Anda di halaman 1dari 88

KORELASI LINGKUNGAN FISIK DENGAN GANGGUAN

BELAJAR SISWA SD INPRES 8 MAMBORO INTI KOTA


PALU

TUGAS AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program


Pendidikan Diploma III Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu
Jurusan Kesehatan Lingkungan

Oleh

Rini Widiyanita Saragih


NIM. PO7130015031

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2018
1. Riwayat Individu
a) Nama : Rini Widiyanita Saragih
b) NIM : PO7130015031
c) Tempat Tanggal : Sangatta, 07 Februari 1998
Lahir
d) Agama : Islam
e) Alamat : Jl. Thalua Konci, Mamboro
Barat
2. Riwayat Pendidikan
a) Tamat SDN Yapi tahun 2009
b) Tamat SMP Negeri 2 Ulubongka tahun 2012
c) Tamat SMK Informatika Komputer Ampana Kota tahun 2015
d) Terdaftar sebagai Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Palu Jurusan
Kesehatan Lingkungan tahun 2015, Tamat tahun 2018
3. Riwayat Keluarga
a) Ayah :
 Nama : Amran Saragih
 Pekerjaan : Wiraswasta
 Alamat : Desa Mire, Kec. Ulubongka,
Kab. Tojo Una – Una
b) Ibu :
 Nama : Rukiah Padang, S.Pd
 Pekerjaan : PNS
 Alamat : Desa Mire, Kec. Ulubongka,
Kab. Tojo Una – Una
ii
iii
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU
JURUSAN KESEHATAN LIGKUNGAN

RINI WIDIYANITA SARAGIH 2018 : Korelasi Lingkungan Fisik Dengan


Gangguan Belajar Siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu Pembimbing : (1) I
Made Subur, SST., M.Kes.
(2) Andi Bungawati, SKM., M.Kes.

ABSTRAK

xii + 61 halaman + 6 tabel + 9 lampiran + 20 daftar pustaka

Gangguan belajar adalah suatu kondisi di mana siswa tidak dapat belajar
secara wajar yang disebabkan oleh adanya ancaman, hambatan atau gangguan
belajar tertentu. Gangguan Belajar disebabkan oleh Kebisingan, kelembaban,
suhu dan pencahayaan.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah Analitik Dimana
penelitian ini melakukan Survey Analitik menggunakan Pendektan jenis Cross
Sectional yaitu penelitian dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan
data sekaligus pada suatu saat. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
ruangan kelas yang berjumlah 11 kelas dan siswa berjumlah 301 siswa yang
berada di SD Inpres 8 Mamboro Inti. Sampel dalam penelitian ini adalah 39
siswa.
Hasil penelitian menunjuk secara uji statistik didapatkan nilai p.value =
0,576 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha)
ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi kebisingan dengan
gangguan belajar siswa. untuk kelembaban didapatkan nilai p.value = 0,726 (α >
0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat
disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi kelembaban dengan gangguan belajar
siswa. untuk suhu didapatkan nilai p.value = 0,559 (α > 0,05), Jika Nilai p.value
(α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak
adanya korelasi suhu dengan gangguan belajar siswa. sedangakan untuk
pencahayaan didapatkan nilai p.value = 0,138 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α >
0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak
adanya korelasi pencahayaan dengan gangguan belajar siswa SD Inpres 8
Mamboro Inti Kota Palu.
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa tidak ada korelasi kebisingan,
kelembaban, suhu dan pencahayaan dengan gangguan belajar.

Kata Kunci : Kebisingan, kelembaban, suhu dan pencahayaan dengan gangguan


belajarSD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

iv
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat

dan nikmatnyalah sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan Tugas

Akhir ini sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi DIII

di Poltekkes Kemenkes Palu Jurusan Kesehatan Lingkungan yang berjudul

“Korelasi Lingkungan Fisik Dengan Gangguan Belajar Siswa SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu”.

Penulis menyadari bahwa sepenuhnya Tugas Akhir ini masih jauh dari

kesempurnaan, baik dari cara penulisan, tata bahasa, dan lainnya. Hal ini

disebabkan karena keterbatasan kemampuan dan waktu yang dimiliki oleh

penulis. Penulis tidak akan dapat menyelesaikan tanpa bantuan, bimbingan dan

doa dari berbagai pihak. Untuk itu melalui kesempatan ini penulis menyampaikan

rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Allah SWT selaku Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan

jasmani dan rohani serta kesempatan menyelesaikan Tugas Akhir Ini.

2. Ibu dan Ayah tercinta dan semua keluarga yang tulus dan ikhlas memberikan

dorongan serta doa selama penulis mengikuti pendidikan sampai dapat

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

3. Bapak Nasrul, SKM. M.kes Selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes

Palu.

4. Ibu Andi Bungawati, SKM. M.Si Selaku Ketua Jurusan Kesehatan

Lingkungan.
v
5. Bapak I Made Subur, SST., M.Kes Sebagai Pembimbing 1 yang memberikan

arahan dan masukan-masukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

6. Ibu Andi Bungawati, SKM. M.Si Selaku Pembimbing 2 yang telah

memberikan arahan dan masukkan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

7. Bapak Alexsius Taunaumang, SKM., M.Kes Sebagai Ketua Penguji yang

telah memberikan masukan-masukan berupa kritik dan saran dalam

penyusunan Tugas Akhir ini.

8. Bapak Dr.Sugeng Nuradji, SST. MT Sebagai Penuji 1 yang memberikan

arahan dan masukan-masukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.

9. Ibu Ros Arianty, SST., MM Sebagai Sebagai Penguji 2 yang telah

memberikan masukan-masukan berupa kritik dan saran dalam penyusunan

Tugas Akhir ini.

10. Ibu Novarianti, SKM. M.Kes yang telah memberikan izin untuk peminjaman

alat K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Jurusan Kesehatan Lingkungan.

11. Ka Fatma, AMKL yang telah banyak membantu dalam Peminjaman alat K3

(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Jurusan Kesehatan Lingkungan.

12. Bapak Sugiman, SKM. Selaku Kepala Sub Unit Perpustakaan Poltekkes

Kemenkes Palu beserta para Staf Perpustakaan yang telah banyak membantu

dalam menemukan referensi yang terkait dengan Tugas Akhir ini.

13. Magfirah yang telah membantu dalam melakukan penelitian .

14. Terima kasih kepada teman-teman angkatan 2015 yang telah banyak

memberikan semangat dan motivasi.

vi
Penulis berharap semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi para

pembaca dan dengan segala keterbatasan peneliti menyadari bahwa Tugas

Akhir ini masih banyak kekurangan ataupun kekeliruan. Oleh karena itu,

penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk

penyusunan Tugas Akhir kedepannya.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada semua pihak yang membantu semoga Allah S.W.T. memberikan

balasan yang setimpal, Aamiin.

vii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL...................................................................................................................i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................ii

LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI............................................................................iii

ABSTRAK.....................................................................................................................................iv

KATA PENGANTAR................................................................................................................v

DAFTAR ISI...............................................................................................................................viii

DAFTAR TABEL.......................................................................................................................xi

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................................xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................................1

B. Rumusan Masalah..................................................................................................5

C. Tujuan Penelitian....................................................................................................5

D. Manfaat Penelitian.................................................................................................6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Lingkungan Fisik Dengan Gangguan Belajar..........................7

B. Kebisingan................................................................................................................8

C. Zona Kebisingan.....................................................................................................9

D. Sumber Kebisingan..............................................................................................10

E. Alat Ukur Kebisingan...........................................................................................11

F. Dampak Kebisingan..............................................................................................12

viii
G. Kebisingan Lalu Lintas 15

H. Pengertian Kelembaban dan Suhu 16

I. Dampak Kelembaban dan Suhu pada Ruangan Kelas 16

J. Alat Ukur Kelembaban dan Suhu ( Thermohygrometer ) 18

K. Pencahayaan 18

L. Alat Ukur Pencahayaan ( Lux Meter ) 19

M. Manfaat Pencahayaan di dalam Ruangan Kelas 20

N. Dampak Kurangnya Pencahayaan di dalam Ruangan Kelas 21

O. Kerangka Konsep 22

P. Hipotesis 22

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian 24

B. Waktu dan Tempat Penelitian 24

C. Populasi dan Sampel 25

D. Variabel Penelitian 27

E. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif 28

F. Teknik Pengumpulan Data 31

G. Prosedur Kerja Kebisingan 31

H. Prosedur Kerja Kelembaban dan Suhu 33

I. Prosedur Kerja Pencahayaan 34

J. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data 36

K. Penyajian Data 37

ix
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 38

B. Hasil Penelitian 38

C. Pembahasan 45

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 55

B. Saran 56

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................57

LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Hasil Pengukuran Kebisingan di SD Inpres 8 Mamboro Inti

Kota Palu 39

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Kelembaban di SD Inpres 8 Mamboro Inti

Kota Palu 40

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Suhu di SD Inpres 8 Mamboro Inti

Kota Palu 41

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Pencahayaan di SD Inpres 8 Mamboro Inti

Kota Palu 42

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Hasil Pengukuran Gangguan Belajar

Khusus Menggunakan Kuesioner Di Setiap Ruangan Kelas

di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu 43

Tabel 4.6 Analisis Korelasi Kebisingan, Kelembaban, Suhu, Pencahayaan

dengan Gangguan Belajar di SD Inpres 8 Mamboro Inti

Kota Palu 44

xi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Surat Permohonan Izin Penelitian

Lampiran 2 : Surat Balasan Penelitian

Lampiran 3 : Hasil Pengukuran Kebisingan

Lampiran 4 : Hasil Pengukuran Kelembaban

Lampiran 5 : Hasil Pengukuran Suhu

Lampiran 6 : Hasil Pengukuran Pencahayaan

Lampiran 7 : Hasil Uji Correlations Kebisingan, Kelembaban, Suhu,

Pencahayaan dengan Gangguan

Belajar Lampiran 8 : Kuesioner Penelitian Lampiran 9 :

Dokumentasi Penelitian

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah hal yang sudah sewajarnya diperoleh oleh

seluruh manusia di seluruh penjuru dunia. Pendidikan adalah pembelajaraan

dimana umumnya aktivitas yang dilakukan adalah penyaluran informasi dan

pengetahuan dari pengajar ke pelajar. Anak usia sekolah atau dimulai saat

anak memasuki sekolah dasar pada usia 6 tahun. Anak usia sekolah dapat

berkonsentrasi lebih dari satu aspek situasi serta mereka dapat memahami

suatu objek dari sudut pandang yang berbeda (Potter & Perry, 2010).

Belajar selalu dihadapkan pada masalah-masalah yang komplek, hal ini

karena proses belajar mengajar adalah proses dalam diri seseorang yang sulit

dikatakan secara pasti. Yang jelas dalam proses belajar mengajar selalu

terdapat aktifitas baik jasmani maupun rohani, dengan aktifitas itulah

seseorang dikatakan belajar Sedangkan Konsentrasi belajar sangatlah penting

karena berkaitan dengan usaha seseorang untuk memfokuskan perhatian pada

Guru sehingga dapat memahami dan mengerti yang diperhatikan. Menurut

United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Mulyono

Abdurrahman, bahwa Kesulitan belajar (Learning Disability) adalah suatu

gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup 1
pemahaman dan penggunaan bahasa atau tulisan, dan gangguan tersebut

menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara,

membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Hal tersebut dipengaruhi oleh

dua faktor, yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal Proses pembelajaran

membutuhkan konsentrasi, oleh karena itu setiap anak dalam mengikuti

pembelajaran di sekolah diharapkan dapat berkonsentrasi dengan baik.

Kemampuan anak dalam berkonsentrasi akan mempengaruhi kecepatan

dalam menangkap materi yang diberikan oleh guru pada proses pembelajaran.

