Anda di halaman 1dari 33

i

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS KARYAWAN YANG

MEMUTUSKAN MENJADI WIRASWASTA PADA MASA

DEWASA MADYA

Studi Kualitatif Fenomenologis

TUGAS MATA KULIAH KUALITATIF

Disusun Oleh :

1. FARIS FANANI T170010014

2. ARDI DWI AFANDI T170010019

3. KUSNULIA ROSITA T170010030

4. IMRON HAMZAH T170010049

MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA


DAFTAR ISI

Halaman Pengesahan ..................................................................................

Halaman Persembahan ...............................................................................

Halaman Motto ...........................................................................................

Kata Pengantar ...........................................................................................

Daftar Isi .....................................................................................................

Daftar Gambar ............................................................................................

Daftar Tabel ................................................................................................

Daftar Lampiran..........................................................................................

Abstrak .......................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................

A. Konteks Penelitian .................................................................

B. Fokus Penelitian ....................................................................

C. Tujuan Penelitian ..................................................................

D. Manfaat Penelitian..................................................................

E. Keaslian Penelitian..................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................

A. Gejala Penelitian..................................................................

B. Pertanyaan Penelitian...........................................................

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................

A. Paradigma Penelitian...........................................................
B. Metode Penelitian ...................................................................

C. Identifikasi Gejala Penelitian .................................................

D. Definisi Operasional Gejala Penelitian Kualitatif...................

E. Informan Penelitian ...............................................................

F. Metode dan Pengumpulan Data .............................................

G. Keabsahan Data......................................................................

1. Kredibilitas ......................................................................

2. Transferabilitas..................................................................

3. Dependabilitas ..................................................................

4. Konfirmabilitas..................................................................

H. Metode Analisa Data .............................................................

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Jadwal Penelitian .....................................................

Lampiran II : Pedoman Wawancara ................................................

Lampiran III : Informed Consent ......................................................


BAB I

PENDAHULUAN

A. Konteks Penelitian

Fase kehidupan manusia memiliki pola dan tahapan-tahapan tertentu yang harus

dilalui. Setiap manusia memiliki kehidupan yang unik yang akan membedakan dengan

orang lain, seseorang mengalami perubahan, perkembangan emosional, serta

menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya. Tugas-tugas perkembangan yang harus

dilalui manusia ada beberapa tahap, mulai dari manusia itu lahir hingga nanti lansia dan

meninggal. Salah satu tahapan perkembangan yang penting dalam kehidupan manusia

adalah bekerja (Hurlock, 2009).

Adapun tugas perkembangan dewasa madya adalah mendapatkan pekerjaan,

memilih pasangan hidup, belajar hidup bersama dengan pasangan membentuk keluarga,

membesarkan anak-anak, mengelola keluarga, dan bergabung dalam kelompok sosial yang

sesuai. Individu pada masa dewasa madya adalah seseorang yang mencapai usia 35 hingga

memasuki usia 60 tahun (Santrock, 2002). Pada umur tersebut seseorang mencapai masa

penting dalam hidupnya misalnya kepuasan ekonomi, kestabilan karir, maupun status

sosial yang tinggi. Dewasa madya merupakan suatu masa menurunnya keterampilan fisik,

semakin besarnya tanggung jawab dan peningkatan jenjang karir. Individu pada masa

dewasa madya mengalami kesadaran tentang popularitas muda dan tua, semakin

berkurangnya jumlah waktu yang tersisa dalam kehidupan, suatu titik di mana individu

berusaha mewariskan sesuatu yang berarti pada generasi berikutnya dan suatu masa ketika

orang mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam karirnya (Santrock, 2012).


Setiap manusia yang bekerja secara profesional memiliki tujuan yang ingin

dicapai, terlepas ada tuntutan untuk memenuhi nafkah dalam bekerja. Tugas suami dalam

keluarga adalah memberikan nafkah lahir dan batin kepada istrinya. Nafkah lahir dapat

berupa pemberian sandang, pangan dan papan, sedangkan nafkah batin dapat berupa

interaksi hubungan suami istri (Fadlillah, 2012). Masyarakat Indonesia menganggap

bahwa bekerja merupakan bagian kecil bagi kehidupannya, berbeda dengan orang Cina

yang menganggap bekerja merupakan keseluruhan dari bagian kehidupan manusia

sehingga mereka rela tidak mempedulikan kehidupan keluarga dan dirinya sendiri hanya

untuk bekerja (Bildstein, Gueldenberg & Tjitra, 2013).

Pekerjaan merupakan salah satu yang mempengaruhi kesehatan individu,

contohnya kepuasan kerja (job satisfaction) yang menjadi mediator dalam kesehatan

mental dan fisik (Charkhabi, Alimohammadi, & Charkhabi, 2014; Russo, Guo, & Baruch,

2014). Selain itu, kesehatan dapat mempengaruhi respon individu terhadap pekerjaan

seperti yang diungkapkan oleh Carlier, Schuring, Van Lenthe, & Burdorf (2014) bahwa

orang dengan kesehatan yang buruk cenderung untuk tidak mencari pekerjan atau hanya

memanfaatkan jaminan sosial atau bekerja pada pekerjaan yang tidak dibayar. Khaldun

(2013) mengemukakan bahwa esensi dari bekerja adalah untuk memperoleh rezeki yang

digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup individu. Bekerja adalah cara untuk

memperoleh pendapatan dan juga pendidikan yang layak sehingga jika individu sakit

maka akan menimbulkan gangguan batin (Endraswara, 2012).

