Anda di halaman 1dari 18

SINDIKAT MISSION HMI

MISSION HMI

Sindikasi
Disusun guna memenuhi persyaratan sebagai peserta
Senior Course ( SC )Tingkat Nasional Badan pengelola
Latihan (BPL) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang
Kendari

Disusun oleh :
Andi Muhammad Akbar

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM ( HMI )


CABANG KOLAKA UTARA
2018
Daftar Isi

Daftar isi ...……………………………………………………...... I


Pendahuluan ……………………………………………………...1
Alokasi waktu …………………………………………………... 2
Target pembelajaran khusus …………………………….....4
Target pmbelajaran khusus ……………………………..... 4
Pokok bahasan/sub pokok bahasan …………….... 4
Pembahasan materi ……………………………………….... 5
Metode penyampaian............................................... 16
Tata ruang pelatihan..................................................16

Evaluasi......................................................................17
Referensi....................................................................17
Catatan-catatan
PENDAHULUAN

Tiada untaian kata yang patut hamba ucapkan selain puji


syukur hamba kepada Allah SWT, Tuhan yang telah menciptakan
keseimbangan di dunia ini dengan dialektika, sehingga dengan
rahmatNya manusia dapat berperan serta dalam proses sosial
yang sedang berlangsung. Sholoawat serta salam semoga tetap
terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad yang
merurapakan sang Revolusioner besar yang mambalikkan
piramida struktur sosial, serta mengentaskan kaum marginal
dari struktur social yang menindasnya.

Di usianya yang sudah menginjak ke-71 pada 5 Pebruari


2018 lalu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah sedikit
banyak telah menunjukkan eksistensi diri melalui segenap
kiprahnya dalam perjuangan Keummatan, Keintelektualan dan
kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
kita tercinta ini. Usia 71 tahun bukanlah waktu yang pendek,
apalagi HMI senantiasa berkiprah di tengah dinamika sosial
kebangsaan yang terus menerus berubah wujud dan
orientasinya. Perjalanan yang panjang itu sungguh merupakan
jalan yang penuh liku, pertumbuhan. perkembangan,
pematangan bahkan kadangkala juga pembusukan
(assasination).

Perubahan yang terjadi dalam tatanan sosial kebangsaan


belum dan tiada akan pernah selesai kiranya, ia akan
berkembang berdasarkan tuntutan, dorongan, baik dari internal
maupun eksternal yang berkesinambungan. Oleh karenanya,
dengan demikian kiprah HMI sebagai organisasi mahasiswa
tertua dan terbesar sementara ini di tanah air juga tidak akan
pernah berhenti selama HMI belum bergeser dari semangat, cita-
cita, asas dan tujuan awal sebagaimana dulu para penggagasnya
mencitrakan, yang kemudian lebih dikenal sebagai kualitas
insan cita yang menjadi ciri khas organisasi ini. Sehingga
melihat hal ini penulis tergerak untuk meneteskan setetes
keringat untuk mencoba memberikan pembahasan tentang
Mission HMI dalam rangka Revitalisasi atau bahkan Reaktualisasi
nilai-nilai yang terkandung dalam Mission HMI guna
memantapkan langkah kader HMI dalam berinteraksi sosial
dengan benar baik sesuai dengan cita-cita yang idamkan leluhur
bangsa ini, kaum mahasiswa, orang yang peduli pada negeri ini,
dan HMI tentunya.
Materi : Mission HMI
Alokasi waktu : 4 jam

Target pembelajaran umum

- Dapat memahami pengertian Mission HMI baik secara


aspek teoritis maupun aspek aplikasi dalam peran serta
kader HMI dalam dinamika social sebagi duta-duta
keummatan dan kebangsaan.

Target pembelajaran khusus

- Dapat memahami pengertian Mission HMI.


