Anda di halaman 1dari 5

2/15/2017   Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya | Research Design Methods

Home About Disclaimer Privacy Policy Sitemap

You are here: Home » Research Design » Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya

Sep Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya   Search


 
19 Banyak  orang  yang  bingung  jika  menggunakan  Skala  Likert  [baca  biasa  likert,  walau  ada
Research Design Methods Search form
2014
yang  baca  laikert–kata  Wikipedia],  dan  bahkan  salah  larap.  Skala  Likert  digunakan  untuk
membuat angket, tapi kadang­kadang salah isi yang disasar untuk dihimpun dengan Skala
Likert  tersebut.  Likert  itu  nama  orang,  lengkapnya  Rensis  Likert,  pendidik  dan  ahli
RECENT POSTS
psikologi Amerika Serikat. Jadi, skala ini digagas oleh Rensis Likert, sehingga disebut Skala
Cara Membuat Rumusan Masalah
Likert.
Persiapan Awal Survei House­to­House
Kalau begitu mari kita mulai dengan memperjelas apa dan untuk apa Skala Likert itu.
Dokumen Administrasi
Pengertian dan Kegunaan Skala Likert
Tahap Perencanaan Survei
Skala  itu  sendiri  salah  satu  artinya,  sekedar  memudahkan,  adalah  ukuran­ukuran
Merancang Sebuah Riset
berjenjang.  Skala  penilaian,  misalnya,  merupakan  skala  untuk  menilai  sesuatu  yang
pilihannya  berjenjang,  misalnya  0,  1,  2,  3,  4,  5,  6,  7,  8,  9,  10.    Skala  Likert  juga Hal­hal yang Perlu Dilakukan Oleh Pelaksana
merupakan  alat  untuk  mengukur  (mengumpulkan  data  dengan  cara  “mengukur­ Survei
menimbang”) yang “itemnya” (butir­butir pertanyaannya) berisikan (memuat) pilihan yang Hal­hal yang Perlu Dilakukan Oleh Sponsor
berjenjang. Survei
Untuk  apa  sebenarnya  Skala  Likert  itu?  Skala  Likert  itu  “aslinya”  untuk  mengukur Survei Sebagai Teknik Riset yang Efisien
kesetujuan  dan  ketidaksetujuan  seseorang  terhadap  sesuatu  objek,  yang  jenjangnya
Tiga Peran Strategis Riset
bisa tersusun atas:
Riset Sebagai Strategi Pemasaran
sangat setuju

setuju CATEGORIES
netral antara setuju dan tidak
Article Importance Of
kurang setuju Research
sama sekali tidak setuju. Research Design Research Paper
Pernyataan  yang  diajukan  mengenai  objek  penskalaan  harus  mengandung  isi  yang  akan
Research Position Research Problem
“dinilai”  responden,  apakah  setuju  atau  tidak  setuju.  Contoh  di  bawah  ini  pernyataannya
berbunyi  “Doktrin  Bush  merupakan  kebijakan  luar  negeri  yang  efektif.”  Objek Research Proposal Sampling
khasnya  adalah  efektivitas  (kefektivan)  kebijakan.    Responden  diminta  memilih  satu  dari
Survey Method
lima  pilihan  jawaban  yang  dituliskan  dalam  angka  1­5,  masing­masing    menunjukkan
sangat  tidak  setuju  (1),  tidak  setuju  (2),  netral  atau  tidak  berpendapat  (3),    setuju  (4),
sangat setuju (5). META

The Bush Doctrine is an effective foreign policy [Doktrin Bush merupakan kebijakan Log in
luar negeri yang efektif].
Entries RSS
Strongly Disagree—1—2—3—4—5—Strongly Agree
Comments RSS
[Sangat tidak setuju –1–2–3–4–5–Sangat setuju]
WordPress.org
Based  on  the  item,  the  respondent  will  choose  a  number  from  1  to  5  using  the  criteria
below  [Dengan  memperhatikan  butir  pernyataan,  responden  (orang  yang  ditanyai)  harus
memilih angka 1 sampai dengan 5 dengan berdasarkan patokan berikut]:

1 – strongly agree [sangat setuju]

2 – somewhat agree [agak setuju]

3 – neutral/no opinion [netral/tak berpendapat]

4 – somewhat disagree [agak tidak setuju]

5 – strongly disagree [sangat tidak setuju]

Apa  artinya?  Artinya  setujukah  responden  bahwa  kebijakan  luar  negeri  Bush  itu  sebagai
kebijakan  yang  efektif  (memecahkan  masalah  luar  negeri  AS)?  Jadi,  responden  tinggal
milih: setuju atau tidak setuju, atau tak memilih keduanya (netral saja, tidak berpendapat).

