Anda di halaman 1dari 18

RESPON DAN KOPING PETUGAS KESEHATAN SELAMA

MENGHADAPI PROSES PERSALINAN SECARA NORMAL


DI SUKOHARJO

NASKAH PUBLIKASI

Oleh :

RINO MARDANI
J 210 100 022

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
Jln. A.Yani, Tromol Pos 1 Pabelan, Kartasura Telp. (0271) 717417 Surakarta 57102

Surat Persetujuan Artikel Publikasi Ilmiah


Yang bertanda tangan di bawah ini pembimbing skripsi/tugas akhir :
Pembimbing I
Nama : Winarsih Nur Ambarwati, S. Kep., Ns., ETN, M. Kep.
NIK : 1012
Pembimbing II
Nama : Rina Ambarwati, S. Kep., Ns.
NIK :-

Telah membaca dan mencermati naskah artikel publikasi ilmiah, yang merupakan
ringkasan skripsi/tugas akhir dari mahasiswa :
Nama : Rino Mardani
:
NIM : J 210 100 022
Fakultas : Ilmu Kesehatan
:
Program Studi : S1 Keperawatan
Judul Skripsi : RESPON DAN KOPING PETUGAS KESEHATAN
SELAMA MENGHADAPI PROSES PERSALINAN
SECARA NORMAL DI SUKOHARJO
Naskah artikel tersebut layak dan dapat disetujui untuk dipublikasikan. Demikian
persetujuan ini dibuat, semoga dapat dipergunakan seperlunya.
Surakarta, 19 Juli 2014
Pembimbing I Pembimbing II

Winarsih, N.A., S. Kep., Ns., ETN, M. Kep. Rina Ambarwati, S. Kep., Ns.
SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :


Nama : Rino Mardani
:
NIM : J 210 100 022
Fakultas / Program Studi : Ilmu Kesehatan / S1 Keperawatan
Jenis karya : Skripsi
Judul : RESPON DAN KOPING PETUGAS
KESEHATAN SELAMA MENGHADAPI
PROSES PERSALINAN SECARA NORMAL DI
SUKOHARJO
Dengan ini menyatakan bahwa saya menyetujui untuk :
1. Memberikan hak bebas royalti kepada perpustakaan UMS atas penulisan
karya ilmiah saya, demi pengembangan ilmu pengetahuan.
2. Memberikan hak menyimpan, mengalih mediakan/mengalih formatkan,
mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikan, serta
menampilkannya dalam bentuk softcopy untuk kepentingan akademis kepada
perpustakaan UMS, tanpa perlu meminta ijin dari saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta.
3. Bersedia dan menjamin untuk menanggung secara pribadi tanpa melibatkan
pihak perpustakaan UMS, dari semua bentuk tuntutan hukum yang timbul
atas pelanggaran hak cipta dalam karya ilmiah ini.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan semoga dapat
digunakan sebagaimana semestinya.
Surakarta, 19 Juli 2014
Yang Menyatakan

Rino Mardani
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

PENELITIAN
RESPON DAN KOPING PETUGAS KESEHATAN SELAMA
MENGHADAPI PROSES PERSALINAN SECARA NORMAL DI
SUKOHARJO

Rino Mardani *
Winarsih Nur Ambarwati, S. Kep., Ns., ETN, M. Kep. **
Rina Ambarwati, S. Kep., Ns.***

ABSTRAK
Kehadiran petugas kesehatan selama proses persalinan merupakan momen
yang sangat dinanti-nanti oleh ibu yang akan melahirkan, sebab pada saat
persalinan terjadi serangkaian perubahan fisik dan psikologis pada ibu yang
membuat ibu kesakitan, mengalami perilaku yang beraneka ragam dan mengalami
kecemasan sehingga ibu merasa bahwa dirinya butuh kehadiran petugas kesehatan
untuk memberikan perawatan, memberikan dukungan dan memberikan informasi
terkait proses persalinan yang dilaluinya. Dalam menanggapi dan menyikapi
berbagai macam peristiwa yang terjadi selama proses persalinan tersebut petugas
kesehatan memiliki respon dan koping yang berbeda-beda. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui bentuk respon dan koping petugas kesehatan selama
menghadapi proses persalinan secara normal di Sukoharjo. Jenis penelitian ini
adalah penelitian kualitatif dengan rancangan penelitian menggunakan pendekatan
fenomenologi. Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 7 petugas
kesehatan yang berpendidikan DIII dan DIV kebidanan. Penelitian ini merupakan
jenis penelitian kualitatif. Metode : rancangan penelitian ini menggunakan
pendekatan fenomenologi dan pengambilan sampel dengan purposive sampling.
Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam (In depth
interview), alat perekam, dan juga kamera. Hasil penelitian berupa respon petugas
kesehatan ketika menolong persalinan berupa cemas, takut, tenang dan respon
petugas kesehatan terhadap pasien berupa sabar, empati, jengkel, dan marah.
Koping petugas kesehatan ketika menghadapi pasien selama proses persalinan
adalah dengan berdoa, berfikir positif, mencari teman dan meminta masukan
kepada teman. Koping petugas kesehatan ketika menghadapi pasien kesakitan,
pasien yang memiliki perilaku beraneka ragam, dan pasien yang mengalami
kecemasan adalah dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat membuat
pasien nyaman dan rasa sakitnya berkurang, menunjukkan sikap kesediaan untuk
menolong, menyesuaikan diri dengan karakter pasien, memberi motivasi, dan
memberikan pengertian kepada pasien. Kesimpulan : petugas kesehatan memiliki
respon dan koping yang berbeda-beda dalam menghadapi pasien selama proses
persalinan normal.

