Anda di halaman 1dari 6

LANGKAH 2

DAFTAR MASALAH

1. Mengapa susanti kesulitan memulai tidur dan hanya tidur ± 2 jam setiap malam?
2. Mengapa susanti sering terbangun dan tidak nyenyak saat tidur?
3. Apa hubungan susanti sering terbangun dan tidak nyenyak saat tidur dengan tubuhnya yang
tidak segar?
4. Mengapa susanti hilang nafsu makan dan BB menurun?
5. Mengapa susanti tidak pernah menonton film di bioskop lagi?
6. Apa hubungan riwayat pasien tidak lulus UKDI dengan keluhan?
7. Apa hubungan sikap orang tua yang menekan pasien dengan keluhan?
8. Mengapa pasien jarang keluar kamar bahkan hanya untuk mandi?
9. Apa hubungan susanti mengkonsumsi obat dengan keluhan?
10. Apa kemungkinan obat yang di konsumsi susanti?
11. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik pasien?
12. Apa hubungan jenis kelamin dan usia dengan keluhan yang dialami pasien?
13. Apa kemungkinan DD pasien?
14. Apa kemungkinan tatalaksana yang di berikan oleh dokter?
LANGKAH 3
BRAINSTORMING

1. Mengapa susanti kesulitan memulai tidur dan hanya tidur ± 2 jam setiap malam?
Berdasarkan skenario, Susanti mengalami kesulitan memulai tidur dan hanya tidur
kurang lebih 2 jam setiap malam dapat disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya yaitu
kegagalan tes UKDI beberapa bulan lalu yang bisa menyebabkan Susanti menjadi stres atau
depresi. Selain itu, Susanti juga bulan depan akan mengikuti tes UKDI kembali dan tentunya
hal ini akan membuat Susanti menjadi sangat cemas karena telah gagal di tes sebelumnya.
Kecemasan ini juga bisa membuat Susanti menjadi sulit memulai tidur dan hanya tidur sekitar
2 jam setiap malam. Hal lain yang membuat Susanti semakin depresi dan tertekan yaitu orang
tua Susanti selalu menanyakan kegagalan Susanti pada tes sebelumnya. Hal ini tentu akan
sangat memberi beban kepada Susanti sehingga semakin tidak percaya diri dan bisa
menyebabkan gangguan tidur. Untuk mengatasi hal itu, Susanti pun mengonsumsi obat yang
mungkin bisa menyebabkan gangguan tidurnya.
Hal lain yang bisa menyebabkan Susanti memiliki gangguan tidur yaitu adanya lesi
pada pusat pengatur tidur dan terbangun di bagian hipotalamus anterior sehingga
menyebabkan RAS (Reticular Activating System) melepaskan katekolamin yang akan
menghasilkan norefinefrin, lalu merangsang otak untuk meningkatkan aktivitas. Jika kadarnya
berlebih, maka akan merangsang saraf simpatis dan membuat Susanti menjadi terus terjaga.
Gangguan tidur Susanti juga bisa disebabkan karena depresi terkait UKDI yang dapat
mengakibatkan rendahnya kadar serotonin. Serotonin berperan sangat spesifik untuk rasa
kantuk dan modulator kaapasitas kerja otak sehingga jika pada keadaan depresi, kadar
serotonin menjadi rendah sehingga bisa mengalami gangguan pada tidurnya.

2. Mengapa susanti sering terbangun dan tidak nyenyak saat tidur?


Kemungkinan Susanti sering terbangun saat tidur dikarenakan masih dalam tahapan
NREM, dimana tahapan NREM berlangsung selama 70-100 menit sebelum memasuki tahap
REM. Sehingga saat seseorang masih dalam tahap NREM, ia akan cenderung lebih mudah
bangun. Selain itu, tidak nyenyak saat tidur dapat disebabkan karena kurangnya fase REM.
Adanya stres juga yang nantinya berpengaruh terhadap terjaganya sistem ARAS akan
membuat pasien susah tidur.