Kualitas penyaluran ini dipengaruhi oleh berbagai hal. Gangguan yang sering

terjadi adalah gangguan karena kebisingan, kelembaban, suhu serta

pencahayaan (Mulyadiprana & Simanjuntak, 2009).

Kebisingan dapat di sebabkan karena pengguna jasa transportasi di

wilayah yang dilewati baik diperkotaan maupun dipedesaan dan keramaian

lalu lintas pada wilayah tersebut. Tingginya intensitas kendaraan yang

melintas di jalan yang dilewati tentunya mempunyai dampak lingkungan di

sepanjang jalan yang dilewati kendaraan (Purwadi, 2006).

Sedangkan Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

(KMNLH) No. 48 Tahun 1996 bahwa kebisingan adalah bunyi yang tidak

diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang

dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan

2
lingkungan. Tingkat kebisingan tidak boleh melebihi nilai ambang batas yaitu

55 dB. kebisingan biasanya dianggap sebagai suara yang tidak diinginkan dan

akan menimbulkan efek kurang baik terhadap kesehatan seperti kurang

pendengaran orang yang bersangkutan (Ikron et al, 2007). Kebisingan lalu

lintas yang tinggi dalam waktu yang cukup lama akan menimbulkan

ketidaknyamanan bagi orang yang mendengar dan membuat lingkungan

sekitar menjadi terganggu (Umiati, 2011).

Untuk meningkatkan konsentrasi belajar yang baik selain kebisingan

dapat juga dipengaruhi oleh sistem penerangan karena suatu penerangan juga

diperlukan oleh manusia untuk mengenali suatu obyek secara visual.

Penerangan mempunyai pengaruh terhadap kualitas belajar agar siswa yang

sedang menerima mata pelajaran didalam kelas dapat melihat secara jelas dan

tidak mengganggu kosentrasi belajar siswa tersebut. Standar pencahayaan

ruangan kelas yang baik membutuhkan tingkat pencahayaan 250-300 lux

(Darmasetiawan,1991). Ruangan yang berfungsi sebagai tempat belajar harus

dapat memenuhi standar pencahayaan atau siswa dapat membaca suatu obyek

secara baik (KEPMENKES RI, 2002).

Selain kebisingan dan pencahayaan Hawa segar juga dibutuhkan dalam

ruangan. Udara segar diperlukan untuk menjaga temperature dan kelembaban

udara dalam ruangan agar siswa yang sedang menerima mata pelajaran

3
didalam kelas merasa nyaman dan tidak kepanasan saat berada di dalam kelas

(Riviwanto,2011). Sedangkan Peraturan Mentri Kesehatan, 2002 tentang

pedomanan penyehatan udara dalam ruangan kerja Nilai Ambang Batas

0 0
(NAB) adalah 18 C sampai 30 C sedangkan kelembaban udara dalam

ruangan kerja yaitu berkisar antara 40% sampai 70%. Berdasarkan hasil

penelitian yang pernah dilakukan pada SD Negeri Tukangan di Yogyakarta.

kondisi lingkungan fisik kelas kurang diperhatikan, Lingkungan yang dapat

mempengaruhi Gangguan belajar adalah lingkungan yang tidak tenang atau

bising serta pencahyaan yang kurang baik dan kondisi kelembaban serta suhu

di dalam ruangan kelas yang kurang nyaman (Nugroho, 2007).

Jika dilihat dari Kondisi Lingkungan Fisik SD Inpres 8 Mamboro Inti,

kebisingan sering kali terjadi pada saat proses belajar mengajar, karena letak

kelas dari sekolah berdekatan dengan jalan raya dan berdekatan dengan

tempat pemberhentian lalu lintas (traffic light), sehingga sangat rawan dengan

paparan polusi kebisingan yang sering mengganggu aktifitas belajar mengajar

di sekolah, dan pencahayaan dalam ruangan kelas harus diperhatikan dan

kurangnya penanaman pohon mengakibatkan ruangan kelas menjadi panas.

Berdasarkan Latar Belakang tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk

meneliti Korelasi lingkungan fisik Dengan Gangguan Belajar SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu.

4
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka peneliti dapat

merumuskan masalah yang diteliti yaitu:

Apakah Korelasi lingkungan fisik dengan Gangguan belajar siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Gangguan lingkungan

fisik Kebisingan, Kelembaban, Suhu Dan Pencahayaan Gangguan

Belajar di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya Korelasi Kebisingan Dengan Gangguan Belajar Siswa

SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

b. Diketahuinya Korelasi Kelembaban Dengan Gangguan Belajar

Siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

c. Diketahuinya Korelasi Suhu Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

d. Diketahuinya Korelasi Pencahayaan Dengan Gangguan Belajar

Siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

5
D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Pihak SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

Agar dapat memberikan bahan masukkan atau informasi bagi pihak

SD Inpres 8 Mamboro Inti yang diduga terpapar kebisingan dari

keramaian lalu lintas jalan raya dan pengaruh pencahayaan serta

kelembaban dan suhu dalam ruangan kelas.

2. Bagi Instansi

Adalah Sumber informasi bagi Sekolah dalam kebisingan,

Kelembaban, Suhu dan Pencahayaan terutama untuk SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu.

3. Bagi Peneliti

Agar dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta dapat

memberikan informasi yang dapat berguna untuk peneliti berikutnya.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Lingkungan Fisik Dengan Gangguan Belajar

Lingkungan fisik sekolah yang nyaman adalah suasana lingkungan

belajar yang nyaman dan akan mendukung proses belajar secara optimal.

Suasana ini berasal dari lingkungan yang baik, tidak bising, pencahayaan

yang baik saat belajar dan kelembaban ruangan yang memungkinkan anak-

anak yang sedang belajar merasa nyaman saat berada di dalam kelas.

Proses belajar mengajar di sekolah, diharapkan para siswa dapat

mencapai tujuan belajar dengan sebaik-baiknya. Tetapi pada kenyataannya

berbagai hal dapat menghambat tercapainya tujuan belajar tersebut. Banyak

anak yang tidak dapat mencapai tujuan belajar karena mengalami kesulitan

dalam belajar, dan kesulitan belajar itu dapat menjadi masalah bagi anak

maupun bagi guru, dan konsentrasi sangatlah penting karena berkaitan

dengan usaha seseorang untuk memfokuskan perhatian pada Guru sehingga

dapat memahami dan mengerti yang dijelaskan. Proses pembelajaran

membutuhkan konsentrasi, dalam mengikuti pembelajaran di sekolah

diharapkan setiap anak dapat berkonsentrasi dengan baik. Kemampuan anak

dalam berkonsentrasi akan mempengaruhi kecepatan dalam menangkap

materi yang diberikan oleh guru pada proses pembelajaran. Menurut United 7
States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Dr. Mulyono

Abdurrahman, bahwa Kesulitan belajar (Learning Disability) adalah suatu

gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup

pemahaman dan penggunaan bahasa atau tulisan, dan gangguan tersebut

menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berfikir, berbicara,

membaca, menulis, mengeja, atau berhitung. Hal tersebut di pengaruhi oleh

dua faktor, yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal. Gangguan Konsentari

belajar seperti Kebisingan, Pencahyaan yang kurang baik di dalam kelas, dan

kelembaban ruangan yang kurang baik mengakibatkan konsentrasi belajar

menjadi menurun (Mulyadiprana & Simanjuntak, 2009).

B. Kebisingan

Davis Cornwell dalam Djalante (2010) mendefinisikan, bahwa

kebisingan berasal dari kata bising yang artinya semua bunyi yang

mengalihkan perhatian,mengganggu, atau berbahaya bagi kegiatan sehari-

hari. Bising, umumnya didefisinisikan sebagai bunyi yang tidak diinginkan

dan juga dapat menyebabkan polusi lingkungan. Ditambahkan lagi oleh

Djalante (2010) suara adalah sensasi atau rasa yang dihasilkan oleh organ

pendengaran manusia, ketika gelombang-gelombang suara dibentuk di udara

sekeliling manusia melalui getaran yang diterimanya.

8
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (1996) mendefinisikan, bahwa

kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan

dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan

kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Sedangakan menurut Sv

Szokolay dalam jurnal penelitian Setiawan (2010) kebisingan didefinisikan

sebagai getaran-getaran yang tidak teratur, dan memperlihatkan bentuk yang

tidak biasa. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah pola

intensitas, frekuensi dan pembangkitan. Kebisingan itu sendiri biasanya

dianggap sebagai bunyi yang tidak dikehendaki. Bunyi terjadi ketika telinga

manusia mendengar pada tekanan kecil yang naik turun di udara, yang

disebabkan oleh pergerakan getaran dari benda padat. Kebisingan dapat

dideskripsikan dalam beberapa istilah dari tiga variabel yaitu amplitudo,

frekuensi, dan pola waktu.

C. Zona Kebisingan

Peraturan menteri kesehatan No. 718 tahun 1987 dalam Setiawan

(2010) tentang kebisingan pada kesehatan dibagi menjadi empat zona wilayah

yaitu:

1. Zona A adalah zona untuk Rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau

sosial. Intensitas tingkat kebisingannya berkisar 35-45 dB.

9
2. Zona B adalah untuk perumahan, tempat pendidikan, dan rekreasi.

Membatasi angka kebisingan antara 45-55 dB.

3. Zona C antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar. Dengan

kebisingan sekitar 50-60 dB.

4. Zona D untuk lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api dan terminal

bus.Tingkat kebisingan berkisar 60-70 dB.

D. Sumber Kebisingan

Sumber-sumber bising pada dasarnya ada tiga macam, yaitu sumber

bising titik, sumber bising bidang dan sumber bising garis. Kebisingan yang

diakibatkan lalu lintas adalah kebisingan garis (Suroto, 2010). Sumber-

sumber kebisingan menurut Prasetio (1985) dapat bersumber dari:

1. Bising interior yaitu sumber bising yang bersumber dari manusia, alat-

alat rumah tangga, atau mesin-mesin gedung.

2. Bising outdoor yaitu sumber bising yang berasal dari lalu lintas,

transportasi,industri, alat-alat mekanis yang terlihat dalam gedung,

tempat-tempat pembangunan gedung, perbaikan jalan, kegiatan olahraga

dan lain-lain di luar ruangan atau gedung.

10
E. Alat Ukur Kebisingan

Standar alat untuk mengukur kebisingan adalah Sound Level Meter

(SLM). Pengukuran dalam SLM dikategorikan dalam tiga jenis karakter

respon frekuensi, yaitu ditunjukkan dalam skala A, B, dan C. Skala A yang

ditemukan paling dapat mewakili batas pendengaran manusia dan respon

telinga manusia terhadap kebisingan, termasuk kebisingan yang dapat

menimbulkan gangguan pendengaran. Skala A tersebut dinyatakan dalam

satuan dBA (Djalante, 2010).

Dalam penelitian Buchari (2007), menjelaskan untuk alat ukur

kebisingan yaitu Sound Level Meter (SLM) dan untuk mengukur ambang

pendengaran digunakan alat Audiometer. Sound Level Meter (SLM) adalah

alat untuk mengukur suara. Mekanisme kerja dari SLM adalah apabila ada

benda bergetar, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan udara

yang mana perubahan tersebut 19 dapat ditangkap oleh alat ini, sehingga akan

menggerakkan meter petunjuk atau jarum petunjuk. Sedangkan untuk

Audiometer, adalah alat untuk mengukur nilai ambang pendengaran. Nilai

ambang pendengaran adalah suara yang paling lemah yang dapat didengar

manusia. Audiogram adalah chart hasil pemerikasaan audiometri. Pengukuran

kebisingan yang terdapat dalam KMNLH No. 48 (1996) dapat dilakukan

dengan dua cara yaitu:

11
1. Cara sederhana. Dengan sebuah Sound Level Meter, biasa diukur tingkat

tekanan bunyi dB (A) selama 10 menit untuk tiap pengukuran.