Kata kunci : Persalinan normal, petugas kesehatan, respon, koping


Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

HEALTH OFFICERS’ RESPONSE AND COPING DURING NORMAL


CHILDBIRTH IN SUKOHARJO

Rino Mardani*
Winarsih Nur Ambarwati, S. Kep., Ns., ETN, M. Kep.**
Rina Ambarwati, S. Kep., Ns.***

ABSTRACT
Health officers’ attendance during childbirth is a moment that is highly looked
forward by mothers who give birth, because during the time of childbirth a series
of physical and psychological changes occurs to the mother making her feel pain,
experiencing various behavior and anxiety that she feels that she needs health
officer’s attendance to provide care, support and information related to the birth
process. In responding to and addressing various events that occur during the
birth process, the health officers have different responses and copings. The
purpose of this study was to know health officers’ responses and copings during
the normal birth process in Sukoharjo. This research was a qualitative research
whose design used a phenomenological approach. The number of participants in
this study were 7 health officer DIII and DIV educated midwifery. This research
was a qualitative research. This research used phenomenological approach and
purposive sampling technique. The methods of data collecting were in-depth
interview technique, tape recorders, and cameras. The result of the research was
health officers’ responses during birth attending were anxiety, fear, calm and
health officers’ response to the patient were empathy, annoyance, and angry.
Health officers’ coping when facing a patient during the childbirth process were
praying, positive thinking, looking for friends and asking friends for advice.
Health officers’ coping when facing patients who were in pain, had various
behaviors, and were anxious was to take measures to make the patients
comfortable and reducing their pain, showing a willingness to help, adjusting to
the patients’ character, motivating, and giving understanding to the patient.
Conclusion : health officers different responses and copings to the patient during
normal birth process.

Keywords : Normal birth, health officer, response, coping


Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

PENDAHULUAN LANDASAN TEORI


Latar belakang Respon
Persalinan merupakan suatu Respon ialah reaksi atau
proses fisiologis yang dialami oleh tanggapan yang diterima oleh panca
wanita. Pada proses ini terjadi indera yang dilatarbelakangi oleh
serangkaian perubahan besar yang sikap, persepsi, dan partisipasi
terjadi pada ibu untuk dapat (Sobur, 2009).
melahirkan janinnya melalui jalan Koping
lahir (Decherney et al, 2007). Tujuan Koping ialah suatu proses untuk
dari pengelolaan proses ini adalah menyelaraskan tuntutan yang berasal
mendorong kelahiran yang aman dari diri sendiri dengan lingkungan
bagi ibu dan bayi sehingga sehingga tercipta keseimbangan diri
dibutuhkan peran dari petugas dalam memenuhi tuntutan yang
kesehatan untuk mengantisipasi dan terjadi pada individu dengan keadaan
menangani komplikasi yang yang terjadi di lingkungan sekitar
mungkin terjadi pada ibu dan bayi (Arumwardhani, 2011).
(Koblinsky et al, 2006). Petugas kesehatan
Masalah yang terjadi pada saat Petugas kesehatan adalah orang
proses persalinan menjadi stressor yang mengabdikan diri dalam bidang
bagi petugas kesehatan karena ketika kesehatan dan memiliki pengetahuan
menolong persalinan mereka punya serta ketrampilan yang untuk jenis
tanggung jawab yang besar harus tertentu memerlukan kewenangan
menanggung dua nyawa sekaligus, untuk melakukan upaya kesehatan
selain itu petugas kesehatan harus (Hanafiah, 2009).
menghadapi beragam pasien yang Syarat dan kepribadian petugas
memiliki respon fisik dan psikologis kesehatan di ruang bersalin
serta keadaan yang berbeda-beda, Menurut Koblinsky (2006), petugas
kadang mereka harus mengahadapi kesehatan di ruang bersalin harus
pasien yang awal mula anamnesa memiliki persyaratan antara lain :
keadaannya baik tetapi tiba-tiba 1) Kemampuan
terjadi masalah saat persalinan. Petugas kesehatan dituntut untuk
Petugas kesehatan menyatakan cepat berfikir, menganalisis, dan
bahwa mereka harus mampu untuk menyusun konsep.
menyesuaikan diri dengan keadaan 2) Keterampilan
yang terjadi selama proses Pekerjaan akan mencapai hasil yang
persalinan. Dalam menghadapi maksimal apabila petugas kesehatan
berbagai macam permasalahan yang memiliki skill yang tinggi diperoleh
terjadi saat proses persalinan, dengan adanya latihan, praktikum
petugas kesehatan memiliki respon dalam pendidikan serta pengalaman.
dan koping yang berbeda-beda. 3) Kepribadian
Tujuan Penelitian Mampu bersikap tegas dan
Mengetahui respon dan koping bertanggung jawab untuk mendapat
petugas kesehatan selama kepercayaan dari pasien. Mental
menghadapi proses persalinan secara yang kuat, tidak mudah takut, cemas,
normal di Sukoharjo. dan bingung harus dimiliki karena
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

sewaktu-waktu harus menghadapi keluhannya berlebihan itu yo


kejadian secara tiba-tiba. cemaslah mbak, khawatir.”(P6).
METODOLOGI PENELITIAN Takut
Penelitian ini menggunakan Banyaknya permasalahan yang
metode penelitian kualitatif dengan sering timbul selama proses
rancangan penelitian menggunakan persalinan dan banyaknya kasus-
pendekatan fenomenologi. Jumlah kasus kematian ibu dan bayi yang
Partisipan sebanyak 7 petugas sering disoroti oleh pemerintah
kesehatan yang tersebar di berdampak terhadap timbulnya rasa
Puskesmas wilayah UPTD Dinas takut ketika menolong persalinan,
Kesehatan Kabupaten Sukoharjo. seperti ungkapan berikut :
Instrumen Penelitian “Takute misale nanti ada
Instrumen penelitian ini komplikasi mungkin perdarahan”
menggunakan pedoman wawancara (P1).“Nanti takutnya kalau ada
dan dokumentasi berupa kamera dan sesuatu misalkan bayinya asfiksia
alat rekam. atau kejang”(P4).“Kasus kematian
HASIL PENELITIAN DAN ibu dan bayi disoroti banget jadi kita
PEMBAHASAN melakukan persalinan takut ”(P6).
1) Respon Tenang
a) Respon petugas kesehatan Banyaknya pengalaman praktek
ketika pertama kali menolong pertolongan persalinan yang didapat
persalinan sebelum lulus kuliah, pola
Kurangnya pengalaman kerja, pendidikan yang berimbang antara
minimnya tenaga kesehatan dan skill dengan ilmu, berdampak
fasilitas umum di tempat dinas, dan terhadap ketenangan dalam
banyaknya permasalahan pada pasien menolong persalinan, seperti
yang harus dihadapi ketika menolong ungkapan berikut :
persalinan berpengaruh terhadap “Karena sebelum lulus sudah
respon petugas kesehatan yaitu terbiasa praktek dan yakin bahwa
cemas. Pada faktanya, ketika kuliah pasien dalam kondisi normal.”P2).
dalam menolong persalinan lebih “Karena pada pola pendidikan
banyak partus pandang, seperti zaman ibu dulu antara skill dengan
ungkapan berikut : ilmu berimbang, ketika dilepas lulus
“Cemas mesti tetep ada soale sudah terbiasa dengan keadaan
baru lulus, selain itu belum pernah begitu, sudah terlatih dari
melakukan pertolongan persalinan, pendidikan dan apa yang dilihat tiap
njilalah penempatan di desa hari penanganan.”(P3).
tertinggal, jauh dari tenaga Menurut Arbayah (2012)
kesehatan dan fasilitas umum.”( P1). perasaan bidan ketika mendampingi
“Pengalaman itu kan memang baru persalinan dapat mempengaruhi
pertama, dulu kan waktu kuliah kondisi emosional disekitarnya dan
nggak langsung dengan pasien, kita turut menentukan sikap yang harus
masih partus pandang.”(P5).“Lha diambil dalam penanganan asuhan
respon pasien kan sendiri-sendiri, persalinan normal.
terutama bagi pasien-pasien yang
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

