Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KONSUMSI OKSIGEN PADA HEWAN (RESPIRASI)

(Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Praktikum Fisiologi Hewan yang diampu Oleh Dosen
Siti Nurkamilah,M.Pd.)

Disusun Oleh :

Nabila Nurhalisa (16541004)


Ana Desti fitriani (16542004)
Mita Miftahul Zanah (16542005)
Inda Makiyah (16542014)
Hardianti (163010009)

Kelomok 4
Kelas : 3A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS ILMU TERPAN DAN SAINS
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA
2018
A. Tujuan
1. Untuk mengukr banyaknya konsumsi oksigen pada belalang.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam respirasi.
3. Untuk mengetahui hunbungan antara kecepatan respirasi pada hewan dengan
kecepatan-kecepatan metabolismenya.

B. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan saat praktikum:
No Alat Gambar Fungsi Keterngan
1 Respirometer Alat untuk 2 buah
sedrehana mengukur
konsumsi
oksigen hewan

2 Kapas Untuk secukupnya


menyimpan
serangga.

3 Spatula Untuk 1 buah


mengambil atu
mengaduk
larutan atau zat
kimia
4 Neracca elektiok Untuk 1 buah
/ timbangan mengetahui
berat spesies
yang akan di
teliti.

Bahan-bahan yang di gunakan saat praktikum :


No Alat Gambar Fungsi Keterngan
1 Kristal KOH Untuk ntuk Secukupnya
mengikat CO2.

2 Vaselline Untuk menutup secukupnya


bagian penutup
agar tidak ada
udara yang
masuk.

3 Methylen blue Untuk untuk Secukupnya


mengetahui
konsumsi
oksigen .

4 Jangkrik Objek 6 buah


penelitian.

C. Landasan Teori
Landasan Teori Respirasi ialah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat
makanan untuk mendapatkan energi. Pemafasan dapat diartikan sebagai proses yang
dilakukan oleh organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme. Ada dua
macam pernafasan, yaitu pemafasan ekstemal (luar) dan internal (dalam). Pemafasan luar
mcliputi proses pcngambilan O2 dan pengeluaran C02 dan uap air antara organisme dengan
lingkungannya. Pernafasan internal disebut juga pernapasan seluler karena pernapasan ini
terjadi di dalam sel, yaitu di dalam sitoplasma dan mitokondria. Pernapasan seluler melalui
tiga tahap, yaitu glikolisis, siklus krebs dan transfer elektron.
Proses respirasi tidak lepas dari adanya proses metabolisme. Metabolisme merupakan
aktivitas hidup yang selalu teljadi pada setiap sel hidup. Metabolisme dapat kita golongkan
menjadi dua yakni proses penyusunan yang disebut anabolisme dan katabolisme. Insekta
(serangga) bemapas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea. Udara keluar
masuk kc pembuluh trakea melalui lubang-lubang kecil pada eksoskeleton yang disebut
stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu untuk menyaring debu, serta dapat
terbuka dam tertutup karena adanya katup-katup yang gerakanya diatur oleh otot. Tabung
trakea bercabang-cabang kc seluruh tubuh dengan ukuran yang semakin halus. Cabang
terkecil berujung buntu dan berukuran lebih kurang 0,1 milimikron. Cabang ini disebut
trakeolus berisi udara serta cairan. Oksigen lamt dalam cairan ini, kemudian berdifusi ke
dalam sel-sel di dekatnya.
Respirasi ialah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat makanan untuk
mendapatkan energi. Pernafasan dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh
organisme untuk menghasilkan energi dan' hasil metabolisme. Ada dua macam pemafasan,
yaitu pemafasan ekstemal ( luar ) dan internal ( dalam ). Pemafasan luar meliputi proses
pengambilan O2 dan pengeluaran C02 dan uap air antara organisme dengan lingkungannya.
Pernafasan internal disebut juga pernapasan seluler karena pemapasan ini tetjadj di dalam sel,
yaitu di dalam sitoplasma dan mitokondria. Pemapasan seluler melalui tiga tahap, yaitu
glikolisis, siklus krebs dan transfer elektron.
Insekta (serangga) bemapas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea.
Udara keluar masuk ke pembuluh trakea melalui lubang - lubang kecil pada eksoskeleton
yang disebut stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu untuk menyaring
debu, serta dapat terbuka dan tertutup karena adanya katup-katup yang gerakanya diatur oleh
otot. Tabung trakea bercabang-cabang kc seluruh tubuh dengan ukuran yang semakin halus.
Cabang terkecil berujung buntu dan berukuran lebih kurang 0,1 milimikron. Cabang ini
disebut trakeolus bedsi udara serta cairan. oksigen larut dalam cairan ini, kemudian berdifusi
ke dalam sel – sel di dekatnya.
Jadi pada insekta oksigen tidak diedarkan melalui darah tetapi melalui trakea. Pada
belalang, keluar masuknya udara ke dalam trakea diatur dengan kontraksi otot perut. ketika
otot kendur , volume perut normal sehingga udara masuk. ketika otot berkontraksi, volume
perut mengecil sehingga udara keluar.
Udara masuk melalui 4 pasang stigma depan da keluar melalui 6 pasang stigma
abdomen. Dengan demikian, udara yang miskin 02 tidak akan bercampur dengan udara segar
( kaya 02) yang masuk.
Reaksi kimia proses respirasi :

