Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Untuk dapat terjun ke dunia kerja setelah lulus kuliah setiap mahasiswa harus
memiliki kesiapan dalam menghadapi pekerjaannya yang sesuai dengan bidang
keilmuan yang akan ditekuni. Pembekalan bagi seorang calon sarjana teknik sipil
tidak cukup dengan pembekalan teori di bangku kuliah saja ada berbagai
pengetahuan penting lainnya yang hanya dapat didapatkan melalui pengamatan
langsung di lapangan, yaitu pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses
dan tahapan dalam kegiatan konstruksi, bekerja sama dan keterampilan dalam
berkomunikasi.

Kerja Praktik adalah suatu kegiatan yang dimana mahasiswa memiliki


kesempatan untuk mengamati kegiatan konstruksi dan lebih memahami keadaan
di lapangan secara langsung. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan untuk
lebih siap menjadi calon sarjana teknik sipil yang tidak hanya memiliki
kemampuan teoritis, namun juga pemahaman dan kemampuan praktis sebagai
bekal memasuki dunia kerja di waktu yang akan datang.

Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Sumatera (ITERA) mewajibkan


bagi seluruh mahasiswa untuk melakukan Kerja Praktik, melalui kerja sama
dengan PT. Waskita Karya selaku penerima tugas dari Kementerian Perhubungan
Republik Indoneisa, yang sedang melakukan kegiatan konstruksi Proyek
Pembangunan Jalan Tol yang berada di kabupaten Lampung Selatan, Indonesia.

1
1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dikaji adalah:


1. Apa manfaat dari Proyek Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera?
2. Bagaimana metode pelaksanaan konstruksi struktur atas dan perkerasan jalan
dari Proyek Pembangunan Jalan Tol?
3. Kendala apa saja yang terdapat pada pelaksanaan Proyek Pembangunan Jalan
tol?

1.3. Tujuan

Tujuan dari mata kuliah Kerja Praktik, yaitu:


1. Melengkapi syarat kelulusan mata kuliah SI-4098R (Kerja Praktik)
2. Mendapatkan pengetahuan dan wawasan dari kegiatan konstruksi yang
berlangsung serta mengetahui jika terdapat kendala di lapangan.
3. Melatih kemampuan dan kreatifitas mahasiswa dalam melakukan kerjasama
dan komunikasi secara gambar maupun lisan dan menganalisis permasalahan
yang ada di proyek tersebut.
4. Melatih kemampuan mahasiswa di lapangan kerja yang akan dihadapi setelah
menyelesaikan pendidikan formal di Perguruan Tinggi.

1.4. Ruang Lingkup

Ruang Lingkup penyusunan Laporan Kerja Praktik ini yaitu Pembangunan Jalan
Tol Trans Sumatera Bakauheni – Terbanggi Besar seksi 2 Sidomulyo – Kota
Baru STA. 39+400 – STA. 80+000 PT. Waskita Karya (Persero) Tbk. Adapun
ruang lingkup penulisan laporan ini meliputi:
1. Pekerjaan Perkerasan
2. Pekerjaan Struktur

2
1.5. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja Praktik

Kerja Praktik dilaksanakan selama 44 (empat puluh empat) hari kerja, dimulai
dari 25 Juni – 07 Agustus 2018, yang bertempat di Proyek Pembangunan Jalan
Tol trans Sumatera Bakauheni – Terbanggi Besar seksi 2 Sidomulyo – Kota Baru
STA. 39+400 – STA. 80+000 Lampung Selatan, Lampung.

Gambar 1.1. Lokasi Proyek

1.6. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dan penyajian bentuk laporan Kerja Praktik ini adalah
melalui gambaran kerja terdiri dari bagian berikut:
1. BAB I PENDAHULUAN
Bab I di laporan ini adalah bagian yang menguraikan Latar Belakang Kerja
Praktik, Rumusan Masalah, Tujuan, Ruang Lingkup, Waktu dan Tempat
Pelaksanaan Kerja Praktik dan Sistematika Penulisan.
2. BAB II INFORMASI DATA PROYEK
Bab II menguraikan tentang Latar Belakang Proyek Pembangunan Jalan Tol
Trans Sumatera Bakauheni – Terbanggi Besar Seksi 2 Sidomulyo – Kota Baru
STA. 39+400 – STA. 80+000, Lokasi Proyek, Informasi Proyek, Lingkup
Pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor dan Sumber Pendanaan Proyek.

3
Struktur organisasi pihak-pihak yang terlibat dalam proyek termasuk tugas
dan tanggung jawab pada masing-masing pihak.
3. BAB III PELAKSANAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI
Bab III adalah bagian yang menguraikan tentang tahapan proses perencanaan
yang terdiri dari perencanaan arsitektur, konsep perencanaan struktur
bangunan bawah termasuk survey data pendukung perencanaan, konsep
perencanaan struktur atas termasuk pembebanan dan perencanaan mekanikal
dan elektrikal.
4. BAB IV TUGAS KHUSUS
Bab IV menguraikan tentang gambaran umum dari tugas khusus yang telah
diberikan kepada penulis, perhitungan dan metode pelaksanaan.
5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab V adalah bagian yang menyampaikan kesimpulan dari rumusan masalah
dan saran dari penulis selama kerja praktik berlangsung.

4
BAB II
INFORMASI PROYEK

2.1. Latar Belakang

2.1.1. Latar Belakang Perusahaan

Didirikan pada 1 Januari 1961, Waskita Karya adalah salah satu perusahaan
negara terkemuka di Indonesia yang berperan besar dalam pembangunan negara.
Berasal dari perusahaan Belanda bernama "Volker Aannemings Maatschappij
N.V.", yang diambil alih berdasarkan Keputusan Pemerintah No.62 / 1961,
Waskita Karya awalnya telah mengikuti perkembangan terkait air termasuk
reklamasi, pengerukan, pelabuhan dan irigasi.

Namun, sejak tahun 1973, status hukum Waskita Karya telah berubah menjadi
"Persero" PT. Waskita Karya, dengan panggilan yang lebih familliar "Waskita".
Sejak saat itu, perusahaan mulai mengembangkan bisnisnya sebagai kontraktor
umum yang terlibat dalam berbagai kegiatan konstruksi yang lebih luas termasuk
jalan raya, jembatan, pelabuhan, bandara, bangunan, pabrik limbah, pabrik
semen, pabrik dan fasilitas industri lainnya.

Pada tahun 1980, Waskita mulai melakukan berbagai proyek yang melibatkan
teknologi maju. Pengalihan teknologi dilakukan melalui aliansi bisnis berupa
joint operation dan joint venture dengan perusahaan asing terkemuka. Prestasi
signifikan dan menonjol yang menjadi kebanggaan nasional adalah Bandara
Soekarno-Hatta, Reaktor Serbaguna Siwabessy, dan Pembangkit Listrik Tenaga
Uap Muara Karang di Jakarta.