Pembacaan dilakukan setiap 5 detik.

2. Cara langsung. Dengan sebuah integrating Sound Level Meter yang

mempunyai fasilitas pengukuran LTMS, yaitu Leq dengan waktu ukur

setiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit.

F. Dampak Kebisingan

Gangguan dari kebisingan atau dari bunyi pada tingkat tertentu masih

dapat diadaptasi oleh fisik manusia namun pada syaraf manusia dapat

terganggu kinerjanya, akibatnya dapat menyebabkan gangguan atau

kerusakan yang lebih parah. Kebisingan yang terpapar pada manusia biasanya

memberikan dampak yang mengganggu, misalnya saja gangguan

pendengaran. Gangguan pendengaran, merupakan perubahan yang terjadi

pada tigkat pendengaran yang mengakibatkan kesulitan dalam menjalani

kehidupan normal. Gangguan pendengaran biasanya terjadi saat memahami

suatu pembicaraan (Buchari, 2007).

Tingkat kebisingan yang dapat diterima oleh manusia dari segi

kesehatan tergantung pada berapa lama pendengaran terpapar kebisingan.

Beberapa penelitian di banyak negara mendapatkan tingkat kebisingan yang

dapat diterima masyarakat seperti yang dijelaskan pada gambar 2.2. Tingkat
12
kebisingan yang masih bisa ditolerir oleh manusia tergantung pada kegiatan

apa yang sedang dilakukan.

Apabila kebisingan terpapar pada seseorang yang sedang belajar, maka

kebisingan yang sangat rendah sekalipun dianggap mengganggu, sumber

kebisingan yang berdampak pada seseorang yang belajar bukan hanya

bersumber dari dalam ruangan saja akan tetapi juga sekeliling dan luar

ruangan belajar tersebut. Seperti yang diungkapkan Hidayati (2007) bahwa

belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal saja akan tetapi juga

faktor ekstenal, yaitu kondisi lingkungan sekitar belajarnya. Kebisingan

merupakan gangguan dalam proses belajar mengajar, kebisingan pada

intensitas yang lama dan pada tingkat tertentu dapat membahayakan

kesehatan.

Woolner et al. (2010) menjelaskan dampak kebisingan dalam belajar

yaitu dimana kondisi bising yang memapar ruang belajar dapat memberikan

efek negatif secara langsung pada pembelajaran, khususnya pemahaman

bahasa dan perkembangan membaca. Sedangkan penyebab tak langsung

permasalahan tersebut yaitu para pelajar sering mengalami perasaan bingung

atau jengkel ketika belajar saat terjadi kebisingan.

Kebisingan juga dapat menyebabkan pelemahan saat mendengarkan,

gangguan komunikasi, gangguan tidur, penyebab terhadap efek jantung atau

13
urat-urat darah dan efek psiko-fisiologi, menurunkan performansi fisik, dan

menimbulkan respon kejengkelan serta perubahan dalam perilaku sosial.

Sebagian besar konsekuensi sosial dari gangguan pelemahan pendengaran

adalah kemampuan untuk memahami pembicaraan dalam kondisi normal

(WHO information, 2001).

Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (KMNLH)

(1996) dalam Setiawan (2010), jenis-jenis dari dampak kebisingan ada dua

tipe yang diuraikan sebagai berikut:

1. Akibat badaniah. Kehilangan pendengaran: terjadi perubahan ambang

batas sementara akibat kebisingan dan perubahan ambang batas

permanen akibat kebisingan.

2. Akibat fisiologis: rasa tidak nyaman atau stres meningkat, tekanan darah

meningkat, sakit kepala, bunyi denging. Akibat-akibat psikologis yaitu :

Gangguan emosional: kejengkelan, kebingungan, Gangguan gaya hidup:

gangguan tidur atau istirahat, hilang konsentrasi waktu bekerja, membaca

dan lain-lain. Gangguan pendengaran: merintangi kemampuan

mendengar bunyi TV, radio, percakapan, telepon dan sebagainya.

14
G. Kebisingan Lalu Lintas

Lalu lintas jalan merupakan sumber utama kebisingan yang dianggap

mengganggu sebagian besar masyarakat. Kebisingan sering terjadi di jalan-

jalan yang sebagian besar aktifitas masyarakat juga terjadi di lingkungan

yang berdekatan dengan jalan raya, seperti misalnya sekolah, masjid dan

kantor-kantor. Kebisingan lalu lintas ini dianggap sangat mengganggu namun

juga tidak dapat dipungkiri, salah satu sumber bising lalu lintas antara lain

adalah kendaraan bermotor, baik roda dua, roda tiga maupun roda empat,

sumber yang menyebabkan kebisingan antara lain yaitu bunyi klakson yang

dibunyikan pada saat kendaraan ingin saling mendahulu atau yang lainnya

dan juga pada saat lampu lalu lintas tidak berfungsi, bunyi knalpot kendaraan

bermotor akibat penekanan pedal yang berlebihan, gesekan ban dengan jalan

beraspal pada saat pengereman dan lain sebagainya (Ikron et al., 2007).

Perkembangan yang semakin meningkat pada transportasi di jalan raya

yang berdampak pada lingkungan di sepanjang jalan yang ramai dengan

sarana transportasi (Purwadi, 2006). Peristiwa ini menimbulkan masalah baru

pada transportasi, contoh serius dalam permasalahan transportasi adalah

polusi suara (kebisingan) yang ditimbulkan oleh lalu lintas terhadap

lingkungan sekitarnya, yang secara langsung adalah kawasan pendidikan

yang berada di wilayah perkotaan yang padat lalu lintas (Hidayati, 2007).

15
H. Pengertian Kelembaban Dan Suhu

Kelembaban udara adalah kadar uap air yang ada di udara. Dimana

kelembaban udara merupakan bagain dari komponen iklim yang memiliki

pengaruh terhadap lingkungan. Kelembaban udara relatif adalah rasio antara

tekanan uap air aktual pada temperatur tertentu dengan tekanan uap air jenuh

pada temperature tersebut. Berdasarkan Peraturan Mentri Kesehatan

No:1405/Menkes/SK/XI/2002 tentang pedomanan penyehatan udara dalam

ruangan kerja Nilai Ambang Batas (NAB) atau standar untuk temperature

0 0
ruangan adalah 18 C sampai 30 C kelembaban udara dalam ruangan kerja

yaitu berkisar antara 40% sampai 70% untuk situasi kerja masih bisa dihadapi

oleh tenaga kerja di dalam bekerja sehari-hari dimana tidak mengakibatkan

penyakit atau gangguan.

Suhu biasanya didefinisikan sebagai ukuran atau derajat panas suatu

benda atau sistem. Alat yang dapat diguanakn dalam mengukur suhu adalah

Thermometer sedangkan (Suma’mur,2009).

I. Dampak Kelembaban Dan Suhu Pada Ruangan Kelas

Kelembaban udara merupakan faktor penting dalam kenyamanan saat

suhu udara mendekati ambang batas kenyamanan dan kelembaban udara 70%

serta kurang dari 40% mempengaruhi pelepasan kalor dari tubuh manusia

16
sehingga menciptakan rasa tidak nyaman. Lingkungan yang mempunyai

kelembaban relatif tinggi mencegah penguapan keringat dari kulit karena

lingkungan yang panas, memiliki sedikit keringat untuk menguap, sehingga

menimbulkan rasa gerah bagi individu yang berada dilingkungan tersebut.

Kelas yang tidak memiliki kelembaban yang memenuhi syarat kesehatan

akan membawa pengaruh bagi penghuninya. Kelas yang lembab merupakan

media yang baik bagi pertumbuhan mikrorrganisme antara lain bakteri dan

virus. Mikroorganisme tersebut dapat masuk kedalam tubuh melalui udara.

Selain itu Siswa akan merasa kurang nyaman berada didalam kelas dan akan

mengakibatkan Konsentrasi belajar dapat menurun. Kondisi kelembaban

yang tinggi dibutuhkan kecepatan angin yang cukup di dalam ruang seperti

kipas angin. Kelas yang memiliki vegetasi akan menyebabkan penguapan

pada tumbuhan (Transpirasi) sehingga ruang kelas memiliki kelembaban

yang tinggi dengan temperatur ruang yang rendah sesuai pengukuran

dilapangan, sedangkan kelembaban yang rendah di akibatkan oleh posisi

letak kelas menghadap arah sinar matahari serta tidak memilki vegetasi yang

lebat sehingga mempengaruhi kelembaban relatif pada ruang kelas (Susanti,

L,2013).

17
J. Alat Ukur Kelembaban dan Suhu ( Thermohygrometer )

Thermohygrometer adalah sebuah alat yang menggabungkan antara

fungsi termometer dengan hygrometer. Alat thermohygrometer ini dapat

dipakai untuk mengukur suhu udara dan kelembaban baik di ruang tertutup

maupun diluar ruangan.

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu

(temperatur), atau perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa

Latin thermo yang berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur, dan

0
satuan pengukurannya yang paling sering adalah derajat Celcius ( C).

Hygrometer adalah alat yang digunakan untuk menghitung persentase

uap air (embun) yang berada di udara, atau lebih mudahnya alat untuk

mengukur tingkat kelembaban udara. Satuan pengukuran untuk Hygrometer

adalah Persentase (%). Semakin besar angka persentasenya maka

kelembabannya semakin tinggi, begitupun sebaliknya (Lakitan, 2002).

K. Pencahayaan

Pencahayaan atau penerangan merupakan salah satu komponen agar

pekerja dapat bekerja atau mengamati benda yang sedang dikerjakan secara jelas,

cepat, nyaman dan aman. Lebih dari itu penerangan yang memadai akan

memberikan kesan pemandangan yang baik dan keadaan lingkungan yang

18
menyegarkan. Sebuah benda akan terlihat bila benda tersebut memantulkan

cahaya, baik yang berasal dari benda itu sendiri maupun berupa pantulan

yang datang dari sumber cahaya lain, dengan demikian maksud dari

pencahayaan adalah agar benda terlihat jelas. Pencahayaan tersebut dapat

diatur sedemikian rupa yang disesuaikan dengan kecermatan atau jenis

pekerjaan sehingga memelihara kesehatan mata dan kegairahan kerja (Subaris

dan Haryono, 2008).

L. Alat Ukur Pencahayaan ( Lux Meter )

Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan

lingkungan yang aman dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas

manusia. Alat untuk mengukur pencahayaan ialah Lux meter. Pencahayaan

yang baik memungkinkan orang dapat melihat objek-objek yang

dikerjakannya secara jelas dan cepat. Untuk ruang kelas, jika ditinjau

menurut kegiatannya hanya mempunyai satu kegiatan utama, yaitu kegiatan

belajar mengajar. Umumnya, ruang kelas merupakan suatu ruangan dalam

yang berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan tatap mukadalam proses

kegiatan belajar mengajar.

19
M. Manfaat Pencahayaan di dalam Ruangan Kelas

Ruang kelas digunakan sebagai tempat mentransfer ilmu dari guru

kepada siswanya. Kondisi yang nyaman dan sehat adalah salah satu faktor

yang sangat penting dalam menunjang proses mentransfer ilmu dalam proses

belajar dan mengajar yang berlangsung. Demikian juga kondisi kelas tidak

hanya harus nyaman tapi juga harus memenuhi standar yang ditetapkan yang

berkolerasi dengan kesehatan dari peserta didik dan juga para guru. Perlu

diadakan evaluasi terhadap kualitas system pencahayaan, terutama diruang

kelas Sekolah Dasar yang sudah ada, karena banyaknya perubahan

lingkungan yang ada, baik itu disebabkan faktor eksternal maupun faktor

internal. Faktor Eksternal lebih pada design awal sebuah sekolah yang

memiliki standar yang telah di tetapkan berdasarkan kajian-kajian yang ada

pada masa standar itu di tetapkan. Kajian-kajian tersebut misalnya tata massa

bangunan dan arah orientasi bangunan berdasarkan kondisi di sekeliling.

