Anda di halaman 1dari 2

Prevalensi Komplikasi pada Pasien Operasi Katarak dengan Teknik

Fakoemulsifikasi di Rumah Sakit Family Medical Center


Periode Januari - Desember 2016

Silvia Gunawan*, Michael Indra Lesmana**, Gracia JMT


Winaktu***

* Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas


Kristen Krida Wacana
** Staf Pengajar Departemen Ilmu Penyakit Mata, Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
*** Staf Pengajar Departemen Gizi Klinik, Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi:

Abstrak
Saat ini, fakoemulsifikasi adalah teknik operasi katarak yang paling sering
digunakan. Tujuan dari fakoemulsifikasi untuk memperoleh tajam penglihatan tanpa
koreksi dengan waktu sembuh yang cepat serta komplikasi bedah minimal. Akan
tetapi, tindakan fakoemulsifikasi dapat menimbulkan komplikasi intraoperasi maupun
pascaoperasi. Desain penelitian yang digunakan deskriptif observasional dengan
pendekatan retrospektif, yaitu melihat rekam medik pasien. Pengambilan sampel
dengan metode total sampling sebanyak 165 mata. Penelitian ini dilaksanakan di
Rumah Sakit Family Medical Center pada bulan Agustus hingga September 2017.
Hasil penelitian lebih banyak perempuan (53,9%) daripada laki-laki (46.1%), dengan
rentang usia 40-79 tahun. Dari 165 mata yang dioperasi, yang mengalami komplikasi
21 mata (12.7%) dan tidak mengalami komplikasi 144 mata (87.3%). Komplikasi
intraoperasi yang terjadi, yaitu 1 mata mengalami traumatik iris. Komplikasi
pascaoperasi yang terjadi, yaitu 3 mata mengalami sindroma mata kering, 5 mata
mengalami edema kornea, 8 mata mengalami sindroma toksik segmen anterior, 1
mata mengalami hipertensi okuli, 3 mata mengalami kekeruhan kapsul posterior, dan
tidak ditemukan kejadian kasus endoftalmitis. Dari hasil penelitian didapatkan
komplikasi tertinggi yaitu sindroma toksik segmen anterior dengan angka kejadian
4.8% (8 mata), dan edema kornea 3.0% (5 mata). Sindroma toksik segmen anterior
dan edema kornea merupakan komplikasi yang reversibel, membaik dalam 1 - 2
minggu pascaoperasi.

Kata Kunci: katarak, fakoemulsifikasi, sindroma toksik segmen anterior,


edema kornea

Abstract
Currently, phacoemulsification is the most commonly used cataract surgery
technique. The goal of phacoemulsification is to obtain sharp eyesight without
correction with rapid recovery time and minimal surgical complications. However,
phacoemulsification action can lead to intra-surgery and post-surgery complications.
The research design used was descriptive observational with retrospective approach,
that is seeing patient’s medical record. Total of sampling used is 165 eyes. The study
was conducted at Family Medical Center Hospital in August to September 2017. The
results of this study were more female patients (53.9%) than males (46.1%) with age
range 40-79 years. Of the 165 eyes on surgery, complications involving 21 eyes
(12.7%) and those without complications were 144 eyes (87.3%). Intra-surgery
complications that occur, i.e. 1 eye experiencing traumatic iris. Post-surgery
complications that occur, i.e. 3 eyes have dry eye syndrome, 5 eyes have corneal
edema, 8 eyes have toxic anterior segment syndrome (TASS), 1 eye has ocular
hypertension, 3 eyes have posterior capsule opacification, and no case of
endophthalmitis was found. From the research results obtained the highest
complications of TASS with an incidence rate of 4.8% (8 eyes), and corneal edema
3.0% (5 eyes). TASS and corneal edema are reversible, improving within 1-2 weeks
post-surgery.

Keywords: cataract, phacoemulsification, toxic anterior segment syndrome, corneal


edema

Pendahuluan

Metode