kerja ini terdiri dari anggota – anggota DPM yang diusulkan dan
ditetapkan dalam rapat paripurna. Setelah terbentuk, panitia kerja melakukan rapat untuk
memilih ketua panitia kerja.

DPM juga memiliki alat kelengkapan yaitu Pimpinan DPM yang biasanya terdiri dari Ketua
dan jika dibutuhkan maka dapat dibentuk Wakil Ketua yang berfungsi membantu Ketua
DPM. Pimpinan DPM memiliki fungsi sebagai berikut :
– Menjadi juru bicara keputusan – keputusan DPM ke luar
– Mengatur lalu lintas komunikasi antar anggota DPM dalam sidang maupun rapat
paripurna
– Menyusun kebijakan penyediaan kebutuhan – kebutuhan DPM bersama Sekretaris
– Menjadi juru bicara ke dalam DPM
– Menetapkan keputusan DPM setelah diputuskan oleh sidang maupun rapat DPM

MEKANISME KERJA KELEMBAGAAN


Kinerja DPM ditunjukkan dalam hal pengawasan, legislasi, anggaran, dan advokasi yang
dicerminkan dalam kegiatan – kegiatan seperti Sidang Umum, Sidang Istimewa, Rapat –
rapat, serta kegiatan – kegiatan yang sehubungan dengan penggunaan hak keanggotaan DPM.

Berikut penjelasan dari kegiatan – kegiatan DPM :


– Sidang Umum
Sidang Umum adalah rangkaian kegiatan DPM yang bersifat berkala ( biasanya dilaksanakan
3 bulan sekali ). Sidang Umum berfungsi untuk membentuk peraturan kemahasiswaan,
menindaklanjuti aspirasi mahasiswa, serta membahas hal – hal yang dianggap perlu. Sidang
Umum dihadiri oleh seluruh anggota DPM dan pimpinan – pimpinan lembaga – lembaga
eksekutif ( misalnya : BEM dan HMJ ).

– Sidang Istimewa
Sidang Istimewa adalah kegiatan DPM yang bersifat luar biasa dan berfungsi dalam hal – hal
antara lain : Pelantikan BEM, Penetapan sanksi kelembagaan, dan lain – lain.
– Rapat – rapat
Dalam menjalankan tugasnya, DPM memiliki beberapa jenis rapat yaitu :
1. Rapat Kerja, adalah rapat yang dilakukan guna menjalankan fungsi DPM. Biasanya rapat
ini diadakan dengan mitra – mitra kerja DPM ( contoh : Rapat Kerja dengan Pimpinan
Fakultas mengenai pelaksanaan jajak pendapat mahasiswa )

2. Rapat Dengar Pendapat, adalah rapat yang bertujuan untuk melakukan dengar pendapat
dengan pihak – pihak tertentu yang sifatnya bertujuan untuk mendukung kerja DPM ( Contoh
: Rapat Dengar Pendapat dengan Mahasiswa Jurusan Akuntansi mengenai dosen yang
bermasalah )

3. Rapat Komisi, adalah rapat yang dilakukan oleh internal komisi yang bertujuan untuk
menjalankan fungsi komisi. ( Contoh : Rapat Komisi III tentang tindak lanjut penyelewangan
pimpinan kelembagaan )

4. Rapat Paripurna, adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota DPM yang bertujuan
untuk menetapkan sebuah keputusan

– Kegiatan lainnya
Dalam kapasitas sebagai lembaga perwakilan mahasiswa, DPM dapat melaksanakan kegiatan
– kegiatan lain yang sifatnya menunjang tugas ke-dewan-an seperti penyelenggaran seminar /
lokakarya dengan tema – tema legislatif mahasiswa, melakukan jajak pendapat, memberikan
pernyataan sikap, dan lain – lain.

HAK & KEWAJIBAN ANGGOTA LEMBAGA LEGISLATIF MAHASISWA


Setiap anggota DPM berkedudukan sebagai wakil mahasiswa dalam lembaga DPM. Untuk
itu, setiap anggota DPM memiliki hak yang terdiri dari :
– Hak Bertanya, ialah hak untuk mempertanyakan suatu kebijakan
– Hak Bicara, ialah hak untuk menyampaikan pendapat
– Hak Suara, ialah hak untuk menetapkan sebuah pilihan
– Hak Budget, ialah hak untuk mengusulkan anggaran
– Hak Inisiatif, ialah hak untuk mengajukan rancangan peraturan kemahasiswaan

Disamping memiliki hak, anggota DPM juga memiliki kewajiban yaitu :


– Menjalankan tugas sebagai wakil mahasiswa
– Menghadiri setiap sidang maupun rapat – rapat yang telah ditetapkan
– Melakukan advokasi kepada mahasiswa yang membutuhkan
– Menyerap aspirasi mahasiswa yang kemudian dibawa ke dalam sidang maupun rapat –
rapat DPM
– Menjalankan semua konsekuensi DPM