Anda di halaman 1dari 15

A.

Klasifikasi radiologi intervensi

A. Non Vascular Interventional


1. Fluroscopic dan Ultrasound Guide Intervention
a. Nefrostomi
Nefrostomi adalah suatu prosedur terapi dimana dilakukan
penempatan suatu kateter kedalam system pengumpul ginjal melalui
kulit, dengan tuntunan image .Nefrostomi terbuka adalah tindakan
penempatan kateter kedalam sistem pengumpul ginjal melalui
pendekatan operasi terbuka.Ini adalah tindakan untuk dekompresi
sistem pengumpul ginjal, yang dapat bersifat sementara ataumenetap.4

Anatomi Ginjal yang berhubungan dengan Nefrostomi

Mengenal dengan baik anatomi ginjal sangat penting untuk


memilih traks yang aman pada ginjal saat tindakan nefrostomi, baik
perkutan atau terbuka Arteri renalis bercabang menjadi cabang utama
ventral dan dorsal, yang menciptakan suatu zona yang relative
avaskuler diantara ujung-ujung percabangannya .
Gambar 1. Brödel’s line
Sumber : Dyer RB et al,Percutaneous Nephrostomy with Extensions of the
Technique: Step by Step.
Zona ini ( dikenal sebagai Brödel’s line, suatu garis insisi imaginer yang
relatif avaskuler) terletak tepat di posterior pada sisi cembung lateral ginjal .
Komplikasi perdarahan akibat tindakan nefrostomi dapat diminimalkan dengan
menusuk pada daerah ini.
Arah kaliks anterior dan posterior dapat diketahui secara fluoroskopi dengan
menggunakan kontras yang mengandung iodine dan udara. Dengan pasien posisi
pronasi, urin yang mengandung kontras akan lebih banyak terletak di kaliks anterior.
Udara yang dimasukan kedalam sistem pengumpul akan menumpuk dibagian atas
atau di dalam kaliks posterior , sehingga memudahkan melakukan identifikasi kaliks
posterior.4

Penuntun dan Pemilihan Akses

Ada beberapa pilihan guiding / penuntun , seperti ultrasonografi (USG), dan


fluoroskopi . Akses pada kaliks posterior pole bawah melalui pendekatan subkostal
adalah akses yang paling bagus untuk drainase urine biasa. Akses kaliks posterior
pada pole tengah dan atas akan memberikan akses yang lebih mudah untuk mencapai
ureteropelvic junction dan system pengumpul (pada kasus dimana tindakan
nefrostomi dilakukan sekaligus sebagai usaha untuk mengeluarkan batu atau pada
endopyeolotomi), walaupun angka komplikasi lebih tinggi (trauma pleura). Punksi
tepat dibelakang batu , dapat menjadi cara yang paling baik pada kasus batu
tanpakomplikasi.