Memasuki tahun 1990, Waskita telah menyelesaikan gedung bertingkat tinggi


dengan reputasi baik seperti BNI City (gedung tertinggi di Indonesia), Gedung
Kantor Bank Indonesia, Menara Graha Niaga, Menara Mandiri Plaza, Hotel

5
Shangri-La dan beberapa apartemen bertingkat. Bangunan di Jakarta dan kota-
kota lain di Indonesia.

Waskita telah mencapai kinerja yang luar biasa dalam pembangunan jembatan
beton pratinjau jangka panjang dengan menggunakan sistem kantilever gratis
dengan berhasil menyelesaikan tiga jembatan: Raja Mandala, Rantau Berangin,
dan Barelang IV. Prestasi besar lainnya dengan menggunakan teknologi serupa
telah dilakukan dalam pembangunan jembatan darat dan kabel yang "Pasteur-
Cikapayang-Surapati" di Bandung. Kisah sukses yang sama juga dicapai dalam
pembangunan beberapa bendungan utama seperti Pondok, Grogkak, Tilong,
Gapit dan Sumi yang selesai lebih cepat dari jadwal dengan kualitas memuaskan.

Upaya untuk selalu mengutamakan kualitas sebelum hal lain memungkinkan


Waskita memperoleh sertifikasi ISO 9002: 1994 pada bulan November 1995;
Yang menjadi pengakuan internasional yang meyakinkan mengenai Sistem
Manajemen Mutu ISO yang diterapkan oleh perusahaan dan titik awal menuju
era persaingan global. Pada bulan Juni 2003, Waskita telah berhasil memperbarui
Sistem Manajemen Mutu dan dapat memperoleh sertifikasi ISO 9001: 2000. Hal
ini menjadi indikasi kuat bagaimana perusahaan memahami dan selalu berusaha
untuk memenuhi kebutuhan spesifik pelanggannya.

2.1.2. Latar Belakang Proyek

Pulau Sumatera adalah pulau terbesar kedua yang dimiliki Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dengan luas wilayah mencapai ± 473.481 km2. Provinsi
Lampung yang berada diujung Pulau Sumatera terfokus menjadi pintu gerbang
untuk memasuki dan mengakses Pulau Sumatera. Posisinya yang strategis
berfungsi untuk menyambungkan aktivitas dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera.
Saat ini Pulau Sumatera telah memiliki empat akses jalur transportasi darat.
Empat akses jalur tersebut antara lain adalah jalur lintas timur, jalur lintas tengah,
jalur lintas barat, dan lintas raya pantai timur. Seiring dengan pertumbuhan
ekonomi, maka arus dan jumlah kendaraan yang melewati keempat jalur tersebut

6
juga meningkat. Empat akses jalur yang sudah tersedia dinilai sudah tidak
mampu menerima beban lalu lintas berlebih yang diakibatkan karena
meningkatnya arus lalu lintas yang semakin tinggi, selain itu jalur-jalur tersebut
dinilai memiliki tingkat jangkauan waktu berkendara yang tinggi, sehingga
diperlukan durasi yang panjang guna mencapai suatu wilayah melalui akses jalur
tersebut dan keempat jalur yang tersedia memiliki banyak hambatan, seperti
kerusakan permukaan jalan, faktor gangguan samping, rendahnya sumber
penerangan di malam hari dan lainnya.

Berdasarkan situasi dan keadaan di lapangan, Pulau Sumatera memerlukan


sebuah akses baru yang memiliki tingkat mobilitas tinggi sehingga mampu dapat
mengantisipasi pesatnya pertumbuhan ekonomi dan aktivitas di Pulau Sumatera.
Jalan tol dinilai mampu menjadi pilihan baru, guna menciptakan prasarana
transportasi dengan mobilitas tinggi serta tanpa adanya faktor gangguan.
Pengguna jalan tol dapat menghemat waktu tempuh perjalanan, mendapatkan
fasilitas tempat istirahat bagi pengguna tol antar kota, serta mendapatkan
kenyamanan dalam berkendara. Selain mengakomodasi pergerakan penumpang,
adanya pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera juga akan mengakomodir
pergerakan barang sehingga pengiriman barang menjadi lebih cepat dan lancar
antar kota guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.

Jalan Tol Trans Sumatera atau dikenal dengan istilah JTTS adalah sebuah jalan
tol sepanjang 2.818 km yang menghubungkan Provinsi Lampung dengan
Provinsi Aceh di Pulau Sumatera. Pada tahun 2012, pembangunan Jalan Tol
Trans Sumatera diperkirakan akan menelan dana kurang lebih sebesar Rp150
triliun dan diharapkan pengembangan perekonomian di Pulau Sumatera akan
dapat mengimbangi tingkat perekonomian di Pulau Jawa. Presiden ketujuh
Republik Indonesia, Joko Widodo mengambil keputusan dengan meresmikan
pembangunan mega proyek Jalan Tol Trans Sumatera, yang pelaksanaannya
dilakukan di Desa Sabah Balau Kabupaten Lampung Selatan, sekitar 5 km dari
Kota Bandarlampung pada 30 April 2015.

7
2.2. Gambaran Umum

2.2.1. Lokasi Proyek

Lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) berada di


sepanjang Sidomulyo sampai Kota Baru, Provinsi Lampung dan dapat dilihat
pada Gambar 2.1. berikut:

Gambar 2.1. Peta Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera

8
2.3. Informasi Proyek

Informasi secara umum tentang proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera
dengan data sebagai berikut:
1. Nama Proyek : Pekerjaan Pembangunan Jalan Tol Ruas
Bakauheni – Terbanggi Besar Seksi 2 Sidomulyo-Kotabaru (39+400 –
80+000)
2. Lokasi Proyek
a. Provinsi : Lampung
b. Kota/Kabupaten : Lampung Selatan
c. Alamat : Sidomulyo – Kota Baru
3. Jenis Kontrak : Fixed Unit Price
4. Pemilik Proyek : PT. Hutama Karya (Persero)
5. Konsultan Pengawas : PT. Daya Creasi Mitrayasa
6. Konsultan Perencana : PT. Arkonin
7. Kontraktor Pelaksana : PT. Waskita Karya (Persero) Tbk.
8. Sifat Kontrak : Design and Built
9. Nilai Kontrak Induk : Rp2.445.854.579.684,00
10. Lingkup Pekerjaan : Pembangunan Jalan dan Infrastruktur
11. Sumber Dana : Penyertaan Modal Negara
12. Panjang Pekerjaan : ± 40,6 km
13. Fungsi Bangunan : Jalan
14. Jenis Pembayaran : Monthly Certificate (MC)
15. Sifat Tender : Penunjukan Langsung
16. Uang Muka : 10%
17. Jaminan Pemeliharaan : 5%
18. Waktu Pelaksanaan : 937 Hari Kalender
19. Waktu Pemeliharaan : 720 Hari Kalender
20. Nomor Kontrak : DJT/10.519/S.Perj.16/IV/2016