Hasil wawancara peneliti dengan DD, seorang ibu rumah tangga asal Pemalang

yang berusia 36 tahun memutuskan untuk mengundurkan diri dan resign dari jabatan

Kepala Unit Bank Konvensional skala Nasional awal Februari 2017 lalu. Alasan DD untuk

keluar dari jabatannya meskipun posisi karir sudah mapan dan gaji yang diterima tiap
bulan terhitung besar adalah waktu untuk keluarga sedikit karena ia harus pergi ke kantor

jam 07.00 pagi dan pulang jam 20.00 hingga 21.00 belum lagi kalau akhir bulan yang

biasa ada rapat tutup buku. Selain itu, ia sudah tidak merasa memiliki passion bekerja di

bank konvesional karena ia memahami dampak buruk riba bagi masyarakat sehingga

pekerjaanya saat itu bertentangan dengan hati nurani. DD merasa hidupnya lebih tenang

saat ia memutuskan untuk menjadi pengusaha mie sosis. Hampir 7 bulan membuka usaha,

DD sudah memiliki dua cabang dan beberapa karyawan. DD merasa bahwa sekarang ia

memiliki waktu yang lebih banyak untuk mengurus rumah tangga dan hati lebih tenang.

Kasus kedua, NG, usia 41 tahun saat mengajukan resign dri jabatan sebagai

pimpinan Manager Bank Permata area Solo dan memutuskan untuk menjadi pengusaha

kuliner. Dari segi karir NG mapan, dari segi penghasilan juga sejalan dengan jabatanya.

Namun, karir yang stabil dan gaji yang tinggi tidak membuat NG sejahtera secara

psikologi. Beberapa alasan yang membuat NG memutuskan resign dari jabatan pegawai

bank adalah alasan ingin memiliki waktu bebas dan pekerjaan menjadi pegawai bank

bertentangan dengan hati nurani yaitu mengandung unsur riba.

Berdasasarkan hasil wawancara lapangan di atas, hal ini sesuai dengan pendapat

Diener, Lucas, dan Oishi (2009) yang menyatakan bahwa kesejahteraan subjektif adalah

pengalaman emosi yang menyenangkan, rendahnya tingkat mood yang negatif, dan

kepuasan hidup yang tinggi. Kesejahteraan subjektif merupakan sejauhmana seseorang

merasa hidupnya menyenangkan, bebas stres, bebas dari rasa cemas, tidak mengalami

depresi yang intinya seseorang mengalami perasaan-perasaan yang menyenangkan dan

terbebas dari perasaan yang tidak menyenangkan (Lianawati, 2012). Dari kedua responden

tersebut dapat disimpulkan bahwa bekerja sebagai seorang profesional pegawai bank

mengurangi waktu bersama keluarga dan bertentangan dengan hati nurani karena bekerja
di bank menurut informan menyebabkan tidak tenang karena mengandung unsur riba

sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologi seseorang.

Dari uraian di atas dan informasi dari beberapa informan, hal tersebut menarik

perhatian peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam dengan mengungkap

fenomena “Kesejahteraan Psikologis Karyawan yang memutuskan menjadi Wiraswasta

pada Masa Dewasa Madya.” Dari beberapa informan, peneliti mendapatkan fenomena

yang menarik bahwa kemapanan secara ekonomi, status social, jabatan tidak sejalan

dengan kesejahteraan psikologis mereka. Para informan melihat bahwa menjadi seorang

wiraswasta lebih sejahtera secara psikologis karena memiliki waktu yang fleksibel dan

iklim kerja sesuai yang diinginkanya maka dari itu mereka memutuskan menjadi

wirausaha .

B. Fokus Penelitian

Individu yang bekerja menjadi karyawan profesional di suatu perusahaan

ataupun lembaga keuangan dan memutuskan untuk berhenti dan menjadi seorang

wiraswasta merupakan fenomena menarik yang muncul di masyarakat saat ini.

Meskipun demikian, sebenarnya sudah ada karyawan yang memutuskan resign karena

beberapa alasan seperti kesehatan, waktu berkumpul dengan keluarga sedikit, iklim

kerja, beban kerja, quality of work life ataupun harus menjalani long distance marriage.

Keputusan karyawan untuk resign dari pekerjaan yang sudah memberikan

penghasilan yang mapan dan kestabilan karir menjadi suatu hal yang menarik untuk

diteliti mengingat mencari pekerjaan saat ini sulit terutama di era MEA. Berdasarkan

uraian tersebut, peneliti ingin mengungkap fenomena kesejahteraan psikologis yang

dirasakan seorang karyawan yang memutuskan menjadi wiraswasta pada usia dewasa
madya serta faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis

mereka ketika menjadi karyawan hingga memutuskan untuk resign menjadi wiraswasta.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap secara mendalam mengenai

kesejahteraan psikologis karyawan yang memutuskan menjadi wiraswasta pada usia

dewasa madya serta faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kesejahteraan

psikologis mereka ketika menjadi karyawan dan ketika mereka memutuskan untuk

resign menjadi wiraswasta

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah dalam ilmu

Psikologi, khususnya untuk Psikologi Industri dan Organisasi. Penelitian ini dapat

membantu pembaca dalam memahami pengambilan keputusan karyawan menjadi

pengusaha pada individu dewasa madya.

2. Manfaat Praktis

Peneliti mengharapkan penelitian ini dapat bermanfaat untuk informan

penelitian, keluarga informan, masyarakat dan peneliti lain.

a. Bagi Informan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi secara

ilmiah kepada informan tentang kesejahteraan psikologis pada dirinya yang

memutuskan dari karyawan menjadi wiraswasta.


b. Bagi Peneliti Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi untuk

peneliti selanjutnya dan dapat menumbuhkan minat untuk melakukan

penelitian lebih lanjut pada karyawan yang memutuskan resign dari

pekerjaanya untuk menjadi wiraswasta pada individu dewasa madya.