I. Indikasi :
1. Obstruksi saluran kemih yang disebabkan obstruksi ureter karena penyebab
instrinsik atau ekstrinsik yang berhubungan dengan kasus-kasus batu
saluran kemih, keganasan, atau iatrogenic. Obstruksi saluran kemih ini
merupakan 87% kasus yang menjadi indikasi nefrostomi. Obstruksi saluran
kemih dapat menyebabkan azotemia,urosepsis, atau mungkin ditemukan
secara tidak sengaja pada pemeriksaanradiologi.
2. Pionefrosis atau hidronefrosis terinfeksi . Pasien-pasien dengan kondisi ini
mempunyai resiko tinggi terhadap sepsis kuman gram-negatif, dan drainase
urin merupakan tindakan yang penting. Pasien menunjukkan gejala demam.
Nyeri pinggang,dan ditemuan adanya obstruksi pada pemeriksaan radiologi.
Batu saluran kemih adalah penyebab lebih dari 50% kasus obstruksi saluran
kemih.
3. Kebocoran urine atau fistula.
4. Untuk akses pada prosedur intervensi lainnya dan untuk prosedur endoskopi:
a. Pengambilan batu ginjal dan ureter pada kasus-kasus tertentu. Pada
rumah sakit yang mengkhususkan pada pengobatan batu saluran kemih,
sebanyak 50% nefrostomi baru dilakukan untuk terapi batu secara
perkutan.
b. Pemasangan stent ureter , bila secara retrograde tidak memungkinkan
atau gagal, pieloureteroskopi, endopielotomi.
c. Untuk memasukan obat-obatan atau kemoterapi ke dalam system
pengumpul seperti pada pengobatan infeksi jamur , instilasi vaksin BCG
(Bacillus Calmette- Gue´rin ) pada karsinoma transisional sel di traktus
urinarius atas, atau untuk terapi kemolisis pada batu ginjal atau ureter.
d. Untuk mengambil benda asing, seperti potongan stent.4
5. Diversi urine pada sistitis hemoragik.
6. Tindakan terapi pada uropati obstruktif nondilatasi
7. Tindakan terapi pada obstruksi saluran kemih yang berhubungan dengan
kehamilan
8. Sebagai bagian dari test Whitaker
9. Sebagai bagian dari PNL
10. Dekompresi cairan nefrik atau perinefrik (abses, urinoma) .
11. Indikasi nefrostomi perkutan pada ginjal transplant pada umumnya sama
dengan ginjal biasa. . Kadang-kadang nefrostomi perkutan dilakukan
sebagai terapi percobaan untuk membedakan gagal ginjal apakah disebabkan
oleh obstruksi atau reaksi penolakan.
12. Nefrostomi terbuka dilakukan bila sarana imaging (USG, C-arm ) tidak
tersedia.

II. Kontara Indikasi:


1. Kontraindikasi absolut nefrostomi perkutan adalah perdarahan diatesis (
paling sering disebabkan koagulopati yang tak terkontrol)
2. Pasien yang tidak kooperatif.
3. Penyakit terminal.

III. Komplikasi
Komplikasi ringan yang tidak memerlukan terapi khusus berkisar antara
15%-25% kasus . Angka kematian karena tindakan ini rendah berkisar antara
0.046%–0.3% . Komplikasi nefrostomi diantaranya adalah :
1. Hematuria transien, umumnya terjadi pada semua pasien yang dilakukan
tindakan ini.
2. Perdarahan hebat yang memerlukan transfusi atau intervensi terjadi pada
1%–3% pasien . Pada kebanyakan kasus , perdarahan yang terjadi pada
saat nefrostomi dapat dikontrol dengan cara tamponade dari traksnya
dengan menggunakan kateter nefrostomi pada traks yang sempit, pada
traks yang besar dilakukan tamponade dengan menggunakan dilatasi
ballon kateter. Bila hal ini gagal atau bila kehilangan darah yang
signifikan terjadi beberapa hari pemasangan atau pengangkatan selang
nefrostomi, maka dilakukan pemeriksaan angiografi untuk mengetahui
adanya fistula arteriovenosa, pseudoaneurisma atau laserasi pembuluh
darah.Umumnya trauma vaskular ini dapat diterapi dengan tindakan
embolisasi angiografik, dan jarang dilakukan intervensi bedah.
3. Sepsis (1%–2.5%). Instrumentasi pada traktus urinarius yang obstruksi
dapat menimbulkan resiko terjadinya komplikasi sepsis.Manipulasi harus
seminimal mungkin pada pasien obstruksi yang disertai
infeksi.Pemeriksaan imaging dan manipulasi selanjutnya harus dilakukan
setelah 48-72 jam setelah drainase urine eksternal, pemberian antibiotika
yang sesuai dan pasien secara klinis stabil.Prevalensi komplikasi sepsis
pada pasien pionefrosis yang dilakukan nefrostomi adalah 25% atau
lebih.
4. Trauma pada organ sekitar. Suatu kolon yang retrorenal, suatu variasi
anatomi yang jarang , dapat saja kena trauma.4

Gambar 2. Kolon retro renal (anak panah)

Sumber : Dyer RB et al,Percutaneous Nephrostomy with Extensions of the


Technique: Step by Step
a. Hidrothoraks dan pneumothoraks dapat juga terjadi (0.1%–0.3%), dan
prevalensinya meningkat pada nefrostomi suprakostal. Komplikasi yang
berhubungan dengan trauma pada pleura umumnya meningkat dengan
meningkatnya akses pada pole atas untuk terapi batu (PCNL).

