Anda di halaman 1dari 13

UJIAN AKHIR SEMESTER

MATA KULIAH
KONSERVASI DAN REHABILITASI SDA

Oleh :
JOHN DEDDY PARIATNO
NIM. CFA 217 034

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
PALANGKA RAYA
2019
PERHATIKAN:
1. Jawablah dengan singkat dan jelas.
2. Jawaban dikumpulkan via email adijaya@agr.upr.ac.id paling lambat
tanggal 20 Januari 2019 pukul 18.00 WIB.
3. Diskusi diperbolehkan, tapi jawaban tidak boleh sama (mengcopy).

SOAL :
1) Jelaskan definisi “Tanah” berdasarkan pengertian: (a) Pedologi, (b)
Edapologi dan apa bedanya tanah dan lahan.
2) a) Apa yang dimaksudkan dengan erosi? B) Sebutkan dan jelaskan
minimal 3 teknik konservasi tanah dan air yang saudara ketahui, c)
Apa yang dimaksudkan dengan erosi yang diperbolehkan.
3) Kegiatan pembangunan, khsususnya yang memanfaatkan sumber
daya lahan dapat memberikan dampak dan menyebabkan
kerusakan/degradasi lahan. Sebutkan dan jelaskan minimal 3 (tiga)
dampak yang ditimbulkan dan penanggulangannya.
4) Jelaskan apa yang dimaksudkan dengan lahan basah dan
bagaimana filosofi dasar konservasi dan rehabilitasi lahan basah
tersebut.
5) Jelaskan apa yang dimaksudkan dengan lahan kering dan
bagaimana filosofi dasar konservasi dan rehabilitasi lahan kering
tersebut.
JAWABAN :
1) Definisi “Tanah” berdasarkan pengertiannya, yaitu :
a. Pedologi
Tanah adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak
dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus
mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-fakto
berupar: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.
b. Edapologi
Tanah adalah media tumbuh tanaman
c. Perbedaan antara tanah dan lahan yaitu bahwa :
“Tanah” merupakan bagian dari permukaan bumi yang terdiri
atas horison-horison, sedangkan “Lahan” merupakan tanah
dengan lingkungannya (misalnya iklim).

2) Yang dimaksud dengan, yaitu :


a. Erosi
Didefinisikan sebagai suatu peristiwa hilang atau terkikisnya
tanah atau bagian tanah dari suatu tempat yang terangkut dari
suatu tempat ke tempat lain, baik disebabkan oleh pergerakan
air, angin dan/atau es.
b. Teknik konservasi tanah dan air yang saya ketahui, yaitu:
1. Metode Konservasi Tanah
Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga
golongan utama, yaitu
 Metode vegetatif, adalah penggunaan tanaman atau
bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk
mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh,
mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan
yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah.
Beberapa teknik konservasi tanah dan air melalui
cara vegetatif seperti pertanaman lorong (alley
cropping), silvipastura, dan pemberian mulsa.
 Metode mekanik, adalah semua perlakuan fisik
mekanik yang diberikan terhadap tanah dan
pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran
permukaan dan erosi, dan meningkatkan
kemampuan penggunaan tanah. Metode mekanik
dalam konservasi tanah dan air adalah pengolahan
tanah, guludan, teras, penghambat (check dam),
waduk, rorak, perbaikan drainase dan irigasi
 Metode kimia atau cara kimia dalam usahan
pencegahan erosi,yaitu dengan pemanfaatan soil
conditiner atau bahan pamtap tanah dalam hal
memperbaiki struktur tanah sehingga tanah akan
tetap resisten terhadap erosi. Bahan kimia memiliki
pengaruh yang besar terhadap stabilitas tanah
karena senyawa tersebuttahan terhadap mikrobia
tanah permeabilitas tanah dipertinggi dan erosi
berkurang.
2. Metode Konservasi Air
Metode pengendalian tata air yang umum digunakan yaitu
irigasi dan drainase. Irigasi merupakan usaha untuk
menambah air ke dalam wilayah, sedangkan drainase
sebaliknya. Drainase berarti keadaan dan cara air-lebih
keluar dari tanah. Air-lebih adalah bagian dari air yang ada
di dalam tanah yang tidak dapat dipegang atau ditahan
oleh butir-butir tanah dan memenuhi ruang pori tanah
sehingga tanah menjadi jenuh air.
 Drainase pada tanah gambut secara alami selalu
berada dalam kondisi sangat terhambat hingga
tergenang. Hal ini memerlukan penanganan yang
tepat sehingga drainase dapat diperbaiki untuk
mencapai muka air tanah yang optimum tanpa
mengakibatkan drainase yang berlebihan (over
drainage). Drainase yang berlebihan akan
mengakibatkan kekeringan pada tanah gambut yang
bersifat tidak dapat balik (irreversible) dan
penurunan muka tanah yang serius. Keberadaan
mineral pirit pada tanah gambut sehingga tetap
tereduksi juga harus diperhatikan.
 Irigasi bertujuan untuk memberikan tambahan air
terhadap air hujan dan memberikan air kepada
tanaman dalam jumlah yang cukup dan pada waktu
yang diperlukan. Air irigasi mempunyai kegunaan
lain, yaitu (1) mempermudah pengolahan tanah, (2)
mengatur suhu tanah dan iklim mikro, (3) mencuci
tanah dari kadar garam atau asam yang terlalu
tinggi, (4) menggenangi tanah untuk memberantas
gulma serta hama penyakit. Pada perkebunan
kelapa sawit, pemberian air irigasi biasanya
dilakukan dengan cara pemberian air dalam selokan
atau saluran.

