Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN


PEMENUHAN KEBUTUHAN ELIMINASI

Ruangan : Gili Trawangan Nama Mahasiswa :Mujiburrahman


Tanggal : 26-01-2019 Nim/kelompok :018SYE17/3
Inisial Pasien : Tn. M
Umur/No.Reg :
I. Masalah Keperawatan Dasar
Gangguan Kebutuhan eliminasi
II. Landasan Teori
1. KONSEP DASAR
A. ANATOMI FISIOLOGI
1. Ginjal Ginjal merupakan organ seperti buncis yang berwarna cokelat
kemerah-merahan dan berbada di kedua sisi kolumna vertebral
posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian
dalam. Ginjal terbentang dari vertebra torakalis kedua belas sampai
vertebra lumbalis ketiga. Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua zona,
yaitu korteks (luar) dan medulla (dalam). Korteks meliputi daerah
antara dasar malfigi pyramid yang juga disebut pyramid medulla
hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortes antara pyramid-
pyramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal.
Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak-
bercak merah yang kecil (Petichie) yang sebenarnya merupakan
kumpulan veskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan
renal corpuscle atau badan malphigi. Kortek ginjal terutama terdiri atas
nefron pada bagian glomerulus, tubulus Konvulatus proximalis,
tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medulla dijumpai
sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus
kolectivus. Tiap-tiap ginjal mempunyai 1-4 juta filtrasi yang
fungsional dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron .
2. Ureter Urin meninggalkan tubulus dan memasuki duktus pengumpul
yang akan mentranspor urin ke pelvis renalis. Sebuah ureter bergabung
dengan setiap pelvis renalis sebagai rute keluar pertama pembuangan
urin. Ureter merupakan struktur tubular yang memiliki panjang 25
sampai 30 cm dan berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa. Ureter
membentang pada posisi retroperitoneum untuk memasuki kandung
kemih di dalam rongga pelvis pada sambungan ureterovesikalis. Urin
yang keluar dari ureter ke kandung kemih umumnya steril. Gerakan
peristaltik ureter menyebabkan urin masuk ke kandung kemih dalam
bentuk semburan. Ureter masuk ke dalam dinding posterior kandung
kemih dengan posisi miring agar mencegah refluks urin dari kandung
kemih ke ureter.
3. Kandung Kemih Kandung kemih merupakan suatu organ cekung yang
dapat berdistensi dan tersusun atas jaringan otot serta merupakan
wadah tempat urin dan merupakan organ ekskresi. Apabila kosong,
kandung kemih berada dalam rongga panggul di belakang simfisis
pubis. Pada pria, kandung kemih terletak pada rectum bagian posterior
dan pada wanita terletak pada dinding anterior uterus dan vagina.
Kandung kemih dapat menampung sekitar 600 ml urin, walaupun
pengeluaran urin normal sekitar 300 ml.
4. Uretra Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari
tubuh melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal, aliran urin yang
mengalami turbulensi membuat urin bebas dari bakteri. Merman
mukosa melapisi uretra, dan kelenjar uretra mensekresi lendir ke dalam
saluran uretra. Lendir dianggap bersifat bakteriostatis dan membentuk
plak mukosa untuk menecegah masuknya bakteri. Lapisan otot polos
yang tebal mengelili uretra.
B. DEFINISI
Eliminasi adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik
berupa urin atau bowel (feses). Miksi adalah proses pengosongan
kandung kemih bila kandung kemih terisi. Sistem tubuh yang berperan
dalam terjadinya proses eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung
kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu :
Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya
meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah
kedua yaitu timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks
berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini
gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk
berkemih. Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula
spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat
korteks serebri atau batang otak.
Kandung kemih dipersarafi araf saraf sakral (S-2) dan (S-3). Saraf
sensori dari kandung kemih dikirim ke medula spinalis (S-2) sampai (S-4)
kemudian diteruskan ke pusat miksi pada susunan saraf pusat. Pusat
miksi mengirim signal pada kandung kemih untuk berkontraksi. Pada saat
destrusor berkontraksi spinter interna berelaksasi dan spinter eksternal
dibawah kontol kesadaran akan berperan, apakah mau miksi atau ditahan.
Pada saat miksi abdominal berkontraksi meningkatkan kontraksi otot
kandung kemih, biasanya tidak lebih 10 ml urine tersisa dalam kandung
kemih yang diusebut urine residu. Pada eliminasi urine normal sangat
tergantung pada individu, biasanya miksi setelah bekerja, makan atau
bangun tidur., Normal miksi sehari 5 kali.
C. ETIOLOGI
1. Gangguan Eliminasi Urin
1. Intake cairan
2. Aktivitas
3. Obstruksi; batu ginjal, pertumbuhan jaringan abnormal, striktur urethra
4. Infeksi
5. Kehamilan
6. Penyakit; pembesaran kelenjar ptostat
7. Trauma sumsum tulang belakang
8. Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih,
urethra.
9. Umur
10. Penggunaan obat-obatan
2. Gangguan Eliminasi Fekal
a. Pola diet tidak adekuat/tidak sempurna:
b. Cairan
c. Meningkatnya stress psikologi
d. Kurang aktifitas, kurang berolahraga, berbaring lama.
e. Obat-obatan
f. Usia;
g. Penyakit-penyakit seperti obstruksi usus, paralitik ileus, kecelakaan
pada spinal cord dan tumor.