Gambar 3 : Pneumotoraks (kontras nampak masuk ke dalam kavum pleura Sumber :


Dyer RB et al,Percutaneous Nephrostomy with

Extensions of the Technique: Step by Step

1. Nyeri tempat tusukan.


2. Ekstravasasi urine (<2%)
3. Tidak dapat melepaskan kateter nefrostomi karena kristalisasi sekitar
ujungnya.
4. Kematian (0.2%).4
b. PICC ( Kateter Sentral Insersi Perifer)
PICC adalah selang-selang kecil dan fleksibel yang dimasukkan ke
dalam pembuluh darah lengan atas .Ujung internal kateter ini berakhir pada
sebuah pembuluh darah besar di dada, dan yang paling sering adalah di vena
cava superior.Mungkin dapat menganggapnya sebagai kanula yang sangat
panjang.PICC dimasukkan untuk melindungi pembuluh darah kecil dari
tusukan berulang-kali yang terkait dengan perawatan infus yang
berkelanjutan. PICC juga digunakan ketika terapi terlalu terkonsentrasi untuk
diberikan melalui pembuluh darah yang kecil pada tangan.5
Kateter fleksibel, lembut dan panjang diinsersikan melalui vena perifer
hingga mencapai vena cava superior atau vena cava inferior Akses IV
jangka menengah/panjang

Indikasi

1. Terapi IV jangka panjang (5-7 hari atau lebih)


2. Memerlukan dua line dalam satu akses vena
3. Jika perlu lebih dari 2 IV perifer dalam 24 jam
4. TPN (cairan hyperosmolar) 5. Neonatus : BB < 1500 g, gangguan GI, perlu
vasoaktif drips, kelainan jantung bawaan atau anomali tungkai

Kontra Indikasi

Infeksi pada tempat pemasangan

• Infeksi bakteri dan jamur yg tdk terkendali


• Trombositopeni
• DIC
• Fraktur ekstremitas
• Menurunnya venous return dari ekstremitas (kelumpuhan saraf) 5

Setelah Pemasangan

Radiologis: posisi kateter

Ujung kateter yang masuk ada di luar jantung:

• Di vena cava sup (diatasT2)


• Di vena cava inf (T8 - T10)
• Kateter harus terletak sejajar dengan dinding pembuluh darah
• Hati-hati takiaritmia bila masuk ventrikel kanan

KOMPLIKASI

- Infeksi
- Trombus
- Phlebitis
- Perdarahan
- Embolism
- Aritmia jantung
- Efusi perikard
- Tamponade jantung
- Efusi pleura
- Abses dinding dada
- Nyeri
- Masalah kateter

C. Percutaneus transhepatic biliary drainage (PTBD)


Merupakan prosedur terapi yang invasif dilakukan oleh dokter penyakit dalam
konsultas gastroentero-hepatologi (SpPD-KGEH) dengan memasukkan drainase
ke saluran bilier menggunakan kateter yang dimasukkan melalui hati ke saluran
bilier dengan tuntunan gambaran radiologi (USG). Tindakan ini bertujuan untuk
mengatasi penyumbatan pada sistem bilier. Beberapa indikasi dilakukan tindakan
ini antara lain:
 Adanya penyumbatan pada saluran bilier
 Melakukan pelebaran pada kasus penyempitan bilier
 Mengambil batu pada saluran bilier 6
Kontraindikasi PTBD adalah adanya perdarahan.Sebelum tindakan ini, seperti
biasa dokter memerlukan pemeriksaan laboratorium meliputi darah lengkap, serta
masa prothrombin (PT), pembekuan (CT), dan perdarahan (BT). Tindakan ini
memerlukan waktu antara 45- 90 menit dengan anastesi lokal sehingga pasien akan
tetap sadar penuh saat tindakan. Komplikasi yang mungkin bisa muncul paska
tindakan antara lain perdarahan, infeksi, penumpukan cairan pada selaput paru yang
umumnya ditandai dengan sesak nafas (efusi pleura).6

