Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN DAN PENANGANAN PADA PASIEN

LEUKIKIA

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan bahasa indonesia yang
Diampu oleh Achmad Sultoni, M.pd.
Oleh
Isna Nur Fahimah
1811010004

PROGAM STUDI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmat-
nya penulis telah berhasil menyusun makalah tentang laporan pendahuluan dan
penanganan pada pasien leukimia. Makalah ini di buat untuk menunjang proses
pembelajaran keperawatan. Sesuai dengan kurikulum terbaru program DIII
keperawatan, yaitu pembelajaran berbasis kompetensi. Maka makalah ini sudah
mengarahkan mahasiswa untuk belajar dengann kurikulum terbaru sehingga lebih
memudahkan mahasiswa untuk mempelajari makalah ini.
Pada penulisan makalah ini kami menggunakan bahasa sederhana dan
mudah dimengerti sehingga dapat dengan mudah dicerna dan di ambil intisari dari
materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.
Makalah ini juga di harapkan dapat digunakan oleh mahasiswa DIII
keperawatan karena kami telah berusaha melengkapi materi makalah sesuai
dengan kebutuhan materi pembelajaran yang di sempurnakan.
Demikian kami sangat mengharapkan kritik yang sifatnya membangun
demi tercapai suatu kesempurnaan dalam cara penanganan pasien leukimia

Purwokerto, 12 desember 2018

penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ......................................................................................i

KATA PENGANTAR...................................................................................... .ii

DAFTAR ISI.......................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...............................................................................1


B. Rumusan masalah .........................................................................3
C. Tujua ..............................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Leukimia ..........................................................................4


B. Patofisiologi ...................................................................................6
C. Manifestasi klinik ..........................................................................7
D. Etiologi ..........................................................................................9
E. Tanda dan gejala leukimia ............................................................12
F. Patofisiologi ...................................................................................14
G. Pemeriksaan penunjang .................................................................15
H. Penatalaksanaan leukimia .............................................................16
I. Manifestasiklinik ...........................................................................18
J. Penanganan dan pengibatan leukimia ............................................20
K. Prognosis ........................................................................................22
L. Diagnosis .......................................................................................25

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................................28
B. Saran .............................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa
kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah
memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal.
Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya
atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan
tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi
kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon
kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak
terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di
dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini
bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang
dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala
seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.
Darah manusia terdiri dari cairan yang disebut sebagai plasma darah,
dan tiga kelompok sel darah. Kelompok sel darah itu dibedakan menjadi sel
darah merah, sel darah putih, dan keping-keping darah.
Sel darah putih atau leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh
terhadap infeksi atau serangan penyakit lainnya. Sel darah merah atau eritrosit
berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan
tubuh, dan membawa karbon dioksida dari jaringan tubuh kembali ke paru-
paru.? Keping-keping darah atau trombosit sangat berperan dalam proses
pembekuan darah.
Ketika terjadi leukemia, tubuh akan memproduksi sel-sel darah yang
abnormal dan dalam jumlah yang besar. Pada leukemia, sel darah yang
abnormal tersebut adalah kelompok sel darah putih. Sel-sel darah yang
terkena leukemia akan sangat berbeda dengan sel darah normal, dan tidak
mampu berfungsi seperti layaknya sel darah normal.

1
Penyebab leukemia sejauh ini belum diketahui. Namun banyak
penelitian yang dilakukan untuk memecahkan masalah ini. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa leukemia lebih sering menyerang kaum pria
dibandingkan kaum wanita, dan juga pada kelompok orang kulit putih
dibandingkan dengan orang kulit hitam. Namun sampai saat ini belum
diketahui mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab leukemia misalnya
tubuh sering terpapar oleh bahan kimia tertentu, sinar radiasi, serta obat-
obatan (seperti pada pengobatan kanker), atau karena adanya kromosom yang
abnormal (seperti pada Down syndrome). Bahan-bahan tersebut dapat
menyebabkan terjadinya mutasi dan akhirnya akan mempengaruhi
pertumbuhan atau proses pembelahan sel darah putih.
Gejala penyakit leukemia biasanya ditandai dengan adanya anemia.
Infeksi akan mudah atau sering terjadi karena sel darah putih tidak dapat
berfungsi dengan baik, rasa sakit atau nyeri pada tulang, serta pendarahan
yang sering terjadi karena darah sulit membeku. Jika tidak diobati, maka akan
mengakibatkan leukemia akut dan akhirnya dapat menyebabkan kematian.
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi leukimia?
2. Apa Pantofisiologi pada leukimia?
3. Bagaimana Cara menifestasi klinik?
4. Apa Etiologi pada leukimia?
5. Apa Tanda dan gejala penyakit leukimia?
6. Bagaimana Patofisiologi pada penyakit leukimia?
7. Bagaimana Pemeriksaan penunjang pada penyakit leukimia?
8. Bagaimana Penatalaksanaan leukimia pada penyakit leukimia?
9. Bagaiman Manifestasi klinik pada penyakit leukimia?
10. Bagaimana Penanganan dan pengobatan leukimia pada penyakit
leukimia?
11. Apa Prognosis pada penyakit leukimia?
12. Apa diagnosa pada penyakit musan masalah

2
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa definisi leukimia
2. Mengetahui pantofisiologi pada leukimia
3. Mengetahui bagaimana cara menifestasi klinik
4. Mengetahu bagaimana etiologi pada leukimia
5. Mengetahu tanda dan gejala penyakit leukimia
6. Mengetahui bagaimana patofisiologi pada penyakit leukimia
7. Mengetahui bagaimana pemeriksaan penunjang pada penyakit
leukimia
8. Mengetahui bagaimana penatalaksanaan leukimia pada penyakit
leukimia
9. Mengetahui bagaimana manifestasi klinik pada penyakit leukimia
10. Mengetahui bagaimana penanganan dan pengobatan leukimia pada
penyakit leukimia
11. Mengetahui bagaimana prognosis pada penyakit leukimia
12. Mengetahui bagaimana diagnosa pada penyakit leukimia

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Leukimia
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik
yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi
maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid.
Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau
abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di
dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi
hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh
penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan
banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak
banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang
semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang
menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone
marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia
memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi
sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi
membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang
membantu proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa
kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah
memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal.
Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya
atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan
tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi
kembali.

4
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon
kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak
terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di
dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini
bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang
dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala
seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.
Menurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit
ganas, progresif pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai
dengan proliferasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara
abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang. Proliferasi sel leukosit
yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal,
jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan
diakhiri dengan kematian (Mansjoer, 1999).
Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan
limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar ,
pembagian leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Leukemia limfoid :
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Merupakan kanker yang paling sering
menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi
antara umur 3 sampai 4 tahun. Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi
limpoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular.
Paling sering terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang
terjadi (Smeltzer dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena
sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang
memadai, yaitu berupa: lemah dan sesak nafas, karena anemia (sel darah
merah terlalu sedikit) infeksi dan demam karena, berkurangnya jumlah sel
darah putih perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit.