b) Respon petugas kesehatan Justru semakin takut


ketika semakin bertambah Pengalaman yang semakin
pengalaman bertambah tidak selamanya membuat
Cemas berkurang petugas kesehatan memiliki kesiapan
Bertambahnya pengalaman, yang lebih matang dan lebih tenang
terjangkaunya fasilitas kesehatan dan dalam menghadapi proses persalinan,
tenaga kesehatan, jarak menolong sebagaimana ungkapan berikut :
persalinan yang tidak terlalu lama, “Semakin tahu faktor resiko
berdampak terhadap berkurangnya malah semakin takut, kalau dulu
kecemasan petugas kesehatan selama sebelum angka kematian ibu dan
mendampingi ibu bersalin, seperti bayi tidak disoroti sedemikian nggak
ungkapan berikut : seperti ini”(P6).
“Tidak seperti dulu, nek dulu Untuk mendapat kepercayaan
cemase ketok banget, nek sekarang dari pasien, mental yang kuat, tidak
beda lebih bisa menahan”(P1). mudah takut, tidak mudah cemas,
“Sekarang sudah bisa menekan dan tidak mudah bingung harus
groginya kadang kalau sudah terlalu dimiliki petugas kesehatan karena
lama jarak antara 2 sampai 3 bulan, sewaktu-waktu harus menghadapi
rasa itu ada lagi”(P5). kejadian secara tiba-tiba (Koblinsky
Menurut Mulianti (2013) et al, 2006).
semakin banyak pengalaman dan Tenang
semakin banyak kasus yang Meningkatnya pengetahuan,
ditangani dalam menolong persalinan bertambahnya wawasan dan
akan membuat bidan lebih terampil pengalaman berpengaruh terhadap
dalam menyelesaikan pekerjaannya tenangnya petugas kesehatan dalam
sebab pengalaman kerja dapat mendampingi pasien selama
meningkatkan kompetensi dalam persalinan, seperti ungkapan berikut :
melaksanakan pekerjaannya. “Dengan peningkatan
Rasa cemas tetap ada pengetahuan, pelatihan ketrampilan,
Tanggung jawab bidan tidak penambahan wawasan dan juga
hanya berhenti pada saat bayi lahir dengan pengalaman yang semakin
saja tetapi sampai bayi berumur bertambah tentunya”(P3).
balita bidan masih tetap melakukan Pekerjaan dibidang kesehatan
pendampingan sehingga rasa cemas akan mencapai hasil yang maksimal
itu tetap ada, seperti ungkapan ini : apabila petugas kesehatan yang
“Perjalanan dari partus sampai mengerjakan memiliki keterampilan
40 hari masa nifas itu jika terjadi yang tinggi yang diperoleh dari
apa-apa kita kan sebagai penolong latihan, praktikum saat pendidikan
kepikiran terus, jadi perasaan cemas, maupun pengalaman yang pernah
takut, panik, was-was itu masih ada, dialami (Koblinsky et al, 2006).
apalagi nati sampai bayi balita kita c) Respon petugas kesehatan
tetep pedampingan. Tanggung jawab terhadap keanekaragaman
tidak hanya pada saat itu juga tetapi perilaku pasien
kedepannya masih ada”(P4). Sabar
Sikap sabar ditunjukkan petugas
kesehatan kepada pasien ketika
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

pasien mau menurut, sebagaimana sekitar dan dapat menguasai diri


ungkapan berikut : sendiri untuk tidak mudah
“Sabar ketika pada akhirnya tersinggung (Sondakh, 2013).
pasien mau menurut, walaupun rasa d) Respon petugas kesehatan
manja, rasa ngeyele tetep terhadap pasien yang
keluar”(P1). “Iya sabar, selama itu mengalami kecemasan
tidak sungguh terlalu gitu saya Empati
kasihan”(P6). Sikap empati ditunjukkan
Empati petugas kesehatan sebab petugas
Sikap empati ditunjukkan kesehatan menyadari bahwsannya
petugas kesehatan dengan cara setiap orang memiliki karakteristik
menempatkan posisi dirinya jika saat dan perilaku yang beraneka ragam,
ini berada diposisi klien, sebagaimana ungkapan berikut :
sebagaimana ungkapan berikut : “Kita berempati dan
“Saya tiga kali persalinan memberikan pengertian juga”(P1).
mudah semua, kalau melihat orang “Ya empati, kita harus memotivasi
bersalin dengan respon yang supaya dia tidak cemas”(P3).
berlebihan itu saya membayangkan “Kalau empati itu pasti, kasihan
apa memang betul-betul nyeri sekali juga soalnya pasien itu kan beraneka
sehingga samapi teriak-teriak”(P4). ragam”(P4). “Ya kita motivasi no
Jengkel mbak. Pada dasarnya kan tidak
Perilaku pasien yang beraneka semua wanita dikaruniai anak”(P6).
ragam selama proses persalinan Kasihan
seperti pasien manja menimbulkan Rasa kasihan ditunjukkan
rasa jengkel pada petugas kesehatan, petugas kesehatan ketika
sebagaimana ungkapan berikut : menghadapi pasien yang ketakutan,
“Ya wajar mbak, kadang ada sebagaimana ungkapan berikut :
rasa jengkel. Baru pembukaan awal “Empati itu pasti, kasihan juga
suruh miring kiri nggak mau, pengen soalnya pasien beraneka ragam”
ngeden padahal pembukaannya (P4).“Kadang ada yang ketakutan
belum komplit, belum waktunya itu kita juga merasa kasihan.”(P5).
diperiksa minta diperiksa.”(P5). Asuhan sayang ibu dan bayi
Marah yang dapat diberikan oleh bidan
Perilaku pasien seperti kurang adalah dengan menanyakan pada diri
kooperatif berdampak terhadap sendiri, “bagaimanakah bila hal
munculnya rasa marah, sebagaimana tersebut terjadi pada saya sendiri atau
ungkapan berikut : terjadi pada keluarga saya“ serta
“Dianamnesa gak mau jawab, dengan mengacu pada hak klien
tak periksa dalam ndak mau, saya (Varney, 2008).
agak keras, rodo kasar aku yoan, e) Apakah petugas kesehatan
saya emosine pas harus anamnesa pernah melakukan tindakan
tapi dia ndak mau padahal dia minta episiotomi ?
partus disini”(P1). Pernah
Emosi yang stabil harus dimiliki Petugas kesehatan harus bisa
petugas kesehatan supaya tidak mempertimbangkan setiap intervensi
mudah dipengaruhi oleh keadaaan yang akan dilakukan dan dampak
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