2. Lumbar Puncture
Pungsi lumbal (LP) adalah salah satu prosedur tambahan yang terkenal dalam
neurologi klinis yang dilakukan untuk berbagai fungsi seperti anestesi spinal,
pemberian obat intratekal, myelografi, mendapatkan sampel cairan serebrospinal
(CSF) dan mengukur tekanan sejak lebih dari 100 tahun lalu. Lumbar Tusukan
adalah salah satu tes invasif yang paling umum dilakukan dalam kedokteran
klinis. Evaluasi sakit kepala akut dan penyelidikan penyakit inflamasi atau infeksi
pada sistem saraf adalah indikasi yang paling umum.7
Indikasi

Untuk mengecualikan perdarahan subarachnoid pada sakit kepala akut berat


Untuk menyelidiki atau menyingkirkan meningitis
- Bakteri
- Viral
- Tuberkulosis
- Cryptococcal
- Bahan kimia
- Karsinomatosa

Untuk menyelidiki gangguan neurologis

- Multiple Sclerosis
- Sarkoidosis
- Guillian Barre, Inflammatory Demyelinating Polyneuropathy
- Gangguan mitokondria
- Leukensefalopati
- Sindrom Paraneoplastic

Untuk menunjukkan dan mengelola gangguan Tekanan Intrakranial

- Hipertensi intrakranial idiopatik


- Hipotensi intrakranial spontan

Untuk mengelola agen terapeutik atau diagnostik *

- Anestesi spinal
- Kemoterapi intratekal
- Antibiotik intratekal
- Baclofen intratekal
- Media kontras dalam myelography atau cisternography 7
Kontra indikasi

- Buktilesi massa intrakranial


- Bukti pergeseran garis tengah pada CT / MRI kranial
- Adanya tumor fossa posterior
- Jumlah trombosit kurang dari 50.000 per mililiter kubik INR lebih besar dari 1.5
Visualisasi yang buruk dari quadrigeminal cistern atau ventrikel keempat
- Infeksi supuratif yang dikenal di daerah lumbar Kehadiran blok subarachnoid
tulang belakang 7

3. Chemo Port Insertion


Chemoport adalah jalur intra-dermal atau sub-dermal atau jalur akses yang
dibuat di dada atau lengan pasien untuk membantu kemoterapi intravena (IV).
Chemoport melibatkan menempatkan perangkat di bawah kulit Anda yang
memberikan akses vaskular untuk terapi IV dan menyuntikkan bahan kontras
untuk tes pemindaian. Penempatan ini menyediakan akses mudah ke aliran darah.
Kemoport juga disebut sebagai mediport, port kanker atau port-a-cath.
Berdasarkan kebutuhan dan kebutuhan pasien, dapat menggunakan berbagai jenis
chemoports. Jenis kemoport ini bervariasi dalam panjang dan jenis
perawatannya.8

Berbagai jenis chemoports adalah sebagai berikut:


Kateter Vena Sentral Terowongan: Seperti namanya, kateter vena sentral
ditempatkan di bawah kulit dada Anda dan terhubung ke vena sentral dengan
menggunakan prosedur pembedahan. Bagian luar port ini berisi kateter yang
menggantung di luar kulit . Kateter ini memiliki banyak bukaan. Itu ditempatkan
di bawah kulit Anda selama beberapa bulan.
Port Intra-peritoneal: Port ini juga mengandung bentuk kateter yang dikenal
sebagai kateter Tenckhoff. Kateter ini ditempatkan di bawah kulit perut.8
Implantable Venous Access Point: Port ini juga disebut sebagai port-medi
atau Port-a-Cath. Ini terbuat dari baja tahan karat, plastik atau titanium. Titik
akses vena adalah perangkat berbentuk drum. Itu baik ditempatkan di bawah kulit
dada atau lengan atas. Ini berisi tabung kateter yang melekat pada perangkat yang
menghubungkan vena sentral.
PICC Line: Garis Sentral Sentral Terputus (PICC) terdiri dari bahan plastik.
Ini adalah alat yang digunakan untuk sementara yang terlihat seperti kateter. Itu
terhubung ke salah satu pembuluh darah yang lebih besar dari lengan atas.