- Dapat memahami hubungan Mission secara integral.
- Dapat memahami serta mengaplikasikan nilai-nilai
Mission HMI

Pokok bahasan/sub pokok bahasan

1. Mission

1.1 Definisi Mission


1.2 Teori Mission.
1.3 Tujuan Mission..

2. Mission HMI

2.1 Definisi Mission HMI


2.2 Ruang lingkup Mission HMI.
2.3 Tujuan Mission HMI
2.4 Hakikat keberadaan Mission HMI
2.5 Mission HMI dan tantangan baru.
PEMBAHASAN

1. Mission
1.1 Definisi Mission

Secara harfiyah Mission adalah tugas, perutusan, utusan,


tanggung jawab, atau bila digabungkan menjadi tugas dan
tanggung jawab yang diemban. Dan secara terminologi, Mission
adalah tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh setiap
manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini sebagai wujud
manifestasi manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

1.2 Tujuan Mission.

Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga


setiap usaha yang dilakukan oleh suatu organisasi tersebut
dapat dilaksanakan dengan teratur. Dan tujuan tersebut tak
lepas dipengaruh oleh suatu motivasi dasar pembentukan,
status dan fungsinya dalam totalitas dimana organisasi tersebut
berada.

Mission yang berarti di atas tersebut, diartikan dalam


tujuanya keberadaan Mission dalam lingkup yang besar maupun
kecil (baik perorangan, organisasi, ataupun Negara) adalah
sebagai pemberian akan tersematnya suatu term tugas dan
tanggung jawab pada setiap manusia secara perseorangan,
organisasi, ataupun negara dengan jelas dan terarah. Dan secara
fitrah kejadianya, manusia diciptakan tentu ada maksud dan
tujuan adanya manusia di bumi ini, sehingga manusia menyadari
akan peran, tujuan, dan tanggung jawabnya dan diaplikasikan
dalam kehidupan nyata.
2. Mission HMI
2.1 Definisi Mission HMI

Mission HMI dapat diartikan sebagai tugas dan tanggung


jawab yang diemban dalam setiap diri kader HMI. Setiap kader
HMI mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam keberadaanya
sebagi instrument kecil dalam negara ini yang diharapkan
mampu berinteraksi dalam kehidupan sosial dalam lingkup yang
lebih luas, tidak hanya di kampus sebagai kandangnya
mahasiswa itu sendiri.

Kader-kader HMI harus mempu dan siap untuk menjadi


duta-duta keummatan dan kebangsaan dengan selalu berpegang
teguh pada dua komitmen asasi (dua ide dasar kelahiran HMI,
yakni:

1. Mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia


dan mengangkat harkat rakyat Indonesia.
2. Menjaga dan memajukan agama Islam

Hal tersebut mengonfirmasikan bahwa sejak awal


kelahirannya, pandangan keislaman HMI senapas dengan cita –
cita bangsa. Meminjam perkataan Achmad dalam buku
(mengakkan pancasila di tengah prahara: 2013) Bagi HMI,
Ummat islam adalah mayoritas rakyat indonesia dan dengan
demikian secara sosiologis dapat di katakan sebagai realitas
keindonesiaan itu sendiri. Jadi, jika penonjolan nilai – nilai Islam
dalam prilaku bermasyarakat dan bernegara, itu merupakan
konsekuensi logis dari identitas HMI, yakni Islam. Hal ini
merupakan komitmen memperteguh nilai – nilai Islam dalam
kehidupan kebangsaan. Dia atas semua itu, tujuan HMI telah
menggariskan tanggung jawab keummatan (keislaman) dan
kebangsaan sebagai dua tugas yang saling bergayut. Dan dalam
kehidupan antargolongan dan agama di Indonesia HMI memiliki
akar budaya sosial keagamaan all inclusve serta bebas dari
sektearianisme yang sempit. Itu semua adalah modal – modal
yang amat berharga bagi HMI untuk menentukan dan
mengembangkan perannya dalam kancah usaha bersama
membangun umat dan bangsa di masa – masa mendatang. Oleh
sebab itu, rasa nasionalisme tidak perlu di ragukan akan mati
dalam jiwa anak – anak HMI.

2.2 Ruang lingkup Mission HMI.

Rumusan Mission HMI tergambar dalam tujuan HMI


“Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya
masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT”. (Pasal 4
AD HMI). Dari tujuan diatas dapat didimpulkan menjadi 5
rumusan kualitas Insan Cita HMI yaitu:

1. Kualitas Insan Cita Akademik


2. Kualitas Insan Cita Pencipta
3. Kualitas Insan Cita Pengabdi
4. Kualitas Insan Cita Bernafaskan Islam
5. Kualitas Insan Cita yang bertanggungjawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhi
Allah subhanallah uta’ala.

