Anda di halaman 1dari 21

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKes HANG TUAH PEKANBARU


KEPERAWATAN KMB

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa : Rinanda Aulia


NIM : 18091021
Tanggal Praktik : 21 Januari 2019 – 26 Januari 2019
Ruang Rawat : Kenanga di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
Diagnosa Keperawatan : ANEMIA

1. Defenisi Anemia

Anemia merupakan keadaan di mana masa eritrosit dan atau masa


hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan
oksigen bagi jaringan tubuh (Handayani dan Haribowo, 2008). Anemia
dapat didefinisikan sebagai nilai hemoglobin, hematokrit, atau jumlah
eritrosit per milimeter kubik lebih rendah dari normal (Dallman dan
Mentzer, 2006). Menurut Ahmad Syafiq, dkk (2008) Anemia didefinisikan
sebagai keadaan di mana level Hb rendah karena kondisi patologis.
Menurut Anie Kurniawan, dkk (1998) Anemia adalah suatu penyakit di
mana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal.

2. Jenis-jenis Anemia
A. Anemia hipoproliferatif
1) Anemia aplastik. Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan
oleh penurunan sel perkusor dalam sum-sum tulang dan
penggantian sum-sum tulang dengan lemak.
2) Anemia pada penyakit ginjal. Anemia pada penyakit ginjal adalah
anemia yang disebabkan oleh menurunnya ketahanan hidup sel
darah merah maupun defisiensi eritropoetin.
3) Anemia penyakit kronis, merupakan anemia yang disebabkan
adanya penyakit yang kronis sehingga terjadi penurunan sedang
ketahanan hidup sel darah merah.
4) Anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi besi adalah keadaan
dimana kandungan besi tubuh total menurun dibawah tingkat
normal (besi digunakan untuk sintesa hemoglobin).
5) Anemia megaloblastik. Anemia megaloblastik adalah anemia
yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan asam folat
menunjukan perubahan yang sama antara sum-sum tulang dan
darah tepi, karena kedua vitamin tersebut essensial bagi sintesi
DNA nomal.
B. Anemia hemolitika turunan.
1) Sferositosis turunan. Sferositosis turunan merupakan anemia
hemolitika yang ditandai dengan sel darah merah kecil berbentuk
sferis dan pembesaran limpa (splenomegali).
2) Anemia sel sabit. Anemia sel sanit adalah anemia hemolitika
berat akibat adanya defek pada molekul hemoglobin dan disertai
dengan serangan nyeri. (Smeltzer, 2007)
3. Etiologi anemia
Menurut Tarwoto, dkk (2010) Tidak terpenuhinya konsumsi zat besi.
Pada umumnya masyarakat Indonesia (termasuk remaja putri) lebih
banyak mengkonsumsi makanan nabati yang kandungan zat besinya
sedikit, dibandingkan dengan makanan hewani, sehingga kebutuhan tubuh
akan zat besi tidak terpenuhi, serta remaja putri biasanya ingin tampil
langsing, sehingga membatasi asupan makanan. Selain itu, pada remaja
putri mengalami haid setiap bulan, di mana kehilangan zat besi ±1,3 mg
per hari, sehingga kebutuhan zat besi lebih banyak dari pada pria sehingga
zat besi dalam tubuh terus berkurang.
Menurut Handayani dan Haribowo (2008), gejala anemia timbul karena
dua hal berikut ini:
a. Anoksia organ target karena berkurangnya jumlah oksigen yang dapat
dibawa oleh darah kejaringan.
b. Mekanisme kompensasi tubuh terhadap Anemia.
Menurut Anie Kurniawan, dkk (1998), Anemia Gizi Besi dapat terjadi
karena:
a. Kandungan zat besi dari makanan yang di konsumsi tidak mencukupi
kebutuhan Makanan yang kaya akan kandungan zat besi adalah:
makanan yang berasal dari hewani (seperti ikan, daging, hati, ayam)
Makanan nabati (dari tumbuh-tumbuhan) misalnya sayuran hijau tua,
yang walaupun kaya akan zat besi, namun hanya sedikit yang bisa
diserap dengan baik oleh usus.
b. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi Pada masa pertumbuhan
seperti anak-anak dan remaja, kebutuhan tubuh akan zat besi
meningkat tajam. Pada masa hamil kebutuhan zat besi meningkat
karena zat besi diperlukan untuk pertumbuhan janin serta untuk
kebutuhan ibu sendiri. Pada penderita menahun seperti TBC.
c. Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh. Perdarahan atau
kehilangan darah dapat menyebabkan anemia. Hal ini terjadi pada
penderita: Kecacingan (terutama cacing tambang), infeksi cacing
tambang menyebabkan perdarahan pada dinding usus, meskipun
sedikit tetapi terjadi terus menerus yang mengakibatkan hilangnya
darah atau zat besi. Malaria pada penderita Anemia Gizi Besi, dapat
memperberat keadaan anemianya Kehilangan darah pada waktu haid
berarti mengeluarkan zat besi yang ada dalam darah.
Menurut sumber lain etiologi penyebab terjadinya anemia yaitu sebagai
berikut.
a. Produksi sel darah merah tidak mencukupi
b. Produksi sel darah merah prematur
c. Penghancuran sel darah merah yang berlebihan
d. Kehilangan darah
e. Kekurangan nutrisi, seperti defisiensi besi, asam folat, dan vitamin
B12
f. Faktor genetik
g. Penyakit kronis
4. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang
atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan
sumsum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik,
invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel
darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi)
pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah
merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau
akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi
sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik
atau dalam sistem retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa.
Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam
fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah
merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan meningkatkan bilirubin
plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang kadar 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera.
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi,
seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin
akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi
plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat
hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya (mis., apabila jumlahnya
lebih dari sekitar 100 mg/dL), hemoglobin akan terdifusi dalam
glomerulus ginjal dan ke dalam urin (hemoglobinuria). Jadi ada atau tidak
adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi
mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien
dengan hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat
hemolitik tersebut.
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien tertentu
disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah
merah yang tidak mencukupi, biasanya dapat diperoleh dengan dasar (1)
hitung retikulosit dalam sirkulasi darah, (2) derajat proliferasi sel darah
merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang
terlihat dengan biopsy; dan (3) ada atau tidaknya hiperbilirubinemia dan
hemoglobinemian.
Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya
kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah
adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika
suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat
menghambat kerja organ-organ penting. Salah satunya otak, otak terdiri
dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan
seperti komputer yang memorinya lemah, lambat menangkap. Dan kalau
sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).
5. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis yang akan terjadi pada penderita Anemia yaitu
sebagai berikut.
a. Badan lemah
b. Lelah
c. Lesu
d. Cepat lelah
e. Mata berkunang-kunang
f. Telinga mendenging
g. Koilorikia. Koilorikia adalah kuku sendok (spoon nail). Kuku menjadi
rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung sehingga mirip
sendok
h. Atrofi papila lidah. Atrofi papila lidah adalah permukaan lidah yang
menjadi licin dan mengkilap karena papila lidah menghilang.
i. Stomatitis angularis. Stomatitis angularis adalah adanya peradangan
pada sudut mulut, sehingga tampak bercak berwarna pucat keputihan.
j. Disfagia adalah nyeri menelan karena kerusakan hipofaring.
k. Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan klorida.
l. Aktivitas kurang
6. Penatalaksanaan Anemia
Identifikasi penyebab anemia dan obati penyebabnya
a. Berikan diet yang sesuai
b. Berikan vitamin untuk mendukung memulihkan komponen darah
yang hilang.
c. Berikan preparat zat besi (ferosulfat) 325 mg 3x1 sehari selama
paling sedikit 6 bulan untuk menggantikan cadabgan zat besi (Price
& Wilson, 2005).
d. Anjurkan pasien istirahat yang cukup.
e. Jika Hb < 7% berikan transfusi darah sesuai dengan komponen
darah yang hilang (Halim-Mubin, 2001).
7. Komplikasi
Hemoglobin memiliki peran penting dalam mengantar oksigen
keseluruh tubuh untuk konsumsi dan membawa kembalo karbondioksida
kembali ke paru menghembuskan nafas keluar dari tubuh. Jika kadar
hemoglobin terlalu rendah, proses ini dapat terganggu, sehingga tubuh
memiliki tingkat oksigen yang rendah (hipoksia).
Anemia umumnya memilki prognosis yang sangat baik dan mungkin
dapat disembuhkan dalam banyak hal. Prognosis keseluruhan tergantung
pada penyebab anemia, tingkat keparahan, dan kesehatan seluruh pasien.
