Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Belakangan ini,Kehidupan sehari-hari kita sering merasakan nyeri yang
membuat ketidaknyamanaan dalam hidup kita,sebagaian dari individu merasa
tidak khawatir terhadap nyeri,dan sebagaiaan individu merasa cemas,takut
terhadap nyeri itu.banyak diantara individu yang tidak bisa menyelesaikan
masalah ketidak nyamanan ini,untuk itu saya membuat makalah ini,untuk member
petunjuk bagi pembaca dalam menyelesaikan masalah ketidak nyamanan yaitu
nyeri.
B. Tujuan penulisan
Materi ini di buat agar perawat memahami bagaimana cara memberikan rasa
nyaman kepada klien yang sedang mengalami rasa nyeri, dengan cara mengurangi
rasa nyeri menggunakan beberapa metode, baik dengan obat-obatan tindakan
keperawatan , serta pengalihan rasa nyeri lainnya.
BAB II PEMBAHASAN
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian rasa nyaman dan nyeri


Kolcaba (1992, dalam Potter & Perry, 2005) megungkapkan kenyamanan/rasa
nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan
sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan
tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri). Kenyamanan mesti dipandang
secara holistik yang mencakup empat aspek yaitu:

1. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.


2. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.
3. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri sendiri
yang meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan).
4. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman eksternal
manusia seperti cahaya, bunyi, temperatur, warna, dan unsur alamiah lainnya.

Meningkatkan kebutuhan rasa nyaman diartikan perawat telah memberikan


kekuatan, harapan, hiburan, dukungan, dorongan, dan bantuan. Secara umum
dalam aplikasinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman adalah kebutuhan rasa
nyaman bebas dari rasa nyeri, dan hipo / hipertermia. Hal ini disebabkan karena
kondisi nyeri dan hipo / hipertermia merupakan kondisi yang mempengaruhi
perasaan tidak nyaman pasien yang ditunjukan dengan timbulnya gejala dan tanda
pada pasien.

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan wang tidak menyenangkan, bersifat


sangat subyektif karena perasaan nt-eri berbeda pada setiap orang dalam hal skala
atau tingkatannya, dan hanya pada orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau
mengevaluasi rasa nyeri yang dialaminya. Berikut adalah pendapart beberapa ahli
rnengenai pengertian nyeri:
1. Mc. Coffery (1979), mendefinisikan nyeri sebagai suatu keadaan yang
memengaruhi seseorang yang keberadaanya diketahui hanya jika orang
tersebut pernah mengalaminya.
2. Wolf Weifsel Feurst (1974), mengatakan nyeri merupakan suatu perasaan
menderita secara fisik dan mental atau perasaan yang bisa menimbulkan
ketegangan.
3. Artur C Curton (1983), mengatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme
bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang dirusak, dan menyebabkan individu
tersebut bereaksi untuk menghilangkan rangsangan nyeri.

SIFAT NYERI
Secara ringkas, Mahon mengemukakan atribut nyeri sebagai berikut:
1. Nyeri bersifat individu
2. Nyeri tidak menyenangkan
3. Merupakan suatu kekuatan yang mendominasi
4. Bersifat tidak berkesudahan

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RASA NYERI


1. Usia : anak – lansia
2. Jenis kelamin : laki2 – perempuan
3. Kebudayaan : cara menebus dosa
4. Makna nyeri : ancaman, kehilangan, hukuman, tantangan
5. Perhatian : relaksasi, masase, guided imagery
6. Ansietas : cemas
7. Keletihan : penyakit terminal
8. Pengalaman sebelumnya
9. Gaya koping : terapi musik

KLARIFIKASI NYERI
Teori nyeri

Ada 4 teori yang berusaha menjelaskan bagaiman nyeri itu timbul dan terasa,
yaitu :
1. Teori spesifik ( Teori Pemisahan)
Teori yang mengemukakan bahwa reseptor dikhususkan untuk menerima
suatu stimulus yang spesifik, yang selanjutnya dihantarkan melalui serabut A delta
dan serabut C di perifer dan traktus spinothalamikus di medulla spinalis menuju
ke pusat nyeri di thalamus. Teori ini tidak mengemukakan komponen psikologis..
Menurut teori ini rangsangan sakit masuk ke medula spinalis (spinal cord) melalui
kornu dorsalis yang bersinaps di daerah posterior. Kemudian naik ke tractus lissur
dan menyilang di garis median ke sisi lainnya dan berakhir di korteks sensoris
tempat rangsangan nyeri tersebut diteruskan.