Metode / Teknik Chemoport

Prosedur dimulai dengan membuat luka di kulit yang panjangnya sekitar


3 cm. Juga, sayatan 5 mm dibuat di daerah bawah leher untuk mendapatkan akses
ke pembuluh darah . Sebuah port ditanamkan sepenuhnya di dalam tubuh .
Kateter dilewatkan ke portini dan ujung lainnya dimasukkan ke dalam salah satu
vena.

Sisi depan kateter berisi tabung untuk membawa obat kemoterapi ke


bagian internal tubuh dan tutup di ujung yang menyediakan titik masukan untuk
menanamkan obat-obatan ini. Bagian kateter ini berfungsi sebagai portal yang
dibiarkan menggantung di luar tubuh . Posisi penempatan port dikonfirmasi
menggunakan fluroskopi, sejenis X-ray. Dibutuhkan sekitar 60 menit untuk
menerapkan prosedur implantasi chemoport lengkap.

Untuk sistem yang ditempatkan di dada: Dada adalah lokasi implantasi. Di


sini, port ditempatkan di bawah kulit dada Anda. Ujung kateter dimasukkan ke
dalam pembuluh darah yang terletak tepat di atas jantung Anda. Namun, ujung
lainnya dimasukkan ke salah satu pembuluh darah yang ada di dada Anda.
Untuk sistem yang ditempatkan di lengan: Salah satu lengan adalah lokasi
implantasi. Port ditempatkan di bawah kulit dada . Ujung kateter dipaksa di dalam
pembuluh darah jantung yang terletak tepat di depannya. Ujung kateter yang lain
dimasukkan ke dalam salah satu vena lengan .8

Risiko dan KomplikasiSetelah Implan ChemoportRisiko dan komplikasi


berikutmungkin terjadi setelah menanamkan chemoport:

Infeksi: Infeksi adalah masalah umum yang terjadi dari sebagian besar operasi.
Jikabakteri memasuki bagian tabung kateter , itu juga dapat menyebabkan infeksi
berat. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga kebersihan tabung eksternal
tersebut.Juga, menjalani proses pembersihan tabung kateter internal . Namun, jika
infeksi terjadi,mereka dapat dikelola menggunakan antibiotik.
Oklusi: Pembuluh darah di sekitar portal Anda dapat mengalami penyumbatan.
Beberapa pembuluh darah juga bisa tertutup karena pembekuan darah.

Kebocoran udara: Selama proses implantasi chemoport, udara bisa keluar dari paru-
paru Anda. Meskipun, masalah ini teratasi setelah beberapa waktu.

Lepuh kulit: Dapat terjadi gerakan fiksi port saat kemoterapi dilakukan. Ini
menciptakan iritasi dan gatal di sekitar kulit. Ini juga dapat menyebabkan
pembentukan lepuh kulit. Alasan lain untuk melepuh kulit bisa karena bahan kimia
yang mengiritasi atau zat yang sangat dingin atau hangat.

Ekstrusi: Ini adalah jenis risiko yang sangat langka. Jika bagian subkutan di
portmengikis kulit, itu bisa merepotkan. Ini terutama terjadi pada pasien yang sangat
lemah.

Mal-positioning: Jika port implan terlepas dari titik asalnya, ini menyulitkan
dokteruntuk mendapatkan akses yang tepat untuk prosedur kemoterapi.

Pendarahan internal: Ada kemungkinan perdarahan dari pembuluh darah . Nyeri


dan ketidaknyamanan: Sangat umum untuk mengalami rasa sakit
danketidaknyamanan ringan di sekitar dada atau lengan ketika Anda telah
menanamkanchemoport di bawah kulit

Kerusakan lain: Pembuluh darah Anda bisa rusak atau mengalami memar. Selama
penyisipan port, paru-paru bisa tertusuk. Oleh karena itu, tubuh pasien dimonitor
secara efisien setelah prosedur penempatan selesai.8