Anda di halaman 1dari 20

laporanilmu ukur tanah

BAB III

PENGUKURAN WATERPASS

3.1. Dasar Teori

Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan


ketinggian atau beda tinggi antara dua titik. Pengukuran waterpass ini
sangat penting gunanya untuk mendapatkan data sebagai keperluan
pemetaan, perencanaan ataupun untuk pekerjaan konstruksi.

Hasil-hasil dari pengukuran waterpass di antaranya digunakan


untuk perencanaan jalan, jalan kereta api, saluran, penentuan letak
bangunan gedung yang didasarkan atas elevasi tanah yang ada,
perhitungan urugan dan galian tanah, penelitian terhadap saluran-
saluran yang sudah ada, dan lain-lain.
Dalam pengukuran tinggi ada beberapa istilah yang sering
digunakan, yaitu:
 Garis vertikal adalah garis yang menuju ke pusat bumi.
 Bidang mendatar adalah bidang yang tegak lurus garis
vertikal pada setiap titik. Bidang horisontal berbentuk
melengkung mengikuti permukaan laut.
 Datum adalah bidang yang digunakan sebagai bidang
referensi untuk ketinggian, misalnya permukaan laut rata-
rata.
 Elevasi adalah jarak vertikal (ketinggian) yang diukur
terhadap bidang datum.
 Bench Mark (BM) adalah titik yang tetap yang telah
diketahui elevasinya terhadap datum yang dipakai, untuk
pedoman pengukuran elevasi daerah sekelilingnya.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 8


laporanilmu ukur tanah

Beda tinggi antara dua titik dapat ditentukan dengan empat


metode yaitu:

1. Dengan pengukuran tinggi secara langsung dengan


menggunakan pita ukur

Hal ini dapat kita jumpai pada pembuatan gedung bertingkat, di


mana tinggi lantai masing – masing tingkat diukur dengan pita
ukur.

2. Dengan menggunakan alat ukur Waterpass

Pada cara ini, didasarkan atas kedudukan garis bidik teropong


yang dibuat horizontal dengan menggunakan gelembung nivo.

3. Dengan menggunakan alat Barometer (Barometric levelling)

Pada dasarnya ada hubungan antara ketinggian tempat dengan


tekanan udara, di mana makin tinggi tempatnya, makin tinggi
tekanan udara. Dengan alat Barometer ini, ketinggian dapat
diukur. Cara ini didapat hasil yang tidak begitu teliti.

4. Dengan menggunakan cara Trigonometri (Trigonometric


levelling)

Beda tingggi dapat diukur dengan alat yang dilengkapi dengan


pembacaan sudut vertikal (teodolit).
(Buku Ilmu Ukur Tanah BAB III Pengukuran Waterpass poin
3.2)

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 9


laporanilmu ukur tanah

3.2. Prinsip Kerja Waterpas

Prinsip kerja alat ukur waterpass adalah membuat garis sumbu teropong
horisontal. Bagian yang membuat kedudukan horisontal adalah nivo, yang
berbentuk tabung yang berisi cairan dengan gelembung udara di dalamnya
berada di tengah.

Gambar 3.2.1. Alat Ukur Waterpass

Selain itu kelebihan dari alat ukur waterpass adalah alat ukur ini
dilengkapi dengan lensa optik yang berfungsi memperbesar bayangan
sehingga dapat membaca rambu ukur sampai jarak ± 75 m.
Sebelumnya pertu dipahami terlebih dahulu prosedur pengukuran
waterpass, antara lain:
1. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada pagi hari (jam ±07.00-
10.00) atau pada
sore hari (jam ±14.00-17.00).
2. Alat ukur diletakkan pada permukaan tanah yang stabil.
3. Rambu ukur didirikan di atas patok.
4. Selama pengukuran alat ukur dilindungi payung.
5. Jarak alat ukur ke rambu ukur maksimum 50 m.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 10


laporanilmu ukur tanah

Selain prosedur pengukuran, dalam penggunaan alat waterpass


harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Garis sumbu teropong harus sejajar dengan garis arah nivo. Untuk
memeriksa alat tersebut diperlukan penyelidikan terhadap selisih
tinggi antar dua titik.

