Anda di halaman 1dari 13

PKK I

GADAR NEONATAL
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BY L. P
DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DIRUANG NICU
RSUP PROF Dr, R. D KANDOU MANADO

OLEH :

SITTI HARTINA MOKODOMPIT

PO. 711530113057

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO

JURUSAN KEBIDANAN

2015
TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Merupakan suatu kondisi bayi baru lahir dengan kadar bilirubin serum total lebih dari 10

mg% pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus , yang dikenal dengan ikterus

neonaturum patologis. Hiperbilirubinemia yang merupakan suatu keadaan meningkatnya

kadar bilirubin didalam jaringan ekstra vascular sehingga konjungtiva, kulit, dan mukosa,

akan berwarna kuning. Keadaan tersebut juga berpotensi besar terjadi kern ikterus, yaitu

kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirect pada otak. Bayi yang mengalami

hiperbilirubinemia memiliki ciri sebagai berikut : adanya ikterus terjadi pada 24 jam pertama,

konsentrasi bilirubin serumpada neonatus yang cukup bulan dan 12,5 mg % pada neonatus

yang kurang bulan, ikterus disertai dengan proses hemolisis kemudian ikterus yang disertai

dengan berat badan lahir kurang dari 2000 gram, masa gestasi kurang dari 36 minggu,

asfiksia, hipoksia, syndrome gangguan pernapasan dll.

Keadaan hiperbilirubinemia

1. Ikterus tampak dalam 24 jam pertama

2. Bilirubin serum meningkat dengan kecepatan 10 mol/jam selama 6 jam atau 90

mol/jam selama 24 jam

3. Bilirubin serum melebihi 210 mol / L dalam 48 jam setelah lahir atau 260 mol /L

setelah usia 48 jam.

B. Gejala atau tanda hiperbilirubinemia

Gejala atau tanda hiperbilirubinemia yaitu adanya ikterus yang timbul. Ikterus ada 2 macam,

yaitu ikterus fisiologis dan ikterus patologis. Ikterus fisiologis timbul pada hari ke 2 dan ke 3

dan menghilang pada minggu pertama, selambat – lambatnya adalah 10 hari pertama setelah
lahir. Kadar bilirubin indirect tidak melibihi 10 mg % pada neonatus yang cukup bulan dan

12,5 mg % pada neonatus yang kurang bulan. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak

melebihi 5 mg % setiap hari, kadar bilirubin direct tidak melebihi 1 mg %. Jenis ikterus yang

kedua adalah ikterus patologis, dimana ikterus ini terjadi pada 24 jam pertama, kadar

bilirubin serum melebihi 10 mg % pada neonatus cukup bulan dan melebihi 12,5 mg % pada

neonatus kurang bulan, terjadi peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg % per hari ikterusnya

menetap sesudah dua minggu pertama dan kadar bilirubin direk melebihi 1 mg %.

Rumus kremer untuk menilai kadar bilirubin berdasarkan warna kulit bayi.

Daerah Luas ikterus Kadar bilirubin (mg%)

1 Kepala dan leher 5

2 Badan bagian atas 9

3 Badan bagian bawah dan tungkai 11

4 Lengan dan kaki dibawah dengkul 12

5 Tangan dan kaki 16

C. Manifestasi klinis

Sebenarnya, sebagian besar kasus penyakit ini tidak berbahaya. Meskipun demikian, apabila

kadar bilirubin sangat tinggi, ini bisa menyebabkan kerusakan otak (kern ikterus) kern ikterus

ialah terjadinya penimbunan bilirubin dalam otak, sehingga menyebabkan kerusakan otak.

Kondisi tersebut biasanya dialami oleh anak yang lahir sangat prematur atau anak yang

mengalami penyakit berat adapun gejala kern ikterus yang sering tampak ialah :

1. Sering mengantuk

2. Tidak kuat menghisap,


3. Muntah,

4. Opistotonus (posisi tubuh melengkung dan leher mendekati punggung)

5. Mata berputar – putar keatas serta

6. Kejang

Efek jangka panjang dari kern ikterus adalah keterbelakangan mental, kelumpuhan cerebral,

(pengontrolan otot yang abnormal atau cerebral palsy), tuli, dan mata tidak dapat digerakan

keatas.

