Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN EKOLOGI

CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG GARUT


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi
Dosen pengampu : Drs. Zaenal Abidin M.Si.
Asisten Dosen : Ina Setiawati S.Pd. M.Pd.

Disusun oleh :
Kelompok 2
Bunga Puji Lestari 20160210017
Dea Dwi Yuliandini 20160210012
Dini Rizky Amelia 2016021
Ligar Asmara Pamungkas 20160210015
Maulida Febriani 2016021
Verdy Nurdiansyah 20160210026
Yunita Herlani 20160210007

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KUNINGAN
2018

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
curahan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis mampu menyelasaikan
laporan praktikum lapngan Ekologi ini. Adapun tujuan dari penyusunan laporan
praktikum ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ekologi.
Dalam Penyusunan makalah ini, banyak rintangan dan tantangan yang
kami hadapi, tetapi berkat dorongan dan bimbingan semua pihak pada akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan. Sehubungan dengan hal tersebut pada
kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada
yang terhormat :
1. Kepala Polisi Hutan Cagar Alam Leuweung Sancang, Kabupaten Garut,
JawaBarat.
2. Bapak Drs. Zaenal Abidin M.Si selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah
Ekologi.
3. Ibu Ina Setiawati selaku Asisten Dosen Mata Kuliah Ekologi
4. Bapak Harun S.Pd selaku Laboran
5. Teh Imamah selaku asisten praktikum
6. Semua rekan-rekan kelas Pendidikan Biologi angkatan 2016.
Akhir kata, mudah-mudahan makalah ini bermanfaat khususnya bagi kami
dan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Kuningan, Januari 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
DAFTAR GRAFIK ....................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ......................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 3
C. Tujuan .................................................................................................. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Metode Transek .................................................................................... 4
B. Populasi ................................................................................................ 7
C. Serangga ............................................................................................... 10
D. Cagar Alam Leuweung Sancang Garut ............................................... 11
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Pengamatan .......................................................... 19
B. Estimasi Populasi Hewan Mamalia Arboreal (Metode Garis Transek) 19
C. Bird Watching ...................................................................................... ....21
D. Estimasi Kelimpahan Populasi Serangga ............................................. 24
E. Vegetasi Hutan Pada Komposisi Jenis Dan Struktur Tegakan Hutan .. 26
F. Menaksir Kelimpahan Populasi dan Panjang Hari Suatu Koloni Hewan
Dengan Median Pencacahan (Kelelawar)………………. ................... 28
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Estimasi Populasi Hewan Mamalia Arboreal (Metode Garis Transek) 19
B. Bird Watching ...................................................................................... 21
C. Estimasi Kelimpahan Populasi Serangga ............................................. 24
D. Vegetasi Hutan Pada Komposisi Jenis Dan Struktur Tegakan Hutan .. 26
E. Menaksir Kelimpahan Populasi dan Panjang Hari Suatu Koloni Hewan
Dengan Median Pencacahan (Kelelawar)………………. ................... 28

iii
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 17

iv
DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Indeks Keanekaragaman per plot...................................................... 13


Grafik 2. Indeks Keanekaragaman per spesies ................................................ 14
Grafik 3. Indeks Kemerataan per plot .............................................................. 16
Grafik 4. Indeks Kemerataan per spesies ......................................................... 16
Grafik 5. Indeks Dominansi ............................................................................. 18

v
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kepadatan dan Frekuensi Kehadiran Jenis Hewan Tanah ............... 30
Tabel 1.2 Hasil Metode Perangkap Jebak ........................................................ 31
Tabel 3.1 Pengamatan Burung ......................................................................... 32
Tabel 3.2 Indeks Keanekaragaman .................................................................. 32

