Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Trauma medulla spinalis merupakan keadaan yang dapat
menimbulkan kecacatan permanen dan mengancam nyawa. Trauma
medulla spinalis (TMS) meliputi kerusakan medulla spinalis karena
trauma langsung atau tak langsung yang mengakibatkan gangguan fungsi
utamanya, seperti fungsi motorik, sensorik, autonomik, dan reflex, baik
komplet maupun inkomplet. (Yoanes G et all, 2014;5670)
Trauma medulla spinalis merupakan salah satu masalah kesehatan
yang serius di berbagai belahan dunia. Di ameriak terdapat dari 12.000
sampai 20.000 warga amerika yang hidup dengan trauma medulla spinalis
adalah kecelakaan kendaraan, jatuh dan cidera saat berolahraga. Untuk
orang yang umurnya dibawah 65 tahun, penyebabnya adalah kecelakaan
kendaraan. Untuk orang yang diatas 65 tahun, trauma medulla spinalis
kebanyakan karena jatuh. (Jiaqiong Wang et all, 2015 : 16849)
99% pasien dengan trauma medulla spinalis meninggalkan rumah
sakit dengan pemulihan saraf yang tidak sempurna (cacat), pasien dengan
rawat jalan dengan perawatan medik (seperti rehabilitasi) dan sering kali
dibutuhkan pengawasan sehari atau setengah hari perawatan pasien dengan
trauma medulla spinalis. Individu dengan trauma dan defisit motorik
sering kali tidak dapat beraktifitas. Setiap orang dapat mengalami trauma
medulla spinalis tanpa ketentuan umur yang dapat dimulai dari cedera
ringan seperti jatuh. SCI yang berkepanjangan dan tidak dievaluasi dengan
baik dan benar akan menyebabkan kelumpuhan (pralisis) dan berdampak
pada compression medulla spinalis akut.
B. TUJUAN
1. Menjelaskan definisi trauma medulla spinalis
2. Menjelaskan etiologi trauma medulla spinalis
3. Menjelaskan patofisiologis trauma medulla spinalis
4. Menjelaskan manifestasi klinis trauma medulla spinalis
5. Menyebutkan pemeriksaan penunjang dari trauma medulla spinalis
6. Menjelaskan penatalaksanaan dari trauma medulla spinalis
7. Menjelaskan tentang pathways trauma medulla spinalis
8. Menyebutkan masalah keperawatan trauma medula spinalis
9. Menyebutkan intervensi keperawatan pada trauma medulla spinalis
BAB II