9
Sub Kontraktor : PT. Paduan Dinamika Testing Indonesia
PT. Hypec International
1. Penyedia Bahan
a. PT. Batu Makmur
b. CV. Kasim Rahmad
c. PT. Busur Kilat Perkasa
d. CV. Jati Logam Persada
e. PT. Delvin Mitra Persada
f. PK. Putri Damai
g. PT. Sumbersarana Multiteknik
h. PT. Tridatu Utama Artha Persada
i. PT. Rachmat Putra
j. PT. Edelweis Kalashnikow Energy
k. PT. Adhi Putra Kencana
l. CV. Prima Jaya
m. PT. Citra Baru Steel
n. CV. Bina Cipta
o. PT. Usaha Remaja Mandiri
p. CV. Rioli Metalindo Perkasa
q. PT. Almizan and Family
2. Penyewaan Alat
a. PT. Hasil Bumi Prima
b. PT. Usaha Remaja Mandiri
c. Putra Elektrik Mandiri
d. CV. Utama Jaya
e. CV. Satria Utama Jaya
f. CV. Sari Karya
g. CV. Indo Traco
h. CV. Sinar Mula Langgeng
i. PT. Vicindo Jaya Makmur

10
j. PT. Prima Langgeng Dian Agung
k. PT. Sumber Rejo Eterno
3. Batching plant
a. PT. Griya Lestari
b. PT. Arum Abadi
c. PT. Adhi Putra Kencana
d. PT. Sorento

2.3.1. Data-data Teknis Proyek

Data teknis adalah data yang menjelaskan langsung bagaimana keadaan struktur
yang digunakan dalam proyek. Berikut adalah data-data teknis dari proyek
pembangungan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS):
Jalan Utama (Main Road)
Panjang : STA 39+400 – 80+000
Konstruksi Perkerasan : Rigid Pavement, t= 30 cm
Bahu Jalan : Flexible Pavement, t=7 cm
Jumlah Jalur : 2 (Dua), 4/2D
Jumlah Lajur : 4 (Empat), 4/2D
Lebar lajur : 2 x 5 m (lajur dalam)
2 x 4,2 m (lajur luar)
Lebar Median : 0,8 m (single barrier)
Lebar Bahu Luar : 2,64 m
Lebar Bahu Dalam : 1,5 m
Jumlah Overpass : 13 buah
Jumlah Underpass : 5 buah
Jumlah Box Underpass : 3 buah
Jumlah Box : 54 buah
Ukuran Box : (2x3,0x3,0), (2x4,0x4,0), (2x1,5x1,5),
(1x2,0x2,0), (1x4,0x4,0)
Bentang Girder : 15,9 m, 25,6 m, 40,8 m, dan 45,8 m

11
Struktur Bawah : Kedalaman Pondasi (10 – 36 m)
a. Tipe Pondasi : Dari STA. 39+400 hingga STA. 80+000
menggunakan Pondasi Bored Pile.
b. Pile Cap : Beton Bertulang (D13, D16, D19, D32)
Struktur Atas
a. Pier : Beton Bertulang (D13, D25)
b. Pier Head : Beton Bertulang (D13, D16, D25, D32)
c. Girder PC-I : Beton Bertulang
d. Slabdeck : Beton Bertulang

Mutu Beton
Mutu beton yang digunakan berdasarkan sumber Peraturan Beton Indonesia
a. Bored Pile : K-350
b. Pile Cap : K-250
c. Pier : K-350
d. Pier Head : K-350
e. Diafragma : K-350
f. Slabdeck : K-250
g. Girder PC-I : K-500
h. Slab : K-500
i. Lean Concrete : K-125
j. Rigid : Fs 45
k. Jumlah Bored Pile : Jumlah Bored Pile yang dibutuhkan sebanyak
1792 titik.
ABT 1 479 titik
ABT 2 477 titik
PIER 1 418 titik
PIER 2 418 titik
TOTAL 1792 titik

12
2.4. Fasilitas Proyek

Dalam proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera disediakan fasilitas-


fasilitas proyek sebagai berikut:

1. Kantor Proyek
Kantor proyek merupakan bangunan kantor yang dibangun di lokasi proyek yang
berfungsi sebagai tempat melakukan rencana kerja dan tempat untuk
mengevaluasi hasil kerja di lapangan. Gambar 2.2 merupakan kantor proyek yang
terdapat pada lokasi proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera seksi II.

Gambar 2.2. Kantor Proyek Pembangunan JTTS Seksi 2

2. Gudang Material dan Peralatan


Gudang adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai
macam material dan peralatan kerja. Gudang ini dibangun semi permanen di
lokasi proyek Gambar 2.3 memperlihatkan Gudang material dan peralatan yang
digunakan pada pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera.

Gambar 2.3. Gudang Material dan Peralatan

13
3. Ruang P3K (Pertolongan Pertama pada Kecelakaan) & K3LP (Kesehatan
Keselamatan Kerja Lingkungan Proyek)
P3K berfungsi sebagai tempat perawatan sementara terhadap korban kecelakaan
sebelum mendapatkan pertolongan lebih lanjut. K3LP adalah suatu upaya
perlindungan agar karyawan atau tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat dan
sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja termasuk juga tamu yang
memasuki lokasi proyek. Gambar 2.4 memperlihatkan Ruang P3K dan K3LP
yang terdapat pada lokasi proyek Jalan Tol Trans Sumatera seksi II.

Gambar 2.4. Ruang P3K dan K3LP

4. Rumah Bahan Bakar Minyak (BBM)


Tempat ini digunakan untuk menyediakan kebutuhan BBM (Bahan Bakar
Minyak) untuk kebutuhan alat berat yang digunakan di proyek. Jenis bahan bakar
yang disediakan adalah solar, premium, pertamax, dan pertalite. Gambat 2.5
memperlihatkan rumah BBM yang terdapat di lokasi proyek Jalan Tol Trans
Sumatera seksi II.