2. Teori pola (pattern)


Teori ini menyatakan bahwa elemen utama pada nyeri adalah pola informasi
sensoris. Pola aksi potensial yang timbul oleh adanya suatu stimulus timbul pada
tingkat saraf perifer dan stimulus tertentu menimbulkan pola aksi potensial
tertentu. Rangsangan nyeri masuk melalui akar ganglion dorsal ke medulla
spinalis dan merangsang aktivitas sel. Hal ini mengakibatkan suatu respons yang
merangsang ke bagian yang lebih tinggi, yaitu korteks serebri serta kontraksi
menimbulkan persepsi dan otot berkontraksi sehingga menimbulkan nyeri.
Persepsi dipengaruhi olch modalitas respons dari reaksi sel.tu. Pola aksi potensial
untuk nyeri berbeda dengan pola untuk rasa sentuhan.

3. Teori kontrol gerbang (gate control)


Pada teori ini bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme
pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls
nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls dihambat saat sebuah
pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori
menghilangkan nyeri.

4. Teori Transmisi dan Inhibisi.


Adanya stimulus pada nociceptor memulai transmisi impuls-impuls saraf,
sehingga transmisi impuls nyeri menjadi efektif oleh neurotransmiter yang
spesifik. Kemudian, inhibisi impuls nyeri menjadi efektif oleh impuls-impuls pada
scrabut-serabut besar yang memblok impuls-impuls pada serabut lamban dan
endogcn opiate sistem supresif.
Fisiologi nyeri

Fisiologi nyeri merupakan alur terjadinya nyeri dalam tubuh. Rasa nyeri
merupakan sebuah mekanisme yang terjadi dalam tubuh, yang melibatkan fungsi
organ tubuh, terutama sistem saraf sebagai reseptor rasa nyeri.

Reseptor nyeri kedua adalah organ tubuh yang berfungsi untuk menerima
rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri adalah ujung
syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap stimulus kuat yang secara
potensial merusak. Reseptor nyeri disebut juga nosireceptor, secara anatomis
reseptor nyeri (nosireceptor) ada yang bermielien dan ada juga yang tidak
bermielin dari syaraf perifer.

Reseptor nyeri jenis ketiga adalah reseptor viseral, reseptor ini meliputi organ-
organ viseral seperti jantung, hati, usus, ginjal dan sebagainya. Nyeri yang timbul
pada reseptor ini biasanya tidak sensitif terhadap pemotongan organ, tetapi sangat
sensitif terhadap penekanan, iskemia dan inflamasi.

Proses terjadinya nyeri

Mekanisme nyeri secara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat


kerusakan jaringan dalam saraf sensorik menjadi aktivitas listrik kemudian
ditransmisikan melalui serabut saraf bermielin A delta dan saraf tidak bermielin C
ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus, dan korteks serebri. Impuls listrik
tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai kualitas dan kuantitas nyeri
setelah mengalami modulasi sepanjang saraf perifer dan disusun saraf pusat.
Rangsangan yang dapat membangkitkan nyeri dapat berupa rangsangan mekanik,
suhu (panas atau dingin) dan agen kimiawi yang dilepaskan karena
trauma/inflamasi.
Stimulus nyeri

Seseorang dapat Menoleransi menahan nyeri (pain tolerance), atau dapat


mengenali jumlah stimulasi nyeri sebelum merasakan nyeri (pain threshold).
Terdapat beberapa jenis stimulus nyeri, di antaranya:

1. Motorik disebabkan karena


Gangguan dalam jaringan tubuh
Tumor, spasme otot
Sumbatan dalam saluran tubuh
Trauma dalam jaringan tubuh
2. Thermal (suhu)
Panas dingin yang ekstrim
3. Kimia
Spasme otot dan iskemia jaringan

Skala nyeri

Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh
individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual dan
kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua
orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda. Pengukuran nyeri dengan
pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik
tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun, pengukuran dengan tehnik ini juga tidak
dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).

Skala analog visual (Visual analog scale, VAS) tidak melebel subdivisi. VAS
adalah suatu garis lurus, yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan
pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. Skala ini memberi klien kebebasan
penuh untuk
mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan
nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada
rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter, 2005).

Penanganan rasa nyeri

1. Tindakan Farmakologis
Umumnya nyeri direduksi dengan cara pemberian terapi farmakologi. Nyeri
ditanggulangi dengan cara memblokade transmisi stimulant nyeri agar terjadi
perubahan persepsi dan dengan mengurangi respon kortikal terhadap nyeri

Adapun obat yang digunakan untuk terapi nyeri adalah :

Analgesik Narkotik Opiat merupakan obat yang paling umum digunakan


untuk mengatasi nyeri pada klien, untuk nyeri sedang hingga nyeri yang sangat
berat. Pengaruhnya sangat bervariasi tergantung fisiologi klien itu sendiri. Klien
yang sangat muda dan sangat tua adalah yang sensitive terhadap pemberian
analgesic ini dan hanya memerlukan dosisi yang sangat rendah untuk
meringankan nyeri (Long,1996).Narkotik dapat menurunkan tekanan darah dan
menimbilkan depresi pada fungsi – fungsi vital lainya, termasuk depresi
respiratori, bradikardi dan mengantuk. Sebagian dari reaksi ini menguntungkan
contoh : hemoragi, sedikit penurunan tekanan darah sangan dibutuhkan. Namun
pada pasien hipotensi akan menimbulkan syok akibat dosis yang berlebihan.