PEMBAHASAN

A. DEFINISI TRAUMA MEDULLA SPINALIS


Trauma medulla spinalis adalah cidera pada kolumna veterbralis,
otot ligamen,diskus, dan gangguan pada medulla spinalis oleh berbagai
keadaan akibat trauma pada tulang belakang yang disebabkan karena jatuh
dari ketinggian,kecelakaan lalu lintas,kecelakaan olahraga dan sebagainya.
Trauma pada tulang belakang menyebabkan ketidakseimbangan kolumna
veterbralis (faktor pergeseran satu atau lebih tulang belakang) atau injuri
saraf yang aktual maupun potensial sehingga mengakibatkan defisit
neurologis.
Trauma medulla spinalis adalah suatu faraktur vertebra yang
mengakibatkan disfungsi neurologis pada daerah servikal,thoracal dan
lumbal dan menyebabkan kelumpuhan extremitas bawah,disfungsi
defekasi dan berkemih. (Brunner and Suddarth dalam putra, 2002)
Trauma medulla spinalis bisa bervariasi dari trauma ekstensi
fiksasi ringan yang terjadi oleh benturan secara mendadak sampai yang
menyebabkan transaksi lengkap dari medula spinalis dengan quadriplegia.
(FransiscaB.Batticaca, 2008 : 30)
Trauma medulla spinalis merupakan suatu kerusakan fungsi
neurologis yang karena oleh benturan pada daerah sumsum belakang
spinalis. (Brunner & Suddarth,2001)
B. ETIOLOGI MEDULLA SPINALIS
Menurut Arif muttaqin penyebab dari medulla spinalis :
1. Kecelakaan dijalan raya (penyebab saling sering)
2. Olahraga
3. Menyelam pada air yang dangkal
4. Kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan
5. Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance)
6. Kejatuhan benda keras
7. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi
patofisiologi yang menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya
tulang
8. Luka tembak atau luka tikam
9. Gangguan lain yang dapat menyebabkan cidera medulla spinalis
slompai,yang seperti spondiliosis servikal dengan mielopati, yang
menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif
terhadap medulla spinalis dan akar mielitis akibat proses inflamasi
infeksi maupun non infeksi osteoporosis yang disebabkan oleh
fraktur kompresi pada vertebrata,singmelia,tumor infiltrasi maupun
kompresi, dan penyakit vasculer.
10. Keganasan yang menyebabkan fraktur patologik
11. Infeksi
12. Osteoporosis
13. Mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan saat mengendarai mobil
atau sepeda motor
C. PATOFISIOLOGIS MEDULLA SPINALIS
Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma dapat
menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis,tetapi lesi traumatic pada
medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. Efek
trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi
pada medulla spinalis disebut “whiplash” / trauma indirek. Whiplash
adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang
belakang secara cepat dan mendadak. Trauma whiplash terjadi pada tulang
belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal,pada
waktu duduk dikendaraan yang sedang cepat berjalan kemudian berhenti
secara mendadak.atau pada waktu terjun dari jarak tinggi,menyelam dan
masuk air dapat mengakibatkan paraplegia. Trauma tidak langsung dari
tulang belakang berupa hiperekstensi,hiperfleksi,tekanan vertical (terutama
pada T.12 sampai l.2),rotasi. Kerusakan yang dialami medulla spinalis
dapat bersifat sementara atau menetap. Akibat trauma terhadap tulang
belakang,medulla spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio
medulla spinalis),tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Gejala
yang ditimbulkan adalah berupa oedema,perdarahan peri vaskuler dan
infark disekitar pembuluh darah. Pada kerusakan medulla spinalis yang
menetap,secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi
lesi,contusio,laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla
spinalis.
Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma
tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat
mematahkan / menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi).
Lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena
(segmentransversa,hemitransversa,kuadran transversa). Hematomielia
adalah perdarahan dalam medulla spinalis yang berentuk lonjong dan
bertempat disubstansi grisea. Trauma ini bersifat “whiplash” yaitu jatuh
dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri,jatuh terduduk,terdampar
eksplosi atau fraktur dislokasio. Kompresi medulla spinalis terjadi karena
dislokasi,medulla spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis
vertebralis. Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma
ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang
yang patah yang terselip diantara draumater dan kolumna vertebralis.
Gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis
akibat tumor,kista dan abses didalam kanalis vertebralis
Akibat hiperekstensi dislokasio,fraktur dan whislapradiks saraf
spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas / reksis. Pada trauma
whislap,radiks columna 5-7 dapat mengalami hal demikian,dan gejala
yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat
hiperpatia,gambaran tersebut disebut hematorasis atau neuralgia
radikularis traumatik yang reversible. Jika radiks terputus akibat trauma
tulang belakang, maka gejala difisit sensorik motorikpada dermatoma dan
miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema anastomasis anterior
spinal.
Kerusakan medulla spinalis berkisar dari komosio sementara (dimana
pasieb sembuh sempurana) sampai kontusio, laserasi dan kompersi
substansi medulla (baik salah satu maupun kombinasi). Sampai transeksi
lengkap medulla (yang membuat pasien paralisis dibawah tingkat cidera ).
Bila hemoragi terjadi pada daerah spinali, darah dapat merembes
ke extradural subdural atau daerah subarahnoid pada kanan spinal . segera
setelah terjadi kontusio atau robekan akibat cidera, serabut – serabut saraf
mulai memebengkak dan hancur. Sirkulasi darah kesbustansi griseria
medula spinalis menjadi terganggu tidak hanya hal ini saja yang terjadi
pada cedara pembuluh darah medulla spinalis, tetapi proses patogenik
dianggap menyebabkan kerusakan yang terjadi pada cedera medulla
spinalis akut. Suatu rantai sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan
iskemia,hipoksia,edema dan lesi-lesi hemoragi, yang pada gilirannya
mengakibatkan kerusakan mielin dan akson. Rekasi sekunder ini, diyakini
penyebab prinsip desenerasi medulla spinalis pada tingkat cidera, sekarang
dianggap reversibel 4 sampai 6 jam setelah cidera.
Untuk itu jika kerusakan medulla tidak dapat diperbaiki, maka beberapa
metode mengawali pengobatan dengan menggunakan kortikostikoid dan
obat-obat anti inflamasi lainnya yang dibutuhkan untuk mencegah
kerusakan sebagian dari perkembangannya, masuk kedalam kerusakan
total dan menetap.
Akibat suatu trauma mengenai vertebrata mengakibatkan patah
tulang belakang. Paling banyak servikalis, lumbalis,. Farktur dapat berupa
patah tulang sederhana kompresi dislokasi, sedangkan pada sumsum
tulang belakangdapat berupa memar / kontusio laserasi dengan / tanpa
perdarahan. Blok syaraf simpatis pelepasan mediator kimia iskemia, dan
hipoksemia, syok spinal, gangguan fungsi kandung kemih. Lokasi cidera
medulla spinalisumumnya mengenai C1 dan C2,C4,C6 dan T11 atau T12.
Trauma medulla spinalis dapat terjadi pada lumbal 1-5
1. Lesi L1 : Kehilangan sensorik yaitu sama menyebar sampai lipat
paha dan bagian dari bokong
2. Lesi L2 : Ekstermitas bagian bawah kecuali 1/3 atas dari anterior
paha
3. Lesi L3 : Ekstermitas bagian bawah
4. Lesi L4 : Ekstermitas bagian bawah kecuali anterior paha
5. Lesi L5 : Bagian luar kaki dan pergelangan kaki

