Anda di halaman 1dari 18

SATUAN ACARA PENYULUHAN

A. Topik : Triad KRR


B. Subtopik : 1. Konsep Triad KRR
2. Peran orang tua triad KRR
3. Kebersihan diri remaja
4. Keterampilan hidup
5. Komunikasi efektif remaja
C. Penyuluhan : Mahasiswi Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Bengkulu
D. Waktu : 40 menit
E. Hari/Tanggal : Selasa, 13 November 2018
F. Tempat : SMP Negeri 3 Kota Bengkulu
G. Sasaran : Remaja/Pelajar
H. Tujuan :
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan penyuluhan selama 40 menit
sasaran dapat diharapkan mampu memahami tentang
Triad KRR.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 40 menit
sasaran mampu:
a. Sasaran mampu memahami apa yang dimaksud
dengan triad KRR
b. Sasaran mampu memahami apa yang dimaksud
Peran orang tua triad KRR
c. Sasaran mampu memahami Kebersihan diri remaja
d. Sasaran mampu memahami Keterampilan hidup
e. Sasaran mampu memahami Komunikasi efektif
remaja
I. Materi : 1. Konsep Triad KRR
2. Peran orang tua triad KRR
3. Kebersihan diri remaja
4. Keterampilan hidup
5. Komunikasi efektif remaja
J. Metode : Penjelasan leaflet, presentasi ppt dan diskusi
K. Media : leaflet, laptop, ppt
L. Kegiatan Penyuluhan :
Tahap Kegiatan
Waktu
kegiatan Penyuluh Sasaran
3 menit Pembukaan 1. Membuka acara 1. Membalas salam
dengan 2. Mendengarkan dan
mengucapkan salam menyimak penyuluh
dan perkenalan 3. Menyetujui
2. Menyampaikan kesepakatan waktu
topik dan tujuan penyelenggaraan
penkes kepada penkes
sasaran
3. Kontrak waktu
untuk
penyelenggaraan
penkes dengan
sasaran
20 Menyampaikan Menjelaksan materi Mendengarkan penyuluh
menit kepada sasaran menyampaikan materi
10 Tanya jawab Memeberikan Menanyakan hal-hal yang
menit kesempatan kepada tidak dimengerti dari
sasaran untuk materi yang disampaikan
menanyakan hal-hal oleh penyuluh.
yang belum dimengerti
dari materi yang di
jelaskan oleh penyuluh
3 menit Evaluasi Memberikan pertanyaan Menjawab pertanyaan
kepada sasaran tentang yang di sampaikan
materi yang telah penyuluh
dismpaikan oleh
penyuluh
3 menit Kesimpulan Menyimpulkan materi Mendengarkan
penyuluhan yang sudah penyampain kesimpulan
di sampaikan kepada yang diberikan penyuluh
sasaran kepada sasaran
2 menit Penutup 1. Menutup acara 1. Mendengarkan
2. Mengucapkan salam penyampaian pentupan
kepada sasaran yang di sampaikan
penyuluh
2. Membalas salam

M. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Menyiapkan SAP
b. Menyiapkan materi dan media
c. Kontrak waktu dengan sasaran
d. Menyiapkan tempat
e. Menyiapkan pertanyaan
2. Evaluasi Proses
a. 100% siswa hadir
b. Media dapat digunakan dengan baik
c. Pendidikan kesehatan dapat dilaksanakan sesuai waktu
d. Pasien yang hadir berpartisipasi aktif
e. 100% siswa dapat mengikuti sampai selesai
3. Evaluasi Hasil
a. Jelaskan konsep Triad KRR
b. Sebutkan peran orang tua triad KRR
c. Jelaskan kebersihan diri remaja
d. Sebutkan keterampilan hidup
e. Sebutkan komunikasi efektif remaja