yang muncul setelah dilakukan sudah bisa diprediksi, oo TFU nya


tindakan tersebut. Kasus-kasus normal berarti kemungkinan kan
seperti adanya penyulit saat bisa lewat jalan bawah, oo TFU nya
persalinan, adanya kegawat daruratan lebih dari 40 cm kemungkinan
pada pasien menjadi suatu hal yang bayinya besar jadi harus dirujuk gitu
mendasari petugas kesehatan harus aja.”(P2). “Kalau episiotomi jujur
melakukan tindakan episiotomi, saya nggak pernah melakukan itu, ya
sebagaimana ungkapan berikut : karena memang saya kasihan mbak,
“Ketika ada penyulit iya mboten tega”(P6).
biasanya diepis”(P1). “Jadi intinya Pada periode antenatal care
kadang melakukan dalam kondisi petugas kesehatan dapat menciptakan
kegawat daruratan misalnya elastisitas perineum ibu melalui
pembukaan lengkap janin fetal latihan fisik dan pijat perineum.
distress”(P3).“Jadi misalkan dengan s(Carroli, 2009).
yang perineumnya kaku itu dilakukan f) Apakah petugas kesehatan
tetapi tidak terlalu sering”(P4). pernah melakukan tindakan
“Karena ibu sudah kelelahan, capek kristeller ?
untuk mengejan, terus kepala bayi Pernah
sudah di vulva.”(P5). Beberapa pertimbangan yang
Prinsip tindakan episiotomi menjadi alasan petugas kesehatan
adalah untuk mencegah kerusakan melakukan tindakan ini antara lain
yang lebih parah dari jaringan lunak untuk mempercepat proses
akibat daya regang yang melebihi persalinan dan kasus-kasus kepala
elastisitas jaringan tersebut. Maka bayi yang sudah cloning tetapi tidak
dari itu pertimbangan untuk segera maju, sebagaimana ungkapan
melakukan episiotomi harus berikut :
mengacu pada pertimbangan klinik “Biar membantu, kadang ibuke
yang tepat dan teknik yang sesuai ngedene gak kuat karena mungkin
dengan kondisi yang dihadapi. sudah kehabisan tenaga, membantu
Indikasi dilakukan episiotomi antara mempercepat proses”(P1).“Nek itu
lain janin mengalami fetal distress, pernah tetapi jarang sekali, kalau
persalinan anak besar sehingga tidak kurang dikit sekali, kalau sudah
bisa beradaptasi, perineum kaku muntup-muntup ngedene kurang
sehingga dikhawatirkan daerah maksimal”(P6).“Pernah, pokoknya
perineum mengalami luka yang lebih yang sudah cloning tapi njilalah gak
luas jika tidak dilakukan perobekan, maju-maju baru kristeller, takutnya
dan menghindari resiko kerusakan nanti kalau lama-lama ketekan disitu
kepala bayi pada persalinan sungsang jadi asfiksia ”(P7).
atau prematur (Rusda, 2013). Tidak pernah
Tidak pernah Keyakinan dari seorang petugas
Tidak dilakukannya episiotomi kesehatan bahwa bayi bisa lahir
oleh petugas kesehatan disebabkan dengan sendirinya tanpa bantuan
karena masalah rasa, sebagaimana dorongan apapun, perasaan takut jika
ungkapan berikut : terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
“Seandainya mau robek ya jika melakukan tindakan tersebut dan
dibiarkan robek aja sendiri. Kan kemantaban petugas kesehatan
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