1. Kulaitas Insan Cita Akademik


a. Berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, mampu
berfikir rasioanal, objektif dan kritis.
b. Memiliki kemampuan teoritis, mampu
memformulasikan apa yang diketahui dan
dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi
suasana sekelilingnya dengan penuh kesadaran.
c. Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu
pengetahuan sesuai denga jurusan ilmu yang dipilihnya
baik secara teoritis maupun teknis dan sanggup bekerja
secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah
pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip
perkembangan.

2. Kulaitas Insan Cita Pencipta

a. Sanggup melihat kemungkinan –kemungkinan lain


yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar
untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik
dan bermanfaat dengan bertolak dari apa yang ada.
b. Berjiwa penuh dengan gagasan-gasan kemajuan, selalu
mencari perbaikan dan pembaharuan.
c. Bersifat independent dan terbuka dan tidak isolatif,
insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi
kreatifnya dapat dikembangksn dan menemukan
bentuk indahnya.
d. Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu
melaksanakan kerja kemanusiaan yang dissemangati
ajaran islam.

3. kualitas Insan Cita Pengabdi


a. Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang
banyak atau untuk sesama manusia.
b. Sadar membawa tugas insan pengabdi bukan hanya
membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi
sekelilingnya juga baik.
c. Insan akademis pencipta dan pengapdi adalah insan
yang pasrah cita-citanya yang ikhlas mengamalkan
ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

4. kualitas Insan Cita Bernafaskan Islam


a. Islam telah menjiwai dan memberikan pedoman pada
pola pikir dan pola laku. Islam akan menjadi pedoman
dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan mission
islam. Dengan demikian islam telah menafasi dan
menjiwai karya-karyanya.
b. Ajaran islam telah membentuk unity of personality
dalam dirinya. Nafas islam telah membentuk pribadi
yang utuh tercegah dari split personality, tidak pernah
ada dilema antara dirinya sebagai warga negara dan
dirinya sebagai muslim. Insan ini telah
mengintegrasikan masalah suksenya pembangunan
nasional bangsa kedalam suksenya perjuangan umat
islam Indonesia dan sebaliknya
5. Kualitas Insan Cita Yang Bertanggung Jawab Atas
Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur Yang Diridhoi
Oleh Allah SWT.

Kualitas insan cita yang di maksud sebagai berikut:

a. Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari


perbuatanya sendiri, sadar bahwa menempuh jalan
yang benar diperlikan adanya keberanian moral.
b. Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam
menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap
apatis.
c. Rasa tanggung jawab dan rasa takwa kepada allah
SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif
dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat
adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
d. Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan
dengan usaha mewujudkan masyarakat adil makmur.
e. Percaya pada diri sendiri dan sadar akan kedudukanya
sebagai kholifah fil ardh yang harus melaknanakan
tugas-tugas kemanusiaan.

2.3 Tujuan Mission HMI

Dengan adanya Mission HMI secara jelas dimaksudkan


agar kader-kader HMI menyadari akan peran dan kapasitasnya
sebagai mahasiswa dan kader HMI sebagai duta-duta
kebangsaan dan keumatan yang selanjutnya diaplikasikan dalam
kehidupanya dan mewarnai dinamika kehidupan, tentunya
dengan term-term yang dijelaskan awal tadi memberikan
gambaranakan tugas dan tanggung jawab yang besar yang
sebagai keharusan untuk dilakukan dalam setiap diri kader HMI.
Sikap atau cara pandang yang demikian tentu tidak
terbentuk begitu saja. Hasil itu di peroleh setelah HMI menapaki
rentang sejarah HMI, terdapat tiga fokus perjuangan yang cukup
kuat pengaruhnya dalam membentuk kepribadian kader.
Pertama perjuangan dalam mematangkan ide organisasi.
Organisasi HMI muncul untuk mewadahi pengkaderan bagi
mahasiswa Islam sebagai generasi muda yang kelak akan di
tagih peranannya dalam mengisi kemerdekaan.