Anemia yang paraah akan menyebabkan rendahnya kadar oksigen pada
organ-organ vital seperti jantung, dan dapat menyebabkan serangan
jantung (Proverawati, 2011, p. 36)
8. Pengkajian
a. Identitas pasien dan keluarga
Nama, umur, TTL, nama ayah/ibu, pekerjaan ayah/ibu, agama,
pendidikan, pasien yang sering terserah anemia biasanya pada orang
dewasa,produksi sel darah merah terjadi disumsum tulang. Pada
perempuan muda terapat dua kali lebih mungkin untuk mengalami
anemia dibanding laki-laki muda karena pendarahan menstruasi yang
teratur. Anemia dalam kehamilan terjadi hiperplasia erythroid dari
sumsum tulang belakangdan peningkatan massa RBC. Jadi selama
kehamilan, anemia didefinisikan sebagai Hb 10 </dL (Ht 30%). alamat
(Proverawati, 2011, p. 127)
b. Keluhan utama
Biasanya pasien datang kerumah sakit dengan keluahan pucat,
kelelahan, kelemahan, pusing. (Wijaya, 2013, p. 137)
c. Riwayat kehamilan dan persalinan
a) Prenatal: ibu selama hamil pernah menderita penyakit berat,
pemeriksaan kehamilan berapa kali, kebiasaan pemakaian obat-
obatan dalam jangka waktu lama.
b) Intranasil: usia kehamilan cukup proses persalinan dan berapa
panjang dan berat badan waktu lahir.
c) Postnatal: keadaan bayi setelah masa neonatorum,ada trauma post
parturn akibat tindakan misalnya forcep, vakum dan pemberian ASI
(Wijaya, 2013, pp. 137-140)
d. Riwayat kesehatan dahulu
a) Adanya penderita anemia sebelumnya, riwayat imunisasi.
b) Adanya riwayat trauma, pendarahan.
c) Adanya riwayat demam tinggi. (Wijaya, 2013, p. 137)
e. Keadaan kesehatan saat ini
Pasien pucat, kelemahan, sesak nafas, sampai adanya gejala gelisah,
diaforesis tachikandia, dan penurunan kesadaran.
f. Riwayat keluarga
Riwayat anelia dalam keluarga
Riwayat penyakit-penyakit seperti: kanker, jantung hepatitis, DM,
asthma, penyakit-penyakit infeksi saluran pernafasan (Wiyaja, 2013,
hal. 137-140)
g. Pemeriksaan fisik
a) Keadaan umum:keadaan tampak lemah sampai sakit berat
b) Kesadaran: compos mentis kooperatif sampai terjadi penurunan
tingkat kesadaran apatis, samnoles-sopor-coma.
c) Tanda-tanda vital
1) TD: Tekanan darah menurun
2) Nadi: frekuensi nadi meningkat, kuat sampai lemah (N=60-
100 kali/menit
3) Suhu: bisa meningkat atau menurun (N= 36,5-37,2C)
4) Pernapasan: meningkat (anak N= 20-30 kali/
menit (Wijaya, 2013, pp. 137-140)
5) Body sistem
6) Sistem penapasan
7) Keluhan: napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda sesak napas (Bararah, 2013, hal. 205-206)
8) Inspeksi: pemeriksaan dilakukan dari bentuk dada yang
simetris, napas pendek
9) Palpasi: pemeriksaan dilakukan dengan cara meraba dengan
nyeri tekan
10) Perkusi: jika hanya ada kelainan jantung maka bunyi
normal
11) Auskultasi: mengkaji rongga pleura
d) Sistem Kardiovaskuler
1) Keluhan: riwayat penyakit kronis misalnya menstruasi berat,
kerja jantung berlebih. Riwayat endokarditis infeksi kronis.
Tanda peningkatan sistol dengan diastol, tekanan nadi melebar,
pucat pada kulit (Bararah, 2013, hal. 205-206)
2) Inspeksi: dilihat dari bentuk dada dan denyut jantung
3) Palpasi: pemeriksaan dilakukan dengan cara meraba
mengetahui dengan mengenal denyut jantung karena
kurangnya oksigen
4) Perkusi: untuk menentukan batas jantung kanan kiri. Adanya
sonor, timpani, redup
5) Auskultasi: pemeriksaan menggunkan stetoskop. Mengetahui
bunyi jantung, bunyi bising jantung yang disebabkan oleh
pembukaan dan penutupan katup jantung yang tidak sempurna.