Gambar 3.2.2. Pengukuran Beda Tinggi


Pertama-tama peralatan ditemoatkan di tengah-tengah antara A dan
B. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka akan terbentuk sudut α
antara garis vizir (garis arah nivo) dengan garis horizontal,
walaupun nivo sudah seimbang.
Kemudian peralatan dipindahkan ke BQ = X, karena adanya
kesalahan sudut tadi, maka pada pambacaan bak ukur A dibaca Qa,
dan pada bak ukur B dibaca Qb, amak besarnya penyimpangan (C)
adalah:
C = 2L + (Qa – Qb – h)
Pada teropong tanpa sekrup helling, maka koreksi dilakukan dengan
koreksi benang silang vertikal, sedangkan nivo tetap seimbang.
Pada teropong dengan sekrup helling ada kemungkinan yaitu
koreksi pada garis vizir atau koreksi pada nivo. Bila dikerjakan
koreksi pada garis vizir, maka pekerjaan dilakukan seperti teropong
tanpa sekrup helling sampai pembacaan selanjutnya, dilanjutkan
dengan koreksi pada nivo.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 11


laporanilmu ukur tanah

2. Garis arah nivo harus tegak lurus sumbu I, pada alat tanpa sekrup
helling pengaturannya seperti mengatur sumbu I pada
theodolit,yaitu dengan tiga sekrup pengatur. Setelah penyimpangan
nivo diperbaiki dengan sekrup koreksi maka syarat dapat dipenuhi.
Bila tidak ada sekrup helling maka syarat di atas tidak perlu.

3. Benang silang horizontal harus tegak lurus sumbu I, diperiksa


dengan mengarahkan ke suatu titik pada tembok, ujung kiri benang
silang dibuat berhimpitan dengan titik ini. Jika benang datar ini
tegak lurus sumbu I, maka benang akan selalu berhimpitan dengan
titik tersebut, jika teropong diputar dengan sumbu I sebagai sumbu
putar. Jika tidak demikian, maka diafragma dengan benang silang
diputar sedikikt dengan tangan, sesudah itu sekrup kecil yang
terletak pada sisi diafragma dilepas sedikit.

3.3. Rambu Ukur (Levelling Rod)


Dalam setiap penggunaan alat ukur waterpass darus selalu dengan
disertai dengan rambu ukur atau bak ukur. Rambu ukur ini terbuat dari
bahan kayu atau alumunium yang panjangnya 3-5 m. Yang utama dari
rambu ukur ini adalah pembagian skalanya yang harus betul-betul teliti
untuk mendapatkan hasil pengukuran yang baik. Disamping itu
pemegangannya harus tegak.

3.4. Pengukuran Beda Tinggi

Gambar 3.4.1. Pengukuran waterpass beda tinggi dan jarak

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 12


laporanilmu ukur tanah

Keterangan gambar:
A dan B : titik diatas permukaan bumi yang akan diukur beda
tingginya
a dan b : bacaan atau tinggi garis mendatar di titik A dan B
Ha dan Hb : ketinggian titik A dan B di atas bidang referensi
ΔhAB : beda tinggi antara titik A dan B

Seperti halnya pengukuran jarak dan sudut, pengukuran beda tinggi


juga tidak cukup dilakukan dengan sekali jalan, tetapi dibuat
pengukuran pergi pulang, yang pelaksanaannya dapat dilakukan dalam
satu hari, serta dimulai dan diakhiri pada titik tetap. Gabungan beberapa
seksi dinamakan trayek. Persamaan yang berlaku dalam sifat datar :

a. Waterpass terbuka : h akhir – h awal


b. Waterpass tertutup : 0

3.5. Peralatan Yang Digunakan


1. Waterpass
Fungsi : Mengukur beda tinggi antar titik maupun object existing.
2. Bak ukur
Fungsi : Target bacaan dari alat Theodolit manual atau Waterpass
yang dibaca Benang Atas, Benang Tengah, dan Benang Bawah
3. Statif
Fungsi : Sebagai kaki dari alat Waterpass
4. Rol Meter
Fungsi : Sebagai alat pengukur objek
5. Payung
Fungsi : Sebagai pelindung dari panas matahari bagi pengukur dan
menghalangi cahaya matahari sampai ke optik Waterpass.
6. Buku dan Form Praktikum
Fungsi : Untuk mencatat semua hasil pengukuran
7. Alat Tulis
Fungsi : Alat untuk menulis semua hasil praktikum.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 13


laporanilmu ukur tanah

3.6. Metode dan Diagram Alir Pelaksanaan Profil Memanjang


3.6.1 Metode dan diagram alir pelaksanaan Waterpass cara
memanjang adalah sebagai berikut:

Letakkan patok – patok di tempat


yang telah ditentukan.