c. Yang dimaksudkan dengan erosi yang diperbolehkan.atau EDP


yaitu nilai batas yang dapat diperbolehkan yang tidak melebihi
batas pembentukan tanah dalam hal ini Produktivitas.
Wischmeier dan Smith (1978) mengemukakan bahwa dalam
penentuan nilai Edp harus mempertimbangkan :
 Ketebalan lapisan tanah atas
 Sifat fisik tanah
 Pencegahan terjadinya selokan (gully)
 Penurunan bahan organik
 Kehilangan zat hara tanaman.

3) Degradasi lahan adalah menurunnya kualitas lahan sehingga


berpengaruh terhadap tingkat produktivitas lahan tersebut.
Menurunnya tingkat produktivitas lahan tersebut mengakibatkan
terjadinya lahan kritis. Lahan kritis adalah lahan yang telah
mengalami kerusakan secara fisik, kimia, biologis, atau lahan yang
tidak mempunyai nilai ekonomis. Kerusakan itu, antara lain dapat
disebabkan oleh terjadinya kebakaran atau terjadinya erosi. Hal itu
akan menyebabkan terbentuknya kualitas lingkungan yang lebih
rendah dengan dampak negatif yang makin meningkat..
Faktor yang menyebabkan degradasi lahan yaitu :
Degradasi lahan dipengaruhi oleh faktor manusia dan faktor
lingkungan.
 Degradasi lahan yang disebabkan oleh faktor manusia antara
lain:
1. Penebangan hutan secara terus menerus yang
menyebabkan hutan menjadi gundul
2. Kerusakan lahan oleh manusia sering didasari oleh
kepentingan ekomoni belaka tanpa mementingkan
kelestarian lingkungan
3. Pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga
membutuhkan lahan untuk permukiman maupun aktivitas
pertanian.
4. Aktivitas pertanian yang seringkali tidak cocok
dengan kondisi lahan. Misalnya aktivitas pertanian
yang dilakukan pada lahan dengan kemiringan lereng
yang curam, jika pengelolaan lahannya tidak
direncanakan dengan baik. Lahan yang curam rawan
terhadap erosi, terlebih lagi jika turun hujan
5. Sejumlah penduduk miskin atau tidak memiliki lahan,
membuka lahan baru di daerah pegunungan. Akibatnya,
tumbuhan dan hewan di dalamnya terancam serta
tanahnya rawan terhadap erosi.
6. Lahan – lahan bekas penambangan bahan galian
seringkali dibiarkan begitu saja jika bahan galiannya telah
habis sehingga lahan menjadi rusak.
7. Reboisasi dan Reklamasi yang Gagal. Upaya reboisasi
hutan yang telah ditebang dan reklamasi lubang/tanah
terbuka bekas galian tambang sangat minim hasilnya
karena prosesnya memerlukan waktu puluhan tahun dan
dananya tidak mencukupi karena banyak disalahgunakan
(dikorupsi). Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan dan
kesadaran atas pentingnya pelestarian lingkungan hidup,
baik di kalangan pejabat maupun warga masyarakat
sangat rendah. Kebakaran hutan reboisasi diduga ada
unsur kesengajaan untuk mengelabui reboisasi yang
tidak sesuai ketentuan (manipulasi reboisasi).
8. Lemahnya Penegakan Hukum. Sudah banyak peraturan
perundangan yang telah dibuat berkenaan dengan
pengelolaan lingkungan dan khususnya hutan, namun
implementasinya di lapangan seakan-akan tidak tampak,
karena memang faktanya apa yang dilakukan tidak sesuai
dengan peraturan yang telah dibuat. Lemah dan tidak
jalannya sangsi atas pelanggaran dalam setiap peraturan
yang ada memberikan peluang untuk terjadinya
pelanggaran. Di pihak lain disinyalir adanya aparat