5
B. PATOFISIOLOGI
Manifestasi klinis penderita leukemia akut disebabkan adanya
penggantian sel pada sumsum tulang oleh sel leukemik , menyebabkan
gangguan produksi sel darah merah . Depresi produksi platelet yang
menyebabkan purpura dan kecenderungan terjadinya perdarahan . Kegagalan
mekanisme pertahanan selular karena penggantian sel darah putih oleh sel
lekemik, yang menyebabkan tingginya kemungkinan untuk infeksi . Infiltrasi
sel-sel leukemik ke organ-organ vital seperti liver dan limpa oleh sel-sel
leukemik yang dapat menyebabkan pembesaran dari organ-organ tersebut . (
Cawson, 1982 ). Sedangkan pada penderita Leukemia itu sebdiri disebabkan
sbb:
1. Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan,
imaturnya sel blast.Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan
platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan
trombositipenia.
2. Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan
sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi
3. Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan
infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan
metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada
penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan
jaringan.
4. Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya
pembesaran hati, limfe,nodus limfe, dan nyeri persendian. (Suriadi, &
Yuliani R, 2001: hal. 175)

6
C. MANIFESTASI KLINIK
1. Hematopoesis normal terhambat
2. Penurunan jumlah leukosit
3. Penurunan sel darah merah
4. Penurunan trombosit
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik
yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi
maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid
Leukimia diklasifikasikan dalam 4 bagian :
a. Leukeumia Limfositik Kronik (LLK)
Leukemia Limfositik Kronik (LLK) ditandai dengan adanya
sejumlah besar limfosit (salah satu jenis sel darah putih) matang yang
bersifat ganas dan pembesaran kelenjar getah bening. Lebih dari 3/4
penderita berumur lebih dari 60 tahun, dan 2-3 kali lebih sering
menyerang pria. Pada awalnya penambahan jumlah limfosit matang yang
ganas terjadi di kelenjar getah bening. Kemudian menyebar ke hati dan
limpa, dan kedua nya mulai membesar. Masuknya limfosit ini ke dalam
sumsum tulang akan menggeser sel-sel yang normal, sehingga terjadi
anemia dan penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit di dalam
darah. Kadar dan aktivitas antibodi (protein untuk melawan infeksi) juga
berkurang. Sistem kekebalan yang biasanya melindungi tubuh terhadap
serangan dari luar, seringkali menjadi salah arah dan menghancurkan
jaringan tubuh yang normal.
1) Manifestasinya adalah :
a) Adanya anemia
b) Pembesaran nodus limfa
c) Pembesaran organ abdomen
d) Jumlah eritrosi dan trombosit mungkin normal atau menurun
e) Terjadi penurunan jumlah limfosit (limfositopenia).

7
2) Leukemia Mieloid Akut
LMA mempunyai insidensi tahunan 5-6 kasus tiap juta anak
kurang dari 15 tahun. Di Amerika ,350-500 kasus baru tiap tahun
.LMA merupakan 15-20% dari leukimia anak tetapi terutama sebagai
leukimia neonatal atau congenital .Tidak ada perbedaan insidensi
dalam hal jenis kelamin atau ras dan, kecuali sedikit kenaikan selama
remaja ,disitribusi kasus menurut umur konsisten selama masa anak .
Insidensi LMA melebihi angka perkiraan pada kelainan
genetic, termasuk trisomi 21,anemia Fanconi ,anemia Diamond
Blackfan ,sindrom kostmann, dan sindrom Bloom. Anak yang
mendapatkan terapi keganasan sebelumnya juga mengalami rikiso :
insidensi LMA sekunder mendekati 5% seteelah terapi beberapa
malignitas. Insidensi itu mencapai puncak dalam 10 setahun dari
keganasan awal. Kejadian berkaitandengan terapi spesifik { obat
alkilasi seperti siklofosfamid, obat yang menghambat reparasi DNA
seperti etoposid}. Terapi radiasi yang diberikan bersama kemoterapi
juga meningkatkan risiko leukimia sekunder.
3) Leukemia Mielositik akut (LMA)
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), Leukemia akut ini
mengenai sel stem hematopoetik yang kelak berdiferensiasi ke sua sel
mieloid;monosit, granulosit, eritrosit, dan trombosit. Semua kelompok
usia dapat terkena , insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya
usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.
Gambaran klinis LMA, antara lain yaitu ;terdapat peningkatan
leukosit, pembesaran pada limfe, rasa lelah, pucat, nafsu makan
menurun, anemia, ptekie, perdarahan , nyeri tulang, Infeksi
4) Leukemia Mielogenus Kronik (LMK)
Leukemia Mielositik (mieloid, mielogenous, granulositik,
LMK) adalah suatu penyakit dimana sebuah sel di dalam sumsum
tulang berubah menjadi ganas dan menghasilkan sejumlah besar
granulosit (salah satu jenis sel darah putih) yang abnormal.

8
Dimasukkan kedalam keganasan sel stem mieloid. Namun
lebih banyak terdapat sel normal dibaniding dalam bentuk akut,
sehingga penyakit ini lebih ringan, jarang menyerang individu di
bawah umur 20 tahun, namun insidensinya meningkat sesuai
pertambahan umur.
Gambaran klinis LMK mirip dengan LMA, tetapi gejalanya
lebih ringan yaitu; Pada stadium awal, LMK bisa tidak menimbulkan
gejala. Tetapi beberapa penderita bisa mengalami: kelelahan dan
kelemahan, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, demam
atau berkeringat dimalam hari, perasaan penuh di perutnya (karena
pembesaran limpa) (Smeltzer dan Bare, 2001).
D. ETIOLOGI
Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti, namun diketahui
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, seperti
1. Radiasi
Radiasi dapat meningkatkan frekuensi LMA dan LMA. Tidak
ada laporan mengenai hubungan antara radiasi dengan LLK. Beberapa
laporan yang mendukung:
a. Para pegawai radiologi lebih sering menderita leukemia
b. Penderita dengan radioterapi lebih sering menderita leukemia
c. Leukemia ditemukan pada korban hidup kejadian bom atom
Hiroshima dan Nagasaki, Jepang
2. Faktor leukemogenik
Terdapat beberapa zat kimia yang telah diidentifikasi dapat
mempengaruhi frekuensi leukemia:
a. Racun lingkungan seperti benzena
b. Bahan kimia industri seperti insektisida
c. Obat untuk kemoterapi
3. Virus
Virus dapat menyebabkan leukemia seperti retrovirus, virus
leukemia feline, HTLV-1 pada dewasa.