karena bertambahnya pengetahuan ada waktu mesti sholat dua rakaat,


dan berkembangnya ilmu membuat minimal kalau kesusu saya
petugas kesehatan meminimalisir wudhlu”(P6).“Nek saya cuma baca
intervensi yang berbahaya ini, Basmallah, Al-Fatihah gitu”(P7).
sebagaimana ungkapan berikut : Berfikir positif
“Kristeller tidak juga, karena Ketika seseorang berusaha untuk
bisa membuat uterus keluar atau berfikir positif dan yakin terhadap
robek”(P2).“Dengan bertambahnya suatu hal, maka stress tidak akan
pengetahuan, berkembangnya ilmu menghampiri, seperti ungkapan ini :
menambah mantab ibu untuk tidak “Saya juga tetep positif thinking
melakukan itu”(P3). “Semua kembali kalau ini nanti tidak ada apa-
ke proses fisiologis, kalau memang apa”(P4). “Kita pokoknya yakin,
sudah pembukaan lengkap ada berfikir positif.”(P5).
tekanan doran teknus nanti juga Mencari teman
keluar sendiri”(P4). “Nanti kalau Dengan adanya partner shift
memang kepala sudah turun ke dasar petugas kesehatan lebih tenang
panggul, ibu mengejan bagus, kan dalam menghadapi pasien selama
bisa lahir dengan sendirinya.”(P5). proses persalinan, dan ada yang
Menurut Peyman et al (2011), membantu menolong persalinan,
tindakan mendorong ini ini justru sebagaimana ungkapan berikut :
memiliki resiko karena dapat “Yang pasti cari teman untuk
menyebabkan robeknya rahim, nolong persalinan.”(P2).”Dalam
lepasnya plasenta, gangguan pada kondisi-kondisi darurat kita akan
janin berupa asfiksia, cidera pada merasa terbantu oleh teman kita
bahu janin, dan kerusakan otak janin. yang mendampingi.”(P3). “Teman
2) Koping juga bisa membantu kita untuk
a) Koping petugas kesehatan menenangkan diri kita.”(P5).
terhadap dirinya sendiri ketika Meminta masukan pada teman
menghadapi pasien selama Dengan adanya partner shift
proses persalinan membuat petugas kesehatan lebih
Berdoa mudah dalam meminta masukan
Petugas kesehatan saat pada teman karena ketika ada teman
menolong persalinan selalu maka bisa ada yang diajak sharing
memanjatkan doa-doa sesuai dengan dan bertukar pengalaman, seperti
keyakinan supaya hatinya lebih ungkapan berikut :
tenang dan dipermudah segala “Jadi begitu ada pasien
urusan, seperti ungkapan berikut : langsung calling teman, jadi bisa
“Berdoa sebisa mungkin mbak. ada yang diajak sharing.”(P1).
Semoga dipermudah segala urusan” “Saya juga cari partner shift nggih
(P1).“Ya doa sebisanya, doa yang untuk tukar pengalaman.”(P4).
mudah sehari-hari gitu aja”(P2). b) Koping petugas kesehatan
“Saya pribadi biasanya mengawali terhadap pasien yang
segala sesuatu dengan bacaan Al- mengalami kesakitan
Fatihah”(P3).“Ya kita baca Al- Mengajarkan nafas panjang
fatihah, istiqfar”(P5).“Setiap saya Relaksasi nafas panjang
ada pasien persalinan, mesti selagi berfungsi mengurangi kesakitan pada
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

saat proses persalinan, sebagaimana persalinan maupun pada saat


ungkapan berikut : kontraksi ibu membutuhkan tenaga
“Nafas panjang lewat hidung, yang luar biasa, sebagaimana
keluarke lewat mulut.”(P1). “Kalau ungkapan berikut :
nafas panjang jika dalam kondisi “Diantara sela-sela his, suruh
kesakitan”(P2.“Biasanya kalau minum atau makan”(P1). “Ibu
sudah mau melahirkan itu memberikan minum bisa sampai 10
kencengnya sudah semakin kuat, kita gelas, 12 gelas kalau dia masih
suruh nafas panjang.”(P5). muat, kita sarankan manis karena
Menurut Kusyati (2009) teknik untuk energi”(P3). “Makan minum
relaksasi nafas panjang merupakan itu pasti mbak, selama pasien masih
teknik pereda nyeri yang banyak mau, masih mampu.”(P6).
memberikan masukan terbesar Faktor yang berpengaruh
karena teknik relaksasi nafas panjang terhadap proses persalinan meliputi
dalam persalinan dapat mencegah keadaan dehidrasi, dan tingkat tenaga
kesalahan yang berlebihan pasca yang dimiliki untuk mengejan. Ibu
persalinan. yang menjalani proses persalinan
Melakukan masage bebas untuk makan dan minum,
Masage dilakukan petugas sebab ketika masuk kala II ibu
kesehatan dengan cara yang berbeda- membutuhkan banyak tenaga
beda dan beragam, seperti ungkapan (Moscucci, 2014).
berikut : Melakukan kompres
“Ya masage punggung sama Kompres merupakan salah satu
perut.”(P1). Mengurangi kesakitan tindakan yang masih jarang
yang pertama ngisik-isik di dilakukan petugas kesehatan dalam
punggung untuk mengurangi rasa membantu mengurangi kesakitan ibu
sakit”(P2). Untuk mengurangi rasa saat proses persalinan, sebagaimana
sakit masage dibagian lumbal, lutut, ungkapan berikut :
punggung, pinggang”(P3). “Tekanan “Kadang dilakukan kadang
dari belakang itu lho, ditekan di atas tidak, tinggal dia maunya
bokong dengan kepalan tangan” gimana”(P3). “Kompres dilakukan
(P4). juga tapi tergantung kenyamanan
Menurut Hastami (2011) masage pasien, kalau dengan kompres dia
merupakan salah satu cara yang nyaman ya diberikan, kalau tidak ya
digunakan untuk mengurangi nyeri tidak.”(P4).
selama proses persalinan. Setiap Penggunaan kompres hangat
wanita memiliki respon yang dibagian punggung bawah atau
berbeda-beda pada jenis masage dibagian perut dapat menenangkan
yang dirasakan nyaman menurut dan memberikan rasa nyaman. Hal
mereka. Sebagian wanita menyukai ini dapat membantu mengurangi rasa
sentuhan yang lembut tetapi sebagian sakit saat permulaan persalinan
menyukai tekanan yang keras. (Simkin, 2007).
Memberikan asupan nutrisi cairan Menganjurkan pasien mobilisasi
Pemberian asupan nutrisi dan Mobilisasi yang dianjurkan
cairan ketika persalinan sangat antara lain miring kiri, jalan-jalan,
penting sebab pada saat proses terlentang, naik turun tangga, duduk,
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