Salah Tafsir: Asal ada Setuju–Tidak Setuju

Tidak  sedikit  mahasiswa  dan  peneliti  lain  yang  hanya  melihat  Skala  Likert  itu  sebagai
angket  pilihan  setuju–tidak  setuju.  Jadi,  jika  pilihan  jawabannya  setuju­tidak  setuju,
maka  itu  namanya  Skala  Likert.  Lalu,  segala  macam  pernyataan  dimintakan  kepada
responden untuk memilih menjawab setuju atau tidak setuju. Ini contohnya:

Salat itu penting, karena salat itu merupakan tiang agama.

1. Sangat setuju (SS)

2. Setuju (S)

3. Setuju tidak, tidak setuju pun tidak, alias netral (N)

4. Tidak setuju (TS)

5. Sangat tidak setuju (STS)

Jelas  isi  pernyataan  itu  bukan  sesuatu  yang  harus  disetujui  atau  tidak  disetujui.  Itu
pengetahuan, pengetahuan agama, yang  diajarkan oleh para ustad dan kiyai. Jadinya itu
soal  “murid”  tahu  atau  tidak  tahu  bahwa  salat  itu  penting,  dan  pentingnya  itu  karena
(dengan alasan) merupakan tiang agama (“ash­shalatu imaaduddin“), bukan harus setuju
atau tidak setuju.

Kedua,  itu  tidak  bisa  dijenjangkan  kesetujuan­ketidaksetujuannya,  karena  tidak  logis.


Kalau  misalnya  “setuju”  salat  itu  penting,  apa  bedanya  dengan  “sangat  setuju.”  Jika
jawabannya  diubah  jadi  “setuju–agak  setuju,”  makna  dari  agak  setuju  itu  apa,  tak  jelas.
Tentu  tidak  bisa  ditafsirkan  bahwa    jika  agak  setuju  berarti  menunjukkan  menurut
responden  salat  itu  agak  penting,  dan  jika  setuju  sekali  berarti  salat  itu  sangat  amat
penting, dan sebaliknya.

http://researchdesignmethod.com/research­design/skala­likert­penggunaan­dan­cara­analisi­datanya/ 1/5
2/15/2017   Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya | Research Design Methods
Ketiga, ada dua isi yang harus disetujui atau tidak disetujui di dalam satu pernyataan itu,
yaitu:  (1)  salat  itu  penting,  dan  (2)  salat  itu  tiang  agama.  Ini  tidak  boleh  terjadi  dalam
penyusunan  angket,  sebab  akan  membingungkan.  Salat  mungkin  bisa  dianggap  penting
(setuju  bahwa  penting),  tapi  alasannya  sebagai  tiang  agama  tidak  setuju,    setujunya
karena ia rukun Islam kedua. Jadi, jawabannya apa? Setuju, atau tidak setuju, atau netral
saja?

Sebentar,  biar  jelas.  Responden  setuju  bahwa  solat  itu  penting,  tapi  tidak  setuju  kalau
sebabnya karena ia tiang agama. Lantas yang harus dipilih setuju atau tidak setuju (karena
ia punya dua pilihan: setuju penting, tapi  tidak setuju sebagai tiang agama).