9
Menurut Smeltzer dan Bare (2001) meskipun penyebab leukemia
tidak diketahui, presdiposisi genetik maupun faktor-faktor lingkungan
kelihatannya memainkan peranan. Faktor lingkungan berupa paparan
radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukemia yang timbul
bertahun-tahun kemudian. Zat-zat kimia (misalnya benzen, arsen,
pestisida, kloramfenikol, fenilbutazone, dan agen antineoplastil) dikaitkan
dengan frkuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil. Leukemia
biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar
jenis leukemia tidak diketahui. Virus menyebabkan beberapa leukemia
pada binatang (misalnya kucing). Virus HTLV-I (human T-cell
lymphotropic virus type I), yang menyerupai virus penyebab AIDS,
diduga merupakan penyebab jenis leukemia yang jarang terjadi pada
manusia, yaitu leukemia sel-T dewasa.Pemaparan terhadap penyinaran
(radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat
antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang
memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down dan
sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.
4. Faktor Lingkungan
Di antara faktor-faktor lingkungan yang dianggap penyebab
leukemia, berikut adalah beberapa yang paling masuk akal:
a. Merokok - merokok ini diyakini akan meningkatkan kemungkinan
terkena leukemia. Meskipun statistik menunjukkan bahwa sekitar 20
persen dari kasus leukemia akut yang berhubungan dengan merokok,
leukemia juga terjadi kepada orang-orang yang tidak merokok dan
karena itu tidak dapat dianggap sebagai penyebab leukemia pada
dirinya sendiri;
b. Berkepanjangan paparan radiasi - Radiasi dianggap memfasilitasi
pengembangan leukemia. Hal ini diyakini bahwa paparan sinar-X
dapat menyebabkan leukemia;

10
c. Pemaparan berkepanjangan untuk benzena - statistik mengungkapkan
bahwa ini merupakan faktor utama risiko dalam beberapa bentuk
leukemia, seperti leukemia myelogenous;
d. Kemoterapi dan pengobatan kanker - pengobatan kanker dan
kemoterapi sebelumnya dikenal untuk memfasilitasi terjadinya dan
pengembangan leukemia dan dapat dianggap sebagai penyebab
leukemia masuk akal. Dalam beberapa tahun dari penyelesaian
kemoterapi dan perawatan lainnya untuk beberapa bentuk kanker,
kebanyakan orang dapat mengembangkan leukemia. Diantara faktor-
faktor genetik yang dianggap penyebab leukemia, yang berikut ini
dianggap paling penting :
1) Kelainan kromosom - beberapa sindrom genetik jarang diketahui
berkontribusi pada penyebab leukemia.
2) Sistem kekebalan masalah genetik - sistem kekebalan tubuh lemah
sangat mungkin untuk memfasilitasi terjadinya leukemia dan
karenanya dapat dianggap sebagai penyebab leukemia;
3) Down syndrome - anak yang lahir dengan sindrom ini mempunyai
risiko yang tinggi mengembangkan leukemia akut.
4) Daftar kemungkinan penyebab leukemia dapat melanjutkan lebih
lanjut, tetapi ini adalah faktor yang paling umum yang dianggap
terkait dengan leukemia. Sementara beberapa dari mereka dapat
dicegah, yang lain berada dalam gen dan sekarang tidak dapat
diperbaiki. Di masa depan, Namun, berkat kemajuan medis, kami
mungkin akan dapat mencegah leukemia dan bentuk lain dari
kanker.

11
E. TANDA DAN GEJALA PENYAKIT LEUKIMIA
Gejala penderita leukemia bevariasi tergantung dari jumlah sel abnormal
dan tempat berkumpulnya sel abnormal tersebut. Gejala umum pasien
leukemia yaitu
1. Demam atau keringat malam
2. Sering mengalami infeksi
3. Merasa lemah atau capai
4. Pucat
5. Sakit kepala
6. Mudah berdarah atau memar.Misalnya gusi mudah berdarah saat sikat
gigi, muda memar saat terbentur ringan)
7. Nyeri pada tulang dan/atau sendi
8. Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut, akibat pembesaran limpa
9. Pembesaran kelenjar getah bening, terutama di leher dan ketiak
10. Penurunan berat badan
Pada stadium dini leukemia kronik, sel leukemia dapat berfungsi hampir
seperti sel normal. Mungkin tidak ada gejala yang dirasakan selama beberapa
waktu. Diagnosis pada tahap ini mungkin ditentukan saat pemeriksaan check
up rutin. Jika muncul gejala, umumnya ringan dan perlahan-lahan semakin
memberat.
Pada leukemia akut gejala akan timbul dan memberat secara cepat. Gejala
leukemia akut lainnya yaitu muntah, penurunan konsentrasi, kehilangan
kendali otot, dan kejang. Sel leukemia juga dapat berkumpul di buah zakar
dan menyebabkan pembengkakan.
Gejala Leukemia yang ditimbulkan umumnya berbeda diantara
penderita, namun demikian secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Anemia. Penderita akan menampakkan cepat lelah, pucat dan bernafas
cepat (sel darah merah dibawah normal menyebabkan oxygen dalam
tubuh kurang, akibatnya penderita bernafas cepat sebagai kompensasi
pemenuhan kekurangan oxygen dalam tubuh).

12
b. Perdarahan. Ketika Platelet (sel pembeku darah) tidak terproduksi dengan
wajar karena didominasi oleh sel darah putih, maka penderita akan
mengalami perdarahan dijaringan kulit (banyaknya jentik merah
lebar/kecil dijaringan kulit).
c. Terserang Infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan
tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada Penderita Leukemia, sel
darah putih yang diterbentuk adalah tidak normal (abnormal) sehingga
tidak berfungsi semestinya. Akibatnya tubuh si penderita rentan terkena
infeksi virus/bakteri, bahkan dengan sendirinya akan menampakkan
keluhan adanya demam, keluar cairan putih dari hidung (meler) dan
batuk.
d. Nyeri Tulang dan Persendian. Hal ini disebabkan sebagai akibat dari
sumsum tulang (bone marrow) mendesak padat oleh sel darah putih.
e. Nyeri Perut. Nyeri perut juga merupakan salah satu indikasi gejala
leukemia, dimana sel leukemia dapat terkumpul pada organ ginjal, hati
dan empedu yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh ini
dan timbulah nyeri. Nyeri perut ini dapat berdampak hilangnya nafsu
makan penderita leukemia.
f. Pembengkakan Kelenjar Lympa. Penderita kemungkinan besar
mengalami pembengkakan pada kelenjar lympa, baik itu yang dibawah
lengan, leher, dada dan lainnya. Kelenjar lympa bertugas menyaring
darah, sel leukemia dapat terkumpul disini dan menyebabkan
pembengkakan.
g. Kesulitan Bernafas (Dyspnea). Penderita mungkin menampakkan gejala
kesulitan bernafas dan nyeri dada, apabila terjadi hal ini maka harus
segera mendapatkan pertolongan medis.
Seperti semua sel-sel darah, sel-sel leukemia mengalir ke seluruh tubuh.
Tergantung pada jumlah sel-sel yang abnormal dan tempat sel-sel ini
terkumpul, pasien leukemia mempunyai sejumlah gejala umum antara lain:
1. Demam atau keringat malam
2. Infeksi yang sering terjadi