E. Keaslian Penelitian

Tema penelitian ini merupakan asli karya peneliti dan belum ada penelitian

sebelumnya yang serupa dengan tema ini. Penelitian yang dilakukan oleh Agrusan

dan Lerna (2007) mengungkapkan bahwa hubungan gaya kepemimpinan manajer

terhadap turnover karyawan menunjukkan bahwa ketidakmampuan seorang bawahan

untuk bekerjasama dengan atasannya secara baik menjadi alasan utama seorang

karyawan untuk pergi. Hasil penelitian dari Chen (2006) yang meyatakan bahwa

normative commitment dan continuance commitment merupakan faktor utama yang

mempengaruhi pramugari berniat meninggalkan pekerjaanya.

Penelitian Adhi Setyanto, Suharnomo, dan Sugiyono (2013) diperoleh data

tentang alasan karyawan staff (TPG) memutuskan keluar dari pekerjaanya dapat

disimpulkan sebagai berikut, yaitu ketidaksesuaian dengan kondisi dan suasana kerja

di kebun (27 %), masalah keluarga (18 %), demosi dan masalah finansial (3 %),

melanjutkan studi (3 %), dan yang brsifat ekstrim seperti intensitas persaingan dengan

perusahaan lainnya dengan tawaran kerja yang lebih baik dari luar perusahaan (27 %),

serta 17 % lainnya menyampaikan dengan “alasan pribadi” yang merupakan kalimat

diplomatis yang menandakan tidak ingin menyampaikan alasan yang sebenarnya yang

dihadapi di kebun dan pekerjaan mereka.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gejala Penelitian

1. Psychological Well Being


Dalam menjalani kehidupan, banyak sekali pengalaman yang telah dilalui oleh

seseorang dalam bekerja. Pengambilan keputusan antara satu karyawan dengan

karyawan lain untuk memutuskan resign dan menjadi wiraswasta berbeda-beda,

karena setiap kehidupan seseorang unik dan tidak bisa disamakan dengan orang lain.

Pengambilan keputusan adalah peristiwa dan keadaan yang telah dilalui oleh

seseorang dalam menjalani kehidupan karier profesionalnya di suatu perusahaan.

Dalam mengungkap pengambilan keputusan seorang karyawan pada penelitian ini,

terlebih dahulu akan diungkap tentang pengalaman bekerja dan psychological well

being.

a. Pengertian Psychological Well Being

Well being atau perasaan sejahtera tidak hanya diartikan sebagai rasa

senang atau bahagia. Shah dan Marks (2002, dalam Dodge dkk., 2012)

mengungkapkan bahwa kesejahteraan melebihi kebahagiaan. Kesejahteraan lebih

pada berkembang sebagai seorang individu, merasa puas dengan dirinya, dan dapat

berkontribusi di masyarakat. Bartram dan Boniwell (2007) berpendapat bahwa

istilah well being atau sejahtera adalah suatu kondisi mental yang positif yang

dapat menentukan kualitas hidup seseorang.


Kesejahteraan melibatkan kesadaran terhadap kelebihan dan

perkembangan pribadi berdasarkan minat sehingga individu merasa terlibat dalam

segala aktivitas yang dilakukan. Vasquez, dkk (2009) mengemukakan bahwa

terdapat dua pandangan filosofis terkait konsep kesejahteraan, yaitu hedonism dan

eudaimonia. Hedonism berkaitan dengan afek positif dalam diri sedangkan

eudaimonia mengarah pada fungsi individu dalam kehidupan. Psychological well

being pada dasarnya berakar dari konsep eudaimonia. Eudaimonia merupakan

istilah dari bahasa Yunani kuno yang digunakan oleh Aristoteles untuk

merumuskan potensi tertinggi manusia. Eudaimonia mencakup dua esensi penting

yaitu untuk dapat memahami diri dan menjadi diri yang sebenarnya (Ryff, 2014).

Menurut pandangan Aristoteles, eudaimonia tidak hanya diartikan sebagai

kebahagiaan melainkan lebih pada pengembangan potensi diri. Konsep tersebut

kemudian mengarahkan makna psychological well being pada perkembangan

individu dan eksistensi individu dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan

(Keyes, Shmotkin, & Ryff, 2002).


Definisi psychological well being merujuk pada fungsi psikologi positif

(Ryff, 1989). Fungsi psikologi positif pada dasarnya berdasarkan pada sudut

pandang beberapa teori diantaranya konsep aktualisasi diri Abraham Maslow,

pandangan mengenai fully functioning person Carl Rogers, teori individuation Carl

Jung, dan konsep kedewasaan Gordon Allport. Fungsi psikologi positif sendiri

digambarkan sebagai sikap positif individu terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

Ryff (1995) mengungkapkan bahwa individu yang sejahtera secara psikologis tidak

hanya terbebas dari distress dan masalah-masalah mental lain. Psychological well

being mengarah pada kondisi seorang individu yang memiliki pandangan positif

terhadap diri, mampu mengendalikan perilaku, bersikap mandiri, menjalin

hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, dan memiliki

keinginan untuk pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang berkelanjutan.