D. Diagnosis

Diagnose penyakit kuning ditegakan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik, dan hasil

pemeriksaan darah yang menunjukan adanya peningkatan kadar bilirubin dalam darah.

E. Penatalaksaan

1. Apabila terjadi risiko tinggi cedera karena dampak peningkatan kadar bilirubin, maka

intervensi yang dapat dilakukan adalah mengkaji dan mengawasi dampak perubahan

kadar bilirubin, seperti adanya jaundice, konsentrasi urine, letargi, kesulitan

makanan, refleks moro, adanya tremor, iritabilitas, memantau hemoglobin dan

hematocrit., serta pencatatan penurunan ; melakukan foto terapi dengan mengatur

waktu sesuai prosedur; dan menyiapkan untuk melakukan transfusi tukar. Dengan

mempertimbangkan risiko cedera karena efek dari transfusi tukar, maka intervensi

yang dapat dilakukan adalah memantau kadar bilirubin, hemoglobin, hematocrit,

sebelum dan sesudah transfusi tukar tiap 4-6 jam selama 24 jam pascatransfusi tukar,

memantau tekanan darah, nadi dan temperature mempertahankan system

kardiovaskular dan pernapasan; mengkaji kulit pada abdomen, ketegangan, muntah

dan sianosis, mempertahankan kalori, kebutuhan cairan sampai dengan pascatransfusi

tukar, serta melakukan kolaborasi dalam pemberian obat untuk meningkatkan


transportasi dan konjugasi, seperti pemberian albumin atau pemberian plasma dengan

dosis 15 – 20 ml / kg BB. Albumin biasanya diberikan sebelum transfusi tukar karena

albumin dapat mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstrakardiovaskular ke

vascular, sehingga bilirubin yang diikat lebih mudah keluar dengan transfusi tukar.

2. Foto terapi

Foto terapi merupakan tindakan dengan memberikan terapi melalui sinar yang

menggunakan lampu. Lampu yang digunakan sebaiknya tidak lebih dari 500 jam

untuk menghindar turunnya energy yang dihasilkan oleh lampu.

Cara melakukan foto terapi adalah sebagai berikut :

a. Pakaian bayi dibuka agar seluruh badan bayi kena sinar.

b. Kedua mata dan gonad ditutup dengan penutup yang memantulkan cahaya.

c. Jarak bayi dengan lampu kurang lebih 40 cm.

d. Lakukan pengukuran suhu setiap 4-6 jam.

e. Periksa kadar bilirubin setiap 8 jam atau sekurang – kurangnya sekali dalam 24

jam.

f. Lakukan pemeriksaan hemoglobin secara berkala terutama pada pasien yang

mengalami hemolysis.

g. Lakukan observasi dan catat lamanya terapi sinar.

h. Berikan atau sediakan lampu masing – masing 20 watt sebanyak 8 – 10 buah yang

disusun secara paralel.

i. Berikan air susu ibu yang cukup. Pada saat memberikan ASI, bayi dikeluarkan

dari tempat terapi dan dipangku (posisi menyusui), penutup mata dibuka, serta

diobservasi ada tidaknya iritasi.

3. Transfusi tukar merupakan cara yang dilakukan dengan tujuan mencegah peningkatan

kadar bilirubin dalam darah. Pemberian transfusi dilakukan apabila kadar bilirubin
indirek 20 mg %, kenaikan kadar bilirubin yang cepat yaitu 0,3 – 1 mg / jam, anemia

berat dengan gagal jantung dan kadar hemoglobin tali pusat 14 mg %, dan uji coombs

direk positif.

Cara pelaksanaan transfusi tukar adalah sebagai berikut :

a. Dianjurkan pasien bayi untuk puasa 3 – 4 jam sebelum transfusi tukar

b. Pasien disiapkan dikamar khusus

c. Pasang lampu pemanas dan diarahkan kepada bayi

d. Baringkan pasien dalam keadaan telentang dan buka pada daerah perut

e. Lakukan transfusi tukar sesuai dengan protap

f. Lakukan observasi keadaan umum pasien, catat jumlah darah yang keluar dan

masuk.

g. Lakukan pengawasan adanya perdarahan tali pusat

h. Periksa kadar hemoglobin dan bilirubin 12 jam

Perawatan setelah transfusi

Dapat meliputi perawatan daerah yang dilakukan pemasangan kateter transfusi dengan

melakukan kompres NaCl fisiologis kemudian ditutup dengan kasa steril dan difiksasi,

lakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan bilirubin serum setiap 12 jam dan pantau tanda

vital.