Lain  halnya  dengan  masalah  “hukum  potong  tangan  bagi  pencuri,”  misalnya  (sekedar
misal,  lho),  kan  ada  orang  setuju,  ada  yang  tidak  setuju.  Jadi,  pernyataannya  bisa
dirumuskan, misalnya, “Orang yang mencuri harus dihukum potong tangan.” Jawabannya
(SS – S – N – TS ­STS). Pernyataan “pencuri harus dipotong tangan” itu isinya hanya satu,
tidak dua: (1) pencuri dan (2) potong tangan. Beda kan dengan contoh di atas (1) solat itu
penting, dan (2) solat itu tiang agama–digabung menjadi: Solat itu penting karena solat itu
tiang agama.

Nah, karena berkaitan dengan setuju (S) dan tidak setuju (TS), maka bisa jadi ada orang
yang  netral  (N)  atau  tidak  berpendapat.  Netral  artinya  setuju  ya  tidak,  tidak  setuju  pun
tidak  juga.  Tidak  memihak  pada  kesetujuan  ataupun  ketidaksetujuan.  Ekstrimnya,  tidak
berpendapat.

Jadi, bisa ada yang agak setuju, tapi tidak setuju banget, ada juga yang agak setuju, tapi
tidak setuju banget. Ya cuma seperti itu gambarannya.

Contoh:  Anggota  DPR  disuruh  memilih  apakah  setuju  Gubernur  DIY  itu  dipilih.  Pilihan
jawabannya ekstrim: setuju atau tidak setuju. Jadi, hanya ada tiga pilihan: S – N – TS. Jika
S berarti setuju Gubernur DIY dipilih. Jika TS artinya tidak setuju melalui pemilihan. Yang
tidak “berani” menyatakan setuju atau tidak setuju, ya pilih N (netral). Jika ada 30% yang
menyatakan  S,  60%  menyatakan  TS,  dan  10%  N,  maka  hasilnya  berupa  pernyataan
bahwa  sebagian  besar  anggota  DPR  tidak  setuju  Gubernur  DIY  dipilih.  Hanya  seperti  itu.
Jangan dicari reratanya, lucu!

Karena berkaitan dengan kesetujuan­ketidaksetujuan, maka yang dipertanyakan haruslah
yang “populer,” yang sudah terkonsumsi masyarakat, yang masyarakat (responden) tahu.
Kalau tidak tahu bagaimana ia akan menyatakan setuju dan tidak setuju.

Ini contoh (sekedar contoh).

Pemerintahan SBY tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semua  orang  Indonesia  “terlibat”  dalam  pemerintahan  SBY,  terkena  pemerintahan  SBY,
dan  tahu  (merasakan)  seperti  apa  berada  di  bawah  pemerintahan  SBY.  Jadi,  pasti  bisa
menjawab.

Pernyataan  ”  SBY  patut  mendapatkan  Hadiah  Nobel”  pun  bisa  untuk  dimintakan
persetujuan dan “pertidaksetujuan” responden, tetapi respondennya tertentu, yang paham
seluk  beluk  pemberian  hadiah  Nobel.  Mbah  Marijan  (alm)  dan  embah­embah  lain  setara
Mbah Marijan mungkin tak tahu.

Coba  tanyakan  pada  orang  kebanyakan  Indonesia:  Setuju  atau  tidak  jika  demokrasi
Indonesia  diubah  menjadi  demokrasi­teokratis?  Mbah  Maridjan  (kalau  masih  hidup)  lebih
baik semedi daripada menjawab.

Nah, itulah sebabnya Skala Likert suka disebut (dan memang tergolong) skala sikap, skala
tentang sikap, yaitu sikap setuju dan tidak setuju terhadap sesuatu (yang bisa disetujui dan
tidak disetujui).

Skala  Likert  ada  kalanya  “menghilangkan”  tengah­tengah  kutub  setuju  dan  tidak  setuju.
Responden dipaksa untuk “masuk” ke “blok” setuju atau tidak setuju.  Ini contohnya.

Mahasiswa boleh tidak ikut kuliah, asal sungguh­sungguh belajar mandiri.

1. Sangat setuju

2. Setuju

3. Tidak setuju

4. Sangat tidak setuju

Pertanyaan  dibuat  demikian  agar  orang  berpendapat,  tidak  bersikap  netral  atau  tidak
berpendapat.