13
3. Merasa lemah atau letih
4. Sakit kepala
5. Mudah berdarah dan lebam (gusi berdarah, bercak keunguan di kulit,
atau bintik-bintik merah kecil di bawah kulit)
6. Nyeri di tulang atau persendian
7. Pembengkakan atau rasa tidak nyaman di perut (akibat pembesaran
limpa)
8. Pembengkakan, terutama di leher atau ketiak
9. Kehilangan berat badan
F. PATOFISIOLOGI
Pada keadaan normal, sel darah putih berfungsi sebagai pertahanan
kita dengan infeksi. Sel ini secara normal berkembang sesuai dengan
perintah, dapat dikontrol sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Lekemia
meningkatkan produksi sel darah putih pada sumsum tulang yang lebih dari
normal. Mereka terlihat berbeda dengan sel darah normal dan tidak berfungsi
seperti biasanya. Sel lekemia memblok produksi sel darah putih yang normal
, merusak kemampuan tubuh terhadap infeksi. Sel lekemia juga merusak
produksi sel darah lain pada sumsum tulang termasuk sel darah merah dimana
sel tersebut berfungsi untuk menyuplai oksigen pada jaringan.
Menurut Smeltzer dan Bare (2001) analisa sitogenik menghasilkan
banyak pengetahuan mengenai aberasi kromosomal yang terdapat pada pasien
dengan leukemia,. Perubahan kromosom dapat meliputi perubahan angka,
yang menambahkan atau menghilangkan seluruh kromosom, atau perubahan
struktur, yang termasuk translokasi ini, dua atau lebih kromosom mengubah
bahan genetik, dengan perkembangan gen yang berubah dianggap
menyebabkan mulainya proliferasi sel abnormal. Leukemia terjadi jika proses
pematangan dari stem sel menjadi sel darah putih mengalami gangguan dan
menghasilkan perubahan ke arah keganasan. Perubahan tersebut seringkali
melibatkan penyusunan kembali bagian dari kromosom (bahan genetik sel
yang kompleks). Penyusunan kembali kromosom (translokasi kromosom)

14
mengganggu pengendalian normal dari pembelahan sel, sehingga sel
membelah tak terkendali dan menjadi ganas. Pada akhirnya sel-sel ini
menguasai sumsum tulang dan menggantikan tempat dari sel-sel yang
menghasilkan sel-sel darah yang normal. Kanker ini juga bisa menyusup ke
dalam organ lainnya, termasuk hati, limpa, kelenjar getah bening, ginjal dan
otak.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosa Penyakit Leukemia (Kanker Darah) Penyakit Leukemia
dapat dipastikan dengan beberapa pemeriksaan, diantaranya adalah ; Biopsy,
Pemeriksaan darah {complete blood count (CBC)}, CT or CAT scan,
magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, Ultrasound, Spinal tap/lumbar
puncture.
Menurut Doengoes dkk (1999) menyatakan bahwa pemeriksaan
penunjang mengenai leukemia adalah :
1. Hitung darah lengkap menunjukkan normositik, anemia normositik.
2. Hemoglobin : dapat kurang dari 10 g/100 ml
3. Retikulosit : jumlah biasanya rendah
4. Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
5. SDP : mungkin lebih dari 50.000/cm dengan peningkatan SDP yang
imatur (mungkin menyimpang ke kiri). Mungkin ada sel blast leukemia.
6. PT/PTT : memanjang
7. LDH : mungkin meningkat
8. Asam urat serum/urine : mungkin meningkat
9. Muramidase serum (lisozim) : penigkatabn pada leukimia monositik akut
dan mielomonositik.
10. Copper serum : meningkat
11. Zinc serum : meningkat

15
12. Biopsi sumsum tulang : SDM abnormal biasanya lebih dari 50 % atau
lebih dari SDP pada sumsum tulang. Sering 60% - 90% dari blast, dengan
prekusor eritroid, sel matur, dan megakariositis menurun.
13. Foto dada dan biopsi nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan
H. PENATALAKSANAAN LEUKIMIA
Sebagian besar pengobatan tidak menyembuhkan penyakit, tetapi
hanya memperlambat perkembangan penyakit. Pengobatan dianggap berhasil
apabila jumlah sel darah putih dapat diturunkan sampai kurang dari
50.000/mikroliter darah. Pengobatan yang terbaik sekalipun tidak bisa
menghancurkan semua sel leukemik. Satu-satunya kesempatan penyembuhan
adalah dengan pencangkokan sumsum tulang. Pencangkokan paling efektif
jika dilakukan pada stadium awal dan kurang efektif jika dilakukan pada fase
akselerasi atau krisis blast. Obat interferon alfa bisa menormalkan kembali
sumsum tulang dan menyebabkan remisi. Hidroksiurea per-oral (ditelan)
merupakan kemoterapi yang paling banyak digunakan untuk penyakit ini.
Busulfan juga efektif, tetapi karena memiliki efek samping yang serius, maka
pemakaiannya tidak boleh terlalu lama. Terapi penyinaran untuk limpa
kadang membantu mengurangi jumlah sel leukemik. Kadang limpa harus
diangkat melalui pembedahan (splenektomi) untuk: mengurangi rasa tidak
nyaman di perut, meningkatkan jumlah trombosit, mengurangi kemungkinan
dilakukannya tranfusi.
1. Leukemia limfoblastik akut :
Tujuan pengobatan adalah mencapai kesembuhan total dengan
menghancurkan sel-sel leukemik sehingga sel noramal bisa tumbuh
kembali di dalam sumsum tulang. Penderita yang menjalani kemoterapi
perlu dirawat di rumah sakit selama beberapa hari atau beberapa minggu,
tergantung kepada respon yang ditunjukkan oleh sumsum tulang. Sebelum
sumsum tulang kembali berfungsi normal, penderita mungkin
memerlukan: transfusi sel darah merah untuk mengatasi anemia, transfusi
trombosit untuk mengatasi perdarahan, antibiotik untuk mengatasi infeksi.