Kenyaringan (keras-lemah) (Bararah T. , 2013)
e) Sistem persyarafan
1) Keluhan: sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, penurunan
penglihatan dan bayangan mata, kelemahan, keseimbangan
buruk (Bararah, 2013, hal. 205-206)
2) Inspeksi: melihat dari kondisi pasien
f) Sistem perkemihan
1) Keluhan: riwayat piclonefritis gagal ginjal, hematemasis, feses
dengan darah segar, diare atau konstipasi (Bararah, 2013, hal.
205-206)
2) Inspeksi: adanya pembesaran pada daerah pinggang atau
abdomen sebelah atas
g) Sistem pencernaan
1) Keluhan: penurunan masukan diet, masukan diet protein
hewani rendah atau masukan produk sereal tinggi, nyeri mulut
atau lidah, kesulitan menelan, mual muntah, penurunan berat
badan (Bararah, 2013, hal. 205-206)
2) Inspeksi: pemeriksaan bentuk abdomen, warna
3) Palpasi: pemeriksaan dilakukan dengan meraba daerah
abdomen ada keluhan sakit atau tidak
4) Perkusi: melakukan ketukan pada daerah abdomen
5) Auskultasi: pemeriksaan dengan menggunkan stetoskop ada
bunyi bising atau tidak
h) Sistem integument
1) Keluhan: teraba dingin, keringat yang berlebihan, pucat,
terdapat pendarahan dibawah kulit (Wijaya, 2013, hal. 138)
2) Inspeksi: melihat warna kulit pucat dan bentuk kulit kering
atau tidak
3) Palpasi: meraba kulit kering atau tidak, bersih
i) Sistem reproduksi
1) Keluhan:perubahan aliran menstruasi. Tanda serviks dan
dinding vagina pucat (Bararah, 2013, hal. 205-206)
2) Inspeksi: melihat kondisi pasien pucat
j) Sistem endokrin
1) Keluhan: haus atau dehidrasi, lapar berlebihan (Bararah, 2013,
hal. 205-206)
2) Inspeksi: melihat mukosa bibir pasien
k) Sistem pengindraan
1) Keluhan: kelainan bentuk tidak ada, kkonjungtiva anemis,
sklera tidak ikterik, terdapat pendarahan sub konjungtiva
keadaan pupil, pelpebra, refleks cahaya biasanya tidak ada
kelainan (Wijaya, 2013, hal. 138)
2) Inspeksi: pemeriksaan dilihat dari bentuk mata sama atau
tidak, warna mata
3) Palpasi: pemeriksaan dengan meraba ada benjolan atu tidak
(Bararah T. , 2013)
l) Sistem muskuluskletal
1) Keluhan: terjadi kelemahan umum, nyeri ekstermitas, tonus
otot kurang, akral dingin (Wijaya, 2013, hal. 139)
2) Inspeksi: melihat kondisi pasien dalam melakukan aktivitas
(Handayani, 2008, hal. 35)
m) Sistem imunitas
1) Keluhan: pecahnya pembuluh darah dan penurunan eritrosit
pada pasien kecelakaan
2) Inspeksi: melihat kondisi pasien, pucat melihat luka yang atau
menstruasi.
n) Kulit
Kulit teraba dingin, keringat yang berlebihan, pucat, terdapat
pendarahan dibawah kulit (Wijaya, 2013, pp. 137-140)
o) Kepala
Biasanya bentuk dalam batas normal (Wijaya, 2013, hal. 138)
p) Mata
Kelainan bentuk tidak ada, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik,
terdapat pendarahan sub congjungtiva, keadaan pupil, palpebra,
refleks cahaya biasanya tidak ada kelainan.
q) Hidung
Keadaan/bentuk, mukosa hidung, cairan yang keluar dari hidung,
fungsi penciuman biasanya tidak ada kelainan
r) Telinga
Bentuk, fungsi pendengaran tidak ada kelainan (Wiyaja, 2013, hal.