“Skala” dalam Skala Likert

Berapa jenjang skala dibuat dalam Skal Likert? Itu amat tergantung pada “kata­kata” yang
digunakan  di  dalam  butir  (item)  Skala  Likert.  Kalau  digunakan  model  verbal  (kata­kata)
setuju–tidak  setuju,  maka  paling  tidak  ada  tiga,  yaitu  setuju–netral–tidak  setuju.
Perubahan  lebih  banyak  tentu  akan  mengikuti  kutubnya  (kutub  setuju  dan  kutub  tidak
setuju).  Jadi,  jika  ditambah,  akan  menjadi,  misalnya:  sangat  setuju–setuju–netral–tidak
setuju–sangat tidak setuju (ada 5 skala). Tentu bisa jadi tujuh jika ditambahi lagi dengan
sangat setuju sekali dan sama sekali tidak setuju. Atau tambahannya berupa “agak setuju”
(sebelum setuju) dan “agak tidak setuju” (sebelum tidak setuju). Jika digabungkan, maka
jadi sembilan skala (jenjang).

1. Sangat setuju sekali

2. Sangat setuju

3. Setuju

4. Agak setuju

5. Netral

6. Agak tidak setuju

7. Tidak setuju

8. Sangat tidak setuju

9. Sama sekali tidak setuju

Bentuk Skala Likert

Skala Likert yang dikenal sebetulnya tidak disusun seperti angket yang pilihannya ke bawah
seperti beberapa contoh di atas, melainkan seperti ini.

LIKERT SCALES

http://researchdesignmethod.com/research­design/skala­likert­penggunaan­dan­cara­analisi­datanya/ 2/5
2/15/2017   Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya | Research Design Methods
Please circle the number that represents how you feel about the computer software you
have been using [Lingkarilah angka yang mencerminkan penilaian Anda mengenai
piranti lunak komputer yang telah Anda pergunakan]

I am satisfied with it (memuaskan)Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—Strongly
agree(Sangat tidak setuju)                                                    (Sangat setuju)

It is simple to use (mudah digunakan)Strongly disagree —1—2—3—4—5—6—7—
Strongly agree

It does everything I would expect to do (bisa untuk apa saja) Strongly disagree —1—2—
3—4—5—6—7—Strongly agree

I don’t notice any inconsistencies as I use it (tidak bikin kisruh) Strongly disagree —1—2
—3—4—5—6—7—Strongly agree

It is very user friendly (dapat membantu siapa saja) Strongly disagree —1—2—3—4—5
—6—7—Strongly agree

Responden  ditanya  tentang  kepuasan  mereka  terhadap  produk  komputer.  Responden


diminta melingkari angka­angka yang berderet yang menunjukkan “sangat setuju” (angka
7) atau “sangat tidak setuju” (angka 1) dengan pernyataan yang tertera sebelumnya .  Di
antara  kutub­kutub  itu  ada  angka  pilihan.    Masing­masing  menunjukkan  derajat
kestidaksetujuan atau kesetujuan. Semakin dekat ke angka 1 semakin dekat dengan tidak
setuju, dan sebaliknya. Ingat angka itu bukan skor!

Item (Butir Pertanyaan/Pernyataan) Serupa dan Tak serupa Skala Likert

Ada “angket” yang semodel dengan Skala Likert, seperti di bawah ini.

Seberapa sering Anda meminjam buku dari perpustakaan?

1. Tidak pernah

2. Jarang

3. Kadang­kadang

4. Sering

5. Sangat sering

Pertanyaan  angket  ini  pun  berjenjang,  mirip  dengan  Skala  Likert.  Tentu  itu  bukan  skala
sikap. Itu angket biasa, angket deskriptif yang isinya punya jenjang ( intensitas meminjam
buku  dari  perpustakaan).  Perhatikan  jenjangnya.  Ada  tengah­tengahnya  seperti  netral
dalam  skala  sikap.  Oleh  sebab  itulah  angket  (butir  angket)  seperti  itu  suka  disebut  juga
sebagai “mirip Skala Likert.”