Sedangkan pada masa sekarang ini terutama di kawasan perkotaan, kondisi

sekeliling site sudah banyak berubah dari saat standar – standar itu di

tetapkan. Perubahan kondisi lingkungan sekitar sekolah tidak terprediksi dan

tak terkontrol. Kondisi isu global warming yang membuat pemerintah

mengalakkan program di lingkungan sekolah sebagai respon atas isu tersebut,

membuat sekolah harus memiliki banyak Tanaman baik tanaman rendah

20
maupun pelindung, Kondisi ini membuat terhalangnya atau berkurangnya

kuat pencahayaan yang masuk ke dalam kelas. Kondisi pencahayaan buatan

juga kurang mendukung karena di buat seadanya dan tidak sesuai dengan

kondisi sesuai standar yang diatur. Belum lagi ditambah dengan

berkembangnya lingkungan bangunan di sekitar sekolah. Standar

pencahayaan ruangan kelas yang baik membutuhkan tingkat pencahayaan

250-300 lux (Darmasetiawan,1991).

N. Dampak Kurangnya Pencahayaan di dalam Ruangan Kelas

Hasil penelitian pada Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular Badan

Lembaga Kesehatan Depkes RI menyatakan, akibat dari pemakaian fasilitas

kerja yang tidak ergonomis akan menyebabkan perasaan tidak nyaman,

konsentrasi menurun, mengantuk dan lain sebagainya, hal ini dapat terjadi

juga pada siswa sekolah dasar dalam kualitas penerangan ruang kelasnya.

Adapun bila kondisi tersebut berlangsung lama dan secara terus menerus

(selama masa sekolah) akibat yang ditimbulkan akan lebih jauh akan dapat

menyebabkan gangguan penglihatan (Depkes RI, 2008).

21
O. Kerangka Konsep

Kebisingan, Kelembaban, Suhu dan Pencahayaan diukur menggunakan

alat ukur agar dapat ditentukan memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat

dengan gangguan belajar Siswa SD inpres 8 Mmamboro inti.

Kebisingan

Kelembababan
Gangguan Belajar
Suhu

Pecahayaan

P. Hipotesis

1. Hipotesis Nol

a. Tidak Ada Korelasi Kebisingan Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

b. Tidak Ada Korelasi Kelembaban Dengan Gangguan Belajar

Siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

c. Tidak Ada Korelasi Suhu Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

d. Tidak Ada Korelasi Pencahayaan Dengan Gangguan Belajar

Siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

22
2. Hipotesis Alternatif

a. Ada Korelasi Kebisingan Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

b. Ada Korelasi Kelembaban Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

c. Ada Korelasi Suhu Dengan Gangguan Belajar Siswa SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu.

d. Ada Korelasi Pencahayaan Dengan Gangguan Belajar Siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

23
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah analitik

dimana penelitian ini melakukan survey analitik menggunakan pendektan

jenis cross sectional, yaitu penelitian dengan cara pendekatan, observasi atau

pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach) dan tiap

subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran serta

pembagian kuesioner dilakukan saat pemeriksaan. Hal ini tidak berarti bahwa

semua subjek penelitian diamati pada waktu yang sama (Notoatmodjo, 2010).

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui intesitas kebisingan, kelembaban,

suhu dan pencahayaan, dengan gangguan belajar Siswa SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu.

B. Waktu dan Tempat

Penelitian 1. Waktu

Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2018.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di lingkungan SD Inpres 8 Mamboro Inti,

dikhususkan pada lokasi yang paling berdekatan dengan jalan raya.

24
Alasan pemilihan lokasi tersebut, dikarenakan letak SD Inpres 8

Mamboro Inti berdekatan dengan tempat pemberhentian lalu lintas

(traffic light) di daerah jalan Trans Kota Palu.

C. Populasi dan

Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian dan objek yang

diteliti (Notoatmodjo,2010). Populasi dalam penelitian ini adalah semua

ruangan kelas yang berjumlah 11 kelas dan siswa berjumlah 301 siswa

yang berada di SD Inpres 8 Mamboro Inti.

2. Sampel

Sampel adalah objek yang akan diteliti dan dianggap mewakili

seluruh populasi (Notoatmodjo,2010). Besar sampel dihitung dengan

menggunakan rumus Slovin yaitu :


N
n=
1 + N ( d )2

Keterangan : N = besar populasi

n = besar sampel

d = derajat ketepatan (0,15)

Jadi, dalam pengambilan sampel untuk kosentrasi belajar siswa

menggunakan rumus sebagai berikut :

25
Dik : N = 301 ( Jumlah siswa keseluruhan )

d = 0,15 ( derajat ketepatan )

n = ..?

cara perhitungan :
301
n= 2
1 + 301 ( 0,15 )
301
n=
1 + 6,77
n=
301

7,77
n = 38.37 = 39 Anak

Maka sampel yang didapatkan tiap Kelas SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota

Palu adalah sebagai berikut :

Kelas 1 = 25, maka sampelnya 301 25 x 39 = 3.23 = 3 Anak


22
Kelas 2A = 22, maka sampelnya 301 x 39 = 2,85 = 3 Anak
25
Kelas 2B = 25, maka sampelnya 301 x 39 = 3.23 = 3 Anak
24
Kelas 3A = 24, maka sampelnya 301 x 39 = 3.10 = 3 Anak
28
Kelas 3B = 28, maka sampelnya 301 x 39 = 3.62 = 4 Anak
29
Kelas 4A = 29, maka sampelnya 301 x 39 = 3.75 = 4 Anak

26
25
Kelas 4B = 25, maka sampelnya 301 x 39 = 3.23 = 3 Anak
30
Kelas 5A = 30, maka sampelnya 301 x 39 = 3.88 = 4 Anak
29
Kelas 5B = 29, maka sampelnya 301 x 39 = 3.75 = 4 Anak
30
Kelas 6A = 30, maka sampelnya 301 x 39 = 3.88 = 4 Anak
34
Kelas 6B = 34, maka sampelnya 301 x 39 = 4.40 = 4 Anak

Jadi, total sampel siswa untuk gangguan belajar diperlukan 39 Siswa.

D. Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah :

1. Variabel bebas (Independent) adalah variabel yang mempengaruhi

keberadaan Variabel Terikat.

a. Kebisingan

b. Kelembaban

c. Suhu

d. Pencahyaan

2. Variabel terikat (Dependent) adalah variabel yang mempengaruhi

keberadaan variabel bebas, variabel terikat dalam penelitian ini adalah

gangguan belajar siswa.


27
E. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif

Untuk memberikan pengertian variabel yang diteliti dalam penelitian

ini maka peneliti mengemukakan beberapa definisi operasional.

a. Kondisi lingkungan fisik SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu adalah

Kebisingan, Kelembaban, Suhu dan Pencahayaan Ruangan Kelas.

a. Kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan

dapat menggangnggu belajar siswa.

1) Cara Ukur : Pengukuran


2) Alat Ukur : Sound Level Meter

3) Skala Ukur : Rasio

4) Hasil Ukur :()

a) Memenuhi Syarat bila Intensitasnya < 55 dB

b) Tidak memenuhi syarat bila Intensitasnya ≥55 dB

b. Kelembaban udara adalah kadar uap air yang ada di udara. Dimana

kelembaban udara merupakan bagain dari komponen iklim yang

memiliki pengaruh terhadap lingkungan. Kelembaban merupakan

faktor penting dalam kenyamanan saat proses pembelajaraan

berlangsung Standar untuk kelembaban adalah 40%-70%.

1) Cara Ukur : Pengukuran


2) Alat Ukur : Thermohygrometer

28
3) Skala Ukur : Rasio
4) Hasil Ukur : ( )

a) Memenuhi Syarat bila mendekati ambang batas Kenyamanan

kelembaban udara 40% - 70%.

b) Tidak memenuhi syarat bila <40% dan >70%.

c. Suhu udara didefinisikan sebagai ukuran atau derajat panas dan

0
dingin suatu kelas. Standar untuk temperature Kelas adalah 18 C

0
sampai 30 C.
1) Cara Ukur : Pengukuran

2) Alat Ukur : Thermohygrometer

3) Skala Ukur : Rasio

4) Hasil Ukur :()

a) Memenuhi Syarat bila mendekati ambang batas Kenyamanan

0 0
Suhu Udara 18 C - 30 C

0 0
b) Tidak memenuhi syarat bila <18 C dan >30 C

d. Pencahayaan adalah penerangan secara alami sehingga memberikan

cahaya kepada siswa dalam melaksanakan proses pembelajaraan.

Standar pencahayaan ruangan kelas yang baik membutuhkan tingkat

pencahayaan 250 - 300 lux.

29
1) Cara Ukur : Pengukuran
2) Alat Ukur : Lux Meter

3) Skala Ukur : Rasio

4) Hasil Ukur :()

a) Memenuhi Syarat bila Besarnya ≥250 Lux

b) Tidak memenuhi syarat bila Besarnya < 250 lux

e. Gangguan Belajar adalah kesulitan belajar yang dipengaruhi oleh

dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Suatu gangguan

dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup

pemahaman dan penggunaan bahasa atau tulisan, dan gangguan

tersebut menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan,

berfikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.

1) Cara Ukur : Wawancara


2) Alat Ukur : Kuesioner

3) Skala Ukur : Nominal

4) Hasil Ukur :()

a) Positif (Tidak Terganggu) Gangguan Belajar apabila

Memenuhi Syart Jika Nilai Mean ≥77,8 %.

b) Negatif (Terganggu) Gangguan Belajar apabila Tidak

Memenuhi Syart Jika Nilai Mean < 77,8 %.

30
F. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara dengan responden

yang menjadi sampel dengan menggunakan daftar pertanyaan

(Kuesioner) serta mengukur kebisingan, kelembaban, suhu dan

pencahayaan secara langsung pada ruangan kelas SD Inpres 8 Mamboro

Inti Kota Palu.

2. Data Sekunder

Data Sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain

(Notoatmodjo,2010) Data Sekunder diperoleh dari Unit SD Inpres 8

Mamboro Inti.

G. Prosedur Kerja Kebisingan

1. Sound Level Meter

Merupakan alat utama dalam penelitian kebisingan. SLM digunakan

untuk mengukur intensitas kebisingan. SLM yang digunakan adalah

SLM digital yang mampu mengukur tingkat tekanan bunyi efektif dalam

desibel (dB).

2. Alat Tulis

Merupakan alat yang digunakan untuk mencatat hasil kebisingan yang

didapatkan.
31
3. StopWatch

Digunakan untuk menghitung waktu saat pengukuran.

4. Cara Kerja

a) Pasang baterai pada alat sound level meter.

b) Letakkan alat pada tripot atau pegang pada posisi setinggi 1,25 m dan

arahkan ke sumber bising.

c) Hidupkan alat dengan menekan tombol ON/OFF.

d) Tunggu beberapa saat hingga angka pada layar sound level meter

bergerak dan stabil.

e) Meletakkan alat pengukur kebisingan tidak jauh dari sumber bising

f) Sebelum mengukur kebisingan persiapkan stopwatch untuk mengukur

setiap 5 detik dan siapkan lembar data untuk menulis kebisingan pada

waktu yang telah ditentukan.

g) Lakukan pengukuran dengan menggunakan alat sound lever meter.

h) Cara pemakaian sound level meter : Tekan tombol ON pada alat, jika

alat sudah aktif tekan tombol pencahayaan. Kemudian atur waktu

yang ditentukan. Setelah itu Tekan enter.

i) Selesai pengukuran semua data yang telah ditemukan dicatat dilembar

data agar lebih mudah untuk dimasukkan kedalam rumus.

j) Kemudin masukkan kedalam rumus untuk mendapatkan hasil.