137-140)
s) Mulut
Bentuk, mukosa kering, pendarahan gusi, lidah kering, bibir pecah-
pecah atau pendarahan (Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
t) Leher
Terdapat pembesaran kelenjar getah bening, tiroid tidah membesar,
tidak ada distensi vena yugularis (Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
u) Thoraks
Pergerakan dada biasanya penafasan cepat irama tidak teratur.
Fremitus yang meninggi, perusi sonor, suara nafas bisa vesikular
atau ronchi, wheezing. Frekuensi nafas neonatus 40-60 kali/ menit
anak 20-30 kali/ menit irama jantung tidak teratur, frekuensi pada
anak 60-100 kali/menit (Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
v) Abdomen
Cekung, pembesaran hati, nyeri, bising usu normal, dan bisa juga
dibawah normal dan bisa juga meningkat
w) Genetalia
Laki-laki: testis sudah turun ke dalam skroturn
Perempuan: labia minora tertutup labia mayora
x) Ekstermitas
Terjadi kelemahan umum, nyeri ekstermitas, tonus otot kurang,
akral dingin
y) Anus
Keadaan anus posisinya anus (+)
z) Neurologis
Refleks fasiologis (+) seperti refleks patella, refleks patologi (-)
seperti babinski, tanda kerniq (-) dan bruzinki I-II= (-)
h. Pemeriksaan penunjang
Kadar Hb menurun, pemeriksaan darah: eritrosit dan berdasarkan
penyebab keluarga (Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
i. Riwayat sosial
Siapa yang mengasuh pasien dirumah kebersihan didaerah tempat
tinggal, orang yang terdekat dengan pasien. Kedaan lingkungan
pekarangan, pembuangan sampah keluarga (Wiyaja, 2013, hal. 137-
140)
j. Kebutuhan dasar
Meliputi kebutuhan nutrisi pasien sehubungan dengan anoreksia, diet
yang harus dijalani, pasang HGT, cairan IVFD yang digunakan jika
ada. Pola tidur bisa tergannggu. Mandi dan aktifitas: dapat terganggu
berhubungan dengan kelemahan fisik. Eliminasi: biasanya terjadi
perubahan frekuensi, konsistensi bila diare atau konstipasi keluarga
(Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
k. Pemeriksaan tingkat perkembangan
Bergantung pada usia. Terdiri dari motorik kasar, halus, kognitif, dan
bahasa keluarga (Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
l. Data psikologis
Akibat dampak hospitalisasi, anak menjadi cengeng, menangis dan
terlihat cemas atau takut. Orangtua: reaksi orangtua terhadap penyakit
anaknya sangat bervariasi. Psikologis orangtua yang harus diperhatikan:
m. Keseriusan ancaman penyakit terhadap anak
1) Pengalaman sebelumnya terhadap penyakit dan hospitalisasi
2) Prosedur medik yang akan dilakukan
3) Adanya support sistem
4) Kemampuan koping orangtua
5) Agama, kepercayaan, adat
6) Pola komunikasi dalam keluarga
(Wiyaja, 2013, hal. 137-140)
n. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
a) Tes penyaring, tes ini dikerjakan pada tahap awal pada setiap
kasus anemia. Dengan pemeriksaan ini, dapat dipastikan
adanya anemia dan bentuk morfologi anemia tersebut.
Pemeriksaan ini meliputi pengkajian pada komponen-
komponen berikut ini: kadar hemoglobin, indeks eritrosit,
(MCV,MCV, dan MCHC), asupan darah tepi (Nurarif &
Kusuma, 2015, hal. 37)
b) Pemeriksaan darah seri anemia: hitung leukosit, trombosit, laju
endap darah (LED) dan hitung retikulosit. Sekarang sudah
banyak dipakai automatic hematology analizer yang dapat
memberikan presisi hasil yang baik (Nurarif & Kusuma, 2015,
hal. 37)
c) Pemeriksaan sumsum tulang: pemeriksaan ini memberikan
informasi mengenai adanya sistem hematopoesis. Pemeriksaan
ini dibutuhkan utuk diagnosa difinitif pada beberapa jenis
anemia. pemeriksaan sumsum tulang belakang mutlak
diperlukan diagnosis anemia aplastik, anemia megaloblastik,
serta pada kelainan hemotologik yang dapat mensupresi sistem
eritroid (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 37)
d) Pemeriksaan atas indeksi khusus: pemeriksaan ini untuk
mengomfirmasikan dugaan diagnosis awal yang memilki
komponen berikut ini:
Anemia defisiensi besi: serum iron, TIBC, saturasi transferin,
dan feritin serum.