Analgesik Lokal Analgesik bekerja dengan memblokade konduksi saraf saat


diberikan langsung ke serabut saraf.

Analgesik yang dikontrol klien


Sistem analgesik yang dikontrol klien terdiri dari Infus yang diisi narkotik
menurut resep, dipasang dengan pengatur pada lubang injeksi intravena.
Pengandalian analgesik oleh klien adalah menekan sejumlah tombol agar masuk
sejumlah narkotik. Cara ini memerlukan alat khusus untuk mencegah masuknya
obat pada waktu yang belum ditentukan. Analgesik yang dikontrol klien ini
penggunaanya lebih sedikit dibandingkan dengan cara yang standar, yaitu secara
intramuscular. Penggunaan narkotik yang dikendalikan klien dipakai pada klien
dengan nyeri pasca bedah, nyeri kanker, krisis sel.

Obat – obat nonsteroid


Obat – obat nonsteroid antiinflamasi bekerja terutama terhadap penghambatan
sintesa prostaglandin. Pada dosis rendah obat – obat ini bersifat analgesic. Pada
dosis tinggi, obat obat ini bersifat antiinflamatori sebagai tambahan dari khasiat
analgesik.

Prinsip kerja obat ini adalah untuk mengendalikan nyeri sedang dari dismenorea,
arthritis dan gangguan musculoskeletal yang lain, nyeri postoperative dan
migraine. NSAID digunakan untuk menyembuhkan nyeri ringan sampai sedang.

2.Tindakan Non Farmakologis

Menurut Tamsuri (2006), selain tindakan farmakologis untuk menanggulangi


nyeri ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri terdiri dari
beberapa tindakan penaganan berdasarkan :

Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi :

Stimulasi kulit
Massase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan ketegangan otot.
Rangsangan masase otot ini dipercaya akan merangsang serabut berdiameter
besar, sehingga mampu mampu memblok atau menurunkan impuls nyeri

Stimulasi electric (TENS)


Cara kerja dari sistem ini masih belum jelas, salah satu pemikiran adalah cara
ini bisa melepaskan endorfin, sehingga bisa memblok stimulasi nyeri. Bisa
dilakukan dengan massase, mandi air hangat, kompres dengan kantong es dan
stimulasi saraf elektrik transkutan (TENS/ transcutaneus electrical nerve
stimulation). TENS merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus
listrik ringan yang dihantarkan melalui elektroda luar.
Akupuntur
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama digunakan untuk
mengobati nyeri. Jarum – jarum kecil yang dimasukkan pada kulit, bertujuan
menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada lokasi nyeri, yang dapat memblok
transmisi nyeri ke otak.

Plasebo
Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan merupakan zat
tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal oleh klien sebagai “obat”
seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan sebagainya.

Intervensi perilaku kognitif meliputi :

Relaksasi
Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan
merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. Teknik relaksasi
mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil optimal. Dengan
relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap nyeri.

Umpan balik biologis


Terapi perilaku yang dilakukan dengan memberikan individu informasi
tentang respon nyeri fisiologis dan cara untuk melatih kontrol volunter terhadap
respon tersebut. Terapi ini efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren,
dengan cara memasang elektroda pada pelipis.

Hipnotis
Membantu mengubah persepsi nyeri melalui pengaruh sugesti positif.

Distraksi
Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan sampai
sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola), distraksi audio
(mendengar musik), distraksi sentuhan (massase, memegang mainan), distraksi
intelektual (merangkai puzzle, main catur)
Guided Imagery (Imajinasi terbimbing)
Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang menyenangkan,
tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang tenang serta konsentrasi dari
klien. Apabila klien mengalami kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan
ini dilakukan pada saat klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

Contoh kasus

Seorang pasien dengan keluhan nyeri karena datang bulan. Seorang perawat
dapat melakukan tindakan keperawatan, dengan cara memberikan buli-buli hangat
yang di balut dengan handuk kecil, lalu di letakkan di bagian yang nyeri selama
10 menit, untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien.
BAB III

KESIMPULAN

Jadi kita dapat memahami bahwa,tindakan apa saja yang dapat di lakukan oleh
seorang perawat untuk membantu mengurangi rasa nyeri bagi pasien,serta
memberikan rasa nyaman kepada pasien dengan menggunakan beberapa cara.
Yang paling utama adalah bagaimana cara seorang perawat memberikan dorongan
kepada pasiennya.
IV DAFTAR PUSTAKA
REFERENSI

H.Alimul, A. Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia 1. Jakarta:


Salemba Medika

Hidayat A. 2009. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia, Buku 1. Salemba Medika,


Jakarta.