32
H. Prosedur Kerja Kelembaban dan Suhu

1. Thermohygrometer

Termometer pada dasarnya merupakan instrumen yang terdiri dari bahan

yang perubahan sifat fisiknya, karena perubahan suhu dapat mudah

diukur. Sifat fisik yang berubah tersebut dapat berupa perubahan volume

gas, pemuaian logam, perubahan daya hantar listrik atau sifat-sifat fisik

lainnya. Masing-masing jenis termometer akan mempunyai skala yang

berbeda. Oleh sebab itu, perlu dikalibrasi dengan termometer yang

dijadikan patokan (standar). Termometer yang dijadikan patokan adalah

termometer tahanan platina (Platinum Resistance Thermometer) atau

IPTS-68 (Lakitan, 2002).

2. Alat tulis

Merupakan alat yang digunakan untuk mencatat hasil Kelembaban dan

suhu yang didapatkan.

3. Stopwatch

Merupakan alat yang digunakan untuk mencatat hasil Kelembaban yang

didapatkan.

4. Cara Kerja

a) Thermohygrometer

b) Meletakkan alat di 5 titk

33
c) Membiarkan sekitar 5 menit

d) Mencatat suhu dan kelembaban yang tertera pada thermohygrometer

e) Menghitung Rata-Rata Hasil Pengukuran

I. Prosedur Kerja Pencahayaan

1. Lux Meter

Lux meter merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur kuat

penerangan (tingkat penerangan) pada suatu area atau daerah tertentu.

Alat ini didalam memperlihatkan hasil pengukurannya menggunakan

format digital. Alat ini terdiri dari rangka, sebuah sensor dengan sel foto

dan layar panel. Sensor tersebut diletakan pada sumber cahaya yang akan

diukur intenstasnya. Cahaya akan menyinari sel foto sebagai energi yang

diteruskan oleh sel foto menjadi arus listrik. Makin banyak cahaya yang

diserap oleh sel, arus yang dihasilkan pun semakin besar. Sensor yang

digunakan pada alat ini adalah photo diode. Sensor ini termasuk kedalam

jenis sensor cahaya atau optic. Sensor cahaya atau optic adalah sensor

yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya

ataupun bias cahaya yang mengenai suatu daerah tertentu, kemudian dari

hasil dari pengukuran yang dilakukan akan ditampilkan pada layar panel.

2. Kalkulator

Alat yang digunakan untuk menghitung.


34
3. StopWatch

Digunakan untuk menghitung waktu saat pengukuran.

4. Alat Tulis

Merupakan alat yang digunakan untuk mencatat hasil Pencahayaan yang

didapatkan.

5. Cara Kerja

Menentukan titik pengukuran

a) Melakukan pengukuran lokal, yaitu dengan memotong garis

horizontal panjang dan lebar ruangan setiap jarak tertentu setinggi satu

meter dari lantai.

b) Membedakan jarak tersebut berdasarkan luas ruangan.

1) Luas ruangan kurang dari 10 meter persegi: memotong titik garis

horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 1

(satu) meter.

2) Luas rungan lebih dari 10 meter persegi sampai 100 meter persegi:

memotong titik garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah

pada jarak setiap 3 (tiga) meter.

3) Luas rungan lebih dari 100 meter persegi: memotong titik garis

horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 6

(enam) meter.

35
Mempersiapkan alat

a) Memasang baterai pada tempatnya.

b) Menekan tombol power.

Mengukur penerangan umum

a) Membagi ruangan menjadi beberapa titik pengukuran.

b) Melakukan pengukuran dengan tinggi luxmeter kurang lebih 85 cm

diatas lantai dan posisi photo cell menghadap sumber cahaya.

c) Membaca hasil pengukuran pada layar monitor setelah menunggu

beberapa saat sehingga mendapat nilai angka yang stabil.

d) Mencatat hasil pengukuran pada lembar hasil pencatatan.

J. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

Data yang di peroleh dari hasil penelitian dianalisis dengan

menggunakan program Komputer SPSS.

2. Analisa Data

a. Analisa Univariat

Analisa Univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian untuk melihat distribusi dan presentasi.

36
b. Analisa Bivariat

Analisa Bivariat dilakukan terhadap 2 (dua) Variabel yang diduga

saling berhubungan dengan menggunakan uji statistic (correlations).

Jika Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak

dan Jika p.value (α ≤ 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) diterima.

K. Penyajian Data

Penyajian data disajikan dalam bentuk tabel dan narasi.

37
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Pendirian SD Inpres 8 Mmamboro Inti Kota Palu

Sekolah Dasar (SD) Inpres 8 Mamboro Inti berlokasi di jalan trans

Sulawesi, Kelurahan Mamboro Barat, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu,

2
dengan status sekolah Negeri. Luas Tanah 4470 m dan luas Bangunan

2
736 m serta Sekolah tersebut telah Terakreditasi B.

2. Batas-Batas Wilayah SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut :

a. Sebelah Barat Berbatasan Dengan Perumahan Penduduk

b. Sebelah Timur Berbatasan Dengan Jalan Trans Sulawesi

c. Sebelah Utara Berbatasan Dengan Perumahan Penduduk

d. Sebelah Timur Berbatasan Dengan Perumahan Penduduk

B. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada tanggal 24

Februari 2018, kemudian data yang diperoleh di analisis dan kemudian

disajikan dalam bentuk tabel sesuai kategori masing-masing .

38
1. Analisis Univariat

Analisis Univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengetahui

distribusi dan presentase dari tiap-tiap variabel yang diteliti dapat

disajikan dalam bentuk tabel.

a. Kebisingan

Data mengenai kebisingan yang diperoleh dari hasil

pengukuran menggunakan alat Sound Level Meter disetiap ruangan

kelas hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini :


Tabel 4.1
Hasil Pengukuran Kebisingan
di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Menit Kelas dan Hasil Pengukuran ( dB ) Ket
Ke I II.A II.B III.A III.BIV.AIV.B V.A V.B VI.AVI.B
1 87,5 85,8 83,5 84,1 81,8 83,7 80,7 81,6 80,0 84,5 83,2
2 86,5 85,8 88,2 83,5 82,3 84,2 78,3 82,6 81,2 84,1 82,5
3 88,7 85,5 86,5 83,7 83,7 87,1 81,2 81,1 81,9 83,7 82,9
4 88,2 86,1 84,4 83,0 83,7 86,4 81,3 80,5 79,9 82,3 81,0
5 90,7 86,0 88,0 82,3 83,4 86,5 80,6 80,7 81,3 86,4 85,0
6 87,8 83,7 84,8 83,6 83,4 84,1 79,5 81,2 81,4 84,2 84,2
7 87,9 86,1 84,4 83,2 83,7 86,4 81,3 80,5 80,1 82,3 81,1
8 86,2 87,2 86,6 79,2 81,9 83,8 79,5 81,7 79,8 84,4 82,4
9 89,2 85,0 88,2 82,1 83,5 87,2 79,2 82,3 81,7 86,1 83,2
10 90,4 86,5 86,0 83,0 83,6 86,6 83,0 79,4 81,5 84,1 84,9
Leq
Per 89,2 86,0 86,6 82,5 83,0 86,0 81,4 81,5 81,2 85,0 83,6
Kelas

Sumber : Data Primer

39
Berdasarkan tabel 4.1 Data mengenai Kebisingan yang

diperoleh dari hasil Pengukuran yang dilakukan di SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu Keadaan kelas sangat bising Karena sudah

melampaui tingkat kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara

Lingkungan Hidup, No.48 Tahun 1996 ditetapkan untuk tingkat

kebisingan yang diperbolehkan untuk bangunan sekolah adalah 55 dB.

b. Kelembaban

Data mengenai Kelembaban yang diperoleh sesuai hasil

pengukuran menggunakan alat Thermohygrometer hasilnya dapat

dilihat pada tabel 4.2 berikut ini :

Tabel 4.2
Hasil Pengukuran Kelembaban
di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Titik Kelas dan Hasil Pengukuran ( % )
Ke I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B
1 68,6 68,9 69,3 66,7 65,1 67,6 64,5 58,2 55,2 61,9 60,1
2 67,3 68,2 68,0 68,8 67,6 67,0 64,7 58,5 56,0 62,5 61,0
3 67,9 67,6 68,4 65,2 67,9 68,7 61,9 59,7 54,8 61,9 61,4
4 67,0 68,8 69,2 66,5 64,9 67,5 64,3 58,0 55,1 61,7 59,9
5 68,5 67,8 68,7 65,4 68,2 69,0 62,2 60,0 55,1 62,1 61,6

Jumlah 339,2 341,2 343,5 332,5 333,6 339,7 317,5 294,3 276,1 310,0303,9

Rata- 67,8 68,2 68,7 66,5 66,7 67,9 63,5 58,9 55,2 62,0 60,8
Rata

Sumber : Data Primer

40
Berdasarkan tabel 4.2 Data mengenai Kelembaban yang

diperoleh dari hasil Pengukuran yang dilakukan di SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu Keadaan kelas Tidak terlalu lembab Karena

kelembaban udara dalam ruangan kelas yaitu berkisar antara 40%

sampai 70% sesuai Peraturan Mentri Kesehatan tahun 2002.

c. Suhu

Data mengenai Suhu yang diperoleh dari hasil pengukuran

menggunakan alat Thermohygrometer disetiap ruangan kelas

hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3
Hasil Pengukuran Suhu
di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Titik 0
Kelas dan Hasil Pengukuran ( C )
Ke I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B
1 29,4 29,7 30,0 30,5 30,7 30,8 31,1 31,5 31,7 31,4 31,8
2 29,5 29,5 29,5 30,5 30,6 30,7 30,8 31,4 31,7 31,7 31,9

3 29,2 29,3 30,1 29,9 30,5 30,6 31,2 31,3 31,2 31,5 31,7

4 29,3 29,5 30,0 30,3 30,6 30,8 30,9 31,3 31,5 31,2 31,6

5 29,4 29,5 30,3 30,1 30,7 30,8 31,4 31,5 31,4 31,7 31,9

Jumlah 146,6 147,5 149,8 151,3 153,0 153,6 155,3 157,0 157,5 157,4 158,7

Rata- 29,3 29,5 30,0 30,3 30,6 30,7 31,1 31,4 31,5 31,5 31,7
Rata

Sumber : Data Primer

41
Berdasarkan tabel 4.3 Data mengenai Suhu yang diperoleh dari

hasil Pengukuran yang dilakukan di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota

Palu diperoleh hasil Keadaan Suhu pada ruangan kelas 1 sampai

kelas 3A Memenuhi syarat atau tidak melebihi ketetapan Menteri

0
Kesehatan tahun 2002 yaitu 30 C sedangkan untuk kelas 3B sampai

Kelas 6B Melebihi persyaratan yang ditentukan oleh Peraturan

0 0
Menteri Kesehatan tahun 2002 yaitu 18 C sampai 30 C.

d. Pencahayaan

Data mengenai Pencahayaan yang diperoleh dari hasil

pengukuran menggunakan alat Lux Meter disetiap ruangan kelas

hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini :

Tabel 4.4
Hasil Pengukuran Pencahayaan
di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Titik Kelas dan Hasil Pengukuran ( Lux )
Ke I II.A II.B III.A III.B IV.AIV.B V.A V.B VI.A VI.B
1 143,5178,0166,0 432,5 292,0 120,0 84,0 229,5 331,5 223,5 157,5
2 195,0205,5219,0 376,0 175,5 169,5 74,5 298,5 333,5 181,0 134,5
3 158,0180,5218,0 356,5 262,5 139,5 74,5 300,0 312,5 168,0 143,0
4 159,5198,0112,5 497,5 237,5 157,5 99,0 251,5 416,5 327,5 189,5

5 210,5174,5162,0 567,0 133,0 170,0 84,5 249,0 359,5 254,5 152,0

Jumlah 866,5 936,5 877,5 2229,5 1100,5 756,5 416,5 1328,5 1753,5 1154,5 776,5

Rata- 173,3187,3175,5 445,9 220,1 151,3 83,3 265,7 350,7 230,9 155,3
Rata
Sumber : Data Primer
42
Berdasarkan tabel 4.4 Data mengenai Pencahayaan yang

diperoleh dari hasil Pengukuran yang dilakukan di SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu diperoleh hasil Keadaan pencahayaan pada

ruangan kelas 3A dan 5B Memenuhi syarat atau sesuai ketetapan

menteri kesehatan tahun 2002 yaitu ≥250 lux, sedangkan untuk kelas

1, 2A, 2B, 3B, 4A, 4B, 5A, 6A dan 6B tidak memenuhi syarat karena

< 250 lux sesuai persyaratan yang ditentukan oleh Peraturan Mentri

Kesehatan tahun 2002.