Gambar 2.5. Rumah Bahan Bakar Minyak (BBM)

14
5. Alat Transportasi
Pada suatu pelaksanaan proyek konstruksi, mobilitas merupakan salah satu
kebutuhan yang harus diprioritaskan demi kelancaran proses pembangunan. Alat
transportasi yang digunakan pada pelaksanaan proyek pembangunan Jalan Tol
Trans Sumatera seksi II, seperti mobil kantor, sepeda motor serta mobil pick up.
Mobil pick up biasanya digunakan untuk mengangkut material yang tidak
menggunakan jasa antar dari pihak penyedia dan sepeda motor digunakan
sebagai moda untuk kepentingan pembelian dalam skala kecil, pemesanan
material, keperluan administrasi, keperluan yang mendadak jika sewaktu-waktu
terdapat pekerjaan yang perlu penanganan cepat apabila terjadi kecelakaan di
lokasi proyek, dan dapat digunakan untuk mencapai segala kondisi medan yang
tidak dapat digunakan untuk mencapai segala kondisi medan yang tidak dapat
dijangkau atau dilalui oleh mobil dan sebagainya. Gambar 2.6 memperlihatkan
alat transportasi yang biasa digunakan dalam proyek.

Gambar 2.6. Alat Transportasi

15
6. Rambu dan spanduk Proyek
Rambu dan spanduk pada proyek bertujuan untuk memberi informasi, petunjuk,
peringatan, larangan, serta perintah untuk keamanan dan keselamatan selama
berlangsungnya proyek. Gambar 2.6 memperlihatkan salah satu rambu yang
terdapat di lokasi proyek.

Gambar 2.7. Rambu dan Spanduk Proyek

Fasilitas-fasilitas lainnya yang terdapat di lokasi proyek adalah sebagai berikut:


a. AC
b. Jaringan Listrik
c. Toilet
d. Musholla
e. Jaringan telepon dan jaringan internet
f. Air Bersih
g. Persediaan Air
h. Tempat Parkir
i. Pos Satpam
j. Smoking Area
k. Ruang Makan dan Dapur

16
2.5. Sistem Pelelangan

Pelelangan merupakan serangkaian kegiatan untuk menyediakan barang atau jasa


dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia barang atau
jasa yang setara dan memenuhi syarat, berdasarkan metode dan tata cara tertentu
yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihak yang terkait secara taat azas
sehingga terpilih peyedia terbaik. Pelelangan atau tender merupakan suatu cara
menentukan kontraktor untuk melaksanakan secara fisik suatu pekerjaan
pembangunan atau pekerjaan konstruksi, dengan cara mengadakan biaya
penawaran mengenai pekerjaan tersebut secara tertulis. Tujuan pelelangan adalah
menyeleksi dan memilih kontraktor dengan pertimbangan dari segi kemampuan
teknis, administrasi, serta kualitas pekerjaan-pekerjaan sebeumnya sesuai dengan
persyaratan dokumen pelelangan yang ditentukan dengan harga paling ekonomis
dan termasuk dalam Daftar Rekaan Terseleksi (DRT).

Pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dijelaskan bahwa sistem


pelelangan berdasarkan sifat dan bentuknya secara umum dibagi menjadi 5 (lima)
macam, yaitu:

1. Pelelangan Umum/Terbuka
Pelelangan umum merupakan metode pemilihan penyedia barang/jasa yang
dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas melalui media
massa dan papan pengumuman resmi sehingga masyarakat luas dunisa usaha
yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya. Sifat
pelelangan ini tidak terbatas, artinya memberikan kesempatan kepada
kontraktor untuk melakukan penawaran jika mampu melaksanakan proyek
tersebut. Penentuan pemenang lelang berdasarkan kualifikasi dan persyaratan
teknis kontraktor dan penawaran yang realitas. Umumnya kontraktor
diundang melalui iklan surat kabar atau media lainnya.

17
2. Pelelangan Terbatas
Pelelangan terbatas merupakan bentuk pelelangan dimana jumlah undangan
peserta penawaran berdasarkan hasil perseleksi, terdiri dari sekurang-
kurangnya 5 (lima) rekanan yang terdaftar dalam DRT. Tujuan pelelangan ini
adalah untuk didasarkan kepada syarat-syarat yang terdapat dalam peraturan
dan syarat-syarat pelaksnaan suatu pekerjaan bangunan atau proyek.
3. Pelaksanaan Sendiri (Swakelola)
Swakelola adalah pengadaan barang/jasa dimana pekerjaannya direncanakan,
dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh pemilik proyek atau pemberi tugas
(owner) sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain
dan/atau kelompok.
4. Pemilihan Langsung
Cara ini digunakan apabila pemilik proyek menyerahkan pelaksanaan
pekerjaan secara langsung, baik dalam hal penyediaan material yang akan
digunakan ataupun tenaga kerja yang diperlukan pada suatu kontrak yang
telah ditunjuk sebelumnya. Hal ini dilakukan apabila besarnya biaya proyek
yang bersangkutan berada dibawah biaya standar yang telah ditetapkan
pemerintah.
5. Penunjukan Langsung
Pelelangan ini melalui proses penunjukan langsung terhadap beberapa
kontraktor pelaksana oleh pemilik proyek (owner) untuk mengerjakan proyek
konstruksi tersebut.

Ada beberapa hal yang menyebabkan diadakan sistem pelelangan secara


langsung tersebut, antara lain:
1. Pemilik proyek menilai kontraktor telah bekerja dengan baik dan memuaskan
sehingga untuk pekerjaan selanjutnya diserahkan kepada kontraktor tersebut.
2. Kontraktor yang bersangkutan baru menyelesaikan pelaksanaan dari
pekerjaan serupa.

18
3. Kepercayaan terhadap suatu kontraktor kerena kemampuannya di bidang
tersebut.
4. Keterbatasan waktu pelaksanaan proyek.

Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 117 tahun 2015 tentang Perubahan
atas peraturan presiden nomor 100 tahun 2014 tentang percepatan pembangunan
jalan tol di sumatera menimbang bahwa dalam rangka percepatan pelaksanaan
pembangunan Jalan Tol di Sumatera, pemerintah menugaskan pengusahaan jalan
tol di Sumatera kepada PT. Hutama Karya (Persero) melalui Peraturan Presiden
nomor 100 tahun 2014 tentang percepatan pembangunan Jalan Tol di Sumatera
dan salah satu kontraktor yang ditunjuk langsung oleh PT. Hutama Karya
(Persero) adalah PT. Waskita Karya (Persero) Tbk, dan berdasarkan Peraturan
Presiden nomor 117 tahun 2015 yang menimbang tentang percepatan
pembangunan jalan tol sumatera, maka dari itu PT. Waskita Karya (Persero) Tbk
menerapkan metode penunjukkan langsung di metode pelelangan.

2.6. Sistem Kontrak

Pada Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 dijelaskan bahwa sistem kontrak
yang umum digunakan pada proyek konstruksi di Indonesia antara lain:

1. Kontrak Harga Satuan


Kontrak harga satuan merupakan kontrak pengadaan barang/jasa atas
penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu yang telah ditetapkan
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Harga satuan pasti tetap untuk setiap satuan atau unsur pekerjaan dengan
spesifikasi teknis tertentu.
b. Volume atau kuantitas pekerjaan masih bersifat perkiraan pada saat
kontrak ditandatanganin.
c. Pembayaran didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume
pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa.