Mekanisme utama terjadinya cidera vertebra adalah karena


hiperekstensi, hiperfleksi, trauma kompersi vertikal dan rotasi, bisa sendiri
atau kombinasi. Cedera karena hiperekstensi paling umum terjadi pada
area cervikal dan kerusakan terjadi akibat kekuatan akselerasi – deselerasi.
Cidera akibat hiperfleksi terjadi karena regangan atau tarikan yang
berlebihan, kompresi dan perubahan bentuk dari medulla spinalis secara
tiba-tiba. Kerusakan medulla spinalis terjadi akibat kompresi tulang.
Herniasi disk,hematoma,edema,regangan jaringan saraf gangguan sirkulasi
pada spinal. Adanya perdarahan akibat trauma dari gray sampai ehite
matter menurunkan perfusi vaskuler dan menurunkan kadar okisgen dan
menyebabkan iskemia pada daerah cedera. Keadaan tersebut lebih lanjut
mengakibatkan edema sel dan jaringan enjadi nekrosis. Sirkulasi dalam
white matter akan kembali menjadi normal kurang lebih 24 jam.
Perubahan kimia dan metabolisme yang terjadi adalah meningkatnya asam
laktat dalam jaringan dan menurunya kadar oksigen secara cepat 30 menit
setelah trauma, meningkatnya konsentrasi norephineprine. Meningkatnya
norephineprine disebabkan karena efek sikemia,reptur vaskuler atau
nekrosis jaringan saraf.
Trauma medulla spinalis dapat menimbulkan renjatan spinal
(spinal shock) yaitu terjadi jika kerusakan secara transversal sehingga
mengakibatkan pemotongan komplit rangsangan. Pemotongan komplit
rangsangan menimbulkan semua fungsi reflektorik pada semua segmen
dibawah garis kerusakan akan hilang. Fase renjatan ini berlangsung
beberapa minggu sampai beberapa bulan (3-6 minggu). Trauma pada
daerah leher dapat bermanifestasi pada kerusakan struktur kolumna
vertebrata, komplikasi diskus, sobeknya ligamentum servikals, dan
bermanifestasi pada kompresi radiks, dan distribusi saraf sesuai segmen
dari tulang belakang servikal.
Tabel Kondisi Patologis Saraf Spinal Akibat Cedera
Batas Cedera Fungsi yang Hilang
C1 – C4 Hilangnya fungsi motorik dan
sensorik leher kebawah. Paralisis
pernafasan, tidak terkontrolnya
bowel dan bledder
C5 Hilangnya fungsi motorik dari atas
bahu ke bawah. Hilangnya sensasi
dibawah klavikula. Tidak
terkontrolnya bowel dan bledder
C6 Hilangnya fungsi motorik dibawah
batas bahu dan lengan. Sensai lebih
banyak pada lengan dan jempol
C7 Fungsi motorik yang kurang
sempurna pada bahu, siku,
pergelangan dan bagian sari lengan.
Sensasi lebih banyak pada lengan
dan tangan dibandingkan pada C6.
Yang lain mengalami fungsi yang
sama dengan C5
C8 Mampu mengontrol lengan tetapi
beberapa hari lengan mengalami
kelemahan. Hilangnya sensasi
dibawah dada
T1 – T6 Hilangnya kemampuan motorik dan
sensorik dibawah dada tengah.
Kemungkinan beberapa otot
interkosta mengalami kerusakan.
Hilangnya kontrol bowel dan
bledder
T6 – T12 Hilangnya kemampuan motorik dan
sensasi dibawah pinggang. Fungsi
pernafasan sempurna tetapi
hilangnya fungsi bowel dan bladder
L1 – L3 Hilangnya fungsi motorik dari
plevis dan tungkai. Hilangnya
sensasi dari abdomen bagian bawah
dan tungkai. Tidak terkontrolnya
bowel dan bladder
L4 - S1 Hilangnya beberapa fungsi motorik
pada pangkal paha, lutut dan kaki.
Tidak terkontrolnya bowel dan
bladder
S2 – S4 Hilangnya fungsi motorik ankle
plantar fleksor. Hilangnya sensai
pada tungkai dan perineum. Pada
keadaan awal terjadi gangguan
bowel dan bladder
D. MANIFESTASI KLINIS MEDULLA SPINALIS
a. Nyeri akut pada belakang leher, yang menyebar sepanjang saraf
terkena
b. Paraplegia
c. Tingkat neurologik
d. Paralisis sensorik motorik total
e. Kehilangan kontrol kandung kemih
f. Penurunan keringat dan tonus vasomoto
g. Penurunan fungsi pernafasan
h. Gagal nafas
i. Pasien biasanya mengatakan takut leher atau tulang punggungnya
patah
j. Kehilangan kontrol kandung kemih dan usus besar
k. Biasanya terjadi retensi urine, dan distensi kandung kemih,
penurunan keringat dan tonus vasomotor, penurunan tekanan darah
diawali dengan vaskuler perifer
l. Penurunan fungsi pernafasan sampai pada kegagalan pernafasan
m. Kehilangan kesadaran
n. Kelemahan motorik ekstermitas atas lebih besar dari ekstermitas
bawah
o. Penurunan keringat dan tons vasomotor
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG MEDULLA SPINALIS
a. Sinar X spinal
Menentukan lokasi dan jenis trauma tulan (fraktur, dislokasi),
untuk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi atau operasi.
b. CT-Scan
Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi gangguan struktural.
c. MRI
Mengidentifikasi adanya kerusakan syaraf spinal, edema dan
kompresi
d. Mielografi
Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika
faktor putologisnya tidak jelas atau dicurigai adanya dilusi pada
ruang sub anakhonid medulla spinalis (biasanya tidak akan
dilakukan setelah mengalami luka penetrasi).
e. Foto rontgen thorak, memperlihatkan keadaan paru
f. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur
volume inspirasi maksimal khusunya pada pasien dengan trauma
servikat bagian bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan
pada saraf frenikus / otot interkostal)
g. GDA : menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi
F. PENATALAKSANAAN TRAUMA MEDULLA SPINALIS
1. Segera dilakuakan imobilisasi
2. Stabilisasi daerah tulang yang mengalami cedera seperti dilakukan
pemasangan collar servical, atau dengan menggunakan bantalan
pasir
3. Mencegah progrestivitas gangguan medulla spinalis misalnya
dengan pemberian oksigen, cairan ibntravena, pemasangan NGT
4. Terapi pengobatan :
a. Kortikosteroid seperti dexametason untuk mengontrol
edema
b. Antihipertensi seperti diazolxide untuk mengontrol tekanan
darah akibat autonomic hiperefleksia akut.
c. Kolinergik seperti bethanechol chloride untuk menurunkan
aktifitas bledder
d. Anti depresan seperti imipramine hydro chklorida untuk
meningkatkan tonus leher bradder
e. Antihistamin untuk menstimulus beta – reseptor dari
bledder dan uretra
f. Agen antiulecer seperti ranitidine
g. Pelunak fases seperti docusate sodium
5. Tindakan operasi dilakukan dengan indikasi tertentu seperti adanya