1. Mempertahankan intake cairan dengan menyediakan cairan per oral atau cairan

parenteral (melalui intravena), memantau output diantaranya jumlah dan warna urine

serta feses, mengkaji perubahan status hidrasinya dengan memantau temperature tiap

2 jam, serta mengkaji membrane mukosa dan fontanel.


2. Menutup mata dengan kain yang tidak tembus cahaya, mengatur posisi setiap 6 jam,

mengkaji kondisi kulit, menjaga integritas kulit selama terapi dengan mengeringkan

daerah yang basah untuk mengurangi iritasi serta mempertahankan kebersihan kulit.

3. Mencegah peningkatan kadar bilirubin dengan cara : meningkatkan kerja enzim

dengan pemberian phenobarbital 1-2 mg / kg BB, mengubah bilirubin yang tidak larut

ke dalam air menjadi larut dalam air dengan melakukan foto terapi atau dengan cara

pembuangan kadar bilirubin darah dengan transfusi tukar.

tabel pedoman terapi

Serum 24 jam 24 – 48 jam 42– 72 jam >72 jam


bilirubin mg / < 2500 gr > 2500 gr < 2500 gr > 2500 gr < 2500 gr > 2500 gr < 2500 gr >
dl 2500 gr
<5
5–9 Fototerapi
10 – 14 Exchange transfusi Foto terapi
bila hemolisi
15– 19 Fototerapi Foto terapi
>20 Exchange transfusi
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BY L. P
DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA DIRUANG NICU
RSUP PROF Dr, R. D KANDOU MANADO

I. PENGUMPULAN DATA

A. Identitas / biodata
Nama bayi : by lembong-pande

Umur bayi : 7 hari

Tgl / jam lahir : 6 – 11 – 2015 / 17.50 WITA

Jenis kelamin : laki - laki

Berat badan lahir : 2800 gram

Panjang badan : 46 cm

Nama ibu : Irdawati pande Nama ayah : jeri lembong

Umur : 34 tahun Umur : 37 tahun

Suku / bangsa : sanger Suku / Bangsa : minahasa

Agama : kr protestan Agama : kr protestan

Pendidikan : diploma III Pendidikan : sarjana

Pekerjaan : PNS Pekerjaan : Guru

Alamat rumah : malalayang Alamat rumah : malalayang

B. Anamnesa
Pada tanggal : 13 – 11 2015 Pukul : 12.30 Wita
1. Riwayat penyakit kehamilan

 Perdarahan : tidak
 Pre eklamsia : tidak
 Eklamsia : tidak
 Penyakit kehamilan : tidak
 Lain – lain : tidak
2. Kebiasaan waktu hamil

 Makan : 3-4 kali sehari


 Obat – obatan/jamu : tidak pernah
 Merokok : tidak pernah
 Lain – lain : tidak
3. Riwayat persalinan sekarang

a. Jenis persalinan : spontan LBK


b. Ditolong oleh : dokter
c. Lama persalinan
- Kala I : ibu mengatakan sudah tidak mengetahui lama kala I

- Kala II : ibu mengatakan sudah tidak mengetahui lama kala II

d. Komplikasi persalinan
- Ibu : tidak ada

- Bayi : tidak ada

e. Keadan bayi baru lahir


Nilai APGAR :7-9

C. Pemeriksaan Fisik

 Keadaan umum : baik


 Suhu : 37,5o C
 Pernapasan : 64 x / menit
 HR : 178 x / menit

Pemeriksaan fisik secara sistematis

 Kepala : distribusi rambut banyak ada bekas luka tusukan infus


 Muka : tidak ada oedema, sedikit kuning
 Mata : konjungtiva pucat, sclera ikterus
 Telinga : simetris, ada sekret
 Mulut : bibir kemerahan, tidak ada candidiasis
 Hidung : simetris
 Leher : tidak ada pembengkakan
 Dada : gerakan dada sesuai dengan pola pernafasan
 Tali pusat : basah dan belum puput
 Punggung : tidak ada kelainan
 Ekstremitas : jari kaki dan tangan lengkap
 Genitalia :-
 Anus : tidak atresia ani