Diener (2000, dalam Papalia, Olds, & Feldman 2009) menyatakan bahwa

psychological well being merupakan perasaan subjektif seseorang yang timbul dari

evaluasi pengalaman hidup. Perasaan subjektif yang dimaksud di sini adalah

kebahagiaan individu tersebut. Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda

beda terhadap pengalaman-pengalaman dalam kehidupannya, oleh sebab itu

psychological well being disebut subjektif. Individu yang memandang kehidupan

secara positif akan menumbuhkan kebahagiaan dalam dirinya. Amawidyati dan

Utami (2007) mengemukakan pengertian psychological well being sebagai

individu yang mampu menghadapi krisis yang menimpanya dengan mengandalkan

berbagai potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tercipta suatu keadaan pribadi

dan mental yang “sehat” sesuai dengan positive psychological functioning, yang

ditandai dengan berfungsinya enam dimensi psikologis positif yaitu penerimaan

diri, hubungan positif dengan sesama, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan

hidup, serta pertumbuhan pribadi dalam diri individu. Kondisi psikologis yang

dapat berfungsi secara positif pada diri seseorang menjadi syarat terebntuknya

pribadi yang sehat. Hal ini membuat seseorang mampu menghadapi tantangan-

tantangan dalam kehidupan.


Ryff dan Keyes (1995) menyatakan bahwa psychological well being

mencakup kesejahteraan individu secara umum yang meliputi enam komponen

fungsi psikologi positif yang berbeda-beda. Keenam komponen itu ialah penilaian

positif terhadap diri sendiri dan masa lalu, pertumbuhan dan perkembangan pribadi

secara berkelanjutan, keyakinan terhadap tentang tujuan dan makna kehidupan,

keinginan untuk menjalin hubungan yang berkualitas dengan sesama, memiliki

kapasitas untuk mengatur kehidupan dan lingkungan sekitar dengan efektif, dan

memiliki pendirian yang kuat. Berdasarkan beberapa uraian tentang pengertian

psychological well being di atas maka dapat disimpulkan bahwa psychological well

being adalah kondisi psikologis individu berdasarkan pandangan terhadap

pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehingga melahirkan sikap positif yang

ditunjukkan dengan penilaian positif terhadap diri sendiri dan masa lalu,

pertumbuhan dan perkembangan pribadi secara berkelanjutan, keyakinan terhadap

tujuan hidup, hubungan positif dengan sesama, kemampuan mengatur lingkungan

sekitar agar efektif, dan memiliki pendirian yang kuat.

2. Dewasa Madya

a. Pengertian Dewasa Madya

Dewasa madya merupakan salat satu tahap perkembangan, di mana usia

dewasa madya adalah fase setelah dewasa awal dan sebelum dewasa akhir yang

berada pada rentang usia 35-60 tahun. Usia dewasa madya merupakan suatu tahap

perkembangan yang dimulai pada usia 35 hingga 45 tahun hingga memasuki 60 tahun

(Santrock, 2002). Usia dewasa madya merupakan usia seseorang yang berada pada

rentang 35 hingga 64 tahun (Dacey, Travers, Fiorce, 2009). Usia dewasa madya

berlangsung dari awal 40 tahun sampai akhir 60 tahun (Zanden, Candell &Crandell,
2007). Jadi dapat disimpulkan bahwa usia dewasa madya dalam penelitian ini adalah

individu yang berusia 35 tahun hingga 60 tahun.

Tugas individu dewasa madya menurut Havighurst antara lain mencapai

kesuksesan karir, membina hubungan akrab dan positif dengan orang lain maupun

pasangan, mempersiapkan anak remaja untuk menjadi orang dewasa yang

bertanggungjawab di kemudian hari, menyesuaikan diri dan membantu orang tua

yang sudah menua, menerima perubahan fisik, mencapai tanggung jawab sosial

kepada masyarakat, dan mengembangkan aktivitas waktu luang yang

menyenangkan (Lachman, 2001).

Menurut Erikson dalam Teori Psikososialnya, fase dewasa madya

termasuk dalam tahap generativitas versus stagnasi. Generativitas yaitu aktivitas

yang dikerjakan orag dewasa untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi

generasi lebih muda sedangkan stagnasi terjadi jika individu tidak meninggalkan

sesuatu yang bermanfaat (Santrock, 2002). Generativitas atau warisan dapat berupa

keahlian yang digunakan untuk menciptakan sesuatu yang berguna bagi generasi

berikutnya, misalnya ilmu yang diajarkan kepada anaknya, bisnis yang diajarkan

kepda karyawannya.

b. Teori Perkembangan Karir Dewasa Madya

Pada masa dewasa madya, mayoritas individu telah mencapai kestabilan karir.

Mulai usia 33 hingga 40 tahun, individu telah memutuskan pekerjaan yang akan

sungguh-sungguh dirintis dan mengembangkan jenjang karirnya dalam perusahaan

(Levinson dalam Dacey, Travers, & Fiorce, 2009). Menurut Levinson, pada usia 40

tahun tahap karir berubah dari masa pencarian menuju ke kestabilan karir karena
pada usia ini individu telah belajar dari pengalaman tentang pengembangan karir

dari fase sebelumnya.

Teori karir menurut Holland bahwa terdapat keterkaitan antara tipe

kepribadian dengan pemilihan karir. Jika seseorang memilih pekerjaan yang sesuai

dengan tipe kepribadiannya, maka dapat menikmati pekerjaanya dan memilih

bertahan. Tipe-tipe kepribadian Holland antara lain, realistik yaitu bekerja pada

situasi yang santai dan aktivitas di luar ruangan, tipe investigattif cenderung

menyukai gagasan-gagasan daripada berhubungan dengan orang lain, tipe artistik

ditujukan pada individu yang kretaif, tipe sosial untuk individu yang memiliki

orientasi bekerja bersama-sama dengan orang lain, tipe wiraswasta berfokus

dengan orang lain dan memiliki kemampuan mengatur serta tipe konvensional

untuk seseorang yang teliti serta struktur pekerjaannya teratur (Santrock 2002).

Teori karir menurut Super bahwa masa dewasa madya berada pada usia 35

tahun ke atas di mana individu tersebut mulai mengembangkan karir ke posisi lebih

tinggi (dalam Santrock, 2002). Pada usia 45-65 tahun, individu masuk dalam

pemeliharaan karir atau mempertahankan pekerjaan yang sudah dimiliki (Lachman,

2001). Konsep diri menentukan pilihan pekerjaan dan jenjang karir yang dipilih.

