Anda di halaman 1dari 1

Ketika diskusi terbuka pada hari pertama Deep and Extreme 2015 di lobi Cendrawasih, JCC, Jakarta

(30/4), Direktur Pengembangan Wisata MICE dan Minat Khusus Kementerian Pariwisata Achyaruddin
mengatakan, peraturan menteri (Permen) mengenai penawaran investasi, bagaimana tata cara
pengelolaan pulau-pulau kecil dan pesisir telah diterbitkan. Permen itu sudah mulai dijalankan,
Kemenpar dan KKP berkolaborasi dalam pelaksanaannya. Koridor berinvestasi di pulau-pulau kecil dan
pesisir adalah community based development.

“Kita bukan ingin bangunan yang hebat tetapi nuansa/suasana yang hebat. Tidak ada di pulau-pulau kecil
itu nanti menjadi seperti di Hawaii. Kita tidak mengarah ke sana. Sudah ditetapkan, di kawasan-kawasan
itu hanya ada 10% sampai 15% untuk bangunan fisik, sisanya lingkungan yang harus dipertahankan. Kita
juga sudah buat semacam proposal investasi untuk tempat-tempat tertentu dan menginformasikannya
keluar negeri melalui forum-forum seminar dan pameran-pameran besar. Di dalam proposal itu juga
dijelaskan bagaimana berinvestasi dan syarat-syaratnya sesuai dengan konsep yang hendak dibangun
Indonesia,” Achyaruddin menjelaskan.

Menurut Christian Fenie, kita juga perlu mengadakan dan mengembangkan sekolah-sekolah pariwisata
maritim. Bentuknya bukan sekolah formal tetapi dapat mengajarkan ilmu dan keterampilan yang
dibutuhkan di banyak daerah misalnya sekolah/kursus menyelam, manajemen ekowisata dan lain-lain.

“Pendidikan mesti diberikan semaksimal mungkin. Di sekolah jelas, tetapi juga di bidang pariwisata.
Seperti yang saya bilang tadi, aneh kan kita ini negara maritim tapi tidak punya sekolah pariwisata
maritim. Secara nasional, pendidikan khusus pariwisata penting agar pekerjaan yang ada di dalam
industri pariwisata diisi oleh orang-orang Indonesia. Ilmu-ilmu itu bisa dipelajari dengan cepat. Jadi diver
misalnya, itu bisa dilakukan dalam waktu dua bulan. Contoh, di Komodo hanya ada 4 orang Manggarai
Barat yang mempunyai ijazah sebagai dive master,” ujarnya.

Ecotourism, salah satu alternatif dan kesempatan emas bagi Indonesia. Pertumbuhan wisatawan
ekowisata (ecotourist) secara global naik 10% dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan wisatawan
umum 2 sampai 3 persen. Agar kesempatan dan peluang baik ini tidak terlewat, maka mulai dari
pemerintah pusat sampai pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota mesti memberikan
pengarahan kepada masyarakat. Dengan mengembangkan ekowisata, pasti akan mendapat untung yang
langsung membawa uang. Efek sampingnya juga menguntungkan, masyarakat/komunitas lokal akan
melindungi tata ruang wilayahnya sekaligus menjaga taman-taman lautnya. *** (Yun Damayanti)
Berkembangnya ekowisata di Indonesia tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Selain memiliki
keindahan alam yang ditawarkan, wisata bahari turut mengundang datangnya para wisatawan
nasional maupun mancanegara. Namun, tak banyak yang menyadari kepemilikan usaha di bidang
wisata bahari banyak dimiliki oleh pihak asing. “Tahun 98 itu 100 persen perusahaan Indonesia,
sekarang 80 persen perusahaan asing,” ungkap konsultan wisata bahari, Christian Fenie, di Jakarta,
Kamis (30/4/2015). Dari hasil penelitian yang sedang dia garap, Fenie menemukan realita bahwa
orang lokal terlihat lebih susah dan tidak berdaya sementara perusahaan asing kian menjamur.
Mayoritas perusahaan besar dimiliki pihak asing. Sementara, masyarakat lokal cenderung memiliki
perusahaan-perusahaan kecil. “Mungkin ini semacam persaingan, tapi kita tidak punya senjata yang
sama. Dari pendidikan, tentu mereka (asing) menang,” lanjut Fenie. Minimnya pendidikan diakui
Fenie juga mempengaruhi kebiasaan masyarakat lokal untuk menjual tanah. Menurut dia tak sedikit
masyarakat yang terpancing untuk menjual tanah dan bisa jadi menyebabkan eksodus di wilayah
mereka. Padahal, sejak kedatangannya ke Indonesia 35 tahun silam, Fenie sudah berpesan pada
pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestarian alam. “Jaga kebersihan, selamatkan laut kita,
siapkan SDM pariwisata, buka sekolah marine tourism, dan juga perhatikan masyarakat lokal,”
ungkapnya. Selain meningkatkan pendidikan, perlu juga diadakan pengarahan kepada masyarakat
mengenai hal ini. Sebab, adanya pengarahan dan pendidikan bisa jadi menumbuhkan rasa memiliki
bagi masyarakat lokal dan membuat mereka melindungi wilayah mereka sendiri. Selain itu, adanya
ekowisata juga bisa membantu perkembangan wisata bahari Indonesia. “Ecotourism secara
internasional naiknya paling cepat, pariwisata biasa naik 2-3 persen, ecotourism naik sampai 10
persen, kita mesti ambil jalan ke situ,” pungkas Fenie.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pengembangan Wisata Bahari Dikuasai Asing,
Mana Orang
Lokal?", https://travel.kompas.com/read/2015/05/02/132900627/Pengembangan.Wisata.Bahari.Diku
asai.Asing.Mana.Orang.Lokal..
Penulis : Mentari Chairunisa