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Cagar Alam (C.A.) Leuweung Sancang (2.157 Ha) secara administrasi
terletak di Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Ditetapkan
sebagai cagar alam berdasarkan SK Menteri Pertanian No.
370/Kpts/Um/6/1978 tanggal 9 Juni 1978. Secara umum kondisi topografi
C.A. Leuweung Sancang sebagian besar merupakan daratan landai pantai dan
di bagian timurnya terdapat perbukitan dengan ketinggian mencapai 180 m di
atas permukaan laut. Cagar Alam tersebut mempunyai beberapa jenis
ekosistem, antara lain rumput laut, hutan pantai, mangrove dan hutan primer
(Srimulyaningsih 2012). Hewan/satwa langka khas jawa, yaitu owa jawa
(Hylobates moloch) masig dapat dijumpai di kawasan ini. Demikian pula
dengan satwa dilingdungi lainnya seperti macan tutul jawa (Panthera
pardus), merak (pavo muticus), rusa (Cervus timorensis), dan jenis satwa
lainnya.
Tanah adalah bagian dari bahan yang sangat penting karena secara
agronomis berfungsi sebagai media tumbuh, secara teknis merupakan bahan
baku, secara ekologis merupakan rantai ekosistem yang penting dan secara
ekonomis dapat berfungsi sebagai faktor produksi serta secara sosial budaya
merupakan simbol status sehingga dengan demikian tanah merupakan salah
satu sumber daya yang sangat berharga bagi manusia (Subroto, 2003).
Kelompok hewan tanah sangat banyak dan beranekaragam mulai dari
protozoa, porifera, nematoda, annelida, mollusca, arthropoda hingga
vertebrata. Hewan tanah dapat dikelompokkan atas dasar ukuran tubuhnya.
Kehadirannya di tanah, habitat yang dipilihnya dan kegiatan makanannya.
Kehidupan hewan tanah sangat tergantung pada habitatnya, karena
keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan di suatu daerah sangat
ditentukan daerah itu. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan
populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat tergantung dari faktor
lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dan lingkungan biotik (Suin, 1997).
Populasi merupakan sebagai kumpulan kelompok makhluk yang sama
jenis (atau kelompok lain yang individunya mampu bertukar informasi
genetik) yang mendiami suatu ruangan khusus, yang memiliki berbagai
karakteristik yang walaupun paling baik digambarkan secara statistik, unik
sebagai milik kelompok dan bukan karakteristik individu dalam kelompok
itu.
Estimasi populasi adalah suatu metode yang digunakan untuk
melakukan perhitungan kepadatan suatu populasi. Kepadatan populasi satu
jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah atau
biomassa per unit, atau persatuan luas atau persatuan volume atau persatuan
penangkapan. Kepadatan relatif dapat dihitung dengan membandingkan
kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit
tersebut. Kepadatan relatif biasanya dinyatakan dalam bentuk persentase.
Burung atau avifauna merupakan anggota satwa liar yang memiliki
kemampuan hidup hampir di semua tipe habitat, dari kutub sampai gurun,
dari hutan konifer sampai hutan tropis, dari sungai, rawa-rawa sampai lautan.
Di samping memiliki mobilitas yang tinggi, burung juga memiliki
kemampuan untuk beradaptasi di berbagai tipe habitat yang luas (Welty, 1982
dalam Arini dan Prasetyo, 2013). Walaupun memiliki kemampuan hidup di
semua tipe habitat, namun komposisi jenis pada masing-masing habitat
menunjukkan adanya perbedaan (Arini dan Prasetyo, 2013). Alikodra (2002)
menyatakan bahwa persebaran suatu jenis burung disesuaikan dengan
kemampuan pergerakannya atau kondisi lingkungan seperti pengaruh luas
kawasan, ketinggian tempat, dan letak geografis. Oleh karena itu, burung
merupakan kelompok satwa liar yang paling merata persebarannya.
Kekayaan spesies adalah ukuran dari berbagai spesies yang dapat
dinyatakan dalam jumlah spesies, sementara keanekaragaman spesies lebih
mengacu pada hubungan antara spesies dengan jumlah individu
(Spellerbergh, 2003). Keanekaragaman berhubungan dengan keseimbangan

2
jenis dalam komunitas sehingga jika nilai keanekaragaman tinggi, maka bisa
dikatakan keseimbangan dalam komunitas tersebut juga tinggi, begitu juga
sebaliknya. Keanekaragaman juga berkaitan dengan banyaknya jenis dan
jumlah individu tiap jenis sebagai penyusun komunitas (Van Helvort, 1981).
Keanekaragaman atau diversitas suatu makhluk hidup dapat ditentukan
melalui indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (Heip, 1974).
Oleh karena itu dilakukan praktikum lapangan ekologi ini untuk
mengetahui keanekaragaman burung, sampling fauna, dan estimasi populasi
serangga yang terdapat di Leweung Sancang.

3
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana keragaman komunitas suatu ekosistem tertentu melalui indeks
keragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan?
2. Bagaimana pola penyebaran organisme dalam populasi hewan dikaitkan
dengan kondisi lingkungan yang menjadi habitatnya?
3. Bagaimana keragaman avifauna yang terdapat di suatu lingkungan
(Hutan)?
4. Bagaimana menerapkan metode CMRR (CaptureMark-Release-Recapture)
untuk memperkirakan cacah populasi serangga Belalang dan
membandingkan hasil estimasi dengan rumus Petersen dan Schnabel?
5. Bagaimana cara untuk menghitung dan mempelajari komposisi jenis dan
struktur tegakan hutan?

C. TUJUAN
1. Untuk memahami keragaman komunitas suatu ekosistem tertentu melalui
indeks keragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan.
2. Untuk mengetahui pola penyebaran organisme dalam populasi hewan
dikaitkan dengan kondisi lingkungan yang menjadi habitatnya.
3. Untuk mengetahui keragaman avifauna yang terdapat di Suatu Lingkungan
(Hutan)
4. Untuk menerapkan metode CMRR (CaptureMark-Release-Recapture)
untuk memperkirakan cacah populasi serangga Belalang dan
membandingkan hasil estimasi dengan rumus Petersen dan Schnabel.
5. Bertujuan untuk menghitung dan mempelajari komposisi jenis dan struktur
tegakan hutan.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. METODE TRANSEK

Keberadaan organisme pada suatu habitat berkaitan erat dengan


kondisi dan sumber daya lingkungan serta interaksi biologisnya. Individu-
individu dalam suatu populasi umumnya memiliki persyaratan ekologis
yang hamir serupa. Akibatnya individu-individu tersebut akan
memanfaatkan kondisi dan sumber daya lingkungan yang juga hampir
serupa sehingga terjadilah keselingkupan. Sehubungan dengan hal tersebut
terjadi penjarakan di antara individu melalui beroperasinya mekanisme
perilaku. Mekanisme yang paling sederhana ialah dengan menjaga jarak
tertentu dan tidak mentorerir individu lain untuk tidak terlalu dekat atau
menghindari individu lain. Namun terjadi kecenderungan lain di mana
individu-individu menjadi berkelompok karena daya tarik di antara
sesamanya.