3. Penelitian Tentang Motivasi Wirausaha dan Psycological Well Being,

Komitmen Kerja

Zulhaidir dkk (2015) melakukan sebuah penelitian tentang hubungan

efikasi diri, motivasi berprestasi, dan motivasi berprestasi dalam wirausaha.

Dalam penelitian tersebut diuagkap bahwa efikasi diri mempengaruhi motivasi

berprestasi, dan motivasi berprestasi mempengaruhi motivasi berwirausaha.


Sedangkan Sanders dkk (2012) mempublikasikan penelitian yang

mengungkapkan bahwa kesejahteraan subjektif seseorang meliputi kepuasan

hidup yang didapatkan melalui kecukupan materi, kesejahteraan emosi dan

psikologis. Kesejahteraan subjektif seseorang dipengaruhi oleh latar belakang

seperti status sosial ekonomi, kepribadian yang baik, dan memiliki relasi sosial

yang baik. Jika individu memiliki dan merasakan status ekonomi berkecukupan,

memiliki kepribadian yang baik dan diterima masyarakat serta hubungan sosial

luas akan cenderung meningkatkan kesejahteraannya. Menurut Boniwell (2009)

kesejahteraan psikologis dicapai dengan Kesejahteraan psikologis ditentukan

lebih oleh karena keadaan pikiran kita dari pada ekternal kita. Yaitu kondisi,

keadaan, atau kebutuhan dasar kelangsungan hidup kita

Beberapa penelitian juga mengungkap apa saja yang menyebabkan

seorang karyawan mempunyai komitmen kerja. Salah satunya oleh oleh

Kavlavan (2012) yang mengungkapkan bahwa komitmen kerja dipengaruhi oleh

manajerial coaching. Sedangkan menurut penelitian Siddiqul ( 2010) yang

membuat performa kerja turun bahkan sampai resign adalah konflik internal

perusahaan.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimanakah kesejahteraan psikologis seorang ketika menjadi karyawan

dan setelah memutuskan menjadi seorang wiraswata?

2. Faktor-faktor apa yang mendukung kesejahteraan psikologis karyawan yang

memutuskan menjadi wiraswasta?


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Paradigma Penelitian

Setiap manusia akan memilih metode penelitian sesuai dengan bakat yang

dimilikinya. Kemampuan manusia dalam menyusun suatu penelitian menjadi ciri khas

yang dimiliki oleh individu tersebut. Manusia memiliki sikap dan cara yang berbeda

dalam berinteraksi dengan lingkungannya termasuk dalam hal menilai suatu fenomena.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitatif dengan perspektif

fenomenologis.

Peneliti menggunakan perspektif fenomenologis karena peneliti menilai bahwa

metode ini dapat membantu peneliti dalam mengeksplorasi fenomena dan mengungkap

pengalaman hidup subjek secara mendalam. Perspektif fenomenologis ini tepat untuk

mengungkap kesejahteraan psikologis karyawan yang memutuskan menjadi wiraswasta

pada masa dewasa madya. Peneliti menilai bahwa pengalaman hidup yang dimiliki oleh

subjek sangatlah kompleks dan unik sehingga peneliti memilih menggunakan metode

ini.

B. Metode Penelitian

Pendekatan fenomenologis sebagai studi yang mengungkap pengalaman

subjektif dan fenomenologikal seseorang (Husserl dalam Moleong 2013). Metode

penelitian kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam yang

mengandung suatu makna. Makna adalah data yang sebenarnya, sedangkan yang

dimaksud dengan data yang pasti adalah nilai yang terdapat dari data yang tampak
(Sugiyono, 2008). Penelitian fenomenologis merupakan strategi penelitian di mana di

dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu

fenomena tertentu dalam hidup subjek (Moustakas dalam Creswell 2010).

Dalam hal ini, peneliti berusaha mengungkap pengambilan keputusan

karyawan menjadi wiraswasta pada individu dewasa madya secara mendalam dengan

mengembangkan relasi-relasi makna. Peneliti menggunakan metode fenomenologis

untuk mengeksplorasi pengambilan keputusan karyawan untuk menjadi wiraswasta

pada individu dewasa madya.

C. Identifikasi Gejala Penelitian

Fenomena karyawan resign dari karir profesionalnya dan memutuskan untuk

menjadi seorang wiraswasta adalah fenomena yang menarik. Lingkungan dari peneliti

banyak yang resign dari karyawan di bank ataupun perusahaan lain. Alasan resign

dari karir profesionalnya berbeda-beda, antara lain kurangnya waktu untuk keluarga,

iklim organisasi, ekspektasi gaji tidak sesuai harapan, beban kerja yang terlalu tinggi,

tekanan batin karena visi diri tidak sejalan dengan visi perusahaan, dan sebagainya.

Berdasarkan permasalah tersebut, peneliti memiliki keinginan untuk

mengetahui fenomena mendalam dibalik pengambilan keputusan seseorang yang

sudah stabil secara karir dan ekonomi resign dari pekerjaanya dan memutuskan

menjadi wiraswasta. Hal menarik dari fenomena ini adalah ada apa dengan menjadi

wiraswasta dan apa yang menyebabkan karyawan resign dari karir profesionalnya.

Peneliti merumuskan langkah awal dengan mencari informasi tentang fenomena ini di

lingkungan peneliti kemudian menjadikan mereka sebagai informan penelitian.