D. TANDA DAN GEJALA


1. Tanda Gangguan Eliminasi urin
a. Retensi Urin
1). Ketidak nyamanan daerah pubis.
2). Distensi dan ketidaksanggupan untuk berkemih.
3). Urine yang keluar dengan intake tidak seimbang.
4). Meningkatnya keinginan berkemih dan resah
5). Ketidaksanggupan untuk berkemih
b. Inkontinensia urin
1). pasien tidak dapat menahan keinginan BAK sebelum sampai di WC
2). pasien sering mengompol

2. Tanda Gangguan Eliminasi Fekal


a. Konstipasi
1). Menurunnya frekuensi BAB
2). Pengeluaran feses yang sulit, keras dan mengejan
3). Nyeri rektum
b. Impaction
1). Tidak BAB
2). anoreksia
3). Kembung/kram
4). nyeri rektum
c. Diare
1). BAB sering dengan cairan dan feses yang tidak berbentuk
2). Isi intestinal melewati usus halus dan kolon sangat cepat
3). Iritasi di dalam kolon merupakan faktor tambahan yang menyebabkan
meningkatkan sekresi mukosa.
4). feses menjadi encer sehingga pasien tidak dapat mengontrol dan
menahan BAB.
d. Inkontinensia Fekal
1). Tidak mampu mengontrol BAB dan udara dari anus,
2). BAB encer dan jumlahnya banyak
3). Gangguan fungsi spingter anal, penyakit neuromuskuler, trauma spinal
cord dan tumor spingter anal eksternal
e. Flatulens
1). Menumpuknya gas pada lumen intestinal,
2). Dinding usus meregang dan distended, merasa penuh, nyeri dan kram.
3). Biasanya gas keluar melalui mulut (sendawa) atau anus (flatus)
f. Hemoroid
1). pembengkakan vena pada dinding rectum
2). perdarahan jika dinding pembuluh darah vena meregang
3). merasa panas dan gatal jika terjadi inflamasi
4). nyeri
E. PATOFISIOLOGI
1. Gangguan Eliminasi Urin
Gangguan pada eliminasi sangat beragam seperti yang telah
dijelaskan di atas. Masing-masing gangguan tersebut disebabkan oleh
etiologi yang berbeda. Pada pasien dengan usia tua, trauma yang
menyebabkan cedera medulla spinal, akan menyebabkan gangguan dalam
mengkontrol urin/ inkontinensia urin. Gangguan traumatik pada tulang
belakang bisa mengakibatkan kerusakan pada medulla spinalis. Lesi
traumatik pada medulla spinalis tidak selalu terjadi bersama-sama dengan
adanya fraktur atau dislokasi. Tanpa kerusakan yang nyata pada tulang
belakang, efek traumatiknya bisa mengakibatkan efek yang nyata di
medulla spinallis. Cedera medulla spinalis (CMS) merupakan salah satu
penyebab gangguan fungsi saraf termasuk pada persyarafan berkemih dan
defekasi.
Komplikasi cedera spinal dapat menyebabkan syok neurogenik
dikaitkan dengan cedera medulla spinalis yang umumnya dikaitkan
sebagai syok spinal. Syok spinal merupakan depresi tiba-tiba aktivitas
reflex pada medulla spinalis (areflexia) di bawah tingkat cedera. Dalam
kondisi ini, otot-otot yang dipersyarafi oleh bagian segmen medulla yang
ada di bawah tingkat lesi menjadi paralisis komplet dan fleksid, dan
refleks-refleksnya tidak ada. Hal ini mempengaruhi refleks yang
merangsang fungsi berkemih dan defekasi. Distensi usus dan ileus
paralitik disebabkan oleh depresi refleks yang dapat diatasi dengan
dekompresi usus (Brunner & Suddarth, 2002). Hal senada disampaikan
Sjamsuhidajat (2004), pada komplikasi syok spinal terdapat tanda
gangguan fungsi autonom berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan
hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan
defekasi.
Proses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian
dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling
berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitas otot-otot kandung
kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistem
saraf otonom dan somatik. Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf
simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan
meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin dikoordinasikan
oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang
dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan
proksimal uretra.
Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang
simultan otot detrusor dan relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi
oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai neurotransmiter utama
yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. Selama fase pengisian, impuls
afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion dorsal spinal
sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari
batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral
spinal. Selama fase pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran
parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi otot detrusor.
Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan
relaksasi pada otot uretra trigonal dan proksimal. Impuls berjalan
sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus dan skelet
dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran
yang minimal. Pasien post operasi dan post partum merupakan bagian
yang terbanyak menyebabkan retensi urine akut. Fenomena ini terjadi
akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibat tindakan
pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik,
peregangan atau trauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi
episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan
kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine pos operasi
biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih
yang adekuat.