19
d. Dimungkinkan adanya pekerjaan yang bertambah ataupun berkurang
berdasarkan hasil pengukuran bersama atas pekerjaan yang diperlukan.

Dengan kontrak sistem harga satuan, resiko fluktuasi biaya di proyek


ditanggung bersama secara proporsional oleh pemilik proyek dan kontraktor.
Fluktuasi biaya akibat penambahan volume pekerjaan menjadi tanggungjawab
pemilik proyek, sedangkan fluktuasi biaya akibat kenaikan harga bahan, upah
kerja, dan ongkos peralatan menjadi resiko kontraktor.
2. Kontrak Lump Sum
Kontrak Lump Sum merupakan kontrak pengadaan barang atau jasa atas
penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu sebagaimana
ditetapkan dalam kontrak dengan ketentuan bahwa, jumlah harga pasti dan
tetap serta tidak dimungkinkan penyesuaian harga, semua resiko sepenuhnya
ditanggung oleh penyedia barang/jasa, sifat pekerjaan berorientasi kepada
keluaran output based, total harga penawaran bersifat mengikat.

Pemilik proyek tidak mengakui adanya fluktuasi biaya kontruksi proyek.


Fluktuasi biaya yang terjadi selama proses kontruksi sepenuhnya menjadi
tanggungjawab kontraktor sehingga kontraktor harus bisa bekerja dengan
mengendalikan biaya dan waktu pelaksanaan secara efisien.
3. Kontrak Persentase
Kontrak Persentase merupakan kontrak pengadaan jasa konsultasi/jasa
lainnya dengan kententuan bahwa, penyediaan jasa konsultasi/jasa lainya
menerima imbalan berdasarkan persentase dari nilai pekerjaan tertentu,
pembayarannya didasarkan pada tahapan produk/keluaran yang dihasilkan
sesuai dengan isi kontrak.
4. Kontrak Terima Jadi (Turnkey)
Pada kontrak jenis ini segala kebutuhan dalam pelaksanaan proyek dan
penyediaan dananya diatur oleh kontraktor. Pemilik akan membayar semua
biaya pembangunan proyek kepada kontraktor sesuai dengan perjanjian yang
terdapat setelah proyek selesai ditambah dengan masa pemeliharaan. Jika

20
pihak pemilik proyek menghendaki diadakan perubahan terhadap bangunan
maka biaya yang berhubungan dengan hal tersebut diperhitungkan sebagai
biaya tambah-kurang.
5. Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan (Fixed Unit Price)
Merupakan kontrak gabungan antara kontrak lump sum dengan kontrak satuan
dan digunakan dalam satu pekerjaan yang telah disepakati.
6. Kontrak Addendum
Kontrak addendum adalah penambahan atau perubahan dokumen pada saat
lelang atau sebelum kontrak ditandatatangin. Pada Peraturan Presiden 54
tahun 2010 pasal 87 Ayat 1 tentang perubahan kontrak menyatakan sebagai
berikut:
Jika terdapat perbedaan antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan,
dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis yang ditentukan dalam dokumen
kontrak, dapat melakukan perubahan kontrak yang meliputi:
a. Menambah atau mengurangi volume dan jenis pekerjaan yang tercantum
dalam kontrak
b. Mengubah spesifikasi teknis pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan
atau mengubah jadwal pelaksanaan.
c. Penambahan atau pengurangan kontrak addendum dilakukan dengan
maksimal 10% dari nilai kontrak.

Pada proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Sistem kontrak yang
digunakan adalah fixed unit price dengan terdapat addendum antara lain:
1. Addendum I, Nomor: DPBJT/IO.967/S.Perj.32/IV2017 pada tanggal 03
April 2017
2. Addendum II, Nomor: DPBJT/IO.3318/S.Perj.108/XI/2017 pada tanggal
1 November 2017
3. Addendum III, Nomor: DPBJT/IO.3860/S.Perj.115A/XII/2017 pada
tanggal 14 Desember 2017

21
4. Addendum IV, Nomor: DPBJT/FE.1781/S.Perj.43/V/2018 pada tanggal
25 Mei 2018

2.7. Sistem Pembayaran

Sistem pembayaran yang umumnya digunakan dalam suatu kontrak adalah:

1. Sistem Pembayaran Penuh


Pemilik akan membayar kepada kontraktor setelah volume pekerjaan fisik
total yang dilaksanakan oleh kontraktor.
2. Sistem Pembayaran Progress
Pemilik akan membayar sejumlah uang yang telah disetujui kepada pekerjaan
yang dikerjakan selama jangka waktu yang telah ditetapkan. Besarnya
bayaran tergantung dari bobot volume pekerjaan yang telah diselesaikan.
Kontraktor biasanya mengeluarkan rincian biaya sesuai dengan perjanjian
kontrak. Sistem pembayaran secara progress ini dapat dilakukan setiap
minggu atau bulannya.
3. Sistem Pembayaran Termin
Pemilik proyek akan melakukan pembayaran kepada kontraktor sesuai dengan
volume pekerjaan yang telah ditetapkan. Sistem pembayaran termin adalah
cara bayar yang dilakukan secara bertahap. Umumnya dibagi dalam 4 tahap
yang menyesuaikan dengan progres pengerjaan.
Sistem pembayaran yang diterapkan pada proyek pembangunan Jalan Tol Trans
Sumatera adalah kontrak dengan sistem pembayaran termin.

22
2.8. Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan

Struktur organisasi lapangan dibentuk guna melancarkan proses pelaksanaan


pekerjaan di lapangan. Struktur organisasi lapangan dibentuk oleh kontraktor
pelaksana. Dengan adanya struktur organisasi tersebut diharapkan tidak terjadi
tumpang-tindih antara tugas dan tanggung jawab, sehingga semua permasalahan
yang timbul dapat ditanggulangi secara menyeluruh, terpadu dan tuntas dalam
mencapai efisiensi kelancaran pekerjaan, waktu dan biaya yang seminimal
mungkin.

Organisasi proyek merupakan suatu susunan atau sistem jaringan yang


melibatkan pihak-pihak terkait untuk saling berkoordinasi dalam melaksanakan
suatu proyek sesuai dengan rencana. Untuk memperjelas kedudukan pihak yang
terkait dalam sebuah organisasi proyek digambarkan dalam suatu susunan bagan.
Struktur organisasi konstraktor pelaksana PT. Waskita Karya dalam pelaksanaan
proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Seksi II Sidomulyo-Kota Baru
dapat dilihat pada Gambar 2.8. dan Gambar 2.9.