D. Definisi Operasional Gejala Penelitian

Kesejahteraan Psikologis atau Psychologicl well being. Psychological well

being adalah perasaan subjektif seseorang yang timbul dari evaluasi pengalaman

hidup. Perasaan subjektif yang dimaksud di sini adalah kebahagiaan individu tersebut.

Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda beda terhadap pengalaman-

pengalaman dalam kehidupannya, oleh sebab itu psychological well being disebut

subjektif. Pengukuran psychological well being dengan menggunakan metode

wawancara yang interview guidenya dirancang berdasarkan

E. Informan Penelitian

Dalam menentukan informan penelitian, peneliti menggunakan teknik

snowball sampling. Teknik snowball sampling adalah suatu teknik pengambilan

sampel sumber data yang pada awalnya jumlahnya sedikit, tetapi lama-lama menjadi

besar (Sugiyono,2009). Dalam menentukan informan penelitian, peneliti mendapatkan

bantuan dari teman-teman peneliti yang banyak memberikan informasi terkait subjek

penelitian. Peneliti mendapatkan rekomendasi dari teman-teman peneliti untuk

meminta bantuan kepada teman-teman yang sudah menjadi pengusaha yang dulunya

juga merupakan seorang karyawan.

Peneliti menyusun kriteria berdasarkan tujuan penelitian yang akan diungkap.

Adapun kriteria subjek yang peneliti tentukan dalam penelitian ini adalah :

1. Karyawan yang sudah bekerja di suatu perusahaan minimal selama 5 tahun

2. Memiliki jabatan manager atau pimpinan cabang di perusahaan

3. Usia informan berada pada fase dewasa madya yaitu 35 hingga 60 tahun.
4. Bersedia menjadi informan penelitian. Kesediaan seseorang untuk menjadi subjek

penelitian dapat ditunjukkan dengan kesediaan mengisi informed consent dan

mengikuti peraturan selama penelitian.

F. Metode Pengumpulan Data

1. Wawancara (Utama)

Wawancara adalah melakukan percakapan dengan tujuan tertentu, yang

dilakukan oleh dua pihak yaitu interviewer dan interviewee. Interviewer adalah

seseorang yang mengajukan pertanyaan, sedangkan interviewee adalah seseorang

yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh interviewer

(Moleong, 2013). Seorang peneliti dapat melakukan wawancara dengan bertemu

secara langsung dengan informan penelitian, melakukan wawancara melalui telepon,

ataupun melibatkan informan penelitian dalam kelompok tertentu yang terdiri dari

enam hingga delapan orang di tiap kelompoknya. Wawancara tersebut memerlukan

pertanyaan-pertanyaan yang secara umum tidak terstruktur dan bersifat terbuka yang

dirancang untuk memunculkan pandangan dan opini dari setiap informan penelitian

(Creswell, 2010).

Pada penelitian ini, peneliti terlebih dahulu membuat pertanyaan yang akan

ditanyakan kepada subjek saat wawancara. Peneliti menggunakan wawancara semi-

terstruktur. Wawancara semi terstruktur menggunakan pertanyaan terbuka dengan

batasan tema dan alur pembicaraan, kecepatan wawancara dapat diprediksi, serta

fleksibel dan terkontrol. Wawancara semi-terstruktur menggunakan pedoman

wawancara yang dijadikan patokan dalam alur, urutan, dan penggunaan kata serta

memiliki ujuan untuk memahami suatu fenomena (Herdiansyah, 2010).


Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan alat perekam berupa

handphone. Sebelum melakukan perekaman, peneliti meminta izin kepada informan

sehingga perekaman dilakukan atas izin dan persetujuan dari informan. Hasil

perekaman akan dipindah ke dalam bentuk tulisan (verbatim). Rekaman hasil

wawancara akan digunakan peneliti untuk memudahkan membuat verbatim serta

memudahkan dalam mengecek data.

2. Alat Pencatat Data

a. Perekaman dengan menggunakan handphone

Untuk memudahkan penggalian data di lapangan, peneliti menggunakan

handphone sebagai alat perekam. Perekaman menggunakan handphone dapat

mempermudah peneliti ketika melakukan verbatim hasil wawancara menjadi

transkrip wawancara. Kegunaan rekaman ini sebagai dokumen yang dapat

digunakan untuk pengecekan kebenaran dari hasil wawancara.

b. Catatan lapangan

Catatan lapangan merupakan alat yang penting dalam penelitian kualitatif.

Catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat,

dialami, dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap

data dalam penelitian kualitatif (Bogdan dan Biklen dalam Moleong, 2013).

Catatan lapangan berisi dua bagian. Pertama, bagian deskriptif yang berisi

gambaran tentang latar pengamatan, orang, tindakan, dan pembicaraan. Kedua,

bagian reflektif yang berisi kerangka berpikir dan pendapat peneliti, gagasan, dan

kepeduliannya (Bogdan dan Biklen dalam Moleong, 2013). Dalam melakukan

pencatatan lapangan, peneliti menggunakan buku tulis maupun kertas.


G. Keabsahan Data

Menurut Moleong (2013) terdapat empat kriteria yang digunakan untuk teknik

verifikasi data, yaitu :

1. Kredibilitas

Kredibilitas penelitian kualitatif terletak pada keberhasilannya

mencapai maksud mengeksplorasi masalah atau mendeskripsikan setting, proses,

kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Creswell (2010), untuk

melakukan uji kredibilitas data terhadap hasil penelitian kualitatif.

a. Penerapan member checking

Member checking adalah proses pengecekan data yang diperoleh

peneliti kepada narasumber. Tujuan member checking adalah untuk

mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang

diberikan oleh pemberi data. Pelaksanaan member checking dapat dilakukan

setelah satu periode pengumpulan data selesai atau setelah mendapat suatu

temuan ataupun kesimpulan (Sugiyono, 2009). Peneliti melakukan pengecekan

kembali terhadap data yang diperoleh kepada subjek.

b. Bantuan peer debriefing

Peneliti meminta bantuan kepada orang lain yang memiliki pengalaman

dalam penelitian yang serupa ataupun seseorang yang dapat mengulas dan

berdiskusi mengenai penelitian kualitatif. Melalui penerapan peer debriefing,

peneliti mendapatkan saran untuk analisis data yang dilakukan. Bantuan peer

debriefing ini bermanfaat agar hasil penelitian ini dirasakan oleh peneliti lain.
Dalam penelitian ini, untuk mencapai kredibilitas penelitian, peneliti

menggunakan penerapan member checking, dan peer debriefing.