Pertanyaan angket berikut, kendati ada jenjang, bukan Skala Likert dan bukan mirip Skala
Likert. Kuncinya terletak pada titik tengah pilihan jawaban ( di sisi yang satu positif, di sisi
yang lain negatif; di sisi yang satu tinggi di sisi yang lain rendah). Item tentang usia berikut
tidak  bersifat  seperti  itu,  hanya  perjenjangan  biasa,  tidak  ada  kutub  ekstrim  dan  tengah­
tengahnya.

Usia Bapak/Ibu saat ini:

a. di atas 80 tahun

b. 61 – 70 tahun

c. 51 – 60 tahun

d. 41 – 50 tahun

e. 31 – 40 tahun

Menganalisis data Skala Likert

1. Analisis Frekuensi (Proporsi)

Nah, yang sering dilakukan kesalahan adalah pada saat menganalisis data dari Skala Likert.
Ingat, Skala Likert berkait dengan setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu. Jadi, ada dua
kemungkinan. Pertama, datanya data ordinal (berjenjang tanpa skor). Angka­angka hanya
urutan  saja.  Jadi,  analisisnya  hanya  berupa  frekuensi  (banyaknya)  atau  proporsinya
(persentase).  Contoh  (pilihan  “netral”  dalam  angket  ditiadakan)  dengan  responden  100
orang:

Yang sangat setuju 30 orang (30%)

Yang setuju 50 orang (50%)

Yang tidak setuju 15 orang (15%)

Yang sangat tidak setuju 5 orang (5%).

Jika  digabungkan  menurut  kutubnya,  maka  yang  setuju  (gabungan  sangat  setuju  dan
setuju)  ada  80  orang  (80%),  dan  yang  tidak  setuju  (gabungan  sangat  tidak  setuju  dan
tidak setuju) ada 20 orang (20%).

2. Analisis Terbanyak (Mode)

Analisis lain adalah dengan menggunakan “mode,” yaitu yang terbanyak. Dengan contoh
data  di  atas,  maka  jadinya  “Yang  terbanyak  (50%)  menyatakan  setuju”  (Dari  data  yang
sangat setuju 15%, setuju 50%, netral 20%, tidak setuju 10%, sangat tidak setuju 5%).

Skala Likert Sebagai Skala Penilaian

Skala  Likert  kerap  digunakan  sebagai  skala  penilaian  karena  memberi  nilai  terhadap
sesuatu.  Contohnya  skala  Likert  mengenai  produk  komputer  di  atas,  komputer  yang  baik
atau tidak. Terhadapnya bisa diberlakukan angka skor. Jadi, yang dianalisis skornya. Dalam
contoh di atas angka 7 sebagai skor tertinggi. Datanya bukan ordinal, melainkan interval.

Ingat!  Pilihan  ordinal  setuju–agak  setuju–netral–kurang  setuju–tidak  setuju  tak  bisa


diskor.  Misalnya  setuju  diberi  skor  5,  agak  setuju  4,  netral  3,  kurang  setuju  2,  dan  tidak
setuju 1.

Kenapa?

Pertama, tidak logis, yang netral lebih tinggi skornya dari yang tidak setuju. Padahal yang
netral  itu  sebenarnya  tidak  berpendapat.  Kedua,  coba  jika  ada  dua  orang  yang  ditanya,
yang  satu  menjawab  setuju  (skor  5),  yang  satu  lagi  menjawab  tidak  setuju  (skor  1). 
Berapa  reratanya?  [5  +  1]  :  2  =  3.  Skor  3  itu  sama  dengan  netral.  Lucu,  kan?!
Simpulannya kedua orang responden bersikap netral. Padahal realitanya yang satu setuju,
yang  satu  tidak.  Nah,  ini  bisa  terjadi  juga  dengan  yang  sangat  setuju  (skor  5)  20  orang,

http://researchdesignmethod.com/research­design/skala­likert­penggunaan­dan­cara­analisi­datanya/ 3/5
2/15/2017   Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya | Research Design Methods
setuju  (skor  4)  25  orang,  netral  (skor  3)  10  orang,  tidak  setuju  (skor  2)  25  orang,  dan
sangat tidak setuju (skor 1) 20 orang. Berapa rerata skornya? Pasti 3 (netral). Jadi, semua
orang (diwakili 100 orang sampel) bersikap netral. Lucu, kan?!!! Padahal yang netral hanya
10 orang (10%)!!!