16
Beberapa kombinasi dari obat kemoterapi sering digunakan dan dosisnya
diulang selama beberapa hari atau beberapa minggu. Suatu kombinasi
terdiri dari prednison per-oral (ditelan) dan dosis mingguan dari vinkristin
dengan antrasiklin atau asparaginase intravena. Untuk mengatasi sel
leukemik di otak, biasanya diberikan suntikan metotreksat langsung ke
dalam cairan spinal dan terapi penyinaran ke otak. Beberapa minggu atau
beberapa bulan setelah pengobatan awal yang intensif untuk
menghancurkan sel leukemik, diberikan pengobatan tambahan
(kemoterapi konsolidasi) untuk menghancurkan sisa-sisa sel leukemik.
Pengobatan bisa berlangsung selama 2-3 tahun. Sel-sel leukemik bisa
kembali muncul, seringkali di sumsum tulang, otak atau buah zakar.
Pemunculan kembali sel leukemik di sumsum tulang merupakan masalah
yang sangat serius. Penderita harus kembali menjalani kemoterapi.
Pencangkokan sumsum tulang menjanjikan kesempatan untuk sembuh
pada penderita ini. Jika sel leukemik kembali muncul di otak, maka obat
kemoterapi disuntikkan ke dalam cairan spinal sebanyak 1-2 kali/minggu.
Pemunculan kembali sel leukemik di buah zakar, biasanya diatasi dengan
kemoterapi dan terapi penyinaran.
2. Pengobatan Leukeumia Limfositik Kronik
Leukemia limfositik kronik berkembang dengan lambat,
sehingga banyak penderita yang tidak memerlukan pengobatan selama
bertahun-tahun sampai jumlah limfosit sangat banyak, kelenjar getah
bening membesar atau terjadi penurunan jumlah eritrosit atau trombosit.
Anemia diatasi dengan transfusi darah dan suntikan eritropoietin (obat
yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah). Jika jumlah
trombosit sangat menurun, diberikan transfusi trombosit. Infeksi diatasi
dengan antibiotik. Terapi penyinaran digunakan untuk memperkecil
ukuran kelenjar getah bening, hati atau limpa. Obat antikanker saja atau
ditambah kortikosteroid diberikan jika jumlah limfositnya sangat banyak.
Prednison dan kortikosteroid lainnya bisa menyebabkan perbaikan pada
penderita leukemia yang sudah menyebar. Tetapi respon ini biasanya

17
berlangsung singkat dan setelah pemakaian jangka panjang, kortikosteroid
menyebabkan beberapa efek samping. Leukemia sel B diobati dengan
alkylating agent, yang membunuh sel kanker dengan mempengaruhi
DNAnya. Leukemia sel berambut diobati dengan interferon alfa dan
pentostatin.
I. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi leukemia akut merupakan akibat dari komplikasi yang
terjadi pada neoplasma hematopoetik secara umum. Namun setiap leukemia
akut memiliki ciri khasnya masing-masing. Secara garis besar, leukemia akut
memiliki 3 tanda utama yaitu:
1. Jumlah sel di perifer yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan terjadinya
infiltrasi jaringan atau leukostasis
2. Penggantian elemen sumsum tulang normal yang dapat menghasilkan
komplikasi sebagai akibat dari anemia, trombositopenia, dan leukopenia
3. Pengeluaran faktor faali yang mengakibatkan komplikasi yang signifikan
Alat diagnosa
1. Leukemia akut dapat didiagnosa melalui beberapa alat, seperti:
2. Pemeriksaan morfologi: darah tepi, aspirasi sumsum tulang, biopsi
sumsum tulang
3. Pewarnaan sitokimia
4. Immunofenotipe
5. Sitogenetika
6. Diagnostis molekuler
Tahitian Noni Juice bermanfaat untuk Leukimea karena Tahitian
Noni Juice bekerja ditingkat selular. Lebih jauh lagi dipercaya bahwa
Tahitian Noni Juice meningkatkan struktur selular yang di hancurkan oleh
kanker darah. Beberapa penelitian lain telah dilakukan di laboratorium-
laboratorium untuk menegaskan kemampuan Tahitian Noni Juice untuk
melawan kanker . Dalam suatu penelitian, empat orang ilmuwan dari Jepang
menyuntikkan sel ras (sel yang menjadi pemicu bagi pertumbuhan yang
merusak) dengan substansi yang disebut damnacanthal yang ditemukan dalam

18
Tahitian Noni Juice. Mereka mengobservasi bahwa pemberian damnachantal
ternyata menghambat reproduksi sel ras secara signifikan. Damnachantal
adalah suatu substansi didalam Tahitian Noni Juice yang di percaya sebagai
agen anti kanker.
Sebagai tambahan, riset telah membuktikan bahwa Tahitian Noni
Juice merangsang tubuh untuk mereproduksi element-element yang melawan
kanker seperti nitrix oxide, interleukin (mediator sistem imunitas yang dibuat
oleh dan mempengaruhi limfosit-red), interferon (sitokin yang mencegah
terjadinya super infeksi oleh virus lain ? red), faktor nekrosis tumor,
lipopolisakarida dan sel-sel pembunuh alami.
Dipercaya juga bahwa Tahitian Noni Juice mempunyai fungsi
pencegahan dan perlindungan terhadap kanker pada tahap inisisasi, yang
merupakan fase pertama pada pembentukan kanker. Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Mian-Ying Wang, M.D. di Fakultas Kedokteran Universitas
Illionis, Rockford, menunjukan bahwa tikus yang diberikan 10% Tahitian
Noni Juice selama seminggu dan kemudian disuntukan sel DMBA (agen
penyebab kanker) , mempunyai bercak tambahan DNA (suatu tes untuk
melihat keabnormalan DNA) yang secara signifikan lebih sedikit di
bandingkan dengan tikus yang juga disuntukan DMBA namun hanya diberi
air. Semakin sedikit jumlah bercak tambahan DNA, semakin tinggi
perlindungan terhadap kanker. Tikus yang diberi Tahitian Noni Juice
mempunyai 50% bercak DNA lebih sedikit di paru-paru, 60% lebih sedikit di
jantung, 70% lebih sedikit di lever, dan 90% lebih sedikit di ginjal. Tahitian
Noni Juice telah terbukti memiliki kemampuan anti oksidan. Hal ini berarti
dapat mengikat radikal bebas yang terdapat dalam tubuh. Radikal bebas dapat
merusak sel dan membentuk sel kanker.
Banyak yang berpendapat bahwa aktifitas anti oksidan adalah fungsi
penting dari Tahitian Noni Juice dan salah satu alasan mengapa begitu banyak
orang sukses dalam melawan kanker dengan Tahitian Noni Juice. Dari 27.000
pengguna Tahitian Noni Juice dalam survey saya 2.365 orang menderita
berbagai jenis kanker. Dari jumlah ini 60% dari mereka berhasil mengalami