Menurut Odum (1983) secara umum terdapat tiga pola umum


distribusi individu dalam populasi yaitu pola acak, berkelompok atau
teratur.

 Pola acak, jika dalam satu situs probabilitas suatu individu dalam area
tidak menentu.

 Pola berkelompok, jika individu-individu dalam suatu populasi


menempati situs secara berkelompok.

 Pola teratur/merata, jika terjadi penjarakan yang kurang lebih merata


antara individu yang satu dengan lainnya menempati suatu situs/area.

- Metode Garis Transek (Transcest Line Method) atau juga disebut metode
strip transect adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mengestimasi populasi hewan. Pada metode ini kita menghitung jumlah
hewan target yang tampak dalam area disepanjang garis transek.

5
Kemampuan mendeteksi hewan dapat dipengaruhi oleh karakteristik
hewan (ukuran tubuh, warna dan tingkah laku), kondisi vegetasi, faktor
gangguan selama pengamatan, faktor temporal (pembagian waktu dan
musim), pengalaman pengamat dn kecepatan berjalan di jalur transek.
Oleh karena itu digunakan metode transek, yang terdiri dari:
 Line Intercept (Line Transect), yaitu suatu metode dengan cara
menentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis
transek dapat 10 m, 25 m, 50 m atau 100 m.
 Belt Transect, yaitu suatu metode dengan cara mempelajari
perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan
elevasi. Transek dibuat memotong garis topografi dari tepi laut ke
pedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng
pegunungan. Lebar transek 10 – 20 m dengan jarak antar transek 200
– 1000 m (tergantung intensitas yang dikehendaki). Untuk kelompok
hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang digunakan 2 % dan
hutan yang luasnya 1.000 Ha atau kurang intensitasnya 10 %.
- Strip Sensus, yaitu pada dasarnya sama dengan line transect hanya saja
penerapannya ekologi vertebrata terestrial (daratan). Metode ini meliputi
berjalan sepanjang garis transek dan mencatat spesies-spesies yang
diamati di sepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa
indeks populasi (indeks kepadatan) (Suin, 1997).

B. POPULASI
Populasi terdiri dari banyak individu yang tersebar pada rentangan
goegrafis. Tetapi individu itu tidak selalu tersebar merata. Ada pola
penyebaran, yaitu menggerombol, acak dan tersebar. Pola distribusi ini
disebabkan oleh tipe tingkah laku individu yang berbeda. Disatu pihak,
menggerombol sebagai akibat dari tertariknya individu-individu pada tempat
yang sama, apakah karna lingkungan yang cocok atau tempat berkumpul
untuk fungsi sosial. Misalnya perkawinan, dipihak lain tersebar sebagai
interaksi antagonis antar individu. Dalam hal tidak adanya daya tarik

6
bersama/penyebaran sosial individu-individu lain dalam populasi. Contoh
pertumbuhan potensial populasi manusia yang terdiri dari banyak wanita
umur 15-35 tahun adalah lebih besar pada populasi yang terdiri dari
kebanyakan laki-laki tua/anak-anak. Tingkat pertumbuhan populasi yaitu
sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur
umur dan populasi (Southwood, 1876:75).
Populasi adalah sehimpunan individu atau kelompok individu dalam
satu spesies atau kelompok lain yang dapat melangsungkan interaksi genetik
dengan jenis yang bersangkutan, dan pada waktu tertentu menghuni suatu
wilayah atau tata ruang tertentu. Populasi memiliki karakterisitik kelompok
(statistical measure) yang tidak dapat diterapkan pada individu. Karakteristik
dasar populasi yang banyak didiskusikan adalah kepadatan (density). Empat
parameter populasi yang mengubah kepadatan populasi adalah natalitas
(kelahiran), mortalitas (kematian), imigrasi dan emigrasi (Tarumingkeng,
1994).
Tingkat pertumbuhan populasi yaitu sebagai hasil akhir dari kelahiran
dan kematian, juga mempengaruhi struktur umur dan populasi. Suatu
populasi dapat juga ditafsirkan sabagai suatu kelompok yang sama. Suatu
populasi dapat pula ditafsirkan sebagai suatu kolompok makhuk yang sama
spesiesnya dan mendiami suatu ruang khusus pada waktu yang khusus.
Populasi dapat dibagi menjadi deme, atau populasi setempat. Kelompok-
kelompok yang dapat saling membuahi, satuan kolektif terkecil populasi
hewan atau tumbuhan. Populasi memiliki beberapa karakteristik berupa
pengukuran statistik yang tidak dapat diterapkan pada individu anggota
populasi. Karakteristik dasar populasi adalah besar populasi atau kerapatan
(Junaidi,2010).
Ukuran populasi umumnya bervariasi dari waktu, biasanya mengikuti
dua pola. Beberapa populasi mempertahankan ukuran populasi
mempertahankan ukuran populasi, yang relatif konstan sedangkan populasi
lain berfluktuasi cukup besar. Perbedaan lingkungan yang pokok adalah suatu
eksperimen yang dirangsang untuk meningkatkan populasi tersebut.