2. Transferabilitas

Transferabilitas merupakan validitas eksternal. Validitas eksternal

menunjukkan derajat ketepatan atau hasil penelitian yang dilakukan dapat

diterapkan pada populasi di mana informan diambil. Maka dari itu, agar orang

lain dapat memahami penelitian kualitatif maka peneliti dalam membuat laporan

harus memberikan uraian yang rinci, jelas, dan sistematis serta dapat dipercaya.

Dengan demikian, pembaca menjadi jelas atas hasil penelitian yang dipaparkan

sehingga dapat memutuskan untuk mengaplikasikan hasil penelitian tersebut di

tempat lain (Sugiyono, 2009). Prinsip transferabilitas ini dapat dilakukan pada

kasus atau subjek yang menunjukkan kesesuaian konteks (Moleong, 2013).

Transferabilitas diperoleh dengan melakukan deskripsi yaitu laporan penelitian

dideskripsikan secara mendetail dari tahap persiapan, pelaksanaan dan hasil

penelitian sehingga menggambarkan penelitian yang dilakukan.

3. Dependabilitas

Dalam penelitian kualitatif, uji dependabilitas dilakukan dengan cara

melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Untuk pengujian

dependibilitas dilakukan dengan cara melakukan audit terhadap keseluruhan

proses penelitian (Sugiyono, 2008). Bagaimana peneliti mulai menentukan

masalah, memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data,

melakukan uji keabsahan data, sampai membuat kesimpulan harus dapat

ditunjukkan oleh peneliti. Jika peneliti tidak dapat menunjukkan dan tidak
mempunyai, “jejak aktivitas lapangannya,” maka dependibilitasnya diragukan

(Faisal dalam Sugiyono, 2008). Dependabilitas dalam penelitian ini dilakukan

dengan melakukan penelusuran audit yang dilengkapi dengan catatan pelaksanaan

keseluruhan proses dan hasil penelitian melalui rekaman dan catatan lapangan.

4. Konfirmabilitas

Dalam penelitian kualitatif, uji konfirmabilitas mirip dengan uji

dependabilitas sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Hasil

penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka

penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitas. Dalam penelitian

jangan sampai proses selama penelitian berlangsung tidak ada, tetapi hasilnya ada

(Sugiyono, 2008). Konfirmabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan

melakukan transparansi yaitu peneliti secara terbuka mengungkapkan proses

penelitian yang memungkinkan pihak lain untuk melakukan penelitian.

H. Metode Analisis Data

Proses menyusun data agar dapat diartikan dengan menggolongkannya dalam

pola, tema, atau kategori, kemudian melakukan analisis dari data yang diperoleh agar

diketahui maknanya. Definisi operasional gejala penelitian adalah upaya yang

dilakukan peneliti dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,

memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari

dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, serta

memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2013). Untuk
melakukan analisis data pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis

yang dikemukakan oleh Creswell (2010) sebagai berikut :

1. Mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis

Pada tahap ini peneliti melakukan transkrip (pemindahan hasil wawancara

dan observasi yang masih berupa percakapan ke dalam bentuk tulisan). Dalam

transkrip perlu disertakan nama subjek, lokasi, suasana, tempat wawancara.

Selain itu, peneliti melakukan scanning materi, mengumpulkan dan mengetik

data lapangan dan menyusun data-data tersebut ke dalam jenis-jenis yang berbeda

sesuai dengan sumber informasi.

2. Membaca keseluruhan data

Setelah menyusun hasil verbatim, peneliti membaca berulang hasil

transkrip dengan teliti dari data yang diperoleh dari subjek di lapangan. Peneliti

membangun general sense atas informasi yang diperoleh dan merefleksikan

maknanya secara keseluruhan. Dalam hal ini, peneliti memikirkan makna umum

apa yang terkandung dalam perkataan subjek, kesan dari kedalaman, kredibilitas,

dan penuturan informasi.

3. Menganalisis lebih detail dengan meng-coding data

Coding merupakan proses mengolah materi atau informasi menjadi

segmen-segmen tulisan sebelum memaknainya (Rossman & Rallis, dalam

Creswell, 2010). Langkah ini melibatkan beberapa tahap yaitu mengambil fakta

tulisan yang telah dikumpulkan, mensegmentasi paragraf-paragraf atau kalimat-

kalimat atau gambar-gambar ke dalam kategori-kategori kemudian melabeli

katergori tersebut.
4. Terapkan proses coding untuk mendeskripsikan setting, orang-orang,

kategori-kategori, dan tema-tema yang akan dianalisis

Dalam hal ini, deskripsi melibatkan usaha penyampaian informasi secara

detail mengenai orang-orang, lokasi-lokasi, atau persistiwa-peristiwa dalam

setting tertentu. Peneliti dapat menerapkan proses coding untuk membuat

sejumlah tema atau kategori. Tema-tema tersebut biasanya menjadi hasil utama

dalam penelitian kualitiatif dan sering kali digunakan untuk membuat judul dalam

bagian hasil penelitian. Tema-tema tersebut akan lebih baik jika diperkuat dengan

berbagai kutipan serta menampilkan perspektif-perspektif yang terbuka untuk

dikaji ulang. Setelah peneliti mengidentifikasi tema-tema selama proses coding,

peneliti dapat memanfaatkan lebih jauh tema-tema untuk membuat analisis yang

lebih kompleks.

5. Tunjukkan bagaimana deskripsi dan tema-tema ini akan disajikan kembali

dalam narasi atau laporan kualitatif

Peneliti dapat menggunakan visual-visual, gambar-gambar, atau tabel-

tabel untuk membantu menyajikan pembahasan ini.

6. Menginterpretasi atau memaknai data

Dalam memaknai data, peneliti melakukan interpretasi pribadi dengan

berpedoman pada kenyataan bahwa peneliti membawa kebudayaan, sejarah, dan

pengalaman pribadinya ke dalam penelitian. Interpretasi juga dapat berupa makna

yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang

berasal dari literatur atau teori. Dalam hal ini, peneliti menegaskan apakah hasil

penelitiannya membenarkan atau menyangkal informasi sebelumnya. Makna atau


esensi terdalam dari suatu penelitian didapatkan dari interpretasi terhadap unit-

unit makna atau tema-tema.


DAFTAR PUSTAKA

Agrusan, J. & Lerna, J.D. (2007). An examination of Missisippi Gulf Coast Casino
Management Styles with Implication for Employee Turnover. UNLV Gaming
Research & Review Journal, 11 (1), 13.

Bildstein, I., Gueldenberg, S., & Tjitra, H. (2013). Effective leadership of knowledge
workers: result of a intercultural business study. Management Reserach Review, 36
(8), 788-804.

Carlier, B.E., Schuring, M., Van Lenthe, F.J., & Burdorf, A. (2014). Influence Of Health On
Job-Search Behavior and Re-employement: The Role of Job-Search Cognition and
Coping Resource. Journal Occupational Rehabillitation, 24, 670-679.

Chen, C, F. (2006). Job Satisfaction, Organizational commitment, and flight attendants’


turnover intentions : A note”. Journal of Air Transport Management.

Chen, J.M., Kim, H.S., Mojaverian, T., & Morling, B. (2012). Culture and Social Support
Provision : Who Gives What and Why. Personality and Social Psychology Buletin,
38 (1), 3-13.

Coyne, I, & Ong, T. (2007). Organizational Citizenship Behaviour and Turnover Intention :
A Cross-Cultural Study. The International Journal of Human Resource
Management, 18 (6) 1085-1097.

Creswell, J.W. (2010). Research design : Pendekatan kualitatif, kuantitatif, dan mixed,
cetakan satu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Dacey, J.S., Travers J.F., & Fiorce, L. (2009). Human Development Across The Lifespan.
New York : McGraw-Hill.

Diener, E., & Biswas, R. (2009). Flourishing Scale. Copyright by Ed Diener and Robert
Biswas.

Endraswara, S. (2012). Ilmu Jiwa Jawa : Estetika dan Citarasa Jiwa Jawa. Yogyakarta :
Narasi.

Fadlillah. (2012). Menikah itu indah. Yogyakarta : Elangit7 Publishing.

Herdiansyah, H. (2010). Metodologi penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial. Jakarta :


Salemba Humanika.
Hurlock, E.B. (2006). Psikologi perkembangan : Suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Istiwidayanti (editor). Jakarta : Erlangga.

Khaldun, I. (2013). Mukaddimah (Irham, M., Suprar, M., & Zuhri, A., Trans). Jakarta :
Pustaka Al Kautsar.

Lachman, M.E. (2001). Handbook of Midlife Development. New York : John Wiley & Sons.

Miner, J.B. (1992). Industrial Organizational Psychology. United States : McGraw-Hill, Inc.

Moleong, L.J. (2013). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Ryff, C. D. (1989). Happiness Is Everything, or Is It? Explorations on the Meaning of


Psychological Well-Being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6),
1069-1081.

__________.(1995). Psychological Well-Being in Adult Life. Current Directions in


Psychological Science, 4(4), 99-104.

Ryff, C. D. & Keyes, C. L. M. (1995). The Structure of Psychological Well-Being Revisited.


Journal of Personality and Social Psychology, 69(4), 719-727.

Ryff, C. D. & Singer, B. (1996). Psychological Well-Being: Meaning, Measurement, and


Implications for Psychoterapy Research. Psychoteraphy Psychosomatics, 65, 14-23.

Ryff, C.D. (2014). Psychological Well Being Revisited: Advances in the Science and the
Practices in Eudaimonia. Pscyhoteraphy Psychosomatics, 85, 10-28.

Santrock, J.W. (2002). Life Span Development Jilid Dua Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga.

__________. (2012). Life Span Development Jilid Dua Edisi Ketigabelas. Jakarta : Erlangga.

Setyanto, A., Suharnomo, & Sugiono. (2013). Analisa Pengaruh Kepuasan Kerja dan Iklim
Organisasi Terhadap Keinginan Keluar (Intention To Quit) dengan Komitmen
Organisasional Sebagai Variabel Intervening (Pada perusahaan Perkebunan Kelapa
Sawit Teladan Prima Group). Jurnal Studi Manajemen & Organisasi, Vol.10, No.1,
Januari, h.75.

Srivastav, A, K. (2006). Organizational Climate As A Dependent Variable, Relationship With


Role Stress, Coping Strategy and Personal Variables.” Journal of Management
research, Vol.6 No.3 Dec.
Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta : Grasindo.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.

Zanden, J.W., Crandell, T.L., & Crandell, C.H. (2007). Human Development. New York :
McGraw-Hill.