Anemia megalobalistik: asam folat darah / eritrosit, vitamin
B12
Anemia hemolitik: hitung retikulosit, tes coomb, dan
elektroforesis Hb.
Anemia pada leukeumia akut biasanya dilakukan pemeriksaan
sitokimia.
2) Pemeriksaan laboratorium non hematologis: faal ginjal, faal
endokrin, asam urat, faal hati, biakan kuman.
3) Radiologi: torak, bone survey, USG, atau linfangiografi
4) Pemeriksaan sitogenik
5) Pemeriksaan biologi molekul (PCR = polymerase chain raction,
FISH= fluorescense in situ hybridization (Nurarif & Kusuma,
2015, hal. 37)
o. Penatalaksanaan
1) Anemia karen pendarahan
Pengobatan terbaik adalah tranfusi darah. Pada pendarahan kronik
diberikan tranfusi packed cell. Mengatasi renjatan dan penyebab
pendarahan. Dalam keadaan darurat pemberian cairan intravena
dengan cairan infuse apa saja yang tersedia (Wijaya, 2013, hal.
135-136)
2) Anemia defisiensi
Anemia defisiensi besi (DB) respon regular DB terhadap sejumah
besi cukup mempunyai arti diagnostik, pemberian oral garam ferro
sederhana ( sulfat, glukonat, fumarat) merupakan terapi yang
murah dan memuskan. Preprt besi parental ( dekstran besi) adalah
bentuk yang efektif dan aman digunakan bila perhitungan dosis
tepat, sementara itu keluarga harus diberi edukasi tentang diet
penderita, dan komsumsi susu harus dibatasi lebih baik 500 Ml/ 24
jam. Jumlah makanan ini mempunyai pengaruh ganda yakni jumlah
makanan yang kaya akan besi bertambah dan kehilangan darah
karena intoleransi protein susu sapi tercegah. Anemia defisiensi
asam folat meliputi terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan
pula dengan pemberian/ suplementasi asam folat oral 1 mg perhari
(Wijaya, 2013, hal. 135-136)
3) Anemia hemolitik
Anemia hemolitik autoimun terapi insial dengan menggunakan
prednison 1-2 mg/Kg BB/hari. Jika anemia mengancam hidup,
tranfusi harus diberikan dengan hati-hati. Apabila predison tidak
efektif dalam menanggulangi kelainan ini, atau penyakit
mengalami kekambuhan dalam periode taperingoff dari prednisone
maka dilakukan splenektomi. Apabila kedunya tidak menolong,
maka dilakukan terapi dengan menggunakan berbagai jenis obat
imunosupresif. Immunoglobulin dosis tinggi intravena (500 mg/kg
BB/hari selama 1-4 hari). Namun efek pengobatan ini hanya
sebentar (1-3 minggu) dan sangat mahal harganya. Dengan
demikian pengobatan ini hanya digunakan dalam situasi gawat
darurat dan bila pengobatan dengan prednisone merupakan kontra
indikasi (Wijaya, 2013, hal. 135-136).
Anemia hemolitik karena kekurangan enzim pencegahan hemolisi
adalah cara terapi yang paling penting. Tranfusi ukur mungkin
terindikasi untuk hiperbillirubinemia pada neonatus. Tranfusi
eritrosit terpapar diperlukan untuk anemia berat atau kritis aplastik.
Jika anemia terus menerus berat atau jika diperlukan tranfusi yang
sering, splenektomi haarus dikerjakn setelah umur 5-6 tahun
(Wijaya, 2013, hal. 135-136)
9. Masalah keperawatan
a. Penurunan perfusi jaringan perifer b.d. Penurunan fungsi selluler.
b. Intoleransi aktivitas b.d. ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan
kebutuhan.
c. Nyeri akut b.d. agens cedera fisik.
d. Keletihan b.d. anemia.