7
Penyelidikan tentang dinamika populasi, pada hakikatnya dengan
keseimbangan antara kelahiran dan kematian dalam populasi dalam upaya
untuk memahami pada tersebut di alam (Naughton, 1973).
Populasi adalah sekelompok organisme yang mempunyai spesies sama
(takson tertentu) serta hidup/menempati kawasan tertentu pada waktu
tertentu. Suatu populasi memiliki sifat-sifat tertentu; seperti kepadatan
(densitas), laju/tingkat kelahiran (natalitas), laju/tingkat kematian (mortalitas),
sebaran umur dan sex (rasio bayi, anak, individu muda, dewasa dengan jenis
kelamin betina atau jantan), dll. Sifat-sifat ini dapat dijadikan sebagai
parameter untuk mengetahui / memahami kondisi suatu populasi secara alami
maupun perubahan kondisi populasi karena adanya pengaruh perubahan
lingkungan. Sebagai salah satu sifat populasi, densitas merupakan cerminan
ukuran populasi (jumlah total individu) yang hidup dalam kawasan tertentu
(Tobing, 2008: 43).
Populasi terdiri dari banyak individu yang tersebar pada rentangan
goegrafis. Tetapi individu itu tidak selalu tersebar merata. Ada pola
penyebaran, yaitu menggerombol, acak dan tersebar. Pola distribusi ini
disebabkan oleh tipe tingkah laku individu yang berbeda. Disatu pihak,
menggerombol sebagai akibat dari tertariknya individu-individu pada tempat
yang sama, apakah karna lingkungan yang cocok atau tempat berkumpul
untuk fungsi sosial. Misalnya perkawinan, dipihak lain tersebar sebagai
interaksi antagonis antar individu. Dalam hal tidak adanya daya tarik
bersama/penyebaran sosial individu-individu lain dalam populasi. Contoh
pertumbuhan potensial populasi manusia yang terdiri dari banyak wanita
umur 15-35 tahun adalah lebih besar pada populasi yang terdiri dari
kebanyakan laki-laki tua/anak-anak. Tingkat pertumbuhan populasi yaitu
sebagai hasil akhir dari kelahiran dan kematian, juga mempengaruhi struktur
umur dan populasi (Hadisubroto, 1989).
Kepadatan populasi satu jenis atau kelompok hewan dapat dinyatakan
dalam dalam bentuk jumlah atau biomassa per unit, atau persatuan luas atau
persatuan volume atau persatuan penangkapan. Kepadatan pupolasi sangat

8
penting diukur untuk menghitung produktifitas dan untuk membandingkan
kepadatan suatu jenis dengan kepadatan semua jenis yang terdapat dalam unit
tersebut (Rakhmanda, 2011:1).
Pengukuran kerapatan mutlak ialah dengan cara :
1. Penghitungan menyeluruh yaitu cara yang paling langsung untuk mengerti
berapakah makhluk yang di pertanyakan di sutau daerah adalah
menghitung makhluk tersebut semuanya.
2. Metode cuplikan yaitu dengan menghitung proporsil kecil
populasi.(PETERSON) (Sukarsono,1992).
Metode yang paling akurat untuk mengetahui kerapatan populasi adalah
dengan cara menghitung seluruh individu mahkluk hidup yang di maksud
(sensus), namun situasi alam atau lokasi penelitian sering tidak
memungkinkan pelaksaan hal tersebut, terutama pada penghitungan hewan
liar misalnya nyamuk atau rusa. Mungkin sebagian medan habitat tidak dapat
atau sukar dicapai, atau beberapa individu sangat sulit untuk dijumpai secara
langsung. Selain itu pergerakan hewan dari dan ke arah lokasi sensus
menyebabkan tidak akuratnya perhitungan (Sukarsono,1992).
Perhitungan populasi baik untuk hewan maupun tumbuhan dapat
dilaksanakan dengan dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung.
Secara tidak langsung yaitu dengan perkiraan besarnya populasi sedemikian
rupa sesuai dengan sifat hewan atau tumbuhan yang akan dihitung. Misalnya
untuk menghitung sampling populasi rumput di padang rumput dapat
digunakan metode kuadarat rumput, untuk hewan-hewan besar dapat
dilakukan dengan metode track count atau fecal count, sedangkan untuk
hewan yang relatif mudah ditangkap misalnya tikus, belalang atau burung
dapat diperkirakan populasinya dengan metode capture mark release
recapture (Sukarsono,1992).

9
C. SERANGGA
Serangga (disebut pula insecta, dibaca "insekta", berasal dari bahasa
Latin insectum, sebuah kata serapan dari bahasa Yunani ἔντομον [éntomon],
yang artinya "terpotong menjadi beberapa bagian") adalah salah satu kelas
avertebrata di dalam filum arthropoda yang memiliki exoskeleton berkitin,
bagian tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala, thorax, dan
abdomen), tiga pasang kaki yang terhubung ke thorax, memiliki mata
majemuk, dan sepasang antena. Serangga termasuk salah satu kelompok
hewan yang paling beragam, mencakup lebih dari satu juta spesies dan
menggambarkan lebih dari setengah organisme hidup yang telah diketahui.
Jumlah spesies yang masih ada diperkirakan antara enam hingga sepuluh juta
dan berpotensi mewakili lebih dari 90% bentuk kehidupan hewan yang
berbeda-beda di bumi. Serangga dapat ditemukan di hampir semua
lingkungan, meskipun hanya sejumlah kecil yang hidup di lautan, suatu
habitat yang didominasi oleh kelompok arthropoda lain, krustasea.
Kajian mengenai peri kehidupan serangga disebut entomologi Serangga
termasuk dalam kelas insekta (subfilum Uniramia) yang dibagi lagi menjadi
29 ordo, antara lain Diptera (misalnya lalat), Coleoptera (misalnya kumbang),
Hymenoptera (misalnya semut, lebah, dan tabuhan), dan Lepidoptera
(misalnya kupu-kupu dan ngengat). Kelompok Apterigota terdiri dari 4 ordo
karena semua serangga dewasanya tidak memiliki sayap, dan 25 ordo lainnya
termasuk dalam kelompok Pterigota karena memiliki sayap.
Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat
tinggi. Ukuran serangga relatif kecil dan pertama kali sukses berkolonisasi di
bumi.
D. VEGETASI HUTAN
Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis)
dan bentuk (struktur) vegetasi atau tumbuh-tumbuhan. Untuk suatu kondisi
hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan
sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk
mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu

10
diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan
teknik analisa vegetasi yang digunakan.
Vegetasi terbentuk oleh semua spesies tumbuhan dalam satu wilayah
dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tiap tipe
vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan tumbuhan dominan (terbesar,
paling melimoah, dan tumbuhan karakteristik).
Analisis vegetasi dilakukan dengan membagi vegetasi kedalam tingkat
pertumbuhannya, menurut kriteria sebagai berikut :
 Semai : anakan pohon dengan ketinggian tidak lebih dari 1,5 m
 Pancang : semai yang telah tumbuh dengan ketinggian lebih dari 1,5 m
dan diameter batang kurang dari 10 cm.
 Tiang : tumbuhan berkayu dengan diameter batang antara 10 cm – 20 cm.
 Pohon : tumbuhan berkayu dengan diameter batang lebih dari 20 cm.
Adapun parameter vegetasi yang diukur dilapangan secara langsung adalah
:
1. Nama jenis (lokal atau botanis)
2. Jumlah individu setiap jenis untuk menghitung kerapatan
3. Penutupan tajuk untuk mengetahui persentase penutupan vegetasi terhadap
lahan
4. Diameter batang untuk mengetahui luas bidang dasar dan berguna untuk
menghitung volume pohon.
5. Tinggi pohon, baik tinggi total (TT) maupun tinggi bebas cabang (TBC),
penting untuk mengetahui stratifikasi dan bersama diameter batang dapat
diketahui ditaksir ukuran volume pohon.
Analisis vegetasi hutan untuk mengetahui komposisi dan struktur
vegetasi hutan. Vegetasi hutan alam, umumnya dilakukan dengan metode
petak dalam jalur (jalan setapak), analisis dilakukan terhadap tingkat
semai, pancang, tiang dan pohon.

11
E. CAGAR ALAM LEUWEUNG SANCANG, KABUPATEN GARUT,
JAWA BARAT.
Unit Pelaksana Teknis : BKSDA Jawa Barat
Propinsi : Jawa Barat
Kabupaten : Garut
Luas (Hektar) : 1.150
No. SK : Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
682/Kpts-II/90
Tanggal SK : 17 Nopember 1990

KEADAAN FISIK KAWASAN

Kawasan hutan Leuweung Sancang ditetapkan sebagai cagar alam seluas


2.157 Ha. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian, Nomor
370/Kpts/Um/6/1978 tanggal 9 Juni 1978. Adanya terumbu karang dengan
kondisi masih cukup baik yang berada di perairan pantai CA. Leuweung
Sancang, maka berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor :
682/Kpts-II/90 tanggal 17 Nopember 1990, perairan pantai tersebut seluas
1.150 Ha ditunjuk sebagai Cagar Alam Laut Sancang.
Kawasan hutan Suaka Alam yang terletak di Pantai selatan ini, termasuk
dalam wilayah-wilayah , yaitu : Desa Sancang, Sagara, Karyamukti, dan
Karyasari, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.Pada umumnya keadaan
topografi kawasan Cagar Alam Sancang adalah kombinasi dataran landai dan
perbukitan. Kearah selatan dan Barat pada umumnya landai dan ke arah timur
berbukit. Ketinggian tempat antara 0-175 meter di atas permukaan laut dan
kemiringan berkisar antara 5% sampai 20%.

Keadaan iklim di kawasan menurut klasifikasi dari Schmiodt dan Ferguson,


termasuk tipe iklim B yaitu tipe basah dengan nilai Q (Quontient) sebesar
24,19% dimana Q adalah persentase perbandingan antara rata-rata jumlah
bulan kering dengan rata-rata jumlah bulan basah.

12
Flora

Jenis flora yang ada dalam kawasan ini adalah : Pahlalar (Dipterocarpus sp),
yaitu merupakan pohon yang terdapat satup-satunya di Pulau Jawa dari famili
Dipterocarpaceae, Kaboa (Lumnitzera racemosa), yaitu tumbuhan yang khas
di Sancang, Warejit (Excoecoria ocha) adalah pohon yang mengandung racun
dan berbahaya bagi manusia. Rumput-rumputan (Gramineceae) dan lain-lain.
Berikut rincian flora di wilayah konservasi ini:Lumut, Rumput, Paku-pakuan,
Semak, Berkayu, dan Mangrove.

Fauna

Sedangkan satwa liar yang hidup dalam kawasan ini adalah Banteng (Bos
sondaicus), Rusa (Cervus timorensis), Merak (Pavo muticus), Burung Julang
(Aceros undulatus), Macan Tutul (Panthera pardus) dan lain-lain. Berikut
rincian fauna yang diidentifikasi di wilayah konservasi ini:
Amfibi, Burung: Burung Biasa, Burung Penyanyi, Ikan, Insect, Mamalia,
Reptil, dan Terumbu Karang.