dan posisi senyaman pasien atau Alunan suara yang


sesuka pasien dengan pantauan menenangkan dan membayangkan
bidan, seperti ungkapan berikut : pemandangan yang indah dapat
“Kalau masih pembukaan awal membantu mengurangi rasa sakit.
yo disuruh jalan-jalan, miring Bagi wanita yang melahirkan, ada
kiri”(P1). “Kalau misalnya pasien keuntungan tambahan dari metode
dalam kondisi ketuban belum pecah ini yaitu hormon yang dibutuhkan
atau rembes boleh jalan-jalan. Tidur untuk persalinan secara alami akan
miring juga dianjurkan, terus naek mengalir ke seluruh tubuh
turun tangga”(P2). Semau pasien (Naparstek, 2007).
dengan pantauan kita”.(P3). Menganjurkan berdoa
“Biasanya miring kiri atau dengan Supaya dipermudah segala
pasien telentang, semau pasien urusan dan dilancarkan proses
bagaimana nyamannnya.”(P4). persalinannya maka pasien dituntun
“Fase laten boleh jalan-jalan, ketika untuk beristiqfar dan dianjurkan
jalan-jalan sudah capek ya duduk, berdoa sebisa pasien sesuai dengan
kalau istirahat tidur silahkan.”(P6). keyakinan pasien, sebagaimana
Mobilisasi dapat menyebabkan ungkapan berikut :
berkurangnya rasa sakit karena “Kalau pasien iso ndonga yo
kontraksi rahim maju kearah depan sak ndonag-ndongane kalau saya
rahim secara alamiah dan tidak seperti itu.”(P2). “Kalau untuk ibu
melawan gravitasi, meningkatkan yang mau melahirkan biasanya di
tenaga pada saat kala II, dan tembok tempat persalinan saya ada
mengurangi resiko robekan perineum doa khusus yang dibuat untuk pasien
(Susanti dkk, 2013). yang melahirkan”P3). “Kita suruh
Melakukan hypnobirthing pasien untuk istiqfar, berdoa semoga
Dalam proses persalinan masih semuanya lancar.”(P5). “Kalau
jarang sekali teknik hypnobirthing ini pasien saya tuntun istiqfar.”(P6).
diterapkan dikarenakan masih Bimbingan rohani dengan cara
minimnya pengetahuan partisipan berdoa dan berdzikir dapat
tentang metode ini. Hypnobirthing memberikan kekuatan mental untuk
dilakukan dengan cara membantu pasien yang akan melahirkan
pasien secara psikologis, pasien (Darwanti, 2007).
didengarkan suara yang lembut, Memberikan dorongan, motivasi
sebagaimana ungkapan berikut : Dorongan, semangat dan
“Membantu secara psikologis motivasi merupakan tindakan yang
dengan nasehat, alusan tangan, paling sering dilakukan oleh petugas
kadangkala diiringi dengan musik kesehatan ketika mendampingi ibu
lembut. Kadang-kadang hanya bersalin dengan cara meberikan
mensugesti aja, mengalihkan rasa dukungan moril ke ibu, sebagaimana
sakit kepada hal-hal yang membuat ungkapan berikut :
dia senang, mengingatkan dia akan “Saya tanamkan bahwa pasien
hal-hal yang menyenangkan.”(P3). harus yakin bisa melahirkan dengan
“Biasanya dengan didengarkan selamat, dengan normal baik ibu
suara orang mengaji.”(P4). maupun bayi.”(P2). “Bahwa proses
persalinan itu alamiah dan ini
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

sebuah anugerah yang luar biasa ditunggui ibu atau suami” (P1).
yang tidak bisa dirasakan oleh “Keluarga yang berani saya
wanita lain yang belum mengalami persilahkan karena untuk
persalinan”(P3).“Memotivasi pasien pendampingan.”(P7).
dengan argumen yang bisa diterima Menurut Putri (2014) dukungan
pasien”(P6). secara terus menerus dari seorang
Alexander (2013) menyatakan pendamping persalinan kepada ibu
bahwa wanita yang melahirkan akan dapat mempermudah proses
sangat senang ketika melihat petugas persalinan, memberikan rasa
kesehatan datang sebab dapat nyaman, semangat, membesarkan
memberikan dukungan diantaranya hati ibu, dan meningkatkan rasa
dukungan appraisal, dukungan percaya diri ibu serta mengurangi
emosional (memberikan empati, kebutuhan tindakan medis.
kepedulian, cinta, kepercayaan, dan Menghargai budaya dan
mendengarkan keluh kesahnya), dan keyakinan pasien
dukungan instrumental (memberikan Setiap pasien memiliki budaya
bantuan untuk dirinya). dan keyakinan yang berbeda-beda.
Memberikan informasi Budaya dan keyakinan ini juga
Kehadiran petugas kesehatan dibawa pasien maupun keluarga pada
untuk memberikan informasi saat menjalani proses persalinan,
merupakan saat yang dinanti-nanti sebagaimana ungkapan berikut :
oleh pasien dan keluarga, “Kalau kepercayaan biasanya
sebagaimana ungkapan berikut : ada yang dikasih air putih entah itu
“Setiap kita melakukan tindakan dari akar fatimah atau kalau di
misale saatnya VT ya kita VT, tempat saya itu telur ayam jawa
setelah ada hasil kita informasikan langsung digogok. Biasanya dengan
hasilnya seperti apa, sebaiknya yang keyakinan seperti itu terus proses
dilakukan apa”(P1). “Setiap kali persalinan lancar, jadi saya
melakukan tindakan mesti ada menghormati bagaimana keyakinan
informasi ke pasien biar pasien tahu dia.”(P6).
maksud dan tujuan dari tindakan Menurut Nani (2009)
tersebut”(P6). pemanfaatan rumput fatimah untuk
Informasi secara lengkap wajib memperlancar persalinan sampai saat
diberikan kepada ibu dan keluarga ini belum ada bukti ilmiah mengenai
termasuk perkembangan dan khasiat, keamanan, dan mekanisme
kemajuan persalinan, intervensi yang yang mendasari efek tersebut dalam
dilakukan harus dijelaskan serta memperlancar persalinan.
melibatkan klien dalam keputusan c) Koping petugas kesehatan
klinik (Purwaningsih, 2010). terhadap keanekaragaman
Menghadirkan pendamping perilaku pasien
Petugas kesehatan tidak pernah Menunjukkan kesediaan menolong
melarang keluarga untuk Dengan keanekaragaman yang
mendampingi pasien selama proses dialami pasien selama proses
persalinan, seperti ungkapan berikut : persalian, petugas kesehatan selalu
“Kalau suami atau keluarga kita menuruti apa yang diminta pasien
tawarkan ke ibu, lebih tenang selama hal tersebut tidak
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