C6H1206 + 602 --> 6 C02 + 6H20+Energi

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi di dalam proses respirasi pada hewan,
antara lain :
1. Faktor Dalam 2. Faktor Luar
a. Aktivitas tubuh a. Temperatur
b. Kondisi fisik b. Kadar 02 di dalam udara
c. Jenis kelamin c. Konsetrasi Co2 dalam udara
d. Berat badan d. Kelembapan

Ayat Al-Quran yang menjalaskan tentang Komsumsi Oksigen Pada Hewan


Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini dengan sangat terencana.
Matahari dalam pandangan sains merupakan sumber energi utama untuk mendukung
kehidupan. Manusia mendapatkan energi untuk hidup dari matahari secara tidak langsung
melalui tumbuhan atau hewan lain. Tumbuhan berklorofil menghasilkan makanannya sendiri
melalui proses fotosintesis dengan bantuan energi dari matahari. Energi dari matahari tersebut
disimpan dalam senyawa-senyawa organik yang merupakan sumber makanan bagi makhluk
hidup lain.
Allah SWT berfirman dalam QS.Yasin ayat 79-80:

Artinya:
{79} Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkanya ialah (Allah) yang
menciptakanya pertama kali. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. {80} Yaitu
(Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan
(api) dari kayu itu.”(QS. Yasin: 79-80)1
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki pengetahuan yang Maha Luas
terhadap makhluknya. Di dalam ayat tersebut mengandung kata ”Allah yang menjadikan api
untukmu dari kayu yang hijau”. Kita dapat berpikir bahwa di dalam pohon terdapat suatu zat
yang berwarna hijau yang berperan dalam pertumbuhan pohon tersebut sehingga menghasilkan
kayu. Kemudian dengan kayu yang hijau itu pula maka api dapat menyala. Proses dalam
tumbuhan yang melibatkan zat hijau daun (klorofil) disebut proses fotosintesis. Melalui proses
inilah tumbuhan menghasilkan makananya sendiri untuk keperluan pertumbuhanya, sehingga
dapat dihasilkan ranting-ranting dan dahan yang dapat dijadikan sebagai kayu bakar.
Tanaman fotosintetik menangkap energi surya dalam bentuk ATP dan NADPH yang
dipergunakan sebagai sumber energi untuk membuat karbohidrat dan komponen sel organik
lainya dari karbon dioksida dan air. Bersamaan dengan itu, organisme tersebut membebaskan
oksigen ke dalam atmosfer. Sementara itu makhluk heterotrof aerobik, memperoleh energi
dengan cara mempergunakan oksigen yang dibentuk untuk menguraikan produk senyawa-
senyawa organik berenergi tinggi hasil fotosintesis menjadi CO2 dan H2O. Karbon dioksida
yang dibentuk oleh respirasi pada heterotrof kembali ke atmosfer, untuk digunakan kembali
oleh organisme fotosintetik.
Zat hijau daun memiliki kloroplas yang di dalamnya berlangsung proses fotosintesis
dengan bantuan cahaya matahari yang menghasilkan oksigen. Proses pembakaran tidak akan
berlangsung tanpa adanya oksigen. Sehingga kita dapat berpikir ayat ini secara tersirat
menunjukkan bahwa tumbuhan memerlukan zat hijau (kloroplas) untuk dapat menghasilkan
kayu dan oksigen. Sehingga kita dapat menyalakan api dari kayu tersebut.
Percobaan yang pernah dilakukan oleh Ingen Housz, memperagakan bahwa hanya
bagian-bagian hijau tumbuhan yang melepaskan oksigen selama fotosintesis. Struktur
tumbuhan yang tidak hijau, seperti misalnya batang berkayu, akar, bungan dan buah,
sebenarnya menggunakan oksigen dalam proses respirasi. Hal ini menandakan bahwa
fotosintesis hanya dapat terus berlangsung jika ada pigmen hijau yaitu klorofil. Struktur
molekul klorofil diketahui, yakni merupakan senyawa kompleks yang terdiri atas porfirin yang
sama strukturnya dengan pofirinheme yang membentuk gugus prostetik pada hemoglobin,
mioglobin, dan enzim-enzim sitokrom. Perbedaan-perbedaan utama antara klorofil dan heme
ialah adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di tengah-tengah cincin porfirin dan
rantai samping hidrokarbon yang panjang, yaitu rantai fitol.
Ada dua macam klorofil pada tumbuhan yaitu klorofil a dan klorofil b. Perbedaan kecil
antara struktur kedua klorofil itu tampak pada gambar di atas. Di dalam sel, keduanya terikat
pada protein. Baik klorofik a maupun klorofil b paling kuat menyerap cahaya di bagian merah
dan ungu spektrum sinar. Cahaya hijau yang paling sedikit diserap. Karena itu bila cahaya putih
menyinari struktur-struktur yang mengandung klorofil seperti misalnya daun maka sinar hijau
yang dikirimkan akan dipantulkan, dan hasilnya ialah struktur-struktur tersebut tampak
berwarna hijau.