13
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PENGAMATAN


Pengamatan ini dilakukan di Cagar Alam Leuweung Sancang , Kabupaten
Garut, Jawa Barat. Praktikum atau kuliah lapnagan ini dilaksanakan pada hari
Jumat – Minggu, tanggal 11 – 13 Januari 2019. Lokasi pengamatan dilakukan
di Wilayah Cagar Alam Leuweung Sancang Hutan Cetut dengan Koordinat :
Garis bujur : 107°50’21’’
Garis lintang : -7°-41’-40’’

B. ESTIMASI POPULASI MAMALIA ARBOREAL (Metode Garis


Transek)
Metode garis transek (Transect line method) atau juga disebut metode
strip transect adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk
mengestimasi populasi hewan. Pada metode ini kita menghitung jumlah
hewan target yang tampak dalam area disepanjang garis transek. Luas area
survei tergantung pada panjang garis transek dan jarak hewan terhadap garis
transek. Dalam pemilihan hewan target atau hewan yang akan di estimasi
populasinya, kita harus mempertimbangkan kesanggupan mendeteksi
(detectability) hewan. Kemampuan kita mendeteksi hewan dapat dipengaruhi
oleh karakteristik hewan (ukuran tubuh, warna dan tingkah laku), kondisi
vegetasi, faktor gangguan selama pengamatan, faktor temporal (pembagian
waktu dan musim), pengalaman pengamat dan kecepatan berjalan di jalur
jalur transek.
Pada kesempatan ini kita akan mencoba mengestimasi populasi hewan
arboreal di hutan, diantaranya: bajing (Callosciurus sp), tupai (Tupaias sp.),
Joja (Presbytis potenziani), Bokoi (Macaca siberu) dan Bilou (Hylobates
klossii). Pengamatan dapat dilakukan untuk satu atau beberapa jenis hewan
sekaligus disepanjang jalur transek yang sama.

14
a) Cara melakukan survey dengan mengunakan garis transek:
1. Tentukan lokasi habitat dan hewan target yang akan disurvei.
2. Buat garis lurus dengan tanda-tanda alami menggunakan kompas. Panjang
garis transek (L) ditentukan dengan pertimbangan luas habitat dan
perkiraan jelajah hewan yang akan diestimasi populasinya.
3. Pengamat bejalan dengan tenang di sepanjang garis transek yang dibuat.
Kecepatan berjalan disesuaikan dengan kemampuan pengamatan, dan
mobilitas hewan target, misalnya 0,5-1 km/jam.
4. Hitung jumlah individu (N) dan/atau jumlah kelompok hewan target (G)
yang teramati disepanjang sisi kiri dan kanan garis transek.
5. Ukur jarak dari pengamat ke individu yang teramati (r). Jika hewan
berkelompok, ukur jarak dari pengamat ke posisi pusat kelompok. Untuk
hewan arboreal pengukuran jarak cukup dilakukan dari permukaan tanah,
bukan dari posisi hewan diatas pohon.
6. Ukur sudut pengamatan (α) yang terbentuk antara garis transek, pengamat
dan hewan target. Pengukuran sudut α bertujuan untuk menghitung jarak
tegak lurus antara hewan yang teramati dengan garis transek (Y).
7. Data pengamatan dicatat pada lembar data seperti dibawah ini. Lanjutkan
pengamatan sampai ke ujung garis transek. Ulangan dapat dilakukan
sampai beberapa kali pada hari yang berbeda.
8. Sebagai data tambahan perlu dicatat kondisi cuaca dan faktor fisis
lingkungan.

15
Keterangan:
O = Pengamat; A = Hewan target; r = Jarak dari pengamat ke hewan
yang teramati; Y = Jarak tegak lurus antara hewan yang teramati terhadap
garis transek; α = Sudut pengamatan yang terbentuk antara garis transek,
pengamat dan hewan target
Contoh lembar data survey
Titik Jenis
Waktu N G r A
Pengamatan Hewan
09:45
1 Bajing 1 ind - 12m 300
WIB
10.20
2 Tupai 5 ind - 18m 300
WIB

b) Analisis data:
Kepadatan populasi (D) dihitung dengan rumus,
N G
D = -------------- individu/m2 ATAU D = -------- individu/m2
2LŶ 2LŶ
Y = r Sin α
Dimana:
D = Kepadatan populasi

16
N = Jumlah total individu yang teramati di kiri dan kanan garis transek
G = Jumlah total kelompok yang teramati di kiri dan kanan garis transe
L = Panjang garis transek (meter)
Y = Panjang garis tegak lurus dari garis transek ke hewan yang teramati.
Ŷ = rata-rata Y, 2 Ŷ = lebar strip efektif (effective strip width)
r = Jarak dari pengamat ke hewan yang teramati