penegak hukum yang terlibat dalam sindikat/mafia
perkayuan dan pertambangan telah melemahkan proses
peradilan atas para penjahat lingkungan, sehingga
mengesankan peradilan masalah lingkungan seperti
sandiwara belaka. Namun di atas itu semua lemahnya
penegakan hukum sebagai akibat rendahnya komitmen
dan kredibilitas moral aparat penegak hukum merupakan
faktor utama yang berpengaruh terhadap semakin
maraknya perusakan hutan/lingkungan.
9. Kesadaran Masyarakat yang Rendah. Kesadaran
sebagian besar warga masyarakat yang rendah terhadap
pentingnya pelestarian lingkungan/hutan merupakan satu
hal yang menyebabkan ketidakpedulian masyarakat atas
degradasi lingkungan yang semakin intensif. Rendahnya
kesadaran masyarakat ini disebabkan mereka tidak
memiliki pengetahuan tentang lingkungan hidup yang
memadai. Oleh karena itu, kini sudah saatnya
pengetahuan tentang lingkungan hidup dikembangkan
sedemikian rupa dan menjadi salah satu mata pelajaran
di sekolah umum mulai dari tingkat SD. Hal ini dipandang
penting, karena kurangnya pengetahuan masyarakat
atas fungsi dan manfaat lingkungan hidup telah
menyebabkan pula rendahnya disiplin masyarakat dalam
memperlakukan lingkungan sesuai peraturan
perundang-undangan dan kaidah- kaidah iptek lingkungan
hidup.
 Degradasi lahan yang disebabkan oleh faktor manusia
antara lain:
1. Bencana alam seperti banjir, longsor, badai, gempa
atau letusan gunung merapi.
2. Iklim, jenis tanah dan kemiringan lereng sangat
memengaruhi laju kerusakan lahan. Daerah
dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia memiliki
potensi erosi yang tinggi. Akibatnya, jika hutan
ditebang maka laju erosinya akan semakin tinggi.
Jenis tanah tertentu lebih rawan terhadap erosi.
Semakin besar kemiringan lereng, biasanya semakin
besar potensi erosi sehingga dapat menimbulkan
kerusakan lahan yang lebih besar.

a. Dampak Degradasi Lahan Terhadap Kehidupan yaitu:


 Terjadi perubahan kondisi iklim. Tumbuhan berfungsi
meningkatkan penguapan melalui dedaunan (transpirasi)
dan menyerap panas. Jika tumbuhan banyak ditebang,
suhu udara meningkat dan penguapan berkurang
 Spesies makhluk hidup yang ada di dalam hutan menjadi
hilang atau bahkan punah karena hutan sebagai
habitatnya mengalami kerusakan. Sebagian hewan
terpaksa masuk ke pemukiman penduduk, merusak kebun
atau mengganggu aktivitas manusia.
 Hilangnya berbagai jenis spesies makhluk hidup karena
rusaknya lahan menimbulkan kerugian yang tak ternilai
harganya.
 Banjir dan kekeringan semakin sering terjadi karena
berkurangnya infiltrasi dan meningkatkan limpasan
permukaan
 Berkembangnya masalah kemiskinan di kalangan petani
karena produktivitas lahannya terus menurun
 Terbukanya lahan kerana kerusakan hutan
memungkinkan terjadinya erosi yang sangat intensif pada
lahan sehingga tanah menjadi tidak subur
 Nilai estetika (keindahan) dari keanekaragaman tumbuhan
dan hewan yang hidup di suatu lahan menjadi hilang
 Hasil – hasil hutan yang secara ekonomi dapat
memberikan keuntungan seperti kayu, buah – buahan
dan tanaman obat menjadi hilang
 Tanah menjadi tandus dan tidak dapat ditanami lagi
 Erosi yang terjadi pada lahan kritis dapat menimbulkan
tanah longsor