D. Cara Kerja
1. Hewan Percobaan ditimbang dengan menggunakan timbangan.
2. Kemudian respirometer sederhana yang telah disiapkan diisi dengan kristal KOH yang
telah dibungkus dengan kapas, masukkan hewan percobaan Tutup penutup respirometer
dengan menggunakan vaselin agar tidak ada udara yang masuk, beri eosin pada pipa skala
3. Amati pergerakan eosin pada pipa skala, kemudian hitung pergerakannya sampai waktu
yang telah ditentukan ( setiap 5 menit, dan Iakukan pengulangan sebanyak dua kali ).
4. Hitung konsumsi oksigen pada hewan percobaan yang lain, kemudian bandingkan
konsumsi oksigen dan' setiap hewan yang diamati.

E. Hasil Pengamatan
1. Jangkrik dengan jenis kelamin yang sama tetapi ukuran berbeda (satu kecil dan
satu besar)
Konsumsi O2
Jangkrik Berat
5’ 5’’ 5’’’
Jantan 21,11 gr 0,07 mL 0 mL 0 mL

Jantan 21,07 gr 0,02 mL 0.03 mL 0,24 mL

a. Perhitungan jangkrik jantan 1:


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,07 mL + 0 mL + 0 mL = 0,07 mL
0,07 mL : 3 = 0,023 mL
0,23 mL / 5 menit/ 21,11 gram = 0,0021 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik jantan dengan berat 21,11 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0021 mL/menit/gram.

b. Perhitungan jangkrik jantan 2:


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,02 mL + 0,03 mL + 0,24 mL = 0,29 mL
0,29 mL : 3 = 0,96 mL
0,96 mL / 5 menit/ 21,07 gram = 0,0091 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik jantan dengan berat 21,07 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0091 mL/menit/gram.

2. Jangkrik dengan ukuran tubuh hampir sama tetapi jenis kelamin berbeda

Konsumsi O2
Jangkrik Berat
5’ 5’’ 5’’’
Jantan 21,14 gr 0,1 mL 0,07 mL 0,28 mL

Betina 21,16 gr 0,6 mL 0.3 mL 0,17 mL

a. Perhitungan jangkrik jantan:


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,1 mL + 0,07 mL + 0,28 mL = 0,36 mL
0,36 mL : 3 = 0,12 mL
0,12 mL / 5 menit/ 21,14 gram = 0,0011 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik jantan dengan berat 21,14 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0011 mL/menit/gram

b. Perhitungan jangkrik betina:


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,6 mL + 0,3 mL + 0,17 mL = 1,07 mL
1,07 mL : 3 = 0,356 mL
0,356 mL / 5 menit/ 21,16 gram = 0,0033 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik betina dengan berat 21,16 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0033 mL/menit/gram.