Pasang dan setel alat waterpass

Lakukan pengukuran dan


catat data benang atas, bawah
dan tengah.

Lakukan pengukuran depan


Lakukan sampai patok
belakang yang bergantian sistem
terakhir
pergi dan pulang dengan menggeser
sedikit letak waterpass.

3.6.2 Cara perhitungan waterpass cara memanjang adalah sebagai


berikut:

1. Dari data beda tinggi antar patok yang diukur, dimasukkan dalam table
perhitungan.
2. Data ukur pergi dan pulang dirata-ratakan dan tanda hasil hitungan
mengikuti tanda ukur pergi.
Contoh :
Beda tinggi 1-2 Pergi = + 0,309 m
Beda tinggi 1-2 Pulang = - 0,356 m
Beda tinggi rata-rata = + 0,333 m

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 14


laporanilmu ukur tanah

Tanda beda tinggi rata-rata diambil dari tanda ukur Pergi (dalam
contoh ini tandanya adalah ( + ).

3. Tahap berikutnya menjumlah kan seluruh beda tinggi rata-rata hasil


ukuran

Ʃ beda tinggi = ∆h1 + ∆h2 + ∆h3 + ∆hn


n = banyaknnya hasil ukuran

4. Dari jumlah beda tinggi, maka dilakukan pengecekan apakah hasilnya


memenuhi syarat geometri.
Syarat geometri : apabila diukur beda tinggi dari satu titik awal (P1)
kembali ke titik yang sama (P1), maka jumlah beda tinggi harus sama
dengan 0 (nol).
Ʃ beda tinggi = 0
5. Apabila Ʃ beda tinggi ukuran ≠ 0, maka hasil ukuran harus dikoreksi.
Perlu dicatat bahwa Ʃ beda tinggi setelah dihitung selalu ada
kesalahan, sehingga perlu dikoreksi :
Jika Ʃ beda tinggi = t m, maka

Besarnya koreksi = - t m

6. Koreksi =-tm/n
(n = banyaknya ukuran beda tinggi), dan dimasukkan dalam table
hitungan.

7. Selanjutnya dihitung beda tinggi yang dikoreksi sebagai berikut :


∆ hi yang dikoreksi = ∆ hi ukuran + (- t/n)

Kemudian diperiksa lagi sehingga diperoleh Ʃ ∆hi yang dikoreksi = 0.

8. Setelah dikoreksi ∆h dikoreksi, maka lanjutkan perhitungan


ketingggian / elevasi titik-titik hasil pengukuran.
Titik awal perhitungan diawali dari P1. Karena belum ada titik
control vertical di sekitar kampus, maka titik awal (P1) ditentukan
oleh asisten masing-masing.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 15


laporanilmu ukur tanah

9. Perhitungan waterpass diawali dari P1 dan berakhir di P1 lagi.

Rumus:  h = BT (belakang) – BT
(muka)
D = 100 x (BA - BB)
keterangan:
h = Beda Tinggi
D = Jarak
BT = Bacaan Benang Tengah
BA = Bacaan Benang atas
BB = Bacaan Benang Bawah
Untuk tinggi dihitung antarpatok, yang berharga negatif ditulis
negatif, demikian pula yang positif ditulis positif. Untuk pengukuran
poligon tertutup, harga beda tinggi dari semua patok dijumlahkan, bila
hasilnya nol (0) berarti perhitungannya benar. Tetapi kalau tidak nol
(0), maka harus dikoreksi agar hasilnya sama dengan nol (0).