C. BIRD WATCHING
1. Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan di Padang Rumput Cijeruk, pada tanggal 13 Januari
2019.
1. Alat dan Bahan
Alat. Patok kayu. Pengukur waktu. Colony counter. Alat tulis.
Teropong. Bahan. Tabel pengamatan
2. Prosedur
1) Ditentukan area studi (wilayah pengamatan) burung misalnya
hutan, kebun, sawah, daerah pemukiman atau rawa-rawa sebagai
habitat burung.
2) Ditentukan beberapa stasiun pengamatan (titik pengamatan)
dengan jarak yang sama atau mendekati sama.
3) Stasiun pengamatan ini dinamakan stasiun IPA yaitu IPA1, IPA2,
IPA3 ... IPAn.
4) Pada masing-masing stasiun ini dilakukan pencatatan hewan
selama 20 menit, apakah suaranya ataupun hewan yang tampak
langsung di stasiun tersebut.
5) Apabila telah 20 menit dilakukan pada satu stasiun maka pindah ke
stasiun IPA berikutnya.
6) Dicatat spesies burung yang teramati pada tabel pengamatan.
7) Dihitung keragaman spesies dari komunitas ini, dengan
menggunakan rumus:

17
8) Dihitung harga indeks keanekaragaman (H) dengan
mempergunakan rumus
H’ = - phi ln phi
= -(ni/N) ln (ni/N)
Dimana : H’ = Indeks Shannon-Wiener
ni = Jumlah Spesies (i)
N = Total Jumlah Individu
Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan
keanekaragaman Shannon-Wiener yaitu :
 H’ < 1,5 : keanekaragaman rendah
 H’ 1,5-3,5 : keanekaragaman sedang
 H’ > 3,5 : keanekaragaman tinggi
9) Bagaimana hasil yang diperoleh apabila kita mengukur dalam
waktu 1 jam. Dihitung frekwensi kehadiran masing-masing
spesies di masing-masing stasiun. Dibuat kesimpulan yang
diperoleh.
10) Teknik Pengumpulan Data. Data ini diambil dengan teknik
pengamatan langsung. Bahan yang telah tersedia dilakukan sesuai
dengan prosedur yang telah ada lalu diamati dan dibuat laporan.

D. ESTIMASI KELIMPAHAN POPULASI SERANGGA


1. Alat dan Bahan
 Jaring penangkap serangga
 Spidol
2. Prosedur
1) Tangkap sejumlah Belalang dengan menggunakan jaring.
2) Hitung jumlah belalang yang tertangkap, lalu beri tanda dengan spidol
pada bagian caput, thorax atau abdomen pada tiap belalang dan
lepaskan kembali.

18
3) Ulangi langkah 1 dan menghitung jumlah belalang yang tertangkap
baik yang telah diberi tanda dan tertangkap kembali maupun yang
belum memiliki tanda.
4) Beri tanda pada Belalang yang belum memiliki tanda dan
melepaskannya kembali. 5. Ulangi percobaan di atas sampai
penangkapan 10 kali 6. Catat hasil pengamatan pada tabel
pengamatan.
5) Ulangi percobaan diatas sampai penangkapan 10 kali.
6) Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.

3. Analisis data
1. Metode Lincoln - Peterson
Rumus dasar yang digunakan untuk perhitungan adalah rumus
peterson yaitu:

Untuk mengalkulasi varian sebuah penaksiran ( sebuah pengukuruan


statistik data yang tersebar). Kita menggunakan formula.

Untuk menghitung kesalahan (error) metode CMRR dapat dilakukan


dengan cara menghitung kesalahan baku (standar errornya) dengan
rumus

Keterangan :
N = Kelimpahan populasi
n1 = Jumlah individu yang terperangkap pada penangkapan pertama
n2 = Jumlah individu yang terperangkap pada penangkapan kedua
m = Jumlah individu yang tertangkap yang bertanda pada
penangkapan kedua.

19
2. Metode Schnabel

Standar Error

Keterangan :
k = Jumlah periode sampling
N = Cacah hewan dalam populasi
m = Jumlah total hewan yang tertanda
n1 = jumlah hewan yang tertangkap pada periode ke-i
R1 = jumlah hewan yang kembali tertangkap pada periode ke-i

3. Perhitungan metode CMR menurut Cambell


Persamaan sederhana untuk menaksir ukuran populasi N :
N=

E. VEGETASI HUTAN PADA KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR


TEGAKAN HUTAN
1. Alat dan bahan
 Ekosistem hutan
 Meteran
 Patok
 Tali rafia
 Pisau
 Petunjuk pengenalan jenis tumbuhan bawah
 Peta lokasi
 Kompas,gps
 Tally sheet, alat tulis dan papan berjalan

20
 Pengenalan pohon.
2. Cara kerja
 Menentukan lokasi jalur yang akan disurvey (unit contoh) di atas
peta, panjang masing-masing jalur ditentukan berdasarkan lebar
hutan. Jalur dibuat dengan arah tegak lurus garis kontur (memotong
garis kontur).
 Membuat transek pada jalur (panjang transek 100 m)
▪ Petak 2 x 2 m digunakan untuk menganalisis vegetasi tingkat
semai dan tumbuhan bawah.
▪ Petak 5 x 5 m digunakan untuk menganalisis vegetasi tingkat
pacang.
▪ Petak 10 x 10 m digunakan untuk menganalisis vegetasi
tingkat tiang.
▪ Petak 20 x 20 m digunakan untuk menganalisis vegetasi
pohon.
 Mengidentifikasi jenis, jumlah jenis serta mengukur diameter
(DBH) dan tinggi (total dan bebas cabang) untuk tingkat tiang dan
pohon. Sedangkan untuk tingkat semai dan pancang hanya
mengidentifikasi jenis dan jumlahnya saja. Data hasil pengukuran
dicatat dalam tally sheet.