2. Gangguan Eliminasi Fekal


Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum. Hal ini
juga disebut bowel movement. Frekwensi defekasi pada setiap orang
sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali
perminggu. Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang. Ketika
gelombang peristaltik mendorong feses kedalam kolon sigmoid dan
rektum, saraf sensoris dalam rektum dirangsang dan individu menjadi
sadar terhadap kebutuhan untuk defekasi.
Defekasi biasanya dimulai oleh dua refleks defekasi yaitu refleks
defekasi instrinsik. Ketika feses masuk kedalam rektum, pengembangan
dinding rektum memberi suatu signal yang menyebar melalui pleksus
mesentrikus untuk memulai gelombang peristaltik pada kolon desenden,
kolon sigmoid, dan didalam rektum. Gelombang ini menekan feses kearah
anus. Begitu gelombang peristaltik mendekati anus, spingter anal interna
tidak menutup dan bila spingter eksternal tenang maka feses keluar.
Refleks defekasi kedua yaitu parasimpatis. Ketika serat saraf dalam
rektum dirangsang, signal diteruskan ke spinal cord (sakral 2 – 4) dan
kemudian kembali ke kolon desenden, kolon sigmoid dan rektum. Sinyal –
sinyal parasimpatis ini meningkatkan gelombang peristaltik, melemaskan
spingter anus internal dan meningkatkan refleks defekasi instrinsik.
Spingter anus individu duduk ditoilet atau bedpan, spingter anus eksternal
tenang dengan sendirinya.
Pengeluaran feses dibantu oleh kontraksi otot-otot perut dan
diaphragma yang akan meningkatkan tekanan abdominal dan oleh
kontraksi muskulus levator ani pada dasar panggul yang menggerakkan
feses melalui saluran anus. Defekasi normal dipermudah dengan refleksi
paha yang meningkatkan tekanan di dalam perut dan posisi duduk yang
meningkatkan tekanan kebawah kearah rektum. Jika refleks defekasi
diabaikan atau jika defekasi dihambat secara sengaja dengan
mengkontraksikan muskulus spingter eksternal, maka rasa terdesak untuk
defekasi secara berulang dapat menghasilkan rektum meluas untuk
menampung kumpulan feses. Cairan feses di absorpsi sehingga feses
menjadi keras dan terjadi konstipasi.

F. KLASIFIKASI
1. Eleminasi urine
a. Retensi urine
Retensi urine adalah akumulasi urine yang nyata didalam kandung
kemih akibat ketidakmampuan mengosongkan kandung kemi.
b. Dysuria
Adanya rasa setidaksakit atau kesulitan dalam berkemih.
c. Polyuria
Produksi urine abnormal dalam jumlah besar oleh ginjal , seperti
2500 ml / hari , tanpa adanya intake cairan.
d. Inkontinensi urine
Ketidaksanggupan sementara atau permanen otot spingter eksternal
untuk mengontrol keluarnya urine dari kantong kemih .
e. Urinari suppresi
Adalah berhenti mendadak produksi urine
2. Eleminasi fekal
a. Konstipasi
Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi , yang diikuti oleh
pengeluaran feses yang lama atau keras dan kering .
b. Impaksi
Imfaksi feses merupakan akibat dari konstipasi yang tidak diatasi .
Imfaksi adalah kumpulan feses yang mengeras , mengendap di
dalam rektum , yang tidak dapat dikeluarkan.
c. Diare
Diare adalah peningkatan jumlah feses dan peningkatan
pengeluaran feses yang cair dan tidak berbentuk . Diare adalah
gejala gangguan yang mempengaruhi proses pencernaan , absorpsi ,
dan sekresi di dalam saluran GI .
d. Inkontinensia
Inkontinensia feses adalah ketidakmampuan mengontrol keluarnya
feses dan gas dari anus .
e. Flatulen
Flatulen adalah penyebab umum abdomen menjadi penuh , terasa
nyeri , dan kram.
F. Hemoroid adalah vena – vena yang berdilatasi , membengkak
dilapisan rektum .

2. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Riwayat keperawatan eliminasi
Riwayat keperawatan eliminasi fekal dan urin membantu perawat
menentukan pola defekasi normal klien. Perawat mendapatkan suatu
gambaran feses normal dan beberapa perubahan yang terjadi dan
mengumpulkan informasi tentang beberapa masalah yang pernah terjadi
berhubungan dengan eliminasi, adanya ostomy dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pola eliminasi.
Pengkajiannya meliputi:
a. Pola eliminasi
b. Gambaran feses dan perubahan yang terjadi
c. Masalah eliminasi
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi seperti : penggunaan alat bantu,
diet, cairan, aktivitas dan latihan, medikasi dan stress.
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik abdomen terkait dengan eliminasi alvi meliputi
inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi dikhususkan pada saluran
intestinal. Auskultasi dikerjakan sebelum palpasi, sebab palpasi dapat
merubah peristaltik. Pemeriksaan rektum dan anus meliputi inspeksi dan
palpasi. Inspeksi feses, meliputi observasi feses klien terhadap warna,
konsistensi, bentuk permukaan, jumlah, bau dan adanya unsur-unsur
abdomen. Perhatikan tabel berikut :
KARAKTERISTIK FESES NORMAL DAN ABNORMAL
Karakteristik Normal Abnormal Kemungkinan penyebab
Warna Dewasa : Pekat / putih Adanya pigmen empedu
kecoklatan (obstruksi empedu);
Bayi : kekuningan pemeriksaan
diagnostik
menggunakan barium
Hitam / spt ter. Obat (spt. Fe); PSPA
(lambung, usus
halus); diet tinggi
buah merah dan sayur
hijau tua (spt. Bayam)
Merah PSPB (spt. Rektum),
beberapa makanan spt
bit.
Pucat Malabsorbsi lemak; diet
tinggi susu dan
produk susu dan
rendah daging.
Orange atau Infeksi usus
hijau
Konsistensi Berbentuk, lunak,Keras, kering Dehidrasi, penurunan
agak cair / motilitas usus akibat
lembek, basah. kurangnya serat,
kurang latihan,
gangguan emosi dan
laksantif abuse.
Diare Peningkatan motilitas
usus (mis. akibat
iritasi kolon oleh
bakteri).
Bentuk Silinder (bentukMengecil, bentuk Kondisi obstruksi rektum
rektum) dgn Æ pensil atau
2,5 cm u/ orang seperti benang
dewasa
Jumlah Tergantung diet
(100 – 400
gr/hari)
Bau Aromatik : dipenga-Tajam, pedas Infeksi, perdarahan
ruhi oleh
makanan yang
dimakan dan
flora bakteri.
Unsur Sejumlah kecilPus Infeksi bakteri
pokok bagian kasarMukus Konsidi peradangan
makanan yg tdkParasit Perdarahan
dicerna, Darah gastrointestinal
potongan bak-Lemak dalam Malabsorbsi
teri yang mati, jumlah besar Salah makan
sel epitel,Benda asing
lemak, protein,
unsur-unsur
kering cairan
pencernaan
(pigmen empedu
dll)

3. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik saluran gastrointestinal meliputi tehnik visualisasi
langsung / tidak langsung dan pemeriksaan laboratorium terhadap unsur-
unsur yang tidak normal.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Perubahan dalam eliminasi urine berhubungan dengan retensi urine,


inkontinensi dan enuresis
2. Perubahan dalam eliminasi fekal berhubungan dengan konstipasi, diare,
inkontinensia usus, hemoroid, impaction
3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya inkontinensi urine

