Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

KONJUNGTIVITIS
Tugas dibuat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II yang diampu oleh
Bapak Mugi Hartoyo, MN

Disusun oleh Kelompok 1:

1. Margaretha L. D (P1337420616055) 13. Adinda Dwi (P1337420617020)


2. Wahyu Tri A (P1337420617001) 14. Ananda Ayu (P1337420617021)
3. Sang Komang P (P1337420617005) 15. Aska Fauzan (P1337420617028)
4. Fitri Asih (P1337420617007) 16. Mega Ayu L (P1337420617029)
5. Oktalia Suci A (P1337420617009) 17. Dona Putu S (P1337420617030)
6. Hadania M.T.A (P1337420617010) 18. Cici Silviani (P1337420617034)
7. Pita Puspa U (P1337420617011) 19. Desy Salma (P1337420617035)
8. Aji Wisnu W (P1337420617012) 20. Shinta W (P1337420617036)
9. Yohanes Prasetyo (P1337420617013) 22. Umi M (P1337420617038
10. Inna Nur H (P1337420617015) 23. Adi Laksono (P1337420617040)
11. Nur Indah P (P1337420617017) 24. Fina Fitriani (P1337420617041)
12. Erika Aditya (P1337420617018)

PROGRAM STUDI S1 TERAPAN KEPERAWATAN SEMARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SEMARANG
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Konjungtivitis telah disahkan oleh Bapak
Mugi Hartoyo, MN pada :
Hari :
Tanggal :

Semarang, Januari 2019

Mugi Hartoyo, MN
NIP : 19680920 199403 1 002

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah SWT.Atas segala
limpah rahmat dan hidayahnya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
ini, dan sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan Nabi besar
yakni Nabi Muhammad SAW.

Adapun maksud penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas di Poltekkes
Semarang, dengan judul “Asuhan Keperawatan Konjungtivitis” dan dengan selesainya
penyusunan makalah ini, kami juga tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada
teman-teman kelompok sebagai anggota penyusun makalah ini.

Pada akhirnya atas penulisan materi ini kami menyadari bahwa sepenuhnya belum
sempurna. Oleh karena itu kami dengan rendah hati mengharap kritikdan saran dari pihak
dosen dan para audien untuk perbaikan dan penyempurnaan pada materi makalah ini.

Semarang, 30 Januari 2019

Penyusun

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR............................................................................................................ iii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... iv
BAB I (PENDAHULUAN)
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah................................................................................................ 2
1.4 Manfaat Penulisan Makalah.............................................................................................. 2
BAB II (PEMBAHASAN)
2.1 Definisi Konjungtivitis...................................................................................................... 3
2.2 Etiologi Konjungtivitis...................................................................................................... 3
2.3 Klasifikasi Konjungtivitis.................................................................................................. 3
2.4 Tanda dan Gejala Konjungtivitis....................................................................................... 4
2.5 Komplikasi Konjungtivitis................................................................................................. 5
2.6 Pemeriksaan Diagnostik Konjungtivitis............................................................................. 6
2.7 Penatalaksanaan Konjungtivitis......................................................................................... 6
BAB III ( ASUHAN KEPERAWATAN)
3.1 Pengkajian Konjungtivitis.................................................................................................. 8
3.2 Diagnosa Keperawatan....................................................................................................... 8
3.3 Intervensi Keperawatan...................................................................................................... 9
3.4 Evaluasi Keperawatan....................................................................................................... 11
BAB IV (PENUTUP)
4.1 Kesimpulan........................................................................................................................ 12
4.2 Saran.................................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Panca indra adalah organ-organ akhir yang dikhususkan untuk menerima jenis
rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menanganinya merupakan alat perantara yang
membawa kesan rasa dari organ indra menuju ke otak tempat perasaan ini ditafsirkan.
Beberapa kesan timbul dari luar seperti sentuhan, pengecapan, penglihatan,
penciuman dan suara.
Mata adalah organ penglihatan. Suatu struktur yang sangat kompleks,
menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral. Seluruh lobus otak, lobus
oksipital, ditujukan khusus untuk menterjemahkan citra visual. Selain itu, ada tujuh
saraf kranial yang memilki hubungan dengan mata dan hubungan batang otak
memungkinkan koordinasi gerakan mata.
Salah satu penyakit yang dapat menyerang indra penglihatan yaitu
konjungtivitis. Sebelumnya, pengertian dari konjungtiva itu sendiri adalah membrana
mukosa yang melapisi bagian dalam kelopak mata (palpebra) dan berlanjut ke batas
korneosklera permukaan anterior bola mata. Sedangkan pengertian konjungtivitis
adalah inflamasi konjungtiva yang ditandai dengan pembengkakan dan eksudat. Pada
konjungtivitis mata nampak merah, sehingga sering disebut mata merah.
Menurut sumber lainnya, Konjungtivitis atau mata memerah adalah salah satu
penyakit mata yang bisa mengganggu penderitanya sekaligus membuat orang lain
merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan si penderita. Semua orang dapat
tertular konjungtivis, bahkan bayi yang baru lahir sekalipun. Yang bisa ditularkan
adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Penularan terjadi ketika
seorang yang sehat bersentuhan dengan seorang penderita atau dengan benda yang
baru disentuh oleh penderita tersebut. Oleh karena itu, maka kita harus memahami
tentang penyakit konjungtivitis agar dapat memutus mata rantai dari penularannya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi konjungtivitis?
2. Apa etiologi konjungtivitis?
3. Apa klasifikasi konjungtivitis?
4. Apa tanda dan gejala konjungtivitis?
5. Apa komplikasi konjungtivitis?
6. Apa pemeriksaan diagnostik konjungtivitis?
7. Bagaimana penatalaksanaan konjungtivitis?
8. Bagaimana asuhan keperawatan konjungtivitis?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui definisi konjungtivitis
2. Untuk mengetahui etiologi konjungtivitis
3. Untuk mengetahui klasifikasi konjungtivitis
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala konjungtivitis
5. Untuk mengetahui komplikasi konjungtivitis
6. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostic konjungtivitis
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan konjungtivitis
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan konjungtivitis
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat dan menambah informasi serta
pengetahuan berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan
pengetahuan tentang “konjungtivitis”.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Konjungtivitis


Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh
mikroorganisme seperti bakteri, alergi, virus, dan sika.
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat. Pada konjungtivis mata nampak merah, sehingga sering
disebut mata merah.
Konjungtivitis adalah peradangan pada selaput bening yang menutupi bagian
putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan
berbagai macam gejala, salah satunya yaitu mata merah. Setiap peradangan pada
konjungtiva dapat menyebabkan melebarnya pembuluh darah sehingga mata terlihat
merah. Konjungtivitas menyerang siapa saja dari segala usia.
2.2 Etiologi Konjungtivitis
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti :
1. Infeksi oleh virus, bakteri, atau clamida
Konjungtivitis yang disebabkan oleh mikroorganisme (terutama virus dan
kuman atau campuran keduanya) ditularkan melalui kontak dan udara.
Dalam waktu 12-48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan
nyeri.
2. Reaksi Alergi terhadap cuaca, debu, serbuk sari, bulu binatang dan lain-lain
3. Bahan kimia ( polusi udara, sabun, kosmetik, chlorine, sinar ultraviolet, dll)
4. Trauma
5. Pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa
menyebabkan konjungtivitis.
2.3 Klasifikasi Konjungtivitis
1. Konjungtivitis Bakteri
Terutama disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Konjungtivitis bakteri sangat
menular, menyebar melalui kontak langsung dengan pasien dan sekresinya atau
dengan objek yang terkontaminasi.

3
2. Konjungtivitis Bakteri Hiperakut
Neisseria gonnorrhoeae dapat menyebabkan konjungtivitis bakteri hiperakut
yang berat dan mengancam penglihatan, perlu rujukan ke oftalmologis segera.
3. Konjungtivitis Viral
Jenis konjungtivitis ini adalah akibat infeksi human adenovirus ( yang paling
sering adalah keratokonjungtivitis epidermika ) atau dari penyakit virus sistemik
seperti mumps dan mononukleosis. Biasanya disertai dengan pembentukan folikel
sehingga disebut juga konjungtivitis folikularis. Mata yang lain biasanya tertular
dalam 24-48 jam.
4. Konjungtivitis Alergi
Infeksi ini bersifat musiman dan berhubungan dengan sensitivitas terhadap serbuk,
protein hewani, bulu, makanan atau zat-zat tertentu, gigitan serangga dan/atau obat (
atropin dan antibiotik golongan Mycin). Infeksi ini terjadi setelah terpapar zat kimia
seperti hair spray, tata rias, asap rokok. Asma, demam kering dan ekzema juga
berhubungan dengan konjungtivitis alergi. Disebabkan oleh alergen yang terdapat di
udara, yang menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan histamin.. Pasien
dengan konjungtivitis alergi sering memiliki riwayat atopi, alergi musiman, atau
alergi spesifik (misal terhadap kucing).
5. Konjungtivitis blenore, konjungtivitis purulen ( bernanah pada bayi dan
konjungtivitis gonore ).
Blenore neonatorum merupakan konjungtivitis yang terdapat pada bayi yang
baru lahir.
2.4 Tanda Dan Gejala Konjungtivitis
1. Konjungtiva berwarna merah (hiperemi) dan membengkak
2. Produksi air mata berlebihan (epifora)
3. Kelopak mata bagian atas nampak menggelantung (pseudoptosis) seolah akan
Menutup akibat pembengkakan konjungtiva dan peradangan sel-sel konjungtiva
bagian atas
4. Pembesaran pembuluh darah di konjungtiva dan sekitarnya sebagai reaksi
nonspesifik peradangan
5. Pembengkakan kelenjar (folikel) di konjungtiva dan sekitarnya
6. Terbentuknya membran oleh proses koagulasi fibrin (komponen protein)
7. Dijumpai sekret dengan berbagai bentuk (kental hingga bernanah)
8. Fotofobia (keengganan terhadap cahaya)

4
2.5 Komplikasi Konjungtivitis
Konjungtivitis dapat menimbulkan komplikasi, hal ini tergantung dari jenis
mikroorganismenya yaitu : Stafilokok dapat menyebabkan blefarokonjungtivitis,
Gonokok menyebabkan perforasi kornea dan endoftalmitis, dan meningokok dapat
menyebabkan septikemia atau meningitis. Keratitis. Virus herpetik dapat
menyebabkan parut pada kelopak mata, neuralgia, katarak, glaukoma, kelumpuhan
saraf III, IV, VI, atrofi saraf optik, dan kebutaan. Ulkus kornea, infeksi sekunder
oleh bakteri, parut kornea, dan neovaskularisasi kornea.
Untuk menghindari komplikasi maka diperluka pengobatan pada
konjungtivitis yang meliputi :
a. Konjungtivitis bakteri biasanya diobati dengan tetes mata atau krim
antibiotik, tetapi sering sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2 minggu tanpa
pengobatan. Karena sangat menular diantara anggota keluarga lain dan teman
sekolah, maka diperlukan teknik mencuci tangan yang baik dan pemisahan
handuk bagi orang yang terjangkit. Anggota keluarga jangan bertukar bantal
atau sprei.
b. Kompres hangat pada mata dapat mengangkat rabas.
c. Konjungtivitis akibat virus biasanya diobati dengan kompres hangat. Untuk
mencegah penularan, diperlukan teknik mencuci tangan yang benar.
d. Konjungtivitis alergi diobati dengan menghindari alergen apabila mungkin,
dan pemberian tetes mata yang mengandung antihistamin atau steroid untuk
mengurangi gatal dan peradangan.
e. Diberikan air mata buatan seumur hidup dan diobati penyakit yang
mendasarinya. Sebaiknya diberikan air mata buatan tanpa zat pengawet
karena bersifat toksik bagi kornea.
f. Terapi yang dapat diberikan misalnya vasokonstriksi lokal pada keadaan akut
(epinefrin 1:1000), astringen, steroid topikal dosis rendah dan kompres
dingin untuk menghilangkan edemanya. Untuk pencegahan diberikan
natrium kromoglikat 2% topikal 4 kali sehari untuk mencegah degranulasi sel
mast. Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan steroid
sistemik. Penggunaan steroid berkepanjangan harus dihindari karena bisa
terjadi infeksi virus, katarak, hingga ulkus kornea oportunistik. Antihistamin
sistemik hanya sedikit bermanfaat.

5
g. Konjungtivitis herpetik diobati dengan obat antivirus, asiklovir 400 mg/hari
selama 5 hari. Steroid tetes deksametason 0,1% diberikan bila terdapat
episkleritis, skleritis, dan iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat
mengakibatkan penyebaran sistemik.
Beberapa komplikasi dari konjungtivitis yang tidak tertangani diantaranya:
1. Glaucoma
2. Katarak
3. ablasi retina
4. komplikasi pada konjungtivitis kataral teronik merupakan segala penyulit
dari blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
5. komplikasi pada konjungtivitis purulenta seringnya berupa ulkus kornea
6. komplikasi pada konjungtivitis membranasea dan pseudomembranasea
adalah bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea
yang dapat mengganggu penglihatan, lama- kelamaan orang bisa menjadi
buta
7. komplikasi konjungtivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu penglihatan
2.6 Pemeriksaan Diagnostik Konjungtivitis
Pemeriksaan pada konjungtivitis dilakukan dengan identivikasi bakteri yang
menggunakan pewarnaan gram. Selain itu dapat dilakukan kultur terhadap bakteri
pathogen tersebut. Specimen yang digunakan berupa usapan pada konjungtivita.
Pemeriksaan sensitivitas juga dilakukan untuk menentukan jenis terapi antibiotic
yang sesuai.
2.7 Penatalaksanaan Konjungtivitis
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari
bagaimana cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain.
Perawat dapat memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang
sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali
memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru
yang terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan
oleh personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar
pasien.
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis
karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau

6
antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur
sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati
dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid
(misalnya dexametazone 0,1 %). Penanganannya dimulai dengan edukasi pasien
untuk memperbaiki higiene kelopak mata. Pembersihan kelopak 2 sampai 3 kali
sehari dengan artifisial tears dan salep dapat menyegarkan dan mengurangi gejala
pada kasus ringan.
Pada kasus yang lebih berat dibutuhkan steroid topikal atau kombinasi
antibiotik-steroid. Sikloplegik hanya dibutuhkan apabila dicurigai adanya iritis. Pada
banyak kasus Prednisolon asetat (Pred forte), satu tetes, QID cukup efektif, tanpa
adanya kontraindikasi.
Apabila etiologinya dicurigai reaksi Staphylococcus atau acne rosasea,
diberikan Tetracycline oral 250 mg atau erythromycin 250 mg QID PO, bersama
dengan pemberian salep antibiotik topikal seperti bacitracin atau erythromycin
sebelum tidur. Metronidazole topikal (Metrogel) diberikan pada kulit TID juga
efektif. Karena tetracycline dapat merusak gigi pada anak-anak, sehingga
kontraindikasi untuk usia di bawah 10 tahun. Pada kasus ini, diganti dengan
doxycycline 100 mg TID atau erythromycin 250 mg QID PO. Terapi dilanjutkan 2
sampai 4 minggu. Pada kasus yang dicurigai, pemeriksaan X-ray dada untuk
menyingkirkan tuberkulosis.

7
BAB III
ASKEP KONJUNGTIVITIS
3.1 Pengakajian keperawatan
a. Anamnesa
1) Nama :
2) Jenis kelamin :
3) Umur :
4) Usia :
5) Alamat :
6) Peanggung Jawab :
7) Pendidikan dan pekerjaan :
8) Keluhan utama :
9) Riwayat penyakit :
b. Pemeriksaan fisik
1) Aktivitas atau istirahat, gejala : perubahan aktivitas biasanya atau hobi sehubungan
dengan gangguan penglihatan
2) Makanan atau cairan, gejala : anoreksia
3) Neurosensori, gejala : Gangguan penglihatan (kabur atau tak jelas), sinar terang
menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap Penglihatan perifer, fotofobia, Tanda
: Konjungtiva dan sklera merah Peningkatan air mata.
4) Nyeri atau kenyamanan, gejala : ketidaknyamanan ringan, mata berair Nyeri tiba-tiba
atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala, Rasa tidak enak atau ngeres
3.2 Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri ( akut atau kronis ) berhubungan dengan peradangan pada konjungtiva
2) Gangguan sensori perseptual penglihatan berhubungan dengan kemunduran visus
dan penurunan ketajaman penglihatan serta adanya proses peradangan, adanya sekret
atau purulen pada kornea
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kemunduran visus dan penurunan
ketajaman penglihatan
4) Resiko tinggi cidera atau trauma berhubungan dengan penurunan ketajaman
penglihatan
5) gangguan rasa aman nyaman berhubungan dengan proses peradangan pada mata
6) resiko injury berhubungan dengan penurunan persepsi : penglihatan

8
7) resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan ketikadekuatan pengobaran dan
terapi
8) gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri yang dirasakan
3.3 Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No. Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Nyeri (akut atau Nyeri pasien Intervensi :
kronis ) b.d berkurang atau 1) Kaji tingkat nyeri klien
peradangan pada hilang 2) Menjelaskan sebab dan akibat nyeri pada
konjungtiva klien serta keluarganya
3) Observasi adanya tanda-tanda
ketidaknyamanan non verbal misalnya :
eksprsi wajah, posisi tubuh gelisah,
meringis
4) Anjurkan untuk beristirahat dalam ruangan
yang tenang
5) Berikan kompres dingin jika
memungkinkan
2. Gangguan Sensori Intervensi :
sensori perseptual 1) Tentukan ketajaman penglihatan
perseptual penglihatan 2) Observasi tanda-tanda dan gejala-gejala
penglihatan b.d kembali adekuat lebih lanjut (disorientasi)
kemunduran 3) Perhatikan pada suram atau penglihatan
visus dan kabur dan iritasi
penurunan 4) Anjurkan pasien untuk menggunakan kaca
ketajaman mata untuk membatu mengurangi silau
penglihatan pada mata
serta adanya 5) Kolaborasi dengan dokter dalam pilihan
proses intervensi medis
peradangan,
adanya sekret
atau purulen
pada kornea

9
3. Intoleransi Klien dapat Intervensi :
aktivitas b.d beraktivitas 1) Tentukan tingkat ansietas sekarang atau
kemunduran secara adekuat keadaan fisik
visus dan 2) Anjurkan klien untuk melakukan
penurunan perawatan diri sesuai dengan kemampuan
ketajaman maksimal
penglihatan 3) Menganjurkan klien mengatur periode
istirahat konsisten di antara aktivitas
4) Anjurkan klien meningkatkan manajemen
stres, teknik relaksasi
4. Resiko tinggi Tidak terjadi Intervensi :
cidera atau cedera atau 1) Batasi aktivitas yang berlebihan
trauma b.d trauma 2) Pertahankan keamanan lingkungan
penurunan 3) Berikan posisi nyaman pada pasien
ketajaman 4) Anjurkan klien untuk memodifikasi
penglihatan lingkungan
5. gangguan rasa pasien Intervensi :
aman nyaman merasakan nyeri 1) kaji ulang keluhan nyeri perhatikan tempat
b.d proses hilang dan karakteristik
peradangan pada 2) Berikan posisi yang nyaman pada pasien
mata 3) Kompres hangat
4) Kolaborasi pemberian obat analgetik
(sesuai indikasi) atau obat mata
6. resiko injury b.d tidak terjadi Intervensi :
penurunan injury 1) Kaji kemampuan melihat
persepsi : 2) Orientasikan lingkungan dan yang lain
penglihatan 3) Jaga saat beraktivitas
4) Tempatkan perabot teratur dan dekat
pasien
7. resiko tidak terjadi Intervensi :
penyebaran tanda-tanda 1) Bersihkan kelopak mata dari dalam keluar
infeksi b.d penyebaran 2) Ingatkan klien untuk tidak menggosok
ketikadekuatan infeksi mata yang sakit

10
pengobaran dan 3) Beritahu klien mencegah pertukaran sapu
terapi tangan, handuk dan bantal dengan yang
lain
4) Kolaborasi pemberian antibiotik
8. gangguan pola pasien dapat Intervensi :
tidur b.d rasa istirahat dengan 1) Ciptakan lingkungan yang tenang
nyeri yang tenang 2) Kurangi rasa nyeri dengan mengompres
dirasakan mata
3) Jelaskan fungsi kebutuhan tidur
berhubungan dengan penyembuhan
penyakit
4) Batasi pengunjung

3.4 Evaluasi Keperawatan


Evaluasi pada pasien konjungtivitis meliputi :
1. Nyeri klien berkurang atau hilang
2. Ketajaman penglihatan klien kembali seperti sebelum sakit
3. Lingkungan pasien aman terhindar dari risiko trauma
4. Klien melakukan aktivitas secara adekuat

11
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Konjungtivitis adalah inflamasi konjungtiva dan ditandai dengan pembengkakan dan
eksudat. Pada konjungtivitis mata tampak merah, sehingga sering disebut mata merah.
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai hal dan dapat bersifat infeksius seperti :
a. Bakteri
b. Klamidia
c. Virus
d. Jamur
e. Parasit (oleh bahan iritatif => kimia, suhu, radiasi) maupun imunologi (pada
reaksi alergi).
Gejala subjektif meliputi rasa gatal, kasr ( ngeres/tercakar ) atau terasa ada benda
asing. Penyebab keluhan ini adalah edema konjungtiva, terbentuknya hipertrofi papilaris,
dan folikel yang mengakibatkan perasaan adanya benda asing didalam mata. Gejala
objektif meliputi hyperemia konjungtiva, epifora (keluar air mata berlebihan),
pseudoptosis (kelopak mata atas seperti akan menutup), tampak semacam membrane
atau pseudomembran akibat koagulasi fibrin.
4.2 Saran
Setelah membaca makalah ini di harapkan kepada pembaca dapat mengetahui
tinjauan medis konjungtivitis dan asuhan keperawatan dan memberikan
pendapat/saran dari materi yang disajikan oleh penulis.

12
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Alih bahasa, Agung.
Price &Wilson, (2007). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6,
Volume1. Jakarta: EGC.
Donna Ignatavician, (2006). Medical Surgical Nursing. Volume 2. St. Louis Missouri:
Elsevier Sounders.

13