Skala Penilaian

Di  atas  dicontohkan  Skala  Likert  untuk  penilaian  (menilai  produk  komputer).  Sebenarnya
tidak  perlu  menggunakan  Skala  Likert,  cukup  skala  penilaian  (rating  scale).  Responden
diminta menilai produk itu dengan membubuhkan nilai (skor) jika ada kolom kosong untuk
menilai, atau memilih skor tertentu yang sudah disediakan. Jadinya skornya bisa bergerak
dari 0 sampai dengan  10 sebagai skor tertinggi.

Contohnya  mengenai  kepuasan  konsumen  terhadap  layanan  perpustakaan  di  bawah  ini.
Responden cukup diminta melingkari angka skor sesuai dengan penilaiannya.

1. Kemudahan menemukan koleksi       1  2  3  4  5  6  7  8  9  10

2. Kenyamanan ruangan                             1  2  3  4  5  6  7  8  9  10

3. Layanan petugas                                        1  2  3  4  5  6  7  8  9  10

Analisisnya  bisa  menggunakan  dua  macam,  proporsi (persentase)  dan  mode  (terbanyak


menilai  berapa),  dan  rerata  atau  means  (rerata  skornya  berapa),  dan  termasuk
pengkateorian puas atau tidak puas.

Jelasnya:

Pertama,  dihitung  banyaknya  responden  yang  memberi  nilai  pada  skor  tertentu  secara
keseluruhan  (seluruh  butir  pernyataan).  Lihat  yang  terbanyak  (mode)  dari  responden
memilih pada skor berapa.

Kedua, hitung skor dari keseluruhan butir (responden yang menjawab dikalikan skor), lalu
disusun  reratanya.  Rerata  skor  itu  (bilangannya  tentu  akan  0  –  10)  termasuk  kategori
tinggi  atau  rendah.  Sebelumnya  tentu  sudah  disusun  kategorisasinya.  Jadi,    jika  rerata
skornya misalnya 7,76, angka 7,76 itu termasuk kategori rendah, sedang, ataukah tinggi?
Ingat, skor terendah berapa, dan skor tertinggi berapa! Jadi, 7,76 dari rentangan skor 1 –
10 tentu termasuk tinggi (tapi tidak sangat tinggi, kan?!)

Contoh Lain Skala Likert

Ini contoh Skala Likert yang menggali taraf kepercayaan diri (rasa harga diri) karyawan.

Skala “Self­Esteem” Karyawan

Here’s  an  example  of  a  ten­item  Likert  Scale  that  attempts  to  estimate  the  level  of  self
esteem  a  person  has  on  the  job.  Notice  that  this  instrument  has  no  center  or  neutral
point  —  the  respondent  has  to  declare  whether  he/she  is  in  agreement  or  disagreement
with the item [Ini contoh Skala Likert yang terdiri atas 10 butir pernyataan yang berusaha
mengukur  taraf  harga­diri  seseorang  dari  pekerjaannya.  Perhatikan  bahwa  instrumen  ini
dhilangkan  titik  tengah  atau  netralnya,  sehingga  responden  mau  tidak  mau  harus
memberikan  pernyataan  tegas  apakah  ia  setuju  atau  tidak  setuju  dengan  isi  butir
pernyataan].

INSTRUCTIONS: Please rate how strongly you agree or disagree with each of the following
statements  by  placing  a  check  mark  in  the  appropriate  box  [Petunjuk:  Berikan  penilaian
seberapa  setuju  atau  tidak  setuju  Anda  dengan  isi  pernyataan  berikut  dengan  cara
membubuhkan tanda centang pada kotak kolom yang sesuai].