N. Lampiran Materi
Materi dalam penyuluhan TRIAD KRR
MATERI PENYULUHAN

A. Konsep TRIAD KRR


Triad KRR adalah program dari Pusat Informasi dan Konseling
Remaja atau yang disingkat PIK Remaja ini terfokus pada permasalahan-
permasalahan yang sering terjadi pada remaja yaitu Seks Bebas/
Kehamilan yang tidak diinginkan, Pemakaian Narkotika dan terinfeksi
virus HIV/AIDS. untuk itu perlu adanya informasi yang memadai tentang
Seks Bebas, Napza dan HIV/AIDS.
1. Seks Bebas
Seks Bebas memiliki beberapa dampak buruk bagi kalangan
remaja, Ada dua dampak yang ditimbulkan dari perilaku seks di
kalangan remaja yaitu kehamilan dan penyakit menular
seksual. Seperti kita ketahui bahwa banyak dampak buruk dari seks
bebas dan cenderung bersifat negatif seperti halnya, kumpul kebo, seks
bebas dapat berakibat fatal bagi kesehatan kita. Tidak kurang dari
belasan ribu remaja yang sudah terjerumus dalam seks bebas. Para
remaja seks bebas cenderung akibat kurang ekonomi. Seks bebas
dapat terjadi karena pengaruh dari lingkungan luar dan salah pilihnya
seseorang terhadap lingkungan tempatnya bergaul. Seks bebas sangat
berdampak buruk bagi para remaja, dampak dari seks bebas adalah
hamil di luar nikah, aborsi, dapat mencorengkan nama baik orang tua,
diri sendiri, guru serta nama baik sekolah. Padahal seks bebas bukanlah
segalanya, dimana mereka hanya mendapat kenikmatan semata, sedang
mereka tidak memikirkan akibat yang harus mereka tanggung seumur
hidup. Hal ini jelas sangat berbahaya bagi remaja yang terjerumus di
dalam seks bebas. Bayangkan saja jika seluruh remaja ada di Indonesia
terjerumus dalam seks bebas, apa jadinya nasib bangsa kita ini jika
remaja yang ada tidak memiliki kemampuan berfikir dan fisik yang
baik, tentunya pembangunan tidak akan berjalan dengan sebagaimana
mestinya.
2. NAPZA
Narkoba merupakan singkatan dari (Narkotika, Psikotropika
dan Bahan Adiktif lainnya). Terminologi narkoba familiar digunakan
oleh aparat penegak hukum seperti polisi (termasuk didalamnya Badan
Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain
narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah
Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif. Istilah napza
biasanya lebih banyak dipakai oleh para praktisi kesehatan dan
rehabilitasi. Akan tetapi pada intinya pemaknaan dari kedua istilah
tersebut tetap merujuk pada tiga jenis zat yang sama.
Menurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan
pengertian dari: Narkotika adalah “zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang
dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan”.
Psikotropika adalah “zat atau obat, baik alamiah maupun
sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktivitas mental dan perilaku”.
Bahan adiktif lainnya adalah “zat atau bahan lain bukan
narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak dan
dapat menimbulkan ketergantungan”. Meskipun demikian, penting
kiranya diketahui bahwa tidak semua jenis narkotika dan psikotropika
dilarang penggunaannya. Karena cukup banyak pula narkotika dan
psikotropika yang memiliki manfaat besar di bidang kedokteran dan
untuk kepentingan pengembangan pengetahuan.

3. HIV/AIDS
Virus HIV dikenal secara terpisah oleh para peneliti di Institut
Pasteur Perancis pada tahun 1983 dan NIH yaitu sebuah institut
kesehatan nasional di Amerika Serikat pada tahun 1984. Meskipun tim
dari Institute Pasteur Perancis yang dipimpin oleh Dr. Luc Montagnie,
yang pertama kali mengumumkan penemuan ini di awal tahun 1983
namun penghargaan untuk penemuan virus ini tetap diberikan kepada
para peneliti baik yang berasal dari Perancis maupun Amerika. Peneliti
Perancis memberi nama virus ini LAV atau lymphadenopathy
associated virus. Tim dari Amerika yang dipimpin Dr. Robert Gallo
menyebut virus ini HTLV-3 atau human T-cell lymphotropic virus
type-3. Kemudian Komite Internasional untuk Taksonomi Virus
memutuskan untuk menetapkan nama human immunodeficiency virus
(HIV) sebagai nama yang dikenal sampai sekarang makapara peneliti
tersebut juga sepakat untuk menggunakan istilah HIV. Sesuai dengan
namanya, virus ini “memakan” imunitas tubuh.
Penyakit ini kadang disebut “infeksi oportunistik”, karena
penyakit ini menyerang dengan cara memanfaatkan kesempatan ketika
kekebalan tubuh menurun sehingga kanker dan infeksi oportunistik
inilah yang dapat menyebabkan kematian. Biasanya penyakit ini baru
muncul dua sampai tiga tahun setelah penderita didiagnosis mengidap
AIDS. Orang yang mengidap KS mempunyai kesempatan hidup lebih
lama dibandingkan orang yang terkena infeksi oportunistik. Akan
tetapi belum ada seorang pun yang diketahui benar-benar sembuh dari
AIDS. Seseorang yang telah terinfeksi HIV belum tentu terlihat sakit.
Secara fisik dia akan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV.
Apakah seseorang sudah tertular HIV atau tidak hanya bisa diketahui
melalui tes darah. Oleh karena itu 90% dari pengidap AIDS tidak
menyadari bahwa mereka telah tertular virus AIDS, yaitu HIV karena
masa inkubasi penyakit ini termasuk lama dan itulah sebabnya
mengapa penyakit ini sangat cepat tertular dari satu orang ke orang
lain. Masa inkubasi adalah periode atau masa dari saat penyebab
penyakit masuk ke dalam tubuh (saat penularan) sampai timbulnya
penyakit.Penularan HIV/AIDS melalui
1. Hubungan seks dengan seorang ODHA
2. Hubungan seks (homo/hetero seksual)
3. Hubungan seks berganti-ganti pasangan tanpa kondom
4. Menggunakan satu jarum suntik secara bergantian atau menggunakan
jarum bekas
5. Wanita ODHA melalui kelahiran
6. Wanita ODHA melalui Air Susu Ibu. (Virus HIV hidup dan
berkembang biak di dalam Darah,Cairan Sperma,Cairan Vagina dan ASI)