3. Jangkrik berukuran sama dan jenis kelamin sama

Jangkrik Berat Konsumsi O2

5’ 5’’ 5’’’
Betina 21,17 gr 0,04 mL 0,02 mL 0,53 mL

Betina 21,24 gr 0,27 mL 0.25 mL 0,19 mL

a. Perhitungan jangkrik betina 1:


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,04 mL + 0,02 mL + 0,53 mL = 0,95 mL
0,95 mL : 3 = 0,32 mL
0,32 mL / 5 menit/ 21,17 gram = 0,0030 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik betina dengan berat 21,17 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0030 mL/menit/gram.

b. Perhitungan jangkrik betina 2 :


Konsumsi O2 = …… mL / ….. menit / …. Gram
0,27 mL + 0,25 mL + 0,19 mL = 0,71 mL
0,71 mL : 3 = 0,24 mL
0,24 mL / 5 menit/ 21,24 gram = 0,0022 mL/menit/gram.
Jadi, konsumsi O2 pada jangkrik betina dengan berat 21,24 gram dengan menggunakan
respirometer sederhana adalah sebesar 0,0022 mL/menit/gram.

F. PEMBAHASAN
Dalam praktikum kali ini membahas mengenai sistem respirasi pada jangkrik, dimana
praktikum ini bertujuan untuk melihat jumlah komsumsi oksigen dan membandingkannya
antara ketiga kelompok jenis jangkrik yang berebeda. Ketiga kelompok tersebut yakni:
1. Jangkrik dengan jenis kelamin yang sama tetapi ukuran berbeda (satu kecil dan satu
besar).
2. Jangkrik dengan ukuran tubuh hampir sama tetapi jenis kelamin berbeda.
3. Jangkrik berukuran sama dan jenis kelamin sama
Untuk mengetahui komsumsi oksigennya jangkrik-jangkrik tersebut dimasukan kedalam
respirometer sederhana yang didalam nya terdapat Kristal KOH yang telah dibungkus oleh
tisu. Kristal KOH tersebut di gunakan sebagai pengikat CO2 yang dihasilkan dari proses
pertukaran udara yang dilakukan oleh jangkrik. Selain itu menggunakan vaseline untuk
mencegah agar udara tidak keluar masuk pada tabung respirometer yang dimana dengan
mengoleskannya pada celah-celah pertemuan tabung dengan skala. Dan tidak lupa pula
digunakan pula methylene blue sebagai penanda konsumsi oksigen pada pipa skala
respirometer yang perhitungannya tiap 5 menit sekali dalam waktu 15 menit. Keberhasilan
atau eksperimen ini bergantung pada bocor tidaknya alatt respirometer.
1. Jangkrik dengan jenis kelamin yang sama tetapi ukuran berbeda (satu kecil dan satu besar).
Pada percobaan pertama dilakukan pada jenis kelamin yang sama namun berbeda
ukurannya yakni jangkrik jantan dengan ukuran tubuh yakni seberat 21,11 gr dan seberat
21,07 gr. Pada jangkrik jantan dengan ukuran tubuh seberat 21,11 gr dimasukan kedalam
respirometer sederhana, konsumsi oksigen pada 5 menit pertama gerak methylene blue
menunjukan sebesar 0,07 mL, lima menit kedua sebesar 0,00 mL, dan lima menit ketiga
sebesar 0,00 mL. Sedangkan pada jangkrik jantan yang berukuran tubuh seberat 21,07 gr,
setelah dimasukan kedalam respirometer sederhana, konsumsi oksigen pada lima menit
pertama sebanyak 0,02 ml, pada lima menit kedua konsumsi oksigen sebanyak 0,03 ml
dan pada lima menit terakhir komsumsi oksigen sebanyak 0,24 ml.
Setelah dihitung rata-rata konsumsi oksigenya pada jangkrik yang berukuran 21,11
gr sebesar 0,0021 mL/menit/gram, sedangkan pada jangkrik yang berukuran 21,07 gr
setelah dihitung rata-rata konsumsi oksigennya sebesar 0,0091 mL/menit/gram. Menurut
literature semakin besar massa suatu organisme maka semakin besar pula konsumsi
oksigennya. Tetapi pada percobaan kelompok kami jangkrik yang berukuran kecil lah
yang lebih besar komsumsi oksigen nya dari pada jangkrik jantan yang berukuran besar.
Hal tersebut di duga karena ada beberapa factor diantaranya yakni bahwa pada jangkrik
jantan berukuran kecil melakukan pergerakan yang aktif sehingga oksiden semakin banyak
dibutuhkan dan laju pergerakanmetilen blue juga semakin cepat, selain itu mungkin dalam
hal ini ialah mengenai tidak rapatnya praktikan dalam mengoleskan vaselin pada celah
tabung respirometer sehingga ada sebagian udara yang keluar atau juga dikarenakan
respirometer sederhana yan digunakan memang masih terdapat air sehingga
pergerakan/pergeseran methylene blue nya menjadi terhambat.