3. Apa hubungan susanti sering terbangun dan tidak nyenyak saat tidur dengan tubuhnya yang
tidak segar?
Karena adanya regulasi abnormal dari kortisol yang harusnya jika pada orang normal,
kadar kortisol rendah pada malam hari dan tinggi pada pagi hari. Tingginya kadar kortisol
pada pagi hari inilah yang menyebabkan seseorang terbangun dengan segar pada pagi hari.
Regulasi yang abnormal pada kortisol menyebabkan terganggunya kadar kortisol pada tubuh
sehingga menyebabkan seseorang terbangun dalam keadaan tidak segar kembali.
Pada orang normal, ada reduksi yang signifikan pada aktivitas otak daerah kortikal
selama tahapan non-REM. Hal ini yang menyebabkan restorasi fungsi kognitif seseorang
sehingga bangun tidur dengan segar. Pada orang depresi, metabolisme glukosa otak total lebih
tinggi daripada orang sehat pada tahaoan non-REM. Hipofrontalitas yang terjadi pada saat
sadar mencegah reduksi aktivitas otak dari sesaat sebelum tidur sampai fase non-REM.
Kegagalan untuk menurunkan aktivitas kortikal terutama daerah frontal pada orang yang
depresi menyebabkan kelainan pada tidur dan tidur yang non-restoratif (tidak segar).

4. Mengapa susanti hilang nafsu makan dan BB menurun?


Susanti mengalami anxiety disorder karena akan mengikuti UKDI bulan depan
yang mana salah satu gejala dari gangguan jiwa ini adalah anhedonia. Anhedonia adalah
suatu keadaan dimana seseorang tidak mendapat kesenangan dari melakukan kegiatan
kegiatan yang dulu menyenangkannya atau membuatnya bahagia. Hal ini menyebabkan
Susanti kehilangan nafsu makan dan enggan untuk makan, sehingga mengalami penurunan
berat badan.
Selain itu, sulit tidur pada jam normal tidur yang dialami menyebabkan
pembakaran kalori yang lebih besar dibandingkan orang yang dapat tidur normal. Hal ini
yang menyebabkan penurunan berat badan pada pasien.
Penurunan berat badan bisa juga karena efek samping obat antidepressant seperti
SSRI yang memiliki efek samping diare.
Stress yang dialami bisa menyebabkan peningkatan hormone kortisol yang
menyebabkan lipolysis dan peningkatan katabolisme sehingga terjadi penurunan berat
badan. Selain itu juga bisa akibat dari kerjasama IL-1 dan TNFa.

5. Mengapa susanti tidak pernah menonton film di bioskop lagi?


Depresi → anhedonia
Pada orang depresi juga didapakan gejala menjadi apatis, menarik diri dari pergaulan
dan tidak mau bergaul

6. Apa hubungan riwayat pasien tidak lulus UKDI dengan keluhan?


Karena adanya tekanan dari dalam diri pasien sendiri karena gagal dalam UKDI dan
adanya tekanan dari orang tua yang terus-menerus menanyakan mengapa ia gagal dalam
UKDI menyebabkan semakin bertambahnya tekanan dalam diri pasien. Karena adanya
stressor-stressor yang terus menerus akan memicu hipotalamus yang meningkatkan kortisol,
vasopressin dan meningkatkan sistem saraf simpatis dengan menaikkan hormon adrenalin.
Kenaikan-kenaikan hormon-hormon ini akan menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh
pasien yaitu meningkatnya mobilisasi lemak dan protein sehingga berat badan pasien turun,
vasokontriksi pembuluh darah yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah dan
menguatnya efek sistem saraf simpatis pada tubuh pasien.

7. Apa hubungan sikap orang tua yang menekan pasien dengan keluhan?
Pasien ditekan orangtua karena pasien dirasa gagal dalam menghadapi UKDI.
Tekanan tersebut menyebabkan stress pada pasien sehingga menyebabkan tubuh
mengeluarkan kortikosteroid yang efeknya menyebabkan volume hipokampus menjadi turun.