B. Peran Orang tua TRIAD KRR


Triad KRR ”. adalah resiko yang muncul dari perkembangan
tentang seksual dan seksualitas dimana didalamnya termasuk kehamilan
yang tidak diinginkan dan pubertas; dari NAPZA atau narkoba; dari
Infeksi menular seksual serta HIV/AIDS.
Pengetahuan yang kurang mengenai pentingnya menghindari
resiko triad KRR ini merupakan pangkal dari merebaknya pengguna
narkoba, meningkatnya penderita HIV dan AIDS, serta meningkatnya
jumlah kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, IMS serta perilaku buruk
lainnya ini semua dapat menjadi sumber kejahatan dan kriminalitas di
segala lingkungan.
Triad KRR ini dapat berdampak kepada siapa saja dengan usia
berapapun, tetapi yang paling mengkhawatirkan tentu dampak buruk
terhadap generasi muda yang notabene merupakan asset dan penerus
bangsa.
Saat ini Narkoba, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, HIV dan
AIDS, sepertinya sudah bukan hal yang menakutkan dan tabu lagi bagi
sebagian masyarakat, mereka banyak yang beranggapan bahwa itu adalah
hal yang biasa, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan, meskipun
program-program untuk mengatasi dan menanggulangi masalah ini sudah
cukup banyak, namun kepedulian masyarakat sepertinya belum signifikan.
dan kondisi seperti ini bahkan sudah menjadi issu nasional, dan menjadi
issu global.
Dalam upaya memberikan informasi dan pengetahuan tentang
resiko Triad KRR khususnya kepada para remaja, Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana (BKKBN) telah membuat Pusat–pusat Informasi
dan Konseling Remaja (PIK Remaja) baik itu berada di lingkungan
sekolah, di lingkungan Perguruan Tinggi atau di Akademi, LSM
kepemudaan dan juga di Organisasi ke agamaan, selain itu kepada
keluarga yang memiliki remaja informasi dan penyuluhan juga
disampaikan melalui kelompok-kelompok BKR. Meskipun itu semua
belum dapat mencakup seluruh jumlah sasaran yang harus mendapatkan
informasi. namun upaya ini tentu sudah sangat memberikan kontribusi
positif terhadap perkembangan generasi muda.
Dari berbagai program yang telah ada baik itu program dari
pemerintah maupun dari komponen masyarakat lainnya, tentu akan
bermanfaat secara signifikan apabila penerimaan masyarakat tentang
pentingnya program tersebut hanya berbentuk formal seremonial tanpa
pemahaman dan penghayatan melalui hati nurani, sebab kunci utama
untuk menghindari dampak buruknya Triad KRR itu sebetulnya berada di
dalam hati nurani setiap anggota masyarakat itu sendiri , yang dapat
dibentuk dan dimunculkan melalui wahana sebuah keluarga.
Ada sebuah pameo yang sesuai dengan kondisi keluarga yang
dapat memenuhi harapan tersebut yaitu bahwa ” Rumahku adalah
Sorgaku”. Meskipun kelihatannya sederhana tapi pameo ini sebetulnya
mempunyai makna yang dalam yaitu bahwa rumah dan keluarga itu
merupakan wahana yang utama untuk mendapatkan kedamaian,
ketenangan, kenyamanan, kebahagiaan dan lain sebagainya yang
membuat penghuni rumah tersebut selalu merasa rumah adalah tempat
yang terbaik untuknya, sehingga akan selalu muncul kerinduan untuk
selalu kembali ke lingkungan keluarga, dan kondisi inilah biasanya yang
akan mejadi senjata ampuh untuk melawan segala pengaruh buruk yang
datang pada setiap anggota keluarga, khususnya dampak buruk yang
berasal dari triad KRR.
Untuk menciptakan kondisi tersebut tentu bukan hal yang mudah,
apabila anggota keluarga yang ada didalamnya tidak mempunyai
komitmen bersama untuk mewujudkannya.
Komitmen ini tentu akan tercipta bila keluarga tersebut selalu