2. Jangkrik dengan ukuran tubuh hampir sama tetapi jenis kelamin berbeda.
Pada jangkrik jantan dengan berat 21,14 gr setelah dimasukan kedalam respirometer
sederhana, pergeseran methilen blue menunjukan konsumsi oksigen pada lima menit
pertama sebesar 0,1 ml, pada lima menit kedua sebesar 0,07 ml, dan pada lima menit ketiga
sebesar 0,28 ml. Sedangkan pada jangkrik betina dengan berat 21,16 gr setelah dimasukan
kedalam respirometer sederhana pergeseran methilen blue menunjukan konsumsi oksigen
pada lima menit pertama sebesar 0,6 ml, pada lima menit kedua sebesar 0,3 ml dan pada
lima menit ketiga sebesar 0,17 ml.
Setelah dilakukan perhitunganm, bahwa rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik
jantan yang berukuran 21,14 yakni sebesar 0,0011 mL/menit/gram sedangkan pada jankrik
betina dengan ukuran 21,16 gr rata-rata konsumsi oksigenya sebesar 0,0033
mL/menit/gram. Terjadi perbedaan konsumsi oksigen antara keduanya dimana jangkrik
betina lebih besar konsumsi oksigennya dari pada jangkrik jantan. Berdasarkan literature,
bahwa jangkrik betina mengkonsumsi O2 lebih banyak dari jangkrik jantan karena
jangkrik betina memiliki system hormonal yang lebih kompleks dibanding jantan. Sistem
hormonal tersebut dimungkinkan untuk proses perkembang biakan pada serangga.
Serangga menghasilkan hormone otak, hormone Edison, dan hormone juvenile yang
berperan dalam metamorphosis. Dan juga dilihat pada ukuran nya pun lebih besar jangkrik
betina dari pada jangkrik jantan sehingga konsumsi oksigen lebih besar/banyak
dibandingkan pada jangkrik jantan.

3. Jangkrik berukuran sama dan jenis kelamin sama.


Pada jangkrik betina dengan ukuran 21,17 gr setelah dimasukan kedalam respirometer
sederhana, pergeseran methilen blue menunjukan konsumsi oksigen pada lima menit
pertama yakni sebesar 0,04 ml, pada lima menit kedua sebesar 0,02 ml dan pada lima menit
ketiga sebesar 0,53 ml. Sedangkan pada jangkrik betina dengan ukuran seberat 21,24 gr
pada lima menit pertama menunjukan komsumsi oksigen sebesar 0,27 ml, pada lima menit
kedua sebesar 0,25 ml serta pada lima menit ketiga sebesar 0,19 ml.
Setelah dilakukan perhitungan bahwa rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik betina
yang berukuran 21,17 gr sebesar 0,0030 mL/menit/gram sedangkan pada jangkrik betina
yang berukuran 21,24 rata-rata konsumsi oksigen nya sebesar 0,0022 mL/menit/gram.
Adanya perbedaan konsumsi oksigen tersebut di duga karena adanya perbedaan keaktifan
yang dilakukan oleh kedua jangkrik tersebut sehingga kadar oksigen dan karbondioksida
dalam respirometer tersebut berbeda-beda. Yang dimana jangkrik yg ukurannya lebih kecil
sedikit daripada jangkrik yang satunya lagi lebih aktif bergerak sehingga proses
pernafasannnya lebih cepat, sehingga ketika karbondioksida dikeluarkan lalu diikat maka
terjadi penyusutan udara, seberapa cepat penyusutan udara dapat dilihat dari
pergerakan/pergeseran larutan metilen blue pada pipa skala.