2. Gangguan Belajar Analisis Bivariat

Hasil pengukuran gangguan belajar dengan menggunakan alat ukur

Kuesioner di setiap ruangan kelas hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Hasil Pengukuran Gangguan Belajar
Khusus Menggunakan Kuesioner Di Setiap Ruangan
Kelas di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Kelas Jumlah Kuesioner Jumlah Butir Hasil Frekuensi
Perkelas Kuesioner Perkelas Kuesioner (%)
I 3 93 69 74,2
II.A 3 93 75 80,6
II.B 3 93 68 73,1
III.A 3 93 91 97,8
III.B 4 124 119 96,0
IV.A 4 124 118 95,2
IV.B 3 93 66 71,0
V.A 4 124 122 98,4
V.B 4 124 119 96,0
VI.A 4 124 81 65,3
VI.B 4 124 80 64,5
Sumber : Data Primer
43
Berdasarkan tabel 4.5 Data mengenai Gangguan Belajar yang

diperoleh dari hasil wawancara khusus menggunakan Kuesioner disetiap

ruangan kelas yang diberikan kepada 39 siswa di SD Inpres 8 Mamboro

Inti Kota Palu maka diperoleh hasil yang menunjukan bahwa yang tidak

mengalami gangguan belajar ialah jika nilai mean ≥77,8 % dan yang

mengalami gangguan belajar ialah jika nilai mean <77,8 % .


Tabel 4.6
Analisis Korelasi Kebisingan, Kelembaban, Suhu, Pencahayaan
dengan Gangguan Belajar di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Pengukuran P.Value
Kebisingan 0, 576
Kelembaban 0,726
Suhu 0,559
Pencahayaan 0,138
Sumber : Data Primer

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas, secara uji statistic didapatkan nilai

p.value = 0,576 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis

penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi

kebisingan dengan gangguan belajar siswa. untuk kelembaban

didapatkan nilai p.value = 0,726 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05)

maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak

adanya korelasi kelembaban dengan gangguan belajar siswa. untuk suhu

didapatkan nilai p.value = 0,559 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05)

maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak

44
adanya korelasi suhu dengan gangguan belajar siswa. sedangakan untuk

pencahayaan didapatkan nilai p.value = 0,138 (α > 0,05), Jika Nilai

p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat

disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi pencahayaan dengan gangguan

belajar siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

C. Pembahasan

1. Korelasi Kebisingan Dengan Gangguan Belajar

Kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana siswa tidak dapat

belajar secara wajar yang disebabkan oleh adanya ancaman, hambatan

atau gangguan belajar tertentu (Wahab,2015:191). Menurut Abdurrahman

(2012:3), kesulitan belajar merujuk pada sekelompok kesulitan yang

nyata dalam penggunaan kemampuan mendengarkan, membaca, menulis.

Kegiatan pembelajaran di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor

internal saja tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, salah satunya

yaitu kondisi lingkungan disekitarnya. Kebisingan merupakan hal yang

menganggu dalam proses belajar mengajar, pada intensitas yang lama

dan tingkat tertentu dapat berbahaya bagi kesehatan (Maknun et al,

2009).

45
Kebisingan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

RI No.48 Tahun 1996 adalah bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau

kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan

gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (Feidihal,

2007). Kebisingan akibat lalu lintas adalah salah satu bunyi yang tidak

dapat dihindari dari kehidupan moderen dan juga salah satu bunyi yang

tidak dikehendaki (Wardika et al, 2012).

Penelitian yang dilakukan di banyak negara menunjukkan bahwa

jalan raya merupakan sumber kebisingan utama yang mengganggu

sebagian besar masyarakat perkotaan. Tingkat kebisingan jalan raya

dapat mencapai 70-80 dB. Salah satu sumber bising lalu lintas jalan raya

yaitu berasal dari kendaraan bermotor, baik roda dua dan roda empat,

dengan sumber penyebab bising antara lain dari bunyi klakson dan suara

knalpot kendaraan bermotor yang lalulalang di jalan raya yang dapat

menambah tingkat kebisingan. Bangunan pendidikan yang berdekatan

dengan jalan raya yang sangat rawan bising dapat mempengaruhi

kegiatan belajar siswa di dalam ruang kelas. Beberapa hasil penelitian

mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat bising di ruang kelas,

maka semakin rendah konsentrasi belajar siswa pada kelas tersebut dan

sebaliknya semakin rendah tingkat kebisingan ruang kelas, maka akan

46
semakin tinggi konsentrasi belajar siswa. Disadari bahwa beberapa

penelitian tentang kebisingan dengan gangguan kesehatan sudah banyak

dilakukan oleh beberapa peneliti, terutama terhadap pengaruh kebisingan

lalu lintas terhadap Gangguan belajar siswa SMP N 1 Padang . Salah satu

sektor lingkungan yang ikut terkena dampak kebisingan yakni sekolah.

Masalah kebisingan karena lalu lintas yang padat di daerah perkotaan

menyebabkan sulitnya untuk mendapatkan lokasi sekolah yang tenang,

akibatnya bangunan pendidikan yang berdekatan dengan jalan raya yang

sangat rawan bising dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa di dalam

ruang kelas (Halil et al, 2015).

Kebisingan merupakan hal yang menganggu dalam proses belajar

mengajar, pada intensitas yang lama dan tingkat tertentu dapat berbahaya

bagi kesehatan. Gangguan belajar diukur menggunakan kuesioner

Adapun responden dari kuesioner ini yaitu siswa-siswa yang kelasnya

digunakan sebagai titik pengukuran. (Maknun et al, 2009). Kegiatan

pembelajaran di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal saja

tetapi juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, salah satunya yaitu kondisi

lingkungan disekitarnya. Davis Cornwell dalam Djalante (2010)

mendefinisikan bahwa kebisingan berasal dari kata bising yang artinya

semua bunyi yang mengalihkan perhatian,mengganggu, atau berbahaya

47
bagi kegiatan sehari-hari. Bising, umumnya didefisinisikan sebagai bunyi

yang tidak diinginkan dan juga dapat menyebabkan polusi lingkungan.

Masalah kebisingan akibat lalu lintas yang padat di daerah

perkotaan bukan merupakan masalah baru, sehingga sulit untuk

mendapatkan lokasi sekolah yang tenang agar kegiatan belajar mengajar

dapat berlangsung dengan baik. SD Inpres 8 Mamboro Inti merupakan

sarana pendidikan yang terletak di daerah perkotaan dan berada dipinggir

jalan raya trans Sulawesi yang arus lalu lintasnya padat. Kebisingan di

sekitar lingkungan sekolah dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa

dan sumber Kebisingan di dalam ruangan kelas biasanya berasal dari

siswa yang sedang belajar di dalam kelas. Contoh sumber kebisingannya

saat jam belajar ada sebagian siwa yang melakukan perbincangan

terutama untuk siswa kelas 1 sampai kelas 3, siswa tidak diam saat

melakukan pembelajaraan ada yang sedang berbicara keras dan bermain,

hal ini dapat menyebabkan gangguan belajar. Berdasarkan Baku tingkat

kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup,

No.48 Tahun 1996 ditetapkan untuk tingkat kebisingan yang

diperbolehkan untuk bangunan sekolah adalah 55 dB.

Dari hasil pengukuran kebisingan yang dilakukan di SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu diketahui bahwa Semua Kelas tidak memenuhi

48
syarat atau sangat bising .Karena sudah melampaui tingkat kebisingan

berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.48 Tahun

1996 ditetapkan untuk tingkat kebisingan yang diperbolehkan untuk

bangunan sekolah adalah 55 dB dan untuk hasil korelasi kebisingan

dengan gangguan belajar diperoleh nilai p.value = 0,576 (α > 0,05), Jika

Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat

disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi kebisingan dengan gangguan

belajar siswa di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

Ketenangan menghasilkan sebuah lingkungan yang meningkatkan

daya pembelajaraan. Kebisingan suatu kelas pasti mengganggu proses

belajar. Hal ini akan menimbulkan kesulitan bagi siswa untuk mencerna

informasi yang diperoleh, disebabkan oleh suasana dan lingkungan yang

bising. Belajar dalam lingkungan bising akan lebih sulit bagi siswa untuk

fokus dalam belajar karena terganggu oleh suara yang gaduh atau bising.

Tingkat kebisingan pada suatu kelas juga dapat mengganggu

pembelajaran dan meningkatkan ketegangan dalam nada bicara guru.

Kebisingan eksternal dapat memberikan dampak negatif pada standar

penentuan skor dari ujian sekolah dasar. Studi ini menunjukan bahwa

kebisingan eksternal mempengaruhi kecakapan berbicara di dalam kelas

dan memiliki dampak yang besar dalam nilai ujian (Nelson, 2001).

49
2. Korelasi Kelembaban Dengan Gangguan Belajar

Udara segar diperlukan untuk menjaga temperature dan

kelembaban udara dalam ruangan agar siswa yang sedang menerima

mata pelajaran didalam kelas merasa nyaman dan tidak kepanasan saat

berada di dalam kelas (Riviwanto, 2011). Sedangkan Peraturan Mentri

Kesehatan 2002 tentang pedomanan penyehatan udara dalam ruangan

kerja Nilai Ambang Batas (NAB) adalah kelembaban udara dalam

ruangan kerja yaitu berkisar antara 40% sampai 70%. Manusia umumnya

menginginkan kondisi yang nyaman dalam melaksanakan aktifitas,

seperti temperatur ruang yang terlalu panas atau dingin akan

mengakibatkan perubahan fungsional pada organ yang bersesuaian pada

tubuh manusia (Rahmadani, 2011).

Kelembaban di dalam ruangan kelas diakibatkan karena sebagian

ruangan kelas terutama untuk kelas 4b sampai 6b berhadapan dengan

lapangan dan tidak ditanami pohon atau tanaman pelindung lainnya,

sehingga ruangan kelas menjadi panas dan mengakibatkan rasa lembab

saat berada diruangan tersebut. Dari hasil pengukuran kelembaban yang

dilakukan dan dikorelasikan diperoleh hasil untuk kelembaban

didapatkan nilai p.value = 0,726 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05)

maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak

50
adanya korelasi kelembaban dengan gangguan belajar siswa di SD Inpres

8 Mamboro Inti Kota Palu.

Kondisi kelembaban yang tinggi dibutuhkan kecepatan angin yang

cukup di dalam ruang seperti kipas angin. Kelas yang memiliki vegetasi

akan menyebabkan penguapan pada tumbuhan (Transpirasi) sehingga

ruang kelas memiliki kelembaban yang tinggi dengan temperatur ruang

yang rendah sesuai pengukuran dilapangan, sedangkan kelembaban yang

rendah di akibatkan oleh posisi letak kelas menghadap arah sinar

matahari serta tidak memilki vegetasi yang lebat sehingga mempengaruhi

kelembaban relatif pada ruang kelas ( Susanti L, 2013).