Besarnya koreksi tiap titik = Jumlah kesalahan : Jumlah titik

rumus:

 beda tinggi =  BT (belakang) -  BT (muka) + kf


(kesalahan) = 0
 kf 
Koreksi tiap titik = kx = -  
 n

3.6.3 Menghitung Beda Tinggi dan Jarak


Rumus :

∆h = BT (belakang) – BT (muka)

D = 100 x (BA – BB)


Keterangan :
∆h = Beda Tinggi
D = Jarak

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 16


laporanilmu ukur tanah

BT = Bacaan benang tengah


BA = Bacaan benang atas
BB = Bacaan benang bawah

PERGI
Contoh pada patok 1 (P1)
BB (belakang) = 1,539 m BB (muka) = 1,278 m
BT (belakang) = 1,600 m BT (muka) = 1,291 m
BA (belakang) = 1,660 m BA (muka) = 1,304 m
BA + BB = 3,199 m BA + BB = 2,582 m
Jarak (D) = 100 x (BA - BB)
= 100 x (1,660 m – 1,539 m) + 100 x (1,304
m – 1,278 m)
= 14,70 meter
Beda tinggi = BT (belakang) - BT (muka)
= 1,600 m – 1,291 m
= 0,309 meter
PULANG
Contoh pada patok 1 (P1)
BB (belakang) = 1,179 m BB (muka) = 1,539 m
BT (belakang) = 1,243 m BT (muka) = 1,599 m
BA (belakang) = 1,308 m BA (muka) = 1,659 m
BA + BB = 2,487 m BA + BB = 3,198 m
Jarak (D) = 100 x (BA - BB)
= 100 x (1,308 m –1,179 m) + 100 x (1,659 m
–1,539 m)
= 24,9 meter
Beda tinggi = BT (belakang) - BT (muka)
= 1,243 m – 1,599 m
= - 0,356 meter
Rata-rata Beda Tinggi P1 = 0,309 - 0,356

= -0,0235meter

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 17


laporanilmu ukur tanah

Untuk tinggi dihitung antar patok, yang berharga negatif ditulis


negatif, demikian pula yang positif. Untuk pengukuran poligon
tertutup, harga beda tinggi dari semua patok dijumlahkan, bila
hasilnya nol (0) berarti perhitungan benar. Tetapi kalau tidak nol (0),
maka harus dikoreksi agar hasilnya sama dengan nol (0). Besarnya
koreksi tiap titik = jumlah kesalahan : jumlah titik
Rumus :

Σbeda tinggi = ΣBT (belakang) – ΣBT (muka) + kf (kesalahan)


=0
 kf 
Koreksi tiap titik = kx = -  
 n

Diketahui : kesalahan = kf = 0,036


jumlah titik = n = 12
Ditanya : koreksi tiap titik = kx =?
 kf 
Jawab : koreksi tiap titik = kx = -  
 n
 0,036 
= - 
 12 
= -0,003 meter
Tanda koreksinya negatif agar dapat menutup kesalahan (yang
memiliki tanda positif) pada data.

3.6.4 Menghitung Tinggi Titik


Tinggi titik adalah tinggi titik referensi ditambah besarnya
beda tinggi terkoreksi (definitif). Sedangkan beda tinggi terkoreksi
(definitif) yaitu beda tinggi antar titik dikurangi koreksi beda tinggi
tiap titik.
Rumus :

Tinggi titik X = Tinggi titik + definitif

Definitif = beda tinggi + koreksi kx

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 18


laporanilmu ukur tanah

Misalkan :
Ditentukan tinggi titik P1 = + 150 m
Beda tinggi P1 – P2 = 0,333 m
Koreksi = -0,036
Definitif = 0,333 m – 0,003 m
= 0,33 m
Tinggi titik P2 = 150 m + 0,33 m
= + 150,33 m
Perhitungan dilanjutkan sampai pada titik terakhir. Perhitungan
dapat dikatakan benar jika tinggi titik akhir ditambah definitif beda
tinggi titil akhir-awal besarnya sama dengan titik awal.