1. I feel good about my Strongly Somewhat Somewhat Strongly


work on the job. (Saya disagreee disagree agree (agak agree
merasa pekerjaan saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
dalam menjalankan sekalI tidak setuju) setuju)
tugas baik) setuju)

2.  On the whole, I get Strongly Somewhat Somewhat Strongly


along well with others at disagreee disagree agree (agak agree
work. (Secara umum, (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
dengan teman­teman sekali tidak setuju) setuju)
sepekerjaan saya merasa setuju
baik­baik saja)

3. I am proud of my Strongly Somewhat Somewhat Strongly


ability to cope with disagreee disagree agree (agak agree
difficulties at work (Saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
merasa bangga dengan sekali tidak setuju) setuju)
kemampuan saya setuju
mengatasi berabgai
masalah pekerjaan
saya).

4. When I feel Strongly Somewhat Somewhat Strongly


uncomfortable at work, I disagreee disagree agree (agak agree
know how to handle it (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
(Jika saya merasa tidak sekali tidak setuju) setuju)
nyaman kerja, saya tahu setuju
bagaimana
mengatasinya).

5. I can tell that other Strongly Somewhat Somewhat Strongly


people at work are glad disagreee disagree agree (agak agree
to have me there (Saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
bisa tegaskan bahwa sekali tidak setuju) setuju)
teman kerja saya setuju
merasa senang mereka
 bekerja dengan saya).

6. I know I’ll be able to Strongly Somewhat Somewhat Strongly


cope with work for as disagreee disagree agree (agak agree
long as I want (Saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
tahu saya bisa selesaikan sekali tidak setuju) setuju)
tugas pekerjaan saya setuju
asal saya mau) .

7. I am proud of my Strongly Somewhat Somewhat Strongly

http://researchdesignmethod.com/research­design/skala­likert­penggunaan­dan­cara­analisi­datanya/ 4/5
2/15/2017   Skala Likert: Penggunaan Dan Cara Analisis Datanya | Research Design Methods
relationship with my disagreee disagree agree (agak agree
supervisor at work (Saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
merasa bangga tentang sekali tidak setuju) setuju)
hubungan saya dengan setuju
atasan saya di tempat
kerja).

8. I am confident that I Strongly Somewhat Somewhat Strongly


can handle my job disagreee disagree agree (agak agree
without constant (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
assistance (Saya yakin sekali tidak setuju) setuju)
saya bias selesaikan setuju
tugas pekerjaan saya
tanpa selalu mendapat
bantuan).

9. I feel like I make a Strongly Somewhat Somewhat Strongly


useful contribution at disagreee disagree agree (agak agree
work (Saya merasa saya (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
punya andil baik sekali tidak setuju) setuju)
terehadap tempat kerja setuju
saya).

10. I can tell that my Strongly Somewhat Somewhat Strongly


coworkers respect me disagreee disagree agree (agak agree
(Saya bisa tegaskan (Sama (agak tidak setuju) (Sangat
bahwa rekan kerja saya sekali tidak setuju) setuju)
menghargai saya). setuju

Sumber:

Hall, Shane. 2010. “How to Use the Likert Scale in Statistical Analysis.” Online, diunduh 31
Oktober, 2010.

Markusic, Mayflor. 2009. “Simplifying the Likert Scale.” Online, diunduh 31 Oktober 2010.

Trochim, William M.K. 2006. “Likert Scaling.” Research Methods Knowledge Based. Diunduh
31 Oktober 2010

Wikipedia. 2010. “Likert Scale.” Online, diunduh 31 Oktober 2010.

Source : tatangmanguny.wordpress.com
Posted by admin Tags: Analisis Data, Likert, psikologi, Skala Likert 0 Responses
 
Liked this post? Share it!
Facebook Stumbleupon LinkedIn Twitter Share Digg this
 
Other posts you might like:

Persiapan Awal Research Design Riset Sebagai Six Steps to Write


Survei House­to­ Classification Strategi Pemasaran Research Paper
House

 
Leave a Reply to this Post
 Name (required)

 Mail (will not be published) (required)

 Website

Subscribe to comments feed Submit Comment

 
Mengukur Kepuasan Pelanggan Metode Analisis Regresi Linier
  Sederhana

Copyright © 2017 ­ Research Design Methods All Rights Reserved
 

http://researchdesignmethod.com/research­design/skala­likert­penggunaan­dan­cara­analisi­datanya/ 5/5