membahayakan pasien, sebagaimana d) Koping petugas kesehatan


ungkapan berikut : terhadap pasien kecemasan
“Misal ada yang manja minta Memberi motivasi
ini minta ini ya dituruti saja, tapi kita Petugas kesehatan memberi
tetep memberikan arahan sepanjang motivasi kepada pasien dengan cara
itu tidak membahayakan”(P4). memberikan penjelasan kepada
Menyesuaikan diri dengan pasien, seperti ungkapan berikut :
karakter pasien “Pada saat kelas ibu hamil kita
Bahwasannya setiap orang yang ajak mereka untuk berpartisipasi
dilahirkan memiliki karakter yang dengan kondisi dirinya, tidak hanya
berbeda-beda, oleh karena itu memberi ceramah saja tetapi kita
petugas kesehatan harus bisa berdiskusi mencari solusi dari
menyesuaikan diri dengan karakter permasalahan yang ada”(P3).
pasien, seperti ungkapan berikut : “Untuk pasien yang cemas ya
“Yauda kita menyesuaikan dengan motivasi, dengan cara
dengan karakter dia aja sepanjang memberi dukungan”(P4). “Kita
kita nggak lewat garis yang kita motivasi, pada dasarnya kan tidak
lakukan”(P3). semua wanita dikaruniai anak.”(P6).
Memberikan pengertian kepada Gangguan psikologis seperti
pasien kecemasan dan depresi terjadi karena
Arahan dan bimbingan dengan masalah yang dipendam. Masalah
cara pasien diberikan penjelasan yang dipendam dapat memicu
bahwa persalinan merupakan proses berbagai macam permasalahan fisik
fisiologis (normal) merupakan hal dan psikologis pada ibu baik pada
yang sangat penting untuk pasien, saat kehamilan maupun persalinan
sebagaimana ungkapan berikut: (Novitasari dkk, 2013).
“Kita justru membimbing, kalau Memberikan pengertian
misale pasien manja dibilangin, Petugas kesehatan selalu
memang proses persalinan itu rasane memberikan pengertian kepada
seperti itu, sakit. Kemudian kalau pasien yang mengalami kecemasan
pasiennnya misalnya bingung berarti selama proses persalinan,
kita harus menenangkan, kalau sebagaimana ungkapan berikut :
pasiennya diam berarti harus kita “Kita memberikan pengertian
amati, diamnya itu karena menahan juga, meberi tahu kalau itu memang
sakit atau karena memang nyaman proses normal”(P1). “Dalam proses
dengan kondisi rasa sakitnya.”(P2). persalinan kita harus banyak
Gambaran yang jelas dan ngomong, jadi pasien merasa tenang,
sistematis tentang jalannya mudeng, paham”(P2).
persalinan dapat memberikan Menurut Reeves (2010) bahwa
dampak yang positif bagi ibu ibu yang menghadapi persalinan
diantaranya ibu merasa aman dan sering mengalami perasaan cemas,
nyaman, menentramkan perasaan ibu dan takut. Maka dari itu, petugas
karena ibu paham tentang proses kesehatan harus memberikan
yang akan dilalui (Sondakh, 2013). pengertian kepada ibu dengan
memberikan penjelasan yang
bijaksana.
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

KESIMPULAN DAN SARAN pendamping, menghargai budaya


Kesimpulan dan keyakinan pasien.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti 6. Koping petugas kesehatan
mengambil kesimpulan bahwa : terhadap keanekaragaman
1. Respon petugas kesehatan ketika perilaku pasien adalah dengan
pertama kali menolong persalinan menunjukkan sikap kesediaan
adalah cemas, takut, dan ada juga untuk menolong, menyesuaikan
yang tetap tenang. diri dengan karakter pasien, dan
2. Respon petugas kesehatan selama memberikan pengertian kepada
menghadapi proses persalinan pasien.
ketika semakin bertambah 7. Koping petugas kesehatan
pengalaman ada yang cemasnya terhadap pasien yang mengalami
berkurang, rasa cemas tetap ada, kecemasan adalah dengan
ada yang justru semakin takut, memberi motivasi dan memberi
dan ada yang tetap tenang. pengertian.
3. Respon petugas kesehatan ketika 8. Setiap petugas kesehatan memiliki
menghadapi pasien yang beraneka respon dan koping yang berbeda-
ragam adalah sabar, empati, beda dalam menyikapi
jengkel, dan marah. Respon permasalahan, baik permasalahan
petugas kesehatan ketika yang terjadi pada dirinya maupun
menghadapi pasien yang cemas permasalahan yang terjadi pada
adalah empati dan kasihan. Dalam pasien selama proses persalinan
kaitannya dengan tindakan normal.
episiotomi dan kristeller petugas Saran
kesehatan ada yang pernah Berdasarkan kesimpulan dan
melakukan tindakan tersebut dan keterbatasan peneliti, maka peneliti
ada yang tidak melakukan memberikan saran kepada :
tindakan tersebut dengan berbagai 1. Praktisi Kesehatan
macam pertimbangan. Dengan banyaknya permasalahan
4. Koping yang dilakukan petugas yang timbul pada pasien selama
kesehatan ketika menghadapi proses persalinan, maka petugas
pasien adalah berdoa, berfikir kesehatan diharapkan dapat lebih
positif, mencari teman, dan siap dalam menghadapi dan
meminta masukan kepada teman. menyikapi permasalahan yang
5. Koping petugas kesehatan ketika ada, baik masalah yang muncul
menghadapi pasien kesakitan pada dirinya maupun masalah
ialah melakukan relaksasi nafas yang muncul pada pasien. Petugas
panjang, masage, memberikan kesehatan diharapkan lebih siap
asupan nutrisi dan cairan, dari segi mental maupun
melakukan kompres, kompetensi yang dimiliki
menganjurkan pasien mobilisasi, sehingga memiliki respon dan
melakukan hypnobirthing, koping yang positif dalam
menganjurkan berdoa, meberikan mendampingi pasien bersalin.
dorongan dan motivasi, 2. Kepada peneliti selanjutnya
memberikan informasi terkait Diharapkan penelitian selanjutnya
proses persalinan, menghadirkan dapat meneliti secara lebih detail
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