OWNER
PT. Hutama Karya

KONSULTAN KONSULTAN
PERENCANA PENGAWAS

PT. Arkonin PT. Daya Creasi

KONTRAKTOR
UTAMA
PT. Waskita Karya
Keterangan :
: Hubungan Komando/perintah
: Hubungan Tanggung Jawab
: Hubungan Koordinasi

Gambar 2.8. Struktur Organisasi

23
KAPRO
STA 52+400 - STA 80+000
Ir. Marsudi

ADKONT PROGRES QUANTITY TEKNIK TERMIN QUANTITY KSDM LAPANGAN LOGIAT

KASI ADKONT KASI PQ KASI TEKNIK KASI TERMIN KASI KSDM KEPALA LAPANGAN KASI LOGIAT
RIDWAN M. ABDUH PRADIPTA ARIEF R. WIBOWO BUDIYONO BERMAN HAMZAH ROHMAN H SUGIONO

STAF JUREINES
COST CONTROL ADM. KONTRAK MUH. RASIANTO DOC. CONTROL ASS QUANTITY ALUSI PERALATAN
ARIEF ANDRIANSYAH ABD. ROZAK IKKO JULI M. ZAENAL ARIFIN GAYU ADI
NOVIA SARI STAF
STAF STAF EFRI ALDHARIN DRIVER
M. ILHAM RONALD S ERTI MESS &MASAK ASS. KA. LAP STAF LOGISTIK
YOUVAN RIKO OB IKRAM VITORIO W.P
CHEF SURVEYOR ENGINEERING ONO SECURITY HARDIN
M ONITORING & DOKUM ENTASI MULYADI RENOLD MILEN HUMAS MUKSIN
TRI HARTONO WAHYU ADM SALMAN
ARDI MIHADA ARNALD ERWIN DIAN
SURVEYOR SHOP DRAWING AS BUILT DRAWING TORO WAHYU
PENI PRIYO EKO SOLEH
ALFAN DENI TAMI ERMA
AGUS SALIM RISKA SHOFI BOY
HASYIM GIYAS ROBBY FERDI
ROHANA VIDIA
MUKLIS GRESS
ANDI BANGKIT
ERVAN
ADE
RICKY HARIAN &LOGISTIK RIGID PAVEMENT STRUCTUR TANAH DAN BASE AKSESORIS &UTILITAS ASPAL & BAHU
AFIF KOSIGIN INDRA MAWAN HERHER HERDIANA ANDI L SISTU NUR SUWAGI
ANJAR JONPRI M. NASIR BAHTIAR M. ARIF SETIAWAN SAPUAN
GILARD PRIYO UTOMO RAMBUN PUTUT
AGUS SUGIANTO MADJI
OKTA HERI
SUMARTO SUHAEMI
JUMADI

Gambar 2.9. Struktur Organisasi Pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Bakauheni – Terbanggi Besar seksi 2 Sidomulyo –
Kota Baru STA. 39+400 – STA. 80+000 PT. Waskita Karya (Persero) Tbk

24
Didalam organisasi kontraktor terdapat bagian-bagian yang mempunyai tugas
dan wewenang masing-masing. Dengan adanya susunan organisasi dan
manajemen yang baik dan teratur, maka dapat menjamin kualitas kerja dan
sekaligus mempertahankan nama baik perusahaan. Gambar 2.8. dan Gambar 2.9.
menjelaskan mengenai uraian tugas dan tanggung jawab dari unsur-unsur yang
terlibat dalam organisasi pihak kontraktor adalah sebagai berikut:

1. Pemilik Proyek (Owner)


Pemilik Proyek adalah orang atau badan hukum atau instansi yang memiliki
proyek dan menyediakan dana untuk merealisasikannya. Pada proyek
pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera, pemilik proyek adalah PT. Hutama
Karya.
Hak dan kewajiban pemilik proyek adalah sebagai berikut:
a. Mengendalikan proyek secara keseluruhan untuk mencapai sasaran baik
segi kualitas fisik proyek maupun batas waktu yang telah ditetapkan.
b. Mengadakan kontrak dengan kontraktor yang membuat tugas dan
kewajiban sesuai prosedur.
c. Mencabut dan membatalkan kontrak terhadap kontraktor apabila
kontraktor menangguhkan pekerjaan proyek tanpa alasan yang dapat
diterima.
d. Menyetujui atau menolak penambahan, pengurangan dan perubahan
pekerjaan diluar dokumen kontrak yang diusulkan kontraktor.
e. Menerima atau menolak saran-saran kontraktor dalam kaitannya dengan
pembangunan proyek.
f. Memberikan informasi dan penjelasan kepada kontraktor mengenai segala
hal yang dbutuhkan untuk kepentingan proyek.

25
2. Kepala Proyek
Kepala proyek adalah orang yang dapat memimpin dan mengkoordinir
bagian-bagian dibawahnya. Kepala proyek memiliki kekuasaan untuk
mempimpin semua kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek
serta mengelola proyek sedemikian rupa, sehingga tercapai tujuan proyek
yaitu penyelesaian proyek pada waktunya dengan kualitas/mutu yang
memenuhi persyaratan serta membantu kepala divisi dalam merencanakan,
melaksanakan dan mengendalikan program kerja bidang produksi
(pelaksanaan kontrak konstruksi) sebagai bagian dari program kerja divisi,
untuk menghasilkan pelaksanaan kontrak konstruksi secara efektif dan efisien,
memenuhi betas an-batasan perencanaan dalam aspek sumber saya, biaya,
mutu dan waktu serta memberikan kepuasan kepada pihak pengguna jasa.
a. Tanggungjawab kepala proyek adalah sebagai berikut:
1. Menjamin hasil proyek sesuai dengan rencana.
2. Memastikan seluruh kebutuhan di proyek bisa didapatkan.
3. Memastikan kelancaran operasional pelaksanaan proyek
4. Menjamin kecepatan kerja dan biaya yang efisien guna mencapai mutu
yang di syaratkan.
5. Menjamin hal-hal yang di rencanakan dapat berjalan sesuai rencana.
6. Menjaga nama baik perusahaan dan kepuasan pelanggan
7. Mengetahui tugas-tugas dan tanggungjawab kontraktor sesuai dengan
kontrak.
8. Menjamin tersedianya sumber daya yang diperlukan proyek secara tepat
waktu.
9. Mendapatkan harga yang kompetitif dan mutu kerja yang baik dan
subkon dan supplier.
10. Menjamin situasi kerja yang harmonis dan kompetitif untuk mencapai
produktivitas pegawai yang optimal.
11. Menjamin terselanggaranya kebijakan dan program K3 di lingkungan
proyek.