Tally Sheet untuk analisa vegetasi tingkat semai :


Tanggal :
Lokasi :
Regu :
Koordinat :
Ukuran petak :
No Nama Jenis Nama Local Jumlah Individu ket

21
Tally Sheet untuk analisa vegetasi tingkat tiang dan pohon
Tanggal :
Lokasi :
Regu :
Koordinat :
Ukuran petak :
Nama Jenis/
No Tinggi (m) Diameter (cm) ket
nama local

3. Analisis Data
a. Kerapatan Mutlak (KM)

b. Kerapatan Relatif (KR)


c. Frekuensi Mutlak (FM)
d. Frekuensi Relatif (FR)
e. Dominansi Mutlat (DM)
f. Dominansi Relatif (DR)
g. Indeks Nilai Penting (INP)

22
F. MENAKSIR KELIMPAHAN POPULASI DAN PANJANG HARI
AKTIF SUATU KOLONI HEWAN DENGAN MEDIA
PENCACAHAN (KELELAWAR)
1. Alat dan Bahan
 Colony counter
 Alat tulis
2. Prosedur
a. Tiap pengamatan dilengkapi dengan dua alat pencacah
b. Tentukan posisi mencatatnya
c. Pencacahan disertai seorang pencatat
d. Pencacah mencatat hasil rekaman suatu alat selama 10 menit
e. Selama pencatat membaca dan mencatat hasilnya, pencacah tidak
berhenti mencacah tetapi harus mnecacah dengan menggunakan
alat yang satunya lagi
f. Setiap kelompok kerja sudah siap 15 menit sebelum individu
pertama keluar pada sore hari serta individu pertama masuk ke
sarang koloni pada pagi hari
g. Pencacah dihentikan apabila 2 x 10 menit terakhir tidak ada lagi
individu yang keluar ataupun masuk
h. Karena kadang ada kelelawar yang kembali masuk ke sarang
kemudian keluar lagi, maka perlu dilakukan koreksi perhitungan
i. Semua angka hasil pencacah dicatat sehingga dari hasil
pengkoreksian akan didapatkan jumlah individu yang keluar
meninggalkan sarang pada sore hari dan jumlah individu yang
masuk ke dalam sarang koloni pada pagi hari.

23
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ESTIMASI POPULASI MAMALIA ARBOREAL (Metode Garis


Transek)
B. BIRD WATCHING
C. ESTIMASI KELIMPAHAN POPULASI SERANGGA
D. VEGETASI HUTAN PADA KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR
TEGAKAN HUTAN
E. MENAKSIR KELIMPAHAN POPULASI DAN PANJANG HARI
AKTIF SUATU KOLONI HEWAN DENGAN MEDIA PENCACAHAN
(KELELAWAR)
Tabel Hasil Pengamatan

No Hari/Tanggal Suatu indivu pertama Suatu individu


masuk datang koloni keluar pada sore hari
(pagi hari)

1 Jumat/11 januari - 843


2019

2 Sabtu/12 januari 60 478


2019

3 Minggu/13 januari 56 -
2019

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada pengamatan
hari pertama jumlah kelelawar yang keluar pada sore hari yaitu berjumlah
sekitar 843 ekor. Pada pengamatan hari ke-2 jumlah kelelawar yang masuk
atau datang pada pagi hari berjumlah 60 ekor, sedangkan kelelawar yang
keluar pada sore hari yaitu 478 ekor. Dan untuk pengamatan hari ke-3
kelelawar yang masuk atau datang yaitu 56 ekor

24
Jumlah kelelawar yang keluar jumlahnya lebih banyak daripada
kelelawar yang masuk atau datang. Hal tersebut terjadi disebabkan beberapa
faktor bisa disebabkan karena cuaca yang tidak mendukung, kurangnya
makanan pada daerah yang dituju, adanya musuh, habitat dan lain-lain.
Jadi kesimpulannya, berdasarkan hasil pengamatan lebih banyak
kelelawar yang keluar daripada kelelawar yang masuk atau datang pada pagi
hari.

25
DAFTAR PUSTAKA

Academia. LAPORAN BIRDWATCHING [online]


tersedia :
https://www.academia.edu/28662011/LAPORAN_BIRDWATCHING.docx
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.05 WIB
Academia. Menaksir Kelimpahan Populasi [online]
tersedia :
https://www.academia.edu/29808196/Menaksir_Kelimpahan_Populasi
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.10 WIB
Academia. Laporan Ekologi Hewan Avifauna [online]
tersedia :
https://www.academia.edu/13062772/Laporan_Ekologi_Hewan_Avifauna
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.17 WIB
Alvyanto. Metode Kuadrat dan Metode Garis [online]
tersedia : http://alvyanto.blogspot.com/2009/03/metode-kuadrat-dan-metode-
garis.html
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.05 WIB
Fadilah Biologi. Laporan Sampling Fauna Tanah [online]
tersedia : http://fadilahbiologi.blogspot.com/2013/06/laporan-sampling-fauna-
tanah.html
diakses 25 Desember 2018 pukul 09.57 WIB
Rose Lolita. Laporan Praktikum Ekologi Hewan [online]
tersedia : http://roselolitaaa.blogspot.com/2016/06/laporan-praktikum-
ekologi-hewan_18.html
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.12 WIB
Saena B. Galesong. Estimasi Kelimpahan Serangga [online]
tersedia : http://saenabgalesong.blogspot.com/2015/09/estimasi-kelimpahan-
serangga.html
diakses 25 Desember 2018 pukul 10.08 WIB

26