19
kemajuan kesehatan yang luar biasa. Dosis Minum Tahitian Noni untuk
penderita kanker darah atau leukimia Dosis penggunaan Tahitian Noni Juice
untuk Terapi Kanker : jumlah konsumsi rata-rata dari 64% responden yang
mengalami kemajuan kesehatan adalah 105 cc setiap hari. Dalam riset
Dr.Neil Solomon juga menemukan ?RESEP NONI? yang telah digunakan
oleh para pasien penderita kanker untuk meningkatkan energi tubuh mereka
secara maksimal. Resep ini datang dari rekan sejawat dari profesional media,
Orlando Pile, M.D. Resepnya sebagai berikut:
 Liter Tahitian Noni Juice perhari selama 4 hari pertama
1. Penyakit Leukemia Akut dan Kronis Leukemia akut ditandai dengan
suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan
memburuk. Apabila hal ini tidak segera diobati, maka dapat
menyebabkan kematian dalam hitungan minggu hingga hari.
Sedangkan leukemia kronis memiliki perjalanan penyakit yang tidak
begitu cepat sehingga memiliki harapan hidup yang lebih lama,
hingga lebih dari 1 tahun.
2. Leukemia diklasifikasikan berdasarkan jenis sel Ketika pada
pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau
sel limfoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia
yang mempengaruhi sel mieloid seperti neutrofil, basofil, dan
eosinofil, disebut leukemia mielositik.
J. PENANGANAN DAN PENGOBATAN LEUKIMIA
Penanganan kasus penyakit Leukemia biasanya dimulai dari gejala
yang muncul, seperti anemia, perdarahan dan infeksi. Secara garis besar
penanganan dan pengobatan Leukemia bisa dilakukan dengan cara single
ataupun gabungan dari beberapa metode dibawah ini:
1. Chemotherapy/intrathecal medications
2. Therapy Radiasi. Metode ini sangat jarang sekali digunakan
3. Transplantasi bone marrow (sumsum tulang)
4. Pemberian obat-obatan tablet dan suntik
5. Transfusi sel darah merah atau platelet.

20
Sistem Therapi yang sering digunakan dalam menangani penderita
leukemia adalah kombinasi antara Chemotherapy (kemoterapi) dan
pemberian obat-obatan yang berfokus pada pemberhentian produksi sel darah
putih yang abnormal dalam bone marrow. Selanjutnya adalah penanganan
terhadap beberapa gejala dan tanda yang telah ditampakkan oleh tubuh
penderita dengan monitor yang komprehensive.Dapat juga dengan
pengobatan :
1. Protokol pengobatan
2. Protokol pengobatan menurut IDAI ada 2 macam yaitu : Protokol half
dose metothrexate (Jakarta 1994) dan Protokol Wijaya Kusuma (WK-
ALL 2000)
3. Pengobatan suportif ; Terapi suportif misalnya transfusi komponen darah,
pemberian antibiotik, nutrisi, dan psikososial.
a. Riwayat penyakit
Leukemia limfoblastik akut merupakan leukemia yang paling
sering dijumpai pada anak-anak. Dapat mengenai baik anak-anak laki-laki
maupun wanita dengan frekunsi yang sama. Gambaran penyakitnya
bervariasi, pada anak kecil ditandai dengan mendadak panas, pucat dan
memar dikulit. Pada anak yang lebih besar sering didahului dengan nyeri
ditulang beberapa minggu/bulan sebelum timbulnya ecchymosis, pucat
dan panas badan. Perasaan lemah dan berat badan yang tidak bertambah
atau nafsu makan yang sangat menurun, kadang-kadang epistaksis dan
perdarahan gusi dapat merupakan keluhan-keluhan tambahan.
b. Kelainan fisik
Anak biasanya terlihat pucat, tampak sakit berat, takikardi adalah
merupakan tanda yang selalu ditemukan demikian pula perdarahan fundus
oculi. Limfadenopati terdapat di leher, axila dan inguinal, biasanya bersifat
simetris. Terdapat hepatosplenomegali, demikian pula tonsil membesar.
Akan dapat ditemukan ptechiae dan ecchymosis. pada stadium
awal penyakit, susunan saraf pusat tidak akan terkena proses. Baru
stadium lanjut akan terlihat gejala rangsangan menigeal dan gejala

21
cerebral dengan timbulnya refleks-refleks patologis. Dapat terjadi
perdarahan otak yang berakibat kematian mendadak.
c. Kelainan hematologis
Anemia normokrom normositer dengan jumlah eritrosit yang
menurun sekitar 1-3 juta. Tidak terlihat polikromasi dan jumlah retikulosit
menurun. Lekositosis dengan jumlah leukosit dapat mencapai rata-rata
100.000. Lekosit terdiri dari limfoblas ( reaksi peroksidase negatif) dan
jumlah granulosit sangat berkurang. Kira-kira 10% leukemia limfoblastik
akut memberikan gambaran leukemia aleukemik dan limfoblas sangat
jarang djumpai dalam darah tepi. Pada kasus leukemia yang aleukemik
limfosit yang tampak pada darah tepi biasanya berbentuk limfosit yang
atipik. Trombositopenia dengan jumlah trombosit rata-rata 75.000/mm3
Kira-kira 10 % kasus mempunyai trombosit yang normal. Sum-
sum tulang hiperseluler disebabkan infiltrasi masif dengan limfoblas,
megakarioblast dan pronormoblas sangat jarang.
K. PROGNOSIS
Prognosis. Banyak gambaran klinis telah dipakai sebagai indicator
prognosis, tetapi kehilangan arti karena keberhasilan terapi. Misalnya
imunofenotip penting dalam mengarahan terapi kearah risiko ,tetapi arti
prognostiknya telah lenyap berkat regimen terapi kontemporer .Karena itu ,
terapi merupakan factor prognostic tunggal yang paling penting .Hitung
leukosit awal mempunyai hubungan linier terbalik dengan kemungkinan
sembunyi.Umur pada waktu diagnosis juga merupakan peramal yang dapat di
percaya {reliable}. Penderita berumur lebih dari 10 tahun dan yang kurang
dari 12 bulan yang mempunyai penyusunan kembali {rearrangement}
kromosom yang meyangkut region 11q23, jauh lebih buruk dibanding anak
dari kelompok umur pertengahan {intermediate}. Beberapa kelainan
kromosom mempengaruhi hasil terapi .Hiperploidi lebih dari 50 kromosom
berkaitan dengan hasil terapi baik dan member respon terhadap terapi
berbasis antimetabolit. Dua translokasi kromosom-t { 9:22}, atau kromosom
Philadelphia ,dan t{ 4:11}- mempunyai prognosis buruk .Beberapa peneliti