26
12. Menjamin pelaksanaan program AMDAL di lingkungan proyek.
13. Menjamin pembuangan limbah B3 dari proyek, tidak merusak
lingkungan dan dibuang ketempat yang tepat.
b. Wewenang kepala proyek adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan:
a. Pengaturan tenaga kerja
b. Metode kerja
c. Harga satuan alat
d. Harga upah borong
2. Menandatangani berita acara klaim tagihan.
3. Melakukan negosiasi dengan owner untuk pekerjaan tambah atau
kurang.
4. Mengambil keputusan untuk memilih subkontraktor atau supplier yang
akan dipakai.
5. Menyelesaikan permasalahan internal dan eksternal proyek.

3. Kepala Lapangan
Kepala lapangan adalah orang yang menyusun perencanaan bersama engineer
untuk mengkoordinir penyediaan mandor dan tenaga kerja lainnya di proyek,
menjaga kualitas pekerjaan sesuai kontrak dan menjalankan tugas kepala
proyek bila kepala proyek tidak berada di tempat.
a. Tanggungjawab kepala lapangan adalah sebagai berikut:
1. Menjamin hasil akhir proyek sesuai dengan mutu yang disyaratkan.
2. Menjamin ketertiban, kebersihan dan keselamatan pekerja selama
proyek berlangsung.
3. Menjamin kecepatan dan keteoatan pelaksanaan serta efisiensi
penggunaan.
4. Menjamin akurasi rencana kerja yang dibuat.
5. Menjamin tembahan kontribusi proyek dari yang direncanakan.
6. Menjamin semua kegiatan dapat terkontrol dengan baik.

27
7. Menjamin semua kerja yang harmonis kompetitif untuk mencapai
produktivitas pegawai yang optimal.
8. Memastikan setiap pekerjaan atau bahan tidak mencemari lingkungan
melampaui batas yang optimal.
9. Memastikan setiap pekerjaan atau bahan tidak mencemari lingkungan
batas normal.
10. Menjamin tidak ada risiko bagi pekerja dan lingkungan atas paparan
limbah yang terjadi.
b. Wewenang kepala proyek adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan:
a. Koordinasi dan rapat rutin pekerjaan
b. Persetujuan permintaan barang yang diperlukan
c. Mengkoordinir dan mengevaluasi sumber daya di bawah
koordinasinya
d. Evaluasi harga upah borong
e. Evaluasi jadwal pelaksanaan
f. Pembagian tugas pelaksanaan
g. Target pelaksanaan
2. Menentukan cara kerja yang dapat meminimalisir terjadinya kerusakan
lingkungan
3. Merekomendaskan jam kerja daya di bawah koordinasinya.

4. Kepala Teknik (Engineering Manager/EM)


Kepala Teknik adalah seseorang yang membuat studi perbandingan untuk
menemukan metode kerja yang terpat dan aman, mengevaluasi jadwal
pelaksanaan secara rutin (mingguan atau bulanan), membuat laporan intern
dan mengendalikan administrasi gambar, menguasai seluruh isi dokumen
kontrak, mengumpulkan data-data untuk di proses diperencanaan,
meningkatkan efiseiensi proyek, melakukan studi atau test untuk menjamin
mutu pelaksanaan, memproses berita acara (fisik) tepat pada waktunya,

28
melaksanakan klaim pada pihak kedua mengembangkan motivasi bawahan,
melaksanakan tertib administrasi teknik, mengembangkan sistem dan
teknologi baru, membina hubungan yang baik dengan relasi, membuat
penjadwalan sampai dengan selesai, membuat jadwal bulanan, mengawasi
dan melaporkan kegiatan kelibrasi alat, bersama-sama dengan pelaksana dan
general affair, melakukan tugas kepala operasi bila kepala operasi tidak
berada di tempat, melaksanakan dan monitoring jalannya proyek sesuai
dengan prinsip K3L dan melaksanakan pembuangan limbah proyek sesuai
dengan prosedur pengelolaan limbah B3.
a. Tanggungjawab kepala teknik adalah sebagai berikut:
1. Menjamin ketepatan wajtu penyelesaian proyek
2. Memastikan volume pekerjaan yang ada terselesaikan dengan tepat
waktu, kualitas dan biaya
3. Menjamin semua kegiatan proyek dapat terkontrol dengan baik
4. Menjamin kecepatan kerja dan biaya yang efisien guna mencapai mutu
yang disyaratkan
5. Menjamin efektivitas, efisiensi dan keamanan metode kerja yang
digunakan dan mengetahui tugas-tugas dan tanggungjawab kontraktor
6. Menjamin gambar yang dipergunakan benar dan akurat
7. Menjamin hasil pekerjaan memenuhi standar mutur yang ditetapkan
8. Menjaga kelancaran cash flow proyek
9. Menjamin agar hak proyek daoat ditagihkan dengan baik.
10. Menjamin kemajuan sistem teknologi yang lebih efektif dan efisien
11. Menjamin kelancaran operasional pelaksanaan proyek
12. Menjamin ketepatan waktu penyelesaian proyek
13. Memudahkan pelacakan data yang berkaitan dengan peleksanaan
proyek
14. Merinci jadwal mingguan dan bulanan menjadi rencana bobot
mingguan dan bulanan

29
15. Menjamin tersedianya data-data yang diperlukan MK sehingga tercipta
komunikasi yang tepat
16. Memastikan alat-alat yang dipakai pada tingkat presisi yang
dikehendaki
17. Menjamin tidak adanya risiko akibat paparan limbah yang terjadi secara
terukur
b. Wewenang kepala teknik adalah sebagai berikut:
1. Bersama quality coordinator menetapkan:
a. Standar mutu pekerjaan
b. Standar pelaksanaan
c. Asumsi-asumsi pelaksanaan pekerjaan
2. Melalui kepala operasi menghentikan pekerjaan sementara waktu bila
terjadi penyimpangan terhadap mutu, K3 dan lingkungan
3. Melakukan koordinasi dengan konsultan dan pengawas bidang
engineering

5. Quality Surveyor
Quality Surveyor bertugas untuk membuat analisa harga satuan pekerjaan dan
melaksanakan perhitungan volume pekerjaan tambah atau kurang,
menghitung kemajuan proses pelaksanaan pekerjaan dan bersama kepala
teknik melaksanakan klaim tagihan.
a. Tanggungjawab quality surveyor adalah sebagai berikut:
1. Memastikan volume hasil perhitungan sesuai dengan kenyataan di
lapangan
2. Menjamin dan menjaga kontribusi yang baik dengan perhitungan-
perhitungan kuantitas yang baik dan benar
3. Menjamin harga satuan yang dibuat dapat dilaksanakan di lapangan
4. Memastkan data yang diberikan seakurat mungkin