3.6.5 Tahapan Perhitungan

Tahap perhitungan data waterpass dilakukan dengan langkah-


lankah sebagai berikut :
1. Dari data beda tinggi antar patok-patok yang diukur,
dimasukkan dalam tabel perhitungan.
2. Data ukur pergi dan pulang di rata-ratakan dan tanda hasil
hitungan mengikuti tanda ukur pergi.
3. Tanda beda tinggi rata-rata diambil dari tanda ukur Pergi
(dalam contoh ini tandanya adalah (+). Tahap berikutnya
menjumlahkan seluruh beda tinggi rata-rata hasil
pengukuran
Σ beda tinggi = ∆h1 + ∆h2 + ∆h3 + ∆hn
N = banyaknya hasil ukuran
4. Dari jumlah beda tinggi, maka dilakukan pengecekan
apakah hasilnya memenuhi syarat geometri.
Syarat geometri : apabila diukur beda tinggi dari satu titik
awal (P1) kembali ke titik yang sama (P1), maka jumlah
beda tinggi harus sama dengan 0 (nol).

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 19


laporanilmu ukur tanah

5. Apabila Σ beda tinggi ukuran ≠ 0, maka hasil ukuran


dikoreksi. Perlu dicatat bahwa Σ beda tinggi setelah
dihitung selalu ada kesalahan, sehingga perlu dikoreksi :
Jika Σ beda tinggi = 1 m, maka
Besarnya koreksi = -t m
6. Koreksi sebesar = - t m dibagi dengan n
(n = banyaknya ukuran beda tinggi), dan dimasukkan dalam
tabel hitungan.
7. Selanjutnya dihitung beda tinggi yang dikoreksi sebagai
berikut :
∆ hi yang dikoreksi = ∆hi ukuran + (-t/n)
Kemudian diperiksa lagi sehingga diperoleh Σ∆hi yang
dikoreksi = 0
8. Setelah ∆h dikoreksi, maka dilanjutkan perhitungan
ketinggian/ elevasi titik-titik hasil ukuran.
Titik awal perhitungan diawali dari P1. Karena belum ada
titik kontrol vertikal di sekitar kampus, maka titik awal P1
ditentukan asisten masing-masing.
9. Perhitungan waterpass diawali dari P1 dan berakhir di P1
lagi.

Hasil perhitungan Profil Memanjang terdapat pada lampiran

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 20


laporanilmu ukur tanah

3.7 Metode dan Diagram Alir Pelaksanaan Profil Melintang

Atur ketinggian waterpass sesuai


Letakkan waterpass di median jalan, dengan posisi nyaman pengamat,
diposisikan diantara 2 patok yang perhatikan bahwa posisi nivo harus
bersebrangan selalu berada ditengah lingkaran

Tentukan titik-titik melintang di


sejajar 2 patok yang saling
bersebrangan tadi yang selanjutnya
akan kita ukur ketinggiannya

Catat hasil pembacaan BA, BT, dan BB Salah satu anggota kelompok dapat
di setiap titik dan gambarlah sketsanya berdiri dititik yang telah ditentukan
tadi sambil membawa bak ukur,

Ulangi langkah diatas sebanyak 5 kali anggota lainnya dapat membaca

yaitu, situasi antara P1-P10, P2-P9, P3- pembacaan BT,BB,dan BA pada

P8, P4-P7, dan P5-P6 waterpass

3.7.1 Langkah pengukuran sebagai berikut:

1. Untuk pelaksanaan praktikum, kelompok kami harus mengukur


penampang melintang sebanyak 10 patok.
2. Pengukuran penampang melintang dilakukan dengan cara
mendirikan alat di luar patok.
3. Langkah selanjutnya perhitungan alat di atas titik atau alat di luar
titik.
4. Kemudian tembak 5 titik situasi di sekitar patok dengan jarak
masing-masing titik 3 meter.
5. Setelah data diolah, penggambaran penampang memanjang dibuat
dengan skala horizontal 1 : 200 dan skala vertikal 1 : 100.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 21


laporanilmu ukur tanah

3.7.2 Perhitungan Profil Melintang


Waterpass profil melintang dimisalkan profil di titik P1:
Titik P1 : Elevasi P1 = 150,000
BT = 1,479
Garis vizir ( V ) = T + BT, dimana T = tinggi permukaan air tanah
terhadap air laut.
Garis vizir diambil dari titik P1
V1 = T + BT
= 150,000 + 1,479
= 151,479 meter
Kemudian tinggi titik A = V – BT A
= 151,479 – 2,359
= 149,12 meter
Titik-titik yang lain dilakukan dengan perhitungan yang sama.
Misalnya profil P3, untuk vizir BT P3 dan seterusnya.