Kedua, perjuangan dalam pergerakan politik, HMI sebagai


ormas mahasiswa adalah gerakan politik mahasiswa Islam yang
tidak berbentuk partai politi, seperti di ketahui gerakan politik
tidak harus berbentuk partai politik. Orientasi mengisi
kemerdekaan mengandung pengertian bahwa organisasi ini
berjuang melalui gerakan politik sehingga alumni – alumninya
kelak dapat ambil bagian dalam menyelenggarakan negara.

Ketiga, perjuangan dalam mematangkan ide kenegaraan.


Pematangan ide kenegaraan ini tak bisa di lepaskan dari
pematangan ide organisasi. Sejak awal HMI telah begitu akrab
dengan diskursus mengenai keislaman dan keindonesiaan,
bahkan doktrin tentang itu sudah muncul di HMI tahun 1947.
Buah – buah pemikiran yang di hasilkan organisasi ini telah
memiliki kontribusi besar dalam menentukan dan memantapkan
dasar – dasar ideologi negara indonesia yang plural dan religius.

2.4 Hakikat keberadaan Mission HMI

Dalam petikan tujuan HMI di antara tonjolan identitasnya


atau jati diri anggota HMI adalah insan akademis yang pencipta
dan pengabdi. Dari tonjolan identitas tersebut tak dapat
disangka bahwa HMI didirikan untuk memberi sifat
kecendekiawanan kepada para mahasiwa Islam yang secara
teknis-oprasional pendidikan di perguruan tinggi lebih banyak di
cetak hanya untuk menjadi sarjana. Insan akademis pencipta
menitikberatkan pada profesionalitas kesarjanaan yang
menekankan pada ketajaman otak, sedangkan insan akademis
pengabdi menitikberatkan pada kecendikiawanan yang
menekankan pada keluhuran watak.

1. HMI sebagai Organisasi Mahasiswa

Makna HMI sebagai organisasi mahasiswa adalah


organisasi yang menghimpun mahasiswa yang menuntut ilmu
pengetahuan di perguruantinggi
(Universitas/Akademi/Institut/Sekolah Tinggi) atau yang
sederajat, dan memilki ciri-ciri kemahasiswaan. Adapun ciri-ciri
kemahasiswaan tersebut adalah ilmiah, kritis dan analitis,
rasional, obyektif, serta sistematis.

2. HMI sebagai Organisasi berasaskan Islam

HMI sebagai organisasi berasaskan Islam maksudnya


adalah organisasi yang menghimpun mahasiswa yang beragama
Islam, dimana secara individu dan organisatoris memiliki ciri-ciri
keislaman, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai
sumber norma, sumber nilai, sumber inspirasi, dan sumber
aspirasi dalam setiap aktivitas dan dinamika organisasi.

3. HMI sebagai Organisasi yang Bersifat Independen

HMI yang bersifat independen adalah waktak organisasi


yang selalu tunduk danberorientasi pada kebenaran (hanif),
sehingga kiprah setiap individu dan dinamika organisasi
dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara mempunyai
pola pikir, pola sikap, dan pola tindak tidak terikat dan tidak
mengikatkan diri secara organisatoris dengan kepentingan atau
organisasi mana pun, segala sesuatu tidak didasarkan atas
kehendak atau paksaan pihak lain. Independensi dilihat dari dua
dimensi, yakni :
1) Indepndensi Etis
Sikap dan watak HMI yang termanifestasikan
secara individu dan organisasi dalam dinamika berfikir,
bersikap, dan bertindak, baik dalam hubungan terhadap
Sang Rab, ataupun hubungan terhadap sesama, sesuai
dengan fitrah kemanusiaannya, yakni tunduk dan patuh
kepada kebenaran (hanif).

2) Independensi Organisatoris
Sikap dan watak HMI yang teraktualisasikan
secara organisatoris di dalam kiprah dinamika intern
organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara dalam keutuhan kehidupan
nasional melakukan partisipasi aktif, konstruktif secara
konstitusional terhadap perjuangan bangsa dan
pencapaian cita-cita nasional, hanya komit kepada
kebenaran, dan tidak tunduk atau komit terhadap
kepentingan atau organisasi tertentu.