mempunyai cara pandang, pola pikir yang sama dan seimbang dalam
menentukan tehnik, strategi dan langkah yang tepat dalam mengelola satu
organisasi kecil yaitu keluarga, dan prasyarat utamanya adalah dengan
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sama tentang dapak buruk
triad KRR pada kehidupan manusia.
Dalam mewujudkan komitmen tersebut orang tua tentu mempunyai
peran yang lebih dari pada keluarga lainnya, untuk itu ada cara yang
mungkin dapat digunakan :
a. Orang tua harus membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk
menjadi panutan dan peneladanan bagi anak-anak dan keluargnya.
b. Orang tua harus memiliki pengetahuan yang luas tentang hal-hal yang
berdampak buruk terhadap keluarganya.
c. Orang tua harus mempunyai kekuatan agar dapat menjadi pengayom
untuk melindungi keluarganya
d. Orang tua harus berfikir rasional dengan kondisi yang pasti dihadapi
oleh anggota keluarga
e. Orang tua harus mengenal dan memahami perubahan yang terjadi pada
anak dan anggota keluargnya.
f. Orang tua harus peka terhadap hal-hal yang muncul di lingungan
keluarga dan mempunyai ketrampilan untuk segera menstabilkan
kembali kondisi keluarganya
g. Orang tua harus mempunyai prinsip dan tujuan yang jelas dalam
membawa biduk rumahtangga dan keluarganya.
h. Orang Tua sebaiknya mampu membekali berbagai pengetahuan dan
pemahaman kepada anaknya ketika mereka melalui masa transisinya.
C. Kebersihan Diri Remaja
a. Pengertian
Suatu upaya untuk memelihara kebersihan tubuh dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Komponen Kebersihan Diri :
1) Kebersiahan rambut dan kulit kepala
2) Kebersihan mata, telinga, dan hidung
3) Kebersihan gigi dan mulut
4) Kebersihan badan
5) Kebersihan kuku tangan dan kai
6) Kebersihan pakaian
b. Pentingnya Kebersihan Diri
Kebersihan diri merupakan langkah awal memwujudkan
kesehatan diri. Dengan tubuh yang bersih meminimalkan resiko
sesorang terhadap kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit, terutama
penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang buruk.
Tanda-tanda seseorang kurang perawatan diri :
1) Penampilan dekil/kumal dan tidak rapih
2) Badan bau
3) Rambut kumal, kotpor dan banyak kutu
4) Kuku panjang dan kotor Kadang tubuh dipenuhi penyakit kulit
(jamur, koreng, borok, dll)
Kerugian akibat tubuh yang kotor, Hal yang dapat muncul bila
seseorang kurang menjaga kebersihan diri, di antaranya:
1) Badan gatal-gatal dan tubuh lebih mudah terkena penyakit,
terutama penyakit kulit.
2) Rambut dipenuhi kutu/ketombe
3) Penampilan tidak rapih dan bau badan tidak sedap, dijauhi orang.
4) Sumber penyakit
c. Cara Menjaga dan Memelihara Kesehatan Pribadi
Kesehatan merupakan hal yang paling utama dalam hidup kita,
karena tanpa kesehatan, kita tidak akan bisa menikmati hidup. Usaha
kesehatan pribadi (personal hygiene) adalah segala usaha dan tindakan
seseorang untuk menjaga, memelihara, dan meningkatkan derajat
kesehatannya sendiri dalam batas-batas kemampuannya, agar
mendapatkan kesenangan hidup dan mempunyai tenaga kerja yang
sebaik-baiknya.
Berikut ini beberapa upaya untuk menjaga dan memeliharan
kesehatan, terutama kesehatan pribadi :
1) Memelihara Kebersihan Diri
2) Memilih Makanan yang Sehat
3) Perbanyaklah mengonsumsi makanan sehat seperti buah dan
sayuran.
4) Istirahat dan Tidur
5) OLahraga/Latihan Fisik secara Teratur
6) Perbanyak Konsumsi Air Putih
7) Menghindari Terjadinya Penyakit
8) Melakukan Pemeriksaan Kesehatan
9) Keterampilan Hidup