e. Penurunan curah jantung
No Diagnosa NOC NIC
1 a. Penurunan Setelah  Pantau tanda vital,
perfusi jaringan tindakan capillary refil,
perifer b.d. keperawatan membran mukosa
Penurunan dilakukan  Pantau pernafasan
fungsi selluler. kriteria hasil  Kaji keluahan nyeri
diharapkan dada dan palpitasi
Perfusi  Kaji respon verbal
Adekuat: dan oreientasi
tanda vital  Pertahankan
stabil, lingkungan dan
membran tubuh yang hangat
mukos merah  Kolborasi: pantau
muda, hasil lab (Hb, AE,
capillary refill HMT), berikan
< 3 detik, transfusi
haluaran urin (PRC/whole blood)
adekuat, tidak pantau tanda alergi,
ada perubahan berikan oksigen
status mental. sesuai indikasi,
siapkan intervensi
pembedahan bila
indikasi
2 Intoleransi aktivitas Setelah  Kaji kemampuan
b.d. tindakan melakukan aktivitas
ketidakseimbangan keperawatan  Pantau tanda vital
antara suplai dilakukan selama dan sesudah
oksigen dan kriteria hasil aktivitas
kebutuhan diharapkan  Berikan periode
Peningkatan istirahat yang cukup
toleransi  Berikan bantuan bila
aktivitas indikasi
 Management energi
 Anjurkan pasien
menghentikan
aktivitas bila
palpitasi, nyeri dada,
nafas pendek,
kelemahan dan
pusing.

3 Nyeri akut b.d. Setelah Pain Management


agens cedera fisik tindakan  Kaji
keperawatan komprehensif
dilakukan nyeri yang
kriteria hasil meliputi lokasi,
diharapkan karakteristik,
Pain Control durasi, frekuensi,
kualitas, dan
keparahan nyeri.
 Kaji faktor –
faktor yang
dapat
memperburuk
dan meringankan
nyeri pada
pasien.
 Mengajari pasien
teknik relaksasi,
seperti nafas
dalam, terapi
music, guidance
imagery,
distraksi, dll
untuk
mengurangi
nyeri
 Menyediakan
waktu istirahat
yang kondusif
untuk pasien.
 Menyediakan
suasana
lingkungan yang
nyaman untuk
pasien.
 Kolaborasi
pemberian obat
penghilang
nyeri.
4 Keletihan b.d. Setelah Energy Management
anemia. tindakan  Kaji status
keperawatan fisiologis pasien
dilakukan terhadap
kriteria hasil keletihan
diharapkan berdasarkan usia
Fatigue level dan
perkembangan.
 Kaji defisit
status fisiologi
pasien (terapi
untuk anemia,
dll).
 Monitor respon
kardiorespiratori
pasien terhadap
keletihan
(takikardi,
dyspnea,
frekuensi nafas).
 Mengajari pasien
tentang
pengelolaan
aktivitas dan
manajemen
waktu untuk
menghindari
keletihan.
 Menyediakan
waktu untuk
istirahat pasien.
5 Penurunan curah Setelah Cardiac Care
jantung tindakan  Kaji sirkulasi
keperawatan perifer pasien
dilakukan (edema, capillary
kriteria hasil refill, nadi,
diharapkan warna kulit).
 Monitor tanda-
tanda vital.
 Monitor status
kardiovaskuler,
respirasi, dan
keseimbangan
cairan.
 Mengatur jadwal
aktivitas dan
istirahat pasien
untuk mencegah
keletihan.
 Monitor
toleransi
aktivitas pasien.
 Membangun
hubungan
supportif dengan
pasien dan
keluarga.
 Manajemen
penurunan stress.
DAFTAR PUSTAKA

A. Victor, Hoffbrend, dkk. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 4.


Jakarta: EGC
Corwin, E. J. 2009. Patofisiologi : Buku Saku Edisi 3. Jakarta: EGC
Dochtermen, J.M dan Bulechek, G.M. 2004. Nursing Interventions
Classifications (NIC). Philadelphia : Mosby Elsevier.
Halim-Mubin, A. 2001. Panduan praktis ilmu penyakit dalam: diagnosa
dan terapi. Jakarta: EGC.
Herdman, T.H dan Kamitsuru, S. 2014. NANDA International Nursing
Diagnoses: Definitions and Classifications 2015 – 2017. Oxford
: Wiley Blackwell.
Morehead, Sue dkk. 2004. Nursing Outcomes Classifications (NOC).
Philadelphia : Mosby Elsevier.
Price, S. A & Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi: konsep klinis proses-
proses penyakit. Jakarta: EGC.
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC
Sujadnto, Bakta . 2006. Buku Saku Keperawatan Penanganan Anemia.
Jakarta: EGC