4. Prinsip-prinsip independensi HMI dalam


implementasinya
a) Kader HMI terutama aktivitasnya dalam melakukan
tugas dan tanggung jawab organisasi harus tunduk pada
ketentuan-ketentuan organisasi dalam melaksanakan
program-program organisasi, oleh karena itu tidak
diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan yang
membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun.

b) Kader HMI terutama aktivitasnya tidak dibenarkan


mengadakan komitmen dalam bentuk apapun dengan
pihak luar selain segala sesuatu yang telah ditetapkan dan
diputuskan secara organisatoris.

c) Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif


berjuang meneruskan dan mengembangkan watak
independensi etis dimanpun mereka berada dan
berfungsi sesuai dengan profesinya dalam rangka
membawa hakekat misi HMI, menganjurkan serta
mendorong alumni HMI untuk menyalurkan aspirasinya
secara tepat melalui semua jalur pengabdian, baik jalur
organisasi profesi, instansi pemerintah, wadah aspirasi
politik, dan jalur lainnya yang semata-mata karena hak
dan tanggung jawab dalam rangka merealisasikan
kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah
SWT.
Aplikasi dan dinamika berfikir, bersikap dan bertindak
secara keseluruhan dari watak asasi kader HMI
terumus dalam bentuk :
a) Cenderung kepada kebenaran b) Bebas, merdeka dan
terbuka
c) Obyektif, rasional, dan kritis
d) Progresif dan dinamis
e) Demokratis, jujur dan adil
2.5 HUBUNGAN MISSION SECARA INTEGRAL
Hubungan antara asas, tujuan, sifat, status, fungsi dan
peran HMI secara integral adalah dalam pencapaian dan
memperjuangkan mission HMI harus dilakukan secara utuh dan
menyeluruh, dan satu sama lain saling mempengaruhi, dan
menentukan sehingga tidak bisa ditinjau secara parsial.

Dalam diri kader HMI harus :


a) Senantiasa memperdalam kehidupan rohani agar menjadi
luhur dan bertaqwa pada Allah SWT
b) Selalu tidak puas dan berkemauan keras untuk mencari
kebenaran, HMI hanya komit pada kebenaran
c) Jujur pada dirinya dan pada orang lain dan tidak
mengingkari hati nuraninya
d) Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional jika berhadapan
dengan orang yang berbeda pendirian
e) Bersikap kritis dan berfikir bebas kreatif.
Metode penyampaian :
Adapun metode yang digunakan dalam proses
penyampaian materi Mission adalah dengan cara Penyampaian,
Diskusi, dan tanya jawab. Pentampaian dan tanya jawab
berbentuk format seperti huruf U yang dimana pemateri dapat
menyampaikan materi dengan peserta dapat memperhatikan
dan menyampaikan permasalahan tentang Mission langsung
kepada pemateri yang ada di depan masing-masing peserta, dan
diskusi dibuat per kelompok dengan didampingi dan diperhatikan
oleh pematerinya.

Tata ruang latihan :


Adapun metode yang digunakan dalam tata ruang
pelatihan ini adalah berbentuk huruf U, dimaksudkan para
peserta pelatihan dapat langsung memperhatikan pemateri yang
menyampaikan materi Mission tanpa pemateri membelakangi
peserta, dan pemateri dapat langsung mengisi materi dengan
focus dengan senantiasa memperhatikan per peserta.

Evaluasi :
Metode kuantitaf ( angka/obyektif ).
Adapun sistem penilaian kuantitatif adalah dengan adanya
sebuah penugasan materi. Misalnya membuat ringkasan dari
materi yang sudah ada ataupun mengerjakan soal terkait
tentang materi. Selain itu ada juga penilaian yan bersifat afektif,
kognitif dan psikomotorik. Dan metode kuantitatif dapat dinilai
dengan huruf/ subyektif .
Referensi :
Andrawijaya, I.Adam, Perilaku Organisasi Kemahasiswaan.
Bandung: Sinar Baru, 1999
Budhy Munawar - Rachman. Ensiklopedia Nurcholis Madjid,
Jakarta Demokraci, 2011
M. Alfan Alfian. Menegakkan Pancasila di Tengah Prahara.
Jakarta: Buku kompas, 2013
Safaria, Triantoro. Kepemimpinan. Yogyakarta: Graha Ilmu,
2004