3. Korelasi Suhu Dengan Gangguan Belajar

Suhu udara merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap

kondisi nyaman manusia. Suhu manusia naik ketika suhu ruang

dinaikkan. namun suhu ruang tidak menyebabkan suhu kulit naik, tapi

menyebabkan kulit berkeringat. Suhu menunjukkan derajat panas benda.

Dimana semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut.

Secara mikroskopis suhu menunjukkan energy yang dimiliki oleh suatu

benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak baik

dalam bentuk perpindahan maupun gerakkan di tempat berupa getaran

(Karyono, 2015).

51
Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi

suhu benda tersebut (Santoso, 2007). Suhu di dalam ruangan kelas

diakibatkan karena sebagian ruangan kelas terutama untuk kelas 4b

sampai 6b berhadapan dengan lapangan dan tidak ditanami pohon atau

tanaman pelindung lainnya, sehingga ruangan kelas menjadi panas dan

mengakibatkan gangguan belajar terhadap siswa tersebut. Peraturan

Mentri Kesehatan 2002 tentang pedomanan penyehatan udara dalam

ruangan kerja Nilai Ambang Batas (NAB) adalah Suhu Udara Dalam

0 0
Ruangan berkisar 18 C sampai 30 C.

Dari hasil pengukuran suhu yang dilakukan dan di korelasikan

diperoleh untuk suhu didapatkan nilai p.value = 0,559 (α > 0,05), Jika

Nilai p.value (α > 0,05) maka Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat

disimpulkan bahwa tidak adanya korelasi suhu dengan gangguan belajar

siswa di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu.

4. Korelasi Pencahayaan Dengan Gangguan Belajar

Penerangan yang baik dalam menunjang kesuksesan proses belajar

mengajar sangat penting untuk diperhatikan, tidak kalah pentingnya dari

cara penyampaian materi dalam proses belajar mengajar itu sendiri.

Penerangan dalam ruang tidak sekedar bisa terlihatnya suatu obyek

52
benda, namun harus dapat dirasakan dalam suatu perasaan yang nyaman

sehingga terbentuk suasana yang menyenangkan. Penerangan yang baik

adalah penerangan yang memungkinkan siswa dapat melihat objek yang

dikerjakannya secara jelas dan cepat (Suma’mur, 2009). Sebaliknya

penerangan yang buruk dapat mengakibatkan kelelahan mata dengan

berkurangnya daya efisiensi kerja, kelelahan mental, keluhan-keluhan

pegal di daerah mata dan sakit kepala sekitar mata, kerusakan alat

penglihatan dan meningkatnya kecelakaan (Suma’mur, 2009). Kelelahan

mata adalah ketegangan pada mata dan disebabkan oleh penggunaan

indera penglihatan dalam bekerja yang memerlukan kemampuan untuk

melihat dalam jangka waktu yang lama dan biasanya disertai dengan

kondisi pandangan yang tidak nyaman (Pheasant, 1991).

Penerangan mempunyai pengaruh terhadap kualitas belajar agar

siswa yang sedang menerima mata pelajaran di dalam kelas dapat melihat

secara jelas dan tidak mengganggu kosentrasi belajar siswa tersebut.

Standar pencahayaan ruangan kelas yang baik membutuhkan tingkat

pencahayaan 250-300 lux (Darmasetiawan,1991). Ruangan yang

berfungsi sebagai tempat belajar harus dapat memenuhi standar

pencahayaan atau siswa dapat membaca suatu obyek secara baik

(KEPMENKES RI, 2002). Pencahayaan sangat penting dalam ruangan

53
kelas, pencahayaan yang kurang menyebabkan menurunnya penglihatan,

jika hal ini terjadi dapat menimbulkan gangguan saat belajar. Ruang

proses belajar merupakan salah satu ruang yang sangat penting. Berbagai

upaya dilakukan agar ruangan menjadi nyaman, indah, menyenangkan

sehingga bisa membangkitkan selera dan minat serta semangat siswa

untuk belajar lebih giat . Selain fasilitas penunjang dan pendukung yang

disediakan untuk proses belajar mengajar mahasiswa, terkadang ada yang

masih kurang diperhatikan yakni desain pencahayaan. Mungkin secara

umum untuk intensitas penerangan bisa dikatakan cukup memadai tetapi

secara estetika dan kenyamanan masih kurang, bahkan kadang untuk

penempatan control pencahayaannya masih kurang tepat. Dalam ruang

kelas ini, siswa dan guru berinteraksi dalam proses belajar mengajar dan

dalam ruang kelas pula, sebagian besar waktu dihabiskan oleh siswa

(Darmasetiawan dan Puspakesuma, 1991: 20) dan (Bean, 2004: 193).

Dari hasil pengukuran pencahayaan yang dilakukan dan di

korelasikan diperoleh hasil pengukuran untuk pencahayaan didapatkan

nilai p.value = 0,138 (α > 0,05), Jika Nilai p.value (α > 0,05) maka

Hipotesis penelitian (Ha) ditolak, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya

korelasi pencahayaan dengan gangguan belajar siswa SD Inpres 8

Mamboro Inti Kota Palu.

54
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang Korelasi lingkunga fisik dengan

gangguan belajar siswa SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu maka dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Tidak ada Korelasi antara kebisingan dengan gangguan belajar siswa SD

Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

2. Tidak ada Korelasi antara kelembaban dengan gangguan belajar siswa

SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

3. Tidak ada Korelasi antara suhu dengan gangguan belajar siswa SD Inpres

8 Mamboro Inti Kota Palu

4. Tidak ada Korelasi antara pencahayaan dengan gangguan belajar siswa

SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

55
B. Saran

1. Bagi Pihak Sekolah SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu

a) Dapat mendesain ruangan kelas dengan cara membuat peredaman

suara dan melakukan penanaman pohon agar dapat menghambat

sumber bising untuk ruangan kelas tersebut.

b) Untuk kelembaban dan suhu ruangan kelas lebih baik membuat

ventilasi agar sirkulasi udara bebas dan menjadi lebih sejuk dan juga

dapat memberikan rasa nyaman saat berada di ruangan kelas.

c) Untuk pencahayaan ruangan kelas lebih baik menambahkan cahaya

buatan (Lampu) dan cahaya alami.

2. Bagi Instansi

Lebih meningkatkan pengetahuan tentang kebisingan, kelembaban,

suhu dan pencahayaan di dalam ruangan kelas agar siswa tidak terganggu

dalam melakukan pembelajaraan.

3. Bagi Peneliti

Dapat memberikan informasi bagi pihak sekolah tentang informasi

mengenai kebisingan, kelembaban, suhu dan pencahayaan.

56
DAFTAR PUSTAKA

1 2 2
Aienna ,sidharta adyatma , Deasy Arisanti . Volume 3, No 3, Mei 2016 Halaman

1-12, Kenyamanan Termal Ruangkelas di sekolah tingkat SMA

Banjarmasin Timur JPG (Jurnal Pendidikan Geografi) dari

(http://ppjp.unlam.ac.id/journal/index.php/jpg. diakses pada tanggal 14

November 2017).

Ambarsari Luthfiana, Juli 2015, Kenyamanan Belajar Siswa Di Kelas IV SD

Negeri Sekecamatan Pakualaman Tahun Ajaran 2014/2015, Program

Studi Pendididkan Guru Sekolah Dasar Jurusan Pendidikan Pra Sekolah

Dan Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri

Yogyakarta (https://journal.student.uny.ac.id, diakses pada tanggal 14

November 2017).

Amir Subagyo, Maret 2017, Kualitas Penerangan Yang Baik Sebagai Penunjang

Proses Belajar. Jurusan Elektro Politeknik Negeri Semarang

(https://journal.polines.ac.id, diakses pada tanggal 22 Juli 2018).

57
1 2 3
Amwal Halil , Amel Yanis , Mustafa Noer , 2018. Pengaruh Kebisingan

Lalulintas terhadap Konsentrasi Belajar Siswa SMP N 1 Padang.

Pendidikan Dokter FK UNAND (Fakultas Kedokteran Universitas

Andalas-Padang. (https://journal.portalgaruda.org.co.id diakses pada

tanggal 22 Juli 2018).

Apriyani Yenny,2015, Pengaruh Terapi Murottal Terhadap Konsentrasi

Belajar Siswa Kelas V Sd Muhammadiyah 2 Pontianak. Program Studi

Keperawatan (Skripsi) Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura

Pontianak (https://repository.umy.ac.id, diakses pada tanggal 14

November 2017),

Azwar, S 2013. Sikap Manusia ( Teori dan Pengukurannya ). Pustaka Belajar.

Yogyakarta.

Catra P Yuhandari, 2016 Pengukuran Suhu, Kelembaban dan pencahayaan.

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (http://catrayuhandari.blogspot.com,

diakses pada tanggal 3 Maret 2018).

58
Dora Purnama Esa, 2010. Optimasi Desain Pencahayaan Ruang Kelas SMA

Santa Maria Surabaya. Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain

Universitas Kristen Petra-Surabaya (https://journal.repository.petra.ac.id

diakses pada tanggal 14 November 2017).

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan

Kerja Perkantoran Dan Industri Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Lambok Yuliana Pangaribuan, 2017. Hubungan Intensitas Kebisingan Dengan

Gangguan Pendengaran Pada Tenaga Kerja Bagian Produksi Pt.

Hutahaean Di Desa Pintu Bosi, Kecamatan Laguboti Tahun 2017.

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara-Medan.

(https://journal.medianeliti.ac.id diakses pada tanggal 22 Juli 2018).

Menteri Lingkungan Hidup. 1996. Tentang: Baku Kebisingan. Surat Keputusan

Menteri Lingkungan Hidup Nomor: Kep-48/MENLH/1996/25

November 1996. Jakarta.

59
Muhammad Sholid Budiman, (2018). Analisis Kesulitan Belajar Siswa Kelas Xii

Ipa Sma Negeri 3 Pontianak Pada Materi Reproduksi Sel. Program Studi

Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Matematika Dan Ipa, Fakultas

Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tanjungpura-Pontianak

(https://journal.untan.ac.id diakses pada tanggal 22 Juli 2018).

Mulyadiprana, A. dan Simanjuntak, F.R. (2009). Pengaruh Permainan Kolase

Terhadap Peningkatan Konsentrasi Pada Anak Tunagrahita Ringan.

Diperoleh dari (http://file.upi.edu/Direktori diakses pada tanggal 14

November 2017).

Notoatmodjo. S, 2010, Metedologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.

2010, PT Rineka Cipta, Jakarta.

Proses Belajar Mengajar,2003. (http:/scholar.library.walisongo.ac.id diakses pada

tanggal 14 November 2017).

Poltekkes Kemenkes Palu,2016.Pedoman Penulisan Proposal Dan Karya Tulis

Ilmiah, Poltekkes Kemenkes Palu.

60
2 2 3
Setiya Rahayu , Trapsilo Prihandono , Rif’ati Dina Handayani , Juni 2016.

Pengaruh Tingkat Kebisingan Lalu Lintas Terhadap Tingkat Kenyamanan

Siswa Saat Pembelajaran Di Sekolah Kecamatan Bangil Kabupaten

Pasuruan (Studi Kasus Di Smp Negeri 3 Bangil Dan Mts Negeri Bangil).

Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember.

(https://journal.portalgaruda.org.co.id diakses pada tanggal 22 Juli 2018).

Suma’mur,PK,2009, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung,

Jakarta.