D. Keterampilan Hidup ( Life Skill )


Berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat berperilaku
positif dan beradaptasi dengan lingkungan, yang memungkinkan seseorang
mampu menghadapi berbagai tuntutan dan tantangan dalam hidupnya
sehari-hari secara efektif.
Keterampilan Hidup ( Life Skill ) terbagi atas :
a. Keterampilan Fisik (Physical Skills)
b. Keterampilan Mental (Mental Skills)
c. Keterampilan Emosional (Emotional Skills)
d. Keterampilan Spiritual (Spiritual Skills)
e. Keterampilan Kejuruan (Vocational Skills)
f. Keterampilan Menghadapi Kesulitan (Adversity Skills)

1. Keterampilan Fisik (Physical Skills)


Keterampilan Fisik (Physical Skills) terbagi atas :
1) Keterampilan memahami tubuh sendirI
2) Keterampilan berkomunikasi dengan tubuh sendiri
3) Keterampilan mengatur pola makan
4) Olah raga murah dan sehat
5) Keterampilan mengelola tidur untuk terapi kesehatan

2. Keterampilan Mental (Mental Skills)


Keterampilan Mental (Mental Skills) Terdiri atas :
1) Keterampilan mempercayai dan menghargai diri
2) Keterampilan berpikir positif
3) Keterampilan mengatasi stres
4) Keterampilan mengambil keputusan dan memecahkan masalah

3. Keterampilan Emosional
1) Keterampilan bersikap tegas (Asertif)
Asertif adalah sebuah sikap atau perilaku untuk mengekspresikan diri
secara tegas kepada pihak lain tanpa harus menyakiti pihak lain
ataupun merendahkan diri di hadapan pihak lain
2) Keterampilan berkomunikasi dengan orang lain (Komunikasi
Interpersonal)
Keterampilan Komunikasi Interpersonal Komunikasi adalah suatu
proses penyampaian pikiran dan perasaan melalui bahasa,
pembicaraan,pendengaran, gerakan tubuh atau ungkapan emosi oleh
seseorang kepada orang lain disekitarnya.
3) Keterampilan Emosional (asertif)
4. Keterampilan Spiritual
1) Keterampilan Memahami Kehidupan Spiritual
2) Keterampilan Menyadari Kehidupan Spiritual
3) Keterampilan Melaksanakan Kehidupan Spiritual

5. Keterampilan Kejuruan (Vocational Skills)


Kemampuan atau keterampilan khusus (kejuruan) yang dimiliki
oleh remaja dalam bidang non akademik.Kemampuan remaja dalam
berwirausaha sesuai dengan bakat dan minatnya untuk dapat menghasilkan
uang tambahan (pemberdayaan ekonomi remaja) sehingga remaja mampu
hidup dan bekerja secara mandiri.

6. Keterampilan Menghadapi Kesulitan ( Adversity Skills )


1) Memberitahu seberapa jauh kita mampu bertahan menghadapi
kesulitan
2) Meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang
akan hancur
3) Meramalkan siapa yang akan melampai harapan-harapan atas kinerja
daat potensi mereka serta siapa yang akan gagal
4) Meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan

E. Keterampilan Efektif Orang Tua


Komunikasi adalah proses penyampaian atau pertukaran informasi
(pesan, ide, gagasan) dari satu pihak ke pihak lain baik secara verbal
maupun non verbal. Komunikasi secara verbal berupa kata-kata yang
disampaikan, sementara non verbal contohnya adalah kerutan dahi yang
dapat membuat orang lain mengetahui bahwa ia sedang marah.
Dalam komunikasi tidak hanya terjadi pertukaran informasi saja
namun juga terjadinya kesepahaman antar kedua belah pihak. Hal inilah
yang dinamakan komunikasi efektif. Komunikasi efektif berarti bahwa
komunikator (sender) dan komunikan (receiver) sama-sama memiliki
pengertian yang sama tentang suatu pesan. Komunikasi dikatakan efektif
jika pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim
pesan, ada perbuatan timbal balik yang dilakukan secara sukarela oleh
penerima pesan, dan dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi
dan tidak ada hambatan
Komunikasi efektif merupakan hal yang penting dan kompleks
bagi semua pihak. Begitu pula dalam hubungan orang tua dengan anak.
Penting bagi orang tua untuk menciptakan komunikasi terbuka dan efektif
dengan anak demi terciptanya hubungan yang baik.
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya komunikasi
efektif antara orang tua dan anak, antara lain anak dapat belajar bagaimana
berkomunikasi efektif karena melihat yang orang tua mereka lakukan.
Dengan komunikasi efektif, anak pun merasa didengarkan dan dipahami
sehingga dapat menumbuhkan penilaian positif dan penghargaan terhadap
anak itu sendiri. Hal ini tentunya dapat menumbuhkan kepercayaan dalam
diri anak. Sebaliknya komunikasi yang tidak efektif akan menciptakan
perasaan tidak berharga atau tidak penting dan tidak dipahami. Anak-anak
pun dapat melihat orang tua mereka sebagai sosok yang tidak dapat
membantu dan dipercaya.
Dalam komunikasi efektif, terdapat keterampilan utama yang harus
dimiliki yaitu keterampilan mendengarkan dan memahami dengan baik,
untuk kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang saling memiliki
keterkaitan dan mengarah pada suatu solusi atau ketenangan masing-
masing pihak. Sehingga tujuan yang ingin yang diraih dari komunikasi
efektif adalah solusi, bukan saling menyalahkan.
Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan demi tercapainya
komunikasi efektif dengan anak:
a) Listen in the way you like to be listened.
Orang tua diharapkan menjadi role model bagi anak dalam hal
mendengarkan ketika anak sedang berbicara. Dengan didengarkan, juga
dapat membuat anak merasa penting. Selain itu juga orang tua dapat
melibatkan empati ketika sedang berbicara dengan anak.
b) Assume nothing.
Sebaiknya tidak membuat asumsi pribadi, jika ada yang tidak jelas atau
tidak yakin, sebaiknya dikonfirmasi atau ditanyakan kembali
c) Complete what they are saying.
Tidak langsung memotong dan menjudge anak.
d) Eye contact.
Hal ini agar anak merasa ia diperhatikan dan didengarkan ketika
berbicara.
e) Know when to talk and when not to talk.
Pahami situasi dan keadaan, juga pertimbangkan suasana hati anak,
untuk dapat mengetahui waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke
hati dengan anak.
f) See things from your children’s viewpoint.
Hal ini bertujuan agar lebih dapat memahami keinginan anak dan anak
pun dapat merasa lebih dipahami dan dimengerti. Sehingga ia bisa lebih
terbuka.
g) Drop the expectations.
Sebaliknya, berkomunikasilah secara terbuka dan sehat tanpa memiliki
harapan mengenai apa yang akan diutarakan oleh anak, bagaimana ia
mengkomunikasikannya, dan sebagainya.
Hal yang harus dihindari dalam berkomunikasi:
a) Kritikan terhadap ide, perasaan, pemikiran anak, atau terhadap diri anak
sendiri. Kritikan dapat dilihat anak sebagai serangan terhadap dirinya
dan bisa membuat anak memiliki self-esteem yang rendah.
b) Membahas kesalahan yang pernah dilakukan anak sebelumnya.
Sebaiknya ketika suatu masalah sudah clear, maka orang tua tidak perlu
membahasnya kembali. Hal ini dapat mengajarkan perasaan dendam
atau menyimpan kesalahan orang lain dalam waktu yang lama.
c) Mengarahkan dan mendikte anak bagaimana harus menyelesaikan
permasalahan. Hal ini dapat membuat anak kurang memiliki
kemampuan untuk dapat mengontrol hal-hal yang terjadi dalam
hidupnya. Selain itu juga membuat anak kurang memiliki kemampuan
untuk memecahkan masalah, dimana hal ini sangatlah penting dimiliki
anak. Anak pun bisa merasa bahwa orang tua mereka tidak menaruh
kepercayaan terhadap mereka sehingga selalu diarahkan.
d) Melakukan hal-hal yang membuat anak merasa rendah diri atau
bersalah, seperti menjudge dan menyalahkan. Hal ini tentunya dapat
membuat anak merasa tidak dihargai, dicintai, dan berpengaruh terhadap
self-esteem anak sendiri.