22
menganjurkan CST selama remisi inisial pada penderita dengan translokasi
tersebut . LLA progenitor sel-B dengan t { 1:19} mempunyai prognosis
kurang baik dibanding kasus lain dengan imunofenotip ini:hanya 60% dari
penderita akan remisi setelah 5 tahun jika tidak mendapat terapi sangat
intensif.
Prognosis ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu :Umur anak-
anak memiliki prognosis yang lebih baik darpada umur dewasa dan tua.
Respons terhadap khemoterapi. Mereka yang berespons baik terhadap
Khemo-terapi mempunyai prognosis yang lebih baik. leukemia myeloid akut
adalah penyakit yang dapat disembuhkan, kemungkinan obat untuk pasien
tertentu tergantung pada sejumlah faktor prognosis.
1. Sitogenetika
Faktor prognosis yang paling penting dalam AML Sitogenetika,
atau struktur kromosom dari sel leukemia. sitogenetika kelainan tertentu
yang berhubungan dengan hasil yang sangat baik (misalnya, (15, 17)
translokasi pada leukemia promyelocytic akut). Sekitar setengah dari
pasien AML memiliki "normal" Sitogenetika; mereka jatuh ke dalam
kelompok risiko menengah. Sejumlah kelainan sitogenetika lain yang
dikenal untuk berasosiasi dengan prognosis buruk dan risiko tinggi
kambuh setelah pengobatan.

23
Publikasi pertama untuk alamat Sitogenetika dan prognosis
merupakan pengadilan MRC tahun 1998:
Kategori Kelainan 5 tahun Tingkat
Risiko kelangsungan Relapse
hidup
Baik t (8; 21), t (15, 17), inv (16) 70% 33%
Menengah Normal, +8, +21, +22, del 48% 50%
(7q), del (9q), Abnormal
11q23, semua perubahan
struktural atau numerik
lainnya
Miskin -5, -7, Del (5Q), Abnormal 15% 78%
3q, Kompleks Sitogenetika

Kemudian, Southwest Oncology Group dan Timur Onkologi


Koperasi Group dan, kemudian masih, Kanker dan Leukemia Grup B
dipublikasikan lain, kebanyakan tumpang tindih daftar ramalan
Sitogenetika pada leukemia.
2. Myelodysplastic sindrom
AML yang timbul dari sindrom myelodysplastic yang sudah ada
sebelumnya atau penyakit myeloproliferative (apa yang
disebut''sekunder''AML) memiliki prognosis lebih buruk, seperti
halnya''AML terkait pengobatan''timbul setelah kemoterapi keganasan
yang lain sebelumnya. Kedua perusahaan ini berhubungan dengan tingkat
tinggi kelainan sitogenetika kurang baik.
3. Lain penanda prognostik
Dalam beberapa penelitian, usia> 60 tahun dan peningkatan
tingkat laktat dehidrogenase juga dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk.
Seperti kebanyakan bentuk kanker, kinerja status (yaitu kondisi fisik
umum dan tingkat aktivitas pasien) memainkan peran utama dalam
prognosis juga.

24
Duplikasi tandem FLT3''''internal (ITDs) telah terbukti
memberikan prognosis yang lebih buruk di AML. Mengobati pasien
dengan terapi yang lebih agresif, seperti transplantasi stem-sel di remisi
pertama, belum terbukti untuk meningkatkan kelangsungan hidup jangka
panjang, sehingga fitur ini prognosis adalah signifikansi klinis tidak pasti
pada saat ini. ITDs dari FLT3 dapat berhubungan dengan leukostasis.
Para peneliti sedang menyelidiki signifikansi klinis KIT''''c-
mutasi pada AML. Ini adalah lazim, dan secara klinis relevan karena
ketersediaan inhibitor tirosin kinase, seperti imatinib dan sunitinib yang
dapat memblokir aktivitas KIT''''c-farmakologi.
gen lain yang sedang diteliti sebagai faktor prognosis atau target
terapeutik termasuk''''CEBPA,''''BAALC,''''ERG, dan''NPM1''.
4. Secara keseluruhan harapan penyembuhan
Tingkat Cure dalam uji klinis telah berkisar 20-45%, namun perlu
dicatat bahwa uji klinis sering termasuk pasien yang hanya muda dan
orang yang mampu mentolerir terapi agresif.
Tingkat menyembuhkan keseluruhan untuk semua pasien dengan
AML (termasuk orang tua dan mereka yang tidak mampu mentoleransi
terapi agresif) cenderung lebih rendah. Tingkat penyembuhan leukemia
promyelocytic dapat setinggi 98%.
L. DIAGNOSIS
Petunjuk pertama diagnosis AML biasanya hasil abnormal pada
hitung darah lengkap. Sementara kelebihan abnormal sel-sel darah putih
(leukositosis) adalah penemuan yang umum, dan ledakan leukemia kadang-
kadang terlihat. AML juga dapat hadir dengan penurunan terisolasi di
trombosit, sel darah merah, atau bahkan dengan jumlah''''sel darah putih
rendah (leukopenia). Sementara diagnosis dugaan AML dapat dilakukan
melalui pemeriksaan apusan darah tepi bila ada ledakan beredar leukemia,
diagnosis pasti biasanya membutuhkan aspirasi sumsum tulang yang
memadai dan biopsi.

25
Sumsum atau darah diperiksa melalui mikroskop cahaya maupun
flow cytometry untuk mendiagnosis adanya leukemia, untuk membedakan
AML dari jenis lain leukemia (misalnya leukemia lymphoblastic akut), dan
untuk mengklasifikasikan subtipe penyakit (lihat di bawah).
Contoh sumsum atau darah biasanya juga diuji untuk translokasi
kromosom oleh Sitogenetika rutin atau neon hibridisasi in situ. Studi
Genetika juga dapat dilakukan untuk mencari mutasi spesifik dalam gen
seperti FLT3, nucleophosmin, dan KIT, yang dapat mempengaruhi hasil dari
penyakit. Cytochemical noda pada noda darah dan sumsum tulang sangat
membantu dalam pembedaan AML dari SEMUA dan dalam subklasifikasi
AML. Kombinasi dari myeloperoxidase atau Sudan noda hitam dan noda
esterase non spesifik akan memberikan informasi yang diinginkan dalam
banyak kasus. The myeloperoxidase atau reaksi Sudan hitam yang paling
berguna dalam membangun identitas AML dan membedakan dari SEMUA.
The esterase non-spesifik noda digunakan untuk mengidentifikasi komponen
monocytic di AMLs dan untuk membedakan leukemia monoblastic buruk
dibedakan dari SEMUA.
Diagnosis dan klasifikasi AML dapat menantang, dan harus
dilakukan oleh hematopathologist memenuhi syarat atau hematologi. Dalam
kasus sederhana, kehadiran fitur morfologi tertentu (seperti batang Auer) atau
hasil aliran tertentu cytometry dapat membedakan AML dari leukemia lain,
namun tanpa adanya fitur tersebut, diagnosis mungkin lebih sulit. Menurut
banyak digunakan kriteria WHO, diagnosis AML ditetapkan dengan
menunjukkan keterlibatan lebih dari 20% dari darah dan / atau sumsum tulang
oleh myeloblasts leukemia. AML harus hati-hati dibedakan dari "pra-
leukemia" kondisi seperti sindrom myelodysplastic atau myeloproliferative,
yang diperlakukan berbeda. Karena promyelocytic leukemia akut (APL)
memiliki hal dpt sembuh tertinggi dan membutuhkan bentuk unik
pengobatan, penting untuk segera mendirikan atau mengeluarkan diagnosis
ini subtipe leukemia.