b. Cara penanggulangannya, yaitu:


Untuk mencegah degradasi lahan, diperlukan upaya yang
dilakukan agar keberadaan lahan dapat terus dimanfaatkan
dengan memperhatikan kelestarian lingkungan.
Upaya – upaya yang dilakukan misalnya sebagai berikut
 Lahan – lahan yang tiak cocok untuk pertanian sebaiknya
dijadikan sebagai hutan, seperti lereng gunung yang
curam atau daerah tanah berkapur yang mudah longsor
 Lahan – lahan yang kering sebaiknya dibuat teras agar
dapat mengurangi aliran di permukaan
 Daerah yang memiliki curah hujan tinggi seperti Jawa
Barat, lahan yang miring tidak hanya dibuat sangkedan,
saluran pelepas air perlu dibuat memanjang lereng.
Terjunan air perlu diperkuat bambu, batu dan rumput
yang akarnya kuat.
 Hindari penyiangan yang bersih di antara tanaman keras.
Jika tidak ada pupuk hijau pnutup tanah, dapat pula
dengan rumput yang tidak berbahaya bagi tanaman
pokok. Keberadaan tanaman penutup tanah juga
menentukan tingkat erosi
 Melakukan reboisasi terhadap lahan yang sudah kritis
 Tidak membakar hutan pada musim kemarau. Selain
dapat menyebabkan degradasi lahan, asap dari
kebakaran tersebut juga menimbulkan polusi udara.

4) Yang dimaksudkan dengan lahan basah adalah wilayah-wilayah di


mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap)
atau musiman. Wilayah-wilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-
kadang tergenangi oleh lapisan air yang dangkal. Digolongkan ke
dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawa-rawa (termasuk rawa
bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan basah dapat
tergolong ke dalam air tawar, payau atau asin.
Filosofi dasar konservasi dan rehabilitasi lahan basah tersebut yakni
bahwa Konservasi dan rehabilitasi lahan erat kaitannya dalam
pembangunan. Konsep pembangunan berkelanjutan tidak lagi
bertumpu kepada salah satu aspek, seperti pada pembangunan yang
lebih memusatkan perhatian kepada aspek ekonomi. Tetapi
memandang pembangunan dalam konsep yang menyeluruh dan
memuat tiga aspek yaitu aspek ekonomi, lingkungan hidup, dan
masyarakat.
Dalam pemanfaatan sumberdaya lahan, sangat diperlukan kesadaran
akan kearifan lokal dan menjaga keseimbangan lingkungan dengan
cara menerapkan teknik konservasi yang tepat sehingga pemanfaatan
sumberdaya lahan yang bekelanjutan dapat tercapai dalam rangka
memfungsikan lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup sekarang
maupun generasi mendatang. Rehabilitasi lahan merupakan suatu
usaha perbaikan lahan yang telah banyak dimanfaatkan fungsinya
serta telah mengalami penurunan suatu fungsi dari lahan tersebut,
sehingga dapat digunakan lagi untuk masa mendatang.
Dalam hal ini, lahan gambut sebagai penambat dan penyimpan
karbon. Ekosistem gambut merupakan penyangga hidrologi dan
cadangan karbon yang sangat penting bagi lingkungan hidup. Oleh
karenanya, ekosistem ini harus dilindungi agar fungsinya dapat
dipertahankan sampai generasi mendatang. Aspek legal mengenai
konservasi lahan gambut diatur dalam Keputusan Presiden No. 32
tahun 1990 tentang kawasan lindung. Perlindungan terhadap kawasan
gambut dimaksudkan untuk mengendalikan hidrologi wilayah, yang
berfungsi sebagai penyimpan air dan pencegah banjir, serta
melindungi ekosistem yang khas di kawasan yang bersangkutan.
Konservasi lahan gambut juga dimaksudkan untuk meminimalkan
teremisinya cadangan karbon. Namun Keputusan Presiden tersebut
tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya pengawasan dan komitmen dari
semua pihak terkait.