Refleks

 Refleks Morro : ada


 Refleks sucking : ada
 Refleks tonic neck : tidak
 Refleks berkedip : tidak dilakukan
 Tanda Babinski : tidak dilakukan
 Refleks palmar : ada
 Refleks rooting : ada

Antropometri

 Lingkar kepala : 33 cm
 Linkar dada : 32 cm
 Lingkar perut : 31 cm
 Berat badan sekarang : 2600 gram
 Panjang badan : 46 cm

Eliminasi

 BAK : + 2 – 3 kali sehari


 BAB : + 1 kali sehari
II. INTERPRETASI DATA DASAR

Diagnosa : by LP usia 7 hari dengan hiperbilirubinemia

Dasar DS : By LP lahir tanggal 6 – 11 - 2015

DO : pemeriksaan fisik muka sedikit kuning

pada pemeriksaan mata sclera ikterus

Masalah : wajah ikterus

Kebutuhan : perawatan bayi dengan ikterus

III. DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Potensial terjadi kern ikterus

IV. TINDAKAN SEGERA

Foto therapy

V. PERENCANAAN

1. Lakukan perawatan dengan incubator.


2. Lakukan terapi sinar dengan menggunakan foto terapi
3. Lakukan pemantauan suhu tubuh bayi
4. Lakukan perawatan tali pusat
5. lakukan pemenuhan nutrisi dengan susu formula atau ASI

VI. IMPLEMENTASI

1. Melakukan perawatan incubator untuk memberi kehangatan pada bayi


2. Melakukan terapi sinar dengan menggunakan foto terapi dengan cara pakaian bayi dilepaskan
dan bayi memakai penutup mata yang dapat memantulkan cahaya.
3. melakukan pemantauan suhu tubuh bayi tiap 6 atau 12 jam untuk mengetahui apakah masalah
hipotermi pada bayi sudah teratasi.
4. Melakukan perawatan tali pusat dengan cara menggunakan salep yang diberikan oleh dokter
kemudian meletakan tali pusat agak ke atas agar tidak tertutupi oleh popok sehingga tali pusat
cepat kering.
5. Melakukan pemenuhan nutrisi menggunakan susu formula atau ASI untuk mengatasi masalah
penurunan berat badan.

VII. EVALUASI

SOAP hari 1

Tanggal : 13 – 11 – 2015 jam : 14. 30 WITA

S : bayi lembong pande usia 7 hari membutuhkan perawatan bayi

O : suhu : 37,5oC respirasi : 65 x / menit

HR/nadi : 137 x / menit BAB : 1 kali sehari BAK 2 – 3 kali sehari

ASI : tidak infus : terpasang

A : bayi lembong pande usia 7 hari dengan hiperbilirubinemia

P : - jaga bayi tetap hangat dalam incubator

_ anjurkan ibu untuk memberi ASI pada bayi

_ lakukan foto terapi pada bayi

SOAP hari ke 2

Tanggal : 14 – 11 – 2015 jam : 11. 00 WITA

S : bayi lembong pande usia 7 hari membutuhkan perawatan bayi

O : suhu : 37oC respirasi : 70 x / menit

HR/nadi : 140 x / menit BAB : 1 kali sehari BAK 2 – 3 kali sehari

ASI : tidak (susu formula) infus : terpasang BB : 2800 gram

A : bayi lembong pande usia 7 hari dengan hiperbilirubinemia

P : - lanjutkan terapi sinar dengan menggunakan foto terapi

- memberi susu formula tiap 2 atau 4 jam

- melakukan perawatan tali pusat


DAFTAR PUSTAKA

Aziz dkk 2009, ilmu kesehatan anak untuk pendidikan kebidanan, Jakarta salemba medika

Fida dkk 2012, pengantar ilmu kesehatan anak, Jogjakarta D- Medika

Sarwono dkk 2013, acuan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, Jakarta bina pustaka sarwono

William dkk 2010, kedaruratan anak Jakarta medical books

http://keperawatanpediatrik.blogspot.co.id/2009/06/bayi-baru-lahir-dengan-
hiperbilirubinemia.html