26
Fluorescent hibridisasi in situ dilakukan pada sumsum tulang darah atau
sering digunakan untuk tujuan ini, karena mudah mengidentifikasi translokasi
kromosom (t [15, 17]) yang menjadi ciri khas APL
Jika Anda mempunyai gejala atau hasil skrining yang mengarah ke
penyakit leukemia, dokter harus mengetahui apakah gejala tersebut berasal
dari kanker atau dari kondisi kesehatan yang lain. Anda akan diminta untuk
menjalani tes darah dan prosedur diagnostik berikut ini:
1. Pemeriksaan fisik – dokter akan memeriksa pembengkakan di kelenjar
getah bening, limfa, limpa dan hati.
2. Tes darah – laboratorium akan memeriksa jumlah sel-sel darah. Leukemia
menyebabkan jumlah sel-sel darah putih meningkat sangat tinggi, dan
jumlah trombosit dan hemoglobin dalam sel-sel darah merah menurun.
Pemeriksaan laboratorium juga akan meneliti darah untuk mencari ada
tidaknya tanda-tanda kelainan pada hati dan/atau ginjal.
3. Biopsi – dokter akan mengangkat sumsum tulang dari tulang pinggul atau
tulang besar lainnya. Ahli patologi kemudian akan memeriksa sampel di
bawah mikroskop, untuk mencari sel-sel kanker. Cara ini disebut biopsi,
yang merupakan cara terbaik untuk mengetahui apakah ada sel-sel
leukemia di dalam sumsum tulang.
4. Sitogenetik – laboratorium akan memeriksa kromosom sel dari sampel
darah tepi, sumsum tulang, atau kelenjar getah bening.
5. Processus Spinosus – dengan menggunakan jarum yang panjang dan tipis,
dokter perlahan-lahan akan mengambil cairan cerebrospinal (cairan yang
mengisi ruang di otak dan sumsum tulang belakang). Prosedur ini
berlangsung sekitar 30 menit dan dilakukan dengan anestesi lokal. Pasien
harus berbaring selama beberapa jam setelahnya, agar tidak pusing.
Laboratorium akan memeriksa cairan apakah ada sel-sel leukemia atau
tanda-tanda penyakit lainnya.
6. Sinar X pada dada – sinar X ini dapat menguak tanda-tanda penyakit di
dada.

27
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Leukemia atau kanker darah adalah sekelompok penyakit neoplastik
yang beragam, ditandai oleh perbanyakan secara tak normal atau transformasi
maligna dari sel-sel pembentuk darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid.
Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal atau
abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di
dalam darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia mempengaruhi
hematopoiesis atau proses pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh
penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan
banyak sel darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak
banyak merupakan sel yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang
semakin meninggi ini dapat mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.
Leukemia (kanker darah) adalah jenis penyakit kanker yang
menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang (bone
marrow). Sumsum tulang atau bone marrow ini dalam tubuh manusia
memproduksi tiga type sel darah diantaranya sel darah putih (berfungsi
sebagai daya tahan tubuh melawan infeksi), sel darah merah (berfungsi
membawa oxygen kedalam tubuh) dan platelet (bagian kecil sel darah yang
membantu proses pembekuan darah).
Leukemia umumnya muncul pada diri seseorang sejak dimasa
kecilnya, Sumsum tulang tanpa diketahui dengan jelas penyebabnya telah
memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal.
Normalnya, sel darah putih me-reproduksi ulang bila tubuh memerlukannya
atau ada tempat bagi sel darah itu sendiri. Tubuh manusia akan memberikan
tanda/signal secara teratur kapankah sel darah diharapkan be-reproduksi
kembali.
Pada kasus Leukemia (kanker darah), sel darah putih tidak merespon
kepada tanda/signal yang diberikan. Akhirnya produksi yang berlebihan tidak
terkontrol (abnormal) akan keluar dari sumsum tulang dan dapat ditemukan di

28
dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih yang abnormal ini
bila berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya, Seseorang
dengan kondisi seperti ini (Leukemia) akan menunjukkan beberapa gejala
seperti; mudah terkena penyakit infeksi, anemia dan perdarahan.
Menurut Ahmad Ramadi (1998) leukemia merupakan penyakit
ganas, progresif pada organ - organ pembentukan darah yang ditandai
dengan proliferasi dan perkembangan leukosit serta pendahulunya secara
abnormal di dalam darah dan sumsum tulang belakang. Proliferasi sel leukosit
yang abnormal, ganas, sering disertai bentuk leukosit yang tidak abnormal,
jumlahnya berlebihan, dapat ,menyebabkan anemia, trombositopenia, dan
diakhiri dengan kematian.
Menurut jenisnya, leukemia dapat dibagi atas leukemia mieloid dan
limfoid. Masing-masing ada yang akut dan kronik. Secara garis besar ,
pembagian leukemia adalah sebagai berikut yaitu : Leukemia limfoid :
Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Merupakan kanker yang paling sering
menyerang anak-anak dibawah umur 15 tahun, dengan puncak insidensi
antara umur 3 sampai 4 tahun. Manifestasi dari LLA adalah berupa proliferasi
limpoblas abnormal dalam sum-sum tulang dan tempat-tempat ekstramedular.
Paling sering terjadi pada laiki - laki dibandingkan perempuan, LLA jarang
terjadi (Smeltzer dan Bare, 2001). Gejala pertama biasanya terjadi karena
sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah merah dalam jumlah yang
memadai, yaitu berupa: lemah dan sesak nafas, karena anemia (sel darah
merah terlalu sedikit) infeksi dan demam karena, berkurangnya jumlah sel
darah putih perdarahan, karena jumlah trombosit yang terlalu sedikit.
B. Saran
Diharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat mengetahui tanda
dan gejala leukimia dan segera melakukan terapi bagi yang telah menderita
leukimia. Kemudian bagi yang belum terkena leukimia dapat mengetahui
pencegahan-pencegahannya.

29
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, gary dkk.2006.Obstetri Williams Edisi 21. Jakarta : EGC

Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan

Anak Edisi 15 Volume 3.Jakarta : EGC

Buku Nelson Edisi ke 15 Behrman, kliegman dan Arvin.2000.Ilmu Kesehatan

Anak Edisi 15 Volume 2.Jakarta : EGC

30