5) Yang dimaksudkan dengan lahan kering adalah Lahan kering lahan


yang dapat digunakan untuk usaha pertanian denganmenggunakan air
secara terbatas dan biasanya hanya mengharapkan dari curah hujan.
Lahanini memiliki kondisi agro-ekosistem yang beragam, umumnya
berlereng dengan kondisikemantapan lahan yang labil (peka terhadap
erosi) terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah
konservasi tanah.
Lahan mempunyai peranan sangat penting bagi kehidupan manusia.
Segala macam bentuk intervensi manusia secara siklis dan permanen
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat materiil
maupun spirituil yang berasal dari lahan.
Filosofi dasar konservasi dan rehabilitasi lahan kering tersebut yakni
kita tahu, bahwa sumber daya alam berupa hutan/vegetasi, tanah dan
air merupakan kekayaan alam yang harus dilestarikan, sehingga
pengelolaan terhadap sumber daya alam tersebut harus dilakukan
secara hati-hati dan bijaksana, sehingga dapat mendukung
tercapainya kesejahteraan masyarakat secara lestari dan
berkesinambungan.
Tekanan terhadap sumber daya alam yang disebabkan oleh
pertambahan jumlah penduduk dengan segala aktivitasnya terhadap
sumber daya alam seperti pembukaan lahan untuk perkebunan,
pertanian, jalan, industri, pertambangan, pemukiman dan lain-lain.
Pembukaan lahan ini tidak jarang dilakukan tanpa mempertimbangkan
kelas kemampuan lahan dan penerapan konservasi tanah yang baik.
Akhirnya banyak lahan mengalami degradasi dan berubah menjadi
lahan kritis yang mengancam kesejahteraan rakyat banyak.
Terhadap kondisi tersebut di atas, diperlukan upaya-upaya untuk
memulihkan dan mempertahankan fungsi lahan kembali, yang biasa
dikenal dengan upaya Rehabilitasi Lahan dan Konservasi tanah
(RLKT).
Konservasi tanah dan rehabilitasi lahan perlu diterapkan dalam pola
usaha tanaman pertanian, perkebunan dan kehutanan. Dengan
melakukan konservasi tanah dan rehabilitasi lahan, akan dapat
mengurangi resiko terjadinya tanah longsor atau kekeringan air. Upaya
penerapan Konservasi tanah dan rehabilitasi lahan pada masyarakat
harus dilakukan secara terus-menerus, sehingga dapat memberi
manfaat bagi masyarakat. Untuk itu dukungan dari berbagai pihak
sangat diperlukan.
Pengelolaan lahan kering perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
pangan penduduk yang jumlahnya semakin meningkat sekaligus
mendukung pemantapan ketahanan pangan. Pengelolaan sumberdaya
lahan kering merupakan suatu cara pengelolaan bagian lingkungan
hidup untuk mendapatkan kesejahteraan bagi manusia. Pengelolaan
sumberdaya lahan harus dipandang sangat penting berdasarkan
pertimbangan bahwa proses pembangunan yang sedang dan akan
dilakukan di Indonesia masih tergantung pada cara memanfaatkan
potensi sumberdaya lahannya. Sumberdaya lahan kering dengan
segala komponen di dalamnya termasuk tanah, batuan, lereng, air,
dan biota harus dikelola dengan baik agar mendapatkan manfaat
yang optimal dan berkesinambungan antar penggunaannya.
Keberhasilan penerapan konservasi di lahan kering mampu
menciptakan kondisi lahan yang kondusif untuk menghasilkan produksi
secara lestari dan terpeliharanya produktivitas lahan sehingga pada
akhirnya berpengaruh positif pada peningkatan pendapatan petani.