C. INTERVENSI
1. Kurang volume cairan b.d seringnya buang air besar dan encer
Tujuan :
Keseimbangan cairan dapat dipertahankan dalam batas normal yang
ditandai dengan:
- Pengeluaran urin sesuai
- Pengisian kembali kapiler kurang dari 2 detik
- Turgor kulit elastis
- Membran mukusa lembab
- Berat badan tidak menunjukkan penurunan
Criteria hasil :
- Pasien mendapatkan cairan yang cukup untuk mengganti cairan yang
hilang
- Pasien menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat ditandai dengan
membrane
- mukosa lembab, turgor kulit baik, mata normal, TTV DBN.
Intervensi Rasional
Mandiri
Indikator langsung status cairan/
Kaji status hidrasi
perbaikan ketidakseimbangan
Kaji pemasukan dan pengeluaran
Menunjukkan status hidrasi
cairan
keseluruhan
Monitor tanda-tanda vital
Membantu dalam evaluasi derajat
Kolaborasi
defisit cairan/ keefektifan penggantian
Pemeriksaan laboratorium sesuai
terapi cairan dan respon terhadap
program; elektrolit, Ht, pH, serum
pengobatan
albumin
memberikan informasi tentang hidrasi,
Pemberian cairan dan elektrolit
fungsi organ
sesuai protokol (dengan oralit dan
Mengisi/ mempertahankan volume
cairan parenteral)
sirkulasi dan keseimbangan elektrolit
Pemberian obat sesuai indikasi
Menurunkan kehilangan cairan
Antidiare
Mengobati infeksi supuratif lokal
Antibiotik

2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d menurunnya intake dan
menurunnya absorpsi makanan dan cairan
Tujuan
- Pasien akan toleran dengan diit yang sesuai yang ditandai dengan:
- Berat badan dalam batas normal
- Tidak terjadi kekambuhan diare
Intervensi Rasional
Mandiri Memberikan informasi tentang diit dan
Timbang berat badan anak setiap hari keefektifan terapi
Monitor pemasukan dan pengeluaran Memberikan informasi tentang kebutuhan
Setelah rehidrasi, berikan minuman oral pemasukan/ defisiensi
dengan sering dan makanan yang sesuai Diit yang tepat penting untuk penyembuhan
dengan diit dan usia dan atau berat badan Mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa
pasien makan
Lakukan kebersihan mulut setiap habis Mencegah berkurangnya berat badan lebih
makan lanjut dan mempercepat penyembuhan
Mengurangi malnutrisi

3. Kerusakan integritas kulit b.d kurang pengetahuan


Tujuan:
- Keluarga dapat berpartisipasi dalam perawatan pasien
Intervensi Rasional
Mandiri Hal ini mempengaruhi orang tua untuk
Kaji tingkat pemahaman orangtua menguasai tugas dan melakukan tanggung
Jelaskan tentang penyakit, pengobatan jawab perawatan
dan perawatan Memberikan dasar pengetahuan dimana
Jelaskan tentang pentingnya kebersihan orangtua dapat membuat pilihan berdasarkan
(misal, cuci tangan) informasi. Komunikasi efektif dan dukungan
Ajarkan tentang prinsip diit dan kontrol turunkan cemas dan tingkatkan penyembuhan
diare Menurunkan penyebaran bakteri dan resiko
infeksi serta iritasi kulit dan jaringan
Diit yang tepat penting dalam penyembuhan

D. EVALUASI
Evaluasi asuhan keperawatan pada pasien yang terganggu kebutuhan
dalam pola eliminasinya dimana mendapat hasil dari tindakan yang di
berikan kepada pasien dengan hasil :
1) Pasien mampu bereliminasi dalam bentuk eliminasi urine atau fekal
2) Pemenuhan nutrisi pasien terpenuhi
3) Tidak adanya kerusaka integritas kulit

DAFTAR PUSTAKA

Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Eliminasi. Terdapat pada :


Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. enerbit
Kedokteran EGC: Jakarta.
Harnawatiaj. 2010. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Fekal.
Septiawan, Catur E. 2008. Perubahan Pada Pola Urinarius. Terdapat pada:
Sjamsuhidajat. 2004. Buku Ajar Medikal Bedah. Penerbit Kedokteran
EGC: Jakarta.
Supratman. 2000. askep Klien Dengan Sistem Perkemihan
Andi Visi Kartika. Retensi Urin Pospartum. Siregar, c. Trisa , 2004, Kebutuhan
Dasar Manusia Eliminasi BAB, Program Studi Ilmu Keprawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara