Anda di halaman 1dari 7

SURATKEPUTUSAN

No. 027/PER/DIR/RSAM/XI/2016

TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI
DIREKTUR RUMAH SAKIT ANNA MEDIKA

MENIMBANG :a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit
Anna Medika, maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan Farmasi
yang bermutu tinggi;
b. Bahwa agar pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Anna Medika dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan Direktur Rumah
Sakit Anna Medika sebagai landasan bagi penyelenggaraan
pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Anna Medika;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a
dan b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur Rumah Sakit
Anna Medika.

MENGINGAT : a. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang


Kesehatan
b. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
c. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2009 tentang
Narkotika
d. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan
Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
e. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian
f. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/
Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah
Sakit
MEMUTUSKAN :

MENETAPKAN :

PERTAMA : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ANNA MEDIKA


TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI RUMAH SAKIT
ANNA MEDIKA

KEDUA : Kebijakan pelayanan Farmasi Rumah Sakit Anna Medika sebagaimana


tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.

KETIGA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan Farmasi Rumah


Sakit Anna Medika dilaksanakan oleh Wakil Direktur Pelayanan Rumah
Sakit Anna Medika.

KEEMPAT : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan nya, dan apabila di
kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perbaikan sebagaimana mestinya

Ditetapkan di : Bekasi
Pada tanggal: 22 November 2016
Direktur RS.Anna Medika

Dr.H.SlametEffendy,MKes
Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Anna Medika
Nomor 027/PER/DIR/RSAM/XI/2016

KEBIJAKAN PELAYANAN FARMASI


RUMAH SAKIT ANNA MEDIKA

1. Pengaturan dan manajemen :


a) Pelaksanaan pekerjaan kefarmasian meliputi pemilihan, pengadaan, penerimaan,
penyimpanan, permintaan/peresepan, penyalinan, distribusi, persiapan, pengeluaran,
pemberian, dokumentasi dan pemantauan terapi obat-obatan.
b) Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap semua sediaan farmasi/perbekalan
farmasi yang beredar di rumah sakit.
c) Sediaan farmasi/perbekalan farmasi terdiri dari obat, bahan obat, alat kesehatan,
reagensia, radiofarmasi, dan gas medis
d) Pelayanan farmasi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah
sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang
bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat.
e) Pelayanan farmasi dilaksanakan dengan sistem satu pintu.
f) Instalasi Farmasi dipimpin oleh Apoteker, berijazah sarjana farmasi yang telah lulus
sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker, yang telah
memilliki Surat Tanda Registrasi Apoteker dan Surat Izin Praktek Apoteker.
g) Kepala Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap segala aspek hukum dan
peraturan peraturan farmasi baik terhadap administrasi sediaan farmasi dan
pengawasan distribusi.

2. Pemilihan dan pengadaan :


a) Pengadaan obat dirumah sakit dilaksanakan mengacu pada Formularium rumah sakit
dan Formularium Nasional untuk JKN-BPJS. Proses pengadaan dilaksanakan sesuai
undang–undang yang berlaku, yang melibatkan jalur distribusi obat yang resmi,
dengan pengelolaan yang dikendalikan secara penuh oleh rumah sakit.
b) Pemilihan obat masuk formularium dan penghapusan obat dari formularium harus
mengikuti kriteria yang berlaku.
c) Bila suatu obat dalam resep tidak tersedia diinstalasi farmasi, ada proses yang sudah
ditetapkan rumah sakit untuk pemberitahuan kepada dokter penulis resep, saran
substitusi, atau pengadaannya.
d) Bila suatu obat dalam resep tidak tersedia di Depo Farmasi dan mendapati Gudang
farmasi terkunci, maka petugas meminta kepada Apoteker atau penanggung jawab
shift yang telah di delegasikan oleh penanggung jawab Gudang Farmasi untuk
mengambil obat tersebut.
e) Pengawasan penggunaan obat dirumah sakit dilaksanakan oleh Panitia Farmasi dan
Terapi.
f) Pengadaan obat yang tidak tersedia di dalam formularium rumah sakit harus
mendapat persetujuan dari Panitia Farmasi dan Terapi.
g) Anggota Panitia Farmasi dan Terapi telah diputuskan sesuai SK Direktur
h) Panitia Farmasi dan Terapi terlibat dalam proses pemesanan, penyaluran, pemberian
dan monitoring pengobatan pasien, evaluasi dan penggunaan obat dalam formularium
rumah sakit
i) Kriteria dan prosedur untuk penambahan dan pengurangan obat dari formularium
ditetapkan oleh rumah sakit
j) Panitia Farmasi dan Terapi melakukan monitoring penggunaan obat baru serta
timbulnya KTD akibat obat baru yang ditambahkan dalam formularium
k) Formularium ditelaah minimal satu kali dalam satu tahun, berdasarkan informasi
tentang keamanan dan efektivitasnya. Proses telaah formularium dilakukan oleh
Panitia Farmasi dan Terapi.
l) Prosedur persetujuan dan pengadaan obat–obat yang diperlukan dalam pelayanan
tetapi tidak tersedia dalam stok telah ditetapkan oleh rumah sakit.
m) Informasi mengenai obat yang tidak ditemukan diformularium dapat ditemukan di
buku standar informasi obat seperti: MIMS (Master Index of Medical Specialities)
dan ISO INDONESIA (Informasi Spesialit Obat)

3. Penerimaan :
a) Penerimaan adalah kegiatan untuk menjamin kesesuaian Jenis, Spesifikasi, Mutu, dan
Jumlah sesuai dengan surat pesanan
b) Penerimaan barang ahanya dari distributor resmi
4. Penyimpan :
a) Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi dilaksanakan berdasarkan prosedur yang
telah ditetapkan oleh rumah sakit.
b) Penyimpanan obat dan perbekalan farmasi khusus (obat yang dibawa oleh pasien,obat
emergency, obat progam kesehatan) dilaksanakan berdasarkan prosedur yang telah
ditetapkan rumah sakit.
c) Rumah sakit tidak melakukan penyimpanan dan pengelolaan obat sitostatika, Total
Parenteral Nutrition (TPN) dan produk steril karena belum ada fasilitas BSC
(Biological Safety Cabinet).
d) Rumah sakit menetapkan proses dan peralatan untuk pengamanan obat dan perbekalan
farmasi lainnya.
e) Perbekalan farmasi khusus meliputi obat-obat narkotik dan psikotropik, obat-obat
High Alert, elektrolit pekat, bahan berbahaya dan beracun, produk nutrisi, dan bahan
radioaktif, dikelola dengan prosedur yang telah ditetapkan rumah sakit.
f) Instalasi Farmasi Rumah Sakit Anna Medika tidak menyediakan bahan radioaktif.
g) Rumah sakit tidak melakukan pembuatan/produksi dan peracikan sendiri.
h) Rumah sakit tidak melakukan penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian obat
sampel yang ditujukan untuk uji klinis kepada pasien.
i) Obat yang dibawa pasien dari luar, setelah melalui proses rekonsiliasi obat dan terapi
boleh dilanjutkan, disimpan di Instalasi Farmasi rumah sakit.
j) Sebagai proses monitoring dan evaluasi kondisi penyimpanan obat dan alat kesehatan,
ditunjuk satu orang petugas farmasi untuk melakukan inspeksi secara berkala setiap
satu bulan sekali.
k) Obat emergensi tersedia di unit-unit pelayanan pasien dan pengelolaannya dimonitor
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapka rumah sakit.
l) Sistem penarikan obat telah diatur sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan
rumah sakit.
m) Obat – obat yang kadaluwarsa dan ketinggalan jaman dipisahkan, disimpan dan
dimusnahkan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit.

5. Penyiapan dan pengeluaran :


a) Rumah sakit menyediakan fasilitas bangunan, ruangan dan peralatan yang memenuhi
ketentuan dan perundang – undangan kefarmasian yang berlaku.
b) Pelayanan obat dilaksanakan dalam area yang bersih dan aman, sesuai dengan
prosedur yang sudah ditetapkan rumah sakit.
c) Persiapan dan pencampuran obat dilakukan di area yang ditetapkan oleh rumah sakit.
d) Instalasi Farmasi Rumah Sakit Anna Medika memberikan pelayanan 24 jam.
e) Petugas farmasi yang kompeten melaksanakan proses skrining resep sebelum
melayani resep.
f) Ada prosedur yang ditetapkan rumah sakit bila resep dokter tidak terbaca.
g) Pelayanan resep di rawat jalan dilaksanakan dengan sistem pelayanan resep individual
h) Pelayanan resep di rawat inap dilaksanakan dengan sistem pelayanan resep individual
i) Rumah sakit menyediakan sistem komputerisasi untuk proses pengelolaan mutasi stok
dan pencatatan pelayanan obat yang terintegrasi
j) Penyimpanan obat narkotika menggunakan sistem dua (2) pintu dimana kunci
narkotika dipegang oleh 2 orang dengan petugas yang berbeda.
k) Petugas yang memegang kunci narkotika adalah Apoteker dan Tenaga Teknis
Kefarmasian yang telah diberi kewenangan.

6. Pemberian:
a) Petugas farmasi yang berwenang memberikan obat adalah Apoteker yang telah
memiliki sertifikat kompetensi, Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) dan Tenaga
Teknis Kefarmasian yang telah memiliki SIKTTK.
b) Dalam pemberian obat pada pasien rawat inap, wewenang pemberian obat
didelegasikan kepada perawat. Perawat yang berwenang memberikan obat adalah
perawat yang telah ditentukan kewenangannya sesuai Penugasan Klinis Perawat.
c) Dokter yang berwenang memberikan obat adalah semua dokter yang telah
mendapatkan Surat Penugasan (Clinical Appointment) dari Direktur RS yang memuat
kewenangan klinis (Clinical Privileges) yang boleh dilakukan di rumah sakit.
d) Petugas farmasi melakukan proses telaah obat sebelum memberikan obat
e) Perawat melakukan proses telaah obat dan serah terima dengan menggunakan form 7
benar
f) Rumah sakit menyediakan sarana edukasi dan konseling bagi pasien yang
menggunakan obat sendiri
g) Proses dokumentasi dan pengelolaan obat yang dibawa pasien saat masuk kerumah
sakit, dilakukan dalam proses Rekonsiliasi Obat oleh dokter, dan pengelolaan obat
berikutnya dilakukan oleh instalasi farmasi*****

7. Pemantauan
a) Ada proses Monitoring Efek Samping Obat (MESO) dan Pemantauan Reaksi Obat
Tidak Dikehendaki (ROTD) yang dilaksanakan secara kolaboratif, dengan prosedur
yang sudah ditetapkan rumah sakit
b) Monitoring Efek Samping Obat (MESO) dan Pemantauan Reaksi Obat Tidak
Dikehendaki (ROTD) yang terpantau, ditulis didalam dokumen rekam medis pasien
dan dilaporkan selambat – lambatnya 2 x 24 jam dalam bentuk laporan MESO.

c) Instalasi Farmasi ikut serta dalam proses peningkatan mutu dan keselamatan pasien
bersama Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit

8. Pemusnahan dan Penarikan Produk


a) Pemusnahan dan Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Habis Pakai
yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang sesuai dengan
ketentuan peratutan perundang-undangan yang berlaku.
b) Pemusnahan dan Penarikan dilakukan bila produk tidak memenuhi peryaratan mutu,
kadaluarsa dan izin edarnya dicabut.

9. Dokumentasi

a) Pencatatan dan pelaporan terhadap kegiatan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat


Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang meliputi perencanaan, pengadaan,
penerimaan, pendistribusian, pengendalian persediaan, pemusnahan dan penarikan
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai.
b) Pelaporan dibuat secara periodik yang dilakukan Instalasi Farmasi dalam periode waktu
tertentu (bulanan dan pertahun).

Ditetapkan di : Bekasi
Pada tanggal: 22 september 2016,
Direktur RS.Anna Medika

Dr. H. Slamet Effendy, MKes.