Thermohygrometer Project-WordPress. Thermohygrometer.

(http://fajarahmadfauzi.foles.wordpress.co.id diakses pada tanggal 14

November 2017).

Wafiroh Anza Hana,2013, Pengukuran Tingkat Kebisingan Di Lingkungan Smpn

2 Jember. Jurusan Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan

Alam (Skripsi) Universitas Jember, (https://repository.unej.ac.id, diakses

pada tanggal 14 November 2017).

61
Lampiran 3 Hasil Pengukuran Kebisingan :

Tabel 1
Hasil Pengukuran Kebisingan
Di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Menit Kelas dan Hasil Pengukuran ( dB ) Ket
Ke I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B
1 87,5 85,8 83,5 84,1 81,8 83,7 80,7 81,6 80,0 84,5 83,2
2 86,5 85,8 88,2 83,5 82,3 84,2 78,3 82,6 81,2 84,1 82,5
3 88,7 85,5 86,5 83,7 83,7 87,1 81,2 81,1 81,9 83,7 82,9
4 88,2 86,1 84,4 83,0 83,7 86,4 81,3 80,5 79,9 82,3 81,0
5 90,7 86,0 88,0 82,3 83,4 86,5 80,6 80,7 81,3 86,4 85,0
6 87,8 83,7 84,8 83,6 83,4 84,1 79,5 81,2 81,4 84,2 84,2
7 87,9 86,1 84,4 83,2 83,7 86,4 81,3 80,5 80,1 82,3 81,1
8 86,2 87,2 86,6 79,2 81,9 83,8 79,5 81,7 79,8 84,4 82,4
9 89,2 85,0 88,2 82,1 83,5 87,2 79,2 82,3 81,7 86,1 83,2
10 90,4 86,5 86,0 83,0 83,6 86,6 83,0 79,4 81,5 84,1 84,9

Leq 89,2 86,0 86,6 82,5 83,0 86,0 81,4 81,5 81,2 85,0 83,6
Per
Kelas

Sumber : Data Primer

Perhitungan Leq 220 menit dengan cara :


1
Rumus : Leq = Lmax – [( 3 ) x ( Lmax – Lmin )]

Keterangan :
a. Memenuhi syarat bila intensitasnya < 55 dB
b. Tidak memenuhi syarat bila intensitasnya ≥ 55 dB
Lampiran 4 Hasil Pengukuran Kelembaban :

Tabel 2
Hasil Pengukuran Kelembaban
Di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Kelas dan Hasil Pengukuran ( % )
Titik Ke
I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B

1 68,6 68,9 69,3 66,7 65,1 67,6 64,5 58,2 55,2 61,9 60,1
2 67,3 68,2 68,0 68,8 67,6 67,0 64,7 58,5 56,0 62,5 61,0

3 67,9 67,6 68,4 65,2 67,9 68,7 61,9 59,7 54,8 61,9 61,4

4 67,0 68,8 69,2 66,5 64,9 67,5 64,3 58,0 55,1 61,7 59,9

5 68,5 67,8 68,7 65,4 68,2 69,0 62,2 60,0 55,1 62,1 61,6

Jumlah 339,2 341,2 343,5 332,5 333,6 339,7 317,5 294,3 276,1 310,0 303,9

Rata - Rata 67,8 68,2 68,7 66,5 66,7 67,9 63,5 58,9 55,2 62,0 60,8

Sumber : Data Primer

Keterangan :
a. Memenuhi syarat bila mendekati ambang batas kenyamanan kelembaban
udara 40% - 70%
b. Tidak memenuhi syarat bila <40% dan >70%
Lampiran 5 Hasil Pengukuran Suhu :

Tabel 3
Hasil Pengukuran Suhu
Di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Titik Ke 0
Kelas dan Hasil Pengukuran ( C )
I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B

1 29,4 29,7 30,0 30,5 30,7 30,8 31,1 31,5 31,7 31,4 31,8
2 29,5 29,5 29,5 30,5 30,6 30,7 30,8 31,4 31,7 31,7 31,9

3 29,2 29,3 30,1 29,9 30,5 30,6 31,2 31,3 31,2 31,5 31,7

4 29,3 29,5 30,0 30,3 30,6 30,8 30,9 31,3 31,5 31,2 31,6

5 29,4 29,5 30,3 30,1 30,7 30,8 31,4 31,5 31,4 31,7 31,9

Jumlah 146,6 147,5 149,8 151,3 153,0 153,6 155,3 157,0 157,5 157,4 158,7

Rata - Rata 29,3 29,5 30,0 30,3 30,6 30,7 31,1 31,4 31,5 31,5 31,7

Sumber : Data Primer

Keterangan :
a. Memenuhi syarat bila mendekati ambang batas kenyamanan suhu
0 0
udara 18 C - 30 C
0 0
b. Tidak memenuhi syarat bila <18 C dan >30 C
Lampiran 6 Hasil Pengukuran Pencahayaan :
Tabel 4

Hasil Pengukuran Pencahayaan


Di SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu
Titik Ke Kelas dan Hasil Pengukuran ( Lux )

I II.A II.B III.A III.B IV.A IV.B V.A V.B VI.A VI.B

1 143,5 178,0 166,0 432,5 292,0 120,0 84,0 229,5 331,5 223,5 157,5
2 195,0 205,5 219,0 376,0 175,5 169,5 74,5 298,5 333,5 181,0 134,5

3 158,0 180,5 218,0 356,5 262,5 139,5 74,5 300,0 312,5 168,0 143,0

4 159,5 198,0 112,5 497,5 237,5 157,5 99,0 251,5 416,5 327,5 189,5

5 210,5 174,5 162,0 567,0 133,0 170,0 84,5 249,0 359,5 254,5 152,0

Jumlah 866,5 936,5 877,5 2229,5 1100,5 756,5 416,5 1328,5 1753,5 1154,5 776,5

Rata - Rata 173,3 187,3 175,5 445,9 220,1 151,3 83,3 265,7 350,7 230,9 155,3

Sumber : Data Primer

Keterangan :
a. Memenuhi syarat bila besarnya ≥ 250 Lux
b. Tidak memenuhi syarat bila besarnya < 250 Lux
Lampiran 7 Analisis Correlations Gangguan Belajar dengan Kebisingan,
Kelembaban, Suhu dan Pencahayaan :

CORRELATIONS
/VARIABLES=Gangguan_Belajar Kebisingan Kelembaban Suhu
Pencahayaan
/PRINT=TWOTAIL NOSIG
/MISSING=PAIRWISE.

Correlations
Correlations
Hasil Hasil Hasil Hasil Hasil
Kuesioner Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran
Kebisingan Kelembaban Suhu Pencahayaan
Hasil Pearson 1 -.190 .120 -.198 .477
Kuesioner Correlation
Sig. (2-tailed) .576 .726 .559 .138
N 11 11 11 11 11
Hasil Pearson -.190 1 .686
*
-.714
* -.378
Pengukuran Correlation
Kebisingan Sig. (2-tailed) .576 .020 .014 .251

N 11 11 11 11 11
Hasil Pearson .120 .686
* 1 -.815
** -.299
Pengukuran Correlation
Kelembaban Sig. (2-tailed) .726 .020 .002 .371

N 11 11 11 11 11
Hasil Pearson -.198 -.714
*
-.815
** 1 .084
Pengukuran Correlation
Suhu Sig. (2-tailed) .559 .014 .002 .806

N 11 11 11 11 11
Hasil Pearson .477 -.378 -.299 .084 1
Pengukuran Correlation
Pencahayaan Sig. (2-tailed) .138 .251 .371 .806

N 11 11 11 11 11

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Lampiran 8 Kuesioner Penelitian :
LEMBAR KUESIONER GANGGUAN BELAJAR SISWA SD INPRES 8
MAMBORO INTI KOTA PALU

A. DATA UMUM
NAMA SEKOLAH :.........................................................
UMUR :.........................................................
KELAS :.........................................................
JENIS KELAMIN
PEREMPUAN :...............orang
LAKI-LAKI :...............orang
ALAMAT SEKOLAH :.........................................................

B. Kuesioner Alat Ukur Gangguan Belajar


1. Apakah SD inpres 8 mamboro inti mempunyai halaman sekolah ?
a. Ya
b. Tidak
2. Apakah halaman sekolah mempunyai Taman ?
a. Ya
b. Tidak
3. Apakah taman sekolah SD inpres 8 mamboro inti bersih ?
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah di taman sekolah SD inpres 8 mamboro terdapat tempat
pembuangan sampah ?
a. Ya
b. Tidak
5. Apakah di taman SD inpres 8 mamboro inti sering melakukan
penanaman tanaman hijau seperti bunga ?
a. Ya
b. Tidak
6. Apakah setiap hari taman SD inpres 8 mamboro inti dibersihkan ?
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah di taman terdapat tempat duduk untuk siswa apabila jam
Istirahat berlangsung ?
a. Ya
b. Tidak
8. Apakah di taman sekolah terdapat pohon-pohon yang dapat dijadikan
tempat bernaung ?
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah di sekolah dilakukan rekreasi saat akhir semester ganjil atau
genap ?
a. Ya
b. Tidak
10. Apakah Ruangan kelas anda sering dibersihkan setiap hari ?
a. Ya
b. Tidak
11. Apakah ada tempat sampah di ruangan kelas ?
a. Ya
b. Tidak
12. Apakah saat berada di ruangan kelas anda merasa nyaman ?
a. Ya
b. Tidak
13. Apakah di ruangan kelas anda merasa pencahayaannya baik ?
a. Ya
b. Tidak
14. Apakah saat berada di ruangan kelas anda dapat membaca ?
a. Ya
b. Tidak
15. Apakah Saat berada di ruangan kelas anda dapat melihat guru sedang
menulis di papan tulis ?
a. Ya
b. Tidak
16. Apakah anda memakai kaca mata saat bekerja ?
a. Ya
b. Tidak
17. Apakah anda sering mengalami mata berair ?
a. Ya
b. Tidak
18. Apakah anda pernah merasakan kelopak mata terasa berat ?
a. Ya
b. Tidak
19. Apakah anda pernah merasakan penglihatan tampak double ?
a. Ya
b. Tidak
20. Apakah anda merasa sebelum belajar mata anda sudah merasa lelah ?
a. Ya
b. Tidak
21. Apakah SD inpres 8 mamboro inti terdapat ventilasi yang cukup ?
a. Ya
b. Tidak
22. Apakah anda merasa nyaman dengan kondisi ruangan kelas yang
sekarang ?
a. Ya
b. Tidak
23. Apakah ruangan kelas anda terasa lembab ?
a. Ya
b. Tidak
24. Apakah anda merasa berkeringat berlebihan saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
25. Apakah anda tidak merasakan kepanasan saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
26. Apakah daya pikir anda menurun ?
a. Ya
b. Tidak
27. Apakah anda sering merasakan kepala terasa pusing atau terasa berat
saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
28. Apakah anda mengalami sakit kepala saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
29. Apakah anda merasa terganggu belajar saat mendengar suara bising ?
a. Ya
b. Tidak
30. Apakah anda mengalami gangguan pendengaran saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
31. Apakah suara kendaraan di jalan raya mengganggu anda saat belajar ?
a. Ya
b. Tidak
Lampiran 9 Dokumentasi Penelitian :

Soundlevel Meter : Alat Untuk Mengukur Kebisingan

Lux Meter : Alat Untuk Mengukur Pencahayaan

Thermohygrometer : Alat Untuk Mengukur Kelembaban


Foto Pengukuran Kebisingan Dan Wawancara Siswa

Foto Pengukuran Kelemababan Suhu, Pencahayaan Dan Wawancara Siswa

Foto Bersama Magfirah Dan Para Guru SD Inpres 8 Mamboro Inti Kota Palu