Hasil perhitungan profil melintang terdapat pada lampiran.

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 22


laporanilmu ukur tanah

Data Perhitungan Waterpass Beda Tinggi dan Jarak


Patok ∆ Tinggi
Tinggi No
Rata- Titik Titik
Dari Ke Pergi Pulang Koreksi Definitif
Rata
150 P1
P1 P2 0,309 -0,356 0,3325 0,330
150,330 P2
P2 P3 0,001 -0,003 0,002 -0,001
150,329 P3
P3 P4 -0,203 0,201 -0,202 -0,205
150,124 P4
P4 P5 -0,487 0,527 -0,507 -0,510
149,614 P5
P5 P6 -0,348 0,37 -0,359 -0,362
149,252 P6
-0,003
P6 P7 -0,177 0,153 -0,165 -0,168
149,084 P7
P7 P8 0,359 -0,359 0,359 0,356
149,440 P8
P8 P9 0,610 -0,608 0,609 0,606
150,046 P9
P9 P10 0,057 -0,048 0,053 0,050
150,095 P10
P10 P1 -0,077 0,075 -0,076 -0,079
150,016 P11
P11 P12 -0,076 0,076 -0,076 -0,079
149,937 P12
P12 P1 0,072 -0,059 0,066 0,063
150,000 P1

JUMLAH 0,04 -0,031 0,036 0,036 0,000

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 23


laporanilmu ukur tanah

Data Pengukuran Waterpass Memanjang


Pergi
Benang Benang
Benang Atas 2 BT D = BB - BA
Tengah Bawah
∆ Tinggi
(BT
Patok

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)
ΣD

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)
Belakang
(Belakang+Muka)
- BT
Muka)

P1
1,600 1,291 1,660 1,304 1,539 1,278 3,200 2,582 12,10 2,60 14,70 0,309
P2
1,419 1,418 1,480 1,478 1,358 1,358 2,838 2,836 12,20 12,00 24,20 0,001
P3
1,358 1,561 1,425 1,618 1,292 1,505 2,716 3,122 13,30 11,30 24,60 -0,203
P4
1,174 1,661 1,229 1,675 1,119 1,648 2,348 3,322 11,00 2,70 13,70 -0,487
P5
1,261 1,609 1,311 1,681 1,211 1,538 2,522 3,218 10,00 14,30 24,30 -0,348
P6
1,336 1,513 1,389 1,549 1,282 1,478 2,672 3,026 10,70 7,10 17,80 -0,177
P7
1,528 1,169 1,582 1,232 1,473 1,105 3,056 2,338 10,90 12,70 23,60 0,359
P8
1,599 0,989 1,649 1,063 1,549 0,915 3,198 1,978 10,00 14,80 24,80 0,610
P9
1,369 1,312 1,420 1,382 1,319 1,242 2,738 2,624 10,10 14,00 24,10 0,057
P10
1,367 1,444 1,421 1,512 1,313 1,376 2,734 2,888 10,80 13,60 24,40 -0,077
P11
1,377 1,453 1,424 1,52 1,33 1,382 2,754 2,906 9,50 14,20 23,70 -0,076
P12
1,597 1,525 1,639 1,57 1,56 1,478 3,194 3,050 8,40 9,40 17,80 0,072
P1

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 24


laporanilmu ukur tanah

Data Pengukuran Waterpass Memanjang


Pulang
Benang Benang
Benang Atas 2 BT D = BB - BA
Tengah Bawah
∆ Tinggi
(BT
Patok

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)

Belakang (m)
ΣD

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)

Muka (m)
Belakang
(Belakang+Muka)
- BT
Muka)