G. KESIMPULAN
1. Banyaknya konsumsi oksigen pada belalang
a. Jangkrik dengan jenis kelamin yang sama tetapi ukuran berbeda (satu kecil dan satu
besar).
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, setelah dihitung rata-rata
konsumsi oksigenya pada jangkrik jantan yang berukuran 21,11 gr sebesar 0,0022
mL/menit/gram, sedangkan pada jangkrik jantan yang berukuran 21,07 gr sebesar
0,0024 mL/menit/gram. Konsumsi oksigen pada jangkrik jantan yang berukuran kecil
lah yang lebih besar komsumsi oksigen nya dari pada jangkrik jantan yang berukuran
besar.
b. Jangkrik dengan ukuran tubuh hampir sama tetapi jenis kelamin berbeda.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, bahwa rata-rata konsumsi
oksigen pada jangkrik jantan yang berukuran 21,14 yakni sebesar 0,0014
mL/menit/gram sedangkan pada jangkrik betina dengan ukuran 21,16 gr sebesar
0,0034 mL/menit/gram. Terjadi perbedaan konsumsi oksigen antara keduanya dimana
jangkrik betina lebih besar konsumsi oksigennya dari pada jangkrik jantan. Hal ini
dikarenakan bahwa jangkrik betina mengkonsumsi O2 lebih banyak dari jangkrik
jantan karena jangkrik betina memiliki system hormonal yang lebih kompleks
dibanding jantan.
c. Jangkrik berukuran sama dan jenis kelamin sama.
Berdasarkan pengamatan yang telah dillakukan, setelah dilakukan perhitungan
bahwa rata-rata konsumsi oksigen pada jangkrik betina yang berukuran 21,17 gr
sebesar 0,0030 mL/menit/gram sedangkan pada jangkrik betina yang berukuran 21,24
sebesar 0,0022 mL/menit/gram. Adanya perbedaan konsumsi oksigen tersebut di duga
karena adanya perbedaan keaktifan yang dilakukan oleh kedua jangkrik tersebut
sehingga kadar oksigen dan karbondioksida dalam respirometer tersebut berbeda-
beda. Yang dimana jangkrik yg ukurannya lebih kecil sedikit daripada jangkrik yang
satunya lagi lebih aktif bergerak sehingga proses pernafasannnya lebih cepat.

2. Faktor – faktor yang mempengaruhi respirasi


a. Jenis kelamin, betina lebih banyak melakukan respirasi dibandingan jantan, karena
betina memiliki sistem hormon yang kompleks.
b. Berat tubuh, berat tubuh yang lebih besar lebih banyak melakukan respirasi
dibandingkan berat tubuh yang kecil.
c. Aktivitas, semakin banyak aktivitas yang dikeluarkan semakin banyak respirasi yang
dibutuhkan oleh makhluk hidup.

3. Hubungan anatara kecepatan respirasi pada hewan dengan kecepatan metabolismenya


Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses
ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen (Tobin,
2005). Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen
yang dikonsumsi mahluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi
dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk
menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya juga. akan tetapi, laju metabolisme
biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen (Tobin, 2005)
DAFTAR PUSTKA

Albert L. Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Hlm 349.

Anonym, 2015. Kebenaran Al-Quran Nisa. Diakses pada http://dru-


creation.blogspot.com/2012/03/kebenaran-al-quran-nisa-56-tentang.html.diakses pada
hari kamis,17- Januari-2019. Pada tanggal 13 Januari 2019 Pukul 18.07 WIB

Annonym, 2016. Respirasi Pada Hewan. Diakses pada:


https://abisjatuhbangunlagi.wordpress.com/tag/respirasi-pada-hewan/ pada tanggal 13
Januari 2018

Dr. Ahmad Hatta, MA. 2009. Tafsir Qur’an Per Kata Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul &
Terjemah. Jakarta: Maghfirah Pustaka. Hlm 445.

John W. Kimbal. 1983. Biologi Umum Jilid 1 Edisi 5. Jakarta: Erlangga. Hlm 173-175.Ibid,
hlm 173-175.