8. Mengapa pasien jarang keluar kamar bahkan hanya untuk mandi?


Ciri-ciri orang depresi adanya gangguan tidur → menjadi apatis, menarik diri

9. Apa hubungan susanti mengkonsumsi obat dengan keluhan?


Kemungkinan Susanti mengonsumsi obat-obat yang mana beberapa diantaranya mempunyai
efek pada siklus tidur yang menjadi terganggu. Contoh beberapa obatnya adalah:
-Obat anti-depresan: SSRI (fluoksetin, fluoksamin, dan setralin), trisiklik (amitriptilin dan
imipramine)
-Obat anti-ansietas : benzodeazepam (klonazepam, alprazolam), buspiron
-Obat gangguan tidur : antidepresan sedtif (trazodone), siproheptadin, hipnotika
Mekanisme obat antidepresan adalah dengan menghambat ambilan serotonin dengan cara
mengikat reseptor GABA. Sedangkan pada obat anti-ansietas bersifat anixiolitik poten yang
bekerja melalui reseptor di lobus limbik dan neokorteks yang kemudian memodulasi reseptor
GABA A post sinaps sehingga efek GABA meningkat.

10. Apa kemungkinan obat yang di konsumsi susanti?


 Obat anti-depresan: SSRI (fluoksetin, fluoksamin, dan setralin), trisiklik
(amitriptilin dan imipramine)
 Obat anti-ansietas : benzodeazepam (klonazepam, alprazolam), buspiron
 Obat gangguan tidur : antidepresan sedtif (trazodone), siproheptadin, hipnotika
 Mekanisme obat antidepresan adalah dengan menghambat ambilan serotonin
dengan cara mengikat reseptor GABA. Sedangkan pada obat anti-ansietas bersifat
anixiolitik poten yang bekerja melalui reseptor di lobus limbik dan neokorteks
yang kemudian memodulasi reseptor GABA A post sinaps sehingga efek GABA
meningkat

11. Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan fisik pasien?


 KU : normal
 TD : 130/80 mmHg menandakan pasien prehipertensi karena nilai normalnya ±
120/80 mmHg
 Nadi : 100x/menit regular menandakan nilai normal tapi dalam batas tinggi
 RR : 24x/menit berarti nilai lebih dari nilai normal pada oranng dewasa 16-20x/menit,
hal ini menandakan pasien takipneu, yaitu frekuensi pernapasannya teratur namun
cepat secara tidak normal dimana hal ini terjadi karena peningkatan dari pengeluaran
tenaga yang menandakan pasien dalam kondisi stress.Pneumonia bronkopneumonia,
pneumonia yang ditandai bercak-bercak infeksi pada berbagai tempat di paru. Bisa
kanan maupun kiri yang disebabkan virus atau bakteri dan sring terjadi pada bayi atau
orang tua.
Pneumococcus masuk ke dalam paru melalui jalan pernapasan secara percikan.
Pneumokokkus ummunya mencapai alveoli lewat percikan mucus atau saliva. Lobus bagian
bawah paru paling sering terkena efek gravitasi.
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki 3 bentuk transisi primer:
* Aspirasi secret yang berisi mikroorganisme pathogen yang telah berkolonisasi pada
orofaring
* Inhalasi aerosol yang infeksius
* Penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal.

12. Apa hubungan jenis kelamin dan usia dengan keluhan yang dialami pasien?
Menurut TheNational Institute of Mental Health (NIMH) depresi biasanya lebih
banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut terjadi karena
dipengaruhi oleh hormon. Data ini yang merepresentasikan pasien dalam skenario yaitu
perempuan. Biasanya depresi juga terjadi pada rata-rata umur 32 tahun. Hampir 50% awitan
diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa kanak atau lanjut
usia. Data terkini menunjukkan gangguan depresi berat diusia kurang dari 20 tahun. Mungkin
berhubungan dengan meningkatnya pengguan alkohol dan penyalahgunaan zat dalam
kelompok usia tersebut. Pasien dalam skenario berusia 23 tahun.

13. Apa kemungkinan DD pasien?


Depresi, Campuran depresi dan anxietas, insomnia sekunder
14. Apa kemungkinan tatalaksana yang di berikan oleh dokter?
Konseling, terapi perilaku, terapi kognitif-perilaku, terapi keluarga, terapi farmako