P1
1,243 1,599 1,308 1,659 1,179 1,539 2,486 3,198 12,90 12,00 24,90 -0,356
P2
1,413 1,416 1,474 1,479 1,352 1,354 2,826 2,832 12,20 12,50 24,70 -0,003
P3
1,561 1,360 1,621 1,422 1,502 1,298 3,122 2,720 11,90 12,40 24,30 0,201
P4
1,658 1,131 1,700 1,186 1,616 1,076 3,316 2,262 8,40 11,00 19,40 0,527
P5
1,593 1,223 1,662 1,279 1,524 1,168 3,186 2,446 13,80 11,10 24,90 0,370
P6
1,525 1,372 1,564 1,425 1,486 1,320 3,050 2,744 7,80 10,50 18,30 0,153
P7
1,157 1,516 1,222 1,575 1,092 1,458 2,314 3,032 13,00 11,70 24,70 -0,359
P8
0,982 1,590 1,058 1,638 0,095 1,542 1,964 3,180 96,30 9,60 105,90 -0,608
P9
1,325 1,373 1,399 1,422 1,251 1,325 2,650 2,746 14,80 9,70 24,50 -0,048
P10
1,418 1,343 1,483 1,399 1,352 1,288 2,836 2,686 13,10 11,10 24,20 0,075
P11
1,439 1,363 1,511 1,409 1,368 1,318 2,878 2,726 14,30 9,10 23,40 0,076
P12
1,551 1,610 1,597 1,649 1,505 1,572 3,102 3,220 9,20 7,70 16,90 -0,059
P1

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 25


laporanilmu ukur tanah

Data Waterpass Profil Melintang

Tinggi Terhadap

100(BB - BA)
(BB + BA)/2

( BB + BA)
Ttitik Nol

Patok
BT
(m)
Garis Ttitik
Vizir (V) (T)

A 2,359 2,359 4,718 4,400 151,479 149,120


P1 1,479 1,479 2,958 4,400 151,479 150,000
C 1,629 1,629 3,257 5,500 151,479 149,850
D 1,396 1,396 2,792 9,400 151,479 150,083
E 1,665 1,665 3,329 14,100 151,479 149,814
F 1,526 1,526 3,051 18,700 151,479 149,953
G 2,600 2,600 5,200 20,000 151,479 148,879

A 2,265 2,265 4,530 3,400 151,781 149,516


P2 1,451 1,451 2,901 2,500 151,781 150,330
C 1,609 1,609 3,217 7,900 151,781 150,172
D 1,775 1,775 3,549 17,700 151,781 150,006

A 2,325 2,325 4,650 2,600 151,765 149,440


P3 1,436 1,436 2,871 2,700 151,765 150,329
C 1,602 1,602 3,204 4,000 151,765 150,163
D 1,297 1,297 2,594 7,800 151,765 150,468
E 1,635 1,635 3,270 12,600 151,765 150,130
F 1,665 1,665 3,330 16,600 151,765 150,100
G 2,699 2,699 5,397 17,900 151,765 149,066

A 2,235 2,235 4,470 2,600 151,481 149,246


P4 1,357 1,357 2,714 2,200 151,481 150,124
C 1,565 1,565 3,130 4,600 151,481 149,916
D 1,261 1,261 2,522 8,600 151,481 150,220
E 1,540 1,540 3,080 7,800 151,481 149,941
F 1,353 1,353 2,705 9,300 151,481 150,128
G 2,396 2,396 4,792 19,600 151,481 149,085

A 2,342 2,342 4,684 3,200 151,002 148,660


P5 1,388 1,388 2,776 3,000 151,002 149,614
C 1,553 1,553 3,106 4,200 151,002 149,449
D 1,180 1,180 2,360 8,200 151,002 149,822
E 1,589 1,589 3,178 14,200 151,002 149,413
F 1,480 1,480 2,960 18,400 151,002 149,522

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 26


laporanilmu ukur tanah

G 2,488 2,488 4,976 20,000 151,002 148,514

A 2,425 2,425 4,850 3,200 150,597 148,172


P6 1,345 1,345 2,690 1,400 150,597 149,252
C 1,608 1,608 3,216 1,200 150,597 148,989
D 1,320 1,320 2,639 8,300 150,597 149,277
E 1,641 1,641 3,282 14,000 150,597 148,956
F 1,450 1,450 2,900 18,400 150,597 149,147
G 2,509 2,509 5,019 20,300 150,597 148,088

ILMU UKUR TANAH | Kelompok 17 27