tentang respon dan koping Gynecology”. United States of


petugas kesehatan tidak hanya America : McGraw-Hill.
sekedar pengalaman menolong Hanafiah, M.J. & Amir, A. (2009).
persalinan saja tetapi peneliti “Etika Kedokteran dan Hukum
melakukan observasi langsung Kesehatan. Edisi 4”. Jakarta :
kepada petugas kesehatan selama EGC.
mendampingi pasien yang Hastami, R.S., Asiandi, Handayani,
melakukan persalinan normal. R. (2011). “Efektivitas Teknik
Kneading dan Counterpressure
Terhadap Penurunan Intensitas
DAFTAR PUSTAKA Nyeri Kala I Fase Aktif
Alexander, A., Mustafa, A., Emil, S. Persalinan Normal Di RSIA
A. V., Amekah, E., Engmann, Bunda Arif Purwokerti Tahun
C., Adanu, R., et al. (2013). 2011”.www.ojs.akbidylpp.ac.id/
“Social Support During Delivery index.php/ diakses tanggal 9
In Rural Central Ghana : A Juni 2014 jam 22:55 WIB.
Mixed Methods Study Of Koblinsky, M., Matthews, Z.,
Women’s Preferences For and Hussein, J., Mavalankar, D.,
Against Inclusion Of A Lay Mridha, M. K., Anwar, I., et all.
Companion In The Delivery (2006). “Maternal Survival 3 :
Room”. Journal Of Biosocial Going to Scale with Professional
Science. Cambridge University Skilled Care”. International
Press.(http://journals.cambridge. Journal of Public Health and
org.) diakses tanggal 27 Januari Preventive Medicine.
2014 jam 16:15 WIB). Bangladesh : Centre for Health
Arbayah, Nyorong, M., Russeng, S. and Population Research. (http://
(2012). “Sikap Profesional search. Proquest. com. diakses 3
Bidan Dalam Penerapan Februari 2014 jam 11.12 WIB).
Standar Asuhan Persalinan Kusyati, E., Astuti, L.P., Pratiwi,
Normal Di RSUD Harapan D.D. (2012). “Efektivitas Teknik
Insani Sendawar Kabupaten Relaksasi Nafas Dalam
Kubar”.http://pasca.unhas.ac.id Terhadap Tingkat Nyeri
diakses tanggal 11 Juni 2014 Persalinan Kala I Di Wilayah
jam 19.30 WIB. Kerja Puskesmas Tlogosari
Arumwardhani, A. ( 2011). Wetan Semarang Tahun 2012”.
“Psikologi Kesehatan”. Jurnal Kebidanan, Vol. IV, No.
Yogyakarta : Galang press. 02. Desember 2012. Journal.
Carroli, G., Mignini, L. (2009). akbideub.ac.id/index.php/jkeb/ar
“Episiotomy For Vaginal ticle/view/104/103 diakses 4
Birth”.http://www.thecochraneli April 2014 jam 12.30 WIB.
brary.com diakses tanggal 9 Juni Moscucci. 2014. “Holistic Obstetrics
2014 jam 12:30 WIB. : The Origins Of Natural
Decherney, A.H., Nathan L., Childbirth In Britain”. http://
Goodwin T.M., Laufer, N. pmj. bmj. com. diakses tanggal 9
(2007). “Current Diagnosis and Juni 2014 jam 12.35 WIB.
Treatment Obstetrics and
Respon dan koping petugas kesehatan selama menghadapi proses persalinan
secara normal di Sukoharjo

Mulianti, M.S. 2013. “Gambaran Putri, N.K., (2014). “Studi Diskripsi


Mekanisme Koping Stres Bidan Tingkat Kenyamanan Ibu
Dalam Menangani Persalinan Bersalin Dengan Pendampingan
Di Wilayah Kerja Puskesmas Di Rumah Bersalin Ngudi Saras,
Sibreh Kabupaten Aceh Besar”. Ngringo, Jaten, Karanganyar.”
Skripsi. Banda Aceh : Sekolah Jurnal Ilmiah Kebidanan, Vol. 4,
Tinggi Ilmu Kesehatan No. 1 Edisi Juni 2013. http: //
U’Budiyah Banda Aceh ojs. akbidylpp. ac.id/
Nani, D. (2010). “Perubahan index.php/Prada/article/viewFile
Amplitudo Kontraksi Otot /26/24 diakses tanggal 11 juni
Uterus Tikus Akibat Pemberian 2014 jam 23:40 WIB.
Rumput Fatimah (Anastatica Rusda, M. “Anastasi Infiltrasi Pada
Hierochuntical)”.(Jos.unsoed.ac. Episiotomi”. (2013).
id/) diakses tanggal 10 Juni 2014 http://library.usu.ac.id/download
jam 13.00 WIB. /fk/obstetri-rusda2.pdf diakses
Naparstek, B. (2007). “Guide tanggal 10 Juni 2014 jam 10.45
Imagery : A Best Practice for WIB.
Pregnancy and Childbirth”. Simkin, P. (2007). “Comfort In
International Journal of Labor”. http:// www.childbirth
Childbirth Education ; Vol.22, connection. org. diakses 9 Juni
No. 3. United States. (http:// 2014 jam 14.30 WIB.
search. Proquest. com/ diakses Sobur,A.(2009). “Psikologi Umum”.
28 Maret 2014 jam 08.00 WIB. Bandung : Pustaka Setia.
Novitasari, T., Budiningsih, T.E., Sondakh, J.J.S.(2013). “Asuhan
Mabruri, M.I. (2013). Kebidanan Persalinan dann
“Keefektifan Konseling Bayi Baru Lahir”. Jakarta :
Kelompok Pra-Persalinan Untuk Erlangga.
Menurunkan Kecemasan Varney, H. (2008). “Buku Ajar
Primigravida Menghadapi Asuhan Kebidanan”. Jakarta :
Persalinan”. ISSN 2252-6358. EGC.
http://journal.unnes.ac.id diakses
11 Juni 2014 jam 23.30 WIB. *Rino Mardani : Mahasiswa S1
Peyman, A., Shishegar, F., Abbasi. Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani
(2011). “Uterine Fundal Pressure Tromol Post 1 Kartasura.
On The Duration Of The Second
Stage Of Labor In Iran : A **Winarsih Nur Ambarwati, S.
Randomized Controlled Trial”. Kep., Ns., ETN, M. Kep. : Dosen
Journal Of Basic and Applied Keperawatan FIK UMS. Jln A Yani
Scientific Research. ISSN Tromol Post 1 Kartasura.
20904304. http: //www
.textroad. com/pdf/ diakses 8 ***Rina Ambarwati, S. Kep., Ns. :
Juni 2014 jam 13:25 WIB. Dosen Keperawatan FIK UMS. Jln A
Purwaningsih, W., Fatmawati, S. Yani Tromol Post 1 Kartasura
(2010). “Asuhan Keperawatan
Maternitas”. Yogyakarta : Nuha
Medika.