30
b. Wewenang quality surveyor adalah sebagai berikut:
1. Meminta kepada konsultan atau pengawas lapangan untuk melakukan
perhitungan di lapangan
2. Meminta data-data yang dibutuhkan dalam rangka analisa harga satuan
pekerjaan
3. Meminta data kemajuan dari bagian monitoring untuk di proses pada
permintaan tagihan
4. Melakukan asistensi kepada konsultan atau owner dalam hal permintaan
tagihan

6. Quality Control
Quality Control adalah bagian yang mengawasi pelaksanaan pekerjaan dan
mengaplikasikan standar mutu yang telah di tetapkan oleh quality coordinator
di lapangan baik dari segi mutu bahan yang digunakan maupun metode kerja.
a. Tanggung jawab quality control adalah sebagai berikut:
1. Menguji dan memastikan metode kerja yang diusulkan memungkinkan
untuk dilaksanakan di lapangan
2. Memastikan hasil pekerjaan di lapangan memenuhi standar mutu yang
ditetapkan
3. Memastikan bahwa bahan-bahan yang di pakai dilapangan maupun
metode kerja yang dilaksanakan memenuhi persyartaan hingga didapat
hasil yang memenuhi syarat
b. Wewenang quality control adalah menghentikan sementara pekerjaan di
lapangan bila bahan yang digunakan dan metode yang digunakan
dipandang tidak dapat direkomendasikan untuk mencapai standar mutu
yang disyaratkan setelah berkoordinasi dengan petugas laboratorium

31
7. Drafter
Drafter adalah pihak yang membantu site engineer untuk membuat gambar
pelaksanaan yang mengacu pada gambar yang dibuat oleh konsultan
perencana.
a. Tugas dan tanggungjawab drafter adalah sebagai berikut:
1. Menyusun construction method
2. Menyiapkan as built drawing
3. Menyiapkan shop drawing
4. Desain ulang jika diperlukan
b. Wewenang drafter adalah sebagai berikut:
1. Memberi masukan kepada site enginner untuk penyajian gambar yang
baik dan informatif
2. Menentukan penyajian gambar, dan notasi yang digunakan dengan
persetujuan construction manager

8. Logistik
Logistik adalah orang yang bertugas untuk mengatur mobilisasi alat dan
material yang akan di pakai dalam proyek serta mengatur penerimaan dan
pengeluaran bahan.
a. Tugas dan tanggungjawab logistik adalah sebagai berikut:
1. Bertanggungjawab penuh atas jumlah barang yang diterima sesuai surat
pesanan, melaksanakan administrasi pemesanan dan pengiriman bahan
2. Bertanggungjawab dalam mengedalikan pengeluaran, pemasukan
barang atau material yang harus mengikuti prosedur dan melakukan
survei serta memberikan informasi kepada proyek tentang sumber,
harga bahan dam sewa alat
3. Mengawsi material yang akan masuk ke lapangan agar sesuai dengan
jumlah, spesifikasi yang di terima dan menyelenggarakan pembelian
bahan yang telah di putuskan oleh kepala proyek sesuai dengan jadwal
pengadaan bahan dan prosedur pembelian

32
4. Melaksanakan jadwal material yang dibuat oleh kepala proyek dan
mengawasi agar tidak terjadi penumpukan material di lapangan dan
membuat jadwal pengadaan bahan dan peralatan proyek
5. Memilih lokasi dan mengatur penyimpanan material atau bahan-bahan,
sehingga mutunya tetap terjaga dan menyelenggarakan administrasi
pengundangan tentang penerimaan, penyimpanan dan penggunaan
bahan
b. Wewenangnya adalah sebagai berikut:
1. Bertindak untuk memberikan laporan mengenai pemeriksaan berkala,
melarang penggunaan material berkategori rusak atau mutu turun dan
melakukan pemisahan lokasi
2. Bertindak untuk memberikan laporan klarifikasi kepada pemasook
untuk kemudian menerima atau menolak pasokan material yang tidak
memenuhi persyartan kualitas dan kuantitas

9. Monitoring
Monitoring adalah bagian yang memonitor progress proyek dan
mempersiapkan checklist pekerjaan di lapangan.
a. Tanggungjawab monitoring adalah sebagai berikut:
1. Memastikan data yang diberikan seakurat mungkin
2. Memastikan volume hasil perhitungan sesuai dengan kenyataan
lapngan
3. Menjamin harga satuan yang dibuat dapat dilaksanakan di lapangan
4. Menjamin dan menjaga kontribusi yang baik dengan perhitungan-
perhitungan yang baik dan benar
b. Wewenang monitoring adalah sebagai berikut:
1. Menerima data-data yang dibutuhkan dalam rangka analisa harga
satuan pekerjaan
2. Meminta data-data kemajuan yang dibutukan untuk progress klaim
tagihan

33
3. Meminta kepada konsultan pengawas untuk melakukan perhitungan di
lapangan
4. Melakukan asistensi kepada konsultan atau owner dalam klaim tagihan

10. Healty Safety Environment (HSE)


Keselamatan dan kesehatan kerja di proyek, sangat penting bagi
kelangsungan pelaksanaan pekerja. Jaminan kesehatan, keamanan, dan
keselamatan kerja sangat diperlukan untuk melindungi para pekerja dari
segala kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. HSE bertugas untuk
mengedalikan dalam hal K3 yaitu keselamatan, keamanan dan kesehatan
kerja dalam sebuah proyek. Bertugas menyiapkan alat pelindung diri,
memberikan pengarahan kepada semua pegawai, mengontrol lingkungan,
memberikan rasa aman terhadap para pekerja dan menyiapkan jalur
evakuasi. Perencanaan K3 berkaitan dengan penyusunan safety plan,
pengamanan proyek (security plan), dan pengelolahan ketertiban serta
kebersihan proyek ( house keeping) dengan target “ Zero accident”.
Tugas dan Tanggung Jawab Tenaga Ahli K3 konstruksi adalah sebagai
berikut:
1. Menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang dan
terkait K3 Konstruksi
2. Mengkaji dokumen kontrak dan metode kerja pelaksana konstruksi
3. Merencanakan dan menyusun program K3
4. Membuat prosedur kerja dan instruksi kerja penerapan ketentuan K3
5. Melakukan sosialisasi, penerapan dan pengawasan pelaksanaan
program, prosedur kerja dan intruksi kerja K3
6. Mengusulkan perbaikan metode kerja pelaksanaan konstruksis berbasis
K3, jika di perlukan
7. Melakukan penanganan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta
kedaan darurat

34
8. Meningkatkan kepada pekerja untuk selalu menggunakan APD ( Alat
Pelindung Diri)
9. Mengatur lalu lintas yang akan melewati wilayah proyek

35