fraktur dengan fragmen yang menekan lengkung saraf


6. Rehabilisasi dilakukan untuk mencegah komplikasi, mengurangi
cacat dan mempersiapkan pasien untuk hidup dimasyarakat

G. PHATWAYS
H. MASALAH KEPERAWATAN TRAUMA MEDULLA SPINALIS

1. Nyeri akut b.d agen injury fisik

2. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular

3. Retensi urin b.d hambatan dalam refleks berkemih

I. Intervensi keperawatan

1. Nyeri akut b.d agen injury fisik

NOC:

a. Level nyeri

b. Kontrol nyeri

c. Level kenyamanan

Kriteria hasil:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam,pasien:

a. Mampu memgontrol nyeri

b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan menejemen nyeri


c. Mampu mengenali nyeri

NIC: Manajemen nyeri

a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

b. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyaman

c. Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

d. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan


seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan.

e. Kolaborasikan dengan dokter dengan memberikan analgesik untuk mengurangi


nyeri.

2. Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskular

NOC:

a. Berpindah sendi :aktif

b. Tingkat mobilitas

c. Perawatan diri : aktifitas sehari-hari

Kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien:

a. Meningkatan aktifitas fisik.

b. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas.

c. Memvebralisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan


berpindah.

NIC: Terapi latiahan ambulasi


a. Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan
kebutuhan.

b. Bantu klien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terhadap
cedera.

c. Ajarkan pasien dan keluarga tentang teknik ambulasi.

d. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi.

e. Kolaborasikan dengan tenaga kesehatan dalam merencanakan program latian


yang tepat.

3. Retensi urin b.d hambatan dalam refleks berkemih.

NOC:

a. Ketahanan urin.

b. Eliminasi urin.

Kriteria hasil:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam,pasien:

a. Mampu mengatur pengeluaran urin.

b. Mampu mengkosongkan urin seluruhnya.

NIC: Pelatihan pada kandung kemih

a. Tetapkan awal dan akhir jadwal untuk toileting.

b. Ingatkan pasien untuk miksi pada interval yang telah ditentukan.

c. Jaga privasi untuk eliminasi.

d. Gunakan kateter kemih yang tepat.

e. Monitor intake input dan output cairan.


BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Trauma medulla spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis
yang disebabkan oleh benturan pada daerah medulla spinalis. (Brunner &
Suddarth, 2001). Penyebab dari trauma medulla spinalis yaitu : kecelakaan
otomobil, industri terjatuh, olahraga, menyelam, luka tusuk, tembak dan
tumor.
Cedera medulla spinalis adalah trauma yang mengenai medulla
spinalis atau sumsum tulang belakang akibat dari suatu trauma langsung
yang mengenai tulang belakang. Penyebab dari medulla spinalis adalah
kejadian-kejadian yang secara langsung dapat mengakibatkan terjadinya
kompresi pada medulla spinalis seperti terjatuh dari tempat yang tinggi,
kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga dll.
Cedera medulla spinalis dapat menyebabkan terjadinya kelumpuhan jika
mengenai saraf-saraf yang berperan terhadap suatu organ maupun otot.
Cedera medulla spinalis ini dibagi menjadi 2 yaitu cedera medulla spinalis
stabil dan tidak stabil.
Bila hemoragi terjadi pada daerah medulla spinalis, darah dapat
mermbes ke eksterdulsubdural atau daerah suaranoid pada kanal spinal,
segera sebelum terjadi kontusio atau robekan pada trauma, serabut-serabut
saraf mulai membengkak dan hancur. Sirkulasi darah ke medulla spinalis
menjadi terganggu, tidak hanya ini tetapi proses patogenik menyebabkan
kerusakan yang terjadi pada trauma medulla spinalis akut, suatu rantai
sekunder kejadian-kejadian yang menimbulkan iskemia, hipoksia, edema,
lesi, hemororgi.
Penatalaksanaan pasien segera ditempat kejadian adalah sangat
penting, karena penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menyebabkan
kerusakan kehilangan fungsi neurologik. Pada kepala dan leher harus
dipertimbangkan mengalami trauma ini disingkirkan, memindahkan
pasien, selama pengobatan didepartemen kedaruratan dan radiologi, pasien
dipertahankan diatas papan pemindahan.
Penatalaksanaan untuk cidera medulla spinalis adalah dengan
pemberian obat kortikosteroid dan melihat keada sistem pernapasan, jika
terjadi gangguan maka perlu diberikan oksigen.
Asyhan keperawatan yang harus diberikan kepada pasien cedera
medulla spinalis adalah melihat kepada diagnosa apa saja yang muncul.
Intinya pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan cedera medulla
spinalis adalah memperlihatkan posisi dalam mobilisasi pasien sehingga
tidak memperparah cedera yang terjadi.
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien dengan cedera
medulla spinalis berbeda dengan penanganannya dengan perawatan
terhadap penyakit lainnya, karena kesalahan dlam memberikan asuhan
keperawatan dapat menyebabkan trauma semakin komplit dan dapat
menyebabkan kematian
B. SARAN
Cedera medulla spinalis adalah suatu kejadian yang sering terjadi
dimasyarakat. Tingkat kejadiannya cukuo tinggi karena bisa terjadi pada
siapa saja dan dimana saja. Sehingga perlu tingkat kehati-hatian yang
tinggi dalam melakukkan aktivitas agar tidak terjadi suatu kecelakaan
yang dapat mengakibatkan cidera.
Dengan adanya makalah ini diharapkan kepada mahasiswa agar
dapat menjaga kesehatannya terutama pada bagian tulang belakang agar
trauma medulla spinalis dapat terhindar.